Anda di halaman 1dari 22

I.

LATAR BELAKANG Indonesia perlu mengadopsi standar akuntansi internasional untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Indonesia sudah melakukannya namun sifatnya baru harmonisasi, dan selanjutnya akan dilakukan full adoption atas standar internasional tersebut. Adopsi standar akuntansi internasional tersebut terutama untuk perusahaan publik. Hal ini dikarenakan perusahaan publik merupakan perusahaan yang melakukan transaksi bukan hanya nasional tetapi juga secara internasional. Jika ada perusahaan dari luar negeri ingin menjual saham di Indonesia atau sebaliknya, tidak akan lagi dipersoalkan perbedaan standar akuntansi yang dipergunakan dalam menyusun laporan. Kerugian apa yang akan kita hadapi bila kita tidak melakukan harmonisasi, kerugian kita berkaitan dengan kegiatan pasar modal baik modal yang masuk ke Indonesia, maupun perusahaan Indonesia yang listing di bursa efek di Negara lain. Perusahaan asing yang ingin listing di BEI akan kesulitan untuk menerjemahkan laporan keuangannya dulu sesuai standart nasional kita, sedangkan perusahaan Indonesia yang akan listing di Negara lain, juga cukup kesulitan untuk menerjemahkan atau membandingkan laporan keuangan sesuai standart di negara tersebut. Hal ini jelas akan menghambat perekonomian dunia, dan aliran modal akan berkurang dan tidak mengglobal. Semakin derasnya arus globalisasi yang menghilangkan batas batas geografis dalam kegiatan perekonomian telah menuntut adanya sistem akuntansi dan pelaporan keuangan yang seragam dan dapat diterima di berbagai negara. Untuk itu, dibentuklah suatu standar yang bernama IFRS (International Financial reporting standar) sebagai suatu pakem umum dalam usaha harmonisasi standar akuntansi keuangan. Dengan adanya suatu standar yang diterima secara internasional, diharapkan keterbandingan laporan keuangan antar negara menjadi lebih tinggi.Indonesia, sebagai suatu negara berkembang pun tidak ketinggalan dalam mengadopsi IFRS. Adopsi PSAK ke IFRS pun semakin menggaung ketika IAI mencanangkan konvergensi penuh IFRS ke PSAK pada tahun 2012. Diharapkan, dengan adanya konvergensi ini dapat memudahkan pemahaman terhadap laporan keuangan yang dikenal secara internasional serta dapat meningkatkan arus investasi.Dalam tahap konvergensi ini terdapat beberapa kendala yang dihadapi seperti perlunya penyesuaianstandar internasional terhadap aspek hukum di Indonesia, penyesuaian terhadap aturan perpajakan,kesiapan sumber daya manusia yang belum matang, serta masalah keberadaan lembaga standarakuntansi Indonesiayangbelum independen. IFRS (International Financial Reporting Standard) merupakan pedoman penyusunan laporan keuangan yang diterima secara global. Sejarah terbentuknya pun cukup panjang dari terbentuknya IASC/ IAFC, IASB, hingga menjadi IFRS seperti sekarang ini. Jika sebuah negara menggunakan IFRS, berarti negara tersebut telah mengadopsi sistem pelaporan keuangan yang berlaku secara global sehingga memungkinkan pasar dunia mengerti tentang laporan keuangan perusahaan di negara tersebut berasal.Indonesia pun akan mengadopsi IFRS secara penuh pada 2012 nanti, seperti yang dilansir IAI pada peringatan HUT nya yang ke 51. Dengan mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Adopsi penuh IFRS

diharapkan memberikan manfaat : 1. memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK yang dikenal secara internasional 2. meningkatkan arus investasi global 3. menurunkan biaya modal melalui pasar modal global 4. Peningkatan daya banding laporan keuangan dan memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal internasional 5.Menghilangkan hambatan arus modal internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan. 6.Mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis. 7.Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju best practise. Permasalahan yang dihadapi dalam impementasi dan adopsi IFRS : 8.Translasi Standar Internasional 9. Ketidaksesuaian Standar Internasional dengan Hukum Nasional 10.Struktur dan Kompleksitas Standar Internasional 11. Frekuensi Perubahan dan Kompleksitas Standar Internasional dan menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan Strategi adopsi yang dilakukan untuk konvergensi ada dua macam, yaitu big bang strategy dan gradual strategy. Big bang strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui tahapan tahapan tertentu. Strategi ini digunakan oleh negara negara maju. Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh negara negara berkembang seperti Indonesia. PSAK akan dikonvergensikan secara penuh dengan IFRS melalui tiga tahapan, yaitu tahap adopsi, tahap persiapan akhir dan tahap implementasi.Tahap adopsi dilakukan pada periode 2008-2011 meliputi aktivitas adopsi seluruh IFRS ke PSAK, persiapan infrastruktur, evaluasi terhadap PSAK yang berlaku. Pada 2009 proses adopsi IFRS/ IAS mencakup : 1. IFRS 2 Share-based payment 2. IFRS 3 Business combination 3. IFRS 4 Insurance contracts 4. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations 5. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources 6. IFRS 7 Financial instruments: disclosures 7. IFRS 8 Segment reporting 8. IAS 1 Presentation of financial statements 9. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates 10. IAS 12 Income taxes 11. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates 12. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans 13. IAS 27 Consolidated and separate financial statements 14. IAS 28 Investments in associates 15. IAS 31 Interests in joint ventures 16. IAS 36 Impairment of assets 17. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets 18. IAS 38 Intangible assets

Pada 2010 adopsi IFRS/ IAS mencakup : 1. IFRS 7 Statement of Cash Flows 2. IFRS20 Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Assistance 3. IFRS24 Related Party Disclosures 4. IFRS29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies 5. IFRS33 Earnings per Share 6. IFRS34 Interim Financial Reporting 7. IFRS41 Agriculture Sedangkan arah pengembangan konvergensi IFRS meliputi : 1. PSAK yang sama dengan IFRS akan direvisi, atau akan diterbitkan PSAK yang baru 2. PSAK yang tidak diatur dalam IFRS, maka akan dikembangkan 3. PSAK industri khusus akan dihapuskan 4. PSAK turunan dari UU tetap dipertahankan Pada 2011 tahap persiapan akhir dilakukan dengan menyelesaikan seluruh infrastruktur yang diperlukan. Pada 2012 dilakukan penerapan pertama kali PSAK yang sudah mengadopsi IFRS. Namun, proses konvergensi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dampak yang ditimbulkan dari konvergensi ini akan sangat mempengaruhi semua kalangan, baik itu bidang bisnis maupun pendidikan. Saat ini standar akuntansi keuangan nasional sedang dalam proses konvergensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang dikeluarkan oleh IASB (International Accounting Standards Board. Oleh karena itu, arah penyusunan dan pengembangan standar akuntansi keuangan ke depan akan selalu mengacu pada standar akuntansi internasional (IFRS) tersebut. Untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi yang dapat dijadikan landasan konseptual.

berikut ini adalah daftar PSAK yang sudah terkonvergensi per 2011. PSAK per Januari 2011 yang Telah Disahkan PSAK 1 ( revisi 2009) PSAK 2 (Revisi 2009) Penyajian Laporan Keuangan Laporan arus Kas

Tanggal efektif 01-Jan-11 01-jan-11

PSAK 5 (Revisi 2009) Segmen Operasi 01-Jan-11 PSAK 12 (Revisi 2009) Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama 01-Jan-11 PSAK 15 (Revisi 2009) Investasi pada Entitas Asosiasi 01-Jan-11 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan PSAK 25 (Revisi 2009) 01-Jan-11 Kesalahan PSAK 57 (Revisi 2009) Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi 01-Jan-11 Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang PSAK 58 (Revisi 2009) 01-Jan-11 Dihentikan Perubahan atas Liabilitas Aktivitas Purnaoperasi, Restorasi, dan ISAK 9 01-Jan-11 Liabilitas Serupa ISAK 10 Program Loyalitas Pelanggan 01-Jan-11 ISAK 11 Distrubusi Aset Nonkas kepada Pemilik 01-Jan-11 Pengendalian Bersama Entitas : Kontribusi Nonmoneter oleh ISAK 12 01-Jan-11 Venturer Pencabutan PSAK 41: Akuntansi Waran dan PSAK 43 Akuntansi PPSAK 2 01-Jan-10 Anjak Piutang Pencabutan PSAK 54: Akuntansi Rekstrukturisasi Utang Piutang PPSAK 3 01-Jan-10 Bermasalah PSAK 2 (revisi 2009) Laporan Arus Kas 01-Jan-11 Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan PSAK 4 (revisi 2009) 01-Jan-11 Tersendiri ISAK 7 Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus 01-Jan-11 Pencabutan PSAK 31:Akuntansi Perbankan, PSAK 42: Akuntansi PPSAK 4 01-Jan-10 Perusahaan Efek, dan PSAK 49: Akuntansi Perusahaan Reksa Dana Pencabutan ISAK 06 : Interpretasi atas paragraf 12 dan 16 PSAK PPSAK 5 55 (1999) tentang Instrumen Derivatif Melekat pada Kontrak 01-Jan-10 Dalam Mata Uang Asing. Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing(Penerapan dini PSAK 10 (revisi 2010) 01-Jan-12 diijinkan) ISAK 13 Lindung Nilai Investasi Neto Kegiatan Usaha Luar Negeri. 01-Jan-12 PSAK 48 (revisi 2009) Penurunan Nilai Aset 01-Jan-11 PSAK 19 (Revisi 2010) Aset Takberwujud 01-Jan-11 PSAK 22(revisi 2010) Kombinasi Bisnis 01-Jan-11 PSAK 23 (revisi 2010) Pendapatan 01-Jan-11 PSAK 7(revisi 2009) Pengungkapan Pihak-pihak berelasi 01-Jan-12 ISAK 14 Aset Takberwujud-Biaya Situs Web 01-Jan-11 PSAK 3 (revisi 2010) Laporan Keuangan Interim 01-Jan-11 PSAK 18 (revisi 2010) Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya 01-Jan-12

PSAK 24 (revisi 2010): Imbalan Kerja PSAK 24-Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan ISAK 15 Minimum dan Interaksinya ISAK 17 Laporan Keuangan Interim dan Penurunan Nilai PSAK 60 Instrumen Keuangan:Pengungkapan PSAK 50 (Revisi 2010) Insurumen Keuangan: Penyajian PSAK 8 (Revisi 2010) Peristiwa Setelah Periode Pelaporan ED PSAK 34 (Revisi Akuntansi Kontrak Konstruksi 2010) PSAK 46 (Revisi 2010) Akuntansi Pajak Penghasilan Pajak penghasilan Perubahan Dalam Status Pajak Entitas atau ISAK 20 Para Pemegang Saham Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan PSAK 61 Pemerintah Bantuan Pemerintah Tidak Ada Relasi Spesifik dengan Aktivitas ISAK 18 Operasi PPSAK 8 Pencabutan PSAK 27: Akuntansi Perkoperasian PSAK 53 (Revisi 2010) Pembayaran Berbasis Saham

01-Jan-12 01-Jan-12 01-Jan-11 01-Jan-12 01-Jan-12 01-Jan-11 01-Jan-12 01-Jan-12 01-Jan-12 01-Jan-12 01-Jan-12 01-Jan-12 01-Jan-12

Dalam paper ini akan di bahas secara lebih spesifik yaitu tentang pengadopsian IFRS dalam PSAK (khususnya PSAK 1dan 2) saja tentang penyajian laporan keuanagan dan laporan arus kas. jika seorang investor ingin mengambil keputusan bisnis, maka salah satu pertimbangannya adalah dengan melihat dan menganalisis laporan keuangan perusahaan. Kenapa laporan keuangan ?. Laporan keuangan merupakan salah satu media utama yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan informasi keuangannya kepada pihak luar. Informasi tentang arus kas suatu entitas berguna bagi para pengguna laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pengguna perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya.Tujuan Pernyataan ini adalah memberikan pengaturan atas informasi mengenai perubahan historis dalam kas dan setara kas dari suatu entitas melalui laporan arus kas yang mengklasifi kasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, maupun pendanaan (financing) selama suatu periode.

II.PEMBAHASAN 2.1 PSAK 1 Sebagai bentuk implementasi dari konvergensi IFRS, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) telah mensahkan PSAK No. 1 (revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan pada tanggal 15 Desember 2009. PSAK No. 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan merupakannPSAK diadopsi seluruhnya dari IAS 1: Presentation of Financial Statements per 1 Januari 2009.PSAK No. 1 (revisi 2009) diterapkan oleh entitas untuk periode tahun buku yang dimulai pada atausetelah tanggal 1 Januari 2011. PSAK ini salah satunya menggantikan PSAK No. 1 (revisi 1998):Penyajian Laporan Keuangan. Terdapat beberapa perbedaan dalam PSAK No. 1 (revisi 2009):Penyajian Laporan Keuangan. Beberapa perbedaan adalah sebagai berikut: Pertama, terdapat perbedaan beberapa istilah yang digunakan dalam PSAK No. 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan. Beberapa istilah tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Istilah kewajiban pada PSAK No. 1 (Revisi 1998) dirubah menjadi liabilitas pada PSAK No.1(Revisi 2009). 2. Istilah aktiva pada PSAK No. 1 (Revisi 1998) dirubah menjadi aset pada PSAK No. 1 (Revisi 2009). 3. Istilah neraca pada PSAK No. 1 (Revisi 1998) dirubah menjadi laporan posisi keuangan pada PSAK No. 1 (Revisi 2009). 4. Istilah hak minoritas pada PSAK No. 1 (Revisi 1998) dirubah menjadi kepentingan nonpengendali pada PSAK No. 1 (Revisi 2009). Selain adanya perubahan istilah, pada PSAK No. 1 (Revisi 2009) par. 07 juga dicantumkan beberapa istilah yang sebelumnya tidak diungkapkan dalam PSAK No. 1 (Revisi 1998). Beberapa istilah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Catatan Atas Laporan Keuangan 2. Laba Atau Rugi 3. Laporan Keuangan Bertujuan Umum 4. Material 5. Pemilik 6. Pendapatan Komprehensif Lain 7. Penyesuaian Reklasifikasi 8. Standar Akuntansi Keuangan 9. Tidak Praktis 10. Total Laba Rugi Komprehansif Kedua, perbedaan mencakup komponen laporan keuangan lengkap. Menurut PSAK No. 1 (Revisi 2009) par. 10, laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: 1. Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode; 2. Laporan laba rugi komprehensif selama periode; 3. Laporan perubahan ekuitas selama periode; 4. Laporan arus kas selama periode; 5. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain; dan 6. Laporan posisi keuangan awal periode periode komparatif yang disajikan ketika entitas

menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restrospektif atau membuat penyajian kembali pospos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya. Sementara komponen laporan keuangan lengkap menurut PSAK No. 1 (revisi 1998) mencakup: 1. Neraca 2. Laporan Laba Rugi 3. Laporan Perubahan Ekuitas 4. Laporan Arus Kas 5. Catatan Atas Laporan Keuangan Perbedaan signifikan dari komponen laporan keuangan lengkap menurut kedua PSAK adalah sebagai berikut: 1. PSAK No. 1 (revisi 2009) mewajibkan entitas untuk menyusun laporan laba rugi komprehensif, yang terdiri dari informasi laba rugi yang biasa dilaporkan dalam Laporan Laba Rugi menurut PSAK No. 1 (revisi 1998) ditambah dengan informasi pendapatan komprehensif lain. 2. PSAK No. 1 (revisi 2009) mewajibkan entitas untuk menyusun Laporan Posisi Keuangan awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya. Sementara PSAK No. 1 (revisi 1998) tidak mensyaratkan laporan tersebut. Ketiga, perbedaan mencakup informasi yang harus disajikan dalam laporan keuangan. Menurut PSAK No. 1 (revisi 2009), par. 9, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusidari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, dan arus kas. Sementara menurut PSAK No. 1 (revisi 1998), par. 5, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenaiperusahaan yang meliputi aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban, serta arus kas. Keempat,perbedaan dalam hal penyajian laporan laba rugi komprehensif. Sebelumnya menurut PSAK No. 1 (revisi 1998), perusahaan hanya diwajibkan untuk menyusun laporan laba rugi. Sementara menurut PSAK No. 1 (revisi 2009), perusahaan diwajibkan untuk menyusun laporan laba rugi komprehensif. Untuk itu, perusahaan wajib mencantumkan komponen pendapatan komprehensif lain dalam laporan laba rugi komprehensif yang disusunnya. Pendapatan komprehensif berarti seluruh perubahan ekuitas pemilik perusahaan diluar dari transaksi kontribusi atau distribusi dari dan kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagaimana pemilik perusahaan. Sebelum dikeluarkannya PSAK No. 1 (revisi 2009), informasi mengenai pendapatan komprehensif lain disajikan dalam Laporan Perubahan Ekuitas. Dengan adanya perubahan ini, maka para pengguna laporan keuangan dapat mengetahui semua informasi yang berkaitan dengan perubahan ekuitas pemilik yang bukan berasal dari kontribusi dan distribusi pemilik dalam laporan laba rugi komprehensif. Komponen pendapatan komprehensif lain sebagaimana tercantum dalam PSAK No. 1 (revisi 2009) par. 07 mencakup: a) Perubahan dalam surplus revaluasi (lihat PSAK 16 (Revisi 2007): Aset Tetap dan PSAK 19 (Revisi 2009): Aset Tidak Berwujud) b) Keuntungan dan kerugian aktuarial atas program manfaat pasti yang diakui sesuai dengan PSAK24: Imbalan Kerja)

c) Keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari entitas asing (lihatPSAK 10 (Revisi 2009): Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing) d) Keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan yang dikategorikan sebagai tersedia untuk dijual (lihat PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran) e) Bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrumen lindung nilai dalam rangka lindung nilaiarus kas (lihat PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran). Contoh laporan laba rugi komprehensif dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Dalam kaitannya dengan format laporan laba rugi komprehensif, entitas dapat menyajikan seluruh pos penghasilan dan beban yang diakui dalam satu periode dengan memilih salah satu format sebagaimana tercantum dalam PSAK No. 1 (revisi 2009) par.78 berikut: a) Dalam bentuk satu laporan laba rugi komprehensif, atau b) Dalam bentuk dua laporan: 1. laporan yang menunjukkan komponen laba rugi (laporan laba rugi terpisah); dan 2. laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan komponen pendapatan komprehensif lain (laporan laba rugi komprehensif). Jika laporan laba rugi disajikan, maka laporan tersebut merupakan bagian dari komponen laporan keuangan yang lengkap dan disajikan sebelum laporan laba rugi komprehensif. Dalam kaitannya dengan total laba rugi periode berjalan atau bottom line laporan, dalam laporan laba rugi (PSAK No. 1 (revisi 1998)), total laba rugi merupakan komponen laba yang menjadi hak entitas induk, sementarakomponen laba untuk kepentingan nonpengendali (dahulu istilahnya minority interests atau hak minoritas) merupakan pengurang total laba. Dalam laporan laba rugi komprehensif (PSAK No. 1 (revisi 2009)), komponen laba untuk kepentingan nonpengendali tidak lagi disajikan sebagai pengurang laba. Setelah penyajian informasi laba entitas, maka entitas wajib menyajikan informasi mengenai bagian laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan bagian laba yang dapat diatribusikan kepentingan nonpengendali. Dalam kaitannya dengan penyesuaian reklasifikasi, entitas dapat menyajikan informasi tersebut dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan. Menurut PSAK No. 1 (revisi 2009) par. 90, penyesuaian reklasifikasi mencakup jumlah yang sebelumnya diakui pendapatan komprehensif lain direklasifikasi ke laba rugi. Dengan kata lain, penyesuaian reklasifikasi merupakan jumlah yang direklasifikasi ke bagian laba rugi periode berjalan yang sebelumnya diakui sebagai pendapatan komprehensif lain pada periode berjalan atau periode sebelumnya. Penyesuaian reklasifikasi terjadi akibat dari pelepasan kegiatan usaha di luar negeri, penghentian pengakuan aset keuangan tersedia untuk dijual, dan ketika suatu lindung nilai atas perkiraan transaksi menimbulkan laba atau rugi. Dalam kaitannya dengan pajak penghasilan dari komponen pendapatan komprehensif lain, entitas mengungkapkan informasi pajak penghasilan darisetiap komponen pendapatan komprehensif lain baik dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan. PSAK No. 1 (revisi 2009), par. 88 menyatakan bahwa entitas dapat menyajikan komponen pendapatan komprehensif lain sebesar: (a) jumlah neto dari dampak pajak terkait, atau (b) jumlah sebelum dampak pajak terkait disertai dengan total pajak penghasilan yang terkait dengan komponen tersebut. Berdasarkan ketentuan di atas, dapat disimpulkan bahwa entitas wajib menyajikan informasi pajak yang terkait dengan setiap komponen pendapatan komprehensif lain dimana penyajiannya dapat berupa jumlah neto dari jumlah pajak terkait atau jumlah sebelum dampak pajak terkait disertai

dengan total pajak penghasilan yang terkait dengan komponen pendapatan komprehensif lain tersebut. Kelima, perbedaan dalam hal penyajian pos luar biasa (extraordinary items). Menurut PSAK No. 1 (revisi 2009), par. 84, entitas tidak diperkenankan menyajikan pos pos penghasilan dan beban sebagai pos luar biasa dalam laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), atau catatan atas laporan keuangan. Namun demikian, tidak dijelaskan alasan mengapa pos luar biasa tersebut tidak lagi diperkenankan untuk disajikan. Sementara menurut PSAK No. 1 (revisi 1998) par. 56, pos luar biasa merupakan salah satu pos yang ada dalam laporan laba rugi. Keenam, perbedaan dalam hal pengaturan waktu dikeluarkannya laporan keuangan. Menurut PSAK No. 1 (revisi 1998) par. 38, suatu perusahaan sebaiknya mengeluarkan laporan keuangannya paling lama 4 (empat) bulan setelah tanggal neraca. Sementara dalam PSAK No. 1 (revisi 2009) tidak diatur kapan entitas sebaiknya mengeluarkan laporan keuangannya

2.2 PSAK 2

Secara umum perbedaan antara PSAK 2(Revisi tahun 2009) dengan PSAK 2 (1994): Laporan Arus Kas adalah sebagai berikut:dengan PSAK 2 (1994): Laporan Arus Kas adalah sebagai berik Perihal Arus kas yang berasal dari beberapa transaksi serta keuntungan atau kerugian dari transaksi tersebut PSAK 2 (1994) ED PSAK 2 (Revisi 2009) - Arus kas dari beberapa transaksi, misalnya penjualan peralatan pabrik diakui sebagai arus kas investasi.- Arus kas dari keuntungan atau kerugian dari transaksi di atas diakui sebagai arus kas operasi.

Tidak diatur secara eksplisit

Penyesuaian atas laba atau rugi termasuk Metode tidak langsung berasal dari hak minoritas dalam laba / rugi konsolidasi. Terdapat peraturan Arus kas dari pos luar biasa mengenai arus kas pos luar biasa Arus kas dari pelepasan kepemilikan pada entitas anak yang tidak Tidak ada pengaturan mengakibatkan hilangnya pengendalian

Dihilangkan

Dihilangkan

Arus kas dari transaksi tersebut diakui sebagai arus kas pendanaan.

III.TINJAUAN TEORITIS 3.1 PSAK 1 Dalam kaitannya dengan komponen laporan keuangan, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) telah mensahkan PSAK 1 (Revisi 2009) tentang penyajian laporan keuangan pada tanggal 15 Desember 2009 yang merupakan revisi dari PSAK 1 tahun 1998. Pada kesempatan ini, akan dipaparkan tentang beberapa perubahan-perubahan yang terkait dengan PSAK 1 tantang penyajian laporan keuangan yang akan dimulai dari istilah-istilah apa saja yang berubah, disusul dengan komponen laporan keuangan yang lengkap, dan bagaimana bentuk penyajian laporan keuangan.Pernyataan ini menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut laporan keuangan agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain. Pernyataan ini mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan. Laporan keuangan bertujuan umum (selanjutnya disebut sebagai laporan keuangan) adalah laporan keuangan yangditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan keuangan tersebut. LAPORAN KEUANGAN Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Asset Laibilitas Ekuitas Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik Arus kas.

Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan dan, khususnya dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas. Catatan atas laporan keuangan itu sendiri berisi informasi tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan pendaptan komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan atau rincian dari pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan informasi mengenai pospos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Komponen Laporan Keuangan Lengkap Berdasarkan PSAK 1 (Revisi 2009), komponen laporan keuangan lengkap mengalami perubahan dari yang tadinya hanya mencakup lima item, sekarang mencakup enam item. Pada PSAK 1 (Revisi 1998), komponen laporan keuangan lengkap meliputi:NeracaLaporan laba rugi 1. Laporan perubahan ekuitas 2. Laporan arus kas 3. Catatan atas laporan keuangan Sedangkan menurut PSAK No. 1 (Revisi 2009) yang disahkan pada tanggal 15 Desember 2009 dan mulai efektif berlaku untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011, laporan keuangan yang lengkap harus meliputi komponen-komponen berikut ini : 1. 2. 3. 4. Laporan posisi keuangan pada akhir periode Laporan laba rugi komprehensif selama periode Laporan perubahan ekuitas selama periode Laporan arus kas selama periode

Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya. Jika kita bandingkan antara PSAK 1 (Revisi 1998) dengan PSAK No. 1 (Revisi 2009), terkait komponen laporan keuangan, maka terdapat dua perbedaan utama yaitu: perubahan pada laporan laba rugi, dimana sebelumnya hanya mensyaratkan laporan laba rugi, sekarang harus menyajikan laporan laba rugi komprehensif PSAK 1 (Revisi 1998) tidak mensyaratkan adanya laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya. Perlu ditekankan bahwa antara laporan laba rugi dengan laporan laba rugi komprehensif memiliki perbedaan. Laporan laba rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak termasuk komponen-komponen pendapatan komprehensif lain. Sedangkan laporan laba rugi komprehensif termasuk didalamnya laporan laba rugi dan pendapatan komprehensif. Pendapatan komprehensif mencakup :

Perubahan dalam surplus revaluasi (lihat PSAK 16 (Revisi 2007): Aset Tetap dan PSAK 19 (Revisi 2009): Aset Tidak Berwujud) Keuntungan dan kerugian aktuarial atas program manfaat pasti yang diakui sesuai dengan PSAK 24: Imbalan Kerja Keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari entitas asing (lihat PSAK 10 (Revisi 2009): Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing) Keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan yang dikategorikan sebagai tersedia untuk dijual (lihat PSAK 55 (Revisi 2006) : Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran) Bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrumen lindung nilai dalam rangka lindung nilai arus kas . Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari transaksi, peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, laibilitas, pendapatan dan beban yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Penerapan SAK, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Entitas tidak boleh menyebutkan bahwa laporan keuangan telah patuh terhadap SAK kecuali laporan keuangan tersebut telah patuh terhadap semua yang dipersyaratkan dalam SAK. Entitas tidak dapat memperbaiki kebijakan akuntansi yang tidak tepat baik dengan pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan atau materi penjelasan. Kelangsungan Usaha Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak mempunyai alternatif lainnya yang realistis selainmelakukannya. Jika manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk mempertahankankelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan ketidakpastian tersebut. Jika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak dipertimbangkan sebagai entitas yang dapatmenggunakan asumsi kelangsungan usaha.

Dalam mempertimbangkan apakah dasar asumsi kelangsungan usaha adalah tepat, manajemen memerhatikan semua informasi masa depan, paling sedikit (namun tidak dibatasi untuk) dua belas bulan dari akhir periode pelaporan. Tingkat pertimbangan tergantung pada fakta dari setiap kasus. Jika selama ini entitas menghasilkan laba dan mempunyai akses ke sumber pembiayaan, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai tanpa melalui analisis rinci. Dasar Akrual Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas. Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset, laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos-pos tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsure-unsur tersebut dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Materialitas dan Agregasi Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang material. Entitas menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda kecuali pos tersebut tidak material. Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan sejumlah transaksi atau peristiwa lain yang diklasifikasikan sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses penggabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam laporan keuangan. Jika suatu klasifikasi pos tidak material, maka dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan. Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan terpisah dalam laporan keuangan tetapi cukup material untuk disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan. Entitas tidak diperlukan untuk memberikan suatu pengungkapan khusus yang diminta oleh suatu PSAK jika informasi tersebut tidak material. Saling Hapus Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan laibilitas atau pendapatan dan beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh suatu PSAK. Entitas melaporkan secara terpisah untuk aset dan laibilitas serta pendapatan dan beban. Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau laporan posisi keuangan atau dalam laporan laba rugi terpisah (jika disajikan) mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan baik untuk memahami transaksi, peristiwa dan kejadian lain yang telah terjadi maupun untuk menilai arus kas entitas di masa depan, kecuali jika saling hapus mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa. Pengukuran aset secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (misalnya, penyisihan keusangan atas persediaaandan penyisihan piutang tak tertagih) tidak termasuk kategori saling hapus.

Frekuensi Pelaporan Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif) setidaknya secara tahunan. Jika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari periode satu tahun, sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, maka entitas mengungkapkan:Alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek.Fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan secara keseluruhan. Informasi Komparatif Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan, kecuali dinyatakan lain oleh SAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. Entitas yang mengungkapkan informasi komparatif menyajikan minimal dua laporan posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis laporan lainnya, dan catatan atas laporan keuangan. Jika entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali secara retrospektif atas pos-pos dalam laporan keuangan atau mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan, maka entitas menyajikan minimal tiga laporan posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis laporan lainnya, dan catatan atas laporan keuangan. Entitas menyajikan laporan posisi keuangan pada: Akhir periode berjalan Akhir periode sebelumnya (yang sama dengan awal periode berjalan) Permulaan dari periode komparasi terawal

Konsistensi Penyajian Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali :Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau review atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian yang lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan penerapan kebijakan akuntansi dalam PSAK 25 Perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK Laporan Posisi Keuangan Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut: Aset tetap Properti investasi Aset tidak berwujud Aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (5), (8) dan (9)

Investasi dengan menggunakan metode ekuitas Aset biolojik Persediaan Piutang dagang dan piutang lainnya Kas dan setara kas

Laporan Laba Rugi Komprehensif Entitas menyajikan seluruh pos pendapatan dan beban yang diakui dalam satu periode dalam bentuk satu laporan laba rugi komprehensif Dalam bentuk dua laporan: Laporan yang menunjukkan komponen laba rugi(laporan laba rugi terpisah) Laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan komponen pendapatan komprehensif lain (laporan pendapatan komprehensif).

Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif Laporan laba rugi komprehensif, sekurangkurangnya mencakup penyajian jumlah pos-posberikut selama suatu periode: Pendapatan Biaya keuangan Bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas & Beban pajak.Keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok yang dilepaskan dalam rangka operasi yang dihentikan.Laba rugiSetiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai dengan sifat (selain jumlah dalam huruf (8)Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitasTotal laba rugi komprehensif. Laporan Perubahan Ekuitas Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan: Total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan nonpengendali.Untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif yang diakui sesuai dengan PSAK 25Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan yang timbul dari:

Laba rugi Masing-masing pos pendapatan komprehensif lain.Transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunjukkan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian.Entitas menyajikan, baik dalam laporan perubahan ekuitas atau dalam catatan atas laporan keuangan, jumlah dividen yang diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode, dan nilai dividen per saham. Laporan Arus Kas Informasi arus kas memberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan kebutuhan entitas dalam menggunakan arus kas tersebut. PSAK 2 mengatur persyaratan penyajian dan pengungkapan informasi arus kas.dan laporan arus kas pasca adopsi IFRS akan di bahas lebih lanjut Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan: Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu yang digunakan sesuai dengan paragraf 115 122 Mengungkapkan informasi yang disyaratkan SAK yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan Memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan

3.2 PSAK 2 LAPORAN ARUS KAS Ruang Lingkup Entitas harus menyusun laporan arus kas sesuai persyaratan dalam Pernyataan ini dan menyajikan laporan tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan (integral) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan. Pernyataan ini menggantikan PSAK 2 (1994): Laporan Arus Kas.Para pengguna laporan berkepentingan untuk mengetahui bagaimana entitas menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas. Hal tersebut bersifat umum dan tidak bergantung pada aktivitas entitas serta apakah kas dapat dipandang sebagai produk entitas, seperti yang berlaku di lembaga keuangan. Pada dasarnya, entitas memerlukan kas dengan alasan yang sama meskipun terdapat perbedaan dalam aktivitas penghasil pendapatan utama (revenueproducing activities). Entitas membutuhkan kas untuk melaksanakan usaha, melunasi kewajiban, dan membagikan dividen (returns) kepada para investor. Oleh karena itu Pernyataan ini mewajibkan semua entitas menyajikan laporan arus kas.

Kegunaan Informasi Arus Kas Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan lainnya, laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna untuk mengevaluasi perubahan dalam aset bersih entitas, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka penyesuaian terhadap keadaan dan peluang yang berubah. Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pengguna mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash fl ows) dari berbagai entitas. Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai entitas karena dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaksi dan peristiwa yang sama. Kas dan Setara Kas Kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan rekening giro (demand deposits). Sedangkan Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan. Setara Kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan sebagi setara kas, suatu investasi harus segera dapat dirubah menjadi kas, dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki resiko perubahan nilai yang tidak signifikan. Karenanya, suatu investasi pada umumnya memenuhi syarat sebagai setara kas, hanya jika akan segera jatuh tempo dalam waktu, misalnya tiga bukan atau kurang sejak tanggal perolehannya. PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS Laporan arus kas melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Entitas menyajikan arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnisnya. Klasifikasi menurut aktivitas memberikan informasi yang memungkinkan pengguna untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut terhadap posisi keuangan entitas serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Informasi tersebut dapat juga digunakan untuk mengevaluasi hubungan di antara ketiga aktivitas tersebut. Aktivitas Operasi Jumlah arus aks yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indicator utama untuk menentukan apakah operasi entitas dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar dividen, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Informasi tentang unsur tertentu arus kas historis, bersama dengan informasi lain, berguna dalam memprediksi arus kas operasi masa depan.Arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi neto. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas opearsi adalah : Penerimaan kas dari penjualan barang dan pemberian jasa;

Penerimaan kas dari royalty, fees, komisi, dan pendapatan lain; Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa; Pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan; Penerimaan dan pembayaran kas oleh entitas asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas, dan manfaat polis lain; Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak pengahasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi; dan Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan (dealing)

Aktivitas Investasi Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah penting karena kas tersebut mencerminkan pengeluaran yang telah terjadi untuk sumber daya yang dimaksudkan menghasilkan pendapatan dan arus kas asa depan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah : Pembayaran kas untuk membeli asset tetap, asset tidak berwujud, dan asset jangka panjang lain termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan asset tetap yang dibangun sendiri; Penerimaan kas dari penjualan asset tetap, asset tidak berwujud, dan asset jangka panjang lain; Pembayaran kas untuk membeli instrument utang atau instrument akuitas entitas lain dan kepemilikan dalam ventura bersama (selain pembayaran kas untuk instrument yang dianggap setara kas atau instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan) Penerimaan kas dari penjualan instrument utang dan instrument ekuitas lain dan kepemilikan ventura bersama (selain penerimaan kas dari instrument yang dianggap setara kas atau instrument yang dimilki untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan) Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan); Penerimaan kas dari pelunasan uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diebrikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan); Pembayaran kss sehubungan dengan kontrak future, forward, opsi dan swap, kecuali jika kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan , atau jika pembayraan tersebut diklasifiksikan sebagai aktivitas pendanaan; dan Penerimaan kas dari kontrak future, forward, opsi dan swap, kecuali jika kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan, atau jika pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.

Aktivitas Pendanaan

Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah penting karena berguna untuk memprediksi klaim atas arus kas masa depan oleh para penyelia modal entitas. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah: Penerimaan kas dari penerbitan saham atau instrument modal lain kas kepada pemilik untuk menarik atau menebus saham entitas; Penerimaan kas dari penerbitan obligasi, pinjaman, wesel, hipotek, dna pinjaman jangka pendek dan jangka panjang lain; Pelunasan pinjaman; Pembayaran kas oleh lessee untuk mengurangi saldo liabilitas yang berkaitan dengan sewa pembiayaan.

IV.KESIMPULAN 1. PSAK No. 1 (revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan yang diadopsi seluruhnya dari IAS 1: Presentation of Financial Statements per 1 Januari 2009 dan disahkan oleh DSAK pada tanggal 15 Desember 2009 merupakan salah satu bentuk konvergensi IFRS yang telah dilakukan di Indonesia. 2. Beberapa perbedaan antara PSAK No. 1 (Revisi 1998) dan PSAK No. 1 (revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan mencakup perbedaan beberapa istilah yang digunakan, perbedaan dalam komponen laporan keuangan lengkap, perbedaan dalam hal informasi yang disajikan dalam laporan keuangan, perbedaan dalam hal laporan laba rugi komprehensif, perbedaan dalam hal penyajian pos luar biasa, dan perbedaan dalam hal pengaturan waktu sebaiknya dikeluarkan laporan keuangan. 3.PSAK 1 ( Revisi 2009 ) berisikan tentang Penyajian Laporan Keuangan. 4.Banyak perubahan istilah yang terjadi pada PSAK 1 (Revisi 1998) dengan PSAK 1 (Revisi 2009), contohnya : 5.Penggantian istilah kewajiban pada PSAK 1 (Revisi 1998) menjadi liabilitas pada PSAK 1 (Revisi 2009). 6.Penggantian istilah aktiva pada PSAK 1 (Revisi 1998) menjadi aset pada PSAK 1 (Revisi 2009). 7.Penggantian istilah neraca pada PSAK 1 (Revisi 1998) menjadi laporan posisi keuangan pada PSAK 1 (Revisi 2009) 8.Penggantian istilah Laporan Laba Rugi pada PSAK 1 (Revisi 2009) menjadi Laporan Laba Rugi Komprehensif 9.PSAK 1 (Revisi 2009) tidak memperkenankan adanya Pos Luar Biasa. 10.PSAK 2 ( Revisi 2009 ) berisikan tentang Laporan Arus Kas. 11.Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menjadi 3 aktivitas, yaitu : Aktivitas Operasi, menentukan apakah operasi entitas dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar deviden dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pendanaan sumber daya luar. Aktivitas Investasi, mencerminkan pengeluaran yang telah terjadi untuk sumber daya yang dimaksudkan menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Aktivitas Pendanaan, merupakan aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman entitas.

V.Daftar Pustaka Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 (Revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan (softcopy edition). Jakarta. Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2009. Salemba Empat. Jakarta. Lam, Nelson dan Peter Lau. 2009. Intermediate Financial Reporting: An IFRS Perspective. McGrawHill. Singapore. Perkembangan Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) di Indonesia. www.sai.ugm.ac.id/site/images/pdf/ifrs.pdf. Rabu, 16 Februari 2011. Wahyuni, Ersa T. 2010. Menuju Konvergensi IFRS 2012. Disampaikan pada TOT Standar Akuntansi Untuk Dosen. Jakarta. Suhanto,Yuli Rinianti,Mega Sari,Mohammad Ridhoi (April,2012) disunting dari (PSAK no 1 dan PSAK no 2, revisi 2009,Ikatan Akuntan Indonesia)