Anda di halaman 1dari 17

REFERAT TUBERKULOSIS KUTIS

Oleh: Baiq Fariani Zuhra (H1A 007 007) Sintia Destiana (H1A 007 054)

Pembimbing Dr. Tjokorda Made Sugatha, Sp.KK

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN /SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2012

Referat Tuberkulosis Kutis Baiq Fariani Zuhra, Sintia Destiana Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UNRAM/RSUP NTB PENDAHULUAN
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Jalan masuk kedalam tubuh biasanya melalui inhalasi, atau yang pada umumnya adalah dengan meminum susu sapi yang tidak dipasteurisasi. Tuberkulosis telah dan masih menjadi masalah kesehatan di dunia hingga saat ini. Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi yang berefek pada paru paru, kelenjar getah bening, tulang dan persendian, kulit, usus dan organ lainnya. Salah satu dari jenis tuberkulosis ini adalah tuberkulosis kutis. 1,4 Tuberkulosis kutis merupakan salah satu penyakit kulit yang sulit untuk ditegakkan diagnosisnya terutama di negara-negara berkembang. Hal ini tidak hanya dikarenakan banyaknya diagnosis banding yang harus dipikirkan namun juga diakibatkan sulitnya untuk mendapatkan konfirmasi mikrobiologi untuk kasus ini. 1,4 Faktor predisposisi terjadinya tuberkulosis kutis diantaranya adalah kemiskinan, gizi kurang, penggunaan obat-obatan secara intravena, dan status imunodefisiensi. Tuberkulosis kutis pada umumnya ditemukan pada bayi dan orang dewasa dengan status imunodefisiensi. Frekuensi terjadinya penyakit ini pada wanita dan pria adalah sama. Penyakit ini dapat terjadi di belahan dunia manapun, terutama di Negara Negara berkembang dan negara tropis. Di negara berkembang termasuk Indonesia, tuberculosis kutis sering ditemukan. Penyebarannya dapat terjadi pada musin hujan dan diakibatkan karena gizi yang kurang dan sanitasi yang buruk. Prevalensinya tinggi pada anak anak yang mengonsumsi susu yang telah terkontaminasi Mycobacterium bovi .Tuberkulosis kutis dapat ditularkan melalui inhalasi, ingesti, dan inokulasi langsung pada kulit dari sumber infeksi. Selain manusia, sumber infeksi kuman tuberkulosis ini juga adalah anjing, kera dan kucing. 1,4 Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit ini sering terkait dengan faktor lingkungannya ataupun pekerjaannya. Biasanya penyakit ini sering ditemukan pada pekerjaan seperti ahli patologi, ahli bedah, orang-orang yang melakukan autopsi, peternak, juru masak, anatomis, dan pekerja lain yang mungkin berkontak langsung dengan M. tuberculosis ini, seperti contohnya pekerja laboraturium. Sekarang, dimasa yang semakin efektifnya pengobatan tuberkulosis sistemik, tuberkulosis kulit semakin jarang ditemui. Data insiden dari penyakit ini menurut beberapa rumah sakit memperkirakan angka sekitar 1-4%, walaupun itu bukan menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Di negara-negara barat,

frekuensi yang terbanyak terjadi adalah bentuk lupus vulgaris. Sedangkan untuk daerah tropis seperti Indonesia, yang paling sering terjadi adalah skrofuloderma dan tuberkulosis kutis verukosa. Tuberkulosis kutis menyerang tanpa memandang jenis kelamin dan umur. Tetapi, insiden terbanyak terjadi antara dekade 1-2.1,4

Definisi
Tuberkulosis kutis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium bovis, dan kadang-kadang vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG).1,2,3 Tuberkulosis pada kulit di Indonesia disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan mikobakteria atipikal.4

Epidemiologi
Tuberkulosis kutis banyak terdapat di negara berkembang dengan faktor predisposisinya antara lain kemiskinan, gizi yang kurang, penggunaan obat-obatan secara intravena, dan status immunodefisiensi.3,5 Dengan semakin efektifnya pengobatan tuberkulosis sistemik, tuberkulosis kutis semakin jarang dijumpai. Insidensinya secara pasti tidak diketahui, tetapi data dari beberapa rumah sakit memperkirakan angka antara 1-4%.1 Tuberkulosis kutis umumnya pada anak-anak dan dewasa muda, wanita agak lebih sering daripada pria.4 Di negara-negara barat yang beriklim dingin seperti Eropa, bentuk yang paling sering terdapat adalah lupus vulgaris, sedangkan di daerah tropik termasuk di Indonesia skrofuloderma dan tuberkulosis kutis verukosa merupakan yang paling sering. Penyakit ini tidak memandang umur, tetapi insidensi terbanyak terjadi antara dekade 1-2. Penelitian di Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo, skrofuloderma merupakan bentuk yang tersering terdapat (84%), disusul oleh tuberkulosis kutis verukosa (13%), bentuk-bentuk yang lain jarang ditemukan.1,3,4

Etiologi
Penyebab utama tuberkulosis kutis di Indonesia adalah Mycobacterium tuberculosis yang berjumlah 91,5% dan sisanya (8,5%) disebabkan oleh mikobakteria atipikal, sedangkan M. Bovis belum pernah ditemukan. Menurut klasifikasi Runyon (1959) mikobakteria atipikal tersebut dibagi menjadi 4 golongan yaitu :1 1. Golongan I (Fotokromogen) dengan koloni dapat membentuk pigmen bila mendapat cahaya, misalnya M. Marinum dan M. Kansasii 2. Golongan II (Skotokromogen) dengan koloni dapat membentuk pigmen dengan atau tanpa cahaya, misalnya M. Scrofulaceum. 3. Golongan III (Nonfotokromogen) dengan koloni tidak dapat atau sedikit membentuk pigmen walaupun mendapat cahaya, misalnya M. Avium-intracellulare dan M. Ulcerans

4. Golongan IV (Rapid Growers) dengan koloni tumbuh dalam beberapa hari, misalnya M. Fortuitum dan M. Abcessus. Mycobacterium tuberculosis mempunyai sifat-sifat yaitu berbentuk batang, panjang 24/ dan lebar 0,3-1,5/, tidak membentuk spora, aerob, tahan asam, tidak bergerak dan suhu optimal pertumbuhan pada 37C. Sedangkan mikobakteria atipikal merupakan kuman tahan asam yang agak lain sifatnya dibandingkan dengan Mycobacterium tuberculosis, yakni patogenesitasnya rendah, pada pembiakan umumnya membentuk pigmen, dan tumbuh pada suhu kamar.1

Patogenesis
Tuberkulosis kutis dapat ditularkan melalui inhalasi, ingesti, dan inokulasi langsung pada kulit dari sumber infeksi.1 Selain manusia, sumber infeksi kuman tuberculosis adalah anjing, kera, atau kucing. Bila terjadi infeksi Mycobacterium tuberculosis, kuman masuk jaringan dan mengadakan multiplikasi intraseluler. Selanjutnya akan timbul reaksi jaringan dengan datangnya leukosit dan sel-sel mononuklear dan akhirnya terbentuk granuloma epiteloid disertai dengan nekrosis kaseasi di tengahnya. 1

Caseous necrosis and granulomatosis

Ada 6 cara masuknya kuman yang mempengaruhi gejala klinik atau jenis tuberkulosis kutis, yaitu : 4 1. Penjalaran langsung ke kulit dari organ di bawah kulit yang telah dikenai penyakit tuberkulosis, misalnya skrofuloderma. 2. Inokulasi langsung pada kulit sekitar orifisium alat dalam yang dikenai penyakit tuberkulosis, misalnya tuberkulosis kutis orifisialis 3. Penjalaran secara hematogen, misalnya tuberkulosis kutis miliaris. 4. Penjalaran secara limfogen, misalnya lupus vulgaris 5. Penjalaran langsung dari selaput lendir yang sudah diserang penyakit tuberkulosis, misalnya lupus vulgaris 6. Kuman langsung masuk ke kulit yang resistensi lokalnya telah menurun atau jika ada kerusakan kulit, contohnya tuberculosis kutis verukosa.

Klasifikasi
Klasifikasi tuberkulosis kutis bermacam-macam. Yang paling banyak dipakai adalah klasifikasi menurut Pillsburry berdasarkan ada-tidaknya basil yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.1,4

Tuberkulosis Kutis Sejati (kuman penyebab terdapat pada kelainan kulit disertai gambaran histopatologik yang khas)

A. Tuberkulosis Kutis Primer (kuman masuk pertama kali ke dalam tubuh) Inokulasi tuberkulosis primer (tuberculous chancre) B. Tuberkulosis Kutis Sekunder ( reinfeksi baik lokal maupun general pada individu yang pernah terinfeksi dengan kuman TB) 1. Tuberkulosis kutis miliaris 2. Skrofuloderma 3. Tuberkulosis kutis verukosa 4. Tuberkulosis gumosa 5. Tuberkulosis kutis orifisialis 6. Luvus vulgaris

Tuberkulid (tidak ditemukan kuman penyebab pada kelainan kulit, tetapi kuman tersebut terdapat pada tempat lain di dalam tubuh,reaksi hipersensitif pada penderita yang sebelumnya telah sensitif dengan kuman TB)

A. Bentuk Papul 1. Lupus miliaris diseminatus fasiei 2. Tuberkulid papulonekrotika 3. Liken skrofulosorum B. Bentuk Granuloma dan ulseronodulus 1. Eritema Nodosum 2. Eritema Induratum

Gambaran Klinis dan Diagnosis Banding


Tuberkulosis kutis memiliki gambaran klinis yang bervariasi tergantung status imunologi pasien dan sumber infeksi.2,4 1. Inokulasi tuberkulosis primer (tuberculous chancre) Bentuk ini merupakan hasil inokulasi primer kuman TB pada kulit orang yang belum pernah terinfesi dan tidak mempunyai imunitas terhadap kuman TB.1 Kuman biasanya masuk melalui abrasi atau trauma kecil, setelah sirkumsisi, injeksi atau pasca operasi. Lokasi biasanya pada muka atau anggota badan.1,2

Gambaran klinik berupa papul atau nodul kecoklatan yang tampak 2-3 minggu setelah inokulasi, yang kemudian pecah menjadi ulkus indolen dengan tepi menggaung (tepi tidak rata dan berwarna biru kemerahan). Dalam 3-8 minggu kemudian dapat timbul limfadenopati regional.1,2 Tes tuberkulin mula-mula negatif, kemudian dapat positif setelah beberapa minggu.1 2. Tuberkulosis kutis miliaris Jenis ini timbul karena perluasan hematogen pada penderita TB yang mempunyai imunitas jelek. Lesi primer dapat di paru atau meningens. Biasanya dijumpai pada bayi dan anak-anak.1

Gambaran klinik berupa lesi yang timbul mendadak dan tersebar seluruh badan berupa papul, vesikel, pustul dengan atau tanpa nekrosis/krusta di atasnya. Bila krusta diangkat akan terjadi umbilikasi.1,2 Kecurigaan didasarkan atas timbulnya eksantem yang tiba-tiba pada anak dengan TB. Tuberkulin biasanya negatif.1

Generalized papulovesicular eruptions (arrows) of patient with cutaneous miliary tuberculosis.

3.

Skrofuloderma Timbulnya akibat penjalaran perkontinuitatum dari organ di bawah kulit yang telah diserang penyakit tuberkulosis, yang tersering berasal dari kelenjar limfe, juga dapat berasal dari sendi dan tulang. Oleh karena itu, predileksinya pada tempat yang banyak kelenjar limfe superfisialis, yang tersering yaitu di leher, supraklavikular, aksila, inguinal, dan biasanya unilateral 4

Perjalanan penyakit kronik dan sering kambuh.. Dimulai dengan satu atau beberapa nodul indolen, keras, dan dalam, dan melekat dengan kulit di atasnya. Setelah beberapa minggu lesi menjadi kemerah-merahan, melunak, dan mengalami supurasi. Bila pecah

terbentuk sinus atau ulkus yang tepinya tidak teratur. Dasar ulkus pucat, lunak ditutupi eksudat hermoragik atau kasei. Tepi ulkus berwarna livid (merah kebiru-biruan) tidak teratur dan menggaung. Beberapa nodul dapat bergabung dengan dihubungkan dengan fistel. Bila sembuh lesi meninggalkan sikatriks hipertrofi dan jembatan-jembatan. Basil tahan asam banyak dijumpai pada lesi/jaringan. Tes tuberkulin biasanya positif.1,4 4. Tuberkulosis kutis verukosa Bentuk ini timbul karena infeksi eksogen pada individu dengan imunitas baik. Cukup sering dijumpai khususnya pada orang-orang yang sering kontak dengan bahan atau hewan yang telah terinfeksi (misalnya dokter, ahli patologi), demikian juga penderita TB aktif dapat mengalami autoinokulasi dari sputumnya.1,3 Perjalanan kliniknya berlangsung kronik beberapa bulan atau tahun. Mula-mula lesi berupa nodul kemerahan, tunggal atau multipel, yang kemudian berubah permukaannya menjadi verukous. Lesi ini dikelilingi oleh suatu halo hiperpigmentasi. Lesi biasanya tidak nyeri dan tanpa disertai gejala sistemik. Tidak terdapat limpadenopaty.1,2Oleh karena infeksi terjadi secara eksogen yaitu kuman langsung masuk ke dalam kulit, maka predileksi biasanya tempat yang lebih sering mendapat trauma yaitu pada dorsum manus, lutut, siku, pantat, dan kaki. 1,4

5.

Tuberkulosis gumosa Jenis ini terjadi akibat penjalaran secara hematogen, biasanya dari paru. Kelainan kulit berupa guma, yakni infiltrat subkutan, sirkumskrip dan kronis, kemudian melunak dan bersifat dekstruktif.4

6.

Tuberkulosis kutis orifisialis Bentuk TB kutis yang terjadi pada mukosa atau kulit sekitar orifisium. Terjadi karena autoinokulasi, perluasan limfogen atau hematogen pada penderita dengan imunitas kurang baik. 1

Predileksi pada mulut, sekitar anus, dan genitalia. Dimulai dengan nodul eritema dan edem, yang kemudian pecah menjadi ulkus dangkal dengan tepi menggaung dan nyeri. Sering disertai dengan pembesaran kelenjar limfe. Tes tuberkulin negatif atau positif lemah. 1,2 7. Luvus Vulgaris Timbul pada penderita dengan imunitas baik dan pernah terinfeksi kuman TB. Dapat terjadi karena perluasan limfogen atau hematogen dari lesi skrofuloderma atau vaksinasi BCG. Lebih sering terjadi pada wanita.1

Gambaran klinik dimulai dengan suatu plak eritema atau kecoklatan yang pada pemeriksaan diaskopik berwarna kekuningan (apple jelly).1,2,4 Biasanya ada perluasan ke perifer dan penyembuhan di tengah dengan disertai atrofi. Dapat terjadi bentuk-bentuk ulseratif, verukosa, tumorous, dan mutilasi. Predileksi biasanya pada hidung, pipi, telinga, pantat, dan jarang pada badan. Bila mengenai muka, tulang rawan hidung dapat mengalami kerusakan.1,2

8.

Lupus miliaris diseminatus fasiei Mengenai muka, timbulnya secara bergelombang. Ruam berupa papul-papul bulat, biasanya diameternya tidak melebihi 5 mm, eritematosa, kemudian meninggalkan sikatriks.Pada diaskopi memberi gambaran apple jelly.4

9.

Tuberkulid papulonekrotika Bentuk tuberkulid ini biasanya simetrik pada bagian ekstensor anggota badan, berupa kelompokan papula atau nodul kemerahan dengan nekrosis ditengahnya, kemudian menjadi krusta yang melekat. Dalam beberapa minggu sembuh, meninggalkan sikatrik atrofi dikelilingi hiperpigmentasi di sekitarnya.1

10. Liken skrofulosorum Merupakan bentuk tuberkuloid dengan erupsi lkhenoid. Dijumpai pada anak-anak dengan riwayat TB baru, tetapi sekarang jarang dijumpai. Kelainan kulit terdiri atas beberapa papul miliar, warna dapat serupa dengan kulit atau kemerahan. Mula-mula tersusun tersendiri, kemudisn berkelompok tersusun sirsinar, kadang-kadag disekitarnya terdapat skuama halus. Tempat predileksi pada dada, perut, punggung dan daerah sacrum. Perjalanan penyakitnya dapat berbulan-bulan dan residif, jika sembuh tidak meninggalkan bekas.

11. Eritema Nodosum Kelainan kulit berupa nodus-nodus indolen terutama pada ekstremitas bagian ekstensor. Di atasnya terdapat eritema.4 12. Eritema Induratum Bentuk ini merupakan bentuk tuberkulid yang paling sering dijumpai di negara tropik. Banyak ditemukan pada wanita muda. Biasanya bersifat kronik, kumat-kumatan, berupa noduli besar berwarna livid, batas tidak tegas, bilateral tetapi asimetris. Predileksi biasanya bagian posterior tungkai bawah, tetapi dapat juga pada kaki atau lain tempat. Bila nodul pecah meninggalkan ulkus dengan bentuk tidak teratur, nyeri, dan bila sembuh meninggalkan sikatrik atrofi.1

Adapun kelainan kulit pada tuberkulosis kutis yang disebabkan oleh mikobakteria atipikal memberi gambaran yang tidak khas.4 1. Golongan I M. marinum menimbulkan kelainan nodus verukosa, dapat linier hingga menyerupai sporotrikosis. Sumber infeksi utama ialah kolam renang. Tempat predileksinya ialah tempat yang mendapat banyak trauma, yakni di siku dan lutut. M. kansasii dapat menimbulkan kelainan kulit sebagai nodus verukosa menyerupai sporotrikosis atau krusta dengan ulkus dangkal di bawahnya. 2. Golongan II Infeksi oleh M. Scrofulaceum berupa limfadenitis dan skrofuloderma. Gambaran klinis sama dengan yang disebabkan oleh M. Tuberculosis. 3. Golongan III M. avium-intracellulare biasanya menyebabkan tuberkulosis paru, osteomielitis, dan limfadenitis, jarang menyebabkan infeksi pada kulit. Kelainan pada kulit berupa plak kekuningan, bersisik, sebuah atau multipel. Kadang menyerupai lupus vulgaris. Dapat

pula berbentuk nodus-nodus subkutan dengan kecenderungan membentuk ulkus dan berkembang secara progresif lambat dan menahun. M. ulcerans menyebabkan kelainan kulit pertama-tama sebagai nodus indolen atau abses yang kemudian menjadi ulkus. Ulkus tersebut juga indolen, dindingnya bergaung, meluas, disertai jaringan nekrotik. Akan tetapi tidak disertai gejala umum dan pembesaran kelenjar limfe. 4. Golongan IV M. fortuitum, M. Chelonei, M. Abscessus umumnya terjadi setelah suatu luka injeksi ataupun tindakan bedah yang menyebabkan suatu abses subkutan. Sama seperti halnya tuberkulosis kulit yang disebabkan oleh M. tuberculosis, pada tuberkulosis kutis yang disebabkan oleh beberapa jenis mikobakterial atipikal juga dapat melibatkan organ lain dan dan kelenjar limfe.2

Diagnosis
Diagnosis tuberkulosis kutis didasarkan atas anamnesis riwayat TB, pemeriksaan klinik umum, dan dermatologik. Diagnosis pasti seharusnya didukung oleh penemuan

laboratorium, termasuk pemeriksaan basil tahan asam, baik pada apusan jaringan langsung, pada biakan atau pada pemeriksaan histopatologik. Pemeriksaan histopatologik lebih penting daripada pemeriksaan bakteriologik untuk menegakkan diagnosis karena hasinya cepat, yakni dalam satu minggu. 1,4 Pemeriksaan bakteriologik dilakukan terutama penting untuk menentukan etiologinya. Adapun pemeriksaan bakteriologik terdiri atas 5 macam, yaitu :4 1. Sediaan mikroskopik. Bahan berupa pus, jaringan kulit dan jaringan kelenjar getah bening. Pada pewarnaan dengan cara Ziehl Neelsen, atau modifikasinya, jika positif kuman tampak berwarna merah pada dasar yang biru. Akan tetapi, hasil positif belum berarti kuman tersebut M. tuberkulosis, oleh karena ada kuman lain yang tahan asam, misalnya M. leprae. 2. Kultur Kultur dilakukan pada media Lowenstein-Jensen, pengeraman pada suhu 37. Jika positif koloni tumbuh dalam waktu 8 minggu. Jika positif koloni tumbuh dalam waktu 8 minggu. Kalau hasil kultur positif, berarti pasti kuman tuberkulosis. 3. Binatang percobaan Dipakai marmot, percobaan tersebut memerlukan waktu 8 minggu. 4. Tes biokimia Ada beberapa macam, misalnya tes niasin dipakai untuk membedakan jenis human dengan yang lain. Jika tes niasin positif berarti jenis human. 5. Percobaan resistensi PRC (Polymerase Chain Reaction) dapat juga dilakukan untuk menentukan etiologi. Spesimen dapat berupa jaringan biopsi, keuntungannya hasilnya cepat diperoleh, dan spesimen yang diambil hanya sedikit. Kerugiannya tidak dapat mendeteksi kuman hidup, jadi kultur masih tetap merupakan baku emas.4 Diagnosis pasti tuberculosis kutis tidak dapat ditegakkan berdasarkan tes tuberculin yang positif karena tes ini hanya menunjukkan bahwa penderita pernah terinfeksi tuberculosis tetapi tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut masih berlangsung aktif atau telah berlalu.4 Pada tuberkulosis kutis, LED didapatkan meninggi. Akan tetapi peninggian LED ini lebih memiliki arti klinis dalam pengamatan hasil pengobatan daripada untuk membantu diagnosis. Peninggian LED berarti terjadi kerusakan jaringan.4

Terapi
Prinsip pengobatan tuberkulosis kutis sama dengan tuberkulosis paru. Pada pengobatan tuberkulosis terdapat 2 tahapan, yaitu tahapan awal (intensif) dan tahapan lanjutan. Tujuan tahapan awal adalah membunuh kuman yang aktif membelah sebanyakbanyaknya dan secepat-cepatnya dengan obat yang bersifat bakterisidal. Tahapan lanjutan ialah melalui kegiatan sterilisasi membunuh kuman yang tumbuh lambat. Selama fase intensif yang biasanya terdiri dari 4 obat, terjadi pengurangan jumlah kuman disertai perbaikan klinis. Pasien yang infeksi menjadi noninfeksi dalam waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negatif dalam waktu 2 bulan. Selama fase lanjutan diperlukan lebih sedikit obat, tapi dalam waktu yang lebih panjang yaitu 4 bulan. Efek sterilisasi obat untuk membersihkan sisa-sisa kuman dan mencegah kekambuhan. Pada paien dengan sputum BTA positif ada resiko terjadinya resistensi selektif. Penggunaan 4 obat selama fase awal dan 2 obat selama fase lanjutan akan mengurangi resiko terjadinya resistensi selektif. Pada pasien dengan sputum BTA negatif atau TB ekstrapulmoner tidak terdapat resiko resistensi selektif karena jumlah bakteri di dalam lesi relatif sedikit. . Pengobatan fase awal dengan 3 obat dan fase lanjutan dengan 2 obat biasanya sudah memadai.1,4 Adapun pada tabel di bawah ini dapat dilihat ada beberapa pilihan yang dapat digunakan sebagai terapi untuk pengobatan tuberkulosis akibat M. tuberculosis. Total pengobatan adalah selama 6 bulan kecuali pada pasien dengan infeksi HIV pengobatannya paling sedikit selama 9 bulan.2

Untuk mencapai hasil yang baik hendaknya diperhatikan syarat-syarat yaitu pengobatan harus dilakukan secara teratur tanpa terputus agar tidak cepat terjadi resistensi dan pengobatan harus dalam kombinasi. Dalam kombinasi tersebut INH disertakan, diantaranya karena obat tersebut bersifat bakterisidal, harganya murah dan efek sampingnya langka. Sedapat-dapatnya dipilih paling sedikit 2 obat yang bersifat bakterisidal.4 Berikut ini daftar obat antituberkulosis yang beredar di Indonesia.

Nama Obat Isoniazid/INH (H) Rifampisin (R)

Dosis 5-10 mg/kBB 10 mg/kgBB

Cara Pemberian

Efek samping yang utama Per os dosis tunggal Neuritis perifer Gangguan hepar Per os dosis tunggal Gangguan hepar waktu lambung kosong Per os dosis terbagi Gangguan hepar Gangguan N.II

Pirazinamid (Z) Etambutol (E)

20-35 mg/kgBB

Bulan I/II 25 Per os dosis tunggal mg/kgBB, berikutnya 15 mg/kgBB 25 mg/kgBB i.m

Streptomisin (S)

Gangguan terutama vestibularis

N.VIII, cabang

Pengobatan topikal pada tuberkulosis kutis tidak sepenting pengobatan sistemik. Pada skrofuloderma, jika ulkus masih mengandung pus dikompres, misalnya dengan larutan kalium permanganas 1/5000.4 Terapi pembedahan berupa eksisi dapat dilakukan pada lupus vulgaris, tuberkulosis kutis verukosa yang kecil, serta skrofuloderma pada ekstremitas bawah.4 LED dapat dipakai sebagai pegangan untuk menilai penyembuhan pada penyakit tuberkulosis. Jika terjadi penyembuhan LED akan menurun dan menjadi normal. Pengobatan tuberkulosis kutis yang disebabkan oleh mikobakteria atipikal agak berbeda dengan yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tabel berikut ini dapat dilihat obat-obatan yang dapat digunakan untuk berbagai jenis mikobakterial atipikal.2

Prognosis
Prognosis dari penyakit ini baik apabila pasien bersedia mengikuti terapi dengan bersungguh-sungguh dan pengobatan yang dilakukan memenuhi syarat seperti yang telah disebutkan serta selalu menjaga kebersihan badan serta lingkungan sekitarnya.4

DAFTAR PUSTAKA

1. Harahap, Marwalli. 2000. Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates: Jakarta 2. Wolff, K, Lowell A.,Barbara A., et al. 2008. Fitzpatricks In General Medicine 7th

edition. New York: Mc Graw Hill 3. Partogi, Donna. 2008. Tuberkulosis Kutis Verukosa. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK. USU. 4. Adhi, Djuanda,et al. 2010. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, edisi kelima, Balai penerbit FKUI : Jakarta 5. Kerdel F.A., Jimenez-Acosta A., Dermatology: Just the fact. USA: McGraw-Hill Inc. 2003.Pages:85-86 6. Lebwohl M.G., Heymann W.R., Berth-Jones J., Coulson I., Treatment of Skin Disease: Comprehensive and Theraupetic Strategis. USA: Mosby Inc. 2002. Pages: 640641 7. Francisco G. Bravo, MD, Eduardo Gotuzzo, MD.2007. Cutaneous Tuberculosis. Clinics in Dermatology (2007) 25, 173180