Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Halusinasi adalah persepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsangan

yang menimbulkannya atau tidak ada objek (Sunardi 2005, dalam (Dalami 2009).

Halusinasi adalah keadaan ketika atau kelompok mengalami suatu perubahan

dalam jumlah, pola atau interprestasi stimulus yang datang. (Carpenito 2007).

Halusinasi adalah persepsi sensorik suatu objek gambaran dan pikiran yang

sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem

penginderaan (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan pengecapan).

(Suliswati 2009).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan Halusinasi adalah ketidakmampuan

klien menilai dan merespon pada realitas klien tidak dapat membedakan rangsangan

internal dan eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan, klien tidak

mampu

memberi

respon

secara

akurat

sehingga

tanpa

perilaku

yang

sukar

dimengerti dan mungkin menakutkan. (Keliat, 1999).

B. Psikodinamika ( Nurjanah, 2008, hal : 1)

Ada beberapa penyebab seseorang yang mengalami halusinasi Menurut

Nanda (2005) sebagai berikut Penurunan sensori persepsi, ketidakseimbangan

7

biokimia, kurangnya stimulus lingkungan, stress psikologi penurunan /hambatan

neurotransmitter,

kurangnya

rangsangan

saat

perkembangan,

keseimbangan

biokimia untuk sensori yang keluar, keseimbangan elektrolit.

Halusinasi mungkin disebabkan oleh banyak faktor, tetapi kemungkinan

penyebab terjadinya halusinasi pada klien dengan masalah psikiatrik adalah

karena adanya stres psikologi (psychological stress) atau kurangnya stimulus dari

lingkungan

(insufficient

environmental

stimull).

Pada

klien

dengan

masalah

psikiatrik, stress psikologi bisa menyebabkan klien berhalusinasi. Stress ini

mungkin berasal dari dalam dirinya sendiri misalnya klien berfikir negatif atau

menyalahkan dirinya sendiri, atau stress yang didapatkan dari luar yang bisa

berasal dari hubungan yang tidak menyenangkan dengan keluarga, teman atau

bahkan petugas kesehatan. Apabila klien berada dirumah sakit tentunya klien

berinteraksi dengan petugas kesehatan. Sikap verbal dan nonverbal petugas yang

tidak terapeutik bisa menyebabkan klien merasa terancam dan menyebabkan

halusinasi semakin kuat dan sering muncul.lingkungan dirumah sakit yang baru

dan asing juga bisa memicu klien untuk merasa cemas dan tertekan, dan apabila

hal ini tidak diantisipasi oleh petugas kesehatan maka mungkin akan memicu

halusinasi menjadi semakin kuat.

Kurangnya stimulus lingkungan juga akan menjadi penyebab terjadinya

halusinasi. Pada umumnya klien dengan masalah halusinasi diawali dengan

perasaan sedih/stress karena masalah tertentu dan kemudian klien menyendiri

dalam waktu yang cukup lama. Pada saat ini klien berada dalam kondisi dimana

stimulus dari lingkungan sangat kurang sementara stimulus dalam dirinya semakin

kuat.

Apabila

hal

berhalusinasi.

ini

terjadi

dalam

waktu

lama

maka

klien

akan

mulai

Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan halusinasi adalah resiko

mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, kesulitan mengakses dan

menggunakan ingatan yang telah disimpan, kerusakan ingatan jangka pendek atau

jangka panjang.

C. Rentang Respon

Rentang Respon Neurobiologis

Respon Adaptif Respon Maladaptif  Pikiran logis  Pikiran kadang  Kelainan pikiran  Persepsi
Respon Adaptif
Respon Maladaptif
 Pikiran logis
 Pikiran kadang
 Kelainan pikiran
 Persepsi akurat
menyimpang
 Halusinasi
 Emosi konsisten
 Ilusi
 Tidak mampu

Perilaku sosial

Hubungan sosial

Emosional berlebih

dengan pengalaman kurang

Perilaku ganjil

Menarik diri

mengatur emosi

Ketidakteraturan

Isolasi sosial

(Stuart and Laraia 2005, hal.401)

Keterangan Gambar :

1.

Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma

sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain, individu tersebut dalam batas

normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah

tersebut.

Respon adaptif berupa :

a. Pikiran logis adalah pikiran yang mengarah pada kenyataan.

b. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.

c. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari hati

sesuai dengan pengalaman.

d. Perilaku sesuai adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas

kewajaran.

e. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan

lingkungan.

2.

Psikososial

Respon psikososial, antara lain :

a. Proses

pikir

terganggu

adalah

proses

kekacauan/mengalami gangguan.

pikir

yang

menimbulkan

b. Ilusi adalah interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang

sungguh terjadi (objek nyata), karena rangsangan panca indera.

c. Emosi berlebihan atau berkurang.

d. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas

kewajaran.

e. Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang

lain atau hubungan dengan orang lain.

3. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang

menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungannya. Respon

maladaptif yang sering ditemukan meliputi :

a. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara

walaupun

tidak

diyakini

kenyataan sosial.

oleh

orang

lain

dan

kokoh dipertahankan

bertentangan

dengan

b. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal

yang tidak realita atau tidak ada.

c. Kerusakan proses emosi ialah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.

d. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak teratur.

e. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan di

terima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan yang

negatif mengancam.

D.

Asuhan Keperawatan

1.

Pengkajian

Pengkajian

merupakan

tahap

awal

dan

dasar

utama

dari

proses

keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan

kebutuhan atau permasalahan klien.

Selain data demografi yang meliputi nama, umur, jenis kelamin,

pendidikan, agama dan status perkawinan. Pengelompokkan data pengkajian

kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, presipitasi, mekanisme

koping dan manifestasi klinis yang dimiliki klien, cara ini dapat diuraikan

sebagai berikut :

a. Faktor Predisposisi, ( Stuart dan Laraia, 2005,hal : 424).

Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan gangguan orientasi realita

adalah Aspek Biologis, Psikologis dan Sosial .

1)

Biologis

Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau susunan saraf pusat

dapat menimbulkan gangguan orientasi realitas (halusinasi) seperti

hambatan perkembangan otak khususnya kortek frontal, temporal dan

limbik. Gejala yang mungkin muncul adalah hambatan dalam belajar,

bicara, daya ingat dan mungkin muncul perilaku menarik diri atau

kekerasan.

2)

Psikologis

Keluarga,

pengasuh

dari

lingkungan

klien

sangat

mempengaruhi

respon

psikologis

dari

klien.

Sikap

atau

keadaan

yang

dapat

mempengaruhi

gangguan

orientasi

realita

adalah

penolakan

dan

kekerasan dalam kehidupan klien. Penolakan dapat dirasakan dari ibu,

pengasuh atau teman yang bersikap cemas, tidak sensitif atau bahkan

terlalu melindungi. Pola

asuh pada usia

kanak-kanak

yang

tidak

adekuat misalnya, tidak ada kasih sayang, diwarnai kekerasan, ada

kekerasan emosi, konflik dan kekerasan dalam keluarga (pertengkaran

rumah

tangga)

merupakan

lingkungan

resiko

gangguan

orientasi

realitas.

3)

Sosial Budaya

Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi gangguan orientasi

realitas,

seperti

kemiskinan,

konflik

sosial

budaya

(peperangan,

kerusakan, kerawanan) kehidupan yang terisolasi disertai stress yang

menumpuk.

b. Faktor Presipitasi ( Stuart dan Laraia 2005).

Faktor presipitasi dapat berasal dari klien, lingkungan atau interaksi

dengan orang lain, stressor juga bisa menjadi salah satu penyebab.

Gangguan orientasi realita halusinasi yang meliputi biologis dan stressor

lingkungan.

1)

Biologis

Stressor Biologis

yang berhubungan dengan respon neurobiologik

yang maladaptis termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak

yang mengatur proses informasi dan abnormalitas pada mekanisme

pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk

secara selektif menanggapi rangsangan.

2)

Stressor Lingkungan

Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang

berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menetapkan terjadinya

gangguan perilaku.

c. Manifestasi Klinis

Menurut tahap-tahap halusinasi karakteristik dan perilaku yang

ditampilkan oleh klien yang mengalami halusinasi sebagai berikut :

1)

Halusinasi pengelihatan

a) Melirikkan mata kekiri dan kekanan seperti mencari siapa atau apa

yang sedang dibicarakan.

b) Mendengarkan dengan

penuh perhatian pada

orang lain

yang

sedang tidak berbicara atau pada benda seperti mebel.

c) Terlihat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang

yang tidak tampak.

d) Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang

menjawab suara.

2)

Halusinasi pendengaran

Adapun perilaku yang dapat teramati :

 

a) Tiba-tiba tampak tanggap, ketakutan atau ditakuti oleh orang lain,

benda mati atau stimulus yang tidak tampak.

 

b) Tiba-tiba berlari keruangan lain.

3)

Halusinasi penciuman

Perilaku yang dapat diamati pada klien gangguan halusinasi penciuman

adalah :

a) Hidung yang dikerutkan seperti, mencium bau yang tidak enak.

b) Mencium bau tubuh.

d)

Merespon terhadap bau dengan panik seperti mencium bau api atau

darah.

e) Melempar selimut atau menuang air pada orang lain seakan sedang

memadamkan api.

4)

Halusinasi pengecapan

Adapun perilaku yang terlihat pada klien yang mengalami gangguan

halusinasi perabaan adalah :

a) Meludahkan makanan atau minuman

b) Menolak untuk makan, minum atau minum obat

c) Tiba-tiba meninggalkan meja makan.

d. Fase Halusinasi ( Stuart dan Laraia, hal.424)

1)

Fase I

Pada fase ini individu mengalami rasa cemas (ansietas, stress,

perasaan

terpisah

dan

kesepian).

Klien

mungkin

melamun

dan

memfokuskan pada hal-hal yang menyenangkan untuk menghilangkan

kecemasan dan stress, cara ini menolong untuk sementara. Klien masih

dapat mengontrol kesadarannya dan mengenal pemikiran ini sebagai

bagian dari dirinya meskipun intensitas resepsi meningkat.

 

1)

Fase II

Ansetas meningkat berhubungan dengan penglaman eksternal

dan internal klien berada pada tingkat pendengaran halusinasinya

(listening).

Pemikiran

eksternal

jadi

lebih

menonjol,

gambaran

halusinasi berupa suara dan sensasi berupa bisikan yang tidak jelas,

akan tetapi klien merasa takut apabila ada orang lain yang mendengar

atau memperhatikannya. Perasaan klien tidak efektif untuk mengontrol

pemikiran tersebut. Klien berusaha untuk membuat jarak antara dirinya

dengan

halusinasinya

dengan

memproyeksikan

pengalamannya,

sehingga seolah-olah halusinasinya datang dari orang lain atau tempat

 

lain.

2)

Fase III

 

Halusinasi

lebih

menonjol,

menguasai

dan

mengontrol

 

pemikiran klien, klioen menjadi terbiasa oleh halusinasinya dan tidak

berdaya

akan

halusinasinya

tersebut.

Atau

halusinasinya

tersebut

menjadi kesenangan dan keamanan yang bersifat sementara.

3)

Fase IV

 

fase

ini

tidak

berdaya

melepaskan

diri

dari

kontrol

halusinasinya. Halusinasi yang terjadi menyenangkan berubah menjadi

mengancam, memerintah, memarahi, menyerang. Klien tidak mampu

berhubungan dengan orang lain karena sibuk dengan khayalannya.

Klien mungkin berada pada dunia yang menakutkan dalam beberapa

waktu yang singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini akan

menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi secepatnya.

e. Mekanisme Koping (Stuart dan Laraia 2005)

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri dari pengalaman

yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobiologis termasuk :

1)

Regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya

untuk penanggulangan ansietas, hanya mempunyai sedikit energi yang

tertinggi untuk aktivitas hidup sehri-hari.

Keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi pada

orang lain karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri (sebagai upaya

untuk menjelaskan kerancuan persepsi)

3)

Menarik diri.

Reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis,

reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindar sumber stressor

misalnya menjauhi polusi, sumber infeksi, gas beracun, dll. Sedangkan

reaksi psikologis individu menunjukkan perilaku apatis, mengisolasi

diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan.

f. Sumber Koping

Sumber

koping

individual

harus

dikaji

dengan

pemahaman

terhadap pengaruh gangguan pada perilaku. Kekuatan dapat meliputi

seperti model intelegensia atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus

secara aktif mendidik anak-anak dan dewasa muda tentang keterampilan

koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari pengamatan.

Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial

yang cukup,

ketersediaan waktu dan

tenaga,

dan

kemampuan untuk

memberikan dukungan secara berkesinambungan.

g. Pohon Masalah

Berdasarkan

pengkajian

sebagai berikut :

diatas,

maka

dapat

Pohon Masalah

disusun

pohon

masalah

Resiko Perilaku Kekerasan

Resiko Perilaku Kekerasan Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Isolasi Sosial Masalah keperawatan Dari pohon

Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi

Perilaku Kekerasan Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Isolasi Sosial Masalah keperawatan Dari pohon masalah

Isolasi Sosial

Masalah keperawatan

Dari

pohon

masalah

diatas,

dapat

disimpulkan

bahwa

masalah

keperawatan

yang

terdapat

pada

klien

dengan

gangguan

persepsi

halusinasi adalah sebagai berikut :

1)

Gangguan persepsi sensori Halusinasi

2)

Isolasi Sosial

3)

Resiko perilaku kekerasan

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian tekhnik mengenai respon

individu,

keluarga,

komunitas

terhadap

kehidupan yang aktual maupun potensial.

masalah

kesehatan

atau

proses

Adapun diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada klien

dengan halusinasi yaitu resiko mencederai diri sendiri, gangguan

persepsi

sensori: halusinasi pendengaran, Isolasi sosial.

3. Perencanaan Tindakan Keperawatan

a. Intervensi keperawatan :

Diagnosa utamanya adalah gangguan sensori persepsi halusinasi

dengan

tujuan

umum

adalah

dapat

mengontrol

halusinasi

yang

di

dalamnya. Tujuan khusus ke I klien dapat membina hubungan saling

percaya. Kriteria evaluasi setelah melakukan pertemuan, klien dapat

membina hubungan saling percaya dengan perawat.

Dengan rencana tindakan bina hubungan saling percaya dengan

menggunakan prinsip komunikasi terapeutik, sapa klien dengan ramah

baik verbal maupun non verbal, perkenalkan nama, nama panggilan

perawat dan tujuan perawat berinteraksi, tanyakan nama lengkap atau

nama panggilan yang disukai klien, tunjukkan sikap jujur dan menepati

janji setiap kali interaksi, tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa

adanya, berikan perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

klien, tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien, buat

kontak interaksi yang jelas, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan

perasaan klien.

Tujuan khusus II klien dapat mengenal halusinasinya. Kriteria

hasil, klien dapat mengenal halusinasinya secara jelas, yaitu gambaran

halusinasi yang dilihat, situasi yang mendukung timbulnya halusinasi dan

situasi yang tidak dapat menimbulkan halusinasi, perasaan klien terhadap

halusinasi, akibat yang ditimbulkan dari halusinasi terhadap diri dan

lingkungan.

Rencana tindakan keperawatan : adakan kontak sering dan singkat

secara

bertahap,

observasi

tingkah

laku

klien

yang

terkait

dengan

halusinasinya, berbicara dan tertawa, tanpa stimulus, memandang ke kiri

dan ke kanan, kedepan seolah-olah ada teman bicara, tanyakan apakah

klien mengalami sesuatu (halusinasi dengar, lihat, peraba dan pengecap),

jika klien menjawab "ya", tanyakan apa yang dialaminya, katakan bahwa

perawat percaya klien mengalaminya (dengan nada bersahabat, tanpa

menuduh dan menghakimi) katakan bahwa ada klien lain yang mengalami

hal yang sama, katakan bahwa perawat akan membantu.

Jika klien sedang tidak berhalusinasi, klarifikasi tentang adanya

pengalaman halusinasi, diskusikan dengan klien. Isi waktu dan frekuensi

terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore dan malam) atau sering dan kadang-

kadang.

Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan

halusinasi,

diskusikan

dengan

klien

apa

yang

dirasakan

jika

terjadi

halusinasi dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya,

diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut,

diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien berhalusinasi.

Tujuan khusus III klien dapat mengontrol halusinasinya, kriteria

hasil,

klien

menyebutkan

tindakan

yang

biasanya

dilakukan

untuk

mengendalikan halusinasinya, menyebutkan cara baru untuk mengontrol

halusinasinya.

Rencana tindakan : Identifikasi bersama klien cara atau tindakan

yang dlakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri).

Diskusikan cara yang digunakan, jika cara yang dilakukan klien adaptif

maka berikan pujian, jika cara yang dilakukan klien maladaptif maka

diskusikan dengan klien kerugian cara tersebut.

Diskusikan cara baru untuk memutus atau mengontrol timbulnya

halusinasi, dengan cara katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata,

katakan "saya tidak mendengar" pada saat halusinasi terjadi, menemui

orang

lain

atau

perawat,

teman

ataupun

anggota

keluarga

untuk

menceritakan halusinasinya. Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan

harian yang telah disusun, meminta keluarga, teman dan perawat menyapa

klien jika sedang berhalusinasi.

Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk

mencobanya. Beri kesempatan pada klien untuk melakukan cara yang

dipilih dan dilatih, pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika

berhasil berikan pujian, anjurkan klien mengikuti aktivitas kelompok,

orientasi realita stimulasi persepsi.

Tujuan

khusus

IV

klien

dapat

dukungan

keluarga

dalam

mengontrol halusinasinya, kriteria hasil, keluarga setuju untuk mengikuti

pertemuan dengan perawat dan keluarga mampu membantu klien dan

keluarga mampu membantu untuk mengurangi, mengontrol halusinasinya.

Rencana tindakan keperawatan : buat kontrak dengan keluarga

untuk pertemuan (waktu, tempat dan topik). Diskusikan dengan keluarga

tentang : pengertian, halusinasi, tanda dan gejala halusinasi, cara yang

dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi, obat-obatan

halusinasi. Cara merawat anggota keluarga yang bila halusinasi di rumah

(beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, memantau obat-

obatan dan cara pemberiannya untuk mengatasi halusinasi.

Beri informasi waktu kontrol ke rumah sakit dan bagaimana cara

mencari bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi di rumah.

Tujuan khusus V klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

Kriteria hasil, klien mengetahui manfaat obat yang diberikan, kerugian

tidak minum obat, nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping.

Rencana

tindakan

:

Diskusikan

dengan

klien

tentang

manfaat

dan

kerugian bila tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara efek terapi dan

efek samping penggunaan obat, bantu klien saat menggunakan obat, beri

pujian bila klien menggunakan obat dengan benar.

Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan

dokter, anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter atau perawat jika

terjadi hal yang tidak diinginkan.

b. Penatalaksanaan Medis

1)

Psikofarmaka

Psikofarmaka

adalah

therapi

dengan

menggunakan

obat,

tujuannya untuk menghilangkan gejala gangguan jiwa, adapun yang

tergolong dalam pengobatan psikofarmaka adalah :

a) Clopromazine (CPZ)

Indikasinya untuk sindrom psikosis yaitu berdaya berat

dalam kemampuan menilai realita, kesadaran diri terganggu, daya

ingat normal, sosial dan titik terganggu berdaya berat dalam fungsi

kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan

melakukan kegiatan rutin.

Mekanisme kerjanya adalah memblokade dopamine pada

reseptor sinap diotak khususnya system ekstra pyramida.

Efek sampingnya adalah gangguan otonomi, mulut kering,

kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur,

tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung.

Kontra indikasinya penyakit hati, kelainan jantung, febris,

ketergantungan

obat,

penyakit

sistem

syaraf

pusat,

gangguan

kesadaran.

b) Thrihexyfenidil (THP)

Indikasinya adalah segala penyakit parkinson, termasuk

pasca ensefalitis dan idiopatik, sindrom parkinson akibat obat

misalnya reserfina dan senoliazyne.

Mekanisme kerja : sinergis dan kinidine, obat anti depresan

trisiclin dan anti kolinergik lainnya.

Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, pusing,

mual, muntah, bingung, konstipasi, takikardi dilatasi, ginjeksial

letensi urin.

Kontra indikasi : hipersensitif terhadap trihexyphenidil,

glukoma sudut sempit, psikosis berat, psikoneurosis, hipertropi

prostase dan obstruksi saluran cerna.

c) Halloperidol (HLP)

Indikasinya : berbahaya berat dalam kemampuan menilai

realita dalam fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari-

hari.

Mekanisme kerja : obat anti psikosis dalam memblokade

dopamine pada reseptor pasca sinoptik neuron di otak, khususnya

system limbic dan system ekstra pyramidal.

Efek samping : sedasi dan inhabisi psimotor gangguan

otonomik yaitu mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi,

hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi,

gangguan irama jantung.

Kontra indikasi : penyakit hati, epilepsy, kelainan jantung,

febris, ketergantungan obat, penyakit system saraf pusat, gangguan

2)

kesadaran.

Therapy Somatik

Therapy Somatik merupakan suatu therapy yang dilakukan

langsung mengenai tubuh. Adapun yang termasuk therapy somatik

adalah :

a) Elektro Convulsif Therapy

Merupakan

pengobatan

secara

fisik

menggunakan

arus

listrik dengan kekuatan 75-100 volt. Cara kerja ini belum diketahui

secara jelas, namun dapat dikatakan bahwa therapy ini dapat

memperpendek

lamanya

serangan

Skizofrenia

dan

dapat

mempermudah kontak dengan orang lain.

b) Pengekangan atau pengikatan

Pengekangan fisik menggunakan pengekangan mekanik,

seperti manset untuk pergelangan tangan dan pergelangan kaki

serta sprei pengekangan dimana klien dapat di imobilisasi dengan

membalutnya. Cara ini dilakukan pada klien halusinasi yang mulai

menunjukkan

perilaku

kekerasan

diantaranya

:

marah-marah,

mengamuk

c) Isolasi

Isolasi

dapat

menempatkan

klien

dalam

suatu

ruangan

dimana klien

tidak

dapat

keluar dari

ruangan

tersebut sesuai

kehendaknya. Cara ini dilakukan pada klien halusinasi yang telah

melakukan perilaku kekerasan seperti memukul orang lain/ teman,

merusak lingkungan dan memecahkan barang-barang yang ada

3)

didekatnya.

Therapy Okupasi

Therapy

Okupasi

merupakan

suatu

ilmu

dan

seni

untuk

mencurahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau

tugas

yang

sengaja

dipilih

dengan

maksud

untuk

memperbaiki,

memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang. Therapy Okupasi

menggunakan pekerjaan atau kegiatan sebagai media pelaksana.

c. Prinsip Tindakan

Adapun

sebagai berikut :

prinsip tindakan keperawatan

pada

halusinasi

adalah

1)

Membina

hubungan

interpersonal

saling

percaya

dengan

cara

mengekspresikan perasaan secara terbuka dan jujur.

2)

Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap observasi tingkah

laku klien yang terkait dengan halusinasi.

 

3)

Mengajarkan bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan bantuan

perawat.

4)

Fokuskan pada gejala dan minta individu untuk menguraikan apa

yang sedang terjadi, tujuannya adalah untuk memberikan kekuatan

kepada

individu

dengan

membantunya

memahami

gejala

yang

dialaminya atau ditunjukkannya. Hal ini akan menolong individu

untuk mengendalikan penyakitnya, meminta bantuan dan diharapkan

dapat mencegah halusinasi yang lebih kuat.

 

5)

Katakan bahwa perawat percaya klien mengalaminya (dengan nada

bersahabat, tanpa menuduh dan menghakimi) katakan bahwa ada klien

lain yang mengalami hal yang sama, katakan bahwa perawat akan

membantu.

6)

Memberikan perhatian

pada klien dan memperhatikan

kebutuhan

 

dasar klien seperti : makan dan minum, mandi dan berhias.

7)

Bantu individu untuk menguraikan dan membandingkan halusinasi

yang sekarang dengan terakhir yang dialaminya.

8)

Dorong

individu

untuk

mengamati

dan

menguraikan

pikiran,

perasaan dan tindakannya sekarang atau yang lalu berkaitan dengan

halusinasi yang dialaminya.

 

9)

Bantu individu untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan antara

halusinasi dengan kebutuhan yang mungkin tercermin.

10) Sarankan dan perkuat penggunaan hubungan interpersonal dalam

pemenuhan kebutuhan.

11) Identifikasi

bagaimana

gejala

psikosis

lain

telah

mempengaruhi

kemampuan individu untuk melaksanakan aktifitas hidup sehari-hari.

4. Pelaksanaan Keperawatan

Implementasi adalah perilaku keperawatan dimana tindakan yang

diperlukan

untuk

mencapai

 

tujuan

dan

hasil

diperkirakan

dari

asuhan

keperawatan.

(Potter,

2005

:

2003).

Selama

Pelaksanaan

keperawatan

perawat

mengkaji

kembali

klien,

memodifikasi

rencana

asuhan,

dan

menuliskan kembali hasil yang diharapkan sesuai dengan kebutuhan.

Sebelum

melaksanakan

tindakan

keperawatan

yang

sudah

direncanakan. perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana

tindkan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisi saai ini

(Here

and

now).

Perawatjuga

menilai

diri

sendiri,

apakah

mempunyai

kemampuan interpersonal, intelektual, tekhnikal sesuai dengan tindakan yang

akan dilaksanakan. Dinilai kembali apakah aman bagi klien. Setelah semua

tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan. Pada

saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan klien

dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta

klien yang diharapkan.

Adapun pelaksanaan keperawatan pasien dengan halusinasi disini

pasien

harus

mengenal

jenis,

isi,

waktu dan

frekwensi

halusinasi,

dan

mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi dan mengidentifikasi

respon pasien terhadap halusinasi.

Pelaksanaan

keperawatan

untuk

keluarga.

adalah

mendiskusikan

masalah yang dirasakan, menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, jenis, dan

beserta proses terjadinya halusinasi . Dan juga menjelaskan cara –cara

merawat pasien halusinasi.

Implementasi pada klien dengan halusinasi dilaksanakannya terapi

aktivitas kelompok atau TAK terdiri dari yaitu:

Sesi 1: Mengenal Halusinasi

Tahap kerja

a. Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, yaitu mengenal suara-suara

yang didengar tentang isinya, waktu terjadinya, dan perasaan klien pada

saat terjadi.

b. Meminta klien isi halusinasi, kapan terjadinya, situasi yang membuat

terjadi dan perasaan klien saat terjadi halusinasi.

c. Beri pujian pada klien yang melakukan dengan baik.

d. Simpulkan isi, waktu terjadi, situasi terjadi, dan perasaan klien dari suara

yang biasa di dengar.

Sesi 2 : Mengontrol Halusunasi dengan Menghardik

Tahap Kerja

a. Terapi

meminta

klien

menceritakan

apa

yang

dilakukan

pada

saat

mengalami halusinasi dan bagaimana hasilnya.

 

b. Berikan pujian setiap klien selesai bercerita.

 

c. Terapi

menjelaskan

cara

mengatasi

halusinasi

dengan

menghardik

halusinasi saat halusinasi muncul.

d.

Terapi mempergakan cara menghardik halusinasi.

e. Terapi meminta masing-masing klien memperagakan cara menghardik

halusinasi.

f. Terapi memberikan pujian dan mengajak semua klien bertepuk tangan.

Sesi 3 :Mengontrol Halusinasi dengan melakukan kegiatan.

Tahap kerja

a. terapi menjelaskan cara kedua yaitu melakukan kegiatan sehari-hari/

b. Terapi meminta tiap klien menyampaikan kegiatan sehari-hari.

c. Terapi membagikan formulir jadwal kegiatan harian.

d. Terapi membimbing satu-persatu klien untuk membuat jadwal kegiatan

harian.

e. Terapi melatih klien memperagakan kegiatan yang telah disusun.

f. Berikan pujian deangan tepuk tangan bersama klien.

Sesi 4 : Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap.

Tahap kerja

a. Terapi menjelaskan pentingnya bercakap-cakap dengan orang lain untuk

mengontrol dan mencegah halusinasi.

b. Terapi meminta tiap klien menyebutkan orang yang biasa dan bisa diajak

bercakap-cakap.

c. Terapi meminta tiap klien menyebutkan pokok setiap pembicaraan.

d. Terapi mempragakan cara bercakap-cakap jika halusinasi muncul.

e. Terapi meminta klien untuk mempragakan percakapan dengan orang

disebelahnya.

f. Berikan pujian atas keberhasilan klien.

g. Ulangi e dan f sampai semua klien mendapat bergiliran.

Sesi 5 mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat

Tahap kerja

a. Terapi menjelaskan untungnya patuh minum obat,

b. Terapi menjelaskan kerugian tidak patuh minum obat.

c. Terapi meminta tiap klien menyampaikan obat yang dimakan dan waktu

memakannya.

d. Menjelaskan lima benar minum obat .

e. Minta klin menyebutkan lima benar cara minum obat.

f. Berikan pujian pada klien yang benar

g. Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat.

h. Mendiskusikan perasan klien setelah teratur minum obat.

i. Menjelaskan keuntungan patuh minum obat.

j. Menjelaskan akibat atau kerugian tidak patuh minum obat.

k. Minta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat.

5.

Evaluasi

Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari

tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada

respon klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi

dua

jenis

yaitu

evaluasi

proses

atau

formatif

dilakukan

dengan

membandingkan respon klien pada tujuan umum dan tujuan khusus yang

telah ditentukan. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan

SOAP dengan penjelasan sebagai berikut :

S

: Respon

subyektif

klien

terhadap

tindakan,dapat

diukur

dengan

menanyakan,

pertanyaan

sederhana

terkait

dengan

tindakan

keperawatan.

O

: Respon obyek terhadap tindakan keperawatan yang di berikan dapat

diukur

dengan

dilakukan.

mengobservasi

prilaku

klien

padasaat

tidakan

A

: Analisa ulang atas data subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan

apakah apakah masalah masih tetap muncul masalah baru atau ada data

yang

kontra

diksi

dengan

masalah

yang

ada

dapat

pula

membandingkan hasil dan tujuan

 

P

: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon

klien yang terdiri dari tindak lanjut .

Adapun hasil

yang diharapkan dari tindakan keperawatan pada

ganguan sensori persepsi halusinasi adalah sebagai berikut : Klien dapat

membina hubungan saling percaya, Klien dapat mengenal halusinasi, Klien

dapat mengontrol halusinasinya.