Anda di halaman 1dari 16

1717 Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

LIBERALISME DALAM PENDIDIKAN AKHLAK


(Tinjauan Konsep al-Qur'an)
Oleh: Musthofa Rahman

Abstrak: Kebebasan menjadi hak setiap orang. Nilai hidup seorang manusia tergantung adanya kebebasan yang didasarkan pada perasaan yang mendalam dalam pribadi seseorang, kebutuhan masyarakat, ketaatan kepada Allah dan nilai kemanusiaan. Liberalisme Qur'ani merupakan kebebasan yang didasarkan atas tanggung jawab untuk melaksanakan perbuatan yang mendapat ridla Allah. Nilai spiritual inilah yang menjadi ikatan liberalisme dengan masalah akhlak yang memposisikan manusia sebagai manusia sesunguhnya yang memiliki kebebasan dalam berperilaku untuk kemaslahatan umum dan keharuman agama Islam. Liberalisme Qur'ani dalam pendidikan akhlak menjamin kebebasan peserta didik untuk menerima atau menolak sistem nilai atas dasar tanggung jawab guna mengantarkan manusia menuju pribadi mulia dengan kesempurnaan dan kelengkapan nilai akhlak yang menjadi ciri kemanusiaan yang sebenarnya. Orientasi sistem pendidikan ini sesuai dengan konsep pendidikan dalam Islam yang bertolak dari istilah tarbiyah, ta'lim dan ta'dib. Hanya sistem nilai Islam yang memungkinkan terwujudnya pendidikan kreatif dan kritis yang dihiasi dengan akhlak mulia.

Kata kunci: Kebebasan, Tanggung jawab, Akhlak

A. Pendahuluan iberalisme sebagai sebuah ajaran tentang kebebasan merupakan hak setiap manusia. Tidak seorang pun yang rela ditekan atau dirampas hak-hak hidupnya. Karena itu, setiap manusia berhak mendapatkan kebebasan. Pemberian kebebasan itu merupakan pengakuan akan harkat dan martabat manusia yang menjadi pijakan konsep humanisme. Nilai-nilai kebebasan dalam Islam tidak akan terwujud bila tidak didasarkan perasaan yang mendalam dalam pribadi seseorang, kebutuhan masyarakat, ketaatan kepada Allah dan nilai kemanusiaan.

Mus}t}afa al-Sibai menyatakan dalam Isytirakiyyah al-Islam, bahwa Islam memandang nilai hidup seorang manusia tergantung adanya kebebasan.1 Al-Qur'an sebagai sumber utama ajaran Islam memberi-kan legitimasi penuh tentang kebebas-an ini. Kebebasan atau liberalismeQur'ani dimaksudkan sebagai ajaran tentang kebebasan yang pengkajiannya didasarkan pada konsep kitab suci umat Islam, yaitu al-Qur'an. Pendidikan Islam sebagai proses humanisasi memerlukan prinsip kebebasan guna mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Pelak17 17

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

sanaan pendidikan itu mustahil akan mencapai tujuan atau targetnya bila tidak memberikan kebebasan. Pemikiran tentang humanisasi dalam pendidikan Islam ini bertolak dari asumsi dasar sebagaimana dikatakan al-Nahlawi, bahwa pendidik sejati (Mahaguru, pendidik yang sebenarnya) adalah Allah yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala poten-sinya serta menetapkan hukum per-tumbuhan, perkembangan dan interak-sinya sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya.2 Bertolak dari asumsi itu, kebebasan menjadi sangat penting untuk diaplikasikan dalam humanisasi sistem pendidikan Islam, bahkan dalam segala aspek hidup manusia. Namun harus dicatat bahwa kebebasan yang sesungguhnya bukanlah kebebasan tanpa batas. Kebebasan tanpa batas justeru akan merendahkan martabat manusia bahkan mencelakakan dirinya. Dari sinilah perlu ada batasan tentang kebebasan. Satu diantara batasan itu dalam kajian Islam dikenal dengan liberalismeQur'ani. B. Liberalisme dalam al-Qur'an Liberalisme adalah doktrin kebebasan, sebuah faham pandangan dunia (world view) yang menjadi salah satu pilar berinteraksi sosial. Liberalisme dimaksudkan sebagai kondisi atau keadaan mengikuti faham kebebasan (the quality or state of being liberal).3 Terma "liberalisme" atau
18 18

kebebasan (liberty atau freedom) itu sering diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan h}urriyyah dan istiqlal. Liberalisme juga diterjemahkan dengan fisq dan fujur.4 Namun terjemahan fisq (ingkar) dan fujur (durhaka) yang berarti negatif itu tentu bukan yang dimakasudkan oleh terma ini. Untuk itu, kajian akan didasarkan pada h}urriyyah dan istiqla. Dari dua lafal terakhir sebagai terjemahan terma liberalisme yang disebut dalam al-Qur'an hanya lafal hurriyyah. Lafal h}urriyyah menurut Ibn alArabi adalah pola kata benda abstrak dari lafal h}arrayaharruhararan. Hurriyyah berarti kebebasan yang pokok (hurriyyah al-asl). Manusia yang bebas adalah orang yang dimuliakan, orang yang bebas dari ketakutan. Kebebasan sesuatu adalah kemerdekaan atau kebebasannya (dari keterikatan). Itulah kebebasan (hurriyyah) itulah kebebasan yang sebenarnya, seperti kebebasan orang Jelaslah kebebasan bersin.5 (liberalisme) bagi manusia adalah ketiadaan ikatan atau sifat terpaksa pada dirinya dari sesuatu atau dari orang lain. Lafal hurriyyah tidak pernah disebut dalam al-Qur'an. Namun kitab suci ini banyak menyebut lafal yang memiliki akar kata yang sama dengan lafal hurriyyah, yaitu: tahrir sebanyak lima kali dalam tiga ayat; al-hurr dua kali dalam satu ayat; dan muh}arraran

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

1919 Musthofa Rahman


sekali. Lafal tahrir semuanya disebut dalam kaitannya dengan hukuman pelaku dosa besar, seperti pembunuhan (Q.S. al-Nisa/4: 92). Lafal tah}rir dalam ayat di atas diartikan memerdekakan, yakni membebaskan budak. Maksud membebaskan budak adalah melepaskan status yang mengikat seseorang dari segala bentuk aturan seorang majikan kepada seorang hamba (budak). Dengan pembebasan itu, seorang budak bisa berbuat sesuai kehendak dirinya sendiri tanpa terikat kebijakan (kehendak) orang lain. Orang yang sudah bebas dari status budak itu menjadi merdeka (al-h}urr). Lafal alh}urr ini pula yang digunakan al-Qur'an untuk menunjuk kemerdekaan seseorang Q.S. al-Baqarah/2: 178). Akan tetapi kebebasan itu dalam Islam dimaksudkan kebebasan dalam rangka mengabdi kepada Allah, pencipta semesta alam.6 Maksud ini juga ditunjukkan oleh esensi pembebasan budak itu untuk maksud ketaatan kepada Allah berupa pemenuhan kafarat dan diyat karena pelanggaran terhadap hukum Allah. Pelaksanaan ketentuan hukum bernilai ketaatan dan pengabdian kepadaNya. Makna ini sesuai dengan maksud lafal muharraran yang berakar dari lafal hurriyyah, seperti dalam ayat:

Liberalisme dalam Pendidikan

menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (Q.S. Ali Imran/3: 35).

Lafal muharraran menurut alQurtubi sebagai lawan dari ubudiyyah (perbudakan), yakni terbebasnya dari gangguan dan kerusakan.7 Konsep liberalisme sebagaimana yang ditunjukkan oleh lafal hurriyyah dan lafal-lafal lain yang berakar dari kata yang sama itu dimaksudkan sebagai kebebasan yang tidak boleh disalahgunakan untuk maksud yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Senada dengan itu, Hemon mengatakan, Kebebasan merupakan pengendalian diri manusia yang diperoleh melalui pemikiran yang bertentangan dengan nafsu.8 Meski demikian, dalam hal keyakinan atau ideologi, konsep al-Qur'an juga diberikan kebebasan, bahkan kebebasan beragama merupakan hak yang paling asasi dalam diri manusia. Ada tiga jenis kebebasan utama menurut al-Qur'an: 1. Kebebasan Beragama Banyak ayat yang menegaskan kebebasan dalam beragama. AlQur'an memberikan kebebasan kepada manusia untuk bertuhan, tunduk dan takluk kepada selain Allah sesuai hawa nafsu atau taqlid buta, seperti dalam Q.S. al-Baqarah/2: 256. Kitab suci ini juga memberikan


Artinya: (Ingatlah), ketika isteri `Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

19 19

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

keleluasaan setiap individu untuk membentuk faham, ideologi kepercayaan menurut akal pikirannya sebagai kebenaran dan menjadikan hasil pemikirannya yang menjadi dasar keimanan, penelitian dan pembuatan ketentuan hukum. Kebenaran belum tentu menjadikan manusia beriman. Orang diberikan kebebasan untuk beriman atau tetap kufur terhadap kebenaran dari Allah, meski ancaman Allah tetap akan berlaku bagi mereka yang ingkar terhadapnya (Q.S. al-Kahfi/18: 29). Manusia dipersilakan beribadah menurut kehendaknya selain Allah. Akan tetapi kemauan yang mengantarkan pada kesesatan itu pada hakekatnya adalah merugikan diri sendiri (Q.S. al-Zumar/39: 15). Namun perintah untuk bertuhan dan beribadah sesuai kemauannya itu bukan menurut maksud yang sebenarnya. Ungkapan itu merupakan pernyataan kemurkaan Allah terhadap orang-orang musyrik karena telah diajak berkali-kali ke Tauhid tetapi tetap ingkar. Begitulah al-Qur'an memberikan kebebasan dalam bidang aqidah kepada manusia untuk berpaling dari kebenaran ajaran Allah sehingga mereka merasa memiliki harga diri dan berpaling dari-Nya tanpa syarat. Itu semua didasarkan bahwa fitrah manusia diciptakan berdasarkan tauhid dan segala sesuatu itu dalam kekuasaaan Allah dan kebebasan

manusia dari ketakutan. Atas dasar inilah, setiap orang mamiliki kesetaraan di atara seluruh umat manusia. Kebebasan ini menurut alAinain didasarkan pada parasaan hati dalam hal ideologi agama (aqi>dah). Dari kebebasan beragama inilah akan muncul kebebasankebebasan yang lain.9 2. Kebebasan Berpikir Kemampuan akal manusia diberikan peran yang tinggi dalam Islam. Al-Qur'an menyuruh manusia untuk berpikir tentang ayat-ayat Allah dan merenungkannya (Q.S. Muhammad/47: 24). Perintah ini tidak akan terlaksana kecuali mereka diberikan kebebasan untuk berpikir dan merenungkannya. Al-Qur'an membebaskan manusia untuk berpikir mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengannya, khususnya yang bernilai baik. Abd al-Lah Gusyah mengatakan dalam Falsafah alHurriyyah fi al-Islam, bahwa: Ajaran aqidah manusia itu sesuai dengan akal sehat dan pandangan yang benar. Hal ini mengajak manusia untuk berijtihad, menghargai pertimbangan. Oleh karena itu, setiap muslim tidak boleh kaku dalam bertindak yang bisa mempersempit gerak hidup sosial atau mempertentangkan kebenaran ilmiah, menolak konsep ilmu alam dan ilmu-ilmu lain yang berfungsi untuk merealisasikan kemaslahatan

20 20

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

2121 Musthofa Rahman


umat atau menolak bahaya yang ditimbulkannya.10 Ajaran Islam didasarkan pada kebebasan berpikir karena semua ajaran agama ini bersifat rasional. Islam mengajarkan kebebasan berpikir itu agar manusia benar-benar mencapai kebebasan dan dapat menentukan pilihannya.11 Kebebasan akal untuk berpikir dapat mencegah keterpaksaan dan penyiksaan.12 Seruan berpikir bebas dalam al-Qur'an menurut Abdullah ditunjukkan dengan redaksi ayat yang menyebut lafal tazakkur, tadabbur, tafakkur dan Harun Nasution, tafaqquh.13 menambahkan lafal naz}ara, fahima dan aqala sebagai lafal yang menyeru kebebasan bepikir.14 Dengan demikian, jalan yang benar untuk mendapatkan kebebasan bukan dengan meninggalkan agama tetapi dengan menanamkan semangat revolusioner pada masyarakat yang membenci ketidakadilan.15 Semangat inilah yang menjadi kebebasan muslim. Tidaklah logis, apabila Islam menyerukan semangat berpikir namun tidak memberikan kebebasan ilmiah agar akal dan ilmu pengetahuan menempati posisi yang seharusnya. 3. Kebebasan Berusaha Al-Qur'an mengakui kebebasan manusia yang menjadi tanggung jawabnya untuk berbuat dan berusaha menghasilkan harta benda akibat dari amal perbuatan. Pekerjaan itu

Liberalisme dalam Pendidikan

bermacam-macam, ada yang baik dan ada yang keji. Namun manusia memungkinkan memilih usaha yang baik dan mulia sesuai kemampuannya. Manusia bisa melakukan usaha atau pekerjaan yang tidak harus merugikan orang lain. Apapun yang diusahakan itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Manusia diberi kebebasan berusaha menurut kemauannya (Q.S. al-Taubah/9: 105 dan Fussilat/41: 40). Karenanya, alQur'an memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih pekerjaan sesuai kecenderungan, kemauan dan kemampuanya dengan syarat tidak menyebabkan gangguan dan kehancuran bagi orang lain. Kebebasan itu didasarkan pada kebebasan orang lain. Semua uraian tersebut menunjukkan ajaran Islam tentang kebebasan itu merupakan pemberian Allah yang paling penting (the most important Divine gift) bagi manusia untuk bekal perannya sebagai khalifah-Nya di muka bumi.16 Kebebasan total (total freedom, ragadan) sesuai kehendak manusia seperti "pernah" diberikan Allah kepada Nabi Adam dan istrinya, Hawa (Q.S. al-Baqarah/2: 35). Namun kebebasan itu diberikan batasan. Selain itu, pelanggaran terhadap batasan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, kebebasan dalam al-Qur'an merupakan kebebasan yang bertanggung jawab.

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

21 21

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

Oleh karena tanggung jawab inilah muncul kebebasan. Namun kebebasan tidak bisa diartikan tanpa batas sebab ketiadaan batasan kebebasan akan mengganggu kebebasan orang lain. Hal ini setara dengan pengertian tentang hak dan kewajiban.17 Prinsip kebebasan kemanusiaan dalam humanisme Islam dalam pandangan Syariati adalah bahwa: manusia itu adalah makhluk mandiri yang mulia, berpikir, sadar akan dirinya sendiri, berkehendak bebas, cita-cita dan merindukan ideal, bermoral.18 Untuk itu, liberalisme-Qurani bukan kebebasan tanpa batas. Konsep alQur'an tentang liberalisme adalah kebebasan untuk melaksanakan perbuatan yang mendapat ridla Allah. Kebebasan ini bukan kebebasan yang justru menjauhkan diri dari nuansa spiritual. Nilai spiritual inilah yang menjadi ikatan liberalisme dengan masalah akhlak. C. Liberalisme dalam Konsep Akhlak Liberalisme sebagai hak asasi manusia memiliki hubungan yang sangat erat dengan perilakunya. Liberalisme yang memberikan kebebasan kepada manusia dalam berperilaku sesuai dengan keinginannya harus didasarkan pada tanggung jawab atas dasar nilai baik dan buruk. Hal ini hanya bisa dicapai bila pemberian kebebasan itu didasarkan pada nilai-nilai akhlak. Dalam Islam dikenal dengan akhlak terpuji (akhlaq mah}mudah) dan
22 22

akhlak tercela (akhlaq mazmumah). Standarisasi perilaku baik dan buruk itu harus merujuk ketentuan Allah melalui pemahaman akal manusia. Apa yang dinilai baik oleh Allah tentu baik menurut esensi dan akibatnya. Nilai baik ketentuan ini pasti bisa dibenarkan oleh akal sehat. Namun akal yang tidak sehat memungkinkan menilai kebaikan sebagai keburukan dan kejahatan. Dalam kaitan inilah alGazali mengatakan bahwa kebaikan adalah apa yang dinilai baik oleh akal sehat dan dinilai baik juga oleh aturan (syariat) Allah.19 Tuhan yang memberikan kebebasan kepada manusia tidak mungkin menilai suatu kebaikan itu bertentangan dengan prinsip kebebasan. Kebebasan yang sesungguhnya adalah kebebasan yang sesuai dengan akal sehat dan syariat Allah. Aturan Allah pasti sesuai dengan kehendak akal sehat. Perbuatan atas nama kebebasan yang bertentangan dengan syariat itu pasti tidak dibenarkan oleh akal sehat. Perbuatan itu adalah kajahatan sebagai kedurhakaan (ma's}iyyah) kepada Allah. Pembenaran akal terhadap kebebasan itu pasti bertentangan dengan nilai moral Islam. Di samping itu, tolok ukur kebaikan bukanlah manfaat dan kelezatan sesaat sebagai hasil penilaian manusia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan suatu kelompok atau orang dengan yang lainnya dalam

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

2323 Musthofa Rahman


memberikan penilaian.20 Kebaikan akan tercapai manakala manusia bisa memegang kendali untuk meluruskan dan mengarahkan keadilan dan keseimbangan dorongan batinnya.21 Bila manusia bisa mengalahkan kehendak jahat yang menjadi dorongan batinnya, maka dia akan berbuat dan bersikap yang baik atau terpuji. Konsep kebaikan inilah yang membedakan antara akhlak dan etika. Akhlak dalam Islam tidak bisa disamakan dengan etika. Etika dibatasi oleh sopan santun antar sesama manusia dan hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Sedangkan akhlak lebih luas maknanya yang mencakup sikap batin dan pikiran dalam hubungannya dengan Allah dan makhluknya (sesama manusia, binatang dan tumbuhan). Dalam kaitan inilah alGazali mendefinisikan akhlak sebagai sifat atau keadaan (ibarah) yang meresap dalam diri (jiwa) seseorang yang menyebabkan terjadinya perbuatan dengan mudah dan wajar tanpa pemikiran dan pertimbangan (sebelumnya).22 Definisi akhlak seperti ini memungkinkan terjadinya akhlak baik dan akhlak buruk. Namun akhlak buruk (tercela) harus ditinggalkan dan dihindari manusia. Sebaliknya, manusia harus melakukan akhlak yang baik dan terpuji. Semua nilai yang menjadi akhlak terpuji merupakan representasi

Liberalisme dalam Pendidikan

sifat-sifat Allah. Sifat-sifat itu dikenal dengan al-asma' al-h}usna (Q.S. Taha: 8) sebagai peragaan diri-Nya. Lebih dari itu, Nabi Muhammad memerintahkan umatnya berperilaku (berakhlak) seperti akhlak Allah sesuai kemampuannya sebagai makhluk. Akhlak kepada Allah ini dimulai dengan pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah yang memiliki sifat-sifat terpuji yang harus diteladani oleh manusia. Untuk itu, manusia harus berserah diri kepada-Nya karena Dialah sumber kebaikan, kebenaran, keindahan dan kesempurnaan bagi kehidupannya. Adapun akhlak kepada sesama manusia tidak hanya berupa larangan melakukan hal-hal negatif, seperti membunuh, menyakiti badan atau mengambil hak orang lain, tapi juga sampai larangan menyakiti hati karena menceritakan aib seseorang kepada orang lain. Selain itu, Islam juga menekankan untuk memposisikan kedudukan seseorang secara wajar, bahkan kepentingan orang lain pun hendaknya lebih didahulukan daripada kepentingan sendiri. Jadi, akhlak Islam tidak hanya sekedar tidak mengganggu orang lain. Sedangkan akhlak terhadap lingkungan, baik yang berupa hewan, tumbuhan maupun benda tak bernyawa (makhluk abiotik) pada dasarnya bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah.

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

23 23

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

Kekhilafahan ini menuntut adanya interaksi manusia dengan manusia lain atau dengan alam memiliki makna sebagai pengayoman, pemeliharaan dan pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Karena itu, manusia dituntut mampu menghormati proses kehidupan yang sedang berjalan atau terjadi. Cara ini menjadi tanggung jawab manusia sehingga tidak merusak lingkungan karena setiap perusakan itu pada hakekatnya adalah menghancurkan diri manusia sendiri. Dalam proses ini terdapat aspek kebebasan yang menjadi bekal bagi manusia yang harus dikontrol dengan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan demikian, akhlak yang menjadi dasar kebebasan (liberalisme) dalam Islam memposisikan manusia sebagai manusia sesunguhnya yang memiliki kebebasan dalam berperilaku. Hal ini menandakan akhlak atau budi pekerti yang harus dimiliki umat manusia guna menjalankan fungsinya sebagai khalifah menitikberatkan pada kebebasan menuangkan kreasinya untuk kebaikan (kemaslahatan) umum dan keharuman agama Islam.23 Akhlak Islami merupakan eksplanasi dari konsep humanisme yang menolak semua jenis diskriminasi dan perbedaan serta memandang manusia sebagai kesatuan tunggal yang menembusi batas kelas, kebangsaan, budaya, agama, warna kulit,

perbedaan ras dan darah,24 bahkan sampai pada perlakuan terhadap alam sekitar. Al-Qur'an memandang manusia memiliki kebebasan untuk berbuat yang diharuskan sesuai dengan keyakinannya untuk menyempurnakan potensi dirinya. Muthahhari mencatat kesempurnaan potensi diri menjadi dasar menuju kealiman, amal saleh dan kerja keras di jalan Allah. Karena keyakinan itulah, ilmu pengetahuan menjadi sarana yang bermanfaat sebagai pelawan nafsu yang 25 Dari sisi inilah nampak berbahaya. unsur pertanggungjawaban dalam kebebasan. Untuk itu, kebebasan yang bertanggung jawab sebagai aktualisasi nilai moral yang menjadi prinsip akhlak memiliki legitimasi dalam konsep akhlak sebagai hak asasi manusia dalam Islam. Kebebasan ini harus dipraktekkan setiap muslim supaya memiliki kreativitas guna mengaktualisasikan konsep-konsep Islam dalam persaingan ilmu pengetahuan, sosial dan budaya dalam pentas dunia internasional menuju kejayaan Islam. Hal ini hanya mungkin terwujud bila praktek liberalisme ini didiasarkan pada akhlak Islami. Kenyataan ini menunjukkan bahwa agama dan akhlak berkaitan erat. Sebuah hadis diriwayatkan: La dina li-man la akhlaq lah. Agama bertaut dengan masalah ketuhanan. Sedangkan akhlak bertaut dengan

24 24

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

2525 Musthofa Rahman


manusia. Agama itu ketakwaan dan kepercayaan mengerjakan ibadah. Adapun akhlak berarti menghiasi diri dengan keutamaan dan sopan santun sosial.26 Kebebasan yang lepas kontrol nilai-nilai akhlak justru akan menghancurkan martabat kemanusiaan. Liberalisme dalam al-Qur'an memberikan arahan menuju terwujudnya manusia paripurna yang menjamin kehidupannya yang bahagia dunia sampai alam baka. Liberalisme Qur'ani inilah yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan setiap muslim melalui pendidikan akhlak. D. Aktualisasi Liberalisme-Qur'ani dalam Pendidikan Akhlak Pendidikan akhlak dimaksudkan sebagai bimbingan kepada manusia (peserta didik) ke arah kesempurnaan akhlak atau budi pekertinya yang mulia. Dengan pendidikan akhlak diharapkan terbentuk manusia yang membentuk masyarakat yang berbudi mulia. Akhlak terpuji yang menjadi budaya baginya. Harapan ini sesuai pandangan bahwa pendidikan merupakan proses pembudayaan. Namun proses ini berbeda dari pembudayaan lainnya yang lepas dari sistem nilai spiritual. Pendidikan akhlak yang bersumber dari al-Qur'an dan al-Hadis Nabi harus mengantarkan nilai kebaikan yang terpuji yang mengantarkan peserta didik kepada hidup mulia pada masa

Liberalisme dalam Pendidikan

kini (dunia) dan dan masa mendatang (akhirat). Pendidikan akhlak dimaksudkan sebagai proses pembudayaan nilai-nilai budi pekerti yang mulia (akhlaq mah}mudah) untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pembudayaan, pendidikan akhlak menjadi bukti upaya pendidikan ini bukan merupakan praktek indoktrinasi. Hal ini menjamin kebebasan peserta didik untuk menerima atau menolak sistem nilai dari praktek pendidikan akhlak. Harapan dari pelaksanaan pendidikan ini adalah tumbuhnya kesadaran dan kearifan untuk berpikir, bersikap dan berperilaku sesuai dengan konsep akhlak Islam. Ketiadaan kebebasan dalam pendidikan berarti merupakan praktek indoktrinasi. Kondisi pendidikan yang demikian ini pada gilirannya akan menciptakan masalah kemanusiaan yang akut, seperti ketegangan yang berujung pada konflik dan perang, krisis nilai etis, dislokasi, alienasi, kekosongan nilai rohaniah dan sebagainya. Realitas ini akan membetuk manusia yang tidak memiliki akhlak mulia. Oleh karena itu, dalam penilaian Husain dan Ashraf sistem pendidikan sekuler tidak berhasil merealisasikan tujuannya dalam membentuk individu dan masyarakat yang baik karena lepas dari nilai-nilai moral yang membentuk kesadaran akan

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

25 25

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

kehadiran Tuhan dalam dirinya. Sistem pendidikan ini memisahkan kepentingan duniawi dari kepentingan spiritual manusia. Keterpisahan dua kepentingan inilah yang menyebabkan terjadi permasalahan hidup yang hanya bisa diselesaikan dengan peraturan negara. Jika peraturan itu tidak mampu memberi solusi, maka yang terjadi adalah anarki moral dan pelanggaran hukum.27 Meski demikian, keyakinan atau ideologi merupakan keputusan akhir mengenai kebebasan beragama merupakan hak yang paling asasi dalam diri anak didik. Pemberian kebebasan merupakan bukti tidak adanya indoktrinasi dalam pendidikan Islam. Kebebasan itu adalah fitrah yang diberikan kepada mereka supaya memiliki harga diri tanpa adanya kekhawatiran dan ketakutan dalam bersikap dan berperilaku yang bertentangan dengan konsep akhlak dengan konsekuensi bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun kenyataan ini menjadi bukti gagalnya pendidikan akhlak dalam membimbing dan mengarahkan anak didik untuk berakhlak mulia. Atas dasar inilah, setiap orang mamiliki kesetaraan di atara seluruh umat manusia. Untuk itu, pendidikan akhlak harus mampu mengantarkan manusia menuju pribadi yang mulia dengan kesempurnaan dan kelengkapan nilai akhlak yang menjadi ciri kemanusia-

annya dalam arti yang sesungguhnya. Orientasi sistem pendidikan ini sesuai dengan konsep pendidikan dalam Islam yang bertolak dari istilah tarbiyah, ta'lim dan ta'dib. Ketiga terma ini mengandung makna yang amat dalam berkenaan dengan manusia, masyarakat dan lingkungan yang juga menjadi sasaran dalam berperilaku (berakhlak) dalam kehidupan seharihari. Karena itulah, Fazlur Rahman memandang pentingnya pendidikan kreatif dan kritis sebagai basis etik ajaran Islam dalam al-Qur'an.28 Hanya pendidikan yang didasarkan pada konsep ajaran Islam yang memungkinkan terwujudnya pendidikan kreatif dan kritis yang dihiasi dengan akhlak mulia. Kegagalan pendidikan Barat yang menghasilkan manusia kreatif dan kritis tapi disalahgunakan untuk kejahatan itu disebabkan oleh lepasnya kontrol nilai-nilai akhlak Islam. Nasr menegaskan dalam Ideals and Realities of Islam menilai bahwa alQur'an merupakan pedoman dan realitas sentral kehidupan Islam. Ia adalah dunia kehidupan setiap muslim.29 Al-Qur'an memberi solusi problem sentral manusia tentang arah perilaku manusia dalam kehidupan kolektif sesuai nilai moralnya. Mencari landasan nilai moral selain dari al-Qur'an pasti akan mencemari fitrah manusia. Hal ini sesuai fungsi diturunkannya kitab suci ini, yakni sebagai petunjuk bagi manusia dan

26 26

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

2727 Musthofa Rahman


penjelas bagi petunjuk itu serta pembeda antara yang benar (haqq) dengan yang salah (bat\il) (Q.S. alBaqarah/2: 185). Namun demikian, al-Qur'an tetap memberikan kebebasan kepada manusia dalam menentukan perilakunya. Pendidikan akhlak sangat menekankan kesadaran supaya tumbuh keimanan dan kesalehan dalam diri seseorang yang dijadikan tujuan fundamental yang sekaligus menjadi ciri khusus pendidikan Islam. Kitab suci ini menjadi pegangan untuk memperkuat kesadaran. Kesadaran ini muncul bukan dari tekanan yang bertentangan dengan nilai-nilai humanistik (kemanusiaan) akan tetapi karena adanya kebebasan dalam diri peserta didik untuk menilai segi positif dan negatif dari perbuatan (akhlak) yang dilakukan. Kebebasan menempatkan manusia sebagai makhluk berakal untuk dapat memilih dan melakukan yang terbaik dan paling benar. Inilah hasil yang diharapkan dari pendidikan akhlak yang didasarkan pada konsep liberalisme dalam al-Qur'an. Implikasi kehendak bebas manusia melibatkan proses pendidikan yang berupa pengakuan tanggung jawab sehingga harus meniadakan pemaksaan kehendak kepada anak didik. Namun kebebasan pada hakekatnya adalah pengendalian diri manusia akibat pemikiran yang bertentangan dengan nafsu, bukannya

Liberalisme dalam Pendidikan

keleluasaan tanpa keterikatan.30 Justru dalam upaya mengangkat derajatnya, manusia diberi kebebasan dan tanggung jawab dalam memilih, memiliki dan memelihara nilai keutamaan berdasarkan iman, taqwa, akhlaq, ketinggian akal dan amalnya, kesediaan mencari ilmu sehingga muncul kreasi dan mampu melaksanakan kerja akal serta menguasai nafsu dan naluri. Untuk itu, pendidikan yang ideal, menurut al-Abrasyi, harus mengandung proses demokratisasi, pembebasan, dialog, pengembangan akal dan potensi manusia.31 Meski pemikirannya tidak bisa dipisahkan dari pandangan liberal namun konsep ini berada dalam kategori humanisme religius karena liberalisme itu harus didasarkan pada ruh atau nilai-nilai Islam. Atas dasar inilah, pendidikan menjadi satu di antara alat atau sarana untuk mencapai kemerdekaan menuju hidup mulia. Manusia harus diberi hak untuk memperoleh pendidikan.32 Sebagai konsekuensinya, pendidikan juga harus memberikan kebebasan bagi peserta didik sehingga bisa beraktualisasi secara maksimal sesuai potensi yang dimilikinya. Kebebasan manusia untuk berusaha menjadi penopang untuk berbuat dan berkreativitas yang menghasilkan suatu produk/hasil usaha. Karena kreativitas itu bermacam-macam, maka pendidikan akhlaklah yang menunjukkan,

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

27 27

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

membimbing dan mengarahkan jenis kreativitas yang baik dan mulia supaya anak didik memilih yang baik sesuai kemampuannya. Tentu saja pilihan itu tidak boleh merugikan orang lain. Di sini pulalah, tangggung jawab atau peran pendidikan akhlak untuk menjelaskan konsekuensi 33 sehingga tidak tanggung jawab, bertentangan dengan nilai-nilai akhlak. Selain itu, kebebasan tidak boleh mengganggu kebebasan orang lain. Hal ini setara dengan pengertian tentang hak dan kewajiban.34 Prinsip kebebasan kemanusiaan dalam humanisme Islam dalam pandangan Syariati adalah kebebasan yang bermoral dan merindukan idealisme sesuai ajaran Islam.35 Di anatara upaya mengangkat derajatnya, manusia diberi kebebasan dan tanggung jawab dalam memilih, memiliki dan memelihara nilai keutamaan berdasarkan iman, taqwa, akhlaq, ketinggian akal dan amalnya. Untuk itu, pendidikan akhlak yang ideal harus memberikan kebebasan, berpikir, bersikap dan bertindak secara demokratis dan memberikan kesempatan dialog kepada anak didiknya sehingga terbentuk kesadaran untuk berpikir, bersikap dan berperilaku secara terpuji sesuai dengan nilai-nilai akhlak dalam Islam berdasarkan pemikiran liberalisme dalam al-Qur'an. E. Penutup
28 28

Liberalisme dalam Islam merupakan pemberian Allah yang paling penting bagi manusia untuk bekal perannya sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Kebebasan total (total freedom) itu sesuai kehendak manusia meski ada batasan yang memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan apabila terjadi pelanggaran. Ketiadaan batasan kebebasan justru akan mengganggu kebebasan orang lain. Dari sinilah muncul hak dan kewajiban. Jadi, kebebasan dalam al-Qur'an merupakan kebebasan yang didasarkan atas tanggung jawab. Liberalisme Qur'ani dimaksudkan sebagai kebebasan untuk melaksanakan perbuatan yang mendapat ridla Allah. Kebebasan ini bukan kebebasan yang justru menjauhkan diri dari nuansa spiritual. Nilai spiritual inilah yang menjadi ikatan liberalisme dengan masalah akhlak. Akhlak yang menjadi dasar kebebasan (liberalisme) dalam Islam memposisikan manusia sebagai manusia sesunguhnya yang memiliki kebebasan dalam berperilaku. Hal ini menandakan akhlak atau budi pekerti yang harus dimiliki umat manusia guna menjalankan fungsinya sebagai khalifah menitik beratkan pada kebebasan menuangkan kreasinya untuk kebaikan (kemaslahatan) umum dan keharuman agama Islam. Akhlak Islami merupakan eksplanasi dari konsep humanisme yang

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

2929 Musthofa Rahman


menolak semua jenis diskriminasi dan perbedaan serta memandang manusia sebagai kesatuan tunggal Kebebasan yang bertanggung jawab sebagai aktualisasi nilai moral menjadi prinsip akhlak memiliki legitimasi dalam konsep akhlak sebagai hak asasi manusia dalam Islam. Kebebasan ini harus dipraktekkan setiap muslim supaya memiliki kreativitas guna mengaktualisasikan konsep-konsep Islam dalam persaingan ilmu pengetahuan, sosial dan budaya dalam pentas dunia internasional menuju kejayaan Islam. Hal ini hanya mungkin terwujud bila praktek liberalisme ini didiasarkan pada akhlak Islami. Pendidikan akhlak sebagai proses pembudayaan nilai-nilai budi pekerti yang mulia (akhlaq mah}mudah) untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pembudayaan, pendidikan akhlak menjadi bukti

Liberalisme dalam Pendidikan

upaya pendidikan ini bukan merupakan praktek indoktrinasi. Hal ini menjamin kebebasan peserta didik untuk menerima atau menolak sistem nilai dari praktek pendidikan akhlak. Harapan dari pelaksanaan pendidikan ini adalah tumbuhnya kesadaran dan kearifan untuk berpikir, bersikap dan berperilaku sesuai dengan konsep akhlak Islam. Pendidikan akhlak harus mampu mengantarkan manusia menuju pribadi yang mulia dengan kesempurnaan dan kelengkapan nilai akhlak yang menjadi ciri kemanusiaannya dalam arti yang sesungguhnya. Orientasi sistem pendidikan ini sesuai dengan konsep pendidikan dalam Islam yang bertolak dari istilah tarbiyah, ta'lim dan ta'dib. Hanya pendidikan yang didasarkan pada konsep ajaran Islam yang memungkinkan terwujudnya pendidikan kreatif dan kritis yang dihiasi dengan akhlak mulia.

DAFTAR PUSTAKA Ainain, Ali Khalil Abu al-, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Qur'an al-Karim, (ttp.: Dar al-Fikr al-Arabi, 1980). Abd. bin Nuh dan Oemar Bakry, Kamus: Arab-Indonesia-InggerisIndonesia-Arab-Inggris, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1994). Abdullah, Abdurrahman Saleh, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur'an, terj. M. Arifin dan Zainuddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990). Abrasyi, Muhammad Athiyyah al-, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970). Amin, Ahmad, al-Akhlaq, terj. Fuad Maruf, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977). Baalbaki, Munir al-, al-Maurid: A Modern English- Arabic Dictionary, (Beirut: Dar alIlm li-al-Malayin, 1974). Baalbaki, Rohi, al-Maurid: A Modern Arabic-English Dictionary, (Beirut: Dar al-Ilm li-alMalayin, 1999).
29 29

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

Barnadib, Imam, Ke Arah Perspektif Baru Pendidikan, (Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988). Gazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-, Ih}ya' Ulum al-Din, (Mesir: Dar Ihya' al-Kutub al-Arabiy, t.t.), jil. 3. Gusyah, Abd Allah, Falsafah al-H{urriyyah fi al-Islam, (Mesir: Maktabah al-Nahd}ah, t.t.). Husain, Syed Sajjad, dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Risalah, 1986). Ibn Manzur, Ibn Jamal al-Din Muhammad Ibn Mukram, Lisan al-'Arab -- Maktabah alTafsir wa-Ulum al-Qur'an, Versi 1,5 (Urdun: al-Khatib Software, 1999), jil. 4. Madjid, Nurcholish, "The Islamic Concept of Man and Its Impilication for the Muslims Appreciation of the Civil and Political Rights", Seminar on Enriching the Universalities of Human Rights: Islamic Perspectives on the Universal Declaration of Human Rights, (Geneva, 9-10 November 1998). Moussa, Muhammad Youseef, Islam and Humanitys Need of It (Studies in Islam Series), (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H). Mulkhan, Abdul Munir, Humanisasi Pendidikan Islam, dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagaan dan Kebudayaan, No. 11 Tahun 2001, hal. 17-26. Munawwir, Ahmad Warson, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Pondok Pesantren al-Munawwir, 1984). Mutahhari, Murtadha, Perspektif al-Qur'an tentang Manusia dan Agama, terj. dan ed. Haidar Bagir, pengt. Jalaluddin Rahmat, (Bandung: Mizan, 1984). Nah}lawi, Abd al-Rah}man al-, Us}ul al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Asalibuha, (Damsyiq: Dar al-Fikr, 1979). Nasr, S.H., Ideals and Realities of Islam, (London: George Allen & Unwin Ltd., 1966). Nasution, Harun, Teologi Islam, (Jakarta: UI, Press, 1986). Neufeldt, Victoria (ed.), Websters New World Collague Dictionary, edisi III, (USA: Macmillan, 1996). Qurt}ubi, Al-, Tafsir al-Qurt}ubi -- The Holy Qur'an Program, Version 6.50 (Kairo: Sakhr Software, 1997). Quthub, Muhammad, Islam Agama Pembebas, terj. Fungky Kusnaedi Timur, ed. A. Choiron Marzuki, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001). Saidi, Abd al-Mutaal as-, Kebebasan Berpikir dalam Islam, terj Ibn Burdah, ed. Imron Rosyidi, (Yogyakarta: Adi Wacana, 1999). Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudlu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996). Sibai, Mustafa al-, Isytirakiyyah al-Islam, (t.tp.: al-Nasyirun al-Arab, 1977). Syaibany, Omar Mohammad al-Toumy al-, Falsafah Pediaikan Islam, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979). Syariati, Ali, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996).

30 30

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

3131 Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

Syariati, Ali, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hlm. 47-49. Ya'kub, Hamzah, Etika Islam, (Bandung: Diponegoro, 1986). Zarqani, Muh}ammad Abd al-Azim al-, Manahil al-Irfan fI Ulum al-Qur'an-Maktabah al-Tafsir wa-Ulum al-Qur'an, Versi 1,5 (Urdun: al-Khatib Software, 1999), juz II. Zuhaili, Wahbah az-, Islam sebagai Paradigma Peradaban, terj. (Yogyakarta: Dinamika, 1996).

Catatan Akhir:
1 2

Mustafa al-Sibai, Isytirakiyyah al-Islam, (t.tp.: al-Nasyirun al-Arab, 1977), hlm. 71. Abd al-Rahman al-Nahlawi, Usul al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Asalibuha, (Damsyiq: Dar al-Fikr, 1979), hlm. 13. 3 Victoria Neufeldt (ed.), Websters New World Collague Dictionary, edisi III, (USA: Macmillan, 1996), hlm. 778. 4 Munir al-Baalbaki, al-Maurid: A Modern English- Arabic Dictionary, (Beirut: Dar al-Ilm li-alMalayin, 1974), hlm. 525. Bandingkan dengan Abd. bin Nuh dan Oemar Bakry, Kamus: ArabIndonesia-InggerisIndonesia-Arab-Inggris, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1994), hlm. 34; Rohi Baalbaki, al-Maurid: A Modern Arabic-English Dictionary, (Beirut: Dar al-Ilm li-al-Malayin, 1999), hlm. 465. Lafal istiqlal diartikan sama dengan hurriyyah, yaitu: kemerdekaan atau kebebasan. Lihat Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Pondok Pesantren al-Munawwir, 1984), hlm. 271 dan 1239. Liberalism yang diterjemahkan dengan fisq atau fujur bernuansa negatif. Meski terjemahan ini dalam suatu konteks kalimat bisa dibenarkan, namun terjemahan itu kurang sesuai dengan isi dan maksud humanisme sebagai sebuah prinsip atau doktrin. Ada terjemahan lain yang lebih sesuai dengan maksud istiaah tersebut. Untuk itu, pengkajiannya dalam istilah Arab lebih didasarkan pada isi dan maksud dari prinsip yang bersangkutan, bukan semata-mata bertolak dari arti atau makna kata atau lafalnya. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa sebuah konsep itu didasarkan pada maksud dan tujuan, bukan pada arti leksikal-etimologis. 5 Lihat Ibn Jamal al-Din Muh}ammad Ibn Mukram Ibn Manzur, Lisan al-'Arab -- Maktabah al-Tafsir wa-Ulum al-Qur'an, Versi 1,5 (Urdun: al-Khatib Software, 1999), jil. 4, hlm. 178-182. 6 Ibn Manzur, Lisan al-'Arab, juz 4, hlm. 181-184 7 Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi -- The Holy Qur'an Program, Version 6.50 (Kairo: Sakhr Software, 1997), (Q.S. Ali Imran/3: 35). 8 Dikutip Muhammad Youseef Moussa, Islam and Humanitys Need of It (Studies in Islam Series), (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H), hlm. 52. 9 Ali Khalil Abu al-Ainain, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Qur'an al-Karim, (ttp.: Dar alFikr al-Arabi, 1980), hlm. 123. 10 Abd Allah Gusyah, Falsafah al-H{urriyyah fi al-Islam, (Mesir: Maktabah al-Nahdah, t.t.), hlm. 116. 11 Abd al-Mutaal as-Saidi, Kebebasan Berpikir dalam Islam, terj Ibn Burdah, ed. Imron Rosyidui, (Yogyakarta: Adi Wacana, 1999), hlm. 21-22. 12 Muhammad Abd al-Azim al-Zarqani, Manahil al-Irfan fI Ulum al-Qur'an--Maktabah al-Tafsir wa-Ulum al-Qur'an , Versi 1,5 (Urdun: al-Khatib Software, 1999), juz II, hlm. 253. 13 Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur'an, terj. M. Arifin dan Zainuddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 97. 14 Harun Nasution, Teologi Islam, (Jakarta: UI, Press, 1986), hlm. 48.

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005

31 31

Musthofa Rahman

Liberalisme dalam Pendidikan

15

Muhammad Quthub, Islam Agama Pembebas, terj. Fungky Kusnaedi Timur, ed. A. Choiron Marzuki, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001), hlm. 338-339. Bandingkan dengan Q.S. al-Qas}as}/28: 75. 16 Nurcholish Madjid, "The Islamic Concept of Man and Its Impilication for the Muslims Appreciation of the Civil and Political Rights", Seminar on Enriching the Universalities of Human Rights: Islamic Perspectives on the Universal Declaration of Human Rights, (Geneva, 9-10 November 1998), hlm. 2. 17 Imam Barnadib, Ke Arah Perspektif Baru Pendidikan, (Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), hlm. 24. 18 Ali Syariati, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hlm. 47-49. 19 AbuHamid Muhammad bin Muhammad al-GazaliIhya' Ulum al-Din, (Mesir: Dar Ih}ya' al-Kutub alArabiy, t.t.), jil. 3, hlm. 52. 20 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudlu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 261. 21 Dorongan batin itu meliputi: kekuatan akal, kekuatan marah dan kekuatan nafsu syahwat. Lihat Hamzah Ya'kub, Etika Islam, (Bandung: Diponegoro, 1986), hlm. 144. 22 al-GazaliIhya' Ulum al-Din, jilid 3, hlm. 52. 23 Wahbah az-Zuhaili, Islam sebagai Paradigma Peradaban, terj. (Yogyakarta: Dinamika, 1996), hlm. 261. 24 Murtadha Mutahhari, Perspektif al-Qur'an tentang Manusia dan Agama, terj. dan ed. Haidar Bagir, pengt. Jalaluddin Rahmat, (Bandung: Mizan, 1984), hlm. 163. 25 Mutahhari, Perspektif al-Qur'an tentang Manusia dan Agama, hlm. 123. 26 Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pediaikan Islam, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 355-358. 27 Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Risalah, 1986), hlm. 55. 28 Pendapat ini dikutip Abdul Munir Mulkhan, Humanisasi Pendidikan Islam, dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagaan dan Kebudayaan, No. 11 Tahun 2001, hal. 20-21. 29 S.H. Nasr, Ideals and Realities of Islam, (London: George Allen & Unwin Ltd., 1966), hlm. 41. 30 Abdullah, Teori-teori Pendidikan..., hlm. 84. Bandingkan pernyataan Hemon yang dikutip dengan Moussa dalam Islam and Humanity, hlm. 52. 31 Muhammad Athiyyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm. 20. Bandingkan dengan al-Syaibany, Falsafah Pedidikan Islam, hlm. 107. 32 Ahmad Amin, al-Akhlaq, terj. Fuad Maruf, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 198. 33 Seperti Q.S. al-Taubah/9: 105. 34 Barnadib, Ke Arah Perspektif Baru Pendidikan, hlm. 24. 35 Syariati, Humanisme..., hlm. 47-49.

32 32

JURNAL PENDIDIKAN ISLAMI, Volume 14, Nomor 1, Mei 2005