Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masyarakat Indonesia yang dicita-citakan adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai salah satu unsur dari pembangunan sumberdaya manusia Indonesia seutuhnya . Visi dan misi rencana strategi Depkes tahun 2010-2014, yang ingin dicapai Depkes adalah Masyarakat yang mandiri dan berkeadilan visi ini dituangkan menjadi 4 misi yaitu: (1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui perdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani. (2)

Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadialan. (3) Menjamin ketersediaan pemerataan sumber daya kesehatan, serta (4) Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik (Depkes, 2010). Delinom (2010:2) mendefinisikan, daerah pesisir adalah jalur tanah darat/kering yang berdampingan dengan laut, dimana lingkungan dan tata guna lahan mempengaruhi secara langsung lingkungan ruang bagian laut, dan sebaliknya. Daerah pesisir adalah jalur yang membatasi daratan dengan laut atau danau dengan lebar bervariasi. Kawasan pesisir pantai tersusun oleh berbagai ekosistem yang dicirikan oleh sifat dan proses biotik dan abiotik yang jelas, satu sama lain tidak berdiri sendiri-sendiri, bahkan saling berkaitan (Nybakken, 2003 dalam Fachrul, 2010). Seperti yang dijelaskan pula oleh Dahuri (1996), bahwa kawasan pesisir pantai adalah unik, karena dipengaruhi oleh berbagai aktivitas manusia dan proses alami yang terdapat, baik di kawasan bagian atas daratan (upland areas) ataupun di lautan atau samudera (oceans). Menurut Fachrul (2010), sebagai ekosistem yang unik, beberapa hal yang perlu diketahui adalah sebagai berikut: 1. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang mempunyai daya dukung yang sangat tinggi, sehingga wilayah ini menjadi tempat terkonsentrasinya berbagai kehidupan manusia. Bukanlah secara kebetulan apabila banyak kota besar terletak di pesisir.

2. Akibat aktivitas manusia yang sangat tinggi di wilayah ini dan akibat posisi geografisnya, maka wilayah pesisir rentan terhadap kerusakan lingkungan. 3. Kerusakan wilayah pesisir akan berpengaruh besar bagi wilayah lainnya. 4. Dalam rangka globalisasi dan zaman informasi seperti saat ini wilayah pesisir menjadi semakin penting sebagai pintu gerbang informasi, lalu lintas barang, dan transportasi massal yang relatif murah. Indonesia terletak sangat strategis ,yaitu di daerah tropis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik). Letak yang strategis ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam khususnya pesisir. Wisata bahari, budi daya tambak, pertambangan dan pemukiman adalah beberapa contoh potensi ekonomi yang bernilai tinggi. Tak heran apabila daerah pesisir menjadi daya tarik bagi seluruh pihak untuk mengelola dan memanfaatkannya dari segi ekonomi maupun politikya. Namun, kenapa masyarakat di wilayah pesisir diidentikan dengan masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah, bahkan berada dalam garis kemiskinan ? Salah satu masalah besar yang berhubungan dengan masalah ini adalah kesehatan. Kesehatan secara langsung mendorong manusia untuk lebih produktiv. Keadaan pelayanan kesehatan yang umumnya kurang pada daerah pesisir menyebabkan banyak masalahmasalah kesehatan yang timbul. Berhubungan dengan hal ini, penting rasanya untuk mengetahui masalah-masalah kesehatan/penyakit-penyakit yang marak menyerang masyarakat pesisir sebagai media edukasi dan bahan tinjauan untuk perbaikan daerah pesisir yang lebih baik.

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah Mengidentifikasi masalahmasalah kesehatan/penyakit-penyakit yang umum pada daerah pesisir dan menjelaskan hubungannya. C. Tujuan Penulisan Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah: 1. Memenuhi kewajiban penulisan makalah sebagai salah satu aspek penting yang berperan dalam kelulusan mata kuliah umum. 2. Menjadi pengetahuan tambahan bagi penulis.

Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah: 1. Mengetahui masalah-masalah kesehatan di wilayah pesisir. 2. Mengetahui hubungan masalah-masalah kesehatan tersebut dengan wilayah pesisir. D. Manfaat 1. Makalah ini dapat menjadi literatur mengenai masalah-masalah

kesehatan yang timbul pada wilayah pesisir. 2. Sebagai bahan bacaan bagi masyarakat khususnya untuk pihak-pihak yang terkait dengan masalah ini. 3. Menjadi kajian bagi masyarakat untuk menghargai kesehatan. 4. Memberikan wacana mengenai pentingannya menjaga kesehatan khususnya untuk masyarakat di wilayah pesisir.

BAB II PEMBAHASAN
A. Masalah-Masalah Kesehatan Diwilayah Pesisir Wilayah pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki sumber daya dan potensi yang sangat baik. Wilayah tersebut telah banyak dimanfaatkan dan memberikan sumbangan yang berarti, baik pada peningkatan taraf hidup masyarakatnya maupun sebagai penghasil devisa negara yang sangat penting. Aktivitas perekonomian yang umumnya terjadi pada wilayah pesisir diantaranya adalah kegiatan perikanan (tangkap dan budidaya), industri dan pariwisata. Namun, kenapa dibalik potensi wilayah pesisir yang sangat besar tetapi masyarakat di wilayah ini masih saja diidentikan dengan masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah, bahkan berada dalam garis kemiskinan ? Salah satu masalah besar yang berhubungan dengan masalah ini adalah kesehatan. Kesehatan secara langsung mendorong manusia untuk lebih produktif dan berpengaruh pada aspek lainnya pada manusia. Keadaan pelayanan kesehatan yang umumnya kurang pada daerah pesisir menyebabkan banyak masalah-masalah kesehatan yang timbul (penyakit-penyakit). Berikut ini merupakan daftar 10 penyakit teratas menurut data Puskesmas Waetuno, puskesmas yang terletak di daerah pesisir di kecamatan Wangi-wangi pada tahun 2011. Tebel 1. 10 Penyakit Teratas Puskesmas Waetuno 2011 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 ISPA DEMAM LUKA INFEKSI KULIT HIPERTENSI GEA/DIARE GOUT ALERGI JENIS PENYAKIT JUMLAH 2.167 1.051 642 624 460 398 369 356

9 10

KARIES GIGI MIGREN/NYERI KEPALA LAINNYA

350 252

B. Penjelasan dan Hubungan Penyakit Dengan Wilayah Pesisir 1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Pengertian ISPA Istilah ISPA mengandung tiga unsur yaitu : infeksi, saluran pernapasan dan akut, seperti dalam penjelasan berikut (Depkes RI, 2007): a. Infeksi adalah masuknya bibit kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. b. Saluran pernapasan adalah organ yang dimulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. Dengan demikian ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru), dan organ adneksa saluran pernapasan. c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas ini diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. Penggolongan ISPA a. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Bagian Atas Yang tergolong Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) bagian atas diantaranya adalah nasofaringitis akut (selesma), faringitis akut (termasuk Tonsilitis dan faringotosilitis) dan rhinitis. b. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Bagian Bawah ISPA bagian bawah adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas bagian bawah mulai dari laring sampai dengan alveoli. Penyakit-penyakit yang tergolong Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian bawah adalah laringitis, asma bronchial, bronchitis akut dan kronis (Erlien, 2008) Cara penularan ISPA Penularan bibit penyakit ISPA dapat terjadi dari penderita penyakit ISPA dan carrier yang disebut juga reservoir bibit penyakit yang ditularkan

kepda orang lain melalui kontak langsung atau melalui benda-benda yang telah tercemar bibit penyakit termasuk udara.Penularan melalui udara dimasudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda yang terkontaminasi dan tidak jarang penyakit yang sebagian ilmu besar penularanya adalh karena menghisap udara yang mengandung penyebap atau mikroorganisme tempat kuman berada. ISPA dapat pula ditularkan melalui air ludah, darah, cipratan bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Faktor-faktor resiko ISPA Faktor-faktor yang menyebapkan kejadian ISPA menurut Departemen Kesehatan 2007 adalah sebagai berikut: a. Usia / Umur Kebanyakan infeksi saluran pernapasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa penelitian menunjukan bahwa anak pada usia muda akan lebih sering menderita ISPA dari pada usia yang lebih lanjut. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) banyak menyerang balita batasan 0-5 tahun, sebagian besar kematian Balita di Indonesia karena ISPA. Balita merupakan faktor resiko yang meningkatkan morbidibitas da

mortalitas infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Khususnya pnemonia karena pada usia balita daya tahan tubuh mereka belum terlalu kuat. b. Jenis kelamin Meskipun cara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia masalah ini tidak terlalu di perhatikan, namun banyak penelitian yang menunjukan perbedaan prevalensi penyakit ISPA terhadap jenis kelamin tertentu. c. Status Gizi Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh

keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutriaen. Dengan makanan bergizi, tubuh manusia tumbuh dan dipelihara. Semua organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Bagian tubuh yang rusak

diganti

dan

sistem

pertahanan tubuh

meningkatkan.

Namun,

pemenuhan gizi yang baik dan seimbang pada masyarakat wilayah pesisir perlu dipertanyakan. Keadaan perekonomian yang pada umumnya berada pada golongan menengah ke bawah bahkan dalam berada garis kemiskinan inilah yang membuat status gizi masyarakat tidak begitu baik. Hal ini meningkatkan frekuensi ISPA pada daerah pesisir. d. Status Imunisasi Pemberian imunisasi adalah suatu cara dengan sengaja memberikan kekebalan terhadap penyakit secara aktif sehingga anak dapat terhindar dari suatu penyakit. Oleh sebab itu anak yang tidak mendapat imunisasi lengkap akan lebih berisiko terkena ISPA dibandingkan dengan anak yang mendapat imunisasi. Hal ini singkron dengan kondisi wilayah pesisir yang pada umumnya tumbuh dengan tingkat pelayanan kesehatan yang sangat terbatas. e. Status Pemberian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur 0-6 bulan bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini (WHO, 2001). Balita yang tidak diberi ASI juga berpotensi mengidap ISPA, bayi usia 0-11 bulan yang tidak diberi ASI mempunyai resiko 5 kali lebih besar meninggal karena ISPA dibandingkan bayi yang memperoleh ASI Ekslusif. Bayi yang tidak diberi ASI menyebapkan terjadinya defisiensi zat besi, ini menjadikan resiko kematianya karena ISPA sangat besar

dibandingkan bayi yang secara ekslusif mendapatkan ASI dari si ibu, Bayi yang diberi ASI ekslusif dapat tumbuh lebih baik dan lebih jarang sakit serta angka kematianya lebih renda dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Ini terjadi karena pemberian ASI dapat meningkatkan reaksi Imonologis bayi, hampir 90 % kematian bayi dan balita terjadi di negara berkembang dan jumlah itu sekitar 4 % lebih kematian disebapkan oleh ISPA (Kartasasmita, 2003). f. Faktor Lingkungan Keadaan termasuk lingkungan ISPA. berpengaruh terhadap yang kejadian kotor penyakit

Keadaan

lingkungan

khususnya

perumahan yang kotor dan padat dapat akan memudahkan

terjangkitnya berbagai penyakit, pembuangan air limbah, sampah dan kotoran yang tidak teraratur dengan baik menyebapkan sampah dan kotoran terkumpul disekitar rumah. Hal ini sinkron dengan keadaan Indonesia umumnya dan wilayah pesisir khususnya dengan

kebiasaan membuang sampah sembarangan. Selain itu, banyak limbah-limbah pabrik yang kemudian dibuang pada laut. Hal ini menjadi faktor pendorong masyarakat pesisir dengan ISPA. Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kematian akibat pneumonia adalah umur di bawah 2 bulan, tingkat sosial ekonomi rendah, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, tingkat jangkauan pelayanan kesehatan rendah, imunisasi yang tidak memadai, menderita penyakit kronis dan aspek kepercayaan setempat dalam praktek pencarian pengobatan yang salah (Wahyu Utaminingsih, 2009). 2. INFEKSI KULIT Berikut adalah beberapa jenis penyakit kulit yang umumnya sering menyerang masyarakat di daerah pesisir diantaranya : a. Eksim (Ekzema) Merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan kulit kemerahmerahan, bersisik, pecah-pecah, terasa gatal terutama pada malam hari (eksim kering), timbul gelembung-gelembung kecil yang mengandung air atau nanah, bengkak, melepuh, tampak merah, sangat gatal dan terasa panas. dan dingin yang berlebihan pada kulit (eksim basah). Eksim merupakan peradangan pada lapisan kulit, baik di lapisan epidermis maupun dermis. Seperti diketahui, kulit terdiri dari tiga lapisan, lapisan jangat (epidermis), dermis, dan jaringan subkutis. Epidermis sebagai lapisan paling atas terbentuk pada usia kehamilan 5-6 minggu. Setidaknya, sekitar 28 hari sekali kulit akan berganti dengan kulit baru. Selain itu, terdapat sel pigmen yang melindungi tubuh dari efek sinar matahari. Bagian tubuh yang sering diserang eksim yaitu tangan, kaki, lipatan paha, dan telinga. Eksim disebabkan karena alergi terhadap rangsangan zat kimia tertentu seperti yang terdapat dalam detergen, sabun, obat-obatan dan kosmetik, kepekaan terhadap jenis makanan tertentu seperti udang, ikan laut, telur, daging ayam, alkohol, vetsin (MSG), dan lain-lain. Eksim juga dapat disebabkan karena alergi serbuk

sari tanaman, debu, rangangan iklim, bahkan gangguan emosi. Eksim lebih sering menyerang pada orang-orang yang berbakat alergi. Penyakit ini sering terjadi berulang-ulang atau kambuh. Oleh karena itu harus diperhatikan untuk menghindari hal-hal atau bahan-bahan yang dapat menimbulkan alergi (alergen.). Tanda-tanda eksim, antara lain, kulit kemerah-merahan, kulit kering, basah, atau tebal dan bersisik. Biasanya eksim baru warnanya agaklebih merah, agak basah, disertai bengkak. Sementara pada yang kronis atau sudah lama, lebih tebal, bersisik, kering, dan warnanya agak kehitaman. Eksim karena faktor pencetus dari lingkungan bersifat alergen yang dapat menimbulkan reaksi alergi di tubuh, sehingga kulit menjadi gatal dan timbul eksim. Faktor lain yang memudahkan terjadinya eksim adalah sifat kulit, yakni kulit kering. Pemakaian sabun yang kadar alkalinya tinggi, terlalu sering berada di ruangan ber-AC dengan suhu di bawah 18 Celsius, memakai pakaian dari wol, bisa memicu kambuhnya eksim. Meski penyebabnya genetik (keturunan), sepanjang tak ada faktor pencetusnya, eksim ini tidak akan timbul. Jadi, kalau gejalanya masih sedikit gatal atau merah, lebih baik langsung diingat-ingat apa yang sudah dimakan dan dikenakan, lalu cepat hindari agar tidak

berkepanjangan.

Eksim kering b. Kudis (Skabies)/kutu air

Eksim basah

Merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit/tungau yang gatal yaitu Sarcoptes scabiei var hominis, parasit tungau berkaki delapan kecil dengan ukuran hanya 1/3 milimeter dan liang ke dalam kulit untuk menghasilkan rasa gatal, yang cenderung lebih buruk di malam hari. Tungau yang menyebabkan penyakit kulit kudis dapat dilihat dengan kaca pembesar atau mikroskop. Tungau kudis merangkak tetapi tidak

dapat terbang atau melompat. Mereka bergerak pada suhu di bawah 20 derajat celcius, dan mereka dapat bertahan hidup untuk waktu lama pada suhu tersebut. Maka dari itu penting untuk menjaga kelembapan kulit dari serangan penyakit kudis. Menurut catatan kutu kudis terjadi di seluruh dunia dan sangat umum sebagai penyebab penyakit kulit. Diperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar 300 juta kasus terjadi setiap tahunnya.. Kudis lebih sering terjadi di daerah yang higienisnya buruk (kumuh)dan menyerang orang yang kurang menjaga kebersihan tubuhnya (mandi di kawasan air yang tercemar, tidak menggunakan sabun, dan lain- lain). Gejala yang timbul antara lain : timbul gatal yang hebat pada malam hari, gatal yang terjadi terutama di bagian sela-sela jari tangan, di bawah ketiak, pinggang, alat kelamin, sekeliling siku, aerola (area sekeliling puting susu), dan permukaan depan pergelangan. Penyakit ini mudah sekali menular ke orang lain secara langsung misalnya bersentuhan dengan penderita, atau tidak langsung misalnya melalui handuk atau pakaian.

c. Kurap Disebut tinea corporis, berkaitan erat dengan infeksi jamur lain dengan nama yang mirip, yang meliputi: 1) Kaki atlit (tinea pedis). Jamur ini akan menyerang daerah-daerah lembab antara jari kaki dan kadang-kadang pada kaki Anda sendiri. 2) Jock gatal (tinea cruris). Jamur ini akan menyerang alat kelamin, paha atas bagian dalam dan bokong. 3) Kurap Ringworm dari kulit kepala (tinea capitis). Bentuk ini paling sering terjadi pada anak-anak yang menimbulkan warna merah, gatal dan tambalan di kulit kepala, meninggalkan bercak-bercak botak. 4) Kurap merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamurJamur . Gejalanya antara lain yaitu ; kulit menjadi tebal dan timbul lingkaran-

10

lingkaran, bersisik, lembab, berair, dan terasa gatal, kemudian timbul bercak keputih-putihan, kulit yang merah dan meradang di sekitar tepi dan tampak sehat di tengah-tengah. Kurap biasanya timbul karena kurang menjaga kebersihan kulit. Bagian tubuh yang biasanya terserang kurap yaitu tengkuk, leher, dan kulit kepala. Kurap ditandai dengan timbulnya lingkaran-lingkaran berwarna merah pada kulit yang dikelilingi oleh bintil-bintil di tepinya. Jika kulit dipinggir lingkaran tersebut ditekan, maka akan keluar nanah. Kurap biasanya

menyerang kulit kepala, leher, dagu, atau tengkuk. Kurap terjadi karena jamur yang hidup di bawah kulit dan bisa menular lewat beberapa cara: Antarorang, biasanya menular karena ada kontak langsung dengan orang yang terinfeksi Hewan ke manusia. Anda dapat kontak kurap dengan menyentuh binatang yang terinfeksi kurap. Kurap dapat menyebar sambil kita membelai anjing atau kucing peliharan kita misalnya. Melalui benda-benda yang telah terinfeksi virus kurap seperti pakaian, handuk, selimut, dll. Tanah ke manusia. Dalam kasus yang jarang terjadi, kurap dapat menyebar ke manusia melalui kontak dengan tanah yang terinfeksi.

d. Bisul (Furunkel) Bisul merupakan infeksi kulit berupa benjolan, tampak memerah, yang akan membesar, berisi nanah dan terasa panas, dapat tumbuh di semua bagian tubuh, namun biasanya tumbuh pada bagian tubuh yang lembab, seperti : leher, lipatan lengan, atau lipatan paha, kulit kepala. Bisul disebabkan karena adanya infeksi bakteri Stafilokokus aureus pada kulit melalui folikel rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat yang kemudian menimbulkan infeksi lokal. Faktor yang meningkatkan risiko terkena bisul

11

antara lain kebersihan yang buruk, luka yang terinfeksi, pelemahan diabetes, kosmetika yang menyumbat pori, dan pemakaian bahan kimia. Faktor yang meningkatkan risiko terkena bisul antara lain kebersihan yang buruk, luka yang terinfeksi, pelemahan diabetes, kosmetika yang menyumbat pori, dan pemakaian bahan kimia. Untuk menghindari bisul, sebaiknya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dan asupan gizi harus benar-benar diperhatikan. Karena gizi yang baik akan memperkuat daya tahan tubuh.

e. Campak (Rubella) Merupakan penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus, juga kurang pemahaman orang tua tentang pentingnya vaksinasi semasa balita. Biasanya menyerang anak-anak. Gejala dari penyakit ini adalah demam, bersin, pilek, sakit kepala, badan terasa lesu, tidak napsu makan, dan radang mata. Setelah beberapa hari dari gejala tersebut timbul ruam merah yang gatal, bertambah besar, tersebar ke beberapa bagian tubuh. Peneliti dari Mayo Clinic menuturkan virus dari penyakit campak ada dalam trakea inang (orang yang terkena campak) dan memprovokasi orang ini untuk batuk sehingga virus tersebut bisa ada di udara dan menginfeksi orang lain. Hasil studi yang dipublikasikan secara online pada 2 November dalam jurnal Nature memberikan pengetahun pada peneliti mengapa beberapa virus pernapasan bisa menyebar lebih cepat dan mudah dari virus lainnya. Peneliti menemukan virus campak menggunakan protein atau disebut dengan nectin-4 yang ada dalam diri penderita untuk menginfeksi dan ia akan pergi ke lokasi yang strategis yaitu tenggorokan. Meskipun sudah ada vaksin untuk campak, tapi vaksin ini menyerang lebih dari 10 juta anak setiap tahunnya di seluruh dunia.

12

Dalam

beberapa

tahun

ini

penyebaran

virus

meningkat

akibat

menurunnya orang-orang yang divaksinasi. "Virus campak telah mengembangkan strategi yang kejam. Pertama-tama ia akan membajak sel-sel kekebalan patroli paru-paru untuk masuk lalu jalan ke dalam sel kekebalan lainnya di tubuh," ujar peneliti utama dari Mayo Clinic, Roberto Cattaneo, PhD, seperti dikutip dari ScienceDaily, Senin (7/11/2011). Sel-sel kekebalan yang sudah terinfeksi ini akan mengirimkan secara khusus ke sel-sel yang mengekspresikan protein nctin-4 sebagai reseptor baru. Hebatnya sel-sel ini terletak di trakea sehingga memudahkan penularan melalui udara. Kondisi ini yang menyebabkan campak menjadi salah satu penyakit virus yang bisa menyebar dengan cepat dan paling menular. Hal lain yang ditemukan dalam studi ini adalah nectin-4 diketahui menjadi biomarker (penanda biologis) untuk beberapa jensi kanker seperti ovarium, payudara dan paru-paru. Studi ini didanai oleh National Institute of Health dan lembaga hibah dari Jerman, Perancis, Kanada serta Singapura.

f.

Panau/panu (Pitriyasis Versikolor) Panau atau Panu adalah salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur, kulit yang lembab, pemakaian handuk atau pakaian bersama dari penderita panu. Penyakit panau ditandai dengan bercak berwarna pada kulit dengan batas sangat tegas dibanding warna kulit di sekitarnya. disertai rasa gatal pada saat berkeringat. Bercak-bercak ini bisa berwarna putih, coklat atau merah tergantung warna kulit si penderita. Panau paling banyak dijumpai pada remaja usia belasan. Meskipun begitu panau juga bisa ditemukan pada penderita berumur tua. Cara pencegahan penyakit kulit Panau dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit. Panu (Pitriyasis Versikolor) ditunjukkan dengan berwarna pada kulit. Warnanya bervariasi dari putih hingga coklat kehitaman dengan batas yang sangat tegas dibandingkan warna kulit di sekitarnya. Bila kulit yang terkena panu tersebut dikerok maka akan keluar serpihan-serpihankeputihan. Panu seringkali muncul di punggung atau leher belakang. Penyebab dari penyakit ini adalah keringat yang

13

dibiarkan menempel pada kulit dalam waktu yang lama. Kotoran tersebut lama-kelamaan menjadi jamur yang menyebabkan panu muncul. g. Kusta Penyakit Kusta adalah penyakit infeksi yang berlangsung dalam waktu lama, penyebab penyakit kusta adalah Mycobacterium

leprae. Kuman ini dapat menyebabkan gangguan kulit, saraf tepi, dan jaringan lain. Adapun penularan penyakit kusta selama ini hanya diketahui melalui kontak langsung dengan penderita penyakit kusta terutama yang sudah menahun. Penyakit kusta terkenal sebagai penyakit yang paling ditakuti karena dapat menyebabkan pemendekan jari-jari atau cacat tubuh sehingga menimbulkan masalah sosial, psikologis dan ekonomis. Penderita penyakit kusta bukan menderita karena penyakitnya saja, tetapi juga karena masyarakatnya. Meski penyakit kusta tidak menyebabkan kematian, namun

penderitanya bisa mati karena sanksi sosial berupa tindakan diskrimanasi pengucilan dari masyarakat. Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia sebagai penyumbang penderita kusta terbanyak. Bahaya penyakit kusta adalah menyebabkan cacat permanen pada anggota tubuh. Penyakit kusta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, dosa, makanan maupunketurunan yang selama ini telah menjadi salah kaprah dalam masyarakat Indonesia. Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium, dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil tahan asam. Hubungan penyakit kulit dengan masyarakat wilayah pesisir a. Suatu kutipan yang di peroleh dari http://bocahpharmacy Kita

.multiply.com/

journal/item/82/Wajah_Lahan_Basah_

menyebutkan beberapa penyakit kulit yang melanda daerah pesisir pagatan besar : Selain penyakit diare yang biasanya berkembang, juga penyakit kulit berupa gatal-gatal, panu, dan kutu air yang menyerang warga pesisir. Penyebab utama penyakit kulit itu adalah

14

menurunnya kekebalan tubuh warga akibat minimnya mengonsumsi air, intensitas mandi yang mengurang, dan kualitas kebersihan pakaian. Selain itu juga dipicu oleh beberapa bakteri yang berkembang akibat kondisi air yang tidak sehat seperti kutu air yang disebabkan oleh Trichofyton dan panu oleh Malasezia furfur. Solusi untuk permasalahan ini, yaitu pendistribusian air bersih ke lokasilokasi tersebut. Misalnya dengan cara bantuan air bersih dari PDAM kepada masyarakat pesisir pantai agar mereka dengan mudah mendapatkan air bersih, kalau perlu air bersih tersebut diberikan secara cuma-cuma atau gratis sehingga masyarakat tidak perlu membelinya. Solusi yang lain, yaitu dengan cara meningkatkan pelayanan kesehatan dalam upaya mencegah penyakit yang ditimbulkan dari tingginya salinitas. Peningkatan pelayanan kesehatan ini dilakukan dengan cara antara lain menambah jumlah tenaga kesehatan yang ada dan melaksanakan penyuluhan kesehatan lingkungan. b. Surabaya, eHealth. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir lebih rentan mengalami penyakit kulit, begitu juga yang dialami oleh masyarakat yang berada di kawasan religi Sunan Ampel Surabaya. Salah satu penyakit kulit yang rentan dialami oleh masyarakat pesisir yakni penyakit Kusta. Penyakit Kusta ini jika dibiarkan berlarut-larut, maka dalam jangka panjang akan menyerang bagian saraf tepi yang berujung pada kecacatan, terang Kepala Puskesmas Pegirian, dr. Hengky TK saat menerima kunjungan dari Dinkes Provinsi Jawa Timur ketika memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang berada di kawasan Pegirian, hari Senin (10/1). http://www.surabayaehealth.org/berita/kusta-bukan-penyakit-kutukandanbisa disembuhkan c. Kulit yang bersih dan terawat akan tampak indah dilihat.

Gangguan pada kulit sering terjadi karena berbagai faktor penyebab, antara lain yaitu iklim, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan hidup yang kurang sehat, alergi, dan lain-lain.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/mengenal-jenis-jenispenyakit-kulit/

15

3. HIPERTENSI Pengertian Hipertensi Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. Secara umum, Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. Gejala Hipertensi Gejala-gejala penyakit hipertensi yaitu sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala sebagai berikut: Sakit kepala Kelelahan Mual Muntah Sesak nafas Gelisah Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal Sedangkan Pada anak, gejalanya anak mudah gelisah, cepat lelah, sesak napas, susah minum dan biru di tangan dan bibir. Faktor Penyebab Hipertensi Penyebab hipertensi yang sering kali menjadi penyebab di antaranya aterosklerosis (penebalan dinding arteri yang menyebabkan hilangnya

16

elastisitas pembuluh darah), keturunan, bertambahnya jumlah darah yang dipompa ke jantung, penyakit ginjal, kelenjar adrenal, dan sistem saraf simpatis. Pada ibu hamil kelebihan berat badan, tekanan psikologis, stres, dan ketegangan bisa menyebabkan juga hipertensi. Penyakit Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis yaitu : a. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. b. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain. Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi,

penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). Status Gizi Hipertensi Faktor gizi yang sangat berhubungan dengan terjadinya hipertensi melalui beberapa mekanisme. Aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi yang berhubungan dengan diet seseorang, walaupun faktor usia juga berperan, karena pada usia lanjut (usila) pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan elastisitasnya berkurang. menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita Dalam mengatur hipertensi untuk

menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark jantung. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah: a. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih). b. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker, keripik dan makanan kering yang asin). c. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buahbuahan dalam kaleng, soft drink).

17

d. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang). e. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah

(sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam). f. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium. g. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape. Zat gizi yang diperlukan pada penderita hipertensi adalah karbohidrat,

protein dan lemak yang disebut sebagai zat gizi makro serta vitamin dan mineral yang disebut dengan zat gizi mikro. h. Untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh diperlukan air dan serat. Tubuh manusia membutuhkan aneka ragam makanan untuk memenuhi semua zat gizi tersebut. Kekurangan atau kelebihan salah satu unsur zat gizi akan menyebabkan kelainan atau penyakit. Oleh karena itu, perlu diterapkan kebiasaan makanan yang seimbang sejak usia dini dengan jumlah yang sesuai kebutuhan masing-masing individu agar tercapai kondisi kesehatan yang prima. Faktor Resiko Hipertensi Faktor risiko hipertensi, beberapa di antaranya dapat dikendalikan atau dikontrol dan tidak dapat dikontrol diantaranya : a. Faktor risiko yang dapat dikendalikan atau dikontrol yaitu obesitas, kurang olahraga, merokok, menderita diabetes mellitus, menkonsumsi garam berlebih, minum alKohol, diet, minum kopi, pil KB , stress emosional dan sebagainya. b. Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan atau tidak dapat dikontrol yaitu Umur, jenis kelamin, dan genetic. Kecenderungan masyarakat pesisir pantai menderita hipertensi dalam hal: a. Kebiasaan merokok. b. Kebiasaan mengkonsumsi alkohol. c. Asupan garam yang tinggi.

18

4. DIARE Pengertian Diare Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya (lazimnya frekuensi ini lebih dari tiga kali perhari) disertai dengan adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita, muntah, muntaber. Atau biasanya satu kali sehari tapi ditandai dengan ingus atau darah. Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC). Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. (Depkes RI,2010). Secara klinis penyebab diare dapat

dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. (Depkes RI,2010). Diare dapat diakibatkan oleh 2 sumber : a. Diare infeksi yaitu diare yang disebabkan oleh infeksi kuman seperti bakteri, parasit, dan virus. b. Diare non infeksi yaitu diare yang disebabkan bukan oleh infeksi kuman tetapi disebabkan oleh kurang gizi, alergi maupun intoleran makanan tertentu. Gejala Klinis Adapun gejala-gejala klinis dari penyakit ini adalah mula-mula anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan biasanya meninggi, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare, warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Gejala muntah dapat terjadi setelah atau sebelum diare. Apabila penderita telah banyak kehilangan cairan dan eletrolit maka gejala dehidrasi mulai nampak, berat badan mulai menurun, tugor kulit dan tonus otot berkurang, mata dan ubunubun besar dan menjadi cekung, selaput lendir, bibir dan mulut serta kulit tampak kering saliva jadi kental dan anak menjadi gelisah (Depkes, 2010). Penyebab Penyakit Diare Adapun faktor penyakit diare yang dibagi menjadi 4(empat) faktor antara lain: a. Faktor Infeksi

19

Infeksi eksternal adalah infeksi saluran pencernaan makanan 1) Infeksi bakteri : vibrio, E coli, rotavirus 2) Infeksi virus : intervirus, adenovirus, rotavirus 3) Infeksi parasit : cacing, protozoa, jamur

Infeksi parental adalah infeksi di luar alat pencernaan makanan 1) Tonsilitis 2) Bronkopneumonia 3) Ensefalitis

b. Faktor Malabsorbsi 1) Malabsorbsi karbohidrat 2) Malabsorbsi lemak 3) Malabsorbsi protein c. Faktor Makanan 1) Makanan beracun 2) Makanan basi 3) Alergi terhadap makanan d. Faktor psikologis Rasa takut dan cemas ( jarang terjadi pada anak yang lebih besar). Penyebab diare adalah keracunan makanan akibat infeksi bakteri, infeksi virus, alergi, makanan, infeksi parasit, kerusakan mukosa usus halus Kekurangan Kalori Protein (KKP) dan gangguan immunologik. Dalam hal infeksi bakteri sebagai penyebab diare, hal ini terjadi dapat melalui air yang merupakan media penularan penyakit infeksi yang berawal dari tinja manusia atau hewan yang dibuang di sembarang tempat yang dapat mengakibatkan tercemarnya sumber air bersih tersebut.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Diare (dihubungkan dengan kondisi wilayah pesisir) Di negara berkembang seperti di Indonesia, banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian diare, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. Perilaku masyarakat dalam hal ini higiene perorangan. Hal ini terlihat pada kondisi umum lingkungan pesisir, limbah sampah yang dibuang sembarangan ke laut, membuang hajad tidak pada tempatnya dan kebiasaan meminum air yang belum steril.

20

b. Keadaan lingkungan hidup, dalam hal ini sanitasi lingkungan yang kurang baik seperti: Penyediaan air bersih dan jamban keluarga. Pengawasan vektor yang dapat menularkan penyakit diare. Pengelolaan sampah yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya vektor Pencegahan pengotoran udara yang dapat mempengaruhi kualitas air, perumahan dan lingkungan sekitar. c. Keadaan sosial ekonomi dalam hal ini pengetahuan dan mata pencaharian masyarakat. d. Penyakit infeksi yang masih tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi terjadinya diare (Pudjiadi,2005; Notoatmodjo,2003), adalah sebagai berikut: a. Faktor umum atau secara langsung 1) Tingkat pengetahuan Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba di mana sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata (penglihatan) dan telinga (pendengaran). 2) Perilaku cuci tangan Kebersihan seseorang terutama dalam hal perilaku mencuci tangan setiap makan, merupakan sesuatu yang baik. Sebagian besar kuman infeksi diare ditularkan melalui jalur fecal-oral. 3) Hygiene sanitasi Hygiene adalah suatu usaha kesehatan masyarakat yang

mempengaruhi kondisi lingkungan terhadap lingkungan kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan kesehatan serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan. Termasuk upaya

21

melindungi,

memelihara

dan

mempertinggi

derajat

kesehatan

manusia (perorangan atau masyarakat). Sedemikian rupa sehingga berbagai faktor lingkungan yang menguntungkan tersebut tidak sampai menimbulkan gangguan kesehatan. Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia, lebih mengutamakan usaha pencegahan terhadap berbagai faktor

lingkungan sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit dapat terhindari. Sanitasi lingkungan berupa adanya jamban umum, MCK (Mandi, Cuci, Kakus), tempat sampah. Adapun macamnya antara lain: Kualitas Sumber Air Sumber air minum merupakan sarana sanitasi yang penting berkaitan dengan kejadian diare. Pada prinsipnya sumber air dapat diproses menjadi air minum, sumber-sumber air ini dapat digambarkan sebagai berikut : air hujan, di mana air hujan dapat ditampung dan kemudian dijadikan air minum. Air sungai dan danau, kedua sumber air ini sering disebut air permukaan. Mata air yaitu air yang keluar dan berasal dari tanah yang muncul secara alamiah. Air sumur dangkal yaitu air yang berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal biasanya berkisar antara 5-15 meter. Air sumur dalam yaitu air berasal dari lapisan air kedua di dalam tana, dalamnya dari permukaan tanah biasanya di atas 15 meter. Sebagian besar air sumur dalam ini adalah cukup sehat untuk dijadikan air minum langsung. Sebagian besar kuman-kuman infleksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fecal-oral yang dapat ditularkan dengan dimasukkan ke dalam mulut cairan atau benda yang tercemar dengan tinja. Sumber air yang bersih baik kualitas maupun kuantitasnya akan dapat mengurangi tertelannya kuman penyebab diare. Kebersihan jamban Dengan adanya jamban dalam rumah mempengaruhi kesehatan lingkungan sekitar. Untuk mencegah atau mengurangi

kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka tinja harus dibuang pada tempat tertentu agar menjadi jamban yang sehat untuk daerah pedesaan harus memenuhi persyaratan yaitu tidak

22

mengotori permukaan air di sekitarnya, tidak terjangkau oleh serangga, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara, sederhana desainnya, murah, dapat diterima oleh pemakainya. b. Faktor Pendukung atau tidak langsung 1) Umur Umur adalah usia yang menjadi indikator dalam kedewasaan di setiap pengambilan keputusan untuk melakukan sesuatu yang mengacu pada setiap pengalamannya. Umur seseorang sedemikian besarnya akan mempengaruhi perilaku, karena semakin lanjut umurnya, maka semakin lebih bertanggung jawab, lebih tertib, lebih bermoral, lebih berbakti dari usia muda (Notoatmodjo,2002). 2) Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh. Dari kepentingan keluarga itu sendiri amat diperlukan seseorang lebih tanggap adanya masalah kesehatan terutama kejadian diare di dalam keluarganya dan biasa mengambil tindakan secepatnya. Pendidikan yang rendah, adat istiadat yang ketat serta nilai dan kepercayaan akan takhayul di samping tingkat penghasilan yang masih rendah merupakan penghambat dalam pembangunan

kesehatan. Pendidikan rata-rata penduduk yang masih rendah, khususnya ibu balita merupakan salah satu masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap cara penanganan diare, sehingga sikap hidup dan perilaku yang mendorong timbulnya kesadaran masyarakat masih rendah. Semakin tinggi pendidikan ibu maka mortalitas (angka kematian) dan mordibilitas (keadaan sakit) semakin menurun, hal ini tidak hanya akibat kesadaran ibu balita yang terbatas, karena kebutuhan status ekonominya yang belum tercukupi. 3) Status Pekerjaan Ibu Status pekerjaan ibu mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian diare pada anak balita. Pada pekerjaan ibu atau keaktifan ibu dalam berorganisasi sosial berpengaruh pada kejadian diare pada balita. 4) Pendapatan Keluarga

23

Pendapatan keluarga menentukan ketersediaan fasilitas kesehatan yang baik. Semakin tinggi pendapatan keluarga, semakin baik fasilitas dan cara hidup mereka yang terjaga akan semakin baik. Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas fasilitas kesehatan di suatu keluarga. Demikian ada hubungan yang erat antara pendapatan dan kejadian diare yang didorong adanya pengaruh yang menguntungkan dari pendapatan yang meningkatkan, perbaikan sarana atau fasilitas kesehatan serta masalah keluarga lainnya, yang berkaitan dengan kejadian diare, hampir berlaku terhadap tingkat pertumbuhan pendapatan. 5) Status Gizi Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi makanan, penyimpanan dan penggunaan makanan. Status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan yang diakibatkan oleh keadaan keseimbangan di satu pihak dengan pengeluaran oleh organisme dan pihak lain yang terlihat melalui variabel tertentu disebut indikator misalnya Berat Badan dan Tinggi Badan. Kurang gizi juga berpengaruh terhadap diare. Seseorang yang kurang gizi karena pemberian makanan yang kurang, diare akut yang lebih berat, yang berakhir lebih lama dan lebih sering terjadi pada diare persisten juga lebih sering dan disentri lebih berat. Resiko meninggal akibat diare persisten atau disentri sangat meningkat, apabila seseorang sudah kurang gizi secara umum hal ini sebanding dengan derajat kurang gizinya dan paling parah jika anak menderita gizi buruk (Depkes,2010).

5. GOUT Pengertian Gout artritis adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasannya mendekati masa menopause. Gout merupakan suatu penyakit dengan kecenderungan adanya faktor keturunan. Etiologi

24

Gejala artritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam kelainan metabolik, disebabkan pembentukan asam urat yaitu hiperuresemia. Hiperuresemia pada penyakit ini terjadi karena: a. Pembentukan asam urat yang berlebihan (gout metabolik) Gout primer metabolik : karena sintesis atau pembentukan yang berlebihan Gout sekunder metabolik : pembentukan asam urat berlebihan karena penyakit lain seperti leukimia, terutama yang diobati dengan sitostatika, pseoriasis, polisitermia vera, mielofibrosis. b. Pengeluaran asam urat melalui ginjal kurang (gout renal) Gout renal primer : karena gangguan ekskresi asam urat ditubuh distal ginjal yang sehat. Gout renal sekunder: disebabkan ginjal yang rusak, misalnya pada glomerulonefritis kronis, kerusakan ginjal kronis (chronic renal, failure). Perombakan dalam usus yang berkurang.

Serangan gout secara mendadak, dapat di picu oleh : 1) Luka ringan 2) Pembedahan 3) Pemakaian sejumlah besar alkohol atau makanan yang kaya akan protein purin 4) Kelelahan 5) Stres emosional 6) Penyakit dan sejumlah obat yang menghambat sekresi asam urat 7) Kedinginan Stadium pada Gout Beberapa stadium pada gout : 1) Hiperuresemia : tanpa gejala atau hanya adanya rasa tidak segar 2) Artritis akut : serangan dapat timbul tanpa suatu pencetus apapun, tapi dapat pula karena trauma lokal, pembedahan, stres, dan obatobatan. 3) Fase interkritik (artritis rekuren) terjadi artritis yang rekuren dengan serangan yang lainya makin pendek.

25

4) Artritis kronis : di sebabkan oleh kelainan sendi yang menetap karena dekstruksi atau osteoartrosis sekunder. Manifestasi klinis Secara klinis ditandai dengan adanya artritis, tofi, dan batu ginjal. Yang penting diketahui bahwa asam urat sendiri tidak akan mengakibatkan apaapa. Yang menimbulkan rasa sakit adalah terbentuk dan mengendapnya kristal monosodium urat. Pengendapanya dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Oleh sebab itu, sering terbentuk tofi pada daerah-daerah telinga, siku, lutut, dorsum pedis dekat tendon Achiles pada metatarsofalangeal digiti I, dan sebagainya. Serangan sering kali terjadi pada malam hari. Biasanya sehari sebelumnya pasien tampak segar bugar tanpa keluhan. Tiba-tiba tengah malam terbangun oleh rasa sakit yang hebat sekali. Daerah khas yang sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari sebelah dalam, disebut podagra. Bagian ini tampak membengkak, kemerahan, dan nyeri sekali bila di sentuh. Rasa nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu, lalu menghilang. Sedangkan tofi itu sendiri tidak sakit, tapi dapat merusak tulang. Sendi lutut juga merupakan tempat predileksi kedua untuk serangan ini. Tofi merupakan penimbunan asam urat yang di kelilingi reaksi radang pada sinovial, tulang rawan, bursa, dan jaringan lunak. Sering timbul di tulang rawan telinga sebagai benjolan keras. Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang timbul lima sampai sepuluh tahun setelah serangan artritis akut pertama. Pada ginjal akan timbul sebagai berikut : 1) Mikrotof dapat terjadi di tubuli ginjal dan menimbulkan nefrosis 2) Nefrolitiasis karena endapan asam urat 3) Pielonefritis kronis (radang pada lapisan luar ginjal) 4) Tanda-tanda aterosklerosis dan hipertensi. Tidak jarang ditemukan pasien dengan kadar asam urat tinggi dalam darah, tanpa adanya riwayat gout, yang disebut hiperurisemia asimtomatik. Pasien demikian sebaiknya dianjurkan mengurangi kadar asam uratnya karena menjadi faktor risiko dikemudian hari dan kemungkinan terbentuknya batu urat di ginjal.

26

Tabel 2. Kandungan Purin Bahan Makanan


KATEGORI Kelompok I Kandungan purin tinggi (100-1000mg/100g) MAKANAN Otak Hati Jantung Ginjal Jeroan Extrak kaldu Daging bebek Ikan sarden Mekarel Kerang Daging sapi dan ikan Ayam Udang Tahu Tempe Asparagus Bayam Daun Singkong Kangkung Biji melinjo Nasi Ubi Singkong Jagung Roti Bihun Kue kering Telur Keju Susu Sayuran dan buah ANJURAN Sebaiknya dihindari

Kelompok II Kandungan purin sedang (9-100mg/100g)

Boleh dikonsumsi berlebihan

tidak

Kelompok III Kandungan purin rendah

Boleh dikonsumsi setiap hari

Dari data diatas, dapat diketahui bahwa frekuensi masyarakat pesisir dengan gout termaksud tinggi (masuk dalam 10 penyakit terbesar) wajar apabila dilihat dari makanan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat pesisir. Dimana, rata-rata masyarakat pada pesisir memiliki pekerjaan sebagai nelayan dengan penghasilan utama berasal dari ikan. Makanan yang utama mereka santap setiap hari adalah ikan dengan kadar purin yang sedang dan tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Jika berlebihan, hal inilah yang memicu timbulnya gout.

27

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Masalah-masalah kesehatan yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat diwilayah pesisir terutama didasari oleh kurangnya kesadaran pihak yang terkait mengenai pentingnya kebersihan dan pengaturan pola makan yang baik. Masalah-masalah kesehatan yang timbul berhubungan dengan kebersihan adalah ISPA, Infeksi kulit dan diare. Sedangkan masalahmasalah kesehatan yang berhubungan dengan pola makan adalah hipertensi, diare dan gout. B. Saran 1. Kesadaran masyarakat khususnya diwilayah pesisir untuk menjaga kebersihan diri maupun lingkungannya perlu ditingkatkan. 2. Pengaturan pola makan masyarakat perlu lebih diperhatikan. 3. Pemerintah sebaiknya melaksanakan program edukasi secara

menyeluruh ke semua aspek kehidupan masyarakat di wilayah pesisir.

28