Anda di halaman 1dari 5

TINEA KRURIS

PENDAHULUAN Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan jamur golongan dermatofita. Tinea Kruris merupakan infeksi superficial kulit oleh dermatofita. Kita menyebutnya tinea yang berarti cacing ( bahasa Latin ) karena orang Romawi dulu meyakini penyakit ini disebabkan karena serangga. Insiden mikosis superfisialis cukup tinggi di Indonesia. Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai "TINEA KRURIS".1

DEFINISI Tinea kruris adalah penyakit infeksi jamur dermatofita didaerah lipat paha, genitalia, dan sekitar anus yang dapat meluas kebokong dan perut bagian bawah.4

SINONIM Sinonim dari tinea kruris adalah Eczema Marginatum, Dhobie Itch, Jockey Itch, Ring Worm Of The Groin.1,2,3,9

EPIDEMIOLOGI Tinea kruris tersebar diseluruh dunia, lebih sering didaerah tropis dan subtropis. Penyakit ini lebih banyak menyerang pria dari pada wanita, terutama pada musim panas dimana orang banyak berkeringat serta kondisi lingkungan yang kotor dan lembab.1

ETIOLOGI Dermatofita yang hidup dan memakan keratindiklasifikasikan dalam tiga genus yaitu Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton.1 Penyebabdari tinea kruris ini adalah jamur dermatofita, yang sering ditemukan pada kasus tinea kruris adalah Epidermophyton floccosum, Trichophyton rubrum, dan Trichophyton mentagrophytes.(1,2,3,4,7,8,10) Dermatofita dapat menginfeksi manusia dengan berbagai cara, yaitu dari manusia ke manusia (anthropophilic), dari binatang ke manusia (zoophilic), dan dari tanah ke manusia (geophilic).1

PATOGENESIS Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang cabangnya di dalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke dalam jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan.2 Pertumbuhan jamur dengan pola radial di dalam stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit yang sirsinar dengan batas yang jelas dan meninggi yang disebut ringworm. Reaksi kulit yang semula berbentuk papul kemudian berkembang menjadi suatu reaksi peradangan berupa dermatitis.2

GEJALA KLINIS Pada umumnya gambaran dermatofitosis terdiri atas bermacam macam ruam kulit (polimorfi) dengan bagian tepi lebih aktif dan bagian tengah lebih tenang dan disertai rasa gatal.2 Gambaran klinis biasanya adalah lesi simetris di lipat paha kanan dan kiri. Mula mula lesi ini berupa bercak eritematosa dan gatal, yang lama kelamaan meluas sehingga dapat meliputi, skrotum, pubis, glutea bahkan sampai paha. Tepi lesi aktif, polisiklis, ditutupi skuama, dan kadang kadang disertai dengan banyak papul eritema dan vesikel kecil kecil.4
2

Pada bentuk kronis, lesi kulit hanya berupa bercak menebal hiperpigmentasi dengan sedikit skuama. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.2

DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan: 1. Anamnesis Didapatkan rasa gatal yang sangat mengganggu dan gatal semakin bertambah apabila berkeringat. 2. Gambaran klinis yang khas Tampak lesi yang berupa bercak eritematosa kecil, berskuama, berbatas tegas dengan bagian tepi yang aktif yang berbentuk polisiklik dan bagian tengah lebih tenang dan disertai rasa gatal.2 3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan KOH 10% untuk mengetahui adanya elemen elemen jamur seperti: hifa dan spora.1 Kultur sediaan pada Sabourods Dextrose Agar (SDA) untuk menentukan spesies jamur.

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding secara klinis antara lain: 1. Kandidosis inguinal2 2. Eritrasma 2 3. Dermatitis seboroik 2 4. Dermatitis kontak 2 5. Psoriasis intertriginosa 1,5

PENATALAKSANAAN 1. Umum Meningkatkan kebersihan badan dan menghindari keringat yang berlebihan Menghilangkan faktor predisposisi, misalnya : mengusahakan daerah lesi kering Mengurangi kelembapan dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang panas dan tidak menyerap keringat ( karet, nylon, wol ) Tidak memakai peralatan pribadi secara bersama-sama.

2. Topical Derivate imidazole , seperti klotrimazol 1%, mikonazol 2%, ketokonazol 2%, bufonazol 1%, isokonazol 1%, dan konazol 2%. Bahan keratolitik : Whittfield (asam salisilat 3% , asam benzoate 6%, dalam petrolatum).2,6 Obat digunakan 2x sehari, pagi dan sore hari, dioleskan pada daerah lesi. 2,6

3. Sistemik Pengobatan sistemik pada tinea kruris hanya diberikan atas indikasi tertentu misalnya lesi yang luas, karena pemakaian obat topical saja sudah cukup efektif. 2 Griseofulvin 500 1000 mg/ hari selama 2 6 minggu. Ketokonazole 200 mg/ hari selama 4 minggu. Itraconazole 100 mg/ hari selama 2 minggu, atau Terbinafine 250 mg/ hari selama 1 2 minggu. 1

PROGNOSIS Baik, asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.5

DAFTAR PUSTAKA

1. Abdullah B, Tinea Kruris dalam: Dermatologi Pengetahuan Dasar dan Kasus di Rumah Sakit. Hal 74 76 2. Budimulja U, Kuswadji, Basuki S, dkk. Tinea Korporis dan Kruris dalam: Diagnosis dan penatalaksanaan Dermatomikosis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal 47-52. 3. Mansjoer, A.dkk. Tinea Kruris dalam: Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Medis Aesculapius. 2005. Hal 99-100. 4. Harahap, M. 2008. Tinea Kruris dalam: Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates. Hal 78. 5. Siregar, R.S. Tinea kruris dalam: Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit edisi 2 Jakarta: EGC: 2004. Hal 29-30. 6. Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, dkk. Obat Anti Jamur dalam: Dermatomikosis Superfisialis. Jakarta. Hal: 108-116. 7. Wolff, K. dkk. Tinea Cruris: Fitzpatrickss DERMATOLOGI IN GENERAL MEDICINE. Seventh edition. United state of America: 2008. Page 1845-1857. 8. Tinea kruris diunduh dalam www.fkumyecase.com 9. Tinea kruris diunduh dalam http://www.scribd.com 10. Tinea kruris diunduh dalam http://en.wikipedia.org/wiki/tineacruris