Anda di halaman 1dari 5

REFLEKSI KASUS A. Deskripsi 1. Identitas Tanggal masuk : 3-10-2012 Jam masuk :10.

00 Nama : wawan nugraha Alamat: kampung kidul mbawen, Gunung Kidul Umur: 21 tahun Tempat tanggal lahir: gunung Kidul 23-3-1991 Jenis kelamin : Laki laki Status: Belum menikah Suku bangsa: jawa Agama: islam Pendidikan : tidak Sekolah Pekerjaan : swasta 2. Anamnesa Keluhan utama : marah marah, mengamuk, tidak mau bergaul Riwayat penyakit sekarang : - Kronologis/perjalanan penyakit : sejak 1 tahun yang lalu sering marah marah, mengamuk, minta sesuatu harus dituruti/dibelikan, menyendiri di kamar - Mendadak/perlahan lahan : perlahan lahan - Resiko mencederai diri: negative Factor yang mendahului - Stressor/psikososial: tidak jelas - Factor organic: negatif Riwayat penyakit dahulu : - Riwayat gangguan jiwa dan riwayat pengobatan: sejak 1 tahun yang lalu - Riwayat gangguan fisik dan riwayat pengobatan : negativ riwayat penyalahguaan obat obatan dan alcohol: negative riwayat kehidupan pribadi : - kepribadian premorbid : pendiam, - riwayat pendidikan: tamat SD< kelas IV tinggal kelas - riwayat perkawinan : belum kawin - riwayat gangguan jiwa dalam keluarga: genogram 3. Pemeriksaan Fisik Vital sign : TD:130/80 suhu: 37 HR: 84 RR:24 4. Pemeriksaan psikiatri Keadaan umum : tampak sakit jiwa,rawat diri cukup

Kesadaran : compos mentis Orientasi : o:sulit dinilai w:baik t:baik s:baik Sikap tingkah laku : normal aktif Roman muka : sedikit normal Afek : tumpul Bentuk pikir : non realistis Isi pikir : waham curiga Progresi pikir : kualitatif : kuantitatif: Halusinasi : dengar Ilusi : Hubungan jiwa : Perhatian : mudah ditarik mudah dicantum Insight: jelek 5. Diagnosis Axis I :F20.0 dd f70.1 Axis II : cenderung skizoid Axis III: belum ada diagnosis Axis IV:tidak jelas Axis V:31-40 6. Terapi : haloperidol 5mg< 1-0-1 Chlorpromazine 100mg 0-0-1/2 Triheksil phenidin 2mg 1-0-1 7. Hasil Laboratorium :

8. Perasaan terhadap pengalaman : saya memilih kasus ini dikarenakan kasus ini adalah kasus yang cukup tinggi angka insidensinya di masyarakat dan juga pasien yang masih berumur remaja membuat kasus ini semakin menarik untuk diangkat dan direfleksikan agar lebih mengetahui angka insidensi pada umur remaja dan factor resiko pada kasus ini 9. Evaluasi pasien tampak normal aktif saat diwawancara, terlihat cukup kooperatif, gelisah, menghindari tatapan mata. Pasien mengaku sering mendengar bisikan bisikan seseorang tetapi tidak terlihat wujudnya sejak 1 tahun yang lalu, pasien awalnya tidak mengindahkan bisikan tersebut tetapi sekarang sangat menganggu pikirannya, dan membuat bingung. Umur pasien yang masih 21 tahun dan riwayat pendidikan yang hanya tamat SD perlu lebih diperdalam dalam hubungannya dengan penyakit nya sekarang.. 10. Analisis :
11. Faktor Resiko
1.

Pengaruh Genetik Perkiraan heritability dari schizophrenia cenderung bervariasi karena kesulitan

memisahkan pengaruh genetika dan lingkungan hidup. Walaupun telah diusulkan studi kembar heritability tingkat tinggi. Kemungkinan bahwa schizophrenia merupakan kondisi kompleks warisan, dengan beberapa gen mungkin berinteraksi untuk menghasilkan resiko schizophrenia terpisah atau komponen yang dapat terjadi mengarah diagnosa. Gen ini akan muncul untuk nonspesifik dimana mereka dapat menimbulkan resiko gila lainnya. Seperti kekacauan gangguan bipolar. Duplikasi dari urutan DNA dalam gen (dikenal sebagai menyalin nomor varian) memungkinkan terjadi peningkatan resiko schizophrenia. Sekelompok peneliti internasional mengidentifikasi tiga variasi baik dari DNA yang diperkirakan meningkatkan penyakit schizophrenia, serta beberapa gen lain yang mempunyai kaitan kuat dengan penyakit ini. David St. Clair seorang psikiater di University of Aberdeen di Scotlandia mengatakan, penemuan ini seperti awal dari jaman baru. Begitu peneliti memahami mekanisme kerja dari proses mutasi, maka obat dan pendekatan baru dapat dikembangkan. Dalam penelitian, peneliti menganalisa gen dari 6.000 10.000 orang dari seluruh dunia yang separuhnya menderita schizophrenia. Mereka menemukan satu mutasi pada kromosom 1, dua pada kromosom 15 dan menetapkan suatu jenis gen yang terkait dengan kondisi schizophrenia pada kromosom 22. Perubahan ini dapat meningkatkan resiko berkembangnya schizophrenia hingga 15 kali lipat. Varian-varian gen yang ditemukan amat berperan dibandingkan mutasi luar biasa lainnya. Mutasi ini terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 orang dibanding 1 dari 10 juta. Peneliti tengah mencari apakah faktor lingkunganikut berperan dalam mutasi ini. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan peneliti adalah menentukan bagaimana penghapusan gen ini mempengaruhi fungsi otak.
2.

Usia Schizophrenia umumnya terjadi pada akhir masa remaja dan awal masa dewasa. Menurut data yang ditunjukkan pusat data schizophrenia AS, tiga perempat pe3nderita schizophrenia berusia 16 25 tahun. Pada kelompok usia 16 25 tahun, schizophrenia mempengaruhi lebih banyak laki-laki dibanding perempuan, sedangkan pada kelompok usia 26 32 tahun penyakit ini lebih banyak menyerang perempuan. Semakin muda saat ditemukan semakin buruk. Sosial Tinggal di perkotaan secara konsisten telah menjadikan faktor resiko mengidap schizophrenia. Keadaan sosial merugikan menjadi faktor resiko, termasuk kemiskinan dan migrasi terkait dengan kesulitan bersosialisasi, diskriminasi ras, pengaruh keluarga atau kondisi rumah miskin. Pengalaman yang menjadi trauma juga salah satu faktor resiko diagnosa schizophrenia dalam kehidupan.

3.

4.

Obat Sekitar setengah dari semua pasien schizophrenia akibat penggunaan narkoba atau alkohol, yang jelas hubungan antara penggunaan narkoba dan schizophrenia sulit untuk dibuktikan. Dengan adanya bukti kuat berdasarkan beberapa studi menunjukkan bahwa cannabis sativa berperan dalam perkembangan schizophrenia. Namun, tak ada bukti cukup untuk alkohol atau narkoba lain. Di sisi lain, penderita schizophrenia diketahui menggunakan obat untuk mengatasi depresi, gelisah dan kesendirian akibat dari kekacauan mereka. Psikologis Sejumlah mekanisme psikologis telah mempengaruhi orang menderita schizophrenia. Ketika dibawah tekanan atau situasi membingungkan, termasuk perhatian yang berlebihan dapat memunculkan penyakit ini. Banyak individu penderita schizophrenia emosinya sangat responsif, itu dapat menyebabkan kerentanan terhadap gejala kekacauan.

5.

12. Riwayat skizofrenia dalam keluarga2. 13. Perilaku premorbid yang ditandai dengan kecurigaan, eksentrik, penarikan diri,dan/atau impulsivitas.3. 14. Stress lingkungan4. 15. Kelahiran pada musim dingin. Faktor ini hanya memiliki nilai prediktif yang sangatkecil.5. 16. Status sosial ekonomi yang rendah sekurang-kurangnya sebagian adalah karenadideritanya gangguan ini
17. Faktor Presipitasi

18. Sosial budaya, hormonal, hipotesa virus, model biological lingkungan sosial, psikologisPerilaku.1. 19. Curiga : tidak mampu mempercayai orang lain, bermusuhan, mengisolasi diri,paranoid2. 20. Manipulasi : kurang asertif, mengisolasi diri, HDR, sangat tergantung.3. 21. Menarik diri/isolasi sosial : kurang spontan, apatis, ekspresi sedih, afek tumpul,menghindar dari orang lain

Skizofrenia mempunyai prevalensi sebesar 1% dari populasi di dunia (rata-rata0,85%) dengan angka insidensi skizofrenia adalah 1 per 10.000 orang per tahun. PrevalensiS k i z o f r e n i a b e r d a s a r k a n j e n i s k e l a m i n , r a s d a n b u d a y a a d a l a h s a m a . W a n i t a c e n d e r u n g mengalami gejala yang lebih ringan, lebih sedikit rawat inap dan fungsi social yang lebih baik di komunitas dibandingkan dengan laki-laki.
Epidemiologi skizofren:
1

Onset skizofrenia pada laki-laki terjadi lebih awal dari pada wanita. Onset puncak pada laki-laki terjadi pada umur 15-25 tahun sedangkan pada wanita terjadi pada usia 25-35tahun. Skizofrenia jarang terjadi pada penderita berusia kurang dari 10 tahun atau lebih dari50 tahun. Penderita skizofrenia 25-50% berusaha untuk bunuh diri dan 10%nya berhasilmelakukan bunuh diri. Factor resiko yang meningkatkan terjadinya kasus bunuh diri pads k i z o f r e n i a a d a l a h g e j a l a d e p r e s i f , u s i a m u d a , t i n g k a t f u n g s i p r a m o r b i d y a n g t i n g g i , halusinasi dengar, usaha bunuh diri sebelumnya, tinggal sendiri, perbaikan setelah relaps,ketergantungan pada rumah sakit, ambisi yang terlalu tinggi dan jenis kelamin lakilak
1,2

22. Kesimpulan : 23. Daftar pustaka:


24. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition, revised. Washington: American Psychiatric Association; 2000. 25. 3. Jeste DV, Dolder CR. Schizophrenia and paranoid disorders. In: Blazer DG, Steffens DC, Busse EW, eds. Essentials of Geriatric Psychiatry. Arlington: American Psychiatric Publishing, Inc.; 2007:177-91. 26. 4. Cohen CI, Magai C, Yaffee R, et al. Racial differences in paranoid ideation and psychoses in an older urban population. Am J Psychiatry 2004;161:864-71. 27. 5. nHoward R, Rubins PV, Seeman MV, et al. Late-onset schizophrenia and very-late-onset schizophrenia-like psychosis: an international consensus. Am J Psychiatry 2000; 157:172-8. 28.