Anda di halaman 1dari 6

Management Stokpile Batubara Kamis, 2009 April 30 di Kamis, April 30, 2009 | Diposkan oleh 5TH GENERATION

Stockpile Management berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses. sebagai sediaan strategis terhadap gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Stockpile juga berfungsi sebagai proses homogenisasi dan atau pencampuran batubara untuk menyiapkan kualitas yang dipersyaratkan.

Disamping tujuan di atas di stockpile juga digunakan untuk mencampur batubara supaya homogenisasi bertujuan untuk menyiapkan produk dari satu tipe material dimana fluktuasi di dalam kualitas batubara dan distribusi ukuran disamakan . Dalam proses homogenisasi ada dua tipe yaitu bleding dan mixing.

Bleding bertujuan untuk memperoleh produk akhir dari dua atau lebih tipe batubara yang lebih dikenal dengan komposisi kimia dimana batubara akan terdistribusi secara merata dan tanpa ada lagi jumlah yang cukup besar untuk mengenali salah satu dari tipe batu bara tersebut ketika proses pengambilan contoh dilakukan. Dalam proses blending batubara harus tercampur secara merata. Sedangkan mixing merupakan salah satu tipe batubara yang tercampur masih dapat dilokasikan dalam kuantitas kecil dari hasil campuran material dari dua atau lebih tipe batubara.

Proses penyimpanan, bisa dilakukan: * Dekat tambang, biasanya masih berupa lumpy coal * Dekat Pelabuhan * Ditempat Pengguna batubara

untuk proses penyiapan diharapkan jangka waktunya tidak lama, karena akan berakibat pada penurunan kualitas batubara. Proses penurunan kualitas biasanya lebih dipengaruhi oleh proses oksidasi dan alam.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Management stockpile adalah sebagai berikut:

1. Monitoring quantity (Inventory) dan movement batubara di stockpile, meliputi recording batubara yang masuk (coal in) dan recording batubara yang keluar (coal out) di stockpile, termasuk recording batubara yang tersisa (coal balance) 2. Menghindari batubara yang terlalu lama di stockpile, dapat dilakukan dengan penerapan aturan FIFO dimana batubara yang terdahulu masuk harus dikeluarkan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko degradation dan pemanasan batubara. 3. Mengusahakan pergerakan batubara sekecil mungkin di stockpile, termasuk di antaranya mengatur posisi stock dekat dengan reklame, Monitoring efektivitas dozin di stock pile dengan maksud mengurangi degradasi batubara. 4. Monitoring quality batubara yang masuk dan keluar dari stockpile termasuk diantara control temperatur untuk mengantipasi self heating dan spocom. 5. Pengawasan yang ketat terhadap kontaminasi, meliputi pelaksanaan housekeeping dan Inspeksi langsung adanya pengotor yang terdapat di stockpile. 6. Perhatian terhadap faktor lingkungan yang bisa ditimbulkan, dalam hal ini mencakup usaha : * Contral dus dan penerapan dan pengawasan penggunaan spraying dan dust supressant * Adanya tempat penampungan khusus (fine coal trap) untuk buangan /limbah air dari drainage stockpile *

Penanganan limbah batubara (remnant & spilage coal) 7. Tidak dianjurkan menggunakan area stockpile untuk parkir dozer, baik untuk keperluan Maintenance dozer atau over shift operator. Kecuali dalam keadaan emergency dan setelah itu harus diadakan house keeping secara teliti. 8. Menanggulangi batubara yang terbakar di stockpile. Dalam hal ini penanganan yang dianjurkan sebagai berikut: * Melakukan speading atau penyebaran untuk mendinginkan suhu batubara * Bila kondisi cukup parah, maka bagian batubara yang terbakar dapat dibuang * Memadatkan batubara yang mengalami self heating atau sponcom. * Batubara yang mengalami sponcom tidak diperbolehkan langsung diloading ke tongkang sebelum didinginkan terlebih dahulu. * Untuk penyimpanan yang lebih lama bagian atas stockpile harus dipadatkan guna mengurangi resapan udara dan air ke dalam stokpile. 9. Sebaiknya tidak membentu stockpile dengan bagian tas yang cekung, hai ini dimaksudkan untuk menghindari swamp di atas stokpile 10. Mengusahakan bentuk permukaan basement berbentuk cembung atau minimal datar, hal ini berkaitan dengan kelancaran sistem drainage.

Spontanous Combustion

Pembakaran secara spontan adalah merupakan fenomena alami dan juga disebut pembakaran sendiri. Hal ini disebabkan terjadinya reaksi zat organic dengan oxygen dari udara. kecepatan reaksi oksidasi sangat bervariasi antara suatu zat dengan yang lainnya.

Pembakaran akan terjadi apabila terdapat segi tiga api atau dikenal sebagai fire triangle yakni terdapat bahan bakar,oksidan (udara/oxygen) dan panas (heat). untuk meniadakan kebakaran sedikitnya kita harus meniadakan salah satu komponen dari fire triangle tersebut.

Batubara sebagai zat organik yang mengandung gas methan, mudah terbakar karena beroksidasi dengan oxygen dari udara. Spontanous kebakaran ini dapat dikontrol dan ditangani secara benar dengan mengetahui faktor faktor dibawah ini:

1. Kondisi batubara antara lain: * Rank batubara dan typenya * Kadar air (moisture) * Penyebaran ukuran (zise distribution) * Kadar pyretic sulphur * Komponen maceral 2. Rank batubara

Rank batubara sangat ditentukan oleh perubahan yang terjadi ditanaman asalnya makin tinggi perubahannya makin tinggi mutu / rank batubara tersebut hal ini tidak dapat diubah karenan dari alam yang dapat dilakukan adalah memilih batubara dari lokasi tambang yang cocok untuk keperluan, rank batubara dibagi dalam dalam dua ranking:

* Batubara rangking rendah (brow coal, lignit, sub-bituminus coal) * Batubara rangking tinggi (bituminus coal dan anthrace) *

Semakin rendah rank batubara semakin tinggi resiko spontaneous kebakaran, hal ini disebabkan :

* Kadar air, air bertindak sebagai katalis dalam proses oksidasi, semakin tinggi kadar air semakin besar resiko terjadinya spontaneous kebakaran * Penyebaran ukuran batubara, semakin besar perbedaan ukuran butiran batubara semakin mudah terjadi self combustion dan begitu juga semakin banyak jumlah batubara halus (fines) semakin tinggi resiko pembakaran batubara. * Pyritic sulpur, senyawa ini mudah teroksidasi apabila panas dan ahirnya kan terjadi pembakaran spontan. * Komponen marecal (vitrinite, exinite dan inertinite) batubara dengan kadar exinite dan virtinite yang tinggi akan mudah terbakar.

Salah satu usaha mencegah terjadinya batubara terbakar adalah dengan menghindari masuknya oksigen ke dalam batubara dengan cara:

* Kompasi pile * Mengusahakan bentuk landai dari stock batubara di stockpile dan menghindari bentuk vertikal * Menghindari penggunaan air pada batubara yang memanas karena hal ini akan menambah masuknya Oksigen.