Anda di halaman 1dari 6

A.

Apakah Filsafat itu?

Pakah sesungguhnya filsafat itu? Pertanyaan demikian itu telah diajukan sejak lebih dua puluh abad yang silam dan hingga kini tetap dipertanykan banyak orang. Berbgai jawaban telah diberikan sebagai upaya untuk menjelaskan apakah sesungguhnya filsafat itu, namun tidak pernah ada jawaban yang dapat memuaskan semua orang. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa banyakknya jawaban yang diberikan justru semakin mengaburkan masalah yang hendak dijelaskan. Dengan demikian, persoalannya menjadi semakin rumit. Apakah benar demikian? Kenyataanya sampai sekarang ini , masih banyak orang yang mengira bahwa filsafat adalah sesuatu yang serba rahasia, mistis, dan aneh. Ada pula yang menyangka bahwa filsafat adalah suatu kombinasi antara astrologi, psikologi, dan teologi. Selain itu, karena filsafat juga disebut sebagai mater scientiarum atau induk segala ilmu pengetahuan, maka cukup banyak pula orang menganggap filsafat sebgai ilmu yang paling istimewa, ilmu yang menduduki tempat paling tinggi dari antara seluruh ilmu pengetahuan. Dalam percakapan sehari-hari, acak kali kita mendengar ada orang yang

mengatakan, Falsafah saya adalah atau Filsafat pengusaha yang berhasil itu... dan sebgainya. Apakah sebenarnya yang dimaksud ungkapan-ungkapan tersebut? Apakah arti istilah falsafah atau filsafat yang digunakan dalam ungkapan-ungkapan tersbut di atas? Istilah falsafah atau filsafat yang digunakan dengan cara itu sesungghnya mengacu kepada sikap,pandangan,dan gagasan yang dipegang oleh seseorang unuk menghadapai segala persoaalan dan tantangan yang harus diatasinya. Ada juga yang mengatakan bahwa karena semua oaring yang berpikir, sesungguhnya semua oaring adalah filsuf. Apakah benar setiap oaring yang berpikir itu adalah filsuf? Jika benar demikian, berarti berpikir adalah berfilsafat, dan berfilsafat adalah berpikir. Jadi, pemikiran (sebgai hasil berpikir) adalah, dan filsafat adalah pemikiran. Memang benar orang yang berfilsafat itu berpikir, tetapi

tidak semua yang berpikir berarti pula berfilsafat. Untuk berpikir secara filsafati, ada persayaratan-persayaratan terntentu yang harus dipenuhi mengyangkut aspek Ontologi, Efistemoligi, dan Aksiologi (akan dijelaskan pada bab berikutnya)

B.

Asal Mula Filsafat

Empat Hal Yang Melahirkan Filsafat Bagaimana filsafat tercipta? Apa yang menyebabkan manusia berfilsafat? Sesungguhnya ada empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat, yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan. Yang pertama Ketakjuban. Banyak filsuf mengatakan bahwa yang menjadi awal kelahiran filsafat adalah thaumasia (kegunan, keheranan, atau ketakjuban). Dalam karyanya yang berjudul Metafisika, Aristoteles mengatakan bahwa karena ketakjuban manusia berfilsafat. Pada awalnya manusia takjub memandang bendabenda aneh di sekitarnya, lama-kelamaan ketakjuban semakin terarah pada hal-hal yang lebih luas dan besar, seperti perubahan dan peredaran bulan, matahari, bintang-bintang, dan asal mjula alam semesta. Istilah ketakjuban menunjuk pada dua hal penting, yaotu ketakjuban itu pasti memiliki subyek dan objek. Jika ada ketakjuban, sudah tentu ada yang takjub dan ada sesuatu yang menakjubkan. Ketakjuban hanya mungkin dirasakan dan dialami oleh mahluk yang selain berperasaan juga berakal budi. Mahluk yang seperti itu sampai saat ini yang diketahuai hanyalah manusia. Jadi, yang takjub adalah manusia. Jika subyek dari ketakjuban itu manusia, apakah yang objek ketakjuban itu? Oyek ketakjuban itu adalah segala sesuatu yang ada yang dapat diamati. Tiulah sebabnya bagi platao pengamatan terhadap bintang-bintang, matahari, dan langit merangsang manusia untuk melakukan penelitian. Penelitian terhadap apa yang diamati demi memahami hakekatnya itulah yang melahirkan filsafat. Pengamatan yang dilakukan terhadap obyek ketakjuban bukanlah dengan mata, melainkan juga dengan akal budi. Pengamatan akal budi tidak terbatas hanya pada obyek-obyek yang dapat dilihat diraba, melainkan juga tehadap benda-benda yang dapat dilihat tetapi tidak dapat diraba. Oleh karena itu pula, Immanuel Kant bukan hanya takjub terhadap langit-langit di atas, melainkan juga terpukau memandang hukum moral dalam hatinya.

Ketidakpuasan. sebelum filsafat lahir, berbgai mitos dan mite memainkan peranan yang amat penting dalam kehidupan manusia memainkan peran yang amat penting dalam kehidupan manusia. Berbgai motos dan mite berupaya menjelaskan asal muasal dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta serta sidat-sidat peristiwa itu. Akan tetapi, ternyata penjelasan dan keterangan yang diberikan oleh mitos-mitos dan mite-mite itu makin lama makin tidak memuaskan manusia. Ketidakpuasan itu membuat manusia terus-menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti dan meyakinkan. Kenyatannya memang demikian. Ketidakpuasan memang membuat manusia melepaskan segala sesuatu yang tak dapat memuaskannya, lalu ia akan berupaya menemukan apa yang dapat memuaskannya. Manusia yang tidak puas dan terus-menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti itu lambat-laun mulai berpikir secara rasional. Akibatnya, akal budi semakin berperan. Berbgai motos dan mite yang diwariskan oleh tradisi turun-temurun semakin tersisih dari perannya semula yang begitu besar. Ketika rasio berhasilmenurunkan mitos-mitos dan mite-mite dari singgasanaya, lahirlah filsafat, yang pada masa itu mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikenal. Hasrat Bertanya. Ketakjuban manusai telah melahirkan pertanyaanpertanyaan, dan ketidakpuasan manusia membuat pertanyaan-pertanyaan itu tak jungjung habis. Pertanyaan tidak boleh dianggap sepele karena pertanyaanpertanyaan yang membuat kehidupan serta pengetahuan manusia berkembang dan maju. Pertanyaanlah yang membuat manusia melakukan pengamatan, penelitian, dan penyelidikan. Ketiga hal itulah yang menghasilakan penemuan baru yang semakin memperkaya manusaia dengan opengetahuan yang terus bertambah. Karena itu pertanyaan merupakan sesuatu yang hakiki bagi manusia. Menurut Sarte, kesadaran pada manusia senatiasa bersifat bertanya yang sungguh-sungguh bertanya.

Hasrat

bertanya

membuat

manusia

mempertanyakan

segalanya.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu tidak sekedar terarah pada wujud seduatu, melaiankan juga terarah pada dasar dan hakekatnya. Inilah yang menjadi salah satu citi khas filsafat. Filsafat selalu mempertanyakan segalanya, berarti manusai bukan hanya mempertanyakan segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Manusia juga mempertanyakan dirinya sendiri yang memiliki hasrat bertanya. Bahkan, ia juga dapat mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang

dipertanyakan itu. Itulah yang membuat filsafat itu ada, tetap ada, dan terus aka nada. Filsafat akan berhenti apabila manusia telah berhenti bertanya secara radikal dan universal. Keraguan. Manusai selaku penyanya memperntayakan sesuatu dengan maksud untuk memperolah kejelasan dan keterangan mengenai sesuatu yang dipertanyakan itu. Tentu saja hal itu berarti bahwa yang dipertanyakannya itu tidak jelas atau belum terang. Karena sesuatu itu tidak jelas atau belum terang, manusia perlu dan harus bertanya. Pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh kejelasan dan keterangan dan pada hakekatnya merupakan suatu pertanyaan tentang adanya Aporia (keraguan atau ketidakpastian dan kebingunngan) di pihak manusai yang bertanya. Memang ada yang mengatakan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan oleh seseorang sesungguhnya sentiasa bertolak dari apa yang telah diketahui oleh si penanya terlebih dahulu. Bukankan setiap orang yang bertanya sedikit banyak telah memiliki banyangan atau gambaran dari apa yang dipertanyakan? Jika tidak, ia tidak akan mendapat mengajukan pertanyaan itu. Oleh karena itu, sebgaimana yang dikutip oleh Beerling, Spinoza mengatakan: Saya bertanya padamu, siapakah yang dapat mengetahui bahwa ia mengerti sesuatu, kalau dari mula-mulanya ia tak mengerti tentang hal itu, artinya,siapakah yang dapat mengetahui bahwa sesuatu adalah pasti baginya, kalau dari mula-mula hal itu sudah pasti banginya?. Akan tetapi, karena apa yang diketahui oleh si penanya baru merupakan gambaran yang samar, maka ia bertanya. Ia bertanya karena masih meragukan

kejelasan dan kebenaran dari apa yang telah diketahuinya. Jadi, jelas terlihat bahwa keraguanlah yang turut merangsang manusia untuk bertanya dan terus bertanya, yang kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat.