Anda di halaman 1dari 9

133

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian, dilakukan analisa dengan cara membandingkan antara pelaksanaan penghitungan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21 oleh PT. Angka Wijayasentosa dengan tata cara penghitungan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21 berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Tujuan dilakukannya analisa terhadap hasil penelitian selama melakukan penelitian adalah untuk mengetahui apakah pelaksanaan penghitungan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21 oleh PT. Angka Wijayasentosa telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

A.

Analisis Pelaksanaan Penghitungan dan Pemotongan PPh Pasal 21 Pelaksanaan penghitungan dan pemotongan PPh Pasal 21, dua kelompok

pegawai yang dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 yaitu pegawai tetap dan pegawai kontrak sebagai berikut

134

A. 1.

Penghitungan dan Pemotongan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap Tabel 12 Perbandingan Penghitungan PPh Pasal 21 URAIAN Penghitungan PPh Pasal 21 perusahaan Penghitungan PPh Pasal 21 ketentuan yang berlaku Rp 5.400.000,00 Rp. 4.950.000,00 Rp. 8.238.000,00 Rp. 18.588.000,00

I. Penghasilan Teratur : - Gaji pokok setahun - Tunjangan makan dan transport - Tunjangan jabatan dan masa kerja JUMLAH (I) II. Penghasilan Tidak Teratur : - THR PENGHASILAN BRUTO (I + II) Pengurangan : Biaya Jabatan 2. Iuran pensiun dan jaminan hari tua (12 x Rp. 14.000) JUMLAH PENGURANGAN PENGHASILAN NETO 1 TAHUN PTKP (TK/-) PKP Pembulatan PPh 21 Terutang setahun : 5% x (penghasilan sampai dengan Rp. 50.000.000,-) PPh Pasal 21 yang telah dipotong - Atas Gaji termasuk THR - Atas Gaji - Atas THR Jumlah PPh Pasal 21 yang telah dibayar PPhPasal 21 lebih potong

Rp 5.400.000,00 Rp. 4.950.000,00 Rp. 8.238.000,00 Rp. 18.588.000,00

Rp. 1.549.000,00 Rp. 1.549.000,00 Rp. 20.137.000,00 Rp. 20.137.000,00 Rp. Rp. 1.006.850,00 168.000,00 Rp. Rp. 1.006.850,00 168.000,00

Rp. 1.174.850,00 Rp. 1.174.850,00 Rp. 18.162.950,00 Rp. 18.162.950,00 Rp. 15.840.000,00 Rp. 15.840.000,00 Rp. 3.122.150,00 Rp. 3.122.150,00 Rp. 3.122.000,00 Rp. Rp. Rp. 156.108,00 156.108,00 156.108,00 NIHIL Rp. 156.100,00 82.530,00 73.578,00 156.108,00 8,00

Rp. Rp. Rp. Rp.

Dari perbandingan di atas terdapat dua perbedaan antara penghitungan menurut perusahaan dengan penghitungan menurut ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. Perbedaan pertama terletak pada jumlah Penghasilan Kena

135

Pajak (PKP) pembulatan.

yang berdasarkan penghitungan perusahaan tidak dilakukan Perusahaan melakukan pembulatan keatas apabila terdapat angka Sedangkan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan

dibelakang koma.

perpajakan dilakukan pembulatan sehingga menurut ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan PPh lebih potong sebesar Rp. 8,00. Perbedaan kedua terletak pada penghitungan PPh Pasal 21 atas THR. Menurut penghitungan yang dilakukan perusahaan, THR termasuk dalam komponen penghasilan dalam penghitungan PPh Pasal 21 atas gaji pada bulan diterimanya THR tersebut sehingga pada bulan saat diterimanya THR, PPh Pasal 21 Masa pegawai yang menerima THR tersebut lebih besar dibandingkan dengan PPh Pasal 21 bulanbulan sebelumnya atau sesudahnya. Dengan kata lain, perusahaan tidak memisahkan antara PPh Pasal 21 atas THR dan PPh Pasal 21 atas gaji. Sedangkan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, penghitungan PPh Pasal 21 atas THR dan PPh Pasal 21 atas gaji dipisahkan. Meskipun terdapat perbedaan cara penghitungan perusahaan dengan penghitungan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara keduanya. Karena pada dasarnya cara penghitungan yang dilakukan oleh perusahaan, juga berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang terkait dengan Tata Cara Penghitungan PPh Pasal 21/26.

136

A. 2.

Penghitungan dan Pemotongan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap yang Berhenti Bekerja dalam Tahun Berjalan. Tabel 13 Perbandingan Penghitungan PPh Pasal 21 URAIAN Penghitungan PPh Pasal 21 perusahaan Penghitungan PPh Pasal 21 ketentuan yang berlaku

I. Penghasilan Teratur : - Gaji pokok setahun - Tunjangan makan dan transport - Tunjangan jabatan dan masa kerja - Tunjangan anak - Tunjangan Istri JUMLAH (I) II. Penghasilan Tidak Teratur : - THR PENGHASILAN BRUTO (I + II) Pengurangan : Biaya Jabatan 2. Iuran pensiun dan jaminan hari tua (10 x Rp. 14.000) JUMLAH PENGURANGAN PENGHASILAN NETO 10 BULAN PTKP (TK/-) PKP Pembulatan PPh 21 Terutang setahun : 5% x (penghasilan sampai dengan Rp. 50.000.000,-) PPh Pasal 21 yang telah dipotong - Atas Gaji termasuk THR - Atas Gaji - Atas THR Jumlah PPh Pasal 21 yang telah dipotong PPhPasal 21 lebih potong

Rp 8.000.000,00 Rp. 4.950.000,00 Rp. 9.000.000,00 Rp. 400.000,00 Rp. 800.000,00 Rp. 22.325.000,00

Rp 8.000.000,00 Rp. 4.950.000,00 Rp. 9.000.000,00 Rp. 400.000,00 Rp. 800.000,00 Rp. 22.325.000,00

Rp. 2.232.500,00 Rp. 2.232.500,00 Rp. 24.557.000,00 Rp. 24.557.000,00 Rp. Rp. 1.227.875,00 140.000,00 Rp. Rp. 1.227.875,00 140.000,00

Rp. 1.367.875,00 Rp. 1.367.875,00 Rp. 23.189.625,00 Rp. 23.189.625,00 Rp. 19.800.000,00 Rp. 19.800.000,00 Rp. 3.389.625,00 Rp. 3.389.625,00 Rp. 3.389.000,00 Rp. Rp. Rp. Rp. 169.482,00 311.640,00 311.640,00 Rp. 169.450,00 205.596,00 106.044,00 311.640,00 142.190,00

Rp. Rp. Rp.

142.158,00 Rp.

137

Dari perbandingan diatas terdapat kesamaan dengan penghitungan dan pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tetap. Perbedaanya teletak pada jumlah

Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan dilakukan pembulatan sedangkan berdasarkan penghitungan perusahaan tidak dilakukan pembulatan. Perbedaan lainnya juga terletak pada penghitungan PPh Pasal 21 atas THR dan PPh Pasal 21 atas gaji. Berdasarkan penghitungan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, penghitungan PPh Pasal 21 atas THR dan PPh Pasal 21 atas gaji dipisahkan. keduanya tidak dipisahkan. Untuk penghasilan Neto pegawai yang berhenti bekerja dalam tahun berjalan berdasarkan Peraturan Dirjen Pajak - PER.31/PJ/2009 tidak disetahunkan karena kewajiban subjektif dari pegawai tersebut sudah ada sejak awal tahun. Penghasilan neto yang diterimanya dihitung berdasarkan jumlah bulan ia bekerja atau selama 10 bulan. Kelebihan pemotongan sebesar Rp. 142.158,00 dikembalikan oleh perusahaan kepada yang bersangkutan saat pemberian bukti pemotongan PPh Pasal 21. Atas uang pesangon yang dibayarkan oleh perusahaan dikenakan tarif sebesar 0% dari jumlah bruto yang dibayarkan perusahaan sebesar Rp. 10.000.000,-. Hal tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2009 tentang tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, dan jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus. Sedangkan berdasarkan penghitungan perusahaan

138

A. 3.

Penghitungan dan Pemotongan PPh Pasal 21 Pegawai Kontrak Perbedaan penghitungan antara penghitungan menurut perusahaan dengan

penghitungan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan atas PPh Pasal 21 pegawai kontrak, secara keseluruhan sama seperti perbedaan yang terdapat dalam penghitungan PPh Pasal 21 pegawai tetap yang terletak pada pembulatan Penghasilan Kena Pajak (PKP) dan pemisahan antara PPh Pasal 21 atas gaji dan PPh Pasal 21 atas THR. Meskipun terdapat perbedaan penghitungan antara cara penghitungan perusahaan dengan penghitungan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara keduanya. Karena pada dasarnya cara penghitungan yang dilakukan oleh perusahaan, berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang terkait dengan Tata Cara Penghitungan PPh Pasal 21/26. Dari ketiga perbandingan pelaksanaan penghitungan dan pemotongan PPh Pasal 21, diketahui bahwa perusahaan telah melaksanakan penghitungan dan

pemotongan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berkaitan dengan PPh Pasal 21.

B. B. 1.

Analisis Pelaksanaan Penyetoran dan Pelaporan PPh Pasal 21. Analisis Penyetoran PPh Pasal 21 Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari perusahaan mengenai

pelaksanaan kewajiban penyetoran PPh Pasal 21, didapatkan kesimpulan bahwa seluruh penyetoran PPh Pasal 21 oleh PT. Angka Wijayasentosa pada masa Januari

139

sampai dengan Desember Tahun 2006 hingga Tahun 2009 tidak melewati batas waktu penyetoran yang telah ditentukan dan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan . Terdapat beberapa bulan yang tanggal penyetorannya telah melewati batas waktu yang telah ditentukan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Hal itu disebabkan karena tanggal jatuh tempo yaitu paling lama 10

(sepuluh) hari setelah Masa Pajak berakhir bertepatan dengan hari libur. Oleh karena itu, berdasarkan Peraturan Dirjen Pajak - PER.31/PJ/2009 dan berdasarkan Menteri Keuangan No.326/KMK.03/2003 jo. PMK No.

Keputusan

184/PMK.03/2007 pembayaran / penyetoran PPh Pasal 21 dilakukan pada hari kerja berikutnya. Apabila dalam suatu bulan terjadi kelebihan penyetoran pajak atas PPh Pasal 21 yang terutang, oleh perusahaan kelebihan penyetoran tersebut diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 yang terutang pada bulan berikutnya melalui Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 21. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Dirjen

Pajak - PER.15/PJ/2006 jo. PER.31/PJ/2009 tentang pedoman teknis dan tata cara pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21/26 sehubungan dengan

pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi.

B. 2.

Analisa Pelaporan SPT PPh Pasal 21 Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari perusahaan mengenai

pelaksanaan kewajiban pelaporan SPT PPh Pasal 21, didapatkan kesimpulan bahwa seluruh pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) PPh Pasal 21 baik SPT Masa maupun

140

SPT Tahunan oleh PT. Angka Wijayasentosa pada masa Januari sampai dengan Desember Tahun 2006 hingga Tahun 2009 tidak melewati batas waktu pelaporan yang telah ditentukan dan telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. Selama Tahun 2006 hingga Tahun 2009 ditemukan beberapa bulan yang tanggal pelaporannya telah melewati batas waktu yang telah ditentukan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Hal itu disebabkan karena

tanggal jatuh tempo yaitu paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir bertepatan dengan hari libur. Oleh karena itu, berdasarkan Peraturan Dirjen Pajak PER.31/PJ/2009 dan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan

No.326/KMK.03/2003 jo. PMK No. 184/PMK.03/2007 pelaporan SPT PPh Pasal 21 dilakukan pada hari kerja berikutnya.

C.

Analisa

Menyeluruh

Pelaksanaan

Penghitungan,

Pemotongan,

Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 21 1. Dari analisa yang telah dibuat, pelaksanaan penghitungan dan

pemotongan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap dan Pegawai Kontrak ditemukan selisih angka yang disebabkan karena adanya pembulatan angka dalam ribuan kebawah yang dilakukan menurut Undang-Undang PPh. Secara

keseluruhan, penghitungan dan pemotongan PPh Pasal 21 sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

141

2. Dalam hal pelaksanaan penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21 yang dilakukan perusahaan seluruhnya sudah dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Tidak ada kelalaian yang

dilakukan oleh perusahaan baik yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam melaksanakan kewajiban setor dan lapor tersebut. 3. Tidak banyak hambatan atau kendala yang ditemui pada perusahaan dalam melaksanakan penghitungan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21. Hambatan atau kendala hanya ditemui perusahaan pada

saat melakukan penghitungan PPh Pasal 21, yaitu perusahaan mengalami kesulitan untuk memporoleh data mengenai status tanggungan pegawai. Karena tiap tahun ada beberapa pegawai yang mengklaim bahwa tanggungan mereka bertambah, sedangkan data yang terdapat di

perusahaan merupakan data yang diperoleh pada saat pertama kali pegawai tersebut bekerja. 4. Upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengatasi hambatan atau kendala adalah dengan meminta data dari masing-masing pegawai dengan mencantumkan jumlah tanggungan masing - masing pegawai

tersebut. Data akan diminta oleh perusahaan setiap satu tahun sekali yang dilakukan pada setiap akhir tahun. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada lagi klaim yang menyatakan bahwa tanggungan dari pegawai bertambah pada saat tahun berjalan.