Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM ISOLASI DAN PEMURNIAN MIKROBA, TEHNIK PEMELIHARAAN KULTUR MURNI DAN PENGHITUNGAN ANGKA

LEMPENG TOTAL (Total Plate Count = TPC)

Oleh : Dinia Rizqi D. 105090100111005

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI UMUM JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Prescott (2003), mikroba yang diisolasi dari lingkungan jarang ditemukan sebagai koloni tunggal biasanya berupa koloni campuran. Penelitian pada berbagai bidang mikroorganisme biasanya menggunakan tehnik untuk memisahkan koloni campuran menjadi koloni tunggal yang berbeda-beda sebagai biakan murni. Biakan murni terdiri dari suatu populasi sel yang berasal dari satu sel induk. Disamping memisahkan koloni campuran menjadi koloni, pemeliharaan kemurnian isolat selama penyimpanan juga perlu diperhatikan. Perlakuan pemisahan koloni campuran menjadi koloni tunggal penting dilakukan karena suatu jenis koloni mikroba yang terpisah dari koloni campurannya akan lebih mudah untuk diamati. Disamping itu, mikroba yang berbeda akan memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan tumbuhnya sehingga dengan memisahkan koloni campuran menjadi koloni tunggal akan membantu di dalam mengkultivasi, mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba. Tehnik-tehnik untuk mendaptkan koloni tunggal memiliki kelebihan dan kelemahan. Menurut Burrows (2004), beberapa cara dapat dilakukan untuk menentukan jumlah bakteri yang terdapat pada bahan pemeriksaan. Cara yang paling sering digunakan adalah cara penghitungan koloni pada lempeng pembiakan (plate count) atau juga dapat dilakukan penghitungan langsung secara mikroskopis . Tehnik isolasi dan analisa sampel merupakan hal yang penting bagi seseorang yang ingin menjadi ahli di bidang mikrobiologi. Oleh karena itu, praktikum topik ini penting untuk dilakukan untuk memberikan pelatihan awal bagi praktikan mikrobiologi. 1.2 Permasalahan Permasalahan yang ingin diselesaikan melalui praktikum yang berjudul Isolasi dan Pemurnian Mikroba, Tehnik Pemeliharaan Kultur Murni dan Penghitungan Angka Lempeng Total (TPC) adalah : a. Bagaimana tehnik isolasi dan pemurnian mikroba serta penyimpanan kultur murni?

b. Bagaimana mengkarakterisasi pertumbuhan koloni murni hasil isolasi? 1.3 Tujuan Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah : a. Mempelajari tehnik isolasi dan pemurnian mikroba serta penyimpanan kultur murni b. Mengkarakterisasi pertumbuhan koloni murni hasil isolasi 1.4 Manfaat Manfaat yang didapatkan setelah melaksanakan praktikum ini adalah praktikan memiliki dan menguasai suatu tehnik baru yaitu tehnik isolasi dan pemurnian mikroba. Tehnik tersebut dapat dijadikan sebagai bekal apabila mahasiswa melakukan penelitian di bidang mikrobiologi. Manfaat lain adalah dapat melakukan analisa sampel dalam bidang mikrobiologi yang diterapkan dalam dunia pekerjaan seperti quality control suatu produk makanan atau bidang farmasi dalam hal pembuatan obat dengan menggunakan mikroba.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Isolasi adalah cara untuk memisahkan mikroba tertentu dari lingkungannya atau mikrobia lain untuk memperoleh kultur murni. Kultur murni adalah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Biakan murni diperlukan karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroba, termasuk penelaahan ciri-ciri kultur, morfologis, fisiologis, maupun serologis memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroba saja (Waluyo, 2005). Melakukan isolasi mikroba biasanya melakukan langkah-langkah yang runtut, yaitu (Lindquist, 2001): 1. Pengambilan sampel yang akan diisolasi mikrobanya 2. Broth enrichment 3. Isolasi 4. Melakukan penyimpanan kultur 5. Analisa sampel Kelima langkah tersebut merupakan langkah-langkah dasar yang sering dilakukan mikrobiologis untuk mengisolasi mikroba pada suatu sampel (Lindquist, 2001). Menurut Linquisdt (2001), dalam pengaplikasiannya dikenal banyak teknik dalam pengambilan sampel. Sebelum melakukan isolasi terlebih dahulu dilakukan pengambilan sampel. 1. Sampel tanah Jika mikroorganisme yang diinginkan kemungkinan berada di dalam tanah, maka cara pengambilannya disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan. Misal jika yang diinginkan mikroorganisma rhizosfer maka sampel diambil dari sekitar perakaran dekat permukaan hingga ujung perakaran. 2. Sampel udara Jika mikroba yang diinginkan adalah berada di udara sekitar, misalnya di kamar mandi, ruangan dan lain-lain, maka caranya hanya dengan membuka tutup cawan petri yang berisi media steril selama 5 menit. 3. Sampel air Pengambilan sampel air bergantung kepada keadaan air itu sendiri. Jika beerasal dari air sungai yang mengalir maka botol dicelupkan miring dengan bibir botol melawan arus air. Bila pengambilan sampel dilakukan pada air yang tenang, botol dapat

dicelupkan dengan tali, jika ingin mengambil sampel dari air keran maka sebelumya keran dialirkan dulu beberapa saat dan mulut kran dibakar. Menurut Prescott (2003), isolasi mikroba dari sampel yang telah didapatkan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: 1. Pengenceran (dilusi) 2. Pour plate 3. Streak plate 4. Single cell isolation Dilusi merupakan tehnik yang sering digunakan dalam metode mikrobiologi kuantitatif. Perhitungan sel dan pemurnian mikroba dapat lebih meudah bila sebelumnya dilakukan tehnik ini. Tehnik ini dilakukan dengan mengambil beberapa mililiter sampel dan dimasukkan dalam tabung reaksi atau cawan petri yang berisi larutan pelarut fisiologis atau media langsung. Angka yang biasanya digunakan adalah 1ml sampel dimasukkan ke dalam 9ml larutan fisiologis sehingga mendapatkan faktor dilusi 1/10. Hal ini dilakukan secara bertingkat, yaitu dari sampel yang sebelumnya terdilusi, diambil sebagian untuk didilusi kembali sehingga faktor dilusinya semakin kecil bahkan dapat mencapai 10-8 atau seterusnya. Beberapa kelemahan dari tehnik ini adalah keakuratannya sangat diperhitungkan karena salah mengukut bisa mempengaruhi mikroba yang tumbuh dan semakin sedikit sampel yang digunakan, semakin sedikit perwakilan yang didapatkan (Lindquist, 2001). Hasil dari dilusi dapat dibiakkan dalam cawan petri berisi media. Bila sudah tumbuh maka dapat dilakukan perhitungan koloni pada cawan tersebut. Metode standar yang sederhana adalah menggunakan counting plate atau yang disebut dengan Total Plate Count (TPC). Metode ini mudah dilakukan dan tidak membutuhkan biaya banyak (Lindquist, 2001). Teknik pour plate memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen Waluyo (2005). Metode gores atau streak plate menggunakan loop ose dan menggoreskannya ke permukaan medium agar dengan pola tertentu

dengan harapan pada ujung goresan, hanya sel-sel bakteri tunggal yang terlepas dari ose dan menempel ke medium. Sel-sel bakteri tunggal ini akan membentuk koloni tunggal yang kemudian dapat dipindahkan ke medium selanjutnya agar didapatkan biakan murni (Burrows, 2004). Metode isolasi sel tunggal dilakukan untuk mengisolasi sel mikroorganisme berukuran besar yang tidak dapat diisolasi dengan metode agar cawan/medium cair. Sel mikroorganisme dilihat dengan menggunakan perbesaran sekitar 100 kali. Kemudian sel tersebut dipisahkan dengan menggunakan pipet kapiler yang sangat halus ataupun micromanipulator, yang dilakukan secara aseptis (Burrows, 2004).

BAB III METODE 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Mikrobiologi Umum yang berjudul Isolasi dan Pemurnian Mikroba, Tahnik Pemeliharaan Kultur Murni dan Penghitungan Angka Lempeng Total (TPC) dilaksanakan pada hari Selasa, 13 Maret 2012 pada pukul 10.00-12.55 WIB dan bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Umum, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang. 3.2 Cara Kerja a. Tehnik Dilusi Perlakuan pertama yang dilakukan pada tehnik dilusi adalah kultur murni Bacillus sp. diambil 1ml dan dimasukkan ke dalam 9ml garfis atau larutan buffer pepton sehingga diperoleh dilusi 1/10. Larutan dilusi 1/10 tersebut diambil 1 ml dan dimasukkan ke garfis 9 ml sehingga diperoleh dilusi 1/100 dan begitu seterusnya hingga didapatkan dilusi yang diinginkan. b. Tehnik Pour Plate Media tumbuh dipanaskan terlebih dahulu hingga mendidih kemudian ditunggu hingga dingin. Sampel dari tehnik dilusi yang telah dilakukan masing-masing diambil 0,1 ml dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Cawan ditambahkan agar NA untuk isolasi bakteri atau PDA untuk isolasi jamur. Cawan petri diputar secara perlahan untuk mengaduk campuran media agar dengan dilusi kultur mikroba. Apabila agar telah padat, cawan petri dietakkan dalam posisi terbalik. Inkubasi dilakukan pada suhu kamar selama 24 jam untuk bakteri dan 3x24 jam untuk jamur. c. Tehnik Streak Plate Media agar cair NA atau Pda dituang ke dalam cawan peetri steril dan dibiarkan hingga mengeras. Jarum ose dibakar dari bagian pangkal dalam dan terus hingga ke bagian lup (ujung) sampai berpijar merah. Bibir tabing reaksi yang berisi kultur bakteri dibuka tutupnya dan dibakar secara memutar hingga semua bagian bibir terkena api. Jarum ose

dimasukkan ke dalam tabung reaksi di dekat bunsen. Bagian cawan petri ditandai dengan spidol pada bagian yang akan distreak. Streak dilakukan di atas permukaan agar secara oerlahan atau tidak sampai merusak agar. Streak dilakukan sesuai tanda yang telah dibuat pada cawan petri. Inkubasi dilakukan pada suhu kamar selama 24 jam untuk bakteri dan 3x24 jam untuk jamur. d. Penyimpanan Kultur Murni Langkah pertama yang dilakukan adalah media agar dituang ke dalam tabung reaksi secara aseptis atau dibuat sebelum dilakukan sterilisasi. Agar yang telah dituang tersebut didinginkan dalam keadaan miring yaitu sekitar 2030. Agar miring distreak dengan biakan mikroba dengan jarum ose secara aseptis. Media agar yang telah distreak dengan biakan mikroba diinkubasi ke dalam inkubator kemudian diamati bentuk koloni yang tumbuh.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisa Hasil Berdasarkan hasil perhitungan koloni bakteri dan kapang pada masing-masing sampel tanah, diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 1. Hasil TPC Bakteri dan Kapang Sampel Mikroba Jumlah Sel (CFU) Tanah Kebun Kapang 6,8 x 103 Bakteri 1,8 x 105 Tanah Humus Kapang 5,8 x 104 Bakteri 1,7 x 106 Tabel tersebut menunjukkan bahwa secara umum, tanah humus mengandung lebih banyak mikroba dibanding dengan tanah kebun. Jumlah bakteri yang diisolasi dari tanah humus lebih banyak daripada yang diisolasi dari tanah kebun. Begitu juga dengan jumlah kapang yang diisolasi pada tanah humus lebih banyak jumlahnya daripada yang diisolasi dari tanah kebun. Tanah humus memiliki jumlah mikrobia lebih banyak karena tanah humus mengandung mineral organik yang mencukupi untuk kehidupan mikrobia. Tanah kebun memiliki kandungan bahan organik yang jumlahnya kecil sehingga mikrobia yang hidup disana harus berkompetisi untuk memperoleh nutrisi bagi kehidupannya. Kompetisi tersebut akan menyebabkan hanya beberapa mikrobia saja yang mampu pada tanah tersebut sehingga jumlah mikrobanya sedikit. Disamping itu, tanah kebun juga telah terkontaminasi dengan adanya bahan toxic yang berasal dari pertisida atau insektisida. Bakteri yang diisolasi dari tanah kebun dan tanah humus memiliki karakterisasi yang beraneka ragam. Isolat bakteri dari tanah humus (H) dengan kode H1K1 memiliki karakteristik berdiameter 2 mm, bentuk koloni bulat, pinggiran rata, elevasinya nampak cembung, teksturnya berkontur dengan konsistensi seperti mentega, ciri optik berkilat, dan pigmentasinya krem. Isolat dengan kode H1K2 memiliki karakterisasi hampir sama dengan isolat H1K1 hanya saja isolat H1K2 berdiamater 1 mm, elevasi datar, dan ciri optik pudar. Isolat dengan kode H1K3 memiliki karakteristik yang cukup berbeda dari 2 isolat sebelumnya. Isolat tersebut berdiameter 3

mm, bentuk koloni tidak teratur, pinggiran bergelombang, elevasinya cembung, bertekstur kasar, konsistensinya tipis, memiliki ciri optik berkilat dan tidak berwarna. Isolat dengan kode H3K1 berdiameter 3 mm, bentuk koloni bulat, pinggiran round, elevasinya datar, memiliki tekstur berkontur dengan konsistensi tipis, ciri optiknya berkilat, dan pismentasi yang dimiliki putih. Isolat dengan kode H3K2 berdiamater 4 mm, bentuk koloni tidak teratur, elevasi datar, teksturnya berkontur, konsistensi seperti mentega, ciri optiknya berkilat, dan pigmentasinya kuning. Isolat dengan kode H3K3 berdiamater 2 mm, bentuk koloni bulat, elevasinya datar dengan tekstur berkontur, konsistensinya seperti mentega, ciri optik berkilat dan pigmentasi putih. Bakteri yang diisolasi dari tanah kebun (K) dengan kode isolat K2K1 berdiamater 1 mm, bentuk koloni bulat, elevasinya datar, tekstur berkontur, konsistensinya tipis dengan ciri optik berkilat, dan pigmentasinya krem. Isolat bakteri dengan kode K2K2 memiliki diamater 6 mm, bentuk koloni berserabut dengan pinggiran lobate, elevasinya datar, memiliki tekstur berbatas secara radial, konsistensinya seperti mentega, ciri optik berkilat, dan pigmentasinya putih. Isolat dengan kode K2K3 berdiamater 2 mm, bentuk koloni bulat, pinggiran round, elevasinya datar dengan tekstur berkontur, konsistensinya tipis, ciri optiknya berkilat, dan pigmentasi kuning. Bakteri dengan kode isolat K4K1 berdiamater 4 mm, memiliki bentuk koloni bulat dengan pinggiran rata, elevasinya cembung, memiliki tekstur berkontur, konsistensinya tipis, ciri optiknya pudar, dan pigmentasi tidak berwarna. Isolat dengan kode K4K2 berdiamater 3 mm, bentuk koloni bulat dengan pinggiran rata, elevasinya cembung, memiliki tekstur seperti mentega, ciri optiknya berkilat, dan pigmentasi kuning. Isolat K4K3 berdiamater 3 mm, bentuk koloni bulat, pinggirannya rata, elevasi terlihat cembung, memiliki tekstur berbatas secara radial dengan konsistensi kering rapuh, ciri optik iridesens, dan pigentasi putih. Berdasarkan hasil karaketisasi tersebut, bakteri yang diisolasi baik dari tanah kebun maupun dari tanah humus memiliki ciri morfologi yang berbeda-beda. Hal tersebut menunjukkan koloni bakteri yang tumbuh beraneka ragam. Keanekaragaman jenis koloni bakteri pada tanah kebun dan

kapang tidak terlalu jelas perbedaannya karena keduanya menunjukkan hasil koloni yang beranekaragam. Sama halnya dengan isolat bakteri, isolat kapang hasil isolasi dari kedua jenis sampel tanah juga memiliki karakter yang beraneka ragam. Kapang hasil isolasi dari tanah humus (H) dengan kode isolat H5K1 berdiamater 17,4 mm, bentuknya bulat dengan pinggiran menyeluruh, elevasinya tampak datar dengan tekstur berkontur, konsistensi mengikuti garis, memiliki ciri optik opalesen, dan pigmentasi hitam. Isolat H5K2 berdiamater 26 mm, berbentuk bulat dengan pinggiran erose, elevasi tampak cembung, teksturnya berkontur, memiliki konsistensi seperti mentega dengan ciri optik opalesen, dan pigemtasi hijau. Isolat H5K3 memiliki dimeter 11,1 mm, bentuknya bulat dengan konfigurasi menyeluruh, elevasinya datar, memiliki tekstur berkontur, konsistensinya seperti mentega, ciri optik opalesen, dan pigemntasi biru. Isolat H7K1 berdiamater 24,34 mm, bentuk tidak teratur dengan pinggiran menyeluruh, elevasinya datar, ciri optik opalesen, dan pigmentasi hitam keabuan. Isolat H7K2 berdiameter 5,98, bentu tidak teratur dengan pinggiran erose, elevasinya cembung, memiliki ciri optik opalesen, dan pigmentasinya merah. Isolat H7K3 berdiamater 1,78 mm, bentuk berfilamen dengan pinggiran menyeluruh, elevasinya cembung, memiliki ciri optik opalesen, dan pigmentasi hijau. Kapang hasil isolasi dari tanah kebun (K) dengan kode K6K1 berdiamater 7,83 mm, bentuknya filiform, elevasi tampaik raised, memiliki ciri optik opaque, dan pigmentasi putih pada tepi dan kuning di tengahnya. Isolat K6K2 berdiamater 6,31, memiliki bentuk berfilamen, elevasinya raised, memiliki ciri optik opaque, dan pigmentasi Hijau di bagian tepi dan hijau kehitaman di bagian tengah. Isolat K6K3 memiliki karakterisasi hampir sama dengan isolat K6K2 hanya saja diamaternya 9,94 mm, dan pigmentasi hijau tua di bagian tepi serta kuning di bagian tengah. Isolat kapang dengan kode K8K1 berdiamater 7,65 mm, bentuknya berfilamen dengan pinggiran erose, elevasinya cembung, memiliki ciri optik opaque, dan pigmentasi putih di tepi serta ungu di bagian tengahnya. Isolat K8K2 berdiamater 10,78 mm, bentuknya berfilamen dengan pinggiran erose, elevasinya cembung, memiliki ciri optik opaque, dan pigmentasi putih di bagian tepi serta abu-abu di bagian tengah. Isolat K8K3 berdiameter 5,79

mm, bentuknya bulat dengan pinggiran erose, elevasinya umbonate, memiliki ciri optik opaque, dan pigmentasi putih di bagian tepi dan hitam di bagian tengah. Berdasarkan hasil karaketisasi tersebut, kapang yang diisolasi dari tanah humus menunjukkan hasil yang lebih beragam daripada kapang yang diisolasi dari tanah kebun. Keanekaragaman jenis tersebut dapat dilihat dari ciri morfologi yang paling banyak perbedaannya. Mulai dari bentuk hingga pigmentasi. Artinya bahwa tanah humus memiliki kapang yang lebih banyak ragamnya daripada tanah kebun. Keanaeka ragaman diversitas tersebut disebabkan oleh banyaknya nutrisi yang terkandung pada tanah humus sehingga jenis kapang yang mampu hidup pada tanah tersebut jumlahnya lebih banyak. Tanah kebun memiliki jumlah nutrisi yang lebih sedikit dan telah terkontaminasi dengan senyawa toxic dari pestisida dan insektisida sehingga kapang yang mampu tumbuh hanya dalam jumlah sedikit dan merupakan kapang yang memiliki tingkat toleransi tinggi. 4.2 Fungsi Penambahan Streptomisin Prosedur pembuatan media PDA terdapat satu langkah yang berbeda dari media NA yaitu penambahan streptomisin. Media PDA merupakan media yang ditujukan untuk pertumbuah kapang karena memiliki kandungan karbohidrat 20% dan glukosa 2% yang kurang sesuai untuk kehidupan bakteri. Meskipun demikian, terkadang masih ada bakteri yang mampu hidup pada kondisi tersebut sehingga perlu ditambahkan streptomisin pada media. Streptomisin adalah senyawa antibiotik yang termasuk kelompok aminoglycoside. Streptomisin ini bekerja dengan cara mematikan bakteri sensitif, dengan menghentikan produksi protein esensial yang dibutuhkan bakteri untuk bertahan hidup (Tortora, 2002). 4.3 Penggunaan 2 Sampel yang Berbeda Praktikum ini menggunakan 2 sampel yang berbeda yaitu tanah humus dan tanah kebun. Hal tersebut dilakukan untuk membandingkan jumlah dan keanekaragaman mikrobia yang mampu tumbuh pada kedua jenis tanah tersebut. Tanah humus mewakili suatu kondisi yang banyak mengandung mineral organik yang mendukung kehidupan mikrobia. Tanah kebun

mewakili suatu kondisi dengan keterbatasan nutrisi atau mungkin memiliki kandungan bahan-bahan kimia dari pestisida atau insektisida yang dapat mengganggu pertumbuhan mikrobia. 4.4 Pengaruh Media Instan dan Konvensional Menurut Lebofe dan Pierce (2006), komponen nutrisi pada media konvensional tidak dapat diketahui dengan pasti setiap waktu karena dapat berubah-ubah dalam bahan yang digunakan dan bergantung dari asalnya sebagai contoh ialah kentang, jagung, serangga, rambut, dsb. Berdasarkan hal tersebut maka mikrobia yang dapat hidup pada media konvensional tidak dapat ditentukan jumlahnya dan kemaksimalannya tumbuh. Media instan yang bersifat semi sintetik tersusun atas bahan organik dan senyawa kimia yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikrobia dalam jumlah yang telah tertakar jelas. Berdasarkan hal tersebut mikrobia akan tumbuh lebih optimal pada media instan yang bersifat semi sintetik (Tortora, 2002). 4.5 Kandungan (Senyawa) pada Media Media NA adalah media konvensional yang dibuat untuk mengkultur mikroba secara acak atau tidak selektif. Media NA merupakan media yang mengandung nutrisi kompleks dengan pH netral dan dapat digunakan untuk menumbuhkan berbagai macam mikroba karena nutrisi yang diberikan oleh media NA cukup bagi mikroba untuk bertahan hidup. Media NA lebih spesifik terhadap bakteri karena kandungan proteinnya tinggi sehingga mendukung kehidupan bakteri tapi tidak mendukung kehidupan jamur (kapang). PDA merupakan media yang sebenarnya dikhususkan untuk fungi karena nutrisi yang diberikan adalah nutrisi yang disukai oleh fungi serta pengaturan pH juga sesuai dengan pH yang fungi butuhkan untuk hidup optimal. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan fungi tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri (Brown, 2005). 4.6 Arti Penting Tehnik Dilusi Dilusi merupakan teknik yang sering digunakan dalam metode mikrobiologi kuantitatif. Perhitungan sel dan pemurnian mikroba dapat lebih mudah bila sebelumnya dilakukan teknik

ini. Beberapa kelemahan dari teknik ini adalah keakuratannya sangat diperhitungkan karena salah mengukut bisa mempengaruhi mikroba yang tumbuh dan semakin sedikit sampel yang digunakan, semakin sedikit perwakilan yang didapatkan (Lindquist, 2001). 4.7 Faktor yang Mempengaruhi Hasil TPC TPC merupakan suatu tehnik yang digunakan untuk menghitung jumlah koloni mikrobia yang telah dikulturkan. Keberhasilan TPC sangat dipengaruhi oleh ketelitian dan subyektivitas pengamat. Apabila pengamat tidak teliti, maka akan banyak koloni yang tidak teramati dan terhitung. Subyektifitas seseorang untuk menilai apakah yang diamati satu koloni atau bukan, serta satu atau dua koloni yang menjadi satu juga akan mempengaruhi hasil TPC sehingga hasil dari TPC akan relatif tergantung dari pengamat. 4.8 Fungsi TPC dan Cara Perhitungan TPC TPC berfungsi untuk menghitung jumlah koloni pada media agar dalam cawan petri. Penggunaan TPC dapat dilihat berikut ini. Pengenceran Ulangan 1 Ulangan 2 -3 10 TBUD TBUD 10-4 TBUD 289 10-5 29 10 Syarat jumlah yang dapat dihitung adalah pada rentang 30-300 maka jumlah yang memenuhi adalah 289. Misal isolat tersebut diperoleh dari volume sampel 0,1, maka perhitungannya adalah sebagai berikut : Sel = Sel yang teramati x volume-1 x faktor pengenceran-1 = 289 x 1/0,1 x 1/10-4 = 289 x 105 = 2,89 x 107 4.9 Aplikasi TPC Skala Industri Total plate count merupakan metode yang digunakan untuk menetukan densitas dari mikroba yang ada di dalam sampel. Beberapa pengaplikasian dari teknik ini adalah dalam industri kosmetik untuk menguji sensivitas, melakukan analisa kekuatan agen antimikroba atau mikroba antagonis dan melakukan tes

pathogenitas suatu mikroba pada suatu produk, seperti susu atau produk daging (Shubhda Research Institute, 2009). Aplikasi TPC yang telah dilakukan adalah pada jurnal dari Bromberg, dkk., (2004). Penelitiannya adalah mengisolasi bakteri yang mengandung asam laktat dan mengukur aktivitasnya pada bakteri patogen di dalam produk daging. Bakteri yang terkandung di dalam daging diencerkan hingga faktor diliusi 102 dan dibiakkan dalam kultur murni. Setelah itu diuji antagonisnya dengan metode sandwich dengan bakter-bakteri yang patogen pada daging dan produk daging dan dilihat kekuatannya dengan TPC. 4.10 Kelebihan dan Kekurangan TPC TPC merupakan metode standar dalam perhitungan suatu koloni bakteri dalam isolat cawan petri. Metode ini mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang rumit pengoperasiannya. Namun, metode ini hanya berlaku untuk bakteri-bakteri aerob dan menggunakan media agar. Bila menggunakan media cair akan membutuhkan alat khusus. Selain itu diperlukan ketelitian untuk menghitung koloni yang terlihat pada counting grid pada counting plate sehingga terkadang hasilnya meleset dari jumlah sel yang seharusnya ada di dalam media tersebut (Maturin dan Peeler, 2001). Kelebihan TPC ialah tidak membutuhkan keahlian yang sangat baik serta hanya membutuhkan biaya yang relative lebih murah. Adapun kekurangan TPC ialah bahwa metode ini tidak dapat digunakan jika ingin mengetahui jumlah koloni secara tepat (Curtis, 2004).

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa media NA spesifik terhadap pertumbuhan bakteri sedangkan PDA spesifik terhadap pertumbuhan kapang. Bakteri dan kapang yang diisolasi dari tanah humus memiliki jumlah yang lebih banyak daripada yang diisolasi pada tanah kebun karena tanah humus mengandung lebih banyak mineral organik yang dapat mendukung kehidupan bakteri dan kapang. Karakterisasi isolat yang diperoleh dari dua sampel tersebut juga berbeda-beda. Isolat kapang tanah humus memiliki diversitas yang lebih tinggi daripada kapang tanah kebun. 5.2 Saran Disarankan untuk praktikum selanjutnya agar praktikan lebih teliti dalam melakukan perhitungan koloni bakteri maupun kapang dengan metode TPC agar hasil yang diperoleh benarbenar mewakili kondisi sebenarnya.

DAFTAR PUSTAKA Bromberg, R., I. Moreno, C.L. Zaganini, R.R. Delboni, dan J.D Olivieira. 2004. Isolation of Bacteriocin-Producing Lactic Acid Bacteria from Meat and Meat Products and Its Spectrum of Inhibitory Activity. Braz. J. Microbiol. vol.35 no.1-2 So Paulo Brown, A.E. 2005. Bensons Microbiological Applications 9th Edition. McGraw-Hill. New York Burrows, W., J.M. Moulder, and R.M. Lewert. 2004. Texbook of Microbiology. W.B. Saunders Company, Philadelphia. Curtis, L., A. Lieberman, M. Stark, W. Rea & M. Vetter. 2004. Isolation. http:// www.e-dukasi.net /. Diakses 19 Maret 2012 Leboffe, M.J. dan B.E. Pierce. 2006. Microbiology Laboratory, Theory and Application 2nd Edition. Morton Publishing Company. Colorado Lindquist, J. 2001. General Micro. http://www.jlindquist.net/generalmicro.html tanggal akses 19 Maret 2012 Maturin, L, dan J.T. Peeler. 2001. Bacteorogical Analytical Manual. http://www.fda.gov/Food/ScienceResearch/LaboratoryMethod s/BacteriologicalAnalyticalManualBAM/ucm063346.htm#con ventional tanggal akses 19 Maret 2012 Pelczar, M. J., Chan, E.C.S. 2007. Elements of Microbiology. Mc Graw Hill Book Company. New York Prescott, L.M. 2003. Microbiology 5th edition. Mc Graw Hill. New York Tortora,G. Y, Berdell.R.F, Christine,L.C. 2002. Microbiology an Introduction. Benjamin Cummings, Addrson Wesley Long man Inc. New York