Anda di halaman 1dari 15

1 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

STATUS PASIEN KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA - RS HUSADA

Tajuk Kes : Varisela

Pembimbing : dr. Maria Dwikarya, SpKK

Disusun oleh : Mohd Hazim bin Ahmad Fuad 11-2011-043

STATUS PASIEN KEPANITERAAN


1

2 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA - RS HUSADA Nama NIM Dr. Pembimbing : Mohd Hazim bin Ahmad Fuad : 11-2011-043 : dr. Maria Dwikarya, Sp. KK

A. IDENTITAS PASIEN

Nama Jenis kelamin Usia Alamat Pekerjaan Status Pernikahan


B. ANAMNESIS

: Sdr E : Laki-laki : 15 tahun : Gunung Sari : Masih bersekolah : Belum menikah

Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 27 Maret 2012, Jam 11.00 WIB Keluhan utama : Bintil - bintil kecil di seluruh tubuh sejak 7 hari yang lalu. Keluhan tambahan : Kadang terasa gatal di seluruh badan. Riwayat perjalanan penyakit : Pasien dibawa ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RS Husada oleh ibunya dengan keluhan timbul bintil bintil kecil di seluruh tubuh sejak 7 hari yang lalu. Awalnya pasien mengeluh tidak enak badan disertai sakit kepala, batuk, dan pilek sejak 9 hari SMRS. Keesokan harinya, pasien mengaku demam dan timbul bintil - bintil di bagian perut. Bintil bintil ini kemudian menyebar ke punggung, muka dan tangan. Bintil yang tadinya berisi cairan jernih, ada yang berubah menjadi keruh, pecah dan meninggalkan bekas. Pasien juga merasakan gatal di daerah benjolan tersebut. Oleh karena itu, pasien menggaruk sehingga ada bentol bentol yang pecah dan menjadi kehitaman. Pasien tidak pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya.. Pasien pernah berobat sebelumnya dengan bedak kocok dan menurutnya keluhan gatalnya berkurang. Riwayat penyakit dahulu :
2

3 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

Riwayat darah tinggi Riwayat kencing manis Riwayat asma Riwayat maag Riwayat alergi makanan dan obat

: (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

C. STATUS GENERALIS

Keadaan umum Kesadaran Status Gizi Suhu Tekanan darah Frekuensi nadi Berat badan Tinggi badan Mata Gigi THT KGB

: Baik : Compos mentis : Baik : 37,5C : 120/80 mmHg : 80x/menit : 50 Kg : 160 cm : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/: Dalam batas normal, karies dentis (-) : Dalam batas normal,Septum deviasi -/-, Tenggorokan hiperemis (-) : Tidak membesar

D. STATUS DERMATOLOGI

Distribusi

: Generalisata
3

4 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

Lokasi Eflorosensi

: Di daerah badan, muka dan ekstrimitas bagian atas. : Gambaran polimorfik :


makula eritematosa papul-papul berukuran milier vesikel, gambaran seperti tetesan air pustul ukuran milier dan lentikuler vesikel yang pecah dan menjadi krusta berwarna kehitaman.

Gambaran pada bagian perut pasien Gambaran pada tangan pasien E. PEMERIKSAAN PENUNJANG - Dianjurkan dilakukan Pemeriksaan Tzanck :

Hasil yang diharapkan : ditemukan sel datia berinti banyak.

F.

RESUME Seorang laki-laki, 15 tahun datang dengan keluhan bintil-bintil kecil di seluruh tubuh sejak 7 hari yang lalu. Pasien mengeluh demam,sakit kepala,batuk dan pilek sebelum timbul benjolan tersebut. Bintil pertama di bagian perut dan menyebar ke
4

5 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

punggung ,muka dan tangan. Bintil-bintil dengan cepat berubah dari cairan jernih menjadi keruh dan pecah, lalu kehitaman. Pasien juga mengeluh gatal di daerah adanya bintil - bintil tersebut. Pasien pernah berobat dengan bedak kocok dan gatalnya berkurang. Dari pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal dengan gizi baik. Dari pemeriksaan status dermatologi didapatkan: Distribusi Lokasi Eflorosensi : Generalisata : Di daerah badan, muka dan ekstrimitas bagian atas. : Gambaran polimorfik :

makula eritematosa papul-papul berukuran milier vesikel, gambaran seperti tetesan air pustul ukuran milier dan lentikuler vesikel yang pecah dan menjadi krusta berwarna kehitaman.

.
G. DIAGNOSIS

1. Diagnosis kerja 2. Diagnosis banding

: - Varisela : - Herpes Zoster - Variola

H. PENATALAKSANAAN 1. Non medikamentosa

1. Isolasi untuk mencegah penularan 2. Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat
5

6 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA 3. Upayakan agar tidak terjadi infeksi sekunder pada kulit, misalnya mandi dengan

air yang bersih ( bukan air ledeng) atau pemberian antiseptic. 4. Upayakan agar vesikel tidak pecah
-

Jangan menggaruk lesi yang gatal dan pastikan kuku sentiasa dipotong pendek, bersih dan rapi. Bila hendak mengeringkan badan, cukup tepal-tepalkan handuk pada kulit.

2. Medikamentosa
a. Sistemik : -

Obat antiviral seperti Acyclovir 4 X 800 mg/hari selama 7 hari. Pemberian

obat dapat dihentikan setelah 2 hari lesi baru tidak timbul lagi.
-

Obat Antihistamin untuk mengurangi rasa gatal iaitu Difenhidramin tablet

1x50 mg/ hari diberi selama 10 hari.


-

Obat antipiretik untuk menurunkan panas seperti Paracetamol tablet 3x500mg/

hari diberikan selama 5 hari.


-

Obat antibiotic untuk demam seperti ciprofloxacin tablet 3x500mg/ hari

diberikan selama 5 hari.


b. Topikal -

Bedak yang dutambah dengan zat anti gatal (menthol, kamfora) untuk mencegah pecahnya vesikel serta menghilangkan rasa gatal.

R/

Acyclovir tab 800mg No XXX S 4 dd tab I ------------------//-------------------6

7 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

R/

Difenhidramin tab 50 mg No X S 1 dd tab I -----------------//---------------------

R/

Paracetamol tab 500 mg No XV S 3 dd tab I ----------------//----------------------

R/

ciprofloxacin tab 500 mg No XV S 3 dd tab I

R/

Menthol 0,1 % Spiritus dilitus 20% Boric Acid 1% ZnO 5% Talc Venetum 10% Glycerine 5% Aquadest Mf lotio S ue 2 dd ---------------------------//------------------------ad 100

I.

PROGNOSIS Ad vitam Ad funtionam Ad sanationam : ad bonam : ad bonam : ad bonam


7

8 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

TINJAUAN PUSTAKA : VARISELA


Definisi Varisela adalah infeksi akut primer oleh virus varisela-zoster (VZV) yang menyerang kulit dan mukosa, secara klinis terdapat gejala kelainan kulit polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Disebut juga cacar air atau chickenpox. Etiologi VZV merupakan virus DNA berkapsul dari family Herpesviridae. Pada manusia, infeksi primer terjadi apabila virus berkontak dengan mukosa saluran pernafasan atau konjungtiva. Dari situs ini, virus akan terdistribusi ke seluruh tubuh melalui sel mononuclear di dalam pembuluh darah. Dalam jaringan, VZV menyebar dari satu sel ke sel lain melalui kontak langsung. Setelah infeksi primer, virus bermigrasi sepanjang serabut saraf sensoris ke sel satelit ganglia dorsal di mana ia menjadi dormant. Dormant bisa permanen atau virus mengalami reaktivasi pada keadaan menurunnya imunitas selular menyebabkan Herpes Zoster. Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita atau benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit. Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang terakhir telah mengering. Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi.

Epidemiologi

9 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

Tersebar kosmopolit, menyerang terutama anak-anak tetapi dapat juga menyerang orang dewasa. Tranmisi penyakit ini secara aerogen. Masa penularan lebih kurang 7 hari dihitung dari timbulnya gejala kulit.

Patofisiologi VZV merupakan infeksi yang sangat menular dan menyebar biasanya dari oral udara dan sekresi respirasi atau transfer langsung dari lesi kulit. Virus VZV masuk tubuh melalui mukosa saluran nafas atas atau orofaring. Pada lokasi masuk, terjadi replikasi virus dan menyebar melalui pembuluh darah dan limfe (viremia pertama). Virus berkembang biak di sel retikuloendotelial. Satu minggu kemudian, virus mulai menyebar melalui pembuluh darah sehingga timbul gejala prodromal. Lesi kulit tidak muncul bersamaan, sesuai dengan siklus viremia. Pada keadaan normal, siklus berakhir selepas 3 hari akibat adanya imunitas humoral dan selular spesifik Pembentukan lesi pada kulit akibat infeksi dari kapiler endotelial pada lapisan papil dermis menyebar ke sel epitel pada dermis, folikel kulit, glandula sebasea dan terjadi pembengkakan. Lesi pertama ditandai dengan adanya makula yang berkembang cepat menjadi papula,vesikel dan akhirnya menjadi krusta. Jarang lesi yang menetap dalam bentuk makula dan papula sahaja. Vesikel ini akan berada pada lapisan sel bawah kulit. Manifestasi Klinis Masa inkubasi berlangsung selama 14 hingga 21 hari. Pada permulaannya, penderita akan merasa sedikit demam, pilek, malaise, lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Pada anak yang lebih dewasa, kelainan kulit didahului oleh demam 2-3 hari sebelumnya, mengiggil, malaise, nyeri kepala, nyeri punggung dan nyeri tenggorokan. Satu atau dua hari kemudian, muncul erupsi kulit yang khas. Kelainan kulit lebih jelas pada bagian badan yang tertutup dan jarang ditemukan pada telapak kaki dan tangan. Munculnya erupsi pada kulit diawali dengan bintik-bintik berwarna kemerahan (makula),yang kemudian berubah menjadi papula (penonjolan kecil pada kulit).Papula kemudian berubah lagi menjadi
9

10 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

vesikel (gelembung kecil berisi cairan jernih) dengan bentuk khas berupa tetesan embun (tear drops). Cairan dalam gelembung tersebut menjadi keruh (pustula) akibat sebukan sel radang. Lesi mengering dimulai dari bagian tengah hingga akhirnya terbentuk krusta. Bila tidak terjadi infeksi, biasanya pustel akan mengering tanpa meninggalkan bekas. Krusta akan lepas dalam waktu 1-3 minggu bergantung dalamnya kelainan kulit. Perubahan ini hanya terjadi dalam waktu 8-12 jam. Gambaran vesikel khas, berdinding tipis dan berbentuk tetesan embun. Sementara proses ini berlangsung, timbul vesikel baru sehingga timbul gambaran polimorfi yaitu terdapat semua tingkat lesi kulit dalam waktu bersamaan pada satu area. Kelainan kulit pada mulanya timbul di badan, menyebar secara sentrifugal ke wajah dan ekstrimitas serta dapat menyerang selaput lendir mata, mulut dan saluran pernafasan atas. Pada infeksi sekunder, kelenjar getah bening regional membesar. Penyakit ini biasanya disertai rasa gatal sehingga dapat ditemukan bekas garukan. Lesi kulit terbatas pada lapisan epidermis, tidak menembus membran basal kulit, sehingga tidak menimbulkan bekas. Vesikel dapat juga timbul pada mukosa mulut, mukosa hidung, faring, laring, trakea,saluran cerna dan konjungtiva. Diagnosis Diagnosis dapat ditegaklan secara klinis dengan gambaran dan perkembangan lesi kulit yang khas, terutama diketahui ada kontak 2-3 minggu sebelumnya. Gambaran khas termasuk : Muncul setelah masa prodromal yang singkat dan ringan Lesi berkelompok terutama di bagian sentral Perubahan lesi yang cepat dari makula, vesikel, pustul dan krusta Terdapat semua tingkatan lesi kulit dalam waktu bersamaan pada daerah yang sama

Umumnya pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan lagi. Pada 3 hari pertama akan terjadi leukopenia yang diikuti dengan leukositosis. Dapat dilakukan percobaan Tzanck dengan cara membuat sediaan hapus yang diwarnai dengan Giemsa. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel dan akan ditemuakn sel datia berinti banyak. Diagnosis Banding 1. Herpes Zoster
10

11 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

Herpes zoster adalah infeksi kambuhan dari varisela. Penyakit ini biasanya pada dewasa yang telah melampaui usia 50 tahun, tetapi dapat juga dijumpai pada dewasa muda dan anak-anak. Lesi ditandai dengan gambaran vesikel berkelompok yang sangat sakit pada kulit dan mukosa yang menyebar unilateral. Tanda prodromal sering adalah gatal, kesemutan, rasa terbakar dan nyeri. Lesi pada mukosa dimulai dengan makula eritematous, erupsi vesikel pustul dan ulkus yang mengambil masa dalam 7-10 hari. 2. Variola Variola adalah infeksi virus poks yang disertai keadaan umum yang buruk. Penyakit ini memberi gambaran monomorf dan penyebarannya dimulai dari bagian akral tubuh yaitu telapak tangan dan telapak kaki.

Komplikasi Varisela dapat menimbulkan berbagai komplikasi, tetapi umumnya pada kulit, pada susunan syaraf pusat, atau sistem pemafasan yang dijumpai. Komplikasi yang paling sering dijumpai pada kulit adalah sebagai akibat infeksi sekunder oleh bakteri staphylococcus ataupun streptococcus. Bisa juga dijumpai hemorhagic varicella. Pada susunan syaraf pusat, komplikasi bisa berupa encephalitis, Reyessyndrome asepticmeningitis dan Guillain-Barre Syndrome. Komplikasi pada saluran pemafasan termasuk infeksi virus dan bakteri pencumoni, infeksi saluran nafas atas terutama otitis media.

Penatalaksanaan Varisela merupakan penyakit self-limiting di mana ia bisa sembuh sendiri karena umumnya bersifat ringan. Kebanyakan penderita tidak memerlukan terapi khusus selain istirahat dan pemberian asupan cairan yang cukup. Yang justru sering menjadi masalah adalah rasa gatal yang menyertai erupsi. Bila tidak ditahan-tahan, jari kita tentu ingin segera menggaruknya. Masalahnya, bila sampai tergaruk hebat, dapat timbul jaringan parut pada bekas gelembung yang pecah. Umum
11

12 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

Isolasi untuk mencegah penularan Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian antiseptik pada air mandi Upayakan agar vesikel tidak pecah Jangan menggaruk vesikel Kuku jangan dibiarkan panjang Bila hendak mengeringkan badan, cukup tepal-tepalkan handuk pada kulit. Jangan digosok

Farmakoterapi

Antivirus: Obat antivirus yang bisa digunakan adalah Asiklovir 800mg 4 kali sehari selama 5-7 hari. Asiklovir bekerja dengan cara menghentikan penyebaran virus di dalam tubuh dan diberikan sedini mungkin setelah gejala-gejala mulai muncul.

Antipiretik: Untuk menurunkan demam. Dapat diberikan paracetamol 500mg 3 kali sehari. Antihistamin: Untuk mengurangi gatal Salep antibiotika: Untuk mengobati ruam yang terinfeksi Antibiotika: bila terjadi komplikasi pnemonia atau infeksi bakteri pada kulit. Dapat juga diberikan untuk mengontrol dan mencegah infeksi sekunder. Dapat diberikan bedak atau losio pengurang gatal (misalnya losio kalamin)

Pencegahan Hindari kontak dengan penderita. Tingkatkan daya tahan tubuh. Imunoglobulin sesudah terpapar. Vaksinasi : diberikan pada yang berumur 12 bulan atau lebih. Kemudian diulang lagi 4-6 tahun, pemberian secara subkutan, 0,5 ml pada yang berusia 12 bulan sehingga 12
12

varicella

zoster

(VZIG)

dapat

mencegah

(atau

setidaknya

meringankan) terjadinya cacar air, bila diberikan dalam waktu maksimal 96 jam

13 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

tahun. Pada yang berusia 12 tahun ke atas juga diberikan 0,5 ml, setelah 4-8 minggu diulang dengan dosis yang sama. Prognosis Penyakit varisela dapat sembuh dengan sendirinya(self-limiting). Anak-anak biasanya dapat sembuh dari cacar air tanpa masalah tetapi boleh terjadinya serangan berulang saat individu mengalami penurunan daya tahan tubuh. Pada orang dewasa yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh, infeksi ini bisa berat dan berakibat fatal. Analisa kasus Pada pasien ini ditegakkan diagnosis Varicella karena : a. Identitas Pasien seorang laki-laki berumur 15 tahun Varisela dapat menyerang pasien anak-anak ataupun dewasa muda b. Anamnesis Benjolan berisi cairan timbul 1 minggu SMRS Gatal, lalu digaruk menyebabkan benjolan pecah dan menjadi kehitaman. Benjolan mula timbul di bagian badan pasien sebelum menyebar ke punggung, muka dan tangan. Penyakit Varicella merupakan penyakit yang menyebar secara sentrifugal,iaitu bermula di bagian tubuh pasien sebelum menyebar ke punggung, muka dan ekstrimitas. Dibedakan dengan Variola yang menyerang bagian akral terlebih dahulu. Gambarannya adalah seperti vesikel berbentuk titisan embun(teardrops) dan bila pecah akan menyebabkan krusta(cairan kulit yang mongering)

2 hari sebelum benjolan timbul pasien demam-demam,batuk,pilek dan sakit kepala.

13

14 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

Sebelum varicella timbul,pasien akan mengalami gejala-gejala prodromal flu-like. Dapat dibedakan dengan Herpes Zoster yang mempunyai gejala prodromal seperti neuralgia.

DAFTAR PUSTAKA 1. Adhi Djuanda, Mochtar Hamzah, Siti Aisah. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin . Edisi ke-5. Jakarta : Penerbit Kedokteran Universitas Indonesia ;2007.h.110-118 2. Dwi Murtiastutik, Evy Ervianty, Indropo Agusni, Sunarso Suyoso. Atlas Kelainan Kulit. Edisi ke-2. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2007. h. 63-68
3. Chickenpox. 2012 diundah dari URL : http://emedicine.medscape.com/article/969773-

clinical

14

15 KEPANITERAAN KLINIS ILMU KULIT DAN KELAMIN RS HUSADA

4. Siregar RS. Atlas Berwarna Penyakit Kulit. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.h. 80-90
5. Varicella. 30Maret 2012 diundah dari URL :

http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/vis/downloads/vis-varicella.pdf 6. Arif Mansjoer, Kuspuji Triyanti, Rakhmi Saviitri. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-2. Jakarta : Media Aesculapius; 2007. h.128-130
7. Varicella-zoster virus. 30 Maret 2012 diundah dari URL :

http://www.jmedicalcasereports.com/content/3/1/9134

15