Anda di halaman 1dari 31

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kunjungan Antenatal Care (ANC) 2.1.1. Pengertian Kunjungan Antenatal Care (ANC) Kunjungan Antenatal Care adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan

pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan antenatalcare (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Saifuddin, 2002). Kunjungan ibu hamil atau ANC adalah pertemuan antara bidan dengan ibu hamil dengan kegiatan mempertukarkan informasi ibu dan bidan serta observasi selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan umum dan kontak sosial untuk mengkaji kesehatan dan kesejahteraan umumnya (Salmah, 2006). Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kontak ibu hamil dengan pemberi perawatan atau asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan (Henderson, 2006). Kunjungan pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu bentuk perilaku. Menurut Lawrence Green, faktor-faktor yang memengaruhi perilaku ada 3 yaitu : faktor predisposisi (predisposing factor), faktor pendukung (enabling factor), dan faktor pendorong (reinforcing factor). Yang termasuk faktor predisposisi

Universitas Sumatera Utara

(predisposing factor) diantaranya : pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, keyakinan , nilai dan motivasi. Sedangkan yang termasuk faktor pendukung (enabling factor) adalah ketersediaan fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan dan yang terakhir yang termasuk faktor pendorong (reinforcing factor) adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan, informasi kesehatan baik literature, media, atau kader (Natoatmodjo, 2003). Dimana motivasi merupakan gejala kejiwaan yang

direfleksikan dalam bentuk prilaku karena motivasi merupakan dorongan untuk bertindak untuk mencapai tujuan tertentu, dalam keadaan ini tujuan ibu hamil adalah agar kehamilannya berjalan normal dan sehat. Antenatal Care (ANC) sebagai salah satu upaya pencegahan awal dari faktor risiko kehamilan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Antenatal care untuk mendeteksi dini terjadinya risiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera dapat diatasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut dengan melakukan pemeriksaan antenatal care (Winkjosastro, 2006). Apabila ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilan, maka tidak akan diketahui apakah kehamilannya berjalan dengan baik atau mengalami keadaan risiko tinggi dan komplikasi obstetri yang dapat membahayakan kehidupan ibu dan janinnya. Dan dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Saifuddin, 2002).

Universitas Sumatera Utara

2.1.2. Kebijakan Program Pelayanan Antenatal Care Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis Empat Pilar Safe Motherhood yaitu meliputi : Keluarga Berencana, Antenatal Care, Persalinan Bersih dan Aman, dan Pelayanan Obstetri Essensial. Pendekatan pelayanan obstetrik dan neonatal kepada setiap ibu hamil ini sesuai dengan pendekatan Making Pregnancy Safer (MPS), yang mempunyai 3 (tiga) pesan kunci yaitu : a. b. c. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat. Setiap perempuan dalam usia subur mempunyai akses pencegahan dan penatalaksanaan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Kebijakan program pelayanan antenatal menetapkan frekuensi kunjungan antenatal sebaiknya minimal 4 (empat) kali selama kehamilan, dengan ketentuan sebagai berikut : (Depkes, 2009). a. Minimal satu kali pada trimester pertama (K1) hingga usia kehamilan 14 minggu Tujuannya : 1) Penapisan dan pengobatan anemia 2) Perencanaan persalinan 3) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya

Universitas Sumatera Utara

b. Minimal satu kali pada trimester kedua (K2), 14 28 minggu Tujuannya : 1) 2) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya Penapisan pre eklamsia, gemelli, infeksi perkemihan 3) c. Mengulang perencanaan persalinan alat reproduksi dan saluran

Minimal dua kali pada trimester ketiga (K3 dan K4) 28 - 36 minggu dan setelah 36 minggu sampai lahir. Tujuannya : 1) Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III 2) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi 3) Memantapkan rencana persalinan 4) Mengenali tanda-tanda persalinan Pemeriksaan pertama sebaiknya dilakukan segera setelah diketahui terlambat

haid dan pemeriksaan khusus dilakukan jika terdapat keluhan-keluhan tertentu. 2.1.3 Tujuan Antenatal Care Menurut Prawirohardjo (2005), tujuan dari ANC meliputi : a) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi b) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan bayi

Universitas Sumatera Utara

c) Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan. d) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin e) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif f) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. Menurut Depkes RI (1994), tujuan Antenatal care adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat. Untuk mencapai tujuan dari ANC tersebut dilakukan pemeriksaan dan pengawasan wanita selama kehamilannya secara berkala dan teratur agar bila timbul kelainan kehamilan atau gangguan kesehatan sedini mungkin diketahui sehingga dapat dilakukan perawatan yang cepat dan tepat. (Depkes, 1997) Mengacu pada penjelasan di atas, bagi ibu hamil dan suami/keluarga dapat mengubah pola berpikir yang hanya datang ke dokter jika ada permasalahan dengan kehamilannya. Karena dengan pemeriksaan kehamilan yang teratur, diharapkan proses persalinan dapat berjalan dengan lancar dan selamat. Dan yang tak kalah penting adalah kondisi bayi yang dilahirkan juga sehat, begitu pula dengan ibunya.

Universitas Sumatera Utara

2.1.4. Standar Pelayanan Antenatal Care Dalam melaksanakan pelayanan Antenatal Care, ada sepuluh standar pelayanan yang harus dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang dikenal dengan 10 T. Pelayanan atau asuhan standar minimal 10 T adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2009) : 1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan 2. Pemeriksaan tekanan darah 3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas) 4. Pemeriksaan puncak rahim (tinggi fundus uteri) 5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ) 6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan. 7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan 8. Test laboratorium (rutin dan khusus) 9. Tatalaksana kasus 10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB paska persalinan 2.1.5. Lokasi Pelayanan Antenatal Care Menurut Dep Kes RI (1997), tempat pemberian pelayanan antenatal care dapat bersifat statis dan aktif meliputi : 1. 2. Puskesmas/ puskesmas pembantu Pondok bersalin desa

Universitas Sumatera Utara

3. 4. 5. 6. 7.

Posyandu Rumah Penduduk (pada kunjungan rumah Rumah sakit pemerintah/ swasta Rumah sakit bersalin Tempat praktek swasta (bidan dan dokter)

2.1.6. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan (ANC) a. Kebutuhan Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam akitvitas-aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) berusaha.Pada dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu, yaitu memenuhi kebutuhan. Kebutuhan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, selama hidup manusia membutuhkan bermacam-macam kebutuhan, seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan kesehatan. Kebutuhan dipengaruhi oleh kebudayaan, lingkungan, waktu dan agama. Semakin tinggi tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin tinggi/banyak pula macam kebutuhan yang harus dipenuhi. Pemeriksaan kehamilan secara teratur akan dilakukan oleh ibu hamil, bila tindakan itu dirasakan sebagai kebutuhan. Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor kebutuhan ini merupakan dasar dan stimulus paling langsung untuk menggunakan kehamilan. sarana kesehatan dalam menjaga kesehatannya selama

Universitas Sumatera Utara

b.

Harapan Seseorang termotivasi oleh karena keberhasilan dan adanya harapan keberhasilan bersifat pemuasan diri seseorang, keberhasilan dan harga diri meningkat dan menggerakkan seseorang ke arah pencapaian tujuan, misalnya ibu melakukan pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan dengan harapan agar kesehatannya selama kehamilan terjamin, dan apabila ada gejala/tanda komplikasi kehamilan dapat terdeteksi sedini mungkin serta apabila ada komplikasi yang terjadi dapat segera diatasi/ditangani.

c.

Minat Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu hal tanpa ada yang menyuruh, misalnya ibu memeriksakan kehamilannya tanpa ada pengaruh dari orang lain tetapi karena adanya minat ingin bertemu dengan tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat) dengan tujuan untuk mengetahui keadaan/status kesehatan kehamilannya.

d.

Dukungan Suami dan Keluarga Wanita hamil tidak hidup sendiri tetapi dalam lingkungan keluarga dan budaya yang kompleks atau bermacam-macam.Pada kenyataanya peranan suami dan keluarga sangat besar bagi ibu hamil dalam mendukung perilaku atau tindakan ibu hamil dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Teori Snehendu B. Kar (Notoatmodjo, 2003) menyimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang ditentukan antara lain oleh ada atau tidaknya dukungan masyarakat sekitarnya (social support). Orang yang tinggal dilingkungan yang

Universitas Sumatera Utara

menjunjung tinggi aspek kesehatan akan lebih antusias dalam menjaga kesehatannya. Sebaliknya mereka yang tinggal dilingkungan dengan pola hidup tidak sehat/tidak memperhatikan kesehatan akan cenderung tidak perduli dengan pencegahan penyakit atau pemeriksan kesehatan secara teratur. Hasil penelitian Simanjuntak (2002) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara dukungan suami/keluarga dengan kunjungan K4, dimana

diperoleh OR = 2, 89 yang berarti bahwa responden yang memperoleh dukungan baik mempunyai kecenderungan untuk melakukan kunjungan K4 sesuai standar 3 kali lebih besar dibandingkan responden yang kurang mendapat dukungan suami/keluarga. e. Imbalan Seseorang dapat termotivasi karena adanya suatu imbalan sehingga orang tersebut ingin melakukan sesuatu, misalnya ibu melakukan pemeriksaan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena ibu akan mendapatkan imbalan seperti makanan tambahan, susu, atau vitamin secara gratis. Imbalan yang positif ini akan semakin memotivasi ibu untuk datang ketenaga kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya. f. Pengalaman Pengalaman adalah suatu keadaan/kejadian yang dialami ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu. Ibu yang memiliki pengalaman buruk dalam kehamilan yang lalu akan cenderung untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan (Tangkin, Y, 2000). Menurut Akin dalam Adhaniyah mengatakan bahwa

Universitas Sumatera Utara

pengalaman masa lalu dalam kehamilan, persalinan dan pelayanan kesehatan mempunyai efek sangat besar terhadap pengetahuan, sikap, dan penggunaan pelayanan kesehatan ibu. Serta pengalaman ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kehamilan sebelumnya akan berpengaruh tehadap perilaku ibu dalam melakukan pemeriksaan kehamilan yang sekarang. Ibu yang mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan pada saat melakukan pemeriksaan pada kehamilan sebelumnya akan cenderung kurang antusias dalam melakukan pemeriksaan kehamilan, karena takut pengalaman yang lalu akan terulang kembali. g. Sikap Tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh sikap (attitude) yaitu suatu tingkat efek (perasaan) baik yang positif (menguntungkan) maupun negatif (merugikan). Sikap belum tentu merupakan tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan priedisposisi tindakan atau perilaku (Notoatmodjo, 2003). Menurut Sarwono (2005) sikap merupakan potensi tingkah laku seseorang terhadap sesuatu keinginan yang dilakukan. Maka dapat dikatakan seorang ibu hamil yang bersikap positif terhadap perawatan kehamilan (ANC) cenderung akan mempunyai motivasi tinggi untuk melakukan ANC. Hal ini dikarenakan informasi, pengetahuan dan pemahaman ibu hamil yang baik mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan (ANC) selama kehamilan dapat mencegah bahaya dan risiko yang mungkin terjadi selama hamil. Sikap ibu terhadap pelayanan antenatal care berperan dalam pemeriksaan kehamilan secara teratur.

Universitas Sumatera Utara

Hasil penelitian Simanjuntak menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap responden dengan antenatal K4 sesuai standar, diperoleh OR = 2,83 yang berarti bahwa responden yang memiliki sikap positif akan memiliki kecenderungan 2,83 kali untuk melakukan kunjungan antenatal K4 sesuai standar dibandingkan yang memiliki sikap negatif. h. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2005). Menurut Notoatmodjo (2003) tingkat pengetahuan dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan : tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Tingkat pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat. Pengetahuan

tentang kehamilan harus dimiliki ibu hamil untuk dapat menyiapkan fisik atau mental agar sampai akhir kehamilannya sama sehatnya, bilamana ada kelainan fisik atau psikologis bisa ditemukan secara dini dan diobati, serta melahirkan tanpa kesulitan dengan bayi yang sehat. Hasil Penelitian Zainal menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan dengan pemeriksaan kehamilan dengan p value 0,005 dengan OR

Universitas Sumatera Utara

sebesar 0,119 artinya ibu dengan pengetahuan baik berpeluang 0,119 kali memeriksakan kehamilan lengkap jika dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan kurang. Sementara hasil penelitian Metrys, diperoleh nilai OR sebesar 3,853, artinya ibu yang pengetahuannya baik mempunyai peluang 3,8 kali memeriksakan kehamilannya dibandingkan ibu yang pengetahuannya kurang. i. Ekonomi/Penghasilan Penghasilan keluarga merupakan faktor pemungkin bagi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan.Penghasilan keluarga juga menentukan stasus sosial ekonomi keluarga tersebut. Sosial ekonomi merupakan gambaran tingkat kehidupan seseorang dalam masyarakat yang ditentukan dengan variabel pendapatan, pendidikan dan pekerjaan, karena ini dapat mempengaruhi aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan (Notoatmodjo, 2003) Keadaan sosial ekonomi yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan yang dihadapi, hal ini disebabkan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan dalam mengatasi berbagai masalah tersebut (Effendy, N, 1998). Menurut WHO (Notoatmodjo, 2003) faktor ekonomi juga berpengaruh terhadap seseorang dalam upaya deteksi dini komplikasi kehamilan. Status ekonomi keluarga juga berperan bagi seseorang dalam bertindak termasuk tindakan yang berhubungan dengan kesehatan dan pemeriksaan kehamilannya. Hasil penelitian Simanjuntak (2002) menujukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara

Universitas Sumatera Utara

penghasilan dengan kunjungan antenatal K4, dimana OR sebesar 2,42 yang berarti ibu yang berpenghasilan tinggi cenderung melakukan kunjungan antenatal sesuai standar 2,42 kali dibandingkan dengan ibu yang berpenghasilan rendah. 2.1.7. Faktor Risiko dalam Kehamilan Yang dimaksud faktor risiko tinggi adalah keadaan pada ibu, baik berupa faktor biologis maupun non-biologis, yang biasanya sudah dimiliki ibu sejak sebelum hamil dan dalam kehamilan yang akan/mungkin memudahkan timbulnya gangguan lain. Faktor itu bisa digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor medis dan faktor non medis. Faktor medis meliputi, usia, paritas, graviditas, jarak kehamilan, riwayat kehamilan dan persalinan, dan faktor non medis adalah pengawasan antenatal (Manuaba, 1998) Menurut Muhtar, (1998) faktor non-medis dan faktor medis yang dapat mempengaruhi kehamilan adalah : a. Faktor non medis antara lain : Status gizi buruk, sosial ekonomi yang rendah, kemiskinan, ketidaktahuan, adat, tradisi, kepercayaan, kebersihan lingkungan, kesadaran untuk

memeriksakan kehamilan secara teratur, fasilitator dan sarana kesehatan yang serba kekurangan merupakan faktor non medis yang banyak terjadi terutama dinegara-negara berkembang yang berdasarkan penelitian ternyata sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas.

Universitas Sumatera Utara

b.

Faktor medis antara lain : Penyakit-penyakit ibu dan janin, kelainan obstetrik, gangguan plasenta, gangguan tali pusat, komplikasi persalinan.

2.1.8. Cara Menentukan Kehamilan Risiko Tinggi Cara menentukan pengelompokan kehamilan risiko tinggi, yaitu dengan menggunakan cara kriteria. Kriteria ini diperoleh dari anamnesa tentang umur, paritas, riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu, dan pemeriksaan lengkap kehamilan sekarang serta pemeriksaan laboratorium penunjang bila diperlukan. Puji Rochjati (2005) mengemukakan batasan faktor risiko pada ibu hamil ada 3 kelompok yaitu : a. Kelompok Faktor risiko I (ada potensi gawat obstetri), seperti primipara muda terlalu muda umur kurang dari 16 tahun, primi tua, terlalu tua, hamil pertama umur 35 tahun atau lebih, primi tua sekunder, terlalu lama punya anak lagi, terkecil 10 tahun lebih, anak terkecil < 2 tahun, grande multi, hamil umur 35 tahun atau lebih, tinggi badan kurang dari 145 cm, riwayat persalinan yang buruk, pernah keguguran, pernah persalinaan premature, riwayat persalinan dengan tindakan ( ekstraksi vakum, ekstraksi forcep, operasi (seksio sesarea) ). Deteksi ibu hamil berisiko kelompok I ini dapat ditemukan dengan mudah oleh petugas kesehatan melalui pemeriksaan sederhana yaitu wawancara dan periksa pandang pada kehamilan muda atau pada saat kontak. b. Kelompok Faktor Risiko II ( ada gawat obstetri), ibu hamil dengan penyakit, pre-eklamsia/eklamsia, hamil kembar atau gamelli, kembar air atau hidramnion,

Universitas Sumatera Utara

bayi mati dalam kandungan, kehamilan dengan kelainan letak, serta hamil lewat bulan. Pada kelompok faktor resiko II ada kemungkinan masih membutuhkan pemeriksaan dengan alat yang lebih canggih (USG) oleh dokter Spesialis di Rumah Sakit. c. Kelompok Faktor Risiko III (ada gawat obstetri), perdarahan sebelum bayi lahir, pre eklamsia berat atau eklampsia. Pada kelompok faktor risiko III, ini harus segera di rujuk ke rumah sakit sebelum kondisi ibu dan janin bertambah buruk/jelek yang membutuhkan penanganan dan tindakan pada waktu itu juga dalam upaya menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya yang terancam. Adapun faktor-faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan kehamilan : 1) Usia a) Usia < 20 tahun (terlalu muda untuk hamil) Yang dimaksud dengan terlalu muda untuk hamil adalah hamil pada usia< 20 tahun. Pada usia< 20 tahun secara fisik kondisi rahim dan panggul belum berkembang optimal, sehingga dapat mengakibatkan risiko kesakitan dan kematian pada kehamilan dan dapat menyebabkan pertumbuhan serta perkembangan fisik ibu terhambat. b) Usia 20 - 35 tahun (usia reproduksi) Usia ibu sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi. Dalam kurun waktu reproduksi sehat diketahui bahwa usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20 - 35 tahun, dimana organ reproduksi sudah sempurna dalam menjalani fungsinya (BKKBN, 1999).

Universitas Sumatera Utara

c)

Usia > 35 tahun (terlalu tua untuk hamil) Yang dimaksud dengan terlalu tua adalah hamil diatas usia 35 tahun, kondisi kesehatan ibu dan fungsi berbagai organ dan sistem tubuh diantaranya otot, syaraf, endokrin dan reproduksi mulai menurun. Pada usia lebih dari 35 tahun terjadi penurunan curah jantung yang disebabkan kontraksi miokardium. Ditambah lagi dengan tekanan darah dan penyakit lain yang melemahkan kondisi ibu, sehingga dapat mengganggu sirkulasi darah ke janin yang berisiko meningkatkan komplikasi medis pada kehamilan, antara lain : keguguran, eklamsia dan perdarahan.

2) Paritas Sulaiman, S (1983) mengklasifikasikan paritas adalah sebagai berikut : a) Primipara : Seorang yang telah melahirkan seorang anak matur atau prematur b) c) Multipara : Seorang wanita yang telah melahirkan lebih dari satu anak Grandemulti adalah Seorang wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih. Paritas merupakan salah satu faktor resiko pada kehamilan.Kehamilan risiko tinggi lebih banyak terjadi pada multipara dan grandemultipara, dimana pada multipara dan grandemultipara keadaan endometrium pada daerah korpus uteri sudah mengalami kemunduran dan berkurangnya vaskularisasi.Hal ini terjadi karena degenerasi dan nekrosis pada bekas luka implantasi plasenta pada kehamilan sebelumnya didinding endometrium.Adanya kemunduran

Universitas Sumatera Utara

fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada daerah endometrium menyebabkan daerah tersebut menjadi tidak subur dan tidak siap menerima hasil konsepsi, sehingga pemberian nutrisi dan oksigenisasi kepada hasil konsepsi kurang maksimal dan mengganggu sirkulasi darah ke janin. Hal ini akan berisiko pada kehamilan dan persalinan. 3) Jarak Kehamilan Menurut Ramli (1997), jarak adalah selang waktu antara dua peristiwa, ruang antara dua objek bagian. Jarak adalah masa antara dua kejadian yang berkaitan. a) Kehamilan dengan jarak < 3 tahun Pada kehamilan dengan jarak < 3 tahun keadaan endometrium mengalami perubahan.Perubahan ini berkaitan dengan persalinan sebelumnya yaitu timbulnya thrombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta (Mansjoer, 1999). Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada daerah endometrium pada bagian korpus uteri mengakibatkan daerah tersebut kurang subur sehingga kehamilan dengan jarak < 3 tahun dapat menimbulkan kelainan yang berhubungan dengan letak dan keadaan plasenta. b) Kehamilan dengan jarak > 3 tahun Pada kehamilan dengan jarak > 3 tahun keadaan endometrium yang semula mengalami thrombosis dan nekrosis karena pelepasan plasenta dari dinding endometrium (korpus uteri) telah mengalami pertumbuhan dan kemajuan

Universitas Sumatera Utara

endometrium.Dinding-dinding endometrium mulai regenerasi dan sel epitel kelenjar-kelenjar endometrium mulai berkembang.Bila pada saat ini terjadi kehamilan endometrium telah siap menerima sel-sel dan memberikan nutrisi bagi pertumbuhan sel telur. c) Kehamilan dengan jarak > 4 tahun Pada kehamilan dengan jarak > 4 tahun sel telur yang dihasilkan sudah tidak baik, sehingga bisa menimbulkan kelainan-kelainan bawaan seperti sindrom down dan pada saat persalinan pun berisiko terjadi perdarahan post partum.Hal ini disebabkan otot-otot rahim tidak selentur dulu, hingga saat harus mengkerut kembali bisa terjadi gangguan yang berisiko seperti haemoragic post partum (HPP), dan risiko terjadi pre eklamsia dan eklamsia juga sangat besar karena terjadi kerusakan sel-sel endotel. 2.1.9. Pencegahan Kehamilan Risiko Tinggi Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah dengan pemeriksaan dan pengawasan kehamilan yaitu deteksi dini ibu hamil risiko tinggi atau komplikasi kebidanan yang lebih difokuskan pada keadaan yang menyebabkan kematian ibu.Pemeriksaan antenatal perlu dilakukan secara dini, sehingga dapat ditemukan sedini mungkin apabila ada tanda bahaya/komplikasi serta dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam persiapan persalinan. Diketahui bahwa janin dalam rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi. Oleh sebab itu ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur dan sesuai standar minimal 4 kali selama kehamilan.

Universitas Sumatera Utara

2.2.

Motivasi

2.2.1 Pengertian Motivasi Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan memelihara perilaku manusia akibat interaksi individu dengan situasi. Umumnya orang yang termotivasi akan melakukan usaha yang lebih besar dari pada yang tidak melakukan. Kata motivasi berasal dari kata motivation, yang dapat diartikan sebagai dorongan yang ada pada diri seseorang untuk bertingkah laku mencapai suatu tujuan tertentu (Rivai, 2004). Sementara Gibson et.al (1996), menyatakan bahwa motivasi sebagai suatu dorongan yang timbul pada atau didalam diri seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku.Oleh karena itu, motivasi dapat berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan yang berlangsung secara wajar. Berdasarkan pada beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu penggerak atau dorongan-dorongan yang terdapat dalam diri manusia yang dapat menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya.Hal ini terkait dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan rohani. 2.2.2. Jenis-Jenis Motivasi Menurut Djamarah (2002) motivasi terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Universitas Sumatera Utara

1. Motivasi Intrinsik Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik datang dari hati sanubari, umumnya karena kesadaran, misalnya ibu memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena ibu tersebut sadar bahwa dengan memeriksakan kehamilannya, dapat mendeteksi apabila ada komplikasi pada kehamilannya. Menurut Taufik (2007), faktor-faktor yang memengaruhi motivasi intrinsik yaitu : a. Kebutuhan (Need) Seseorang melakukan aktivitas (kegiatan) karena adanya faktor-faktor kebutuhan baik biologis maupun psikologis, misalnya motivasi ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan untuk mendeteksi adanya tanda/gejala resiko tinggi pada kehamilannya. b. Harapan (Expectancy) Seseorang dimotivasi oleh karena keberhasilan dan adanya harapan keberhasilan bersifat pemuasan diri seseorang, keberhasilan dan harga diri meningkat dan menggerakkan seseorang ke arah pencapaian tujuan, misalnya ibu memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan dengan harapan agar apabila ada komplikasi/risiko dalam kehamilannya dapat segera diketahui dan diatasi.

Universitas Sumatera Utara

c. Minat Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu hal tanpa ada yang menyuruh, misalnya ibu memeriksakan kehamilannya tanpa adanya

pengaruh dari orang lain tetapi karena adanya minat ingin bertemu dengan tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat) dan minat atau keinginan untuk mengetahui keadaan kesehatan janin dan kehamilannya. 2. Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang atau pengaruh dari orang lain sehingga seseorang berbuat sesuatu. (Djamarah, 2002). Menurut Taufik (2007), faktor-faktor yang memengaruhi motivasi ekstrinsik adalah : a. Dukungan Suami dan Keluarga Ibu memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan bukan kehendak sendiri tetapi karena dorongan dari keluarga seperti : suami, orang tua, teman ataupun anggota keluarga yang lain. Dukungan dan dorongan dari anggota keluarga semakin menguatkan motivasi ibu untuk melakukan yang terbaik untuk kesehatan kehamilannya. Dorongan positif yang diperoleh ibu, akan menimbulkan kebiasaan yang baik pula, sehingga akan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. b. Imbalan Seseorang dapat termotivasi karena adanya suatu imbalan sehingga orang tersebut ingin melakukan sesuatu, misalnya ibu memeriksakan kehamilannya ke

Universitas Sumatera Utara

tenaga kesehatan karena ibu akan mendapatkan imbalan seperti mendapatkan makanan tambahan (susu), suntik TT atau vitamin tambah darah. Imbalan yang

positif ini akan semakin memotivasi ibu hamil untuk datang ketenaga kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya, dengan harapan kehamilannya akan menjadi sehat. 2.2.3. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Motivasi a. Faktor Fisik Faktor fisik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi fisik, misal status kesehatan dan status gizi ibu hamil (http://situs.kespro.info/kia/htm). Bila ibu hamil merasa dalam status kesehatan yang baik, tidak ada keluhan maka mereka menganggap bahwa tidak perlu melakukan pemeriksaaan kehamilan, jadi ibu hanya memeriksakan kehamilannya hanya bila ada keluhan saja. b. Faktor Proses Mental Motivasi merupakan suatu proses yang tidak terjadi begitu saja, tapi ada kebutuhan yang mendasari munculnya motivasi tersebut. Ibu hamil yang mengalami gangguan pada proses mental tentu sulit untuk membuat suatu keputusan bahwa pemeriksaan kehamilan adalah suatu kebutuhan karena adanya gangguan pada proses berfikir. c. Faktor Hereditas Bahwa manusia diciptakan dengan berbagai macam tipe kepribadian yang secara herediter dibawa sejak lahir. Ada tipe kepribadian tertentu yang mudah

termotivasi atau sebaliknya (Notoatmodjo, 2003)

Universitas Sumatera Utara

d.

Faktor Lingkungan Lingkungan adalah suatu yang berada disekitar individu baik fisik, biologis,

maupun sosial (Notoatmodjo, 2003). Lingkungan sangat berpengaruh terhadap motivasi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Termasuk dalam lingkungan salah adalah dukungan suami, keluarga dan teman. e. Faktor Kematangan Usia Kematangan usia akan berpengaruh pada proses berfikir dan pengambilan keputusan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. f. Faktor Fasilitas (Sarana dan Prasarana) Ketersediaan fasilitas untuk melakukan pemeriksaan kehamilan yang memadai, mudah terjangkau menjadi motivasi bagi ibu untuk memeriksakan kehamilannya. Termasuk dalam fasilitas adalah adanya sumber biaya yang mencukupi bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. g. Faktor Media Media merupakan sarana untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi kesehatan (Sugiyono, 1999). Dengan adanya media ibu hamil menjadi lebih tahu tentang pemeriksaan kehamilan dan pada akhirnya dapat menjadi motivasi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. 2.2.4. Teori Motivasi Menurut Abrahan Maslow (1943-1970) Abraham Maslow (1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang ada didalam hidupnya. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang

Universitas Sumatera Utara

berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat.Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi. Aktualisasi diri Penghargaan Sosial Keamanan Faali Gambar 2.1 Hirarki Kebutuhan Maslow a. Kebutuhan fisiologis Contohnya adalah : sandang/pakaian, pangan/makanan, papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti bernafas, buang air besar, buang air kecil dan lain sebagainya. b. Kebutuhan keamanan dan keselamatan Misalnya : bebas dari diskriminasi, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit/penyakit, bebas dari teror dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

c.

Kebutuhan sosial Misalnya : kasih sayang, rasa memiliki, memiliki teman, memiliki keluarga, diterima dengan baik dan lain sebagainya

d.

Kebutuhan akan penghargaan Contohnya : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan dan lain sebagainya.

e.

Kebutuhan aktualisasi diri Misalnya : kebutuhan kognitif : mengetahui, memahami, dan menjelajahi ; kebutuhan estetik : keserasian, keteraturan dan keindahan ; kebutuhan aktualisasi diri : mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya. Pada dasarnya manusia tidak pernah puas pada tingkat kebutuhan manapun,

tetapi untuk memunculkan kebutuhan yang lebih tinggi perlu memenuhi tingkat kebutuhan yang lebih rendah terlebih dahulu. Dalam usaha untuk memenuhi segala kebutuhannya tersebut seseorang akan berperilaku yang dipengaruhi atau ditentukan oleh pemenuhan kebutuhannya (Mangkunegara, 2002). 2.2.5. Fungsi Motivasi Menurut Notoatmodjo (2007), motivasi mempunyai 3 (tiga) fungsi yaitu : a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

Universitas Sumatera Utara

b.

Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan yang sudah direncanakan sebelumnya.

c.

Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatanperbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Pilihan perbuatan yang sudah ditentukan atau dikerjakan akan memberikan kepercayaan diri yang tinggi karena sudah melakukan proses penyeleksian

2.3.

Persepsi

2.3.1. Pengertian Persepsi Persepsi berasal dari bahasa latin, persipere: menerima, perception : pengumpulan, penerimaan, pandangan dan pengertian. Jadi persepsi adalah

kesadaran intuitif (berdasarkan firasat) terhadap kebenaran atau kepercayaan langsung terhadap sesuatu (Komaruddin, 2002). Persepsi diartikan sebagi proses diterimanya rangsang melalui panca indera yang didahului oleh perhatian sehingga individu mampu mengetahui, mengartikan dan menghayati tentang hal yang diamati, baik yang ada di luar maupun di dalam individu (Sunaryo, 2004). Menurut Wiliam James dalam Widayatun (1999), persepsi merupakan suatu pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang didapat melalui indera hasil pengolahan otak atau ingatan. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda meskipun obyeknya sama.

Universitas Sumatera Utara

Persepsi dalam pengertian psikologi menurut Sarwono (2005) adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, perabaan dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Menurut Leavit (dalam Sobur, 2003) persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas persepsi adalah pandangan atau pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Walgito (1991) yang menyatakan bahwa persepsi itu merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diindranya sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Sesuai dengan teori persepsi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, pembentukan persepsi tersebut sangat dipengaruhi oleh pengamatan, pengindraan terhadap proses berpikir yang dapat mewujudkan suatu kenyataan yang diinginkan oleh seseorang terhadap suatu obyek yang diamati. Dengan demikian persepsi merupakan proses transaksi penilaian terhadap suatu obyek, situasi, peristiwa orang lain berdasarkan pengalaman masa lampau, sikap, harapan dan nilai yang ada pada diri individu. 2.3.2. Faktor Pembentukan Persepsi Beberapa faktor yang memengaruhi persepsi antara lain : sikap, pendidikan (pengetahuan), lingkungan, budaya (Rahmat, 2001).

Universitas Sumatera Utara

1.

Fungsional Persepsi individu terhadap suatu objek tidak terjadi begitu saja, tapi ada beberapa faktor yang memengaruhinya, yaitu faktor fungsional yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, dan hal lain yang termasuk dalam faktor personal. Jadi persepsi tidak hanya ditentukan oleh jenis atau bentuk stimuli, tetapi juga karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli tersebut dan bermula dari kondisi biologisnya (Rahmat,2001).

2.

Sikap Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai (Rahmat, 2001).

3.

Pendidikan (Pengetahuan) Pengetahuan dapat membentuk kepercayaan (Rahmat,2001). Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang.

4.

Ekonomi/Penghasilan Masalah ekonomi keluarga bisa mempengaruhi dalam mempersepsi segala

sesuatu termasuk dalam melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan. 2.3.3. Proses Persepsi dan Sifat Persepsi Alport (dalam Marat, 1991) proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan

Universitas Sumatera Utara

berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada. Walgito (1991) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut: a. Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia. b. Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf sensoris. c. Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik, merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor. d. Tahap ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan perilaku.

2.4

Landasan Teori Stenburg (2008), mengemukakan motivasi sebagai konsep yang

menggambarkan baik kondisi ekstrinsik yang merangsang perilaku tertentu dan respon intrinsik yang menampakkan perilaku manusia. Sementara Gibson et.al (1996), menyatakan bahwa motivasi sebagai suatu dorongan yang timbul pada atau di dalam seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Oleh karena

Universitas Sumatera Utara

itu, motivasi dapat berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan yang berlangsung secara wajar. Teori motivasi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada teori motivasi menurut Djamarah (2002) dimana motivasi terbagi menjadi 2 (dua) jenis

yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Yang termasuk dalam motivasi intrinsik adalah kebutuhan (need), harapan (Expectancy) dan minat. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan keluarga, lingkungan, imbalan. Menurut Leavit (dalam Sobur, 2003) persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas persepsi adalah pandangan atau pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Walgito (1991) yang menyatakan bahwa persepsi itu merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diindranya sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain : fungsional, sikap, pendidikan (pengetahuan) dan ekonomi. Kunjungan Antental Care (ANC) adalah kontak ibu hamil dengan pemberi perawatan/asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan (Henderson, 2006). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Antenatal care untuk mendeteksi dini terjadinya risiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan janin.

Universitas Sumatera Utara

2.5

Kerangka Konsep Berdasarkan hasil studi kepustakaan dan landasan teoritis, dapat digambarkan

kerangka konsep penelitian sebagai berikut : Variabel Independen (Bebas) Motivasi : Intrinsik : - Kebutuhan - Harapan - Minat Ekstrinsik : - Dukungan Suami/Keluarga - Imbalan Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan (ANC) K4 Lengkap/K4 Tidak Lengkap Persepsi : Pengalaman masa lalu Sikap Pengetahuan Penghasilan (UMK) Variabel Dependen (Terikat)

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Universitas Sumatera Utara