Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

AIDS (Acquired lmmunodeficiency Sydrome) merupakan masalah kesehatan dunia pada saat ini maupun masa yang akan datang karena penyakit ini adalah menyebar hampir diseluruh negara. Penyakit ini berkembang secara pandemi, menyerang baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang .Hal ini merupakan tantangan terhadap pelayanan kesehatan masyarakat dunia dan memerlukan tindakan segera. Acquired lmmunodeficiency Sydrome adalah sindrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan/pertahanan tubuh. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1981. di Amerika Serikat dan sampai saat ini telah menyerang sebagian besar negara didunia. Penyakit ini telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu relatif singkat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara. Disamping itu belum ditemukannya obat/vaksin yang efektif terhadap AIDS telah menyebabkan timbulnya keresahan dan keprihatinan di seluruh dunia. Masalah yang demikian besar dan menyeluruh serta merugikan tidak saja pada bidang kesehatan, tetapi juga di bidang lain misalnya bidang sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan demografi .Dikatakan pula bahwa epidemi yang terjadi tidak saja mengenai penyakitnya (AIDS) tetapi juga epidemi virus (HIV) dan epidemi reaksi/dampak negatif di berbagai bidang seperti tersebut diatas .Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi baik oleh negara maju maupun negara berkembang. Penelitian mengenai AIDS telah dilaksanakan dengan sangat intensif dan informasi mengenai penyakit ini bertambah dengan cepat. Informasi yang semakin banyak, masalah yang semakin kompleks dan masih barunya penyakit. AIDS ini sering menimbulkan kesalahpahaman dan ketakutan yang berlebihan mengenai penyakiti ini. Di Indonesia masalah AIDS cukup mendapat perhatian mengingat Indonesia adalah negara terbuka, sehingga kemungkinan masuknya AIDS adalah cukup besar dan sulit dihindari . Sampai Mei 1997 ditemukan 1.32 penderita AIDS dimana 75 orang diantaranva telah meninggal dan yang seropositif terhadap HIV sebanyak 413 orang. Oleh karenanya kita harus waspada dan siap untuk menghadapi penyakit ini. 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.AIDS

2.1 Pengertian AIDS.

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah Syndrome akibat definisi imunitas seluler tanpa penyebab lain yang diketahui ditandai dengan infeksi oportunistik keganasan berakibat fatal. Munculnya sindrome ini erat hubungannya dengan

berbekurangnya zat kekebalan tubuh yang prosesnya tidaklah terjadi seketika melainkan sekitar 5-10 tahun setelah seseorang terinfeksi oleh HIV. Berdasarkan hal tersebut maka penderita AIDS dimasyarakat digolongkan kedalam 2 kategori yaitu :

Penderita yang mengidap HIV dan telah menunjukkan gejala klinis (penderita AIDS). Penderita yang mengidap HIV tetapi belum menunjukkan gejala klinis (penderita HIV).

Menurut Suesen (1989) terdapat 5 -10 ,juta HIV positif yang dalam waktu 5-7 tahun mendatang diperkirakan 10-30% diantaranya akan menjadi penderita AIDS. Masa inkubasi penyakit ini yaitu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala penyakit sangat lama (sampai 5 tahun atau lebih) dan karena infeksi HIV dianggap seumur hidup maka resiko terjadinya penyakit akan berlanjut selama hidup pengidap virus HIV. Seseorang yang terserang virus AIDS menjadi membawa virus tersebut selama hidupnya. Orang tersebut bisa saja tidak demikian gejala sama sekali, namun tetap sebagai sumber penularan kepada orang lain.

Pada tingkat sekarang pandemi HIV infeksi HIV tanpa gejala jauh lebih banyak daripada penderita AIDS itu sendiri .Tetapi infeksi HIV itu dapat berkembang lebih lanjut dan menyebabkan kelainan imonologis yang luas dan gejala klinik yang bervariasi. Menurut Wibisono (1989) diperkirakan 5 -10 juta pengidap HIV yang belum menunjukkan gejala apapun tetapi potensial sebagai sumber penularan. 2

AIDS adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya karena mempunyai case fatality rate 100% dalam 5 tahun, artinya dalam waktu 5 tahun setelah diagnosa AIDS di tegakkan maka semua penderita akan meninggal.

2.2 Etiologi AIDS.

Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human lmmunodeficiency Virus (HIV) .Virus ini pertama kali diisolasi oleh Hontagnier dan kawankawan di Francis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi virus yang sama dengan nama Human T. Lymphotropic Virus I (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasioanl pada tahun 1986 nama virus dirubah menjadi HIV.

Human lmmulodeficiency virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikal yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit karenanya mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel lymfosit virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap , infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat di tularkan selama hidup penderita tersebut.

Secara mortologis HIV tediri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelope). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic acid). enzim reverse transcriptase dan beberapa jenis protein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus yang sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidihkan sinar matahari dan sudah dimatikan dengan berbagai desinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan sebagainya, tetapi relatif resisten terhadap radiasi dan sinar ultraviolet. Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosjt, makrofag, dan sel gelia jaringan otak. Retrovirus lain yang juga menyebabkan sindrome menurunnya sistem kekebalan tubuh seperti yang disebabkan oleh HIV (HIV-I) telah diisolasi dari penderita dengan gejala seperti 3

AIDS di Afrika barat oleh Montagnier dan kawan-kawan yang kemudian dinamakan HIV-2 virus HIV-2 mempunyai perbedaan dengan HIV-I, baik genetik maupun antigenetik.

2.3 Patofisiologi AIDS. Dasar utama patogenesis HIV adalah kurangnya jenis Lymfosit T helper/inducer yang mengandung marker CD4 (sel T4) . Lymfosit merupakan pusat dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi - fungsi imunologik. Kelainan selektif pada satu ,jenis sel menyebabkan kelainan selektif pada satu jenis sel. Human Immunodeficiency Virus mempunyai tropisme selektif terhadap sel T4, karena molekul CD4 yang terdapat pada dindingnya adalah reseptor dengan affinitas yang tinggi untuk virus ini. Setelah HIV mengikat diri pada molekul CD4, virus masuk kedalam target dan ia melepas bungkusnya kemudian dengan enzym reverse transcryptase ia merubah bentuk RNAnya menjadi DNA agar dapat bergabung menyatakan diri dengan DNA sel target. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengundang bahan genetik virus. Infeksi oleh HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan berlangsung seumur hidup.

Berbeda dengan virus lain, virus HIV menyerang sel target dalam jangka lama. Jarak dari masuknya virus ketubuh sampai terjadinya AIDS sangat lama yakni 5 tahun atau lebih. Infeksi oleh vius HIV menyebabkan fungsi sistem kekebalan tubuh rusak yang mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang atau hilang, akibatnya mudah terkena penyakitpenyakit lain seperti penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri protozoa dan jamur dan juga mudah terkena penyakit kanker seperti sarkoma kaposi. HIV mungkin juga secara lansung menginfeksi sel-sel syaraf menyebabkan kerusakan neurologis.

2.4 Epidimiologi AIDS.

Sindroma AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottlieb dari Amerika Serikat pada tahun 1981. Sejak saat itu jumlah negara yang melaporkan kasus-kasus AIDS meningkat secara drastis yaitu 8 negara dalam tahun 1981, 153 negara pada tahun 1990, dan 210 negara pada bulan November 1996 .Demikian ,juga halnya jumlah kasus meningkat dengan cepat

yaitu 185 kasus pada tahun 1981 menjadi 237.100 kasus pada tahun 1990 dan 1.544.067 kasus pada november 1996 . WHO memperkirakan antara 5 -10 juta orang telah terinfeksi HIV dan 10-30% diantaranya akan menjadi penderita AIDS. Hingga 1996 diperkirakan telah terdapat 8.400.000 kasus AIDS didunia yang terdiri dari 6,7 juta orang dewasa dan 1,7 Juta anak anak. Saat ini kasus AIDS yang terbesar didunia terdapat negara Amerika Serikat yaitu sebanyak 565.097 kasus. Dibenua Afrika jumlah telah terbanvak di Tanzania yaitu 82.174 kasus. Sedangkan di Eropah terbanyak di Prancis yaitu 43.451 kasus. Sementara di Asia kasus HIV/AIDS terbanyak terdapat di Thailand sebanyak 44.471 kasus.

2.5 Cara Penularan AIDS.

Gambaran epidemiolngi dari infeksi HIV dan AIDS tidak sama di seluruh dunia. HaL ini sangat bergantung kepada cara penularan dari waktu pada mana infeksi terjadi . Cara penularan HIV sampai saat ini diketahui adalah melalui hubungan seksual (Homoseksual maupun Heteroseksual) dan secara non seksual (darah/produkdarah, parinatal dan transplasental/perinatal) .Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu penyakit yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang rentan, tempat keluar kuman dan tempat masuk kuman (portd entree). Secara epidemiologik yang penting sebagai media perantara adalah semen, darah dan cairan vagina atau serviks.

2.5.1. Transmisi Seksual.

Penularan melalui hubungan Seksual baik homoseksual maupun heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling serius terjadi. Penularan cara ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serviks. lnfeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya. Resiko penularan HIV tergantung pada pemilihan pasangan seks. jumlah pasangan seks, dari jenis hubungan seks. Pada penelitian Darrow (1985) ditemukan resiko seropositivitas untuk zat anti terhadap HIV cendrung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada pasangan tidak tetap orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan merupakan ke lompok manusia yang beresiko tinggi terinfeksi virus HIV.

2.5.2. Homoseksual

Cara hubungan seksual anogenital merupakan perilaku seksual dengan resiko tinggi bagi penularan HIV khususnya bagi mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari seorang pengidap HIV. Hal ini sehubungan dengan mukosa rektum yang sangat tipis dan mudah sekali mengalami perlukaan pada saat berhubungan seksual. secara anogenital . Cara ini biasanya dilakukan oleh pria homoseks. Di Amerika Serikat lebih 50% pria homoseks didaerah urban tertular HIV melalui hubungan seks anogenital.

2.5.3. Heteroseksual .

Penularan heteroseksual dapat terjadi dari laki- laki ke perempuan atau sebaliknya. Di negara-negara Afrika kebanyakan penderita HIV/AIDS mendapat infeksi melalui hubungan heteroseksual. Data yang ada menunjukkan bahwa transmisi dari laki-laki pengjdap HIV/AIDS ke perempuan pasangannya lebih sering terjadi dibandingkan dangan perempuan pengidap HIV ke pria pasangannya.

2.5.4 Transmisi Non Seksual.

Transmisi Parenteral Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang telah terkontaminasi misalnva pada penyalahgunaan narkotika suntik yang menggunakan jarum suntik yang tercemar secara bersama-sama. Disamping dapat juga terjadi melalui jarum suntik yang dipakai oleh petugas kesehatan tanpa disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi parenteral ini kurang dari 1%.

Darah/Produk Darah. Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negaranegara Barat sebelum tahun 1985. Sesudah tahun 1985 transmisi melalui jalur ini di negara Barat sangat jarang, karena darah donor telah diperiksa sebelum ditransmisikan.Resiko tertular infeksi/HIV lewat tranfusi darah adalah lebih dari 90%.

Transmisi Transplasental. Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif keanak mempunyai resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan 6

sewaktu menyusui. Penularan air susu ibu termasuk penularan dengan resiko rendah. Atas dasar penularan tersebut diatas, maka penyebaran penyakit AIDS dibagi menjadi 3 pola yaitu :

1. Pola I terdapat di Amerika Utara, Eropah Barat,Australia, New Zeland dan beberapa negara Amerika Latin. Penyebaran terutama melalui hubungan homoseksual atau biseksual dan pemakai obat bius secara intravena. Transmisi perinatal jarang terjadi karena masih relatif sedikit pengidap HIV. Perbandingan laki laki dan perempuan adalah 10 : 1. 2. Pola II terdapat di Afrika daerah Subshara, Amerika latin dan Karibia. Penyebaran terutama melalui hubungan heteroseksual. Transmisi perinatal merupakan masalah besar karena 5 -15 % atau lebih wanita hamil telah tertular HIV.Perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1 : 1. 3. Pola III. Terdapat di Afrika Utara Eropah Timur,Timur Tengah dari Asia Pasifik.Belum diketahui cara penyebaran yang menonjol. Kebanyakan kasus terjadi pada orang-orang yang datang dari daerah endemik. Beberapa kasus dilaporkan karena menerima produk darah yang diimpor dari luar negri

Pada epidemiologi AIDS akan diuraikan mengenai faktor Agent, faktor Host dan faktor Environment.

1. Faktor Agent HIV merupakan virus penyebab AIDS termasuk Retrovirus yang mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk membuat obat yang dapat membunuh virus tersebut .Virus HIV sangat lemahh dan mudah mati diluar tubuh. HIV termasuk Virus yang sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih. sinar matahari dan berbagai desinfektan 2. Faktor Host Distribusi golongan umur penderita AIDS Di Amerika Serikat Eropah, Afrika dan Asia tidak jauh berbeda. Kelompok terbesar berada pada umur 30 -39 tahun. Mereka termasuk kelompok umur yang aktif melakukan bubungan seksual. Hal ini membuktikan 7

bahwa transmisi seksual baik homo maupun heteseksual merupakan pola transmisi utama. Ratio jenis kelamin pria dan wanita di negara pola I adalah 10 :1. karena sebagian besar penderita adalah kaum homoseksual sedangkan di negara pola II ratio adalah 1 : 1. Kelompok masyarakat beresiko tinggi adalah mereka yang melakukan hubungan seksual dengan banyak mitra seks (promiskuitas). kaum homoseksual/biseksual. kaum heteroseksual golongan pernyalahguna narkotik suntik. Penerima transfusi darah termasuk penderita hemofilia dan penyakit-penyakit darah, anak dan bayi yang lahir dari ibu pengidap HIV. Kelompok homoseksual/biseksual adalah kelompok terbesar pengidap HIV di Amerika Serikat. Prevalensi HIV dikalangan ini terus meningkat dengan pesat.Di SanFransisco pada tahun 1978 hanya 4% kaum homoseksual yang mengidap HIV. 3 tahun kemudian menjadi 24% dan 8 tahun kemudian menjadi 80%. Kelompok heteroseksual lebih menonjol di Afrika dimana prevalensi. HIV pada kaum laki-laki dan wanita hamil di Afrika pada tahun 1981 mencapai 18%. Kelompok penyalahguna narkotik suntik di Eropah meliputi 11% dan di Amerika Serikat 25% dari seluruh kasus AIDS. 3. Faktor Environment. Lingkungan biologis, sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Lingkungan biologis antara lain adanya luka-luka pada ususgenita, herpes simplex dan syphilis meningkatkan prevalensi penularan HIV. Demikian juga dengan penggunaan obat KB pada kelompok wanita tunasusila di Nairobi dapat meningkatkan penularan HIV. Faktor sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual masyarakat. Bila faktor-faktor ini mendukung pada perilaku seksual yang bebas akan meningkatkan penularan HIV dalam masyarakat.

2.6 Diagnosis AIDS. Dasar untuk menegakan diagnosis AIDS adalah. : 1. Adanva HIV sehagai etiologi (melalui pemeriksaan laboratorium) . 2. Adanya tanda-tanda imnmodefisiensi. 3. Adanya gejala infeksi oportunistik.

Dalam prakteknya yang dipakai sebagai petunjuk adalah ini oportunistik atau sarkoma kaposi pada usia muda.Kemudian dilakukan uji serologis untuk mendeteksi zat anti HIV (Elisa, Western Blot). 2.7 Pemeriksaan Laboratorium Untuk Deteksi Infeksi HIV. Human Immunoficiency Virus dapat diiisolasi dari cairan- cairan tubuh antara lain darah. sementara cairan serviks atau vagina, air ludah, air mata, air susu ibu, cairan serebrospinal tetapi yang penting dalam penularan AIDS hanya darah semen dan cairan serviks atau vagina. Diagnosa adanya infeksi dengan HIV dapat ditegakan dilaboratorium dengan ditemukannya antibodi yang khusus terhadap virus tersebut. Pemeriksaan untuk menemukan adanya antibodi terbadap HIV digunakan secara umum pada tahun 1985. Metode yang paling sering digunakan akan adalah Enzyme Linked Immumosorbent Assay (Elisa). Tes ELISA mempunyai sensitivitas yang tinggi tetapi spesifitasnva agak kurang. Persentase "false positif" akan tinggi bila prevalensi infeksi HIV disuatu daerah sangat rendah. Oleh karena itu untuk hasil test ELISA yang positif harus dilakukan pengulangan dan bila tetap positif setelah pengulangan harus dikonfirmasikan dengan tes yang lebih spesifik. Untuk keperluan ini paling sering digunakan metode Immune Blot/Western Blot. Pengembangan kemampuan pemeriksaan laboratorium terhadap AIDS dilaksanakan secara bertahap. Pada tahap pertama pemeriksaan antibodi HIV di luar Jakarta, Surabaya dan Denpasar. Kemudian pada tahun0 1988 pemeriksaan anti bodi HIV dilaksanakan di Medan. Semarang dan unung pandang Sebagai Pusat rujukan untuk pemeriksaan antibodi HIV adalah laboratorium klinik Rumah Sakit Cipto Mangunkumo (RSCH). 2.8 Dampak AIDS.

Reaksi Global terhadap AIDS dan HIV baru saja mulai ketakutan dan ketidaktahuan akan menyebabkan dampak serius pada tingkat perseorangan. Keluarga dan masvarakat. Orang-orang yang terinfeksi HIV termasuk yang sudah berkembang menjadi AIDS. sering dikeluarkan atau disingkirkan dari keluarga dan masyarakat pada saat dia memerlukan dukungan dan perhatian.

Berlainan dengan kebanyakan masalah kesehatan yang ada sekarang ini dimana biasanya menyerang anak usia muda dan orang tua. Penvakit AIDS terutama menyerang kelompok umur 20-39 tahun yaitu kelompok umur dalam masa produksi. yang paling banyak 9

melakukan aktivitas (kegiatan) di bidang sosial, ekonomi dan politik. Dari 399 kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan hingga Mei 1997. sekitar 73% adalah usia 20-39 tahun. Kematian kelompok usia produktif ini akan berarti penderitaan sosial ekonomi. Dengan mempertimbangkan hal demikian. AIDS merupakan ancaman yang serius perlu pengembangan sosial dan ekonomi bahkan pada kestabilan politik. Begitu jumlah kasus AIDS meningkat tajam dalam beberapaa tahun mendatang akan terjadi pengaruh yang dramatis dalam politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Pelayanan medis penyakit AIDS memang merupakan persoalan yang serius di bidang ekonomi. Di negara-negara Industri biaya perawatan untuk setiap penderita AIDS diperkirakan berkisar antara US$ 25.000 sampai US$ 150.000. Di negara berkembang tambahan beban karena AIDS pada anggaran kesehatan yang sudah sangat terbatas akan besar dollar.

AIDS juga membawa dampak pada ibu dan anak kenaikan angka kematian bayi yang terinfeksi dengan HIV mungkin menyebabkan keseimbangan kemajuan -kemajuan yang telah dicapai dalam upaya kesehatan anak tergangg, jadi untuk negara-negara berkembang AIDS akan mengancam peningkatan derajat kesehatan yang telah direncanakan sebelumnya.

Keresahan sosial dan ekonomi karena HIV dan AIDS menunjukkan bahwa keduanya berarti lebih dari sekedar penyakit saja. Penyakit ini akan mejadi permasalahan politik dan kebudayaan yang besar. Ketakutan akan AIDS mengancam terjadinya pembatasanpembatasan untuk bepergian dan komunikasi antar negara. Disamping diakui bahwa AIDS adalah problema dunia, masih ada saja kecendrungan untuk mengucilkan kelompok tertentu, suku dan kebangsaan. HTV dan AIDS mungkin mengancam nilai-nilai dasar dari masyarakat dan setiap usaha berhubungan dengan penyakit tersebut merupakan tantangan yang besar saat ini.

2.9 Situasi AIDS di Indonesia dan Peran Perawat Komunitas

Pada tahun 1987 dilaporkan adanya kasus AIDS di Indonesia. Saat ini ditemukan 2 kasus AIDS. Kasus AIDS pertama adalah seorang wisatawan laki-laki warga negara Belanda yang meninggal diBali pada bulan April 1987. Kasus AIDS kedua adalah seorang berkebangsaan Canada yang sudah 2 tahun menetap di Indonesia dan meninggal di Jakarta 10

pada bulan Nopember 1987. Kasus AIDS ketiga adalah seorang Indonesia yang meninggal di Bali pada buslsn juli 1988.

Sejak tahun 1987 kasus AIDS dan HIV ditemukan setiap tahun dari jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 1987 di temukan 2 kasus AIDS dan 4 kasus HIV, kemudian pada tahun 1990 ditemukan 5 kasus baru AIDS dari 4 kasus baru HIV, pada tahun 1993 ditemukan 17 kasus baru AIDS dan 96 kasus baru HIV tahun 1996 ditemukan 30 kasus baru AIDS dan 90 kasus baru HIV dan hingga Mei 1997 ditemukan 20 kasus baru AIDS dan 59 kasus baru HIV (tabel 1.).

Menurut data Departemen Kesehatan hingga bulan Mei 1997 dilaporkan 545 kasus HIV/AIDS di Indonesia yang tersebar di 21 ProPinsi terdiri dari 413 kasus HIV dari 132 kasus AIDS. Dari 132 kasus AIDS 75 kasus diantaranya telah meninggal dari 545 kasus sebanyak 360 kasus adalah laki-laki 368 kasus warga negara Jndonesia dan mengenai kelompak umur 20-39 tahun sebanyak 399 orang. serta bayi < 1 tahun sebanyak 2 orang (1 kasus AIDS 1 karena HIV). Diantara 21 propinsi, propinsi DKI Jakarta melaporkan kasus HIV/AIDS terbanyak yaitu 171 kasus disusul Irian Jaya 137 kasus dan Riau 44 kasus.

Pada tahun pertama epidemi AIDS semua kasus adalah laki-laki sejak tahun 1989 telah ditemukan 1 kasus wanita dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pada bulan Desember 1993 dijumpai sebanyak 27 kasus (13%), pada Mei 1997 dijumpai 165 kassus (30%). Proporsi pengidap HIV pada penduduk kelompok usia 20-39 tahun terus meningkat dari 70% pada Desember 1993 menjadi 73% pada bulan Mei 1997. Propinsi yang melaporkan adanya kasus AIDS juga meningkat dari 12 propinsi pada bulan Desember 1993 menjadi 21 propinsi pada bulan Mei 1997 (tabel - II).

Penangulangan HIV /AIDS di Indonesia mempunyai tiga tujuan yaitu :

1. Pencegahan penularan HIV 2. Mengurangi sebanyak mungkin penderita perorangan serta dampak sosial dan ekonomis dari HIV/AIDS diseluruh Indonesia. 3. Menghimpun dan menyatukan upaya-upaya nasional untuk penanggulangan HIV/AIDS 11

Adapun prinsip-prinsip dasar penanggulangan HIV /AIDS adalah :

1. Upaya penanggulangan HIV /AIDS dilaksanakan oleh seluruh penduduk di Indonesia. masyarakat, dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama dan pemerintah berkewajiban membimbing. mengarahkan serta menciptakan suasana yang menunjang 2. Setiap upaya penanggulangan harus mencerminkan nilai nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia. 3. Setiap kegiatan untuk mempertahankan dan memperkuat ketahanan dan kesejahteraan keluarga serta sistem dukungngan sosial yang mengakar dalam masyarakat. 4. Pencegahan HIV/AIDS diaarahkan pada upaya pendidikan dan penyuluhan untuk memantapkan perilaku yang baik/tidak memberikan kesempatan penularan dan merubah perilaku yang beresiko tinggi . 5. Setiap orang berhak untuk mendapat informasi yang benar untuk melindungi diri dan orang lain terhadap infeksi HIV. 6. Setiap pemeriksaan pelayanan berkewajiban memberikan pelayanan tanpa diskriminasi kepada pengidap HIV/penderita AIDS. 7. Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV IAIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan. Sebelum dan sesudahnya harus diberikan konseling yang memadai dan hasil pemeriksaan wajib dirahasiakan. 8. Peraturan perundang-undangan mendukung dan selaras dengan strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS disemua tingkat. Program nasional penanggulangan HIV/AIDS Pelita VI terdiri dari: 1. Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE). 2. Tindakan pencegahan. 3. Pengujian dari konseling. 4. Pengobatan, pelayanan dan perawatan. 5. Penelitian dan kajian. 6. Monitoring dan Evaluasi. 7. Pendidikan dan latihan. 8. Kerjasama internasional. 9. Pelembagaan program. 10. Peraturan dan perundangan. 12

Peran perawat komunitas dalam penanggulangan HIV/AIDS pada area komunitas adalah

A. Memfasilitasi strategi koping : 1. Memfasilitasi sumber penggunaan potensi diri agar terjadi respon penerimaan diri. 2. Tekhnik Kognitif, dapat berupa upaya untuk membantu penyelesaian masalah, memberikan harapan yang realistis, dan mengingatkan klien dengan melibatkan keluarga untuk mengambil hikmah. 3. Tekhnik perilaku, dilakukan dengan cara mengajarkan perilaku yang mendukung kesembuhan, seperti : control dan minum obat secara teratur, konsumsi nutrisi seimbang, dan beristirahat yang cukup. B. Dukungan sosial 1. Dukungan emosional, agar klien merasa nyaman, dihargai, dicintai, dan diperhatikan. 2. Dukungan informasi, untuk meningkatkan pengetahuan dan penerimaan pasien terhadap sakitnya. 3. Dukungan secara material, dengan memberikan pengarahan kepada klien dan keluarga untuk kemudahan akses dalam pelayanan kesehatan klien.

13

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

AIDS merupakan masalah kesehatan Internasional yang penting dan harus segera di tanggulang. AIDS berkembang secara pandemi hampir di Sebelum negara di dimaju maupun negara berkembang. Epidemi yang terjadi meliputi penyakit (AIDS). Epidemi virus (HIV) dan epiemi reaksi/dampak negatif baik dibidang kesehatan maupun bidang sosial, ekonomi, politik,kebudayaan demografi.

Penyakit AIDS sangat berbahaya dengan angka case fatality rate 100% dalam 5 tahum artinya dalam waktu 5 tahun setelah diagnosis AIDS ditegakkan penderita akan meninggal. Penularan AIDS terjadi melalui hubugan seksual, parenteral dan transplasental sehingga upaya pencegahan perlu diarahkan untuk mengubah perilaku seksual masyarakat (terutama yang memiliki resiko tinggi) menghindarkan infeksi melalui donor darah dan upaya pencegahan infeksi perinatal sebelum ibu hamil.

Dilihat dari sifat alamiah penyakit AIDS baik mengenai agent, host, dan environment serta cara pernularan, maka penanggulangan atau intervensi yang ditujukan untuk memutuskan rantai penularan tidak dapat dilakukan pada agent dan host karena belum ditemukan vaksin dan obat penangkal terhadap AIDS. Satu-satunya jalan adalah merubah lingkungan yaitu dengan mengubah perilakukan seksual kelompok seksual aktif (15-45 tahun) yang merupakan kelompok terbesar pengidap HIV. Perubahan perilaku ini dilakukan dengan melakukan penyuluhan kesehatan.

3.2 Saran Penerapan penanggulangan HIV/AIDS oleh perawat kepada keluarga dank lien sangatlah penting. Hal ini ditujukan untuk mencegah terjadinya penularan virus HIV/AIDS, kita sebagai perawat harus melihat masalah masalah yang sedang dialami oleh klien dari hasil pengkajian keperawatan dan mengaplikasikan sebaik mungkin kepada klien HIV/AIDS. 14

DAFTAR PUSTAKA Suesen Nyoman .GPA dalam kaitannya dengan program nasional Pencegahan dan pemberantasan AIDS. AIDS : Petunjuk untuk Petugas Kesehatn, Departemen Kesehatan RI. Jakarta 1989. Suesen nyoman . Epidemiologi AIDS standarisasi Diagnostik dan penatalaksanaan beberapa penyakit menular seksual . Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jakarta 1990. Wibisono Bing. Epidemiologi AIDS .AIDS ; petunjuk untuk petugas kesehatan , Departemen Kesehatan RI. Jakarta 1989. Departemen Kesehatan RI . Petunjuk Pengembangan Program Nasional Pemberantasan dan Pencegahan AIDS. Jakarta 1992. Syarifuddin,Djalil Pelayanan Laboratorium Kesehatan Untuk Pemeriksaan Serologis AIDS. AIDS: Petunjuk untuk Petugas Kesehatan. Departemen Kesehatan RI Jakarta 1989.

15