Anda di halaman 1dari 26

Case Report Session

SUDDEN DEATH (KEMATIAN MENDADAK)

Oleh: Wiwi Ermisa Jen Elpario Shaola S.Kader M. Zakki AF Anni Jan Riwa 07120033 07120099 07120121 07923012 0810313234

Pembimbing : dr. Rika Susanti, Sp.F

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RUSP Dr. M. Djamil Padang 2012

BAB I PENDAHULUAN

Kematian mendadak yang tidak diharapkan dan tidak dapat dijelaskan ditemukan pada sebagian besar kasus pada praktek kedokteran forensik. Kematian mendadak yang tidak dijelaskan sering tercatat sebagai kematian karena sebab yang alami. Para ahli percaya bahwa kebanyakan dari kematian ini dikarenakan Sudden Death Syndrome (sindroma kematian mendadak) atau Sudden Cardiac Death (kematian jantung mendadak). Penyebab kematian mendadak akibat penyakit dapat diklasifikasikan menurut sistem tubuh, diantaranya sistem susunan saraf pusat, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernafasan. Pada tahun-tahun terakhir ini, penyebab kematian tersering pada kasus kematian mendadak adalah penyakit kardiovaskular. Penyebab penyakit jantung itu sendiri bermacam macam, mulai dari penyakit jantung koroner, kardiomiopati, penyakit katup jantung hingga akibat kelainan genetik seperti pada Sindrom Marfan. Sebuah studi post mortem pada salah satu Rumah Sakit di Dublin, Connoly Hospital antara Januari 1987 hingga Desember 2001, menyebutkan bahwa penyebab terbanyak kematian mendadak adalah penyakit Jantung (79%). Di Indonesia sendiri sukar didapat insiden kematian mendadak yang sebenarnya.Angka yang ada hanyalah jumlah kematian mendadak yang diperiksa di bagian kedokteran forensik FKUI. Dalam tahun 1990, dari seluruh 2461 kasus, ditemukan 227 laki-laki (9,2%) dan 50 perempuan (2%) kasus kematian mendadak, sedangkan pada tahun 1991 dari 2557 kasus diperiksa 228 laki-laki (8,9%) dan 54 perempuan (2,1%). Oleh karena penyebabnya yang wajar, maka apabila kematian tersebut didahului oleh keluhan, gejala dan terdapat saksi (apalagi bila saksinya adalah dokter, misalnya di klinik, puskesmas, atau rumah sakit) biasanya tidak akan menjadi masalah kedokteran forensik. Namun apabila kematian tersebut terjadi tanpa riwayat penyakit dan tanpa saksi, maka dapat menimbulkan kecurigaan bagi penyidik, apakah terkait unsur pidana di dalamnya. Disinilah peran pemeriksaan forensik berupa autopsi dan pemeriksaan histologi akan sangat penting guna menjawab permasalahan di atas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI MATI MENDADAK Pengertian kematian mendadak sebenarnya berasal dari kata sudden unexpected natural death yang di dalamnya terkandung kriteria penyebab yaitu natural (alamiah, wajar). Mendadak disini diartikan sebagai kematian yang datangnya tidak terduga dan tidak diharapkan, dengan batasan waktu yang nisbi. Camps menyebutkan batasan kurang dari 48 jam sejak timbul gejala pertama. Definisi kematian mendadak menurut WHO yaitu kematian dalam waktu 24 jam sejak gejala timbul, namun pada kasus-kasus forensik sebagian besar kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala timbul. Kematian mendadak tidak selalu tidak terduga, dan kematian yang tak terduga tidak selalu terjadi mendadak, namun amat sering keduanya terjadi bersamaan pada satu kasus. Simpson (1985) dalam bukunya Forensic Medicine menulis dua alternative definsi, yaitu : a. Sudden death adalah kematian yang tidak terduga, non traumatis, non self inlicted fatality, yang terjadi dalam 24 jam sejak onset gejala. b. Definisi yang lebih tegas adalah kematian yang terjadi dalam satu jam sejak timbulnya gejala. Terminologi kematian mendadak disini dibatasi pada suatu kematian alamiah yang terjadi tanpa diduga dan terjadi secara mendadak, menyamakan kematian mendadak dengan terminologi sudden natural unexpected death. Kematian alamiah di sini berarti kematian hanya disebabkan oleh penyakit dan trauma atau racun tidak memainkan dalam menyebabkan kematian. Deskripsi sudden atau unexpected tidak selalu akurat, unexplained biasanya menjadi alasan dilakukan investigasi medico-legal. Otopsi dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, meskipun setelah otopsi dilakukan, penyebab kematian tetap tidak diketahui.

B. PREVALENSI Kematian mendadak terjadi empat kali lebih sering pada laki-laki dibandingkan pada perempuan.Penyakit pada jantung dan pembuluh darah menduduki urutan pertama dalam

penyebab kematian mendadak dan juga memiliki kecenderungan yang serupa yaitu lebih sering menyerang laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 7:1 sebelum menopause dan menjadi 1:1 setelah perempuan menopause.Tahun 1997 -2003 di Jepang dilakukan penelitian pada 1446 kematian pada kecelakaan lalu lintas dan dari autopsi pada korban kecelakaan lalu lintas di Dokkyo University dikonfirmasikan bahwa 130 kasus dari 1446 kasus tadi penyebab kematiannya digolongkan dalam kematian mendadak, bukan karena trauma akibat kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia seperti yang dilaporkan badan Litbang Departemen Kesehatan RI, persentase kematian akibat penyakit ini meningkat dari 5,9% (1975) menjadi 9,1% (1981), 16,0 (1986), dan 19,0% (1995). Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Gonzales (1954) terhadap 2030 kasus kematian mendadak yang di autopsy, ditemukan penyebab kematian mendadak adalah : 1. Kelainan jantung dan aorta (912 kasus) : 44,9% 2. Kelainan respiratory system : 23,1% 3. Kelainan nervous system : 17,9% 4. Kelainan traktus digestivus : 6,5% 5. Kelainan traktus urinarius : 1% 6. Kelainan traktur genitalia : 1,3% Kematian akibat penyakit jantung menduduki persentase tertinggi dari semua penyebab kematian mendadak karena penyakit. Pada kematian mendadak, penyebab kematian hampir selalu ditemukan pada sistem kardiovaskuler, meskipun lesi tidak terdapat di jantung atau pembuluh darah utama. Cerebral hemmorraghe yang masif, perdarahan subarachnoid, rupture kehamilan ektopik, hemoptisis, hematemesis dan emboli pulmonal, sebagai contoh, bersama dengan penyakit jantung dan aneurisma aorta mempunyai kontribusi pada sebagian besar penyebab kematian mendadak dan unexpected akibat system vascular. Tanpa otopsi, para dokter salah dalam menentukan sebab kematian dari 25-50% kasus. Di banyak negara dengan banyak proporsi otopsi medico-legal dan di Inggris dan Wales terdapat sekitar 80% otopsi koroner, sisanya karena bunuh diri, kecelakaan, dan pembunuhan.

C. ETIOLOGI

Secara garis besar penyebab kematian mendadak dibagi atas: trauma, keracunan dan penyakit.Insiden kematian mendadak akibat trauma dan keracunan lebih kurang sekitar 25-30%, sementara penyakit merupakan penyebab tersering dari terjadinya kematian mendadak dengan persentase mencapai 60-70%.Kematian mendadak akibat penyakit terbanyak adalah akibat penyakit pada sistem jantung dan pembuluh darah. 1. TRAUMA 2. KERACUNAN a. Definisi Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan berupa sakit atau kematian. Intoksikasi merupakan suatu keadaaan dimana fungsi tubuh menjadi tidak normal yang disebabakan oleh sesuatu jenis racun atau bahan toksik lain. b. Jenis jenis racun Berdasarkan sumber racun dapat digolongkan : 1. Racun yang berasal dari tumbuh tumbuhan yaitu opium, kokain, kurare, aflatoksin 2. Racun yang berasal dari hewan seperti bisa atau toksin ular, laba laba dan hewan laut 3. Racun yang berasal dari mineral seperti arsen, timah hitam dan lain lain 4. Racun yang berasal dari sintetik seperti heroin Berdasarakan tempat dimana racun berada, dapat dibagi menjadi : 1. Racun yang terdapat di alam bebas, misalnya gas gas yang terdapat di alam 2. Racun yang terdapat dirumah tangga, misalanya detergen, insektisida, pembersih (cleaners) 3. Racun yang digunakan dalam pertanian, misalnya insektisida, herbisida dan pestisida 4. Racun yang digunakan dalam industry dan laboratorium, misalnya asap dan basa kuat, logam berat

5. Racun yang terdapat dalam makanan, misalnya sianida dalam singkong, botulinium (racun ikan), bahan pengawet, zat adiktif 6. Racun dalam bentuk obat, misalnya hipnotik, sedative

c. Cara kerja atau efek yang ditimbulkan 1. Lokal : pada tempat kontak akan timbul beberapa reaksi, misalnya perangsangan, peradangan atau korosif. Contoh korosif : asam dan basa kuat 2. Sistemik : mempunyai afinitas terhadap salah satu system, misalnya barbiturate, alcohol, morfin, mempunyai afinitas kuat terhadap SSP. Digitalis dan oksalat terhadap jantung. CO terhadap darah. 3. Lokal dan sistemik : asam karbol menyebabkan erosi lambung, sedangkan sebagian yang diabsorpsi akan menimbulkan depresi SSP

d. Faktor yang mempengaruhi keracunan : 1. Cara masuk : mulai dari yang paling cepat sampai paling lambat berturut-turut adalah inhalasi, intravena, intramuskuler, intraperitoneal, subkutan, peroral, kulit. 2. Umur : orang tua dan anak-anak lebih rentan 3. Kondisi tubuh : lebih rentan pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah seperi pada orang dengan gizi kurang atau buruk, orang dengan penyakit ginjal 4. Kebiasaan : penting pada kasus keracunan alcohol dan morfin sebab terjadi toleransi 5. Alergi : misal vitamin E, penicillin, streptomisin, dan prokain 6. Faktor racun sendiri : yaitu takaran, konsentrasi, bentuk dan kondisi fisik lambung, struktur kimia, sinergisme dan adisi 7. Waktu pemberian : sebelum atau sesudah makan. Pada racun peroral jika diberikan sebelum makan absorpsi akan lebih baik dan efek lebih cepat.

e. Kriteria Diagnosis 1. Adanya tanda dan gejala yang sesuai dengan racun penyebab

2. Dengan analisis kimiawi dapat dibuktikan adanya racun pada barang bukti jika sisanya masih ada 3. Dapat ditemukan racun atau sisa dalam tubuh/ cairan tubuh korban, jika racun menjalar secara sistemik 4. Kelainan pada tubuh korban, makroskopik maupun mikroskopik sesuai dengan racun penyebab 5. Riwayat penyakit, bahwa korban tersebut benar-benar kontak dengan racun

Yang perlu diperhatikan untuk korban keracunan : 1. Keterangan tentang racun apa kira-kira yang menjadi penyebabnya 2. Harus sedikit sekali menggunakan air 3. Jangan menggunakan desinfektan

f. Pemeriksaan toksikologik Pemeriksaan toksikologik harus dilakukan pada : 1. Bila pada pemeriksaan setempat terdapat kecurigaan terhadap keracunan. 2. Bila pada otopsi ditemukan kelainan yang lazim ditemukan pada keracunan dengan zat tertentu, misalnya lebam mayat yang tidak biasa (cherry red pada CO, merah terah pada sianida, kecoklatan pada nitrit, nitrat, anilin, fenasitin dan kina); loka bekas suntikan sepanjang vena, keluarnya buih dari mulut dan hidung (keracunan morfin), bau amandel (keracunan sianida), bau kutu busuk (keracunan malation). 3. Bila pada otopsi tidak ditemukan penyebab kematian.

Dalam menangani kasus kematian akibat keracunan perlu dilakukan pemeriksaan penting yaitu : 1. Pemeriksaan ditempat kejadian (TKP) 2. Otopsi lengkap 3. Analisis toksikologik

3. PENYAKIT a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Beberapa penyakit jantung dan pembuluh darah yang dapat mengakibatkanmati mendadak antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Penyakit Jantung iskemik Infark Miokard Penyakit Katup Jantung Miokarditis Kardiomiopati

1. Penyakit Jantung Iskemik Dengan perhitungan kasar, sekitar 62% dari semua kematian mendadak karena penyakit jantung, disebabkan oleh arteriosklerosis pada arteri koroner. Terbentuknya sumbatan pada lumen cabang pembuluh darah yang partial atau total yang luas ataupun hanya setempat dapat menyebabkan arteri tidak dapat mengirim darah yang adekuat ke miokardium. Sebagai akibatnya akan terjadi coronary artery insufficiency dan jantung secara tiba-tiba berhenti. Obstruksi yang signifikan pada lumen arteri koronaria adalah jika membatasi 75% lumen atau setidaknya 80% dari lumen yang normal harus hilang sebelum timbul infark myocard . Stenosis dari koroner oleh ateroma sangat sering terjadi, konsekuensinya terjadi pengurangan aliran darah ke otot jantung yang dapat menyebabkan kematian dengan berbagai cara, yaitu : 1. Insufisiensi koroner akibat penyempitan lumen utama akan mengakibatkan iskemia kronik dan hipoksia dari otot-otot jantung di bawah stenosis. Otot jantung yang mengalami hipoksia mudah menyebabkan aritmia dan fibrilasi ventrikel, terutama pada adanya beban stress seperti olahraga atau emosi. 2. Komplikasi dari ateroma dapat memperburuk stenosis koroner dan kematian otot jantung yang mengikutinya. Plak ateroma ulseratif dapat pecah atau hancur, mengisi sebagian atau seluruh pembuluh darah dengan kolesterol, lemak dan debris fibrosa. Pecahan ini akan terbawa ke arah distal pembuluh darah dan pada percabangan pembuluh darah menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan multipel mini-infark. Bagian endotel dari plak yang hancur dapat bertindak seperti katup dan menutup total pembuluh darah.

Komplikasi lain adalah perdarahan sub-intima yang terjadi pada plak, membesarkannya secara tiba-tiba dan menutup lumen pembuluh darah. 3. Trombosis koroner 4. Miokard infark, terjadi ketika stenosis berat terjadi atau terjadi oklusi total dari pembuluh darah, bila pembuluh darah kolateral di tempat bersangkutan tidak cukup memberi darah pada daerah yang bersangkutan. Infark umumnya baru terjadi bila lumen tertutup lebih dari atau sama dengan 70%. 5. Lesi pada sistem konduksi jantung. Efek dari infark yang besar adalah mengurangi fungsi jantung karena kegagalan pompa dan otot yang mati tidak dapat berkontraksi atau menyebabkan aritmia dan fibrilasi ventrikel. Infark yang dapat dilihat dengan mata secara makroskopik tidak terjadi saat kematian mendadak, karena perlu beberapa jam agar oklusi jantung menjadi jelas. Tapi efek fatal dari infark dapat terjadi pada setiap saat setelah otot menjadi iskemik. 6. Infark miokard yang ruptur dapat menyebabkan kematian mendadak karena hemoperkardium dan tamponade jantung. Keadaan ini umumnya terjadi pada wanita tua, yang mempunyai miokardium yang rapuh, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada semua orang. Keadaan ini cenderung terjadi dua atau tiga hari setelah onset infark dan bagian otot yang infark menjadi lunak. Ruptur terkadang terjadi pada septum interventrikuler, menyebabkan leftright shunt pada jantung. 7. Fibrosis miokard, terjadi ketika infark miokard menyembuh karena miokardium tidak dapat berprofilerasi. Sebuah daerah fibrosis yang besar di ventrikel kiri dapat kemudian membengkak karena tekanan yang tinggi selama sistole membentuk aneurisma jantung yang mengurangi fungsi jantung. 8. Ruptur otot papilaris, dapat terjadi karena infark dan nekrosis. Keadaan ini memungkinkan katup mitral mengalami prolaps dengan gejala insufisiensi mitral dan bahkan kematian. Ateroma pada arteri koroner bisa fokal dengan plak yang irreguler dengan berbagai ukuran atau dalam jumlah sedikit dan terlokalisir dengan sisa lumen lain pada sistem kardiovaskuler hampir normal. Hal ini berarti setiap bagian pembuluh darah utama harus diperiksa saat otopsi, pemotongan transversal dilakukan dengan jarak tidak lebih dari 3 mm.

2. Infark Miokard Infark miokard adalah nekrosis jaringan otot jantung akibat insufisiensi aliran darah.Insufisiensi terjadi karena spasme dan/atau sumbatan karena sklerosis dan

thrombosis.Infark miokard adalah patologik (gejala klinisnya bervariasi, kadang tanpa gejala apapun), sedangkan infark miokard akut adalah pengertian klinis (dengan gejala diagnosis tertentu). Kematian dapat terjadi dalam beberapa jam awal atau hari setelah infark dan penyebab segeranya adalah fibrilasi ventrikel. Beberapa komplikasi infark miokard yang mungkin timbul antara lain: 1. Ruptur jantung, merupakan penyebab umum timbulnya haemoperikardium dan cardiac tamponade. Ruptur selalu terjadi selama infark. Ruptur paling sering terjadi pada bagian distal dinding ventrikel kiri. 2. Trombosis mural, tidak dapat disepelekan jika infark terjadi pada endokardium ventrikel kiri. 3. Perikarditis, terjadi bersama dengan infark transmural. Perikardium viseral menjadi berwarna merah keunguan dengan vaskular blush pada permukaannya. 4. Fibrosis miokard, pada orang tua dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel pada hipertensi dan meyebabkan iskemik relatif. 5. Aneurisma jantung, terjadi dimana daerah fibrosis yang luas menggantikan infark transmural sebelumnya. Beberapa bentuk infark miokard yang dapat dikenali saat otopsi yaitu: 1. Infark laminar, lebih banyak ditemukan pada daerah subendokardial atau pada ventrikel kiri, kadang infark luas sampai setengah atau lebih dari tebalnya dinding. 2. Infark lokal atau regional, lebih sering pada penyakin arteri koroner murni, dan disebabkan oklusi lokal atau sumbatan yang berat pada arteri koronaria. Besar dan posisi infark tergantung dimana oklusi terjadi. Hampir semua infark jenis ini ditemukan pada ventrikel kiri.

Gambaran makroskopis infark miokard awal digambarkan dengan berbeda pada banyak buku patologi, sebagian karena berbagai macam umur infark yang digambarkan oleh penulis. Beberapa gambaran yang khas dari tingkatan infark miokard, adalah:

12-18 atau bahkan 24 jam pertama, tidak dapat dilihatdengan mata telanjang. Tanda pertama yang dapat ditemukan adalah oedem pada otot yang terlihat pucat karena tekanan serabut otot pada pembuluh darah.

Sekitar akhir hari pertama sampai hari kedua dan ketiga, daerah tersebut menjadi berwarna kuning disertai pecahnya miosit yang menyebabkan lapisan tampak merah. Hal ini akan memberikan gambaran trigoid seperti belang pada macan.

Setelah beberapa hari, infark menjadi lebih lembut dan rapuh, disebut myomalacia cordis. Pada fase ini, 2 atau 3 hari kedepan akan terjadi ruptur dan masuk ke kandung pericardial.

Tiga minggu dan setelahnya, bagian tengah infark menjadi seperti gelatin, warnanya memudar menjadi aduadu transparan. Satu atau dua bulan selanjutnya, fibrosis akan mengganti otot yang mati dan menjadi jaringan parut.

Gambaran infark miokard yang berbeda pada tiap fase dapat terlihat secara mikroskopis.Gambaran infark tersebut antara lain: Perubahan awal gambaran mikroskopis infark miokard tidak spesifik. Perubahan tersebut diantaranya oedema intersisial, kongesti, dan perdarahan kecil. Periode 18-24 jam, terjadi degenerasi yang progresif pada serabut otot dan jumlah eosinofilia bertambah. Oedema seluler mereda dan digantikan oleh oedema interfibre, memisahkan serabut otot. Hari kedua sampai keempat, nukleus menjadi cekung dan membayang. Terjadi infiltasi netrofil pada sebagian infark, kemudian digantikan oleh mononuklear makrofag akan membersihkan debris dan fibroblas akan menjadi kolagen selama perbaikan. Pada akhir minggu pertama, terjadi disitegrasi serabut otot, dan kapiler baru dan fibroblas mulai terlihat. Pada minggu keempat, terjadi fibrosis awal yang lambat dan tidak merata.

3. Penyakit Katup Jantung Penyakit katup jantung biasanya mempunyai riwayat yang panjang. Kematian mendadak dapat terjadi akibat rupture valvula. Kematian mendadak juga dapat terjadi pada stenosis aorta

kalsifikasi (calcific aorta stenosis) kasus ini disebabkan oleh penyakit degenerasi dan bukan karditis reumatik. Penyakit ini lebih banyak pada pria daripada wanita dan timbul pada usia sekitar 60 tahun atau lebih. Stenosis aorta menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri, bahkan lebih nyata dibanding pada hipertensi.Jantung dapat mencapai berat 800 1000 gram.Penyebabnya biasanya adalah kalsifikasi pada katup jantung menyebabkan katup menjadi tebal dan kaku. Pada tingkat lanjut, seluruh katup mungkin hampir tidak dapat dikenali, massa seperti kapur, dengan lumen hampir tidak cukuplebar untuk memuat sebuah pensil. Katup aorta yang sempit, menghalangi aliran darah dari ventrikel kiri dan menyebabkan hipertrofi otot dalam rangka memompa stroke volume yang sama melewati lubang yang lebih sempit. Efek yang lain adalah penurunan tekanan perfusi koroner, dan akan lebih buruk jika terjadi regurgitasi. Kematian mendadak umumnya terjadi pada usia di atas 60 tahun, namun terjadi pula pada orang yang lebih muda dengan kelainan kongenital berupa katup aorta yang bikuspid.

4. Miokarditis Miokarditis biasanya tidak menunjukkan gejala dan sering terjadi pada dewasa muda.Diagnosis miokarditis pada kematian mendadak hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologik.Otot jantung harus diambil sebanyak 20 potongan dari 20 lokasi yang berbeda dari pemeriksaan ini.Pada pemeriksaan histopatologik tampak peradangan interstisial dan atau parenkim, edema, perlemakan, nekrosis, degenerasi otot hingga miolisis.Infiltrasi leukosit berinti tunggal, plasmosit dan histiosit tampak jelas.

5. Kardiomiopati Kardiomiopati adalah suatu kelainan pada miocardium yang dihubungkan dengan disfungsi jantung dimana belum diketahui penyebab yang pasti.Kardiomiopati bukan merupakan hasil dari arteriosklerosis, hipertensi, kongenital, atau penyakit katup jantung. Kardiomiopati dapat digolongakan menjadi 3, yaitu: dilated/kongesti, hipertrofi, dan restriktif-obliteratif. Pada dilated/kongesti, jantung dengan nyata membesar, dengan miokardium yang lembek dan perbesaran pada semua ruang. Secara mikroskopis, terdapat degenerasi dan atau hipertrofi serat otot, fibrosis miokardium yang fokal atau difus, infiltasi sel mononuklear, dan kadang infiltrasi lemak.

b. Penyakit Sistem Respirasi Kematian biasanya melalui mekanisme perdarahan, asfiksia, dan atau

pneumothoraks.Perdarahan dapat terjadi pada tuberculosis paru, kanker paru, bronkiektasis, abses, dan sebagainya.Sedangkan asfiksia terjadi pada pneumonia, spasme saluran nafas, asma, penyakit paru obstruktif kronis, aspirasi darah atau tersedak. c. Penyakit Sistem Pencernaan Kematian dapat cepat terjadi pada kasus perdarahan akibat gastritis kronis atau ulkus duodeni.Perdarahan fatal akibat tumor jarang terjadi dan jika terjadi maka sering akibat dari karsinoma atau leiomyoma.Kematian mendadak dapat juga disebabkan oleh varises esophagus yang sering merupakan komplikasi dari sirosis hepatis dimana mekanisme terjadinya adalah akibat dari hipertensi portal. Untuk autopsy kematian mendadak oleh karena kasus perdarahan rongga abdomen yang tidak jelas penyebabnya perlu dilakukan pemeriksaan lambung dan usus dengan hatihati, untuk mencari kemungkinan disebabkan oleh adanya perforasi akibat ulkus peptikum. d. Penyakit Sistem Hematopoietik a. Limpa Ruptur dari limpa dapat menyebabkan kolaps dan mati mendadak dengan cepat.Limpa dapat ruptur secara spontan atau karena trauma.Hal ini terjadi jika limpa terlibat dalam penyakit yang cukup berat yaitu infeksi mononukleosa, hemofilia, malaria dan tifoid. b. Darah Kematian mendadak tak terduga dilaporkan oleh kasus megaloblastik anemia. Infeksi ringan juga dapat muncul sebagai pemicu terjadinya kematian pada beberapa keadaan anemia.Hal tersebut juga dapat terjadi pada pasien leukemia.

e. Penyakit Sistem Urogenital Penyakit pada ginjal dan sistem urinaria jarang menyebabkan mati mendadak.Ada beberapa kondisi yaitu pada pasien dengan uremia fase terminal atau dengan koma/kejang dapat terjadi mati mendadak. Ketidakseimbangan elektrolit juga dapat menjadi penyebab mati mendadak dengan gambaran klinis seperti kasus emboli paru.

f. Penyakit Sistem Saraf Pusat

Kejadian mati mendadak yang berhubungan dengan penyakit sistem saraf pusat biasanya akibat perdarahan yang dapat terjadi pada subarachnoid atau intraserebral.

Perdarahan Sub Arakhnoid Spontan (Non Trauma) Perdarahan sub arakhnoid spontan merupakan keadaan yang sangat berpotensi mengancam jiwa. Penyebab dari perdarahan sub arakhnoid spontan ini sangat perlu diketahui karena akan menentukan penatalaksanaan selanjutnya.Perdarahan subarakhnoid dapat

menyebabkan kematian yang sangat cepat walaupun mekanismenya masih belum jelas.Pada otopsi, diagnosis perdarahan subarakhnoid terbukti sendiri (selfevident). Biasanya perdarahan berasal dari sirkulus Willis, perdarahan yang paling tebal akan melewati dasar otak, terutama sisterna basalis. Darah biasanya akan menyebar secara lateral dan dapat menutupi seluruh permukaan hemisfer serebral,otak bagian belakang, dan ke bawah menuju canalis spinalis. Perdarahan akan berwarna merah terang pada perdarahan segar; apabila bertahan beberapa mingguakan berwarna kecoklatan karena hemoglobin mengalami perubahan.Hemosiderin dapat dideteksi dengan pengecatan Perl setelah sekitar tiga hari.Penentuan sumber perdarahan terkadang sulit.Aneurisma tampak pada 85% kasus perdarahan sub arakhnoid spontan namun sisanya tidak menunjukkan adanya aneurisma. Hal ini mungkin karena destruksi aneurisma kecil ketika ruptur. Pencarian akan adanya aneurisma kecil pada otopsi mungkin sulit karena adanya lapisan tebal dari bekuan darah yangterjebak antara selaput otak dan pembuluh darah.

Perdarahan Intraserebral Perdarahan intraserebral non traumatik umumnya disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah akibat hipertensi (hipertensi, eklamsia), juga dikarenakan disfungsi autoregulasi dengan aliran darah otak yang berlebihan(cedera reperfusi, transformasi hemoragik, paparan dingin), pecahnya aneurismaatau malformasi diatesis arteri-vena, arteriopati, perubahan (tumor, hemostasis infeksi),

(trombolisis,antikoagulasi,

hemoragik),

nekrosis

hemoragik

atauobstruksi aliran vena (trombosis vena serebral). Perdarahan intraserebral secara klinis ditandai dengan onset yang mendadak dan berkembang dengan cepat. Perdarahan serebral lebih sering ditemui pada laki-laki dibanding perempuan dan tidak umum terjadi pada umur muda.Perdarahan biasanya terjadi pada orang ketika aktif dibanding ketika beristirahat.Hipertensi sebenarnya sering menyertai keadaan ini dan biasanya hanya ada

satu

episode

perdarahan

yaitu

ketika

serangan.Perdarahan

berulang

tidak

umum

ditemukan.Penderita biasanya menunjukkan gejala dalam dua hingga beberapa jam.Pada perdarahan intraserebral otak akan membengkak secara asimetris,dengan hemisfer yang membengkak mengandung darah. Perdarahan subarakhnoid dapat atau tidak muncul pada dasar otak. Pada irisan, jaringan otakyang berdekatan dengan perdarahan akan membengkak dan edematous. Tidak ada jaringan otak pada daerah hematom.Irisan mikroskopik menunjukkan sklerotik yang terhialinisasi pada arteri dan arteriol.Terkadang dapat ditemukan aneurisma arteriol dan arteri yang dilatasi.Kematian umumnya disebabkan kompresi dan distorsi otak tengah atau perdarahan ke dalam sistem ventrikel. Walaupun kematian pada pecahnya aneurisma atau perdarahan intraserebraldianggap wajar, namun pada beberapa keadaan tertentu dapat termasuk dalampembunuhan misalnya apabila orang tersebut mengalami ruptur aneurisma ketika terjadi kekerasan secara fisik, namun yang menentukan apakah ada aksi criminal di dalamnya adalah pengadilan, bukan tenaga medis yang memeriksa.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Berhadapan dengan kasus kematian mendadak, autopsi harus dilakukandengan amat teliti, pemeriksaan histopatologik merupakan suatu keharusan.Sampel diambil dari semua organ yang dianggap terlibat dengan perjalananpenyakit hingga menyebabkan kematian, juga kelainan pada organ yang tampaksecara makroskopik, walau mungkin kelainan tersebut tidak berhubunganlangsung dengan penyebab kematian. Sebaiknya setiap jenis organ dimasukkan pada wadahnya sendiri, menghindari bias pembacaan mikroskopik. Eksisi sampel organ haruslah mencakup daerah yang normal dan daerah yang kita curigai secara mikroskopikterjadi proses patologik. Informasi mengenai temuan-temuan pada autopsi perludisertakan dalam permintaan pemeriksaan histopatologi, sehingga dokter ahlipatologi dapat melakukan tugasnya dengan maksimal. Pada autopsi kasus yang diduga kematian mendadak, hampir selalupemeriksaan toksikologi harus dilakukan.Tanpa pemeriksaan toksikologi,penegakan sebab mati menjadi kurang tajam. Pengambilan sampel untukpemeriksaan toksikologi beragam sesuai dengan kecurigaan jenis racun padakasus secara individual, namun secara umum sampel untuk analisa toksikologiyang dianggap rutin antara lain.

Darah Tempat terbaik untuk memperoleh sampel darah adalah dari venafemoral atau iliaca, atau dari vena axilaris. Untuk analisa secara umum,sekitar 15 ml darah dimasukkan ke dalam tabung kosong agar pembekuandarah dapat terjadi, bersama itu diambil pula 5-10 ml darah dimasukkan kedalam tabung berisi antikoagulan seperti EDTA atau potassium oxalat atauheparin. Untuk pemeriksaan alkohol dari darah diperlukan 5 ml darah yangdimasukkan dalam tabung berisi sodium fluorida untuk mengambat destruksialkohol oleh mikro organisme.

Urin 20-30 ml urine dimasukkan ke dalam kontainer kosong, kecuali bila adapenundaan pemeriksaan, dapat dimasukkan sodium azide.

Muntahan atau isi lambung Muntahan dapat dimasukkan ke dalam kantung plastik yang dapat ditutup rapat, pada autopsi isi lambung dapat dimasukkan ke dalam wadahyang sama dengan membuka kurvatura minor dengan gunting.Laboratorium tertentu juga akan meminta sampel dinding lambungkarena bubuk atau debris tablet dapat melekat pada lipatan lambung dengankonsentrasi yang tinggi.

Feces Isi rektum umumnya tidak diperlukan untuk analisa kecuali ada kecurigaan keracunan logam berat, sampel sebanyak 20-30 gram dapatdimasukkan ke dalam wadah yang dapat tertutup rapat.

Liver dan organ lain Hati dapat diperiksa secara utuh untuk analisa toksikologi, bila hanya sebagian hati yang diambil sebagai sampel (100 gr) maka berat total hati harusdicantumkan dalam lembar permintaan pemeriksaan.Pada penyalahgunaan bahan pelarut seperti pada penghirup lem, bahankimia peracun umumnya dapat ditemukan dalam darah.Laboratorium dapat membantu bila kita dapat memberikan sampel parusecara utuh agar gas yang terperangkap dalam paru dapat

dianalisa.Padakeadaan ini paru dimasukkan ke wadah kedap udara seperti kantung nilon ataukantung polyvinyl klorida.

Potongan rambut dan kuku Pada keracunan logam berat sebagian rambut dapat dipotong ataudicabut beserta

akarnya.Potongan kuku dapan tapat digunakan padapemeriksaan penunjang karena logam berat mengendap pada kuku dan dapatdianalisa dengan analisa aktivasi neutron untuk melihat hubunganpertumbuhan rambut dan paparan racun. Paparan racun yang paling baru akanterlihat paling dengan dengan akar atau pangkal kuku.

E.AUTOPSI PADA KASUS MATI MENDADAK Mati mendadak sampai saat ini mungkin masih dianggap sebagai peristiwa yang wajar, baik oleh masyarakat maupun pihak penyidik atau kepolisian. Sehingga kasus mati mendadak tidak dimintakan autopsy. Kondisi tersebut sangat merugikan, mengingat kemungkinan kematian mendadak tersebut terdapat unsur kriminalnya, atau kematian tersebut berhubungan dengan kelainan perbuatan orang lain. Kasus mati mendadak yang tidak terduga sering menimbulkan pertanyaan. Kecurigaan adanya ketidakwajaran sering muncul dalam pikiran orang. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak masing-masing orang tentang korban yang mati mendadak tersebut. Pada kasus kematian mendadak, sangat perlu mendapat perhatian keadaan korban sebelum kematian. Apakah korban baru menjalankan aktifitas, atau sewaktu istirahat sehabis melakukan aktifitas. Keadaan lingkungan tempat kejadian perkara juga harus diperhatikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan : a. Kematian terjadi pada saat seseorang melakukan aktifitas fisik maupun emosional dan disaksikan oleh orang lain, misalnya sedang berolahraga, melakukan ujian, dan lain sebagainya. b. Jenazah dalam keadaan mencurigakan, misalnya korban tanpa kelainan apa-apa dengan pakaian rapi ditemukan meninggal, atau meninggal di tempat tidur sendirian. Mengutip pernyataan Gonzales yang menyebutkan beberapa kondisi yang mendukung untuk dilakukannya autopsy pada kasus mati mendadak, yaitu :

a. Jika jenazah ditemukan dalam keadaan yang mencurigakan, seperti ditemukan adanya tanda kekerasan. Kadang kematian mendadak yang disebabkan penyakit dapat dipacu oleh adanya kekerasan yang disengaja tanpa meninggalkan tanda pada tubuh korban. b. Umur korban juga memegang peranan penting dalam menentukan, apakah korban perlu dilakukan autopsy atau tidak. Mati mendadak jarang terjadi pada usia muda, jadi kecurigaan adanya unsur criminal perlu lebih diperhatikan disbanding pada orang tua. c. Autopsy dilakukan atas permintaan keluarga,yang ingin mengetahui sebab kematian korban. Autopsi dilakukan untuk kepentingan asuransi. Kematian mendadak yang tidak mendatangkan kecurigaan pada prinsipnya tidak perlu dilakukan autopsy. Baru jika penyidik merasa ada kecurigaan atau tidak mampu untuk menentukan adanya kecurigaan mati tidak wajar, maka dokter sebetulnya mutlak untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian yang sebenarnya. Pada autopsy kasus yang diduga kematian mendadak, hampir selalu pemeriksaan toksikologi harus dilakukan. Tanpa pemeriksaan toksikologi, penegakkan sebab mati menjadi kurang tajam.

BAB III LAPORAN KASUS PROJUSTITIA VISUM ET REPERTUM Yang bertanda tangan di bawah ini, Rika Susanti, Dokter Spesialis Forensik pada Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang,menerangkan dengan ini bahwa pada tanggal dua puluh November tahun dua ribu dua belas, pukul sembilan belas lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia Bagian Barat, bertempat di bagian forensik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang, telah dilakukan pemeriksaan luar atas jenazah: --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Nama Umur MR : Muhammad Khoirodi----------------------------------------------------------------------: 33 tahun--------------------------------------------------------------------------------------: .00.80.74.64.--------------------------------------------------------------------------------Padang, 20 November 2012

Jenis kelamin : Laki-laki-------------------------------------------------------------------------------------Suku Pekerjaan Alamat : Jawa------------------------------------------------------------------------------------------: Buruh bangunan----------------------------------------------------------------------------: Telaga Sana Mundong Pemalang Jawa Timur------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN-----------------------------------------------------------------------------------PEMERIKSAAN LUAR:------------------------------------------------------------------------------------1. Label mayat: tidak ada.----------------------------------------------------------------------------------

2. Tutup/bungkus mayat: satu helai kain sarung yang digunting, warna dasar kuning, motif kotak-kotak warna coklat, kuning, orange, ungu, ukuran dua ratus dua puluh dua sentimeter kali seratus dua puluh sentimeter.---------------------------------------------------------------------------------3. 4. Perhiasan mayat : tidak ada----------------------------------------------------------------------------Pakaian mayat 1. Satu helai baju kemeja lengan panjang , warna dasar hijau motif garis-garis tegak, terdapat kantong pada dada kiri, isi kosong, merek X-two, tidak terdapat bercak dan robekan.----------------------------------------------------------------------------------2. Satu helai kain sarung motif kotakkotak warna merah, putih hitam, abu abu ukuran seratus dua puluh enam sentimeter kali seratus sentimeter, tidak terdapat bercak dan robekan.-------------------------------------------------------------------------3. Satu helai baju berbahan kaos lengan pendek warna putih, merek Swan, ukuran 36. Terdapat 2 robekan di bagian belakang dekat merek ukuran dua sentimeter kali dua setengah sentimeter. Tidak terdapat bercak dan robekan.--------------------4. Satu helai celana panjang berbahan dasar jeans warna coklat, terdapat dua kantong di pinggang, dua kantong di paha bagian depan, dua kantong di lutut bagian depan, dua kantong di belakang, isi kosong, merek BAPAI ukuran 30. Tidak terdapat bercak atau robekan.------------------------------------------------------5. Satu helai celana dalam berbahan kaus warna abu-abu, merek Crocodile ukuran L. terdapat bercak berwarna kecoklatan ukuran empat sentimeter kali tujuh sentimeter. Tidak terdapat robekan.-------------------------------------------------------6. 7. 8. Benda disamping mayat: tidak ada--------------------------------------------------------Kaku mayat: terdapat pada seluruh tubuh, sukar dilawan.-----------------------------Lebam mayat terdapat pada: punggung yang hilang dengan penekanan, berwarna merah keunguan.------------------------------------------------------------------------------

9.

Mayat adalah mayat seorang laki-laki, ras Mongoloid, berumur tiga puluh tiga tahun, kulit sawo matang , gizi sedang, panjang tubuh seratus lima puluh delapan sentimeter,dan zakar disunat.----------------------------------------------------------------

10. 1.

Identifikasi khusus : ------------------------------------------------------------------------Pada lengan kanan atas bagian dalam, satu sentimeter di atas lipatan siku terdapat jaringan parut berwarna keputihan ukuran dua belas sentimeter kali empat belas sentimeter.-------------------------------------------------------------------------------------

2.

Pada lengan kanan bawah bagian luar, tiga sentimeter dari lipat siku terdapat jaringan parut berwarna keputihan ukuran lima sentimeter kali dua sentimeter.-----

3.

Rambut kepala berwarna hitam, tumbuhnya lebat, ikal, panjang tujuh sentimeter. Alis mata berwarna hitam, tumbuhnya lebat. Bulu mata berwarna hitam, tumbuhnya lurus, panjangnya nol koma lima sentimeter, kumis ada, berwarna hitam, tumbuhnya jarang, panjang nol koma tiga sentimeter. Jenggot tidak ada.----

4.

Mata kanan terbuka ukuran nol koma lima sentimeter, mata kiri terbuka nol koma tiga sentimeter, selaput bening mata jernih, teleng mata diameter nol koma tiga sentimeter, warna tirai mata coklat, selaput bola mata putih, selaput kelopak mata pucat.-------------------------------------------------------------------------------------------

5.

Hidung pesek, tidak ada kelainan.----------------------------------------------------------

Kedua daun telinga berbentuk oval, tidak ada kelainan.----------------------------------------Mulut tertutup, lidah tidak terjulur dan tidak tergigit.-------------------------------------------6. Gigi geligi. Jumlah gigigeligi sebanyak dua puluh tiga buah.--------------------------

Jumlah gigi pada rahang atas sebelah kanan enam buah (gigi pertama dan kedua ompong).---------------------------------------------------------------------------------------Jumlah gigi pada rahang atas sebelah kiri empat buah (gigi pertama, kedua, ketiga dan kelima ompong).-------------------------------------------------------------------------

Jumlah gigi pada rahang bawah sebelah kanan lima buah (gigi pertama, kedua dan ketiga ompong).--------------------------------------------------------------------------Jumlah gigi pada rahang bawah sebelah kiri delapan buah (lengkap).------------------------7. Dari lubang mulut, hidung, telinga, kemaluan, dan pelepasan tidak keluar apaapa.---------------------------------------------------------------------------------------------8. 9. 10. Pada tubuh tidak ditemukan luka-luka.---------------------------------------------------Patah tulang tidak ada.----------------------------------------------------------------------Lain lain.-------------------------------------------------------------------------------------

a. Satu helai pengikat kepala dari kasa berwarna putih dengan ukuran sembilan puluh delapan sentimeter kali delapan sentimeter.--------------------------------------------------b. Satu helai pengikat kedua pergelangan tangan dari kasa berwarna putih dengan ukuran tujuh puluh delapan sentimeter kali delapan sentimeter.---------------------------c. Satu helai pengikat kedua pergelangan kaki dari kasa berwarna putih ukuran sembilan puluh empat sentimeter kali delapan sentimeter.---------------------------------------------KESIMPULAN :----------------------------------------------------------------------------------------------Pada pemeriksaan mayat seorang laki-laki dalam keadaan segar yang berumur lebih kurang tiga puluh tiga tahun. Pada pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan Sebab kematian tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam (Autopsi).-----

Demikianlah Visum et Repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuansaya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Padang, 20 November 2012 An DIRUT RSUP dr M Djamil Padang Dokter yang memeriksa

-.Dr.RikaSusanti,Sp.F.NIP 197607312002122002

BAB IV DISKUSI

Definisi kematian mendadak menurut WHO yaitu kematian dalam waktu 24 jam sejak gejala timbul. Korban ini masuk rumah sakit jam 19.00 WIB pada tanggal 20 November 2012 dan dinyatakan meninggal jam 19.15 WIB tanggal 20 November 2012. Dari keterangan kerabat korban, korban mengalami demam sejak pagi tanpa disertai keluhan lain. Rentang waktu dari timbulnya gejala sampai korban dinyatakan meninggal adalah kurang dari 24 jam. Oleh karena itu kematian pada korban ini dikategorikan sebagai kematian mendadak. Penyebab kematian mendadak secara garis besar adalah : trauma, keracunan dan penyakit. Pada korban ini tidak ditemukan luka-luka atau tanda-tanda penganiayaan pada korban atau tanda-tanda kekerasan yang dapat menimbulkan kematian. Pada korban tidak terdapat tanda-tanda keracunan seperti adanya lebam mayat yang warnanya tidak normal dimana lebam mayat berwarna keunguan, adanya bau zat racun tertentu, dan bekas suntikan yang mencurigakan. Oleh karena itu, kemungkinan terbesar korban meninggal akibat penyakit. Sebab, diketahui orang tua laki-laki korban meninggal mendadak dengan riwayat penyakit jantung.

BAB V KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan: 1. Kematian mendadak dalam aspek forensik selalu dianggap tidak wajar sampai dibuktikan merupakan kematian wajar 2. Sebab kematian tidak bisa ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Sudden

Death.http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/08/04

sudden-death/.

Diakses tanggal 22 November 2012

Fahmi Arif Hakim, dr, Sp.F ; Bagian Forensik FK Unjani ; Aspek Medikolegal Kematian Mendadak Akibat Penyakit ( Natural Sudden Death); November 2010

Gani, M. Husni. 2005. Ilmu Kedokteran Forensik. Padang : Penerbit FK UNAND

Gonzales TA, Vance M, Helpern M, Umberger CJ. Legal Medicine. Pathology and toxicology. 2nd edition. New York : Appleton century croft. 1954 : 102-51\

Hakim, F.A., 2010. Aspek Medikolegal Kematian Mendadak Akibat Penyakit (Natural Sudden Death), rludifkunjani.wordpress.com/2010/11/17/aspek-medikolegal-kematian-mendadak-

akibat-penyakit-natural-sudden-death/

Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Binarupa Aksara

Kristanto, Erwin, Tjahjanegara Winardi.Kematian Mendadak (Sudden Natural Unexpected Death). http://www.freewebs.com/erwin_k/kematianmendadak.htm.Diakses tanggal 22 November 2012

Teknik Autopsi Forensik, Bagian Kedokteran Forensik FKUI, Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik FKUI, 2000