Anda di halaman 1dari 16

8 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Lingkungan adalah suatu sistem kompleks yang berada di luar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dn perkembangan organism. Pada dasarnya lingkungan itu sendiri berbeda dengan habitat. Habitat adalah tempat diaman organisme atau komunitas organisme hidup. Organisme terdapat di laut, di padang pasir, di hutan dan lain sebagainya. Jadi habitat secara garis besar dapat dibagi menjadi habitat darat dan habitat air. Keadaan lingkungan dari kedua habitat itu berlainan. Setiap organisme hidup akan lingkungannya masing-masing. Begitu juga jumlah dan kualitas organisme penghuni di setiap habitat tidak sama.1 Luas daerah dalam satuan kecil yaitu komunitas atau vegetasi yang sangat bervariasi keadaannya. Keberadaannya merupakan himpunan dan spesies populasi yang sangat berinteraksi dengan banyak faktor lingkungan yang khas untuk setiap vegetasi, kemudian muncul pertanyaan yang sering timbul yaitu bagaimana cara mengamati komunitas atau vegetasi tersebut dan berapa banyak sampel yang herus di amati sehingga dikatakan representatif bila di dalamnya terdapat semua atau sebaagian besar jenis tumbuhan yang membentuk komunitas atau vegetasi tersebut. Daerah minimal yang mencerminkan kekayaan.2

1 2

Zoeraini Djamal, Prinsip-prinsip Ekologi (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2007), h. 110. Ibid.

8 B. Tujuan Adapun tujuan pada praktikum ini yaitu mahasiswa mampu memahami dan mengauasai cara menetukan luas minimum dari suatu vegetasi serta cara menyebarkan percontohan.

C. Manfaat Adapun manfaat pada praktikum ini yaitu : 1. Sebagai bahan perbandingan terhadap teori-teori yang telah ada sebelumnya. 2. Mahasiswa mampu memahami dan mengauasai cara menetukan luas minimum dari suatu vegetasi serta cara menyebarkan percontohan.

8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Komunitas tumbuhan atau vegetasi dibentuk oleh individu-individu tumbuhan yang sangat komplek dan mempunyai variasi pada setiap keadaan tertentu. Bentuk komunitas disuatu tempat ditentukan oleh keadaan dan sifat-sifat individu sebagai reaksi terhadap faktor lingkungan yang ada, dimana individu ini akan membentuk populasi didalam komunitas tersebut. Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (species richness), jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya dalam kelimpahan relatif (relative abundance) spesies. Beberapa komunutas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama dengan jumlah spesies yang semuanya umum ditemukan.3 Komunitas atau vegetasi disebut luas minimum. Dalam mempelajari komunitas tumbuhan kita tidak mungkin melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati oleh komunitas, terutama apabila area tersebut sangat luas. Oleh karena itu kita dapat melakukan penelitian disebagian area komunitas tersebut dengan syarat begian tersebut dapat mewakili seluruh komunitas. Suatu metode untuk menentukan luas minimum suatu daerah disebut metode luas minimal. Metode ini

Campbell, Biologi Jilid 3 (Jakarta : Erlangga, 2004), h. 361.

8 juga dapat digunakan untuk mengetahui jumlah petak yang digunakan dalam metode tersebut.4 Luas minimum adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan. Luas minimum dan jumlah minimum dapat digabung dengan menentukan luas total dari jumlah minimum yang sesuai dengan luas minimum yang sudah dapat didapat terlebih dahulu. Penyebaran individu suatu populasi mempunyai tiga kemungkinan yaitu penyebaran acak, penyebaran secara merata, dan penyebaran secara kelompok. Untuk mengetahui apakah penyebaran individu suatu polpulasi secara merata atau kelompok maka penentuan letak percontoh dalam analisis vegetasi dapat dibedakan dengan cara pendekatan yaitu penyebaran percontohan secara acak, penyebaran percontohan secara sistematik serta penyebaran secara semi acak dan semi sistematik.5 Perkembangan lebih mendalam dalam ekologi tumbuhan dapat dimanfaatkan dalam reklamasi lahan yang rusak akibat banjir, kebakaran serta penambangan. Introduce jenis tanaman tetertentu di suatu habitat yang memungkinkan perubahan distribusi dari suatu jenis tumbuhan tetentu. Keberhasilan suatu jenis tumbuhan mengintroduce suatu lahan yang baru adalah suatu hal yang merupakan suatu usaha pengembangan ekologi dan fsiologi akibat interaksi dengan habitat hidupnya. Banyak permasalahan yang dapat dipelajari melalui ekologi tumbuhan diaranya adalah, bagaimanakah tumbuhan mengatasi masalah penyebaran, apakah jenis tumbuhan

4 5

Heddy, Pengantar Ekologi (Bandung : Angkasa, 1986), h. 58. Rahardjanto, Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan (Malang : UMM Press, 2001), h. 36.

8 yang mampu diperguanakan sebagai pioner dalam lahan bekas penambahangan, banjir atau kebakaran. Bagaimanakah distribusi tumbuhan pada suatu lokasi atau dan bagaimana pula kompetisi serta kelulushidupan suatu tumbuhan. Bagaimanakah tumbuhan menceritakan pada kita mengenai kemampuan untuk mengatasi penyebaran,perkecambahan pada situs yang tepat, kompetisi, interaksi dll.6 Spesies tetumbuhan yang dominan dalam komunitas dapat diketahui dengan mengukur dominansi tersebut. Ukuran dominansi dapat dinyatakan dengan beberapa parameter, antara lain biomassa, penutupan tajuk, luas basal area, indeks nilai penting, dan perbandingan nilai penting ( summed dominance ratio ). Untuk itulah dalam praktikum kali ini akan menggunakan metode kuadrat untuk menganalisa vegetasi padang rumput. Digunakan metode ini karena variasi spesies yang mendominasi area ini tidaklah banyak dan sebagian besar didomiasi oleh jenis rumput. Metode kuadrat dilakukan dengan menggunakan plot dimana setelah luas minimum area dari satuan petak contoh dianggap mewakili suatu komunitas tertentu telah kita peroleh, maka selanjutnya dapat ditarik contoh tersebut.7 Asosiasi dapat dikatakan sebagai komunitas yang merupakan suatu istilah yang dapat digunakan pada sembarang tipe vegetasi, sembarang ukuran dan sembarang umur, komunitas dapat merupakan satu unit ekologi yang sangat luas namun juga dapat merupakan satuan yang sangat sempit. Istilah komunitas juga dapat digunakan untuk satuan yang paling kecil sekalipun seperti halnya

6 7

Campbell, op.cit., h. 363. Zoeraini Djamal, op.cit., h. 112.

8 menempelnya lumut yang beraneka ragam di pohon tertentu. Ukuran, umur dan stratum tumbuhan bukan merupakan batasan suatu komunitas tumbuhan demikian juga dengan perubahan komponen vegetasi yang terdapat didalamnya. Komunitas tetap berlaku untuk vegetasi yang mudah berubah ataupun yang lambat dalam perubahan penyusun vegetasinya. Seringkali vegetasi serupa mudah dan sering ditemukan pada lokasi yang mempunyai kondisi yang sama, sebagai contoh adalah hadirnya vegetasi yang berupa padang rumput yang mudah ditemui di manapun. Asosiasi lebih merupakan kumpulan dari contoh dalam sebuah vegetasi.8 Luas daerah contoh vegetasi yang akan diambil diatasnya sangat bervariasi untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 1 dm2 sampai 100 m2. Suatu syarat untuk daerah pengambilan contoh haruslah representatif bagi seluruh vegetasi yang dianalisis. Keadaan ini dapat dikembalikan kepada sifat umum suatu vegetasi yaitu vegetasi berupa komunitas tumbuhan yang dibentuk oleh populasi-populasi. Jadi peranan individu suatu jenis tumbuhan sangat penting.9 Sifat komunitas akan ditentukan oleh keadaan individu-individu tadi, dengan demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperhatikan individuindividu atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan. Ini berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representatif bila didalamnya terdapat semua atau sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas tersebut. Dengan demikian pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu

8 9

Anwar, Biologi Lingkungan (Bandung : Ganexa exact, 1995), h. 89. Ibid.

8 luas tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara keseluruhan. Jadi luas daerah ini disebut luas minimum.10 Untuk memahami luas,metode manapun yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah adalah fluktuasi iklim yang musiman merupakan faktor penting dalam membagi keragaman spesies. Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah. Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam. Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar.11

10 11

Guritno, Luas Minimum, http://luas minimum.com (22 Desember 2011). Harun, Ekologi Tumbuhan (Jakarta : Bina Pustaka, 1993), h. 125.

8 BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu meteran, patok, tali rapiah, dan alat tulis menulis. 2. Bahan Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu lahan atau komunitas dengan vegetasi yang heterogen serta lebel.

B. Waktu dan Tempat Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut : Hari/Tanggal Pukul Tempat : Jumat/ 10 Desember 2011 : 08.00 09.00 WITA : Lapangan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Samata-Gowa.

8 C. Cara Kerja Adapun cara kerja pada praktikum ini yaitu : 1. Menyiapkan alat yang akan digunakan serta sebuah lahan sampel yang akan dihitung tingkat vegetasinya. 2. Menancapkan sebuah patok pada lahan sampel sebagai patokan utama. 3. Membuat bujur sangkar pada lahan sampel tersebut dengan luas 25 cm X 25 cm, kemudian mencatat semua jenis tumbuhan yang berada dalam kuadran tersebut. 4. Apabila seluruh jenis tumbuhan sudah dicatat, perluas kembali kuadran tadi menjadi dua kali lipat dari semula yaitu menjadi 25 cm X 50 cm. Mencatat kembali penambahan jenis tumbuhan yang telah diperluas lagi. 5. Setelah mencatat seluruh jenis tumbuhan pada kuadran tadi, perluas lagi dengan cara yang sama yaitu dua kali asalnya yaitu 50 cm X 50 cm, 50cm X 100cm, 100cm X 100cm dan seterusnya sehinggan tidak terjadi lagi penambahan jenis tumbuhan baru atau minimal sebanyak 10 kali pembesaran plot. 6. Untuk mendapatkan luas minimum, susunlah suatu grafik dari data yang diperoleh.

8 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini yaitu : a. Lahan persegi panjang 1. Plot 1 ukuran 25cm X 25cm Semanggi gunung Putri malu (Mimosa pudica L) Kacang babi (Vicia faba L) Rumput keras

2. Plot II Ukuran 25cm X 50cm Semanggi gunung Putri malu (Mimosa pudica L) Kacang babi (Vicia faba L) Rumput keras Ipomea sp Spesies A

3. Plot III Ukuran 50cm X 75cm Semanggi gunung Putri malu Kacang babi (Vicia faba L)
7

8 Rumput keras Ipomea sp Spesies A

b. Lahan persegi 1. Plot I ukuran 25cm X 25cm Putri malu Rumput keras Tapak lima (Mimosa pudica L) Semanggi gunung Spesies A

2. Plot II ukuran 50cm X 50cm Putri malu (Mimosa pudica L) Rumput keras Tapak lima Semanggi gunung Spesies A

8 Kurva Pengamatan 1. Plot pengamatan persegi panjang

2.

Plot pengamatan persegi

8 B. Pembahasan Luas minimum atau kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas petak contoh yang digunakan. Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat. Luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan disebut dengan luas maksimum. Berdasarkan hasil pratikum setiap plot selalu terdapat penambahan spesies. Dari data diatas dapat dilihat bahwa luas minimum dari spesies tersebut diatas pada plot untuk lahan persegi panjang dengan ukuran 50cm X 75cm telah diperoleh jenis tanaman yang sama dengan plot sebelumnya. Begitupula untuk plot dengan lahan persegi pada ukuran 50cm X 50cm telah diperoleh jenis tanaman yang homogen. Karena pada luas tersebut tidak terjadi penambahan spesies baru atau jumlah spesies dari plot sebelumnya tetap artinya luas tersebut sudah mewakili karakteristik komunitas yang ada disana karena sejumlah sampel dikatakan resentatif bila didalamnya
7

8 terdapat semuaataiu sebagian jenis tanaman membentuk komunitas atau vegetasi tersebut daerah minimal yang dapat mencerminkan kekayaan atau vegetasi. Dalam jumlah tertentu populasi dapat didistribusikan secara beragam, acak dan rumpun, distribusi jarang terjadi, apabila terjadi hanya kondisi lingkungan yang cukup beragam diseluruh luasan dan bila persaingan kuat antara individu misalnya pada hutan lebat, pohon-pohon yang tinggi hamper semua distribusi seragam/jarak tertentu karena kompotisi untuk mendapatkan cahaya dan unsure hara. Banyak sedikitnya spesies suatu komunitas tidak lain ditentukan oleh keadaan dari komunitas itu sendiri apakah disana terdapat factor-faktor yang dibutuhkan oleh tumbuhan atau tidak.

8 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan pada praktikum ini yaitu luas minimum adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan. Luas minimum dan jumlah minimum dapat digabung dengan menentukan luas total dari jumlah minimum yang sesuai dengan luas minimum yang sudah dapat didapat terlebih dahulu. Penyebaran individu suatu populasi mempunyai tiga kemungkinan yaitu penyebaran acak, penyebaran secara merata, dan penyebaran secara kelompok.

B. Saran Adapun saran pada praktikum ini yaitu sebaiknya pada praktikum selanjutnya sebelum memulai praktikum para praktikan telah memahami semua cara dan metode sehingga pada saat praktikum tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang dapat mengganggu jalannya praktikum.

8 DAFTAR PUSTAKA

Anwar. Biologi Lingkungan. Bandung : Ganexa exact, 1995. Campbell. Biologi Jilid 3. Jakarta : Erlangga, 2004. Djamal, Zoeraini. Prinsip-prinsip Ekologi. Jakarta : PT Bumi Aksara, 2007. Guritno. Luas Minimum. http://luas minimum.com (Diakses pada tanggal 22 Desember 2011). Harun. Ekologi Tumbuhan. Jakarta : Bina Pustaka, 1993. Heddy. Pengantar Ekologi. Bandung : Angkasa, 1986. Rahardjanto. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Malang : UMM Press, 2001.