Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Banyak hal yang dapat mempengaruhi pendengaran anak-anak dan orang dewasa. Ketika membahas mengenai kehilangan pendengaran, biasanya kita dilihat dari tiga kategori,yaitu jenis gangguan pendengaran, derajat gangguan pendengaran, dan konfigurasi gangguan pendengaran. Pada anak-anak, sangat penting untuk mendiagnosa dan mengobati gangguan pendengaran sedini mungkin. Hal ini membatasi dampak potensial terhadap pembelajarandan pengembangan anak. Gangguan pendengaran dapat sangat mempengaruhi kualitas hidupuntuk orang dewasa juga. Gangguan pendengaran dapat memiliki dampak pada pekerjaan,pendidikan, dan kesejahteraan umum. Jumlah orang Amerika dengan gangguan pendengaran memiliki angka kejadian duakali lipat selama 30 tahun terakhir. Data yang diperoleh dari survei federal menggambarkanprevalensi untuk individu yang berusia tiga tahun atau lebih yang mengalami gangguanpendengaran, yaitu 13,2 juta (1971), 14,2 juta (1977), 20,3 juta (1991), dan 24,2 juta (1993).Seorang peneliti independen memperkirakan bahwa 28,6 juta orang Amerika memilikigangguan pendengaran pada tahun 2000. Anak-anak yang tuli akan merasa jauh lebih sulitdaripada anak-anak yang memiliki pendengaran normal untuk belajar kosa kata, tata bahasa,urutan kata, ungkapan idiomatik, varians dan dalam aspek lain dari bayi komunikasi baru lahir verbal. dengan Beberapa gangguan

studimenunjukkan

prevalensi

pendengaranbawaan di Amerika Serikat. Perkiraan keseluruhan adalah antara 1 sampai 6 per 1.000 bayiyang baru lahir. Sebagian besar anak dengan gangguan pendengaran bawaan tunarungu saatlahir dan berpotensi diidentifikasi oleh skrining pendengaran bayi baru lahir. Namun,beberapa gangguan pendengaran bawaan mungkin tidak menjadi jelas sampai nanti di masakanak-kanak.

1.2. Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui secara mendalam dan luas mengenai tuli sensorineural.

1.3.Manfaat Memberikan informasi dan menambah pengetahuan serta wawasan mengenai tuli sensorineural.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Telinga

Labirin (telinga dalam) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan danterletak pada pars petrosa os temporal. Labirin terdiri dari: a.Labirin bagian tulang, terdiri dari : kanalis semisirkularis, vestibulum, dan koklea. b.Labirin bagian membran, yang terletak didalam labirin bagian tulang, yang terdiri darikanalis semisirkularis, utrikulus, sakulus, sakus dan duktus endolimfatikus, serta koklea.

Gambar 1. Anatomi Telinga

Gambar 2. Anatomi Labirin

Antara labirin bagian tulang dan membran terdapat suatu ruangan yang berisi cairan perilimfe yang berasal dari cairan serebrospinalis dan filtrasi darah. Di dalam labirin bagian membran terdapat cairan endolimfe yang diproduksi oleh stria vaskularis dan diresorbsi pada sakus endolimfatikus.

Vestibulum adalah suatu ruangan kecil yang berbentuk oval, berukuran 5 x 3 mm yang memisahkan koklea dari kanalis semisirkularis. Pada dinding lateral terdapat foramenovale (fenestra vestibuli) sedangkan foramen rotundum terdapat pada lateral bawah. Pada dinding medial bagian anterior terdapat lekukan berbentuk spheris yang berisi makulasakuli dan terdapat lubang kecil yang berisi serabut saraf vestibular inferior. Pada dinding posterior terdapat muara dari kanalis semisirkularis dan bagian anterior berhubungan dengan skalavestibuli koklea.

Kanalis Semisirkularis terdiri dari 3 buah, yaitu superior, posterior, dan lateral yangmembentuk sudut 90 satu sama lain. Masing-masing kanal membentuk 2 / 3lingkaran, dengandiameter 0,8 1 mm dan membesar hampir dua kali lipat pada bagian ampula. Padavestibulum terdapat lima muara kanalis semisirkularis dimana kanalis superior dan posteriorbersatu membentuk krus kommune sebelum memasuki vestibulum.
3

Koklea terletak di depan vestibulum menyerupai rumah siput dengan panjang 3035mm. Koklea membentuk 2 - 2 kali putaran dengan sumbunya yang disebut modiolusyang berisi berkas saraf dan suplai darah dari arteri vertebralis. Kemudian serabut saraf iniberjalan ke lamina spiralis ossea untuk mencapai sel-sel sensorik organ Corti. Koklea bagiantulang dibagi dua oleh suatu sekat. Bagian dalam sekat ini adalah lamina spiralis ossea danbagian luarnya adalah lamina spiralis membranasea, sehingga ruang yang

mengandungperilimfe terbagi dua, yaitu skala vestibuli dan skala timpani. Kedua skala ini bertemu padaujung koklea yang disebut helikotrema. Skala vestibuli berawal pada foramen ovale dan skalatimpani berakhir pada foramen rotundum. Pertemuan antara lamina spiralis ossea danmembranasea ke arah perifer membentuk suatu membran yang tipis yang disebut membranReissner yang memisahkan skala vestibuli dengan skala media (duktus koklearis). Duktuskoklearis berbentuk segitiga, dihubungkan dengan labirin tulang oleh jaringan ikatpenyambung periosteal dan mengandung end organ dari N. koklearis dan organ Corti. Duktuskoklearis berhubungan dengan sakulus dengan perantaraan duktus Reuniens.

Organ Corti terletak diatas membran basilaris yang mengandung organelorganelpenting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ Corti terdiri dari satu baris selrambut dalam yang berisi kira-kira 3000 sel dan 3 baris sel rambut luar yang berisi kira-kira12.000 sel. Sel-sel ini menggantung lewat lubang-lubang lengan horizontal dari suatu jungkat-jungkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel rambut terdapat strereosilia yang melekat pada suatu selubung yang cenderung datar yang dikenal sebagai membrantektoria. Membran tektoria disekresi dan disokong oleh limbus.Sakulus dan utrikulus terletak di dalam vestibulum yang dilapisi oleh perilimfe.Sakulus jauh lebih kecil dari utrikulus tetapi strukturnya sama. Sakulus dan utrikulus berhubungan satu sama lain dengan perantaraan duktus utrikulosakularis yang bercabang menjadi duktus endolimfatikus dan berakhir pada suatu lipatan dari duramater pada bagianbelakang os piramidalis yang disebut sakus endolimfatikus. Pada sakulus terdapat makulasakuli dan pada utrikulus terdapat makula utrikuli. Telinga dalam mendapatkan darah dari a. auditori interna (a. labirintin) yang berasal dari a. serebelli inferior anterior atau dari a. basilaris yang merupakan suatuend artery dan
4

tidak mempunyai pembuluh darah anastomosis. Setelah memasuki meatus akustikus internus,arteri ini bercabang menjadi tiga, yaitu: a. Arteri vestibularis anterior yang mendarahi makula utrikuli, sebagian macula sakuli,krista ampularis, kanalis semisirkularis superior dan lateral serta sebagian dari utrikulusdan sakulus. b. Arteri vestibulokoklearis, mendarahi makula sakuli, kanalis semisirkularis

posterior,bagian inferior utrikulus dan sakulus serta putaran basal dari koklea. c. Arteri koklearis yang memasuki modiolus dan menjadi pembuluh-pembuluh arteri spiralyang mendarahi organ Corti, skala vestibuli, skala timpani sebelum berakhir pada stria vaskularis. Aliran vena pada telinga dalam melalui tiga jalur utama yaitu vena auditori internamendarahi putaran tengah dan apikal koklea. Vena akuaduktus koklearis mendarahi putaranbasiler koklea, sakulus dan utrikulus dan berakhir pada sinus petrosus inferior. Vena akuaduktus vestibularis mendarahi kanalis semisirkularis sampai utrikulus. Vena

inimengikuti duktus endolimfatikus dan masuk ke sinus sigmoid. N. akustikus dan N. fasialis masuk ke dalam porus dari meatus akustikus internus danbercabang dua sebagai N. vestibularis dan N. koklearis. Pada dasar meatus akustikus internusterletak ganglion vestibulare dan pada modiolus terletak ganglion spirale.

2.2. Fisiologi Pendengaran3

Telinga melaksanakan dua fungsi yang berbeda: (1) mendengar, yang melibatkan telinga luar, telinga tengah, dan koklea telinga dalam, dan (2) sensasi keseimbangan, yang melibatkan apparatus vestibularis telinga dalam. Berlainan dengan fotoreseptor mata, reseptor telinga terletak di telinga dalam dimana sel-sel rambut di koklea dan apparatus vestibularis adalah mekanoreseptor.

Pendengaran bergantung pada kemampuan telinga untuk mengubah gelombang suaradi udara menjadi deformasi mekanis sel-sel rambut reseptif yang kemudian mengawali sinyallistrik. Gelombang suara terdiri dari daerah-daerah pemampatan (kompresi) molekul udarabertekanan tinggi berselang-seling dengan daerah-daerah penjarangan molekul udara yangbertekanan rendah. Nada suara ditentukan oleh frekuensi gelombang dan dan kekerasan(intensitas)
5

oleh amplitudo gelombang. Gelombang suara disalurkan melalui saluran telingaluar ke membrana timpani, yang bergetar secara sinkron dengan gelombang suara tersebut.

Tulang-tulang telinga tengah yang menjembatani celah antara membrana timpani dantelinga dalam memperkuat gerakan membrana timpani dan menyalurkannya ke jendela oval,yang gerakannya menyebabkan timbulnya gelombang berjalan dalam cairan

koklea.Gelombang ini, yang berfrekuensi sama dengan gelombang suara semula, menyebabkanmembrana basilaris bergetar. Berbagai bagian dari membrana ini secara selekttif bergetarlebih kuat sebagai respons terhadap frekuensi suara tertentu. Di atas membrana basilaristerletak sel-sel rambut reseptif organ Corti, yang rambut-rambutnya menekuk saat membranabasilaris bergerak naik turun dalam kaitannya dengan membrana tektorial yang stasioner tempat rambut-rambut tersebut terbenam. Deformasi mekanis sel-sel rambut spesifik didaerah membrana basilaris dengan getaran maksimum itu diubah menjadi sinyal listrik yang disalurkan ke korteks pendengaran di otak untuk persepsi suara. 2.3. Gangguan Fisiologi Telinga4 Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli

konduktif sedangkan gangguan telinga dalam menyebabkan tuli sensorineural, yang terbagi atas tulikoklea dan tuli retrokoklea.

Sumbatan tuba eustachius menyebabkan gangguan telinga tengah dan akan terdapat tuli konduktif. Gangguan pada vena jugulare seperti aneurisma akan menyebabkan telingaberbunyi sesuai dengan denyut jantung.

Antara inkus dan maleus berjalan cabang n.fasialis yang disebut korda timpani. Bila terdapat radang di telinga tengah atau trauma mungkin korda timpani terjepit sehingga timbul gangguan pengecap.

Di dalam telinga dalam terdapat alat keseimbangan dan alat pendengaran. Obatobatdapat merusak stria vaskularis sehingga saraf pendengaran rusak, dan terjadi tuli sensorineural. Setelah pemakaian obat ototoksik seperti streptomisin, akan terdapat gejala gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural dan gangguan keseimbangan.

Tuli dibagi atas tuli konduktif, tuli sensorineural (sensorineural deafness) serta tulicampur (mixed deafness). Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara disebabkanoleh kelainan penyakit di telinga luar atau di telinga tengah. Pada tuli sensorineural(perseptif) kelainan terdapat pada koklea (telinga dalam), nervus VIII atau di pusat pendengaran sedangkan tuli campur disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif dan tulisensorineural. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit, misalnya radang telinga tengahdengan komplikasi ke telinga dalam atau merupakan dua penyakit berlainan, misalnya tumornervus VII (tuli saraf) dengan radang telinga tengah (tuli konduktif).

2.4. Tuli Sensorineural 2.4.1. Defenisi Kelainan telinga dapat menyebabkan tuli konduktif atau tuli sensorineural. Tuli konduktif biasanya disebabkan oleh kelainan yang terdapat di telinga luar atau telinga tengah.Tuli sensorineural dibagi atas tuli sensorineural koklea dan retrokoklea.4

Tuli sensorineural adalah berkurangnya pendengaran atau gangguan pendengaranyang terjadi akibat kerusakan pada telinga bagian dalam, saraf yang berjalan dari telinga keotak (saraf pendengaran), atau otak.5 2.4.2. Insidensi1 Keterampilan komunikasi adalah pusat kehidupan yang sukses untuk semua orang.Gangguan komunikasi sangat mempengaruhi pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan banyak orang. Jumlah orang Amerika dengan gangguan pendengaran memiliki angka kejadian dua kali lipat selama 30 tahun terakhir. Berdasarkan data yang diperoleh dari survei federal, didapatkan prevalensi untuk individu yang berusia tiga tahun atau lebih yang mengalami gangguan pendengaran berkisar 13,2 juta (1971), 14,2 juta (1977), 20,3 juta(1991), dan 24,2 juta (1993). Seorang peneliti independen memperkirakan bahwa 28,6 juta orang Amerika memiliki gangguan pendengaran pada tahun 2000. Gangguan pendengaran sensorineural mendadak ditemukan hanya 10-15% dari jumlah pasien. Insidensi tahunan gangguan pendengaran sensorineural diperkirakan adalah 5 sampai 20 kasus per 100.000orang. Paparan dengan kebisingan telah lama dikenal sebagai faktor risiko untuk gangguanpendengaran Lebih dari 30 juta orang Amerika yang terkena tingkat suara berbahaya secara teratur.

2.4.3. Etiologi4

Tuli sensorineural koklea disebabkan oleh aplasia (congenital), labirinitis (olehbakteri/virus), intoksikasi obat streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosalatau alkohol. Selain itu, tuli sensorineural juga dapat disebabkan oleh tuli mendadak (suddendeafness), trauma kapitis, trauma akustik, dan pajanan bising.

Tuli sensorineural retrokoklea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor sudut pons serebelum, mieloma multipel, cedera otak, perdarahan otak, dan sebagainya. 2.4.4. Patogenesis6

Perjalanan penyakit dari tuli sensorineural disebabkan oleh beberapa hal sesuai dengan etiologi yang sudah disebutkan diatas. Pada tuli sensorineural (perseptif) kelainan terdapat pada koklea (telinga dalam), nervus VIII atau di pusat pendengaran. Sel rambut dapat dirusak oleh tekanan udara akibat terpapar oleh suara yang terlalu keras untuk jangka waktu yang lama dan iskemia. Kandungan glikogen yang tinggi membuat sel rambut dapat bertahan terhadap iskemia melalui glikolisis anaerob.

Sel rambut juga dapat dirusak oleh obat-obatan, seperti antibiotik aminoglikosida danagen kemoterapeutik cisplatin, yang melalui stria vaskularis akan terakumulasi di endolimfe.Hal ini yang menyebabkan tuli telinga dalam yang nantinya mempengaruhi konduksi udaradan tulang. Ambang pendengaran dan perpindahan komponen aktif membran basilar akanterpengaruh sehingga kemampuan untuk membedakan berbagai nada frekuensi yang tinggimenjadi terganggu. Akhirnya, depolarisasi sel rambut dalam tidak adekuat dapat menghasilkan sensasi suara yang tidak biasa dan mengganggu (tinnitus subyektif). Hal inibias juga disebabkan oleh eksitasi neuron yang tidak adekuat pada jaras pendengaran atau korteks auditorik.

Kekakuan membran basilar mengganggu mikromekanik yang akan berperan dalam ketulian pada usia lanjut. Tuli telinga dalam juga disebabkan oleh sekresi endolimfe yangabnormal. Jadi,loop diureticspada dosisi tinggi tidak hanya menghambat kotranspor Na+-K+ -2Clginjal, tetapi juga di pendengaran. Kelainan genetik pada kanak K+di lumen juga diketahui
8

menyebabkan hal tersebut. Kanal K+terdiri atas dua subunit (IsK/KvLQT1) yang juga diekspresikan pada organ lain, berperan dalam proses repolarisasi. Defek KvLQT1 atau IsK tidak hanya mengakibatkan ketulian, tetapi juga perlambatan repolarisasi miokardium.

Ganggguan penyerapan endolimfe juga dapat menyebabkan tuli di mana ruangendolimfe menjadi menonjol keluar sehingga mengganggu hubungan antara sel rambut danmembran tektorial (edema endolimfe). Akhirnya, peningkatan permeabilitas antara ruang endolimfe dan perilimfe yang berperan dalam penyakit Meniere yang ditandai dengan serangan tuli dan vertigo. 2.4.5. Manifestasi Klinik7

Gangguan pendengaran mungkin timbul secara bertahap atau tiba-tiba. Gangguan pendengaran mungkin sangat ringan, mengakibatkan kesulitan kecil dalam berkomunikasi atau berat seperti ketulian. Kehilangan pendengaran secara cepat dapat memberikan petunjuk untuk penyebabnya. Jika gangguan pendengaran terjadi secara mendadak, mungkin disebabkan oleh trauma atau adanya gangguan dari sirkulasi darah. Sebuah onset yang tejadisecara bertahap bias dapat disebabkan oleh penuaan atau tumor.

Gejala seperti tinitus (telinga berdenging) atau vertigo (berputar sensasi), mungkin menunjukkan adanya masalah dengan saraf di telinga atau otak. Gangguan pendengaran dapat terjadi unilateral atau bilateral. Kehilangan pendengaran unilateral yang paling seringdikaitkan dengan penyebab konduktif, trauma, dan neuromas akustik. Nyeri di telinga dikaitkan dengan infeksi telinga, trauma, dan obstruksi pada kanal. Infeksi telinga juga dapat menyebabkan demam.

2.4.6. Prosedur Diagnostik A.Ananmesis8 Diperlukan anamnesis yang terarah untuk menggali lebih dalam dan luas keluhanutama pasien. Keluhan utama telinga antara lain pekak (tuli), suara berdenging (tinnitus), rasa pusing berputar (vertigo), rasa nyeri di dalam telinga (otalgia), dan keluar cairan dari telinga (otore). Perlu ditanyakan apakah keluhan tersebut pada satu atau kedua
9

telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah berat, sudah berapa lama diderita, riwayat trauma kepala, telinga tertampar, trauma akustik, terpajan bising,pemakaian obat ototoksik, pernah menderita penyakit infeksi virus, apakah gangguan pendengaran ini sudah diderita sejak bayi sehingga terdapat gangguan bicara dan komunikasi, dan apakah gangguan lebih terasa di tempat yang bising atau lebih tenang. B.Pemeriksaan audiologi khusus9

Untuk membedakan tuli koklea dan tuli retrokoklea diperlukan pemeriksaan yang terdiri dari audiometri khusus, audiometri objektif, pemeriksaan tuli anorganik,dan pemeriksaan audiometri anak.

1. Audiometri khusus Perlu diketahui adanya istilah rekrutmen yaitu peningkatan sensitifitas pendengaran yang berlebihan di atas ambang dengar dan kelelahan merupakan adaptasi abnormal yang merupakan tanda khas tuli retrokoklea. Kedua fenomena ini dapat dilacak dengan beberapa pemeriksaan khusus, yaitu: Tes SISI (short increment sensitivity index) Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah pasien dapat membedakan selisih intensitas yang kecil (samapai 1 dB). Tes ABLB (alternate binaural loudness balans test ) Diberikan intensitas bunyi tertentu pada frekuensi yang sama pada kedua telinga sampai kedua telinga mencapai persepsi yang sama. Tes Kelelahan (Tone decay) Telinga pasien dirangsang terus-menerus dan terjadi kelelahan. Tandanya adalah tidak dapat mendengar dengan telinga yang diperiksa. Audiometri Tutur (Speech audiometri) Tujuan pemeriksaan adalah untuk menilai kemampuan pasien berbicara dan untuk menilai pemberian alat bantu dengar (hearing aid ). Audiometri Bekesy Tujuan pemeriksaan adalah menilai ambang pendengaran seseorang dengan menggunakan grafik.2.

10

2. Audiometri objektif

Audiometri Impedans Tujuan pemeriksaan adalah untuk memeriksa kelenturan membran timpani dengan tekanan tertentu pada meatus akustikus eksterna.

Elektrokokleografi Digunakan untuk merekam gelombang-gelombang yang khas dari evokeelectropotential cochlea

Evoked Response Audiometry Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai perubahan potensial listrik di otak setelah pemberian rangsang sensoris berupa bunyi. Pemeriksaan ini bermanfaat pada keadaan tidak memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan biasa dan untuk memeriksa orang yang berpura-pura tuli(malingering) atau kecurigaan tuli saraf retrokoklea.

Otoacoustic Emission/OAE Emisi otoakustik menunjukkan gerakan sel rambut luar dan merefleksikan fungsi koklea.

3. Pemeriksaan tuli anorganik Cara Stenger Memberikan 2 nada yang bersamaan pada kedua telinga, kemudian nada dijauhkan pada sisi yang sehat. Audiometri nada murni dilakukan secara berulang dalam satu minggu. Dengan Impedans. Dengan BERA.4.

4. Audiologi anak Free field test Bertujuan untuk menilai kemampuan anak dalam memberikan responsterhadap rangsang bunyi yang diberikan. Audiometri bermain ( play audiometry). BERA ( Brainstem Evoke Response Audiometry). Echocheck dan emisi Otoakustik ( Otoacoustic emissions /OAE).

11

2.4.7. Diagnosa Banding10

Beberapa

penyakit

yang

dapat

dijadikan

sebagai

diagnosis

banding

tuli

sensorineural,antara lain barotrauma, serebrovaskular hiperlipidemia, efek akibat terapi radiasi, traumakepala, lupus eritematosus, campak,multiple sclerosis, penyakit gondok, neoplasma kanal telinga, neuroma, otitis externa, otitis media dengan pembentukan kolesteatoma,ototoxicity,poliartritis, gagal ginjal, dan sipilis. 2.4.8. Penatalaksanaan10

Tuli sensorineural tidak dapat diperbaiki dengan terapi medis atau bedah tetapi dapatdistabilkan. Tuli sensorineural umumnya diperlakukan dengan menyediakan alat bantu dengar (amplifikasi) khusus. Volume suara akan ditingkatkan melalui amplifikasi, tetapi suara akan tetap teredam. Saat ini, alat bantu digital yang di program sudah tersedia, dimana dapat diatur untuk menghadapi keadaan yang sulit untuk mendengarkan. Tuli sensorineural yang disebabkan oleh penyakit metabolik tertentu

(diabetes,hipotiroidisme, hiperlipidemia, dan gagal ginjal) atau gangguan autoimun (poliartritis danlupus eritematosus) dapat diberikan pengobatan medis sesuai penyakit yang mendasarinya.Beberapa individu dengan tuli sensorineural yang berat, dapat dipertimbangkan untuk melakukan implantasi bedah perangkat elektronik di belakang telinga yang disebut implan koklea yang secara langsung merangsang saraf pendengaran. 2.4.9. Prognosis10 Pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural yang berat mungkin dapat mendengar suara setelah melakukan implantasi koklea. Jika tinitus disebabkan oleh tumorakustik, otosklerosis, atau kondisi tekanan telinga meningkat dalam hidrolik (sindromMeniere), operasi untuk mengangkat lesi atau menyamakan tekanan dapat dilakukan. Tinitus berkurang atau sembuh sekitar 50% dari kasus yang berat setelah menjalani operasi.

12

BAB III KESIMPULAN

Tuli sensorineural adalah berkurangnya pendengaran atau gangguan pendengaran yang terjadi akibat kerusakan pada telinga bagian dalam, saraf yang berjalan dari telinga keotak (saraf pendengaran), atau otak. Untuk membedakan tuli koklea dan tuli retrokoklea diperlukan pemeriksaan yang terdiri dari audiometri khusus, audiometri objektif, pemeriksaan tuli anorganik, dan pemeriksaan audiometri anak. Tuli sensorineural tidak dapat diperbaiki dengan terapi medis atau bedah tetapi dapat distabilkan. Pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural yang berat mungkin dapat mendengar suara setelah melakukan implantasi koklea.

13