Anda di halaman 1dari 37

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN A. Tinjauan Kasus 1. Pengkajian a. Pengumpulan Data 1) Identitas a) Identitas Klien Nama : Ny.

W Umur : 39 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Pendidikan : SMP Pekerjaan : IRT Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia Tanggal masuk RS : 30 Juni 2005 jam 16.00 WIB Tanggal Pengkajian : 10 Agustus 2005 jam 08.00 WIB Alamat : Kp. Bojong Loa Rt 03 / 03 Cipangkor Cimahi Diagnosa medis : CRF e.c Nephrolithiasis Bilateral dan Post Nefrolitotomi Kiri Nomor medrec : 394286 b) Identitas Penanggung Jawab Nama : Tn. E Umur : 45 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SMP Pekerjaan : Wiraswasta Hubungan dengan Klien : Suami Alamat : Kp. Bojong Loa Rt 03 / 03 Cipangkor Cimahi 2) Riwayat Kesehatan a) Riwayat Kesehatan Sekarang (1) Keluhan Saat Masuk Rumah Sakit Pada tanggal 28 Juni 2005 jam 21.00 klien merasakan sakit pada pinggang sebelah kiri dan keluar cairan yang merembes pada daerah pasca operasi pengangkatan batu ginjal. Klien berobat ke RS Soreang dan dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. (2) Keluhan Utama Saat Pengkajian Saat dilakukan pengkajian tanggal 10 Agustus 2005 jam 08.00 WIB, klien mengeluh nyeri pada luka post operasi nefrolitotomi kiri dan nefrostomi yaitu di pinggang sebelah kiri. Nyeri dirasakan seperti di iris-iris dan tidak menyebar. Nyeri timbul dan semakin dirasakan bertambah bila bergerak atau pada saat luka tersentuh dan tertekan, nyeri dirasakan berkurang pada saat klien berada pada posisi berbaring

terlentang atau miring ke sebelah kiri. Skala nyeri 3 (0-5) menurut Mc.Gill. b) Riwayat Kesehatan Yang Lalu Klien mengatakan dirinya telah beberapa kali menjalani operasi. Pada tahun 1983 klien mengatakan menjalani operasi pengangkatan batu ginjal sebelah kanan di RS Dustira. Pada tahun 1999 klien menjalani operasi pengangkatan batu kandung kemih di RS Bina Sakti. Klien mengatakan dirinya mempunyai kebiasaan minum garam inggris seminggu 5-6 kali + 1 sendok makan tiap 1 kali makan dan diit ketat sejak tahun 1980 sampai dengan tahun 1983 untuk menjaga berat badannya. Menurut klien, dirinya tidak pernah menderita penyakit Hipertensi dan Diabetes Mellitus. c) Riwayat Kesehatan Keluarga Klien dan keluarga mengatakan dalam keluarga tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita hal yang sama dengan klien dan tidak ada riwayat mempunyai hipertensi atau DM serta penyakit ginjal lainnya dalam keluarganya. 3) Pola Aktivitas Sehari-hari No Aktivitas Sebelum Sakit Setelah Sakit 1 Nutrisi a. Makan - Frekuensi - Jenis

b. Minum - Frekuensi - Jenis 3 x sehari habis 1 porsi Nasi, daging, tahu, tempe, sayur. Semenjak operasi pengangkatan batu tahun 1983 klien tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi Vitamin C misalnya buah-buahan jeruk, mangga.

4-6 gelas (+ 1000 1500 cc) /hari air putih, teh manis 3xsehari habis porsi Nasi, bubur daging / ikan, buah-buahan klien mengatakan kurang nafsu makan karena mual dan ada luka pada mulut.

6-7 gelas (+1500-1750cc) /hari air putih 2 Eliminasi a. BAK - Frekuensi - Warna

b. -

BAB Frekuensi Warna konsistensi

7-8 x/hari (+ 500-750 cc) kuning jernih

1x / hari kuning padat Melalui Uretra 7-8 x/hari (+700-800 cc), kuning keruh Melalui Nefrostomi + 500-700 cc/hari, kuning keruh 1x / hari kuning padat 3 Personal Hygiene a. Mandi b. Gosok Gigi c. Keramas

d. Potong Kuku 2x/hari memakai sabun 2x/hari memakai pasta 2x/minggu memakai shampo Bila panjang 1x/hari memakai sabun, dibantu keluarga 2x/hari memakai pasta 1x/minggu memakai shampoo Bila panjang 4 Istirahat Tidur a. Siang b. Malam 1-2 jam/hari 7-8 jam/hari tidur nyenyak 1-2 jam / hari 7-8 jam/hari tetapi sering terbangun dan kadang tidak bisa tidur 5 Kegiatan / Aktivitas Sehari-hari Klien seorang ibu rumah tangga, sehari-harinya hanya mengurus pekerjaan rumah. Berbaring ditempat tidur. Klien mengeluh lemah dan lelah saat beraktivitas. 4) Pemeriksaan fisik a) Sistem Pernafasan Bentuk hidung simetris, tidak terdapat deviasi septum nasi, tidak terdapat sianosis pada bibir, jari tangan ataupun jari kaki, tidak terdapat pernafasan cuping hidung, mukosa hidung lembab, tidak terdapat sekret, tidak terdapat penggunaan otot-otot bantu pernafasan, bentuk dada simetris, tidak terdapat adanya retraksi dada dan nyeri tekan pada daerah dada, ekspansi paru simetris, pengembangan paru maksimal, suara perkusi paru terdengar resonan, pada auskultasi terdengar vesikuler tidak terdengar rales pada saat auskultasi, frekuensi nafas 22 x/menit. b) Sistem Kardiovaskuler Konjungtiva palpebra tampak pucat, Jugular Venous Pressure (JVP) tidak meninggi nilai 5 mmHg, tidak ditemukan adanya clubbing finger, CRT (Capilarry Refilling Time) kembali dalam 4 detik, akral teraba dingin, iktus kordis teraba pada ICS V garis midklavikula kiri. Pulsasi denyut nadi teraba kuat, irama denyut nadi teratur, denyut nadi 82 x/menit. Tekanan darah 100/70 mmHg. Suara perkusi jantung terdengar dullness, S1 dan S2 terdengar murni reguler. c) Sistem Perkemihan Tidak tampak adanya oedem pada daerah ekstremitas atas dan bawah, tidak terdengar adanya bruits sign pada percabangan aorta abdominalis, terdapat luka bekas operasi pada area ginjal kanan, tampak luka post operasi nefrolitotomi kiri pada area pinggang sebelah kiri + 12 cm berwarna kemerahan dan tampak basah disertai Pus dan tampak drain nefrostomi di bawah luka berisi urine yang berwarna kuning agak keruh. Nefrolitotomi kiri dan nefrostomi dilakukan pada tanggal 20 Juli 2005 dan

Hemodialisa pada tanggal 25 Juli 2005. Klien mengatakan nyeri pada luka dan drain tersebut terutama bila luka dan drain tersebut tertekan, klien tampak meringis saat luka dan drain tersebut tersentuh atau tertekan. Terdapat nyeri tekan pada palpasi ginjal kanan sedangkan palpasi ginjal kiri tidak terkaji karena adanya luka operasi. Tidak terdapat adanya nyeri ketuk pada saat perkusi ginjal pada daerah Costae Vertebral Angel, tidak terdapat distensi kandung kemih dan suara perkusi kandung kemih terdengar timpani. Klien mengatakan tidak ada keluhan pada saat BAK. Intake cairan peroral 1500 cc, Output : urine 1250 cc/24 jam, drain 550 cc/24 jam, IWL=340 cc/24 jam, balance=1500-1800 cc/24 jam= - 300 cc/24 jam. d) Sistem Endokrin Tidak terdapat eksofthalmus, tidak tampak adanya hipopigmentasi kulit, tidak tampak adanya keringat yang berlebihan (diaforesis) tidak teraba adanya massa, nyeri tekan, dan pembesaran saat palpasi kelenjar tiroid dan paratiroid. e) Sistem Pencernaan Mukosa bibir kering, gigi tanggal 2 buah jumlah gigi 30 buah, tidak terdapat pembesaran tonsil, klien mengatakan nyeri pada saat menelan dan pada area lidah yang terdapat luka, lidah tampak kotor, tampak lesi pada lidah anterior, sklera tampak putih, abdomen datar teraba lembut, Bising usus 12 x/menit, tidak teraba pembesaran hati dan limpa, tidak terdapat adanya nyeri tekan dan nyeri lepas pada daerah abdomen. Pada anus tidak terdapat hemoroid. Berat badan sebelum sakit 44 Kg dan saat dilakukan pengkajian 34 Kg. f) Sistem Integumen Rambut dan kulit kepala bersih, terdapat bercak-bercak putih pada lengan kanan, klien mengatakan gatal dan tampak klien menggaruk lengannya, turgor kulit kembali dalam waktu 3 detik, kulit kaki dan tangan teraba dingin, Suhu 36,1oC. g) Sistem Persyarafan (1) Test Fungsi Serebral (a) Status Mental (i) Orientasi : klien dapat menyebutkan bahwa sekarang ia berada di rumah sakit, ditunggui oleh suaminya, dan berada pada pagi hari. (ii) Daya Ingat : klien dapat mengingat tahun kelahirannya, klien dapat menyebutkan 3 buah benda yang ditunjukkan 5 menit yang lalu. (iii) Perhatian dan perhitungan : klien dapat meghitung dengan penjumlahan serial lima yaitu : 5+5=10, 10+5=15, 15+5=20, 20+5=25, 25+5=30 (iv) Fungsi Bahasa : klien dapat mngulangi kata-kata akan tetapi atau jika tidak dan klien mengerti perinah saat menyebutkan benda yang ada didekatnya yaitu, gelas dan sendok (b) Tingkat kesadaran (i) Kualitas : Compos Mentis (ii) Kuantitas : Nilai GCS 15 (E4, V5, M6) (c) Pengkajian Bicara : Proses bicara klien lancar (2) Test Nervus kranial (a) Nervus I (Olfaktorius) Fungsi penciuman baik, terbukti klien dapat membedakan bau-bauan familier seperti bau kopi dan kayu putih.

(b) Nervus II (Optikus) Fungsi ketajaman penglihatan baik yang ditandai dengan klien dapat membaca papan nama perawat pada jarak 30 cm. (c) Nervus III (Okulomotorius), IV (Trochlearis), VI (Abducen) Klien mampu menggerakkan bola mata kesegala arah, pupil berkontraksi saat diberi cahaya, bentuk pupil isokor, klien dapat membuka dan menutup matanya, lapang pandang klien tidak menyempit. (d) Nervus V (Trigeminus) Fungsi mengunyah baik, pergerakan otot masetter dan temporalis saat mengunyah simetris. Klien dapat merasakan sentuhan pilinan kapas pada wajah, klien mengedip spontan saat diberi rangsangan dengan pilinan kapas pada kedua kelopak mata. (e) Nervus VII (Facialis) Klien dapat mengerutkan dahi dan tersenyum dengan kedua bibir simetris. Klien dapat membedakan rasa manis, asam dan asin. (f) Nervus VIII (Auditorius) Fungsi pendengaran tidak terganggu, terbukti klien dapat menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara spontan (g) Nervus IX (Glossofaringeus) Terdapat reflek muntah pada saat pangkal lidah ditekan dnegan menggunakan tongue spatel dan klein dapat merasakan sensasi pahit. (h) Nervus X (Vagus) Reflek menelan baik, uvula terletak ditengah antara palatum mole dengan arkus faring, dan bergerak saat klien bilang ah. (i) Nervus XI (Assesorius) Klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri, serta dapat melawan tahanan pada kedua bahu. (j) Nervus XII (Hipogolosus) Klien dapat menggerakkan lidah dan menjulurkannya ke segala arah. (3) Test Fungsi Sensoris (a) Rasa sakit Klien dapat merasakan sakit saat ditusuk dengan ujung reflek hammer di daerah lengan dan kaki. (b) Sentuhan Klien dapat merasakan sentuhan kapas pada lengannya dengan kedua mata tertutup. (c) Diskriminasi - Stereognosis Klien dapat menebak benda yang dipegangnya yaitu sendok dengan kedua mata tertutup. - Graphestesia Klien dapat menebak huruf S yang dituliskan ditelapak tangannya dengan kedua mata tertutup - Two Point Stimulation Klien dapat 2 buah titik yang dibuat di lengannya. h) Sistem Reproduksi Struktur utuh, keadaan vulva bersih, klien tidak merasakan adanya keluhan.

i) Sistem Muskuloskeletal (1) Ekstremitas Atas Bentuk dan ukuran kedua ekstremitas atas simetris, pergerakan (ROM) kedua ekstremitas atas bebas ke segala arah, tidak terdapat nyeri pada daerah persendian dan tulang, tidak terdapat adanya deformitas tulang atau sendi, tidak terdapat kontraktur sendi, tidak terdapat adanya atrofi otot, tidak terdapat oedema pada kedua ekstremitas atas, kekuatan otot 5/5, reflek biceps ++/++, Triceps ++/++. (2) Ekstremitas Bawah Bentuk dan ukuran kedua ekstremitas bawah simetris, pergerakan (ROM) kedua ekstremitas bawah bebas ke segala arah, tidak terdapat nyeri pada daerah persendian dan tulang, tidak terdapat adanya deformitas tulang atau sendi, tidak terdapat kontraktur sendi, tidak terdapat adanya atrofi otot, tidak terdapat oedema pada kedua ekstremitas bawah, kekuatan otot 5/5, reflek patella ++/++, achiles ++/++. 5) Data Psikologis a) Status Emosi Saat dilakukan pengkajian emosi klien stabil, klien tampak tenang saat dilakukan wawancara oleh perawat.

b) Konsep Diri (1) Body Image Klien mengatakan menyukai seluruh anggota tubuhnya walaupun saat ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, klien mengatakan bahwa anggota tubuhnya merupakan pemberian dari Allah SWT yang patut disyukuri (2) Identitas Klien adalah seorang wanita dan klien merasa puas dengan jenis kelaminnya, karena dapat memberikan keturunan. (3) Ideal diri Harapan klien terhadap penyakitnya adalah ingin cepat sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarganya dirumah. (4) Peran diri Klien adalah seorang ibu dari 3 anaknya dan seorang istri bagi suaminya. Klien adalah seorang ibu rumah tangga, klien tidak terlalu memikirkan perannya sebagai seorang ibu dan istri, klien hanya berkonsentrasi pada penyembuhan penyakitnya. (5) Harga diri Klien memahami keadaan dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. c) Pola Koping Klien mengatakan jika mempunyai masalah selalu menceritakannya pada suami dan anaknya karena menurut klien itu lebih baik daripada memendam masalah. d) Gaya Komunikasi Klien berbicara cukup jelas, volume suara klien sedang, klien sehari-hari menggunakan bahasa Sunda, klien mampu berkomunikasi dengan baik secara verbal dan nonverbal. e) Kecemasan

Klien tampak gelisah, klien tampak sering bertanya tentang keadaan penyakitnya, ekspresi wajah tampak cemas, klien mengatakan sudah 2 bulan dirawat di rumah sakit, klien merasa menyesal dioperasi karena ia merasa tidak ada perubahan. 6) Data Sosial Hubungan klien dengan keluarganya baik, terbukti klien selalu ditunggui oleh suami dan anaknya secara bergantian. Klien sangat kooperatif dalam proses perawatan dan pengobatan penyakitnya. 7) Data Spiritual a) Falsafah hidup Klien percaya terhadap adanya sakit dan sehat, karena itu sudah ketentuan yang telah diatur oleh Allah SWT b) Sense of Tracendence Klien merasa penyakitnya tidak ada perubahan , akan tetapi klien percaya walaupun membutuhkan waktu yang lama bila klien berusaha dengan perawatan dan pengobatan yang baik dan sabar, serta dibarengi dengan berdoa kepada Allah untuk kesembuhan penyakitnya maka penyakitnya akan membaik. c) Konsep Ketuhanan Klien percaya adanya Tuhan dan segala sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh dirinya. Selama dirawat klien menjalankan ibadahnya dengan melaksanakan sholat lima waktu walaupun sambil berbaring ditempat tidur. 8) Data Penunjang a) Data Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan 8 / 8 / 2005 Hematologi Hemoglobin Leukosit Thrombosit Hematokrit 8.2 15.600 578.000 24 12-16 3.8-10.6 150-440 35-47 gr/dl Ribu/mm3 Ribu/mm3 %

8/8/2005 Kimia klinik Ureum Kreatinin Natrium Kalium Albumin Protein total 82 2.4 134 3.8 2.9 8.7 15-50 0.5-0.9 135-145 3.6-8.5 3.5-5.0 6.6-8.7 Mg/dl Meq/L Meq/L Meq/L g/dl g/dl 5 / 8 / 2005 Kimia klinik Albumin Protein total 2.9 7.5 3.5-5.0 6.6-8.7 g/dl g/dl b) Radiologi (1) Ultrasonografi tanggal 30 Juni 2005 Kesan : Pelvoureteroectasi ginjal kiri Pelvocaliectasi ginjal kanan e.c nefrolithiasis USG vesika urinaria tidak tampak kelainan (2) Glomerular Filtration Rate tanggal 4 Juli 2005 Kiri 5 ml/menit kanan 10 ml/menit

Corrected total 15 ml Kesimpulan : fungsi kedua ginjal minim (3) Electro Cardiogram tanggal 4 Juli 2005 EKG dalam batas normal c) Terapi Teracef 3 x 1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00WIB) Rantin 250 mg 3 x 1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00WIB) Becomzet 3 x 1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00WIB)

b. Analisa Data No Data Kemungkinan Penyebab dan Dampak Masalah 1 2 3 4 1 DS : - Klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi dan drain nefrostomi - Klien mengatakan nyeri dirasakan bertambah apabila klien bergerak dan luka tertekan DO : - Klien Post Op nefrolitotomi dan nefrostomi pada tanggal 20 Juli 2005 - Tampak luka post Op + 12 cm berwarna kemerahan dan tampak basah disertai Pus - Tampak drain nefrostomi di bawah luka berisi urine yang berwarna kuning agak keruh. - Klien tampak meringis saat luka dan selang tertekan atau tersentuh. - Skala nyeri 3 (0-5) Post Op nefrolitotomi dan nefrostomi Terputusnya kontinuitas jaringan Merangsang pengeluaran serotonin, bradikinin, prostaglandin Diteruskan ke substansi gelatinosa pada kornu dorsalis medulla spinalis Traktus spinotalamicus Thalamus

Cortex cerebri Nyeri dipersepsikan Gangguan rasa nyaman: nyeri

2 DS : - klien mengeluh kurang nafsu makan - klien mengeluh mual - klien mengatakan nyeri pada area lidah yang terdapat luka DO : - Tampak lesi pada daerah lidah anterior - Porsi makan habis porsi - BB 34 kg dan sebelum sakit 44 kg - BU = 12 x/menit - Data kimia klinik tanggal 8-8-2005 Protein total : 8,7 gr/dl Albumin : 2,9 gr/dl Ureum : 82 mg/dl Gagal ginjal kronik fungsi renal menurun GFR menurun Ginjal tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme Meningkatnya ureum Iritasi membran mukosa Lambung dan mulut Merangsang sekresi asam lambung HCL meningkat Mual

Stomatitis

Klien tidak mau makan Intake nutrisi kurang Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan 3 DS : - Klien mengeluh lemah - Klien mengeluh lelah saat beraktifitas - Klien mengatakan dingin pada tangan dan kaki DO : - Konjungtiva palpebra tampak anemis - Akral teraba dingin - CRT : kembali dalam 4 detik - Data kimia klinik tanggal 8-8-2005 HB 8,2 gr/dl Gagal ginjal kronik menurunnya produksi eritropoitin HB menurun O2 tidak diikat dengan adekuat Transportasi O2 ke jaringan menurun Metabolisme sel terganggu ADP tidak bisa diubah menjadi ATP Tidak terbentuk energi Kelelahan kelelahan 4 DS : Klien mengeluh nyeri pada luka Post op DO : - Klien Post Op nefrolitotomi dan nefrostomi pada tanggal 20 Juli 2005 - Tampak luka post Op + 12 cm berwarna kemerahan dan tampak basah disertai Pus - Tampak drain nefrostomi di bawah luka berisi urine yang berwarna kuning agak keruh. - Data kimia klinik tanggal 8-8-2005 Leukosit : 15.600 mm 3 Inkontinuitas jaringan akibat post op nefrolithotomi Terbukanya sistem pertahanan primer

Terjadi perkembangbiakan mikroorganisme pada jaringan yang rusak Terjadi proses infeksi pada jaringan yang rusak Resiko terjadi perluasan infeksi Resiko terjadinya perluasan infeksi 5 DS : - Klien mengatakan kaki dan tangannya terasa dingin DO : - GFR : 15 lt/menit - Data kimia klinik tanggal 8-8-2005 Ureum : 82 mg/dl Kreatinin : 2,4 meq/dl Natrium :134 meq/dl Kalium :3,8 meq/dl Gagal ginjal kronik fungsi renal menurun GFR menurun Meningkatnya skresi renin oleh sel-sel jukstaglomerular Angiotensin diubah menjadi angiotensin 1 Di pulmonal dirubah menjadi angiotensin II Retensi aldosteron Meningkatnya retensi natrium dan H2O Transudasi cairan intravaskuler ke intersitial karena menurunnya tekanan osmotik kapiler Resiko terjadinya oedema Resiko gangguan keseimbangan cairan : berlebihan dan elektrolit : Hiponatremia 6 DS : Klien mengatakan gatal pada daerah lengan kanan DO : - Tampak bercak putih pada kulit lengan kanan - Klien tampak menggaruk lengan kanannya - Data kimia klinik tanggal 8-8-2005 Ureum : 82 mg/dl Kreatinin : 2,4 meq/dl Gagal ginjal kronik

fungsi renal menurun GFR menurun Ginjal tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme Meningkatnya ureum Penumpukan kristal di kulit Pruritus Resiko gangguan integritas kulit 7 DS : Klien tampak sering bertanya tentang keadaan penyakitnya Klien mengatakan sudah 2 bulan dirawat di rumah sakit Klien merasa menyesal dioperasi karena merasa tidak ada perubahan Klien mengatakan kurang nafsu makan Klien mengatakan sering tidak bisa tidur DO : Klien tampak gelisah Ekspresi wajah tampak cemas Gagal ginjal kronik

Hospitalisasi yang lama

Perubahan status kesehatan

Menimbulkan perasaan frustasi Harapan untuk sembuh menurun Kecemasan meningkat Gangguan rasa aman cemas Kecemasan : sedang c. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas No Diagnosa Keperawatan Ditemukan Dipecahkan Tanggal Paraf Tanggal Paraf 1 Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 11-82005 Rema 13-8-2005 Rema 2 Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan stomatitis 11-8-2005 Rema 3 Kelelahan berhubungan dengan penurunan perfusi O2 ke jaringan 11-8-2005 Rema

4 Resiko terjadinya perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka terinfeksi 11-82005 Rema 5 Resiko gangguan keseimbangan cairan : berlebihan dan elektrolit: Hiponatremia berhubungan dengan retensi cairan 11-8-2005 Rema 6 Resiko gangguan integritas kulit : pruritus berhubungan dengan penumpukan kristal ureum pada lapisan kulit 11-8-2005 Rema 14-8-2005 Rema 7 Kecemasan : sedang berhubungan dengan hospitalisasi yang lama dan perubahan status kesehatan. 11-8-2005 Rema

3. Perencanaan No Diagnosa Keperawatan Perencanaan Tujuan Intervensi Rasional 1 2 3 4 5 1 Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan TUPAN : Rasa nyaman terpenuhi , nyeri hilang TUPEN : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari klien dapat beradaptasi dengan rasa nyeri dengan kriteria : - Ekspresi wajah tenang - Skala nyeri turun menjadi 2 (0-5) - Klien dapat menerapkan teknik manajemen nyeri ketika nyeri dirasakan 1. Berikan penjelasan tentang penyebab nyeri

2. Periksa tegangan balutan 3. Atur posisi sesuai kenyamanan klien 4. Pertahankan kepatenan posisi drain

5. Ajarkan dan lakukan penggunaan teknik relaksasi sesuai keinginan klien misalnya : latihan nafas dalam, imajinasi dan visualisasi 6. Kolaborasi untuk pemberian analgetik 7. Observasi skala nyeri8. 1. Menghindari persepsi yang salah tentang penyebab nyeri 2. Menghindari gesekan dari balutan 3. Posisi yang sesuai menurunkan ketega-ngan area yang nyeri 4. Posisi yang tidak tepat menimbulkan gesekan pada luka yang akan mensti-mulasi reseptor nyeri 5. Melepaskan keteg-angan emosional dan otot, meningkatkan rasa kontrol yang mungkin dapat meningkatkan koping 6. Menghambat kerja biosintesis prostaglandin 7. Menentukan keber-hasilan intervensi 2 Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan stomatitis TUPAN : Nutrisi terpenuhi TUPEN : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari mual dan stomatisis berkurang dengan kriteria : - Porsi makan habis porsi - BB naik - Klien mau makan sesuai diit - Lesi pada lidah berkurang 1. Awasi konsumsi makanan / cairan 2. Beri penjelasan mengenai pentingnya intake nutrisi yang sesuai dengan diit 3. Dorong klien untuk berpartisipasi dalam perencanaan menu

4. Kolaborasi untuk pemberian diit tinggi karbohidrat, protein yang berkualitas tinggi dan asam amino yang essensial

5. Berikan makanan sedikit dengan frekuensi sering, jadwalkan makan sesuai dengan kebutuhan 6. Lakukan perawatan mulut

7. Timbang Berat badan klien setiap hari 8. Berikan multivitamin sesuai order Becomzet 3 x 1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00WIB) 9. Berikan terapi sesuai program : Rantin 250 mg 3X1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00 WIB) 1. Mengidentifikasi kekurangan nutrisi 2. Pengetahuan yang adekuat akan menambah motivasi untuk berubah 3. Dapat meningkatkan masukan oral dan meningkatkan perasaan tanggung jawab 4. Memberikan nutrien yang cukup untuk memperbaiki energi, meningkatkan regenerasi jaringan /penyembuhan dan me-ngurangi katabolisme protein yang memperberat kerja ginjal 5. Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan dan meng-hilangkan perasaan enek

6. Menurunkan ketidak-nyamanan stomatitis oral dan rasa tidak enak di mulut yang dapat mempengaruhi masukan makan 7. Memantau status cairan dan nutrisi 8. Mengggantikan kehi-langan vitamin karena malnutrisi / anemia 9. Mengurangi produksi HCL lambung penyebab mual 3 Kelelahan berhubungan dengan penurunan perfusi O2 ke jaringan TUPAN : Kelelahan hilang TUPEN : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari klien dapat beraktifitas sesuai dengan batas toleransinya : - konjungtiva tidak anemis - HB meningkat mendekati batas normal - CRT < dari 3 detik - Akral hangat 1. Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang dibutuhkan / diinginkan 2. Rencanakan periode istirahat yang adekuat

3. Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi

4. Tingkatkan partisipasi sesuai toleransi klien

5. Berikan intake nutrisi tambahan berupa makanan selingan sesuai diit Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemeriksaan kadar kalsium, magnesium dan kalium serta haemoglobin 1. Mengidentifikasi kebu-tuhan individual dan mem-bantu pemilihan intervensi 2. Mencegah kelelahan yang berlebihan dan menyimpan energi untuk penyembuhan dan regenerasi jaringan 3. Mengubah energi memungkinkan berlanjutnya aktifitas yang dibutuhkan dan memberikan keamanan pada klien 4. Meningkatkan rasa percaya diri dan membatasi prustasi 5. Nutrisi adekuat menghasilkan energi

6. Menentukan keadaan perfusi jaringan dan keberhasilan dari intervensi 4 Resiko terjadinya perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka terinfeksi TUPAN : Tidak terjadi perluasan infeksi TUPEN : - Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari tanda-tanda infeksi pada luka berkurang dengan kriteria : - Luka bersih, tidak kemerahan - Tidak terdapat pus pada luka dan drain - Nyeri berkurang 1. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan

2. Rawat luka dan drain dengan teknik aseptik dan antiseptik 3. Hindari luka dalam keadaan basah

4. Monitor suhu setiap shift

5. Ganti alat tenun setiap hari 6. Berikan antibiotik sesuai program : teracef 3x1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00 WIB)

7. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemeriksaan kadar Leukosit 1. Menghindari penularan mikroorganisme dari petugas 2. Meminimalkan perkembangbiakan mikroorganisme patogen 3. Kondisi yang lembab dan basah memung-kinkan menjadi perkembangbiakan mikroorganisme 4. Mengetahui fluktuasi suhu sebagai indikator/tanda bila terjadi infeksi lebih lanjut 5. Meminimalkan terjadinya infeksi lebih lanjut 6. Antibiotik bersifat bacteriosid dan bakteristatik

7. Menentukan keadaan penyembuhan luka dan proses infeksi serta keber-hasilan dari intervensi 5 Resiko terjadinya gangguan keseimbangan cairan : berlebihan dan elektrolit : Hiponatremia berhubungan dengan retensi cairan TUPAN : Cairan dan elektrolit seimbang TUPEN : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari retensi cairan berkurang dengan kriteria : - output sesuai intake - kadar elektrolit dalam batas normal : natrium = 135-145 meq/L - Berat badan dalam batas normal - Tanda vital dalam batas normal 1. Catat / observasi intake output dalam 24 jam

2. Beri dan anjurkan klien untuk minum sesuai output 24 jam, yaitu 1800 cc/24 jam

3. Timbang BB setiap hari

4. Perhatikan distensi abdomen: penurunan Bising usus, perubahan, konsistensi faeces 5. Monitor tanda-tanda vital setiap shift

6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemeriksaan kimia darah (ureum, kreatinin, kalium dan natrium) 1. Pada kebanyakan kasus jumlah aliran harus sama atau lebih dari jumlah yang dimasukkan. Keseimbangan positif menunjukkan kebutuhan evaluasi lebih lanjut

2. Memenuhi kebutuhan cairan sesuai dengan kebutuhan

3. BB merupakan indika-tor akurat status volume cairan. Keseimbangan cairan positif dengan BB menunjukkan retensi cairan 4. Distensi abdomen / konstipasi dapat mempe-ngaruhi kelancaran aliran 5. Volume sirkulasi harus dipantau untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik 6. Pemeriksaan laboratorium kimia darah dapat menge-tahui perkembangan kondisi klien ter-utama status kese-imbangan elektrolit 6 Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus akibat akumulasi ureum pada lapisan kulit TUPAN : Integritas kulit utuh TUPEN : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari klien dapat beradaptasi dengan rasa gatal dan pruritus dengan kriteria : - klien tidak menggaruk area yang gatal - tidak terjadi iritasi dermal - klien merasa nyaman 1. Berikan penjelasan mengenai penyebab dan dampak bila menggaruk kulit yang gatal 2. Lakukan perawatan kulit: batasi peng-gunaan sabun mengan-dung Soda anjurkan sabun mengandung lemak misalnya sabun bayi: berikan salep atau krim (lotion, aquaphor) dan baby oil. 3. Anjurkan klien untuk menggunakan kompres lembab / dingin untuk membe-rikan tekanan pada area yang pruritus 4. Pertahankan kuku pendek dan berikan sarung tangan selama tidur 5. Pertahankan linen kering, bebas keriput

6. Inspeksi kulit dari perubahan warna, turgor, vaskular, perhatikan kemerahan, ekskoriasi, ekimosis, purpura 1. Pengetahuan yang adekuat dapat memotivasi klien untuk tidak menggaruk 2. Sabun dapat menyebabkan penge-ringan pada kulit, lotion, baby oil dan krim digunakan untuk mengurangi pengeringan kulit

3. Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan resiko cedera dermal

4. Menurunkan resiko cedera dermal

5. Menurunkan iritasi dermal dan kerusakan lebih lanjut 6. Menandakan area sirkulasi buruk / kerusakan yang dapat menimbulkan infeksi 7 Kecemasan : sedang berhubungan dengan hospitalisasi yang lama dan perubahan status kesehatan. Tupan : Klien tidak merasa cemas Tupen : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2 hari klien dapat meningkatkan adaptasi dengan proses hospitalisasi dengan kriteria : Klien tidak tampak cemas Klien tidak tampak gelisah Klien mengerti dan menyadari bahwa dirinya memerlukan perawatan yang lama Klien dapat tidur dengan nyenyak Nafsu makan meningkat. 1. Berikan klien/orang terdekat salinan hak-hak klien dan tinjau bersama mereka. Diskusikan kebijakan fasilitas misalnya jadwal kunjungan

2. Tentukan sikap klien/orang terdekat kearah penerimaan pada fasilitas dan harapan masa depan

3. Kaji tingkat ansietas dan diskusikan penyebabnya bila mungkin

4. Berikan waktu untuk mendengarkan klien mengenai masalah dan dorong ekspresi perasaan yang bebas misalnya ; marah, ragu, takut dan sendiri 5. Akui realita situasi dan perasaan klien

6. Kembangkan hubungan klien/perawat

7. Orientasikan pada aspek-aspek fisik dari fasilitas, jadwal dan aktivitas. Perkenalkan pada teman sekamar dan staf

8. Berikan pemikiran yang cermat untuk penempatan ruang. Berikan bantuan dan dorongan dalam penempatan benda-benda pribadi disekitar ruangan 1. Memberikan informasi yang dapat membantu perkembangan kera-hasiaan klien di-mana hak klien dapat terus dijaga dan klien tetap men-jadi dirinya sendiri dan memiliki kontrol terhadap apa yang terjadi 2. Diharapkan perhatian klien atau orang terdekat akan berbeda jika penem-patannya bersifat permanen dan menghilangkan munculnya perasaan tidak berdaya, kehilangan dan berduka 3. Identifikasi masalah spesifik akan me-ningkatkan kemam-puan individu untuk menghadapinya dengan lebih realistis 4. Membuat klien merasa diterima, mulai mengakui dan berhadpan dengan perasaan yang berhubungan dengan keadaan penerimaan 5. Memungkinkan ekspresi perasaan membantu dimulainya resolusi. Penerimaan akan meningkatkan harga diri 6. Hubungan saling percaya akan me-ningkatkan perawatan dan dukungan yang optimal 7. Pengenalan adalah bagian penting dari penerimaan, penge-tahuan dimana benda-benda berada dan siapa yang di-harapkan klien untuk memberikan bantuan dapat mengurangi ansietas 8. Lokasi, kecocokan teman sekamar dan tempat untuk benda-benda pribadi adalah pertimbangan yang tepat untuk membantu klien merasa seperti dirumah

4. Pelaksanaan Tanggal DP Waktu Pelaksanaan Dan Evaluasi Paraf 1 2 3 4 5 1108-2005 VI,V 08.00 Mengukur tanda-tanda vital klien Hasil : TD : 110/70 mmHg , Nadi : 82 x/menit, Respirasi : 21x/menit , Suhu : 36,2oC Rema VI, IV 08.20 Membereskan lingkungan klien, mengganti sprei klien yang kotor dan merapikan tempat tidur. Hasil : Lingkungan klien rapih dan bersih, sprei dalam keadaan kering dan bersih Rema I 08.30 Mengatur posisi sesuai kenyamanan klien yaitu berbaring dengan kepala memakai bantal Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang dalam posisi terlentang karena luka dan drain tidak tertekan. Skala nyeri 3 (0-5) Rema I 08.45 Mengajarkan teknik relaksasi sesuai kebutuhan dan keinginan klien Hasil : Klien mengatakan merasa lebih tenang saat membaca kalimat Allah SWT Rema II, IV 09.00 Memberikan obat sesuai program terapi Teracef 1 tablet peroral Rantin 250 mg 1 tablet peroral Becomzet 1 tablet peroral Hasil : Telah diberikan obat sesuai program Rema II, III 09.50 Melakukan dan mengajarkan oral hygiene Hasil : Klien mengatakan mulut lebih segar dan nyaman, klien mengatakan akan melakukan oral hygiene secara teratur Rema IV 10.30 Melakukan ganti balutan dengan teknik asepti dan anti septik Hasil : Luka tampak masih basah dan kemerahan, terdapat pus pada luka. Posisi drain pada tempatnya, keluar cairan urine yang berwarna kuning keruh. Klien tampak meringis kesakitan saat diganti balutan. Rema II 11.00 Melakukan pendidikan kesehatan tentang Diit Rendah Protein Hasil : Klien mampu menyebutkan tujuan, syarat, contoh menu Diit Rendah Protein dan makanan yang boleh diberikan Rema II 11.20 Memberikan motivasi pada klien agar makan sesuai diet. Hasil :

Klien mengatakan akan berusaha untuk makan sesuai dengan diet yang dianjurkan. Rema VII 13.00 Memberikan penjelasan tentang hak-hak klien selama dalam proses perawatan dan pengobatan misalnya : jadwal kunjungan, penunggu klien, informasi tentang keadaan kesehatan, prosedur tindakan dll. Hasil : Klien dan keluarga mengerti tentang hak-haknya Rema VII 13.00 Mendiskusikan penyebab kecemasan dan mendengarkan keluhan yang dirasakan klien. Hasil : Klien mengatakan penyebab kecemasannya karena selama perawatan belum merasakan perubahan. Rema II ,V 13.20 Mengobservasi intake dan output serta BB Hasil : Intake dan output klien dari jam 06.00 13.20 WIB Intake : Oral =900 cc Output : BAK = 400 cc Drain = 250 cc BB = 34 kg Rema 12-08-2005 VI,V 07.45 Mengukur tanda-tanda vital klien Hasil : TD : 100/70 mmHg , Nadi : 82 x/menit, Respirasi : 23x/menit , Suhu : 36,3oC Rema VI, IV 08.00 Membereskan lingkungan klien dan merapikan tempat tidur. Hasil : Lingkungan klien rapih dan bersih, sprei dalam keadaan rapih, kering dan bersih Rema II, IV 08.10 Memberikan obat sesuai program terapi Teracef 1 tablet peroral Rantin 250 mg 1 tablet peroral Becomzet 1 tablet peroral Hasil : Telah diberikan obat sesuai program Rema II 08.20 Memberikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat bagi klien sesuai dengan diit yang dianjurkan. Hasil : Klien dan keluarga mengerti tentang pentingnya nutrisis yang adekuat bagi klien Rema II, III 08.40 Memfasilitasi untuk melakukan oral hygiene Hasil : Klien mengatakan mulut lebih segar dan nyaman, klien mengatakan akan melakukan oral hygiene secara teratur Rema V 09.00 Mengobservasi intake dan output serta menghitung balance cairan Hasil : - Intake dan output klien selama 24 jam dari tanggal 11-08-2005 s/d 12-08-2005

Intake Output

: Oral =1800 cc : BAK = 1000 cc Drain = 900 cc IWL = 340 cc Balance cairan 1800 2240 = - 440 cc Rema II 09.20 Memberikan penjelasan kepada klien tentang penyebab rasa nyeri dan teknik yang bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri. Hasil : Klien mengerti tentang rasa nyeri yang harus dirasakan adalah untuk kesembuhan dan kebaikan klien, misalnya saat ganti balutan. Klien mengatakan saat ganti balutan akan menarik nafas dalam dan membaca kalimat Allah SWT, supaya keadaan lukanya menjadi bersih Rema IV 09.35 Melakukan ganti balutan dengan teknik aseptik dan anti septik Hasil : Luka tampak masih basah dan kemerahan, terdapat pus. Posisi drain pada tempatnya. Klien tampak meringis kesakitan. Rema II 10.20 Memfasilitasi klien untuk makan dan minum Hasil : Porsi makan habis porsi, klien mengatakan mual berkurang tetapi saat mengunyah masih terasa sakit pada lidahnya yang luka. Rema I, III 10.50 Mengobservasi skala nyeri dan kemampuan klien dalam beraktifitas Hasil : Skala nyeri 3 (0-5), klien mampu beraktifitas mandiri , walaupun tampak lemah dan kelelahan. Rema VII 12.30 Memberikan motivasi pada keluarga untuk selalu menemani klien dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan Hasil : Keluarga tampak menemani klien Rema II, V 13.00 Mengobservasi intake dan output serta mengukur BB Hasil : Intake dan output klien dari jam 06.00 13.00 WIB Intake : Oral =1000 cc Output : BAK = 450 cc Drain = 270 cc BB = 34 kg Rema 13-08-2005 VI,V 07.45 Mengukur tanda-tanda vital klien Hasil : TD : 100/70 mmHg , Nadi : 82 x/menit, Respirasi : 23x/menit , Suhu : 36,3oC Rema II, V 07.50 Mengukur BB klien Hasil : BB = 34 Kg Rema II, IV 08.00 Memberikan obat sesuai program terapi Teracef 1 tablet peroral Rantin 250 mg 1 tablet peroral

Becomzet 1 tablet peroral Hasil : Telah diberikan obat sesuai program Rema II, III, VI 08.25 Memfasilitasi klien untuk melakukan perawatan diri secara mandiri : mandi, keramas, oral hygiene Hasil : Klien mengatakan badannya menjadi segar. Klien menagtakan lesi pada mulutnya berkurang. klien merasa lelahnya berkurang saat beraktifitas. Kulit dan rambut tampak bersih. Rema VI, IV 09.00 Membereskan lingkungan klien dan merapikan tempat tidur. Hasil : Lingkungan klien rapih dan bersih, sprei dalam keadaan rapih, kering dan bersih Rema V 09.30 Mengobservasi intake dan output serta menghitung balance cairan Hasil : - Intake dan output klien selama 24 jam dari tanggal 12-08-2005 s/d 13-08-2005 Intake : Oral =2200 cc Output : BAK = 1250 cc Drain = 900 cc IWL = 340 cc Balance cairan 2250 2490 = - 240 cc Rema II 09.45 Memfasilitasi klien untuk makan dan minum Hasil : Porsi makan habis porsi, klien mengatakan mual dan sakit pada lidahnya saat mengunyah berkurang Rema IV 10.20 Melakukan ganti balutan dengan teknik aseptik dan anti septik Hasil : Sebagian luka tampak kering dan kemerahan berkurang, pus berkurang. Posisi drain pada tempatnya. Rema VI 10.50 Memberikan penjelasan kepada klien tentang penyebab dan dampak dari menggaruk kulit yang gatal. Hasil : Klien mengerti tentang rasa gatal yang dirasakan tidak boleh digaruk agar tidak menimbulkan luka pada kulitnya. Rema VI 11.10 Melakukan dan mengajarkan perawatan kulit untuk daerah yang dirasakan gatal : mengompres area yang gatal dengan air yang dingin, memberikan lotion pada area yang gatal Hasil : Klien mengatakan rasa gatalnya berkurang dan klien akan melakukan perawatan kulit dengan rutin Rema V 13.00 Mengobservasi intake dan output serta Hasil : Intake dan output klien dari jam 06.00 13.00 WIB Intake : Oral = 900 cc Output : BAK = 350 cc

Drain = 240 cc

Rema 5. Evaluasi Tanggal Diagnosa Keperawatan Catatan Perkembangan Paraf 1 2 3 4 13-08-2005 I S : - Klien mengatakan nyerinya berkurang - Kien mengatakan bila rasa nyeri dirasakan terutama saat ganti balutan klien menarik nafas dalam dan mengucapkan kalimat Allah SWT - klien mengatakan nyeri yang dirasakan adalah proses dari pengobatannya O: - klien tampak lebih tenang - ketika ganti balutan klien tampak kadang meringis dan tampak klien menarik nafas dalam dan mengucapkan kalimat Allah SWT - skala nyeri 2 (0-5) A: Masalah teratasi P: Pertahankan intervensi 2,3,4,5,6 Rema 14-08-2005 II S : - Klien mengatakan rasa mual dan luka pada lidahnya berkurang - Kien dan keluarga mengatakan nafsu makan klien bertambah - Keluarga mengatakan akan menyediakan makanan yang sesuai dengan diit untuk klien O: - Porsi makan habis porsi dan klien tampak makan makanan selingan lainnya yaitu apel dan kue - Bising usus 10 x/menit - Keluarga terlihat membantu klien dalam menyediakan makanan untuk klien - BB = 34 kg A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi I: - Mengawasi jumlah porsi makan dan cairan - Menimbang BB klien - Memfasilitasi klien untuk perawatan mulut - Memberikan terapi sesuai program Rantin 250 mg 1 tablet peroral Becomzet 1 tablet peroral E:

- Jumlah porsi makan siang habis porsi. - Klien mengatakan luka pada lidahnya berkurang - Klien mengatakan saat mengunyah tidak merasakan sakit - Klien tampak melakukan perawatan mulut mandiri - BB = 34 Kg R: - Kaji intake klien sesuai diit Rema 14-08-2005 III S : - Klien mengatakan merasa lebih segar - Klien mengatakan mandi dan perawatan mulut sendiri - Klien mengatakan saat beraktifitas tidak merasa lelah O: - Klien tampak segar - Konjungtiva agak pucat - CRT 3 detik - Akral teraba dingin A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi 3,4,5,6 - Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar haemoglobin I: - Memfasilitasi klien untuk potong kuku mandiri - Menganjurkan klien untuk beraktifitas misalnya : jalan-jalan secara bertahap - Menganjurkan keluarga untuk memberikan makanan selingan sesuai dengan diit E: - Klien tampak berjalan-jalan disekitar Ruangan dibantu oleh keluarga - klien melakukan potong kuku mandiri - Kuku tampak pendek dan bersih R: Kaji nilai kadar HB Rema 14-08-2005 IV S : O: - Luka tampak kotor - Sekitar luka agak kemerahan - Sebagian luka tampak kering dan sebagian masih basah - Drain terpasang pada tempatnya A : Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi 1-5 - Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar leukosit I: - Melakukan ganti balutan dengan teknik aseptic dan antiseptic - Memberikan terapi sesuai program

Teracef 1 tablet peroral - Mengganti alat tenun - Melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan kadar leukosit E: - Luka tampak bersih - Sebagian luka tampak kering - Tidak terdapat pus - Drain pada tempatnya - Alat tenun dalam keadaan rapi dan bersih R: Kaji nilai kadar leukosit Rema 14-08-2005 V S : O: - Balance cairan Intake : Oral =2400 cc Output : BAK = 1600 cc Drain = 600 cc IWL = 340 cc - Balance cairan 2400 2540 = - 140 cc - Akral teraba hangat - BB = 34 kg A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi 1-5 I: - Menghitung intake output - Melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan kadar kimia klinik - Menimbang BB E: - Intake dan output klien dari jam 06.00 13.30 WIB Intake : Oral = 1000 cc Output : BAK = 550 cc Drain = 250 cc - BB = 34 kg - Tidak tampak adanya oedema R: - Kaji balance cairan - Kaji intake cairan yang diminum oleh klien Rema 14-08-2005 VI S : - Klien mengatakan rasa gatal berkurang bila area yang gatal di kompres air dingin - Klien mengatakan melakukan perawatan kulit mandiri : mengoleskan lotion dan mandi - Klien mengatakan tidak menggaruk area yang gatal O:

- Kuku klien tampak pendek dan bersih - Tidak tampak bekas garukan pada area yang kulit - Klien tampak bersih A : Masalah teratasi P: Pertahankan intervensi Rema 14-08-2005 VII S : - Klien mengatakan merasa lebih tenang setelah mendengarkan penjelasan tentang hak-haknya - klien mengatakan rasa cemasnya berkurang - keluarga mengatakan nafsu makan klien bertambah O: - Klien tampak segar/tidak murung - Keluarga tampak mendampingi klien A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan Intervensi I: - Memberikan bantuan pada klien dalam penempatan barang sesuai keinginannya - Membantu klien dalam mengekspresikan perasaannya E: - Klien mengatakan perasaanya saat ini lebih tenang - klien mengatakan lebih senang dengan suasana kamarnya saat ini R: Kaji tingkat kecemasan Rema B. Pembahasan Berdasarkan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri di ruang 2 perjan rumah sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung yang telah diberikan melalui pendekatan proses keperawatan selama lima hari, penulis akan membahas mengenai kesenjangan antara teori dan kenyataan di lapangan. 1. Tahap Pengkajian Pada tahap pengkajian ini penulis menemukan beberapa kesamaan dan kesenjangan diantaranya adalah : Klien dengan gagal ginjal kronik ec nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri mempunyai kecenderungan terjadi pada laki-laki, Usia 30-50 tahun, pekerjaan yang banyak duduk dan kurang aktifitas sedangkan pada Ny. W ditemukan riwayat diet karena kurangnya pengetahuan yaitu mengkonsumsi garam inggris selama 3 tahun yang menyebabkan efek pencahar sehingga cairan dalam tubuh keluar dan keseimbangan cairan tubuh terganggu. Ditemukan juga riwayat kesehatan yang lalu klien menderita nefrolithiasis sebelumnya yang tidak tertangani menjadi penyebab gagal ginjal kronik. Secara konsep klien dengan gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis datang ke rumah sakit dengan keluhan perubahan pola berkemih sedangkan tidak terjadi pada Ny. W dikarenakan urine yang tertahan pada kaliks ginjal keluar melalui rembesan fistel pasca nefrolitothomi tahun 1999. Kesesuaian terdapat pada keluhan utama saat dikaji yaitu Ny. W mengeluh nyeri pada luka operasi dan drain pasca nefrolitotomi kiri.

Riwayat kesehatan keluarga yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik ec nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri adalah adanya penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes mellitus serta adanya riwayat penyakit ginjal lainnya, karena kecenderungan terjadi dalam satu rumpun keluarga. Tetapi pada kasus Ny. W tidak ditemukan adanya riwayat penyakit tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa manusia itu bersifat unik serta penyakit yang klien alami bukan diakibatkan oleh adanya angka kejadian dalam satu rumpun keluarga melainkan oleh faktor lain dan bukan hereditair diantaranya adalah diet yang menyebabkan kurang asupan air dalam tubuh. Pemeriksaan fisik sistem perkemihan pada klien gagal ginjal kronik ec nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri secara konsep akan ditemukan adanya bunyi bruits sign yang terjadi akibat atau adanya gangguan vaskularisasi. Sedangkan di lapangan tidak ditemukan adanya hal tersebut, karena penyebab gagal ginjal kronik pada Ny. W bukan karena gangguan vaskularisasi melainkan karena obstruksi saluran kemih atas. Kesenjangan juga ditemukan bahwa secara konsep klien dengan gagal ginjal e.c nefrolithiasis terdapat edema dan balance cairan yang positif tetapi pada Ny. W tidak ditemukan edema, turgor kulit baik dan balance cairan yang negatif sedangkan nilai GFR yang cukup rendah 15 ml/menit, hal ini diakibatkan karena Ny. W termasuk pada stadium gagal ginjal awal jadi sebagian dari nefron masih berfungsi dan kompensasi tubuh adalah dengan poliuri sehingga balance cairan negatif. Secara konseptual pada sistem pernafasan akan ditemukan adanya pernafasan yang cepat dan dangkal (kussmaul), irama nafas yang tidak teratur, frekuensi nafas yang meningkat, adanya retraksi interkostalis dan epigastrium sebagai upaya untuk mengeluarkan ion H+ yang tertumpuk dalam darah akibat dari asidosis metabolik. Pada kasus Ny. W tidak ditemukan adanya tanda-tanda tersebut, hal ini diakibatkan karena pada saat pengkajian klien tidak mengalami keadaan asidosis metabolik yaitu ginjal tidak mampu untuk mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan, penurunan ekresi asam akibat ketidakmampuan tubulus ginjal untuk mensekresi amonia (NH3-) dan mengabsorpsi natrium bicarbonat (HCO3-) yang ditunjukkan dengan adanya penurunan kandungan karbondioksida dan pH dalam darah. Dalam hal ini penulis mengalami kesulitan untuk menentukan status asidosis metabolik klien karena tidak ditunjang dengan adanya data laboratorium analisa gas darah ataupun kimia darah secara berkala. Ny. W sudah menjalani post nefrolitotomi dan telah dilakukan pemasangan nefrostomi pada tanggal 20 Juli 2005 serta menjalani dialisis pada tanggal 25 Juli 2005. Hemodialisa bisa membantu mengambil alih fungsi ginjal dalam hal pengaturan cairan dan elektrolit serta ekskresi sisa-sisa metabolisme protein, sehingga dengan dilakukannya hemodialisa, nefrolitotomi dan nefrostomi dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal sehingga klien tidak jatuh dalam kondisi asidosis metabolik. Selain itu secara konseptual akan ditemukan adanya pergerakan dada yang tidak simetris dan terdengarnya suara rales pada auskultasi paru sebagai akibat adanya edema paru, pada tahap lanjut akan ditemukan adanya sianosis perifer, hal ini tidak ditemukan dilapangan karena Ny. W belum mengalami komplikasi yang bisa menyebabkan adanya penumpukan cairan di paru-paru (edema paru). Pemeriksaan sistem persyarafan pada klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri secara konsep ditemukan adanya penurunan kesadaran akibat dari peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam darah. Namun hal tersebut tidak terjadi di lapangan karena klien belum mengalami komplikasi lebih lanjut akibat peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam darah, selain itu klien sudah menjalani terapi yaitu hemodialisa yang bisa membantu fungsi ginjal klien dalam hal

pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit serta nefrostomi yang dilakukan bisa menurunkan tekanan yang terjadi pada pelvis ginjal, sehingga ginjal bisa berfungsi lebih optimal Pemeriksaan sistem pencernaan klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri ditemukan kesesuaian yaitu adanya rasa mual serta stomatitis yang disebabkan oleh peningkatan ureum yang mengakibat perubahan pada membran mukosa lambung dan mulut. Kesesuaian terdapat pada sistem integumen yaitu ditemukan adanya rasa gatal dan uremi fross pada lengan klien. Hal itu disebabkan karena penimbunan ureum pada bawah kulit karena peningkatan ureum dalam tubuh. Pemeriksaan laboratorium darah terdapat beberapa perbedaan secara konsep. Nilai kalium yang seharusnya meningkat tidak terjadi pada Ny. W dikarenakan proses dialisa yang telah dilakukan oleh klien. Kesesuaian ditemukan pada kadar natrium dan albumin menurun serta ureum, kreatinin yang meningkat. Namun penulis kesulitan dalam menilai kimia darah secara rutin, pemeriksaan urine dan nilai GFR yang terbaru sebagai bahan perbandingan dalam menetukan diagnosa secara tepat. Secara konsep terdapat sebelas diagnosa yang mungkin timbul pada klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri, yaitu : 1) Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat pasca operasi (nefrolitotomi, nefrostomi), dan adanya obstruksi. 2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berubungan dengan anoreksia, mual, muntah, stomatitis, perubahan sensasi rasa, dan pembatasan diet. 3) Penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit (kalium, kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan cairan. 4) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium. 5) Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan penurunan libido. 6) Resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif , invasi mikroorganisme pada daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine. 7) Resiko gangguan integritas kulit : pruritus yang berhubungan dengan fosfat kalsium atau penumpukan ureum pada kulit. 8) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, anemia 9) Resiko terjadinya konstipasi berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek obat-obatan. 10) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, hubungan sosial, fungsi peran, support sistem dan konsep diri. 11) Perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan pemasangan kateter / nefrostomi. Pada kasus Ny. W penulis menemukan tujuh diagnosa keperawatan yang ditunjang oleh data hasil pengkajian, yaitu : 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan stomatitis 3. Kelelahan berhubungan dengan penurunan perfusi O2 ke jaringan 4. Resiko terjadinya perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka terinfeksi 5. Resiko gangguan keseimbangan cairan : berlebihan dan elektrolit : Hiponatremi berhubungan dengan retensi cairan

6. Resiko gangguan integritas kulit : pruritus berhubungan dengan penumpukan kristal ureum pada lapisan kulit 7. Kecemasan : sedang berhubungan dengan hospitalisasi yang lama dan perubahan status kesehatan. Dibandingkan secara konseptual terhadap kasus Ny. W terdapat beberapa diagnosa keperawatan yang seharusnya muncul secara teoritis yaitu : diagnosa penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit (kalium, kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan cairan tidak muncul, hal ini dikarenakan tidak ditemukan data yang menunjang ke arah diagnosa tersebut. Secara konseptual diagnosa gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium akan muncul. Untuk mengantisipasinya penulis mengambil diagnosa resiko gangguan keseimbangan cairan: berlebihan dan elektrolit: Hiponatremi berhubungan dengan retensi cairan ditandai dengan penurunan fungsi ginjal ditandai dengan GFR : 15 lt/menit, data kimia klinik tanggal 8-8-2005 : Ureum : 82 mg/dl, Kreatinin : 2,4 meq/dl, Natrium :134 meq/dl, Kalium :3,8 meq/d. Diagnosa perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berubungan dengan anoreksia, mual, muntah, stomatitis, perubahan sensasi rasa, dan pembatasan diet diganti dengan gangguan gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan stomatitis karena data yang muncul mengarah ke diagnosa tersebut yaitu : Porsi makan habis porsi dan Berat Badan 34 kg sebelum sakit 44 kg. Diagnosa perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan penurunan libido penulis tidak dimunculkan karena klien dan keluarga merasa tidak terganggu dengan adanya perubahan seksualitas, mengingat hal yang menjadi prioritas saat ini adalah kesembuhan klien. Diagnosa resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif , invasi mikroorganisme pada daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine tidak dimunculkan karena kondisi luka sudah terjadi infeksi yang ditandai dengan luka kemerahan, adanya pus, luka masih basah, Data kimia klinik tanggal 8-8-2005 Leukosit : 15.600 mm 3, sehingga diagnosa yang muncul adalah resiko terjadinya perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka terinfeksi. Diagnosa resiko terjadinya konstipasi berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek obat-obatan tidak dimunculkan karena tidak didapatkan data adanya konstipasi dan penurunan aktivitas pada Ny. W. Diagnosa perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan pemasangan kateter / nefrostomi tidak muncul, hal ini disebabkan walaupun terdapat pemasangan nefrostomi tapi klien tidak merasakan adanya perubahan pola berkemih karena klien dapat BAK melalui uretra.

Dalam tahap pengkajian ini penulis memperoleh dukungan sehingga dapat memperlancar proses pengkajian, yaitu : 1 Adanya respon yang positif pada klien dan keluarga terhadap penulis sehingga dapat terbina rasa percaya yang dapat memudahkan untuk proses pengumpulan data. 2 Adanya dukungan dan bimbingan dari pembimbing, baik pihak ruangan maupun dari institusi pendidikan. 2. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan penulis tidak mengalami hambatan dalam merencanakan tindakan

keperawatan menurut diagnosa yang muncul pada Ny. W. Perencanaan disesuaikan dengan kondisi, situasi dan kemampuan klien ataupun keluarga, serta disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang tersedia di ruangan. 3. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini penulis melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam tahap pelaksanaan penulis mengalami beberapa hambatan karena ada perencanaan tindakan keperawatan yang tidak bisa dilaksanakan pada klien. Kesulitan yang dialami penulis yaitu dalam memonitor intake dan output klien pada sore dan malam hari, serta tidak adanya dokumentasi mengenai intake dan output klien setiap shiff. Secara konsep intake dan out put klien harus dinilai dalam 24 jam. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis mencari alternatif lain yaitu dengan menganjurkan kepada keluarga untuk tidak membuang urine selama 24 jam dan mengawasi jumlah air yang klien minum. Penulis memberikan kertas observasi pada keluarga untuk mencatat jumlah air yang klien minum dan urine selama 24 jam. Secara konsep pemberian TPN (Total Parenteral Nutrisi) diperlukan oleh klien karena didapatkan data albumin yaitu : 2,9 gr/dl. Tindakan ini tidak dapat terlaksana karena kondisi biaya klien dan tidak adanya fasilitas dari GAKIN. Kesulitan lain terjadi pada saat melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam memonitor kadar kimia darah, AGD (Analisis Gas Darah), urine rutin serta GFR. Hal ini terjadi karena kondisi biaya klien dan keluarga. 4. Tahap Evalusi Pada tahap ini penulis melakukan penilaian dari respon klien terhadap intervensi yang telah diberikan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan. Diagnosa keperawatan pada Ny. W yang teratasi dalam lima hari adalah gangguan rasa nyaman : nyeri dan resiko gangguan integritas kulit : pruritus. Sedangkan diagnosa keperawatan yang tidak semua teratasi sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditetapkan, yaitu : gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan stomatitis, kelelahan berhubungan dengan penurunan perfusi O2 ke jaringan, resiko terjadinya perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka terinfeksi, resiko gangguan keseimbangan cairan : berlebihan dan elektrolit: Hiponatremia berhubungan dengan retensi cairan dan kecemasan : sedang berhubungan dengan hospitalisasi yang lama dan perubahan status kesehatan. Hal ini dimungkinkan karena dalam menentukan batasan waktu terlalu singkat atau karena terapi yang diberikan kurang tepat. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mencari alternatif pemecahannya yaitu dengan melimpahkan asuhan keperawatan pada perawat ruangan agar hasil asuhan keperawatan yang telah penulis berikan kepada klien bisa berkesinambungan.

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik ec nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri di Ruang 2 Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dari tanggal 10-14 Agustus 2005 dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan dari tiap proses keperawatan, yaitu : 1. Tahap pengkajian penulis mendapatkan kesesuaian data klien dengan konsep yaitu pada riwayat kesehatan dahulu, keluhan utama saat pengkajian, data fisik sistem pencernaan, sistem integumen, kecemasan, beberapa pemeriksaan laboratorium darah dan nilai GFR. Sedangkan ketidaksesuaian data ditemukan pada keluhan utama saat masuk Rumah Sakit, riwayat kesehatan keluarga, sistem kardiovaskuler, sistem pernafasan, persyarafan, konstipasi dan beberapa pemeriksaan kimia darah yang tidak sesuai dengan konsep. Secara konsep diagnosa keperawatan yang muncul ada sebelas dan pada klien ditemukan 7 diagnosa keperawatan. 2. Rencana keperawatan yang telah ditetapkan disesuaikan dengan kemampuan, kondisi, sarana dan kebutuhan klien serta melibatkan klien dan keluarga untuk mengatasi masalah keperawatan yang aktual maupun potensial. Perencanaan ditujukan untuk pemenuhan rasa nyaman : nyeri, memenuhi kebutuhan nutrisi, mengurangi kelelahan, mengatasi masalah keseimbangan cairan dan elektrolit, mencegah terjadinya perluasan infeksi, mengatasi gangguan integritas kulit dan mengatasi kecemasan. 3. Tahap pelaksanaan penulis mengalami hambatan karena ada rencana keperawatan yang tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu pendokumentasian intake dan output, pemberian TPN, kolaboratif dengan tim kesehatan lain dalam pemeriksaan kimia darah dan urine rutin, AGD dan GFR. 4. Tahap evaluasi dilakukan secara formatif dan sumatif. Diagnosa keperawatan yang telah teratasi yaitu adalah gangguan rasa nyaman : nyeri dan resiko gangguan integritas kulit : pruritus sedangkan lima diagnosa lainnya teratasi sebagian. B. REKOMENDASI Berdasarkan pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah dilakukan, maka penulis merekomendasikan beberapa hal diantaranya : 1. Perawat ruangan diharapkan dapat melakukan pengawasan serta pendokumentasian secara tepat terhadap intake dan output selama 24 jam, karena klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri perlu pengawasan yang ketat terhadap intake dan output selama 24 jam sesuai dengan kemampuan ginjal klien dalam mengekskresikan cairan.

2. Perawat ruangan diharapkan dapat melakukan tindakan kolaboratif dengan tim kesehatan lain dalam pengawasan kadar kimia darah dan urine rutin, AGD serta nilai GFR untuk menghindari komplikasi yang lebih lanjut. 3. Pihak Rumah Sakit juga diharapkan dapat lebih bekerjasama dalam pemberian fasilitas untuk peserta GAKIN terutama pemberian TPN.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E.Z., 2000, Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah, Jakarta, Grasindo. Black, J.M., and Matassarin, E., 1993, Medical-Surgical Nursing A Psychophysiologic Approach, Philadelphia , W.B. Saunders. Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Alih bahasa Ester, M., Jakarta , EGC. De Jong, W., dan Sjamsuhidajat, R., 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Jakarta , EGC. Departemen Kesehatan RI, 1994, Pedoman Penerapan Proses Keperawatan Di Rumah Sakit, Jakarta , Direktorat rumah Sakit Umum Dan Pendidikan Depatemen Kesehatan RI. Doengoes M.E., et all, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih bahasa Kurniasa, I.M., dan Sumarwati, N.M., Jakarta , EGC.

Denison, R.D., 1996, PASS CCRN, Missouri , Mosby-Year Book. Engram, B., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa Samba, S., Jakarta , EGC. Guyton & Hall, 1997, Fisiologi Kedokteran, Jakarta, EGC Hidayat, A. Azis., 2001, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan, Jakarta , EGC. Ignatavicius, D., et all, 1995, Medical Surgical Nursing A Nursing Proces Approach 2nd Edition, Philadelpia , W.B Saunders Company. Long, B.C., 1996, Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Keperawatan Jilid 3, Alih bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Bandung. Moore, C.M., 1997, Buku Pedoman Terapi Diet Dan Nutrisi Edisi II, Alih bahasa Oswari, L.D., Jakarta , Hipokrates. Moore, K.L, Anne, M, R. Agur, 2002, Anatomi Klinis Dasar, Alih bahasa Hendra Laksman., Jakarta , Hipokrates. Nursalam., 2001, Proses dan Dokumentasi Keperawatan, Jakarta, Salemba Medika Price, S.A., dkk, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku 2, Alih bahasa Peter A., Jakarta , EGC. Purnomo, B.B., 2003, Dasar-dasar Urologi, Edisi 2, Malang, CV. Infomedika. Ramali, A., dan Pamoentjak., 1994, Kamus Kedokteran , Arti dan Keterangan Istilah Edisi Revisi, Jakarta , Djambatan. Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2, Ahli bahasa Kuncara, H.Y., dkk, Jakarta , EGC. Syaifuddin, 1997, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Edisi 2, Jakarta , EGC. Suyono, S., 2001, dkk, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta , Balai Penerbit FKUI. (http,//www.indomedia.com/ tanggal 24 Agustus 2005). (http,//www.mail-archive.com/ tanggal 24 Agustus 2005). (http,//www.pikiran-rakyat.com/ tanggal 24 Agustus 2005).