Anda di halaman 1dari 24

Penyakit TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium Tuberklosa, bakteri ini menyerang siapa

saja pria maupun wanita tanpa memandang usia. Dan biasanya penyakit TBC sering menyerang pada usia rata-rata 15-35 tahun, boleh dibilang usia masih produktif. Pada umumnya penyakit TBC menular melalui udara, dan biasanya bakteri mikobakterium tuberklosa terbawa pada saat seseorang batuk lalu mengeluarkan dahak. Bahayanya jika bakteri selalu masuk dan terkumpul dalam paru-paru, maka bakteri ini akan berkembang biak dengan cepat apalagi yang mempunyai daya tahan tubuh yang rendah. Apabila sudah terjadi infeksi maka dengan mudahnya akan menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Terjadinya infeksi TBC dapat mempengaruhi organ tubuh lainnya seperti otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan biasanya yang paling sering terserang yaitu paru-paru. Bakteri mikobakterium tuberklosa mempunyai bentuk seperti batang dan bersifat seperti tahan asam sehingga dikenal sebagai BTA (Batang Tahan Asam) yang merupakan faktor utama penyakit TBC. Selain dari bakteri tersebut, faktor yang lain yang menjadi penyebab penyakit TBCadalah lingkungan yang lembab, kurangnya sirkulasi udara, dan kurangnya sinar matahari dalam ruang sangat berperan terjadinya penyebaran bakteri mikobakterium tuberklosa ini. Dengan demikian sangat mudah menyerang orang-orang disekitar dalam kondisi lingkungan yang kurang sehat. Berikut ini gejala penyakit TBC pada umumnya: - Sering mengalami demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung lama. - Keringat pada malam hari - Mudah terserang flu yang bersifat hilang timbul - Turunnya berat badan dan kurang nafsu makan - Batuk-batuk lebih dari 3 minggu dan kadang-kadang juga disertai dengan darah. - Perasaan terasa lemah, lesu, dan tidak enak.

Sebelum terjadi pada diri kita sebaiknya kita melakukan pencegahan, agar kita bisa terhindar dari penyakit TBC tersebut. Adapun cara pencegahannya adalah sebagai berikut:

Tidak meludah disembarang tempat, usahakan meludah ditempat yang terkena sinar matahari atau ditempat sampah. Ketika ada seseorang ingin batuk atau bersin sebaiknya anda menutup mulut untuk menjaga terjadinya penularan penyakit. Kesehatan badan harus sering di jaga supaya sistem imun senangtiasa terjaga dan kuat. Jangan terlalu sering begadang karena kurang istirahat akan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Jaga jarak aman terhadap penderita penyakit TBC Sering-seringlah berolahraga supaya tubuh kita selalu sehat. Lakukan imunisasi terhadap bayi untuk mencegah penyakit TBC Jemur tempat tidur bagi penderita TBC, karena kuman TBC dapat mati apabila terkena dengan sinar matahari.

Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang. Ini juga salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia. Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus. Pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis

pada tahun 2002, sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus ini terjadi di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus di dunia.

Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya meninggal. Seratus tahun yang lalu, satu dari lima kematian di Amerika Serikat disebabkan oleh tuberkulosis. Tuberkulosis masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang tersering di Indonesia. Keterlambatan dalam menegakkan diagnosa dan ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan mempunyai dampak yang besar karena pasien Tuberkulosis akan menularkan penyakitnya pada lingkungan,sehingga jumlah penderita semakin bertambah. Pengobatan Tuberkulosis berlangsung cukup lama yaitu setidaknya 6 bulan pengobatan dan selanjutnya dievaluasi oleh dokter apakah perlu dilanjutkan atau berhenti, karena pengobatan yang cukup lama seringkali membuat pasien putus berobat atau menjalankan pengobatan secara tidak teratur, kedua hal ini ini fatal akibatnya yaitu pengobatan tidak berhasil dan kuman menjadi kebal disebut MDR ( multi drugs resistance ), kasus ini memerlukan biaya berlipat dan lebih sulit dalam pengobatannya sehingga diharapkan pasien disiplin dalam berobat setiap waktu demi pengentasan tuberkulosis di Indonesia

Klasifikasi

Tuberkulosis paru terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis

Tuberkulosis paru tidak terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis Tuberkulosis pada sistem saraf Tuberkulosis pada organ-organ lainnya Tuberkulosis millier

[sunting]Patofisiologi Penyebab penyakit ini adalah bakteri kompleks Mycobacterium tuberculosis. Mycobacteria termasuk dalam famili Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetales. kompleksMycobacterium tuberculosis meliputi M. tuberculosis, M. bovis, M. africanum, M. microti, dan M. canettii. Dari beberapa kompleks tersebut, M. tuberculosis merupakan jenis yang terpenting dan paling sering dijumpai. M.tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 5 dan lebar 3, tidak membentuk spora, dan termasuk bakteri aerob. Mycobacteria dapat diberi pewarnaan seperti bakteri lainnya, misalnya dengan Pewarnaan Gram. Namun, sekali mycobacteria diberi warna oleh pewarnaan gram, maka warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu, maka mycobacteria disebut sebagai Basil Tahan Asam atau BTA. Beberapa mikroorganisme lain yang juga memiliki sifat tahan asam, yaitu spesies Nocardia, Rhodococcus, Legionella micdadei, dan protozoaIsospora dan Cryptosporidium. Pada dinding sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, menjadikan M. tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofaga.

[sunting]Penularan Penularan penyakit ini karena kontak dengan dahak atau menghirup titik-titik air dari bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberkulosis, anak anak sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di sekitar rumah maupun saat berada di fasilitas umum seperti kendaraan umum, rumah sakit dan dari lingkungan sekitar rumah. Oleh sebab ini masyarakat di Indonesia perlu sadar bila dirinya terdiagnosis tuberkulosis maka hati hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak batuk sembarangan , tidak membuang ludah sembarangan dan sangat dianjurkan untuk bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tissue. Dalam memerangi penyebaran Tuberkulosis terutama pada anak anak yang masih rentan daya tahan tubuhnya maka pemerintah Indonesia telah memasukkan Imunisasi Tuberkulosis pada anak anak yang disebut sebagai Imunisasi BCG sebagai salah satu program prioritas imunisasi wajib nasional beserta dengan 4 jenis imunisasi wajib lainnya yaitu hepatitis B, Polio, DPT dan campak, jadwalnya ada di Jadwal imunisasi [sunting]Diagnosis [sunting]Simtoma

klinis

Diagnosa tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan jasmani, pemeriksaan bakteriologi , radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratori atau gejala gejala yang erat hubungannya dengan organ pernapasan ( sedang gejala lokal lain akan sesuai dengan organ yang terlibat )

Gejala respiratori ialah batuk lebih dari 2 minggu, batuk bercampur darah. Bisa juga nyeri dada dan sesak napas. Selanjutnya ada gejala yang disebut sebagai Gejala sistemis antara lainDemam , badan lemah yang disebut sebagai malaise, keringat malam, anoreksia dan berat badan menurun menjadi semakin kurus. Gejala respiratori sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi, sehingga pada kondisi yang gejalanya tidak jelas sehingga terkadang pasien baru mengetahui dirinya terdiagnosis Tuberkulosis saatmedical check up
Etiologi dan Patofisiologi TBC Etiologi dan Patofisiologi TBC Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yanq sebagian besar (80%) menyerang paru-paru. Mycobacterium tuberculosis termasuk basil gram positif berbentuk batang dinding selnya mengandung komplek lipidagikolipida serta (wax) yang sulit ditembus zat kimia Umumnya Mycobacterium tuberculosis menyerang paru dan sebagian kecil organ tubuh lain. Kuman ini mempunyai sifat khusus yakni tahan terhadap asam pada pewamaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak secara mikroskopis. Sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Mycobacterium tuberculosis cepat mati dengan matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman dapat dormant (tertidur sampai beberapa tahun). TB timbul berdasarkan kemampuannya untuk memperbanyak diri di dalam sel-sel fagosit. Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau bersin. penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan. Jadi penularan TB tidak terjadi melalui perlengkapan makan, baju, dan perlengkapan tidur. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran

darah, sistem saluran limfe, saluran nafas. atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Secara klinis, TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan paska primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman TB untuk pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman TB yang berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya infeksi hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-5 minggu. Kelanjutan infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan respon daya tahan tubuh dapat menghentikan perkembangan kuman TB dengan cara menyelubungi kuman dengan jaringan pengikat. Ada beberapa kuman yang menetap secara "persisten" atau dormant", sehingga daya tahan tubuh tidak dapat menghentikan perkembangbiakan kuman, akibatnya yang bersangkutan akan menjadi penderita TB dalam beberapa bulan. Pada infeksi primer ini biasanya menjadi abses (terselubung) dan berlangsung tanpa gejala, hanya batuk dan nafas berbunyi. Tetapi pada orang-orang dengan sistem imun lemah dapat timbul radang paru hebat, ciri-cirinya batuk kronik dan bersifat sangat menular. Masa inkubasi sekitar 6 bulan. Infeksi paska primer terjadi setelah beberapa bulan atau tahun setelah infeksi primer. Ciri khas TB paska primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura. Seseorang yang terinfeksi kuman TB belum tentu sakit atau tidak menularkan kuman TB. Proses selanjutnya ditentukan oleh berbagai faktor risiko. Kemungkinan untuk terinfeksi TB, tergantung pada :

Kepadatan droplet nuclei yang infeksius per volume udara Lamanya kontak dengan droplet nuklei tsb

Kedekatan dengan penderita TB


Resiko terinfeksi TB sebagian besar adalah faktor risiko external, terutama adalah faktor lingkungan seperti rumah tak sehat, pemukiman padat & kumuh. Sedangkan risiko menjadi sakit TB, sebagian besar adalah faktor internal dalam tubuh penderita sendiri yang disebabkan oleh terganggunya sistem kekebalan dalam tubuh penderita seperti kurang gizi, infeksi HIV/AIDS, pengobatan dengan immunosupresan dan lain sebagainya. Pada penderita TB sering terjadi komplikasi dan resistensi. Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut : Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan : kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian. ginjal dan sebagainya. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu perawatan di rumah sakit. Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA Negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simtomatis. Bila perdarahan berat penderita harus dirujuk ke unit spesialistik. Resistensi terhadap OAT terjadi umumnya karena penggunaan OAT yang tidak sesuai. Resistensi dapat terjadi karena penderita yang menggunakan obat tidak sesuai atau tidak patuh dengan jadwal atau dosisnya. Dapat pula terjadi karena mutu obat yang dibawah standar. Resistensi ini menyebabkan jenis obat yang biasa dipakai sesuai pedoman pengobatan tidak lagi dapat membunuh kuman. Dampaknya, disamping kemungkinan terjadmya penularan kepada orang disekitar penderita, juga memerlukan biaya yang lebih mahal dalam pengobatan tahap berikutnya. Dalam hal inilah dituntut peran Apoteker dalam membantu penderita untuk menjadi lebih taat dan patuh melalui penggunaan yang tepat dan adekuat.

Sejarah, Epidemiologi, dan Etiologi Tuberkulosis (TBC)


SEJARAH TUBERKULOSIS Tuberkulosis adalah penyakit yang diderita manusia sama tuanya dengan sejarah manusia. Penemuan lesi pada tulang-tulang belakang mummi yang sesuai dengan TB ditemukan di Heidelberg, diduga berasal dari tahun 5000 SM. Demikian juga halnya di Italia

diduga berasal dari tahun 4000 SM. Keadaan ini juga dijumpai di Denmark dan lembah Jordan. Di Mesir juga ditemukan lukisanlukisan pada dinding berupa bentuk kelainan tulang belakang yang sesuai dengan penemuan TB spinal pada mummi. Di Indonesia catatan paling tua dari penyakit ini adalah seperti didapatkan pada salah satu relief di candi Borobudur yang tampaknya menggambarkan kasus tuberkulosis. Hipokrates juga mendeskripsikan tentang penyakit ini dan menyebutnya Pthisis. Akhirnya pada tahun 1882 Robert Koch menemukan basil tuberkulosis sebagai penyebabnya dan hasil penemuannya dipresentasikan pada tanggal 24 Maret 1882 di Berlin. Hal ini di peringati sebagai hari TB sedunia (TB Day). EPIDEMIOLOGI TUBERKULOSIS Setiap tahunnya sekitar 4 juta penderita baru tuberkulosis paru menular di dunia, ditambah lagi dengan penderita yang tidak menular. Artinya setiap tahun di dunia ini akan ada sekitar 8 juta penderita tuberkulosis paru, dan akan ada sekitar 3 juta orang meninggal oleh karena penyakit ini. Ditahun 1990 tercatat ada lebih dari 45 juta kematian di dunia karena berbagai sebab, dimana 3 juta diantaranya (7%) terjadi karena kasus tuberkulosis. Selain itu 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah terjadi akibat tuberkulosis. Tahun 1990 dikawasan Asia Tenggara telah muncul 3.1 juta penderita baru tuberkulosis dan terjadi lebih dari satu juta kematian akibat penyakit ini. Pada tahun 2005 di Asia Tenggara ada lebih dari 8,8 juta penderita baru tuberkulosis dan lebih dari 1,6 juta kematian. ETIOLOGI TUBERKULOSIS Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan

oleh infeksi kuman (basil) Mikobakterium tuberkulosis. Sebagian besar basil tuberkulosis menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lain. Organisme ini termasuk ordo Actinomycetalis, familia Mycobacteriaceae dan genus Mycobacterium. Genus Mycobacterium memiliki beberapa spesies diantaranya Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan infeksi pada manusia. Basil tuberkulosis berbentuk batang ramping lurus, tapi kadang-kadang agak melengkung, dengan ukuran panjang 2m4m dan lebar 0,2m0,5m. Organisme ini tidak bergerak, tidak membentuk spora, dan tidak berkapsul, bila diwarnai akan terlihat berbentuk manik-manik atau granuler. Kuman ini bersifat obligat aerob dan pertumbuhannya lambat. Dibutuhkan waktu 18 jam untuk mengganda dan pertumbuhan pada media kultur biasa dapat dilihat dalam waktu 6-8 minggu. Suhu optimal untuk untuk tumbuh pada 37 derajat Celcius dan pH 6,47,0. Jika dipanaskan pada suhu 60 derajat Celcius akan mati dalam waktu 15-20 menit. Kuman ini sangat rentan terhadap sinar matahari dan radiasi sinar ultraviolet. Di samping itu organisme ini agak resisten terhadap bahan-bahan kimia dan tahan terhadap pengeringan, sehingga memungkinkan untuk tetap hidup dalam periode yang panjang didalam ruangan-ruangan, selimut dan kain yang ada di kamar tidur, sputum. Dinding selnya 60% terdiri dari kompleks lemak seperti mycolic acid yang menyebabkan kuman bersifat tahan asam, cord factor merupakan mikosida yang berhubungan dengan virulansi. Kuman yang virulen mempunyai bentuk khas yang disebut serpentine cord, Wax D yang berperan dalam immunogenitas dan phospatides yang berperan dalam proses nekrosis kaseosa. Basil tuberkulosis sulit untuk diwarnai tapi sekali diwarnai ia akan

mengikat zat warna dengan kuat yang tidak dapat dilepaskan dengan larutan asam alkohol seperti perwarnaan Ziehl Nielsen. Organisme seperti ini di sebut tahan asam. Basil tuberkulosis juga dapat diwarnai dengan pewarnaan fluoresens seperti pewarnaan auramin rhodamin.

TB Paru dan manifestasi dalam Rongga Mulut


TB Paru ialah suatu penyakit infeksi kronik jaringan paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosae dan Mycobacterium Bovis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobakterium Tuberculose. Basil tuberkulosis berukuran sangat kecil berbentuk batang tipis, agak bengkok, bergranular, berpasangan yang hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Bersifat aerob, tidak berkapsul, tidak berspora, panjangnya 1- 4 mikron dan lebarnya antara 0,3-0,6 mikron. Basil tuberkulosis akan tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 37C dengan tingkat pH optimal (pH 6,4-7,0). Untuk membelah dari 1-2 kuman membutuhkan waktu 14-20 jam.Basil Mikobaterium Tuberkulosis anaerob tidak bereaksi terhadap pewarnaan gram tetapi bereaksi terhadap pewarnaan ZiehlNielsen.Tuberkulosis yang disebabkan oleh basil Mikobaterium Tuberkulosis tahan asam dan alkohol. Organisme penyebab dengan batang gram-positif baik bersifat asam maupun alkohol.

Cara penyebaran penyakit tersebut antara lain : o Inhalasi melalui udara / droplet (percikan). Ke saluran pernafasan dulu getah bening. o Inokulasi melalui luka terbuka. Dari lukanya dulu getah bening o Ingesti dari saluran pencernaan o Infeksi. Ex : susu yang kurang steril (microbakterium bovis). Dari sapi yang terinfeksi Tb, tidak direbus terlebih dahulu dan langsung diminum. Namun bisa juga sudah direbus tapi suhunya tidak maksimum. o Dari scenario termasuk : inhalasi dari rokoknya.

Gejala klinis dari penyakit TB yaitu : o Nyeri dada : tidak semuanya mengalami gejala ini, karena nyeri timbul kalau sudah sampai ke pleura. Saat menghirup dan melepaskan nafas. o Local : berhubungan ke paru-paru. Batuk berdahak lebih dari 3 minggu : karena ada iritasi dari bronkus. Dahak berwarna kuning karena warna dari sputumnya, serta

leukositnya yang berlebihan (pembusukan dari leukositnya). Sesak nafas : jika masih dalam TB ringan belum mengalami gejala sesak nafas. o Sistemik Demam pada sore hari dan berkeringat pada malam hari Pada siang hari terdapat matahari bakter tidak tahan panas demam pada sore hari (Kerja bakteri itu sering pada malam hari) Berkeringat infeksi pada bakteri pada malam hari meningkat sehingga menyebabkan keringat). Pada irama sirkadian yang memang meningkat pada sore dan malam hari Demam subfebril Malaise : tidak ada nafsu makan menyebabkan nafsu makan menurun penurunan BB akibat perdangan yang menahun. Hilang timbul. Batuk berdarah : karena pembuluh darah terbuka atau pecah. Di ulkus dinding bronkus. Dimulai dari batuk kering tidak menghasilkan sputum batuk produktif batuk berdarah. Pembesran kelenjar limfe : ulser yang indurasinya kronis (lidah dan palatum) o Khusus metabolismenya meningkat (panas dan

Bila

kumannya

menyebar

ke organ yang

lain. Ex

: Bila

sampai keotak menyebabkan meningitis.

Patogenesis dari penyakit Tb diawali dari basil TB yang masuk ke tubuh dan akan menetap di bronkiolus dan alveolus. Kemudian bakteri tersebut akan dikenali oleh makrofag. Jika makrofag berhasil melawan basil TB maka akan didetruksi basil TB, namun jika makrofag tidak berhasil melawan basil TB, kondisi makrofag lemah dan juga dipicu oleh system imun tubuh yang menurun, maka basil TB tersebut akan berkembang dalam tubuh makrofag dan akan didetruksi makrofag. Dari proses detruksi makrofag dihasilkan bahan kemotaksik yang menarik makrofag yang bermigrasi dari aliran darah ke dalam area jaringan yang meradang, kemudian akan membentuk tuberkel yaitu penumpukan makrofag dari bahan kemotaksik. Jadi untuk membunuh bakteri TB dibutuhkan limfosit T sehingga limfosit T berproliferasi memproduksi sitokin mengaktifkan limfosit T2 (menambah sintesis antibody humoral) dan limfosit T1(mengaktifkan makrofag). Keduanya mengalami respon timbal balik yakni makrofag dan limfosit T yang berhasil melawan bakteri akan melepas TNF sehingga menyebabkan detruksi bakteri TB primer. Sedangkan makrofag dan limfosit T yang tidak berhasil melawan bakteri akan pecah dan menyebabkan penyebaran hematogen dan akan menyebar ke jaringan tubuh TB sekunder. Dalam TB primer terdapat 3 macam sarang, dimana sarang-sarang tersebut akan membentuk suatu tuberkel yang merupakan hasil dari fagositosit makrofag. Sarang-sarang tersebut antara lain : o Sarang yang sudah sembuh sarang bentuk ini tidak perlu pengobatan lagi o Sarang aktif eksudatif sarang bentuk ini perlu pengobatan yang lengkap dan sempurna o Sarang yang berada antara aktif dan sembuh sarang bentuk ini dapat sembuh spontan, tetapi mengingat kemungkinan terjadinya eksaserbasi kembali, sebaiknya diberi pengobatan yang sempurna juga. Hubungan antara penyakit TB dengan tekanan darah dan kebiasaan merokok

o Dengan kebiasaan merokok : dapat merusak mekanisme pertahanan dari paruparu (dari bulu-bulu getarnya) mudah menginfeksi paru-paru (sulit ditolak oleh bahan-bahan dari rokok.) Nikiotin diserap lendir dan jaringan paru penimbunan mucus peningkatan pertumbuhan bakteri (pergerakan silia dihambat) Merokok terjadi luka kecil di mukosa pembentukan lesi o Tekanan darah : aliran darah makin tinggi penyebaran makin cepat Tb jumlah leukosit yang meninggi, limfe rendah Laju endap darah mengendap. Siapapun bisa beresiko terkena penyakit TB misalnya seorang perokok, orang yang lebih dekat dengan penderita TB, petugas medis, serta pemakai obat yang mempengaruhi system pertahanan. ex : yang dikemoterapi, HIV, penyakit menahun. Namun penyakit TB dapat dicegah dengan beberapa hal. Pencegahan untuk penyakit ini ada 3 antara lain : o Pencegahan Primer Menghindari kontak langsung dengan penderita Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksin BCG. Kebersihan lingkungan : ventilasi yang cukup o Pemeriksaan Sekunder Isolasi dari penderita, pengobatan TB sec tuntas. Jika penderita TB juga mempunyai penyakit

DM makapenyembuhannya harus secara hati-hati. Penderita TB tidak boleh dekat dengan penderita HIV karena akan memperparah TB o Pemeriksaan Tersier Memberi pengobatan secara teratur dalam jangka waktu 9-12 bulan pada penderita kambuh setelah pengobatan Pemberian paduan obat efektif dengan konsep DOTS

Pencegahan penyakit TB sebagai seorang dokter gigi yaitu : o Evalusi pasien : Dengan melakukan anamnesis secara bertahap. o Perlindungan diri : Memakai masker dan handscoen.

o Imunisasi : seorang drg harus selalu update imunisasi o Sterilisasi dan desinfeksi o Laboratorium yang asepsis

Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit TB ini ialah sebagai berikut : o Komplikasi dini Pleuritis adalah peradangan jaringan tipis yang meliputi paru-paru dan melapisi rongga dinding rongga dada bagian dalam (pleura). Empiema : akumulasi pus dalam rongga Laryngitis TB adalah radang pangkal tenggorokan dengan gejala serak, perubahan suara dan gatal pada kerongkongan Efusi pleura Pneomonitis Meningitis Infeksi tulang o Komplikasi Lanjut Obstruksi jalan nafas / SOPT (sindrom obstruksi pasca tb). Menyebabkan kerusakan parenkim berat (fibrosis paru). Karsinoma paru Sindrom gagal nafas (ARDS) o Pada gangguan mulut : malnutrisi karena rasa sakit progresif yang dirasakan di mulut.

Penyakit TB dapat diobati dengan berbagai obat dan prosedur dibawah ini : o Antimikroba dalam jangka waktu yang lama (paling sedikti 6 bulan)dan harus secara berturut-turut selama 6 bulan. Jika tidak diminum diulang lagi selama 6 bulan. o OAT primer Kegagalan pengobatan : asam paraamino salisilat, etionamide, tioasetazon, floroquinon, Streptomisin. o OAT sekunder (selama 18 bulan): ofloksasin dan siprofoksasin

Tahapan

bulan

(intensif):

konversi

sputum

dengan cepat.

Menghilangkan keluhan dan mencegah efek lebih lanjut. 4 obat dalam 1 hari selama 60 kali. INH 300 mg/tablet, rifampisin 450 mg/kaplet, pirazinamid 3tablet (1tablet 500 mg), etambutol 250 mg sebanyak 3 tablet 4 7 bulan (lanjutan): menghilangkan bakteri BTA yang tersisa , mencegah kekambuhan, Inh, rimfapisin.inh 600mg/2 tablet, R sama. 3 kali seminggu selama 54 kali dalam 4 bulan o Dengan OAT (obat anti tb) : yang bersifat bakterisit. Kombinasi dari 2 obat. o Antibiotic diawasi dibawah pengawasan, perawat klinik dada sampai benarbenar diminum. Dalam jangka waktu 6 bulan. o Di mukosa oral : tidak perlu dilakukan pengobatan. Tapi jika lesi timbul karena trauma maka disembuhkan dulu penyebabnya. pemeriksaan penunjang. Melakukan biopsy untuk

Prosedur pemeriksaan klinik untuk menetapkan diagnose dari TB o Anamnesis o Pemeriksaan KU Konjungtiva mata, atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam sufebris, berat badan menurun. o Pemeriksaan fisik Palpasi pada tempat lesinya, Perkusi dan Auskultasi. o Pemeriksaan radiologis o Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan darah, sputum, tes tuberculin (terutama pada anak-anak) o Pemeriksaan biologic o Bronkoskopi, USG, uji faal paruh, dan CT-scan. Foto ronsen thorak : bintik difus pada paru terdapat juga kavitas.

Selain pada keadaan sistemik, TB juga mempunyai gambaran klinis pada rongga mulut. Lesi TB pada rongga mulut dapat terjadi namun jarang. Pada umumnya keterlibatan mulut secara klinis dapat terjadi secara primer, tetapi biasanya merupakan

manifestasi sekunder dari TB paru. Patogenesisnya TB sampai ke rongga mulut ialah melalui sputum. Epitel dimukosa oral sensitive terhadap kuman, kuman

tersebut mengiritasi RonggaMulut sehingga terbentuk ulser-ulser (tergantung daya tahan host yg rendah) juga factor predisposisi Oral Higiennya yang jelek. Biasanya manifestasi dimulut hanya ditemukan pada TB paru yangaktif,

sedangkan pada penderita yang sudah mendapatkan perawatanbiasanya tidak sampai ke intraoral. Manifestasi oralnya ialah berupa ulkus dengan gambaran irregular, superficial tapi terkadang juga dalam. Ulsernya sakit dan ukurannya bervariasi dengan pinggiran tidak teratur dan tertutup oleh lapisan fibrin yang berwarna kuning kelabu pada mukosa lidah, dorsum lidah, dan mukosa bibir di sudut mulut. Selain itu juga dapat berupa Gingival Enlargement berhubungan efek proteksi pada rongga mulut pada epitel squamos pada gusi yang menyebabkan epitelnya bertambah tebal. Osteomyelitis (jarang ditemui),Glosistis tuberkulosa : karena infeksi bakteri TB banyak di saliva terutama sputum akan

menyebabkan peradangan di sekitar lidah : karenapenumpukan basil tb pada lidah. Apabila tidak ada basil-basilnya maka tidak ada peradangan tersebut. Prosedur pemeriksaan klinik untuk menegakkan diagnose dari manifestasi oral sebagai seorang dokter gigi ialah sebagai berikut : o Anamnesis o Pemeriksaan fisik : Intraoral dan Ekstraoral. o Pemeriksaan penunjang : histopatologi biopsy, kultur o Analisa dan merumuskan maslah

o Diagonosa Perencanaan perawatan dan pengobatan

Pemeriksaan Khusus Terhadap Penderita TB Ada beberapa tehnik baru yang dapat mendeteksi kuman TB, seperti : BACTEC : dengan metode radiometrik, dimana CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak M.tuberculosis dideteksigrowth indexnya. Polymerase chain reaction (PCR) : dengan cara mendeteksi DNA dari M.tuberculosis. pemeriksaan serologis : ELISA, ICT, Mycodot, dan PAP. Pemeriksaan Penunjang Lain Terhadap Penderita TB

Seperti analisa cairan pleura dan histopatologi jaringan, pemeriksaan darah dimana LED biasanya meningkat, tetapi tidak dapat sebagai indikatoryang spesifik pada TB. Uji tuberkulin, di Indonesia dengan prevalensi yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnosis penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini mempunyai makna bila didapatkan konversi, bula atau kepositifan yang didapat besar sekali.

Hubungan Rokok dan TBC

Banyak orang, terutama perokok, bakal menyangkal keras perselingkuhan antara rokok dan TBC. Percayalah, sudah banyak fakta mengungkapkan bahwa kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko TBC. Fakta berbicara, tembakau merupakan penyebab kematian lima terbesar di dunia. Satu di antara 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia disebabkan kebiasaan merokok (sekitar 5 juta kematian tiap tahun). Bila pola merokok ini terus berlanjut, sampai tahun 2020 diperkirakan akan ada 10 juta kematian. Setidaknya kini lebih dari 1 miliar orang termasuk pemakai tembakau aktif (70 persen di antaranya berada di negara berpenghasilan rendah) di mana setengahnya akhirnya meninggal oleh tembakau. Tak heran, dalam 50 tahun ke depan diperkirakan 450 juta orang akan meninggal karena tembakau. Selain itu, tembakau -sebutan lain rokok- merupakan faktor risiko keempat timbulnya semua jenis penyakit di dunia. Pemakaian tembakau merupakan penyebab utama kematian pada penyakit berat seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, aneurisma aorta, penyakit jantung koroner, kanker kandung kemih, kanker saluran pernapasan bagian atas, dan kanker pankreas. Hasil survei tahun 2006 menyebutkan, di Indonesia jumlah seluruh perokok tak kurang dari 160 juta orang (hampir 70 persen dari populasi) dan sekitar 22,6 persen dari 3.320 kematian disebabkan penyakit yang berkaitan dengan kebiasaan merokok. Kenyataan lain memperlihatkan kondisi memprihatinkan, lebih dari 45 juta anak (usia 0-14 tahun) tinggal bersama perokok. Padahal,

anak-anak yang kerap terpapar asap rokok akan mengalami pertumbuhan paru yang kurang normal dan lebih mudah terkena infeksi saluran pernapasan serta penyakit asma. Terbukti Berhubungan Lalu, benarkah TBC berselingkuh dengan perokok? Jawabannya, tidak selalu benar, meski kecenderungannya ternyata cukup tinggi. Hal itu dibuktikan oleh beberapa penelitian, di antaranya seperti yang dilakukan Hsien-Ho Lin dan timnya dari Harvard School of Public Health, Amerika Serikat. Lin menyatakan bukti hubungan antara kebiasaan merokok, perokok pasif, dan polusi udara di dalam ruangan dari kayu bakar dan batu bara terhadap risiko infeksi, penyakit, dan kematian akibat TBC. Dari sekitar 100 orang yang diteliti, ditemukan yang merokok tembakau dan menderita TBC sebanyak 33 orang, perokok pasif dan menderita TBC 5 orang, dan yang terkena polusi udara dan menderita TBC 5 orang. Penelitian lain dilakukan di Afrika Selatan menunjukkan kaitan antara perokok pasif dan meningkatnya risiko infeksi Mycobacterium tuberculosis pada anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC. Dr. Saskia den Boon dari KNCV Tuberculosis Foundation di Belanda menulis hasil penelitian mereka dalam jurnal Pediatric edisi April 2007. Ia mengungkapkan tuberkulosis dan merokok merupakan dua masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Kaitan perokok pasif dan infeksi TBC pada anak menjadikannya bahan pemikiran yang sangat penting, mengingat tingginya prevalensi merokok dan tuberkulosis di negara berkembang. Di India, merokok diperkirakan mampu membunuh hampir satu juta warganya di usia produktifnya pada 2010. Penelitian itu juga menunjukkan, kebiasaan tersebut menjadi penyebab utama kematian pada penderita TBC, penyakit saluran pernapasan, dan jantung. Di Indonesia, sejauh ini memang belum ada penelitian resmi yang mengungkapkan "perselingkuhan" antara rokok dan TBC, tetapi fakta di lapangan dapat memberikan gambaran bahwa hubungan itu memang ada. Setidaknya prevalensi penderita TBC yang berobat di

pusat pengobatan TBC RS Persahabatan yang punya kebiasaan merokok lebih besar dibandingkan yang tidak. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K). DTM&H, MARS, dari Departemen Kesehatan meyakini bahwa merokok terkait dengan kejadian TBC. Rusak Pertahanan Paru Studi pada pekerja perkebunan di California, AS, menemukan hubungan bermakna antara prevalensi reaktivitas tes tuberkulin dan kebiasaan merokok. Pada bekas perokok, hubungan ini lebih kuat daripada mereka yang masih merokok. Data lain menunjukkan hubungan antara kebiasaan merokok dengan tuberkulosis aktif, hasilnya hanya bermakna pada mereka yang telah merokok lebih dari 20 tahun. Di AS, para perokok yang telah merokok 20 tahun atau lebih ternyata 2,6 kali lebih sering menderita TBC daripada yang tidak merokok. Kebiasaan merokok meningkatkan mortalitas akibat TBC sebesar 2,8 kali. Angka ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan rasio mortalitas pada penyakit jantung iskemik (1,6 kali) dan penyakit serebrovaskular (1,5 kali), walaupun memang jauh lebih rendah dari rasio mortalitas akibat kanker paru, yang 15 kali lebih sering pada perokok dibandingkan bukan perokok. Kaitan ini bisa dijelaskan bahwa dengan racun yang dibawanya, rokok merusak mekanisme pertahanan paru-paru. Bulu getar dan alat lain dalam paru-paru yang berfungsi menahan infeksi rusak akibat asap rokok. Asap rokok meningkatkan tahanan pelan napas (airway resistance). Akibatnya, pembuluh darah di paru mudah bocor. Juga merusak sel pemakan bakteri pengganggu dan menurunkan respon terhadap antigen, sehingga bila benda asing masuk ke dalam paru-paru, tidak ada pendeteksinya. Berdasarkan hasil penelitian maupun survei, sebenarnya sudah cukup bukti "perselingkuhan" rokok dan TBC. Meski bagi perokok dan sebagian orang fakta ini tak berarti apa pun, cobalah lebih peduli

dengan orang terdekat Anda. Mungkin selama ini mereka yang sebenarnya menjadi korban "perselingkuhan" itu.

Jangan Anggap Remeh Sariawan


SARIAWAN atau stomatitis adalah radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun berkelompok. Sariawan dapat menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi, serta langit-langit dalam rongga mulut. Meskipun tidak tergolong berbahaya, namun sariawan sangat mengganggu.

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan sariawan, yaitu: 1. Akibat Virus Sariawan ini disebabkan oleh beberapa bentuk virus yang ada di dalam tubuh, termasuk kasus-kasus khusus seperti yang menyebabkan demam pada kelenjar, herpes dan penyakit mulut lainnya. 2. Akibat Bakteri Sariawan jenis ini biasanya suka terjadi jika seseorang menderita sakit tenggorokan atau penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri. 3. Akibat Jamur Sariawan ini timbul saat seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat rendah atau masalah kesehatan lainnya yang mungkin memerlukan penggunaan antibiotik dosis tinggi. 4. Non-infeksi

Penyebab paling umumnya adalah terjadinya luka di mulut yang berulang, meskipun tidak diketahui penyebabnya tetapi biasanya akan hilang dalam waktu dua minggu. Sariawan ini juga bisa disebabkan adanya masalah dalam sistem pencernaan, kekurangan vitamin, riboflavin, miacin dan B12. Selain keempat penyebab di atas, ada pula hal lain yang diduga dapat menyebabkan sariawan seperti kondisi mulut itu sendiri, seperti kebersihan mulut yang buruk, pemasangan gigi palsu, luka pada mulut karena makanan atau minuman yang terlalu panas, dan kondisi tubuh, seperti adanya alergi atau infeksi. Sariawan identik dengan kekurangan vitamin C. Kekurangan vitamin itu memang mengakibatkan jaringan di dalam rongga mulut dan jaringan penghubung antara gusi dan gigi mudah robek yang akhirnya menyebabkan sariawan. Namun, kondisi tersebut dapat diatasi jika kita sering mengonsumsi buah dan sayuran. Sariawan umumnya ditandai dengan rasa nyeri seperti terbakar yang terkadang menyebabkan penderita sulit untuk menelan makanan, dan bila sudah parah dapat menyebabkan demam. Gangguan sariawan dapat menyerang siapa saja, termasuk bayi yang masih berusia 6 - 24 bulan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa faktor psikologis (seperti emosi dan stres) juga merupakan faktor penyebab terjadinya sariawan. Kondisi lainnya yang diduga memicu sariawan yaitu kekurangan vitamin B, vitamin C, serta zat besi; luka tergigit pada bibir atau lidah akibat susunan gigi yang tidak teratur; luka karena menyikat gigi terlalu keras atau bulu sikat gigi yang sudah mengembang; alergi terhadap suatu makanan (seperti cabai dan nanas); gangguan hormonal (seperti sebelum atau sesudah menstruasi); menurunnya kekebalan tubuh (setelah sakit atau stres yang berkepanjangan); dan adanya infeksi oleh

mikroorganisme. Sariawan dapat diredakan dengan menggunakan beberapa jenis obat, baik dalam bentuk salep, obat tetes, maupun obat kumur. Saat ini, sudah banyak tersedia pasta gigi yang dapat mengurangi terjadinya sariawan. Jika sariawan sudah telanjur parah, dapat digunakan antibiotika dan obat penurun panas (bila disertai dengan demam). Sariawan umumnya akan sembuh dalam waktu 4 hari. Namun, bila sariawan tidak kunjung sembuh, segera periksakan ke dokter, karena hal itu dapat menjadi gejala awal adanya kanker mulut. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sariawan, antara lain yaitu menghindari kondisi stres; sering mengonsumsi buah dan sayuran, terutama yang mengandung vitamin B, vitamin C, dan zat besi; menjaga kesehatan atau kebersihan gigi dan mulut; serta menghindari makanan dan obat-obatan yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada rongga mulut.

Perawatan Sariawan Perawatan sariawan lebih terfokus kepada pengurangan gejala rasa sakitnya. - Berkumur dengan air hangat dan makan makanan yang lunak dapat mengurangi rasa tidak nyaman akibat sariawan. - Beberapa obat yang dioleskan pada lesi juga bisa melindungi lesi dari iritasi, di antaranya obat-obatan orabase. Bila perlu, dokter gigi dapat meresepkan obat-obatan ini. - Berkumur dengan obat kumur yang bersifat antimikroba juga dapat

dilakukan untuk menghindarkan lesi dari infeksi, sehingga proses penyembuhannya pun akan lebih cepat. - Untuk mempercepat masa penyembuhan sariawan, kita juga dapat mengonsumsi vitamin C yang berperan dalam perbaikan jaringan. - Untuk sariawan yang berukuran cukup besar, biasanya lesi diobati dengan cara mengaplikasikan obat-obatan steroid. Obat-obatan ini dapat mempercepat proses penyembuhan dan mencegah lesi agar tidak bertambah besar.