Anda di halaman 1dari 12

Gambaran Keparahan Maloklusi Oklusal Klas ll (Class II malocclusion occlusal severity description) Guilherme Janson, Renata Sathler, Thais

Maria Freire Fernandes, Marcelo Zanda, Arnaldo Pinzan

Abstrak Tujuan: Telah diketahui bahwa efektivitas dan efisiensi dari aspek perawatan maloklusi Kelas II berkaitan erat dengan tingkat perbedaan keparahan gigi anteroposterior. Namun, pemilihan sampel berdasarkan variabel sefalometrik tanpa mempertimbangkan tingkat keparahan perbedaan oklusal anteroposterior masih umum dilakukan pada saat ini. Dalam beberapa kasus, ketika parameter oklusal dipilih, keparahan sering diabaikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memverifikasi pentingnya memperhatikan klasifikasi maloklusi Klas II, berdasarkan kriteria yang digunakan untuk memilih sampel dalam jumlah besar pada makalah yang diterbitkan dalam jurnal ortodonsi dengan faktor resiko yang tinggi. Bahan dan Metode: Kami mencari database PubMed tentang penelitian yang mengacu pada maloklusi Kelas II dalam American Journal of Orthodontics and Dentofacial Orthopedics (AJO-DO) Hasil: Sebanyak 359 makalah yang diambil, hanya 72 paper (20.06%) menggambarkan tingkat keparahan oklusal dari sampel maloklusi Kelas II. Sisanya 287 (79,94%) makalah tidak menentukan perbedaan keparahan oklusi anteroposterior, gambaran yang penting 159 (55,40%) dari makalah. Kesimpulan: Kegagalan dalam menjelaskan keparahan oklusi memerlukan interpretasi 44,29% dari makalah yang dikumpulkan dalam penelitian ini. Kata kunci: maloklusi, Angle klas II, keparahan

PENDAHULUAN Kesepakatan antara praktisi telah disederhanakan ketika Angle (1899) menggambarkan klasifikasi maloklusi. Pada saat itu, ia mengusulkan bahwa hanya 3 kategori pada maloklusi. Bertahun-tahun kemudian, Andrews (1972) memahami bahwa perlunya klasifikasi yang lebih lengkap, ia mengusulkan enam kategori untuk
1

oklusi normal dan menjelaskan klasifikasi yang lebih akurat dari perbedaaan oklusi anteroposterior (Gambar 1). Peningkatan dalam deskripsi maloklusi tidak hanya mempermudah pemahaman masalah, tetapi juga memberikan pengetahuan orthodonsi yang lebih ilmiah. Saat ini, klasifikasi maloklusi Kelas II menjadi dasar utama para penulis ini. Meskipun mereka berupaya untuk memperbaikinya, selalu diperlukan rincian untuk menggambarkan perbedaan anteroposterior.

Pengetahuan tentang keparahan maloklusi oklusal adalah penting untuk menentukan pendekatan perawatan yang terbaik. Pada maloklusi yang sama meskipun dengan tingkat keparahan berbeda akan memerlukan sebuah protokol pengobatan yang sangat berbeda. Pada full cusp maloklusi Kelas II, misalnya, memerlukan kepatuhan pasien dalam penggunaan alat ortodontik lepasan dan kemampuan serta pengalaman dokter gigi yang lebih memadai, dari cusp

maloklusi Kelas II. Namun, sangat tidak mudah untuk menemukan sebuah makalah yang dengan jelas memberikan perbedaan keparahan oklusi dari makalah yang digunakan. Selain itu, penggunaan variabel sefalometrik seringkali lebih umum dari parameter oklusal, meskipun rincian oklusal telah dibuat. Kekhawatiran tentang kelalaian dan kualitas penelitian yang diterbitkan bukanlah masalah baru. Desain penelitian, ukuran sampel dan seleksi adalah sumber
2

utama dari bias dalam semua studi yang dievaluasi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pentingnya gambaran keparahan maloklusi oklusal Kelas II dan mendiskusikan implikasinya. Bahan dan Metode Pada bulan Januari 2008 pencarian dilakukan di PubMed (Gambar 2). Tujuannya adalah untuk menemukan makalah penelitian yang berkaitan dengan sampel maloklusi Kelas II. Laporan kasus tidak disertakan. Untuk lebih seragam, hanya satu jurnal yang digunakan, yaitu American Journal of Orthodontics dan Ortopedi Dentofacial. Ini akan meminimalkan terjadinya kombinasi makalah dengan pemilihan standar yang berbeda. Tidak ada batas waktu dalam penelitian dan masingmasing dari 359 makalah yang terpilih dianalisis.

Bahan dan Metode masing-masing makalah dibaca dengan teliti, dan kriteria sampel yang digunakan baik yang inklusi atau eksklusi dicatat. Kriteria Pemilihan sampel dimasukkan hanya ketika sesuai dengan bahan dan metode. Ketika hanya sebagian bahan dan metode yang tersedia, maka makalah tetap dibaca. Tujuannya adalah untuk memahami pentingnya gambaran keparahan maloklusi. Makalah dibagi berdasarkan laporan maloklusi. Parameter yang digunakan untuk menggambarkan sampel sangat bervariasi. Beberapa sampel menggambarkan keparahan maloklusi secara jelas dan tepat. Karakteristik lain yang digunakan hanya gambaran oklusal atau variabel sefalometrik atau keduanya untuk menjelaskan

sampel, tapi tanpa menyertakan keparahan oklusi. Namun, bahkan ada yang tidak melaporkan setiap parameter yang digunakan. Penggunaan "maloklusi Klas II Angle" atau istilah yang serupa, dianggap sebagai parameter oklusal, setelah munculnya klasifikasi Angle. Dalam kasus yang kriteria pemilihan sampel tidak jelas, analisa digunakan untuk mengklasifikasikan makalah dalam parameter yang mungkin paling sesuai. Berdasarkan data, makalah akhirnya dibagi sebagai: "Dengan Spesifikasi keparahan oklusal" dan "Tanpa Spesifikasi keparahan oklusal " (Tabel 1). Istilahistilah berikut telah diterima sebagai deskriptor keparahan: ringan, sedang, berat, komplit, full unit, full cusp, cusp-to-cusp, half cusp, half cusp unit, edge-to-edge, end-to-end, end-on dan menggunakan quarter atau milimeter.

Untuk dimasukkan dalam kategori "Dengan Spesifikasi keparahan oklusal ", kriteria harus pada kondisi keparahan oklusal saja, dengan cara yang jelas, meskipun ada oklusal lain atau parameter sefalometrik. Oleh karena itu, beberapa makalah menggunakan parameter lain untuk seleksi sampel, seperti overjet atau ANB angle dan tingkat keparahan oklusal sekunder yang didapatkan, ditempatkan dalam kategori lain. Ketika semua makalah dikelompokkan, tujuan makalah tersebut dianalisis untuk melihat apakah memang ada kebutuhan untuk spesifikasi keparahan oklusal. Abstrak dari makalah yang tidak menentukan tingkat keparahan oklusal dianalisis dan dipisahkan karena yang diperlukan adalah deskripsi keparahan oklusal berdasarkan

tujuan dari makalah (Tabel 2 dan 3). Dalam makalah-makalah ini terdapat studi perbandingan, efek alat ortodonti, perawatan, protokol atau efek teknis, atau

penilaian karakteristik maloklusi Kelas II, standar tingkat spesifikasi keparahan oklusal. Dalam tinjauan dan penelitian, keparahan dianggap tidak relevan. makalah yang menggunakan sampel berbeda, seperti kelas I, telah dieliminasi. Yang mungkin ditemukan dalam pencarian karena istilah yang digunakan oleh penulis sebagai deskriptor.

Untuk memahami evolusi deskripsi sampel, makalah dibagi menjadi empat interval waktu untuk memudahkan menunjukkan betapa pentingnya keparahan

laporan oklusal yang diperoleh tahun lalu (Tabel 4 dan 5). Hasil Di antara 359 makalah, 72 (20.06%) menyebutkan jumlah perbedaan keparahan oklusal anteroposterior dan digunakan sebagai salah satu parameter untuk memilih sampel (Tabel 1). makalah lainnya 287 (79,94%) tidak menentukan
5

keparahan maloklusi oklusal, jika demikian, makalah tersebut

dimasukkan jika

memenuhi parameter oklusal dan sefalometrik. Dalam artikel yang tidak menentukan keparahan perbedaan anteroposterior, deskripsi yang penting 159 (55,40%) (Tabel 2). Dari jumlah sampel sebanyak 359 makalah, deskripsi keparahan disebutkan 44,29% dari makalah (Tabel 3).

Kepedulian dalam menggambarkan tingkat keparahan perbedaan oklusal anteroposterior meningkat dalam beberapa tahun terakhir (Tabel 4). Antara 2003 dan 2007, spesifikasi keparahan oklusal sebanyak 29,82% dari sampel, sedangkan antara tahun 1986 dan 1992 hanya 10,14% (Tabel 4). Sebaliknya, tingkat kelalaian dalam menggambarkan keparahan dari berbagai makalah yang dianggap penting meningkat akhir-akhir ini (Tabel 5). Antara 1986 dan 1992, kelalaian ini sebesar 38,71%, dan meningkat menjadi 63,75% antara 2003 dan 2007.

Diskusi Hal ini harus diperhatikan untuk komunikasi yang lebih jelas, tepat dan akurat sehingga dapat diekstrapolasi dalam praktek klinis. Untuk menentukan apakah unsurunsur dasar tertentu metode ini turut berperan dalam literatur, pencarian dilakukan untuk menentukan apakah tingkat keparahan maloklusi oklusal Kelas II, yang dijelaskan dalam makalah,benar-benar diperlukan. Kami bekerja sama dengan

penerbit makalah ortodonsi yang berstandar tinggi, yaitu makalah yang diterbitkan oleh AjO-DO karena, seperti yang dilaporkan oleh jurnal referensi ISI tahun 2007, jurnal ini merupakan peringkat tertinggi jumlah referensi dan manfaatnya. Prevalensi Spesifikasi Keparahan Oklusal Angle (1899) dan Andrews (1972) lebih memilih parameter oklusal daripada sefalometrik dalam menggambarkan maloklusi pada gigi. Namun, beberapa makalah baru-baru ini, klasifikasi maloklusi hanya berdasarkan variabel sefalometrik daripada menggunakan parameter oklusi. Di beberapa negara, sampel tersebut ditolak karena hanya menggambarkan "gigi tetapi bukan maloklusi Kelas II skeletal. Di antara 359 makalah yang diambil dalam penelitian ini, hanya 72 (20%) yang menentukan sampel keparahan oklusal, meskipun ada parameter lain berupa oklusal atau parameter sefalometrik (Tabel 1). Hal ini menunjukkan pentingnya relasi gigi, yang merupakan karakteristik yang paling penting dalam mengoreksi sebagian besar kasus ortodonti. Hal ini mungkin terjadi karena setelah perkembangan sefalometrik muncul penekanan maloklusi, pada karakteristik sefalometrik dalam membahas ortodonti dalam hal

mengeyampingkan relasi antar gigi. Seiring dengan karakteristik sefalometrik, penekanan juga terlihat pada komponen-komponen skeletal maloklusi dan cenderung berkembang dari waktu ke waktu . Namun, karakteristik skeletal tidak selalu

menggambarkan maloklusi Kelas II terutama untuk menentukan hasil yang diharapkan, melainkan,lebih diperlukan karakteristik dentoalveolar. Selain itu, juga
7

telah ditunjukkan bahwa variabel sefalometrik akan mempengaruhi prognosis estetika tetapi tidak mempengaruhi tingkat keberhasilan perawatan oklusal. Beberapa makalah dengan subyek maloklusi Kelas II skeletal dipilih hanya berdasarkan parameter sefalometrik. Ada kesenjangan besar dalam prosedur ini, karena pasien mungkin memiliki oklusi normal meskipun terdapat perbedaan tulang basal yang besar pada sefalometrik anteroposterior. Oleh karena itu, semua dampak dari alat yang digunakan di koreksi dengan mengevaluasi maloklusi Kelas II, sangat penting bahwa perbedaan oklusal anteroposterior harus jelas diukur. Prosedur ini tidak hanya menjelaskan karakteristik sampel, tetapi juga memberikan gambaran yang lebih baik dalam mengatasi kesulitan menangani kasus tersebut. Overjet juga sering digunakan untuk menggambarkan perbedaan dalam anteroposterior. Kadang-kadang digunakan sebagai parameter hanya jika terdapat maloklusi Kelas II. Overjet sangat dipengaruhi oleh inklinasi labial gigi anterior. Adanya diastema juga dapat meningkat secara signifikan dan ini sangat memungkinkan untuk memiliki maloklusi Kelas I dengan overjet yang meningkat. Pada kasus ini, insisivus rahang atas mungkin sangat tipping ke arah labial dan berhubungan atau tidak dengan adanya diastema dan kemungkinan crowded gigi anterior rahang bawah. Hal ini tidak memerlukan upaya mekanis besar untuk memperbaiki perbedaan anteroposterior karena gigi posterior berada pada hubungan kelas I. Oleh karena itu, parameter ini tidak berarti cukup untuk menggambarkan keparahan maloklusi Kelas II. Kekurangan dalam menggambarkan keparahan terlihat dalam beberapa makalah tentang maloklusi yang digambarkan sebagai " borderline subjects " atau "hubungan insisal kelas II " atau " subjek kelas II " atau " dominan maloklusi Kelas II" atau "Semua pasien kelas II" atau "profil pada kelas II" atau "studi ini bukan untuk merawat setiap maloklusi Kelas II, tetapi studi tentang perawatan ortodonsi maloklusi Kelas II yang sulit" (penekanan tambahan). Deskriptor ini sangat tidak jelas dan tidak

memberikan suatu perkiraan yang tepat dari kuantitas perbedaan Kelas II anteroposterior.

Pada umumnya kami mengamati bahwa kelompok eksperimen mengikuti kriteria perbedaan oklusal anteroposterior yang kaku, sedangkan kelompok kontrol tidak. Oleh karena itu, hasil perbandingan ini dapat dikompromikan. Kelalaian dalam deskripsi keparahan maloklusi Kelas II mungkin menjelaskan mengapa kadangkadang terdapat hasil yang berbeda. Sementara beberapa penulis melaporkan efek yang signifikan, sementara yang lain gagal untuk menunjukkan. Oleh karena itu, pertanyaan dasar masih belum terjawab. Studi yang Mendukung Spesifikasi Keparahan Oklusal Analisis makalah tidak menentukan tingkat keparahan tetapi mengarah pada spesifikasi keparahan oklusal yang dibutuhkan berdasarkan tujuan penelitian. Di antara makalah yang diklasifikasikan sebagai "Tanpa Spesifikasi keparahan oklusal", sebanyak 159 makalah (55,40%) spesifikasi keparahan dianggap penting. Ini berarti bahwa hasil dan kesimpulan penelitian ini dapat dikompromikan oleh gambaran keparahan anteroposterior spesifik. Seperti diketahui, studi perbandingan dan survei sampel kelas II diperlukan untuk menghindari bias. Selain itu, jika alat atau teknik diuji dalam sampel dengan keparahan ringan, hasilnya cenderung lebih baik dalam memperbaiki maloklusi Kelas II (Tabel 2 dan 3) Spesifikasi Keparahan Oklusal Selama Bertahun-Tahun Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran dari keparahan oklusal telah mendapat perhatian selama bertahun-tahun. Spesifikasi meningkat dalam tiga kurun waktu dari 1986 ke 2007. Tampaknya kekhawatiran dalam menentukan keparahan maloklusi Kelas II tercermin dalam klasifikasi maloklusi yang dikembangkan oleh Andrews, dengan makalahnya "enam kategori untuk oklusi normal", pada tahun 1972. Bukunya juga menjelaskan bagaimana kasus yang dilaporkan di American

Board semakin membaik pada akhir perawatan di tahun 1960-an, 1970-an dan 1980an. Peningkatan ini tentu karena pertimbangan dan perhatian pada aspek oklusal kasus yang akan dirawat, karena misi dari American Board of Orthodontics adalah untuk menetapkan dan mempertahankan standar tertinggi keunggulan klinis dengan mengevaluasi kompetensi klinis Seperti kekhawatiran dengan hasil akhir, peneliti dan dokter menyadari bahwa spesifikasi keparahan maloklusi yang lebih besar, khususnya perbedaan maloklusi anteroposterior Kelas II, perlu untuk memberikan penjelasan yang mudah dalam mengatasi kesulitan perawatan. Namun, meskipun ada peningkatan jumlah makalah yang menggambarkan keparahan maloklusi oklusal Kelas II (Tabel 4), persentase makalah tanpa spesifikasi juga meningkatkan (Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya keparahan maloklusi oklusal untuk diperhitungkan. Perlu dipahami bahwa spesifikasi keparahan maloklusi oklusal Kelas II berkorelasi dengan rencana perawatan dan waktu, dan kesulitan mekaniknya dalam hal mengatasi maloklusi, dan karena itu harus dijelaskan dengan tepat. Gambaran Keparahan maloklusi oklusal Kelas II harus lebih teliti dijelaskan dalam makalah ilmiah untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kesulitan perawatan maloklusi. Kesimpulan Deskripsi keparahan maloklusi oklusal Kelas II merupakan karakteristik yang sangat penting dan harus dispesifikkan dalam sebagian besar makalah orthodonsi. Parameter ini mudah dilakukan dan sangat sederhana untuk memahami dan digunakan sebagai sebuah klasifikasi. Meskipun penting dan sederhana, tetapi spesifikasi keparahan oklusal, belum digunakan secara sistematis. Oleh karena itu, hasil dari makalah-makalah tertentu harus diinterpretasikan dengan hati-hati.

10

BAGIAN ORTHODONSI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN jurnal reading

Gambaran Keparahan Maloklusi Oklusal Klas ll


(Class II malocclusion occlusal severity description)

Guilherme Janson, Renata Sathler, Thais Maria Freire Fernandes, Marcelo Zanda, Arnaldo Pinzan

Nama Stambuk

: Muh. Ramli wardana : J11106116

Sumber

: J. Appl. Oral Sci. vol.18 no.4 July/Aug. 2010

Pembimbing : drg.Hendrik L.Rasubala

DIBACAKAN SEBAGAI SALAH SATU TUGAS KEPANITERAAN BAGIAN ORTHODONSI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

11

12