BAB I

PENDAHULUAN

Air merupakan sumber daya alam yang semakin hari semakin terbatas
persediannya untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Berdasarkan jumlah tempat
untuk memperolehnya, air terdapat di laut dengan jumlah yang paling besar, yang
kedua air berada di dalam permukaan tanah, dan yang ketiga berada di atmosfer.
Meskipun berupa air juga, namun sifat air dari ketiga tempat tersebut berbeda-beda. Air
dari laut memiliki rasa yang asin, dan di dalam permukaan tanah adalah air dengan
kualitas yang lebih baik, yaitu air tawar, dan yang terakhir adalah air yang berada di
atmosfer, yaitu dalam bentuk butir-butir air hasil penguapan air hujan.
Beberapa hal penting yang menyebabkan eratnya hubungan manusia dengan
sumber daya air, dapat disebutkan antara lain :
a. Kebutuhan manusia akan kebutuhan makanan nabati.
Untuk kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan juga makanan nabati. Jenis
makanan ini didapat manusia dari usahanya dalam mengolah tanah dengan tumbuhan
penghasil makanan. Untuk keperluan tumbuh dan berkembangnya, tanaman tersebut
memerlukan penanganan khusus, terutama dalam pengaturan akan kebutuhan airnya.
Manusia kemudian membuat bangunan dan saluran yang berfungsi sebagai prasarana
pengambil, pengatur dan pembagi air sungai untuk pembasahan lahan pertaniannya.
Bangunan pengambil air tersebut berupa bangunan yang sederhana dan sementara
berupa tumpukan batu, kayu dan tanah, sampai dengan bangunan yang permanen
seperti bendung, waduk dan bangunan-bangunan lainnya.
b.

Kebutuhan manusia akan kenyamanan dan keamanan hidupnya.
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 1
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Seperti telah diketahui bersama, dalam keadaan biasa dan normal, sungai adalah
mitra yang baik bagi kehidupan manusia. Namun, dalam keadaan dan saatsaat tertentu,
sungaipun adalah musuh manusia yang akan merusak kenyamanan dan keamanan
hidupnya. Pada setiap kejadian dan kegiatan yang ditimbulkan oleh sifat dan perilaku
sungai, manusia kemudian berfikir dan berupaya untuk sebanyak-banyaknya
memanfaatkan sifat dan perilaku sungai yang menguntungkan dan memperkecil atau
bahkan berusaha menghilangkan sifat yang merugikan kehidupannya. Manusia lalu
membangun bangunan-bangunan air sepanjang sungai yang bertujuan untuk
memanfaatkan sumber daya air sungai, misalnya bendungan-bendungan,pusat listrik
tenaga air ataupun membuat bangunan yang diharapkan akan dapat melindungi
manusia terhadap beneana yang ditimbulkan oleh perilaku sungai, misalnya waduk,
krib, tanggul, penahan lereng, bronjong dan fasilitas lainnya.
Kenyataan sejarah pun kemudian membuktikan, bahwa manusia yang tidak bisa
bersahabat dan melestarikan keberadaan sumber daya air yang ada, akan surut dan
runtuh kejayaannya. Kehancuran tersebut tidak hanya semata-mata karena disebabkan
oleh bencana yang ditimbulkan oleh perilaku alam, namun kebanyak merupakan proses
akibat menurunnya fungsi sumber daya air sungai sehingga mematikan beberapa sarana
dan prasarana yang penting bagi kehidupan manusia.
Iklim turut mempengaruhi keberadaan air di muka bumi ini. Keadaan iklim yang
tidak menentu membuat keberadaan air juga menjadi tidak jelas. Di Indonesia sendiri
misalnya, pada waktu musim kemarau, beberapa daerah mengalami kekeringan, dan
ketika musim hujan tiba, mengalami banjir. Oleh karena itu, di butuhkan pengelolaan
air dan tentunya juga lahan yang baik. Pengelolaan air irigasi merupakan cara
pendayagunaan keterampilan-keterampilan, fisis, biologis, kemis, dan sumber daya

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 2
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

sosial untuk menyediakan air dalam rangka memperbaiki produksi pangan dan seratseratan.
Untuk menunjang pengelolaan air irigasi tersebut maka dibuatlah suatu jaringan
irigasi.Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan
untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian,
pemberian dan penggunaannya.
Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan jaringan tersier.
Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran sekunder. Sedangkan
jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang berada dalam petak tersier.
Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jarigan irigasi disebut dengan
Daerah Irigasi.

1.1. Sejarah Irigasi
Secara umum menjelaskan perkembangan mulai dari adanya usaha pembuatan
irigasi sangat sedehana, perkembangan irigasi di Mesir, Babilonia, India,dll kemudian
bagaimana perkembangan irigasi di Indonesia sampai saat sekarang.

Irigasi Mesir Kuno dan Tradisional Nusantara
Sejak Mesir Kuno telah dikenal dengan memanfaatkan Sungai Nil. Di Indonesia

irigasi tradisional telah juga berlangsung sejak nenek moyang kita. Hal ini dapat dilihat
juga cara bercocok tanam pada masa kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Dengan
membendung kali secara bergantian untuk dialirkan ke sawah. Cara lain adalah mencari
sumber air pegunungan dan dialirkan dengan bambu yang bersambung. Ada juga
dengan membawa dengan ember yang terbuat dari daun pinang atau menimba dari kali
yang dilemparkan ke sawah dengan ember daun pinang juga.

Sistem Irigasi Zaman Hindia Belanda
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 3
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Sistem irigasi adalah salah satu upaya Belanda dalam melaksanakan Tanam Paksa
(Cultuurstelsel) pada tahun 1830. Pemerintah Hindia Belanda dalam Tanam Paksa
tersebut mengupayakan agar semua lahan yang dicetak untuk persawahan maupun
perkebunan harus menghasilkan panen yang optimal dalam mengeksplotasi tanah
jajahannya.
Sistem irigasi yang dulu telah mengenal saluran primer, sekunder, ataupun
tersier. Tetapi sumber air belum memakai sistem Waduk Serbaguna seperti TVA di
Amerika Serikat. Air dalam irigasi lama disalurkan dari sumber kali yang disusun
dalam sistem irigasi terpadu, untuk memenuhi pengairan persawahan, di mana para
petani diharuskan membayar uang iuran sewa pemakaian air untuk sawahnya.
Di Bali, irigasi sudah ada sebelum tahun 1343 M, hal ini terbukti dengan adanya
sedahan (petugas yang melakukan koordinasi atas subak-subak dan mengurus
pemungutan pajak atas tanah wilayahnya). Sedangkan pengertian subak adalah “ Suatu
masyarakat hukum adat di Bali yang bersifat sosio agraris relegius yang secra histories
tumbuh dan berkembang sebagai suatu organisasi di bidang tataguna air di tingkat
usaha tani” (PP. 23 tahun 1982, tentang Irigasi).

1.2 Pengertian Irigasi
irigasi yaitu merupakan suatu proses pengaliran air dari sumber air ke system
pertanian. Irigasi adalah proses penambahan air untuk memenuhi kebutuhan lengas
tanah bagi pertumbuhan tanaman (Israelsen & Hansen, 1980).Irigasi adalah usaha
penyediaan, pengaturan dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya
meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan
tambak (PP 20/2006). Tindakan intervensi manusia untuk mengubah agihan air dari

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 4
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

sumbernya menurut ruang dan waktu serta mengelola sebagian atau seluruh jumlah
tersebut untuk menaikkan produksi tanaman (Small & Svendsen, 1992).
Beberapa Pengertian Irigasi :
a. Daerah pengaliran : adalah daerah pada pengaliran sungai (DPS), dimana apabila
terjadi

peristiwa-peristiwa

alam

dan

perubahan

hidro-klimatologi,

akan

mempengaruhi kondisi pengaliran pada sungai tersebut.
b. Daerah irigasi atau daerah pengairan : adalah kesatuan wilayah atau daerah yang
mendapat air dari satu jaringan irigasi.
c.

Daerah potensial : adalah daerah yang mempunyai kemungkinan baik untuk
dikembangkan.

d. Daerah fungsional : adalah bagian dari daerah potensial yang telah memiliki
jaringan irigasi yang telah dikembangkan; luas daerah fungsional ini sama atau
lebih keeil dari daerah potensial.
e. Jaringan irigasi : adalah saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan
diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari penyediaan, pengambilan,
pembagian, pemberian dan penggunannya.
f. Petak irigasi : adalah petak lahan yang memperoleh pemberian air irigasi dari satu
jaringan irigasi.
g. Penyediaan irigasi : adalah penentuan banyaknya air yang dapat dipergunakan
untuk menunjang pertanian.
h. Pembagian air irigasi : adalah penyaluran air yang dilaksanakan oleh pihak yang
berwenang dalam ekspoitasi pada jaringan irigasi utama hingga ke petak tersier.
i. Pemberian air irigasi : adalah penyaluran jatah air irigasi dari jaringan utama ke
petak tersier.
j. Penggunaan air irigasi : adalah pemanfaatan air irigasi di tingkat usaha tani.
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 5
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Sedangkan menurut PP RI No. 77 tahun 2001 mengenai irigasi, mendefinisikan
Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah,
termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang
dimanfaatkan di darat. Sumber air adalah wadah atau tempat air baik yang terdapat
pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah. Irigasi adalah usaha penyediaan dan
pengaturan air untuk menunjang pertanian, yang jenisnya meliputi irigasi air
permukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.
Daerah irigasi adalah kesatuan wilayah yang mendapat air dari satu jaringan
irigasi. Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang
merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari
penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian yang berada dalam satu system
irigasi, mulai dari bangunan utama, saluran induk atau primer, saluran sekunder, dan
bangunan sadap serta bangunan pelengkapnya.
Jaringan tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana
pelayanan air di dalam petak tersier yang terdiri dari saluran pembawa yang disebut
saluran tersier, saluran pembagi yang disebut saluran kuarter dan saluran pembuang
berikut saluran bangunan turutan serta pelengkapnya, termasuk jaringan irigasi pompa
yang luas areal pelayanannya disamakan dengan areal tersier. Petak irigasi adalah petak
lahan yang memperoleh air irigasi. Petak tersier adalah kumpulan petak irigasi yang
merupakan kesatuan dan mendapatkan air irigasi melalui saluran tersier yang sama.
Penyediaan air irigasi adalah penentuan banyaknya air per satuan waktu dan saat
pemberian air yang dapat dipergunakan untuk menunjang pertanian. Pembagian air
irigasi adalah penyaluran air dalam jaringan utama. Pemberian air irigasi adalah alokasi
air dari jaringan utama ke petak tersier dan kuaerter. Penggunaan air irigasi adalah
pemanfaatan air di lahan pertanian.
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 6
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Waduk adalah tempat atau wadah penampungan air di sungai agar dapat
digunakan untuk irigasi maupun keperluan lainnya. Waduk lapangan atau embung
adalah tempat atau wadah penampungan air irigasi pada waktu terjadi surplus air di
sungai atau air hujan. Pembangunan jaringan irigasi adalah seluruh kegiatan
penyediaan jaringan irigasi di wilayah tertentu yang belum ada jaringan irigasinya atau
penyediaan jaringan irigasi untuk menambah areal pelayanan.
Pengelolaan irigasi adalah segala usaha pendayagunaan air irigasi yang meliputi
operasi dan pemeliharaan, pengamanan, rehabilitasi, dan peningkatan jaringan irigasi.
Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi adalah kegiatan pengaturan air dan jaringan
irigasi

yang meliputi

penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan

pembuangannya, termasuk usaha mempertahankan kondisi jaringan irigasi agar tetap
berfungsi dengan baik. Pengamanan jaringan irigasi adalah adalah upaya untuk
mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan
oleh daya rusak air, hewan, atau oleh manusia guna mempertahankan fungsi jaringan
irigasi.
Irigasi merupakan suatu ilmu yang memanfaatkan air untuk tanaan mulai dari
tumbuh sampai masa panen. Air tersebut diambil dari sumbernya, dibawa melalui
saluran, dibagikan kepada tanaman yang memerlukan secara teratur, dan setelah air
tersebut terpakai, kemudian dibuang melalui saluran pembuang menuju sungai kembali.
Irigasi dikehendaki dalam situasi:
(a) bila jumlah curah hujan lebih kecil dari pada kebutuhan tanaman;
(b) bila jumlah curah hujan mencukupi tetapi distribusi dari curah hujan tidak
bersamaan dengan waktu yang dikehendaki tanaman.

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 7
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

1.3 Maksud Dan Tujuan Irigasi
Tujuan utama irigasi adalah untuk: Membasahi tanah, merabuk, mengatur suhu
tanah, kolmatase, membersihkan air kotor, meninggikan air tanah, pemeliharaan ikan.
Tujuan pembuatan suatu bangunan air di sungai adalah sebagai upaya manusia untuk
meningkatkan faktor yang menguntungkan dan memperkecil atau menghilangkan
faktor yang merugikan dari suatu sumber daya air terhadap kehidupan manusia.
Manfaat dari suatu bangunan air di sungai adalah untuk membantu manusia dalam
kelangsungan hidupnya, dalam upaya penyediaan makanan nabati dan memperbesar
rasa aman dan kenyamanan hidup manusia terutama yang hidup di lembah dan di tepi
sungai. Tujuan irigasi pada suatu daerah adalah upaya untuk penyediaan dan
pengaturan air untuk menunjang pertanian, dari sumber air ke daerah yang memerlukan
dan mendistribusikan secara teknis dan sistematis.
Adapun manfaat suatu sistem irigasi adalah :
a. untuk membasahi tanah, yaitu membantu pembasahan tanah pada daerah
yang curah hujannya kurang atua tidak menentu.
b. untuk mengatur pembasahan tanah, yang dimaksudkan agar daerah pertanaindapat
di airi sepanajng waktu, baik pada musim kemarau mupun pada musim penghujan.
c. untuk menyuburkan tanah, yaitu dengan mengalirkan air yang mengandung lumpur
pada daerah pertanian sehingga tanah dapat menerima unsur-unrur penyubur.
d. untuk kolmatase, yaitu meninggikan tanah yang rendah (rawa) dengan endapan
lumpur yang dikandung oleh air irigasi.
e. untuk penggelontoran air di kota, yaitu dengan menggunakan air irigasi,
kotoran/sampah di kota digelontor ke tempat yang telah disediakan dan selanjutnya
dibasmi secara alamiah.

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 8
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

f. pada daerah dingin, dengan mengalirkan air yang suhunya lebih tinggi daripada
tanah, dimungkinkan untuk mengadakan pertanianjuga pada musim tersebut.

Irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan
produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan
masyarakat, khususnya petani, yang diwujudkan melalui keberlanjutan sistem irigasi
dalam hal ini perencanaan irigasi harus memperhatikan:
(1) partisipasi pengguna air terutama petani,
(2) terpadu,
(3) berwawasan lingkungan hidup,
(4) transparan,
(5) akuntabel,
(6) berkeadilan.
1. Partisipasi pengguna air
Penggunaan air irigasi adalah kegiatan memanfaatkan air dari petak tersier untuk
mengairi lahan pertanian pada saat diperlukan. Petani merupakan pemakai utama air
irigasi untuk mengairi sawah. Partisipasi masyarakat umumnya berwujud peran serta
dalam proses pengambilan keputusan pengaturan pemakaian air selain itu, kontribusi
finansial untuk membiayai perbaikan kerusakan prasarana pengairan.
2. Terpadu
Dalam perencanaan serta penggunaan irigasi dilaksanakan secara bersama-sama
dari instansi pemerintah yang terkait sampai pada masyarakat petani pemakai air
dimana setiap pihak yang terkait mempunyai fungsi masing-masing. Di masa lalu,
pemerintah sering kali lebih berperan (dominan) dalam merencanakan, melaksanakan,

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 9
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

dan mengevaluasi sistem irigasi. Saat ini sistem irigasi harus dilaksanakan secara
bersama bahkan dimulai dari daerah yang paling membutuhkan.
3. Berwawasan lingkungan
Pengembangan

dan

pengelolaan

sistem

irigasi

bertujuan

mewujudkan

kemanfaatan air dalam bidang pertanian dilaksanakan di seluruh daerah irigasi dengan
berwawasan lingkungan. Artinya pendekatan interdisipliner eko-hidroulik dipandang
sebagai suatu pola rekayasa yang bisa diterima serta memiliki keberlanjutan yang
tinggi, karena pendekatan yang digunakan sudah memasukkan faktor fisik (abiotik)
maupun non fisik (biotik) yang memegang peran penting dalam penyelesaian masalah
keairan.
4. Transparan
Dalam merancang irigasi dibutuhkan keterbukaan atau transparansi semua aspek
baik dalam pendanaan sampai langkah-langkah apa yang harus dilakukan dalam
merancang sistem irigasi, serta terbuka dalam menerima masukan dari berbagai sumber
terutama petani pemakai air.
5. Akuntabel
Dalam perancangan irigasi harus diperhatikan segi ekonomisnya, yang pertama
mengetahui seberapa besar keuntungan ekonomi petani apabila menggunakan irigasi,
dana yang digunakan untuk pembangunan irigasi harus terinci sehingga tidak terjadi
penyimpangan anggaran.
6. Berkeadilan
Penggunaan irigasi harus ditinjau dari pembagian air irigasinya yang merata
sehingga semua aspek tidak ada yang dirugikan.
Sistem Rancangan Irigasi membutuhkan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Survey kondisi keadaan sekarang (sesuai kebutuhan pertanian)
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 10
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

- Penyusunan daerah yang akan dirancang
- Survey keperluan irigasi(sumber air)
- Survey saluran irigasi dan drainase yang ada (terdapat aliran air yang
permanen atau tidak)
- Survey dan pengumpulan data Hidrologi dan meteorologi (Klimat, Sumber
air, Topografi, Jenis tanah, dan Tata guna lahan)
- Survey hubungan pemanfaatan air yang bersamaan (Sosek, Sosio-kultur)
2. Rancangan fasilitas Irigasi (Rice baced irrigation)
- Rancangan irigasi di persawahan:
a. Penentuan keperluan Air
b. Penyelidikan kemungkinan penghematan air irigasi
c. Pemeliharaan cara irigasi perhitungan air (perhitungan keperluan air
periodis)
d. Tindakan yang diperlukan setelah terjadi perubahan lingkungan.
3. Rancangan fasilitas sumber air dan penyaluran air
- Penyelidikan cara pemberian air
- Penentuan fasilitas keperluan air
- Rancangan fasilitas sumber air

1.4 Sistem Irigasi dan Klasifikasi Jaringan Irigasi
Sistem Irigasi
Berikut ini penjelasan berbagai saluran yang ada dalam suatu sistern irigasi.

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 11
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

o Saluran primer membawa air dari bangunan sadap menuju saluran sekunder
dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah
pada bangunan bagi yang terakhir.
o Saluran sekunder membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran
primer menuju petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan sadap terakhir.
o Saluran tersier membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran
sekunder menuju petak-petak kuarter yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks tersier
terkahir.
o Saluran kuarter mernbawa air dari bangunan yang menyadap dari boks
tersier menuju petak-petak sawah yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks kuarter
terkahir.
o Saluran Pembuang
o Saluran pembuang kuarter menampung air langsung dari sawah di
daerah atasnya atau dari saluran pernbuang di daerah bawah.
o Saluran pembuang tersier menampung air buangan dari saluran
pernbuang kuarter.
o Saluran pembuang primer menampung dari saluran pernbuang tersier
dan membawanya untuk dialirkan kernbali ke sungai.

1.5 Jaringan irigasi
Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan
untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian,
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 12
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

pemberian dan penggunaannya. Berkaitan dengan sistem irigasi yang telah dibahas
pada bab 1, maka jaringan irigasi yang akan dibahas pada bab ini termasuk sistem
irigasi permukaan .Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan
jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran
sekunder.Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang berada
dalampetak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jarigan
irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.

1.6 Klasifikasi Jaringan Irigasi
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran, serta kelengkapan fasilitas, jaringan
irigasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu (1) jaringan irigasi sederhana,
(2) jaringan irigasi semi teknis dan (3) jaringan irigasi teknis
o Jaringan irigasi sederhana biasanya diusahakan secara mandiri oleh suatu
kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan
dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas. Ketersediaan air
biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai curam,
sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi
sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar
belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa
kelemahan antara lain, (1) terjadi pemborosan air karena banyak air yang
terbuang, (2) air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah
bawah yang lebih subur, dan (3) bangunan penyadap bersifat sementara,
sehingga tidak mampu bertahan lama.

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 13
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

o Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap yang permanen
ataupun semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi
dengan bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah terdapat
beberapa bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum
sepenuhnya mampu mengatur dan mengukur. Karena belum mampu
mengatur dan mengukur dengan baik, sistem pengorganisasian biasanya
lebih rumit.
o Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen.
Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur.
Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang.
Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke
petak tersier. Untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan
pertanian, disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer,
petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan
terkecil.

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 14
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

BAB II
PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

2.1

Metode Pemberian Air
Metode pemberian bagi tanaman sangat tergantung dari macam tanaman,
peralata yang dipergunakan dan kebiasaan setempat yang berlaku.
Ada5 cara pokok dalam pemberian air bagi tanaman :
1. Merendam tanah
Dengan merendam tanah ada 3 cara yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Pemberian secara alami atau sesuai dengan keadaan alamnya, akibat
banjir sungai meluap dan menggenangi tanah persawahan, kemudian
baru ditanami setelah air surut.
b. Merendam tanah dengan air diam.
c. Merendam tanah dengan memperbaharui air.
2. Merembeskan air
Ada 2 cara yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Pengaliran lereng tanah, dimana air dialirkan pada daerah miring dan
daam lapisan tipis baja.
b. Pengaliran panggung tanah, cara pemberian airnya sama dengan
pengaliran dilereng tanah, cara ini dilakukan untuk mengairi ladang
yang tanahnya datar.

3. Pengaliran dan pengeringan
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 15
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Apabila tanah tidak begitu dapat meloloskan air (tanah liatt), maka tanah
mudah becek sehingga untuk mengatasinya disamping pengaliran juga harus
dilakukan pengeringan, untuk itu prlu dibangun drainase.
4. Pembasahan tanah
Dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
a. Melalui selokan atau saluran terbuka
Diatas tanah atau petak-petak tanah dibuat selokan-selokan, sehingga air
dapat dialirkan dalam selokan-selokan tersebut.
b. Dengan pipa-pipa yang ditanam dalam tanah.
Cara ini di indonesia belum banyak dilakukan, karena masih dianggap
mahal dan asing, biasanya diameter pipa adalah adalah 30cm, diberi
lubang-lubang dibeberapa tempat dan dijaga agar lubang tersebut tidak
tersumbat.
5. Menyiram dan menyemproturnakan
Cara pemberian air dengan menyiram menyerupai tetesan air hujan,
sehingga pmakaian air sangat hemat dan semua tanaman dapat kebagian air
sesuai jangkauan air hujan, cara ini terkenal dengan istilah sprinkler, yaitu
penyiraman sistem disemprotkan yang dilakukan dengan tekana, biasanya
dipakai curat seperti pompa curat pemadam kebakaran yang sering
dilakukan untuk penyiraman tanam kota.
2.2

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Air Tanaman
Kebutuhan air bagi tanaman biasa disebut sebagai kebutuhan air irigasi (NFP),
yang ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Penyiapan lahan (LP = Land preparation)
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 16
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

b. Penggunaan konsumtip (Etc = evapotranspiration)
c. Perkolasi (P = percolation)
d. Pergantian lapisan air (WLR = water land requirement)
e. Curah hujan efektif (Re)
f. Efesiensi irigasi (ef)
g. Pola tanaman
Besarnya kebutruhan air irigasi dinyatakan sebagai berikut (Dirjen, Dep P.U
bagian penunjang perencanaan. 1986 : hal 6).
1. Kebutuhan air bersih disawah untuk padi
NFR = Etc + P – Re + WLR
2. Kebutuhan bersih air sawah untuk palawija
NFR = Etc + P – Re
3. Kebutuhan bersih air dipintu pengambilan (intake)
DR = NFR / 8,64*efesiensi irigasi

Cara Perhitungan Kebutuhan Air
Untuk menghitung kebutuhan air guna pertumbuhan tanaman, ada 4 cara dalam
menetapkan kesatuan pemakaian air, yaitu :
a. Menurut tnggi air yang dibutuhkan guna sebidang tanah yang ditanami,
sehingga banyaknya air yang dibutuhkan = tinggi muka air x luas tanah.
b. Jumlah air yang dibutuhkan untuk sebidang tanah (luas tanah yang ditanam)
dengan sekali penyiraman atau selama masa pertumbuhan tanaman,

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 17
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

misalnya A m tiap ha. Digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan air
disuatu daerah pengairan, karena persediaan aircraft diwaduk dalam jumlah
tertentu pula, maka arealnya tanaman dapati dihitung. Misalnya untuk
daerah 1 ha tanaman diperlukan A m selama pertumbuhannya. Maka areal
tanaman yang dapat dialiri oleh waduk = (isi waduk – kehilangan air akibat
peresapan dan penguapan) dibagi A =....ha
c. Dalam satuan pengaliran air, jadi dihitung isi air yang diperlukan dalam
satuan waktu (lama pengaliran) untuk satuan luas. Biasanya disebut A
liter/detik hektar. Cara ini lazim digunakan untuk setiap kebutuhan
pengairan bagi tanaman dalam tiap-tiap waktu tertentu 1 dt/ha atau m /dt/ha
d. Menentukan luas tanaman yang dapat diairi dalam jumlah dan waktu
tertentu 9 duty of water) – ( 1 second foot = 28,31 / dt untuk A ha tanaman )
atau dapat diartikan bahwa suatu tanaman dalam areal tertentu pula (1
second foot). Cara ini banyak digunakan di amerika, india, dan mesir
sedangkan di indonesia hampir tidak pernah ada yang memakai cara itu
(kurang lazim digunakan)
2.3

Hubungan Antara Air, Tanah, Udara Dan Tanaman.
Tanaman sejak disemaikan sampai mengeluarkan hasil memerlukan
unsur hara. Selain ketersediaan unsur hara. Pertumbuhan tanaman menyangkut
kesuburan dipengaruhi faktor-faktor seperti : air,iklim dan tanaman itu sendiri.
Kebutuha pokok untuk kesuburan hidup tanaman adalah ; unsur-unsur
tertentu

(hara),air,

udara,cahaya,dan

panas

(suhu).

Pertumbuhan

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 18
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

akar

dipengaruhi oleh tingkat tinggi rendahnya suhu tanah pada daerah perakaran,
begiyu pula dengan ketersediaan udara dalam tanah mempengaruhi pula
penapasan sebagian dari akar-akar tanaman.Pertumbuhan tanaman akan
mwnjadi baik bilamana disediakan kondidi ideal untuk tanaman tersebut. Unsur
hara yang diperlukan adalah unsur hara makro dan mikro ketersediaan unsur
hara dalam tanah berupa senyawa kompleks yang sukar larut dan dapat berupa
senyawa sederhana yang larut dalam air dan relatif tersedia untuk tanaman.
Keragaman jenis tumbuh-tumbuhan karena adanya pengaruh iklim yang
kompleks, selain butuh iar, tanaman membutuhkan tempat untuk hidup yaitu
tanah. Tanah yang untuk usaha pertanian adalah tanah yang mudah diolah, dan
produktivitas tinggi, Sedangkan komposisi tanah untuk kepentingan pertanian
berupa tanah mineral dengan kandungan bahan organic (humus) dan tentu saja
unsur air dan udara ada pada komposisi tanah tersebut.
Di bawah permukaan tanah, pori-pori mengandung air dan udara dengan
jumlah yang berubah-ubah bila air hujan jatuh kepermukaan tanah, air trus
bergerak ke bawa melalui zone aerasi dan sebagian mengisi pori-pori tanah dan
tinggal dalam pori-pori yang ditahan oleh gaya-gaya kapiler disekitar butir-butir
tanah.
Air yang berada pada lapisan atas dari zona aerasi disebut lengas tanah.
Bila kapasitas menahan air tanah pada zone aerasi telah dipenuhi, air akan
bergerak ke bawah menuju Zone saturasi, dan air ini disebut air tanah. Bentuk
tanah lengas secara umum diklasifikasikan sebagai : air gravitasi, air kapiler,
dan air higroskopis. Di dalampembicaraan tentang konstanta lengas tanah,

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 19
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

dijumpai beberapa yaitu : kapasitas kejenuhan, kapasitas lapang, titik layu
permanen, titik layu akhir, dan koefisien higroskopis.
Frekuensi pemberian air irigasi dipengaruhi oleh sipat hubungan antara
tanaman, tanah, dan air. Faktor yang mempengaruhi daya penahanan tanah
adalah tekstur, struktur, dan bahan-bahan organic yang trkandung dalam tanah.
Sedangkan ukuran butir menentukan struktur tanah, dan produktivitas tanaman
dipengaruhi oleh struktur tanah. Frekuensi pemberian air yang paling sesuai
merupakan hasil keputusan berdasarkan pengaruh berbagai faktor kombinasi
(hasil percobaan/penelitian). Kesubura fisik tanah ditentukan oleh struktur
tanah, namun kesuburan kimiawi ditentukan oleh kemampuan. Tanah
menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Unsur-unsur
utama, yakni: C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg,Fe, Mn, Cu,B, Zn, Mo, dan Cl,
tanaman memerlukan air dalam jumlah berbeda menurut macam tanaman, bila
ditijau response terhadap air, secara garis di golongkan menjadi 3 jenis:
tanaman aquatik, tanaman semi aquatik, dan tanaman tanah kering.
2.4

Perhitungan Kebutuhan Air Untuk Tanaman

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 20
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

B. TABEL DATA KLIMATOLOGI
Tabel 1. Data Kecepatan Angin (Knot), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No

Tahun

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

1.

1996

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

5,0

5,0

5,0

2.

1997

6,0

6,0

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

5,0

6,0

5,0

5,0

5,0

3.

1998

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

4,0

5,0

6,0

5,0

5,0

5,0

5,0

4.

1999

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

6,0

5,0

5,0

5,0

5,0

6,0

5,0

5.

2000

5,0

5,0

6,0

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

6,0

5,0

5,0

5,0

6.

2001

5,0

6,0

5,0

6,0

5,0

5,0

6,0

7,0

6,0

5,0

6,0

6,0

7.

2002

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

7,0

7,0

6,0

6,0

5,0

8.

2003

5,0

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

6,0

6,0

6,0

6,0

5,0

6,0

9.

2004

6,0

5,0

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

6,0

6,0

6,0

5,0

6,0

10.

2005

5,0

5,0

5,0

5,0

6,0

6,0

6,0

6,0

6,0

6,0

5,0

6,0

RATA-RATA

5,2

5,2

5,1

5,2

5,3

5,5

5,7

6

5,9

5,4

5,3

5,4

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 21
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Tabel 2. Data Temperatur Udara rata-rata (°C), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No

Tahun

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

1.

1996

25,9

25,9

27,6

26,8

27,2

27,6

26,2

25,7

26,5

25,9

26,5

25,9

2.

1997

26,4

26,2

26,9

26,4

26,9

27

25,9

26,2

25,7

26,2

26,5

27

3.

1998

26,8

27,3

26,9

27,3

27,5

26,9

26,7

26,2

26

26,7

26,1

26

4.

1999

25,7

26,4

26,3

26

26,4

26,2

25,5

25,7

25,8

26,2

25,9

25,8

5.

2000

25,5

26,3

26,7

26,2

26,9

26,2

25,9

26,2

26,6

26,4

26,4

26,4

6.

2001

26,2

26,5

26,4

26,5

27,4

26,6

26,5

26,6

26,8

26,6

26,2

26

7.

2002

26,3

26,9

26,6

26,5

27,4

26,4

27

26,2

26,2

26,8

26,3

26

8.

2003

25,4

26,5

26,5

26,5

27,2

27,8

26

26,4

26,7

26,6

26,1

26,1

9.

2004

26,3

26,5

26,5

27

27,3

26,5

25,8

25,6

26,7

26,7

25,6

26,1

10.

2005

26,6

26,4

26,7

26,3

27,1

26,9

26,1

26,5

26,6

26,4

25,6

26,1

26,49

26,71

26,55

27,13

26,81

26,16

26,13

26,4

26,5

26,12

26,14

RATA-RATA

26,11

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 22
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Tabel 3. Data Kelembaban Udara rata-rata (Rh dalam %), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No

Tahun

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

1.

1996

88

89

88

86

84

86

85

87

85

88

86

87

2.

1997

85

85

88

88

85

82

84

79

81

85

86

85

3.

1998

89

88

90

89

89

89

87

89

89

88

90

89

4.

1999

88

87

88

88

88

87

87

85

86

88

90

90

5.

2000

89

86

85

92

89

91

90

90

89

92

90

89

6.

2001

85

84

85

87

84

86

85

81

84

86

88

87

7.

2002

87

84

89

90

88

86

81

81

83

83

88

88

8.

2003

87

88

88

89

88

83

84

83

84

87

9.

2004

90

88

80

88

86

85

88

80

79

85

88

88

10.

2005

88

89

89

91

87

87

87

86

83

88

89

90

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 23
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

91

90

RATA-RATA

87,6

86,8

87

88,8

86,8

86,2

85,8

84,1

84,3

87

88,6

88,3

Tabel 4. Data Lama Matahari Bersinar (n/D dalam %), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No

Tahun

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

1.

1996

51

53

55

59

77

71

76

62

51

52

63

43

2.

1997

61

59

74

59

76

83

75

86

26

9

35

54

3.

1998

53

55

33

33

57

58

69

63

63

55

50

53

4.

1999

42

58

51

71

52

75

72

71

66

54

54

38

5.

2000

34

46

58

55

68

53

62

62

71

60

57

54

6.

2001

51

50

56

51

58

66

70

80

58

54

55

48

7.

2002

41

62

54

55

67

53

83

82

50

56

43

45

8.

2003

46

43

48

49

65

76

69

86

60

53

46

40

9.

2004

48

55

58

59

67

72

53

90

68

65

50

39

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 24
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

10.

2005

RATA-RATA

62

53

50

48

69

70

52

66

62

51

52

43

48,9

53,4

53,7

53,9

65,6

67,7

68,1

74,8

57,5

50,9

50,5

45,7

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 25
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Tabel 5. Data Curah Hujan Harian Pada Tahun 2005
Tgl

Jan

Feb

mar

apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

1

11,5

0,0

9,5

13,0

0,0

11,5

12,0

0,0

0,0

0,0

9,5

11,5

2

12,0

0,0

10,0

12,0

0,0

14,5

11,5

10,0

10,0

13,5

10,0

12,0

3

13,0

11,0

8,5

12,5

11,0

0,0

12,5

10,5

8,5

0,0

8,5

13,0

4

9,5

10,0

9,0

0,0

10,0

9,5

0,0

9,0

9,0

9,5

9,0

9,5

5

10,0

9,0

0,0

0,0

9,0

8,5

9,0

0,0

0,0

10,0

0,0

10,0

6

8,5

0,0

0,0

8,5

8,5

0,0

8,5

9,6

0,0

12,5

0,0

0,0

7

0,0

0,0

11,0

9,6

0,0

0,0

0,0

10,0

11,0

0,0

11,0

0,0

8

0,0

0,0

12,3

8,5

0,0

10,5

8,5

12,3

12,3

11,8

12,3

10,5

9

0,0

13,5

14,0

0,0

13,5

0,0

0,0

13,5

14,0

11,2

14,0

0,0

10

0,0

12,0

0,0

0,0

12,0

11,0

9,5

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

8,5

11,0

8,5

10,2

11,0

8,5

10,2

8,5

8,5

8,5

8,5

8,5

12

9,2

0,0

9,0

11,0

0,0

0,0

11,0

9,0

9,0

9,2

9,0

9,2

13

11,0

10,5

0,0

13,5

10,5

11,0

13,5

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

14

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

10,5

0,0

0,0

12,5

15

15,5

11,0

8,0

13,5

11,0

13,5

13,5

8,0

8,0

13,5

8,0

0,0

16

12,0

0,0

12,0

12,0

0,0

12,5

12,0

12,0

12,0

12,0

12,0

0,0

17

0,0

10,5

0,0

14,0

10,5

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

12,0

13,0

0,0

12,0

11,5

0,0

13,0

13,0

10,5

13,0

13,5

19

0,0

14,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

10,5

0,0

15,5

10,5

0,0

10,5

10,5

15,5

12,2

11,2

15,5

10,5

21

11,5

0,0

0,0

11,5

0,0

11,5

11,5

0,0

11,5

11,5

0,0

11,5

22

13,0

0,0

11,0

13,0

0,0

13,0

13,0

11,0

11,0

12,0

11,0

13,0

23

8,0

16,0

13,5

0,0

16,0

8,0

12,5

13,5

13,5

0,0

13,5

8,0

24

7,5

0,0

10,2

7,5

0,0

7,5

0,0

10,2

10,2

7,5

10,2

7,5

25

0,0

15,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

0,0

0,0

0,0

10,5

0,0

10,0

10,5

13,5

0,0

0,0

0,0

0,0

27

6,0

18,0

10,2

6,0

18,0

0,0

10,2

10,2

10,2

6,0

10,2

10,6

28

12,0

16,0

11,5

12,0

0,0

12,0

12,0

11,5

11,5

12,0

11,5

12

29

0,0

-

10,5

0,0

0,0

0,0

0,0

10,5

10,5

0,0

10,5

0

30

0,0

-

8,0

11,2

12,0

11,0

11,2

8,0

8,0

10,0

8,0

11

31

11,0

-

0,0

-

9,5

-

13,0

8,5

-

7,0

-

10,3

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 26
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Tabel 6. Data curah hujan Maksimal bulanan 10 tahun terakhir

No

Tahun

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

1.

1996

44,0

62,0

107,0

26,0

41,0

47,0

72,0

55,0

47,0

50,0

43,0

81,0

2.

1997

41,0

31,0

49,0

54,0

52,0

34,0

61,0

-

-

11,4

78,4

79,0

3.

1998

38,0

86,0

97,0

78,0

42,0

64,0

109,0

80,0

43,0

47,0

35,0

27,0

4.

1999

34,0

50,3

30,6

78,8

52,0

27,4

52,4

60,7

115,0

84,2

62,6

51,8

5.

2000

45,4

58,3

64,2

47,0

40,6

57,0

118,3

41,2

60,7

63,9

151,2

57,0

6.

2001

65,0

27,1

59,3

93,8

36,0

58,6

22,4

14,6

70,6

69,0

42,9

53,6

7.

2002

119,7

31,0

119,1

74,1

39,2

43,6

8,6

30,2

58,6

53,8

74,0

100,4

8.

2003

37,0

73,5

113,6

122,5

68,1

78,9

58,3

47,9

9,0

72,3

45,7

39,4

9.

2004

68,0

29,6

57,7

76,2

83,0

45,6

49,8

-

40,0

54,0

60,8

41,6

10.

2005

24,6

24,6

76,1

81,0

60,6

14,4

40,0

40,5

89,9

35,5

103,6

37,0

51,7

47,3

77,4

73,1

51,5

47,1

59,2

37,0

53,4

54,1

69,7

56,8

RATA-RATA

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 27
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Eto adalah jumlah dari evaporasi dan transpirasi yang terjadi secara bersama-sama.
Evaporasi adalah berubahnya air menjadi gas, sedangkan transpirasi adalah Evaporasi yang
terjadi pada tanaman. Besarnya Eto dari suatu tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor
alam. Sehingga sulit dihitung dengan rumus. Namun dengan adanya kesulitan tersebut justru
menimbulkan gairah bagi para ilmuan untuk mencari solusinya. Metode yang muncul cukup
banyak namun yang diuraikan dalam buku ini adalah BlaneCridlley (19950), Metode ini
radiasi Makkink (1957). Metode Penman (1948), dan Metode Panci evaporasi.
METODE BLANEY-CRIDLLE (1950)
Metode ini diperuntukan bagi daerah yang memiliki data iklim terutama temperatur udara
rata-rata. Data lain seperti kelembaban udara relatip, penyinaran matahari, kecepatan angin dapat
diperkirakan dari keadaan lapangan pada umumnya. Besarnya evapotranspirasi tetapan dapat dihitung
menggunakan pendekatan rumus sebagai berikut :
Eto = C.p.( 0,46 T + 8 )
C = ( 0,0311.T + 0,34 ) + K
Dengan Eto = evapotranspirasi tetapan pada bulan yang dipertimbangkan (mm/hari)
C = Faktor penyesuai (adjusment factor)
P = Prosentase harian rerata jam siank dalam setahunan
T = Temperatur harian rerata (°C), dalam bulanan yang diprhitungkan.
K = Faktor tanaman

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 28
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Tabel 2.1 Prosentase jam siang rerata harian dalam setahun (p), (Doorenbos & Pruit, 1977)
Lint Utara °

Jan

Feb

40
35
30
25
20
15
10
5
0

22
23
24
24
25
26
26
27
27

24
25
25
26
26
26
27
27
27

Mar Apr
27
27
27
27
27
27
27
27
27

Mei

Jun

Jul

Aug

Sep

Okt

Nop

Des

32
31
31
30
29
29
28
28
27

34
32
32
32
30
29
29
28
27

33
32
31
31
30
29
29
28
27

31
30
30
29
29
28
28
28
27

28
28
28
28
28
28
28
28
27

25
25
26
26
26
27
27
27
27

22
23
24
25
25
26
26
27
27

21
22
23
24
25
25
26
27
27

30
29
29
29
28
28
28
28
27

Tabel 2.2 Harga faktor tanaman (K)
Jenis Tanaman
Jeruk
Kapas
Kentang
Jagung
Tomat
Biji-bijian
Padi

K daerah pantai
0,50
0,60
0,65
0,70
0,70
0,75
1

Perhitungan Evapotranspirasi Tetapan (Eto)
ETo JANUARI

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1520.24.( 0,46 T + 8 )
= 1033,517554 mm/hari

EToFEBRUARI

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1638.26.( 0,46 T + 8 )
= 1135,62685 mm/hari

ETo MARET

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1707.27.( 0,46 T + 8 )
= 1188,964904 mm/hari

ETo APRIL

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1657.29.( 0,46 T + 8 )
= 1269,48646 mm/hari
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 29
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

K zone kering
0,65
0,65
0,75
0,86
-

= C.p.( 0,46 T + 8 )

ETo MEI

= 2,1837.30.( 0,46 T + 8 )
= 1341,678597 mm/hari

= C.p.( 0,46 T + 8 )

ETo JUNI

= 2,1738.32.( 0,46 T + 8 )
= 1414,362332 mm/hari

= C.p.( 0,46 T + 8 )

ETo JULI

= 2,1536.31.( 0,46 T + 8 )
= 1337,460285 mm/hari

ETo AGUSTUS

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1526.29.( 0,46 T + 8 )
=1249,768988 mm/hari

ETo SEPTEMBER

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1598.28.( 0,46 T + 8 )
= 1217,081331 mm/hari

ETo OKTOBER

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1626.26.( 0,46 T + 8 )
= 1133,939387 mm/hari

ETo NOVEMBER

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 1,1523.25.( 0,46 T + 8 )
= 576,6038862 mm/hari

ETo DESEMBER

= C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1530.24.( 0,46 T + 8 )
= 1034,67869 mm/hari

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 30
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Perhitungan Evapotranspirasi Tanaman (Eto)
Etocrop = ETo x 1 = ETo
ETcrop JANUARI

= ETo x 1
= 1033,517554 x 1
= 1033,517554 mm/hari

ETcrop FEBRUARI

= ETo x 1
= 1135,62685 x 1
= 1135,62685 mm/hari

ETcrop MARET

= ETo x 1
= 1188,964904 x 1
= 1188,964904 mm/hari

ETcrop APRIL

= ETo x 1
= 1269,48646 x 1
= 1269,48646 mm/hari

ETcrop MEI

= ETo x 1
= 1341,678597 x 1
= 1341,678597 mm/hari

ETcrop JUNI

= ETo x 1
= 1414,362332 x 1
= 1414,362332 mm/hari

ETcrop JULI

= ETo x 1
= 1337,460285 x 1
= 1337,460285 mm/hari

ETcrop AGUSTUS

= ETo x 1
=1249,768988 x 1
=1249,768988 mm/hari

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 31
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

ETcrop SEPTEMBER

= ETo x 1
= 1217,081331 x 1
= 1217,081331 mm/hari

ETcrop OKTOBER

= ETo x 1
= 1133,939387 x 1
= 1133,939387 mm/hari

ETcrop NOVEMBER

= ETo x 1
= 576,6038862 x 1
= 576,6038862 mm/hari

ETcrop DESEMBER

= ETo x 1
= 1034,67869 x 1
= 1034,67869 mm/hari

 Curah Hujan Efektif
Curah hujan efektif adalah curah hujan yang secara efektif dapat dimanfaatkan
oleh tanaman untuk irigasi padi, curah hujan efektif yang digunakan adalah curah hujan
efektif metode tahun dasar. Dengan rumus :
Re = 30 + 6N
Dimana :
N = Jumlah harian hujan yang berturut-turut
Ada 4 Pedoman untuk menentukan curah hujan efektif :
1. Hujan individual kurang dari 5mm tidak diperhitungkan menjadi hujan efektif
atau dianggap tidak ada hujan

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 32
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

2. Hujan yang diperhitungkan sebagai hujan efektif adalah 5-36 mm.
3. Hujan yang terjadi berturut-turut walau kurang dari 5mm dan diselingi tanpa
hujan 1 hari diperhitungkan sebagai hujan efektif.
4. Bila jumlah hujan lebih dari Re, maka Re adalah hujan efektif, selanjutnya bila
hasil perhitungan kurang dari Re, maka hasil perhitungan sebagai hujan efektif
adalah Re menggunakan rumus diatas.

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 33
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Tabel Curah Hujan
Tgl

Jan

Feb

mar

apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

1

11,5

0,0

9,5

13,0

0,0

11,5

12,0

0,0

0,0

0,0

9,5

11,5

2

12,0

0,0

10,0

12,0

0,0

14,5

11,5

10,0

10,0

13,5

10,0

12,0

3

13,0

11,0

8,5

12,5

11,0

0,0

12,5

10,5

8,5

0,0

8,5

13,0

4

9,5

10,0

9,0

0,0

10,0

9,5

0,0

9,0

9,0

9,5

9,0

9,5

5

10,0

9,0

0,0

0,0

9,0

8,5

9,0

0,0

0,0

10,0

0,0

10,0

6

8,5

0,0

0,0

8,5

8,5

0,0

8,5

9,6

0,0

12,5

0,0

0,0

7

0,0

0,0

11,0

9,6

0,0

0,0

0,0

10,0

11,0

0,0

11,0

0,0

8

0,0

0,0

12,3

8,5

0,0

10,5

8,5

12,3

12,3

11,8

12,3

10,5

9

0,0

13,5

14,0

0,0

13,5

0,0

0,0

13,5

14,0

11,2

14,0

0,0

10

0,0

12,0

0,0

0,0

12,0

11,0

9,5

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

8,5

11,0

8,5

10,2

11,0

8,5

10,2

8,5

8,5

8,5

8,5

8,5

12

9,2

0,0

9,0

11,0

0,0

0,0

11,0

9,0

9,0

9,2

9,0

9,2

13

11,0

10,5

0,0

13,5

10,5

11,0

13,5

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

14

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

10,5

0,0

0,0

12,5

15

15,5

11,0

8,0

13,5

11,0

13,5

13,5

8,0

8,0

13,5

8,0

0,0

16

12,0

0,0

12,0

12,0

0,0

12,5

12,0

12,0

12,0

12,0

12,0

0,0

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 34
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

17

0,0

10,5

0,0

14,0

10,5

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

12,0

13,0

0,0

12,0

11,5

0,0

13,0

13,0

10,5

13,0

13,5

19

0,0

14,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

10,5

0,0

15,5

10,5

0,0

10,5

10,5

15,5

12,2

11,2

15,5

10,5

21

11,5

0,0

0,0

11,5

0,0

11,5

11,5

0,0

11,5

11,5

0,0

11,5

22

13,0

0,0

11,0

13,0

0,0

13,0

13,0

11,0

11,0

12,0

11,0

13,0

23

8,0

16,0

13,5

0,0

16,0

8,0

12,5

13,5

13,5

0,0

13,5

8,0

24

7,5

0,0

10,2

7,5

0,0

7,5

0,0

10,2

10,2

7,5

10,2

7,5

25

0,0

15,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

0,0

0,0

0,0

10,5

0,0

10,0

10,5

13,5

0,0

0,0

0,0

0,0

27

6,0

18,0

10,2

6,0

18,0

0,0

10,2

10,2

10,2

6,0

10,2

10,6

28

12,0

16,0

11,5

12,0

0,0

12,0

12,0

11,5

11,5

12,0

11,5

12

29

0,0

-

10,5

0,0

0,0

0,0

0,0

10,5

10,5

0,0

10,5

0

30

0,0

-

8,0

11,2

12,0

11,0

11,2

8,0

8,0

10,0

8,0

11

31

11,0

-

0,0

-

9,5

-

13,0

8,5

-

7,0

-

10,3

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)

200,2000

189,5000

215,2000

220,5000

203,5000

206,0000

250,1000

249,8000

224,4000

199,4000

215,2000

215,6000

Jml Hari Hujan

19

15

20

20

17

19

22

23

22

19

21

22

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 35
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF
Dari data Tabel 5. Data curah hujan harian pada tahun 2005, terlihat jumlah curah hujan
>5,maka dianggap hujan efektif sehingga tidak menggunakan rumus Re= 30 + 6.N ( kriteria
2 dan 3 )
Bulan Januari
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Bulan Februari
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Bulan Maret
Hujan efektif yang
terjadi pada tanggal :

Tgl

Jan

Tgl

Feb

Tgl

Mar

1

11,5

3

11,0

1

9,5

2

12,0

4

10,0

2

10,0

3

13,0

5

9,0

3

8,5

4

9,5

9

13,5

4

9,0

5

10,0

10

12,0

7

11,0

6

8,5

11

11,0

8

12,3

11

8,5

13

10,5

9

14,0

12

9,2

15

11,0

11

8,5

13

11,0

17

10,5

12

9,0

15

15,5

18

12,0

15

8,0

16

12,0

19

14,0

16

12,0

20

10,5

23

16,0

18

13,0

21

11,5

25

15,0

20

15,5

22

13,0

27

18,0

22

11,0

23

8,0

16,0

23

13,5

24

7,5

28
Jumlah Hujan
Efektif (Pe)

189,5000

24

10,2

27

6,0

15

27

10,2

28

12,0

28

11,5

31

11,0

29

10,5

200,2000

30

8,0

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)

215,2000

Jml Hari Hujan

20

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
Jml Hari Hujan

Jml Hari Hujan

19

Dari data tabel diatas maka total
hujan efektif (Pe) bulan Januari
= 200,2 mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
Februari = 189,5 mm

Dari data tabel diatas
maka total hujan efektif
(Pe) bulan Maret = 215,2
mm

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 36
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF
Bulan April
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Bulan Mei

Bulan Juni

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Tgl
1

apr
13,0

Tgl
3

Mei
11,0

Tgl
1

Jun
11,5

2

12,0

4

10,0

2

14,5

3

12,5

5

9,0

4

9,5

6

8,5

6

8,5

5

8,5

7

9,6

9

13,5

8

10,5
11,0

8

8,5

10

12,0

10

11

10,2

11

11,0

11

8,5

12

11,0

13

10,5

13

11,0

13

13,5

15

11,0

15

13,5

15

13,5

17

10,5

16

12,5

16

12,0

18

12,0

18

11,5

17

14,0

19

14,0

20

10,5

20

10,5

23

16,0

21

11,5

21

11,5

25

15,0

22

13,0

22

13,0

27

18,0

23

8,0

24

7,5

30

12,0

24

7,5

26

10,5

27

6,0

31
Jumlah Hujan
Efektif (Pe)

28

12,0

29

9,5

26

10,0

203,5000

28

12,0

17

30

11,0

0,0

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)

206,0000

30

11,2

Jml Hari Hujan

19

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)

220,5000

Jml Hari Hujan

20

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
April = 200,5 mm

Jml Hari Hujan

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
Mei = 183,5 mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
Juni = 216 mm

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 37
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF
Bulan Juli
Hujan efektif yang
terjadi pada tanggal :

Bulan Augustus
Hujan efektif yang
terjadi pada tanggal :

Bulan September
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Tgl

Jul

Tgl

Agt

Tgl

Sep

1

12,0

2

10,0

2

10,0

2

11,5

3

10,5

3

8,5

3

12,5

4

9,0

4

9,0

5

9,0

6

9,6

7

11,0

6

8,5

7

10,0

8

12,3

8

8,5

8

12,3

9

14,0

10

9,5

9

13,5

11

8,5

11

10,2

11

8,5

12

9,0

12

11,0

12

9,0

14

10,5

13

13,5

14

12,0

15

8,0

15

13,5

15

8,0

16

12,0

16

12,0

16

12,0

18

13,0

17

14,0

18

13,0

20

12,2

20

10,5

20

15,5

21

11,5

21

11,5

22

11,0

22

11,0

22

13,0

23

13,5

23

13,5

23

12,5

24

10,2

24

10,2

26

10,5

26

13,5

27

10,2

27

10,2

27

10,2

28

11,5

28

12,0

28

11,5

29

10,5

30

11,2

29

10,5

30

8,0

31

13,0

30

8,0

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)

31

8,5

Jml Hari Hujan

Jumlah
Hujan
Efektif (Pe)
Jml Hari
Hujan

250,1000

22

Dari data tabel diatas
maka total hujan efektif
(Pe) bulan Juli = 250,1

Jumlah
Hujan
Efektif
(Pe)
Jml Hari
Hujan

224,4000
24

249,8000

23

Dari data tabel diatas
maka total hujan
efektif (Pe) bulan

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan September = 224,4

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 38
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

mm

Augustus = 249,8 mm

mm

PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF
Bulan Oktober
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Bulan November

Bulan Desember

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Tgl

Okt

Tgl

Nop

Tgl

Des

2

13,5

4

9,5

1

9,5

1

11,5

2

10,0

2

12,0

5

10,0

3

8,5

3

13,0

6

12,5

4

9,0

4

9,5

8

11,8

7

11,0

5

10,0

9

11,2

8

12,3

8

10,5

11

8,5

9

14,0

11

8,5

12

9,2

11

8,5

12

9,2

15

13,5

12

9,0

13

11,0

16

12,0

15

8,0

14

12,5

18

10,5

16

12,0

18

13,5

20

11,2

18

13,0

20

10,5

21

11,5

20

15,5

21

11,5

22

12,0

22

11,0

22

13,0

24

7,5

23

13,5

23

8,0

27

6,0

24

10,2

24

7,5

28

12,0

27

10,2

27

10,6

30

10,0

28

11,5

28

12

31

7,0

29

10,5

29

0

30

8,0

30

11

31

10,3

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
Jml Hari Hujan

199,4000
19

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
Jml Hari Hujan

215,2000
21

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
Jml Hari Hujan

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan Oktober = 250,1
mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan Nopember= 249,8
mm

215,6000
22

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan Desember = 224,4
mm

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 39
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

 Kebutuhan Air Untuk Penyiapan Lahan
Kebutuhan air untuk penyiapan lahan ( IR atau irrigationrequirement atau land
Preparation ) Umumnya menentukan kebutuhan maksimum air irigasi pada suatu
proyek.
Khusus untuk padi sebelum padi ditanam, Tanah harus diolah agar tidak keras
dan unsur hara dapat merata. Selama periode tanam, Kebutuhan air terbanyak adalah
pada saat pengolahan tanah. Pada saat ini diperlukan penggenangan air dalam
beberapa hari agar tanah lunak. Banyaknya air yang dibutuhkan selama periode
pengolahan tanah bekisar antara 150 – 250 mm. Atau dapat dihitung :

Wp = [ A. ( S + 0,5 . P . ( n – 1 )] . 10
Dengan Wp

= Jumlah air saat pengolahan ( m3 )

A

= Luas tanah yang diolah ( ha )

S

= Tinggi air genangan ( mm ). Yaitu air untuk penjenuhan
( Zijlstra ) + tebal lapisan air genangan 50 mm

P

= Perkolasi ( mm )

N

= Lama waktu pengolahan ( hari ), 30 – 45 hari tergantung
Luas tenaga kerja.

Faktor 10 Muncul untuk konversi satuan.
Adapun besarnya perkolasi dapat diestimasi dengan keadaan tanah sebagai berikut :
Berdasarkan Keadaan Musim
Musim Kemarau

: 1,0 – 2,0 mm/hari

Musim Penghujan

: 0,5 – 1,0 mm/hari

Perhitungan Kebutuhan air untuk penyiapan lahan :
Wp = [ A. ( S + 0,5 . P . ( n – 1 )] . 10
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 40
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Dimana :

Maka : Wp

A

= 61,8 km

S

= 100 mm + 50 mm = 150 mm

P

= 2,0

N

= 30

= [ ∆ . ( S + 0,5 . P . ( n – 1 )] . 10

Wp

= [ 61,8 ( 150 + 0,52 . 2 . ( 30 – 1 )] . 10

Wp

= [ 61,8 . 179 ] . 10

Wp

= 110,622 m³

 Perhitungan luas tanah yang diolah=A :
1. Luas Persegi

Luas Persegi Keseluruhan

= 2 x 2 cm ( ukuran pada peta )
= 200 x 200 m ( di kali skala 1 : 100 )
= 40.000 m²
= 0.04 km² ( 1 km = 100 ha )
= 4 ha
= 137 x 4
= 5,48 ha

2.

Luas Trapesium

=
=
=

m

= 3000 m²
= 0.03 km²
= 3 ha
3. Luas Trapesium

=
=
=

m

= 20.000 m²
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 41
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 0.02 km²
= 2 ha
4. Luas segitiga

= 1/2 a x t
= 1/2 .0,5.1 cm
= 1/2. 50.100 m
= 2.500 m²
= 0.25 km²
= 0.25 ha

5. Luas Trapesium

=
=
= 20.000 m²
= 0.02 km²
= 2 ha

6. Luas Trapesium

=
=
=
= 0.03 km²
= 3 ha

Luas Persegi Keseluruhan

=3x5
= 15 ha

7. Luas Trapesium

=
=
= 40.000 m²
= 0.04 km²
= 4 ha

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 42
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Luas Persegi Keseluruhan

=4x6
= 24 ha

8. Luas Trapesium

=
=
=
= 0.05 km²
= 5 ha

9. Luas Trapesium

=
=
=
= 0.07 km²
= 7 ha

10. Luas Segitiga

=
=
=

m

= 35.000 m²
= 0,035 km²
= 3.5 ha
11. Luas Trapesium

=
=
=
= 0.0575 km²
= 5.75 ha

12. Luas Segitiga

=

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 43
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

=
=

m

= 15.000 m²
= 0,015 km²
= 1.5 ha
13. Luas Trapesium

=
=
=
= 0.025 km²
= 2.5 ha

14. Luas Segitiga

=
=
=

m

= 5.000 m²
= 0.005 km²
= 0.5 ha
Total Keseluruhan Petak

= A = 6,18 km²
= 61,8 ha

 Kebutuhan Air Irigasi Untuk Tanaman
Kebutuhan Air irigasi untuk tanaman
Kebutuhan air netto (in) dapat dihitung berdasarkan keseimbangan air.
Parameter yang terkait meliputi Etcrop, hujan efektif (Pe), kontribusi air tanah (Ge),
air tanah pada setiap awal periode (Wb):
In = ETcrop – (Pe + Ge + Wb)
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 44
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Dengan satuan yang dipakai semua dalam mm. Untuk tahap preliminary, periode
yang dipakai bisa didasarkan pada satuan bulanan, tetapi untuk tahap perencanaan
harus sudah dalam periode 10 harian atau mingguan. Jumlah In untuk setiap jenis
tanaman pada areal irigasi merupakan kebutuhan air bagi tanman yg diperlukan.
Kebutuhan Air Bersih Bagi Padi

NFR = ETc + P – Re + WLR
ETc = Kc x Eto
Dimana :
Kc = Koefesien Tanaman
Eto = Evaportasi Tanaman
DR = NFR / 8,64*efesiensi irigasi

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 45
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Periode Tengah
Bulanan

Padi
NEDECO/PROSIDA

FAO

Varietas Biasa

Varietas Unggul

Varietas Biasa

1,2
1,2
1,32
1,4
1,35
1,24
1,12
0

1,2
1,27
1,33
1,30
1,30
0

1,1
1,1
1,1
1,1
1,1
1,05
0,95
0

1
2
3
4
5
6
7
8

Perhitungan Kebutuhan Air

Bul
an
1
-

ETcrop

Pe

Ge

Wb

In

2
Eto x 1

3
-

4
asumsi

5
asumsi

6
In=Etcrop-(Pe+Ge+Wb)

Jan

1033,517
6

200,20

50%

50%

832,3176 mm/hari

Feb

1135,626
8

189,50

50%

50%

945,1268 mm/hari

Ma
r

1188,964
9

215,20

50%

50%

972,7649 mm/hari

Ap
r

1269,486
4

220,50

50%

50%

1.047,9864 mm/hari

Me
i

1341,678
5

203,50

50%

50%

1.137,1785 mm/hari

Jun

1414,362
3

206,00

50%

50%

1.207,3623 mm/hari

Jul

1337,460
3

250,10

50%

50%

1.086,3603 mm/hari

Ag
ust

1249,769
0

249,80

50%

50%

998,9690 mm/hari

Sep

1217,081

224,40

50%

50%

991,6813 mm/hari

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 46
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

3
Ok
t

1133,939
4

199,40

50%

50%

933,5394 mm/hari

No
p

576,6038

215,20

50%

50%

360,4038 mm/hari

Des

1034,678
6

215,60

50%

50%

1.258,58 mm/hari

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 47
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Bulan

Periode

Kc

Eto

Etc

P

Re

WLR

WLR1

WLR2

WLR3

C

C1

C2

C3

NFR

DR

1
-

2
-

3
-

7
200,2
200,2
189,5
189,5
215,2
215,2
220,5
220,5
203,5
203,5
206
206
250,1
250,1
249,8
249,8
224,4
224,4
199,4
199,4
215,2
215,2
215,6
215,6

10
-

11
-

12

0
1,2
1,27
1,33
1,30
1,30
0
1,2
1,27
1,33
1,30
1,30
0
1,2
1,27
1,33
1,30
1,30
0
1,2
1,27
1,33
1,30
1,30

6
Asumsi
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

9
-

1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2

5
3*4
0
1240,34
1442,25
1510,38
1545,65
1545,65
0,00
1523,38
1703,93
1784,43
1838,67
1838,67
0
1604,95
1587,21
1662,19
1582,21
1582,21
0,00
1360,73
1441,37
1509,47
1345,08
1345,08

8

Jan

4
1033,62
1033,62
1135,63
1135,63
1188,96
1188,96
1269,49
1269,49
1341,68
1341,68
1414,36
1414,36
1337,46
1337,46
1249,77
1249,77
1217,08
1217,08
1133,94
1133,94
1134,94
1134,94
1034,68
1034,68

13
PL
1,2
1,27
1,33
1,30
1,30
0
PL
PL
PL
1,2
1,27
1,33
1,30
1,30
0,00
PL
PL
PL
1,20
1,27
1,33
1,30
1,30

14
PL
PL
1,2
1,27
1,33
1,3
1,3
0
PL
PL
PL
1,2
1,27
1,33
1,3
1,3
0
PL
PL
PL
1,2
1,27
1,33
1,3

15
PL
PL
PL
1,20
1,27
1,33
1,30
1,30
0,00
PL
PL
PL
1,20
1,27
1,33
1,30
1,30
0,00
PL
PL
PL
1,20
1,27
1,33

16
5+6-7+8
0,00
1042,14
1256,03
1324,17
1333,74
1332,45
0,00
1304,88
1502,43
1582,93
1634,67
1634,67
0,00
1358,14
1340,69
1414,39
1359,81
1359,81
0,00
1163,33
1228,17
1297,55
1132,77
1132,77

17
16/8,64*0,9
0,00
108,56
130,84
137,93
138,93
138,80
0,00
135,93
156,50
164,89
170,28
170,28
0,00
141,47
139,66
147,33
141,65
141,65
0,00
121,18
127,93
135,16
118,00
118,00

Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Aug
Sep
Okt
Nov
Des

PL
PL

1,28
1,28
1,28

PL

3,85

3,80

3,85
3,85

3,90
3,93
2,60
PL
PL
PL
PL
PL

1,28
1,28
1,28

3,80

3,85

3,90

3,85
3,85

3,93
2,60
PL
PL
PL
PL
PL

1,28
1,28
1,28

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 48
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

3,80

3,85

3,90

3,85
3,85

3,93

 Rotasi Teknis
Rotasi teknis / pengatur golongan adalah cara penanaman dan waktu penanaman
yang dilakukan diatur secara teknis dalam beberapa golongan sehingga dinamakan
peraturan golongan dengan menggilir secara teknis maka dapat disebut juga sebagai
giliran teknis.
Seperti pada data yang diperoleh untuk suatu wilayah seperti di atas, dapat di
ingat bahwa keadaan air belum tentu tersedia cukup, maka sangat diperlukan efesiensi
oleh karenanya pemanfaatan sistem rotasi teknis sangat diperlukan agar di peroleh
penghematan air. Disamping itu masih dipilih saat-saat awal tanam tepat oleh
karenanya dipakai sistem simulasi sehingga diperkirakan pemanfaatan air hujan secara
optimal.
Rotasi teknis 3 golongan ialah kebutuhan air lahan dihitung dengan membagi
dalam 3 jenis golongan menurut waktu awal tanamnya sehingga kebutuhan air akan
lebih sdikit dibanding dengan awal penanaman yang bersamaan secara keseluruhan.
Sebagai contoh, petak pertama untuk lahan awal tanamnya 1 Januari, petak ke 2
untuk lahan dengan awal tanam 1 Februari, selanjutnya petak ke 3 untuk lahan dengan
awal tanamnya 1 Maret. Dari ke 3 golongan petak tersebut, kebutuhan airnya di
jumlahkan yang kemudian di bagi efisiensi NFR sebesarnya 65% dan rata-rata sehingga
diperoleh DR ( kebutuhan air lahan rata-rata per hektar). Apabila awal tanam petak
pertama di mulai pada tanggal 1 Januari, maka petak ke 2 mulai ditanami pada tanggal
1 Februari, dan petak 3 mulai ditanam pada tanggal 1 Maret, begitu sterusnya.
Keterangan :
Koefisien untuk DR di asumsikan

: 0,65

Efisiensi Primer

: 0,675

Efisiensi Sekunder

: 0,78

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 49
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Efisiensi Tersier

: 0,885

Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Rotasi Teknis

R1

R2

R3

Total

Koefesien

Rata - rata

Bulan

In

In

In

R1+R2+R3

Total/65%

Koefesien/3

Jan

832,32

-

-

832,32

1.280,49

426,83

Feb

945,13

945,13

-

1.890,25

2.908,08

969,36

Mar

972,76

972,76

972,76

2.918,29

4.489,68

1.496,56

Apr

1.047,99

1.047,99

1.047,99

3.143,96

4.836,86

1.612,29

Mei

1.137,18

1.137,18

1.137,18

3.411,54

5.248,52

1.749,51

Jun

1.207,36

1.207,36

1.207,36

3.622,09

5.572,44

1.857,48

Jul

1.086,36

1.086,36

1.086,36

3.259,08

5.013,97

1.671,32

Agust

998,97

998,97

998,97

2.996,91

4.610,63

1.536,88

Sep

991,68

991,68

991,68

2.975,04

4.576,99

1.525,66

Okt

933,54

933,54

933,54

2.800,62

4.308,64

1.436,21

Nop

360,40

360,40

360,40

1.081,21

1.663,40

554,47

Des

818,08

818,08

818,08

2.454,24

3.775,75

1.258,58

 Ketersediaan Air
Ketersedian air irigasi atau sering dinamakan sebagai DEBIT ANDALAN
(depndable low) adalah debit minimun untuk kemungkinan terpenuhi air yang sudah
ditentukan yang dapat dipakai untuk irigasi. Kemungkinan bahwa debit sungai lebih
rendah dari debit andalan adalah 20%. Debit andalan ditentukan pada periode tengah
bulanan ( Dirjen Pengairan, Dep.PU 1986:hal 70 ).
Ketersediaan air irigasi dihitung dengan rumus :
Q= ἀ × A × H ÷ T
Dimana :
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 50
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Q : debit andalan ( ketersedian air irigasi), mm/hari
ἀ : koefesien yang besarnya 0,52 ( 0,52 asumsi)
A : luas lahan dalam ha
H : curah hujan harian rata-rata dalam mm
T : sesuai dengan umur bulan
Untuk mengkonversikannya kesatuan liter/detik maka Q dibagi dengan 8,64
Perhitungan Ketersediaan Air Irigasi Untuk Tanah Seluas 61,8 Ha

=

0,52

A

=

61,82

H
200,2

T

Bln

19

1

Q1

=

338,72

39,20 mm/hari

189,5

15

2

Q2

=

406,12

47,00 mm/hari

215,2

20

3

Q3

=

345,90

40,03 mm/hari

220,5

20

4

Q4

=

354,41

41,02 mm/hari

203,5

17

5

Q5

=

384,81

44,54 mm/hari

206,0

19

6

Q6

=

348,53

40,34 mm/hari

250,1

22

7

Q7

=

365,45

42,30 mm/hari

249,8

23

8

Q8

=

349,14

40,41 mm/hari

224,4

22

9

Q9

=

327,89

37,95 mm/hari

199,4

19

10

Q10

=

337,37

39,05 mm/hari

215,2

21

11

Q11

=

329,42

38,13 mm/hari

215,6

22

12

Q12

=

315,03

36,46 mm/hari

Q=ἀ×A×H÷T

Q ÷ 8,64

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 51
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

BAB III
PERHITUNGAN SALURAN PADA JARINGAN IRIGASI
3.1 Peta Petak Irigasi ( dilampirkan)
3.2 Nomenklatur / Tata Nama Jaringan ( dilampirkan )
3.3 Perhitungan Kapasitas Saluran
Kapasitas saluran irigasi harus ditentukan dari kebutuhan irigasi selama
pengairan lahan, bila dipakai sistem rotasi ( permanen ) maka perlu penyesuaian
yang lebih lanjut sehingga tipe rotasi yang akan diterapkan perlu ditentukan
terlebih dahulu. Tahapan perhitungan dimensi saluran irigasi drencanakan mulai
dari beberapa:
a. Kebutuhan irigasi untuk semua lahan
b. Kapasitas rencana sebuah bangunan
c. Elevasi muka air rencana
d. Menentukan karakteristik salurannya
Kapasitas saluran primer

:

Kapasitas saluran sekunder

:

Kapasitas saluran tersier

:

Dimana :
A

: Luas daerah yang dialiri = 61,8 Ha

EPrimer : 0,675
ESekunder : Interpolasi :

0,78

ETersier : 0,885

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 52
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

DRMax : 170,28 ( lihat hal. 44 )

SALURAN PRIMER
Nama
saluran

Nama Petak Yg
Dialiri

Luas ( Ha )

PRIMER 1

D-ry-1
D-ry-2
D-ry-3
D-ry-4
D-ry-5
D-ry-6
D-ry-7
D-ry-8
D-ry-9
D-ry-10
D-ry-11
D-ry-12
D-ry-13
D-ry-14
D-ry-15
D-ry-16
D-ry-17
D-ry-18
D-ry-19
D-ry-20
D-ry-21
D-ry-22
D-ry-23
D-ry-24
D-ry-25
D-ry-26
D-ry-27
D-ry-28
D-ry-29
D-ry-30
D-ry-31
D-ry-32
D-ry-33
D-ry-34
D-ry-35
D-ry-36
D-ry-37
D-ry-38

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

Luas Total
Yang
Dialiri

QP (Lt/dt)

1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 53
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

QP Total

D-ry-39
D-ry-40
D-ry-41
D-ry-42

4
4
4
4

1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
61394,756

168
PRIMER 2

AL-1
AL-2
AL-3
AL-4
AL-5
AL-6
AL-7
AL-8
AL-9
AL-10
AL-11
AL-12
AL-13
AL-14
AL-15
AL-16
AL-17
AL-18
AL-19
AL-20
AL-21
AL-22
AL-23
AL-24
AL-25
AL-26
AL-27
AL-28
AL-29
AL-30
AL-31
AL-32
AL-33
AL-34
AL-35
AL-36
AL-37
AL-38
AL-39

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 54
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

AL-40
AL-41
AL-42
AL-43
AL-44
AL-45
AL-46
AL-47
AL-48
AL-49
AL-50
AL-51
AL-52
AL-53
AL-54
AL-55
AL-56

4
4
4
2
0,5
0,5
4
4
4
4
4
1,5
4
4
4
4
1,75

1461,780
1461,780
1461,780
730,890
182,722
182,722
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
548,167
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
639,529

210,25
PRIMER 3

CL-1
CL-2
CL-3
CL-4
CL-5
CL-6
CL-7
CL-8
CL-9
CL-10
CL-11
CL-12
CL-13
CL-14
CL-15
CL-16
CL-17
CL-18
CL-19
CL-20
CL-21
CL-22
CL-23
CL-24
CL-25

4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
0,5
4
3
4
4
4

76834,8
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
182,722
1461,780
1096,335
1461,780
1461,780
1461,780

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 55
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

CL-26
CL-27
CL-28
CL-29
CL-30
CL-31
CL-32
CL-33
CL-34
CL-35
CL-36
CL-37
CL-38
CL-39
CL-40
CL-41
CL-42
CL-43
CL-44
CL-45
CL-46
CL-47
CL-48
CL-49
CL-50
CL-51
CL-52
CL-53
CL-54
CL-55
CL-56
CL-57
CL-58
CL-59
CL-60
CL-61
CL-62
CL-63
CL-64
CL-65
CL-66

4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
2
4
4
3
4
4
4
3
2
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
2
4
4
4
3
2
4
4
0,25

1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
730,890
1461,780
1461,780
1096,335
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
730,890
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
730,890
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
730,890
1461,780
1461,780
91,361

241,75

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 56
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

88346,323

SALURAN SEKUNDER
Nama saluran

Nama
Petak Yg
Dialiri

Luas (
Ha )

SEKUNDER 1

D-ry-1
D-ry-2
D-ry-3
D-ry-4
D-ry-5
D-ry-6
D-ry-7
D-ry-8
D-ry-9
D-ry-10
D-ry-11
D-ry-12
D-ry-13
D-ry-14
D-ry-15
D-ry-16
D-ry-17
D-ry-18
D-ry-19
D-ry-20
D-ry-21
D-ry-22
D-ry-23
D-ry-24
AL-1
AL-2
AL-3
AL-4
AL-5
AL-6
AL-7
AL-8
AL-9
AL-10
AL-11
AL-12
AL-13
AL-14
AL-15
AL-16

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

Luas Total
Yang Dialiri

QP
(Lt/dt)
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 57
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

QP Total

AL-17
AL-18
AL-19
AL-20
AL-21
AL-22
AL-23
AL-24
AL-25
AL-26
AL-27
AL-28
AL-29
AL-30
AL-31
AL-32
AL-33
AL-34
AL-35
AL-36
AL-37

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
60188,787

244
SEKUNDER 2
D-ry-25
D-ry-26
D-ry-27
D-ry-28
D-ry-29
D-ry-30
D-ry-31
D-ry-32
D-ry-33
D-ry-34
D-ry-35
D-ry-36
D-ry-37
D-ry-38
D-ry-39
D-ry-40
D-ry-41
D-ry-42
AL-38
AL-39
AL-40
AL-41

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 58
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

AL-42
AL-43
AL-44
AL-45
AL-46
AL-47
AL-48
AL-49
AL-50
AL-51
AL-52
AL-53
AL-54
AL-55
AL-56

4
2
0,5
0,5
4
4
4
4
4
1,5
4
4
4
4
1,75

986,701
493,351
123,338
123,338
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
370,013
986,701
986,701
986,701
986,701
431,682
33116,167

134,250
SEKUNDER 3
CL-1
CL-2
CL-3
CL-4
CL-5
CL-6
CL-7
CL-8
CL-9
CL-10
CL-11
CL-12
CL-13
CL-14
CL-15
CL-16
CL-17
CL-18
CL-19
CL-20
CL-21
CL-22
CL-23
CL-24
CL-25
CL-26
CL-27

4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
0,5
4
3
4
4
4
4
4

986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
740,026
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
123,338
986,701
740,026
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 59
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

CL-28
CL-29
CL-30
CL-31
CL-32
CL-33
CL-34
CL-35
CL-36
CL-37
CL-38

4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
2

986,701
986,701
986,701
986,701
740,026
986,701
986,701
986,701
986,701
986,701
493,351
35397,914

143,50
SEKUNDER 4
CL-39
CL-40
CL-41
CL-42
CL-43
CL-44
CL-45
CL-46
CL-47
CL-48
CL-49
CL-50
CL-51
CL-52
CL-53
CL-54
CL-55
CL-56
CL-57
CL-58
CL-59
CL-60
CL-61
CL-62
CL-63
CL-64
CL-65
CL-66

4
4
3
4
4
4
3
2
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
2
4
4
4
3
2
4
4
0,25

1461,780
1461,780
1096,335
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
730,890
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
1461,780
730,890
1461,780
1461,780
1461,780
1096,335
730,890
1461,780
1461,780
91,361

98,25

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 60
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

35904,969

SALURAN TERSIER
Nama
saluran

Nama
Petak Yg
Dialiri

Luas
( Ha
)

TERSIER 1

D-ry-1
D-ry-2
D-ry-3
D-ry-4
D-ry-5
D-ry-6
AL-1
AL-2
AL-3
AL-4
AL-5
AL-6
AL-7
AL-8
AL-9

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

TERSIER 2

D-ry-7
D-ry-8
D-ry-9
D-ry-10
D-ry-11
D-ry-12
AL-10
AL-11
AL-12
AL-13
AL-14
AL-15
AL-16
AL-17
AL-18

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

Luas Total
Yang
Dialiri

QP (Lt/dt)

769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
60

11544,407
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627

60
TERSIER 3

D-ry-13
D-ry-14
D-ry-15
D-ry-16
D-ry-17
D-ry-18
AL-19
AL-20

4
4
4
4
4
4
4
4

QP Total

11544,407
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 61
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

AL-21
AL-22
AL-23
AL-24
AL-25
AL-26
AL-27

4
4
4
4
4
4
4

TERSIER 4

D-ry-19
D-ry-20
D-ry-21
D-ry-22
D-ry-23
D-ry-24
AL-28
AL-29
AL-30
AL-31
AL-32
AL-34
AL-35
AL-36
AL-37

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

TERSIER 5

D-ry-25
D-ry-26
D-ry-27
D-ry-28
D-ry-29
D-ry-30
AL-33
AL-38
AL-39
AL-40
AL-41
AL-42
AL-43
AL-44
AL-45

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
2
0,5
0,5

TERSIER 6

D-ry-31
D-ry-32
D-ry-33
D-ry-34
D-ry-35

4
4
4
4
4

769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
60

11544,407
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627

60

11544,407
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
384,814
96,203
96,203

51

9812,746
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 62
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

D-ry-36
AL-46
AL-47
AL-48
AL-49
AL-50
AL-51

4
4
4
4
4
4
1,5

D-ry-37
D-ry-38
D-ry-39
D-ry-40
D-ry-41
D-ry-42
AL-52
AL-53
AL-54
AL-55
AL-56

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
1,75

769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
288,610
45,5

TERSIER 7

8754,508
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
336,712

41,75
TERSIER 8

CL-1
CL-2
CL-3
CL-4
CL-5
CL-6
CL-7
CL-8
CL-9
CL-10

4
4
4
4
4
4
4
4
4
3

8032,983
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
577,220

39
TERSIER 9

CL-11
CL-12
CL-13
CL-14
CL-15
CL-16
CL-17
CL-18
CL-19
CL-20

4
4
4
4
4
4
4
4
4
0,5

7503,864
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
96,203

36,5
TERSIER 10

CL-21
CL-22

4
3

7022,847
769,627
577,220

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 63
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

CL-23
CL-24
CL-25
CL-26
CL-27
CL-28
CL-29

4
4
4
4
4
4
4

CL-30
CL-31
CL-32
CL-33
CL-34
CL-35
CL-36
CL-37
CL-38

4
4
3
4
4
4
4
4
2

769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
35

TERSIER 11

6734,237
769,627
769,627
577,220
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
384,814

33
TERSIER 12

CL-39
CL-40
CL-41
CL-42
CL-43
CL-44
CL-45

4
4
3
4
4
4
3

6349,424
769,627
769,627
577,220
769,627
769,627
769,627
577,220

26
TERSIER 13

CL-46
CL-47
CL-48
CL-49
CL-50
CL-51
CL-52
CL-65

2
4
4
4
3
4
4
4

5002,576
384,814
769,627
769,627
769,627
577,220
769,627
769,627
769,627

29
TERSIER 14

CL-53
CL-54
CL-55
CL-56
CL-57
CL-58
CL-64

4
4
4
4
4
2
4

5579,797
769,627
769,627
769,627
769,627
769,627
384,814
769,627

26
TERSIER 15

CL-59

4

5002,576
769,627

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 64
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

CL-60
CL-61
CL-62
CL-63
CL-66

4
4
3
2
0,25

769,627
769,627
577,220
384,814
48,102
17,25

3319,017

Dalam perhitungan dimensi saluran digunakan rumus dasar sebagai berikut:
Q=AxV

Dimana :
Q = Debit/kapasitas saluran (m3/dt)
A= Penampang basah saluran (m2)
V = Kecepatan aliran (m/dt)
Dari rumus tersebut maka dapat kita uraikan menjadi :
V = k x R2/3 x I ½
A = (b + m x h) x h
P = b + 2 x h x √ (1+ m2)
R = A/P
Dimana :
K = koefisien kekasaran (m1/3/dt)
m = Kemiringan talud
n = Perbandingan lebar dasar saluran dengan kedalaman air (b/h)
I = Kemiringan dasar saluran (kemiringan rencana)

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 65
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

b = Lebar dasar saluran (m)
h = Tinggi air (m)

Tabel Parameter perhitungan untuk kemiringan saluran
Q (m3/dt)

m

n = b/h

K

V (m/dt)

0.00-0.15

1

1.0

35

0.25-0.30

0.15-0.30

1

1.0

35

0.30-0.35

0.30-0.40

1

1.0

35

0.35-0.40

0.40-0.50

1

1.0-1.2

35

0.40-0.45

0.50-0.75

1

1.2-1.3

35

0.45-0.50

0.75-1.00

1

1.3-1.5

35

0.50-0.55

1.00-1.50

1

1.5-1.8

40

0.50-0.55

1.50-3.00

1.5

1.8-2.3

40

0.55-0.60

3.00-4.50

1.5

2.3-2.7

40

0.60-0.65

4.50-5.00

1.5

2.7-2.9

40

0.65-0.70

5.00-6.00

1.5

2.9-3.1

42.5

0.65-0.70

6.00-7.50

1.5

3.1-3.5

42.5

0.70

7.50-9.00

1.5

3.5-3.7

42.5

0.70

9.00-10.00

1.5

3.7-3.9

42.5

0.70

10.00-11.00

2.0

3.9-4.2

45

0.70

11.00-15.00

2.0

4.2-4.9

45

0.70

15.00-25.00

2.0

4.9-6.5

45

0.70

25.00-40.00

2.0

6.5-9.6

45

0.75

40.00-80.00

2.0

12.0

45

0.80

Sumber : Dari Buku KP 01

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 66
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Tabel Tinggi jagaan minimum untuk saluran tanah:
Q (m3/dt)

Tinggi jagaan (W)

< 0.5

0.40

0.5-1.5

0.50

1.5-5.0

0.60

5.0-10.0

0.75

10.0-15.0

0.85

>15.0

1.00

Sumber : Dari Buku KP 03

I. SALURAN PRIMER
a) Saluran Primer 1
Q = 6,13948 m3/dt
m = 1,5
k = 42,5
n = 3,5 → n = b/h
b = 3,5 h
I = 0,0002

A = bh + m.h2
= ( 3,5h. h + 1,5h2 )
= 5 h2

P = b + 2h 1  m 2
= 3,5 h + 2h 11,5 2
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 67
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 7,1056 h
R=


=
= 0,7037 h

V = k x R 2/3 x I1/2
= 42,5 x (0,7037 h ) 2/3 x ( 0,0002 )1/2
= 0,4755 h2/3

Q=AxV
6,13948 = 5 h2 x 0,4755 h2/3
6,13948 = 2,3776 h8/3
h8/3 = 2,5822
h = 1,4272

Maka : b = 3,5 x h

= 4,9952

P = 7,1056 x h

= 10,1411

A = 5 x h2

= 10,1845

R = 0,7037 x h

= 1,0043

V=

Q
=
A

= 0,6028

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 68
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

V baru = 0,6028
V ijin = 0,7
A baru =

Q
= 10,1849
Vbaru

h baru =

Abaru
= 1,8425
3

b baru = 3,5 x h baru = 6,4488

P baru = 7,1056 x h baru = 13,0921
R baru = 0,7037 x h baru = 1,2966

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 10,1849 x 42,5 x (1,2966) 2/3 x I1/2
= 514,6947 x I1/2
I1/2 = 0,0119
I = 1,4161 x 10-4

b) Saluran Primer 2
Q = 7,68348 m3/dt
m = 1,5
k = 42,5
n = 3,7 → n = b/h
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 69
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

b = 3,7 h
I = 0,0005

A = bh + m.h2
= ( 3,7 h. h + 1,5 h2 )
= 5,55 h2

P = b + 2h 1  m 2
= 3,7 h + 2h 11,5 2
= 7,3056 h
R=


=
= 0,7597 h

V = k x R 2/3 x I1/2
= 42,5 x (0,7597 h ) 2/3 x ( 0,0005 )1/2
= 0,7912 h2/3

Q=AxV
7,68348 = 5,55 h2 x 0,7912 h2/3
7,68348 = 4,3912 h8/3
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 70
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

h8/3 = 1,7497
h = 1,2334

Maka : b = 3,7 x h

= 4,5636

P = 7,3056 x h

= 9,0107

A = 5,55 x h2

= 8,4431

R = 0,7597 x h

= 0,9370

V=

Q
=
A

= 0,9100

V baru = 0,9100
V ijin = 0,7
A baru =

h baru =

Q
= 8,4434
Vbaru
Abaru
= 1.6776
3

b baru = 3,7 x h baru = 6,2071

P baru = 7,3056 x h baru = 12,2559
R baru = 0,7597 x h baru = 1,2745

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 8,4434 x 42,5 x (1,2745) 2/3 x I1/2

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 71
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 421,8255 x I1/2
I1/2 = 0,0182
I = 3,3124 x 10-4

c) Saluran Primer 3
Q = 8,83463 m3/dt
m = 1,5
k = 42,5
n = 3,7 → n = b/h
b = 3,7 h
I = 0,0003

A = bh + m.h2
= ( 3,7 h. h + 1,5 h2 )
= 5,55 h2

P = b + 2h 1  m 2
= 3,7 h + 2h 11,5 2
= 7,3056 h
R=


=
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 72
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 0,7597 h

V = k x R 2/3 x I1/2
= 42,5 x (0,7597 h ) 2/3 x ( 0,0003 )1/2
= 0,6129 h2/3

Q=AxV
8,83463= 5,55 h2 x 0,6129 h2/3
8,83463= 3,4016 h8/3
h8/3 = 2,5972
h = 1,4303

Maka : b = 3,7 x h

= 5,2921

P = 7,3056 x h

= 10,4492

A = 5,55 x h2

= 11,3540

R = 0,6282 x h

= 2,0458

V=

Q
=
A

= 0,7781

V baru = 0,7781
V ijin = 0,7
A baru =

Q
= 11,3541
Vbaru

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 73
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

h baru =

Abaru
= 1,9454
3

b baru = 3,7 x h baru = 7,1980

P baru = 7,3056 x h baru = 14,2123
R baru = 0,7597 x h baru = 1,4779

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2

= 11,3541x 42,5 x (1,4779) 2/3 x I1/2
= 626,0923 x I1/2
I1/2 = 0,0141
I = 1,9881 x 10-4
TABEL DIMENSI SALURAN
Nama
Saluran
Primer 1
Primer 2

Q (m3/dtk)

Primer 3

8,83463

A (m2)

P (m)

V (m/dtk)

R (m)

B (m)

H (m)

10,1849 13,0921
8,4434 12,2559

0,6028
0,9100

1,2966
1,2745

6,4488
6,2071

1,8425
1.6776

11,3541 14,2123

0,7781

1,4779

7,1980

1,9454

II. SALURAN SEKUNDER
a) Saluran Sekunder 1
Q = 6,01888 m3/dt
m = 1,5
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 74
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

k = 42,5
n = 3,5 → n = b/h
b = 3,5 h
I = 0,0003
A = bh + m.h2
= ( 3,5 h. h + 1,5 h2 )
= 5 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 3,5 h + 2h 11,5 2
= 7,1056 h
R=


=
= 0,7037 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 42,5 x (0,7037 h ) 2/3 x ( 0,0003 )1/2
= 0,5824 h2/3
Q=AxV
6,01888 = 5 h2 x 0,5824 h2/3
6,01888 = 2,9120 h8/3
h8/3 = 2,0669
h = 1,3129
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 75
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Maka : B = 3,5 x h

= 4.5952

P = 7,1056 x h

= 9.3289

A = 5 x h2

= 8.6185

R = 0,7037 x h

= 0.9239

V=

Q
=
A

= 0,6984

V baru = 0,6984
V ijin = 0,7
A baru =

H baru =

Q
= 8,6181
Vbaru
Abaru
= 1,6949
3

B baru = 3,5 x h baru = 5,9322
P baru = 7,1056 x h baru = 12,0433
R baru = 0,7037 x h baru = 1,1927

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
6,01888 = 8,6181 x 42,5 x (1,1927) 2/3 x I1/2
6,01888 = 411,9280 x I1/2
I1/2 = 0,0146
I = 2,1316 x 10-4

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 76
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

b) Saluran Sekunder 2
Q = 3,31162 m3/dt
m = 1,5
k = 40
n = 2,7 → n = b/h
b = 2,7 h
I = 0,0002
A = bh + m.h2
= ( 2,7 h. h + 1,5 h2 )
= 4,2 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 2,7 h + 2h 11,5 2
= 6,3056 h
R=


=
= 0,6661 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 40 x (0,6661 h ) 2/3 x ( 0,0002 )1/2
= 0,4315 h2/3
Q=AxV
3,31162 = 4,2 h2 x 0,4315 h2/3
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 77
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

3,31162 = 1,8123 h8/3
h8/3 = 1,8273
h = 1,2537
Maka : B = 2,7 x h

= 4.5952

P = 6,3056 x h

= 9.3289

A = 4,2 x h2

= 8.6185

R = 0,6661 x h

= 0.9239

V=

Q
=
A

= 0,3842

V baru = 0,3842
V ijin = 0,65
A baru =

H baru =

Q
= 8,6195
Vbaru
Abaru
= 1,6950
3

B baru = 2,7 x h baru = 4,5765
P baru = 6,3056 x h baru = 10,6880
R baru = 0,6661 x h baru = 1,1290

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 8,6195 x 40 x (1,1290) 2/3 x I1/2
= 373,8276 x I1/2

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 78
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

I1/2 = 0,0089
I = 7,921 x 10-5

c) Saluran Sekunder 3
Q = 3,53979 m3/dt
m = 1,5
k = 40
n = 2,7 → n = b/h
b = 2,7 h
I = 0,0003
A = bh + m.h2
= ( 2,7 h. h + 1,5 h2 )
= 4,2 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 2,7 h + 2h 11,5 2
= 6,3056 h
R=


=
= 0,6661 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 40 x (0,6661 h ) 2/3 x ( 0,0003 )1/2
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 79
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 0,5284 h2/3
Q=AxV
3,53979 = 4,2 h2 x 0,5284 h2/3
3,53979 = 2,2193 h8/3
h8/3 = 1,5950
h = 1,1913
Maka : B = 2,7 x h

= 3,2165

P = 6,3056 x h

= 7,5119

A = 4,2 x h2

= 5,9606

R = 0,6661 x h

= 0.7935

V=

Q
=
A

= 0,5939

V baru = 0,5939
V ijin = 0,65
A baru =

H baru =

Q
= 5,9602
Vbaru
Abaru
= 1,4095
3

B baru = 2,7 x h baru = 3,8057
P baru = 6,3056 x h baru = 8,8877
R baru = 0,6661 x h baru = 0,9389

Q=AxV

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 80
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 5,9602 x 40 x (0,9389) 2/3 x I1/2
= 228,5952 x I1/2
I1/2 = 0,0155
I = 2,4025 x 10-4

d) Saluran Sekunder 4
Q = 3,5905 m3/dt
m = 1,5
k = 40
n = 2,7 → n = b/h
b = 2,7 h
I = 0,0008
A = bh + m.h2
= ( 2,7 h. h + 1,5 h2 )
= 4,2 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 2,7 h + 2h 11,5 2
= 6,3056 h
R=


=
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 81
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 0,6661 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 40 x (0,6661 h ) 2/3 x ( 0,0008 )1/2
= 0,8629 h2/3
Q=AxV
3,5905= 4,2 h2 x 0,8629 h2/3
3,5905= 3,6242 h8/3
h8/3 = 0,9907
h = 0,9815
Maka : B = 2,7 x h

= 2,6501

P = 6,3056 x h

= 6,1889

A = 4,2 x h2

= 4,0460

R = 0,6661 x h

= 0.6538

V=

Q
=
A

= 0,8874

V baru = 0,8874
V ijin = 0,65
A baru =

H baru =

Q
= 4,0461
Vbaru
Abaru
= 1,1613
3

B baru = 2,7 x h baru = 3,1355
P baru = 6,3056 x h baru = 7,3227

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 82
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

R baru = 0,6661 x h baru = 0,7735

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 4,0461x 40 x (0,7735) 2/3 x I1/2
= 125,1863 x I1/2
I1/2 = 0,0287
I = 2369 x 10-4

TABEL DIMENSI SALURAN
Nama
Saluran
Sekunder 1
Sekunder 2

Q (m3/dtk)

A (m2)

P (m)

V (m/dtk)

R (m)

B (m)

H (m)

6,01888
3,31162

8,6181
8,6195

12,0433
10,6880

0,6984
0,3842

1,1927
1,1290

5,9322
4,5765

1,6949
1,6950

Sekunder 3
Sekunder 4

3,53979

5,9602
4,0461

8,8877
7,3227

0,5939
0,8874

0,9389
0,7735

3,8057
3,1355

1,4095
1,1613

II. SALURAN TERSIER
a) Saluran Tersier 1
Q = 1,1544 m3/dt
m=1
k = 40
n = 1,8→ n = b/h
b = 1,8 h
I = 0,00024
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 83
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

A = bh + m.h2
= (1,8 h. h + 1 h2 )
= 2,8 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,8 h + 2h 1 12
= 4,6284 h
R=


=
= 0,6050 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 40 x (0,6050 h ) 2/3 x (0,00024)1/2
= 0,4433 h2/3
Q=AxV
1,1544 = 2,8 h2 x 0,4433 h2/3
1,1544 = 1,2412 h8/3
h8/3 = 0,9301
h = 0,9732
Maka : B = 1,8 x h

= 1,7518

P = 4,6284 x h

= 4,5044

A = 2,8 x h2

= 2,6519

R = 0,6050 x h

= 0.5888

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 84
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

V=

Q
=
A

= 0,4353

V baru = 0,4353
V ijin = 0,55
A baru =

H baru =

Q
= 2,6520
Vbaru
Abaru
= 0,9402
3

B baru = 1,8 x h baru = 1,6924
P baru = 4,6284 x h baru = 4,3516
R baru = 0,6050 x h baru = 0,5688

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
1,1544 = 2,6520 x 40 x (0,5688) 2/3 x I1/2
1,1544 = 72,8238 x I1/2
I1/2 = 0,0159
I = 2,5281 x 10-4
NB: Tersier 1, 2, 3, 4 memiliki Nilai yang sama.
b) Saluran Tersier 5
Q = 0,9813 m3/dt
m=1
k = 35
n = 1,5→ n = b/h
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 85
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

b = 1,5 h
I = 0,00034
A = bh + m.h2
= (1,5 h. h + 1 h2 )
= 2,5 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,5 h + 2h 1 12
= 4,3284 h
R=


=
= 0,5776 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5776 h ) 2/3 x (0,00034)1/2
= 0,4476 h2/3
Q=AxV
0,9813 = 2,5 h2 x 0,4476 h2/3
0,9813 = 1,1119 h8/3
h8/3 = 0,8825
h = 0,9542
Maka : B = 1,5 x h
P = 4,3284 x h

= 1,4313
= 4,1301

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 86
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

A = 2,5 x h2

= 2,2762

R = 0,5776 x h

= 0.5511

V=

Q
=
A

= 0,4311

V baru = 0,4311
V ijin = 0,50
A baru =

H baru =

Q
= 2,6762
Vbaru
Abaru
= 0,9444
3

B baru = 1,5 x h baru = 1,4166
P baru = 4,3284 x h baru = 4,0877
R baru = 0,5776 x h baru = 0,5454

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 2,6762 x 35 x (0,5454) 2/3 x I1/2
= 62,5263 x I1/2
I1/2 = 0,0156
I = 2,4336 x 10-4
c) Saluran Tersier 6
Q = 0,8755 m3/dt
m=1
k = 35
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 87
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

n = 1,5→ n = b/h
b = 1,5 h
I = 3,7209 x 10-5
A = bh + m.h2
= (1,5 h. h + 1 h2 )
= 2,5 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,5 h + 2h 1 12
= 4,3284 h
R=


=
= 0,5776 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5776 h ) 2/3 x (3,7209 x 10-5)1/2
= 0,1481 h2/3
Q=AxV
0,8755 = 2,5 h2 x 0,1481 h2/3
0,8755 = 0,3703 h8/3
h8/3 = 2,3643
h = 1,3808
Maka : B = 1,5 x h

= 2,0712

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 88
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

P = 4,3284 x h

= 5,9767

A = 2,5 x h2

= 4,7665

R = 0,5776 x h

= 0.7976

V=

Q
=
A

= 0,1837

V baru = 0,1837
V ijin = 0,50
A baru =

H baru =

Q
= 4,7659
Vbaru
Abaru
= 1,2604
3

B baru = 1,5 x h baru = 1,8906
P baru = 4,3284 x h baru = 5,4555
R baru = 0,5776 x h baru = 0,7280

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 4,7659 x 35 x (0,7280) 2/3 x I1/2
= 134,9897 x I1/2
I1/2 = 0,0065
I = 4,225 x 10-5
d) Saluran Tersier 8
Q = 0,7504 m3/dt
m=1
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 89
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

k = 35
n = 1,5→ n = b/h
b = 1,5 h
I = 4,444 x 10-5
A = bh + m.h2
= (1,5 h. h + 1 h2 )
= 2,5 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,5 h + 2h 1 12
= 4,3284 h
R=


=
= 0,5776 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5776 h ) 2/3 x (4,444 x 10-5)1/2
= 0,1618 h2/3
Q=AxV
0,7504 = 2,5 h2 x 0,1618 h2/3
0,7504 = 0,4045 h8/3
h8/3 = 1,8551
h = 1,2608
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 90
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Maka : B = 1,5 x h

= 1,8912

P = 4,3284 x h

= 5,4572

A = 2,5 x h2

= 3,9740

R = 0,5776 x h

= 0,7282

V=

Q
=
A

= 0,1888

V baru = 0,1888
V ijin = 0,50
A baru =

H baru =

Q
= 3,9746
Vbaru
Abaru
= 1,1510
3

B baru = 1,5 x h baru = 1,7265
P baru = 4,3284 x h baru = 4,9820
R baru = 0,5776 x h baru = 0,6648

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 2,8958 x 35 x (0,6648) 2/3 x I1/2
= 77,2024 x I1/2
I1/2 = 0,0097
I = 9,409 x 10-5
e) Saluran Tersier 9
Q = 0,7023 m3/dt
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 91
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

m=1
k = 35
n = 1,2→ n = b/h
b = 1,2 h
I = 4,444 x 10-5
A = bh + m.h2
= (1,2 h. h + 1 h2 )
= 2,2 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,2 h + 2h 1 12
= 4,0284 h
R=


=
= 0,5461 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5461 h ) 2/3 x (4,444 x 10-5)1/2
= 0,1559 h2/3
Q=AxV
0,7023 = 2,2 h2 x 0,1559 h2/3
0,7023 = 0,3430 h8/3
h8/3 = 2,0475
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 92
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

h = 1,3083
Maka : B = 1,2 x h

= 1,5700

P = 4,0284 x h

= 5,2704

A = 2,2 x h2

= 3,7656

R = 0,5461 x h

= 0,7145

V=

Q
=
A

= 0,1865

V baru = 0,1865
V ijin = 0,45
A baru =

H baru =

Q
= 3,7657
Vbaru
Abaru
= 1,1204
3

B baru = 1,2 x h baru = 1,3445
P baru = 4,0284 x h baru = 4,5134
R baru = 0,5462 x h baru = 0,6120

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 3,7657 x 35 x (0,6120) 2/3 x I1/2
= 95,0053 x I1/2
I1/2 = 0,0097
I = 7,3922 x 10-3

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 93
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

f) Saluran Tersier 10
Q = 0,6734 m3/dt
m=1
k = 35
n = 1,2→ n = b/h
b = 1,2 h
I = 4,7059 x 10-5
A = bh + m.h2
= (1,2 h. h + 1 h2 )
= 2,2 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,2 h + 2h 1 12
= 4,0284 h
R=


=
= 0,5461 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5461 h ) 2/3 x (4,7059 x 10-5)1/2
= 0,1604 h2/3
Q=AxV
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 94
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

0,6734 = 2,2 h2 x 0,1604 h2/3
0,6734 = 0,3529 h8/3
h8/3 = 1,9082
h = 1,2742
Maka : B = 1,2 x h

= 1,5230

P = 4,0284 x h

= 5,1330

A = 2,2 x h2

= 3,5719

R = 0,5461 x h

= 0,6958

V=

Q
=
A

= 0,1885

V baru = 0,1885
V ijin = 0,45
A baru =

H baru =

Q
= 3,5724
Vbaru
Abaru
= 1,0912
3

B baru = 1,2 x h baru = 1,3094
P baru = 4,0284 x h baru = 4,3958
R baru = 0,5461 x h baru = 0,5959

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 3,5724 x 35 x (0,5959) 2/3 x I1/2

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 95
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 88,5409 x I1/2
I1/2 = 0,0076
I = 5,776 x 10-5

g) Saluran Tersier 11
Q = 0,6349 m3/dt
m=1
k = 35
n = 1,2→ n = b/h
b = 1,2 h
I = 2,9091 x 10-4
A = bh + m.h2
= (1,2 h. h + 1 h2 )
= 2,2 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,2 h + 2h 1 12
= 4,0284 h
R=


=
= 0,5461 h
V = k x R 2/3 x I1/2
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 96
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 35 x (0,5461 h ) 2/3 x (2,9091 x 10-4)1/2
= 0,3988 h2/3
Q=AxV
0,6349 = 2,2 h2 x 0,3988 h2/3
0,6349 = 0,8774 h8/3
h8/3 = 0,7236
h = 0,8858
Maka : B = 1,2 x h

= 1,0630

P = 4,0284 x h

= 3,5684

A = 2,2 x h2

= 1,7262

R = 0,5461 x h

= 0,4285

V=

Q
=
A

= 0,3678

V baru = 0,3678
V ijin = 0,45
A baru =

H baru =

Q
= 1,7262
Vbaru
Abaru
= 0,7586
3

B baru = 1,2 x h baru = 0,9103
P baru = 4,0284 x h baru = 3,0559
R baru = 0,5461 x h baru = 0,4143

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 97
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 1,7262 x 35 x (0,4143) 2/3 x I1/2
= 33,5765 x I1/2
I1/2 = 0,0189
I = 3,5721 x 10-4
h) Saluran Tersier 12
Q = 0,5003 m3/dt
m=1
k = 35
n = 1,3→ n = b/h
b = 1,3 h
I = 3,2 x 10-4
A = bh + m.h2
= (1,3 h. h + 1 h2 )
= 2,3 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,3 h + 2h 1 12
= 4,1284 h
R=


=

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 98
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 0,5571 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5571 h ) 2/3 x (3,2 x 10-4)1/2
= 0,4239 h2/3
Q=AxV
0,5003 = 2,3 h2 x 0,4239 h2/3
0,5003 = 0,9750 h8/3
h8/3 = 0,5131
h = 0,7786

Maka : B = 1,3 x h

= 1,0122

P = 4,1284 x h

= 3,2144

A = 2,3 x h2

= 1,3943

R = 0,5571 x h

= 0,4338

V=

Q
=
A

= 0,3588

V baru = 0,3588
V ijin = 0,40
A baru =

H baru =

Q
= 1,3944
Vbaru
Abaru
= 0,6818
3

B baru = 1,3 x h baru = 0,8863

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 99
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

P baru = 4,1284 x h baru = 2,8147
R baru = 0,5571 x h baru = 0,3798

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 1,3944 x 35 x (0,3798) 2/3 x I1/2
= 25,5952 x I1/2
I1/2 = 0,0195
I = 3,8025 x 10-4
NB: Saluran Tersier 12 dan 14 sama.
i) Saluran Tersier 13
Q = 0,5580 m3/dt
m=1
k = 35
n = 1,3→ n = b/h
b = 1,3 h
I = 3,5556 x 10-4
A = bh + m.h2
= (1,3 h. h + 1 h2 )
= 2,3 h2
P = b + 2h 1  m 2
= 1,3 h + 2h 1 12
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 100
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 4,1284 h
R=


=
= 0,5571 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5571 h ) 2/3 x (3,5556 x 10-4)1/2
= 0,4468 h2/3
Q=AxV
0,5580 = 2,3 h2 x 0,4468 h2/3
0,5580 = 0,02764 h8/3
h8/3 = 0,5131
h = 1,0875
Maka : B = 1,3 x h

= 1,4138

P = 4,1284 x h

= 4,4896

A = 2,3 x h2

= 2,7201

R = 0,5571 x h

= 0,6058

V=

Q
=
A

= 0,2051

V baru = 0,2051
V ijin = 0,45
A baru =

Q
= 2,7206
Vbaru

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 101
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Abaru
= 0,9523
3

H baru =

B baru = 1,3 x h baru = 1,2378
P baru = 4,1284 x h baru = 3,9315
R baru = 0,5571 x h baru = 0,5305

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 2,7206 x 35 x (0,5305) 2/3 x I1/2
= 62,4007 x I1/2
I1/2 = 0,0195
I = 8,9422 x 10-4
j) Saluran Tersier 15
Q = 0,1319 m3/dt
m=1
k = 35
n = 1 → n = b/h
b=1h
I = 4,3636 x 10-4
A = bh + m.h2
= (1 h. h + 1 h2 )
= 2 h2
P = b + 2h 1  m 2
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 102
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 1 h + 2h 1 12
= 3,8284 h
R=


=
= 0,5224 h
V = k x R 2/3 x I1/2
= 35 x (0,5224 h ) 2/3 x (4,3636 x 10-4)1/2
= 0,4742 h2/3
Q=AxV
0,1319 = 2 h2 x 0,4742 h2/3
0,1319 = 0,9484 h8/3
h8/3 = 0,1391
h = 0,4678
Maka : B = 1 x h

= 0,4678

P = 3,8284 x h

= 1,7909

A = 2 x h2

= 0,9356

R = 0,5224 x h

= 0,2444

V=

Q
=
A

= 0,1410

V baru = 0,1410
V ijin = 0,45

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 103
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

A baru =

Q
= 0,9355
Vbaru
Abaru
= 0,5584
3

H baru =

B baru = 1 x h baru = 0,5584
P baru = 3,8284 x h baru = 2,1378
R baru = 0,5224 x h baru = 0,2917

Q=AxV
Q = A x k x R 2/3 x I1/2
= 0,9355 x 35 x (0,2917) 2/3 x I1/2
= 14,4013 x I1/2
I1/2 = 0,0091
I = 8,281 x 10-5

Nama
Saluran
Tersier 1
Tersier 2
Tersier 3
Tersier 4
Tersier 5
Tersier 6
Tersier 7
Tersier 8
Tersier 9
Tersier 10
Tersier 11
Tersier 12
Tersier 13
Tersier 14
Tersier 15

Q
(m3/dtk)
1,1544
1,1544
1,1544
1,1544
0,9813
0,8755
0,8033
0,7023
0,6734
0,6349
0,5003
0,5580
0,5003
0,1319

TABEL DIMENSI SALURAN
A (m2) P (m)
V (m/dtk) R (m)

B (m)

H (m)

2,6520
2,6520
2,6520
2,6520
2,6762
4,7659
2,8958
3,9746
3,7657
3,5724
1,7262
1,3944
2,7206
1,3944
0,9355

1,6924
1,6924
1,6924
1,6924
1,4166
1,8906
1,4738
1,7265
1,3445
1,3094
0,9103
0,8863
1,2378
0,8863
0,5584

0,9402
0,9402
0,9402
0,9402
0,9444
1,2604
0,9825
1,1510
1,1204
1,0912
0,7586
0,6818
0,9523
0,6818
0,5584

4,3516
4,3516
4,3516
4,3516
0,5454
5,4555
4,2527
4,9820
4,5134
4,3958
3,0559
2,8147
3,9315
2,8147
2,1378

0,4353
0,4353
0,4353
0,4353
0,4311
0,1837
0,2774
0,1888
0,1865
0,1885
0,3678
0,3588
0,2051
0,3588
0,1410

0,5688
0,5688
0,5688
0,5688
0,5454
0,7280
0,5675
0,6648
0,7145
0,5959
0,4143
0,3798
0,5305
0,3798
0,2917

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 104
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

a. Perhitungan galian saluran
Perhitungan galian saluran disebabkan karena ketinggian kontur tanah yang
berbeda-beda dan juga untuk memperhitungkan kemiringan saluran supaya air bisa
mengalir sesuai yang direncanakan.
Ket :
W

= Tinggi jagaan

h3

= ketinggian tanah mencapai tinggi jagaan

h2’

= ketinggian tanah dari muka tanah yang sebenarnya sampai
= ketinggian tanah asumsi. (m)

h3

= h + w)

h2’

= (h3’ – h2)

a. Saluran Primer

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 105
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Diketahui : h2’

= 0,4

m

= 1,0

W

= 0,75

h

= 1,8425 + W
= 1,8425 + 0,75
= 2,5925 m

b

= 6,4488 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 2,5925
= 2,5925 m

2.

¼L

=√
=√
= 3,6663 m

L

= 3,6663 . 4
= 14,6654 m

3.

hgalian

=h+
= 2,5925 + 0,4
= 2,9925 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (14,6663 + 6,4488) . 2.9925
= 31,5944 m3

 Saluran Primer 2
Diketahui : h2’

= 0,2

m

= 1,0

W

= 0,75

h

= 1,6776 + W

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 106
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 1,6776 + 0,75
= 2,4276 m
b

= 6,2071 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 2,4276
= 2,4276 m

2.

¼L

=√
=√
= 3,4331 m

L

= 3,4331 . 4
= 13,7326 m

3.

hgalian

=h+
= 2,4276 + 0,2
= 2,6276 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (13,7326 + 6,2071) . 2,6276
= 26,1968 m3

 Saluran Primer 3
Diketahui : h2’

= 0,4

m

= 1,0

W

= 0,75

h

= 1,9454 + W
= 1,9454 + 0,75
= 2,6954 m

b

= 7,1980 m

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 107
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 2,6954
= 2,6954 m

2.

=√

¼L

=√
= 3,8119 m
L

= 3,8119 . 4
= 15,2475 m

3.

hgalian

=h+
= 2,6954 + 0,4
= 3,0954 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (15,2475 + 7,1980) . 3,0954
= 34,7389 m3

TABEL GALIAN SALURAN
Nama
Saluran
Primer 1
Primer 2
Primer 3

h galian
(m)
2,9925
2,6276
3,0954

L (m)

1/4L (m)

14,6654
13,7326
15,2475

3,6663
3,4331
3,8119

h basah
(m)
2,5925
2,4276
2,6954

b. Saluran Sekunder

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 108
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Volume
galian (m3)
31,5944
26,1968
34,7389

 Saluran sekunder 1
Diketahui : h2’

= 0,9

m

= 1,0

W

= 0,75

h

= 1,6949 + W
= 1,6949 + 0,75
= 2,4449 m

b

= 5,9322 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 2,4449
= 2,4449 m

2.

¼L

=√

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 109
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

=√
= 3,4576 m
L

= 3,4576 . 4
= 13,8304 m

3.

hgalian

=h+
= 2,4449 + 0,9
= 3,3449 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (13,8304+ 5,9322) . 3,3449
= 33,0520 m3

 Saluran sekunder 2
Diketahui : h2’

= 0,2

m

= 1,0

W

= 0,60

h

= 1,6950 + W
= 1,6950 + 0,60
= 2,2950 m

b

= 4,5765 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 2,2950
= 2,2950 m

2.

¼L

=√
=√
= 3,2456 m

L

= 3,2456 . 4
= 12,9825 m

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 110
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

3.

hgalian

=h+
= 2,2950 + 0,2
= 2,4950 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (12,9825 + 4,5765) . 2,4950
= 21,9094 m3

 Saluran sekunder 3
Diketahui : h2’

= 0,5

m

= 1,0

W

= 0,60

h

= 1,4095+ W
= 1,4095+ 0,60
= 2,0095 m

b

= 3,8057 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 2,0095
= 2,0095 m

2.

¼L

=√
=√
= 2,8419 m

L

= 2,8419 . 4
= 11,3674 m

3.

hgalian

=h+
= 2,0095 + 0,5
= 2,5095 m

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 111
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (11,3674 +3,8057) . 2,5095
= 19,0384 m3

 Saluran sekunder 4
Diketahui : h2’

= 1,2

m

= 1,0

W

= 0,60

h

= 1,1613 + W
= 1,1613 + 0,60
= 1,7613 m

b

= 3,1355m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,7613
= 1,7613 m

2.

¼L

=√
=√
= 2,4909 m

L

= 2,4909 . 4
= 9,9634 m

3.

hgalian

=h+
= 1,7613+ 1,2
= 2,9613 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (9,9634 + 2,9613) . 2,9613
= 12,1370 m3

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 112
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

TABEL GALIAN SALURAN
Nama
Saluran
Sekunder 1
Sekunder 2
Sekunder 3
Sekunder 4

h galian
(m)
3,3449
2,6595
2,5095
2,9613

L (m)

1/4L (m)

13,8304
12,9825
11,3674
9,9634

3,4576
3,2456
2,8419
2,4909

h basah
(m)
2,4449
2,2950
2,0095
1,7613

c. Saluran Tersier

 Saluran Tersier 1, 2, 3, & 4
Diketahui : h2’

= 0,72

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 0,9402 + W
= 0,9402 + 0,50
= 1,4402 m

b

= 1,6924 m

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 113
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Volume
galian (m3)
33,0520
21,9094
19,0384
12,1370

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,4402
= 1,4402 m

2.

=√

¼L

=√
= 2,0368 m
L

= 2,0368 . 4
= 8,1472 m

3.

hgalian

=h+
= 1,4402 + 1,2
= 2,6402 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (8,1472 + 1,6924) . 2,6402
= 12,9893 m3

 Saluran Tersier 5
Diketahui : h2’

= 0,72

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 0,9444 + W
= 0,9444 + 0,50
= 1,4444 m

b

= 1,4166 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 114
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,4444
= 1,4444 m

2.

=√

¼L

=√
= 2,0427 m
L

= 2,0427 . 4
= 8,1708 m

3.

hgalian

=h+
= 1,4444 + 0,72
= 2,1644 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (8,1708 + 1,4166) . 2,1644
= 10,3755 m3

 Saluran Tersier 6
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 1,2604 + W
= 1,2604 + 0,50
= 1,7604 m

b

= 1,8906 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,7604

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 115
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 1,7604 m
2.

=√

¼L

=√
= 2,4896 m
L

= 2,4896 . 4
= 9,9584 m

3.

hgalian

=h+
= 1,7604 + 0,08
= 1,8404 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (9,9584 + 1,8906) . 1,8404
= 10,9034 m3

 Saluran Primer 7
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 0,9825+ W
= 0,9825 + 0,50
= 1,4825 m

b

= 1,4738 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,4825
= 1,4825 m

2.

¼L

=√

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 116
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

=√
= 2,0966 m
L

= 2,0966 . 4
= 8,3864 m

3.

hgalian

=h+
= 1,4825 + 0,08
= 1,5625 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (8,3864 + 1,4738) . 1,5625
= 7,7033 m3

 Saluran Primer 8
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 1,1510+ W
= 1,1510 + 0,50
= 1,651 m

b

= 1,7265 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,651
= 1,651 m

2.

¼L

=√
=√
= 2,3349 m

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 117
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

L

= 2,3349 . 4
= 9,3396 m

3.

hgalian

=h+
= 1,651 + 0,08
= 1,731 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (9,3396 + 1,7265) . 1,731
= 9,5777 m3

 Saluran Primer 9
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 1,1204+ W
= 1,1204 + 0,50
= 1,6204 m

b

= 1,3445 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,6204
= 1,6204 m

2.

¼L

=√
=√
= 2,2916 m

L

= 2,2916 . 4
= 9,1664 m

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 118
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

3.

hgalian

=h+
= 1,6204 + 0,08
= 1,7004 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (9,1664 + 1,3445) . 1,7004
= 8,9364 m3

 Saluran Primer 10
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 1,0912+ W
= 1,0912 + 0,50
= 1,5912 m

b

= 1,3094 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,5912
= 1,5912 m

2.

¼L

=√
=√
= 2,2503 m

L

= 2,2503 . 4
= 9,0012 m

3.

hgalian

=h+
= 1,5912 + 0,08

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 119
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 1,6712 m
4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (9,0012+ 1,3094) . 1,6712
= 8,6832 m3

 Saluran Primer 11
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 0,7586 + W
= 0,7586 + 0,50
= 1,2586 m

b

= 0,9130 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,2586
= 1,2586 m

2.

¼L

=√
=√
= 1,7799 m

L

= 1,7799 . 4
= 7,1196 m

3.

hgalian

=h+
= 1,2586 + 0,08
= 1,3386 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 120
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 0,5 . (7,1196 + 0,9130) . 1,3386
= 5,3762 m3

 Saluran Primer 12, & 14
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 0,6818 + W
= 0,6818 + 0,50
= 1,1818 m

b

= 0,8863 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,1818
= 1,1818 m

2.

¼L

=√
=√
= 1,6713 m

L

= 1,6713 . 4
= 6,6852 m

3.

hgalian

=h+
= 1,1818 + 0,08
= 1,2618 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (6,6852 + 0,8863) . 1,2618
= 4,7769 m3

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 121
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

 Saluran Primer 13
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,50

h

= 0,9253 + W
= 0,9253 + 0,50
= 1,4253 m

b

= 1,2378 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 1,4253
= 1,4253 m

2.

¼L

=√
=√
= 2,0157 m

L

= 2,0157 . 4
= 8,0628 m

3.

hgalian

=h+
= 1,4253 + 0,08
= 0,5053 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (8,0628 + 1,2378) . 0,5053
= 2,3498 m3

\
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 122
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

 Saluran Primer 15
Diketahui : h2’

= 0,08

m

= 1,0

W

= 0,4

h

= 0,5584 + W
= 0,5584 + 0,40
= 0,9584 m

b

= 0,9584 m

Ditanya : 1. hbasah

?

2. ¼ L

?

3. hgalian

?

4. Volume galian ?

Jawab :

1.

hbasah

=m.h
= 1,0 . 0,9584
= 0,9584 m

2.

¼L

=√
=√
= 1,3554 m

L

= 1,3554 . 4
= 5,4216 m

3.

hgalian

=h+
= 0,9584 + 0,08
= 1,0384 m

4.

Volume galian = 0,5 . (L + b) . hgalian
= 0,5 . (5,4216 + 0,9584) . 1,0384
= 3,3125 m3

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 123
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

TABEL GALIAN SALURAN
Nama
Saluran
Tersier 1
Tersier 2
Tersier 3
Tersier 4
Tersier 5
Tersier 6
Tersier 7
Tersier 8
Tersier 9
Tersier 10
Tersier 11
Tersier 12
Tersier 13
Tersier 14
Tersier 15

h galian
(m)
2,6402
2,6402
2,6402
2,6402
2,1644
1,8404
1,5625
1,731
1,7004
1,6712
1,3386
1,2618
0,5053
1,2618
1,0384

L (m)

1/4L (m)

8,1472
8,1472
8,1472
8,1472
8,1708
9,9584
8,3864
9,3396
9,1664
9,0012
7,1196
6,6852
8,0628
6,6852
5,4216

2,0368
2,0368
2,0368
2,0368
2,0427
2,4896
2,0966
2,3349
2,2916
2,2503
1,7799
1,6713
2,0157
1,6713
1,3554

h basah
(m)
1,4402
1,4402
1,4402
1,4402
1,4444
1,7604
1,4825
1,651
1,6204
1,5912
1,2586
1,1818
1,4253
1,1818
0,9584

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 124
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Volume
galian (m3)
12,9893
12,9893
12,9893
12,9893
10,3755
10,9034
7,7033
9,5777
8,9364
8,6832
5,3762
4,7769
2,3498
4,7769
3,3125

BAB IV
PENUTUP
Irigasi merupakan usaha manusia di dalam menyelidiki dan pengaturan air
untuk menunjang pertanian dan irigasi sangat memperhatikan dalam hal pemanfaatan
atau pemakaian air yang pada umumnya, memperhatikan tingkat efektifitas dalam
pemakaian jumlah air. Dalam hal ini irigasi menggambarkan hubungan pemberian air
dengan hasil panen terutama tanaman pokok seperti padi.
Lebih lanjut di katakan bahwa namanya masyarakat antara lain disebabkan
oleh adanya

pertanian yang beririgasi, Sehingga dengan demikian pertanian akan

memberikan keuntungan secara tetap. Oleh karenanya pemberian dan pengembangan
bangunan irigasi terus di kembangkan oleh masyarakat.
Dari perbandingan jumlah persediaan air dengan kebutuhan air tersebut dapat
dipilih waktu yang baik untuk awal tanam awal bulan januari dengan rotasi teknis tiga
golongan karena sebagian besar kebutuhan air dapat terpenuhi oleh jumlah ketersediaan
air.
1. Irigasi merupakan cara pemanfaatan air yang ada untuk keperluan merupakan
pertumbuhan tanaman terutama bagi tanaman pokok.
2. Kebutuhqan air bagi tanaman adalah jumlah air yang dibutuhkan tanaman untuk
kebutuhannya.
3. Luas lahan yang di aliri adalah
4. Pemberian air dilakukan dengan cara rotasi teknis tiga golongan dengan awal masa
tanam 1 januari.
5. Debit maksimum untuk mengaliri lahan seluas
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 125
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

LAMPIRAN

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 126
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

 foto / dokumentasi irigasi di indonesia

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 127
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 128
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 129
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi 130
dan Bangunan Air I
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful