Anda di halaman 1dari 63

Kerajaan Islam Pasai-Aceh

Dan Peranannya Dalam Menaklukkan


Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit
(Kajian Terhadap Peran Walisongo Dalam Islamisasi Jawa)

Sinopsis Proposal Desertasi Ph.D.


Bidang Studi Sejarah Islam Asia Tenggara
&
Karangan Tersiar

Hilmy Bakar Almascaty

2008 - 2009

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 1


Abstrak

Sejarah adalah cerminan masa lalu sebuah bangsa yang menjadi spirit dalam membangun
kegemilangan masa kini dan juga masa depan. Bangsa yang tidak memiliki masa lalu, akan
sulit untuk menentukan masa depannya, atau terpaksa mengkait-kaitkan dengan sejarah masa
lalu bangsa lain. Bangsa besar seperti Amerika yang tidak memiliki sejarah masa lalu, terpaksa
mengaitkan sejarah kegemilangan bangsanya dengan dunia Eropa bahkan dengan imperium
Romawi, demi untuk mengabsahkan keberadaan dan jati diri bangsanya. Sebuah bangsa yang
tidak mengetahui sejarah masa lalunya sama dengan seseorang yang tidak mengetahui asal
usul nenek moyangnya. Bangsa Aceh memiliki sejarah agung, terutama setelah agama Islam
menyinarinya dengan hidayah dan petunjuk Allah menuju kegemilangan peradaban. Pada satu
episode sejarah Islam di Asia Tenggara, bangsa Aceh telah menjadi pelopor kebangkitan sebuah
peradaban baru yang berdasarkan kepada ajaran Islam. Aceh pernah menjadi bintang Islam di
Timur yang melahirkan peradaban Islam-Melayu, gabungan dari kearifan peradaban lokal
dengan keagungan peradaban Islam yang telah berkembang di Arab, Afrika, Asia Tengah,
Persia, India bahkan Cina dan Jepang. Karena letak geografis Aceh di ujung utara pulau
Sumatra yang sangat strategis sebagai wilayah transit para pedagang internasional dengan
peradaban yang mereka kembangkan. Kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di Jeumpa, Perlak,
Lamuri, Pidie, Pasai, Aceh Darussalam dan lainnya telah menjadi pelopor Islamisasi di Asia
Tenggara. Kerajaan Islam Pasai yang bangkit bersamaan dengan kehancuran pusat-pusat
peradaban Islam di dunia Arab dan Afrika pada pertengahan abad 13 M (1258 M), telah
menjadi pusat pengkajian Islam tingkat tinggi di Asia Tenggara dan mempelopori gerakan
Islamisasi yang menghubungkan dunia Islam Arab, India dengan dunia Islam Cina. Kerajaan
Pasai di bawah pemerintahan para Sultan yang alim seperti Sultan Malik al-Saleh, Sultan Malik
al-Zahir, Sultan Malik al-Zahir II telah berkembang menjadi Kerajaan Islam yang makmur dan
menjadi tempat berkumpul para Ulama, Maulana, Auliya dan Cendekiawan Muslim dari
seluruh penjuru dunia. Pada masa inilah intensitas Islamisasi ke tanah Jawa mengalami
puncaknya, terutama setelah bangkitnya para pendakwah yang kemudian dikenal dengan Wali
Sembilan (Wali Songo). Gerakan Wali Songo yang dipelopori keluarga besar Maulana Sayyid
Hussein Jamadil Kubra (Maulana Hussein al-Akbar) yang didukung oleh para Sultan dan
kerabat istana Pasai telah berhasil mendirikan beberapa Kerajaan Islam sebagai perwakilan
Kerajaan Pasai dari Indo-Cina, Thailand, Malaya, Borneo, Celabes, Sulu, Mindanao sampai
Maluku. Prestasi terbesar Kerajaan Pasai dan gerakan Wali Songo adalah keberhasilannya
dalam meruntuhkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit sebagai pelindung utama Hindu dan
penghalang Islamisasi di Nusantara dengan mendirikan Kerajaan Islam Demak sebagai pusat
baru pemerintahan di tanah Jawa yang berdasarkan ajaran Islam. Para Penggerak Wali Songo
yang telah menjadi petinggi dan penasihat spiritual Demak selanjutnya Cirebon dan Banten
terbukti tetap memelihara hubungan dengan Kerajaan Islam Pasai. Ketika Kerajaan Pasai dalam
ancaman penjajah Portugis, gabungan armada Islam di bawah komando Demak-Cirebon-
Banten mengadakan ekspedisi Jihad I & II ke Malaka dipimpin Sultan II Demak bernama Pati
Unus yang syahid di Malaka dan selanjutnya dipimpin Maulana Fadhilah Khan Al-Pasee
(Fatahillah Tubagus Pasai), putra Ulama besar Pasai Makhdum Patakan Ibrahim. Akhirnya
Portugis dapat dikalahkan Sang Pangeran Pasai di Sunda Kelapa (Jakarta).

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 2


Urgensi Kajian Peran Pasai Dalam Islamisasi Jawa
Para peneliti sejarah, khususnya di wilayah Aceh kurang memberi perhatian
terhadap peranan Kerajaan Islam Pasai dalam gerakan Islamisasi di Jawa. Lebih khusus
pada peranan Kerajaan Islam Pasai sebagai pusat Islamisasi di Asia Tenggara yang
telah mempengaruhi geo-politik di tanah Jawa dengan runtuhnya Kerajaan Hindu
terbesar Majapahit yang selama ini menjadi patron utama masyarakat Hindu Jawa
dalam menentang Islamisasi. Para peneliti, baik dari kalangan orientalis Belanda
maupun Inggris lebih terfokus pada penelitian dan diskusi masalah proses Islamisasi
yang terjadi di wilayah Aceh sebagaimana yang dilakukan oleh Snouck maupun Raffles
dan para peneliti sesudahnya seperti Arnold dan Van Leur. Para peneliti lokal seperti
al-Attas, Hasymi, Zuhri dan Hamka masih merespon teori yang dikemukakan
pendulunya sekitar masalah masuknya Islam di wilayah Aceh. Namun sampai saat ini
belum ada yang mengadakan penelitian secara mendalam tentang peranan Kerajaan
Pasai dalam meruntuhkan Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa dengan segala dampak
politisnya yang telah mengakibatkan terjadinya proses Islamisasi besar-besaran kepada
masyarakat Jawa. Sementara para peneliti di Jawa sendiri masih mendiskusikan asal
usul para penggerak Wali Songo, sehingga menimbulkan kerancuan sejarah kaum
Muslimin. Diharapkan dengan adanya pengkajian dan penelitian masalah peran
Kerajaan Pasai melalui gerakan para pendakwahnya yang dikenal dengan Wali Songo,
maka akan dapat mengoreksi beberapa teori tentang Islamisasi, peran Pasai dan asal
usul Wali Songo yang masih menjadi polemik di kalangan ahli sejarah Asia Tenggara.
Dengan mengemukakan beberapa fakta, data dan teori baru yang bersumber dari
berbagai rujukan, diharapkan teori tentang peranan Pasai dalam meruntuhkan
Majapahit dapat diterima sebagai sebuah teori ilmiah. Dengan demikian sejarah Islam
di Asia Tenggara dapat diluruskan dan mendekati kebenarannya.

Pembatasan Kajian
Kajian ini tidak meliputi sejarah Islamisasi di seluruh Asia Tenggara yang diperkirakan
rentang waktunya sejak pertengahan abad ke VII M, atau di masa Khalifah Islamiyah sampai
dengan abad ke XIII M. Namun kajian yang dilakukan hanya dibataskan di sekitar sejarah
Kerajaan Islam Pasai yang didirikan oleh Sultan Malik al-Saleh (w.1297) dan peristiwa yang
terjadi setelahnya, terutama pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II yang ditengarai
sebagai patron utama gerakan Islamisasi tanah Jawa yang kemudian hari di kenal dengan Wali
Songo. Namun untuk memperkuat argumen, kajian juga dilakukan terhadap beberapa
peristiwa yang berkaitan, seperti teori Islamisasi awal di Asia Tenggara, teori perkembangan
Kerajaan-kerajaan Islam di Thaialand, Malaya, Pilipina Selatan, dan tentunya di Sumatra dan
Tanah Jawa. Lebih khusus kajian ini dibataskan pada sejarah dan peranan para penggerak Wali
Sembilan, seperti Sayyid Hussein Jamadil Kubra, Maulana Malik Ibrahim, Maulana
Rahmatillah (Sunan Ampel) dan beberapa anggota Wali Songo yang memiliki hubungan
dengan Kerajaan Islam Pasai dan pendirian Kerajaan Islam Demak yang telah menaklukkan
Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Di samping itu dikemukakan pula sejarah hidup beberapa
tokoh penting dalam sejarah penaklukan Majapahit ini seperti Putri Jempa Dharawati, Raden
Patah anak Brawijaya V dan Syarif Hidayatullah serta hubungannya dengan proses Islamisasi
di tanah Pasundan yang telah melahirkan Kerajaan Islam Cirebon dan Banten.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 3


Latar Belakang
Para kolonialis dengan segala ambisinya sebagai penjajah telah merancang
berbagai strategi untuk tetap menjadikan bangsa jajahannya sebagai masyarakat yang
bodoh, tertinggal, terbelakang dan tidak memiliki harkat dan martabat. Salah satu cara
efektif yang dilakukannya adalah dengan memanipulasi sejarah bangsa yang
dijajahnya, memisahkannya dari pengetahuan generasi muda sebagaimana dinyatakan
Prof. Ismail R. Faruqi. Peninggalan-peninggalan agung nenek moyang mereka dibawa
kabur, dirampok bahkan dihancurkan agar generasi muda tidak memiliki jati diri lagi.
Itulah sebabnya bangsa-bangsa penjajah, baik Inggris, Pertogis maupun Belanda telah
membawa semua bukti peninggalan kegemilangan Islam di Asia Tenggara ke Eropa
dengan alasan pengembangan pengetahuan. Bangsa yang tidak mengetahui masa
lalunya, maka tidak akan memiliki masa depan, seperti ungkapan TS. Elliot, ”masa lalu
dan masa kini akan menjadi kelanjutan masa depan”.
Dengan program tersistematis para penjajah dengan perangkatnya telah
berupaya menghapuskan tapak-tapak kegemilangan sejarah kaum Muslimin masa lalu.
Contoh terdekat adalah seperti yang dilakukan penjajah Belanda terhadap pusat
pemerintahan Kerajaan Islam Pasai yang diketahui pernah menjadi pusat gerakan
Islamisasi di Asia Tenggara yang telah melahirkan Kerajaan Islam dari Campa, Patani,
Kelantan, Malaka, Palembang, Demak, Cirebon, Banten, Makassar, Bugis, Borneo, Sulu,
Mindanao sampai Maluku dan Fak-Fak di Papua. Setelah menguasai Aceh, penjajah
Belanda merubah Pusat Kerajaan Pasai di sekitar daerah Geudong Aceh Utara menjadi
pusat pembuangan dan penampungan penderita penyakit menular seperti lepra. Secara
otomatis wilayah ini ditinggalkan penduduk dan menjadi kota mati, yang
mengakibatkan punahnya peninggalan sejarah akibat tidak terawat.
Pada saat yang sama para cendekiawan penjajah Belanda seperti Snouck
mengadakan penelitian mendalam terhadap sejarah dan budaya Aceh sampai ke Mesir
dan Mekkah dengan tujuan utama membalikkan fakta dan menyembunyikan
kebesaran Pasai. Snouck telah mengeluarkan sebuah teori Islamisasi di sekitar Aceh,
yang dikatakannya bermula pada abad ke 12 dan 13 M. Dengan teorinya ini seakan-
akan Snouck ingin menyatakan bahwa Islamisasi di Nusantara bermula seratus tahun
sebelum ketibaan penjajah Barat yang membawa agama Kristen. Padahal fakta
menyatakan bahwa sejak awal abad ke 8 M, Islam telah bertapak dan memiliki sebuah
Kerajaan Islam di Jeumpa (Bireuen Aceh) pada tahun 770 M. Sementara bukti terkini
menyebutkan bahwa sebelum Islam tiba, para pedagang Arab telah bermukim di
sepanjang pantai utara pulau Sumatra dan ketika Islam dibawa oleh Nabi Muhammad
langsung tersebar di kalangan pedagang Arab yang sudah hilir mudik selama lebih 500
tahun sebelum kedatangan Islam.
Para penjajah atau bonekanya akan menjalankan politik belah bambu, satu
diangkat yang satunya diinjak, pecah belah lalu menguasai. Sebagaimana yang mereka
telah lakukan kepada kaum Muslimin di Nusantara. Bangsa terbesar Muslim
Nusantara dipecah belah dengan pendekatan kesukuan dengan meniupkan fanatisme
jahiliyah menggantikan ghirah Islamiyah yang telah disemai para Ulama terdahulu
yang telah membuahkan ukhuwah (persaudaran) Islam. Bangsa yang tidak mau takluk

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 4


dibawah jajahannya, diadu domba dengan saudaranya seagamanya sendiri. Penjajah
kafir Belanda telah mengadu domba bangsa Padang dengan bangsa Aceh yang sama-
sama diketahui sebagai pilar utama Islam Nusantara. Bangsa Padang direkrut menjadi
tentara Belanda yang terkenal dengan Pasukan Marsose, lalu mereka diperintahkan
untuk memerangi bangsa Aceh yang tidak mau tunduk kepada penjajah. Terjadilah
pertumpahan darah sesama Muslim, yang satu menjadi antek Belanda dan yang satu
sebagai pejuang yang berjihad melawan kezaliman Belanda. Berapa banyak mujahidien
fie sabilillah di Aceh yang dibantai pasukan Marsose yang didirikan oleh antek Belanda
bernama M. Syarief, tokoh Padang yang akhirnya mendapat medali penghargaan
tertinggi dari Ratu Belanda karena berhasil membantai saudara Muslimnya di Aceh.
Dengan pendekatan kajian ilmiah, masyarakat Nusantara yang sudah tumbuh
berkembang dengan keagungan peradabannya sejak beribu-ribu tahun lalu,
digambarkan oleh para sejarawan kolonial sebagai sebuah bangsa bar-bar, nomaden,
seperti keadaan orang-orang Papua di Lembah Baliem saat ini, yang telanjang dan
tinggal di pohon-pohon. Padahal kenyataannya sangat jauh berbeda. Karena
masyarakat Nusantara adalah salah satu rumpun bangsa tua yang telah berhasil
membangun sebuah entitas budaya dan peradabannya sendiri, sesuai dengan
kemajuan dan perkembangan zaman. Dari penemuan peninggalan-peninggalan situs
sejarah dan benda-benda yang menyertainya dapat diketahui bahwa di wilayah Aceh
sekarang misalnya pernah tumbuh berkembang sebuah peradaban yang digerakkan
oleh para Raja dari Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha seperti Kerajaan Indra Pura, Indra
Purba, Indra Patra dan lain-lainnya.
Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan Taprobana.
Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani
abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah ini dalam
karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemeus menulis bahwa di pulau Taprobana
terdapat negeri yang menjadi jalan ke Tiongkok, sebuah bandar niaga bernama
Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Disebutkan
pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke
Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun
sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun lalu. Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes
Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, atau
‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang sekitar Laut Tengah sudah
mendatangi Sumatera mencari emas, kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus
(Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Para pedagang Nusantara
sudah menjajakan komoditas mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur,
tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi. Dalam kitab
Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Raja Solomon, raja Israil
menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang berada dibawah kekuasaannya.
Emas didapatkan dari negeri Ophir. Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan
bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya”
(al-ardha l-lati barak-Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati
Allah ? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di
Sumatera. Kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 5


Ptolemeus pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang
pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15
dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan asumsi bahwa di sanalah letak negeri
Ophir-nya King Solomon.
Perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa
berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut
”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus
ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan
Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi.
Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia,
melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui
Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga
perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah berjalan sejak
abad pertama sesudah Masehi.

Akan tetapi, karena sering terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan
darat di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-Barat melalui
laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia
dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan
menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra
telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya, peda-
gang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Af-
rika. Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, maka telah menumbuhkan kota-
kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan per-
dagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah
menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Aceh yang diketahui
telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di beberapa delta
sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota transit atau kota perdagangan.
Sebuah penelitian ilmiah yang ditulis Prof. Robert Dick-Read berjudul The
Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Time yang

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 6


dipublikasikan pada tahun 2005 telah membuktikan hubungan yang erat antara
Nusantara, terutama pulau Sumatra dengan benua Afrika sejak abad ke 5 masehi
dengan kapal layar. Penelitian ini telah memberikan bukti-bukti mutakhir tentang
penjelajahan para pelaut Nusantara di abad ke 5, atau 2 abad sebelum datangnya Islam.
Artinya sebelum Islam datang telah terjadi hubungan yang sangat erat antara dunia
Arab sebagai laluan ke Afrika dengan Nusantara, termasuk wilayah Aceh sekarang.
Peradaban dan teknologi yang berkembang di Romawi, Yunani maupun Mesir, Persia
dan India secara otomatis mempengaruhi perkembangan masyarakat Sumatra yang
menjadi laluan transit menuju pusat peradaban di sebelah timur seperti Cina dan
Jepang.
Ini artinya peradaban masyarakat di ujung barat Sumatra yang sekarang dikenal
dengan Aceh adalah diantara peradaban tua di wilayah Nusantara. Namun belum
banyak bukti yang dapat dikemukakan tentang kegemilangan masa lalu peradaban
Aceh, yang menurut beberapa penelitian para ahli disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya (i) belum diadakannya menggalian terhadap situs sejarah purba secara
serius dan menyeluruh akibat pertimbangan politik ataupun konflik berkepanjangan
(ii) hilangnya situs-situs penting, terutama dipinggir laut akibat terjadinya beberapa
kali gelombang tsunami, sebagaimana tsunami 26 Desember 2004 lalu yang
menghancurkan kota-kota purba Aceh yang umumnya dipinggir pantai yang
berhadapan langsung dengan tsunami (iii) adalah menjadi tradisi sebagian masyarakat
Aceh untuk memusnahkan peninggalan sejarah apabila sudah tidak dikehendaki
penguasanya, contoh terdekat adalah pembakaran buku-buku ilmiyah karya Hamzah
Fansuri dan ulama aliran Wujudiyah di depan Masjid Baiturrahman atas perintah
Sultan Iskandar Tsani berdasarkan fatwa Syekh Nuruddin al-Raniri, atau pembakaran
Istana Super Megah yang didirikan Sultan Iskandar Muda, Darud Dunya akibat
terjadinya pemberontakan pada masa Sultanah Inayat Syah. Dan terakhir adalah bumi
hangus Istana pada zaman Sultan Muhammad Daud Syah agar jangan sampai dikuasai
penjajah Belanda.
Keadaan revolusioner dan dinamis yang terjadi di Aceh dari waktu ke waktu
sepanjang 500 tahun terakhir telah memecah konsentrasi para pemimpin dan
cendekiawan Aceh dalam memelihara peninggalan sejarahnya sehingga banyak yang
terbengkalai, hilang, musnah bahkan sengaja dihilangkan dengan alasan keamanan.
Penulis beberapa kali mendapatkan alasan ketakutan nara sumber yang memiliki
peninggalan berharga berupa manuskrip penting, karena jika diketahui aparat akan
diambil dan mereka dituduh sebagai pemberontak atau sparatis. Akibatnya banyak
manuskrip-manuskrip penting peninggalan peradaban Aceh tertanam atau hilang.
Namun demikian, dari sumber-sumber sekunder dapat diketahui kembali,
walaupun masih tingkat awal mula, tentang sejarah kegemilangan Aceh, terutama pada
masa pra-Islam. Data-data tersebut sangat penting untuk mengetahui sejauh mana
tingkat peradaban dan pengetahuan masyarakat Aceh pra-Islam, baik zaman pra-
Hindu-Budha ataupun sebelumnya. Mengingat letak geografi Aceh yang strategis
sebagai laluan dalam perjalanan menuju pulau Jawa atau Timur Jauh lainnya dari
sumber peradaban tua umat manusia, baik di sekitar Asia Tengah, Timur Tengah

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 7


ataupun Afrika. Karena di Jawa atau Kalimantan banyak ditemukan peradaban
manusia yang telah berusia ratusan ribu tahun.
Dari sumber-sumber sekunder, sebagaimana telah disebutkan terdahulu,
ternyata Aceh memiliki peranan penting dalam sejarah peradaban manusia. Salah satu
bukti otentik yang tidak diragukan adalah perjalanan kapur Barus yang telah
menembus peradaban Yunani, Rumawi sampai Mesir klasik. Produk unggulan Barus-
Aceh ini telah menjadi komuditas primadona dunia yang tinggi nilainya, sehingga
megantarkan Aceh sebagai salah satu bagian dari kegemilangan dan ketinggian
peradaban klasik pra-Islam. Tentunya kedatangan manusia-manusia modern pada
zaman itu ke Aceh telah membawa perubahan pada pengetahuan dan kebiasaan
masyarakat, sebagaimana pengaruh kedatangan para relawan asing manca negara saat
ini ke Aceh yang membawa berbagai bentuk pengetahuan, ilmu, budaya dan
peradaban yang mempengaruhi pola hidup masyarakat. Kedatangan mereka sudah
pasti akan membawa kemajuan dan kemakmuran kepada masyarakat Aceh, dan tidak
diragukan bahwa kemakmuran akan mengantarkan kegemilangan peradaban umat
manusia seperti apa yang dialami negara-negara maju seperti Amerika, Eropa maupun
Jepang, India dan Cina saat ini.
Kegemilangan masyarakat Aceh yang telah berkembang pesat sebelum
kedatangan Islam dengan pencapaian-pencapaian peradabannya telah memudahkan
para pembawa Islam untuk memajukannya secara maksimal. Karena lebih mudah
mengajarkan Islam yang sempurna dan menyeluruh kepada orang-orang yang
berperadaban, berpengatahuan dan menggunakan akalnya untuk berfikir. Itulah
sebabnya, saat ini para pendakwah kita lebih mudah menyebarkan Islam kepada
masyarakat modern di Amerika, Eropa ataupun Jepang dari pada masyarakat di
pedalaman Papua atau Kalimantan yang masih hidup telanjang dan jauh dari
peradaban. Sebagaimana tersebar cerita dikalangan pendakwah, jika di Eropa orang-
orang bule cerdik-pandai berlomba-lomba meninggalkan gereja dan masuk Islam
karena alasan rasional dan sesuai dengan perkembangan zaman, tapi di negeri ini
orang-orang bodoh dan tolol bisa diajak masuk gereja karena sebungkus super mie.
Sungguh benar sabda Rasul, kebodohan akan membawa kemiskinan dan kemiskinan
akan menjadikan orang mudah kepada kekafiran.
Masuknya Islam telah mengantarkan masyarakat Aceh, baik pada masa Kerajaan
Jeumpa, Perlak, Pasai dan Aceh Darussalam sebagai bagian dari pergerakan
internasional pembebasan umat manusia dari belenggu kegelapan yang membawanya
sebagai masyarakat berperadaban tinggi berdasarkan nilai-nilai keuniversalan dan
keagungan Islam. Dalam Bustanu’l Salatin, Syekh Nuruddin telah menggambarkan
bagaimana tingginya pengetahuan dan pemikiran masyarakat Aceh, baik di kalangan
para sultan, pejabat negara sampai kepada masyarakat umum sehingga banyak ulama
yang datang ke Aceh harus kembali belajar agar cukup pengetahuannya untuk
mengajar di tengah masyarakat Aceh yang kosmopolit masa itu. Itulah sebabnya para
pemuka Islam menjuluki Aceh sebagai “Serambi Mekkah”, sebagai satu-satunya
serambi Mekkah di dunia, yang tidak lain bermakna sebenarnya adalah karena Aceh
telah menjadi pusat rujukan ajaran dan fatwa Islam di Nusantara. Tradisi dan
peradaban, terutama pemikiran Islam di Aceh sudah berkembang pesat dan bahkan

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 8


para ulama dan cerdik pandainya memiliki kaliber yang sederajad dengan para ulama
Hijaz dan semenanjung Arabia lainnya. Kasus ini dapat dilihat pada diamnya (tawaquf)
ulama-ulama Hijaz di Mekkah atas kepemimpinan wanita selama lebih 50 tahun
pemerintahan 4 orang Sultanah Aceh atas dukungan fatwa Mufti dan Qadhi Malik al-
Adhil, Syekh Abdul Rauf al-Singkili (Maulana Syiah Kuala). Hal ini tidak lain untuk
mengormati ijtihad beliau yang didasarkan pada pengetahuan mendalam dan luas
terhadap ajaran Islam. Setiap utusan Syarief Mekkah yang datang kepada beliau harus
mengakui ketinggian ilmunya serta kesahihan ijtihad dan fatwanya sehingga hujjahnya
tak terpatahkan. Namun setelah beliau wafat, maka Ketua Mufti Mekkah
mengeluarkan fatwa yang memakzulkan (memberhentikan) Sultanah Kamalat
Ziatuddinsyah pada 1699 dengan hujjah bahwa syari’at Islam tidak membenarkan
perempuan menjadi pemimpin negara.
Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw telah berkata: ”Sebaik-baik kamu pada
zaman jahiliyah, akan menjadi sebaik-baik manusia setelah memeluk Islam”. Ini adalah sebuah
ungkapan yang telah menjadi kenyataan dalam sejarah kegemilangan Islam yang telah
dipimpin Rasulullah saw. Pada zaman pra-Islam, banyak sekali tokoh-tokoh
berpotensi, seperti Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid yang secara terang-
terangan menentang Islam pada awal perkembangannya. Umar sendiri sempat mau
membunuh Nabi Muhammad karena dianggapnya sebagai sumber perpecahan
masyarakat Mekkah, namun akhirnya masuk Islam setelah membaca lembaran al-
Qur’an yang dirampasnya dari adiknya yang sudah lebih dahulu masuk Islam. Setelah
memeluk Islam, Umar adalah salah seorang pembela Islam yang berani dan telah
menjadi Khalifah yang menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia. Demikian pula
dengan Khalid yang sempat memimpin kaum musyrikin melawan Nabi Muhammad
sehingga kaum Muslim mengalami kekalahan di perang Uhud. Namun setelah Khalid
masuk Islam, akhirnya dia digelar dengan ”Pedang Allah” yang telah menumbangkan
kekuasaan-kekuasaan besar seperti Romawi dan Parsia.
Masyarakat Arab sendiri sebelum kedatangan Islam adalah masyarakat yang
terbelakang dari segi peradaban dan pengetahuan jika dibandingkan dengan bangsa-
bangsa lainnya, baik Mesir, Rumawi ataupun Persia. Bahkan al-Qur’an sendiri
menyebut masyarakat Arab di sekitar Mekkah sebagai Ummiyun, masyarakat yang
tidak memiliki peradaban dan kekuasaan. Dalam sejarah disebutkan bahwa masyarakat
Arab di sekitar Mekkah jika terjadi musim kemarau panjang, mereka terkadang
menjadi pengungsi dan pengemis di sekitar Kerajaan-kerajaan besar seperti Mesir,
Habsyah ataupun Parsia. Masyarakat Arab pra-Islam digambarkan sebagai sebuah
suku bangsa kecil yang terpecah belah, miskin lagi terbelakang dengan hidup yang
berpindah-pindah. Namun berkat Islam, bangsa yang kecil dan tidak diperhitungkan
ini, dalam waktu kurang dari 30 tahun sejak kebangkitan Nabi Muhammad, telah
menjadi sebuah bangsa besar yang menggetarkan semua super power, dan akhirnya
sejarah membuktikan bahwa semua super power itu tunduk kepada masyarakat ummy
yang telah mendapatkan pencerahan dan kekuatan spiritualitas dari keagungan nilai-
nilai Islam. Selanjutnya umat Islam menjadi mercusuar peradaban manusia, yang
menghubungkan peradaban klasik paganis menjadi peradaban modern rasionalis.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 9


Hal inilah yang terjadi pada masyarakat Aceh. Jika sebelum Islam mereka adalah
sebuah bangsa yang sudah berperadaban maju, maka kedatangan Islam akan
mendorong lebih kencang kemajuan dan pencapaian peradaban mereka sebagaimana
dicatat sejarah. Jika sebelum Islam masyarakat Aceh hanya sebuah kerajaan-kerajaan
kecil dibawah perlindungan Kerajaan Hindu seperti Sriwijaya, maka setelah Islam
datang menyinari masyarakat Aceh, mereka bangkit menjadi sebuah kekuatan baru
yang pada akhirnya menjadi pelopor dan penggerak Islamisasi di Nusantara. Termasuk
menjadi sebab utama tumbang dan lenyapnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, baik di
Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai ke Maluku dan
Papua serta sampai di Sulu dan Mindanao yang telah mapan selama ribuan tahun.
Pusat Islamisasi Nusantara Aceh digerakkan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam silih
berganti yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Dimulai dari berdirinya
Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 770 M oleh Sasaniah Salman, yang dilanjutkan
perannya oleh Kerajaan Islam Perlak tahun 805 M yang didirikan anak Raja Islam
Jeumpa bernama Meurah Syahr Nawi dikembangkan keponakannya Maulana Abdul
Aziz Syah dan keturunannya, disambung oleh Kerajaan Pasai pada abad XII yang
didirikan keturunan Raja Jeumpa dan Perlak bernama Meurah Silu atau Sultan Malik
al-Salih. Dan seterusnya yang mulai mendapat kegemilangan pada masa Kerajaan Aceh
Darussalam yang menggabungkan semua Kerajaan Islam Aceh, menggapai puncaknya
keagungannya pada zaman Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636 M yang
menguasai seluruh pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya serta menjadi pelindung
Kerajaan-Kerajaan Islam lainnya, baik di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku sampai
Sulu-Mindanao.
Demikian pula para Sultan Aceh ikut berperan aktif mendirikan Kerajaan Islam
Jawa terbesar, baik Demak, Mataram maupun Banten. Kerajaan Islam Perlak dan Pasai
secara teratur dan berkala telah mengirimkan para pendakwah Islam ke tanah Jawa
yang digerakkan oleh para ulama keturunan Nabi Muhammad silih berganti. Yang
paling terkenal adalah sebuah gerakan Islamisasi dengan nama Wali Sembilan atau
Wali Songo yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim (Syekh Maghribi) bersama
beberapa keluarga dekat dan keponakannya seperti Sunan Ampel, Sunan Drajad,
Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan lainnya yang memiliki satu jalur keturunan dan
bermuara pada Imam Ja’far Sadiq. Penaklukan mereka terhadap Kerajaan Jawa-Hindu
Majapahit yang dominan masa itu, tidak dilakukan secara perang konfrontatif
mengingat kuatnya Majapahit. Penyebaran Islam dilakukan melalui jalur perdagangan,
perubahan sosial-budaya, pendidikan, dakwah dan yang paling strategis melalui jalur
perkawinan.

*****************

Teori Islamisasi Alam Melayu Khususnya Di Wilayah Aceh: Jeumpa, Perlak & Pasai
Sehubungan dengan proses Islamisasi, khususnya di wilayah Aceh sekarang,
ada beberapa teori yang hingga kini masih sering didiskusikan, baik oleh sarjana-
sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Salah satunya adalah teori
masuknya Islam ke Aceh dari Gujarat, disebut juga sebagai Teori Gujarat. Teori ini

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 10


berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan
untuk menghancurkan Islam di Aceh yang tidak mampu dijajah Belanda. Orientalis ini
bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa
Arab dan Islam dengan sangat giat sampai ke Mesir dan Mekkah, mengaku sebagai
seorang Ulama Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang
tokoh di zamannya. Teori yang diusung oleh Snouck ini mengatakan Islam masuk ke
Nusantara, termasuk Aceh dari wilayah-wilayah di anak benua India seperti Gujarat,
Bengali. Ironisnya Teori ini masih dipakai dalam buku-buku sejarah sampai sekarang
yang menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga
lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.
Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck menyebutkan teori tersebut
didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada
dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga
mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara
wilayah Nusantara dengan daratan India. Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama
kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck
yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena
Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan
dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya.
Teori Gujarat yang dikembangkan bahkan dipaksakan Snouck bersama antek-
anteknya ini telah memberikan pengaruh yang besar terhadap sejarah dan jati di
bangsa Aceh selanjutnya. Pengkerdilan ini telah memutuskan mata rantai spiritualitas
keislaman yang telah berurat berakar pada tradisi, budaya dan peradaban Aceh sebagai
tapak awal Islamisasi Nusantara. Dampak psikologis yang paling kentara adalah kesan
bahwa Aceh adalah salah satu wilayah yang baru tersentuh Islam, yang maknanya
bahwa perkembangan peradaban Islam di Aceh baru beberapa abad.
Untuk mendekonstruksi sejarah sekaligus menguak kepalsuan Teori Gujarat
yang disampaikan antek penjajah Snouck ini, ada beberapa teori yang ingin penulis
sampaikan, diantaranya adalah:

a. Teori Mekkah (Arab)


Salah satu teori Islamisasi Aceh yang paling populer dan memiliki kekuatan
fakta adalah teori yang dikembangkan oleh para pakar dan cendekiawan Muslim dan
mendapat dukungan di kalangan cendekiawan non Muslim, teori ini di kenal dengan
Teori Mekkah (Arab). Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori
Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini
adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A.
Hasymi, dan Hamka.
Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka
mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriyah, atau pada abad VII
dan VIII Masehi. Meski tidak terdapat catatan-catatan sejarah, cukup pantas
mengasumsikan bahwa mereka terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia. Asumsi
ini lebih mungkin bila mempertimbangkan fakta-fakta yang disebutkan sumber Cina
bahwa pada akhir perempatan ketiga abad VII M seorang pedagang Arab menjadi

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 11


pemimpin sebuah pemukiman Arab di pesisir Sumatera. Sebagian mereka bahkan
melakukan perkawinan dengan masyarakat lokal yang kemudian membentuk
komunitas muslim Arab dan lokal. Anggota komunitas itu juga melakukan kegiatan
penyebaran Islam. Argumen Arnold di atas berdasarkan kitab `Ajaib al-Hind, yang
mengisaratkan adanya eksistensi komunitas muslim di Kerajaan Sriwijaya pada Abad
X. Crawfurd juga menyatakan bahwa Islam Indonesia dibawa langsung dari Arabia,
meski interaksi penduduk Nusantara dengan muslim di timur India juga merupakan
faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara Keizjer memandang
Islam dari Mesir berdasarkan kesamaan mazhab kedua wilayah pada saat itu, yakni
Syafi’i. Sedangkan Nieman dan De Hollander memandang Islam datang dari
Hadramaut, Yaman, bukan Mesir. Sementara cendekiawan senior Nusantara, SMN. Al-
Attas menolak temuan epigrafis yang menyamakan batu nisan di Indonesia dengan
Gujarat sebagai titik tolak penyebaran Islam di Indonesia. Batu-batu nisan itu diimpor
dari Gujarat hanya semata-mata pertimbangan jarak yang lebih dekat dibanding
dengan Arabia. Al-Attas menyebutkan bahwa bukti paling penting yang perlu dikaji
dalam membahas kedatangan Islam di Indonesia adalah karakteristik Islam di
Nusantara yang ia sebut dengan “teori umum tentang Islamisasi Nusantara” yang
didasarkan kepada literatur Nusantara dan pandangan dunia Melayu.
Menurut Al-Attas, sebelum abad XVII seluruh literatur Islam yang relevan tidak
mencatat satupun penulis dari India. Pengarang-pengarang yang dianggap oleh Barat
sebagai India ternyata berasal dari Arab atau Persia, bahkan apa yang disebut berasal
dari Persia ternyata berasal dari Arab, baik dari aspek etnis maupun budaya. Nama-
nama dan gelar pembawa Islam pertama ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka
orang Arab atau Arab-Persia. Diakui, bahwa setengah mereka datang melalui India,
tetapi setengahnya langsung datang dari Arab, Persia, Cina, Asia Kecil, dan Magrib
(Maroko). Meski demikian, yang penting bahwa faham keagamaan mereka adalah
faham yang berkembang di Timur Tengah kala itu, bukan India. Sebagai contoh adalah
corak huruf, nama gelaran, hari-hari mingguan, cara pelafalan Al-Quran yang
keseluruhannya menyatakan ciri tegas Arab.
Argumen ini didukung sejarawan Azyumardi Azra dengan mengemukakan
historiografi lokal meski bercampur mitos dan legenda, seperti Hikayat Raja-raja Pasai,
Sejarah Melayu, dan lain-lain yang menjelaskan interaksi langsung antara Nusantara
dengan Arabia.
Hamka dalam pidatonya di acara Dies Natalis Perguruan Tinggi Agama Islam
Negeri (PTAIN) ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958, melakukan koreksi terhadap
Teori Gujarat. Teorinya disebut “Teori Mekah” yang menegaskan bahwa Islam berasal
langsung dari Arab, khususnya Mekah. Teori ini ditegaskannya kembali pada Seminar
Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963. Hamka menolak
pandangan yang menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13
dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan teorinya pada peranan bangsa
Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Gujarat hanyalah merupakan tempat
singgah, dan Mekah adalah pusat Islam, sedang Mesir sebagai tempat pengambilan
ajaran. Hamka menekankan pengamatannya kepada masalah mazhab Syafi’i yang
istimewa di Mekah dan mempunyai pengaruh besar di Indonesia. Sayangnya, hal ini

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 12


kurang mendapat perhatian dari para ahli Barat. Meski sama dengan Schrike yang
mendasarkan pada laporan kunjungan Ibnu Bathuthah ke Sumatera, Hamka lebih
tajam lagi terhadap masalah mazhab yang dimuat dalam laporan Ibnu Batutah. Selain
itu Hamka, juga menolak anggapan Islam masuk ke Indonesia pada abad XIII. Islam
sudah masuk ke Nusantara jauh sebelumnya, yakni sekitar Abad VII.
Pandangan Hamka sejalan dengan Arnold, Van Leur, dan Al-Attas yang
menekankan pentingya peranan Arab, meski teori Gujarat tidak mutlak menolak
peranan Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara. Arnold sendiri telah mencatat
bahwa bangsa Arab sejak abad kedua sebelum Masehi telah menguasai perdagangan di
Ceylon (Srilangka). Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke
Indonesia. Tetapi, bila dihubungkan dengan kepustakaan Arab kuno yang
menyebutkan Al-Hind (India) dan pulau-pulau sebelah timurnya, kemungkinan
Indonesia termasuk wilayah dagang orang Arab kala itu. Berangkat dari keterangan
Arnold, tidaklah mengherankan bila pada abad VII, telah terbentuk perkampungan
Arab di sebelah barat Sumatera yang disebut pelancong Cina, seperti disebutkan
Arnold dan Van Leur.

b. Teori Campa (Jeumpa) Versi Raffles


Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang
peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebutkan bahwa
Campa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang sebagaimana
dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi Campa adalah nama daerah di sebuah
wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Campa adalah ucapan atau
logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”. Jeumpa (Campa) biasanya dihubungkan dengan
sebuah peristiwa pada zaman kerajaan Majapahit, terutama pada masa pemerintahan
Brawijaya V yang memiliki seorang istri yang dikenal dengan ”Puteri Campa”. Ada
yang berpendapat bahwa Puteri inilah yang melahirkan Raden Fatah, yang kemudian
menyerahkan pendididikan putranya kepada seorang keponakannya yang dikenal
dengan Sunan Ampel di Surabaya. Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan
pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang
mengakhiri sejarah Kerajaan Hindu-Jawa Majapahit. Jeumpa yang dinyatakan Raffles
sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen Aceh.
Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim
Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang
benar keberadaannya pada sekitar abad ke VIII Masehi yang berada di sekitar daerah
perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng
Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang
dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa
Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga
merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala
Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh
kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa
Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar).

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 13


Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai
tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket
Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam
mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam
cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang
tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai
pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar
yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya.
Berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh
Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa
pada 154 Hijriah atau tahun 770 Masehi dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia
(India Belakang ?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang
kawin dengan Puteri Mayang Seuludang dan memiliki beberapa anak, antara lain
Shahri Poli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri
yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak. Menurut penelitian pakar
sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan
keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah,
Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri
Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Shahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir.
Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini, disebutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri.
Syekh ini adalah Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh
dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru
Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh Darussalam
pada masa Iskandar Muda. A. Hasymi menyebutkan beliau juga adalah paman dari
Maulana Syiah Kuala (Syekh Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili). Syekh Fansuri dalam
beberapa kesempatan menyatakan asal muasalnya dan hubungannya dengan Shahri
Nawi. Diantaranya syair :
Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ’ali
Daripada ’Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu,


Tempatnya kapur di dalam kayu
Dari rangkaian syair ini, maka jelaslah bahwa ada hubungan antara bumi
Shahrnawi (Shahr Nawi) dengan Fansur yang menjadi asal muasal kelahiran Syekh
Hamzah Fansuri dan tempat yang terkenal kafur Barus. Sebagaimana disebutkan di
atas, Shahrnawi atau Syahr Nawi adalah anak daripada Pangeran Salman (Sasaniah
Salman) yang lahir di daerah Jeumpa, di Aceh Bireuen saat ini. Syahrnawi adalah salah
satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan
beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang
dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul Aziz.
Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan
mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 14


Maka tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan
kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama
pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa.
Menurut beberapa data dan analisis yang akan dikemukakan nanti, bahwa hubungan
antara Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh berkaitan satu dengan lainnya. Pernyataan
Syekh Hamzah Fansuri ini juga menjadi hujjah yang menguatkan teori bahwa Jeumpa,
asal kelahiran Shahrnawi adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara.

c. Teori Hubungan Dagang Arab-Cina


Peter Bellwood dalam Reader in Archaeology Australia National University, telah
melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara. Bellwood
menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi,
beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan
Nusantara dengan Cina. Dia menulis “Museum Nasional di Jakarta memiliki
beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak
barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa
Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London....”. Sifat
perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa
ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan
dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang
berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall
1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa
pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.
Perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa
berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut
”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus
ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan
Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi.
Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia,
melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui
Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga
perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah berjalan sejak
abad pertama sesudah Masehi.
Seringnya terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat,
terutama di sekitar di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-
Barat melalui laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal
Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri
Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-
kapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman
Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan
pantai timur Afrika. Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, maka telah
menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau
Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan
Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 15


wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya
terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota
transit atau kota perdagangan.
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa
—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang
yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang
dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra
Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab
dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Sumatra telah menjadi
tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima
Masehi,”

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang


seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah
Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah
berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera
sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan
wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang
menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674
M telah menemukan sekelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir
Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah
mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air.
HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para
pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.
Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah
mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab,
pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang
sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan
untuk Amirul Mukminin. Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan
bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti
kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan
Khalifah Utsman bin Affan.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 16


Para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus
menjelajah sampai di Timur Jauh. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya
kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur
Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Pada
masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada
Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7
sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.
Setelah abad ke-7 M, Islam sudah berkembang pesat, misalnya menurut laporan
sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali
(Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di
Nusantara (Kerajaan Islam Perlak).

d. Teori Barus-Fansur Aceh


Barus-Fansur adalah tempat yang dikaitkan dengan penghasil kayu kamper
sebagai penghasil kapur (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam
banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani,
kedokteran, dan pengobatan. Kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora,
merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum.
Masyarakat pra-Islam telah mengenal kafur yang masyhur itu, hal ini dibuktikan
dengan penemuan penggunaan kata kafur yang disebut berkali-kali dalam syair-syair
Arab sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Dalam karya dua orang sejarawan, Ibn al-Atir (wafat tahun 1233 M), dan Ibn al-
Baladuri (wafat tahun 1473) tercatat bahwa pada tahun 16 H/637 M, sewaktu
perebutan ibu kota Dinasti Sassanid, yaitu Ctesiphon, orang-orang Arab menemukan
kamper/kafur yang dikira garam di antara rempah-rempah dan wangi-wangian.
Ibn Gulgul, abad ke-10 M, seorang ahli biobibliografi dan ilmu kedokteran dari
Andalusia, mencata kafur atau kamfer dalam 63 bahan obat-obatan baru yang belum
dikenal sebelumnya sebagai obat, kecuali hanya pewangian dan alat-alat ritual semata
di agama-agama paganisme. Ibn Sarabiyun pada abad ke-10 juga mulai
memperkenalkan zat yang sangat ampuh ini. Ibn al-Baytar yang mengutip Ishaq ibn
Imran yang hidup awal abad ke-9 M juga melakukan hal yang sama. Ketiganya melalui
serangkaian eksperimen yang dilakukan berhasil menjelaskan berbagai fungsi dan
kegunaan kafur dengan berbagai campuran untuk khasiat yang berbeda-beda.
Fungsinya dalam berbagai bentuk olahan diantaranya adalah, sebagai balsem,
penghobatan kandung empedu, radang hati, demam tinggi, berbagai penyakit mata,
sakit kepala akibat liver, memperkuat organ dan indra, mengontrol syaraf, pembiusan
alami, pendarahan, menguatkan gigi, dan lain-lain.
Al-Kindi, salah seorang intelektual Arab, menyebutkan kapur barus sebagai
salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. Sekitar abad ke-8, kapur
barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan
Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan safran.
Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang menggunakan
pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan makan.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 17


Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Aveceena, dalam
bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan, al-Qanun Fi
al-Tib, mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu badan
yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai obat liver,
obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Aviceena menulis: "Jika kafur dipakai
sedikit, maka obat ini dapat membantu menenangkan, karena bahan ini dingin. Kadang
kala obat ini menurunkan suhu badan yang tinggi akibat badan kurang sehat karena
lemah. Efek yang menguatkan dan menenangkan ini disertai efek harumnya. Efek
pendinginannya dikurangi dengan kasturi dan ambar, dan kekeringannya dikurangi
dengan minyak wangi dan pelunaknya, misalnya minyak cengkeh dan minyak bunga
berwarna ungu lembayung. Kafur merupakan penangkal racun, khususnya racun
panas. Berkat kafur pikiran menjadi lebih tajam dan terang; oleh karena itu kafur
menguatkan dan menyenangkan. Efeknya serupa ambar kuning, tetapi lebih kuat dan
lebih bermanfaat."
Selain bangsa Arab, bangsa Persia juga berdatangan untuk meneliti kegunaan
kafur dari Fansur ini. Buku tertua mengenai ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa
Persia adalah buku Muwaffak al-Din Abu Mansur Ali al-Harawi (abad ke-10 M), yang
berjudul Kitab al-Abniya 'an haqa'iq al-Adwiya [Buku mengenai dasar dan kebenaran
obat-obatan asli]. Dalam bukunya yang berjudul Hidayat al-muta'alimin fi al-tibb
(Panduan untuk mahasiswa ilmu kedokteran), al-Bukhori (abad ke-10) seorang
mahasiswa Harawi dan dokter terkenal al-Razi (abad ke-9 dan 10 M) berhasil
mengembangkan kafur dalam berbagai bentuk resep, sebanyak 31 resep. Salah satunya
adalah dalam penanggulanagn penularan penyakit pes.
Orang-orang Yunani telah terlibat secara intens dalam pengembangan ilmu
kedokteran. Salah satu buku yang berhasil ditemukan seperti catatan Actius dari
Amide dari abad ke-6 dan ke-7 M, menyebutkan kafur dalam karyanya Libri
Medicinales.
Salah satu surat pertama dari riga surat karya al-Kind yang berjudul al-rasail al-
hikmiyya fi asrul al-ruhaniyya [Risalah-risalah Hukum tentang Rahasia-Rahasia Batin],
dikatakan bahwa kafur milik Devi Venus dan digunakan dalam pengasapan yang
dipersembahkan kepadanya. "Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan Venus dari
cahaya dan kecerahan; Venus memberi kebaikan dalam semua posisinya … di
antaranya batu maha yang dimilikinya; dalam badan manusia, perut dan usus yang
dimilikinya; dalam abjad tiga huruf yang dimilikinya ('ain, ha dan kaf); di antara bahan
murni untuk pengasapan yang dimilikinya terdapat: ambar abu-abu, qust, tanaman
fagara, kafur, bunga mawar kering, laudanum."
Dijelaskan di Alf Layla wa layla (Seribu Satu Malam) oleh Sindbad, sang
petualang yang terkenal: "Sesudah bangun keesokan harinya, kami pergi melewati
gunung-gunung tinggi ke Pulau Riha yang kaya dengan pohon kafur. Setiap pohon
dapat membayangi lebih dari 100 orang. Puncak pohonnya ditoreh dan air yang
mengalir darinya dapat mengisi beberapa wadah. Kafur mulai menetes dan tetesannya
mirip lem. Sesuadah itu kafur tidak meleleh lagi dan pohonnya menjadi kering." Riha
adalah berarti kafur yang bermutu tinggi yang berarti al-Kafur al-Fansuri. Jadi Pulau
Riha yang dimaksud adalah daerah Fansur.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 18


Kapur barus juga dipakai untuk memandikan jenazah sebelum dikuburkan.
Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Manfaat
kapur barus ini kemudian menyebar ke Yunani dan Armenia karena pada periode
tersebut ilmu kedokteran dari Arab dan Persia menjadi acuan dunia.
Di akhir abad ke-4 M, istilah "P'o-lu" yang berarti Barus mulai dikenal oleh
Bangsa Cina. Istilah ini diketahui sebagai rujukan kepada seluruh wilayah utara
Sumatera. Barulah pada akhir abad ke-9, seorang ahli geografi Arab, Ibn Khurdadhbih
menyebutkan nama Ram(n)i: "Di belakang Serendib terletak daerah Ram(n)I, dimana hewan
badak dapat ditemukan… Pulau ini menghasilkan pohon bambu dan kayu Brazil, akar-akar
yang dapat digunakan sebagai obat anti racun-racun mematikan…Di negeri ini juga tumbuh
pohon-pohon kapur yang tinggi,"
Kira-kira pada abad yang sama, sebuah buku Akhbar al-Sin wa al-Hind juga
menyebutkan nama Ramni: "Ramni (yang) terdapat didalamnya gajag-gajah dalam jumlah
yang banyak berserta kayu Brazil dan bambu. Pulau itu dikelilingi oleh dua lautan..Harkand
dan dan Salahit" . Nama Ramni atau Ram(n)I, kemungkinan besar, dengan melihat peta
dan posisi Sri Lanka atau Serendib, adalah Sumatera bagian utara dan lebih tepatnya
lagi timur laut Aceh. (The sea of Harkand was the Bay of Bengal. Salaht (or Salahit) is
believed to be derived from the Malay word selat or Straits, i.e., what is now known as
the Selat Melaka).
Abu Zaid Hasan pada tahun 916 M, saat dia menjelaskan penguasa Maharaja
Zabaj (Sriwijaya) menyebut juga Ranmi: "nama pulau tersebut adalah Rami (Ramni) yang
luasnya delapan ratus parasangs (From the Persian farsakh, it was approximately 3 Y2
miles in extent) di daerah tersebut. Di sana dapat ditemukan kayu Brazil, kapur dan
tumbuhan lainnya."
Pada tahun 943, Masudi mencatat: “Kira-kira seribu parasangs (dari Serendib)
masih terdapat sebuah pulau yang bernama Ramin (yakni Ramni) yang dihuni dan
diperintah oleh raja-raja. Daerah tersebut penuh dengan tambang emas, dan dekat
dengan tanah Fansur, yang menjadi asal kapur fansur, yang hanya dapat ditemukan di
Fansur dengan jumlah yang besar dalam tahun-tahun yang penuh dengan topan dan
gempa bumi.
'Ajaib al-Hind', yang ditulis tahun 1000 M, menjelaskan banyak referensi
mengenai Lambri. Muhammad ibn Babishad melaporkan: ”Di Pulau Lamuri terdapat
zarafa yang tingginya tidak terkira. Dikatakan bahwa pelaut-pelaut yang terdampar di
Fansur, terpaksa harus pindah ke Lamuri. Mereka mengungsi di waktu malam karena
takut dengan zarafa; karena mereka tidak muncul di siang hari… Di pulau ini juga
terdapat semut-semut raksasa dalam jumlah besar, terutama di kawasan Lamuri ”....
"Lububilank, yang merupakan sebuah teluk, (Tibbetts identifies this with Lho' Belang
Raya (Telok Balang), 5°32f N, 95°17' E. Ibid., p. 141) terdapat orang-orang yang
memakan manusia. Orang-orang kanibal ini mempunyai ekor, dan menghuni tanah
antara Fansur dan Lamuri."
Lambri dalam karya para ahli geografi Arab tidak dijelaskan lebih lanjut. Ramni
juga disebutkan oleh Biruni pada tahun 1030. Nama tersebut juga ditulis dalam teks
Dimashqi di tahun 1325 dalam buku Cowan,"Lamuri," hal. 421.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 19


Satu-satunya sumber India menyebutkan Lambri dalam transkrip Tanjore dari
Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola, dimana nama "Ilamuridesam yang
sangat murka terlibat dalam perang" disebutkan bersama toponim lain sebagai daerah
target-target penggempuran mereka pada tahun 1025.
Ahli geografi Cina Chou Ch'u-fei menulis, pada tahun 1178, nama Lan-li dimana
kapal-kapal dari Canton atau Guangdong sering merapat sambil menunggu bulan
purnama untuk memudahkan mereka berlayar menuju Lautan India tepatnya Sri
Lanka dan India.
Hampir lima puluh tahun kemudian, Chau Ju-kua menyebut Lan-wu-li, dan
melaporkan bahwa; "Hasil-hasil produksi kerajaan Lan-wu-li adalah kayu sapan
(Brazilwood (Caesalpinia sappan, Linn.), gading gajah dan rotan putih. Penduduknya
menyukai perang dan sering menggunakan panah beracun. Dengan angin utara, pelaut
dapat berlayar selama dua puluh hari ke Silan…."
Dia selanjutnya mendukung informasi yang diberikan oleh Chou Ch'u-fei:
”Ta-shi terletak di Timur Laut dari Ts'uan-chou dengan jarak yang sangat jauh, jadi
kapal-kapal asing kesulitan untuk melakukan pelayaran langsung. Setelah kapal-kapal
tersebut meninggalkan Ts'uan-chou mereka akan berlayar terlebih dahulu selama
empat puluh hari ke Lan'li, dimana mereka akan menyempatkan diri untuk berdagang.
Tahun berikutnya akan kembali ke laut, dengan dukungan angin mereka akan
menghabiskan enam puluh hari untuk melanjutkan perjalanan.
Marco Polo, sekembalinya dari Cina ke Eropa tahun 1292, menyebutkan, selain
Perlak yang sudah memeluk Islam, nama Lambri bersama lima kerajaan kafir lainnya.
Dia menulis bahwa; "Penduduknya penyembah berhala, dan menyebut dirinya hamba
Kaan yang agung. Mereka memiliki kapur dalam jumlah yang besar dan sejumlah spesis
lainnya. Mereka juga memiliki kayu brazil dalam jumlah yang besar…" Di tahun 1284
dan juga tahun 1286, Lambri dilaporkan mengirimkan upeti kepada Dinasti Yuan di
China.
Seorang musafir Persia, Rashiduddin, pada tahun 1310 menulis bahwa para
saudagar dari berbagai negara sering datang ke Lamori, dan pada tahun 1323, Friar
Odoric dari Pordenone menjelaskan bahwa Lambri merupakan pusat perdagangan di
mana para saudagar dari negara-negara yang sangat jauh, dan kapur, emas dan pohon
gaharu juga tersedia. Di sini dia kehilangan pandangan terhadap bintang utara.
Wang Ta-yuan pada tahun 1349, menulis tentang Nan-wu-li, yang katanya:
”Tempat ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting di Nan-wu-li.
Pegunungan raksasa bak gelombang terdapat dibelakangnya, terletak di pinggiran laut
Jih-yueh wang yang sangat diragukan di sana ada tanah. Penduduk setempat hidup di
sepanjang bukit, setiap keluarga tinggal di rumah masing-masing. Masing-masing
lelaki dan wanita menggulung rambut mereka dalam sanggul di atas namun
membiarkan bagian atas tubuh mereka terbuka, dan bagian bawah dibungkus sarung.
Buminya sangat tandus, panennya sangat jarang, dan iklimnya sangat panas. Sebagai
kebiasaan, mereka tunduk kepada bajak laut seperti orang-orang di Niu-tan-his
(Tumasek). Komoditas lokal adalah sarang burug, cangkang kura-kura, cangkang
penyu dan kayu laka, yang sangat bermutu dalam hal aroma. Komoditas yang biasanya

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 20


diperdagangkan di sini adalah emas, perak, aksesoris besi, bunga mawar, muslin
merah, kapur, porcelin dengan desain biru dan putih dan lain-lain.”
Pada tahun 1365, Kronik Jawa, Negarakrtagama, menggambarkan Lamuri
sebagai negara yang tergantung kepada Majapahit.
Ma Huan yang menulis pada awal tahun 15 M, menyebutkan Nan-po-li, yang
dikunjungi oleh kapal induk dinasti Ming, dengan nakhoda Cheng Ho: ”Kerajaan ini
terletak di samping laut, dan penduduknya terdiri dari hanya seribu keluarga.
Semuanya Muslim, dan mereka sangat jujur dan tulus. Di bagian timur teritori itu,
terletak sebuah negeri bersama Li-tai, dan di bagian barat dan utara terletak lautan luas;
jika anda pergi ke selatan, terdapat pegunungan; dan di bagian selatan pegunungan
tersebut terletak lagi lautan. Ma Huan juga menyebutkan nama Pulau Wei, sebuah
pulau sekitar sembilan mil lauty di lepas pantai Timur Laut Aceh yang juga terdapat
pelabuhan alami yang bagus, sekarang terdapat pelabuhan Sabang. Pulau Wei sering
disebutkan dalam sumber-sumber sejarah dan dalam terjemahan bahasa Cina bernama
"pulau Hat". Ch'ieh-nan-mao, sebuah daerah penghasil kayu gaharu.
Ma Huan menggambarkan Pulau Wei: ”Terletak di arah laut Timur Laut Lambri,
dimana terdapat pegunungan raksasa yang sangat curam, yang dapat dicapai dengan
setengah hari perjalanan; namanya pegunungan Mao. Di bagian barat pegunungan ini,
juga, terdapat lautan luas; ini namanya Samudra Barat yang disebut Samudra Nan-mo-
li, kapal-kapal yang datang dari Samudra dari arah barat berlabuh di sini, dan mereka
melihat pegunungan ini sebagai petunjuk arah. Di laut yang dangkal, sekitar dua cang
dalamnya, di pinggir pegunungan, tumbuh pohon-pohon laut; penduduk di sana
mengumpulkannya dan menjualnya sebagai komoditas yang berharga. Ini namanya
karang. Kerajaan ini tunduk kepada jurisdiksi kerajaan Nan-po-li.
Awal abad ke-16 M, Tome Pires memberikan gambaran yang lebih tepat
mengenai lokasi Lambri. Dia mengatakan bahwa; "Aceh merupakan negara pertama di
bagian pulau Sumatera, dan Lambri benar-benar di bagian kanannya, yang terletak
menjorok ke darat dan tanah Biar (45) terletak antara Aceh dan Pidie, dan sekarang
negeri-negeri ini tunduk kepada Aceh dan memerintah di kedua wilayah tersebut
dan dialah raja satu-satunya di sana. Raja ini adalah Moo…".
Istilah Lambri dan beberapa versi lainnya biasanya ditujukan kepada seluruh
pantai utara Aceh, nampaknya hal tersebut di atas menunjukkan pada titik tertentu
yang menjadi informasi kepada pelayaran yang aman dari ombak Teluk Bengal, sebuah
sumber air segar. Buku Hikayat Atjeh juga memberikan petunjuk. Pada halaman 17 dari
manuskrip tersebut, diterbitkan oleh Teuku Iskandar, terdapat sebuah petunjuk
mengenai Lambri, "teluk Lambri".
Chau Ju-kua tidak menyebutkan kapur diperdagangkan di Lambri, tapi diduga bahwa
Ujung Pancu dan Kuala Pancu di Lhok Lambro dekat banda Aceh kemungkinan besar sangat
berhubungan dengan Fansur. Kapal-kapal yang harus memutar di Ujung Pancu, harus melalui
Lambri ke Barus. Nama Lambri dan Barus, makanya, sering dibingungkan dalam pelayaran
kuno karena eratnya kedua kota ini. Sementara Chia Tan yang menulis buku pada era awal
abad ke-8, menyebutkan pelabuhan P'o-lu, merupakan daerah yang kaya dengan emas,
mercury dan kapur. Pelabuhan tersebut merupakan titip kepergian bagi kapal-kapal yang datang dari
Sriwijaya barat melalui Samudera India ke Sri Langka.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 21


f. Teori Kaafuro Dalam al-Qur’an
Hubungan erat Aceh-Melayu dengan dunia Arab juga dapat ditelusuri dari
beberapa kata di dalam al-Qur’an. Sebagaimana diketahui al-Qur’an adalah kumpulan
wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan
malaikat Jibril as sejak pertama diangkat menjadi Nabi di Gua Hira’ sampai beliau
wafat di Madinah pada tahun 10 Hijriah. Sampai saat ini tidak ada satupun manusia
yang dapat menyanggah bahwa al-Qur’an dengan segala kemukjizatannya bukan
berasal dari Allah Sang Pencipta. Karena mana mungkin seorang yang buta huruf
seperti Nabi Muhammad dapat membuat sebuah kitab agung yang memiliki gaya
bahasa Arab tertinggi dan tidak mampu dijangkau oleh seorang pujangga teragung
sekalipun. Karena al-Qur’an bukan hanya kitab sastra, tapi kitab hukum, undang-
undang, pengetahuan, politik dan seterusnya yang disampaikan dengan untaian indah.
Terlalu banyak makhluk yang tertegun dengan keindahan al-Qur’an. Telah disepakati
para Ulama, bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sebagaimana dinyatakan
al-Qur’an sendiri. Namun bahasa Arab al-Qur’an adalah bahasa Arab tertinggi yang
telah melahirkan gramatika bahasa Arab kontemporer. Para ulama juga berpendapat
ada beberapa kata al-Qur’an yang bukan berasal dari bahasa Arab asli, namun bahasa
non Arab yang sudah banyak digunakan dan dimengerti oleh masyarakat Arab.
Salah satu bahasa Aceh-Melayu yang sudah tersebar di dunia Arab, termasuk
Mesir sejak zaman kekuasaan Ramses (Fir’aun) adalah kafur. Sebagaimana dijelaskan
terdahulu dalam teori kafur Barus, bahwa kafur min barus adalah sebuah komuditas
mewah wangi-wangian yang berasal dari inti kayu kamfer yang dalam bahasa latin
dikenal dengan champora. Tidak diragukan bahwa penghasil terbesar kapur zaman itu
adalah wilayah yang terletak di ujung barat pulau Sumatera, yang sekarang berada di
wilayah Aceh. Bahkan dalam teori terdahulu telah disebutkan banyak dalil tentang
Barus-Fansur awal, yang berada di sekitar Lamuri-Aceh.
Pada al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat ke 5 menyebutkan: Sesungguhnya orang-
orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafur.
Kebanyakan mufassirin dalam tafsirnya masing-masing seperti Ibn. Abbas, Jalalain, al-
Qurthubi, Ibn Katsir dan lain-lainnya, mengartikan kafur sebagai campuran dari
minuman yang merehatkan, nikmat, yang dapat membuat tenang dan biasanya
dijadikan obat. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai nama mata air di syurga.
Pendapat pertama lebih banyak dirujuk mengingat penggunaan kafur yang sudah
umum sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian dan bahan perisa di dunia Arab pra-
Islam seperti di Alexenderia Mesir dan lainnya. Namun hampir semuanya sepakat
bahwa kata ini bukan asli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Ibn Manzhur dalam
Lisan al-Arab karena tidak ditemukan dalam bahasa Arab Jahiliyah atau bahasa Arab
purba. Maka dengan demikian, tidak diragukan bahwa kata kafur yang dimaksudkan
al-Qur’an adalah kapur dari Barus sebagai lambang kemewahan pada zaman itu .
Kata "kafur", menurut Karel Steenbrink, secara pasti bukan istilah Arab. Akar
kata "kafara" bisa berarti menghindari atau tidak berterima kasih. Sedangkan kata
"kafur", yang berarti kapur barus atau kamper, berasal dari bahasa Melayu. Steenbrink
menyimpulkan bahwa kata "kafur" bukan hanya penghubung secara etimologis antara

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 22


al-Qur'an dan Nusantara, tetapi juga komoditi yang sejak abad ke-7 telah dibawa oleh
pedagang Muslim dari Nusantara.
Dengan terdapatnya kata kafur di dalam al-Qur’an, maka dapat diartikan bahwa
daerah penghasil kafur yang paling populer di seluruh dunia, seperti Barus, Fansur,
Lamri dan sekitarnya di wilayah Aceh, tentu telah berhubungan erat dengan
masyarakat tempat al-Qur’an diturunkan, yaitu masyarakat Arab. Saking populernya
kafur dalam masyarakat Arab sebagai sebuah simbol kenikmatan, sehingga
dimasukkan sebagai kata dalam al-Qur’an. Jika kita boleh mengambil hikmah
dimasukkannya kata kafur ke dalam al-Qur’an, Sang Sumber al-Qur’an mudah-
mudahan bermaksud untuk memberi perhatian dan kehormatan pada asal benda ini,
Aceh, sebagai kawasan yang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama-Nya.
Dan memang sejarah telah membuktikan bahwa Aceh telah menjadi tapak persemaian
penting Islam di Nusantara yang telah melahirkan Kerajaan-Kerajaan Islam yang
sangat berpengaruh dalam proses Islamisasi dan menggusur peran Hindu-Budha.

f. Teori Korespondensi Khalifah Abdul Aziz-Raja Sri Indravarman


Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid sebagaimana dikutip
Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara
Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara
raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah Umar bin Abdul Azis yang
terkenal adil tersebut.
“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga
cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya
terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur
barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang
tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda
hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda
persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan
Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,”
Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini
berlangsung pada tahun 100 Hijriah atau 718 Masehi. Tak dapat diketahui apakah
selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara
Sriwijaya dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di
Nusantara. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan
dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada
kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan
kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.

g. Teori Kerajaan Islam Perlak


Perlak pada tahun 805 Masehi adalah bandar pelabuhan yang dikuasai
pedagang keturunan Parsi yang dipimpin seorang keturunan Raja Islam Jeumpa
Pangeran Salman al-Parsi dengan Putri Manyang Seuludong bernama Meurah Shahr
Nuwi. Sebagai sebuah pelabuhan dagang yang maju dan aman menjadi tempat
persinggahan kapal dagang Muslim Arab dan Persia. Akibatnya masyarakat

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 23


Muslim di daerah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali
lantaran banyak terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanita-
wanita setempat, sehingga melahirkan keturunan dari percampuran darah Arab dan
Persia dengan putri-putri Perlak. Keadaan ini membawa pada berdirinya kerajaan
Islam Perlak pertama, pada hari selasa bulan Muharram, 840 M. Sultan pertama
kerajaan ini merupakan keturunan Arab Quraisy bernama Maulana Abdul Azis
Syah, bergelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Menurut Wan
Hussein Azmi, pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi'ah.
Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan
Revolusi Syi'ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin
Abdullah bin Mu'awiyah yang masih keturunan Ja'far bin Abi Thalib. Bin Mu'awiyah
telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan istana di
Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan, Qamis,
Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan pasukan
Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam pertempuran Maru
Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke Timur Jauh. Para ahli
sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung Malaysia, Cina, Vietnam, dan
Sumatera, termasuk ke Perlak.
Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua
berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w'l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni al-
Fasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang
pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap
menindas pengikut Syi'ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-
Rasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin Ja'far
Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib,
memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan
memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah.
Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja'far Shadiq
dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan.
Makmun menganjurkan pengikut Syi'ah itu meninggalkan negeri Arab untuk
meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran
itu pun lantas dipenuhi. Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang pimpinan
Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi'ah Arab, Persia, dan Hindi ---termasuk
Muhammad bin Ja'far Shadiq--- segera bertolak ke timur dan tiba di Bandar Perlak
pada waktu Syahir Nuwi menjadi Meurah (Raja) Negeri Perlak. Syahir Nuwi
kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja'far Shadiq dengan adik kandungnya,
Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul
Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari kerajaan Islam Perlak
dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah.
Dari beberapa teori di atas, dapatlah disimpulkan bahwa proses Islamisasi ke
Aceh sudah terjadi sejak awal perkembangannya, ketika Nabi Muhammad saw masih
hidup yang dilakukan oleh para saudagar Arab yang memang sudah hilir mudik
berdagang dari Mesir, Aden, Muscat, Parsia, Gujarat ke Cina melalui Barus-Fansur
yang dipastikan terletak di ujung barat pulau Sumatera. Para saudagar Arab pra-Islam

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 24


diketahui sudah memiliki perkampungan di sekitar pesisir pulau Sumatera, terbentang
dari Barus-Fansur, Jeumpa, Perlak sampai di Palembang pada zaman Kerajaan Hindu
Sriwijaya.
Islamisasi Aceh mengalami puncaknya pada zaman Khalifah al-Rasyidin,
terutama di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab yang gencar
mengirimkan para duta yang merangkap sebagai pendakwah Islam sampai ke negeri
Cina, pada sekitar awal abad ke VII Masehi. Cina menjadi tujuan dakwah para Khalifah
berkaitan dengan sebuah hadits Nabi yang populer: tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri
Cina. Karena Cina pada zaman itu telah mencapai keemasaanya, sebagaimana Rumawi,
Yunani ataupun Mesir dan Parsia sebagai pusat-pusat perdagangan, peradaban dan
kemakmuran dunia yang jejaknya masih terekam jelas pada peta jalur sutera (silk road).
Jalur ini kemudian dipindahkan ke jalur laut karena berkembang pesatnya teknologi
kelautan dengan kapal-kapalnya yang mampu berlayar lama.
Para pembawa Islam datang langsung dari Semenanjung Arabia yang
merupakan utusan resmi Khalifah atau para pedangan profesional Islam yang memang
telah memiliki hubungan perdagangan dengan Aceh, sebagai daerah persinggahan
dalam perjalanan menuju Cina. Hubungan yang sudah terbina sejak lama, yang
melahirkan asimiliasi keturunan Arab-Aceh di sekitar pesisir ujung pulau Sumatra,
telah memudahkan penyiaran Islam dengan bahasa asal mereka, yaitu bahasa Arab
yang dengan al-Qur’an diturunkan. Pengaruh bahasa Aceh-Melayu dalam al-Qur’an
dapat dijumpai pada kata kafuro, yang tidak pernah ada dalam bahasa Arab pra-Islam.
Hubungan baik antara masyarakat Aceh dengan pendatang dari Arab telah
mendorong tumbuhnya perkampungan yang membesar menjadi Kerajaan-Kerajaan
Islam sebagai pengganti Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Islam pertama di
Aceh, yang juga merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan
Islam Jeumpa yang didirikan oleh salah satu keturunan Nabi Muhammad yang
melarikan diri dari Persia bernama Sasaniah Salman al-Parsi pada tahun 154 Hijriah
atau sekitar tahun 770 Masehi. Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat Islamisasi di
Nusantara, khususnya Aceh. Salah seorang Pangeran Jeumpa, Shahrnawi, yang
namanya disebut oleh Syekh Hamzah Fansuri, menjadi pelopor pedirian Kerajaan
Islam Perlak pada tahun 805 Masehi, dan mengangkat anak saudaranya, Maulana
Abdul Aziz cicit dari Imam Ja’far Sidiq sebagai Sultan pertama Kerajaan Perlak pada
tahun 840 M.
Maka jelaslah kebohongan Teori Gujarat, atau teori tentang masuknya Islam dari
Gujarat pada abad ke 12 dan 13 M yang dipopulerkan Snouck bersama antek-anteknya.
Karena ternyata Islam berkembang sejak awal abad ke VII Masehi, lebih awal 600 tahun
dari yang dikemukakan Teori Gujarat Snouck.

**********************

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 25


Sekilas Tentang Kerajaan Islam Pasai
Kerajaan Islam Pasai yang juga terkenal dengan Samodra Pasai adalah sebuah
Kerajaan Islam di pesisir utara pulau Sumatra. Bahkan menurut ahli sejarah, perkataan
Sumatra sendiri berasal dari perkataan Samodra, yang dalam loghat Arab berbunyi
Samutra, dan ketika bangsa Eropa datang menyebutnya dengan Sumatra. Sejak itulah
pulau besar ini disebut dengan Sumatra yang juga menjadi bagian dari wilayah
kekuasaan Kerajaan Samodra yang berpusat di Pasai. Sementara asal kata Pasai ada
yang berpendapat berasal dari bahasa Aceh Pase (pasir) atau pohon Pase. Namun
penelitian yang lebih mendekati, bahwa Pasai berasal dari kata Parsi (Persia), yang
dilogatkan dalam bahasa masyarakat lokal Aceh sebagai Pasee. Hal ini berkaitan
dengan banyaknya orang-orang dari Persia yang bermukim menempati wilayah Pasai
masa itu, sehingga dinamakan dengan Pasee sebagai kebiasaan orang dulu untuk
menamakan kampung halamannyanya jika menempati wilayah baru. Seperti di Kedah
ada kampung Aceh, atau di beberapa tempat terdapat nama kampung Melayu,
kampung Bugis atau kampung Jawa.
Pendapat kata Pasai berasal dari Parsia ini dikuatkan dengan beberapa bukti
sejarah, seperti hubungan erat Kerajaan Pasai dengan Persia masa itu. Demikian pula
makam-makam para Sultan Pasai sangat mirip dengan makam-makam di Persia,
bahkan ditemukan huruf Arab-Persia dan beberapa ukiran dan relief yang berbau
Persia. Pada makam Sultan Malik al-Saleh dan makam Sultanah Nahrishah sendiri
ditemukan beberapa kalimat dalam bahasa Persia dengan tulisan kaligrafi Arab-Persia.
Demikian pula silsilah para Sultan di Pasai, sebagaimana juga Sultan di Perlak
menyambung dengan Pangeran dari Persia bernama Syahriansyah Salman al-Parisi
yang memiliki anak Shahr Nuwi dan menjadi Sultan di Perlak, yang menjadi nenek
moyang para Sultan di Pasai. Dengan demikian tidak diragukan bahwa kata Pasai
(Pasee) berasal dari kata Persia.
Secara silsilah kekeluargaan, tidak diragukan bahwa Kerajaan Islam Pasai adalah
kelanjutan dari Kerajaan Islam Perlak yang terlebih dahulu telah didirikan oleh Meurah
Shahri Nuwi putra Sharianshah Salman al-Farisi (Raja Islam Jeumpa tahun 770 M di
Bireuen). Dimana Kerajaan Perlak mulai mengalami kejayaan sejak dipimpin oleh
Maulana Abdul Aziz Syah pada tahun 225 H atau 840 M. Salah seorang keturunan dari
Sultan Perlak dari garis Shahri Nuwi, yang dikenal dengan Sultan Malik al-Salih (w.
1297 M) yang digelar sebagai Meurah Silu mengembangkan sebuah kawasan
perdagangan baru di antara Kerajaan Jeumpa dengan Kerajaan Perlak, kemudian
berkembang menjadi kekuatan politik baru dengan berdirinya Kerajaan Islam Pasai.
Perkembangan yang cepat Kerajaan Pasai pada akhirnya menggantikan peranan
Kerajaan Islam Perlak yang mulai menurun peranannya pada awal abad ke 13 Masehi.
Di sini perlu diluruskan beberapa legenda yang menyatakan bahwa Meurah Silu
bukan terlahir sebagai seorang Muslim, namun dia menganut Islam sesudah menjadi
Raja Pasai sebagaimana yang dinyatakan dalam Sejarah Melayu berdasarkan kepada
hikayat Raja-Raja Pasai yang diragukan kredibilitasnya. Realitas ini sungguh
bertentangan dengan fakta sejarah, karena jelas silsilah Meurah Silu (Malik al-Salih)
menyambung kepada keturunan Ahlul Bayt, diperkirakan menyambung dengan
Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 26


binti Muhammad saw. Fakta ini diperkuat oleh peristiwa kedatangan Nakhoda
Khalifah yang dipimpin oleh Sayyid Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Ash-Shaqid
bin Imam Muhammad Al-Baqir, diterima baik oleh Shahir Nuwi di Perlak, bahkan anak
Sayyid Muhammad bernama Sayyid Ali dikawinkan dengan Saudara Shahr Nuwi
bernama Makhdum Tansyuri yang melahirkan Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah.
Adapun silsilah Sultan Malik al-Saleh (Meurah Silu) adalah: Sultan Malik al-
Saleh (Meurah Silu) putra Meurah Makhdum Malik Ahmad (Raja Jeumpa) putra
Meurah Makhdum Ahmad (Raja Samalanga) putra Meurah Makhdum Malik Ibrahim
(Raja Jeumpa) putra Meurah Makhdum Malik Masir (Raja Isak-Gayo II) putra Muerah
Makhdum Malik Isak (Raja pertama Isak-Gayo) putra Sultan Makhdum Alaiddin
Abdul Malik Syah (Sultan Perlak VII) putra Sultan Makhdum Alaiddin Muhammad
Amin Syah (Sultan Perlak VI) putra Sultan Makhdum Alaiddin Abdulkadir Syah
(Sultan Perlak V) putra Meurah Makhdum Ahmad (Perdana Menteri Perlak pada masa
Sultan Perlak II, Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdurrahman Syah) putra Meurah
Makhdum Bahrum (Perdana Menteri Perlak pada masa Sultan Perlak I, Sultan Alaiddin
Maulana Sayyid Abdul Aziz Syah) putra Meurah Shahri Nuwi (pendiri Perlak) putra
Sahriansyah Salman al-Parisi (Raja Islam pertama Jeumpa) yang datang dari Persia.
Menurut ahli sejarah beliau adalah keturunan dari Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali,
cucu Nabi Muhammad saw yang dilahirkan di Persia dan menjadi Raja di Jeumpa
Bireuen.
Penelitian para ahli sejarah Ahlul Bayt, seperti Tun Suzanna dari Malaysia
menyimpulkan bahwa ada 2 gelombang kedatangan keturunan Nabi saw ke
Nusantara. Yang pertama langsung dari Persia, umumnya keturunan dari Imam Ja’far
Shadiq yang telah menjadi petinggi di Kerajaan Persia dengan menggunakan gelar
Syah (Shah), dan di Aceh dikenal dengan Syahri seperti yang digunakan oleh Pangeran
Salman al-Parisi kepada anak-anaknya Shahri Nuwi, Shahri Poli, Shahri Dito, Shahri
Duli. Sementara keturunan Shahri Nuwi selanjutnya menggunakan gelar Makhdum
kepada keturunannya. Sementara gelombang kedua yang datang dari Yaman atau
Hadramaut dari keturunan Muhammad Isa al-Muhajir, sudah menggunakan gelar
Sayyid dengan tambahan dibelakang marga seperti Jamalullail, Al-Habsyi, Al-Idrus
dan lainnya.
Dengan demikian jelas bahwa Sultan Makhdum Malik al-Salih adalah salah
seorang Ahlul Bayt Nabi Muhammad yang memiliki hubungan dekat dengan para
Sultan Kerajaan Perlak maupun Jeumpa yang menjadi penggerak Islamisasi Nusantara.
Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila Sultan Malik al-Salih begitu tampil
memimpin Kerajaan Pasai, kemudian memproklamirkannya sebagai pusat Islamisasi
Nusantara menggantikan peranan Kerajaan Perlak atau sebelumnya Kerajaan Jeumpa.
Sebelumnya Pasai adalah sebuah perkampungan yang menjadi bandar transit
bagi para pedagang yang menggunakan kapal layar dari negeri Arab menuju Cina
ataupun sebaliknya. Namun dengan kemunculan Kerajaan Pasai pada awal abad 13
Masehi yang dipimpin Sultan Malik al-Salih, telah terjadi perubahan drastis dalam lalu
lintas perdagangan di selat Malaka. Aceh yang dahulunya dikenal sebagai daerah
penghubung, kini menjadi lebih aktif dalam perdagangan. Kerajaan Pasai menjadi
pusat perdagangan dalam mengekspor hasil-hasil hutan dan pertanian. Komuditas

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 27


Lada adalah diantara hasil pertanian yang sangat digemari oleh orang-orang Eropa,
Arab dan Cina, yang telah menaikkan nama Kerajaan Pasai di seluruh dunia yang
mendorong hadirnya saudagar-saudagar asing dari seluruh dunia. Berbagai kapal
dagang dari seluruh dunia datang membawa bermacam-macam dagangan untuk
diperjual-belikan di pelabuhan Pasai.
Di bawah kepemimpinan Sultan Malik al-Salih yang memiliki kemampuan besar
kepemimpinan serta berpegang teguh pada ajaran Islam, Kerajaan Pasai berkembang
pesat bukan hanya sebagai bandar pelabuhan yang mengimpor berbagai komuditas di
kawasan Selat Malaka pada saat itu, namun beliau mendorong rakyatnya menguasai
berbagai teknologi. Dan terbukti masyarakatnya tergolong memiliki teknologi yang
maju, khususnya dalam teknologi pertanian. Itulah sebabnya Kerajaan Pasai menjadi
salah satu negeri pengekspor berbagai bentuk hasil pertanian, seperti lada, bawang,
semangka, pisang, tebu, jeruk dan lain-lainnya.

Pasai Sebagai Pusat Khilafah Islamiyah


Bersamaan dengan kebangkitan Kerajaan Islam Pasai sekitar tahun 1250an M,
pusat-pusat Khilafah Islamiyah yang berada di Bagdad, Persia, dan sekitarnya sedang
mengalami masa-masa tersulit akibat penyerangan demi penyerangan yang dilakukan
oleh pasukan bar-bar Mongolia yang dipimpin Jenghis Khan yang terkenal sadis dan
haus darah. Setelah berhasil menguasai daratan Cina, maka pasukan bar-bar Mongolia
Jenghis Khan menyerang pusat-pusat peradaban Islam yang tengah mengalami
kelalaian akibat kemegahan yang mereka alami.
Pada mulai tahun 1258 M, Bagdad sebagai pusat Khilafah Islamiyah jatuh ke
tangan tentara Mongol dan mengalami penghancuran demi penghancuran. Para ahli
sejarah menggambarkan Sungai Tigris dan Eufrat berubah menjadi hitam bercampur
merah akibat darah kaum muslimin dan tinta dari buku-buku yang mengandung
peradaban Islam yang mengalir ke sungai tersebut. Sementara pasukan Mongol tidak
berhenti sampai di Bagdad, namun terus menguasai wilayah-wilayah Islam lainnya.
Dan hampir semua dunia Islam Arab bertekuk lutut kepada kekejaman tentara bar-bar
Mongol. Bahkan tentara bar-bar berhasil menguasai pusat-pusat peradaban Barat di
Roma, Yunani dan lainnya. Itulah sebabnya Jenghis Khan dijuluki sebagai penakluk
terbesar dengan wilayah jajahan 4 kali lebih besar dari jajahan yang dilakukan
Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain) ataupun penaklukan Muslim.
Keadaan ini telah mendorong hijrah besar-besaran kaum muslimin, baik para
pemimpin, ulama, cendekiawan, ilmuawan dan lainnya ke negeri muslim yang lebih
aman dari pembantaian tentara Jenghis Khan. Salah satu pilihan terbaik adalah
berhijrah ke Kerajaan Islam Pasai yang memang sudah menjadi bagian penting dari
jaringan Khilafah Islamiyah yang diwariskan turun temurun oleh Kerajaan Islam di
Sumatra sejakan zaman Khalifah Umar bin Khattab. Apalagi sebelumnya, para Raja
Muslim di Sumatra, termasuk di Pasai adalah berasal dari negeri Arab dan Persia yang
memiliki hubungan kekerabatan dengan para penguasa di tanah Arab, terutama yang
memiliki garis keturunan dengan Bani Quraisy, baik keturunan Rasulullah (Ahlul
Bayt), Bani Umayyah ataupun Abbasyiah.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 28


Dengan datangnya para pemimpin, ulama, cendekiawan, ilmuawan dan lainnya
ke Pasai, maka secara otomatis Pasai bangkit menjadi sebuah kekuatan baru di Pulau
Sumatra. Kedatangan para Muslim dari Bagdad dan pusat-pusat peradaban Islam
disekitarnya seperti Samarkand, Bukhara dan lainnya telah memberikan kedudukan
baru kepada Pasai sebagai sebuah pusat pertumbuhan peradaban Islam di kawasan
alam Asia Tenggara, yang terbentang dari Sumatra, Semenanjung Melayu, Borneo,
Cilabes, Mindanao, Maluku sampai ke Australia dan Kepulauan Hawai.
Kepemimpinan Sultan Malik al-Saleh yang didukung oleh kaum muslimin
terbaik yang hijrah ke Pasai telah membangkitkan Kerajaan Pasai menjadi pusat sentral
kekuatan dunia Islam di sebelah timur, baik kekuatan politik, ekonomi sekaligus
sebagai pusat kebangkitan peradaban Islam, sebagai kelanjutan dan kesinambungan
dari peradaban Islam yang telah berkembang di dunia Arab, baik Syam, Persia, Bagdad
dan lainnya. Dan akhirnya, dengan kemajuan-kemajuan yang digapainya, tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa Kerajaan Islam Pasai menjadi Pusat Khilafah
Islamiyah yang menggantikan peranan Bagdad, terutama sebagai pusat pengembangan
kekuatan politik, pertahanan, ekonomi dan peradaban. Realitas inilah yang telah
mengkwatirkan Kerajaan Hindu Jawa-Majapahit sehingga berniat untuk menyerang
dan menaklukkan Pasai. Namun menaklukkan Pasai di puncak kegemilangannya
dengan sumber daya manusia unggul dari penjuru dunia, bukanlah perkara mudah.
Kegagalan Majapahit dalam menaklukkan Pasai inilah yang selanjutnya mendorong
para pemimpin Kerajaan Pasai untuk menaklukkan Majapahit yang semakin melemah.
Pada tahap awal, menaklukkan Jawa-Majapahit bukanlah menjadi prioritas dari
Kerajaan Islam Pasai yang kini telah menjadi Pusat Khilafah Islamiyah di timur.
Prioritas utama adalah menyelamatkan dunia Muslim Arab, khususnya Mekkah al-
Mukarramah dari ancaman pasukan bar-bar Mongol yang haus darah. Sekaligus
mengkonsolidasi kekuatan dunia Muslim dengan menggalang kerjasama dengan para
pemimpin Islam, baik di dunia Arab, Persia sampai ke daratan Cina kecil. Berkat
persatuan aliansi Kerajaan Islam di Dunia Arab, Persia dan Cina dengan pusat
kordinasi di Pasai, maka kekuatan Mongolpun dapat dijinakkan, sekaligus
mengislamkan pemimpinnya, Timur Lank, cucu dari Jenghis Khan. Dan sejak saat itu,
kekuatan Islam terbentang dari dunia Afrika, Arab, Persia, Asia Tengah, Mongolia
sampai ke Cina, dan tentu Pasai sebagai salah satu poros kekuatan di Asia Tenggara
yang dikenal bangsa Arab dengan bilad Tahta Jawi atau Negeri Bawah Angin, yang
akhirnya sisebut Jawi saja atau Jawa sekarang.
Kebesaran dan kemegahan Kerajaan Islam Pasai, yang dikenal dengan Samudra
Pasai, juga telah mempengaruhi nama dari pulau yang sekarang bernama Sumatra.
Sebagaimana diterangkan terdahulu, Samudra, jika dibaca dengan lidah asing akan
terdengar sebagai Samutra, yang akhirnya berevalusi menjadi Sumatra, yang menjadi
sebutan bagi pulau besar sebelah barat, yang terbentang sepanjang Salahit atau Selat,
yang sekarang dinamakan dengan Selat Malaka.
Letak georafi Kerajaan Pasai yang strategis, yang di dukung oleh alamnya yang
subur, digerakkan oleh masyarakat kosmopolit dizamannya yang berhijrah pasca
kejatuhan Bagdad serta dukungan kebijakan penguasa, telah mengantarkan Pasai
menjadi salah satu bintang kebangkitan Islam di timur. Kebesaran nama Pasai telah

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 29


mendorong kedatangan para cerdik pandai Muslim dari negeri Arab, Persia, India dan
lainnya untuk membangun kekuatan baru, baik secara politik maupun ekonomi.
Sepeninggal Sultan Malik al-Salih, Kerajaan Pasai berkembang dengan pesatnya
di bawah kepemimpinan keturunan beliau yang tetap menjalankan kebijakan yang
telah digariskan para pendahulunya, bahwa Pasai sebagai penggerak dan pusat
Islamisasi Nusantara. Ibnu Batutah, seorang musafir dan peneliti sosial asal Maroko
telah mengunjungi Kerajaan Pasai antara tahun 1345-1346 Masehi. Dia menyebutkan
dalam catatannya bahwa kerajaan ini sudah maju dalam perdagangan; hubungan
dagang telah diadakan secara luas dengan Tiongkok dan India. Sultan Malik al-Zahir,
yang memerintah Kerajaan Pasai pada waktu itu, adalah seorang sultan yang saleh lagi
sangat taat kepada agama. Ia bermazhab Syafie dan sangat gemar mengadakan
pertemuan ilmiah, dengan para ulama untuk berdiskusi tentang masalah-masalah
agama. Setiap hari jum’at ia pergi ke masjid dengan berjalan kaki. Ibnu Batutah juga
menyebutkan sejumlah ulama menjadi pembesar istana, antara lain: Amir Daulasa dari
Delhi, Qadi Amir Said dari Shiraz dan ahli hukum Tajudin dari Isfahan.
Pengamatannya menyimpulkan bahwa pada saat itu, Kerajaan Pasai dalam
kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa. Hal ini dibuktikan ketika Sultan
mengadakan acara pernikahan putra beliau yang menggambarkan kebesaran dan
kemewahan istana Kerajaan Pasai.
Perkembangan pesat Kerajaan Pasai yang telah mengantarkan kemakmuran dan
kebesaran masyarakatnya, dan terutama kemampuannya sebagai pelopor dan
penggerak Islamisasi di Nusantara, telah menimbulkan hasud dan dengki kerajaan-
kerajaan lainnya, terutama kerajaan Budha Thailand yang bekerjasama dengan kerajaan
Jawa-Hindu Majapahit yang telah merancang penyerangan dan penghancuran
Kerajaan Pasai dengan berbagai cara agar melemahkan semangat Islamisasi di
Nusantara. Pada pertengahan abad ke 14 Masehi Kerajaan Majapahit melakukan
penyerangan terhadap Kerajaan Pasai yang mendapat perlawanan hebat dari para
mujahidin Pasai yang telah mendapat pendidikan kerohanian dari para Wali, sehingga
banyak menimbulkan korban di kedua belah pihak. Bahkan dikabarkan, Mahapatih
Gadjah Mada yang memimpin penyerangan ke Pasai telah menjadi korban dan
terbunuh ketika melarikan diri. Itulah sebabnya Kerajaan Pasai tetap eksis dan bangkit
kembali menjadi salah satu Kerajaan Islam yang terkuat di Asia Tenggara.
Kemakmuran dan kebesaran Pasai dalam abad-abad berikutnya, bukan saja
telah menjadikannya sebagai pusat penyebaran agama Islam dengan mengirimkan para
muballigh ke tempat-tempat yang diperlukan, terutama ke Patani, Malaka, Borneo,
Jawa sampai Mindanao dan Maluku. Tetapi juga sebagai pusat pengajian tinggi Islam
di mana berkumpul berbagai ulama dan sarjana yang mengajar dan membahas
masalah-masalah agama serta menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang
muncul dan datang dari daerah-daerah sekitar Asia Tenggara. Disebutkan dalam
Sejarah Melayu bahwa seorang ulama sufi dari Mekkah, Syekh Abu Ishak telah menulis
sebuah buku berjudul Durr al-Manzum, yang terdiri dari dua bab, pertama tetang zat
Allah dan kedua tentang sifat Allah. Atas anjuran muridnya Maulana Abu Bakar, kitab
tersebut ditambah bab ketiga tentang af’al Allah (perbuatan Allah). Kemudian Maulana
Abu Bakar membawa kitab tersebut ke Sultan Malaka, Sultan Mansyur Syah. Sultan

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 30


menerima kitab tersebut dengan upacara khusus kebesaran seperti menyambut tamu
kehormatan Kerajaan. Selanjutnya kitab tersebut dikirim ke Pasai untuk diberi
penjelasan lebih mendalam oleh seorang ulama Pasai bernama Makhdum Patakan.
Pemahaman keislaman para Sultan, Ulama, Cendekiawan dan rakyat Pasai pada saat
itu berkembang pesat, yang tidak hanya membahas aspek-aspek fiqih dan hukum
semata, namun sudah mencapai pembahasan yang bersifat ”esoterik” sebagaimana
yang dibuktikan dengan beberapa jawaban Ulama Pasai bernama Makhdum Muda
kepada Sultan Malaka yang telah mengutus Tun Bija Wangsa.
Kebesaran dan kemakmuran Kerajaan Pasai akhirnya telah mengantarkannya
sebagai pusat rujukan dan pengembangan pemikiran Islam di timur jauh, tempat
berkumpul para Ulama dan Cendekiawan membahas masalah-masalah keagamaan dan
tentunya sebagai pusat pendidikan tingkat tinggi keislaman. Itulah sebabnya Kerajaan
Pasai dianggap oleh daerah-daerah lain di Nusantara sebagai pusat rujukan dan fatwa
yang berwenang dalam menyelesaikan masalah-masalah agama. Hal ini memang
sangat memungkinkan, sebagaimana disebutkan Ibnu Batutah, bahwa di Kerajaan
Pasai telah tinggal beberapa jenis Ulama dan Cendekiawan, seperti ahli hukum Islam,
para penyair, para hukama (ahli filsafat) dan lain-lain.
Peran sentral Kerajaan Pasai sebagai motor penggerak Islamisasi di Nusantara,
terutama menjelang abad ke 15 Masehi semakin menonjol, sehingga banyak menarik
minat para Cendekiawan Muslim dari seluruh penjuru dunia untuk datang. Di antara
tokoh yang nantinya sangat berpengaruh dalam Islamisasi Nusantara, khususnya
Islamisasi Jawa yang masih di bawah dominasi Kerajan Hindu-Budha, adalah Saiyid
Hussein Jamadul Kubra dengan dua orang anaknya, Maulana Ishak dan Maulana
Malik Ibrahim yang datang dari derah Samarkand, Parsia. Kedatangan tokoh-tokoh
Ulama dan Cendekiawan besar dunia Islam, baik dari Yaman, Hadramaut, Maroko
(Maghribi), Persia maupun India dan lain-lainnya, benar-benar telah menjadikan Pasai
sebagai poros baru peradaban Islam, khususnya dalam pengembangan pemikiran
keislaman atau selanjutnya berperan dalam melahirkan gerakan-gerakan seperti Wali
Sembilan yang telah mengislamkan tanah Jawa dengan pendekatannya yang khas.

Gerakan Auliya Sikureng (Wali Sembilan) Kerajaan Islam Pasai


Bumi Aceh sangat terkenal dengan bumi para auliya. Namun tidak banyak di
antara orang-orang Aceh sendiri yang dapat menyebutkan nama-nama para wali yang
telah berperan mengembangkan Islam sehingga menjadikan Aceh sebagai bangsa maju
dan besar, sehingga menjadi pelopor dalam dakwah Islamiyah. Ironisnya, ada di antara
auliya yang berasal dari tanah Aceh, namun tidak dikenal oleh bangsa asalnya, namun
sangat terkenal di tanah Jawa.
Misalnya Wali Sembilan, auliya sikureung, yang di tanah Jawa sangat terkenal
dengan sebutan Wali Songo. Mereka adalah para tokoh penggerak Islamisasi di
Nusantara yang telah berperan aktif dalam pendirian Kerajaan Demak, sebagai
Kerajaan Islam pertama yang telah mengakhiri riwayat kegemilangan Kerajaan Jawa-
Hindu Majapahit, simbol kemegahan masyarakat Hindu Jawa. Disamping itu mereka
juga telah mendirikan Kerajaan Islam dari Pattani, Champa, Kelantan, Brunei, Sulu,
Mindanao, Pontianak, Banten, Makassar sampai Maluku dan Fak-Fak Papua. Namun

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 31


tidak banyak yang mengetahui, dari manakah asal para auliya ini dan dimanakah pusat
gerakan mereka dalam mengislamisasikan Nusantara.
Sampai sekarang banyak para peneliti, baik yang Muslim dan non Muslim
berbeda pendapat tentang asal-usul mereka. Ada yang menyatakan mereka berasal dari
negeri Cina, Turki, Bukhara (Rusia) dan lain-lainnya sehingga menimbulkan kekeliruan
sejarah yang berdampak buruk pada kebenaran sejarah Islam yang sepatutnya menjadi
teladan dan pengajaran generasi masa kini. Maka untuk meluruskan kekeliruan
tersebut, diperlukan sebuah penelitian menyeluruh terhadap peristiwa-peristiwa yang
berkaitan dengan sejarah para wali ini.

Gerakan Wali Sembilan Awal


Wali Sembilan awal, adalah para wali yang telah berperan menggerakkan
dakwah Islamiyah terutama sebelum lahirnya gerakan Wali Sembilan (Wali Songo)
yang terkenal di tanah Jawa. Menurut sejarahnya, para wali ini sangat berperan dalam
mendorong lahirnya gerakan dakwah Islamiyah yang telah melahirkan gerakan Wali
Songo. Boleh dikatakan bahwa wali sembilan awal ini pelopor dan peristis
terbentuknya gerakan yang nantinya dikenal dengan Wali Songo. Bahkan mereka
adalah kakek, bapak atau guru daripada Wali Songo yang telah berhasil mendirikan
Kerajaan Islam Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri
Kerajaan Hindu Majapahit. Di tanah Jawa memang sejarah mereka tidak banyak
beredar sehingga nama mereka tidak dikenal luas, kecuali beberapa orang seperti
Sayyid Jamaluddin al-Husein dan Maulana Malik Ibrahim. Tapi di Champa, Pattani,
Kelantan dan Semenanjung Malaya nama mereka sangat terkenal, bahkan keturunan
mereka sampai sekarang menjadi Sultan di Malaysia.
Karena dalam tulisan ini hanya membahas peranan para wali di sekitar Kerajaan
Pasai dan yang berperan atau berhubungan dengan gerakan Wali Songo di tanah Jawa,
maka penulis hanya membatasinya dengan tokoh-tokoh yang hidup disekitar Pasai dan
memiliki peranan langsung dengan Wali Songo. Menurut penelitian penulis, mereka
yang dapat dikategorikan sebagai Wali Sembilan Awal adalah: (1).Sayyid Jamaluddin
Syah Jalal, (2).Sayyid Qamaruddin Syah Jalal, (3).Sayyid Majduddin Syah Jalal,
(4).Sayyid Tsanauddin Syah Jalal, (5).Maulana Malik Ibrahim, (6).Maulana Sayyid
Ibrahim Sayyid Jamaluddin, (7).Sayyid Wan Abdullah Sayyid Jamaluddin (Wan
Bo/Raja Champa), (8).Sayyid Ali Nurul Alam Sayyid Jamaluddin (Raja Kelantan), (9).
Sultan Malik Al-Zahir II (Sultan Pasai).

Sayyid Jamaluddin Kubra (Maulana Sayyid Akbar-Sayyid Hussein Jamadil Kubra)


Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Sayyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad,
dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-
saudaranya (wali no 1 sd no 6) konon telah mengembara ke Asia Tenggara.....
Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Aceh (Pasai) dan Kamboja,
Pattani kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di
Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia
meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula anaknya, Sayyid Ibrahim (wali
no 6) ditinggalkan di Aceh (Pasai) untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 32


Kemudian, Sayyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu
meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi
adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Inilah tokoh utama Wali Sembilan Awal,
atau yang menjadi jalan lahirnya Wali Sembilan atau Wali Songo yang terkenal di tanah
Jawa.
Sayyid Syah Ahmad atau ayahanda Sayyid Jamaluddin adalah seorang
Gubernur di zaman Maharaja India dari Kesultanan Delhi yang bernama Sultan
Muhammad Taghlug yang memerintah pada tahun 1325-1351. Beliau adalah keturunan
dari Sayyid Ahmad Isa Al-Muhajir dari jalur Sayyid Abdul Malik Alawi yang lahir di
kota Qasam, Hadramaut yang berhijrah ke India dan mendapat kedudukan terhormat
di Kesultanan Islam India masa itu. Pada pertengahan abad 14 M, anak Sayyid Syah
Ahmad yang bernama Sayyid Jamaluddin Al-Hussein meninggalkan India untuk
mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah timur, menuju Kerajaan Islam Pasai
yang telah berkembang menjadi pusat Islamisasi Nusantara dan telah menggantikan
peranan Bagdad yang hancur lebur akibat penyerangan tentara bar-bar Mongolia.
Adapun silsilah lengkap Sayyid Jamaluddin adalah : Jamaluddin Al-Husain
(Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin
Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin
Muhammad bin Alawi bini Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin
Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali
Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.
Rombongan Sayyid Jamaluddin tiba di Kerajaan Islam Pasai diperkirakan pada
zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II antara tahun 1360an M. Pada masa inilah
masa-masa puncak kegemilangan Kerajaan Islam Pasai yang terkenal ke seluruh
penjuru dunia sebagai Kerajaan Samodra yang berpusat di Pasai. Kegemilangnnya
Kerajaan Samodra telah mempengaruhi nama dari pulau tempat Kerajaan Islam ini,
Sumatera, (Samodra-Samotra(arab)-Sumatera(eropa). Rombongan para Sayyid dari
Kerajaan Islam Tughlug India ini mendapat sambutan dan penghormatan besar di
Kerajaan Islam Pasai, karena mereka adalah para Ulama dan Maulana yang menjadi
guru pengajaran Islam. Apalagi Sultan Malik al-Zahir II dan ayahandanya, Sultan
Malik al-Zahir atau kakeknya Sultan Malik al-Saleh adalah keturunan dari para Sultan
Perlak (Maulana Abdul Aziz Syah) dan Raja Jeumpa (Syahir Nawi-Shahriansyah
Salman) yang kedua-dunya bertemu pada jalur Ja’far Shadiq, cucu dari Sayyidina
Hussein bin Fatimah binti Rasulullah saw.
Menurut catatan Ibn Batutah dalam Rihlah Ibnu Batutah, jilid II, hal. 185-187 dan
209-210, Sultan Malik al-Zahir II, yang memerintah Kerajaan Pasai pada waktu itu,
adalah seorang sultan yang saleh lagi sangat taat kepada agama dan sangat gemar
mengadakan pertemuan ilmiah, dengan para ulama untuk berdiskusi tentang masalah-
masalah agama. Setiap hari jum’at ia pergi ke masjid dengan berjalan kaki. Ibnu
Batutah juga menyebutkan sejumlah ulama menjadi pembesar istana, antara lain: Amir
Daulasa dari Delhi, Qadi Amir Said dari Shiraz dan ahli hukum Tajudin dari Isfahan.
Pengamatannya menyimpulkan bahwa pada saat itu, Kerajaan Pasai dalam
kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa. Hal ini dibuktikan ketika Sultan

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 33


mengadakan acara pernikahan putra beliau yang menggambarkan kebesaran dan
kemewahan istana Kerajaan Pasai.
Itulah sebabnya mengapa rombongan Sayyid Jamaluddin dan Maulana Malik
Ibrahim mendapat sambutan dan penghormatan luar biasa oleh Sultan dan para
petinggi Kerajaan Pasai. Karena memang sebelumnya hubungan antara Pasai dengan
Delhi, sebagai negeri asal rombongan Sayyid Jamaluddin, sudah terhubung rapat yang
dibuktikan dengan adanya ulama besar dari Delhi di Kerajaan Pasai, Maulana Amir
Daulasa sebagaimana disebutkan Ibnu Batutah. Mungkin saja kedatangan Sayyid
Jamaluddin merupakan sebuah kelanjutan muhibbah antara Pasai dan Delhi. Maka
tidak mengherankan apabila Sayyid Jamaluddin memilih Pasai sebagai tujuannya,
karena kebesaran Pasai sudah menjadi legenda di Kerajaan Delhi.
Sebagaimana kedudukan Maulana Amir Daulasa pada Kerajaan Pasai, maka
tidak diragukan bahwa Sayyid Jamaluddin dengan rombongannya, termasuk Grand
Master gerakan Wali Songo di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim, juga mendapat
kedudukan terhormat di Kerajaan Pasai. Mereka telah menjadi tokoh-tokoh utama dan
sentral yang mempengaruhi kebijakan Kerajaan Islam Pasai, khususnya pada zaman
pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II, atau penggantinya Sultan Zainal Abidin dan
Sultan Salahuddin. Peranan mereka bukan hanya sebagai tokoh agama saja, tapi juga
mengurusi masalah-masalah politik internasional, membangun jaringan politik
internasional yang menghubungkan antara dunia Arab, Parsia, India, Cina dengan
dunia Islam Nusantara yang berpusat di Kerajaan Islam Pasai. Di antara fokus mereka
adalah mengembangkan kekuasaan Kerajaan Islam Pasai ke seluruh Nusantara agar
menjadi patron bagi Kerajaan Islam di seluruh Nusantara. Karena dengan semakin
besarnya kekuasaan dan wilayah Kerajaan Pasai akan mempermudah gerakan
Islamisasi Nusantara, termasuk startegi jitu untuk meredam perkembangan Kerajaan
Budha Thailand di sebelah barat dan Kerajaan Hindu Majapahit di sebelah timur.
Sayyid Jamaluddin menikah dengan salah seorang puteri di Kerajaan Pasai yang
dikenal dengan ”Putri Jeumpa”, yang juga saudara ipar dari Sultan Malik al-Zahir II,
Sultan Pasai. Jadi Sayyid Jamaluddin dengan Sultan Malik al-Zahir II sepengambilan
(biras). Pernikahan Sayyid Jamaluddin ini melahirkan putera yang bernama Sayyid
Ibrahim al-Akbar (bukan Maulana Malik Ibrahim). Selanjutnya Sayyid Ibrahim
mendapat pendidikan dari Maulana dan Ulama Kerajaan Pasai. Beliau menikah dengan
kerabat bangsawan Kerajaan Pasai, yang dikenal dengan julukan ”Putri Jeumpa”
bernama Candra Wulan. Puteri inilah bersaudara dengan ”Puteri Jeumpa” dari kerabat
Kerajaan Pasai yang terkenal bernama Darwati (Dwarawati) yang menjadi Maha Ratu
dari Raden Brawijaya V dari Kerajaan Jawa-Majapahit. Perkawinan Sayyid Ibrahim
dengan Putri Candra Wulan telah melahirkan dua orang putera yang menjadi Ulama
besar, yaitu Maulana Sayyid Ishaq yang menjadi Ulama dan penasihat utama Sultan
Pasai di zaman Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin, dan beliau juga sekaligus
ayahanda dari Raden Paku atau Sunan Giri, anggota Wali Songo. Putra yang lain
adalah Maulana Sayyid Rahmatullah yang di tanah Jawa terkenal dengan Raden Sayyid
Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi pemimpin utama Wali Songo di tanah Jawa.
Beliau lahir pada tahun 1401 M di lingkungan istana Kerajaan Pasai.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 34


Setelah mempersiapkan diri dengan berbagai perlengkapan dakwah di Kerajaan
Islam Pasai, maka berangkatlah ke arah barat, Sayyid Jamaluddin Syah Jalal bersama
beberapa Maulana untuk mengislamkan negeri Siam (Thailand), Cina Kecil dan
Semenanjung Melayu. Beliau berhasil mengislamkan beberapa kawasan seperti
Champa, Senggora, Pattani, Kelantan, Kedah dan sekitarnya. Kemudian beliau
mendirikan Kerajaan Islam di Champa dan mengangkat anaknya bernama Wan Bo atau
Wan Abdullah menjadi Sultan Champa pertama. Selanjutnya beliau mendirikan
Kerajaan Islam di Pattani dan Kelantan. Walaupun secara politik beliau tidak dapat
menaklukkan Kerajaan Budha Siam (Thailand) yang memiliki kekuatan besar, namun
beliau telah meletakkan dasar-dasar dakwah Islamiyah di wilayah tersebut. Di
Kelantan Sayyid Jamaluddin menikah dan memiliki putra bernama Sayyid Ali Nurul
Alam. Sementara Sayyid Ali Nurul Alam memiliki dua orang putera yang menjadi
Sultan, yaitu Syarif Hidayatullah yang dibesarkan di Pasai dan menjadi Sultan Kerajaan
Islam Banten-Jawa Barat pertama dan Sultan Ba’abullah yang menjadi Sultan Ternate-
Maluku. Selanjutnya Sayyid Jamaluddin berangkat ke Majapahit mendukung
perjuangan Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu mengembangkan dakwah.
Setelah beberapa lama beliau ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi
Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”.

Maulana Malik Ibrahim bin Sayyid Husein Jamadil Kubra


Adapun Wali Sembilan Awal yang berdakwah ke timur (Jawa-Majapahit) adalah
Maulana Malik Ibrahim. Beliau adalah tokoh paling senior dan Grand Master dalam
gerakan para Wali yang di tanah Jawa dikenal dengan Wali Songo. Pada awal abad ke
14, beliau berangkat ke tanah Jawa dan memusatkan gerakan dakwahnya di daerah
pelabuhan sekitar kota Gresik dan Tuban Jawa Timur, berdekatan dengan pusat
Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Namun dakwahnya tidak mendapat sambutan akibat
besarnya pengaruh Kerajaan Hindu-Majapahit terhadap rakyatnya, karena Raja
Majapahit dianggap titisan Dewa oleh rakyatnya, sehingga mereka tidak berani untuk
menentang atau berbeda pendapat dengan Maha Raja. Maulana Malik hanya dapat
mengislamkan rakyat jelata dari kasta rendah, sementara kalangan istana Majapahit
menolak dakwahnya.
Sebagai seorang pejuang dan pendakwah Islam kawakan sekaligus sebagai
utusan Kerajaan Islam Pasai, Maulana Malik tidak pernah berputus asa untuk
berdakwah. Beliau bersama dengan para pendakwah lainnya mendirikan pusat
Islamisasi dan pendidikan seperti sistem pondok pesantren untuk mendidik para
pendakwah Islam Gresik Tuban Jawa Timur. Beliau juga mempelajari seluk beluk
masyarakat Jawa secara mendalam, dan berkesimpulan bahwa dakwah Islam akan
mudah diterima apabila telah dianut oleh kalangan Kerajaan Majapahit. Maka atas
nama Kerajaan Pasai beliau datang sebagai utusan diplomatik sekaligus sebagai
pendakwah Islam. Beliau juga merancang agar salah seorang Puteri Kerajaan Pasai
terbaik yang sudah muslimah dan bertaraf kader dakwah dapat menjadi Permaisuri
Kerajaan Majapahit. Tujuannya jelas agar Sang Puteri Pejuang ini dapat memberi jalan
bagi perkembangan dakwah Islamiyah ke dalam istana Kerajaan Hindu-Majapahit
kelak. Maka bersama-sama dengan para alim ulama dan Sultan, diputuskan Puteri

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 35


terbaik itu jatuh pada Putri Jeumpa Darwati (Dwarawati), saudara ipar dari Sayyid
Ibrahim al-Akbar atau saudara ibunda Maulana Sayyid Rahmatullah (Sunan Ampel).
Dipilihnya Putro Dwarawati sebagai pejuang garda terdepan dakwah Islamiyah
ke jantung kekuatan Kerajaan Hindu terbesar Majapahit, tentu bukan asal-asalan, tapi
tentu dengan pertimbangan fatwa agama dan politik tingkat tinggi. Karena tidak
dimungkinkan seorang wanita muslimah untuk menikah dengan seorang Hindu. Tapi
fatwa telah diputuskan oleh Ulama dan Maulana dari Kerajaan Pasai dengan
pertimbangan fiqh yang lebih luas dan tingkat tinggi, demi untuk kepentingan dakwah
dan perkembangan Islam.
Berkat diplomasi ulungnya, maka Raden Prabu Brawijaya V, Maha Raja
Majapahit menikah dengan Putro Darwati (Dwarawati), Puteri Jeumpa yang telah
menjadi keluarga besar Kerajaan Islam Pasai. Pernikahan ini telah melahirkan Raden
Fatah yang kelak menjadi Sultan Islam pertama di tanah Jawa. Setelah Raden Fatah
lahir, maka Putro Darwati meninggalkan istana Majapahit menuju Kerajaan Islam
Palembang untuk membesarkan anaknya dengan suasana yang Islam agar kelak
menjadi pemimpin Islam di tanah Jawa.
Maulana Malik Ibrahim meninggal tahun 1419 di Gresik, Tuban Jawa Timur.
Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara sejarawan G.W.J. Drewes
menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang
sebagai wali di antara para wali. ''Ia seorang mubalig paling awal,'' tulis Drewes dalam
bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana,
yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein
Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya
diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.
Peran terbesar dari Wali Sembilan Awal ini adalah memperkuat sistem di
Kerajaan Islam Pasai sehingga menjadi sebuah Kerajaan yang menjadi poros dan pusat
Islamisasi di Nusantara. Kehadiran mereka memperkuat Kerajaan Islam Pasai yang
sudah mulai mengalami kegemilangan di zaman Sultan Malik al-Saleh dan
penggantinya Sultan Malik al-Zahir. Dengan pengetahun dan pengalaman yang
mereka miliki di Kerajaan Delhi, para wali telah menjadi guru bagi bangsawan Pasai.
Demikian pula, mereka telah berhasil mendirikan perwakilan atau jaringan Kerajaan
Pasai di Champa (Kambodia), Pattani, Senggora (Thailand), Kedah, Kelantan, Malaka
(Malaya) dan sampai ke Borneo dan Sulu-Mindanao di Filipina. Walaupun mereka
tidak berhasil menaklukkan Kerajaan Budha Siam (Thailand), namun mereka sudah
mengepung Kerajaan Budha ini dari sebelah barat dengan berdirinya Kerajaan Champa
dan dari sebelah timur dengan berdirinya Kerajaan Pattani dan Senggora. Sehingga
Kerajaan Budha Siam akan berpikir panjang untuk menyerang kembali Kerajaan Pasai
sebagai jantung Islamisasi Nusantara. Maka tugas untuk menyempurnakan dakwah
dan perjuangan mereka kini diembankan kepada generasi sesudah mereka yang di
kemudian hari di kenal dengan Wali Songo.

Wali Sembilan – Wali Songo di Tanah Jawa


Istilah Wali Songo sangat populer di tanah Jawa, namun para ahli berbeda
pendapat tentang asal usul mereka. Perbedaan ini terjadi karena kesalahan dalam

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 36


memahami Jeumpa di wilayah Aceh (Bireuen) sebagai Champa yang berada di
Kamboja. Akibatnya banyak penyimpangan sejarah yang terjadi. Bahkan kemudian ada
yang menyimpulkan bahwa para wali berasal dari Cina. Di antara ahli sejarah yang
berpendapat ”Champa” sebagai asal para Wali juga merupakan wilayah yang terkenal
dan berpengaruh pada proses Islamisasi Nusantara adalah Jeumpa di Aceh, seperti TS.
Rafless, Prof. Hamka dan Prof. Saifuddin Zuhri, Prof. A. Hasymi dan lain-lainnya.
Dengan pemahaman ini, maka sejarah dapat diluruskan sebagaimana adanya.
Pendapat yang menyatakan bahwa para Wali, terutama Raden Rahmat (Sunan
Ampel) berasal dari Champa di Kambodia, perlu diluruskan dengan beberapa fakta,
diantaranya adalah: Keadaan Champa Kambodia ketika zaman Maulana Rahmatillah
(awal abad 15 M) sedang huru hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim
yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada
pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim. Keadaan ini sangat jauh berbeda
dengan keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang
menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan
Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan
dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia.
Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-
masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab
dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi. Dan
Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu
semuanya tahu bahasa Arab.
Menurut beberapa catatan, Champa di Kambodia sedang di perintah oleh Chế
Bồng Nga antara tahun 1360-1390 Masehi, dikenal dengan The Red King (Raja Merah)
seorang Raja terkuat dan terakhir Champa. Tidak diketahui apakah Raja ini Muslim
atau Budha sebagaimana mayoritas penduduk Kambodia masa ini dengan banyak
peninggalan kuil-kuilnya. Beliau berhasil menyatukan dan mengkordinasikan seluruh
kekuatan Champa pada kekuasaannya, dan pada tahun 1372 menyerang Vietnam
melalui jalur laut. Champa berhasil memasuki kota besar Hanoi pada 1372 dan 1377.
Pada penyerangan terakhir tahun 1388, dia dikalahkan oleh Jenderal Vietnam Ho Quy
Ly, pendiri Dinasti Ho . Che Bong Nga meninggal dua tahun kemudian pada 1390.
Tidak banyak catatan hubungan Penguasa Champa ini dengan Islam, apalagi tidak
didapat bekas-bekas kegemilangan Islam, sebagaimana yang ditinggalkan para
pendakwah di Perlak, Pasai ataupun Malaka. Tidak mungkin seorang ulama besar
dapat lahir dalam suasana yang tidak kondusif seperti di Kambodia masa itu.
Maka tidak diragukan bahwa Wali Sembilan Awal, Sayyid Hussein Jamadil
Kubra, Maulana Malik Ibrahim ataupun Sayyid Ibrahim, ayahanda Maulana
Rahmatullah, menjadikan Kerajaan Islam Pasai yang sudah berkembang pesat sebagai
pusat pengajaran Islam menjadi basis awal perjuangan mereka dalam
mengislamisasikan Nusantara. Apalagi diketahui para Sultan sejak Sultan Malik al-
Salih adalah orang-orang yang alim dan taat beragama serta memiliki komitmen yang
kuat terhadap penyebaran dakwah Islamiyah. Kerajaan Islam Pasai yang sudah
menjadi patron kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri di wilayah Nusantara sangat
berkepentingan untuk membantu dakwah Islamiyah para Wali, disamping sebagai

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 37


tuntutan agama sekaligus menjadi strategi untuk mempertahankan eksistensi kerajaan
Islam dari gangguan penyerangan Kerajaan Hindu Majapahit yang berambisi
menguasai Kerajaan Pasai. Kepentingan Sultan Pasai dan para Wali bertemu pada satu
titik utama, mengislamkan Majapahit atau memeranginya sehingga menjadi wilayah
taklukan Kerajaan Islam Pasai.
Gerakan dakwah Islamiyah yang juga sekaligus merupakan gerakan penaklukan
kerajaan-kerajaan Hindu Nusantara dilakukan secara simultan dan teristematis oleh
para Wali dan pengikutnya dengan dukungan penuh penguasa Pasai. Kebutuhan
logistik para Wali sampai militer didukung oleh Kerajaan Pasai. Bahkan para Sultan
dari kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri, seperti di Champa, Pattani, Kelantan
sampai Sulu, Mindanao, Banten, Makassar dan Maluku adalah para kerabat dekat
istana Pasai yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan para Wali. Akhirnya
memang gerakan dakwah Islamiyah para Wali menyatu dengan misi perluasaan
wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Pasai. Sebuah langkah strategis dan jenius yang
telah menjadikan Nusantara sebagai wilayah Islam terbesar di dunia sampai saat ini.
Jadi para Wali yang agung dan mulia ini bukan hanya mengajarkan ajaran
agama semata sebagaimana difahami kebanyakan orang. Tapi mereka benar-benar
telah menegakkan Islam secara menyeluruh sesuai dengan perkembangan zaman dan
masyarakatnya. Mereka bukan hanya memahami Islam sebagai sebuah ritual
kerohanian semata, tetapi mereka menegakkan Islam menjadi sebuah sistem sosial dan
pemerintahan dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang menegakkan syareat
Islam secara bertahap sesuai pemahaman masyarakat zamannya.

Maulana Rahmatillah bin Sayyid Ibrahim (Sunan Ampel)


Gerakan dakwah Islamiyah Wali Sembilan Awal yang digerakkan Sayyid
Hussein Jamadil Kubra, yang selanjutnya diteruskan Maulana Malik Ibrahim yang
telah wafat tahun 1419 di Gresik, Tuban Jawa Timur ke wilayah timur Pasai, dari
Palembang dan tanah Jawa seterusnya dilanjutkan oleh para sahabat dan muridnya
yang datang silih berganti dari Kerajaan Pasai. Diantara penggantinya yang paling
menonjol adalah anak keponakannya bernama Maulana Rahmatullah, anak dari Sayyid
Ibrahim yang dikenal di tanah Jawa dengan Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Beliau
lahir pada tahun 1401 M di lingkungan istana Kerajaan Pasai dari pernikahan Sayyid
Ibrahim bin Sayyid Jamaluddin al-Hussein dengan seorang Putri bangsawan Jeumpa di
kerajaan Pasai yang bernama Chandra Wulan.
Adapun silsilah keturunan Maulana Rahmat (Sunan Ampel) adalah : Maulana
Rahmatullah bin Sayyid Ibrahim bin Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra )
bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad
Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh
Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-
Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein
bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW.
Maulana Rahmatullah atau Raden Rahmat yang terkenal di Jawa dengan Sunan
Ampel mendapat pendidikan terbaik dengan sistem terbaik dan termaju saat itu di

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 38


Kerajaan Islam Pasai, tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan. Karena pada saat itu
Kerajaan Pasai sudah berkembang menjadi sebuah Kerajaan Islam yang kuat dan maju
serta makmur. Kemajuan dan kemakmuran inilah yang telah mendorong datangnya
para ulama dan cendekiawan seluruh dunia, apalagi para Sultan Pasai adalah orang-
orang yang alim dan saleh yang sangat berminat pada pengembangan agama Islam.
Pada awal abad ke 15 M, Kerajaan Pasai telah berkembang menjadi pusat pengajian
tinggi Islam yang berhubungan langsung dengan pusat-pusat peradaban Islam di
Makkah, Mesir, Persia, India, Andalusia dan lainnya. Di bawah asuhan para ulama,
auliya dan cendekiawan besar di Kerajaan Pasai, Maulana Rahmat yang terkenal cerdas
menjadi seorang ulama dan auliya yang disegani dan sangat diandalkan dalam
penyebaran dakwah Islamiyah, khususnya ke tanah Jawa untuk meneruskan
perjuangan kakeknya, Sayyid Hussein ataupun pamannya, Maulana Malik Ibrahim.
Setelah mendapat pendidikan di Kerajaan Islam Pasai, Maulana Rahmat
berdakwah di pulau Sumatera, bersama dengan para auliya lainnya telah
mengislamkan Kerajaan Palembang. Selanjutnya Maulana Rahmat berhijrah pada
tahun 1443 M ke Jawa. Kehadirannya membawa perubahan besar dalam dakwah
Islamiyah di tanah Jawa. Karena kharisma dan ketinggian ilmunya, beliau sangat
disegani oleh para petinggi Majapahit. Pada saat yang sama, saudara ibunya,
Dwarawati sudah menjadi Maha Ratu Majapahit, yang semakin memudahkan gerakan
dakwahnya. Bahkan bibinya inilah yang mengundang Maulana Rahmat datang ke
Kerajaan Majapahit di tanah Jawa, karena kerajaan Hindu besar ini tengah mengalami
masa-masa krisis yang ditimpa kemunduran akibat perpecahan, perang saudara,
perbuatan amoral yang melanda masyarakat. Diharapkan dengan kehadiran Maulana
Rahmat dengan ketinggian ajaran moralitas Islam keadaan dapat diperbaiki dan
mengembalikan wibawa dan kegemilangan Majapahit.
Dengan senang hati Maulana Rahmat datang berdakwah ke Majapahit, apalagi
tujuan utama beliau adalah untuk mendirikan sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa
sebagai ekspansi Kerajaan Islam Pasai, yang sekaligus dapat menjadi penaung gerakan
Islamisasi khususnya di tanah Jawa dan sekitarnya. Namun seruannya untuk
menjadikan Kerajaan Hindu-Majapahit sebagai Kerajaan Islam tidak mendapat
sambutan dari Maha Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Maka beliau memulai gerakan
besarnya dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam dengan sistem pondok
pesantren di Ampeldenta Surabaya.
Dalam perjalanannya menuju Ampeldenta dari Majapahit, Maulana
Rahmatullah berdakwah kepada masyarakat luas dan mendapat sambutan yang luar
biasa dari masyarakat Jawa yang tengah merindukan jalan kebenaran. Dengan
pendekatan dakwahnya yang khas, beliau telah mendapatkan murid dan pengikut setia
yang banyak. Karena ketinggian ilmu pengetahuan dan pengaruhnya yang besar,
Bupati Tuban menikahkan beliau dengan putrinya dan Maulana Rahmatullah
mendapatkan gelar Raden. Gelar bangsawan yang akan memudahkan dakwahnya di
tengah-tengah masyarakat Jawa yang masih sangat feodal dan kental dengan budaya
Hindu yang masih memakai sistem kasta.
Lembaga pendidikan Islam model pondok pesantren yang didirikan Maulana
Rahmatullah, berkembang pesat dan dijadikan sebagai basis untuk menggerakkan

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 39


dakwah Islamiyah, terutama untuk mengislamisasikan tanah Jawa yang masih
mayoritas beragama Hindu dan Budha. Di lembaga pendidikan ini diajarkan bukan
hanya pelajaran agama dan moral saja, namun juga mengajarkan berbagai pengetahuan
yang berkembang masa itu, termasuk ilmu pemerintahan dan ilmu kemiliteran. Karena
terbukti kemudian lulusan lembaga pendidikan ini adalah para pemimpin kerajaan dan
panglima-panglima perang yang berpengaruh dalam menaklukkan beberapa kerajaan
Hindu.
Di antara murid terkemuka Maulana Rahmatullah adalah Raden Fatah yang juga
saudara sepupunya, yaitu anak dari Putroe Dwarawati dengan Prabu Brawijaya V. Di
samping itu beliau juga mendidik anak-anaknya sendiri serta beberapa pemuda-
pemuda Islam lainnya yang kelak menjadi Sunan, seperti Sunan Kalijaga, Sunan
Bonang, Sunan Giri dan lainnya. Setelah gerakan dakwahnya berkembang pesat dan
pengikutnya bertambah banyak, Raden Rahmat membentuk sebuah gerakan yang
beranggotakan para ulama dan auliya, dimana gerakan ini dikenal dengan Wali Songo
atau Wali Sembilan.
Gerakan Wali Sembilan dianggotai oleh : (1).Maulana Rahmatullah bin Sayyid
Ibrahim (Raden Rahmat atau Sunan Ampel), (2).Maulana Makhdum Ibrahim bin
Maulana Rahmatullah (Sunan Bonang), (3).Maulana Syarifuddin Hasyim bin Maulana
Rahmatullah (Sunan Drajat), (4).Maulana Jaafar Sadiq bin Maulana Rahmatullah (Sunan
Kudus), (5).Maulana Ahmad Hassan bin Maulana Rahmatullah (Sunan Lamongan),
(6).Maulana Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq (Sunan Giri), (7).Syarif Hidayatullah bin
Sayyid Ali Nurul Alam (Sunan Gunung Jati), (8).Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga
menantu Maulana Rahmatullah) dan (9).Raden Umar Said (Sunan Muria).
Para Wali yang sangat dekat dan menjadi kerabat istana Kerajaan Pasai ini,
setelah berdakwah dan memiliki pengikut setia, akhirnya mempersiapkan berdirinya
sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa. Sebagaimana tradisi masyarakat Jawa yang
menghormati Maha Raja dan keturunannya, maka Raden Rahmat mempersiapkan
murid, anak menantu, saudara sepupu dari jalur ibunya yang juga anak dari Raden
Brawijaya V, Maha Raja Majapahit bernama Raden Fatah yang telah dididiknya di
Pondok Pesantren Ampeldenta Surabaya sebagai calon Sultan dari Kerajaan Islam
pertama di Jawa. Sebagai seorang Pangeran atau Prabu Majapahit, maka Raden Fatah
berhak mendapat wilayah kekuasaan sendiri di wilayah Majapahit. Maka Raden Fatah
diberikan wilayah kekuasaan di Bintaro Demak.
Setelah mendapat dukungan kuat, Para Wali Sembilan di bawah pimpinan
auliya dan kerabat Kerajaan Pasai, Maulana Raden Rahmat atau Sunan Ampel
memproklamasikan berdirinya Kerajaan Islam Demak sebagai Kerajaan Islam pertama
di tanah Jawa dan mengangkat Raden Fatah sebagai Sultan Kerajaan Islam Demak
dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah pada tahun 1481 M. Selanjutnya Kerajaan
Islam Demak menjadi patron kepada Islamisasi di pusat kekuasaan Kerajaan Hindu
terbesar dan termegah, Majapahit. Berdirinya Kerajaan Demak telah melemahkan
Majapahit yang terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Maka tamatlah riwayat
Kerajaan Hindu-Majapahit dan digantikan perannya oleh Kerajaan Demak yang
menyebarkan Islam ke tanah Jawa. Akhirnya tercapailah cita-cita agung para auliya di

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 40


Pasai untuk menaklukkan Kerajaan Hindu terbesar oleh kader terbaiknya Maulana
Rahmat dan murid-muridnya.

Darawati : Putri Jeumpa Pejuang Pasai Penakluk Majapahit


Tidak banyak yang mengenal apalagi mengetahui sejarah hidup Darwati
(Dharawati), seorang Putro Jeumpa yang secara tidak langsung bertanggungjawab atas
penaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Sejarah agung kehidupannya dapat
dikenal dengan mengungkap misteri keberadaan seorang putri yang di tanah Jawa di
kenal dengan ”Putri Champa”.
”Putri Champa” biasanya dihubungkan dengan istri Prabu Brawijaya V yang
dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bernama Anarawati atau Dwarawati (Darawati)
yang beragama Islam. Ada yang berpendapat bahwa putri inilah yang melahirkan
Raden Fatah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada salah
seorang keponakannya yang lahir di Pasai yang dikenal dengan Sunan Ampel (Raden
Rahmat) di Ampeldenta Surabaya. Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan
pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang
mengakhiri sejarah kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.
Menurut Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga
seorang peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java menyebutkan
bahwa Champa bukan terletak di Kambodia, tapi Champa adalah nama daerah di
sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa adalah
ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”, karena penyebutannya inilah banyak
ahli yang keliru dan mengasosiasikannya dengan Kerajaan Champa di wilayah
Kambodia dan Vietnam sekarang. Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di
sekitar daerah Kabupaten Bireuen Aceh.
Keadaan Jeumpa di sebelah barat pada masa kegemilangan Kerajaan Pasai
menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan
Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan
dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia.
Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-
masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab
dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi. Dan
Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu
semuanya tahu bahasa Arab.
Jeumpa terkenal dengan putri-putrinya yang cerdas dan cantik jelita, buah
persilangan antara Arab-Parsi-India dan Melayu, yang di Aceh sendiri sampai saat ini
terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadis cantik putih kemerah-merahan. Sampai saat ini
Jeumpa masih menyisakan kecantikan putri-putrinya yang sekarang berada di sekitar
Kabupaten Bireuen. Pada masa kegemilangan Pasai, istilah putri Jeumpa (Champa)
sangat populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Putri Jeumpa yang sudah
terkenal kecantikan dan kecerdasannya. Putri Manyang Seuludang, Permaisuri Raja
Muslim pertama Jeumpa asal Persia, Shahrianshah Salman al-Parisi, yang juga ibunda
kepada Syahri Nuwi pendiri kota Perlak. Putri Jeumpa lainnya, Putri Makhdum
Tansyuri (anak Pengeran Salman-Manyang Seuludong/Adik Syahri Nuwi) yang

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 41


menikah dengan kepala rombongan Nakhoda Khalifah, Maulana Ali bin Muhammad
bin Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan
Islam Perlak. Putri Makhdum Khudawi, anak Shahr Nuwi dan istri Maulana Abdul
Aziz Syah. Mereka seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai
Aceh Darussalam. Demikian pula keturunan Syahri Nuwi dari Sultan Perlak bergelar
Makhdum juga disebut sebagai Putri Jeumpa, karena beliau lahir di Jeumpa.
Kecantikan dan kecerdasan putri-putri Jeumpa sudah menjadi legenda di antara
pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa. Itulah
sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mengidam-idamkan
seorang permaisuri dari Jeumpa. Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan
bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu dengan Putri Jeumpa yang
datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim dan para petinggi Pasai
yang datang untuk berdakwah ke pusat Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.
Pada masa hidup Putri Darwati dari Jeumpa, Kerajaan tempatnya tinggal di
Pasai sudah menjadi pusat Islamisasi Nusantara dan sangat berkepentingan untuk
menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit karena ia adalah satu-satunya
penghalang utama untuk pengislaman tanah Jawa secara menyeluruh. Maka para
Sultan dan para Ulama serta cerdik pandai Kerajaan Pasai telah menyusun strategi
terus menerus dengan segala jaringannya untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu
ini. Bahkan Kekaisaran Cinapun yang telah dikuasai Muslim ikut andil dalam
Islamisasi ini, terbukti dengan mengirimkan Penglima Besar dan kepercayaan Kaisar
yang bernama Laksamana Cheng Ho. Jalan peperangan tidak mungkin ditempuh,
mengingat jauhnya jarak antara Pasai dengan Jawa Timur sebagai pusat Kerajaan
Majapahit. Maka ditempuhlan jalan diplomasi dan dakwah para duta dari Kerajaan
Pasai.
Grand Master Wali Sembilan (Aulia Sikurueng), Maulana Malik Ibrahim sebagai
utusan senior para pendakwah yang berpusat di Kerajaan Pasai, menemukan sebuah
cara yang dianggap bijak, yaitu melalui jalur perkawinan. Maka dikawinkanlah iparnya
yang bernama Dwarawati atau Putri Jeumpa yang cantik jelita dan cerdas tentunya,
dengan Prabu Brawijaya V, yang konon masih memeluk Hindu. Kenapa Sang Bapak
Para Wali Songo ini berani mengambil kebijakan itu. Tentu hanya Allah dan beliau
yang tahu. Dan akhirnya sejarah kemudian mencatat, anak perkawinan Putri Jeumpa
Dwarawati dengan Prabu Brawijaya V, bernama Raden Fatah adalah Sultan Kerajaan
Islam Demak pertama yang telah mengakhiri dominasi Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit
dan Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya.
Mungkin pertimbangan Maulana Malik Ibrahim menikahkan iparnya Putri
Jeumpa berdasarkan ijtihad beliau setelah mengadakan penelitian panjang terhadap
tradisi dan budaya orang Jawa yang sangat menghormati dan patuh bongkokan kepada
Raja atau Pangeran yang selama ini dianggap sebagai titisan para Dewata, sebagaimana
cerita-cerita pewayangan di Jawa. Jika ada seorang Raja atau Pangeran yang masuk
Islam, maka akan mudah bagi perkembangan Islam. Karena Jawa adalah salah satu
daerah yang sangat sulit diislamkan sampai saat itu, mengingat kuatnya dominasi
Kerajaan Hindu Majapahit. Itulah sebabnya, ketika Putri Jeumpa telah hamil, dia
ditarik dari istana Majapahit, dihijrahkan ke wilayah Islam lainnya, kabarnya ke

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 42


Kerajaan Melayu Palembang. Setelah lahir anaknya, Raden Fatah, Putri Jeumpa kembali
ke Jawa Timur, tapi bukan ke istana Majapahit, tapi ke Ampeldenta Surabaya, ke
tempat anak saudaranya Raden Rahmat (Sunan Ampel) untuk mendidik Raden Fatah
agar menjadi pemimpin Islam. Setelah dewasa, karena masih Raden Pangeran
Majapahit, maka Raden Fatah berhak mendapat jabatan, dan beliau diangkat sebagai
seorang Bupati di sekitar Demak. Saat itulah para Wali Sembilan yang sudah mapan
mendeklarasikan sebuah Kerajaan Islam Demak, di Bintaro Demak, sebagai Kerajaan
Islam pertama di Jawa. Karena Raden Fatah adalah titisan Raja Majapahit, maka orang-
orang Jawapun dengan cepat mengikuti agamanya dan membela perjuangannya
sebagaimana dicatat sejarah dalam buku Babat Tanah Jawi.
”Darwati Putri Jeumpa Penakluk Majapahit” ini adalah wanita luar biasa. Dia
adalah seorang ibu yang tabah, besar hati, penyayang namun mewarisi semangat
perjuangan yang tidak kalah hebat dengan wanita-wanita agung Aceh seperti
Laksamana Malahayati, Tjut Nya’ Dhien, Tjut Mutia dan lainnya. Bagaimana tidak, dia
harus berpisah jauh dari lingkungannya ke tanah Jawa yang asing baginya, tiada
handai tolan, hidup dilingkungan masyarakat Jawa-Hindu yang berbeda budaya dan
tradisi dengan negeri asalnya, bahkan ada yang menyatakan suaminyapun masih
beragama Hindu dalam tradisi Kerajaan Majapahit yang feodalis. Namun karena para
Ulama-Pejuang sekelas Maulana Malik Ibrahim atas dukungan para Sultan Muslim
menugaskannya berdakwah dengan caranya, wanita agung inipun ikhlas melakoni
peran perjuangannya. Demi kelanjutan agamanya, dia rela meninggalkan
kegemerlapan istana Majapahit sebagai permaisuri agung untuk memastikan putranya
dapat pendidikan terbaik agar menjadi seorang pemimpin Islam di Jawa. Raden Fatah
kecil mendapat kasih sayang serta bimbingan ibundanya bersama para Wali yang
dipimpin sepupunya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang juga dilahirkan di Kerajaan
asal ibunya.
Putri Darwati dari Jeumpa telah sukses gemilang menjalankan tugas agamanya,
dia seorang ibu pendidik agung (madrasat al-kubra), pejuang suci (mujahidah fi sabilillah),
pendakwah Islam (da’i) sekaligus sebagai penyebab (asbab) keruntuhan sebuah dinasti
Hindu terbesar yang menjadi lambang keagungan dan kebesaran Jawa, dengan
Mahapatih sadis Gadjah Mada itu. Dari sisi manapun kita nilai, wanita ini adalah
wanita besar, namun terhijab peran agungnya oleh wanita selir Jawa sekelas RA.
Kartini, seorang selir Bupati Rembang yang dijadikan tokoh wanita hanya karena bisa
bahasa penjajah Belanda dan dekat dengan penjajah kaphe. Siapa Kartini jika
disandingkan dengan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin, Sultanah Aceh yang memimpin
masyarakat kosmopilit masa itu dan memiliki kekuasaan seluruh Sumatra dan
Semenjang Melayu?

Putri Jeumpa Mayang Seludang: Maha Ratu Islam Pertama Asia Tenggara
Menurut penelitian terkini para ahli sejarah, diketahui bahwa sebelum
datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra
sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu.
Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah
menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 43


sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak geografisnya yang sangat strategis di
ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit
yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran
yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab.
Di antara pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan adalah Barus, Fansur,
Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki
banyak manfaat dan kegunaan. Komuditas ini telah melambungkan wilayah asalnya
dalam jajaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”,
”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja dan
bangsawan di Yunani, Romawi, Mesir, Persia dan lainnya. Kedudukan Barus-Fansur
lebih kurang seperti kedudukan Paris saat ini yang terkenal dengan inovasi minyak
wangi mewahnya.

Peta jalur perdagangan Zaman Khalifah Abbasiyah (7-8 M)

Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim
Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang
benar keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang berada di sekitar daerah
perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng
Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang
dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa
Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga
merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala
Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh
kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa
Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar).
Menurut legenda yang berkembang di sekitar Jeumpa, sebelum kedatangan
Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin
turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru
dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya.
Sekitar awal abad ke 8 Masehi datanglah seorang pemuda tampan yang dikenal dengan
Shahrianshah Salman al-Farisi atau Sasaniah Salman Al-Farisi sebagaimana disebut
dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei
Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao dan juga disebutkan dalam Silsilah Raja-

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 44


Raja Aceh Darussalam oleh Dinas Kebudayaan NAD. Sebagian ahli sejarah
menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayyidina Hussein
ra cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri
Maharaja Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang
keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di
Dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani, Sumatera, Malaya, Brunei
sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku.
Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat Kerajaan di kawasan Blang
Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta
muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah
mengembangkan ajaran Islam, sebagai sebuah misi utama para keturunan Rasulullah
saw. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang
Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan
penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama
Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Parsia. Rakyat di negeri tersebut
dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan
dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Parsia
yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu.
Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah
mendapat pendidikan terbaik di Parsia negeri asalnya, sangat menarik perhatian
Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan Kerajaan. Karena
keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman
dinikahkan dengan puteri Raja dan dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak
mertuanya. Setelah menjadi Raja, wilayah kekuasaannya diberikan nama dengan
Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di Persia yang bernama
”Champia”, yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sejak saat Kerajaan Islam Jeumpa
terkenal dan berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan transit bagi pedagang-
pedagang Arab, Cina, India dan lainnya. Kerajaan Jeumpa menjadi maju dan makmur
sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Sumatra bahkan Nusantara.
Shahrianshah Salman al-Farisi memproklamirkan Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun
156 H atau sekitar tahun 770 an M. Maka tidak diragukan, Kerajaan Jeumpa adalah
Kerajaan Islam pertama di seluruh Nusantara.
Tentu di balik kesuksesan Pangeran Salman membangun dan memimpin
Kerajaan Jeumpa, di dukung oleh seorang Maha Ratu yang sangat berperan, karena
sebagaimana pepatah menyebutkan di setiap keberhasilan lelaki, pasti ada perempuan
yang mendukung keberhasilannya. Siapakah wanita agung yang telah mendukung
kegemilangan Maha Raja Jeumpa yang berhasil sebagai pendiri Kerajaan Islam pertama
di Nusantara ini? Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, beliau tidak lain
adalah Putri Manyang Seuludang atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna
Keumala, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa.
Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga
berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang selanjutnya
telah melahirkan Kerajaan Islam di Perlak, Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 45


Tidak semua Puteri Raja menjadi pendukung keberhasilan suaminya, bahkan
ada yang menjadi penyebab kehancurannya. Ingatlah sosok Cleopatra, Sang Maha Ratu
Mesir yang penuh intrik dan telah menghancurkan karir Penakluk Agung Yulius
Ceaser. Karena Yulius menikahi Cleopatra, maka karirnya sebagai Penguasa Agung
atau Kaisar Agung Romawi hancur, dia dikhianati oleh pendukung dan pemujanya,
bahkan rakyatnya sendiri melecehkannya karena membawa Cleopatra ke Romawi.
Akhirnya Yulius yang diagungkan dipecat senat Romawi bahkan dibantai oleh anggota
Senat dihadapan dewan terhormat tersebut tanpa pembelaaan. Demikian pula yang
telah menimpa Anthony, pengganti Yulius karena nekad menikahi Cleopatra, karirnya
hancur dan bunuh diri di Mesir akibat intrik Cleopatra yang penuh tipu daya.
Putri Manyang bukanlah Cleopatra yang penuh intrik dan tipudaya, walaupun
sama-sama Maha Ratu yang memiliki kekuasaan besar terhadap Kerajaan dan
rakyatnya. Jika Cleopatra menggunakan kekuasaan, kecantikan dan kecerdasannya
untuk memperdaya Yulius dan Anthony serta menghancurkannya, namun Putro
Jeumpa ini menggunakannya untuk mendukung kesuksesan suaminya tercinta
Pangeran Salman. Bersama suaminya, Sang Maha Ratu Jeumpa ini bahu membahu
memajukan Kerajaannya sehingga menjadi sebuah Kerajaan yang terkenal di dunia
internasional dan menjadi kota persinggahan para pedagang-pedagang dari Arab,
Parsia, Cina, India dan lainnya. Apalagi geografi Jeumpa sangat strategis yang
berdekatan dengan Barus, Lamuri, Fansur yang lebih dahulu berkembang di ujung
barat pulau Sumatra.
Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai
tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket
Teungku Keujereun, ditemukan tapak bangunan istana dan beberapa barang
peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela,
porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya
sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Semua ini tentu menggambarkan
kemakmuran dan kemajuan dari Kerajaan Jeumpa 14 abad silam.
Maha Ratu Manyang bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya
dalam membangun Kerajaan Jeumpa, tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik
agung yang telah melahirkan anak-anak yang melanjutkan perjuangannya
menyebarkan dakwah Islamiyah. Sebagai seorang ibu, sudah sepatunya Maha Ratu
Jeumpa ini dibanggakan, karena telah berhasil mencetak pemimpin-pemimpin agung
untuk agama dan bangsanya. Sang Maha Ratu dikaruniai beberapa orang anak yang
menjadi Raja dan Ratu yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah
pengembangan Islam Nusantara.
Anak beliau bernama Syahri Poli adalah pendiri dari Kerajaan Poli yang
selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidier di wilayah Pidie sekarang yang
wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Syahri Tanti mengembangkan
kerajaan yang selanjutnya menjadi asas perdirinya Kerajaan Samodra-Pasai. Syahri
Dito, yang melanjutkan mengembangkan Kerajaan Jeumpa. Syahri Nuwi menjadi
Meurah dan pendiri dari Kerajaan Perlak. Sementara putrinya Makhdum Tansyuri
adalah ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, Maulana Abdul Aziz Syah yang
diangkat pada tahun 840 Masehi.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 46


Kecerdasan dan kecantikan Putri Jeumpa ini telah diwariskan kepada
keturunannya yang menjadi lambang keagungan putri-putri Islam yang berjiwa
penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan
bahwa Putri Manyang Seuludang telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para Ratu
dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Dari keturunan beliaulah telah berkembang
puteri-puteri Jeumpa yang terkenal kecantikan dan kecerdasannya ke seluruh kerajaan
di Nusantara. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para Ratu
Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka bahkan sampai Majapahit sekalipun. Itulah
sebabnya dalam perjalanan sejarah Aceh, senantiasa dipenuhi dengan wanita-wanita
agung yang berjiwa patriotik dan penakluk serta membuat sejarah kegemilangannya
masing-masing yang tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita lainnya di Nusantara,
bahkan di negeri Arab sekalipun.
Dalam sejarah Aceh selanjutnya, tidak diragukan Putri Jeumpa Manyang
Seuludang telah memberikan inspirasi kepada anak keturunannya, dan telah
melahirkan wanita-wanita agung yang sangat berpengaruh dan memiliki kharisma
serta kecantikan. Di antaranya adalah Maha Ratu Kerajaan Perlak bernama Makhdum
Tansyuri (ibunda Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan Perlak pertama), Maha Ratu
Kerajaan Perlak Pertama Makhdum Khudawi (putri Shahr Nuwi dan istri Maulana
Abdul Aziz Syah), Maha Ratu Kerajaan Pasai bernama Nahrishah, Maha Ratu Darwati
(Dhawarawati) yang menjadi Maha Ratu Majapahit (ibunda Raden Fatah, Sultan
Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa bernama Demak), Maha Ratu Tajul Alam
Safiatuddin yang menjadi Maha Ratu Kerajaan Aceh Darussalam. Di samping itu ada
yang menjadi panglima agung yang ditakuti musuh, seperti Laksamana Malahayati,
Tjut Nyak Dhien, Tjut Muetia dan lain-lainnya.
Sepatutnya wanita-wanita agung inilah yang menjadi teladan bagi mereka yang
memperjuangkan emansipasi wanita di Serambi Mekah ini. Bahwa kenyataannya,
sebelum Barat melaungkan emansipasi, wanita-wanita Aceh telah menikmati
kesetaraannya secara maksimal sebagai seorang Maha Ratu dan Panglima Tertinggi di
bawah naungan kesempurnaan ajaran Islam, ketika wanita-wanita Barat masih
dianggap sebagai budak pemuas oleh kaum lelakinya. Wajarlah jiwa wanita-wanita
Barat itu menuntut haknya, tapi kenapa wanita Aceh membeo mengikutinya? Itulah
paradoksnya, terkadang kita bangga dengan budaya dan sejarah asing namun
melupakan keagungan budaya dan sejarah sendiri.

***************************
Maulana Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq (Sunan Giri)
Perkawinan Sayyid Ibrahim bin Sayyid Hussein Jamadil Kubra dengan Putri
Jeumpa di Pasai bernama Candra Wulan telah melahirkan dua orang putera yang
menjadi Ulama besar di Kerajaan Islam Pasai, yaitu Maulana Sayyid Rahmatillah yang
di tanah Jawa terkenal dengan Raden Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi
pemimpin utama Wali Songo di tanah Jawa. Yang satunya bernama Maulana Sayyid
Ishaq yang menjadi Ulama dan penasihat utama Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal
Abidin dan Sultan Salahuddin. Beliau adalah juga sekaligus ayahanda dari Raden Paku

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 47


atau di tanah Jawa di kenal dengan Sunan Giri, salah satu anggota Wali Songo yang
sangat berperanguh di tanah Jawa.
Jadi Sunan Giri adalah anak keponakan dari Maulana Rahmatillah atau Sunan
Ampel yang menjadi pemimpin dan penggerak utama gerakan dakwah Islamiyah yang
terkenal dengan Wali Songo dan telah berhasil mendirikan Kerajaan Islam Demak yang
meruntuhkan dominasi Kerajaan Hindu Majapahit. Nama asli Sunan Giri adalah
Maulana Ainul Yakin, yang lahir dan dibesarkan di Kerajaan Pasai, karena
ayahandanya Maulana Ishaq adalah tokoh dan Ulama besar di Kerajaan Islam Pasai.
Namun menurut Babat Tanah Jawi, Maulana Ainul Yakin atau Sunan Giri lahir di tanah
Jawa dari perkawinan Maulana Ishaq dengan Puteri Raja Blambangan. Walaupun
beliau lahir di Jawa, namun ayahanda beliau, Maulana Ishaq adalah bagian dari
Kerajaan Pasai yang tengah mengatur startegi menaklukkan Kerajaan Hindu-Majapahit
dan mempersiapkan berdirinya Kerajaan Islam di Jawa.
Adapun silsilah keturunan Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri) adalah : Maulana
Ainul Yakin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Sayyid Ibrahim bin Jamaluddin Al-Husain
(Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin
Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin
Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin
Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali
Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti
Rasulullah SAW.
Sunan Giri atau Maulana Ainul Yakin mendapat pendidikan di pesantren yang
dipimpin oleh pamannya Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel) di Ampel Denta
Surabaya bersama-sama dengan para calon wali dan sultan di tanah Jawa. Menurut
beberapa catatan sejarah, pesantren Ampel Denta bukan hanya mengajarkan pelajaran
agama saja kepada para santrinya, tapi termasuk ilmu-ilmu duniawi, seperti ilmu
perang, ilmu pemerintahan, bahkan sampai kepada ilmu batin yang berlandaskan pada
ajaran Islam, yang juga dikenal dengan ilmu tasawwuf atau ilmu mistik. Karena para
wali akan berhadapan dengan pemuka-pemuka Hindu yang terkenal dengan ilmu
sihirnya. Di tanah Jawa ilmu ini dikenal dengan ilmu karamah yang akan didapatkan
oleh para wali untuk mengalahkan ilmu sihir, sebagaimana Nabi Musa as mengalahkan
ahli sihirnya Fir’aun.Itulah sebabnya setiap wali memiliki karamah sendiri-sendiri yang
telah dianugrahkan Allah SWT kepada mereka.
Menurut Babat Tanah Jawi, setelah Maulana Ainul Yakin belajar di Ampel Denta
pernah kembali ke negeri Pasai untuk melanjutkan pelajaran keislaman tingkat
tingginya kepada ayahandanya Maulana Ishaq dan beberapa Maulana dan Ulama yang
berada di Kerajaan Islam Pasai. Setelah beberapa tahun belajar di lembaga pendidikan
Islam Pasai, beliau berniat untuk melanjutkan pelajaran ke Mekkah, namun disarankan
ayahandanya yang juga guru serta ulama terkemuka Kerajaan Pasai, Maulana Ishaq
agar segera pulang kembali ke tanah Jawa. Maka setelah mendapat bekal pengetahuan
yang memadai, Maulana Ainul Yakin kembali ke Ampel Denta untuk membantu
perjuangan pamannya Maulana Rahmatillah dalam menggerakkan dakwah Islamiyah
kepada masyarakat Jawa yang masih kental berpegang kepada ajaran Hindu. Dan sejak
saat itu Maulana Ainul Yakin belajar dan mengajar kembali di Ampel Denta Surabaya.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 48


Setelah mendapat pendidikan dan bekal pengetahuan yang cukup di pesantren
Ampel Denta, maka Maulana Rahmatillah mengirim keponakan sekaligus muridnya,
Maulana Ainul Yakin ke wilayah yang berdekatan dengan Kerajaan Majapahit, di suatu
tempat yang bernama Giri. Maka sejak saat itu Maulana Ainul Yakin, anak daripada
Maulana Ishaq salah seorang ulama besar Kerajaan Pasai, mendapat gelar sebagai
Sunan Giri. Beliau mengajar dan mengembangkan ajaran Islam kepada penduduk yang
masih banyak memeluk agama Hindu. Dakwahnya seringkali dihalang-halangi oleh
para pengikut Hindu yang didukung oleh Kerajaan Majapahit ataupun lainnya. Itulah
sebabnya para wali senantiasa memusatkan perhatian agar segera mendirikan sebuah
kerajaan Islam sebagai patron dakwah Islamiyah di tanah Jawa.
Sunan Giri termasuk anggota Wali Songo yang berperan aktif menggerakkan
dakwah Islamiyah kepada masyarakat Jawa, sehingga pengikutnya sangat banyak dan
memiliki pengaruh luas yang membuat Prabu Brawijaya Maha Raja Majapahit
bimbang. Dalam buku Babat Tanah Jawi diceritakan sebuah kisah tentang ketakutan Raja
Majapahit terhadap Sunan Giri dalam sebuah judul : Runtuhnya Majapahit.
Sang Raja Brawijaya mendengar kabar, bahwa banyak orang takluk kepada Sunan Giri.
Patih Gajah Mada (?) diutus mendatangi Sunan Giri. Orang-orang di sana geger. Waktu itu
Sunan Giri sedang menulis, terkejut mendengar berita didatangi musuh, bermaksud merusak
Giri. Alat tulis yang digunakan untuk menulis lalu dibuang serta berdoa kepada Allah. Kalam
(alat tulis) yang dibuang tadi lalu menjadi keris dan dapat mengamuk sendiri. Orang-orang
dari Majapahit banyak yang tewas. Sisanya lari pulang kembali ke Majapahit.
Kebenaran cerita Babad ini, hanya Allah yang tahu. Namun tidak diragukan
bahwa Sunan Giri adalah salah seorang Wali Allah yang berjuang menegakkan Islam di
tengah-tengah masyarakat mayoritas Hindu yang didukung oleh sebuah Kerajaan
besar dan kuat dengan tentara yang banyak. Persis seperti ketika Nabi Musa as
menghadapi Fir’aun. Maka pada saat seperti itu karamah dan bantuan Allah akan
turun kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Namun Sang Sunan dengan gerakan
Wali Songo bukan hanya sibuk berdakwah dan berdoa saja, tapi bahkan beliau juga
menjadi panglima perang yang gagah perkasa dalam melawan tentara-tentara Hindu
Majapahit ataupun Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya seperti Kerajaan Daha,
Blambangan dan Pajang.
Setelah memiliki pengikut yang banyak, maka Sunan Ampel bersama dengan
para Wali, termasuk Sunan Giri mempersiapkan pendirian sebuah Kerajaan Islam di
tanah Jawa. Daerah yang dipilih sebagai pusat Kerajaan Islam adalah di Demak Bintaro,
sebuah tanah subur di sebelah barat Surabaya. Maka atas dukungan para Raden dan
masyarakat Islam di seluruh tanah Jawa, Wali Songo memproklamirkan berdirinya
Kerajaan Islam Demak yang dipimpin Raden Fatah pada tahun 1481 M. Sejak saat itu
dakwah Islamiyah di tanah Jawa sudah memiliki pelindung yang kuat, sehingga para
juru dakwah dan ulama dengan bebas dapat menjalankan misi pengembangan
agamanya. Demikian pula Kerajaan Demak dengan dukungan dari para wali telah
mengadakan ekspansi besar-besaran untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan Hindu
lainnya di tanah Jawa sehingga agama Islam tersebar luas.
Prestasi terbesar Kerajaan Islam Demak yang sekaligus merupakan jaringan dari
Kerajaan Islam Pasai adalah keberhasilannya meruntuhkan Kerajaan Majapahit sebagai

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 49


patron terbesar agama Hindu. Kehadiran dan perkembangan Kerajaan Demak yang
mendapat dukungan dari para Wali Songo yang dipimpin Sunan Ampel (Maulana
Rahmatillah) telah menimbulkan perpecahan di kalangan Kerajaan Majapahit, yang
akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dengan mudah dapat ditaklukkan oleh
kekuatan Demak. Selanjutnya Demak menggantikan peranan Kerajaan Majapahit
sebagai Kerajaan yang menguasai tanah Jawa, namun dengan berdasarkan ajaran Islam.
Sunan Giri atau Maulana Ainul Yakin bin Maulana Ishaq adalah seorang Wali
dan Ulama Ahlul Bayt yang mengikuti tradisi nenek moyang mereka dalam
menyebarkan agama Islam walau sampai ke hujung dunia sekalipun. Tradisi Ahlul Bayt
yang telah melahirkan Kerajaan-Kerajaan besar Islam di seluruh dunia, termasuk di
Aceh seperti Kerajaan Jeumpa yang didirikan Shahrianshah Salman ataupun Kerajaan
Perlak oleh Maulana Sayyid Abdul Aziz Syah.. Tradisi yang telah melahirkan
pengorbanan Sayyidina Husein dalam menentang kezaliman penguasa dan
menegakkan kebenaran Islam. Tradisi pengorbanan untuk kepentingan Islam dan
ummatnya yang terus mengalir kepada generasi sesudahnya, sebagai garda terdepan
Islam sebagaimana disebutkan sebuah Hadits riwayat Muslim: Rasulullah saw
bersabda :Berpengteguhlah kepada Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan itrah-ku
(keturunanku), niscaya engkau tidak akan tersesat selamanya.
Perintah agama inilah yang telah mendorong Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri)
dan juga para wali dan ulama ahlul bayt lainnya melanglang buana, meninggalkan
tanah leluhurnya, baik generasi awal di tanah Arab ataupun tanah Persia dan India
sehingga mereka sampai di bumi Aceh, termasuk di Kerajaan Islam Pasai. Generasi
selanjutnya, seperti Maulana Rahmatillah dan Maulana Ainul Yakin dituntut pula
untuk meninggalkan tanah kelahirannya di Pasai yang sudah maju dan makmur
menuju tanah Jawa yang penuh dengan kekafiran dan kemusyrikan. Namun tugas
agama yang mereka emban untuk menyelamatkan umat manusia telah mendorong
mereka berhijrah ke tanah Jawa mengembangkan ajaran Islam. Inilah jalan hidup dan
perjuangan yang telah mereka wirisi turun termurun sebagai kewajiban agama yang
wajib ditegakkan.
Perjuangan dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh Sunan Giri lebih mudah dan
leluasa jika dibandingkan dengan para pendahulunya seperti saudara kakeknya
Maulana Malik Ibrahim ataupun pamannya Maulana Rahmatillah yang telah merintis
Islamisasi di tanah Jawa. Karena pada zaman Sunan Giri, Kerajaan Islam Demak sudah
ada yang menjadi patron dakwah Islamiyah, yang akan memudahkan langkah
perjuangannya menyebarkan ajaran Islam. Demikian pula masyarakat Jawa sudah
banyak yang memeluk agama Islam. Selanjutnya Maulana Ainul Yakin
mengembangkan kota Giri sebagai sebuah pusat pendidikan dan dakwah Islamiyah
yang cukup maju di Jawa sebagai kelanjutan dan jaringan perjuangan para
pendahulunya di pesantren Ampel Denta Surabaya ataupun kelanjutan dari misi
Kerajaan Islam Pasai sebagai penaung utama gerakan Islamisasi di seluruh Nusantara.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Sunan Giri adalah seorang Wali yang
memiliki banyak sekali karamah dan keutamaan sehingga masyarakat yang tadinya
beragama Hindu berbondong-bondong masuk Islam. Bahkan setelah beliau wafatpun
karamahnya masih tetap ada sebagaimana dikisahkan dalam Babat Tanah Jawi;

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 50


Sesudah beberapa waktu lamanya, Sunan Giri meninggal dunia........ Prabu Brawijaya
lalu memerintahkan kepada Gajah Mada (?) bersama para putranya untuk merebut Giri. Sunan
Prapen (cucu Sunan Giri) menghadapi bala tentara Majapahit itu, tetapi kalah..... Putra
Mahkota Majapahit pergi ke makam sunan yang sudah lama meninggal. Lalu memerintahkan
untuk membongkar makam itu. Bala-tentara Majapahit segera bekerja membongkar makam,
tetapi mereka semua jatuh terkapar. Penjaga makam yang pincang diperintah untuk
menggali..... Setelah tanah kuburan sudah dibongkar, papan tutup peti mati lalu dibuka. Lebah
yang tak terkira banyaknya keluar dari dalam kuburan, naik memenuhi angkasa. Suaranya
gemuruh seperti langit runtuh. Lebah-lebah itu lalu menyerang bala tentara Majapahit, mereka
lari tunggang langgang mencari hidup.Sampai di kerajaan Majapahit, lebah itu masih
mendesak. Prabu Brawijaya beserta bala tentaranya meninggalkan kota, mengungsi jauh karena
tidak mampu menolak desakan lebah tersebut.Lebah itupun kembali ke asalnya dan Prabu
Barawijaya berjanji dan berniat tidak akan berbuat jahat lagi terhadap sunan di Giri.

Raden Fatah: Ujung Tombak Walisongo Menaklukkan Majapahit


Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang dibenci dan dicaci
sedemikian hebatnya, selain Raden Fatah (Raden Patah) yang dituduh sebagai anak
durhaka yang melawan orang tua dan menentang tradisi Hindu nenek moyangnnya,
bahkan dituduh meruntuhkan kehebatan peradabannya sendiri di Kerajaan Majapahit
yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Hindu. Raden Fatah dianggap
bertanggung jawab bersama para Wali Songo mengubur peradaban Hindu-Jawa yang
diangung-agungkan selama berabad-abad dan menggantikannya dengan tradisi dan
peradaban Islam. Itulah sebabnya pribadi agung ini senantiasa difitnah dan
didiskreditkan, bahkan segaja disamarkan sejarah hidupnya yang agung dan mulia,
dituduh sebagai anak haram dan durhaka oleh mereka yang dendam terhadap
keberhasilan proses Islamisasi tanah Jawa.
Sebenarnya Raden Fatah adalah anak dari Maha Raja Majapahit Brawijaya V.
Menurut Babat Tanah Jawi, ibunya adalah seorang puteri yang berasal dari Cina yang
sangat cantik dan menjadi istri dari Prabu Brawijaya V, sehingga menimbulkan
kecemburuan Permaisuri Kerajaan yang berasal Cempa (Jeumpa) bernama Darwati
(Dharawati). Ketika sedang hamil, putri Cina tersebut diusir dari Istana Majapahit atas
permintaan Permaisuri, diberikan kepada Aria Damar di Kerajaan Palembang, dan
Raden Patah lahir di Palembang. Namun cerita Babat ini perlu dikritisi kebenarannya.
Permaisuri Prabu Brawijaya V yang dikatakan berasal dari Cempa, bernama
Darwati (Dharawati), sebenarnya adalah Puteri Jeumpa dan seorang Muslimah yang
taat, seorang wanita pejuang dari Pasai yang dikirim oleh Maulana Malik Ibrahim dan
para Wali di Pasai untuk memberikan jalan kepada dakwah Islamiyah di Kerajaan
Majapahit. Wanita mulia ini rela berpisah dari sanak saudaranya dan berjuang di garda
terdepan masyarakat Hindu-Majapahit, meninggalkan kepentingan pribadinya demi
untuk pengembangan dakwah Islamiyah. Apakah wanita agung ini memiliki akhlak
yang buruk dan perangai jahat sehingga rela mengusir saudaranya sendiri, apalagi
Puteri Cina itu juga diketahui seorang Muslimah?
Disinilah kejanggalan cerita Babat Tanah Jawi yang ditulis oleh cendekiawan Jawa
ini.Bahkan sudah masuk kepada dataran fitnah terhadap seorang Muslimah pejuang

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 51


agung Puteri Jeumpa Darwati yang memang diketahui memberikan dukungan
terhadap Islamisasi Majapahit dan perlindungan terhadap para pendakwah Islam dari
Pasai yang menyebarkan Islam. Wanita agung ini adalah saudara ibunda Maulana
Rahmatillah (Raden Rahmat/Sunan Ampel), beliaulah juga yang mengundang dan
memberikan dukungan kepada Sunan Ampel ini berdakwah ke tanah Jawa. Putri
Jeumpa Darwati adalah kerabat dan kader Kerajaan Islam Pasai yang ditugaskan untuk
memberikan jalan kepada proses Islamisasi Majapahit, atau minimal mencegah ambisi
Majapahit untuk menyerang Kerajaan Pasai. Tidak mungkin seorang Muslimah yang
sudah mengedepankan kepentingan Islam akan berbuat keji seperti itu.
Itulah sebabnya, sejarah yang dikemukakan Babat Tanah Jawi, yang menjadi
referensi utama masyarakat Jawa harus ditelaah ulang karena mengandung banyak
sekali kejanggalan. Yang menjadi pertanyaan, kenapa dan bagaimana Raden Patah
dapat menjadi murid utama dan menantu dari Sunan Ampel, darimanakah hubungan
ini? Apakah ini terjadi dengan sendirinya dan apa hubungannya dengan grand strategi
para Wali Pasai dalam menaklukkan Kerajaan Majapahit?
Jika memang benar puteri Cina yang tidak jelas identitasnya itu telah melahirkan
Raden Patah, maka Permaisuri Darwati adalah diantara orang yang telah merancang
kepergian puteri Cina ini dari Majapahit menuju Kerajaan Islam Palembang mitra dari
Kerajaan Islam Pasai saat itu, karena disana sudah ada keponakannya Maulana
Rahmatillah yang menjadi Ulama. Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat Jawa
sangat patuh kepada Rajanya yang mereka anggap titisan para Dewa. Untuk
menaklukkan Majapahit secara totalitas, harus digerakkan oleh keturunan dari Maha
Raja Majapahit sendiri. Itulah sebabnya sebelum lahir putra mahkota ini, diungsikan ke
Kerajaan Islam dengan harapan akan lahir dan besar sebagai seorang Muslim. Maka
Raden Patahpun lahir di Palembang dan menjadi seorang Muslim yang taat serta
berguru kepada Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel), dan menjadi murid setianya
yang ikut ke Ampel Denta Surabaya.
Menurut sumber lain, Raden Patah sebenarnya memiliki hubungan dengan
Sunan Ampel dan juga para Wali Songo, sehingga mendapat kedudukan yang mulia
dan terhormat di kalangan mereka. Bahkan Raden Patah dijadikan menantu oleh
Maulana Rahmatillah. Itulah sebabnya ada yang menghubungkan bahwa sebenarnya
yang dikatakan sebagai Puteri Cina itu adalah Puteri Jeumpa (Campa) Darwati sendiri.
Karena sejarah hidup Putri Darwati yang menjadi Permaisuri Majapahit tidak banyak
ditulis di Jawa, termasuk di Babat Tanah Jawi. Kisah hidup dan perjuangannya menjadi
misterius dan tidak dikenal luas oleh masyarakat Jawa. Itulah sebabnya kemudian ada
ahli sejarah yang menghubungkan bahwa Puteri Cina itu adalah Puteri Darwati yang
berasal dari Cempa (Jeumpa). Apalagi di banyak manuskrip Jawa, istilah Cempa sering
diidentikkan dengan Cina.
Ketika kecil, Raden Patah juga dikenal dengan nama Pangeran Jin Bun, sebuah
nama Cina, yang kemudian mengelirukan banyak orang tentang asalnya dari Cina.
Boleh saja nama ini adalah nama panggilan atau nama samaran untuk menghindar dari
hasad orang-orang Majapahit yang percaya kepada ramalan bahwa Majapahit akan
diruntuhkan oleh salah seorang keturunan Majapahit sendiri, sebagaimana disebutkan
Babat Tanah Jawi.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 52


Raden Patah mendapat pendidikan dari Maulana Rahmatillah dan para ulama di
Kerajaan Islam Palembang sebelum beliau hijrah ke tanah Jawa. Ketika Maulana
Rahmatillah sudah mendirikan pesantren di Ampel Denta Surabaya, Raden Patah ikut
menyusul ke tanah Jawa dan tinggal di Ampel Denta berguru kepada Maulana
Rahmatillah atau Sunan Ampel. Setelah memiliki pengetahuan yang memadai, Raden
Patah diperintahkan gurunya untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah
barat, kawasan hutan dan tanah subur yang bernama Bintara. Di daerah ini Raden
Patah mendirikan pesantren dan mengajarkan Islam, banyak masyarakat yang
memeluk Islam dan tinggal bersamanya sehingga Bintara menjadi ramai dan
berkembang menjadi kota baru.
Babat Tanah Jawi menceritakan perkembangan Bintara: Prabu Brawijaya mendengar
berita bahwa ada orang yang bertempat tinggal di hutan Bintara, terkenal di mana-mana
tentang kebesaran pedukuhan dan kesaktiannya. Raja memanggil para menteri untuk
menanyakan benar-tidaknya kabar itu. Adipati Terung memang benar adanya berita itu. Sang
Prabu lalu memerintahkan untuk memanggilnya……Raden Patah segera berangkat ke
Majapahit. Sang Prabu sangat gembira, jatuh hatinya kepada Raden Patah sebab rupanya
sangat mirip sang Prabu. Lalu diakui sebagai putra, diangkat menjadi adipati Bintara, serta
diberi abdi sepuluh ribu orang….. Lama-lama pedukuhan Bintara (Demak) menjadi semakin
gemah-ripah (makmur-sejahtera).
Setelah memiliki pengikut yang banyak, maka sudah saatnya para Wali dan
pengikutnya untuk mendirikan sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa sebagai
pendukung gerakan dakwah Islamiyah dan sekaligus menjaga Islam dan pengikutnya
dari gangguan Kerajaan Hindu, terutama Majapahit. Karena Bintara yang dipimpin
Raden Patah telah berkembang pesat, maka para Wali memutuskan untuk mendirikan
kerajaan Islam di Bintara, yang dinamakan dengan Kerajaan Islam Demak, sebagai
Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan mengangkat Raden Patah sebagai Sultan
Kerajaan Islam Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah pada tahun 1481 M.
Selanjutnya Kerajaan Islam Demak menjadi patron kepada Islamisasi di pusat
kekuasaan Kerajaan Hindu terbesar dan termegah, Majapahit. Berdirinya Kerajaan
Demak telah melemahkan Majapahit yang terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan
kecil.
Tentang keruntuhan Majapahit, Babat Tanah Jawi dalam Runtuhnya Majapahit,
menceritakan bagaimana proses runtuhnya kerajaan Hindu terbesar di tanah Jawa
tersebut akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh para Wali dan Sultan Demak.
Diceritakan bahwa seluruh kaum muslimin dari penjuru Jawa telah berkumpul di
Bintara-Demak dengan kekuatan yang sangat besar. Lalu mereka berangkat menuju
pusat Kerajaan Majapahit. Semuanya lalu bersama berangkat ke Majapahit. Banyaknya
barisan tak terhitung. Kota Majapahit dikepung. Orang Majapahit banyak takluk kepada adipati
Bintara, tak ada yang berani menyambut perang…Dikisahkan selanjutnya Prabu Brawijaya
meninggalkan istana dan Kerajaan Majapahit akhirnya takluk dan runtuh oleh Kerajaan
Islam Demak.
Keruntuhan Majapahit oleh Kerajaan Islam Demak, telah mengakhiri kejayaan
Kerajaan Hindu di tanah Jawa. Sejak saat itu pusat kekuasaan di tanah Jawa telah
beralih dari Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Islam Demak. Islamisasi di tanah Jawa

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 53


terus dijalankan oleh para Wali dan murid-muridnya yang mendirikan banyak pondok
pesantren di seluruh tanah Jawa. Sejak berdirinya Kerajaan Islam Demak, maka telah
berdiri pula kerajaan-kerajaan Islam lainnya di tanah Jawa yang berafialiasi ke Kerajaan
Demak. Pada saat yang sama, hubungan antara Kerajaan Demak dengan Kerajaan
Palembang, dan khususnya dengan Kerajaan Islam Pasai semakin erat. Karena para
petinggi, khususnya para Sunan yang memegang kendali spiritual di Kerajaan Demak
adalah anak dan cucu dari para petinggi dan ulama di Kerajaan Pasai.
Akhirnya memang tidak dapat dibantah bahwa Kerajaan Islam Pasai telah
memiliki peran sentral dalam mengembangkan dakwah Islamiyah di Nusantara,
terutama dalam melahirkan gerakan para Wali yang telah mendirikan Kerajaan Islam
dan meruntuhkan dominasi Kerajaan Hindu-Majapahit. Maka tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa Raden Patah adalah ujung tombak Kerajaan Islam Pasai melalui Wali
Songo dalam meruntuhkan Kerajaan Hindu-Majapahit yang telah menyerang Pasai
sebelumnya.

Sunan Gunung Jati: Melanjutkan Misi Pasai Di Tanah Jawa


Setelah Sayyid Hussein Jamadil Kubra menyerahkan tugas dakwahnya kepada
anaknya Sayyid Ibrahim (ayahanda Maulana Rahmatillah/Sunan Ampel) di Pasai,
maka beliau berangkat berdakwah menuju barat untuk menahan serangan Kerajaan
Budha Thailand (Siam) yang sangat berambisi menaklukkan Kerajaan Islam Pasai.
Beliau berdakwah di wilayah yang sekarang dikenal dengan Senggora di wilayah
Patani, Thailand selatan dan Kelantan di Malaysia. Beliau menikah dengan seorang
puteri raja Patani dan mendapat anak bernama Maulana Ali Nurul Alam, yang menjadi
ayahanda kepada Sayyid Abdullah atau dikenal dengan Wan Bo, Raja pertama
Kerajaan Islam untuk wilayah Champa, Senggora, Patani dan Kelantan.
Menurut Babat Cirebon, ketika Sayyid Abdullah berada di Mekkah, bertemu
dengan seorang puteri dari Kerajaan Pajajaran bernama Rara Santang putri Prabu
Siliwangi, kemudian mereka menikah dan mempunyai anak yang sempat belajar ke
Kerajaan Pasai dan memperdalam ilmu di Ampel Denta bernama Syarif Hidayatullah.
Di tanah Jawa beliau dikenal dengan Raden Sunan Gunung Jati yang menjadi anggota
dari Wali Songo. Beliau lahir sekitar tahun 1450 M, namun ada juga yang mengatakan
bahwa beliau lahir pada sekitar 1448 M
Adapun silsilah keturunan Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) adalah :
Syarif Hidayatullah bin Sayyid Abdullah bin Maulana Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Al-
Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik
bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin
Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin
Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali
Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti
Rasulullah SAW.
Sebagai seorang keturunan para Maulana dan Ulama Ahlul Bayt, Raden Syarif
Hidayatullah mewarisi ketinggian pengetahuan keislaman yang telah dikembangkan
nenek moyangnnya, sekaligus memiliki kecendrungan spiritual yang sangat tinggi,
terutama dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar (Sayyid Husien al-Akbar) yang

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 54


terkenal sebagai tokoh sufi di Nusantara. Ketika telah selesai belajar agama di
pesantren Syekh Kahfi maupun Ampel Denta, beliau meneruskan pelajarannya kepada
Maulana dan Ulama ke Kerajaan Islam Pasai sebagai tempat pengajian tinggi Islam di
Nusantara saat itu. Para Ulama dan Maulana di Pasai sendiri pada saat itu adalah
kerabat beliau juga. Selanjutnya beliau meneruskan ke Timur Tengah, terutama
Mekkah dan Madinah. Ada juga yang menyebutkan beliau belajar sampai Mesir,
Bagdad, Persia dan India. Dalam usia muda Syarif Hidayatullah sudah menguasai ilmu
keislaman yang tinggi, sekaligus memiliki kekuatan spiritual (karamah).
Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana, saudara ibunda
Syarif Hidayatullah, membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka
sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan
mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru
dibentuk itu setelah saudara ibundanya wafat. Beliau menikahi adik dari Bupati Banten
ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan
seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi
Sultan Banten I.
Sebagai seorang Maulana yang berpengaruh di sekitar Cirebon Jawa Barat,
Syarif Hidayatullah yang sudah dikenal dengan Sunan Gunung Jati ikut bersama para
Wali Songo memproklamasikan Kerajaan Islam Demak pada tahun 1481. Ada yang
berpendapat bila Syarif Hidayatullah keturunan Syekh Maulana Akbar dari pihak ayah,
maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di
Cempa yang terkenal dengan nama Puteri Dharawati (Darwati) yang menjadi
Permaisuri Maharaja Brawijaya V di Kerajaan Majapahit.
Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di seluruh tanah Jawa
menggantikan peranan Majapahit yang sudah runtuh dan bukan hanya di Demak,
maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan dari Kerajaan Islam Demak.
Hal ini terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah
secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah
digariskan Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan
dalam Wali Sembilan. Agama Islam akan disebarkan di seluruh tanah Jawa dengan
Demak sebagai pusat pemerintahan. Pada saat yang sama para Wali tetap menjalin
hubungan dengan Kerajaan Islam Pasai sebagai sentral gerakan Islamisasi di Asia
Tenggara.
Dalam banyak riwayat dan babad, Syarif Hidayatullah dilukiskan sebagai
seorang Ulama kharismatik yang memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh
Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Beliau ikut membimbing Ulama
berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu
kekebalan tubuhnya. Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik,
dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana
Demak telah tercabut.
Setelah pendirian Kerajaan Islam Demak, antara tahun 1490 hingga 1518 adalah
masa-masa paling sulit dalam perjuangan dakwah Islam di tanah Jawa, baik bagi Syarif
Hidayatullah di Cirebon Jawa Barat maupun Raden Patah di Demak Jawa Timur.
Karena pada masa ini proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 55


dari kerajaan Hindu Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Kerajaan Hindu Majapahit
(di Jawa Tengah dan Jawa Timur), yang diperparah oleh gangguan external dari
Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.
Awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Malaka dan Pasai, Raja Pakuan
merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayatullah yang telah
berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam
kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayatullah berperan
membimbing Sultan Demak II Pati Unus, pengganti Raden Patah yang juga
menantunya dalam pembentukan armada perang gabungan Kesultanan Banten,
Demak, Cirebon di Jawa dengan misi utama mengusir Portugis di Malaka yang
mengancam kedaulatan Kerajaan Islam Pasai. Namun armada perang ini dikalahkan
oleh Portugis dan Pati Unus syahid di selat Malaka.
Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa
Syarif Hidayatullah merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan
mengangkat Tubagus Pasai dikenal dengan Fatahillah, untuk menggantikan Pati Unus
yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru
untuk memancing Portugis bertempur di Jawa. Ketika Raja Pakuan mengundang
Portugis ke Sunda Kelapa, maka saatnya bagi tentara Muslim menyerang mereka.
Maka pada tahun 1527 bulan Juni armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat
dari tentara gabungan Islam. Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam
Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai
mendapat gelar Fatahillah.
Sebelum wafat, Syarif Hidayatullah menuntaskan tugas dakwahnya dengan
menguasai Kerajaan Pajajaran, menawan Pakuan ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun
1568 atau setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120
tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana
Pakuan, Syarif Hidayatullah memberikan 2 opsi. Yang pertama Pembesar Istana
Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti
gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-
masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar
dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di
pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang yang dikenal dengan suku Baduy.

Pati Unus: Dari Jawa Memerangi Portugis Membela Pasai


Nama asli Pati Unus adalah Raden Maulana Abdul Qadir bin Muhammad
Yunus. Beliau dijuluki dengan Raden Adipati bin Yunus, dan orang Jawa menyingkat
menjadi Pati Unus. Beliau juga terkenal dengan gelar Pangeran Sabrang Lor, artinya
Pangeran Sebrang Lautan, karena beliau adalah Panglima besar yang memimpin
langsung penyerangan penjajah Portugis di Malaka dan sekitarnya yang mulai
mengancam eksistensi pusat Islamisasi Asia Tenggara di Kerajaan Islam Pasai bersama-
sama dengan aliansi angkatan perang dari Demak, Cirebon, Banten, Palembang,
Makassar, Malaka dan tentunya Pasai. Pati Unus lahir di Jepara, Jawa Tengah pada
tahun 1480 dan menjadi Sultan Demak ke 2 pengganti Raden Patah dengan gelar Sultan
Akbar Al-Fattah 2.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 56


Adapun silsilah Pati Unus adalah Maulana Abdul Qadir (Raden Pati Unus) bin
Syekh Muhammad Yunus bin Syekh Khaliqul Idrus (Abdul Khaliq Al-Idrus) bin Syekh
Muhammad Al-Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al-Khayri (wafat di
Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madinah) bin Syekh Abdul
Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al-Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam
Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam. Imam Faqih
Muqaddam seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan
keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husayn putra Imam Besar
Sayyidina Ali bin Abi Talib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al
Zahra.
Dari pihak ibu, Pati Unus masih berhubungan dengan para Maulana dan Ulama
Pasai, terutama Maulana Sayyid Hussein Jamadil Kubra (Maulana Akbar). Menurut
beberapa riwayat, kakek Pati Unus yang bernama Syekh Khalikul Idrus (Abdul Khaliq
Al-Idrus) menikah dengan puteri Maulana Akbar di Kerajaan Islam Pasai. Itulah
sebabnya Pati Unus masih memiliki darah Pasai karena ayahandanya (Maulana Syekh
Muhammad Yunus) diperkirakan lahir dan mendapat pendidikan di Pasai dan
ditugaskan menjadi Maulana di daerah Jepara Jawa Tengah untuk membantu saudara
sepupu dari pihak ibunya, Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel.
Pati Unus lahir dan besar dalam lingkungan Ahlul Bayt yang sudah menjadi para
Ulama dan Maulana di Kerajaan Islam Demak. Beliau tumbuh dan belajar di tengah-
tengah pusat Islamisasi di tanah Jawa dan pada masa-masa puncak kejayaan Islam
yang ditinggalkan oleh para Wali yang datang dari Kerajaan Islam Pasai, terutama
Maulana Rahmatillah yang lahir di Pasai dan meninggal di Ampel Surabaya. Kejayaan
Demak telah mempengaruhi kepribadian dan kepemimpinan Pati Unus sehingga
menjadi seorang pemuda yang alim, cerdas serta berani. Itulah sebabnya Raden Patah,
Sultan Demak I, mengangkatnya menjadi menantu dan ketika akan wafat mewasiatkan
agar Pati Unus menggantikan beliau sebagai Sultan Kerajaan Islam Demak II atas
persetujuan Para Wali yang pada saat itu dipimpin oleh Maulana Syarif Hidayatullah
atau Sunan Gunung Jati.
Berkat pendidikan orang tuanya yang Maulana dan para guru-gurunya,
terutama Maulana Syarif Hidayatullah, Pati Unus tumbuh menjadi seorang panglima
perang yang gagah berani dan diangkat menjadi bupati di Jepara. Namun berkat
kepribadiannya yang menonjol, gabungan antara seorang Maulana, panglima perang
dan administratur pemerintahan, karirnya terus menanjak dan diangkat menjadi
Panglima angkatan perang Kerajaan Islam Demak pada zaman Raden Patah.
Keutamaan yang dimilikinya pula telah memikat hati para Wali dan Sultan sehingga
Maulana Abdul Qadir atau Pati Unus kemudiaan dinobatkan menjadi Sultan dari
Kerajaan Islam Demak.
Setelah Raden Abdul Qadir beranjak dewasa di awal 1500-an beliau diambil
mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan
putri Raden Patah, Abdul Qadir resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara
(tempat kelahiran beliau sendiri). Karena ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu
dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai
Adipati bin Yunus (atau putra Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 57


dengan yang lebih mudah Pati Unus. Untuk mempererat hubungan dengan Cirebon-
Banten, Pati Unus menikah lagi dengan Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati tahun 1511.
Kemudian Pati Unus diangkat sebagai Panglima Gabungan Armada Islam
membawahi armada Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon, diberkati oleh mertuanya
sendiri yang merupakan Pemimpin Spiritual umat Islam di tanah Jawa, Syekh Syarif
Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati yang telah menjadi pemimpin tertinggi para
Wali tanah Jawa. Gelar Pati Unus yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas
utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis.
Tidak diragukan bahwa Kerajaan Islam Demak, Cirebon dan Banten di tanah
Jawa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Kerajaan Islam Pasai sebagai pusat
Islamisasi di Asia Tenggara. Itulah sebabnya ketika penjajah kafir Portugis pada tahun
1511 menguasai Kerajaan Malaka dan mengancam eksistensi Kerajaan Islam Pasai,
maka para Wali, Sultan dan petinggi Kerajaan Islam Demak mengatur strategi untuk
menyerang penjajah kafir Portugis di Malaka. Di bawah kordinasi Kerajaan Islam
Demak, angkatan mujahidin Islam dari Demak, Bugis, Makassar, Maluku-Ambon,
Cirebon, Banten, Palembang, Patani, Tanah Malaya dan tentunya dari Pasai dan sekitar
Aceh membentuk angkatan mujahidin gabungan untuk melakukan operasi Jihad ke
Malaka.
Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba
mendesak masuk benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan angkatan mujahidin balik
kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran
berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah
pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang
masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.
Tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I, atas restu para Wali beliau berwasiat agar
mantunya Pati Unus diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah
Pati Unus atau Raden Sayyid Abdul Qadir bin Yunus, Adipati wilayah Jepara yang
garis nasab (Patrilineal)-nya adalah keturunan Ahlul Bayt menjadi Sultan Demak II
bergelar Sultan Alam Akbar At-Tsaniy.
Penjajah Portugis terus melakukan penaklukan demi penaklukan di sekitar
Kerajaan Islam Pasai untuk mempermudah penguasaan Pasai sekaligus untuk
meredam Islamisasi di Asia Tenggara dengan menguasai jantung kekuasaannya di
Pasai. Pada saat yang sama, akibat serangan demi serangan yang dilakukan Portugis,
Kerajaan Pasai semakin lemah, apalagi Kerajaan Pidier di sebelah barat telah bersekutu
dengan Portugis. Dalam keadaan yang mencekam ini, salah satu jaringan Kerajaan
Islam di ujung barat Sumatra, memproklamirkan berdirinya sebuah kerajaan baru pada
tahun 1514 yang bernama Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Ali
Mughayat Syah. Akhirnya Pasai jatuh ke Portugis pada tahun 1521, dan selanjutnya
peranan Pasai sebagai pusat Islamisasi Nusantara digantikan oleh Kerajaan Aceh
Darussalam yang sudah semakin kuat.
Kejatuhan Pasai ke tangan penjajah kafir Portugis telah menimbulkan kesedihan
mendalam pada para petinggi Demak, Cirebon, Banten dan jaringan Kerajaan Islam
lainnya. Terutama Pati Unus yang kini telah menjadi Sultan Demak. Beliau tidak rela
tanah leluhurnya di Pasai terjajah oleh kaum kafir. Pada tahun itu juga, 1521, Pati Unus

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 58


dengan kekuatan 375 kapal perang yang telah selesai dibangun di Wajo Sulawesi siap
kembali berjihad melawan kafir Portugis membebaskan Pasai dan Malaka. Walaupun
baru menjabat Sultan selama 3 tahun Pati Unus tidak sungkan meninggalkan segala
kemewahan, kemudahan dan kehormatan dari kehidupan istana tanah Jawa bahkan
ikut pula 2 putra beliau yang masih sangat remaja. Demi Islam, Sang Sultan Demak
sendiri memimpin armada perang yang terdiri dari gabungan jaringan kerajaan Islam.
Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat
pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang
yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati
Unus bergelar Senapati Sarjawala, Sultan Demak II. Armada perang Islam yang sangat
besar berangkat ke Malaka dan Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan
menyambut Armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari
benteng Malaka.
Ketika mendarat di Malaka, kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru
meriam. Beliau gugur sebagai Syahid karena berperang melawan penjajah kafir dan
kewajiban membela kaum Muslim yang tertindas. Sebagian pasukan Islam yang
berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya
dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis, karena itu sampai
sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521
ini.
Armada Islam gabungan yang menderita banyak korban kemudian memutuskan
mundur kembali ke tanah Jawa untuk membangun kekuatan dan strategi baru.
Sementara jihad demi jihad terus dilanjutkan para mujahidin Islam terhadap penjajah
kafir Portugis di bawah komando Kerajaan Aceh Darussalam yang bangkit menjadi
bintang baru Islam di ujung barat Sumatra, sebagai kelanjutan Kerajaan Islam Pasai.
Setelah Pati Unus gugur sebagai syahid di Malaka, maka komando armada
gabungan Islam di tanah Jawa diambil alih oleh Fadhlulah Khan yang terkenal dengan
julukan Tubagus Pasai atau Sang Pangeran Pasai atau Falathehan alias Fatahillah yang
diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada
Gabungan yang baru.
Sang Maulana gagah perkasa, Sayyid Abdul Qadir bin Syekh Muhammad
Yunus, Adipati Yunus, Pati Unus dengan gelar Sultan Akbar Al-Fattah Al-Tsany sudah
menunaikan tugasnya, dan kembali kehadirat Illahi sebagai syuhada dalam membela
agama, kaum muslimin dan tanah leluhurnya di Pasai.

Fatahillah: Pangeran Pasai Pendiri Jakarta


Fatahillah adalah gelar yang diberikan kepada Maulana Fadhilah Khan Al-Pasee
yang telah berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari penjajah Portugis pada bulan
juni 1527. Setelah direbutnya kota itu dinamakannya dengan Jaya Karta atau Kota
Kemenangan (al-Fath), yang sekarang dikenal dengan Jakarta ibukota negara Indonesia.
Sementara penjajah Portugis mengenalnya dengan nama Falatehan. Pribadinya yang
memikat, cerdas, alim dan pemberani telah menjadikannya sebagai tokoh legendaris di
Asia Tenggara. Sampai-sampai orang Malaya mengakuinya sebagai tokoh legenda
Laksamana Hang Tuah dari Kerajaan Malaka pada masa Sultan Mahmud Syah yang

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 59


memerintah kesultanan Malaka pada tahun 1488-1511 yang menjabat sebagai Panglima
Pengawal Selat Malaka.
Maulana Fadhilah lahir di Kerajaan Islam Pasai sekitar tahun 1471, itulah
sebabnya beliau bergelar Fadhilah Khan Al-Pasee yang di tanah Jawa disebuat sebagai
Tubagus Pasee atau Pangeran dari Pasai. Beliau lahir dari lingkungan kerabat istana
Kerajaan Pasai dari pihak ibu, sementara ayahadanya adalah seorang Petinggi Pasai,
Ulama dan Maulana yang terkenal dengan gelar Maulana Makhdum Patakan Ibrahim
yang hidup pada masa pemerintahan Ratu Nahrishah (1424) sampai Sultan Mudzafar
Syah (1497). Dalam sejarah Melayu, ayah beliau ini terkenal sebagai penterjemah kitab
Durrul Manzum, karya Abu Ishaq ulama Mekkah yang diserahkan kepada Sultan
Malaka Sultan Mansyur Syah dan meminta bantuan raja Pasai Sultan Muzafar Syah
(wafat 1497) menerjemahkan kitab tersebut. Tugas ini dilakukan oleh Ulama besar Pasai
Makhdum Patakan Ibrahim, ayahanda Maulana Fadhilah. Sementara Makhdum
Patakan adalah cucu dari Maulana Sayyid Hussein Jamadil Kubra.
Secara lengkap silsilah beliau adalah: Maulana Fadhilah Khan (Fatahillah) bin
Maulana Makhdum Nuruddin Ibrahim Patakan bin Sayyid Maulana Alam Baraqat
Syekh Maulana Ismail bin Sayyid Hussein Jamadil Kubra (Maulana Akbar Hussien)
dan seterusnya yang bersambung sampai dengan Sayyidina Hussein bin Sayyidina Ali
ra, cucu Nabi Muhammad saw. Jadi sebenarnya beliau juga adalah keluarga satu buyut
dari Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel) dan juga Syarif Hidayatullah (Sunan
Gunung Jati).
Maulana Fadhilah hidup dan berkembang di penghujung masa kegemilangan
Kerajaan Pasai dengan segala kelimpahan dan kemakmurannya dan menjadi penaung
bagi kerajaan-kerajaan Islam yang baru berkembang di Nusantara. Beliau belajar di
bawah asuhan para Ulama dan Maulana yang menjadi rujukan utama kaum Muslimin
dan sebagai pusat pengkajian Islam tingkat tinggi dengan sistem zawiyah yang
kemudian di tanah Jawa di kenal dengan pesantren. Karena Maulana Fadhilah adalah
anak seorang Maulana terkemuka Pasai, Maulana Makhdum Ibrahim Patakan, maka
wajarlah jika ayahandanya mengharapkan beliau menjadi Ulama kelak. Namun Sang
Pangeran lebih cendrung tumbuh sebagai seorang panglima gagah perkasa.
Setelah beranjak dewasa, Maulana Fadhilah hilir mudik berlayar dari Pasai ke
Malaka. Ketenaran ayahandanya di Malaka sebagai Ulama besar Pasai telah
menempatkannya di dalam lingkungan istana Malaka. Apalagi di Malaka Pangeran
Pasai muda ini dengan gagah perkasa memperlihatkan kepiawaiannya sebagai
pendekar ulung yang mampu menggerakan Jong (perahu layar) dan dengan lincah
memburu setiap perompak yang mengacau di Selat Malaka. Maka tak mengherankan
bila banyak para petinggi kerajaan, baik Pasai ataupun Malaka merasa hormat dan
segan kepada Pangeran Pasai ini.
Pada usinya yang ke 24, pada tahun 1495/6 diangkat menjadi Hulubalang
Malaka oleh Sultan Mahmud Syah (1488 – 1528). Selanjutnya Maulana Fadhilah Sang
Pangeran Pasai ini mendapat gelar Laksamana Hang Tuah, Panglima Pengawal Selat
Malaka. Naskah Cina menyebutkan, bahwa Kaisar pernah memberikan hadiah khusus
kepada Hang Tuah, karena keberhasilannya menyelamatkan kapal-kapal dagang Cina
dari perompak di selatan Selat Malaka. Setelah 15 tahun berkarier sebagai Laksamana

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 60


Hang Tuah, Fadhilah berhenti tahun 1508, dan pada tahun 1509 Sang Pangeran kembali
ke Pasai tanah kelahirannya.
Sekembalinya di Pasai, Sang Pangeran memperdalam pengetahuan keislaman
kepada para Ulama, Maulana dan Auliya yang mendapat tempat terhormat di Kerajaan
Pasai. Kecerdasan dan ketekunan yang didukung oleh garis keturunan (genetik unggul)
telah mengantarkan Sang Pangeran sebagai seorang Maulana terkemuka di Pasai
dengan kedudukan tinggi.
Disebutkan ketika pasukan gabungan Islam pimpinan Pati Unus (Adipati bin
Yunus atau Maulana Abdul Qadir) menyerang Malaka pada tahun 1513 yang sudah
dikuasai Portugis sejak 1511, Maulana Fadhilah ikut andil sebagai salah seorang
Panglima perang. Kegagalan mengalahkan Portugis pada ekspedisi Jihad I ini telah
membulatkan tekad Sang Pangeran muda ini untuk belajar lebih giat menguasai
teknologi perang. Karena Portugis memiliki teknologi perang yang canggih sehingga
gabungan angkatan Islam kalah.
Pasai tidak cukup baginya, dan atas dukungan Sultan dan para Ulama Pasai,
sekitar tahun 1516 beliau berangkat memperdalam pengetahuan ke Gujarat India,
tempat asal usul moyangnya, Maulana Syah Jalal Al-Akbar dan turunannya yang
menjadi Petinggi Kerajaan Thaglug. Di Gujarat beliau mendapat gelar sebagai Maulana
Fadhilah Khan. Selanjutnya beliau mengembara belajar menuju pusat-pusat ilmu Islam
dan teknologi seperti Mekkah, Madinah, Mesir, Baghdad, Samarkand dan Turki. Di
Turki beliau mempelajari teknologi persenjataan, terutama pembuatan meriam.
Sang Pangeran dalam perjalanan belajarnya, diriwayatkan pernah ikut
berperang bersama pasukan Turki sebagai salah seorang Panglima untuk menduduki
Konstantinopel. Setelah pasukannya berhasil menduduki Konstantinopel dan
merubahnya menjadi Istambul, nama beliau sangat terkenal. Beliau diundang pulang
untuk bergabung untuk membesarkan Kesultanan Demak di tanah Jawa. Maulana
Fadhilah diundang para pemimpin Wali Songo yang masih paman-pamannya sendiri
agar bisa membawa para ahli pembuat meriam untuk bergabung dengan Kesultanan
Demak dalam menghadapi Portugis. Tidak satupun kerajaan di Nusantara di masa itu
yang memiliki tekhnologi pembuatan meriam.
Setelah 5 tahun belajar ke penjuru dunia, Maulana Fadhilah Khan pulang ke
Pasai pada tahun 1521. Namun pada saat itu peperangan tengah berkecamuk yang
dipicu oleh ambisi penjajah Portugis, sehingga kapal beliau tidak dapat berlabuh di
Pasai dan langsung ke Palembang-Bengkulu sebagai pusat baru perlawanan kaum
muslimin di sebelah timur. Sementara di barat berpusat pada Kerajaan Aceh
Darussalam yang baru diproklamasikan oleh Sultan Ali Mughayyat Syah pada tahun
1514. Selanjutnya Maulana Fadhilah melanjutkan pelayarannya ke tanah Banten,
tempat pamannya yang sudah menjadi Pemimpin Spiritual (Aulia) Kerajaan Islam
Demak-Cirebon-Banten bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, sebagai
mana yang diungkapkan dalam buku catatan pelayaran Achmad Ghulam Khaan yang
ditulis tahun 946 Hijriah atau 1539 M, dan ditulis ulang oleh Musthafa Khaan, India
1973.
Kedatangan Maulana Fadhilah Khan Pangeran Pasai ke tanah Jawa disambut
gembira oleh armada gabungan tentara Islam yang tengah mempersiapkan ekspedisi

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 61


Jihad II untuk membebaskan Malaka dari penjajah Portugis yang dipimpin langsung
oleh Sultan II Kerajaan Demak, Pati Unus. Sunan Gunung Jati sebagai Pemimpin
tertinggi spiritual Wali Songo menunjuk Fadhilah Khan Al-Pasee sebagai Wakil
Panglima angkatan perang gabungan Demak, Cirebon, Banten, Makassar, Palembang,
Pasai, Malaka, Aceh dan lainnya. Pasukan berangkat dari pelabuhan Demak Jawa
dengan kekuatan 375 kapal perang. Pada kesempatan ini Maulana Fadhillah Khan
dianugrahi gelar Raden Hidayat Tubagus Pasai dari Kerajaan Banten dan Wong Ageng
Pasai dari Kerajaan Demak.
Ternyata ekspedisi Jihad II mengalami kekalahan telak setelah berperang 3 hari 3
malam, Sultan Demak II Pati Unus bersama 2 putranya syahid di Malaka. Komando
tertinggi diambil alih Maulana Fadhilah dan memerintahkan pasukan mundur kembali
ke tanah Jawa. Kekalahan ini telah memberi pengaruh mendalam kepada Tubagus
Pasai Fadhullah Khan terhadap penjajah Portugis. Setelah Armada Gabungan kembali
ke tanah Jawa, beliau diangkat menjadi pengganti Pati Unus sebagai Panglima Armada
Islam Gabungan tanah Jawa dan dinikahkan oleh Sunan Gunung Jati dengan putri
beliau, Ratu Ayu janda Pati Unus untuk memperkuat kekerabatan. Beliau menetap di
Kerajaan Cirebon-Banten bersama dengan sisa-sisa pasukan perangnya untuk
mengatur kembali strategi mengalahkan Portugis. Beliau ditugaskan mertuanya
Maulana Syarif Hidayatullah memperkuat koalisi Kerajaan Islam di Jawa, terutama
Demak-Cirebon-Banten dalam menghadapi Kerajaan Hindu Pakuan-Galuh-Pajajaran.
Kegagalan ekspedisi Jihad II di Malaka 1521 membuat kerajaan-kerajaan Islam di
tanah Jawa, terutama Demak-Cirebon-Banten mengambil sikap defensif dan
memancing Portugis untuk datang menyerang ke tanah Jawa. Akhirnya saat yang
ditunggu-tunggu tiba jua setelah Kerajaan Hindu Galuh berkoalisi dengan penjajah
Portugis. Bulan Juni 1527, Portugis yang telah merasa diatas angin mencoba menguasai
pelabuhan Sunda Kelapa di wilayah Jakarta Utara sekarang. Dengan persiapan yang
matang, gabungan armada Islam dibawah pimpinan Maulana Fadhullah Khan Tubagus
Pasai, Wong Ageng Pasai langsung meluluhlantakkan penjajah kafir Portugis bersama
pasukan dan antek-anteknya. Kemenangan besar berada di pihak Islam, Maulana
Fadhullah Khan atau Tubagus Pasai diberi gelar baru Fatahillah, yang berarti
Kemenangan Allah SWT. Kemenangan besar ini kemudian dirayakan sebagai hari lahir
Jayakarta dan kemudian disebut Jakarta sampai sekarang (22 Juni 1527).
Setelah kemenangan ini Maulana Fadhullah Khan, Tubagus Pasai, Wong Ageng
Pasai atau Fatahillah diangkat Sunan Gunung Jati sebagai Penasehat Agung Kesultanan
Cirebon-Banten yang kini tengah berusia mendekati 60 tahun. Kota Jayakarta
diserahkan ke menantu Fadhullah Khan, anak Maulana Hasanuddin atau cucu
Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang bergelar Tubagus Angke.
Setelah wafatnya Tubagus Angke diserahkan kepada putra beliau Pangeran Jayakarta
yang kemudian pada 1619 karena kalah dalam konflik dengan VOC-Belanda,
meninggalkan Jayakarta yang dibumihanguskan.
Akhir perjalanan panjang hidup Sang Pangeran Pasai yang gagah dan berani ini,
sepanjang 40 tahun lebih, memilih tugas menyiarkan agama Islam sebagai da'i,
pembimbing spiritual dan menjadi ulama dan maulana di Tanah Pasundan di Jawa

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 62


Barat. Beliau sangat terkenal sebagai seorang Maulana yang menguasai ajaran-ajaran
tasawwuf, namun beliau juga bergandeng bahu dengan Syarif Hidayatullah
menaklukkan kerajaan-kerajaan Hindu yang tersisa di Jawa Barat sebagai penasihat
dan pemimpin spiritual bagi Sultan-sultan muda Kerajaan Islam. Demikian pula
bersama dengan Syarif Hidayatullah, Maulana Fadhilah Khan Tubagus Pasai ikut andil
menaklukkan Kerajaan Sunda-Pakuan di wilayah Bogor Jawa Barat pada tahun 1568,
atau dua tahun sebelum beliau wafat.
Maulana Fadhilah Khan Al-Pasee, Tubagus Pasee, Wong Ageng Pasee, Fatahillah
Al-Pasee putra Maulana Makhdum Patakan Ibrahim seorang ulama besar sufi yang
hidup dimasa kejayaan Kerajaan Islam Pasai, juga dikenal dengan Maulana Fatahillah
ibnu Sayyid Kamil Maulana Mukhdum Ibrahim (Makhdum Patakan Ibrahim)
Rahmattullah ibnu Syeikh Nuruddin Ibrahim Maulana Ismail, wafat di tanah Pasundan
Jawa Barat, tepatnya di Cirebon pada tahun 1570 dalam usia hampir 100 tahun. Beliau
di makamkan berdampingan dengan keluarga, sahabat dan gurunya, seorang Auliya
dan Maulana, Syarif Hidayatullah yang sudah wafat mendahului beliau dua tahun di
komplek pemakaman Sunan Gunung Jati, di Gunung Sembung Cirebon.

Kerajaan Islam Pasai & Penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit Hal. 63