Anda di halaman 1dari 3

142

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian-uraian dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, dikemukakan kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut: A. 1. Kesimpulan

dapat

Pelaksanaan penghitungan dan pemotongan PPh Pasal 21/26 yang dilakukan oleh PT. Angka Wijayasentosa Jakarta atas penghasilan dari pegawai tetap maupun pegawai kontrak belum sepenuhnya sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan khususnya Pasal 21 dan Ketentuan lain yang berlaku karena perusahaan tidak memisahkan antara PPh Pasal 21 atas THR dan PPh Pasal 21 atas gaji dan perusahaan tidak melakukan pembulatan atas jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP). Meskipun terdapat perbedaan cara tetapi

tidak menimbulkan perbedaan angka yang sangat signifikan 2. Pelaksanaan penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21/26 yang dilakukan oleh PT. Angka Wijayasentosa, telah sesuai dengan Undang-Undang Pajak PT.

Penghasilan khususnya Pasal 21 dan Ketentuan lain yang berlaku.

Angka Wijayasentosa dalam kurun waktu 4 (empat) tahun dari tahun 2006 hingga tahun 2009, tidak pernah ada keterlambatan dalam menyetorkan dan melaporkan jumlah Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang. 3. PT. Angka Wijayasentosa tidak menemukan hambatan atau kendala yang berarti dalam melaksanakan penghitungan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21/26. Hambatan atau kendala yang dihadapi adalah

143

mengenai jumlah tanggungan dari pegawai yang dikenakan pemotongan PPh Pasal 21. Hal tersebut terjadi karena PT. Angka Wijayasentosa selalu aktif

menjalin komunikasi dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban perpajakan perusahaan. Sehingga pada waktu ada perubahan peraturan perpajakan, perusahaan tidak

mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian dengan peraturan baru tersebut. 4. Upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengatasi hambatan atau kendala yang ada dalam melaksanakan penghitungan, pemotongan,

penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21/26 adalah dengan meminta data dari masing-masing pegawai mengenai jumlah tanggungan. Data diminta oleh perusahaan setiap satu tahun sekali yang dilakukan pada setiap akhir tahun sebelum tahun pajak berikutnya, sehingga tidak ada lagi klaim yang

menyatakan bahwa tanggungan dari pegawai bertambah saat tahun berjalan pada tahun pajak berikutnya.

B.

Saran Berkenaan dengan analisis dan kesimpulan mengenai pelaksanaan

penghitungan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21/26 bersama ini disampaikan saran-saran sebagai berikut: 1. Dalam melaksanakan penghitungan dan pemotongan PPh Pasal 21, PT.

Angka Wijayasentosa agar lebih menyesuaikan lagi dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam melaksanakan penghitungan

144

dan pemotongan PPh Pasal 21, sehingga tidak terdapat lagi selisih PPh Pasal 21 terutang yang disebabkan karena adanya perbedaan cara penghitungannya. 2. PT. Angka Wijayasentosa agar tetap mempertahankan kepatuhannya dalam melaksanakan kewajiban setor dan lapor PPh Pasal 21/26. 3. Untuk mengatasi hambatan atau kendala, sebaiknya perusahaan

menggunakan data tanggungan karyawan setiap awal tahun pajak dan menjelaskan kepada karyawan bahwa tanggungan yang diperbolehkan adalah tanggungan yang ada pada awal tahun pajak atau awal dari bagian tahun pajak. 4. Agar meningkatkan konsultasi rutin dengan pihak Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat guna mengurangi hambatan atau kendala dalam

melaksanakan kewajiban perpajakannya khususnya PPh Pasal 21/26 dan mengakses peraturan-peraturan terbaru baik melalui media elektronik, mengikuti penyuluhan dan sosialisasi, maupun seminar-seminar perpajakan.