Anda di halaman 1dari 6

Component of Basic (Routine) Urinalysis

Specimen Evaluation
Yang perlu diperhatikan pada spesimen:
1. Proper labelling
3 essential labelling requirement: nama lengkap pasien, tanggal dan waktu
pengambilan spesimen
2. Proper specimen for requested examination
3. Proper preservation
Preservative use
Formalin Preserves formed elements
HCl Preserves for calcium and
phosphorous tests
Sodium Preserves porphyrins, urobilinogen
carbonate
Boric Acid Preserves creatinine, uric acid and
glucose
Refrigeration Barbiturates, drug abuse screen
and protein
4. Visible signs of contamination
5. Significant deterioration because of delayed transportation

Types of Urine Specimen


1. Random urine specimen -> periksa kehamilan
2. Fasting or first morning urine specimen -> best for routine analysis
3. Clean-catch urine specimen -> pemeriksaan mikrobiologi, menggunakan
midstream urine
4. Timed (12- or 24- hours )urine specimen -> cth: pengambilan urine 2jam sebelum
dan setelah makan untuk perbandingan

Gross / Physical Examination


Color
Warna kuring pada urine:
• Urochrome (meningkat saat fever, thyrotoxicosis, dan starvation)
• Sedikit urobilin
• Sedikit uroerythrin (pink pigment)

Red Urine
• Warna abnormal yang paling sering; merah atau merah kecoklatan
• Wanita -> bisa jadi karena menstrual flow
• Hematuria, hemoglobinuria, myoglobinuria -> pink, red, or red-brown
*Dapat dideteksi dengan mudah melaui reagent strip
• Porphyria:
− Congenital erythropoietic porphyria -> red
− Porphyria cutanea tarda -> red
− Lead porphyrinuria -> generally normal
− Acute intermittent hepatic porphyria -> normal, but darken on standing
• Penggunaan obat dan dye pada tes diagnostik, cth: phenolsulphonphthalein -> red
in alkaline
• Unstable Hb -> red-brown -> tidakn menunjukkan indikasi adanya Hb atau bilirubin
-> pigmen dipyrrole atau bilifuschin
• Memakan daging

Yellow-Brown or Green Brown Urine


• Biasanya diasosiasikan dengan pigment bile, terutama bilirubin.
• Bila spesiman urine yang mengandung bilirubin dikocock, akan terbentuk yellow
foam. Ini mebedakan bilirubin dengan normal, dark, concentrated urine yang bila
dikocok akan terbentuk white foam.
• Severe obstructive jaundice -> dark green urine

Orange-Red Or Orange-Brown Urine


• Urobilinogen yang diekskresi biasanya tidak berwarna, tapi berubah menjadi
urobilin yang berwarna dark yellow ke orange dengan adanya keberadaan cahay
dan pH yang rendah
• Urobilin tidak akan mewarnai foam bila dikocok (susah dibedakan dengan normal,
concentrated urine) -> reagent strip dilakukan untuk memastikan

Dark-Brown or Black Urine


• Acid urine yang mengandung hemoglobin -> darken karena pembentukan
methemoglobin
• Rhabdomyolysis dan pasien yang meminum L-dopa -> ‘cola-coloured urine’
• Homogentisic acid (alkaptonuria) dan melanin -> dark brown urine (langka). Warna
akan menjadi lebih cepat gelap bila dalam keadaan basa

Clarity (Character)
Normal -> clear
Turbid -> keruh
• Karena pengendapan crystal atau unpathologic salt (amorphous)
• Phospate, ammonium urate, dan carbonate dapat mengendap di alkaline urine,
tapi dapat larut kembali bila ditambahkan aceitic acid
• Uric acid, urate -> white, pink, atau orange-cloud di acid urine -> larut kembali
pada pemanasan 60⁰ C.
• Kontaminasi oleh powder atau antiseptic yang menjadi opaque dengan air
(phenols)
• Fistuluos connection antara colon atau rectum dengan bladder -> fecal material
pada urine

Cloudy -> keruh berawan


• Karena keberadaan berbagai elemen selular
• Leukosit -> white cloud (seperti keadaan karena fosfat), cloud tetap ada setelah
acidification
• Bacterial growth -> uniform opalescence
• Mucous dari lower urinary atau genital tract
• Blood clots
• Menstrual discharge

Chyluria -> urine mengandung cairan limfa


• Kerusakan pada aliran limfa atau rupture pada pembuluh limfa ke dalam renal
pelvis, ureter, bladder, atau urethra.
• Wuncheria bancrofti (filariasis) -> rare
• Abdominal lymph nide enlargement, tumor
• Warna urine tergantung pada jumlah cairan limfa -> from clear to opalescent or
milky
• Urine bisa saja ada chilomycrons pada top layer dan fibrin serta cell di bawahnya.
• Pseudchyluria -> parrafin-based vaginal cream

Lipiduria -> gumpalan lemak ada pada urine


• Nephrotic syndrome -> neural fat (triglyceride) and cholesterol
• Sustained skeletal trauma with fracture to major long bones or the pelvis
• Oily contaminant -> paraffin

Odor
• Normal -> faint, aromatic
• Extensive bacterial growth -> berbau ammonia dan bau busuk
• Ingestion of asparagus or thymol -> distinctive odor
• Acute renal failure -> lack of odor -> acute tubular necrosis
• Amino acid disorder:
− Isovaleric acidemia & glutiric acidemia -> sweaty feet
− Maple Syrup Urine Disease (MSUD) -> maple syrup
− Methionine malabsorption -> cabbage, hops
− Phenylketonuria -> mousy
− Trymethylaminuria -> rotten fish
− Tyrosinemia -> rancid

Urine Volume
Main determinant -> water intake
Normal (adult) -> 600-2000 mL (malam -> tidak melebihi 400 mL)
Children -> 3-4 kali lebih banyak daripada adult per kilogram berat badan
Increase in urine volume
• Lebih dari 2000 mL dalam 24 jam = polyuria
• Lebih dari 500 mL pada malam hari, spesific gravity < 1,018 = nocturia
• ↑ intake of water (polydipsia), konsumsi drug dengan diuretic effect (caffeine,
alcohol, thiazide) -> polyuria
• Intravenous solution
• Increased salt intake, high protein diet
• Keadaan patologis yang menyebabkan kehilangan cairan / pengeluaran urin
yangberlebihan:
− Defective hormonal regulation of volume homeostasis
Diabetes insipidus -> ADH -> thirst -> ↑ water intake -> urine up to 15 mL/day
− Defective renal salt/water absorption
o Administrasi agen diuretik
o Kelainan renal tubules
o Progressive chronic renal failure
o Osmotic diuresis
o Diabetes melitus with hyperglycemia

Decreases in urine volume


• Oligouria = ekskresi kurang dari 500mL/24jam
• Anuria = near complete supression of urine formation
• Penyebab acute renal failure:
− Prerenal
o Loss of intravascular volume -> shifting of intravascular fluid to extracellular
spaces
o Hemorrhage, dehydration (prolonged diarrhea, vomiting, excess sweating,
severe burns)
o Congestive heart failure, sepsis, anaphylaxis, renal artery embolic occlusion
-> ↓ renal blood flow
− Postrenal
o Longstanding obstruction of urinary tract -> bilateral hydronephrosis ->
↓urine flow, anuria
o Prostatis hyperplasia
o Carcinoma
o Bilateral ureteral obstruction (stones, clots, sloughed tissue)
o Pengendapan kristal di renal tubules saat urinary pH bersifat asam
− Renal parenchymal disease
o Various vascular disorder
o Acute glomerulonephritis
o Interstitial nephritis
o Acute Tubular Necrosis (ATN) -> krn renal ischemia -> heart failure /
hypotension

Specific Gravity and Osmolality


Specific gravity
• Specific gravity -> perbandingan relatif dari komponen solid yang terlarutkan
dengan total volume dari spesimen -> density of the specimen
• Specific gravity of normal urine : urea (20%), sodium chloride (25%), sulfat, fosfat
• Normal adult (adequate fluid intake) -> 1,016-1,022 per 24jam
• Kemampuan ginjal -> 1,003-1,035
• Kurang dari 1,007 -> hyposthenuric
• Pada diabetes insipidus, various renal abnormalities
• Measurement:
Indirect method
− Reagent Strip
o 3 main ingredients: polyelectrolyte, indicator substance, buffer
o Prinsip: perubahan pKa pada polyelectrolyte karena konsentrasi ion pada urin
− Refractometer
o Prinsip: sudut kritis. Indeks refraksi pada larutan berhubungan dengan
partikel terlarut. Index merupakan rasio antara kec.cahaya di air dan di
udara.
o Hanya butuh beberapa tetes urine
o Temperature-compensated hand-model: 60⁰-100⁰F
o Prosedur: (1) cek dahulu, harus terbaca 0 dengan air jernih (2) Bersihkan
cover dan prisma (3) Tutup cover (4) Pegang secara horizontaldan teteskan
setetes urin pada bagian bawah cover (5) Arahkan instrumen ke arah cahaya
(6) putar eyepiece samapai fokus (7) baca skalanya (8) ulangi dengan tetes
urin dari sample yang sama
Direct method
− Urinometer
o Harus dicek setiap hari
o Sample urine harus sesuai dengan temperature ruangan terlebih dahulu
sebelum pembacaa dilakukan
o Prosedur: (1) isi ¾ bak urinometer dengan urine (volume minimum=15mL)
(2) Masukkan urinometer (3) saat membaca, pastikan urinometer tidak
menyentuh bagian bawah atau samoing silinder (4) baca bagian bawah
meniskus
− Falling drop method
o Lebih akurat daripada refraktometer dan urinometer.
o Urine diteteskan pada sebuah kolom. Saat tetes jatuh, kan dikenai 2 cahaya.
Saat melewati cahaya pertama, membuat timer dimulai, lalu timer berhenti
saat tetes urine melewati cahya kedua. Waktu jatuh urine dihitung secara
otomatis, dan diekspresikan sebagai specific gravity.

Osmolality
• Osmolality -> banyaknya partikel solute per unit larutan
• Normal adult (normal fluid intake) -> 500-850 mOsm/kg water
• Kemampuan ginjal normal -> 800-1400 mOsm/kg water saat dehidrasi dan 40-80
mOsm/kg water saat water diuresis
• Metode -> freezing point method
Sumber:
Henry’s Clinical Diagnosis and Management by Laboratory Methods, 21st ed.