Anda di halaman 1dari 95

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara optimal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Tidak terkecuali juga pada orang yang sedang menderita sakit, mereka juga memerlukan istirahat dan tidur yang memadai. Namun dalam keadaan sakit, pola tidur seseorang biasanya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya untuk mencukupi ataupun memenuhi kebutuhan tidur tersebut. Secara umum tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkatan kesadaran yang bervariasi, perubahan-perubahan proses fisiologis tubuh dan penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Diduga penyebab tidur adalah proses penghambatan aktif. Ada teori lama yang menyatakan bahwa area eksitatori pada batang otak bagian atas, yang disebut sistem aktivasi retikular, mengalami kelelahan setelah seharian terjaga dan karena itu, menjadi inaktif. Keadaan ini disebut teori pasif dari tidur. Percobaan penting telah mengubah pandangan ini ke teori yang lebih baru bahwa tidur barangkali disebabkan oleh proses penghambatan aktif. Hal ini terbukti dari suatu percobaan dengan cara melakukan pemotongan batang otak setinggi regio midpontil, dan berdasarkan perekaman listrik ternyata otak tak

pernah tidur. Dengan kata lain, ada beberapa pusat yang terletak dibawah ketinggian midpontil pada batang otak, diperlukan untuk menyebabkan tidur dengan cara menghambat bagian-bagian otak lainnya (Choppra, 2003).

Sebagian orang bisa tidur dengan nyenyak merupakan anugerah, tetapi bagi orang yang mengalami gangguan tidur akan sulit untuk mendapatkan anugrah untuk tidur nyenyak, karena mengidap gangguan yang biasa disebut sulit tidur. Seseorang dianggap memiliki gangguan tidur apabila seseorang mengalami kesulitan tidur dalam beberapa hari. Apabila gangguan tidur tersebut terjadi dalam kurun waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan akan mengakibatkan kekebalan tubuh menurun akibat kekurangan tidur atau jadwal yang terganggu akibat gangguan tidur insomnia yang menyerang. Kesulitan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada penderita yang berkunjung ke praktek dokter psikiater. Kesulitan tidur dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah, gangguan tidur juga dialami oleh anak-anak, orang tua, orang dewasa, maupun para lanjut usia (Japardi, 2004).

Gangguan pola tidur adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami, Perubahan jumlah/kualitas pola tidur dan istirahat sehubungan dengan keadaan biologis atau kebutuhan emosi. Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak diobati, secara umum akan menyebabkan gangguan tidur malam

yang mengakibatkan munculnya sala satu dari ketiga masalah berikut: insomnia; gerakan atau sensasi abnormal di kala tidur atau ketika terjaga di tengah malam; atau rasa ngantuk yang berlebihan di siang hari (Naylor dan Aldrich,1994).

Sejumlah faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur. Seringkali faktor tunggal tidak hanya menjadi penyebab masalah tidur. Faktor fisiologis (penyakit fisik, obat-obatan, kelelahan, dan asupan makanan dan kalori) psikologis (gaya hidup, stress emosional) , dan lingkungan dapat mengubah kualitas dan kuantitas tidur. Banyak orang dewasa di Amerika Serikat memiliki hutang tidur yang signifikan karena ketidak adekuatan dalam hal kuantitas maupun kualitas tidur malamnnya dan mengalami hipersomnolen di siang hari selama melaksanakan aktivitas sehari-hari (National Commission On Sleep Disorders Research, 1993).

WHO mendefinisikan remaja (adolescent) sebagai individu berusia 10 sampai 19 tahun dan dewasa muda (youth) 15 sampai 24 tahun. Dua kelompok umur yang tumpang-tindih ini digolongkan sebagai pemuda (young people) yang mencakup usia 10 sampai 24 tahun. Secara garis besar, fase remaja dibagi menjadi tiga periode penting, yaitu fase awal, pertengahan, dan lanjut; yang masing-masing memiliki karakteristik dalam hal biologis, psikologis, dan isu sosial.

Berdasarkan Nelson dkk, penggolongan fase remaja dibagi menjadi fase remaja awal, yaitu usia 10 sampai 13 tahun; fase remaja pertengahan, yaitu usia 14 sampai 16 tahun; dan fase remaja lanjut, yaitu usia 17 samapi 20 tahun hingga seterusnya. Pola tidur pada remaja perlu perhatian lebih karena berhubungan pada performa sekolah.pada 20 tahun terakhir ini, para peneliti mengenai tidur dari perbedaan perubahan pola tidur pada remaja. Perubahan tersebut ialah jam biologis remaja atau disebut irama sirkadian. Pada permulaan masa pubertas, fase tidurnya menjadi telat. Untuk terjatuh tidur menjadi lebih malam dan bangun tidur lebih telat pada pagi hari. Dan remaja tersebut lebih waspada pada malam hari dan menjadi lebih susah tidur.

Menurut penelitian, remaja membutuhkan waktu 9 sampai 9.25 jam. Untuk tidur dalam sehari. namun nyatanya sekitar 8 jam sehari karena pengaruh waktu sekolah. Waktu tidur dan bangun berdasarkan waktu sekolah dan kehidupan sosial akan mengkontribusi pengurangan waktu tidur pada remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Iglowstein dkk. terhadap anak di Swiss

mendapatkan hasil bahwa anak usia 12 sampai 15 tahun memiliki rata-rata jumlah waktu tidur sebanyak 8,4 sampai 9,3 jam per hari. Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya.

Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kurang lebih 1/3 dari orang dewasa pernah menderita insomnia setiap tahunnya.

Gangguan tidur ini dapat mempengaruhi pekerjaan, aktifitas sosial dan status kesehatan penderitanya (National Commission On Sleep Disorders Research, 1993).

National Sleep Foundation menyatakan bahwa di Indonesia prevalensi penderita gangguan pola tidur mencapai 70% paling sedikit seminggu sekali dan 30 juta orang sulit tidur setiap malamnya.

Nurmiati Amir, dokter spesialis kejiwaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengatakan bahwa gangguan tidur menyerang 10% dari total penduduk di Indonesia atau sekitar 28 juta orang. Total angka kejadian gangguan tidur tersebut 10-15% merupakan gejala insomnia kronis. Seseorang dapat mengalami insomnia transien akibat stres situasional seperti masalah keluarga, kerja atau sekolah, jet lag, penyakit, atau kehilangan orang yang dicintai. Insomnia temporer akibat situasi stres dapat menyebabkan kesulitan kronik untuk mendapatkan tidur yang cukup, mungkin disebabkan oleh kekhawatiran, stres, dan kecemasan.

Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai

penyebab. Kaplan dan sadock melaporkan kurang lebih 40%-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan tidur kronik (10%15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alcohol. Menurut data internasional of sleepdisorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah penyait asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-40%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%), depresi (65%), demensia (5%), ganggua perubahan jadwal kerja (2-5%), obstruksi sesak salurana nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0.16%). Klasifikasi dan penatalaksanaan gangguan tidur masih terus berkembang seiring dengan penelitian yang ada.

Menurut beberapa penelitian yang ada ternyata ada hubungan antara tingkat stress dengan gangguan pola tidur kecemasan tentang masalah pribadi atau situasi yang dapqat mengganggu tidur. Stress emosional menyebabkan seseorang menjadi tegang dan sering kali mengarah frustasi apabila tidak tidur. Stress juga menyebabkan seseorang mencoba terlalu keras untuk tertidur, sering terbangun selama siklus tidur, atau terlalu banyak tidur. Stress yang berlarut dapat menyebabkan kebiasaan tidur yang buruk (Bliwise,1993)

Gangguan tidur merupakan suatu kumpulan kondisi yang dicirikan dengan adanya gangguan dalam jumlah, kualitas, atau waktu tidur pada seorang

individu. Pada kelompok remaja, kurangnya durasi tidur juga dapat terjadi akibat adanya perubahan gaya hidup. Kualitas tidur inadekuat adalah fragmentasi dan terputusnya tidur akibat periode singkat terjaga di malam hari yang sering dan berulang (Chapter. (2011). http://repository.usu.ac.id).

Studi yang dilaksanakan oleh Liu X dkk di SMU di provinsi Shandong, Cina. Hasil studi menyatakan rata-rata lama tidur di malam hari adalah 7,64 jam dan menurun dengan meningkatnya usia. Penelitian yang dilakukan oleh Johnson EO dkk pada remaja 13 hingga 16 tahun mengenai epidemiologi insomnia sesuai DSM-IV pada remaja menunjukkan bahwa prevalensi insomnia adalah 10,7% dengan usia median timbulnya insomnia adalah 11 tahun. Penelitian Halbower dan Marcus yang menyatakan gangguan tidur yang paling banyak ditemukan pada remaja adalah insomnia. Gangguan tidur pada remaja dipengaruhi berbagai faktor baik medis maupun nonmedis. Penelitian di Jepang oleh Ohida T dkk pada tahun 2004 menunjukkan beberapa faktor risiko terjadinya gangguan tidur, yaitu jenis kelamin perempuan, siswa tingkat SMU, dan gaya hidup yang tidak sehat (stres psikologis, merokok dan minum alkohol) (Chapter. (2011). http://repository.usu.ac.id).

Pubertas sebagai salah satu ciri yang dialami oleh remaja juga memberikan pengaruh terhadap timbulnya gangguan tidur. Hipersomnia adalah lebih sering

terjadi pada remaja dan dewasa muda sedangkan insomnia lebih umum terjadi pada orang dewasa (Liu X, tahun 2000).

Gangguan pola tidur berupa pola tidur yang berlebihan dapat menimbulkan efek negative pada performa di sekolah, fungsi kognitif, dan mood sehingga dapat menimbulkan konsekuensi serius lainnya seperti peningkatan angka kejadian kecelakaan mobil dan motor. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa berkurangnya waktu tidur dan jadwal tidur yang tidak teratur terkait erat dengan performa sekolah yang buruk pada remaja (Chapter. (2011). http://repository.usu.ac.id).

Stress adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap kebutuhan tubuh yang terganggu, suatu fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan tidak dapat di hindari, setiap orang mengalaminya. Stress dapat memberikan dampak secara total pada individu yaitu terhadap fisik, psikologis, intelektual, sosial dan spiritual. Stress dapat mengancam

keseimbangan fisiologis. Stress emosi dapat menimbulkan perasaan negative atau destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain. Stress intelektual akan menganggu persepsi dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah. Stress sosial akan menganggu hubungan individu terhadap kehidupan. Stress karena perpisahan, kehilangan kontrol, pembatasan

aktivitas, dan perlukaan tubuh serta nyeri sering kali terjadi di rumah sakit (Rasmun, 2004).

Stress dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatik yang mengatur fungsi saraf dan hormon, sehingga dapat meningkatkan denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah, dan meningkatkan retensi air dan garam (Syaifuddi, 2006). Pada saat stress, sekresi katekolamin semakin meningkat sehingga renin, angiotensin, dan aldosteron yang dihasilkan juga semakin meningkat (Klabunde, 2007).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, dari hasil wawancara yang diperoleh dari Wakil kepala sekolah dari SMA Negeri 5 Samarinda Tahun 2012, terdapat 942 siswa secara keseluruhannya namun apabila dibagi sesuai kelas masing-masing maka diperoleh jumlah siswa kelas X=311 siswa, kelas XI=340 siswa dan kelas XII=291 siswa. Berdasarkan hasil

10

wawancara dengan beberaapa siswa SMA 5 kelas XII IPA Samarinda, ternyata kebanyakan mengeluh mengalami pola tidur yang tidak teratur dikarenakan tingkat stress akibat persaingan dalam bidang akademik yang begitu berat kemudian dituntut untuk belajar lebih ekstra untuk persiapan menghadapi Ujian Akhir Nasional. Peneliti menilai hal ini penting untuk diteliti karena berdasarkan wawancara tersebut beberapa siswa bisa dikatakan dalam kondisi stress. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian tentang hubungan tingkat stress dengan gangguan pola tidur pada remaja yang sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda Tahun 2013.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah penelitian Apakah ada hubungan tingkat stress dengan gangguan pola tidur pada remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda Tahun 2013?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan tingkat stress dengan gangguan pola tidur pada remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda Tahun 2013.

11

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik umum pada remaja SMA Negeri 5 kelas

XII IPA Samarinda Tahun 2013.


b. Mengidentifikasi tingkat stress pada remaja dengan gangguan pola

tidur di SMA Negeri 5 kleas XII IPA Samarinda 2013.


c. Mengidentifikasi gangguan pola tidur

pada remaja SMA Negeri 5

kelas XII IPA Samarinda Tahun 2013.

d. Menganalisis hubungan antara tingkat stress dengan gangguan pola

tidur pada remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda Tahun 2013.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis
a. Sebagai proses pembelajaran bagi peneliti. b. Untuk mengembangkan dan menemukan temuan-temuan yang

baru mengenai hubungan tingkat stress dengan gangguan pola tidur.

2. Manfaat praktis

12

a. Bagi remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda Tahun 2013

Sebagai masukan dan informasi tentang pentingnya pengendalian tingkat stress sehingga pola tidurnya tidak terganggu.

b. Bagi peneliti Dapat menambah pengetahuan, wawasan berpikir dan pengalaman dilapangan serta dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dibangku kuliah, sehingga dapat menghasilkan sesuatu informasi baru tentang hubungan tingkat stress dengan gangguan

pola tidur pada remaja dan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Konsep istrahat dan tidur a. Pengertian Semua makhluk hidup memerlukan istirahat setelah melakukan aktivitas atau berbagai kegiatan. Karena aktivitas tersebut

menggunakan jaringan sel hidup, sehingga akan timbul kerusakan pada jaringan tersebut, karenanya makhluk hidup perlu istirahat untuk memperbaiki kerusakan yan di maksud. Mengenai tidur ini, tidak ada aturan kaku dan ketat yang diberlakukan, karena istirahat tidur ini tergantung pada usia, jenis pekerjaan, temperamen setiap individu.

13

14

Bayi dan anak-anak memerlukan tidur lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Pada orang-orang yang sudah berumur sebenarnya lebih memerlukan istirahat daripada tidur yang sebenarnya. Selama berbaring mereka lebih banyak menggunakan waktu untuk mengubahubah posisi berbaringnya saja. Orang yang bekerja dengan

menggunakan otak atau pikirannya memerlukan lebih banyak tidur dibandingkan dengan orang yang bekerja dengan fisiknya. Sebagai suatu ukuran, orang dewasa yang sehat dan banyak bekerja dengan otak atau pikiran biasanya tidur selama 7 jam. Malam hari adalah

waktu terbaik untuk tidur. Hal ini bukanlah masalah kebiasaan saja bahwa orang-orang yang bekerja pada siang hari akan tidur pada malam hari, namun secara ilmiah terlihat bahwa siang hari lebih cocok untuk bekerja dan waktu malam digunakan untuk beristirahat atau tidur (AAA dkk, 2006).

Istirahat merupakan keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional dan bukan hanya berhenti dalam keadaan tidak beraktifitas tetapi juga berhenti sejenak kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti suatu keadaan melepaskan diri dari segala apa yang membosankan, menyulitkan bahkan menjengkelkan (Guyton,1968).

15

Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau juga dikatakan sebagai suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan akan tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang (Guyton,1968).

Tidur merupakan suatu keadaan yang berulang-ulang, perubahan status kesadaran yang terjadi selama periode tertentu (Potter & Perry, 2005).

Tidur merupakan kondisi tidak sadar di mana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensoris yang sesuai (Guyton, 1986), atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang dengan ciri adanya aktifitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terhadap perubahan proses fisiologis, dan terjadi penurunan respons terhadap rangsangan dari luar (Alimul, 2006).

16

Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Wartonah, 2006).

b. Fungsi dan tujuan tidur Menurut Aziz (2006) fungsi dan tujuan tidur secara jelas tidak diketahui, akan tetapi diyakini bahwa tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan, mengurangi stres pada paru, kardiovaskular, endokrin dan lain-lain. Energi disimpan selama tidur, sehingga dapat diarahkan kembali pada fungsi seluler yang penting. Secara umum terdapat dua efek fisiologis dari tidur; pertama, efek pada sistem saraf yang diperkirakan dapat

memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf; dan kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh karena selama tidur terjadi penurunan.

c. Tahapan Tidur

17

Menurut Tarwoto (2006) EEG, EMG dan EOG dapat mengidentifikasi perbedaan signal pada level otak, otot dan aktivitas mata. Normalnya tidur dibagi menjadi dua yaitu nonrapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM). Selama masa NREM seseorang terbagi menjadi empat tahapan dan memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus tidur. Sedangkan tahapan REM adalah tahapan terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur berakhir.

d. Tahapan tidur NREM 1) NREM tahap I a) Tingkat transisi b) Merespons cahaya c) Berlangsung beberapa menit d) Mudah terbangun dengan rangsangan e) Aktifitas fisik menurun, tanda vital dan metabolisme menurun f) Bila terbangun terasa sedang bermimpi

2) NREM tahap II a) Periode suara tidur b) Mulai relaksasi otot

18

c) Berlangsung 10 20 menit d) Fungsi tubuh berlangung lambat e) Dapat dibangunkan dengan mudah

3) NREM tahap III a) Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak b) Sulit dibangunkan c) Relaksasi otot menyeluruh d) Tekanan darah menurun e) Berlangsung 15 30 menit

4) NREM tahap IV a) Tidur nyenyak b) Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif c) Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun d) Sekresi lambung menurun e) Gerak bola mata cepat

19

e. Tahapan tidur REM 1) Lebih sulit dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM
2) Pada orang dewasa normal REM yaitu 20 25 % dari tidur

malamnya.
3) Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya terjadi

mimpi.
4) Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi juga

berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.

f. Karakteristik tidur REM


1) Mata 2) Otot-otot 3) Penapasan 4) Nadi 5) Tekanan darah 6) Sekresi gaster 7) Metabolisme 8) Gelombang otak 9) Siklus tidur 10)

: Cepat tertutup dan terbuka : Kejang otot kecil, otot besar imobilisasi : Tidak teratur, kadang dengan apnea : Cepat dan ireguler : Meningkat atau fluktuasi : Meningkat : Meningkat, temperatur tubuh naik : EEG aktif : Sulit dibangunkan

Pola tidur normal

20

g. Menurut Tarwoto (2006) pola tidur pada manusia bergantung pada tingkat perkembangan.

1) Pola tidur pada neonatus sampai dengan usia 3 bulan kira-kira

membutuhkan 16 jam/hari, pada usia neonatus mereka mudah berespons terhadap stimulus dan pada minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM

2) Pola tidur bayi pada malam hari kira-kira membutuhkan 8 10 jam

pada usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun kira-kira membutuhkan tidur 14 jam/hari dan tahap REM 20 30%

3) Pola tidur pada toddler membutuhkan waktu 10 12 jam/hari dan

tahap REM 25%.

21

4) Pola tidur pada preschooler membutuhkan waktu 11 jam pada

malam hari dan tahap REM 20%.

5) Pola tidur pada usia sekolah membutuhkan waktu 10 jam pada

malam hari dan tahap REM 18,5%.

6) Pola tidur pada adolensia membutuhkan waktu tidur 8,5 jam pada

malam hari dan tahap REM 20%.

7) Pola tiidur pada dewasa muda membutuhkan waktu 7 9 jam/hari

dan tahap REM 20 25%.

8) Pola tidur pada usia dewasa pertengahan membutuhkan waktu tidur

7 jam/hari dan tahap REM 20%.

22

9) Pola tidur pada usia tua membutuhkan waktu tidur 6 jam/hari dan

tahap REM 20 25%, pada tahap IV NREM menurun dan kadangkadang absen dan sering terbangun pada malam hari.

h. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tidur Aziz (2006) menjelaskan bahwa kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor psikologis, fisiologis dan lingkungan dapat mengubah kualitas dan kuantitas tidur. Kualitas tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk tidur dan memperoleh jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhannya. Di antara faktor yang dapat mempengaruhinya adalah :

1) Penyakit Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan fisik (misal : kesulitan bernapas) atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi, dapat menyebabkan masalah tidur. Seseorang dengan perubahan seperti itu mempunyai masalah

23

kesulitan tertidur atau tetap tertidur. Penyakit juga dapat memaksa klien untuk tidur dalam posisi yang tidak biasa. Sebagai contoh, memperoleh posisi yang aneh saat tangan atau lengan dimobilisasi pada traksi dapat mengganggu tidur.

2) Kelelahan Seseorang yang kelelahan biasanya memperoleh tidur yang mengistirahatkan, kususnya jika kelelahan adalah hasil dari kerja atau latihan yang menyenangkan. Latihan 2 jam atau lebih sebelum waktu tidur membuat tubuh mendingin dan mempertahankan suatu keadaan kelelahan yang meningkatkan relaksasi. Akan tetapi, kelelahan yang berlebihan yang dihasilkan dari kerja yang meletihkan atau penuh stres membuat sulit tidur. Hal ini dapat menjadi masalah yang umum bagi anak sekolah dan remaja.

3) Stres Emosional

24

Kecemasan tentang masalah pribadi atau situasi dapat mengganggu tidur. Stres emosional menyebakan seseorang menjadi tegang dan seringkali mengarah frustasi apabila tidak tidur. Stres juga menyebabkan seseorang mencoba terlalu keras untuk tertidur, sering terbangun selama siklus tidur, atau terlalu banyak tidur. Stres yang berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur yang buruk.

4) Obat Obat dapat juga mempengaruhi proses tidur. Mengantuk adalah efek samping medikasi yang umum. Medikasi yang diresepkan untuk tidur seringkali memberi banyak masalah daripada keuntungan. Orang dewasa muda dan dewasa tengah dapat tergantung pada obat tidur untuk mengatasi stressor gaya hidupnya. Lansia seringkali menggunakan variasi obat untuk mengontrol atau mengatasi penyakit kroniknya. Dan efek kombinasi dari beberapa obat dapat mengganggu tidur secara serius. Beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi proses tidur adalah jenis golongan obat diuretik menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat

25

berefek pada timbulnya insomnia, dan golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.

5) Nutrisi Orang tidur lebih baik ketika sehat sehingga mengikuti kebiasaan makan yang baik adalah penting untuk kesehatan yang tepat dan tidur. Makan besar, berat, dan/atau berbumbu pada makan malam dapat menyebabkan tidak dapat dicerna yang mengganggu tidur. Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya tryptophan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga mempengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur.

6) Lingkungan Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting pada kemampuan untuk tertidur dan tetap tertidur. Ventilasi yang baik, ukuran, kekerasan, dan posisi tempat tidur mempengaruhi kualitas

26

tidur. Suara dan tingkat cahaya dapat mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur.

7) Motivasi Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.

i. Gangguan Tidur Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak diobati, secara umum akan menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu dari ketiga masalah berikut : insomnia; gerakan atau sensasi abnormal di kala tidur atau ketika terjaga di tengah malam; atau rasa mengantuk yang berlebihan di siang hari. berikut adalah macam-macam gangguan tidur yang sering di alami oleh sebagian besar orang.

1) Insomnia

27

Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
a) Initial insomnia merupakan ketidakmampuan untuk jatuh tidur

atau mengawali tidur.

b) Intermiten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur

karena selalu terbangun pada malam hari.


c) Terminal insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur

kembali setelah bangun tidur pada malam hari. Proses gangguan tidur ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya rasa khawatir, tekanan jiwa, ataupun stress (Potter, 2005)

2) Hipersomnia Hipersomnia merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan, pada umumnya lebih dari sembilan jam pada malam hari, disebabkan oleh kemungkinan adanya masalah psikologis,

28

depresi, kecemasan, gangguan susunan saraf pusat, ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.

3) Parasomnia Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur, seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak, yaitu pada tahap III dan IV dari tidur NREM. Somnambolisme ini dapat menyebabkan cidera.

4) Enuresa Enuresa merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur, atau biasa juga disebut dengan istilah mengompol. Enuresa dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
a) Enuresa nokturnal merupakan mengompol di waktu tidur.

Enuresa nokturnal umumnya merupakan gangguan pada tidur NREM.


b) Enuresa diurnal merupakan mengompol pada saat bangun tidur. c) Apnea saat tidur adalah periode henti napas saat tidur. Tanda-

tanda yang dapat diamati adalah mendengkur berlebihan.

29

gangguan ini dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut selama periode 10 detik atau lebih pada saat tidur.

5) Narkolepsi Narkolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur, misalnya tertidur dalam keadaan berdiri,

mengemudikan kendaraan, atau di saat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan suatu gangguan neurologis.

j.

Gangguan pola tidur secara umum Suatu keadaan dimana individu mengalami atau mempunyai resiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidak nyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan. Gangguan terlihat pada pasien dengan kondisi yang memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman didaerah sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva

30

merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk. Penyebab dari gangguan pola tidur ini antara lain kerusakan transpor oksigen, gangguan metabolisme, kerusakan eliminasi, pengaruh obat, imobilitas, nyeri pada kaki, takut operasi, faktor lingkungan yang mengganggu, dll (Alimul, 2006).

Gangguan Pola Tidur menurut Wahyudi (2000) Gangguan pola tidur merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami atau mempunyai resiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan.

Gangguan pola tidur adalah Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau menggangu

gaya hidup yang diinginkan (Capernito, 1995).

31

Menurut Irwin Feinerg mengungkapkan bahwa sejak meninggalkan masa remaja, kebutuhan tidur seseorang menjadi relatif tetap. Menurut Luce dan Segal mengungkapkan bahwa faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Telah dikatakan bahwa keluhan terhadap kualitas tidur seiring dengan bertambahnya usia.

2. Remaja a. Pengertian Istilah pubertas digunakan untuk menyatakan perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak ke masa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak ke dewasa. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah adolesen, dulu merupakan sinonim dari pubertas, sekarang lebih ditekankan untuk menyatakan perubahan psikososial yang menyertai pubertas. Walaupun begitu, akselerasi pertumbuhan somatik yang merupakan bagian dari perubahan fisik pada pubertas, disebut sebagai pacu tumbuh adolesen (adolescent growth spurt). Penggunaan istilah untuk menyebutkan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa, ada yang memberi istilah : puberty (Inggris),

puberteit (Belanda), pubertas (Latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian. Ada pula yang

32

menggunakan istilah adulescentio (Latin) yaitu masa muda. Istilah Pubescence yang berasal dari kata pubis yang dimaksud pubishair atau rambut di sekitar kemaluan. Dengan tumbuhnya rambut itu suatu pertanda masa kanak-kanak berakhir dan menuju kematangan atau kedewasaan seksual (Rumini, 2004).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam

33

Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi

perkembangan

pada

masa

remaja

berarti

sebagian

perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan

Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang

34

dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

b. Batasan usia remaja Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut :

1)

Masa remaja awal atau dini (Early adolescence): umur 11-

13 tahun.

2)

Masa remaja pertengahan (Middle adolescence): umur 14-

16 tahun.

3)

Masa remaja lanjut (Late adolescence): umur 17-20 tahun.

Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing masing individu. Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan. Batasan masa remaja dari berbagai ahli

memang sangat bervariasi, di sini dapat diajukan batasan Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang

35

mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa.

Hurlock (1990:184) menggunakan istilah masa puber namun ia menjelaskan bahwa puber adalah periode tumpang tindih, karena mancakup tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remaja. Pembagiannya sebagai berikut:

1) Tahap prapuber yaitu bagi wanita 11-13 tahun dan pria 14-16

tahun.

2) Tahap puber yaitu wanita 13-17 tahun dan pria 14-17 tahun 6

bulan.

3) Tahap pasca puber yaitu wanita 17-21 tahun dan pria 17 tahun 6 bulan-21 tahun.

Jadi, Hurlock membedakan antara wanita dan pria, namun kedua jenis memerlukan kurun usia puber selama 4 tahun. Dikatakan periode tumpang tindih karena dua tahun akhir masa anak-anak akhir dan dua

tahun awal masa remaja awal sehingga disebut pula periode unik. Tinjauan psikologis yang ditujukan pada seluruh proses perkembangan

36

remaja dengan batas usia 12 sampai dengan 22 tahun. Maka selanjutnya dari perkembangan kurun waktu dapat disimpulkan:

1)

Masa praremaja kurun waktunya sekitar 11 sampai dengan

13 tahun bagi wanita dan pria sekitar 12 sampai dengan 14 tahun.

2)

Masa remaja awal sekitar 13 sampai dengan 17 tahun bagi

wanita dan bagi pria 14 sampai dengan 17 tahun 6 bulan;

3)

Masa remaja akhir sekitar 17 sampai dengan 21 tahun bagi

wanita dan bagi pria sekitar 17 tahun 6 bulan sampai dengan 22 tahun.

c. Perkembangan mental masa pubertas dan remaja (11-19 tahun) Dalam masa ini terjadi proses pematangan seksual dan hal ini diperlukan untuk membentuk ciri-ciri kelakuan dalam pergaulan antara anak-anak berlainan jenis kelamin. Selain proses ini, juga persamaan hak dari orang tua merupakan hal yang penting. Persamaan hak ini membawa perubahan terakhir dalam keseimbangan antara keadaan masih tergantung dengan kemampuan berdiri sendiri. Hubungan dengan teman-teman sebaya penting dan baik, karena hubungan ini

37

memberikan rasa aman dan kepastian kepada seorang remaja dan merupakan hubungan yang tidak diperoleh di dalam rumah. Seorang remaja yang sedang dalam suasana memberontak terhadap orang tuanya, mengetahui bahwa dia tidak mau melaksanakan apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Dengan demikian, seorang remaja dapat memperluas pengetahuan dan pandangannya, tetapi juga dapat mengubah kelakuan yang masih kekanak-kanakan menjadi kelakuan yang lebih sesuai dengan norma yang semestinya. Perkembangan digunakan untuk menunjukkan bertambahnya keterampilan dan fungsi yang kompleks. Seseorang berkembang dalam pengaturan

neuromuskuler, berkembang dalam mempergunakan tangan kanannya dan terbentuk pula kepribadiannya. Maturasi dan diferensiasi sering dipergunakan sebagai sinonim untuk perkembangan.

d. Tugas perkembangan remaja Setiap tahun perkembangan akan terdapat tantangan dan kesulitan kesulitan yang membutuhkan suatu keterampilan untuk mengatasinya. Pada masa remaja, mereka dihadapkan pada dua tugas utama, yaitu:

1) tua.

Mencapai ukuran kebebasan atau kemandirian dari orang

38

2)

Membentuk identitas untuk tercapainya integrasi dan

kematangan pribadi.

3)

Memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi

secara lebih dewasa dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin.

4)

Memperoleh peranan sosial.

5) efektif.

Menerima keadaan tubuhnya dan menggunakan secara

6)

Memperoleh kebebasan emosional dari orang tua.

7)

Mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan

berdiri sendiri.

8)

Memiliki dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan.

9)

Mempersiapkan diri untuk perkawinan dan kehidupan

berkeluarga.

10)

Mengembangkan dan membentuk konsep-konsep moral.

39

Erickson meninjau perkembangan kepribadian dari segi psikososial tertentu yang harus diatasi oleh anak itu agar dapat melewati stadium selanjutnya dengan atau tanpa konflik. Ia membagi stadium perkembangan manusia dalam 8 masa, yaitu: 1) Basic trust vs mistrust (oral sensory-infancy).

2)

Autonomy vs shame and doubt (muscular anal-early

childhood/toddler) . 3) Initiative vs guilt (locomotor genital-later childhood/pre-

school age); stadium 1-3 berada pada masa tumpang tindih

4)

Industriousness vs sense of inferioriy (latency school age)

Pada stadium Industriousness vs sense of inferiory (latency school age). sosialisasi anak lebih luas lagi dengan orang di luar keluarganya. Pengaruh mereka memungkinkan kesempatan

identifikasi lagi yang dapat menghambat, mengubah atau menambah tingkah laku yang telah terbentuk sebelumnya juga kesempatan memperoleh keterampilan makin luas. Keinginan anak untuk berhasil dalam belajar, berbuat dan berkarya sangat besar,

40

tetapi bila ia gagal maka akan terbentuk perasaan inferior dan inadekuat. Identifikasi lebih banyak pada orang tua dengan seks

yang sama, jadi perlu sekali hubungan erat dengan mereka atau substitut (seks yang sama) agar si anak lebih menetapkan maskulinitas atau feminitas. Dalam masa ini juga cita-cita (ideals) mulai terbentuk.

5) Identity formation vs diffusion (puberty-adolescence); Identity formation vs diffusion (puberty-adolescence), di dalam masa ini termasuk masa pubertas, saat maturasi alat kelamin terjadi. Secara emosional banyak terjadi variasi besar antara alam perasaan, pandangan dan hubungan. Dependensi pada orang tua dan keinginan untuk kembali (tidak meninggalkan) kepada masa anak, terbentur keinginan dan kemampuan untuk menjadi independen sehingga menimbulkan konflik. Dorongan instingtual yang makin besar, harus disesuaikan dengan larangan keluarga dan masyarakat. Ia sangat prihatin terhadap penilaian dirinya sendiri. Ia sedang dalam masa pembentukan suatu identitas diri, yang identitas biologis dan psikologisnya harus disesuaikan dengan pekerjaan, keluarga dan peranan sosial.

6) Intimacy vs isolation (dewasa muda).

41

7) Procreation/generativy vs self absorption (dewasa).

8) Ego integrity vs despair (maturitas).

e. Aspek perkembangan pada masa remaja 1) Perkembangan fisik

perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

2)

Perkembangan Kognitif Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja

Menurut

termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif

42

membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja

juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru. Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap

perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
3)

Perkembangan kepribadian dan social

perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam

berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001).

43

Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

f. Ciri-ciri masa remaja Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja. 1) Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa

remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.

44

2)

Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai

kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan

eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.

3)

Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan

hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.

45

4)

Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting

pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.

5)

Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi

perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab

yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

g. Stress pada remaja Stres pada remaja sama halnya yang terjadi pada orang dewasa, stress bisa berefek negatif pada tubuh remaja hanya saja perbedaannya ada pada sumbernya dan bagaimana mereka merespon penyakit tersebut. Reaksi mereka tersebut ditentukan oleh suasana dan kondisi kehidupan yang tengah mereka alami. Gejala stres pada remaja dapat berupa: menggigit kuku; sulit memusatkan perhatian; menggertakan gigi; sering menarik-narik telinga, rambut atau pakaian; prestasi belajar menurun; gagap; makan atau tidur berlebihan; tidak bergairah, tidak sabar dan terburu-buru; ketakutan dengan penyebab yang tidak masuk akal; sering mendapat kecelakaan; mencari perhatian; tegang atau was-

46

was; tertawa-tawa; kagetan; cengeng; kehilangan minat sekolah; cemas dan gemetaran; serta menarik diri dari kegiatan; perubahan suasana hati tidak menentu; nyeri leher dan punggung; sulit makan atau tidur; mengompol; mual-mual atau muntah-muntah; mimpi buruk; selalu menuntut pembenaran; sering buang air kecil atau air besar; sering melamun; membenci sekolah; atau kepala sering pusing.

3. Stress a. Pengertian Stress menurut Hawari (2001) dalam Sunaryo (2004) adalah reaksi atau respon tubuh terhadap stressor psikososial, (tekanan mental atau beban kehidupan). Sedangkan menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2000) dalam Sunaryo (2004) bahwa yang dimaksud stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu didalam

lingkungan tersebut.

Stres menurut Hans Selye dalam buku Hawari (2001) menyatakan bahwa stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres

47

mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.

Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang. Stres membutuhkan koping dan adaptasi. Sindrom adaptasi umum atau teori Selye, menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab stres tersebut positif atau negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa memerhatikan stresor atau penyebab tertentu (Isaacs, 2004).

Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani

48

pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stress, semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003; 158).

Dalam Mubina (2009), Gunarsa (2001) berpendapat bahwa stress dirumuskan sebagai setiap tekanan, ketegangan yang mempengaruhi seorang dalam kehidupan dan pengaruhnya dapat bersifat wajar ataupun tidak, tergantung dari reaksi orang terhadap ketegangan tersebut. Faktor individu menentukan reaksi seseorang terhadap keadaan stress dan selanjutnya akan dirasakan atau sebaliknya tidak

dirasakan sebagai stress. Pengertian tersebut menekankan adanya proses persepsi yang dilakukan oleh individu terhadap kejadian atau keadaan dilingkungan yang menjadi sumber stress. Stress memberi dampak positif dan negatif.

Stress tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stress memiliki nailai positif ketika menjadi Peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak professional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tingkat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka. Stress bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stress tantangan, atau stress yang menyertai tantangan di lingkungan

49

kerjan, beroperasi sangat berbeda dari stress hambatan, atau stress yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mangenai stress tantangan dan stress hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stress tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibandingkan stress hambatan (Ensiklopedia bebas, 2011).

Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik

nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya. Empat variabel psikologik yang dianggap mempengaruhi mekanisme respons stres (Papero, 1997):

1)

Kontrol

keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap stressor yang mengurangi intensitas respons stres.

50

2)

Prediktabilitas

stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres yang tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.

3)

Persepsi

pandangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respons stres.

4)

Respons koping

ketersediaan dan efektivitas mekanisme mengikat ansietas dapat menambah atau mengurangi respons stres.

b. Jenis stress Sementara dilihat dari efeknya stress oleh para psikolog dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Eutress hasil dari respon terhadap stress yang bersifat sehat, positf, dan konstruktif kesejahteraan (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk

individu dan juga organisasi yang diasosiakan

51

dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.

2. Distress hasil dari respon terhadap stress yang bersifat tidak sehat, negative, dan destruktif ( bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit

kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.

c. Penggolongan stress Apabila ditinjau dari penyebab stress, menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990) dalam Sunaryo (2004), dapat digolongkan sebagai berikut:

1) Stress fisik, disebabkan oleh suhu atau temperature yang terlalu tinggi atau rendah, suara yang amat bising, sinar yang terlalu terang atau terserang arus listrik.

2) Stress kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormon atau gas.

52

3) Stress mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang menimbulkan penyakit.

4) Stress fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ, atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.

5) Stress proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.

6) Stress psikis atau emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan

interpersonal, sosial, budaya, atau keagamaan.

d. Sumber stress psikologis Menurut Maramis (1999) dalam Sunaryo (2004), ada empat sumber atau penyebab stress psikologis, yaitu:

1) Frustasi Timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang, misalnya apabila ada perawat pukesmas lulusan SPK bercita-cita ingin mengikuti D3 Akper program khusus Pukesmas, tetapi tidak di ijinkan oleh istri atau suami, tidak punya biaya dan

53

sebagainya. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan atau kegagalan usaha), dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi,

pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).

2) Konflik Timbulnya karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance conflict, atau avoidance-avoidance conflict.

3) Tekanan Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi. Tekanan yang berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua menuntut anaknya agar disekolah selalu ranngking satu, atau istri menuntut uang belanja yang berlebihan kepada suami.

4) Krisis Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stress pada individu, misalnya kematian orang yang disayangi,

kecelakaan, dan penyakit yang harus segera operasi. Keadaan

54

stress dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya frustasi, konflik, dan tekanan.

e. Psikofisiologi stress Menurut Selye (1982) dalam Yosep (2009) stress merupakan tanggapan nonspesifik terhadap setiap tuntutan yang diberikan pada suatu organisme dan digambarkan sebagai GAS. Konsep ini menunjukan reaksi stress dalam tiga fase, yaitu fase sinyal (alarm), fase perlawanan (resistance), dan fase keletihan (exhaustion). Ilustrasi dari ketiga fase tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

A Alarm

B Resisten

C Exhaustion

Gambar 2.1 Dikutip dari: Psichology Health (Taylor, S., 1991) dalam Yosep (2009).

Tahap sinyal adalah mobilisasi dimana badan menemui tantangan yang diberikan oleh penyebab stress. Ketika penyebab stress ditemukan, otak mengirimkan suatu pesan biokimia pada semua system tubuh. Pernafasan meningkat, tekanan darah naik, anak mata membesar,

55

ketegangan otot naik, dan seterusnya. Jika penyebab stress terus aktif, GAS beralih ke tahap perlawanan. Tanda-tanda masuknya tahap perlawanan termasuk keletihan, dan ketegangan. Pribadi yang mengalami tahap tersebut selanjutnya melawan penyebab stress. Sementara perlawanan terhadap suatu penyebab stress khusus mungkin tinggi selama tahap ini, perlawanan terhadap stress lain mungkin rendah. Seseorang hanya memiliki sumber energy terbatas, konsentrasi dan kemampuan untuk menahan penyebab-penyebab stress. Individuindividu sering lebih mudah sakit selama periode stress ketimbang pada waktu lainnya. Tahap terakhir GAS adalah keletihan. Perlawanan

pada penyebab stress yang sama dalam jangka panjang dan terus menerus mungkin akhirnya menaikkan pengguanaan energi

penyesuaian yang bisa dipakai, dan system menyerang penyebab stress menjadi letih.

f. Faktor yang mempengaruhi stress (Sunaryo, 2004).

1) Faktor biologis: herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofisiologik, dan neurohormonal. 2) Faktor psikoedukatif/sosiokultural: perkembangan kepribadian, pengalaman, dan kondisi lain yang mempengaruhi.

g. Tahapan stress

56

Yosep (2009) berpendapat bahwa, gangguan stress biasanya muncul secara lamban, tidak jelas kapan mulainya dan sering kali kita tidak menyadarinya. Namun meskipun demikian dari pengalaman praktik psikiatri, para ahli mencoba membagi stress tersebut dalam enam tahapan. Setiap tahap memperlihatkan sejumlah gejala-gejala yang dirasakan oleh yang bersangkutan, hal mana berguna bagi seseorang dalam rangka mengenali gejala stress sebelum memeriksakannya ke dokter. Petunjuk-petunjuk tahapan stress tersebut dikemukakan oleh Robert J. Van Amberg (psikiater) sebagai berikut:

1) Stress tingkat I Tahapan ini merupakan tingkat stress yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan sebagai berikut: a) Semangat besar; b) Pengelihatan tajam tidak sebagaimana biasanya; c) Energi dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya. Tahapan ini biasanya

menyenangkan dan orang lalu bertambah semangat tapi tanpa disadari bahwa sebenarnya cadangan energinya sedang menipis.

2) Stress tingkat II

57

Dalam tahapan ini dampak stress yang menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan sebagai berikut: a) Merasa letih sewaktu bangun pagi; b) Merasa lelah sesudah makan siang; c) Merasa lelah menjelang sore; d) Terkadang gangguan dalam sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), kadang-kadang pula jantung berdebar-debar; e) Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher);

f) Perasaan tidak bisa santai.

3) Stress tingkat III Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin Nampak disertai dengan gejala-gejala: a) Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mules, sering ingin Kebelakang) b) Otot-otot terasa lebih tegang; c) Perasaan tegang yang semakin meningkat; d) Gangguan tidur (sukar tidur, sering terbangun malam dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi);

58

e) Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pingsan (tidak sampai jatuh pingsan). Pada tahap ini penderita sudah harus berkonsultasi pada dokter, kecuali kalau beban atau tuntutan-tuntutan dikurangi, dan tubuh mendapat kesempatan untuk beristirahat atau relaksasi, guna memulihkan suplai energi.

4) Stress tingkat IV Tahapan ini sudah menunjukan keadaan yang lebih buruk yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut: a) Untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat sulit;

b) Kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit; c) Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan sosial, dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat; d) Tidur semakin sukar, mimpi-mimpi menegangkan, dan dan sering terbangun dini hari; e) Perasaan negativistik; f) Kemampuan berkonsentrasi menurun tajam; g) Perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti mengapa.

5) Stress tingkat V

59

Tahapan ini merupakan keadaan yang lebih mendalam dari tahapan IV diatas, yaitu: a) Keletihan yang mendalam (physical and psychological exhaustion); b) Untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana saja terasa kurang mampu; c) Gangguan system pencernaan (sakit maag atau usus) lebih sering,sukar buang air besar atau sebaliknya feses cair dan sering kebelakang; d) Perasaan takut yang semakin menjadi mirip panik.

6) Stres tingkat VI Tahapan ini merupakan tahapan puncak yang merupakan keadaan gawat darurat.tidak jarang penderita dengan tahapan ini dibawa ke ICCU. Gejala-gejala pada tahapan ini cukup mengerikan; a) Debar jantung terasa amat keras,hal ini disebabkan zat adrenalin yang dikeluarkan,karena stress tersebut cukup tinggi dalam peredaran darah; b) Nafas sesak, megap-megap; c) Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran; d) Tenaga untuk hal-hal ringan sekalipun tidak kuasa lagi, pingsan atau collaps. Bilamana diperhatikan, maka dalam tahapan stress

60

diatas menunjukan manifestasi disbandingfisik dan psikis. Disbanding fisik berupa kelelahan, sedangkan disbanding psikis berupa kecemasan dan depresi. Hal ini dikarenakan penyedian energy fisik maupun mental yang mengalami deficit terusmanerus. Sering buang air kecil dan sukar tidur merupakan pertanda dari depresi.

h. Pengukuran tingkat stress Tingkat stres adalah hasil penilaian terhadap berat ringannya stress yang dialami seseorang (Hardjana, 1994). Tingkatan stres ini diukur dengan menggunakan Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42)

oleh Lovibond & Lovibond (1995). Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item. DASS adalah seperangkat skala subyektif yang dibentuk untuk mengukur status emosional negatif dari depresi, kecemasan dan stres. DASS 42 dibentuk tidak hanya untuk mengukur secara konvensional mengenai status emosional, tetapi untuk proses yang lebih lanjut untuk pemahaman, pengertian, dan pengukuran yang berlaku di manapun dari status emosional, secara signifikan biasanya digambarkan sebagai stres. DASS dapat digunakan baik itu oleh kelompok atau individu untuk tujuan penelitian. Tingkatan stres pada instrumen ini berupa normal, ringan, sedang, berat, sangat berat. Psychometric Properties of

61

The Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item, yang dimodifikasi dengan penambahan item menjadi 49 item, penambahannya dari item 43-49 yang mencakup 3 subvariabel, yaitu fisik, emosi/psikologis, dan perilaku. Jumlah skor dari pernyataan item tersebut, memiliki makna 0-29 (normal); 30-59 (ringan); 60-89 (sedang); 90-119 (berat); >120 (Sangat berat).

i.

Stuart dan Sundeen (1998) mengklasifikasikan tingkat stres, yaitu:

1) Stress Ringan

Pada tingkat stres ini sering terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi ini dapat membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

2) Stress Sedang Pada stres tingkat ini individu lebih memfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain sehingga mempersempit lahan persepsinya.

3) Stress Berat

62

Pada tingkat ini lahan persepsi individu sangat menurun dan cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal lain, semua perilaku ditujukan untuk mengurangi stres, individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan.

j. Reaksi tubuh terhadap stress

1)

Rambut

Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi kecoklat-coklatan serta kusam. Ubanan

(rambut memutih) terjadi sebelum waktunya, demikian pula dengan kerontokan rambut.

2) Mata Ketajaman mata seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga

mempengaruhi fokus lensa mata.

3) Telinga

63

Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).

4)

Daya pikir

Kemampuan bepikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan seringkali mengeluh sakit kepala pusing.

5)

Ekspresi wajah

Wajah seseorang yang stres nampak tegang, dahi berkerut, mimic nampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa dan kulit muka kedutan (tic facialis).

6)

Mulut Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum. Selain daripada itu pada tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga dia sukar menelan, hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa tercekik.

7)

Kulit Pada orang yang mengalami stres reaksi kulit bermacam-macam pada kulit dari sebagian tubuh terasa panas atau dingin atau

64

keringat berlebihan. Reaksi lain kelembaban kulit yang berubah, kulit menjadi lebih kering. Selain dari pada itu perubahan kulit lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya ensim, urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan; juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki berkeringat (basah).

8)

Sistem Pernafasan Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan mulai dari hidung,

tenggorokan dan otot-otot rongga dada. Nafas terasa sesak dan

berat dikarenakan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami spasme dan tidak atau kurang elastis sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma (asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada saluran nafas paruparu juga mengalami spasme.

9)

Sistem Kardiovaskuler Sistem jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskuler dapat terganggu faalnya karena stres. Misalnya, jantung berdebar-debar,

65

pembuluh

darah

melebar

(dilatation)

atau

menyempit

(constriction) sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama di bagian ujung jari-jari tangan atau kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain daripada itu sebahagian atau seluruh tubuh terasa panas (subfebril) atau sebaliknya terasa dingin.

10)

Sistem Pencernaan

Orang yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan pada sistem pencernaannya. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih; hal ini disebabkan karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity). Dalam istilah kedokteran disebut gastritis

atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan penyakit maag. Selain gangguan pada lambung tadi, gangguan juga dapat terjadi pada usus, sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar atau sebaliknya sering diare.

11)

Sistem Perkemihan

Orang yang sedang menderita stres faal perkemihan (air seni) dapat juga terganggu. Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi

66

untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya, meskipun dia bukan penderita kencing manis (diabetes mellitus).

12) Sistem Otot dan tulang Stres dapat pula menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan tulang (musculoskeletal). Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa sakit (keju) seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain daripada itu keluhan-keluhan pada tulang persendian sering pula dialami, misalnya rasa ngilu atau rasa kaku bila menggerakan anggota tubuhnya. Masyarakat awam sering

mengenal gejala ini sebagai keluhan pegal-linu.

13) Sistem Endokrin Gangguan pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami stres adalah kadar gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan bisa mengakibatkan yang bersangkutan menderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus); gangguan hormonal lain misalnya pada wanita adalah gangguan menstruasi yang tidak teratur dan rasa sakit (dysmenorrhoe).

67

k. Mekanisme koping Individu dari semua umur mengalami stress dan mencoba untuk mengatasinya. Karena ketegangan fisik dan emosional yang menyertai stress menimbulkan ketidaknyamanan, seseorang menjadi termotivasi untuk melakukan sesuatu untuk mengurangi stress. Mekanisme koping merupakan skumpulan strategi mental baik disadari maupun tidak disadari yg digunakan untuk menstabilkan situasi yang berpotensi mengancam dan membuat kembali ke dalam keseimbangan

(Emanuelsen & Rosenlicht, 1986).

Koping adalah cara yang dilakukan individu, dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan keinginan yang akan dicapai, dan respons terhadap situasi yang menjadi ancaman bagi diri individu. Kemampuan individu menahan stress (Sunaryo, 2004)

Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menahan stress. Hal tersebut bergantung pada:
1)

Sifat dan hakikat stress, yaitu intensitas, lamanya, lokal dan

umum (general). 2) Sifat individu yang terkait dengan proses adaptasi.

l. Stress berdasarkan tipe kepribadian individu

68

Menurut Rosenmen dan Chesney (1980), sebagaimana dikemukakan oleh Hawari (2001) dalam Sunaryo (2004), bahwa stress apabila ditinjau dari tipe kepribadaian individu dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

1)

Tipe yang rentan (Vulnerable) Terdapat pada tipe A yang disebut A type personality dengan pola prilaku type A behavior pattern. Individu dengs tipe ini memiliki resiko tinggi mengalami stress dengan ciri-ciri kepribadian sebagai berikut:
a) Cita-citanya tinggi (ambisius);

b) Suka menyerang (agresif);


c) Suka bersaing (kompetitip) yang kurang sehat;

d) Banyak jabatan rangkap; e) Emosional, yang ditandai dengan mudah marah, mudah

tersinggung, mudah mengalami ketegangan, dan kurang sabar;


f) Terlalu percaya diri (over confident); g) Self control kuat;

h) Terlalu waspada;
i) Tindakan dan cara bicaranya cepat dan tidak dapat diam

(hiperaktif);
j) Cakap dalam berorganisasi (organisatoris);

69

k) Cakap dalam memimpin (leader);

l) Tipe kepemimpinan otoriter;


m) Bekerja tidak mengenal waktu (workaholic); n) Bila menghadapi tantangan senang menghadapi sendiri;

o) Disiplin waktu yang ketat;


p) Kurang rileks dan serba terburu-buru;

q) Kurang atau tidak ramah; r) Tidak mudah bergaul; s) Mudah empati, tapi mudah bersikap bermusuhan; t) Sulit dipengaruhi;
u) Sifatnya kaku (tidak fleksibel);

v) Pikiran tercurah kepekerjaan walaupun sedang libur; w) Bekerja keras agar segala sesuatunya terkendali.

2) Tipe yang Kebal (immune)

Terdapat pada tipe B yang disebut B Type Personality dengan pola prilaku Type B Behavior Pattern. Individu seperti ini kebal terhadap stres, yang ciri-ciri kepribadiannya sebagai berikut: a) Cita-cita atau ambisinya wajar, Berkompetisi secara sehat; b) Tidak agresif; c) Tidak memaksakan diri;

70

d) Emosi terkendali, yang ditandai dengan tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, penyabar, dan tenan; e) Kewaspadaan wajar);
f) Self control wajar; g) Self confident wajar;

h) Cara bicara tenang; i) Cara bertindak tenang dan dilakukan pada saat yang tepat; j) Ada keseimbangan waktu bekerja dan istirahat; k) Sikap dalam memimpin maupun berorganisasi akomodatif dan manusiawi; l) Mudah bekerja sama (kooperatif);
m) Tidak memaksakan diri dalam menghadapi tantangan;

n) Bersikap ramah; o) Mudah bergaul; p) Dapat menimbulkan empati untuk mencapai kebersamaan

(mutual benefit);
q) Bersikap fleksibel, akomodatif, dan tidak merasa dirinya paling

benar; r) Dapat melepaskan masalah pekerjaan ataupun kehidupan disaat libur; s) Mampu menahan dan mengendalikan diri.

71

m. Cara mengendalikan stress Kiat untuk mengendalikan stres menurut Grant Brecht (2000) dalam Sunaryo (2004) sebagai berikut:

1)

Sikap, keyakinan, dan pikiran kita harus positif, fleksibel,

rasional, dan adaptif terhadap orang lain. Artinya jangan terlebih dahulu menyalahkan terhadap orang lain sebelum introfeksi diri dengan pengendalian internal.

2)

Kendalikan faktor-faktor penyebab stres dengan jalan:


a) Kemampuan menyadari (awareness skills)

Kemampuan menyadari diri adalah dimana manusia menyadari bahwa dirinya (aku nya) memiliki ciri khas atau karakteristik diri. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan aku-aku yang lain. Yang lebih istimewa ialah bahwa

manusia di karuniai kemampuan untuk membuat jarak (distansi) dengan akunya sendiri.
b) Kemampuan untuk menerima (acepetance skills)

Belajarlah untuk menerima kenyataan bahwa kita memiliki kemampuan yang terbatas dan tidak bisa melakukan segala hal sendiri. Belajar pula untuk bisa menolak permintaan ataupun janji yang tidak ingin kita penuhi. Dan sadarilah bahwa banyak

72

hal yang terjadi yang di luar kendali diri kita. Dengan belajar menerima hal ini, kita akan terkejut dengan betapa banyaknya beban yang tak perlu ada yang selama ini bertambat pada bahu kita.
c) Kemampuan untuk menghadapi (coping skills)

Individu dari semua umur mengalami stress dan mencoba untuk mengatasinya. Karena ketegangan fisik dan emosional yang menyertai stress menimbulkan ketidaknyamanan,

seseorang menjadi termotivasi untuk melakukan sesuatu untuk mengurangi stress. skumpulan strategi mental baik disadari maupun tidak disadari yg digunakan untuk menstabilkan situasi yang berpotensi mengancam dan membuat kembali ke dalam keseimbangan (Emanuelsen & Rosenlicht, 1986).

d) Kemampuan untuk bertindak (action skills)

Dubos (1965) mengemukakan pandangan lebih lanjut ke sifat dinamis respons-respons tersebut. Dia mengatakan bahwa ada dua konsep yang saling mengisi homestasis dan adaptasi. Homeostasis menekankan pada perlunya penyesuaian yang harus segera dilakukan tubuh untuk menjaga komposisi internal selalu dalam batas yang bisa diterima, sedangkan adaptasi lebih

73

menekankan pada penyesuaian yang berkembang sesuai berjalannya waktu. Dubos juga menekankan bahwa ada batasan respon terhadap stimuli yang dapat diterima dan bahwa respon tersebut bisa berbeda pada setiap individu. Baik homestasis maupun adaptasi dangat diperlukan untuk dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah.

3)

Perhatikan diri anda, proses interpersonal dan interaktif,

serta lingkungan anda. Sikap lingkungan, seperti yang kita ketahui bahwa lingkungan itu memiliki nilai negatif dan positif terhadap prilaku masing-masing individu sesuai pemahaman kelompok dalam masyarakat tersebut. Tuntutan inilah yang dapat membuat individu tersebut harus selalu berlaku positif sesuai dengan pandangan masyarakat di lingkungan tersebut. Diri sendiri, terdiri dari Kebutuhan psikologis yaitu tuntutan terhadap keinginan yang

ingin dicapai. Proses internalisasi diri adalah tuntutan individu untuk terus-menerus menyerap sesuatu yang diinginkan sesuai dengan perkembangan.

4)

Kembangkan sikap efesien

Seseorang yang menggunakan waktu secara efisien biasanya mengalami lebih sedikit stress karena mereka merasa lebih

74

terkontrol dalam hidupnya. Perawat yang bertindak dalam domain pengajaran-pelatihan dapat membantu klien memprioritaskan tugas jika mereka merasa kewalahan atau imobilisasi. Penstrukturan waktu yang realistic diperlukan jika klien tidak menyisikan waktu yang cukup untuk setiap aktivitas. Fungsi peran klien harus dianalisis secara berkaitan untuk menentukan apakah modifikasi dapat dibuat sehingga dapat mengurangi tuntutan waktu

(Peddicord,1991).

5)

Relaksasi

Relaksasi progresif dengan dan tanpa ketegangan otot dan tehnik manipulasi pikiran mengurangi komponen fisiologis dan emosional stress. Tehnik relaksasi adalah perilaku yang dipelajari dan membutuhkan waktu pelatihan dan praktek. Setelah klien menjadi terampil dalam tehnik ini, ketegangan dikurangi dan parameter

fisiologis berubah. Mengikuti kelas atau latihan yoga, melakukan meditasi dan bahkan sekedar menarik nafas dalam-dalam beberapa kali dalam sehari bisa memberikan dampak yang sangat besar bagi penurunan stress.

6)

Visualisasi (angan-angan terarah)

75

Teknik singkat untuk menghilangkan stress, misalnya melakukan pernafasan dalam, mandi santai dalam bak, tertawa, pijat, membaca, kecanduan positif (melakukan yang disukai secara teratur), istirahat teratur dan ngobrol.

7)

Circuit breaker dan korider stress

Teknik singkat untuk menghilangkan stres, misalnya melakukan pernafasan dalam, mandi santai dalam bak, tertawa, pijat, membaca, kecanduan positif (melakukan yang disukai secara teratur), istirahat teratur dan ngobrol.

B. Kerangka Teori Penelitian Sumber stress psikologis: 1. Frustasi 2. Konflik 3. Tekanan 4. Krisis (Maramis, 1999) Faktor yang mempengaruhi stress: 1. Faktor biologis 2. Faktor sosiokultural (Sunaryo, 2004)

76

Cara mengendalikan Stress: 1. Kemampuan menyadari 2. Kemampuan menerima 3. Kemampuan menghadapi 4. Kemampuan DASS 42 Tingkat stress : 1. Normal 2. Ringan 3. Sedang 4. Berat 5. Sangat berat (Hadjana, 1994) Skema 2.1 Kerangka Teori

Kemampuan individu menahan Stress : 1. Sifat dan hakikat stress 2. Proses adaptasi (Sunaryo, 2004)

Gangguan pola tidur : 1. Ada ganguan pola tidur 2. Tidak ada gangguan pola tidur (Tarwoto, 2006 & Wahyudi, 2000).

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL, HIPOTESA DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep Penelitian

77

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Setiadi, 2007). Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Input Responden

proses Variable Independen

output Variable Dependen

Remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA di Samarinda

Tingkat stress pada remaja : 1. Normal 2. Ringan 3. Sedang 4. Berat 5. Sangat berat

Gangguan pola tidur: 1. Ada gangguan pola tidur 2. Tidak ada gangguan pola tidur

Variabel counfonding : Keterangan : : Diteliti : Tidak diteliti : Mempengaruhi 1. Usia 2. Psikologis 3. Fisiologis 4. Obat-obatan 5. Lingkungan B. Hipotesis 73

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian. Hipotesis disusun sebelum penelitian dilaksanakan, karena hipotesis akan bisa memberikan petunjuk pada tahap pengumpulan, analisa, dan

78

interpretasi data (Nursalam, 2003). Hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut : Ha : ada hubungan antara tingkat stress dengan gangguan pola tidur pada remaja SMA Negeri 5 Samarinda kelas XII IPA Tahun 2013 . Ho : tidak ada hubungan antara tingkat stress dengan gangguan pola tidur pada remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPS Samarinda Tahun 2013 .

C. Definisi Operasional Definisi operasional memberikan suatu pengertian terhadap masing-masing variabel yang akan diteliti dan menggambarkan aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk mengukurnya (Young, 2000).

No 1.

Variabel Independen Tingkat Stress

Definisi Alat Operasional ukur Respon remaja kuesioner yang bersifat nonspesifik terhadap stressor yang ditandai dengan perubahan fisiologis,psikolo gis dan prilaku. Akibat dari stressor yang di alami sehingga terjadi perubahan dalam kualitas tidurnya.

Hasil ukur

Skala

1. Stress normal Ordinal

jika 0-29 2. Stress ringan Jika 30-59 3. Stress sedang jika 60-89 4. Stress berat jika 90-119 5. Stress sangat berat jika >120

79

2.

Dependen gangguan pola tidur

Keadaan dimana kuisioner individu berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau menggangu gaya hidup yang diinginkan.

1.Gangguan pola tidur jika mean / median 2. Tidak ada Gangguan poa tidur jika mean / Median

Ordinal

Table Definisi Operasional

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

80

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif korelasi, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan proporsi atau rerata suatu variabel dan mengetahui hubungan antara variabel (Dahlan, 2009).

Rancangan penelitian merupakan strategi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk keperluan pengujian hipotesis atau untuk menjawab spertanyaan penelitian dan sebagai alat untuk mengontrol atau mengendalikan pelbagai variabel yang berpengaruh dalam penelitian. Dengan demikian, desain penelitian pada hakekatnya merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian (Nursalam, 2003).

pada penelitian ini adalah Cross sectional, yaitu penelitian dimana variabel sebab atau resiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur dan dikumpulkan secara simultan, sesaat atau satu kali saja dalam satu kali waktu (dalam waktu yang bersamaan) (Setiadi, 2007).

B. Populasi dan Sampel

76

1. Populasi dalam penelitian adalah setiap subjek yang memenuhi kriteria

81

yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini, yang dijadikan populasi adalah Remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda dengan jumlah siswa 942.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/i SMA Negeri 5 Samarinda. Alasan peneliti memilih kelas XII IPA karena berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa/i kelas XII IPA tingkat stress yang dialami lebih tinggi karena pelajaran yang diberikan lebih sulit.

2. Sampel Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2008). Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 90 sampel.

Menurut Notoatmodjo (2005), sampel penelitian merupakan sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Menurut Arikunto (2002) menyatakan bahwa apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan

penelitian populasi , selanjutnya jika subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung setidak-tidaknya dari:
a.

Kemampuan penelitian dilihat dari dari segi waktu, keuangan, dan

82

dana. b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut sedikit banyaknya data.
c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti.

Menurut Arikunto (2002), menentukan jumlah sampel dapat dirumuskan sebagai berikut :

n= Dimana : n = jumlah sampel N = Jumlah Populasi yang diketahui d = Presisi yang ditetapkan 10% n=

n=

n= n= 90,40

Menurut perhitungan rumus ini, populasi sebanyak 942 siswa/i yang mengikuti pendidikan di SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda dengan

83

presisi 10% maka sampel yang sesuai dengan penelitian ini adalah berjumlah 90 Responden.

3. Tekhnik sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2008). Teknik sampling yang digunakan oleh peneliti adalah nonprobabilitas dimana teknik sampling nonprobabilitas adalah suatu teknik pengambilan sampel secara tidak acak nonrandom sampling. Tidak semua populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Pada saat melakukan pemilihan satuan sampling tidak dilibatkan unsur peluang, sehingga tidak diketahui unsur peluang sesuatu unit sampling terpilih kedalam sampling. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti. Sampling tipe ini tidak boleh dipakai untuk menggeneralisasi hasil penelitian terhadap populasi, karena dalam penarikan sampel sama sekali tidak ada unsur probabilitas. Peneliti menggunakan sampling purposive yang satuan samplingnya dipilih

berdasarkan pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling yang memiliki karakteristik atau kriteria yang

84

dikehendaki dalam pengambilan sampel. Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud dan tujuan yang diinginkan peneliti atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki atau mengetahui informasi yang diperlukan bagi penelitian yang dia buat.

Adapun kriteria sampel yang akan diteliti adalah:

a. Kriteria inklusi : 1) Remaja tersebut adalah siswa/i yang sekolah di SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda. 2) Bisa menulis 3) Bersedia menjadi Responden.

b.

Kriteria eksklusi Remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA tidak bersedia mengisi inform consent.

C. Tempat Penelitian

85

Penelitian dilakukan di SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda. Pada siswa/i di Ruang kelas XII SMA Negeri 5 Samarinda..

D. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari Tahun 2013 di SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda.

E. Alat Pengumpul Data Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer, karena data yang didapat oleh usaha peneliti sendiri, dengan alat pengumpul data berupa kuesioner yang disebarkan kepada responden. Kuisioner berisi beberapa pertanyaan tertutup dalam bentuk checklist () yang harus diisi oleh responden. Kuisioner ini dibuat menggunakan skala likert dengan pilihan jawaban: Tidak Pernah (TP), kadang-kadang (KD), sering (SR), selalu (SL). Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat,persepsi seseorang tentang gejala atau masalah yang ada dimasyarakat atau berupa angket atau kuisioner dengan beberapa pertanyaan, alat ukur ini digunakan bila responden jumlahnya besar dan tidak buta huruf ( Hidayat,2007).

Adapun kisi-kisi kuesioner dalam penelitian ini adalah :


a.

Kuesioner A : Berisi identitas, umur dan jenis kelamin.

86

b.

Kuesioner B : Berisi tentang tingkat stress yang berisi 42 Pertanyaan (DASS) dengan penilaian derajat tingkat stress 0-29 = normal, 30-59 = ringan, 60-89 = sedang, 90-119 = berat, >120 = sangat berat. Pertanyaan menurut skala DASS dengan skor tertinggi >120 poin dan terendah 0 poin.

c.

Kuesioner C : Berisi gangguan pola tidur yang berisi 10 pertanyaan yang terdiri dari 5 pertanyaan positif (favourable 1,4,6,8,10) dan 5 pertanyaan nagatif (unfavourable 2,3,5,7,9). Tidak ada gangguan pola

tidur jika mean/median, ada gangguan pola tidur jika mean/median.

1) Kuesioner tingkat stress Kuesioner Depressions Anxiety Stress Scala 42 (DASS) yang dimodifikasi yang terdiri dari 42 items DASS. Merupakan instrumen yang digunakan oleh Lovibon (1995) untuk mengetahui tingkat stres. Tes ini merupakan tes standar yang sudah diterima secara internasional.

87

Bentuk pertanyaan terdiri dari pertanyaan DASS 42 Tingkat stress No 1. Variabel Sub Variabel Item 12,16,19,32,33,34,35,36,3 7,38,39,40,41,42,18 2,3,5,6,7,8,9,10,11,13,14,1 5,17,20,21,22,23,24,27,29 1,4,26,28,30,31,3

DASS 42 Tingkat 1.Respon Stress Fisiologis Normal Ringan 2.Respon Sedang Psikologis Berat Sangat berat 3.Respon Prilaku

Table 4.2 kisi-kisi kuesioner tentang tingkat stress

2) Kuesioner gangguan pola tidur Kuesioner gangguan pola tidur merupakan kuesioner tidak baku yang dibuat oleh peneliti sendiri yang nantinya akan dilakukan uji validitas untuk mengetahui kuesioner gangguan pola tidur valid atau tidak valid.

Bentuk pertanyaan gangguan pola tidur No Variabel 1 Gangguan pola tidur Item pertanyaan Favourable 1,4,6,8,10 Unfavourable 2,3,5,7,9,

Jumlah

10

Tabel 4.3 kisi-kisi kuesioner gangguan pola tidur

88

Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian apabila sudah teruji validitas dan reliabilitasnya.

1.

Uji validitas

Alat ukur atau instrumen penelitian yang dapat diterima sesuai standar adalah alat ukur yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas data. Uji validitas dapat menggunakan rumus pearson product moment (Hidayat, 2007)

r=

Keterengan N X Y XY

= Jumlah sampel = Pertanyaan nomor = Skor total = Skor pertanyaan nomor dikali skor total

Instrumen dikatakan valid jika nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel.

89

2.

Uji reliabilitas

Setelah mengukur validitas maka perlu mengukur reliabilitas data, apakah alat ukur dapat digunakan atau tidak (Hidayat, 2007).

Menurut Arikunto (2002), Uji reliabilitas adalah salah satu cara untuk mengetahui tingkat kehandalan suatu instrumen yang diperoleh dengan cara uji coba berdasarkan data instrumen tersebut. Tinggi rendahnya tes reliabilitas tercermin oleh Nilai Cronbach Alpha yaitu dengan

membandingkan r alpha dengan r tabel. Jika r alpha > r tabel maka dikatakan pernyataan tersebut reliabilitas sedangkan tidak reliabilitas jika r alpha < r tabel (Hastono, 2001).

r=
Keterangan : r k : Reliabilitas intrumen ( nilai alpha ) : banyaknya butir pertanyaan

b : Jumlah varians butir 1 : Varians total

Pada penelitian ini untuk tingkat stress tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas karena berdasarkan skala DASS dan untuk gangguan pola tidur dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

90

F.

Prosedur pengumpulan data


1. Meminta surat pengantar dari Ketua Stikes Wiyata Husada

Samarinda untuk melakukan penelitian di SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda.
2.

Meminta ijin kepada kepala sekolah SMA Negeri 5 Samarinda

untuk melakukan penelitian kepada siswa/i yang memenuhi kriteria inklusi. 3. Peneliti memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan penelitian kepada siswa/i yang memenuhi kriteria inklusi.
4. Saat pengumpulan data, peneliti menjalin hubungan kerjasama dan

saling percaya dan dengan memberikan kuesioner yang diisi oleh responden yang memenuhi kriteria inklusi dimana dalam pengisian tersebut responden ditemani/ditunggu oleh peneliti di SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda.
5. Peneliti

memberikan

informed

consent

untuk

kemudian

ditandatangani bila responden bersedia diteliti.


6. Apabila Remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA ini mengalami

kesulitan dalam pengisian kuesioner peneliti membantu menjelaskan.


7. Data yang dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai tingkat

stress dan gangguan pola tidur pada Remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda kemudian diberi skor dan dijumlah, sehingga memperoleh hasil bagaimana hubungan tingkat stres dengan gangguan pola tidur pada remaja SMA Negeri 5 kelas XII IPA Samarinda.

91

G. Analisis data Hidayat, 2009 dalam melakukan analisis data terlebih dahulu harus diolah dengan tujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam statistik informasi yang diperoleh dipergunakan untuk proses pangambilan keputusan, terutama dalam pengujian hipotesis. Dalam proses pengelohan data terdapat langkahlangkah yang harus ditempuh, diantaranya:

1. Editing Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan.

2. Coding Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa katagori. Pengkodean dalam dalam penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut :
a.

Untuk jenis kelamin : 1 = perempuan, 2 =

laki-laki.
b.

Untuk gangguan pola tidur : 1 = gangguan

pola tidur, 2 = tidak ada gangguan pola tidur. c. Untuk tingkat stress : 1 = Normal, 2 = Ringan, 3 = Sedang, 4 = Berat, 5 = Sangat berat.

92

3. Entri data

Entri data adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kontigensi.

4. Melakukan tekhnik analisis Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis. Penelitian ini menggunakan dua tahap analisis data yaitu univariat dan bivariat.

a.Analisis univariat Menurut Notoatmodjo (2002), analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umum nya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel. Analisis univariat dalam penelitian ini adalah : tingkat stress, gangguan pola tidur, dan jenis kelamin. Rumus yang digunakan adalah :

93

Keterangan : P = Persentase X = Skor item yang diperoleh N = Skor total

b. Analisa bivariat Pengolahan dan analisis data dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan data, pengelompokan data, dan penghitungan nilai statistik dengan bantuan komputerisasi. Analisa dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoadmodjo, 2002). Data yang diperoleh melalui kuesioner diproses dan diolah sehingga dapat memberi makna guna menyimpulkan masalah penelitian. Tekhnik analisis data yang digunakan untuk menguji hubungan tingkat stress dengan gangguan pola tidur menggunakan uji korelasi Rank Spearman : Rumus Korelasi Rang Spearman :

Keterangan : rs = korelasi spearman

94

n = banyak pasangan d = selisih pasangan data

Korelasi Rank Spearrman dipakai apabila : a. Kedua variabel yang akan dikorelasikan itu mempunyai tingkatan data ordinal. b. c. d. Sampel 10 Data tersebut memang diubah dari interval ke ordinal Data interval tersebut ternyata tidak berdistribusi normal

H. Etika penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapatkan rekomendasi dari STIKES Wiyata Husada Samarinda dan persetujuan dari Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Samarinda. Setelah mendapatkan persetujuan kemudian dilakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi (Setiadi, 2007):

1. Informed Consent Lembar persetujaun diberikan pada subyek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset dilakukan. Jika subyek bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subyek menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.

95

2. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan identitas, peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek pada lembar likert scale yang diisi oleh subyek. Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu.

3. Confidentiality (kerahasiaan) Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang diperoleh dari responden.