Anda di halaman 1dari 16

Lab./SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman/ RSUD A.

Wahab Sjahranie

JOURNAL READING

Rational and Ethical Use of Topical Corticosteroids Based on Safety and Efficacy

Disusun Oleh:

ARUM SEKAR NEGARI


NIM. 05.48838.00239.09

Pembimbing:

dr. M. Darwis Toena, Sp.KK

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman/RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda 2013

PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL SECARA ETIS DAN RASIONAL BERDASARKAN EFIKASI DAN KEAMANAN
Sanjay K. Rathi and Paschal DSouza
Department of Dermatology, ESIC-PGIMSR, New Delhi, India

Indian J Dermatol. 2012 Jul-Aug; 57(4): 251259 ABSTRAK Kortikosteroid topikal (TC) telah banyak berkontribusi di bidang dermatologi untuk mengobati secara efektif beberapa penyakit kulit yang sulit. Kisaran yang tersedia dari formulasi dan potensinya memberikan fleksibilitas untuk mengobati semua kelompok pasien, pada tahap penyakit yang berlainan, dan pada letak anatomis yang berbeda. Namun, peningkatan pesat dalam insiden penyalahgunaan obat-obatan oleh spesialis kulit, dokter umum, dan pasien dapat membawa nama buruk bagi kelompok obat-obatan yang menakjubkan ini. Tanggung jawab untuk menyebarluaskan pengetahuan yang tepat mengenai kapan, di mana, dan bagaimana menggunakan TC baik untuk internis dan pasien terletak terutama pada spesialis kulit. Manfaat penggunaan rasional dan etis dan kerugian dari penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan untuk nonmedis, khusus untuk tujuan kosmetik, harus jelas disampaikan sebelum menuliskan resep yang melibatkan TC. Upaya simultan untuk menggunakan lembaga-lembaga politik, hukum, dan lainnya untuk mencegah penyalahgunaan obat ini dengan penjatahan ketersediaan mereka hanya melalui resep yang tepat akan sangat membantu penyebabnya. Hal ini diharapkan akan menurunkan baik kasus penyakit kulit akibat penggunaan steroid yang berlebihan dan ketakutan irasional menggunakan TC pada indikasi yang tepat. Kata kunci: Pelanggaran, efek samping, penggunaan etis, indikasi, penyalahgunaan, penggunaan rasional, penyakit kulit responsif steroid, kortikosteroid topikal.

PENDAHULUAN Kortikosteroid topikal (TC) adalah salah satu obat yang paling sering diresepkan pasien dermatologi rawat jalan sejak obat ini pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1950-an. Mungkin tidak ada kelompok obat lain yang memiliki dampak mendalam secara khusus seperti TC. Dengan penggunaan obat ini, telah menjadi jauh lebih mudah untuk mengobati beberapa penyakit kulit, dimana sebaliknya obat ini juga menyebabkan morbiditas yang signifikan pada sebagian orang. Namun, selama bertahun-tahun telah tampak dengan jelas peningkatan kasus penyalahgunaan TC baik oleh dokter maupun pasien. Selain digunakan untuk indikasi penyakit yang telah banyak
1

diketahui seperti psoriasis, dermatitis atopik, vitiligo, lichen planus, chronicus lichen simplex, lupus eritematosus diskoid, dll, obat ini juga digunakan untuk kondisi seperti melasma, urtikaria, dan bahkan pada ruam kulit yang tidak terdiagnosis oleh dermatologist dan dokter umum. Hal ini karena adanya perbaikan yang cepat pada tanda dan gejala dari berbagai kelainan kulit dengan penggunaan TC pada kasus pertama. Hal ini dapat memberikan waktu dan menahan pasien lebih lama dengan nonspesialis. Studi pada pasien dengan erupsi kulit akibat steroid telah menunjukkan bahwa ada beberapa penasihat nonmedis seperti teman-teman, tetangga, salon kecantikan, tukang cukur, dll memberitahu mereka untuk menggunakannya sebagai krim kosmetik, anti jerawat, terapi anti jamur dan semua masalah erupsi kulit lainnya. Ada kecenderungan untuk menggunakan kembali resep lama untuk ruam yang berulang atau baru. Berbagi resep dengan kerabat dan teman-teman dengan anggapan bahwa masalah kulit yang terlihat mirip dapat diobati sendiri dengan menyalin resep juga sudah semakin meluas. Sebagai tambahan masalah, ketersediaan TC yang mudah didapat di setiap apotik hanya dengan bertanya dan tanpa harus menggunakan resep yang valid. Selain itu, apoteker juga terkadang berperan ganda sebagai dokter memberikan nasihat tentang TC mana yang baik digunakan. Kasus ini, meskipun dilaporkan dari banyak tempat di seluruh dunia, memiliki dampak yang signifikan di negara kita dengan miliaran penduduk ditambah dengan rasio spesialis-pasien yang merugikan.

Kesadaran akan masalah yang signifikan ini telah menyebabkan kesibukan yang dibuktikan dengan diskusi tentang penyalahgunaan TC oleh dermatologist di berbagai forum di dalam negeri dan luar negeri. Sebagai dokter kulit, kewajiban tanggung jawab terletak pada kita, untuk siapa obat ini diberikan sebagai senjata kuat dalam melawan berbagai penyakit kulit, untuk mendidik masyarakat dengan benar termasuk perkumpulan medis non-dermatologi tentang penggunaan etis dan rasional TC. Adalah baik untuk mengingat Ahli Biologi Van Rensselaer Potter yang mengusulkan Istilah "bioetika" pada tahun 1970, untuk mencakup bidang yang terletak di persimpangan etika dan ilmu-ilmu biologi pada umumnya. Tujuan utama yang mendasari semua masalah etika dalam perawatan kesehatan, dalam kasus ini penggunaan TC, adalah untuk melihat bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian harus menguntungkan dan tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan pengetahuan tersebut harus disebarluaskan dengan benar.

MEMILIH KORTIKOSTEROID TOPIKAL Sekelompok TC tersedia untuk pengelolaan penyakit kulit. Pemahaman dasar mengenai TC pasti membantu dokter untuk memilih preparat yang tepat yang dapat memaksimalkan efektivitas
2

terapi dan meminimalkan potensi efek yang merugikan. Untuk keberhasilan pengobatan dengan TC, beberapa faktor kunci yang harus dipertimbangkan adalah diagnosis yang akurat, memilih obat yang benar, mengingat potensi, jenis sediaan, frekuensi pengunaan obat, durasi pengobatan dan efek samping, dan profil pasien yang tepat.

Ketahui penyakitnya TC efektif untuk kondisi kulit yang ditandai dengan hiperproliferasi, peradangan, dan keterlibatan imunologi. Obat ini juga banyak digunakan dalam pengobatan penyakit vesiculoerosif pada mukosa mulut untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Mereka dapat meringankan nyeri untuk lesi yang terasa gatal dan panas. Banyak penyakit kulit yang diterapi dengan TC [Tabel 1], namun berdasarkan bukti yang ada, TC hanya efektif untuk sejumlah kecil kondisi. Adalah penting untuk meresepkan TC hanya setelah memiliki diagnosis yang tepat pada pasien dan pada kelainan kulit dimana ada bukti yang masuk akal mengenai efikasinya. Kita harus dapat menahan godaan untuk menggunakan TC untuk segala kelainan kulit yang kita tidak mengerti atau di mana tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Pemberian TC ini mungkin dapat memberikan manfaat sementara, tetapi membuat penegakan diagnosis menjadi lebih sulit selain itu pasien juga terpapar terhadap risiko efek samping. Mengetahui indikasi yang tepat, kekuatan yang berbeda dari steroid topikal dapat digunakan untuk mengobati berbagai tahapan penyakit.

Tabel 1. Penyakit kulit yang responsif terhadap steroid Ketahui Obatnya Potensi. Potensi adalah jumlah obat yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek terapi yang diinginkan. Potensi TC biasanya dinilai dengan pengukuran sifat vaso-konstriktifnya. Hal ini
3

membantu untuk mengklasifikasikan TC berdasarkan sejauh mana agen menyebabkan vasokonstriksi kulit ('efek blansing') pada orang yang normal dan sehat. Ini adalah metode yang berguna tetapi tidak sempurna untuk memprediksi efektivitas klinis steroid. Pada kenyataannya, potensi anti-inflamasi dari beberapa TC dapat bervariasi antara pasien, tidak hanya tergantung pada kekuatan formulasi tetapi juga pada frekuensi administrasi, durasi pengobatan, dan lokasi penggunaan. Terkadang potensi juga mungkin berbeda antara formulasi generik dan paten.

Sejak hidrokortison waktu pertama kali terbukti secara klinis efektif sebagai preparat topikal pada tahun 1952, molekulnya sesecara struktural telah dimodifikasi oleh halogenasi, metilasi, esterifikasi, asetilasi, dll dengan tujuan untuk meningkatkan potensi dan mengurangi efek samping. TC yang ideal masih harus dikembangkan. Modifikasi seperti halogenasi meningkatkan potensi tetapi juga efek sampingnya. Esterifikasi telah dilaporkan untuk meningkatkan keamanan obat selain meningkatkan efikasi dari TC.

TC dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan potensi mereka sesuai dengan formularium Nasional Inggris (BNF), sedangkan sistem Amerika mengklasifikasikan mereka menjadi tujuh kelas, dengan kelas I merupakan super poten atau ultra poten dan kelas VII menunjukkan potensi yang paling rendah [Tabel 2]. Meskipun pengetahuan mendalam tentang obat dalam setiap kelas mungkin ideal, praktisnya dokter harus mengetahui satu atau dua agen dalam setiap kategori potensi untuk secara aman dan efektif mengobati kondisi kulit yang responsif terhadap steroid.

Sebagai aturan umum, steroid potensi rendah adalah agen paling aman untuk penggunaan jangka panjang, pada area permukaan besar, pada wajah, atau pada daerah dengan kulit tipis dan untuk anak-anak. TC yang lebih kuat sangat berguna untuk penyakit yang parah dan untuk kulit yang lebih tebal pada telapak tangan dan telapak kaki. Steroid potensi tinggi dan ultra-tinggi tidak boleh digunakan pada selangkangan, wajah, aksila, dan di bawah oklusi, kecuali dalam situasi yang jarang dan untuk durasi pendek.

Tabel 2. Potensi Relatif kostikosteroid topikal

Jenis Sediaan. TC tersedia dalam beberapa formulasi dan dengan kekuatan yang berbeda-beda, yang mungkin berbeda dalam potensi berdasarkan sediaannya. Pemilihan sediaan tergantung pada jenis lesi dan daerah anatomi. TC tersedia dalam salep, krim, gel, lotion, solusi, dll.

Salep memberikan pelumasan dan oklusi yang lebih baik daripada sediaan lainnya dan yang paling berguna untuk mengobati lesi hiperkeratotik yang kering dan tebal. Sifat oklusifnya dibuat untuk meningkatkan penyerapan steroid. Namun, sediaan ini tidak boleh digunakan pada daerah yang berambut dan dapat menimbulkan maserasi dan folikulitis, jika digunakan di daerah intertriginosa dan sifat berminyaknya dapat menyebabkan ketidakpuasan pasien dan ketidakpatuhan penggunaan.

Krim memiliki kualitas pelumas yang baik dan kemampuannya menghilang ke dalam kulit membuat sediaan ini menarik secara kosmetik. Untuk peradangan eksudatif akut dan di daerah intertriginosa, krim lebih baik untuk efeknya yang nonoklusif dan cepat kering. Krim umumnya kurang kuat dibandingkan salep dari obat yang sama, tetapi mereka sering mengandung bahan pengawet yang dapat menyebabkan iritasi, rasa menyengat, dan reaksi alergi.

Lotion dan gel adalah yang paling sedikit berminyak dan oklusi dari semua sediaan steroid topikal. Lotion berguna untuk daerah yang berrambut karena mereka mudah penetrasi dan meninggalkan sedikit sisa. Gel kering dengan cepat dan dapat diterapkan pada kulit kepala atau daerah berrambut lainnya karena mereka tidak menyebabkan matting. Busa dan mousses dan shampo adalah sediaan yang efektif untuk steroid pada kulit kepala tetapi harganya mahal.

Oklusi meningkatkan penetrasi steroid dan dapat digunakan dalam kombinasi dengan semua sediaan. Namun iritasi, folikulitis dan infeksi dapat berkembang cepat dengan pemakaian oklusi dan pasien harus diberi konseling untuk memantau area pengobatan secara ketat. Mengoleskan steroid topikal setelah mandi meningkatkan efektivitasnya karena proses hidrasi. Area lipatan seperti selangkangan, ketiak, dibawah payudara adalah area yang harus dihindari untuk penggunaan salep.

Dosis, frekuensi pengolesan, dan durasi Terkadang dokter kulit yang paling baik dan tenaga medis lainnya gagal untuk menghabiskan cukup waktu dengan pasien. Semuanya pernah mendapatkan kasus dimana ketika efek klinis sangat berbeda dan / atau adanya efek samping yang terlihat untuk penggunaan TC yang sama diberikan untuk indikasi yang sama pada dua pasien yang berbeda. Hal ini karena tanpa bimbingan yang tepat, pasien sangat berbeda dalam cara mereka akan menggunakan TC dalam hal jumlah, frekuensi, dan durasi penggunaan sehingga menyebabkan perbedaan dalam keberhasilan dan faktor keamanan yang mereka alami. Penggunaan rasional melibatkan seluruh pedoman yang tepat di daerah ini.

Sehubungan dengan dosis TC, teknik standar yang dibuat oleh Long dan Finley, yang menggunakan " Unit Ujung Jari " (FTU), telah direkomendasikan untuk mengukur jumlah salep yang diperlukan untuk daerah anatomi tertentu. Sebuah FTU didefinisikan sebagai jumlah salep yang dapat ditekan dari ujung jari ke lipatan pertama jari dengan nozzle diameter 5 mm. Menggunakan tabung nozzle standar, satu FTU setara dengan 0,5 g krim/salep.
6

Penggunaan FTU yang sangat dipromosikan di seluruh dunia untuk mengurangi variasi dalam penggunaan TC dan mendorong kepatuhan terhadap terapi. Dosis yang direkomendasikan dalam FTU akan tergantung pada bagian mana dari tubuh sedang diterapi. Hal ini karena terdapat kulit yang lebih tipis di bagian-bagian tertentu dari tubuh dan lebih sensitif terhadap efek dari TC. Tabel 3 dan 4 menunjukkan pedoman mengenai jumlah salep yang dibutuhkan pada orang dewasa dan anak-anak, masing-masing, berdasarkan daerah anatomi tertentu.

Tabel 3. Pedoman FTU untuk dewasa

Tabel 4. Pedoman FTU untuk anak-anak

Dalam prakteknya sekali atau dua kali pengolesan dalam sehari dianjurkan untuk preparat TC yang konvensional. Beberapa formulasi baru telah disiapkan untuk aplikasi sekali sehari. Bahkan menurut penelitian sebelumnya untuk penggunaan yang lebih sering juga tidak memberikan hasil yang lebih baik. Pada dermatitis atopik yang diketahui dengan baik responsif terhadap
7

steroid, 10 percobaan secara acak terkontrol, dibandingkan penggunaan sekali sehari dengan penggunaan steroid lebih sering dalam kelompok potensi yang sama. Temuan ini dirangkum dalam laporan Teknologi penilaian kesehatan Inggris dan bimbingan dari National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE). Dari hasil penelitian tidak ditemukan bukti jelas bahwa menerapkan TC lebih dari sekali sehari menghasilkan klinis yang lebih baik secara keseluruhan dalam eksim. Di sisi lain, sering menggunakan TC menyebabkan beberapa efek samping lokal dan sistemik. Perubahan ke penggunaan TC sekali sehari disarankan beberapa tahun yang lalu. Mungkin hambatan terbesar untuk ini telah menjadi kebiasaan kita.

Ini juga merupakan fakta yang diketahui dengan baik bahwa stratum korneum bertindak sebagai reservoir untuk TC. TC ultrapoten seperti krim klobetasol propionat 0,05% ditemukan bertahan dalam stratum korneum hingga empat hari. Karena efek depot kumulatif ini, alternatif atau bahkan dua kali penggunaan dalam seminggu TC dapat dianjurkan. Setelah kondisi berada dalam remisi atau di bawah kendali penggunaan TC dalam seminggu di selingi dengan penggunaan pelembab/emolien perharinya atau dengan agen hemat steroid juga cukup bermanfaat. Dengan demikian, manfaat terapi dapat dimaksimalkan, biaya dapat dikurangi, dan efek samping lokal dan sistemik TC dapat menurun. Semua faktor ini akan meningkatkan kepatuhan pasien. Untuk pasien individu, jadwal dosis optimal dapat ditentukan dengan cara trial and eror, mentitrasi dengan frekuensi penggunaan minimal yang masih memberikan efek terapi. Umumnya sebagian besar TC, terlepas dari potensinya, tidak boleh digunakan dengan durasi lebih dari 2-4 minggu. Jika terdapat perburukan lesi atau tidak ada perubahan yang tampak, produk harus dihentikan dan perlu dilakukan re-evaluasi diagnosis. Preparat poten dan super poten secara khusus direkomendasikan untuk penggunaan dengan durasi maksimal hanya 2 minggu diikuti dengan tappering untuk pemeliharaan dan untuk menghindari efek samping.

Efek Samping TC TC digunakan terutama sebagai anti-inflamasi. Paradoksnya, mekanisme yang sama yang memediasi sifat anti-inflamasinya dan mendasari kegunaannya juga bertanggung jawab untuk terjadinya efek samping. Selain efek samping kulit dan sistemik, (tabel 5) fenomena ketergantungan steroid, tachyphylaxis, dan dermatitis kontak (DK) karena TC juga perlu diketahui.

Tabel 5. Efek samping kortikosteroid topikal yang sering terjadi

Efek lokal. Efek ini lebih sering dijumpai dan lebih umum terjadi pada TC dengan potensi tinggi. Efek samping tergantung pada potensi steroid, durasi penggunaan (jangka waktu), volume produk yang diaplikasikan (misalnya jumlah yang berlebihan), lokasi aplikasi, usia pasien dan oklusi (jika ada).

Ini termasuk, atrofi, striae, telengiectasis, purpura, hipo-pigmentasi, erupsi akneiform, rosacealike perioral and periorbital dermatitis, dan hipertrikosis. Bentukan normal infeksi superfisial dapat berubah bila TC yang tidak tepat digunakan untuk mengobati bakteri atau infeksi jamur. Contoh yang khas terlihat pada pasien yang mengoleskan TC ke ruam yang gatal di pangkal paha. Jika ini adalah infeksi jamur, ruam akan bertambah merah, gatal, dan menyebar lebih luas daripada infeksi jamur pada umumnya. Ruam yang dihasilkan adalah pola peradangan tidak beraturan yang luas dengan pustula disebut tinea incognito [Gambar 1].

Gambar 1. Pola tidak beraturan pada tinea cruris (tinea incognito)

Karena penggunaan yang tidak tepat dan tidak terkontrol dari TC menyebabkan suatu kondisi ketergantungan TC. Argumen yang meyakinkan telah dipertimbangkan untuk menilai beberapa sindrom eritema seperti red face syndrome, post-peel erythema, red scrotal syndrome, vulvodynia, perianal atrophoderma, dermatitis kronis aktinik, dan chronic recalcitrant eczemas disebabkan oleh ketergantungan steroid. Penggunaan TC yang berkepanjangan dan terus menerus pada wajah mengarah pada terjadinya kelainan kulit yang berbeda-beda. Dalam skenario kami, hal itu disebut "topical corticosteroid-induced rosacea-like dermatitis" (TCIRD) atau "topical steroid-dependent face" (TSDF). Kondisi ini memiliki gambaran klinis yang berbeda. Pasien sebagian besar perempuan yang terus menggunakan krim steroid sampai mereka mendapatkan respon ajaib dan dilanjutkan terus untuk mencegah rebound flare hingga akhirnya lesi menjadi persisten [Gambar 2].

10

Gambar 2. Eritema dengan papulopustul pada wajah (TCIRD)

Efek sistemik. Penggunaan TC potensi tinggi dan ultra tinggi secara topikal dapat diserap dengan baik sehingga cukup untuk menyebabkan efek samping sistemik. Supresi hipotalamushipofisis-adrenal, glaukoma, hiperglikemia, hipertensi, dan efek samping lain telah dilaporkan, meskipun jarang.

Sebagian besar efek samping mungkin reversibel sampai batas tertentu setelah penghentian TC, dengan pengecualian striae atrofi [Gambar 3], yang tidak reversibel. Kelainan kulit yang muncul kembali setelah penghentian mendadak TC juga telah dilaporkan, terutama pada preparat dengan potensi kuat. TCIRD / TSDF sangat sulit untuk ditangani karena barier epidermis yang jelek serta karena rebound flare up dari lesi kulit.

Gambar 3. Striae atropi pada selangkangan


11

Telah diketahui bahwa efek kortikosteroid adalah karena aksinya pada ekspresi gen oleh dua mekanisme yang berbeda; transrepresi bertanggung jawab pada sebagian besar efek terapi dan transaktivasi yang menyebabkan sebagian besar efek samping. Selektif agonis reseptor glukokortikoid baru sedang dikembangkan yang memungkinkan pemisahan antara mekanisme transrepresi dan transaktivasi. Hal ini mungkin akan menjadi fokus penelitian di masa depan yaitu dalam pengembangan kelas TC baru tanpa efek samping yang signifikan.

Tachyphylaxis Ini merupakan kondisi toleransi dari kulit akibat vasokonstriksi dari TC. Setelah penggunaan berulang steroid topikal, kapiler di kulit tidak menyempit dengan baik, sehingga memerlukan dosis yang lebih tinggi atau penggunaan yang lebih sering dari steroid. Kemampuan pembuluh darah untuk konstriksi kembali empat hari setelah penghentian terapi.

Sekarang diperkirakan bahwa baik ketidakpatuhan pasien atau penyebab alamiah dari suatu penyakit (tidak berhubungan dengan terapi) mungkin menjadi alasan utama di balik tachyphylaxis.

Dengan alasan ini, penerapan "weekend theraphy" atau "pulse theraphy" mungkin dapat menyelesaikan masalah kepatuhan pasien. Jika TC kehilangan efektivitasnya, pengobatan harus dihentikan untuk 4-7 hari dan kemudian di mulai kembali.

Cross sensitization and cross reactivity Dermatitis kontak akibat TC tidak jarang terjadi. Estimasi prevalensi ditemukan berada di kisaran 0,2-6% pada studi sebelumnya. Kortikosteroid nonfluorinated lebih mungkin menyebabkan dermatits kontak. Hal ini harus dipertimbangkan apabila tidak ada penyembuhan yang memuaskan, atau memburuknya lesi setelah mengeksklusi keadaan eksaserbasi dari infeksi yang tidak terdiagnosis. Kadang-kadang memburuknya ruam eksematous luas yang kronis selain akibat penggunaan TC mungkin karena fenomena ketergantungan kortikosteroid, sebuah keadaan yang diketahui dengan baik dapat dimediasi oleh peningkatan kadar serum nitrit oksida. Tentunya sangat berguna untuk mengetahui apakah memang terdapat sensitivitas dalam penggunaan TC itu sendiri atau pada salah satu unsur atau pengawet yang terdapat di sediaan. Tes patch kulit dapat digunakan untuk mendeteksi dan mengkonfirmasi kepekaan terhadap kortikosteroid.

12

Ketahui Pasiennya Sangat penting untuk mengingat usia, jenis kelamin, kondisi fisiologis khusus yang mendasari seperti kehamilan, menyusui, dan juga harapan pasien selain area dan tingkat keterlibatan ketika meresepkan TC. TC harus digunakan dengan hati-hati pada anak-anak dan orang tua karena luas permukaan yang lebih besar untuk rasio berat badan dan fungsi barier kulit yang rendah pada anak-anak dan kerapuhan kulit pada orang tua. Pasien wanita lebih rentan terhadap efek samping steroid karena kecenderungan mereka untuk menggunakan TC secara berlebihan. Karena tidak ada studi tentang potensi teratogenik pada sebagian besar TC pada kehamilan, mereka dikategorikan sebagai kategori C pada kehamilan dan dengan demikian dianjurkan untuk digunakan hanya jika manfaat potensinya sebanding dengan potensi risiko pada janin. Selama laktasi, mereka juga harus digunakan dengan hati-hati. Diketahui bahwa efek penyembuhan yang dirasa cepat, dan ketidaktahuan tentang efek berbahaya dari TC juga menyebabkan kelanjutan pengobatan di luar waktu yang ditentukan. Waktu yang diberikan dalam edukasi tentang poin-poin tersebut akan mencegah efek yang merugikan. Hal ini juga akan mengatasi masalah ketakutan berlebihan dalam penggunaan TC yang mengarah ke penggunaan yang tidak memadai dan hasil klinis yang buruk.

Pada kulit sehat dan normal, penyerapan TC bervariasi dari area ke area lainnya. Penetrasi bervariasi antara kelopak mata dan telapak kaki dengan perbedaan hampir 300 kali lipat. Di negara-negara tertentu, karena barier epidermis yang buruk, penetrasi TC bisa dua sampai sepuluh kali lipat lebih tinggi. Daerah dengan stratum korneum yang tebal, seperti telapak tangan dan kaki perlu diterapi dengan preparat TC potensi tinggi. Sebaliknya, daerah dengan stratum korneum tipis seperti kelopak mata atau area yang tertutup seperti pangkal paha dan ketiak dan daerah intertrigenous lainnya perlu diterapi dengan preparat yang potensi medium atau potensi rendah. Di daerah lentur, seperti yang disebutkan sebelumnya akan ada efek fisik tambahan dari oklusi oleh lipatan kulit yang juga akan meningkatkan penyerapan. Ketika area permukaan besar yang terlibat, pengobatan dengan TC potensi rendah-medium diperlukan karena peningkatan risiko penyerapan sistemik. Pemantauan dari semua variabel secara terusmenerus diperlukan untuk pengobatan TC yang aman dan efektif.

13

Kesimpulan Kita akan segera menyadari bahwa meskipun upaya terbaik telah dilakukan di tingkat kami, banyak masalah ini akan terus bertahan karena sumber masalahnya bukan hanya dari satu bagian saja. Untuk mengatasinya, intervensi harus multidimensi, yang melibatkan pendekatan politik, pendidikan dan hukum. Upaya ini mungkin harus selalu ditekankan oleh pimpinan Indian Associatin of Dermatologist, Venereologist and Leprologists di setiap forum yang tersedia. Para pemimpin politik dan pejabat pemerintah harus berulang kali diberitahu tentang situasi yang berlaku dan kebutuhan untuk mengatasi kerusakan ini. Penggunaan media untuk pendidikan publik tentang penyalahgunaan steroid topikal dibenarkan, dan keterlibatan dokter umum, perawat. dan apoteker diperlukan. Pendekatan hukum harus mencakup penegakan undangundang yang ada yang terkait dengan kontrol obat-obatan, sehingga TC tidak dijual tanpa resep yang tepat. Perusahaan farmasi harus memastikan pelabelan tepat pada produk TC yang harus mencakup sisipan yang mengandung jelas instruksi "finger tip unit", sebaiknya dengan gambar dan grafik untuk menunjukkan jumlah unit yang diperlukan untuk area tertentu dari tubuh. Hal ini sangat akan membantu dalam penggunaan optimal dan aman dari TC. Aspek hukum juga harus mencakup tindakan yang bertujuan memperkuat tanggung jawab etis dari apoteker, yaitu dengan menasihati pasien dengan benar tentang keamanan obat-obatan yang dibeli. Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan dan bekerja dengan baik, mudah-mudahan kita dapat menurunkan kejadian penyalahgunaan TC dan mendapatkan manfaat baik dari kelompok obat yang ajaib ini.

Mengoptimalkan penggunaan TC Meresepkan TC untuk penyakit kulit yang sesuai. Menggunakan potensi dan kekuatan TC yang sesuai untuk mencapai pengendalian penyakit. Menggunakan TC dengan potensi yang rendah atau mengurangi frekuensi aplikasi setelah mendapatkan respon yang memuaskan. Taperring off pengobatan setelah remisi lengkap penyakit kulit. Ekstra hati-hati ketika meresepkan steroid topikal pada area tertentu (misalnya skrotum, wajah, dan llipatan kulit). Melakukan pertimbangan ketika meresepkan TC kepada orang tua dan anak-anak. Waspada terhadap efek samping dan segera bertindak untuk mengatasinya bila terjadi.

14

Untuk menghindari pengenceran buatan TC dan meresepkan TC dalam kombinasi dengan antimikroba dan antijamur. Menghindari penggunaan TC untuk ruam yang tidak terdiagnosis, hal ini akan membuat kaburnya kemungkinan diagnosis yang benar di masa depan.

15