Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Istilah dermatofitosis harus dibedakan dengan dermatomikosis. Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk atau stratum korneum pada lapisan epidermis di kulit, rambut dan kuku yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Dermatomikosis merupakan arti umum, yaitu semua penyakit jamur yang menyerang kulit.1 Tinea pedis ialah dermatofitosis pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Dematofitosis sendiri adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan golongan jamur dermatofita. Dermatofita dibagi menjadi genera Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton. Golongan jamur ini mempunyai sifat mencerna keratin. Hingga kini dikenal sekitar 40 spesies dermatofita, masing-masing dua spesies Epidermophyton, 17 spesies Microsporum dan 21 spesies Trichophyton.1

1.2.

Tujuan penulisan

Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mengetahui definisi, insidensi,etiologi, epidemiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan, dan prognosis dari penyakit tinea pedis.

BAB II DEFINISI

Tinea pedis ialah dermatofitosis pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tinea pedis yang tersering dilihat adalah bentuk interdigitalis. 1

BAB III EPIDEMIOLOGI Tinea pedis terdapat di seluruh dunia sebagai dermatofitosis yang paling sering terjadi. Meningkatnya insidensi tinea pedis mulai pada akhir abad ke-19 sehubungan dengan penyebaran Trichophytonrubrum ke Eropa dan Amerika. Hal ini dipengaruhi oleh perjalanan orang keliling dunia, pendudukan koloni oleh Inggris dan Perancis pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 dan migrasi penduduk selama perang dunia kedua. Beberapa penulis berspekulasi bahwa area endemik spesies ini bermula di Asia Tenggara. (2) Tingkat prevalensi tinea pedis secara nyata diketahui karena pasien tidak mencari nasihat medis kecuali kualitas hidup mereka dipengaruhi, karena ini bukan penyakit yang mengancam jiwa. Diperkirakan 10% dari jumlah penduduk di banyak negara menderita penyakit ini. Frekuensi tinea pedis di Eropa dan Amerika Utara berkisar 15-30% dan pada beberapa masyarakat tertentu lebih tinggi, misalnya buruh tambang (sampai 70%) dan atlit. Tinea pedis lazim ditemukan pada daerah beriklim tropis dan sedang. Tinea pedis lebih sering terjadi pada usia dewasa daripada anak remaja terutama pada laki-laki dan jarang pada perempuan dan anak-anak. Kemungkinan infeksi berkaitan dengan paparan ulangan dermatofita sehingga orang yang menggunakan fasilitas mandi umum seperti pancuran, kolam renang, kamar mandi lebih cenderung terinfeksi.

BAB IV ETIOLOGI

Tinea pedis disebabkan oleh Epidermophyton, Microsporum,Trichophyton dan Candida Albicans yang ditularkan secara langsung maupun tidak langsung. Namun penyebab terseringnya adalah Trichopyton.3 Pada Trichophyton secara mikroskopik ditemukan hifa bersepta / bersekat,hifa spiral, ditemukan makrokonidia berbentuk gada berdinding tipis terdiri dari 6 12 sel juga ditemukan mikrokonidia yang bentuknya seperti tetes air. Secara makroskopik ditemukan koloni yang kasar berserbuk / radier pada bagian tengah menonjol. Contoh: Trichophyton mentagropytes,Trichophyton rubrum, Trichophyton concentricum adalah jamur antropofilik yang pertumbuhannya lambat dan menyebabkan penyakit kulit kronis, luas, non-inflamasi. Tinea corporis dikenal sebagai tinea imbrikata karena cincin konsentris dari skuama yang dihasilkannya.4

BAB V PATOFISIOLOGI

Trichophyton rubrum yang umumnya menyebabkan tinea pedis menggunakan enzim yang disebut keratinase, jamur dermatofit menyerang keratin superfisial kulit, dan infeksi hanya terbatas pada lapisan ini. Dinding sel dermatofit juga mengandung mannans (sejenis polisakarida), yang dapat menghambat respon kekebalan tubuh. Trichophyton rubrum khususnya mengandung mannans yang dapat mengurangi proliferasi keratinosit, sehingga tingkat penurunan pengelupasan dan keadaan infeksi kronis.5

Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dimulai dari terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam jaringan epidermis dan merusak keratinosit.5 Suhu dan faktor serum, seperti globulin beta dan feritin, tampaknya memiliki efek penghambatan pada pertumbuhan dermatofit, namun, patofisiologi ini tidak sepenuhnya dipahami. Sebum juga menghambat pertumbuhannya, sehingga infeksi dermatofit memiliki kecenderungan menginfeksi kaki, yang tidak memiliki kelenjar sebaceous. Faktor-faktor host seperti pecah di kulit dan maserasi kulit dapat menunjang invasi dermatofit. Presentasi dari kulit tinea pedis juga tergantung pada sistem kekebalan host dan infeksi dermatofit.5

BAB VI GEJALA KLINIS

Umumnya, pasien tinea pedis menggambarkan pruritus, lingkaran bersisik dan fisura pada celah antara jari kaki yang menyakitkan. Pasien juga menggambarkan lesi vesikular atau ulseratif. Pada umumnya pasien dengan tinea pedis memiliki kemungkinan 4 gambaran klinis ini:5 Tinea pedis Interdigitalis, yang merupakan tinea pedis tersering. Bentuk ini adalah yang tersering terjadi pada pasien tinea pedis. Di antara jari IV dan V terlihat fisura yang dilingkari sisik halus dan tipis. Kelainan ini dapat meluas ke bawah jari (subdigital) dan juga ke sela jari yang lain. Oleh karena daerah ini lembab, maka sering terdapat maserasi. Aspek klinis maserasi berupa kulit putih dan rapuh. Bila bagian kulit yang mati ini dibersihkan, maka akan terlihat kulit baru, yang pada umumnya juga telah diserang oleh jamur. 1 Jika perspirasi berlebihan (memakai sepatu karet/boot, mobil yang terlalu panas) maka inflamasi akut akan terjadi sehingga pasien terasa sangat gatal. Bentuk
4

klinis ini dapat berlangsung bertahun-tahun dengan menimbulkan sedikit keluhan sama sekali. Kelainan ini dapat disertai infeksi sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis dan limfadenitis.1 Tinea pedis tipe moccasin atau Squamous-Hyperkeratotic Type umumnya bersifat hiperkeratosis yang bersisik dan menahun (kronis).(6) Seluruh kaki, dari telapak, tepi sampai punggung kaki terlihat kulit menebal dan bersisik; eritema biasanya ringan dan terutama terlihat pada bagian tepi lesi. Di bagian tepi lesi dapat pula dilihat papul dan kadang-kadang vesikel.1 Sumber lain mengatakan eritema dan plak keratolitik ditemukan diatas daerah lesi yang mengalami likenifikasi. Biasanya kronis, jarang dikeluhkan dan kadang tidak begitu dihiraukan oleh penderita.2 Tinea Pedis Subakut atau Vesikobulosa. Bentuk ini adalah subakut yang terlihat vesikel, vesiko-pustul dan kadang-kadang bula yang terisi cairan jernih. Kelainan ini dapat mulai pada daerah sela jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Setelah pecah, vesikel tersebut meninggalkan sisik yang berbentuk lingkaran yang disebut koleret. Keadaan tersebut menimbulkan gatal yang sangat hebat. Infeksi sekunder dapat terjadi juga pada bentuk selulitis, limfangitis dan kadang-kadang menyerupai erisipelas. Jamur juga didapati pada atap vesikel.1,6 Tinea pedis Ulseratif. Bentuk ini merupakan penyebaran dari tipe interdigiti yang meluas ke dermis akibat maserasi dan infeksi sekunder (bakteri); ulkus dan erosi pada sela-sela jari mengeluarkan bau. Diagnosis tipe ini lebih sulit, karena biasanya pada pemeriksaan kerokan dan kultur sudah tidah ditemukan jamur.6 Efloresensi pada tinea pedis2 Fissura pada sisi kaki, beberapa millimeter sampai 0,5 cm Sisik halus putih kecokelatan Vesikula miliar dan dalam Vesikopustula miliar sampai lentikular pada telapak kaki dan sela jari Hiperkeratotik biasanya pada telapak kaki Macula hipopigmentasi polisiklis dengan papula/ vesikel di tepi lesi

BAB VI

PEMERIKSAAN

Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan pada kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun diagnosis. Akan tetapi kadang temuan efloresensinya tidak khas atau tidak jelas, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang dan diagnosis menjadi lebih tepat. Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan merupakan pemeriksaan yang cukup tepat,berguna dan efektif untuk mendiagnosis infeksi jamur. Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop dimana terlihat hifa diantara material keratin. Pemeriksaan Kalium Hidroksida (KOH) pada kerokan sisik kulit akan terlihat hifa bersepta. Pemeriksaan ini sangat menunjang diagnosis dermatofitosis. KOH digunakan untuk mengencerkan jaringan epitel sehingga hifa akan jelas kelihatan di bawah mikroskop. Kulit dari bagian tepi kelainan sampai dengan bagian sedikit di luar kelainan sisik kulit dikerok dengan pisau tumpul steril dan diletakkan di atas gelas kaca, kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH dan ditunggu selama 15-20 menit untuk melarutkan jaringan, setelah itu dilakukan pemanasan. Tinea pedis tipe vesikobulosa, kerokan diambil pada atap bula untuk mendeteksi hifa.1 Dapat ditemukan hifa yaitu double counture (dua garis lurus sejajar dan transparan), dikotomi (bercabang dua) dan bersepta. Antrokonidia yaitu deretan spora di ujung hifa. KOH (-) tidak menyingkirkan diagnosis bila klinis menyokong.6 Yang dianggap paling baik adalah medium agar dekstrosa Sabouraud. Media agar ini ditambahkan dengan antibiotik (kloramfenikol atau sikloheksimid).1,6

BAB VII DIAGNOSIS BANDING

Dermatitis atopic Pada dermatitis kontak tidak ada batas yang jelas, bagian tepi tidak lebih aktif dari bagian tengah. Adanya vesikel-vesikel steril pada jari jari kaki (polimorfiks).1 Kandidiasis Biasanya terdapat skuama yang berwarna putih pada sela jari 4-5 dan ada lesi-lesi satelit.2 Akrodermatitis perstans Terlihat radang, vesikel-vesikel yang dalam, steril dan dapat dibedakan dengan pemeriksaan histopatologi2 Pustular bactericid Secara klinis sulit debedakan, tapi dengan biakan dapat ditemukan agen penyebab.2

BAB VIII PENATALAKSANAAN

Topical2,7 o Mikonazol Mikonazol menghambat aktivitas jamur Trichopyton, Epidermophyton, microsporum, candida dan Malassezia fulfur. Mikonazole masuk kedalam sel jamur dan menyebabkan kerusakan dinding sel sehingga permeabilitas intrasel terhadap berbagai zat ekstasel meningkat. Obat yang sudah menembus lapisan tanduk kulit bertahan disana 4 hari. o Terbafirin
7

Terbafirin topical digunakan untuk pengobatan tinea kruris dan korporis dengan pemberian 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu o Salep whitfield I atau II, tonaflat dan toksilat

Sistemik 2,6 o Griseofulvin Dosis 500 mg/harii selama 4-8minggu . o Ketokonazol Dosis 200 mg/hari selama 3 - 4 minggu pada pagi hari setelah makan. Kontraindikasi: anak berusia dibawah 12 tahun dan orang tua diatas 50 tahun karena bersifat hepatotoksik. o Itrakonazole Dosis 100 mg/hari selama 2 minggu atau 200 mg/hari selama 1 minggu. Hepatotoksisitas lebih jarang terjadi disbanding ketokonazole.

Pencegahan 1. Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika faktorfaktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan lambat. 2. Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai kaos dari bahan katunyang menyerap keringat, jangan memakai bahan yang terbuat dari wool ataubahan sintetis. 3. Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan airpanas

BAB IX KOMPLIKASI

1.

Selulitis. Infeksi tinea pedis, terutama tipe interdigital dapat mengakibatkan selulitis. Selulitis dapat terjadi pada daerah ektermitas bawah. Selulitis merupakan infeksi bakteri pada daerah subkutaneus pada kulit sebagai akibat dari infeksi sekunder pada luka. Faktor predisposisi selulitis adalah trauma, ulserasi dan penyakit pembuluh darah perifer. Dalam keadaan lembab, kulit akan mudah terjadi maserasi dan fissura, akibatnya pertahanan kulit menjadi menurun dan menjadi tempat masuknya bakteri pathogen seperti -hemolytic streptococci (group A, B C, F, and G), Staphylcoccus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan basil gram negatif. Apabila telah terjadi selulitis maka diindikasikan pemberian antibiotik. Jika terjadi gejala yang sifatnya sistemik seperti demam dan menggigil, maka digunakan antibiotik secara intravena. Antibiotik yang dapat digunakan berupa ampisillin, golongan beta laktam ataupun golongan kuinolon. 2. Tinea Ungium. Tinea ungium merupakan infeksi jamur yang menyerang kuku dan biasanya dihubungkan dengan tinea pedis. Seperti infeksi pada tinea pedis, T. rubrum merupakan jamur penyebab tinea ungium. Kuku biasanya tampak menebal, pecah-pecah, dan tidak berwarna yang merupakan dampak dari infeksi jamur tersebut. 3. Dermatofid. Dermatofid juga dikenal sebagai reaksi id, merupakan suatu penyakit imunologik sekunder tinea pedis dan juga penyakit tinea lainnya. Hal ini dapat menyebabkan vesikel atau erupsi pustular di daerah infeksi sekitar palmaris dan jari-jari tangan. Reaksi dermatofid bisa saja timbul asimptomatis dari infeksi tinea pedis. Reaksi ini akan berkurang setelah penggunaan terapi antifungal. Komplikasi ini biasanya terkena pada pasien dengan edema kronik, imunosupresi, hemiplegia dan paraplegia, dan juga diabetes. Tanpa perawatan profilaksis penyakit ini dapat kambuh kembali.

BAB X PROGNOSIS Tinea pedis pada umumnya memiliki prognosis yang baik. Beberapa minggu setelah pengobatan dapat menyembuhkan tinea pedis, baik akut maupun kronik. Kasus yang lebih berat dapat diobati dengan pengobatan oral. Walaupun dengan pengobatan yang baik, tetapi bila tidak dilakukan pencegahan maka pasien dapat terkena reinfeksi. BAB XI
KESIMPULAN

Tinea pedis merupakan infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari dan telapak kaki. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada laki-laki usia dewasa dan jarang pada perempuan dan anak-anak. Keadaan lembab dan hangat pada sela jari kaki karena bersepatu dan berkaos kaki disertai berada di daerah tropis yang lembab mengakibatkan pertumbuhan jamur makin subur. Jamur penyebab tinea pedis yang paling umum ialah Trichophyton rubrum (paling sering), T. interdigitale, T. tonsurans (sering pada anak) dan Epidermophyton floccosum. Gambaran klinis dapat dibedakan berdasarkan tipe interdigitalis, moccasion foot, lesi vesikobulosa, dan tipe ulseratif. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan KOH dan pemeriksaan lampu Wood dan ditemukan adanya hifa double counture, dikotomi dan bersepta. Diagnosis banding dapat berupa dermatitis kontak, pemfolix, psoriasis, dan hiperhidrosis pada kaki. Penatalaksanaan disesuaikan berdasarkan tipe tinea pedis. Pengobatan dapat berupa antifungal topikal maupun oral dan apabila ditemukan infeksi sekunder maka indikasi penggunaan antibiotik. Salah satu pencegahan terhadap reinfeksi tinea pedis yaitu menjaga agar kaki tetap dalam keadaan kering dan bersih, hindari lingkungan yang lembab dan pemakaian sepatu yang terlalu lama

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Budimulja, U., 2005, Mikosis, Djuanda, A., Hamzah, M. dan Aisah, S. (eds),Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 4thed, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta : 89 105. 2. Siregar, R.S. 2005. Tinea Pedis. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit . Edisi kedua. EGC.Jakarta: 23 25 3. Gandahusada, Sriasih, 1998, Tinea Pedis. Parasitologi Kedokteran, Edisi ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta : 294-295 4. Dismukes, William E., 2003, Clinical Mycologi, Published by Oxford UniversityPress, Inc.198 Madison Avenue, New York, New York 10016 http://www.oup-usa.org : 371 5. Robbins, courtney M, dkk,2012, Tinea Pedis, Online artikel. Diunduh pada 10 september 2012; dari http://emedicine.medscape.com/article/1091684-overview. 6. Mansjoer, arif. et al.2007, Dermatofitosis, Kapita Selekta jilid 2, edisi ketiga .Media Aesculapius Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta: 93 -101 7. Departemen Farmakologi FKUI, 2007, Obat Jamur, Farmakologi dan Terapi, edisi kelima. Departemen Fakultas Farmakologi dan Terapeutik FKUI, Jakarta: 571- 584

11