Anda di halaman 1dari 13

Tugas S2 Biomedik Neurologi

GANGGUAN PERKEMBANGAN

Pendahuluan Skrining perkembangan termasuk perkembangan motor sangat

dianjurkna untuk dilakukan seacra berkala. Perkembangan motor dibagi menjadi perkembangan motor kasar dan motor halus Anak yang dicurigai mengalami keterlambatan perkembangan motor berdasarkan skrining pediatrik ini harus menjalani pemeriksaan medis dan pemeriksaan khusus untuk memastikan ada tidaknya kelainan perkembangan motor dan defisit lain yang berhubungan. Tahapan Perkembangan Motor Kasar Perkembangan motor kasar dimulai sejak munculnya refleks primitif yang bersifat sebagai perlindungan bagi bayi. Tabel. Umur Pencapaian Tahapan Perkembangan Motor Kasar Umur rata-rata pencapaian (bulanan) 3,6 4,8 5,3 6,3 6,7 7,5 7,8 8,1 8,8 11,7 14,3 14,8

Tahapan Perkembangan Telentang dari posisi tengkurap Tengkurap dari posisi telentang Duduk ditopang Duduk tanpa ditopang Merayap Duduk sendiri Merangkak Menarik tubuh ke posisi berdiri Merambat Berjalan Berjalan mundur Berlari

Refleksi Primitif Refleks primitif mempunyai pusat di medula spinalis dan batang otak. Gerak yang terjadi bersifat cepat, difus, tidak produktif dan umum.

o Refleks Moro Bila bayi diangkat dalam posisi telentang, kemudian kepala dijatuhkan tiba-tiba, ia akan mengembangkan lengan dan tungkai, kemudian terjadi gerakan seperti memeluk. Menetap sampai 4-6 minggu dan harus menghilang sebelum akhir bulan ke 6. o Refleks Leher Tonik Asimetrik Bila dalam posisi telentang kepala bayi menoleh ke satu sisi baik secara pasif atau aktif, maka lengan dan tungkai sisi tersebut akan melakukan ekstensi dan lengan dan tungkai sisi berlawanan akan melakukan fleksi. o Refleks Neck Righting Bila bayi pada posisi telentang diputar kepalanya ke satu sisi, ia akan memutar bahu, tubuh dan bokongnya ke arah yang sama. Refleks menetap sampai 9-10 bulan. o Respon Tarikan Bayi dalam posisi telentang ditarik kedua tangannya ke posisi duduk. akan terjadi fleksi lengan dan ia berusaha menarik tubuh ke posisi duduk. o Refleks Labiran Tonik Refleks labirin tonik yang menyebabkan dominasi tonus fleksor pada posisi tengkurap dan dominasi tonus ekstensor pada posisi telentang. o Reaksi Penopang Positif Bila bayi ditopang pada ketiak (suspensi vertikal) dan telapak kaki disentuhkan pada alas, terlihat seolah-olah ia dapat berdiri dan menahan bobot tubuhnya, sekali-kali tungkai bawah dapat melakukan gerak fleksi dan ekstensi seperti bermain. 2

o Refleks Melangkah Pada suspensi vertikal, bila satu telapak kaki menekan ke alas terlihat gerak melangkah dan dengan menggerakan bayi ke depan terlihat seolah ia dapat berjalan. Refleks ini menghilang umur 3-4 bulan. Terdapatnya fleksi plantar, asimetri, dan refleks yang menetap sesudah usia 4 bulan menunjukkan disfungsi neuromotor. o Refleks Penempatan Sentuhan dorsum pedis pada tepi meja menyebabkan fleksi pada panggunl dan lutut serta gerakan meletakkan telapak kaki pada meja. Refleks menetap sampai umur 10-12 bulan. Refleks tidak bangkit pada lesi medula spinalis dan abnormal bila asimetris o Refleks Gallant Goresan pada kulit sejajar vertebra pada posisi tengkurap akan menyebkan panggul fleksi (meliuk) ke arah sisi yang digores. Refleks ini menetap 2-3 bulan dan negatif pada lesi medual spinalis dan depresi susunan saraf pusat. o Refleks Genggam Plantar Tekanan pada bagian depan plantar menyebabkan fleksi plantar jari-jari kaki seolah-olah menggenggam. Refleks menetap selama 8-12 bulan. Refleks ini tidak ada pada lesi saraf tepi dan medula spinalis. o Refleks Withdrawal Rangsangan pada telapak kaki sewaktu telentang dengan tungkai ekstensi menyebabkan fleksi panggul, lutut dan kaki serta ekstensi jari-jari kaki. Refleks ini harus menghilang pada akhir bulan ke-2.

o Reflek Babinksi Akan menghilang pada umur 12-18 bulan. Reaksi yang berlebihan menunjukkan lesi traktus piramdialis dan refleks yang negatif terdapat pada lesi medula spinalis bagian bawah. Refleks menetap pada spastisitas dan asimetris pada hemiplegia.

o Refleks Crossed Extensor Pada posisi bayi telentang, tungkai diekstensikan, kemudian telapak satu kaki digores, akan terlihat respons berupa fleksi kemudian ekstensi dan aduksi tungkai kontralateral. Refleks menghilang sesudah umur 1-2 bulan.

o Refleks Postural Refleks refleks ini terdiri dari reaksi righting, protektif dan ekuilibrium

o Reaksi Righting Reaksi ini memungkinkan bayi teletang dari posisi tengkurap dan sebaliknya merangkak, duduk, menegakkan kepala serta

mempertahankan postur kepala, batang tubuh dan ekstremitas yang sesuai sewaktu aktivitas motor. o Refleks Proteksif Refleks ini menunjukkan usaha bayi untuk mencegah jatuh, meliputi r eaksi parasatu dan reaksi ekstensi (propping) proteksif .

Variasi Perkembangan Motor Kasar Kita dapat mengatakan tingkat perkembangan rata-rata untuk anak-anak umur tertentu tetapi tidak dapat mengatakan mana yang normal untuk seorang anak.

TABEL TAHAPAN PERKEMBANGAN MOTOR HALUS Visiual Fiksasi pandangan Mengikuti benda melalui garis tengah Mengetahui adanya benda kecil Umur Lahir 2 bulan 5 bulan

Motor halus Telapak tangan terbuka Menyatukan kedua tangan Memindahkan tangan Meraik unilateral Princer grasp imatur Princer grasp matur dengan jari Melepaskan benda secara volunter Umur 7 8 bulan 9 bulan 10 bulan 11 bulan benda antara kedua 3 bulan 4 bulan 5 bulan 6 bulan 9 bulan 11 bulan 12 bulan

Pemecahan masalah Memeriksa benda Melemparkan benda Membuka penutup mainan Meletakkan kubus dibawah gelas

Menggambar Mencoret Menggambar meniru Menggambar spontan 12 Bulan 16 Bulan 18 Bulan

Melaksanakan tugas Makan Makan biskuit yang dipegang 5 9 bulan Memasukkan biji ke dalam botol Melepaskan biji dengan meniru Melepaskan biji spontan 12 bulan 14 bulan 16 bulan

Menium dari gelas sendiri Menggunakan sendok

12 bulan 12 bulan

Berpakaian Membuka baju sendiri Memakai baju Membuka kancing Memasang kancing Mengikatkan tali sepatuh 24 bulan 35 bulan 36 bulan 48 bulan 60 bulan

Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Keterlambatan Perkembangan Motor

Faktor Familial Keterlambatan dapat merupakan faktor keturunan. Hal ini mungkin disebabkan belum matangnya kontrol korteks otak, prefrontal dengan jarasjarasnya, ganglia basal dan serebelum akibat proses mielinisasi yang lambat. Anak-anak ini dikemudian hari akan menjadi anak yang normal dan sehat. Faktor Lingkungan Keterlambatan anak-anak yang berada di tempat penitipan mungkin akibat kurangnya stimulasi dan latihan. Demikian juga bayi-bayi yang dibedong kakinya untuk mencegah rikets, knock-knee atau bow legs akan terlambat berjalan karena kelemahan tungkainya. Kepribadian Anak yang kurang percaya diri, terlalu hati-hati atau kehilangan kepercayaan dirinya akibat jatuh, mungkin akan terlambat berjalan. Bila keberaniannya muncul maka ia akan dapat berjalan dengan baik karena dasar

neuorologis untuk berjalan sebenarnya sudah dimilikinya dan keterlambatannya ini tidak mumpunyai dasar kelainan organik. Gizi Anak yang kegemukan akan telambat berjalan bila orang tuaya khawatir berat badannya akan memberikan beban pada tungkainya yang mungkin menyebabkan deformitas postural. Mental Subnormal Pasien sindrow Down, akan lebih lambat berjalan dibandingkan anakanak lain dengan kecerdasan setaraf akibat hipotonia. Keterlambatan umum sitiarsitektonik (dendrit, sinaps, mielinisasi), rasa keingintahuan, stimulasi yang kurang dan faktor emosi mungkin berperanan juga.

Serebral Palasi Beratnya kelainan perkembangan motor pasien palsi serebral tergantung pada jenis, berat dan distribusi anatomi palsi serebral serta pada kecerdasan pasien. Walaupun belum terlihat tanda kelainan neurologis, keterlambatan perkembangan motor yang mencolok paling sering disebabkan palsi serebral. Pada stadium lanjut baru akan terlihat kelainan postur dan gerak Kelainan Tonus Otot Hipertonia dan hipotenia akan menyebabkan perkembangan terlambat. Di samping serebral palsi, hipotonia juga dapat disebabkan lesi medula spinalis atau penyakit lower motor neuron, penyakit otot instrinsik dan gangguan fisik umum seperti pada rikets atau setiap penyakit berat lain. Penyakit Neuromuskular Pasien penyakit neuromuskular seperti penyakit Wearding-Hoffman atau Duchenne muscular dystrophy akan terlambat perkembangannya.

Ngesot Anak-anak yang bergerak dengan ngesot lebih lambat berdiri dan berjalan dari pada anak yang merangkak. Buta Bayi-bayi yang buta mungkin akan terlambat berjaln bila kurang diberikan kesempatan belajar berjalan karena takut akan melukai dirinya sendiri. Tidak diketahui penyebabnya Ada anak-anak yang sampai berusia 2 tahun atau lebih belum dapat berjalan tanpa sebab yang jelas. Bila tidak disebabkan kerusakan susunan saraf pusat atau disertai gangguan perkembangan mental, keadaan ini bukan masalah yang serius.

Serebral Palsi
Definisi Palsi serebral adalah suatu kaeadaan kerusakan jaringan otak yang menetap dan tidak progresif, meskipun gambaran klinisnya dapat berubah selama hidup, terjadi pada usia dini dan merintangi perkembangan otak normal dengan menunjukkan kelainan posisi dan pergerakan disertai kelainan neurologis berupa gangguan korteks serebri, ganglia basalis dan serebelum. Pada saat diagnosis ditegakkan penyakuit susunan saraf pusat yang aktif sudah tidak ada lagi. Etiologi Penyebabnya dapat dibagi dalam 3 bagian, yaitu pranatal, perinatal dan pascanatal 1. Pranatal 2. Perinatal a. Anoksia/ Hipoksia b. Perdarahan Otak c. Prematuritas 8

d. Ikterus e. Meningitis purulenta 3. Pascanatal Gambaran Klinis 1. Spastisitas 2. Tonus otot yang berubah. 3. Koreo-atetosis 4. Ataksia 5. Gangguan pendengaran 6. Ganggauan bicara 7. Gangguan mata Pengobatan Fisiologi Pembedahan Pendidikan Obat-obatan Prognosis

Retardasi Mental

Reardasi Mental (RM) adalah gangguan intelegensi yang disebabkan gangguan sejak dalam kandungan sampai masa perkembangan dini (+ 5 tahun). Dalam tipenya yang berat, RM terlihat sebagai seoraeng anak yang tidak dapat berkomunikasi, tidak dapat mengurus diri sendiri, dan disertai kelainan saraf lainnya seperti kelumpuhan, buta dan lain-lain. Kasus berat seperti ini jarang ditemukan, yang banyak ditemukan adalah RM yang ringan, terlihat waktu belajar disekolah dan kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Penyebab Retardasi Mental Penyebab RM sangat banyak. Saat ini lebih dari 100 keadaan telah diidentifikasi sebagai penyebab RM terutama RM yang berat. Sebanyak 65-75% dari kasus borderline atau RM ringan tidak dapat diidentifikasi penyebabnya, dan biasanya merupakan campuran faktor bawaan, pengaruh lingkungan atau sosiokultural yang sebagian besar disebabkan faktor sosial ekonomi.

Gangguan Bicara Oral motor control telah lama dihubungkan dengan kemampuan bahasa. Suatu penelitian oral motor control dalam tiga grup: dewasa dengan afasia didapat, individual dengan perkembangan disfasia, secara khas perkembangan bahasa pada anak-anak. Orang-orang dengan kesulitan bicara-bahasa,

pengontrolan motorik oralnya lemah. Gerakan yang lebih kompleks dan koordinasi dari gerakan tersebut sama sulitnya bagi orang-orang dengan keterlambatan bahasa. Secara khusus dalam perkembangan anak-anak (21-24 bulan), kemampuan pengontrolan motorik oral ditemukan berhubungan dengan ketrampilan bahasa. Dalam studi tersebut, terdapat hubungan yang lebih erat antara bahasa dan gerakan kompleks oral daripada gerakan oral yang sederhana. Anak-anak yang gerakan oral motornya buruk maka bahasanya tidak baik, meskipun anak-anak yang gerakan motorik oralnya baik dapat juga memiliki kemampuan bahasa yang tidak baik. Ketrampilan motorik oral mungkin merupakan pertanda yang dibutuhkan untuk ketrampilan berbahasa. Fakta-fakta yang menghubungkan antara motor kontrol dan bahasa Dalam mencermati hubungan antara perkembangan motor kontrol dan bahasa serta gangguannya, terdapat perbedaan dalam jumlah yang besar, yang diketahui tentang motor kontrol anggota gerak tubuh (limb motor control) dan sedikit yang diketahui tentang motor kontrol oral. Sebagai contoh, telah lama diketahui bahwa fase pertama dari perkembangan bahasa terjadi sejajar dengan 10

fase pertama perkembangan gestural, anak-anak yang fase gesturalnya lebih awal dari rata-rata biasanya juga mengucapkan kata-kata pertamanya lebih awal. Data terakhir memperlihatkan bahwa anak-anak yang terlambat memulai baik komunikasi gestural dan percakapan bahasa secara spontan, kelak lebih mungkin untuk mengalami keterlambatan dibanding anak-anak yang memulai komunikasi gestural pada umur yang sesuai tetapi juga mengalami keterlambatan bicara. Hill dkk menyebutkan adanya hubungan yang kuat antara kesulitan motor kontrol anggota gerak tubuh dan kelemahan bahasa. Bishop, faktor genetik ikut berperan dalam keterkaitan antara motor kontrol anggota gerak tubuh dan gangguan bahasa.57 Ketidakseimbangan dalam penelitian ini masih ada, meskipun kenyataannya mayoritas pengguna bahasa yang bicara. Saat ini terjadi perubahan dalam perkembangan ketrampilan oral motor. Banyak penelitian mengenai hubungan antara oral motor kontrol nonverbal dan perkembangan bahasa diinspirasi oleh berbagai studi yang memperlihatkan bahwa disfungsi bahasa dan disfungsi oral motor sering terjadi bersamaan. Suatu penelitian memperlihatkan adanya kesamaan pola pada kelemahan perkembangan dengan dyspraksia verbal yang didapat. Keterkaitan tersebut cukup sering untuk menegaskan adanya hubungan di antara beberapa faktor, disosiasi saat dewasa didapat disfungsi yang tidak bermanfaat untuk menjelaskan modularitas dalam perkembangan. Gangguan ketrampilan motorik oral ternyata didapatkan pada beberapa gangguan perkembangan pada anak, dimana juga terjadi gangguan bicara. Gangguan seperti itu biasanya terjadi dalam gangguan autism. Gangguan motorik oral pada anak-anak autistik lebih sering ditemukan daripada adanya gangguan motorik pada anggota gerak tubuh. Gangguan oral motor kontrol sering juga ditemukan pada Sindrom Down. Kelainan tersebut tampak tidak hanya dari gangguan motorik oral tetapi meliputi derajat dispraksia.64-66 Pada anak-anak dengan gangguan bahasa spesifik, sangat sedikit 11

penelitian mengenai faktor oral motor kontrol, tetapi telah ditemukan adanya hubungan. Stark menemukan adanya korelasi antara ketrampilan motorik oral dengan pengulangan bukan kata dan identifikasi fonem pada SLI (Specific Language Impairment). Alcock meneliti keterkaitan perkembangan oral motor kontrol dan gangguan bicara dan bahasa yang didapat. Gangguan bicara dan bahasa spesifik yang terjadi pada anak-anak antara 2-7%. Subyek kelompok ini tidak mempunyai ketidakmampuan belajar secara global, kelemahan sensori, atau kelemahan sosial seperti gangguan spektrum autistik, yang bisa menjelaskan keterlambatan bahasanya. Ditegaskan bahwa orang-orang dengan SLI akan mempunyai IQ nonverbal dalam batas-batas normal. Ditemukan banyak fakta klinis, bahwa SLI bisa karena factor genetik dan KE Family mengikuti pola ini. Kelompok keluarga ini mempunyai sekitar 30 anggota keluarga dalam tiga generasi yang 50% mempunyai kelemahan bicara dan bahasa, dan pola ini diwariskan secara dominan. Sedangkan Vargha-Khadem dkk menemukan bahwa anggota keluarga yang mempunyai kesulitan dengan regular dan irregular past tense, gangguan struktur gramatikal lainnya, sama halnya dengan kebanyakan tes-tes bicara dan bahasa lainnya, pada anggota keluarga yang terpengaruh mempunyai skore IQ lebih rendah dibandingkan anggota keluarga yang tidak terpengaruh. Penemuan ini telah menunjukkan bahwa ketrampilan nonverbal juga terpengaruh. Sedangkan untuk ketrampilan motorik oral, ketrampilan nada dan tempo dalam bermusik, seringkali ditemukan pada individu-individu dengan gangguan motorik oral dan gangguan bicara dan bahasa pada sebuah kelompok dari penderita dengan lesi pada hemisper kiri. Diduga ada kemungkinan terdapat defisit neural bilateral pada anggota keluarga yang terkena. Hal ini adalah fakta klinis yang penting, sama pentingnya dengan hemisper kanan yang meliputi oral praksis.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Passat J. Kelainan perkembangan. In: Soetomenggolo TS, Ismael S. . Neurologi anak. 1th ed. PB IDAI, 1999: 104-36 Czauderna P, Mackinlay G, Perilongo G, et al, 2002. Hepatocellular carcinoma in children : results of the first prospective study of the International Society of Pediatric Oncology group. J Clin Oncol 20 (12) : 2798-804. Douglass EC, Reynolds M, Finegold M, et al. 1993. Cisplatin, vincristine, and fluorouracil therapy for hepatoblastoma : a Pediatric Oncology Group study. J Clin Oncol 11 (1) : 96-9. Jacobson DR, 2004. Hepatocellular Carcinoma. Last Updated: June 23, 2004. Availabel at : http://www.emedicine.com/radio/topic332.htm Katzenstein HM, Krailo MD, Malogolowkin MH, et al, 2002. Hepatocellular carcinoma in children and adolescents : results from the Pediatric Oncology Group and the Children's Cancer Group intergroup study. J Clin Oncol 20 (12) : 2789-97 Malogolowkin MH, Stanley P, Steele DA, et al, 2000. Feasibility and toxicity of chemoembolization for children with liver tumors. J Clin Oncol 18 (6) : 1279-84. McManus MJ, 2000. Neoplasm of the liver. Dalam: Behrman RE, Kleigman RM. Nelson Textbook of Pediatrics. 16th ed. Philadelphia : WB Saunders Co, 1564. Sherlock S, 1993. Hepatic tumours. Dalam: Sherlock S, Dooley J. Diseases of the liver and biliary system 9th ed. London : Blackwell Scientific Publication, 503

3.

4. 5.

6.

7.

8.

13