Anda di halaman 1dari 26

MOLA HIDATIDOSA 2012

BAB I PENDAHULUAN

Kehamilan mola secara histologis ditandai oleh kelainan vili korionik yang terdiri dari proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma villus. Mola biasanya terletak di rongga uterus namun kadang-kadang mola terletak di tuba fallopi dan bahkan ovarium. Ada tidaknya janin atau unsure embrionik pernah digunakan untuk mengklafisikasikan mola menjadi mola sempurna dan parsial. Gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah anggur. Jaringan trofoblas pada villus kadang-kadang berploriferasi ringan, kadang-kadang keras, dan mengeluarkan hormone, yakni human chorionic gonadotrophin (HCG). Dalam jumlah yang lebih besar daripada kehamilan biasa. 1,2,3 Uterus membesar lebih cepat daripada jumlah biasa, penderita mengeluh tentang mual dan muntah, tidak jarang terjadi perdarahan pervaginam. Kadang-kadang pengeluaran darah disertai dengan pengeluaran beberapa gelembung villus, yang memastikan diagnosis mola hidatidosa. Frekuensi mola hidatidosa pada wanita di Asia lebih tinggi ( 1 atas 120 kehamilan ) daripada wanita-wanita dinegara Barat ( 1 atas 2000 kehamilan ). Tentang nasibnya kehamilan tidakk normal dapat dikatakan, bahwa mola keluar sendiri atau dapat dikeluarkan dengan suatu tindakan, pengeluaran sendiri biasanya disertai dengan perdarahan yang banyak. Dari mola yang sifatnya jinak, dapat tumbuh tumor trofoblast yang bersifat ganas. Tumor ini ada yang kadang-kadang masih mengandung villus disamping trofoblast yang berploriferasi, dapat mengadakan invasi yang umumnya bersifat local, dan dinamakan mola destruens (invasive mole, penyakit trofoblast ganas jenis villosum). Selain itu terdapat pula tumor trofoblast yang hanya terdirir atas sel-sel trofoblast tanpa stroma, yang umumnya tidak hanya berinvasi diotot uterus tetapi menyebar ke alat-alat lain (koriokarsinoma, penyakit trofoblast ganan non villosum).

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI Mola hidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan perubahan hidropik. Dengan ciri-ciri stroma villi korialis langka vaskularisasi, dan edematous. Mola hidatidosa merupakan kehamilan abnormal, janin biasanya meninggal, akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematous itu hidup dan tumbuh terus. Gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah anggur. 1,2,6

Gambar 2.1. Mola Hidatidosa

Gambar 2.2. Mola Hidatidosa

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


2.2. ETIOLOGI Belum di ketahui secara pasti. Ada yang menyatakan akibat infeksi, defisiensi makanan dan genetik. Yang paling mendukung adalah Teori Acosta Sison yaitu defisiensi protein.

2.3. INSIDEN Mola hidatidosa terjadi pada sekitar 1 dalam 1000 kehamilan di Amerika Serikat dan Eropa. Walaupun dinegara-negara lain dilaporkan lebih sering, terutama di beberapa Negara Asia, sebagian besar informasi ini berasal dari penelitian di rumah sakit ( Schorge dkk,2000). 6 1) Usia : Frekuensi mola hidatidosa pada kehamilan yang terjadi pada awal atau akhir usia subur relative lebih tinggi. Efek paling berat dijumpai pada wanita berusia lebih dari 45 tahun, dengan frekuensi lesi relative lebih dari 10 kali lipat dibandingkan pada usia 20-40 tahun. Banyak dijumpai kasus mola hidatidosa yang terbukti pada wanita berusia 50 tahun atau lebih.1,5 2) Riwayat Mola : Kekambuhan mola hidatidosa dijumpai pada sekitar 1 sampai 2 persen kasus. Dalam suatu kajian terhadap 12 penelitian yang total mencakup hamper 5000 pelahiran, frekuensi mola rekuren adalah 1,3 persen mendapatkan angka kekambuhan 4,3 persen pada 115 wanita yang ditindak lanjuti di Seoul, Korea.5,6 3) Faktor Lain : Peran graviditas, paritas, factor reproduksi lain, status estrogen, kontrasepsi oral, dan factor makanan dalam resiko penyakit trofoblastik gestasional masih belum jelas.

2.4. KLASIFIKASI Ada tidaknya janin atau unsur embrionik pernah digunakan untuk mengklasifikasikan mola menjadi : 2.4.1. Mola Hidatidosa Sempurna ( complete ) Vili korionik berubah menjadi suatu massa vesikel-vesikel jernih. Ukuran vesikel bervariasi dari sulit dilihat sampai yang berdiameter beberapa sentimeter dan sering berkelompok-kelompok menggantung pada tangkai kecil. Temuan histologik ditandai oleh :3,4 1) Degenerasi hidrofik dan pembengkakan stroma vilus 2) Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak 3) Proliferasi epitel trofobast dengan derajat bervariasi 4) Tidak adanya janin dan amnion

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012

2.4.2. Mola Hidatidosa Parsial Apabila perubahan hidatidosa bersifat local dan kurang berkembang, dan mungkin tampak sebagian jaringan janin, biasanya paling tidak kantung amnion, keadaan ini diklasifikasikan sebagai mola hidatidosa parsial. Terjadi pembengkakan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian vili yang biasanya avaskular, sementara vili-vili berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin-plasenta yang masih berfungsi tidak terkena. Hiperplasia trofoblastik lebih bersifat fokal daripada generalisata.1,3,4 Tabel 2.1. Perbandingan Gambaran Mola Hidatidosa Parsial dan Sempurna 5

Gambaran Kariotipe Patologi Janin Amnion, sel darah merah janin Edema vilus Proliferasi Trofoblas Gambaran Klinis Diagnosis Ukuran Uterus Kista teka-lutein Penyulit medis Penyakit pasca-mola

Mola Hidatidosa Parsial Umumnya 69XXX atau 69XXY

Mola Hidatidosa Sempurna 46XX atau 46XY

Sering dijumpai Sering dijumpai

Tidak ada Tidak ada

Bervariasi, fokal Bervariasi, fokal, ringan-sedang

Difus Bervariasi ringan-berat

Missed abortion Kecil untuk masa kehamilan

Gestasi mola 50 % besar untuk masa Kehamilan

Jarang Jarang Kurang dari 5-10 %

25-30 % Sering 20 %

Dari American College of Obstetricians and Gynecologists (1993b)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


2.4.3. Klasifikasi Histopatologi 2.4.3.1. Klasifikasi Sarwono Prawirohardjo dkk. 1) Mola hidatidosa 2) Korikarsinoma villosum 3) Korikarsinoma non villosum 2.4.3.2. Klasifikasi Figo 1) Hydatidiform Mole 2) Invasive Hole 3) Choriocarcinoma 4) Placental Site Trophoblastic Tumor 5) Other 6) Unknown ( Not microscopically verified ) 2.4.3.3. Klasifikasi WHO 1) Mola hidatidosa (komplet dan parsial) 2) Mola Invasif 3) Koriokarsinoma 4) Plasental site tropoblastic tumor 5) Trophoblastic tumor, Miscellaneuous (Exaggerated placentalsite, placsite nodule or plaque) 6) Unclasified trophoblastic lesion 2.4.4. Klasifikasi Klinis Klasifikasi Figo 2000 : Stage I Stage II : Tumor terbatas pada Uterus : Tumor meluas keorgan genital lainnya

Stage III : Tumor metastasis ke paru-paru denganatau tanpa perluasan genital Stage IV : Distant metastase ( other than lung )

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


2.5. FAKTOR RESIKO 1) Faktor Umur Resiko Mola Hidatidosa paling rendah pada kelompok umur 20-35 tahun. Resiko Mola Hidatidosa naik pada kehamilan remaja < 20 tahun, Naik sangat tinggi pada kehamilan remaja < 15 tahun, kira-kira 20 x lebih besar. tinggi pada umur > 40 tahun, kenaikan sangat menyolok pada umur 45 tahun 2) Faktor Riwayat Kehamilan Mola Hidatidosa Sebelumnya Wanita Mola Hidatidosa sebelumnya, punya resiko lebih besar naiknya kejadian Mola Hidatidosa berikutnya 3) Faktor Kehamilan Ganda Mempunyai resiko yang meningkat untuk terjadinya Mola Hidatidosa 4) Faktor Graviditas Resiko kejadian Mola Hidatidosa makin naik, dengan meningkatnya graviditas (kontroversial) 5) Faktor Kebangsaan / Etnik Wanita kulit hitam meningkat,dibanding wanita lainnya. Euroasian turun dua kali lipat dibanding wanita Cina, India atau Malaysia 6) Faktor Genetika Frekuensi Balance Tranlocation, wanita dengan Mola Hidatidosa komplit lebih banyak dibandingkan dengan yang didapatkan pada populasi normal 7) Faktor Makanan dan Minuman Angka kejadian Mola Hidatidosa tinggi diantara wanita miskin, diet yang kurang protein, kelainan genetik pada kromosom.(kontroversi) 8) Faktor Sosial Ekonomi Resiko Mola Hidatidosa tinggi pada sosial ekonomi rendah (kontroversi) 9) Faktor Lain Faktor hubungan keluarga/consanguinity, faktor merokok, faktor toksoplasmosis.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


2.6. PATOFISIOLOGI Teori terjadinya penyakit trofoblas ada 2, yaitu teori missed abortion dan teori neoplasma dari Park.7 1) Teori missed abortion menyatakan bahwa mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion) karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung. Tidak sempurnanya aliran darah fetus (fetal circulatori inadequacy) yang terjadi pada sel telur patologik, yaitu pada hasil pembuahan dimana embrionya mati kehamilan 3-5 minggu, pembuluh darah villi tidak berfungsi , penimbunan cairan dijaringan mesenkhim villi. 2) Teori neoplasma dari Park menyatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas dan juga fungsinya dimana terjadi resorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehingga timbul gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah. Struktur trofoblas abnormal : hiperplasia, displasia, neoplasia Fungsi abnormalnya berupa absorbsi cairan yang berlebihan kedalam villi, proses penekanan, kerusakan pembuluh darah, dan kematian bayi. Adanya gangguan dari pertahanan imonologis terhadap trofoblas Adanya kelainan sitogenetik,dimana terdapat sel telur patologik yang tidak mempunyai kromosom maternal (empty egg) Menurut Dr. dr. Andrijono, SpOG(K) dari Fakultas Kedokteran UI, perkembangan jaringan mola salah satunya disebabkan oleh defisiensi vitamin A.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012

Gambar 2.3. Skema Kehamilan Mola Hidatidosa

2.7. DIAGNOSIS Uterus pada mola hidatidosa tumbuh lebih cepat daripada kehamilan biasa. Pada uterus yang besar ini tidak terdapat tanda-tanda adanya janin di dalamnya, seperti balottement pada palpasi, gerak janin pada auskultasi, adanya kerangka janin pada pemeriksaan rontgen, dan adanya denyut jantung pada ultrsonografi. Perdarahan merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Kadar HCG pada mola jauh lebih tinggi daripada kehamilan biasa. Ultrasonografi (B-scan) memberi gambaran yang khas mola hidatidosa.4.6. 2.7.1. Perdarahan Perdarahan uterus hamper bersifat universal dan dapat bervariasi dari bercak sampai perdarahan berat. Perdarahan mungkin terjadi sesaat sebelum abortus atau yang lebih sering terjadi secara intermitten selama beberapa minggu atau samapi bahkan bulan. Efek dilusi akibat hipervolemi yang cukup berat dibuktikan terjadi pada sebagian wanita yang molanya lebih besar. Kadangkadang terjadi perdarahan berat yang tertutup didalam uterus. Anemia defisiensi besi sering

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


dijumpai dan kadang-kadang terdapat eritropoiesis megaloblastik, mungkin akibat kurangnya asupan gizi karena mual dan muntah disertai meningkatnya kebutuhan folat trofoblas yang cepat berplorifersai.2,3,5, 2.7.2. Ukuran Uterus Uterus sering membesar lebih cepat daripada biasanya. Ini adalah kelainan yang paling sering dijumpai. Dan pada sekitar separuh kasus, ukuran uterus jelas melebihi yang diharapkan berdasarkan usia gestasi. Uterus mungkin sulit diidentifikasi secara pasti dengan palpasi, terutama pada wanita nulipara, karena konsistensinya yang lunak dibawah dinding abdomen yang kencang. Kadang-kadang ovarium sangat membesar akibat kista-kista teka lutein sehingga sulit dibedakan dari uterus yang membesar.1,3, 2.7.3. Aktivitas Janin Walaupun uterus cukup membesar sehingga mencapai jauh diatas simfisis, bunyi jantung janin biasanya tidak terdeteksi. Walaupun jarang mungkin terdapat plasenta kembar dengan perkembangan kehamilan mola sempurna pada salah satunya, sementara plasenta lain dan janinnya tampak normal. Demikian juga, walaupun sangat jarang, plasenta mungkin mengalami perubahan mola yang luas tetapi tidak lengkap disertai janin hidup.1,2,4, 2.7.4. Hipertensi Akibat Kehamilan Yang sangat penting adalah kemungkinan terjadinya preeklampsi pada kehamilan mola, yang menetap sampai trimester kedua. Karena hipertensi akibat kehamilan jarang dijumpai sebelum usia gestasi 24 minggu, pre-eklampsi yang terjadi sebelum waktu ini sedikitnya harus mengisyaratkan mola hidatidosa atau adanya mola yng luas. 2.7.5. Hiperemesis Pasien dapat mual dan muntah yang cukup berat. Yang menarik, tidak ada satupun dari 24 mola sempurna yng dilaporkan mengalami preeclampsia, hiperemesis, atau hipertirodisme klinis.1,5, 2.7.6. Tiroroksikosis Kadar tiroksinplasma pada wanita dengan kehamilan mola sering meningkat, tetapi jarang menyebabkan gejala klinis hipertiroid. Peningkatan tiroksin plasma mungkin disebabkan oleh estrogen, seperti pada kehamilan normal,yang kadar tiroksin bebasnya tidak meningkat.1,3,6,7

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


2.7.7. Embolisasi Saat evakuasi, trofobast dengan atau tampa stroma vilus, lolos dari uterus melalui aliran vena dalam jumlah bervariasi. Volumenya dapat mencapai sedemikian sehungga menimbulkan gejala dan tanda embolisme paru akut dan bahkan hasil yang fatal, namun jarang dijumpai. 3,5,6 Disimpulkan bahwa penegakan mola hidatidosa dapat berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :1,2,5, 1) Gejala Klinis Gejala klinik pasien mola hidatidosa : Amenore dan adanya tanda-tanda kehamilan disertai perdarahan. Perdarahan ini bisa intermitten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian. Karena perdarahan ini maka umumnya penderita mola hidatidosa masuk rumah sakit dalam keadaan anemia Hiperemesis gravidarum lebih sering terjadi umumnya lebih kuat dan lebih lama Tanda-tanda pre eklampsia atau eklampsia pada trimester I Tanda-tanda tirotoksikosis Kista lutein unilateral / bilateral Umumnya uterus lebih besar dari usia kehamilan Tidak ada tanda-tanda adanya janin, tidak ada balltement kecuali pada Mola parsial, tidak ada bunyi jantung anak dan tidak nampak rangka janin pada rontgen foto 2) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang mola hidatidosa : Foto toraks ada gambaran emboli udara Tes Acosta Sison Dengan tang abortus, gelembung Mola dapat di keluarkan Penngkatan kadar beta HCG urin atau serum USG menunjukan gambaran badai salju (snow flake pattern) Uji sonde menurut Hanifa Tandanya yaittu sonde yang dimasukkan tanpa tahanan dan dapat diputar 360 derajat dengan deviasi sonde kurang dari 10 derajat Pemeriksaan T3 & T4 bila ada gejala tirotoksikosis

10

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012

Gambar 2.4. Gambaran USG Mola Hidatidosa

2.8. PENATALAKSANAAN Berhubung dengan kemungkinan, bahwa mola hidatidosa dapat menjadi ganas, maka terapi yang terbaik pada wanita dengan usia yang sudah lanjut dan sudah mempunyai jumlah anak yang diingini ialah histerektomi. Akan tetapi pada wanita yang masih menginginkan anak maka setelah diagnosis mola dipastikan, dilakukan pengeluaran mola dengan kerokan isapan (suction curettage) disertai dengan pemberian infuse oksitosin intravena. Sesudah itu dilakukan kerokan dengan kuret tumpul untuk mengeluarkan sisa-sisa konseptus, kerokan perlu dilakukan hati-hati berhubung dengan bahaya perforasi. Tujuh sampai sepuluh hari sesudahnya itu dilakukan kerokan ulangan dengan kuret tajam, agar ada kepastian bahwa uterus betul-betul kosong, dan untuk memeriksa tingkat proliferasi sisa-sisa trofoblast yang dapat ditemukan. Makin tinggi tingkat itu, makin perlu untuk waspada terhadap kemungkinan keganasan. Sebelum mola dikeluarkan dilakukan pemeriksaan rontgen paru-paru untuk menetukan ada tidaknya metastasis ditempat itu. Setelah mola dilahirkan, dapat ditemukan bahwa kedua ovarium membesar menjadi kista teka-lutein. Kista-kista ini yang tumbuh karena pengaruh hormonal, kemudian mengecil sendiri.
5,

Jadi penanganan mola hidatidosa dapat dibagi menjadi 3 tahapan :9 1) Perbaiki keadaan umum Koreksi dehidrasi Transfusi darah bila ada anemia (Hb 8 ggr% atau kurang)

11

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Bila ada gejala pre eklampsia dan hiperremesis gravidarum, diobati sesuai dengan protokol penanganan Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis, dikonsul ke bagian penyakit dalam 2) Pengeluaran jaringan mola dengan cara kuretase dan histerektomi Kuretase pada pasien molahidatidosa : Keluarkan jaringan Mola dengan vakum kuretase dilanjutkan dengan kuretase tajam. Lakukan kuretase kedua bila tinggi fundus uterus lebih tinggi dari 20 minggu sesudah hari ke tujuh Dilakukan setelah pemeriksaan persiapann selesai (pemeriksaan darah rutin, kadar beta HCG dan foto toraks) kecuali bila jaringan mola sudah keluar spontan Bila kanalis servikalis belum terbuka mmaka dilakukan pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian Sebelum melakukan kuretase, untuk memperbaiki kontraksi sebelumna dierikan uterotonika (20-40 unit oksitosin dalam 250 cc darah atau 50 unit oksitosin dalam 500 ml NaCL 0,9% ) Kuretase dilakukan 2 kali dengan intervval minimal 1 minggu. Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke laboratorium PA. Histerektomi Syarat melakukan histerektomi adalah : Umur ibu 35 tahun atau lebih Sudah memiliki anak hidup 3 orang atau lebih Kemungkinan keganasan Chorio Carsinoma menjadi lebih tinggi 3) Pemeriksaan tindak lanjut Pemeriksaan lanjutan pada wanita mola hidatidosa yang uterusnya dikosongkan, sangat penting berhubung dengan kemungkinan timbulnya tumor ganas (dalam 20 %). Anjuran untuk pada semua penderita pascamola dilakukan kemoterapi untuk mencegah timbulnya keganasan, belum dapat diterima oleh semua pihak. Pada pengamatan lanjutan, selain memeriksa terhadap kemungkinan timbulnya metastasis, sangat penting untuk memeriksa kadar HCG secara berulang.

12

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Pemeriksaan tindak lanjut pada pasien mola hidatidosa meliputi : Lama pengawasan 1-2 tahun Selama pengawasan, pasien dianjurkan unntuk memakai kontrasepsi kondom, pil kombinasi atau diafragma. Pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pasien datang untuk kontrol Pemeriksaan kadar beta HCG dilakukan seetiap minggu sampai ditemukan kadarnya yang normal 3 kali berturut-turut Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan settiap bulan sampai ditemukan kadarnya yang normal 6 kali berturut-turut Bila telah terjadi remisi spontan (kadaar beta HCG, pemeriksaan fisik, dan foto toraks semuanya normal) setelah 1 tahun maka pasien tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan dapat hamil kembali Bila selama masa observasi, kadar beta HCG tetap atau meningkat dan pada pemeriksaan foto toraks ditemukan adanya tanda-tanda metastasis maka pasien harus dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi. 4) Follow Up Mola Hidatidosa Pemeriksaan secara teratur: 3 bulan pertama periksa 2 minggu sekali,7 kali periksa 3 bulan kedua periksa 1 bulan sekali, 3 kali periksa 6 bulan periksa 2 bulan sekali, 3 kali periksa 1 tahun periksa 3 bulan sekali, 4 kali periksa Apabila pada pemeriksaan laboratorium di dapat PP Test (+) sampai dengan 6 minggu post kuret di duga Chorio Carcinoma berikan Kuur MTX 1X/bulan sampai PP Test (-).

2.9. KOMPLIKASI Komplikasi mola hidatidosa meliputi : Perdarahan hebat Anemis Syok Infeksi Perforasi uterus

13

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Keganasan (PTG) Tirotoksikosis Eklampsia

2.10. PROGNOSA Hampir 20% mola hidatidosa komplet berlanjut menjadi keganasan. Sedangkan Mola hidatidosa parsial jarang. Mola yang terjadi berulang di sertai tirotoksikosis atau kista lutein memiliki kemungkinan menjadi ganas lebih tinggi. Kematian Mola hidatidosa diperkirakan 2% sampai 5%.2-3% kasus mola bisa berkembang menjadi keganasan (koriokarsinoma) Proses degenerasi ganas dapat berlangsung antara tujuh hari sampai tiga tahun dengan terbenyak dalam waktu enam bulan.

14

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


BAB III KESIMPULAN

Mola hidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan perubahan hidropik. Dengan ciri-ciri stroma villus korialis langka vaskularisasi dan edematous. Uterus pada mola hidatidosa tumbuh lebih cepat daripada kehamilan biasa. Pada uterus yang besar ini tidak terdapat tanda-tanda adanya janin didalamnya, seperti balottement pada palpasi, gerak janin pada auskultasi, adanya kerangka janin pada pemeriksaan rontgen, dan adanya denyut jantung pada ultrsonografi. Perdarahan merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Kdar HCG pada mola jauh lebih tinggi daripada kehamilan biasa. Ultrasonografi (Bscan) memberi gambaran yang khas mola hidatidosa.1,3 Berhubung dengan kemungkinan, bahwa mola hidatidosa dapat menjadi ganas, maka terapi yang terbaik pada wanita dengan usia yang sudah lanjut dan sudah mempunyai jumlah anak yang diingini ialah histerektomi. Akan tetapi pada wanita yng masih menginginkan anak maka setelah diagnosis mola dipastikan, dilakukan pengeluaran mola dengan kerokan isapan (suction curettage) disertai dengan pemberian infuse oksitosin intravena. Hampir 20% mola hidatidosa komplet berlanjut menjadi keganasan. Sedangkan Mola hidatidosa parsial jarang. Mola yang terjadi berulang di sertai tirotoksikosis atau kista lutein memiliki kemungkinan menjadi ganas lebih tinggi. Kematian Mola hidatidosa diperkirakan 2% sampai 5%.

15

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


DAFTAR PUSTAKA

1.

Martaadisoebrata. Penyakit serta Kelainan Plasenta dan Selaput Janin dalam Wiknyosastro Saifuddin AB, Rachimhadhi T, eds. Ilmu Kebidanan. Ed. III. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. 1991. 339-354.

2.

Pengurus Besar POGI. Standar Pelayanan Medik Obstetri & Ginekologi. Bag. 1. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 1995. 41-45.

3.

Cunningham F, Mac. Donald PC, Gant NF. Disease and Abnormalities of the Placenta and Fetal Membranes. in : Williams Obstetrics 18th ed. Connecticut :

Appleton&Lange.1989.540-553. 4. Budi A., Muin A., Lukas E., Djuanna A. Penatalaksanaan Penyakit Trofoblas Kehamilan. Makassar : Bagian Obstetri & Ginekologi FKUH UP. 1995. 5. Sastrawinata, Sulaiman.1981.Mola hidatidosa, Obstetri Patologi. Bagian Obstetri dan ginekologi. FK UNPAD. Hal 38-42 6. http://medicastore.com/med/detail pyk.php?iddtl=3207&key word =Mola hidatidosa

16

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


STATUS PASIEN

ANAMNESA PASIEN Pasien Nama Umur Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Alamat Tgl masuk : Siswana : 25 tahun : Islam : Jawa : SMP : Petani : Tanjung Kriani, Langkat : 21 November 2012 / pukul 13.30 WIB Suami Zulfahri 50 tahun Islam Jawa SMP Petani

ANAMNESA PENYAKIT Keluhan Utama Telaah : Keluar darah dari kemaluan :

Hal ini dialami os sejak 2 minggu yang lalu, darah yang keluar tidak terlalu banyak, kira-kira 5 cc per, darah yang keluar berupa bercak-bercak berwarna merah kecoklatan dan tidak disertai nyeri. Terdapat riwayat mual dan muntah sehari sebelumnya namun hanya 1x. Dua bulan sebelumnya os juga pernah memeriksakan diri ke bidan dengan keluhan tidak mendapat haid dan oleh bidan, os dinyatakan positif hamil. Karena perdarahannya semakin banyak, akhirnya os dibawa ke RSUD Djoelham Binjai. Status Obstetri HPHT RPT RPO : G2 P1 A0 : ( tanggal lupa ) / 09 / 2012 :(-) :(-)

17

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


STATUS PRESENT Keadaan umum Sensorium TD HR RR Temp BB : Baik

: Compos Mentis : 120/90 mmHg : 80 x/i : 24 x/i : 36,0 0C : 52 kg Anemia Ikterus Dyspnoe Edema Sianosis :(+) :(-) :(-) :(-) :(-)

Tinggi Badan : 150 cm

STATUS LOKALISATA Kepala Mata : konjungtiva palpebra inferior anemis kiri dan kanan ( + ), Sklera Ikterik kiri dan kanan ( - ) Rambut Telinga Hidung Mulut : hitam, tidak mudah dicabut : serumen ( - ), sekret ( - ) : sekret ( - ), epistaksis ( - ), pernapasan cuping hidung ( - ) : mukosa bibir kering ( - ), bibir pecah-pecah ( - ), lidah keruh ( - )

Leher Pembesaran kelenjar getah bening ( - ), struma ( - ) Thoraks Inspeksi : Simetris kanan = kiri, areola mammae hiperpigmentasi (+) , putting susu menonjol, ASI (-) Ictus cordis terlihat ( - ) Palpasi : : stem fremitus kanan = kiri : Iktus cordis tidak teraba Paru-Paru Jantung Perkusi

: sonor pada kedua lapangan paru, batas jantung normal

Aukultasi :

18

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Paru-Paru Jantung Abdomen Inpeksi Palpasi : perut tampak membesar ( cembung ), linea nigra (+), striae (+) : tidak teraba bagian janin, hati dan limpa sulit dinilai , Leopod I = fundus uteri teraba 3 jari di bawah pusat, nyeri tekan ( - ) Perkusi Auskultasi : tympani : denyut jantung janin ( - ) , peristaltik usus ( + ) sedang : suara pernapasan vesikuler ( + ) ,wheezing ( - ), ronkhi ( - ) : murmur ( - ), gallop ( - )

Genitalia Eksterna Perdarahan per vaginam 5 cc Extremitas Superior : sianosis ( - ), oedem ( - ), ptekie ( - ) Inferior : sianosis ( - ), oedem ( - ), ptekie ( - )

PEMERIKSAAN OBSTETRI/GINEKOLOGI Pemeriksaan Luar Inpeksi Palpasi : perut tampak membesar ( cembung ), linea nigra ( + ), striae ( + ) : tidak teraba bagian janin, hati dan limpa sulit dinilai , Leopod I = fundus uteri teraba 3 jari di bawah pusat, nyeri tekan ( - ) Perkusi Auskultasi : tympani : denyut jantung janin ( - ) , peristaltik usus ( + ) sedang

Pemeriksaan Dalam Vaginal toucher Vulva/Vagina Serviks : : mukosa licin : portio lunak

Belum ada pembukaan Corpus uteri setara dengan usia kehamilan 20 minggu

19

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium 1) Darah Rutin ( 21 November 2012, pukul 15.45 WIB ) Gol. Darah Hb Leukosit Eritrosit Trombosit :(O) : 9,6 gr/dL : 7,2 x 103 / L : 3,33 x 106 / L : 340 x 103 / L

2) Plano Test ( 21 November 2012 ) Tes kehamilan Warna Protein Reduksi Bilirubin Sedimen :(+)

3) Urine Rutin ( 21 November 2012 ) : kuning jernih :(-) :(-) :(-)

Urobilinogen : ( - ) : Leukosit 1-2/LP, Eritosit 40-50/LP, Epitel 3-5/LP

4) USG ( 22 November 2012 ) Kesan : Uterus membesar, tampak gambaran seperti bayangan badai salju dan tidak terlihat janin Kesimpulan : Mola Hidatidosa

20

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


RESUME Os dengan G2 P1 A0 datang ke ruang VK pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.30 WIB dengan keluhan : Keluhan Utama Telaah : Keluar darah dari kemaluan :

Hal ini dialami os sejak 2 minggu yang lalu, darah yang keluar tidak terlalu banyak, kira-kira 5 cc per, darah yang keluar berupa bercak-bercak berwarna merah kecoklatan dan tidak disertai nyeri. Terdapat riwayat mual dan muntah sehari sebelumnya namun hanya 1x. Dua bulan sebelumnya os juga pernah memeriksakan diri ke bidan dengan keluhan tidak mendapat haid dan oleh bidan, os dinyatakan positif hamil. Karena perdarahannya semakin banyak, akhirnya os dibawa ke RSUD Djoelham Binjai. Status Obstetri HPHT RPT RPO Status Present Keadaan umum Sensorium TD HR RR Temp BB : Baik : G2 P1 A0 : ( tanggal lupa ) / 09 / 2012 :(-) :(-)

: Compos Mentis : 120/90 mmHg : 80 x/i : 24 x/i : 36,0 C : 52 kg


0

Anemia Ikterus Dyspnoe Edema Sianosis

:(+) :(-) :(-) :(-) :(-)

Tinggi Badan : 150 cm Pemeriksaan Abdomen Inpeksi Palpasi : perut tampak membesar ( cembung ), linea nigra (+), striae (+) : tidak teraba bagian janin, hati dan limpa sulit dinilai , Leopod I = fundus uteri teraba 3 jari di bawah pusat, nyeri tekan ( - ) Perkusi Auskultasi : tympani : denyut jantung janin ( - ) , peristaltik usus ( + ) sedang

21

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Pemeriksaan Genitalia Eksterna Perdarahan per vaginam 5 cc Pemeriksaan Obstetri/Ginekologi Pemeriksaan Luar Inpeksi Palpasi : perut tampak membesar ( cembung ), linea nigra ( + ), striae ( + ) : tidak teraba bagian janin, hati dan limpa sulit dinilai , Leopod I = fundus uteri teraba 3 jari di bawah pusat, nyeri tekan ( - ) Perkusi Auskultasi : tympani : denyut jantung janin ( - ) , peristaltik usus ( + ) sedang

Pemeriksaan Dalam Vaginal toucher Vulva/Vagina Serviks : : mukosa licin : portio lunak

Belum ada pembukaan Corpus uteri setara dengan usia kehamilan 20 minggu Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Darah Rutin ( 21 November 2012, pukul 15.45 WIB ) Gol. Darah Hb Leukosit Eritrosit Trombosit :(O) : 9,6 gr/dL : 7,2 x 103 / L : 3,33 x 106 / L : 340 x 103 / L

Plano Test ( 22 November 2012 ) Tes kehamilan Sedimen :(+)

Urine Rutin ( 21 November 2012 ) : Leukosit 1-2/LP, Eritosit 40-50/LP, Epitel 3-5/LP

USG ( 22 November 2012 ) Kesan : Uterus membesar, tampak gambaran seperti bayangan badai salju dan tidak terlihat janin

22

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Kesimpulan : Mola Hidatidosa

DIAGNOSA BANDING: 1) Mola Hidatidosa 2) Missed Abortion

DIAGNOSA SEMENTARA : Mola hidatidosa

PENATALAKSANAAN Rencana evakuasi mola (Kuretase) Bed Rest IVFD RL 20 gtt/menit Flasminex 3x1 Ciprofloxacin 3x1

PROGNOSA Diharapkan baik

LAPORAN KURETASE Pada tanggal 24 November 2012, pkl 11.00 WIB) dilakukan kuretase mola.

Dengan keluar jaringan mola + darah kurang lebih 400cc Evaluasi perdarahan KU ibu post-kuretase baik Mola di periksakan ke PA Pasien diperbolehkan PBJ jika KU sudah baik

23

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Terapi Post-kuretase : Ciprofloxacin 500 mg 3x1 Metronidazole 500 mg 3x1 Asam mefenamat 500 mg 3x1 Vifferon 1x1

Diagnosa akhir : Mola hidatidosa Penanganan dengan kuretase, pasien dirawat inap di RS, dan prognosa baik. ANJURAN Jaringan mola diperiksakan ke bagian histopatologi USG dilakukan 1 minggu lagi Ibu dianjurkan jangan hamil dulu dan dilakukan pengawasan selama 1-2 tahun Selama pengawasan, pasien dianjurkan untuk memakai kontrasepsi kondom, pil kombinasi atau diafragma. Pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pasien datang untuk kontrol Pemeriksaan kadar beta HCG dilakukan setiap minggu sampai ditemukan kadarnya yang normal 3 kali berturut-turut. Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai ditemukan kadarnya yang normal 6 kali berturut-turut Bila telah terjadi remisi spontan (kadar beta HCG, pemeriksaan fisik, dan foto toraks semuanya normal) setelah 1 tahun maka pasien tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan dapat hamil kembali Bila selama masa observasi, kadar beta HCG tetap atau meningkat dan pada pemeriksaan foto toraks ditemukan adanya tanda-tanda metastasis maka pasien harus dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi

24

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


FOLLOW UP PASIEN

TD TANGGAL KELUHAN (mmHg)

HR (x/i)

RR (x/i)

Temp (0C) TERAPI

21/11/2012 Pukul 13.45

Perdarahan

pervaginam

120/90

80

24

36,0

Bed rest IVFD. RL 20 gtt/i Spasminex 3x1 Ciprofloxacin 3x1

(+), berupa bercak warna merah kecoklatan

22/11/2012 Pukul 06.00

Perdarahan pervaginam (+)

120/80

80

24

36,5

Bed rest IVFD RL 20 gtt/i Spasminex 3x1 Ciprofloxacin 3x1

23/11/2012 Pukul 06.00

Perdarahan pervaginam (+)

110/80

82

24

36,5

Bed rest IVFD RL 20 gtt/i Spasminex 3x1 Ciprofloxacin 3x1

24/11/2012 Pukul 06.00

KU baik Perdarahan berkurang

120/80

88

22

36,5

Dilakukan kuretase pukul 11.00 jaringan Dengan WIB : keluar

mola+darah

kurang lebih 400cc keluar jaringan

mola + darah kurang lebih 400cc Evaluasi perdarahan KU ibu post-kuretase baik Mola di periksakan ke PA

25

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI

MOLA HIDATIDOSA 2012


Pasien diperbolehkan PBJ jika KU sudah baik

24/11/2012

Pasien PBJ

Terapi : Ciprofloxacin 500 mg 3x1 Metronidazole 500 mg 3x1 Asam mefenamat 500 mg 3x1 Vifferon 1x1

26

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD DR. RM DJOELHAM BINJAI