Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Resusitasi jantung paru otak (RJPO) merupakan metode untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan sirkulasi pada pasien yang mengalami henti nafas dan henti jantung yang tidak diharapkan mati pada saat itu. Metode ini merupakan kombinasi pernafasan buatan dan bantuan sirkulasi yang bertujuan mencukupi kebutuhan oksigen otak dan substrat lain sementara jantung dan paru tidak berfungsi. Keberhasilan RJPO dimungkinkan oleh adanya interval waktu antara mati klinis dan mati biologis, yaitu sekitar 4-6 menit. Dalam waktu tersebut mulai terjadi kerusakan sel-sel otak yang kemudian diikuti organ-organ tubuh. Dengan demikian pemeliharaan perfusi serebral merupakan tujuan utama pada RJPO. Mati klinis merupakan periode dini suatu kematian yang ditandai dengan henti nafas dan henti jantung/sirkulasi serta terhentinya aktivitas otak yang bersifat sementara (reversibel). Mati biologis mengikuti mati klinis bila tidak dilakukan RJPO atau bila RJPO tidak berhasil. Pada mati biologis terjadi proses nekrotisasi semua jaringan. Proses ini dimulai dari neuron-neuron serebral yang seluruhnya akan rusak dalam waktu kurang lebih satu jam dan diikuti organ-organ lain seperti jantung, ginjal dan hati yang akan rusak dalam waktu kurang lebih dua jam. Resusitasi jantung paru otak dibagi dalam 3 fase, yaitu fase I (Bantuan Hidup Dasar), fase II (Bantuan Hidup Lanjut), dan fase III (Bantuan Hidup Jangka Lama) dan dalam 9 langkah menggunakan abjad dari (A) sampai (I). 1. Fase I untuk oksigenasi darurat Airway control : penguasaan jalan nafas Breathing support : ventilasi buatan dan oksigenase paru darurat Circulation support : pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung, penghentian perdarahan dan posisi untuk syok.

2. Fase II untuk memulai lagi sirkulasi spontan Drugs and fluid intravenous infusion : pemberian obat dan cairan tanpa menunggu EKG. Electrocardioscopy (cardiography) Fibrilation treatment : biasanya dengan syok listrik (defibrilasi)

3. Fase III pengelolaan intensif pasca resusitasi Gauging : menentukan dan memberikan terapi penyebab kematian dan menilai sampai mana pasien bisa diselamatkan Human mentation : SSP diharapkan pulih dengan tindakan resusitasi otak yang baru. Intensive care : resusitasi jangka panjang.

INDIKASI RESUSITASI

Indikasi dilakukannya resusitasi adalah henti nafas (apneu) dan henti jantung (cardiac arrest) 1. Henti Nafas (apneu) Henti nafas dapat disebabkan oleh sumbatan jalan nafas atau akibat depresi pernafasan, baik sentral maupun perifer. Bila terjadi henti nafas primer, jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit selama ada sisa oksigen di dalam paru yang beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini pada pasien dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. Sumbatan jalan nafas dapat dikenali dengan cara: a. Sumbatan jalan nafas lokal Aliran udara di mulut atau hidung tidak dapat didengar atau dirasakan. Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supraklavikula dan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi Ada kesulitan inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan. Pada bayi, sering ditemukan nafas paradoksal b. Sumbatan jalan nafas parsial i . Terdengar suara nafas tambahan, yaitu bunyi dengkur (snoring) yang menandakan sumbatan parsial hipofaring karena jaringan lunak, misalnya jatuhnya dasar lidah, hipertrofi tonsil, dsb). Bunyi

lengking (crowing) yang menandakan laringospasme; bunyi kumur (gargling) yang menandakan adanya benda asing berupa cairan; dan bunyi bengek (wheezing) yang menandakan sumbatan jalan nafas bawah setelah bronkiolus respiratorius. ii. Dapat juga disertai retraksi Gejala akibat sumbatan jalan nafas yang segera dapat diketahui dari keadaan klinis: Hiperkapnia, yaitu penurunan kesadaran. Dipastikan dengan peninggian PCO2 arteri. Hipoksemia, yaitu takikardi, gelisah, berkeringat atau sianosis. Pada hipoksemia, terjadinya sianosis tergantung Hb reduksi >5g% akan terjadi sianosis. Keadaan hipoksemia dipastikan dengan penurunan PO2 arteri. 2. Henti Jantung (cardiac arrest) Bila terjadi henti jantung primer, oksigen tidak beredar dan oksigen yang tersisa dalam organ vital akan habis dalam beberapa detik. Henti jantung dapat disebabkan oleh faktor intrinsik atau ekstrinsik. Faktor intrinsik dapat berupa penyakit kardiovaskuler seperti asistol, fibrilasi ventrikel, dan disosiasi elektromekanik. Faktor ekstrinsik adalah kekurangan oksigen akut (henti nafas sentral/perifer, sumbatan jalan nafas, dan inhalasi asap); kelebihan dosis obat (digitalis, kuinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin dan isoporenalin); gangguan asam basa/elektrolit (hipo/hiperkalemia, hipo/hipermagnesia, hiperkalsemia, dan asidosis); kecelakaan (syok listrik, tenggelam, cedera kilat petir); refleks vagal; anestesi dan pembedahan; terapi dan tindakan diagnostik medik dan syok. Tanda-tanda henti jantung:

Hilang kesadaran dalam waktu 15-20 detik setelah henti jantung Henti nafas (apneu) atau megap-megap (grasping) yang muncul 15-30 detik setelah henti jantung Terlihat seperti mati (death like appearance) dengan warna kulit pucat sampai kelabu Dilatasi pupil dalam waktu 45 detik setelah henti jantung Tidak teraba arteri besar (A. Femoralis dan A. Karotis pada orang dewasa atau A. brakialis pada bayi dan anak kecil) yang segera muncul setelah henti jantung

Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

Tekanan darah sistolik 50mmHg mungkin tidak menghasilkan denyut nadi yang dapat diraba Aktivitas EKG mungkin terus berlanjut meskipun tidak ada kontraksi mekanis terutama pada asfiksia Gerakan kabel EKG dapat menyerupai irama yang tidak mantap

Resusitasi harus dilakukan pada infark jantung kecil yang menyebabkan kematian listrik, serangan Adams-Stokes, hipoksia akut, keracunan dan kelebihan dosis obatobatan, sengatan listrik, refleks vagal, tenggelam, kecelakaan lain yang masih memberikan peluang hidup. RJPO tidak dilakukan pada : Kematian normal yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronis yang berat. Pada keadaan ini denyut jantung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat. stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembunyikan lagi. Bila hampir dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu setelah -1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJPO.

TAHAP-TAHAP RESUSITASI

Bantuan Hidup Dasar Bantuan hidup dasar bertujuan melakukan oksigenasi darurat. Pada awal langkah ABC RJPO dilakukan penilaian kesadaran dengan memberikan guncangan dan teriakan. Bila tidak ada tanggapan, korban/pasien diletakkan dalam posisi telentang dan bantuan hidup dasar segera diberikan. Sementara itu penolong dapat meminta pertolongan dan bila mungkin mengaktifkan sistem pelayanan medis darurat. A. Airway Control (pembebasan jalan nafas)

Pada pasien yang tidak sadar, umumnya terjadi sumbatan jalan nafas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring karena terjadi penurunan tonus. Hal ini dapat diatasi dengan triple airway maneuver dari Safar, yaitu: 1. ekstensi kepala ekstensikan kepala korban dengan satu tangan, bila perlu ganjal bahu 2. ekstensi kepala dan mengangkat dagu ekstensikan kepala dan angkat dagu ke atas 3. ekstensi kepala dan mendorong mandibula ekstensikan kepala, pegang angulus mandibula pada kedua sisi, kemudian dorong ke depan. Metode kedua atau ketiga lebih efektif membuka jalan nafas atas daripada metode pertama. Bila diketahui atau dicurigai adanya trauma kepala dan leher, korban hanya digerakkan/dipindahkan bila memang mutlak perlu. Pada dugaan patah tulang leher, pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala merupakan metode paling aman untuk menjaga agar jalan nafas tetap terbuka. Bila belum berhasil, dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. Bila terdapat pernafasan spontan dan adekuat (tidak sianosis), letakkan pasien dalam posisi miring mantap untuk mencegah aspirasi. Saat itu kita dapat meminta pertolongan ambulans. Sedangkan pada ventilasi adekuat tetapi nafas tidak adekuat (ada sianosis), korban perlu diberikan oksigen lewat kateter nasal atau sungkup muka. Tanda-tanda obstruksi jalan nafas parsial: 1. Stridor (nafas berbunyi), terdengar seperti ngorok, bunyi kumur-kumur atau melengking. 2. Retraksi otot dada ke dalam di daerah supraklavikular, suprasternal, sela iga, dan epigastrium selam inspirasi. 3. Nafas paradoksal (pada waktu inspirasi dinding dada menjadi cekung atau datar bukannya mengembang atau membesar). 4. Balon cadangan pada mesin anestesi kembang kempisnya melemah. 5. Nafas makin berat dan sulit (kerja otot-otot nafas tambahan meningkat) 6. Sianosis, merupakan tanda hipoksemia akibat obstruksi jalan nafas yang lebih berat. Tanda-tanda obstruksi jalan nafas total: Serupa dengan obstruksi parsial, akan tetapi gejalanya lebih hebat dan stridor justru menghilang. 1. Retraksi lebih jelas. 2. Gerak paradoksal lebih jelas.

3. Kerja otot nafas tambahan meningkat dan makin jelas. 4. Balon cadangan tidak kembang-kempis lagi. 5. Sianosis lebih cepat timbul. Secara klinis, salah satu tanda atau gejala tersebut sudah merupakan satu peringatan untuk segera mengatasinya, dengan lebih dulu (bila mungkin) mencari penyebabnya. Sebab-sebab obstruksi jalan nafas yang paling sering adalah: 1. Lidah jatuh ke hipofaring. 2. Lendir jalan nafas, muntahan, perdarahan, benda asing, gigi palsu terlepas. 3. Spasme laring. Apapun penyebabnya, langkah-langkah penanggulangannya hampir sama, yaitu: 1. Langkah 1 a. Posisi kepala dibuat sedikit hiperekstensi, supaya jalan nafas lurus dan bebas. Caranya, pegang dagu dan tarik ke belakang.

b. Ujung (pangkal) mandibula didorong ke atas seperti akan keluar dari sendinya dan mulut sedikit dibuka. Posisi kepada tetap hiperekstensi. Maksudnya supaya pangkal lidah tidak mengikuti hipofaring. 2. Langkah 2 Lakukan pengisapan daerah mulut dan jalan nafas terhadap kemungkinan adanya sekret, darah, atau muntahan yang menghalangi jalan nafas. Bila muntahan mendadak banyak atau untuk mencegah aspirasi, segera usahakan supaya kepala lebih rendah (posisi Trendelenburg) dan kepala sedikit dimiringkan atau lebih baik posisi tubuh miring dan lakukan pengisapan. 3. Langkah 3

Lakukan pemasangan pipa orofaring atau pipa nasofaring untuk menahan lidah agar tidak jatuh ke hipofaring. Langkah ini dapat juga membantu bila langkah 1 melelahkan. Posisi kepala tetap dalam posisi ekstensi. Bila tindakan tersebut telah dilakukan dengan baik, tetapi tanda-tanda obstruksi masih ada, maka kemungkinan besar ada spasme laring parsial sehingga ventilasi tidak mencukupi. 4. Langkah 4 Intubasi trakea, yaitu memasukkan pipa khusus ke dalam trakea yang dapat dilakukan langsung. Tindakan ini sulit dan traumatis bila dipaksakan, sehingga sebaiknya dibantu dengan obat pelemas otot (misal: suksinilkolin).

Teknik intubasi: a. Alat yang digunakan: Laringoskop, yaitu alat untuk melihat laring. Alat ini terdiri dari bagian pegangan atau batang (handle) dan bilah (blade). Ada 3 sampai 4 ukuran bilah, yaitu ukuran bayi, anak, dewasa normal dan yang besar. Pipa khusus (pipa endotrakea), ada bermacam-macam jenis yang disesuaikan menurut

kebutuhan, yaitu: o Dengan atau tanpa balon (Cuff) o Jenis nasal atau oral o Terbuat dari karet, PVC (plastik), atau diperkuat dengan kawat spiral. Anatomi laring dan rima glotis harus dikenal terlebih dahulu. Besar pipa trakea trakea yang disesuaikan dengan besarnya

tergantung pada umur. Pipa endotrakea yang baik untuk seorang pasien adalah yang terbesar yang masih dapat melalui rima glotis tanpa trauma. Pada anak berumur di bawah 8 tahun trakea berbentuk corong, karena ada penyempitan di daerah subglotis (makin kecil, makin

sempit) oleh karena itu pipa endotrakeal yang dipakai pada anak terutama adalah tanpa balon (Cuff). Bila dipakai pipa tanpa balon hendaknya dipasang kasa di faring dan di sekeliling pipa tersebut untuk mencegah aspirasi, sebagai fiksasi, dan agar tidak terjadi kebocoran udara inspirasi. Bila intubasi secara langsung (memakai laringoskop dan melihat rima glotis) tidak berhasil, intubasi dilakukan dengan cara tidak langsung (tanpa melihat trakea) yang juga disebut intubasi tanpa lihat (blind). Cara lain adalah dengan menggunakan laringoskop serat optik.

b. Cara intubasi: i. Berikan obat pelemas otot (suksinilkolin) ii. Batang laringoskop dipegang dengan tangan kiri dan tangan yang lain mendorong kepala sehingga sedikit ekstensi, dan mulut pasien akan dengan sendirinya membuka. Bila mulut tidak juga membuka, maka setelah melakukan ekstensi kepala, mulut dibuka dengan jari tangan. iii. Setelah lampu laringoskop dinyalakan, masukkan bilah ke dalam mulut dimulai dari sudut mulut sebelah kanan. iv. Bilah dimasukkan sedikit demi sedikit sedemikian rupa sehingga menelusuri sebelah kanan lidah, sambil menggeser lidah ke kiri. Jangan meletakkan bilah di tengah lidah karena akan mengganggu pandangan. v. Sambil memasukkan bilah ke dalam, cari epiglotis. vi. Dengan sedikit mengangkat laringoskop, maka akan tampak rima glotis. Bila perlu orang lain menekan trakea dari luar untuk melihat rima glotis. vii. Bila tampak rima glotis, maka akan terlihat pita suara berwarna putih tidak bergerak dan sekitarnya berwarna merah. viii. Pipa endotrakea dimasukkan melalui rima glotis. ix. Fiksasi dengan plester. 5. Langkah 5 Krikotirotomi, dilakukan pada keadaan di mana tidak ada alat intubasi (pipa endotrakea dan laringoskop) atau bila tidak mungkin dilakukan intubasi. Caranya: Diantara tulang rawan krikoid dan tiroid di buat tusukan dengan jarum besar. Tindakan darurat ini akan sementara menolong pasien dari asfiksia.

B.

Breathing Support (ventilasi buatan dan Setelah jalan nafas terbuka, segera nilai

oksigenasi paru secara darurat) apakah korban dapat bernafas spontan dengan merasakan aliran udara pada daun telinga atau punggung tangan penolong, mendengarkan bunyi nafas dari hidung dan mulut korban, serta memperhatikan gerak nafas dadanya. Ventilasi buatan dilakukan bila pernafasan spontan tidak ada (apneu). Ventilasi dapat dari mulut ke mulut, mulut ke hidung, atau mulut ke stoma (trakea). Pada saat melakukan ventilasi mulut ke mulut, penolong mempertahankan kepala dan leher korban dalam posisi jalan nafas terbuka dengan menutup hidung korban dengan pipi penolong atau memencet hidung dengan satu tangan. Selanjutnya dilakukan dua kali ventilasi dalam, segera raba denyut nadi, diberikan ventilasi dalam setiap lima detik. Tanda-tanda jalan nafas bebas saat diberikan ventilasi buatan yang adekuat adalah bila dada terlihat naik turun dengan amplitudo cukup, ada udara yang keluar melalui hidung dan mulut selama ekspirasi, serta tidak terasa tahanan dan compliance paru selama pemberian ventilasi. Bila ventilasi mulut ke mulut atau ke hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas terbuka, periksa faring untuk melihat daya sumbatan oleh benda asing atau sekresi. Bila lakukan scapula. berhasil, hentakan abdomen (abdominal manuver Heimlich), atau thrust) untuk pasien anak gerakan Heimlich adalah diduga ada sumbatan benda asing, hentakan Bila tidak lakukan thrust, punggung di antara dua

hentakan dada (chest atau ibu hamil. Urutan memberikan 6-10 kali

hentakan abdomen, membuka mulut dan melakukan sapuan jari, reposisi korban, membuka jalan nafas, dan mencoba memberikan ventilasi buatan. Urutan diulang sampai benda asing keluar dan ventilasi buatan berhasil dilakukan. Teknik hentakan dada dapat dilakukan pada korban/pasien yang telentang. Teknik ini sama dengan kompresi dada luar. Bila ada sekresi, lakukan penyapuan dengan jari. Bila gagal, lakukan hentakan abdomen atau hentakan dada. Pada tindakan jari menyapu, gulingkan korban pada satu sisi. Sesudah membuka mulut korban, dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya, masukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain dari penolong ke dalam satu sisi mulut korban. Melalui bagian belakang faring kedua jari menyapu dan keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalam satu gerakan. Bila sesudah dilakukan gerakan tripel manuver serta pembersihan mulut dan faring, masih ada sumbatan, pasang pipa jalan nafas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). Bila belum berhasil, lakukan intubasi trakea. Bila tidak dapat dilakukan intubasi, sebagai alternatifnya adalah krikotirotomi atau pungsi membran krikotiroid dengan jarum berlumen besar (misal kanula IV 14G). Bila masih ada sumbatan di bronkus, lakukan pengeluaran benda asing (padat, cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin atau adrenalin. C. Circulation Support (bantuan sirkulasi) Pemberian ventilasi buatan dan kompresi dada luar diperlukan pada keadaan henti jantung. Aliran darah selama kompresi dada luar didasari pada dua mekanisme yang berbeda, yaitu kompresi jantung antara sternum dan tulang belakang serta perubahan tekanan intratoraks global. Korban telentang pada permukaan keras saat dilakukan kompresi dada luar. Penolong berlutut di samping korban dan meletakkan pangkal sebelah tangannya di atas pertengahan 1/3 bawah sternum korban, sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak dua jari dari persambungan sifoid-sternum. Tangan

penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Dengan jari-jari terkunci, lengan lurus, dan kedua bahu tepat di atas sternum korban,

beri tekanan ventrikel ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm dengan berat badan penolong. Setelah kompresi harus ada relaksasi, tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban. Dilanjutkan lama kompresi sama dengan lama relaksasi. Baik satu penolong maupun dua penolong, dilakukan 15 kompresi dada luar (laju 80-100 kali/menit = 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian dua kali ventilasi dalam (2-3 detik). Dalam satu menit harus ada empat daur kompresi dan ventilasi, yaitu minimal 60 kompresi dada dan 8 ventilasi. Jadi 15 kali kompresi dada luar ditambah dua ventilasi harus selesai maksimal dalam waktu 15 detik. Kompresi dada dilakukan secara lembut dan berirama. Bila dilakukan dengan benar, kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 mmHg pada arteri karotis. Antara kedua kompresi dada tidak boleh terputus lebih dari 5 detik, kecuali pada waktu intubasi trakea dan transportasi bias sampai 15 detik. Sesudah 4 daur kompresi dan daur ventilasi (4menit), lakukan reevaluasi pasien dengan memeriksa apakah denyut karotis sudah timbul (5 detik), Bila tidak ada, RJPO dimulai lagi dengan 2 ventilasi diikuti dengan 15 kompresi. Bila sudah ada denyut, pernafasan diperiksa selama 3-5 detik. Bila ada pernafasan dan nadi, pantau dengan ketat. Bila tidak ada pernafasan, lakukan ventilasi buatan 12 kali/menit dan pantau nadi dengan ketat. Bila denyut dan pernafasan belum ada, RJPO dilanjutkan. Sesudah 4 daur, periksa kembali apakah sudah timbul nadi dan ventilasi spontan, begitu seterusnya.

ABC RJPO yang dilakukan pada korban dengan henti jantung dapat memberikan kemungkinan hasil: korban sadar kembali korban dinyatakan mati

korban belum dapat dinyatakan mati dan belum timbul denyut jantung spontan, dalam hal ini perlu diberikan pertolongan lebih lanjut (bantuan hidup lanjut) denyut jantung spontan timbul, tetapi korban belum pulih kesadarannya. Ventilasi spontan bias ada atau tidak. Selain kompresi dada luar, yang juga termasuk bantuan sirkulasi adalah penghentian perdarahan dan penentuan posisi untuk mengatasi syok, yaitu dengan meletakkan kepala lebih rendah dari kaki. Bantuan Hidup Lanjut ( Advanced Life Support ) Bantuan Hidup Lanjut (BHL) bertujuan memulai kembali sirkulasi spontan dan mempertahankan sistem jantung paru dengan cara memulihkan transpor oksigen arteri mendekati normal. BHL diberikan setelah dilakukan ABC RJPO dan belum timbul denyut jantung spontan. Yang termasuk dalam BHL adalah DEF RJPO, yaitu :

D.

Drugs and fluid intravenous infusion (Pemberian obat-obatan dan cairan melalui infus intravena tanpa menunggu hasil EKG) 1. Adrenalin 0,5-1,0 mg dosis untuk dewasa, 10 mg/kg pada anak-anak. Pemberian dapat dilakukan secara intravena (IV), intratrakeal melalui pipa endotrakeal ( 1ml adrenalin 1 diencerkan dengan 9 ml akuades steril) atau intrakardia. Pemberian secara intrakardia hanya dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan saat ini sudah tidak dianjurkan lagi. Setiap 5 menit diulang dengan dosis sama sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. 2. Bila setelah 3 kali pemberian adrenalin tidak ada sirkulasi spontan, pikirkan pemberian natrium bikarbonat intravena dengan dosis awal 1 mEq/kg BB (bila henti jantung lebih dari 2 menit) dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/kg sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. Hati-hati pada pemberian pada anak-anak dan bayi. E. Electrocardioscopy (Cardiography) Monitoring EKG dilakukan untuk melihat bentuk henti jantung apakah asistol ventrikular, fibrilasi ventrikular atau kompleks aneh yang lain seperti disosiasi elektromekanis. F. Fibrilation treatment (Terapi fibrilasi/defibrilasi)

Langkah ini merupakan cara mengatasi fibrilasi. Bila mulanya henti jantung disaksikan dengan EKG, lakukan precordial thumb. Bila tidak berhasil, lakukan defibrilasi eksternal

dengan syok listrik dan obat-obatan. Bila awalnya tidak disaksikan, langsung dengan defibrilasi eksternal. Elektroda dipasang di sebelah kiri puting susu kiri dan sebelah kanan sternum bagian atas. Defibrilasi luar diaktifkan dengan menggunakan arus searah 100-360 Wsec (joule) untuk dewasa, 100-200 Wsec untuk anak, dan 50-100 Wsec untuk bayi. Ulangi syok balik (countershock) bila perlu. Bila belum berhasil, dapat diberi lignokain (lidokain) 1-2 mg/kg BB IV untuk menurunkan ambang rangsang. Bila diperlukan dapat diteruskan dengan tetesan infus (14 mg/menit). Kemudian ulangi syok listrik. Bila belum berhasil juga,dapat diberi prokainamid 1-2 mg/kg BB IV dengan tetap mengulangi syok listrik. Bila gagal juga, dapat diberikan bretilium dapat ditinggikan hingga 10 mg/kg BB sampai dosis total 30 mg/kg BB. Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia saat ini. Bila dengan obat ini juga tidak berhasil, maka ditegakkan diagnosis kematian jantung. Bila EKG terdapat asistol ventrikular atau disosiasi elektromekanis, ulangi tahap D, yaitu dengan memberikan kalsium, dan vasopresor seperlunya. Dosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg BB IV, bila perlu diulang tiap 10 menit. Pemakaian kalsium saat ini merupakan hal yang kontroversial. Selain obat-obat tersebut di atas,yang juga berguna selama resusitasi jantung paru ialah isoproterenol, digoksin, noradrenalin, metaraminol, dopamin, dobutamin, atropin, efedrin, heparin dektrose, garam faal, diazepam.

Bantuan Hidup Jangka Panjang Bantuan hidup jangka panjang merupakan pengelolaan intensif pasca resusitasi termasuk resusitasi otak. Jenis pengelolaan yang diperlukan pasien tergantung sepenuhnya pada hasil resusitasi. Yang termasuk bantuan hidup jangka panjang adalah GHI RJPO yaitu : G. Gauging

Langkah ini dilakukan untuk menentukan dan memberi terapi penyebab henti jantung dan menilai tindakan selanjutnya, apakah penderita dapat diselamatkan atau tidak. Pasien yang tidak mempunyai defisit neurologis dan tekanan darah terpelihara normal tanpa aritmia hanya memerlukan pemantauan intensif dan observasi terus-menerus terhadap sirkulasi pernafasan, fungsi otak, ginjal dan hati. Pasien yang mengalami kegagalan satu

atau lebih organ memerlukan bantuan ventilasi atau sirkulasi, terapi aritmia, dialisis atau resusitasi otak. H. Human Mentation

Mentasi manusia diharapkan dapat dipulihkan dengan tindakan resusitasi otak yang baru. Tindakan-tindakan ini meliputi penggunaan agen vasoaktif untuk memelihara tekanan darah sisitemik yang normal, penggunaan steroid untuk mengurangi sembab otak, dan penggunaan diuretik untuk menurunkan tekanan intrakranial. Obat yang dianjurkan adalah tiopental dengan dosis 30 mg/kgBB dengan 1/3 dosis diberikan secara bolus intravena dan 2/3 dosisi dengan infuse/drip lambat. Oksigen tambahan hendaknya diberikan dan hiperventilasi derajat sedang juga membantu (PaCO2 25-30 mmHg) beberapa pengarang menganjurkan diberikan pada pasien yang mengalami koma barbiturat dan hipotermia sedang, tetapi keuntungannya masih kontroversial. I. Intensive Care

Langkah ini merupakan pengelolaan intensif berorientasi otak pada penderita dengan kegagalan organ multipel pascaresusitasi.

RESUSITASI PADA BAYI DAN ANAK Prinsip bantuan hidup dasar pada bayi dan anak sama dengan pada orang dewasa. Perbedaannya terjadi karena ketidaksamaan ukuran sehingga diperlukan modifikasi teknik. Ekstensi kepala yang berlebihan dapat menyebabkan sumbatan jalan napas pada bayi dan anak kecil. Kepala sebaiknya dijaga dalam posisi netral dengan tetap diusahakan membuka jalan napas. Pada bayi dan anak kecil, ventilasi mulut ke mulut dan hidung, lebih sesuai daripada ventilasi mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Pemberian ventilasi harus lebih kecil volumenya, namun frekuensi ventilasi harus ditingkatkan menjadi satu ventilasi tiap tiga detik untuk bayi dan satu ventilasi tiap empat detik untuk anank-anak.

Pukulan punggung dengan tangan di antara pangkal dapat dua dengan telungkup

diberikan pada bayi scapula korban

dan mengangkang pada lengan penolong. Hentakan dada diberikan dengan bayi telentang, kepala terletak di bawah melintang terhadap paha penolong. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat di berikan dengan korban telungkup melintang diatas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan. Hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai. Kompresi dada luar sebaiknya diberikan dengan dua jari pada satu jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada pertengahan bawah midsternum pada anak karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalam rongga toraks. Penekanan sternum 1,5 2,5 cm efektif untuk bayi, tetapi pada anak diperlukan penekanan 2,5 4 cm. Pada anak yang lebih besar, sebaiknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada luar. Selama henti jantung, pemberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali/menit pada bayi dan 80 kali/menit pada anak-anak. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi selalu 5 : 1. KEPUTUSAN UNTUK MENGAKHIRI UPAYA RESUSITASI Dalam keadaan darurat, resusitasi dapat diakhiri bila terdapat salah satu dari berikut ini: 1. Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif. 2. Ada orang lain yang mengambil alih tanggung jawab. 3. Penolong terlalu lelah sehingga tidak sanggup meneruskan resusitasi. 4. Pasien dinyatakan meninggal. 5. Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan, atau hampir dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu setelah sampai 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJPO.

Pasien dinyatakan meninggal bila : 1. Telah terbukti terjadi kematian batang otak. 2. Fungsi spontan pernapasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel. Petunjuk terjadinya kematian otak adalah pasien tidak sadar, tidak ada nafas spontan dan refleks muntah, serta terjadi dilatasi pupil yang menetap selama 15-30 menit atau lebih, kecuali pada pasien hipotermi, di bawah efek barbiturat, atau dalam anestesi umum. Sedangkan mati jantung ditandai oleh tidak adanya aktivitas listrik jantung (asistol) selama minimal 30 menit walaupun dilakukan upaya RJPO dan terapi obat yang optimal. Tanda kematian jantung adalah titik akhir yang lebih baik untuk membuat keputusan mengakhiri upaya resusitasi.

KOMPLIKASI Penyulit yang dapat terjadi akibat RJPO adalah edema paru (46,0%), fraktur iga (34,0%), dilatasi lambung (28,0%), fraktur sternum (22,2%), vomitus orofaring (9,5%), vomitus trakea (8,9%), darah masuk ke dalam perikardium (8,1%), salah penempatan pipa endotrakea (3,9%), ruptur hepar (1,9%), aspirasi (1,3%), ruptur lambung (0,1%), atau kontusio miokard (1,3%).

DAFTAR PUSTAKA

1. Sunatrio, S., Joenoerham, J. Resusitasi Jantung Paru. Jakarta: Bagian Anestesiolog dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1989. 2. Sunatrio. Resusitasi Jantung Paru. Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia. 1993. 3. Safar, P., Bircher, N. Cardiopulmonary Celebral Resucitation. London: WB Saunders Company. 1984. 4. Muhardi, Sudarsono, Tampubolon, O.E., Susilo. Resusitasi Jantung Paru. Jakarta: Bagian Anestesiolog dan Terapi Intensif FKUI. 1989. 5. Alexander RH, Proctor HJ. Advance Trauma Life Support Course for Physicians.Chicago: The American College of Surgeons 5th Edition. 1993. 6. www.clevelandclinic.org 7. www.imcworldwide.org 8. www.sdmesa.sdccd.cc.ca.us 9. www.fotosearch.com 10. aha.channing-bete.com 11. samu16.free.fr 12. catalog.nucleusinc.com 13. www.library.umc.edu

14. cgi.ebay.ca 15. www.greenberg-art.com 16. www.anest.ufl.edu 17. site.voila.fr 18. seifmedgraphics.com 19. www.nda.ox.ac.uk 20. www.dddxyz.com 21. lpig.doereport.com 22. www.merck.com 23. www.acilveilkyardim.com Diposkan oleh kiki_cipit di 16:29 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Tidak ada komentar: Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut Arsip Blog


o

2012 (13) Januari (13) HECK LIST 60 LANGKAH PERTOLONGAN KALA II PERSALINA... pertumbuhan janin terhambat retensio plasenta hadiah dr erwin saputra rany and justien bieber rani and 7 icon playboy plasenta previa kehamilan ektopik mcq blok 12 fk unsri malpresentasi soal uji coba UKDI 2008 resusitasi jantung paru soal mcq blok 12

me

kiki_cipit blok hasil belajar pertama dgn dj... Lihat profil lengkapku Ada kesalahan di dalam gadget ini Template Travel. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email