Anda di halaman 1dari 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Beton adalah campuran antara agregat halus ( pasir ), agregat kasar, semen dan air. Campuran tersebut dibuat dengan komposisi tertentu untuk menghasilkan beton yang dengan kualitas yang diinginkan. Bahan penyusun beton dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu bahan aktif dan bahan pasif. Yang termasuk dalam bahan aktif adalah semen dan air. Kedua bahan aktif ini berperan sebagai pengikat atau lem dalam beton . Sedangkan yang termasuk bahan pasif adalah agregat yang berperan sebagai pengisi atau pembentuk volume beton. Ada juga bahan tambahan khusus yang biasa digunakan untuk menghasilkan beton dengan mutu kualitas tertentu, biasanya bahan pembantu tersebut digunakan untuk beton mutu tinggi yang membantu meningkatkan kekuatan mutu betonnya dan atau menghemat penggunaan semen agar lebih ekonomis.. Beton mutu tinggi yang dimaksud disini adalah beton yang memiliki kekuatan diatas 40 Mpa. Pemilihan dan komposisi bahan baku dalam pembuatan beton akan mempengaruhi kualitas beton yang dihasilkan untuk itu perlu diadakannya pengujian beberapa komposisi beton untuk menghasilkan mutu beton yang diinginkan. Pemilihan, persiapan ,perencanaan dan pengujian beton perlu dilakukan untuk mendapatkan beton dengan mutu yang diinginkan. Berikut adalah pembahasan tentang bahan susun beton untuk beton mutu tinggi, yaitu beton dengan kekuatan diatas 50 Mpa.

2.1

Semen Semen adalah bahan ikat yang mempersatukan agregat halus

(pasir) dan agregat kasar menjadi satu kesatuan yang padat dan kompak. Selain itu juga semen berfungsi untuk mengisi rongga rongga diantara agregat halus (pasir) dengan agregat kasar. Secara umum ada dua macam semen yaitu semen hidraulis dan semen non hidraulis. Semen hidraulis adalah semen yang akan mengeras bisa beraksi dengan air, tahan terhadap air dan stabil di dalam air setelah mengeras, sedangan semen non hidraulis adalah semen yang dapat mengeras tetapi tidak stabil dalam air. Semen yang biasa digunakan dalam campuran beton adalah semen portlandcement yaitu semen yang termasuk ke dalam kelompok semen hidraulis yang didapat dengan cara menghaluskan klingker yang terdiri atas silikat kalsium yang bersifat hidraulis dan gips sebagai bahan tambahannya. Material material utama semen Portland adalah batu kapur yang mengandung komponen komponen utama CaO (kapur),dan tanah liat yang mengandung komponen komponen SiO2 (silica), Al2O3(alumina), Fe2O3 (oksida besi), MgO (magnesium), SO3 (sulfur), dan Na2O+ K2O (soda/potash) yang tergolong sebagai semen hidraulis. Komposisi dari bahan utama pembuatan semen ada pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Komposisi Bahan Utama Semen Komposisi Kapur ( CaO ) Silika (SiO2) Alumina (Al2O3 ) Besi (Fe2O3 ) Magnesia ( MgO ) Sulfur (SO3) Potash ( Na2O+ K2O ) Sumber : Kardiyono Tjokrodimulyo ( 1996) Semen Portland di Indonesia terbagi menjadi 5 jennis berdasarkan tujuan dari penggunaannya, yaitu : 1. Tipe I yaitu semen Portland untuk tujuan umum. Jenis ini paling banyak diproduksi karena digunakan untuk semua jenis konstruksi. 2. Tipe II yaitu semen Portland modifikasi, memiliki sifat setengah sifat tipe IV dan setengah tipe V 3. Tipe III yaitu semen Portland dengan kekuatan awal tinggi. Kekuatan 28 hari umumnya dapat dicapai dalam 1 minggu. Semen jenis digunakan ketika acuan harus dibongkar secepat mungkin atau ketika struktur harus dapat cepat dipakai 4. Tipe IV yaitu semen Portland dengan panas hidrasi rendah dipakai untuk kondisi dimana kecepatan dan jumlah panas yang timbul harus minimum. Misalnya pada bangunan masif seperti bendungan gravitasi yang besar. Pertumbuhan kekuatannya lebih lambat daripada semen tipe I.
7

Persentase ( % ) 60 65 17 25 38 0,5 6 0,5 4 12 0,5 - 1

5. Tipe V yaitu semen Portland tahan sulfat, dipakai untuk menghadapi aksi sulfat yang ganas. Biasanya dipakai didaerah tanah atau airnya memiliki kandungan sulfat yang tinggi. Tabel.2.2. Jenis jenis semen Portland dan sifatnya. Kadar senyawa ( %) Tipe Sifat C2S C3A C4AF Blaine (m2/kg) 350 350 Kehalusan Kuat satu hari (kg/cm3) 1000 900

Panas hidrasi (J/kg)

semen pemakaian C3S

I II

Umum Modifikasi Kekuatan awal Panas

50 42

24 33

11 5

8 13

330 250

III

60

13

450

2000

500

IV

hidrasi rendah Tahan sulfat

25

50

12

300

450

210

40

40

350

900

250

Sumber : Antoni, Paul nugraha (2007) Semen dan air akan mengalami proses kimia aktif yang dapat mengikat agregat halus dan agregat kasar. Agregat halus dan agregat kasar disini berperan sebagai bahan tambahan atau bahan pengisi saja untuk mencegah perubahan perubahan volume beton setelah pengadukan selesai dan memperbaiki keawetan beton yang dihasilkan. Dalam hal ini semen bisa dikatakan juga sebagai lem pada beton. Berdasarkan peraturan SNI 03-2847-2002 semen yang digunakan dalam campuran beton yaitu :
8

1. Semen Portland (SNI 15-2049-1994 ) 2. Spesifikasi semen blended hidrolis ( ASTM C 595 ) kecuali tipe S dan SA yang tidak diperuntukan sebagai unsur pengikat utama struktur beton 3. Spesifikasi semen hidrolis ekspansif ( ASTM C 845 )

2.2

Agregat halus ( pasir ) Agregat halus ( pasir ) sebagai hasil disintegrasi alami batuan atau pasir

yang dihasilkan oleh industry pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5.0 mm (SNI 03 2847 2002 ). Pasir menurut ukurannya terbagi menjadi pasir lembut ( 0 1 mm ) dan pasir kasar ( 1 mm 5 mm ). Berdasarkan peraturan SNI 03 2847 2002 yang digunakan dan mengacu pada ATSM C33 persyaratan gradasi agregat halus dapat dilihat dari tabel 2.3. sebagai berikut ini : Tabel 2.3. Persyaratan gradasi agregat halus Ukuran saringan (mm) 9,50 4,75 2,36 1,18 0,60 0,30 0,15 Persentase lolos (%) 100 95-100 80- 95 55-85 25-60 10-30 2-10

Sumber : Bahan dan Pratek Beton Murdock & Brook, 1979

Walau bukan sebagai bahan aktif dalam proses menjadi batu atau beton, kualitas dari pasir juga ikut mempengaruhi kualitas beton yang dihasilkan. Pasir biasanya berasal dari dasar sungai sehingga seringkali pasir mengandung kotoran seperti lumpur dan kotoran organis.Kedua kotoran ini bisa

memepengaruhi kualitas beton yang dihasilkan, untuk itu pasir seperti ini harus dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan untuk membuat beton. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pasir sebagai salah satu bahan pembuat beton menurut prof.ir.R.Roosseno yaitu : 1. Ada atau tidaknya campuran dan kotoran dalam pasir 2. Cukup kerasnya bahan pasir 3. Kandungan air dalam pasir 4. Analisis saringan pasir Tidak semua pasir bisa digunakan untuk bahan pembuatan beton, butir butir pasir yang digunakan harus bersifat kekal dan tidak pecah oleh pengaruh cuaca seperti hujan atau panas matahari.

2.3

Agregat kasar Agregat kasar atau biasa disebut kerikil adalah agregat yang berasal dari

disintegrasi alami dari batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industry pemecah batu dan mempunyai ukuran butir 5 mm sampai 40 mm (SNI 03 2847 2002 ). Berdasarkan ASTM C33 gradasi agregat kasar dapat dilihat pada tabel 2.4 sebagai berikut :

10

Tabel 2.4. Persyaratan gradasi agregat kasar Ukuran saringan (mm) 25 19 12,5 9,5 4,75 2,36 Persentase lolos (%) 95-100 25-60 0-10 0-5

Sumber : Bahan dan Pratek Beton Murdock & Brook, 1979

Agregat kasar yang baik untuk digunakan sebagai bahan beton yaitu yang berbentuk bersudut atau sisi sisinya tajam dan tidak bulat pipih. Agregat kasar dalam pembuatan beton termasuk kedalam kategori bahan tidak aktif. Agregat kasar yang digunakan sebagai bahan pembuat beton memiliki kriteria sebagai sebagai berikut : 1. Terdiri dari butir butir keras dan tidak berpori. Dengan adanya pori akan membuat air mudah masuk. Agregat kasar yang mengandung butir butir pipih hanya dapat dipakai jika jumlah butirannya tidak melebihi 20 % berat agregat seluruhnya. Butir butir agregat kasar tersebut harus bersifat kekal yaitu tidak pecah oleh pengaruh cuaca. 2. Tidak mengandung lumpur lebih dari 1 % dan jika lebih maka agregat harus dicuci sebelum digunakan dalam pembuatan beton. 3. Tidak mengandung zat zat yang merusak beton, seperti zat zat yang reaktif dengan alkali. 4. Kekerasan dari butir butir agregat diperiksa dengan bejana penguji dari rudellof, atau dengan mesin penguas Los Angeles dimana tidak boleh kehilangan berat lebih dari 50 %.

11

5. Terdiri dari butir butir yang beraneka ragam besarnya atau bergradasi baik. 6. Besara butiran maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antara bidang bidang samping cetakan, 1/3 tebal pelat, atau dari jarak bersih minimum antar tulangan yang ada.

2.4

Air Salah satu bahan utama dalam pembuatan beton adalah air. Air

diperlukan untuk proses kimia pembuatan menjadi beton yang bereaksi saat bertemu dengan semen. Tidak semua air dapat digunakan dalam pembuatan beton, mutu dan sifat air akan ikut berpengaruh terhadap kualitas beton yang dihasilkan. Maka dari itu air tidak boleh mengandung kotoran, kotoran yang dimaksud bisa berupa lempung, kotoran organis, garam dan asam. Berdasarkan peraturan SNI 03 2847 2002 syarat air yang digunakan dalam pembuatan beton, yaitu : 1. Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan bahan yang merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau bahan bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan. 2. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang didalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan. 3. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali ketentuan berikut terpenuhi : 3.1 Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang digunakan air dari sumber yang sama.

12

3.2 Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan air yang tidak dapt diminum harus mempunyai kekuatan sekurang kurangnya sama dengan 90 % dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum.

Perbandngan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa, terkecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai dengan Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis ( Mneggunakan specimen kuus dengan ukuran sisi 50 mm ) ( ASTM C 109 ).

2.5

Bahan tambah ( zat aditif ) Bahan tambahan pembantu peningkatan kualitas beton dapat berupa

bahan kimia pembantu dan bahan mineral pembantu. Menurut ASTM bahan kimia pembantu adalah material disamping agregat dan semen hidraulis yang ditambahkan ke dalam adukan beton sebelum atau selama proses pengecoran. Sedangkan menurut kelompok Eropa CEN, berdasarkan ISO dan Federasi Asosiasi Admixture Beton Eropa, material yang ditambahkan selama proses pencampuran beton dalam kuantitas tidak lebih dari 5 % dari berat semen dari beton untuk mengubah sifat campuran dan atau keadaan keras. Dalam pembahasan ini bahan kimia pembantu yang dibahas adalah gula yang berperan sebagai retarder. Retarder adalah bahan kimia pembantu untuk memperlambat waktu pengikat sehingga campuran akan tetap mudah dikerjakan untuk waktu yang lebih lama. Dalam pencampuran beton bahan kimia pembantu retarder ( gula ) memiliki beberapa kegunaan dalam kualitas beton yaitu : 1. Mengurangi kecepatan evolusi panas ( untuk pengecoran yang luas dalam cuaca panas )
13

2. Menghindari sambungan dingin yaitu penyambungan yang terjadi pada pengecoran beton massif dimana pengecoran lapisan demi lapisan memakan waktu yang cukup lama atau pengecoran terganggu 3. Menjaga workabilitas beton pada pembuatan beton jadi ( ready mix ) 4. Berguna pada saat penuangan yang sulit dan tidak umum, seperti pengecoran pier dan pondasi besar. Selain memiliki keunggulan, retarder juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain : 1. Mengakibatkan pendarahan ( bleeding ) 2. Memperbesar susut plastis 3. Memiliki tendensi pengurangan kekuatan pada umur dini ( 1 sampai 3 hari ) Selain bahan kimia pembantu yang dapat membantu peningkatan kualitas beton, juga digunakan bahan mineral pembantu yang mengandung komponen aktif yang bersifat pozzolanik ( material pozzolan ), yaitu komponen yang dapat bereaksi dengan kapur bebas ( kalsium hidroksida ) yang dilepaskan semen saat proses hidrasi dan membentuk senyawa yang bersifat mengikat pada temperature normal dengan adanya air. Perbedaan reaksi hidrasi dan reaksi pozzolaniak yaitu : yang

Semen Portland

14

Material Pozzolan

Reaksi pozzolanik berlangsung secara lambat dari pada reaksi hidrasi pada semen Portland sehingga lebih berpengaruh pada kekuatan akhir dari beton.Karena panas hidrasi yang dihasilkan dari reaksi ini jauh lebih kecil dari reaksi hidrasi semen Portland sehingga efektif untuk pengecoran pada cuaca panas atau beton massif.Penambahan material pozzolan ini juga berpengaruh terhadap kelecakan beton. Dengan bertambahnya partikel halus ini

memungkinkan terjadi bleeding pada beton segar akan berkurang karena kelebihan air akan terserap oleh partikel partikel halus. Kebutuhan air pada beton dapat meningkat untuk kelecakan yang sama karena ukuran partikel material pozzolan yang halus. Material pozzolan dapat berupa material yang sudah terjadi secara alami ataupun yang didapat dari hasil sisa industri.Karena umumnya harganya yang lebih murah dari semen maka biasanya bahan pozzolan ini digunakan sebagai bahan pengganti semen. Penggunaan material pozzolan ini perlu diperhatikan komposisi pemakaiannya dengan komposisi semen yang digunakan dalam

pencampuran beton. Pemakaian bahan pozzolan membutuhkan bahan kimia pembantu ( superplasticizer ) dalam pemakaiannya agar didapat kelecakan yang baik.Berikut adalah tabel material pozzolan pada umumnya.

15

Tabel.2.2. Material pozzolan pada umumnya. Kategori Material umum Abu vulkanis murni Komponen aktif Aluminosilicate glass

Abu vulkanis terkena cuaca ( tuff, trass dll ) Batu apung (pumice ) Material alami Fosil kerang ( diatomaceus earth ) Opaline chert dan shales ( Batu sedimen ) Fly ash tipe F

Aluminosilicate glass Zeolite

Aluminosilicate glass Amorphous hydrated silica

Hydated silica gel

Aluminosilicate glass

Fly ash tipe C Material sisa industri Slilika fume

Calcium aluminosilicate glass

Amorphous silica

Rice husk ash Calcined clay Sumber : Antoni, Paul nugraha (2007)

Amorphous silica

Amorphous alumino silicate (metakaolin)

16

Salah satu bahan material pozzolan yang sering digunakan untuk meningkatkan mutu beton untuk mencapai beton mutu tinggi yaitu silica fume. Silika fume adalah produk samping dari proses fusi ( smelting ) dalam produksi silicon metal dan amalgam ferrosilicon ( pada pabrik pembuat microchip computer ). Silika fume yang sering dipakai untuk campuran beton adalah yang mengandung lebih dari 75 % silicon. Ukuran silica fume umumnya sekitar 0,1 0,2 micrometer. SIlika fume dapat berupa bubuk, dipadatkan atau cairan yang dicampur dengan air 50 %. Silika fume yang digunakan sebagai bahan tambahan harus sesusai dengan spesifikasi untuk silica fume untuk digunakan pada beton dan mortar hidrolis ( ASTM C 1240 ). Silika fume bisa digunakan sebagai pengganti semen, yaitu untuk mengurangi kadar penggunaan semen, selain itu silica fume juga sebagai bahan tambahan untuk memperbaiki sifat beton, baik beton segar maupun keras. Untuk beton normal dengan kadar semen di atas 250 kg/m3, kebutuhan air bertambah dengan ditambahkanya silica fume. Potensi kekuatan beton dengan campuran silica fume yaitu 3 sampai 5 kali lebih tinggi dari semen Portland per unit massa sehingga untuk kekuatan yang sama, umur 28 hari memberikan faktor air semen yang lebih besar. Panas hidrasi yang dihasilkan juga menjadi 2 kali lebih besar, tetapi karena potensi kekuatan tinggi, evolusi panas total bisa lebih rendah jika kadar total semen dikurangi.

2.6

Uji kuat lentur beton

Kuat lentur adalah kemampuan suatu balok atau pelat benda uji untuk melawan kegagalan patah ( bending ), yang secara spesifik diuji dengan pembebanan terhadap suatu benda uji ( berbentuk balok ) dengan perletakan beban menggunakan jarak sepertiga dari panjang benda uji. Unsur beton yang terkandung didalamnya ikut berpengaruh dalam menghasilkan kuat lentur yang diinginkan. Pengujian kuat lentur secara normal digunakan untuk menentukan

17

karakteristik perkerasan beton dan hasilnya dinyatakan dalam modulus of rupture. Perhitungan pengujian kuat lentur balok beton yaitu : 1. Bila titik belah terletak pada jarak diantara sepertiga bentang yang ditengah, maka modulus rupture nya yang terjadi adalah :

Keterangan : R = Kuat lentur (kg/cm2) P = Beban yang menyebabkan terbelahnya balok (kg) L = Jarak diantara 2 titik tumpuan, (cm) b = Lebar balok ( cm) d = Tinggi balok (cm) 2. Bila keruntuhan terjadi diluar sepeertiga bentang yang ditengah, tetapi jarak sisanya tidak lebih dari 5 % dari jarak dua tumpuan, maka tegangan lenturnya yaitu :

Keterangan : a = Jarak rata rata antara titik terbelahnya balok ke titik tumpuan terdekat.

18