Anda di halaman 1dari 17

BAB VI PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan hasil penelitian ini dibagi menjadi dua pokok bahasan, pertama mengenai keterbatasan penelitian dan kedua membahas tentang hasil penelitian.

A. KETERBATASAN PENELITIAN. 1. Keterbatasan Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini termasuk jenis analitik dengan rancangan survei, menggunakan pendekatan cross sectional, dimana pengukuran perubahan siklus menstruasi (variabel dependen) dilakukan bersama-sama dengan (variabel independen) stressor internal meliputi : kepribadian, sikap, persepsi, dan koping. Dan stressor eksternal meliputi : lingkungan, hubungan antar sesama, hubungan antar keluarga. Sehingga penelitian tidak bisa diartikan sebagai hubungan sebab akibat.

2. Keterbatasan Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini belum ada instrumen yang baku pengumpulan data untuk seluruh variabel, khususnya variabel-variabel karakteristik hubungan

interpersonal, karakteristik lingkungan, persepsi, sikap, koping, dan kepribadian dari responden. Instrumen pengumpulan data yang disusun berdasarkan pengembangan dari teori-teori yang berkaitan dengan variabel penelitian dalam bentuk skala likert, sehingga uji validitas dan reliabilitasnya hanya berlaku terhadap sampel penelitian ini.

3. Keterbatasan Populasi Dan Sampel Penelitian. Populasi penelitian hanya pada satu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan yang berjumlah 144 orang mahasiswa, dan penentuan sampel menggunakan perhitungan proportional random sampling, dengan menentukan besarnya sampel pada tiap-tiap kelas. Dan pengambilan sampel dengan cara mengacak, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisikan secara umum kepada populasi lain. Dan secara umum sampel ini homogen.

B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 1. Karakteristik Demografikal. a. Hubungan antara Umur Responden dengan Perubahan Siklus Menstruasi Responden penelitian berjumlah 144 orang mahasiswi S1 Reguler

Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA Jakarta Selatan. Jumlah terbesar responden pada kelompok umur antara lebih dari 20 tahun (39,6 %), dan usia < 20 tahun (60,4 %), yang merupakan usia sangat produktif. Dari distribusi tersebut diperoleh hasil, 31,6 % (n = 18) responden dari kelompok umur < 20 tahun yang mempunyai siklus menstruasi teratur. Pada kelompok umur responden lebih dari 20 tahun mempunyai siklus menstruasi teratur 24,1 % (n = 21). Sedangkan kelompok umur responden lebih dari 20 tahun mempunyai siklus menstruasi tidak teratur sebanyak 75,9% (n=66). Dari hasil analisi data didapatkan mayoritas responden dberada diusia lebih dari 20 tahun, ditandai ada 87 orang dari 144 jumlah responden, dan ada 66 orang dengan umur lebih dari 20 tahun dengan siklus menstruasi tidak teratur,

sedangkan pada kelompok usia kurang dari 20 tahun hanya 39 orang, dan pada kelompok dalam siklus menstruasi yang teratur ada 21 orang dengan umur lebih dari 20 tahun, sedangkan hanya 18 orang di kelompok <20 tahun. Artinya, semakin meningkat usia seseorang semakin tidak teratur pula siklus menstruasinya, dikarenakan perubahan hormone, kedewasaan teknis dan psikologisnya yang semakin meningkat. Dan pada umur lebih dari 20 tahun, seseorang akan semakin mampu mengambil keputusan, semakin bijaksana, semakin mampu berfikir secara rasional, mengendalikan emosi dan toleran terhadap pandangan orang lain, sehingga dengan demikian diharapkan akan semakin teratur siklus menstruasinya. Berdasarkan analisis statistik chi square menunjukkan, tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan perubahan siklus menstruasi (p-value = 0,429, OR = 1,451). Karakteristik individu berkaitan dengan kematangan psikologis, semakin bertambahnya usia maka semakin matang dan dewasa secara emosional. Bila penelitian dilakukan di STIKes lain dengan karakteristik mahasiswi yang sama akan didapat hasil yang sama karena pengetahuan responden akan penelitian ini sudah diketahui sebelumnya. Tetapi bila penelitian dengan sampel yang besar dengan area penelitian yang luas seperti di kalangan SMA, maka hasilnya akan berbeda dan dapat digeneralisasikan.

2. Karakteristik Stressor Internal a. Hubungan Antara Stressor Internal (Kepribadian) Dengan Perubahan Siklus Menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA dengan Tipe dari 144 jumlah responden mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA dengan Tipe Kepribadian A (yang rentan stres) mempunyai siklus menstruasi yang teratur hanya 26,3% (n=26) dan pada kelompok dengan menstruasi yang tidak teratur ada 73,7% (n=73), sedangkan responden dengan Tipe Kepribadian B (yang tidak rentan dengan stres) mempunyai siklus menstruasi teratur hanya 28,9% (n=13). Dan responden yang tidak rentan dengan stres yang mempunyai siklus menstruasi tidak teratur 71,1% (n=32). Dari analisis melalui uji statistik chi square

diperoleh -value = 0,899 berarti, tidak ada hubungan yang bermakna antara kepribadian dengan perubahan siklus menstruasi. Dan nilai OR=0,877 artinya responden dengan Tipe Kepribadian A beresiko memiliki peluang 0,877 kali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Data tersebut memperlihatkan, umumnya kepribadian mahasiswi prodi S1 Reguler Keperawatan di STIKes PERTAMEDIKA dengan Tipe Kepribadian A (yang rentan terhadap stres) yang mendominasi, Tipe A (yang rentan terhadap stres) dinilai lebih buruk dari pada tipe B (tidak rentan dengan stres), terutama dalam kaitannya dengan penyakit (Rokib, 2011). Dari hasil analisis data didapatkan kelompok dengan Tipe Kepribadian A mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur ada 73 orang, dan responden

dengan Tipe Kepribadian B mempunyai siklus menstruasi tidak teratur ada 32 orang, artinya responden dengan Tipe Kepribadian A (yang rentan stress) paling banyak jumlahnya terkait dengan perubahan siklus menstruasi tidak teratur artinya semakin individu tersebut rentan dengan stres maka akan semakin tidak teratur pula siklus menstruasinya, dalam teori dijelaskan bahwa seseorang dengan Tipe Kepribadian A (rentan stress) dinilai lebih buruk daripada dengan Tipe Kepribadian B kaitannya dengan penyakit, karena Tipe A mudah masuk dalam kondisi stres, Dari hasil analisis juga didapatkan bahwa ada 26 orang dengan Tipe Kepribadian A (rentan stress) yang mengalami siklus menstruasi yang teratur, namun hanya 13 orang dengan kepribadian Tipe B dengan siklus menstruasi yang teratur, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara tipe kepribadian seseorang dengan perubahan siklus menstruasi, namun dalam teori diperkuat bahwa seseorang yang dalam kondisi stress akan berpengaruh secara signifikan dengan perubahan siklus menstruasinya, hal ini kemungkinan berpengaruh dengan kondisi hormone seseorang karena hormone berpengaruh dengan regulasi system endokrin yang terkait dengan perubahan siklus menstruasi. Kepribadian merupakan pola khas seseorang dalam berpikir, merasakan dan berperilaku yang relatif stabil dan dapat diperkirakan (Dorland, 2002). Definisi kepribadian menurut Dorland merupakan pola khas seseorang dalam berfikir dan merasakan sesuatu, maka dalam keadaan stres seseorang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda dalam menangani stres itu sendiri, sehingga kaitannya dalam memicu timbulnya stress akan berbeda, maka tipe kepribadian

seseorang yang cenderung tidak dapat disamakan keadaannya akan membuat suatu keadaan stress menjadi lebih berat atau tidak terbebani sama sekali, dan dalam penelitian disini tidak ada pengaruhnya antara kepribadian seseorang dengan perubahan siklus menstruasi.

b. Hubungan Antara Stressor Internal (Sikap) Dengan Perubahan Siklus Menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari 144 jumlah responden 29,1 % (n=25) mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA yang memiliki sikap tidak baik dalam memandang stres mempunyai siklus menstruasi yang teratur. Responden dengan sikap tidak baik ada 70,9% (n=61) yang menunjukkan siklus menstruasi yang tidak teratur. Sedangkan 24,1% (n=14) responden dengan sikap baik dalam memandang stres mempunyai siklus menstruasi yang teratur. Sedangkan responden dengan sikap baik dalam memandang stres mempunyai siklus menstruasi yang tidak teratur ada 75,9% (n=44). Dan nilai OR=1,288 artinya responden dengan sikap tidak baik dalam memandang stres beresiko memiliki peluang 1,288 kali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Hal ini menunjukkan bahwa tidak baiknya sikap responden dalam memandang stres maka siklus menstruasinya akan menjadi tidak teratur, dilihat dari banyaknya responden dengan sikap tidak baik dalam memandang stres ada 61 orang yang menunjukkan siklus menstruasi yang tidak teratur. Sedangkan responden dengan sikap baik dalam memandang stres mempunyai siklus

menstruasi yang tidak teratur ada 44 orang. Namun dalam kaitannya dengan siklus menstruasi yang teratur hanya 14 orang dengan sikap baik, dan 25 orang dengan sikap tidak baik dalam memandang stress. Dan dari hasil analisis uji statistik chi-square didapatkan p-value 1,288 yang artinya, tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perubahan siklus menstruasi. Analisis tersebut membuktikan baik buruk nya sikap seseorang dalam memandang stres tidak selalu berhubungan dengan perubahan siklus menstruasi individu tersebut. Hal ini mungkin karena, sikap seseorang terbentuk karena pengaruh orang lain. Dalam kehidupan sehari-harinya pengaruh tersebut dapat diperoleh dari teman sejawat, orang tua, dosen, dan lainnya secara bersama-sama terlibat dalam proses stres itu sendiri. Saat pengaruh muncul tidak membuat baik buruknya sikap seseorang mempengaruhi timbulnya kondisi stres, karena besar kecilnya pengaruh yang diterima dari individu tidak selalu dapat disamakan dan mempengaruhi siklus menstruasi individu tersebut. Menurut (Notoatmodjo, 2010), sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Hal ini disebabkan oleh, Sikap akan terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat ini.

c. Hubungan Antara Stressor Internal (Persepsi) Dengan Perubahan Siklus Menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan dari persentase distribusi, dari 144 jumlah responden mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA dengan persepsi yang tidak baik dalam memandang stres mengalami siklus menstruasi yang teratur hanya 23,8% (n=20), dan dari kelompok responden dengan persepsi baik dalam memandang stres mengalami siklus menstruasi teratur ada 31,7% (n=19). Responden dengan persepsi tidak baik menunjukkan ada 76,2% (n=64) yang memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Sedangkan kelompok responden dengan persepsi baik dalam memandang stres mengalami siklus menstruasi tidak teratur hanya 68,3% (n=41). Dari analisis uji statistik chi-square diperoleh -value 0,392 berarti, tidak ada hubungan yang bermakna antara persepsi dengan perubahan siklus menstruasi. Dan nilai OR=0,674 artinya responden dengan persepsi tidak baik dalam memandang stres beresiko memiliki peluang 0,674 kali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Hasil tersebut memberikan arti bahwa, bila mahasiswi memiliki persepsi yang tidak baik terhadap suatu stressor maka membuat siklus menstruasi menjadi tidak teratur, tetapi hal ini tidak berarti membuktikkan bahwa ada pengaruhnya antara persepsi seseorang dengan perubahan siklus menstruasi, hanya ditandai jumlah responden dengan persepsi tidak baik menunjukkan ada 64 orang yang memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Sedangkan kelompok responden dengan persepsi baik dalam memandang stres mengalami siklus menstruasi

tidak teratur hanya 41 orang. Namun pada kelompok siklus menstruasi yang teratur kelompok responden dengan persepsi tidak baik dalam memandang stress ada 20 orang, dan kelompok responden dengan siklus menstruasi teratur ada 19 orang. Dalam penelitian ini dibuktikan dari hasil analisis uji statistik chi-square diperoleh p-value 674 berarti, tidak ada hubungan yang bermakna antara persepsi dengan perubahan siklus menstruasi. Analisis tersebut membuktikan baik buruk nya persepsi seseorang dalam memandang stres tidak selalu berhubungan dengan perubahan siklus menstruasi. Hasil tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Nasir & Muhith, 2011 menurutnya kadar stres dalam suatu peristiwa sangat bergantung pada bagaimana individu bereaksi terhadap stres tersebut. Hal ini juga dipengaruhi oleh bagaimana individu berpresepsi terhadap stressor yang muncul. Stres bagi seseorang belum tentu merupakan stres bagi yang lainnya, karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang hal yang manjadi hambatan atau tuntutan yang mungkin menimbulkan stres. Dikatakan definisi persepsi menurut (Papero, 1997) dalam Isnaeni, 2007 adalah pandangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respons stres. Jadi, pandangan individu yang berbeda-beda saat timbulnya stres dapat menurunkan atau meningkatkan intensitas respons stressor seseorang. Sehingga, persepsi mahasiswi terhadap stressor yang muncul merupakan proses mental bagaimana mahasiswi tersebut melihat, mendengar dan

menerima respon tersebut kemudian mengorganisasikan dan menafsirkan dalam bentuk yang bervariasi.

d. Hubungan Antara Stressor Internal (Koping) Dengan Perubahan Siklus Menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari 144 jumlah responden mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA dengan koping stress yang positif ada 69,9% (n=51) dengan siklus menstruasi yang tidak teratur, dan 30,1% (n=22) responden dengan koping stres yang positif dalam memandang stres mempunyai siklus menstruasi teratur. Sedangkan 23,9 % (n=17) responden dengan koping stress yang negatif dalam memandang stres mempunyai siklus menstruasi teratur. Responden dengan koping stres yang negatif ada 76,1% (n=54) dengan siklus menstruasi yang tidak teratur. Dari hasil analisis statistik melalui uji chi square diperoleh -value = 1,370 berarti, tidak ada hubungan yang bermakna antara koping dengan perubahan siklus menstruasi. Dan nilai OR=1,370 artinya responden dengan koping stress yang negatif beresiko memiliki peluang 1,370 kali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Hasil analisis data yang didapat menunjukkan semakin positif koping stress nya maka akan semakin teratur pula siklus menstruasinya, ditandai dengan jumlah responden, pada kelompok responden dengan koping stress positif ada 22 orang dengan siklus menstruasi teratur, dan ada 17 orang pada kelompok koping stress negative dengan siklus menstruasi yang teratur. Namun di

kelompok responden dengan koping stress negative ada 54 orang yang mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, sedangkan pada kelompok responden dengan koping positif ada 51 orang yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Dari hasil analisis statistik melalui uji chi square diperoleh p-value = 1,370 berarti, tidak ada hubungan yang bermakna antara koping dengan perubahan siklus menstruasi. Analisis tersebut membuktikan koping stres dari seseorang dalam memandang stres tidak selalu berhubungan dengan perubahan siklus menstruasi. Koping adalah usaha individu untuk mengatasi stres psikologis (Lazarus, 2007) dalam Potter 2010. Koping yang efektif akan menghasilkan adaptif dan sebaliknya. Maka, koping yang efektif untuk dilakukan adalah koping yang membantu seseorang untuk menoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus & Folkman, 1984) dalam Nasir & Muhith, 2011. Cara individu menyelesaikan masalahnya dalam keadaan stres berbeda-beda, sehingga respon stress yang dialami seseorang secara otomatis juga akan berbeda, dan dalam penelitian disini telah dibuktikkan dengan menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan antar koping dengan perubahan siklus menstruasi. Namun dari distribusi frekuensi menunjukkan bahwa semakin baik koping individu tersebut akan semakin teratur pula siklus menstruasinya, dan koping mahasiswi dalam keadaan stres baik positif dan negative hampir sama banyak, namun tidak memberikan hubungan yang bermakna.

3. Karakteristik Stressor Eksternal a. Hubungan Antara Stressor Eksternal (Lingkungan Perkulihan) Dengan Perubahan Siklus Menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari 144 jumlah responden mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA dari 30,7 % (n=27) responden yang berpendapat bahwa lingkungan yang maladaptif dapat memicu timbulnya stres mempunyai siklus menstruasi yang teratur, sedangkan responden yang berpendapat bahwa lingkungan yang adaptif mengurangi stres mempunyai siklus menstruasi yang teratur 21,4% (n=12), dan responden yang berpendapat bahwa lingkungan yang adaptif mengurangi stress ada 78,6% (n=44) mempunyai siklus menstruasi yang tidak teratur. Responden yang berpendapat lingkungan yang maladaptif dapat memicu timbulnya stres menunjukkan 69,3% (n=61) dengan siklus menstruasi tidak teratur. Dan nilai OR=1,623 artinya responden yang berpendapat bahwa lingkungan yang maladaptif dapat memicu timbulnya stres beresiko memiliki peluang 1,623 kali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Dari hasil distribusi frekuensi menunjukkan bahwa dominan mahasiswi menyatakan bahwa setuju dengan lingkungan yang maladaptif dapat mememicu timbulnya stres, ditandai dengan jumlah total responden ada 88 orang yang menyatakan bahwa setuju dengan lingkungan yang maladaptif dapat mememicu timbulnya stres, dan 56 orang yang menyatakan setuju bahwa lingkungan yang adaptif dapat menekan timbulnya stress. Dan dari hasil

analisis juga didapatkan responden yang berpendapat lingkungan yang maladaptif dapat memicu timbulnya stres menunjukkan 61 orang dengan siklus menstruasi tidak teratur, dan responden yang berpendapat bahwa lingkungan yang adaptif mengurangi stress ada 78,6% (n=44) mempunyai siklus menstruasi yang tidak teratur. Artinya semakin maladaptive lingkungan perkuliahan pada kalangan responden membuat siklus menjadi tidak teratur, namun hal ini tidak membuktikkan bahwa penelitian disini ada pengaruhnya lingkungan perkuliahan dengan perubahan siklus menstruasi. Diperoleh dari hasil p-value = 1,623 menunjukkan, bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara lingkungan perkulihan dengan perubahan siklus menstruasi. Analisis tersebut membuktikan kondisi lingkungan perkuliahan baik adaptif maupun maladaptif dari seseorang tidak selalu berhubungan dengan perubahan siklus menstruasi.

b. Hubungan Antara Stressor Eksternal (Hubungan Antar Sesama) Dengan Perubahan Siklus Menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA dari 35,9 % (n=33) responden yang menyatakan bahwa hubungannya antar sesama saat ini baik-baik saja mempunyai siklus menstruasi yang teratur, sedangkan responden yang berpendapat bahwa hubungannya antar sesama saat ini kurang baik mempunyai siklus menstruasi teratur hanya 11,5 % (n=6). Dan responden yang berpendapat bahwa hubungan antar sesama dalam keadaan baik-baik saja terdapat 64,1% (n=59) dengan

siklus menstruasi tidak teratur. Sedangkan responden yang berpendapat bahwa hubungan antar sesama kurang baik mempunyai siklus menstruasi tidak teratur hanya 88,5 % (n=46). Dari hasil analisis data didapatkan ada saat ini hubungan antar sesama pada mahasiswi STIKes PERTAMEDIKA paling banyak pada keadaan yang baikbaik saja, ada 92 orang dari 144 jumlah responden, namun dari keadaan yang baik ini ada 59 orang jumlah responden yang mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, sedangkan pada kelompok dengan keadaan kurang baik yang mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur ada 46 orang, dan pada kelompok siklus menstruasi teratur dengan keadaan hubungannya antar sesama dalam keadaan baik ada 33 orang, sedangkan pada kelompok yang hubungannya dalam keadaan kurang baik hanya ada 6 orang. Artinya semakin baik hubungannya antar sesama, maka akan semakin teratur pula siklus menstruasinya, hal ini membuktikkan bahwa ada hubungan antara hubungan stressor internal (hubungan antar sesama dengan perubahan siklus menstruasi pada mahasiswi STIKes PERTAMEDIKA, ditandai oleh hasil statistik uji chi square diperoleh p-value = 0,03 berarti, ada hubungan yang bermakna antara hubungan antar sesama dengan perubahan siklus menstruasi. Dan nilai OR=4,288 artinya responden yang hubungan nya saat ini dengan sesama kurang baik beresiko memiliki peluang 4,288 kali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Analisis tersebut membuktikan baik buruknya hubungan interpersonal seseorang (hubungan antar sesama) mempengaruhi timbulnya stres yang pada akhirnya berhubungan secara

signifikan dengan perubahan siklus menstruasinya. Hal ini sejalan dengan pendapat Hawari 2001 bahwa, hubungan antar sesama (perorangan atau individual) yang tidak baik merupakan sumber stres. Saat individu dalam kondisi stress, dan tidak mampu beradaptasi, maka saat itulah stress semakin memperburuk keadaan, yang akhirnya meningkatkan hormone kortisol yang berpengaruh dalam proses perubahan siklus menstruasi.

c. Hubungan Antara Stressor Eksternal (Hubungan Antar Keluarga) Dengan Perubahan Siklus Menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan, mahasiswi S1 Reguler Keperawatan STIKes PERTAMEDIKA 26,4% (n=24) responden yang berpendapat bahwa hubungannya dengan keluarga saat ini baik-baik saja mempunyai siklus menstruasi yang teratur, sedangkan responden yang berpendapat bahwa hubungannya dengan keluarga kurang baik mempunyai siklus menstruasi teratur hanya 28,3% (n=15). Responden yang berpendapat bahwa hubungan antar keluarga saat ini baik-baik saja menunjukkan terdapat 73,6% (n=67) dengan siklus menstruasi tidak teratur. Sedangkan responden yang berpendapat bahwa hubungannya keluarga kurang baik mempunyai siklus menstruasi tidak teratur hanya 71,7% (n=38). Dari hasil analisis data didapatkan pada kelompok responden hubungan antar keluarga mendominasi dari jumlah total, ada 91 orang yang saat ini hubungan antar keluarga dalam keadaan baik-baik saja dari 144 jumlah sampel, namun dari data didapatkan ada 67 orang pada kelompok hubungan antar keluarga

dalam keadaan baik yang mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, sedangkan hanya 38 orang pada kelompok responden yang hubungannya antar keluarga dalam keadaan kurang baik mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Dan pada kelompok responden dengan siklus menstruasi yang teratur pada kelompok responden yang keadaan hubungan keluarganya dalam keadaan baik ada 25 orang, sedangkan yang kurang baik hanya 15 orang, artinya semakin baik hubungan seseorang dalam lingkup keluarga siklus menstruasi nya akan menjadai semakin teratur, namun semakin baik pula hubungannya dengan keluarga siklus menstruasi juga semakin teratur. Hal ini mungkin disebabkan pengaruh jenis makanan yang dikonsumsi oleh kebanyakan anak remaja dewasa ini, semakin baik hubungannya dengan keluarga akan semakin banyak juga intensitas berkumpul dengan keluarga, dan pada jaman modern seperti sekarang ini orang tua lebih sering makan diluar bersama anak-anakya, dan jenis makanan yang sering dikonsumsi adalah jenis makanan seperti junk food, yang komposisi dari makanan tersebut tidak baik untuk kesehatan serta mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja putrid jika terlalu banyak mengkonsumsi makanan jenis ini. Dari hasil distribusi frekuensi dominan menunjukkan bahwa saat ini hubungan mahasiswi dengan keluarga sedang baik-baik saja, sedangkan hubunganhubungan keluarga yang ditandai dengan pertentangan, perasaan-perasaan tidak aman berlangsung lama, dan remaja kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan pola perilaku yang tenang dan lebih matang dapat menimbulkan stressor bagi remaja tersebut (Hurlock, 2004). Maka wajar jika

tidak adanya konflik dengan keluarga maka tidak menimbulkan stres yang mempengaruhi berubahnya siklus menstruasi individu tersebut. Dari hasil statistik uji chi square diperoleh p-value = 0,955 berarti, tidak ada hubungan yang bermakna antara hubungan antar keluarga dengan perubahan siklus menstuasi. Selanjutnya hasil ini membuktikan bahwa hubungan antara keluarga tidak berhubungan dengan perubahan siklus menstuasi.