Anda di halaman 1dari 12

GANGGUAN PENGECAPAN I.

EPIDEMIOLOGI Pengecapan adalah fungsi utama dari taste bud di dalam rongga mulut, namun indera penciuman juga sangat berperan pada persepsi pengecapan. Penciuman dan pengecapan sangat berhubungan erat. Serabut pengecap di lidah menentukan rasa dan saraf di hidung menentukan penciuman. Kedua sensasi tersebut dihubungkan ke otak, yang kemudian menggabungkan informasi yang didapat untuk mengenal dan mengapresiasikan rasa.1,2 Selain itu, tekstur makanan seperti yang dideteksi oleh taste bud di rongga mulut dan keberadaan elemen-elemen dalam makanan serta penyajiannya sangat berperan pada pengecapan. Makna penting dari pengecapan terletak pada fakta bahwa hal itu memungkinkan manusia memilih makanan sesuai dengan keinginannya dan mungkin juga sesuai dengan kebutuhan jaringan akan substansi tertentu. Kemampuan untuk mengecap bukan saja tergantung pada taste bud, melainkan juga pada pergerakan lidah. Dengan mendorong makanan di sekitar mulut, lidah akan memilah-milah makanan untuk taste bud.1,3 Sekitar 80% gangguan pengecapan merupakan gangguan penciuman. Hilangnya fungsi penciuman dan atau pengecapan dapat mengancam jiwa penderita karena penderita tidak mampu mendeteksi asap saat kebakaran atau tidak dapat mengenali makanan yang telah basi. Hasil survei tahun 1994 menunjukkan bahwa 2,7 juta penduduk dewasa Amerika menderita gangguan penciuman, sementara 1,1 juta dinyatakan menderita gangguan pengecapan. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 orang mengunjungi dokter dengan gangguan penciuman dan pengecapan setiap tahunnya, tetapi lebih banyak kasus yang tidak dilaporkan.4,5 II. ANATOMI LIDAH Lidah merupakan massa jaringan ikat dan otot lurik yang diliputi oleh membran mukosa. Membran mukosa melekat erat pada otot karena jaringan penyambung lamina propia menembus ke dalam ruang-ruang antar berkas-berkas otot. Pada bagian bawah lidah membran mukosanya halus. Lidah juga merupakan suatu kartilago yang akarnya berada pada bagian posterior rongga mulut dekat dengan katup epiglotis yang menuju ke laring.6

Gambar 1. Anatomi lidah7 Lidah sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot. Otot intrinsik lidah melakukan semua gerakan halus, membuat kita mampu mengubah bentuk lidah (memanjang, memendek, atau membulat), sementara otot ekstrinsik mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya, membuat lidah dapat bergerak mengelilingi rongga mulut dan faring serta melaksanakan gerakan-gerakan kasar yang sangat penting pada saat mengunyah dan menelan. Lidah mengaduk makanan, menekannya pada langit-langit dan gigi yang akhirnya mendorongnya masuk faring.8,9

Gambar 2. Otot-otot instrinsik lidah10

Gambar 3. Otot-otot ekstrinsik lidah10 Secara garis besar lidah dapat terbagi menjadi dua bagian, yaitu 2/3 depan (apeks) dan 1/3 belakang (dorsum). Bagian depan lidah sangat fleksibel dan bekerja sama dengan gigi dalam pengucapan huruf. Bagian tersebut juga membantu untuk menggerakkan makanan ke segala arah saat mengunyah. Lidah juga mendorong makanan kembali ke permukaan gigi sehingga gigi dapat mengunyahnya. Bagian belakang lidah juga penting untuk mengunyah. Begitu makanan sudah halus dan tercampur dengan saliva

atau pada saat meludah otot-otot belakang lidah bekerja. Otot tersebut bersama saliva mengangkat dan mendorong makanan masuk esophagus.9 Lidah terletak pada dasar mulut, ujung serta pinggiran lidah bersentuhan dengan gigi-gigi bawah, sementara dorsum merupakan permukaan melengkung pada bagian atas lidah. Bila lidah digulung ke belakang, maka tampaklah permukaan bawahnya yang disebut frenulum linguae, sebuah struktur ligamen halus yang mengaitkan bagian posterior lidah pada dasar mulut. Bagian anterior lidah bebas tidak terkait. Bila dijulurkan, maka ujung lidah meruncing, dan bila terletak tenang di dasar mulut, maka ujung lidah berbentuk bulat.8 Lidah merupakan bagian tubuh yang penting untuk pengecapan, terdapat reseptor untuk merasakan respon rasa manis, asam, asin, dan pahit. Reseptor ini peka terhadap stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor. Reseptor tersebut ada yang tersebar di rongga mulut, faring, dan laring, serta ada pula yang berkelompok dalam tonjolan-tonjolan epitel permukaan lidah yang disebut papilla, akibatnya permukaan lidah menjadi tidak rata. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di tempat yang berbeda. Terdapat empat jenis papilla, yaitu ;6,8,9

1. Filiformis, terdapat di bagian posterior lidah. Papilla ini sangat banyak diseluruh permukaan lidah
dan tidak mengandung vili pengecap. Papilla filiformis lebih berfungsi untuk menerima rasa sentuh, daripada rasa pengecapan yang sebenarnya.

2. Fungiformis, di bagian anterior lidah dan diantara filiformis, menyebar pada permukaan ujung dan
sisi lidah. Menyerupai jamur karena mempunyai tangkai yang sempit, permukaan halus, bagian atas melebar, mengandung vili pengecap, tersebar di permukaan atas lidah, dan epitel berlapis pipih tidak bertanduk.

3. Foliata, pada pangkal lidah bagian lateral dan terdapat beberapa tonjolan-tonjolan padat. 4. Sirkumvalata, papilla yang sangat besar dengan permukaan yang pipih meluas di atas papilla lain,
susunan seperti parit, tersebar di daerah V bagian posterior lidah. Terdapat delapan hingga dua belas buah dari papilla ini yang terletak pada bagian dasar lidah. Banyak kelenjar mukosa dan serosin, serta banyak vili pengecap yang terdapat di sepanjang sisi papilla.

Gambar 4. Papilla lidah11 Setiap vili pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan sel penunjang, pada sel pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang memanjang ke taste pores. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai vili pengecap melalui taste pores. Papilla dapat merespon empat rasa dasar, yaitu manis, asam, asin, dan pahit. Letak masing-masing rasa berbeda-beda yaitu manis di lidah bagian depan, asin di lidah bagian tepi, asam di lidah bagian samping, dan pahit di lidah bagian belakang.6 III. FISIOLOGI PENGECAPAN Pengenalan ciri-ciri bahan kimia spesifik yang mampu merangsang berbagai reseptor kecap masih belum lengkap. Walaupun begitu, penelitian yang bersifat psikofisiologik dan neurofisiologik telah mengenali sedikitnya 13 reseptor kimia yang mungkin ada pada sel-sel pengecap, yaitu sebagai berikut: 2 reseptor natrium, 2 reseptor kalium, 1 reseptor klorida, 1 reseptor adenosin, 1 reseptor ionosin, 2 reseptor manis, 2 reseptor pahit, 1 reseptor glutamat, dan 1 reseptor ion hidrogen.1 Dari analisis pengecapan praktis, kemampuan reseptor diatas dikumpulkan menjadi 4 kategori umum yang disebut sensasi utama pengecapan. Keempat kategori tersebut adalah manis, asam, asin, dan pahit. Namun, beberapa ilmuwan menyatakan ada rasa yang kelima yang mereka sebut umami. Umami adalah rasa yang khas untuk daging, beberapa keju tertentu, dan jamur.1,3 III.2. Ambang Batas Pengecapan Kepekaan terhadap rasa pahit lebih kuat dibandingkan rasa yang lain, yang memang diperlukan karena sensasi ini memberikan fungsi perlindungan yang penting. Banyak manusia mempunyai pengecapan yang tidak peka terhadap substansi-substansi tertentu, khususnya untuk berbagai tipe komponen tiourea. Sebuah substansi yang sering digunakan oleh para ahli psikologis untuk memperlihatkan ketidakpekaan

III.1. Sensasi Pengecapan Utama

pengecapan adalah feniltiokarbamida, dimana sekitar 15-30% dari manusia memperlihatkan ketidakpekaan pengecapan, persentase yang sesungguhnya bergantung pada metode pengujian dan konsentrasi substansi.1 III.3. Indera Pengecap dan Fungsinya Indera pengecap mempunyai diameter sekitar 1/30 milimeter dan panjang 1/16 milimeter. Indera pengecap terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel yang termodifikasi, beberapa diantaranya disebut sebagai sel sustentakular dan lainnya disebut sebagai sel pengecap. Sel-sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel-sel epitel di sekitarnya, sehingga beberapa diantaranya adalah sel muda dan lainnya adalah sel matang yang terletak ke arah bagian tengah indera dan akan segera terurai dan larut.1 Ujung-ujung luar dari sel pengecap tersusun di sekitar taste pores yang sangat kecil. Dari ujungujung setiap sel, beberapa mikrovili menonjol keluar menuju taste pores, mengarah ke rongga mulut. Mikrovili ini dianggap memberikan permukaan reseptor untuk pengecapan.1 Anyaman antara sel-sel pengecap merupakan rangkaian percabangan terminal dari beberapa serabut-serabut saraf pengecap yang dirangsang oleh sel-sel reseptor pengecap. Beberapa dari serabutserabut ini berinvaginasi menjadi lipatan-lipatan membran sel pengecap. Banyak vesikel membentuk membran sel di dekat serabut. Telah diduga bahwa vesikel ini mengandung substansi neurotransmitter yang dilepaskan melalui membran sel untuk merangsang ujung-ujung serabut saraf dalam responsnya terhadap rangsang kecap.1 III.4. Lokasi Indera Pengecap Indera pengecap ditemukan pada tiga tipe papilla lidah, sebagai berikut ;1 (1). Sejumlah besar indera pengecap terletak di dinding saluran yang mengelilingi papilla sirkumvalata, yang membentuk garis V pada permukaan posterior lidah.

(2). Sejumlah indera pengecap terletak pada papilla fungiformis di atas permukaan depan dari lidah.
(3). Sejumlah lainnya terletak pada papilla foliata yang terdapat di lipatan-lipatan di sepanjang permukaan lateral lidah. Indera pengecap tambahan terletak pada palatum dan beberapa di antaranya pada pilar tonsilar, epiglotis, dan bahkan di esofagus bagian proksimal. Orang dewasa mempunyai 3000 sampai 10.000 indera pengecap, sedangkan anak-anak mempunyai lebih sedikit. Di atas usia 45 tahun banyak indera pengecap mengalami degenerasi, menyebabkan sensasi pengecapan menjadi berkurang.1 Hal yang sangat penting dalam hubungannya dengan pengecapan adalah kecenderungan indera pengecap untuk melayani sensasi utama tertentu yang terletak di daerah-daerah khusus. Rasa manis dan asin terutama terletak pada ujung lidah, rasa asam pada dua pertiga bagian samping lidah, dan rasa pahit pada bagian posterior lidah dan palatum mole.1

asam asin

asam asin

Gambar 5. Indera pengecapan di permukaan lidah11 III.5. Mekanisme Rangsang Indera Pengecap Mekanisme reaksi antara substansi perangsang dengan vili pengecap untuk memulai potensial reseptor adalah dengan pengikatan zat kimia kecap pada molekul reseptor protein yang menonjol melalui membran vili. Hal ini kemudian membuka saluran ion, yang membuat ion natrium masuk dan mendepolarisasi sel. Selanjutnya, zat kimia kecap secara bertahap dibersihkan dari vili pengecap oleh saliva, yang menghilangkan rangsangan.1 Pada penerapan rangsang pengecap yang pertama kali, laju kecepatan pelepasan impuls dari serabut saraf akan meningkat sampai puncaknya dalam waktu beberapa detik, tetapi kemudian akan beradaptasi dalam waktu 2 detik berikutnya sampai ke kadar yang lebih rendah dan stabil. Jadi, sinyal segera yang kuat akan ditransmisikan oleh saraf pengecap, dan sinyal kontinu yang lebih lemah akan ditransmisikan sepanjang indera pengecap dan tetap terpapar terhadap rangsang pengecap.1 III.6. Transmisi Sinyal Pengecap ke Sistem Saraf Pusat Impuls pengecap dari dua pertiga anterior lidah mula-mula akan diteruskan ke N. trigeminus, kemudian melalui korda timpani menuju ke N. facialis, dan akhirnya ke traktus solitarius pada batang otak. Sensasi pengecap dari papilla sirkumvalata pada bagian belakang lidah dan dari daerah posterior rongga mulut yang lain akan ditransmisikan melalui N. glossofaringeus ke traktus solitarius tetapi pada ketinggian yang sedikit lebih rendah. Akhirnya, beberapa sinyal pengecap akan ditransmisikan ke traktus solitarius dari basis lidah dan bagian-bagian dari daerah faring melalui N. vagus. Semua serabut pengecap bersinaps pada nukleus traktus solitarius dan meneruskan neuron ke daerah talamus. 1

Bagan 1. Transmisi impuls pengecap ke sistem saraf pusat12 IV. GANGGUAN PENGECAPAN Gangguan pengecapan dapat terjadi apabila terdapat suatu bahan yang dapat merubah sensitivitas rasa sehingga lidah tidak dapat mendeteksi rasa dengan benar. Selain itu, gangguan pengecapan dapat disebabkan karena adanya destruksi dari taste bud. Gangguan pengecapan adalah gangguan rasa manis, asam, asin, dan pahit. Hal ini menyebabkan nafsu makan menurun sehingga tidak jarang mengakibatkan defisiensi protein dan kalori. Pengecapan dapat berkurang sedikit, hilang sama sekali, atau timbul rasa baru, disebut metallic medicinal.13,14 IV.2. Etiologi Beberapa penyebab terjadinya gangguan pengecapan, sebagai berikut :15,16

IV.1. Definisi

1. Drug induced dapat menyebabkan ageusia dan phantogeusia.

Misalnya : penisilamin, griseofulvin, metronidazole, dan litium karbonat.

2. Post influenza like hipogeusia dan hiposmia


Gangguan penciuman dan pengecapan selama mengidap penyakit saluran napas.

3. Acute zinc loss


Zinc merupakan kofaktor pembentukan alkaline fosfatase, enzim yang banyak pada membran taste bud. Defisiensi zinc dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pengecapan berupa ageusia dan hipogeusia.

4. Lesi atau cedera pada mukosa lidah, taste bud, atau saraf kranial ke batang otak.
Kerusakan N. IX (N. glosofaringeus) mengakibatkan gangguan pengecapan 1/3 posterior lidah, menyebabkan ageusia, disgeusia, dan hipogeusia.

5. Gangguan produksi saliva, sangat berpengaruh dalam hal pengecapan. Suatu zat makanan hanya
dapat dinikmati rasanya jika larut dalam saliva. Melalui taste pores suatu zat dapat mencapai sel-sel pengecap dan mempengaruhi ujung-ujung sel pengecap dan melalui serabut saraf seseorang dapat merasakan rasa makanan. Dengan berkurangnya produksi saliva, sel-sel pengecap akan mengalami kesulitan dalam menerima rangsang rasa yang dapat menyebabkan terjadinya ageusia dan hipogeusia.

6. Gangguan pada rongga dan mukosa mulut yang meliputi infeksi, inflamasi, dan mukositis akibat
pajanan radiasi yang dapat merusak sensasi rasa berupa ageusia dan phantogeusia. Lesi akibat radioterapi yaitu pada mikrovili taste bud.

7. Proses degeneratif pada sistem saraf pusat (parkinson, alzheimer disease, proses penuaan normal)
dapat menyebabkan berkurangnya fungsi pengecapan (hipogeusia), dimana penurunannya terlihat paling menonjol pada usia dekade ketujuh.

8. Pada proses penuaan normal dapat menyebabkan berkurangnya rasa pengecapan akibat perubahan
pada membran sel-sel pengecapan. Pada awal kelahiran, manusia memiliki 10.000 taste bud, tetapi setelah usia 50 tahun, taste bud akan mengalami penurunan fungsi bahkan banyak yang mengalami kematian sehingga taste bud berkurang. Selain itu, pada usia lanjut produksi saliva berkurang yang dapat menyebabkan mukosa rongga mulut menjadi kering dan rentan terhadap gesekan. Gesekan ini akan menambah dampak pengurangan taste bud pada usia lanjut. Akibat proses penuaan normal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan pengecapan berupa ageusia dan hipogeusia.

9. Kebersihan mulut yang buruk dapat menyebabkan gangguan pengecapan berupa hipogeusia dan
cacogeusia.

10. Keganasan pada kepala dan leher dapat mengakibatkan berkurangnya nafsu makan (hipogeusia)
dan ketidakmampuan dalam mendeteksi suatu rasa (ageusia).

11. Gangguan endokrin dapat terlibat dalam gangguan pengecapan. Diabetes melitus, hipogonadisme,
dan pseudohipoparatiroid dapat mengurangi sensasi rasa (hipogeusia). Sedangkan hipotiroid dan defisiensi korteks adrenal dapat meningkatkan sensasi rasa.

12. Gejala yang khas pada anemia defisiensi besi adalah atrofi papilla lidah. Permukaan lidah menjadi
licin dan mengkilap karena papilla lidah menghilang. Atrofi papilla lidah ini dapat menyebabkan gangguan pengecapan berupa ageusia dan hipogeusia.

13. Penyakit herediter Disautonomia Familial tipe I seperti Sindrom Riley-Day menyebabkan
penurunan (hipogeusia) atau hilangnya sensasi rasa (ageusia) karena tidak berkembangnya taste bud. IV.3. Manifestasi Klinis Gangguan pengecapan berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan sebagai berikut :3,15,16

1. Ageusia adalah hilangnya daya pengecapan secara total, parsial, dan spesifik.
Penyebabnya adalah berbagai keadaan yang mempengaruhi lidah, seperti mulut yang sangat kering, perokok berat, terapi penyinaran pada kepala dan leher, dan efek samping dari obat misalnya vinkristin (antikanker) atau amitriptilin (obat antidepresi). pahit. tidak seluruhnya. Ageusia parsial adalah kemampuan untuk mengenali sebagian rasa, tetapi Ageusia total adalah ketidakmampuan mengenali rasa manis, asam, asin, dan

zat tertentu.

Ageusia spesifik adalah ketidakmampuan untuk mengenali kualitas rasa pada

2. Disgeusia adalah berubahnya daya pengecapan.


Penyebabnya bisa berupa luka bakar pada lidah (kerusakan pada jonjot-jonjot pengecapan), Bells palsy (berkurangnya pengecapan pada salah satu sisi lidah), dan depresi.

3. Hipogeusia adalah berkurangnya daya pengecapan.


Penyebabnya adalah kerusakan N. glosofaringeus dan kebersihan mulut yang buruk.

4. Cacogeusia adalah gangguan pengecapan yang ditandai sensasi rasa yang tidak enak pada
makanan, dapat disebabkan karena kebersihan mulut yang buruk.

5. Phantogeusia adalah gangguan pengecapan yang ditandai dengan rasa yang tidak enak di mulut,
yang dikenal dengan metallic phantogeusia. Penyebabnya adalah obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, antidepresan, dan antihipertensi, serta merupakan reaksi yang normal terhadap pengobatan kemoterapi dan radioterapi. IV.4. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis gangguan pengecapan dilakukan anamnesis tentang riwayat penyakit, ada tidaknya infeksi saluran napas, gangguan pada hidung, riwayat trauma, gangguan medis lain, dan pengobatan yang didapat, serta lakukan pemeriksaan fisik. Keadaan mulut diperiksa, untuk melihat kemungkinan adanya infeksi atau mulut kering.5

10

The drop technique, digunakan 4 macam rasa manis (gula pasir), kecut/asam (larutan asam cuka atau jus jeruk), asin (larutan garam), dan pahit (kinin, aspirin, atau lidah buaya). Kehilangan pengecapan dapat diperiksa menggunakan konsentrasi terendah dari bahan tes. Penderita diminta untuk mengidentifikasi rasa dari bahan tes yang diletakkan diatas lidah sambil menutup hidung.2,15,16 Elektrogustometri merupakan tes pengecapan secara kuantitatif. Penderita diminta untuk membandingkan rasa dari bahan tes yang berbeda atau bagaimana intensitas dari rasa saat konsentrasi bahan kimia ditingkatkan.15,16 Biopsi papila foliata atau fungiformis untuk pemeriksaan histopatologi dari vili pengecap. Pemeriksaan laboratorium sederhana, untuk melakukan pemeriksaan sehubungan dengan penyakit yang didapatkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik, seperti alergi, diabetes melitus, fungsi tiroid, ginjal, hepar, dan endokrin. CT scan sinus dapat dilakukan jika ada indikasi setelah melalui hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan MRI otak sering kali dianjurkan jika riwayat penyakit tidak jelas dan terdapat gejala neurologis.5,16 IV.5. Penatalaksanaan Penatalaksanaan gangguan pengecapan berdasarkan penyebabnya, yaitu :15,16

a. b. c. d.
inflamasi. e.

Menghentikan semua obat yang menyebabkan gangguan pengecapan, kecuali jika obat

tersebut sangat penting dalam mengobati masalah medis lain dan tidak dapat digantikan. Pemeriksaan ada tidaknya kelainan pada hidung yang menyebabkan penurunan fungsi

penciuman yang selanjutnya mempengaruhi fungsi pengecapan. Zinc sulfat 110 mg/hari/oral. Perbaikan fungsi dapat terlihat selama lebih dari 12 bulan. Pengobatan pada gangguan mukosa mulut, seperti infeksi bakteri dan fungus serta Nasehati pasien bahwa dengan mengunyah makanan dengan baik dapat meningkatkan

produksi saliva, sehingga dapat meningkatkan sensasi rasa.

f.
g.

Pada mukositis atau mulut kering akibat radioterapi diberikan stimulan saliva atau saliva Menjaga kebersihan mulut. Memperbaiki gangguan endokrin melalui terapi hormonal. Pada penyakit herediter Disautonomia Familial tipe I seperti Sindrom Riley-Day dimana

artificial dan antiinflamasi lokal untuk meningkatkan fungsi pengecapan.

h. i.

taste bud tidak ada sama sekali dapat diberikan metakolin subkutan untuk menormalkan tingginya ambang rasa untuk semua sensasi rasa.

j.

Menjaga mulut agar tetap basah dengan cara mengunyah permen.

V. KESIMPULAN

11

Pengecapan adalah fungsi utama dari taste bud, namun indera penciuman juga berperan pada persepsi pengecapan. Selain itu, tekstur makanan seperti yang dideteksi oleh taste bud dan keberadaan elemen-elemen dalam makanan sangat berperan pada pengecapan. Kemampuan untuk mengecap bukan saja tergantung pada taste bud, melainkan juga pada pergerakan lidah. Dengan mendorong makanan di sekitar mulut, lidah akan memilah-milah makanan untuk taste bud.1,3 Lidah merupakan bagian tubuh yang penting untuk pengecapan, terdapat reseptor untuk merasakan respon rasa manis, asam, asin, dan pahit. Reseptor ini peka terhadap stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor. Rasa manis dan asin terutama terletak pada ujung lidah, rasa asam pada dua pertiga bagian samping lidah, dan rasa pahit pada bagian posterior lidah dan palatum mole.1,6 Gangguan pengecapan dapat terjadi karena adanya destruksi taste bud atau terdapat bahan yang dapat merubah sensitivitas rasa sehingga lidah tidak dapat mendeteksi rasa dengan benar. Gangguan pengecapan adalah gangguan rasa manis, asam, asin, dan pahit. Hal ini menyebabkan nafsu makan menurun sehingga tidak jarang mengakibatkan defisiensi protein dan kalori. Pengecapan dapat berkurang sedikit, hilang sama sekali, atau timbul rasa baru.13,14 Untuk menegakkan diagnosis gangguan pengecapan dilakukan anamnesis tentang riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Penatalaksanaan yang diberikan sesuai dengan penyebab dari gangguan pengecapan.5

12