Anda di halaman 1dari 28

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

BAB II KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Marasmus adalah suatu bentuk malgizi protein energi karena kelaparan, semua unsur diet kurang. Marasmus terjadi karena masukan kalori yang tidak adekuat, panyakit usus menahun, kelainan metabolik atau infeksi menahun seperti tuberkolosis (Arisman, 2004). Marasmus adalah kekurangan kalori dalam diit yang berlangsung lama yang akan menimbulkan undernutrition yaitu pertumbuhan kurang gejala atau terhenti, anak masih menangis walaupun telah mendapat minum / susu, sering bangun waktu malam, konstitipasi / diare, jaringan bawah kulit menghilang, kulit keriput, lemak pipi menghilang sehngga seperti wajah orang tua. (Mansjoer, 2000) Marasmus adalah malnutrisi energi protein berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumber energi (kalori) dapat terjadi bersama / tanpa di sertai defisiensi protein. (Betz, 2002) Marasmus adalah suatu kekurangan kalori protein (Suriyadi, 2001) pernyakit yang disebabkan oleh

Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa marasmus adalah suatu penyakit malnutrisi energi protein berat akibat dari

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

kurang mendapat masukan makanan dalam waktu lama yang ditandai dengan penurunan berat badan dan atropi jaringan tubuh secara bertahap terutama subkutan sehingga anak tampak lebih tua dengan kulit keriput dan turgor kulit menurun.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI


1. Anatomi

Gambar Manusia

1.

Sistem

Pencernaan

Tubuh

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

(Sumber: Pearch, 2006) a.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Usus Halus Usus halus adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum panjangnya 6 m, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan. Usus halus besar dibagi dalam beberapa bagian, yaitu : 1) Duodenum Disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang membukit disebut papila vateri yang didalamnya bermuara saluran empedu. Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjarkelenjar brunner, berfungsi untuk memproduksi getah intestinum. 2) Yeyenum dan Ileum Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 m. Dua per lima bagian atas adalah yeyenum yang panjangnya 2-3 meter. Sedangkan ileum panjangnya 4-5 m. Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan parantaraan lubang yang bernama orifisium ileosekalis. Orifisium ini diperkuat oleh spinter ileosekalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula selkalis /

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

valvula baukini yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam kolon asendens tidak masuk kembali kedalam ileum. b. Usus Besar Panjangnya 1 m, lebarnya 5-6 cm. Bagian-bagian usus besar adalah: 1) Seikum Di bawah seikum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga umbal cacing panjangnya 6 cm. Seluruhnya ditutupi peritonium mudah bergerak walaupun tidak mempunyai mesentrium dan dapat diraba melalui dinding abdomen pada orang yang masih hidup. 2) Kolon Asendens Panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Di bawah hati membengkok ke kiri. Lengkungan ini disebut fleksura hepatika, dilanjut sebagai kolon transversum 3) Kolon transversum Panjangnya 38 cm dari kolon asenden sampai ke kolon desenden berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat flektura hepatika dan sebelah kiri terdapat flektura lienalis. 4) Apendiks

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari akhir seikum mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan dilewati oleh beberapa isi usus. 5)

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Kolon desendens Panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dari flektura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid. 6) Kolon sigmoid Merupakan lanjutan dari kolon disendens terletak miring dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S. Ujung bawahnya berhubungan dengan rektum. c. Rektum dan Anus Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigis. Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar (udara luar) terletak di dasar pelvis dindingnya diperkuat oleh 3 spinter yaitu Spinter Ani Interus bekerja tidak menurut kehendak, Spinter Levatop Ani bekerja tidak menurut kehendak, Spinter Ani Eksternal bekerja menurut kehendak d. Sirkulasi Pasokan darah kolon berasal dari arteri mesenterika superior dan lnferior.Pola pasokan darah sangat penting dalam menentukan daerah yang memungkinkan terkena iskemia dan sangat bermanfaat meramalkan distribusi metastasis kelenjar limfe dari lokasi tumor.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

e.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Persyarafa n Usus mempunyai jaringan syaraf yang kompleks terdiri atas neuron otonom motorik dan sensorik serta sistem saraf enterik yang terpisah. Pleksus saraf menciptakan dan mengkonduksi irama elektrik dasar pada usus. Rangsangan saraf parasimpatis meningkatkan kontraksi muskular (terutama pada lapisan sirkulasi bagian bawah dalam). Pasokan darah dan aktivitas sekresi, merangsang pasokan sistem yang mempunyai efek berlawanan. Sistem saraf enterik mempunyai reseptor sensor pada mukosa dan dinding usus besar, yang akan merespon volume dan komposisi usus, dan melalui hubungan dengan neuron yang menimbulkan respon yang cepat pada sistem reseptor.

2. Fisiologi a. Usus Halus Fungsi usus halus antara lain menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapilet-kapiler darah dan saluransaluran limfe. Menyerap protein dalam bentuk asam amino dan karbohidrat diserap dalam bentuk emulsi lemak Di dalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan yaitu enterokinase yang mengaktifkan enzim proteolitik dan eripsin yang menyempurnakan

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

penceranaan protein menjadi asam amino. Laktose mengubah latase menjadi monosokarida, maltosa mengubah maltosa menjadi monosakarida, sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosakarida. Usus halus mempunyai epitel khusus yang mempunyai daerah permukaan yang luas, strukturnya seperti vi dan pada mukosa dapat mengoptimalkan absorbsi baik di bawah kendali aktif maupun pasif. 1) Sel endokren Sel endokrin ditemukan diantara sel-sel proliferasi (enteroblas) dari kripta intestinum. Di sini banyak ditemukan sel endokrin berupa enterokromafin dan memproduksi serotonin yang mempunyai peranan penting dalam pengendalian usus dan pasokan darah. 2) Sel paneth Keberadaannya pada epitel metaplastik memberi petunjuk kemungkinan memproduksi faktor lokal yang meregulasi sel proliferasi dan berdiferensiasi. 3) Kelenjar brunner Berupa kumpulan asinus yang mensekresi banyak mukus yang berfungsi untuk melindungi mukosa terhadap serangan asam pada duodenum proksimal. 4) Jaringan Limfoid Jaringan ikat mukosa yang mengandung banyak limfatik (laktasol), kapiler darah, sel limfosit yang infiltratif, sel plasma, eosinofil dan

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

sel mast. Sel limfoid membentuk lengan imunitas mukosa yang penting, dikenal mukosa assoceiated lymphoid tissue sebagai (MALT) . b. Usus Besar Menurut Pearch 2006, usus besar mempunyai beberapa fungsi yaitu menyerap air dan makanan, tempat tinggal coliserta bakteri tempat feces Banyak bakteri yang terdapat dalam usus besar berfungsi mencerna bahan makanan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan bakteri di dalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air dan terjadilah diare. Jenis pergerakan pada saluran pencernaan, gerakan mencampur yang membuat isi usus terus menerus tercampur setiap saat dan gerakan mendorong yang menyebabkan makanan bergerak ke depan sepanjang saluran pencernaan dengan kecepatan sesuai untuk pencernaan dan obsorbsi. c. Rektum dan Anus Merupakan bagian yang berawal dari ujung usus besar dan berakhir dianus. Biasanya rektum ini kosong karena disimpan di

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk BAB. Anus merupakan lubang diujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh / kulit dan sebagian lainnya dari usus. Spinter ani adalah suatu cincin berotot yang menjaga anus tetap tertutup.

C. ETIOLOGI
Etiologi dari penyakit marasmus antara lain masukkan zat gizi yang tidak adekuat, kebiasaan makan yang tidak tepat, kelainan metabolik dan malabsorbsi, malformasi kongenital pada saluran pencernan, penyakit ginjal menahun, keadaan ekonomi keluarga (Arisman, 2004)

D. PATOFISIOLOGI
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet (Arisman, 2004). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan. Karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan bodies. Otot keton dapat mempergunakan asam lemak dan bodies sebagai sumber keton energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kirakira kehilangan separuh dari tubuh (Muchsan Lubis, 2002)

E. MANIFESTASI KLINIS
Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberapa waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewel, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit (Nelson, 2000).

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Selain itu, manifestasi dari penyakit marasmus antara lain badan kurus kering tampak seperti lethargi, irritable , kulit keriput (turgor kulit orangtua, jelek), ubun-ubun cekung pada bayi, jaingan subkutan malaise , hilang, kelaparan dan apatis

F. PENATALAKASANAAN
Penatalaksanaan pada anak dengan marasmus yaitu perlu dilakukan pengkajian tentang riwayat status sosial ekonomi, riwayat pola makan, antropometeri, maniprestasi klines, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan dan, kaji tanda-tanda vital. Pada anak dengan maramus memerlukan diit yang berisi cukup protein yang kualitas biologiknya baik, tinggi kalori, mineral dan vitamin. Selain perbaikan gizi juga perlu pemberian terapi cairan dan eletrolit. Terapi ini diberikan karena pada umumnya penderita maramus juga mengalami diare sehingga perlu adanya cairan pengganti.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi dari penyakit marasmus antara lain hipoglikemi, hipotermi (suhu aksiler kurang dari 35 ), infeksi / sepsis, diare dan dehidrasi serta anemia berat.

H. PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian fokus pada penderita marasmus antara lain :

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

a. Riwayat kesehatan. Biasanya pada penderita marasmus sering dibarengi dengan diare, peningkatan suhu tubuh, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan dan perubahan aktifitas b.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Riwayat penyakit dahulu. Biasanya pada penderita marasmus memiliki riwayat prematur, diit yang tidak baik dan sering sakit-sakitan karena terjadi penurunan ketahanan tubuh. c. Riwayat keluarga. Ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan pasien, atau menderita penyakit seperti asma, TBC, jantung, DM. d. Pola-pola fungsi kesehatan meliputi; Pola nutrisi : Pada penderita marasmus biasanya mengalami penurunan nafsu makan dan mual muntah. Pola Eliminasi : Penderita marasmus biasanya sering disertai dengan diare. Pola aktivitas : Penderita marasmus biasanya mengalami gangguan dengan aktifitasnya karena mengalami kelemahan tubuh yang disebabkan adanya gangguan metabolisme. Pola istirahat dan tidur : Anak dengan marasmus biasanya sering rewel karena selalu merasa lapar meskipun sudah diberi susu sehingga sering terbangun di malam hari. 1. Pengkajian fisik a. Keadaan umum yang meliputi: kesadaran Composmentis, lemah, rewel, kebersihan kurang, berat badan, tinggi badan, nadi, suhu, dan

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

pernapasan . b. Kepala : Lingkar kepala biasanya lebih kecil dari ukuran normal, warna rambut kusam. c. Muka : Tampak seperti wajah orang tua Mata : Pada penderita marasmus biasanya konjungtifa anemis Hidung : Pada penderita marasmus biasanya terpasang sonde untuk memenuhi intake nutrisi, terdapat sekret Mulut : Biasanya terdapat lesi dan mukosa bibir kering. d. Leher : Biasanya leher mengalami kaku kuduk. e. Torax wheezing, : Ada tarikan dinding dada, ronchi. f. Abdomen meningkat, : Ada acites, bising usus

g. Atas

suara hipertympani. Extremitas : : Lingkar lengan atas standar normal, akral hanga t

Bawah tungkai h. Kulit menurun,

: :

Edema Keadaan turgor kulit

kapilary refill lebih dari 3 detik, kulit keriput. 2. Pemeriksaan Penunjang

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karena adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun. Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru.

I.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

PATHWAYS KEPERAWATAN
Etiologi Diit yang tidak sehat Kebiasaan makan yang tidak tepat Kelainan metabolik, malabsorbsi Malformasi kongenital

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Defisiensi asam

Defisiensi protein Katabolisme lemak

kalori protein

dan dan

MARASMU S Lemak bawah Ganggua n Malabsorbsi Invasi bakteri Kulit keriput Mudah iritasi / Defisiensi energi Gangguan aktivitas Kecemasan orang Kurang informasi terhadap kondisi, prognosis dan Akumulasi Anoreksia Bersihan jalan nafas tidak Perubahan kurang dari kebutuhan Kurang pada

Penurunan mekanisme Inflamas i Peningkatan suhu Hipersekresi mukus

Tekanan Resti inveksi Osmotik Resti inveksi Pergeseran cairan Penurunan isi usus Diare Output berlebih

Kerusakan integritas kulit

Kekurangan volumecairan Keadaan ekonomi

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Carpenito, 2000

J.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL


N o Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Tujuan : setelah a. Lakukan dilakukan fisioterapi dada tindaka n keperawata n selama 3x24 jam diharapkan jalan nafas menjadi efektif. Kriteria Hasil : sekret hilang tidak sesak bunyi nafas bersih sebelum melakuka n suction.

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubunga n denga n akumulasi sputum.

a. Menilai tingkat ketidakefektifa n pernafasan dan menentuka n intevensi selanjutnya .

b. Lakukan nebulizer sesuai advis dokter c. Berikan obat mukolitik . eksperimen sesuai terapi. d. Kaji status pernafasa n (frekuensi, irama, kedalaman,da n bunyi nafas)

b. dan

Mengencerkan mengeluarka n dahak .

c. Mengencerkan dahak .

d. Mengencerken dahak .

2. Kekurangan volume cairan berhubunga n dengan output berlebih .

Tujuan : setelah dilakukan tindaka n keperawata n selama 3x24 jam

a. Observasi pemberia n cairan perinfus / sonde /oral sesuai program.

a. Upaya hidrasi perlu dilakukan untuk mengatasi masalah defisit volume cairan.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

diharapkan anak menunjukka n keadaan hidrasi yang adekuat. Kriteria Hasil : asupan cairan adekuat mukosa bibir lembab turgor kulit baik suhu tubuh normal frekuensi defekasi x / 24 jam denga n konsistensi lembek . Tujuan : setelah dilakukan tindaka n keperawata n selama 3x24 jam diharapka n kebutuhan nutrisi menjadi adekuat. Kriteria Hasil : Peningkata n BB 1

b. Monitor TTV dan tandatanda dehidrasi c. Hitung balance cairan d. Anjurkan kepad a keluarga untuk memberikan / memasukka n diit bubur tempe sesuai program. e. Berikan obat untuk menggant i cairan tubuh a. Dapatkan riwayat diit anak . b. Berikan diit sesuai program c. Timbang berat badan setiap hari

b. Mengetahui tingkat defisit cairan dalam tubuh. c. Mengetahui keseimbanga n cairan tubuh. d. Bubur tempe dapat menghentikan diare sehingga mengatasi defisit volume cairan.

e. Mencukupi kebutuhan cairan tubuh yang telah hilang. a. Mengetahui pola makan anak sebelum sakit. b. Meningkatkan masukan nutrisi c. Mengetahui status nutrisi / tingkat keberhasila n perbaikan nutrisi anak .

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh badan anoreksia.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

Nafsu makan meningka t

d. Berikan penamba h nafsu makan sesuai advis dokter.

d. Meningkatkan nafsu makan .

4. Kerusakan integritas kulit badan gangguan nutrisi/status metabolik.

Tujuan : Setelah dilakukan tindaka n keperawata n selama 3x24 jam, diharapka n kerusaka n integritas kulit tidak terjadi. Kriteria Hasil : Tidak ada kemerahan . Tidak ada luka pada kulit.

a. Observasi kemerahan , pucat dan lesi pada kulit.

a. Area ini meningkat resikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan lebih intensif.

b. Gunakan krim kulit 2 x sehari dan setelah mandi. c. Pijat kulit khususny a diatas penonjolan tulang. d. Diskusikan pentingny a perubaha n posisi sesering mungkin. e. Tekankan pentingny a masukan nutrisi dan cairan

b. Melicinkan kulit dan menurunkan gatal.

c. Memperbaiki sirkulasi pada kulit dan meningkatkan tonus kulit. d. Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah tekanan lama pada jaringan. e. Perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaik i kondisi kulit.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

adekuat.

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

5. Resti infeksi berhubunga n dengan invasi bakteri.

Tujuan : setelah dilakukan tindaka n keperawata n selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi. Kriteria hasil : Tidak ada tandatanda infeksi Suhu tubuh dalam batas normal (36-37oC)

a. Observasi tandatanda vital dan peningkata n suhu tubuh. b. Melakukan pencucia n tangan yang baik sebelum dan sesudah tindakan . c. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien dalam keadaan bersih / steril. d. Ajurkan kepada keluarga untuk selalu menjaga kebersiha n anak dan lingkunga n sekitar.

a. Peningkatan suhu tubuh merupakan salah satu tanda terjadinya infeksi. b. Menurunkan resiko penyebaran bakteri.

c. Mengurangi kontaminasi bakteri.

d. Lingkungan yang bersih memberikan rasa nyaman dan mengurang i perkembang biakan bakteri. a. Mengetahui tingkat pengetahuan anak. b. Meningkatkan pengetahuan anak

6. Kurang pengetahua n berhubunga n denga n kurangny a

Tujuan Setelah dilakukan

tindaka n keperawata n selama 3x24 jam

a. Kaji tingkat pengetahua n anak b. Berikan pengetahua n

This document was created by Unregistered Version of Word to PDF Converter

informasi tentang kondisi, prognosis dan tindakan .

diharapka n pengetahua n pasien dan keluarga juga bertamba h Kriteria Hasil : Keluarga mampu menjelaska n kembali tentang marasmus. Mampu mendemons-t rasikan cara pemberia n makana n personde.

kesehata n tentang marasmus c. Ajarkan cara memberika n makanan per sonde. d. Ajarkan cara membuat bubur tempe. c. Keluarga mampu merawat dan membiarkan diit secara tepat. d. Keluarga mampu memberikan diit yang tepat saat anaknya diare.

Sumber Doengoes, 1999