Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN TUTORIAL BLOK 12

Disusun Oleh: KELOMPOK 3

Anggota Kelompok: Fitri Heriyati Pratiwi Inne Fia Mariety Rabecca Beluta Ambarita Rizky Permata Sari Ayu Risky Fitriawan Clara Adelia Wijaya Johanes Lie Dwi Novia Putri M.Rizki Fitri Nurrahmi Khumaisiyah Arief Tri Wibowo 04111001003 04111001005 04111001007 04111001013 04111001018 04111001020 04111001038 04111001053 04111001061 04111001077 04111001094 04111001119

Tutor: dr.Delilah PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun haturkan kepada Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya laporan tutorial skenario A blok 12 ini dapat terselesaikan dengan baik. Laporan ini bertujuan untuk memaparkan hasil yang didapat dari proses belajar tutorial, yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Penyusun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak- pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan ini, mulai dari tutor pembimbing, anggota kelompok 12 tutorial, dan juga teman- teman lain yang sudah ikut membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Tak ada gading yang tak retak. Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik akan sangat bermanfaat bagi revisi yang senantiasa akan penyusun lakukan.

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul........................................................................................................ 1 Kata Pengantar ....................................................................................................... 2 Daftar Isi................................................................................................................. 3 I. Klarifikasi Istilah ................................................................................... 4 II. Identifikasi Masalah .............................................................................. 5 III. Analisis Masalah.................................................................................... 6 IV. Keterkaitan Antar Masalah ................................................................... 21 V. Learning Issue....................................................................................... 22 VI. Sintesis ................................................................................................. 23 VII. Kerangka Konsep ................................................................................ 51 VIII. Kesimpulan........................................................................................ 52 Daftar Pustaka ....53

SKENARIO A BLOK 12 : Seorang lelaki gendut (mild obesity) berusia 35 tahun ,sudah satu tahun mengalami disfungsi ereksi (DE).Penyuka makanan terolah sejak sekolah dasar ini terdiagnosis hipertensi ketika berumur 33 tahun . Mulai saat itu, dia secara rutin mengkonsumsi bukan hanya preparat antihipertensi (atenolol), tetapi juga diuretika(furosemide) serta obat pereduksi lemak darah (statin). Sebelum ketiga jenis obat itu dimakan ,kehidupan seksual bersama istrinya baik-baik saja . sementara ,pengganggu berlatar masalah psikososial bisa diabaikan. Riwayat pangan (makanan yang biasa disantap selama 3 bulan terakhir) Pagi:mie instan 2 bungkus dan kopi 1 gelas Snack pukul 10.00:crackers 2 porsi Makan siang; nasi dan ayam goring KFC 2 porsi, soft drink dua kaleng Snack pukul 16.00:dunkin donat dan 1 kaleng soft drink Makan malam:pizza (ukuran medium) ,satu kaleng soft drink. Tugas: Lakukan eksplorasi untuk mencari pelatar belakang DE ini.

I.

KLARIFIKASI ISTILAH :peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan rangka dan fisik yang masih bersifat ringan. :kekurangan tenaga,terutama tidak ada kekuatan bersenggama pada pria akibat kegagalan memulai ereksi. :tekanan darah yang tinggi lebih dari 120/80 mmHg :makanan yang dolah dari bahan baku ditambah atau tidak dengan tambahan makanan atau penolong bisa disebut juga makanan kemasan. :obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah. :diuretika yang dipakai dalam pengobatan edema yang berkaitan dengan gagal jantung kongestif ,atau penyakit hati atau ginjal atau juga pada pengobatan hipertensi. :obat yang digunakan untuk mengurangi lemak di darah. :berkenaan dengan baik psikis maupun sosial.
4

Mild obesity

Disfungsi ereksi

Hipertensi Makanan terolah

Atenolol Furosemide

Statin Psikososial

II.DENTIFIKASI MASALAH

kenyataan

kesesuian

konsen VVV

Seorang lelaki gendut (mild obesity) Tidak sesuai harapan berusia 35 tahun ,sudah satu tahun mengalami disfungsi ereksi (DE). Penyuka makanan terolah sejak Tidak sesuai harapan sekolah dasar ini terdiagnosis hipertensi ketika berumur 33 tahun . Mulai saat itu, dia secara rutin Tidak sesuai harapan mengkonsumsi bukan hanya preparat antihipertensi (atenolol), tetapi juga diuretika(furosemide) serta obat pereduksi lemak darah (statin).

VV

Sebelum ketiga jenis obat itu sesuai harapan dimakan ,kehidupan seksual bersama istrinya baik-baik saja . sementara ,pengganggu berlatar masalah psikososial bisa diabaikan.

Riwayat pangan (makanan yang Tidak sesuai harapan biasa disantap selama 3 bulan

VVVV

terakhir) Pagi:mie instan 2 bungkus dan kopi 1 gelas Snack pukul 10.00:crackers 2 porsi Makan siang; nasi dan ayam goring KFC 2 porsi, soft drink dua kaleng Snack pukul 16.00:dunkun donat dan 1 kaleng soft drink Makan malam:pizza (ukuran medium) ,satu kaleng soft drink.

III . ANALISIS MASALAH Masalah 1 Seorang lelaki gendut (mild obesity) berusia 35 tahun ,sudah satu tahun mengalami disfungsi ereksi (DE) 1. Apa saja klasifikasi obesitas? Klasifikasi berat badan lebih dengan obesitas berdasarkan IMT menurut WHO KLASIFIKASI berat badan kurang Kisaran normal Berat badan lebih Pre-obese Obese I Obese II Obese III IMT(kg/m2) <18,5 18,5-24,9 >25 25.0 29.9 30.0 34.9 35.0 39.9 > 40.0 Meningkat Sedang Berbahaya Sangat Berbahaya KATEGORI

Klasifikasi berat badan lebih dan obeitas berdasarkan IMT dan lingkar perut menurut kriteria Asia Pasifik Resiko ko-morbiditas Lingkar perut Klasifikasi IMT(kg/m2) <90 cm( laki-laki) <80 cm (perempuan) 23,0 23,0-24,9 25,0-29,9 30,0 Meningkat Moderate Berat Moderate Berat Sangat berat 90 cm (lakilaki) 80 cm (perempuan) Berat badan lebih *beresiko Obese I Obese II

Obesitas dapat dibagi menjadi beberapa derajat berdasarkan persen kelebihan lemak (Misnadiarly, 2007). Antara lain :
6

a. Mild obesity dikatakan mild obesity bila berat badan individu antara 20-30% di atas berat badan ideal. b. Moderate obesity Apabila berat badan individu antara 30-60% di atas berat badan ideal. c. Morbid Penderita-penderita obesitas yang berat badannya 60% atau lebih di atas berat badan ideal. Pada derajat ini risiko mengalami gangguan respirasi, gagal jantung, dan kematian mendadak meningkat dengan tajam.

2. Apa Penyebab disfungi ereksi? Disfungsi ereksi (DE) adalah bentuk gangguan fungsi seksual laki-laki yang sangat umum. Seorang pria yang mengalami disfungsi ereksi kesulitan menjaga ereksi penisnya pada setiap tahap hubungan seksual. Seorang pria dapat sesekali mengalami kesulitan mempertahankan ereksi. Bila dia secara konsisten mengalaminya sampai enam bulan atau lebih, barulah disebut memiliki DE. faktor penyebabnya dibagi menjadi penyebab psikogenik dan organik, tetapi belum tentu salah satu faktor tersebut menjadi penyebab tunggal DE.Yang termasuk penyebab organik adalah 1. penyakit kronik (misalnya aterosklerosis, diabetes dan penyakit jantung),

gangguan aliran darah ke penis salah satunya penyakit peyronie(terbentuknya jaringan parut pada penis) 2. Gangguan persarafan dapat menyebabkan masalah ereksi, keadaan yang dapat atau menghambat hantaran saraf ke penis antara lain

mengurangi

diabetes,stroke,cedera tulang belakang,pembedahan daerah panggul,dan kecanduan alkohol. 3. Gangguan hormonal merupakan penyebab lainnya dari impotensi. Keadaan

yang dapat menggangu keseimbangan hormon-hormon tubuh meliputi disfungsi testis (gangguan fungsi buah zakar),penyakit ginjal,liver,dan kecanduan alcohol. 4. obat-obatan, contoh antihipertensi (terutama diuretik thiazid dan penghambat

beta), antiaritmia (digoksin),antidepresan dan antipsikotik (terutama neuroleptik), antiandrogen, antihistamin II(simetidin), (alkohol atau heroin);

5.

Trauma pada daerah pelvis dan spinal cord dapat mengenai vena dan saraf

untuk ereksi. Operasi colon, prostat, blader, atau rectum dapat mengenai saraf dan pembuluh darah yang terlibat dalam proses ereksi. Operasi prostat dan kanker blader terkadang disertai dengan pengangkatan jaringan dan saraf sekitar tumor, sehingga meningkatkan angka kejadian DE. Radical cystectomy (for bladder cancer) dan prostatectomy (for prostate cancer) memerlukan pemotongan saraf yang mengontrol aliran darah. Saraf tersebut tidak mengontrol sensasi pada penis dan tidak bertanggung jawab terhadap organisme; tetapi mempengaruhi proses ereksi. 6. Kelemahan vena

Jika vena pada penis tidak dapat mencegah aliran darah meninggalkan penis selama ereksi, ereksi tidak dapat dipertahankan. Vena yang lemah dapat diakibatkan oleh trauma atau penyakit yang mengenai vena pada penis. 7. Radio terapi pelvis.Diantara sekian banyak penyebab organik, gangguan

vascular adalah penyebab yang paling umum dijumpai. 8. Pola makan yang tidak baik hingga menyebabkan hiperglikemia dan berakibat

pada suasana glucotoxicity. Pada kasus di atas, dapat diketahui bahwa lelaki ini memiliki pola diet yang tidak sehat sejak dia masih SD , Perilaku makan yang tidak baik, sepeti makan makanan terolah terlalu banyak akan mengakibatkan gendut yang bila dilakukan pengukuran akan menunjukkan keadaan hiperglikemia. Keadaan hiperglikemia yang berlangsung lama ,akan menyebabkan terjadinya suasana glucotoxocity(keracunan gula) yang akan merusak sel-sel endotel pembuluh darah. Kerusakan endotel akan membuka pelunag kolesterol untuk membentuk plaque, menurunkan produksi nitrit oxide(NO) , dimana NO ini merupakan vasodilator endogen yang dihasilkan oleh endotel pembuluh darah yang berfungsi mendilatasi endotel pembuluh darah salah satunya penis(corpus cavernosum), sehingga memungkinkan terjadinya ereksi. sedangkan faktor psikogenik meliputi depresi, stress.

3. Bagaimana Mekanisme disfungi ereksi? Ereksi penis terjadi bila aliran darah ke dalam korpus kavernosus dan spongiosus penis meningkat sebagai akibat vasodilatasi arteri uretral, arteri di dalam bulbus penis, dan arteri dorsalis penis sebagai akibat stimulasi psikogenik dan sensorik yang diteruskan ke sistem limbik. Stimulasi tersebut kemudian dikembalikan melalui
8

saraf otonom torakolumbal dan sacral sehingga terjadi pelepasan asetilkolin, peptida intestinal vasoaktif, dan endothelial cell-derived nitric oxide, yang mengaktifkan guanilil siklase dan mengakibatkan relaksasi otot-otot arteri dan sinusoid trabekula kavernosal. Setelah sinusoid terisi penuh, maka pleksus venosus subtunika akan tertekan oleh tunika albugenia, sehingga mencegah aliran darah balik dari penis. Kontraksi otot bulbokavernosus akan merangsang saraf pudendal sehingga tekanan intrakavernosal makin meningkat, sehingga penis semakin tehang dan kaku.

4. Hubungan antara usia dengan disfungsi ereksi, dan obesitas? Usia dan disfungsi ereksi Sekitar 40% pria mengalami beberapa gangguan DE pada usia 40 dibandingkan dengan 70% pria yang juga mengalami masalah yang sama pada usia 70. Persentase kenaikan DE berkisar antara 5% sampai 15% seiring dengan meningkatnya usia dari 40 sampai 70 tahun. Tapi ini tidak berarti menjadi tua adalah akhir dari kehidupan seks Anda. DE bisa diobati pada usia berapa pun. Testoteron total terdiri dari 60% testoteron terikat globulin (SHBG) 38% testoteron terikat

albumin 2% testoteron bebas.Seiring bertambahnya usia terjadi penurunan sistem reproduksi pria yang menyebabkan penurunan jumlah testoteron bebas dan availabilitasnya serta peningkatanan SHBG sehingga pembentukan DNA, mRNA dan protein juga menurun.Menurunnya testoteron bebas menjadi salah satu penyebab Disfungsi Ereksi. Disfungsi ereksi dengan obesitas Pria dengan berat badan berlebihan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi.Ini biasanya disebabkan oleh aterosklerosis yang ada kaitannya dengan hipertensi dan gangguan kardiovaskular.Berkembangnya

plak aterosklerotik pada arteri pria yang mengalami obesitas, dapat merusak dinding arteri.Ini bisa memberikan kontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Selain aterosklerosis, perubahan hormonal yang menyertai obesitas, termasuk testosteron yang lebih rendah, telah meningkatkan pula risiko disfungsi ereksi

Masalah 2 Penyukai makanan terolah sejak sekolah dasar ini terdiagnosis hipertensi ketika berumur 33 tahun 1. Apa saja jenis-jenis makanan terolah ? Makanan terolah adalah makanan yang diolah dari bahan baku ditambah atau tidak dengan bahan tambahan makanan dan/atau bahan enolong. Menurut Depkes RI (2011) ada 2 (dua) jenis bahan makanan, yaitu bahan makanan mentah dan bahan makanan terolah (olahan pabrik). 1. Bahan makanan mentah (segar) yaitu makanan yang perlu pengolahan sebelum dihidangkan seperti : a) Daging, susu, telor, ikan/udang, buah dan sayuran harus dalam keadaan baik, segar dan tidak rusak atau berubah bentuk, warna dan rasa, serta sebaiknya berasal dari tempat resmi yang diawasi. b) Jenis tepung dan biji-bijian harus dalam keadaan baik, tidak berubah warna, tidak bernoda dan tidak berjamur. c) Makanan fermentasi yaitu makanan yang diolah dengan bantuan mikroba seperti ragi atau cendawan, harus dalam keadaan baik, tercium aroma fermentasi, tidak berubah warna, aroma, rasa serta tidak bernoda dan tidak berjamur. 2. Makanan olahan pabrik yaitu makanan yang dapat langsung dimakan tetapi digunakan untuk proses pengolahan makanan lebih lanjut yaitu : 1) Makanan dikemas a. Mempunyai label dan merk b. Terdaftar dan mempunyai nomor daftar c. Kemasan tidak rusak/pecah atau kembung d. Belum kadaluwarsa e. Kemasan digunakan hanya untuk satu kali penggunaan 2) Makanan tidak dikemas a. Baru dan segar b. Tidak basi, busuk, rusak atau berjamur

c. Tidak mengandung bahan berbahaya

10

2. Bagaimana hubungan makanan terolah dengan hipertensi? Makanan terolah dan minuman ringan yang dikonsumsi terus menerus akan menyebabkan seseorang mengalami obesitas. Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, tubuhnya bekerja keras untuk membakar kelebihan kalori yang masuk. Pembakaran kalori ini memerlukan suplai oksigen dalam darah yang cukup. Semakin banyak kalori yang dibakar, semakin banyak pula pasokan oksigen dalam darah. Banyaknya pasokan darah tentu menjadikan jantung bekerja lebih keras. Dampaknya tekanan darah orang yang obesitas cenderung tinggi. (Widharto, 2007)

3. Mekanisme terjadinya hipertensi dikaitkan dengan skenario? Obesitas dapat menyebabkan pengakumulasian lemak pada sel-sel jantung yang dalam jumlah besar dapat memicu kerusakan sel-sel jantung serta mengganggu fungsi pemompaan darah oleh jantung. Kondisi ini berlanjut menjadi penurunan tekanan darah arteri yang merangsang sel-sel jukstaglomerulus ginjal mensintesis dan mensekresikan enzim renin. Renin bekerja secara enzimatik pada protein plasma lain, yaitu suatu globulin yang disebut bahan renin (atau angiotensinogen), untuk melepaskan peptida asam amino-10, yaitu angiotensin I. Angiotensin I memiliki sifat vasokonstriktor yang ringan tetapi tidak cukup untuk menyebabkan perubahan fungsional yang bermakna dalam fungsi sirkulasi. Renin menetap dalam darah selama 30 menit sampai 1 jam dan terus menyebabkan pembentukan angiotensin I selama sepanjang waktu tersebut (Guyton dan Hall, 1997). Dalam beberapa detik setelah pembentukan angiotensin I, terdapat dua asam amino tambahan yang memecah dari angiotensin untuk membentuk angiotensin II peptida asam amino-8. Perubahan ini hampir seluruhnya terjadi selama beberapa detik sementara darah mengalir melalui pembuluh kecil pada paru-paru, yang dikatalisis oleh suatu enzim, yaitu enzim pengubah, yang terdapat di endotelium pembuluh paru yang disebut Angiotensin Converting Enzyme (ACE). Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat, dan memiliki efek-efek lain yang juga mempengaruhi sirkulasi. Angiotensin II menetap dalam darah hanya selama 1 atau 2 menit karena angiotensin II secara cepat akan diinaktivasi oleh berbagai enzim darah dan jaringan yang secara bersama-sama disebut angiotensinase (Guyton dan Hall, 1997).
11

Selama angiotensin II ada dalam darah, maka angiotensin II mempunyai dua pengaruh utama yang dapat meningkatkan tekanan arteri. Pengaruh yang pertama, yaitu vasokontriksi, timbul dengan cepat. Vasokonstriksi terjadi terutama pada arteriol dan sedikit lebih lemah pada vena. Konstriksi pada arteriol akan meningkatkan tahanan perifer, akibatnya akan meningkatkan tekanan arteri. Konstriksi ringan pada vena-vena juga akan meningkatkan aliran balik darah vena ke jantung, sehingga membantu pompa jantung untuk melawan kenaikan tekanan (Guyton dan Hall, 1997). Cara utama kedua dimana angiotensin meningkatkan tekanan arteri adalah dengan bekerja pada ginjal untuk menurunkan eksresi garam dan air. Ketika tekanan darah atau volume darah dalam arteriola eferen turun ( kadang-kadang sebagai akibat dari penurunan asupan garam), enzim renin mengawali reaksi kimia yang mengubah protein plasma yang disebut angiotensinogen menjadi peptida yang disebut angiotensin II. Angiotensin II berfungsi sebagai hormon yang meningkatkan tekanan darah dan volume darah dalam beberapa cara. Sebagai contoh, angiotensin II menaikan tekanan dengan cara menyempitkan arteriola, menurunkan aliran darah ke banyak kapiler, termasuk kapiler ginjal. Angiotensin II merangsang tubula proksimal nefron untuk menyerap kembali NaCl dan air. Hal tersebut akan mengurangi jumlah garam dan air yang diekskresikan dalam urin dan akibatnya adalah peningkatan volume darah dan tekanan darah (Campbell, et al. 2004). Pengaruh lain angiotensin II adalah perangsangan kelenjar adrenal, yaitu organ yang terletak diatas ginjal, yang membebaskan hormon aldosteron. Hormon aldosteron bekerja pada tubula distal nefron, yang membuat tubula tersebut menyerap kembali lebih banyak ion natrium (Na+) dan air, serta meningkatkan volume dan tekanan darah (Campbell, et al. 2004). Hal tersebut akan memperlambat kenaikan volume cairan ekstraseluler yang kemudian meningkatkan tekanan arteri selama berjam-jam dan berhari-hari.

4. Adakah hubungan makan makanan terolah dengan disfungsi ereksi? Makanan yang kaya akan sodium seperti pada pizza dan mie instan dapat menyebabkan impotensi. Selain itu, makanan yang kaya akan natrium bisa meningkatkan tekanan darah yang kemudian dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular,natrium mengurangi aliran darah pada organ yang menyebabkan disfungsi ereksi. Makanan berminyak seperti pada KFC dapat meningkatkan risiko
12

kolesterol jahat yang tinggi sehingga dapat menyebabkan aterosklerosis. Jumlah kolesterol mempengaruhi aliran darah yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi Lemak jenuh ini dapat menyebabkan arteri tersumbat dan secara bertahap menyebabkan penyakit jantung dan disfungsi ereksi.

Masalah 3 Lelaki ini secara rutin mengkonsumsi bukan hanya preparat antihipertensi (atenolol), tetapi juga diuretika(furosemide) serta obat pereduksi lemak darah (statin). 1. Bagaimana hubungan obat anti hipertensi(atenolol) dengan DE? Obat antihipertensi memang berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah dan sebagian besar obat antihipertensi juga menyebabkan DE . obat yg menyebabkan disfungsi ereksi adalah ACE Inhibitor, alpha blocker, calcium channel blockers, dan Angiotensin receptor blockers. Tetapi pada kasus ini, obat antihipertensi yang digunakan adalah atenolol(Beta Blocker) jadi obat ini bekerja pada reseptor di jantung tidak pada pembuluh darah sehingga tidak berpengaruh pada DE. Obat-obatan antihipertensi yang bersifat Alpha Blockerlah yang langsung berhubungan dengan disfungsi ereksi karena bekerja pada pembuluh darah yang mempengaruhi supplai darah ke penis untuk terjadinya ereksi.

2. Bagaimana hubungan obat diuretika( furosemide) dengan DE? Obat hipertensi Diuretik bekerja dengan cara mengurangi dan

mempertahankan tekanan darah tetap rendah ketika darah mengalir ke penis. Hipertensi dapat menyebabkan stres dan kerusakan pada pembuluh darah kecil pada penis. Setelah diobati pembuluh darah tersebut menjadi lebih tebal dan lebih lambat untuk melebar ketika menanggapi rangsangan seksual yang terjadi.Obat hipertensi golongan diuretik dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi karena dapat menurunkan aliran darah termasuk ke penis. Obat hipertensi golongan ini juga dapat menyebabkan penurunan jumlah zink dalam tubuh, sedangkan zink diperlukan tubuh untuk pembentukan hormon testosteron.

3. Bagaiman hubungan statin dengan DE?

13

Kerja obat statin (HMG CoA reduktase inhibitor) pada umumnya menghambat konversi HMG CoA menjadi asam mevalonat pada biosintesa kolesterol dengan cara menghambat aktifitas enzim HMG CoA reduktase yaitu menurunkan sintesa

kolesterol total dan LDL dihati serta meningkatkan bersihan receptor mediated LDL cholesterol. Dalam scenario sudah jelas bahwa Tuan ini kadar kolesterolnya sangat tinggi. Hal ini juga sudah mempengaruhi disfungsi ereksi karena kolesterol tersebut menumpuk di dalam pembuluh darah (aterosklerosis) dan menyebabkan kacaunya arteri dan terbatasnya aliran darah atau pengisian darah ke korpus kavernosum. efek samping dari terapi statin ini bisa terjadi pada sistem reproduksi seperti libido berkurang dan disfungsi ereksi.

4. Mekanisme dan efek samping obat: a.antihipertensi(atenolol) Mekanisme kerja : terutama memblok reseptor adrenergik 1. Menurunkan frekuensi jantung dan curah jantung dan penurunan pelepasan rennin. Efek bronkokonstriksi kurang dibandng zat-zat yang berikatan dengan reseptor 2. Indikasi : terapi awal yang baik untuk hipertensi ringan sampai sedang.

Efek tak diinginkan : lebih jauh menekan gagal jantung, depresi dan sedasi SSP. b.diuretika(furosemide) Mekanisme Kerja : menghambat reabsorpsi klorida dalam pars asendens ansa henle tebal yang mengakibatkan ion kalium banyak hilang kedalam urin. Selain itu pada membran luminal dari jerat henle bagian asenden, furosemid akan menghambat suatu protein transpor spesifik seperti natrium, kalium dan klorida yang mengakibatkan absorpsi ion-ion tersebut akan berkurang. Hal ini tentunya akan mengganggu keseimbangan elektrolit yang beredar di dalam tubuh. (Hadyanto 2009)

Indikasi : Diuretik yang dipilih untuk pasien dengan GFR rendah dan kedaruratan hipertensi. Juga edema, edema paru dan untuk mengeluarkan banyak cairan. Kadangkala digunakan untuk menurunkan kadar kalium serum.

Efek tak diinginkan : Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi, hipotensi,hiperglikemia, hiperurisemia, hipokalsemia, ototoksisitas, alergi sulfonamide, hipomagnesemia, alkalosis hipokloremik, hipovolemia.
14

b.

obat pereduksi lemak darah ( statin )

Mekanisme: Statin mengurangi produksi kolesterol oleh hati dengan memblokir enzim yang bertanggung jawab untuk membuat kolesterol. Enzim ini disebut hydroxymethylglutaryl-coenzyme A reductase (HMG-CoA reductase) Statin bekerja terutama terhadap lipoprotein LDL. Inhibisi terhadap enzim HMG-koA reduktase akan menghambat langkah pertama dalam jalur mevalonat pada sintesis kolesterol. Statin juga dapat menurunkan trigliserida (melalui penghambatan sintesis trigliserida di hepar) serta menaikkan lipoprotein HDL (diduga melalui aktivasi PPAR, peroxisome proliferator-activated receptor); namun efeknya tidak terlalu menonjol dibandingkan penurunan LDL. Efek samping: Miopati, gangguan hati dan ginjal.

5. Bagaimana hubungan antar ketiga obat? Hubungan antara beta-blocker dengan diuretika (aldactone, spirolactone, aldazide, blopress, co-diovan, lasix, hct, letonal, hygroton), dimana dalam scenario ini beta-blocker yang dipakai adalah atenolol dan diuretika yang digunakan adalah lasix (ferusamid): Diuretika sering digunakan untuk terapi hipertensi. Tetapi kalau diuretika saja, tanpa dikombinasikan dengan obat jenis lain, maka hasil terapinya terbatas. Untuk mencapai hasil yang lebih baik maka sebaiknya dikombinasikan dengan antihipertensi lain. Percobaan di klinik menunjukan bahwa dengan mengombinasikan beta-blocker dengan diuretika diperoleh kerja antihipertensi yang lebih baik. Dalam hal ini peninggian plasma renin akibat pemberian diuretika akan dikurangi oleh beta-blocker.

6. Bagaimana pemberian dosis optimal untuk penderita obesitas? Bila seseorang yang gemuk atau sakit dan memerlukan pengobatan maka menentukan dosis obat untuk penderita yang obesitas itu kadang-kadang menjadi problem, oleh karena adanya deviasi yang besar dari komposisi tubuh dibanding dengan orang yang berat badannya normal. Problem yang ditimbulkan terutama disebabkan oleh adanya perbedaan antar obat dalam hal daya larut dalam lemak atau distribusi obat antar jaringan lemak dan air tubuh. Untuk obat-obat dengan daya larut dalam lemak kecil (antara lain digitoxin, gentamicin, kanamycin, streptomycin) dianjurkan untuk orang gemuk perhitungan
15

dosis obat didasarkan pada lean body mass atau berat badan tanpa lemak (BBTL). Sebaliknya untuk obat-obat yang daya larutnya dalam lemak besar (antara lain thiopental) maka perhitungan dosis hendaknya didasarkan pada berat badan nyata (BBN) dari penderita.

Kesulitan dapat timbul bila harus diberikan obat dengan daya larut dalam lemak kirakira menengah, maka dosis obat ini ialah antara dua keadaan ekstrem di atas. Yang dapat dilihat ialah diberikan suatu dosis percobaan, kemudian diadakan penyesuaian dosis regimen dengan memantau konsentrasi obat dalam plasma pada penderita.

Untuk obat-obat dengan daya larut kecil dalam lemak, maka BBTL diperhitungkan dalam tigatahap : Tahap pertama : kepadatan tubuh ditentukan Perhitungan BBTL dilakukan tiga tahap: .Tahap pertama, penentuan kepadatan tubuh dengan rumus: DB=1,02415-0,00169.BSF+0,00444.H-0,0013.ASF (g/ml) Tahap kedua, perhitungan prosentase lemak dengan rumus: Tahap ketiga : barat badan tanpa lemak (BBTL) dihitung dengan rumus : BBTL = BBN.(100-% lemak) Kg Keterangan: DB BSF ASF = Densitas (kepadatan) tubuh (g/ml) = Skinfold thickness on back (subscapular) (mm) = Abdominal skinfold thickness (mm)

BBTL = berat badan tanpa lemak BBN = berat badan nyata

Masalah 4 Riwayat pangan (makanan yang biasa disantap selama 3 bulan terakhir) Pagi:mie instan 2 bungkus dan kopi 1 gelas Snack pukul 10.00:crackers 2 porsi Makan siang; nasi dan ayam goring KFC 2 porsi, soft drink dua kaleng
16

Snack pukul 16.00:dunkun donat dan 1 kaleng soft drink Makan malam:pizza (ukuran medium) ,satu kaleng soft drink. 1. Bagaimana asupan gizi dan jumlah kalori satu hari pada tuan ini? Asupan gizi tuan ini sangat tidak sehat, karena tuan ini selama 3 bulan terakhir diketahui mengkonsumsi makanan olahan, sedangkan makanan olahan itu memiliki banyak dampak negative, antara lain : a. Biasanya tinggi kadar gula dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula dalam darah dan ketidakstabilan pasokan energy ke otak. b. Kaya pemanis buatan dapat dikaitakan dengan masalah perilaku. c. Biasanya sarat lemak jenuh terlalu banyak lemak jenuh dapat menghambat aliran darah yang mengedarkan sari makanan ke otak. d. Cenderung miskin vitamin dan mineral. e. Minuman ringan umumnya kaya fosfor penghambat penyerapan kalsium, yang sangat diperlukan oleh neurotransmitter di otak. f. Biasanya kaya zat tambahan pewarna, aroma, dan pengawet. g. Yang tinggi lemak, sodium dan gula, dapat menyebabkan obesitas dan berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes, penyakit jantung dan arthritis. pada kasus ini dimana tuan ini sedang mengonsumsi obat-obat antihipertensi, sangat diperlukan asupan tambahan beberapa elemen kelumit yang terdeplesi akibat penggunaan obat-obat tersebut, seperti fitonutrien CoeQ10, vitamin B6, magnesium, zink, kalium, kalsium, selenium, dan tembaga. Dan elemen-elemen ini dapat ditemukan dalam buah-buahan dan sayur-sayuran. Kalori direkomendasikan untuk wanita dewasa dapat berkisar dari 1500 - 2300 kalori. untuk pria dewasa dapat berkisar dari 1800 2500 kalori.

Jumlah kalori yang dimakan Tuan gendut ini Mie instan 460 kalori x2 Kopi 1 gelas Cracker 100 kalori x 2 Nasi putih = 242 kalori x 2 = 920 kalori = 75 kalori = 200 kalori = 484 kalori

Ayam goreng KFC = 338 kalori x 2 = 676 kalori


17

Softdrink Dunkin donat Pizza

= 120 kalori = 120 kalori = 300 kalori

Total kalori Tuan ini perhari adalah 2895 kalori berlebihan

2. Bagaimana pola diet yang baik dan benar dan asupan gizi yang benar? Dalam ilmu gizi ada dua yaitu bahan makanan dan zat makanan seperti zat gizi dan nutrient. Bahan makanan itu bahan yang kita beli,masak atau kita hidangkan sedanhkan zat makanan adalah satuan yang menyusun bahan makanan tersebut. Zat makanan dibedakan 3 k3lompok : Zat makanan penghasil tenaga (kalori,karbohidrat,lemak,protein) Zat makanan pembangun sel dan jaringan,yaitu protein Zat makanan pengatur vitamin,mineral,air

Disarankan 55-65% karbohidrat, 10-15% protein, 25-35% lemak. Golongan karbohidrat seperti nnasi,roti,jagung dan mie bihun. Protein ada 2 macam yaitu nabati seperti tahu,tempe dan kacang-kacangan. Sedangkan hewani yaitu daging,telur,dan susu. Selain mmikronutrient dan makronutrient kebutuhan serat yang dianjurkan per hari 25 gr atau 13gr/100 kalori makanan yang dikonsumsi. Kalori normal pada pria dewasa sekitar 1800-2500 sedangkan pada wanita sekitar 1500-2300. Tips Diet Sehat 1. Mengkonsumsi 5 porsi buah dan sayuran setiap hari..Buah dan sayur dapat dikonsumsi sebagai snack, di sela-sela makan pagi, makan siang, dan makan malam.Buah dapat dikonsumsi 2X dan sayur 3X 2. Makan 2 sampai 4 porsi makanan protein setiap hari.Makanan sumber protein: hewani (ikan, produk dairy: susu dan telor) dan nabati (produk soya, kacang-kacangan) 3. Makan paling sedikit 2 porsi ikan kaya omega 3 4. Kurangi konsumsi lemak, teristimewa lemak jenuh bersumber pada daging binatang a) Gantikan dengan pemakaian minyak zaitun (olive) b) Pakai minyak olive sebagai salad dressing, pengganti mayones c) Pilih daging atau ayam tanpa lemak 5. Kurangi konsumsi gula secara berlebihan
18

6. Pilih bahan karbohidrat kaya serat, seperti roti wholemeal dan sereal whole grain 7. Minum banyak air (1,75 liter sehari).sebanyak 6 sampai 8 gelas sehari (1,75 liter) 8. Konsumsi 2 porsi makanan produk dairy (susu & telor) dan yoghurt rendah lemak. 9. Kurangi pemakaian garam; hindari penggunaan garam meja 10. Kurangi konsumsi makanan cepat saji/ fast food sampai kurang dari seminggu sekali.Fast food mengandung banyak lemak jenuh dan hanya terdapat sedikit nutrisi penting, seperti serat, vitamin, dan mineral (terutama kalsium) 3. Bagimana kandungan dan dampak pola makan yang dikonsumsi setiap hari? Kopi: mengandung kafein, Selain kafein, kopi juga mengandung senyawa antioksidan dalam jumlah yang cukup banyak. Adanya antioksidan dapat membantu tubuh dalam menangkal efek dari senyawa radikal bebas, seperti kanker, diabetes, dan penurunan respon imun. Beberapa contoh senyawa antioksidan yang terdapat di dalam kopi adalah polifenol, flavonoid, proantosianidin, kumarin, asam klorogenat, dan tokoferol. Mie instan : Kandungan MSG dapat mengakibatkan : penyumbatan pada otak, saraf & pembuluh darah sehingga berpotesi menimbulkan penyakit sepertiAlzheimer, Multiple Sclerosis, Stroke, Parkinson, kanker, rambut sering rontok, kanker usus, batu ginjal, gagal ginjal, dsb.kandungan natriumnya yang tinggi, mengakibatkan : maag dan hipertensi.pewarna kuning (tartrazin) menyebabkan asthma, kanker dan penyakit lambung .beberapa bahan aditif seperti natrium polifosfat (berfungsi sebagai pengemulsi/penstabil), natrium karbonat dan kalium karbonat yang berfungsi sebagai pengatur asam. Soft drink: 1. 2. Air : komponen utama softdrink. CO2 : sama dengan gas buang pernafasan kita. Berguna untuk memperbaiki flavor minuman. Menghasilkan rasa masam yang enak dan rasa krenyeskrenyes dan menggelitik di kerongkongan. 3. Gula/pemanis Softdrink reguler : sukrosa (gula tebu), high fructose corn Softdrink diet : pemanis sintetis aspartam, sakarin atau siklamat.
19

: syrup.

4.

Kafein (terutama pada jenis cola dan coffee cream) : kadarnya cukup tinggi, membantu seseorang tetap terjaga / tidak mengantuk, jantung dapat berdegub kencang, sehingga tidak direkomendasikan bagi mereka yang hipertensi,

berpotensi serangan jantung koroner atau stroke 5. Zat pengawet : Umumnya softdrink diawetkan dengan sodium-benzoat, suatu bahan pengawet sintetis. Aman untuk bahan pangan namun ada batas

maksimal yang harus diperhatikan. 6. Zat pewarna : Ditemukan pada beberapa jenis softdrink, tidak terdapat pada softdrink jernih. Ada zat pewarna alamiah seperti karamel (pada softdrink cola) tetapi yang banyak digunakan adalah zat pewarna sintetis seperti : karmoisin dan tartrazin. 7. Flavor buatan : seperti rasa jeruk, rasa strawberry, rasa nanas dan sebagainya, merupakan flavor sintetik, bukan hasil ekstraksi buah-buahan. Dampak bagi tubuh yaitu Kadar gula yang tinggi akan meningkatkan penyakit kardiometabolik dan yang paling sering adalah diabetes mellitus, cardiovascular, selain itu juga menyebabkan asam urat. Asam urat yang berkepanjangan lama-lama akan merusak ginjal. Pizza: Mineral yang banyak terkandung pada pizza adalah kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, natrlum,seng,tembaga,dan mangan. Sementara vitamin yang cukup banyak terkandung pada pizza adalah vitamin A, C, B1, B2, B6, B12, niacin, dan asam folat.

20

IV.KETERKAITAN ANTAR MASALAH Pola makan yang tidak sehat

obesitas

Hipertensi

Mengkonsumsi obat antihipertensi(atenolol)

Obat diuretika(furose mide)

Obat pereduksi lemak darah(statin)

Disfungsi ereksi

21

V.LEARNING ISSUE Pokok Bahasan What I know What I dont know What I have to prove Disfungsi ereksi Definisi Penyebab,mekanisme . obesitas Definisi dan gambaran umum Klasifikasi,Tipe-tipe obesitas Hubungan obesitas dengan DE How will I learn

Hipertensi

Definisi

Patofisiologi, gejala,klasifikasi hipertensi

Hubungan hipertensi dengan DE

Farmakodinamik

Definisi

Farmakokinetik

Definisi

Internet, textbook, jurnal

Atenolol

Efek samping,mekanisme kerja,kontra indikasi

Hubungan atenolol dengan DE

Furosemide

Efek samping, mekanisme kerja, kontra indikasi

Hubungan furosemide dengan DE

Statin

Efek samping,mekanisme kerja,kontra indikasi Hubungan statin dengan DE


22

VI. SINTESIS DISFUNGSI EREKSI A. Definisi Disfungsi Ereksi (DE) atau erectile dysfunction adalah disfungsi sexual yang ditandai dengan ketidak mampuan mencapai dan mempertahankan ereksi untuk memenuhi kebutuhan seksual dirinya sendiri maupun pasangannya dalam waktu 6 bulan. Kebanyakan pria mengalami disfungsi ereksi pada usia 40 tahun.Yang dimaksud kemampuan, meliputi: lamanya waktu yang diperlukan untuk bisa ereksi, lebih banyaknya stimulasi (rangsangan) langsung untuk ereksi, kurang mantapnya (kurang keras) ereksi, kurang bisa mencapai puncak orgasme, sedikitnya jumlah ejakulasi, lebih lamanya waktu tenggat antar ereksi (waktu yang diperlukan dari ereksi pertama ke ereksi berikutnya lebih lama). B. Prevalensi DE & Kesadaran Berobat Sungguh tidak mudah mengetahui jumlah penderita DE. Suatu survei epidemilogi yang pertama dilakukan dengan melibatkan sekitar 1700 responden (Massachusetts Male Aging Study) menunjukkan 48 persen pria berumur 50 tahun menderita DE komplit. Angka tersebut meningkat dengan pesat dengan pria berumur 60 tahun mengalami DE komplit. Kekurangan survei ini adalah sebagian besar responden berkulit putih. Tahun 1999 dilakukan suatu survei yang sama di Malaysia. Ternyata angka yang didapat tidak jauh berbeda, 18 persen pria berumur 40-70 tahun mengalami DE komplit. Faktor risiko yang bermakna adalah diabetes dan merokok. Berdasarkan data National Institutes of Health, pada tahun 2002 diperkirakan 15 juta sampai dengan 30 juta pria di Amerika mengalami DE yang kronis. Sedangkan menurut National Ambulatory Medical care Survey (NAMCS) pada tahun 1999, hampir 22 pria dari 1000 pria di USA mengalami DE . Insidensi DE meningkat seiring dengan peningkatan usia. Sekitar 5 % dari pria usia 40 tahunan mengalami DE kronik dan 15-25%nya pada usia 65 tahun. Sedangkan DE transiens dan ereksi yang tidak adekuat dialami 50 % pria usia 40 dan 70 tahun. Di klinik Endokrin Penyakit Dalam FKUI, terdapat 42-52 persen penderita diabetes yang menderita DE dan terjadi pada umur yang lebih muda. Sedangkan 40-60 persen penderita hipertensi menderita DE yang disebabkan selain oleh kerusakan pembuluh darah juga karena obat penurun tekanan darah yang digunakan. Rata-rata umur 1500 penderita yang datang ke Klinik Impotensi
23

RSUPN Cipto Mangunkusumo selama 3 tahun terakhir adalah 55 tahun. Prevalensi DE yang didapat dari survei masyarakat jauh lebih banyak dibanding dengan jumlah penderita yang mencari pertolongan dokter. Bahkan di Amerika Serikat sekalipun diperkirakan hanya 5-9 persen penderita DE yang datang ke dokter. Bandingkan dengan penyakit kronis lain yang mencapai angka 60-90 persen. C. Anatomi Penis

Gambar 1. Anatomi Penis

Gambar 2. Anatomi Penampang Penis Penis memiliki 2 ruang/chambers yang disebut dengan corpora cavernosa (berisi jaringan spons/spongy tissue), yang berjalan sepanjang penis. Ruang ini dikelilingi sebuah membrane, yakni tunica albuginea. Spongy tissuemengandung otot polos, jaringan fibrous, spaces, vena, dan arteri. Urethra, yakni saluran untuk urin dan ejakulat, berjalan sepanjang sebelah bawah daricorpora cavernosa dan dikelilingi oleh corpus spongiosum. Bagian terpanjang penis adalah batang penis, yang pada ujungnya adalah kepala atau glans penis. Pada ujung glans terdapat meatus yang jika membuka memungkinkan keluarnya urin dan ejakulat. D. Fisiologi Ereksi Penis mendapatkan aliran darah dari arteri pudenda yang kemudian menjadi arteri penis komunis. Selanjutnya arteri ini bercabang menjadi arteri kavernosa atau arteri sentralis, arteri
24

dorsalis penis, dan arteri bulbo-uretralis. Arteri penis komunis ini melewati kanal dari alcock yang berdekatan dengan os pubis dan mudah mengalami cedera jika terjadi fraktur pelvis. Arteri sentralis memasuki rongga kavernosa kemudian bercabang menjadi arteriole helisin yang mengisi darah ke dalam sinusoid. Sedangkan darah vena dari sinusoid dialirkan melalui anyaman/pleksus yang terletak dibawah tunika albuginea. Anyaman ini bergabung membentuk venule emisaria dan menembus tunika albuginea ke vena dorsalis penis. Proses fisiologis ereksi dimulai rangsangan seksual yang menimbulkan peningkatan aktivis saraf parasimpatis yang mengakibatkan terjadinya dilatasi arteriole dan kontriksi venule sehingga inflow meningkat dan outflow menurun hal ini menyebabkan peningkatan volume darah dan ketegangan pada corpora sehingga penis ereksi. Persaraf penis terdiri atas sistem saraf otonomik dan somatic yang berpusat di nucleus intermediolateralis medulla spinalis pada segmen S2-4 dan Th12 - L2. Saraf ini memacu neurotransmiter untuk memulai proses ereksi serta mengakhirinya pada proses detumesensi.

Gambar 3. Fisiologi Ereksi Pada Laki-laki

Rangsangan seksual menyebabkan neuroefektor yang terdapat didalam korpus kavernosum (NANC) non adrenergic non kolinergik menyebabkan terlepasnya NO (nitrit oksida) yang selanjutnya mempengaruhi enzimguanilat siklase untuk merubah GTP ( guanil tri fosfat) menjadi siklik guanil mono fosfat (cGMP) hal ini menyebabkan kadar kalsium di dalam sel otot polos berkurang sehingga terjadi relaksasi otot polos kavernosum sehingga timbul ereksi sebaliknya jika cGMP dipecah oleh enzim fosfodiesterase 5 (PDE 5) menjadi GMP maka terjadi fase relaksasi (flaksiad) Secara garis besar ereksi terjadi melalui 2 mekanisme: I. refleks ereksi oleh sentuhan pada penis (ujung, batang dan sekitarnya). II. ereksi psikogenik karena rangsangan erotis.
25

Keduanya menstimulir sekresi nitric oxide yang memicu relaksasi otot polos batang penis (corpora cavernosa), sehingga aliran darah ke area tersebut meningkat dan terjadilah ereksi. Disamping itu, produksi testosteron (dari testis) yang memadai dan fungsi hipofise (pituitary gland) yang bagus, diperlukan untuk proses ereksi. Karenanya dapat dimengerti bahwa disfungsi ereksi berhubungan erat dengan faktor: hormonal, sistem saraf, aliran darah dan psikologis. Gangguan pada salah satu atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi.

Gambar 5. Arteri (atas) dan vena (bawah) penetrasi sepanjang, mengisi cavitas sepanjang penis corpora cavernosa and the corpus spongiosum. Ereksi terjadi ketika terjadi relaksasi otot sehingga corpora cavernosa terisi darah dari arteri, sementara aliran balik ke vena terblok.

E. Disfungsi Ereksi Dalam keadaan normal, ereksi biasanya terjadi saat tidur malam atau bangun pagi. Pada disfungsi ereksi, tanda-tandanya adalah sebagai berikut: o Tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi secara berulang ( paling tidak selama 6 bulan ) o Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten o Mampu ereksi hanya sesaat ( dalam referensi tidak disebutkan lamanya ) F. Etiologi Disfungsi Ereksi Disfungsi ereksi (DE) dapat disebabkan oleh karena faktor fisik dan psikologis. Penurunan aliran darah ke penis dan kerusakan saraf merupakan faktor fisik yang terbanyak. DE biasanya juga diasosiasikan dengan hal-hal sebagai berikut: 1. Vascular disease Diabetes

26

Arteriosklerosis menyebabkan pengerasan dan penyempitan arteri sehingga aliran darah menurun yang dapat menyebakan impotensi. Hal ini terkait dengan faktor usia, 50-60% DE terjadi pada pria di atas 60 tahun. Faktor resiko arteriosklerosis meliputi: Diabetes mellitus Tekanan darah tinggi Kolesterol tinggi Merokok, dikaitkan faktor-faktor tersebut, mungkin merupakan faktor resiko yang paling penting untuk terjadinya arteriosklerosis. Kadar gula darah tinggi yang kronis pada penderita diabetes mellitus dapat merusak pembuluh darah kecil dan saraf, sehingga terjadi gangguan saraf dan aliran darah yang menghambat proses ereksi, sekitar 60% pria dengan diabetes mellitus menderita DE. 2. Obat-obatan Lebih dari 200 obat-obatan dapat menyebabkan DE, termasuk obat anti hipertensi, obat jantung, antidepresan, tranquilizer, sedatif, antihistamines, appetite suppressants, dan cimetidine. Pemakaian alkohol yang lama juga dapat mengakibatkan gangguan vaskular and system saraf sehingga terjadi DE. 3. Gangguan Hormon Sekitar 5% dari DE disebabkan oleh gangguan hormon. Defisiensi testoteron, walaupun jarang terjadi, dapat menyebabkan penurunan libido dan gangguan ereksi. Pada kasus lain, peningkatan hormon prolaktin, yang disebabkan tumor glandula pituitary juga dapat menurunkan kadar testoteron. Gangguan hormon dapat pula dikarenakan penyakit ginjal atau liver. 4. Neurologis Trauma pada spinal dan otak (paraplegi, stroke) dapat menyebabkan DE dikarenakan adanya gangguan transfer impuls saraf dari otak ke penis. Gangguan saraf yang dapat menyebabkan DE, di antaranya adalah : multiple sclerosis (MS), Parkinson's disease, dan penyakitAlzheimer. 5. Trauma pelvic, operasi, terapi radiasi Trauma pada daerah pelvis dan spinal cord dapat mengenai vena dan saraf untuk ereksi. Operasi colon, prostat, blader, atau rectum dapat mengenai saraf dan pembuluh darah yang terlibat dalam proses ereksi. Operasi prostat dan kanker blader terkadang disertai dengan pengangkatan jaringan dan saraf sekitar tumor, sehingga meningkatkan angka kejadian DE.
27

Radical cystectomy (for bladder cancer) dan prostatectomy (for prostate cancer) memerlukan pemotongan saraf yang mengontrol aliran darah. Saraf tersebut tidak mengontrol sensasi pada penis dan tidak bertanggung jawab terhadap organisme; tetapi mempengaruhi proses ereksi. 6. Penyakit Peyronie Penyakit Peyronie merupakan suatu proses inflamasi yang mengakibatkan jaringan parut pada erectile tissue. 7. Kelemahan vena Jika vena pada penis tidak dapat mencegah aliran darah meninggalkan penis selama ereksi, ereksi tidak dapat dipertahankan. Vena yang lemah dapat diakibatkan oleh trauma atau penyakit yang mengenai vena pada penis. 8. Kondisi psikologis Depresi, rasa bersalah, kegundahan, stress dan anxietas dapat menyebabkan penurunan libido dan DE. Jika seorang pria pernah mengalami gangguan ereksi, dapat menimbulkan kecemasan akan terulangnya kembali gangguan tersebut. Hal ini dapat menimbulkan ansietas yang berhubungan dengan performa dan menimbulkan gangguan ereksi yang kronis. Faktor psikologis sering merupakan faktor yang memperparah kelainan fisik yang telah ada. G. Diagnosis Disfungsi Ereksi Diagnosis DE meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik dan penunjang lainnya. Pemeriksaan darah, urin, radiologi dan pemeriksaan prostat dapat mungkin bermanfaat demikian pula pemeriksaan fungsi penis. Untuk membantu indentifikasi kemungkinan disfungsi ereksi atau bukan dibuatkan indeks fungsi ereksi salah satunya adalah Indeks Internasional untuk fungsi ereksi ke 5 atau IIEF-5 (International indexs of erectile function-5). Indeks ini terdiri atas lima pertanyaan dan tiap pertanyaan diberi nilai dari 0 sampai 5, jika hasil jumlah dari 5 pertanyaan hasilnya kurang atau sama denga 21 menunjukkan adanya gejala disfungsi ereksi.

OBESITAS Obesitas dapat didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh. Penentu yang digunakan adalah indeks massa tubuh (IMT). Sedangkan Overweight adalah tahap sebelum dikatakan obesitas secara klinis (Guyton, 2007). Obesitas dikatakan terjadi kalau terdapat kelebihan berat badan 20% karena lemak para pria dan 25% pada wanita (Ganong,2002). Etiologi Faktor penyebab obesitas sangat kompleks. Kita tidak bisa hanya memandang dari satu sisi. Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama obesitas. Hal ini
28

didasari oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat dapat menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas. Oleh karena itu pada orang obese, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran energi melebihi asupan makanan, yang berimbas penurunan berat badan (Guyton, 2007). Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial. Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevalensi obesitas di negara maju. Sebab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran stress. Perilaku makan yang tidak baik pada masa kanak-kanak sehingga terjadi kelebihan nutrisi juga memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini didasarkan karena kecepatan pembentukan sel-sel lemak yang baru terutama meningkat pada tahun-tahun pertama kehidupan, dan makin besar kecepatan penyimpanan lemak, makin besar pula jumlah sel lemak. Oleh karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung mengakibatkan obesitas pada dewasanya nanti (Guyton, 2007). Dari segi neurogenik, dibuktikan bahwa lesi pada hipotalamus bagian ventromedial dapat menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan obese, serta terjadi perubahan yang nyata pada neurotransmiter di hipotalamus berupa peningkatan oreksigenik seperti NPY dan penurunan pembentukan zat anoreksigenik seperti leptin dan -MSH pada hewan obese yang dibatasi makannya (Guyton, 2007) . Input dari vagal juga terhitung penting, membawa informasi dari viseral, seperti peregangan dari usus (Flier et al, 2005). Faktor genetik obesitas dipercaya berperan menyebabkan kelainan satu atau lebih jaras yang mengatur pusat makan dan pengeluaran energi dan penyimpanan lemak serta defek monogenik seperti mutasi MCR-4, defisiensi leptin kogenital, dan mutasi reseptor leptin (Guyton, 2007). Dari segi hormonal terdapat leptin, insulin, kortisol, dan peptida usus. Leptin adalah sitokin yang menyerupai polipeptida yang dihasilkan oleh adiposit yang bekerja melalui aktifasi reseptor hipotalamus. Injeksi leptin akan mengakibatkan penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah anabolik hormon, insulin diketahui berhubungan langsung dalam penyimpanan dan penggunaan energi pada sel adiposa. Kortisol adalah glukokortikoid bekerja dalam mobilisasi asam lemak yang tersimpan pada trigiserida, hepatic glukoneogenesis, dan proteolisis (Wilborn et al, 2005). Peptida usus seperti ghrelin, peptida

29

YY, dan kolesistokinin yang dibuat di usus halus dan memberi sinyal ke otak secara langsung ke pusat pengatura hipotalamus dan/atau melalui nervus vagus (Flier et al, 2005). Faktor metabolit juga berperan dalam obesitas. Metabolit, termasuk glukosa, dapat mempengaruhi nafsu makan, yang mengakibatkan hipoglikemi yang akan menyebabkan rasa lapar. Akan tetapi, glukosa bukanlah pengatur utama nafsu makan (Flier et al, 2005). Semua faktor hormonal, metabolit, dan neurogenik yang tadi disebutkan diatas bekerja melalui ekspresi an pelepasan berbagai peptida hipotalamus seperti NPY, AgRP, alpha-MSH, an MCH yang terintegrasi dengan serotonergik, kotekolaminergik, endokannabinoid, dan jalur singnal opioid (Flier et al, 2005). Faktor terakhir penyebab obesitas adalah karena dampak/sindroma dari penyakit lain. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan obesitas adalah hypogonadism, Cushing syndrome, hypothyroidism, insulinoma, craniophryngioma, gangguan lain pada hipotalamus (Flier et al, 2005). Beberapa anggapan menyatakan bahwa berat badan seseorang diregulasi baik oleh endokrin dan komponenen neural. Berdasarkan anggapan itu maka disedikit saja kekacauan pada regulasi ini akan mempunyai efek pada berat badan (Flier et al, 2005). Pengukuran Antropometri sebagai Skreening Obesitas Menentukan lemak tubuh dapat digunakan berbagai cara seperti CT, MRI, Electrical inpedance densitometry, skin-flod thickenes, waist-to-hip ratio, IMT, dan Waist Circumference (Flier et al, 2005). Akan tetapi tak semua pengukuran tersebut mudah dan murah dilakukan. Oleh karena itu pengukuran IMT, waist-to-hip ratio, dan Waist Circumference yang lebih lazim dilakukan. 1.IMT IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tapi hasil riset telah menunjukan bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran lemak tubuh secara langsung. IMT adalah metode yang tidak mahal dan gampang untuk dilakukan untuk memberikan indikator atas lemak tubuh dan digunakan untuk screening berat badan yang bisa mengakibatkan problema kesehatan. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan kalkulasi angka dari berat dan tinggi badan seseorang. Nilai IMT didapatkan dari berat dalam kilogram dibagi dengan kuardrat dari tinggi dalam meter (kg/m2). Nilai dari IMT pada orang dewasa tidak bergantung pada umur maupun jenis kelamin. Tetapi, IMT mungkin tidak berkorenspondensi untuk derajat kegemukan pada

30

populasi yang berbeda, pada sebagian, dikarenakan perbedaan proporsi tubuh pada mereka (WHO, 2000). Menurut WHO (2000) dalam Sugondo (2006) berat badan dan Obesitas dapat diklasifikasikan berdasarkan IMT, yaitu : Tabel 2.1 Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas Berdasarkan IMT Menurut Kriteria Asia Pasifik Klasifikasi obesitas Klasifikasi Berat badan kurang Kisaran normal Berat badan lebih Beresiko Obese I Obese II IMT <18,5 18,5-22,9 >23,0 23,0-24,9 25,0-29,9 >30,0

Hubungan Obesitas dengan Tekanan Darah. Penyebab hipertensi pada obesitas adalah kompleks. Peningkatan tonus vascular dan garam serta air ginjal adalah penyebab utama hipertensi pada obesitas. Mekanisme yang mendasarinya termasuk hiperleptinemia, meningkatnya asam lemak bebas (FFA), hiperinsulinemia, dan insulin resisten, kesemuanya ini akan menyebabkan stimulasi dari saraf simpatis, meningkatnya tonus vascular, disfungsi endothelial, dan retensi sodium ginjal. Sebagai tambahan, meningkatnya aktivitas rennin-angiotensin-system (RAS), sebagai efek dari aktivasi simpatis dan bertambahnya sintesis jaringan adiposa, mengakibatkan meningkatnya retensi garam dan air ginjal (M. Wahba, 2007). TIPEOBESITAS 1.TipeObesitasBerdasarkanBentukTubuh a.TipeBuahApel(android) Pada pria obesitas umumnya menyimpan lemak di bawah kulit dinding perut dan di rongga perut sehingga gemuk diperut dan mempunyai bentuk tubuh seperti buah apel (apple type). Karena lemak banyak berkumpul dirongga perut, obesitas tipe buah apel disebut juga obesitas sentral, karena banyak terdapat pada laki-laki disebut juga sebagai obesitas tipe android. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe Gynoid, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh darah
31

dibandingkan dengan sel-sel lemak di tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, penyakit gallbladder, stroke, dan jenis kanker tertentu (payudara dan endometrium).

b.ObesitasTipeBuahPear(gynoid) Kelebihan lemak pada wanita disimpan dibawah kulit bagian daerah pinggul dan paha, sehingga tubuh berbentuk seperti buah pear (pear type). Karena lemak berkumpul dipinggir tubuh yaitu dipinggul dan paha, obesitas tipe buah pear disebut juga sebagai obesitas perifer dan karena banyak terdapat pada wanita disebut juga sebagai obesitas tipe perempuan atau obesitas tipe gynoid. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthritis dan varises vena (varicose veins).

c.BentukKotakBuah(ovid) Ciri dari tipe ini adalah besar di seluruh bagian badan. Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetic TipeObesitasBerdasarkanKeadaanSelLemak a.TipeHyperplastik Obesitas terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal, tetapi ukuran sel-selnya tidak bertambah besar. Obesitas ini biasa terjadi pada masaanak-anak. b.TipeHypertropik Obesitas terjadi karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan keadaan normal,tetapi jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal. Obesitas tipe ini terjadi pada usia dewasa, Upaya untuk menurunkan berat badan lebih mudah dibandingkan tipe hyperplastik. c.TipeHyperplastikDanHypertropik Obesitas terjadi karena jumlah dan ukuran sel lemak melebihi normal. Pembentukan sel lemak baru terjadi segera setelah derajat hypertropi mencapai maksimal dengan perantaraan suatu sinyal yang dikeluarkan oleh sel lemak yang mengalami hypertropik, obesitas ini dimulai pada anak-anak dan berlangsung terus sampai dewasa, upaya untuk menurunkan berat badan paling sulit dan resiko tinggi untuk terjadi komplikasi penyakit. Terapi Farmakologi Obesitas Obat anti obesitas umumnya anoreksan atau penekan nafsu makan golongan simpatomimetik dan pemberiannya sementara. Obat ini dapat menimbulkan toleransi dan lama-lama efek obat ini akan berkurang. Umumnya obat-obat ini merangsang SSP sehingga akan menyebabkan
32

adiksi. Obat ini sering bekerja dengan meningkatkan neurotransmitter anoreksigenik seperti NE, serotonin, dan dopamin.

Obat Antiobesitas Obat antiobesitas dapat dibagi menjadi golongan-golongan berikut:

Golongan nonadrenergik: amfetamin (tidak diizinkan), fentermin (meningkatkan

pelepasan NE saja), dietilpropion, dan mazindol.

Golongan serotonergik: fenfluramin (meningkatkan pelepasan serotonin dan

menginhibisi reuptake-nya) dan fluoksetin.

Campuran

noradrenergik

dan

serotonergik:

sibutramin

(menginhibisi reuptake serotonin dan NE).

Gastrointestinal lipase inhibitor: orlistat (menginhibisi lipase lambung dan pankreas).

Obat-obat antiobesitas yang dapat digunakan dan disetujui oleh FDA hanyalah yang memenuhi DEA schedule III dan IV. DEA schedule ialah penggolongan obat berdasarkan potensinya untuk menimbulkan ketergantungan. Semakin rendah nilainya maka semakin bahaya untuk disalahgunakan. Orlistat adalah yang paling aman digunakan karena tidak bekerja pada SSP, sedangkan sibutramin, dietilpropion, dan fentermin termasuk golongan IV yang berarti kemungkinan penyalahgunaannya lebih rendah. Sibutramin dapat digunakan untuk jangka panjang (lebih dari 6 bulan) karena kecenderungan penyalahgunaannya lebih kecil dan efek kerjanya akan hilang setelah 1 tahun. Berikut ini merupakan obat-obat antiobesitas yang dapat digunakan dan disetujui oleh FDA:

Nama Generik

Nama Dagang

DEA Schedule

Lama Penggunaan

Disetujui

Orlistat Sibutramin Dietilpropion Fentermin Fendimetrazin Benzfetamin

Xenical Meridia Tenuate

Tidak ada IV IV

Jangka panjang Jangka panjang Jangka pendek Jangka pendek Jangka pendek Jangka pendek

1999 1997 1973 1973 1961 1960

Adipex, Ionamin IV Bontril, Prelu-2 DIldrex III III


33

Sedangkan di bawah ini adalah merk dagang dari masing-masing obat antiobesitas yang beredar di Indonesia, antara lain:

Sibutramin: ReductilR, RedufastR Orlistat: XenicalR Dietilpropion: ApisateR Fenfluramin: PonderalR Mazindol: TeronacR Fentermin: MiraprontR

HIPERTENSI Pengertian Hipertensi Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps,2005). Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal. Tekanan darah normal adalah 110/90 mmHg. Hipertensi merupakan produk dari resistensi pembuluh darah perifer dan kardiak output (Wexler, 2002) Etiologi hipertensi Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Maka peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme. Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi (Astawan,2002) Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume

34

diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkatan preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik ( Amir,2002) Peningkatan Total Periperial Resistence yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan Total Periperial Resistence, jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah melintas pembuluh darah yang menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami hipertrifi (membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin meningkat sehingga ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai tegang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup.( Hayens, 2003 ) Klasifikasi Hipertensi Klasifikasi Hipertensi menurut WHO Kategori Optimal Normal Tingkat 1 (hipertensi ringan) Sub grup : perbatasan Tingkat 2 (hipertensi sedang) Tingkat 3 (hipertensi berat) Hipertensi sistol terisolasi Sub grup : perbatasan Patofisiologi hipertensi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca Sistol (mmHg) < 120 < 130 140-159 140-149 160-179 180 140 140-149 Diastol (mmHg) < 80 < 85 90-99 90-94 100-109 110 < 90 < 90

35

ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Corwin,2001) Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi ( Dekker, 1996 ) Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Corwin,2001). Tanda dan Gejala Hipertensi Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema pada diskus optikus). Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala bila ada menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azetoma [peningkatan nitrogen urea darah (BUN)
36

dan kreatinin]. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan (Wijayakusuma,2000 ). Crowin (2000: 359) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa :Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranial, penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi,Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat,Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus,Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler. Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal dan lain-lain (Wiryowidagdo,2002). Faktor-faktor Resiko Hipertensi Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan bertambahnya umur maka semakin tinggi mendapat resiko hipertensi. Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur (Julianti, 2005). Perbandingan antara pria dan wanita, ternyata wanita lebih banyak menderita hipertensi. Dari laporan sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 6% dari pria dan 11% pada wanita. Laporan dari Sumatra Barat menunjukan 18,6% pada pria dan 17,4% wanita. Di daerah perkotaan Semarang didapatkan 7,5% pada pria dan 10,9% pada wanita. Sedangkan di daerah perkotaan Jakarta didapatkan 14,6 pada pria dan 13,7% pada wanita (Gunawan, 2001). Riwayat keluarga juga merupakan masalah yang memicu masalah terjadinya hipertensi hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita memiliki riwayat hipertensi maka sepanjang hidup kita memiliki kemungkinan 25% terkena hipertensi ( Astawan,2002 ) Garam dapur merupakan faktor yang sangat dalam patogenesis hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan hipertensi yang rendah jika asupan garam antara 5-15 gram perhari, prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%. Pengaruh
37

asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadai melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah (Basha, 2004). Garam mengandung 40% sodium dan 60% klorida. Orang-orang peka sodium lebih mudah meningkat sodium, yang menimbulkan retensi cairan dan peningkatan tekanan darah (Sheps, 2000). Garam berhubungan erat dengan terjadinya tekanan darah tinggi gangguan pembuluh darah ini hampir tidak ditemui pada suku pedalaman yang asupan garamnya rendah. Jika asupan garam kurang dari 3 gram sehari prevalensi hipertensi presentasinya rendah, tetapi jika asupan garam 5-15 gram perhari, akan meningkat prevalensinya 15-20% (Wiryowidagdo, 2004). Garam mempunyai sifat menahan air. Mengkonsumsi garam lebih atau makanmakanan yang diasinkan dengan sendirinya akan menaikan tekanan darah. Hindari pemakaian garam yang berkebih atau makanan yang diasinkan. Hal ini tidak berarti menghentikan pemakaian garam sama sekali dalan makanan. Sebaliknya jumlah garam yang dikonsumsi batasi (Wijayakusuma, 2000). Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat diubah, adapun hubungan merokok dengan hipertensi adalah nikotin akan menyebabkan peningkatan tekanan darah karena nikotin akan diserap pembulu darah kecil dalam paru-paru dan diedarkan oleh pembuluh darah hingga ke otak, otak akan bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas efinefrin (Adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembulu darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi.Selain itu, karbon monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah. Hal ini akan menagakibatkan tekana darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup kedalam orga dan jaringan tubuh ( Astawan, 2002 ). Aktivitas sangat mempengaruhiterjadinya hipertensi, dimana pada orang yang kurang aktvitas akan cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tingi sehingga otot jantung akan harus bekerja lebih keras pada tiap kontraksi.Makin keras dan sering otot jantung memompa maka makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri ( Amir, 2002 ). Stress juga sangat erat merupakan masalah yang memicu dimana hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal
38

ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota (Dunitz, 2001). Perawatan Penderita Hipertensi di Rumah Perawatan penderita hipertensi pada umumnya dilakukan oleh keluarga dengan memperhatikan pola hidup dan menjaga psikis dari anggota keluarga yang menderita hipertensi. Pengaturan pola hidup sehat sangat penting pada klien hipertensi guna untuk mengurangai efek buruk dari pada hipertensi. Adapun cakupan pola hidup antara lain berhenti merokok, mengurangi kelebihan berat badan, menghindari alkohol, modifikasi diet. Dan yang mencakup psikis antara lain mengurangi sres, olahraga, dan istirahat (Amir, 2002 ) Merokok sangat besar perananya meningkatkan tekanan darah, hal ini disebabkan oleh nikotin yag terdapat didalam rokok yang memicu hormon adrenalin yang menyebabkan tekana darah meningkat. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah di dalam paru dan diedarkan keseluruh aliran darah lainnya sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan kerja jantung semakin meningkat untuk memompa darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah yang sempit. Dengan berhenti merokok tekanan darah akan turun secara perlahan , di samping itu jika masih merokok maka obat yang dikonsumsi tidak akan bekerja secar optimal dan dengan berhenti merokok efektifitas obat akan meningkat ( Santoso, 2001 ). Mengurangi berat badan juga menurunkan resiko diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker .Secara umum, semakin berat tubuh semakin tinggi tekanan darah, jika menerapkan pola makan seimbang maka dapat mengurangi berat badan dan menurunkan tekanan darah dengan cara yang terkontrol . Alkohol dalam darah merangsang adrenalin dan hormone hormon lain yang membuat pembuluh darah menyempit atau menyebabkan penumpukan natrium dan air. Minum-minuman yang beralkohol yang berlebih juga dapat menyebabkan kekurangan gizi yaitu penurunan kadar kalsium Mengurangi alkohol dapat menurunkan tekanan sistolik 10 mmhg dan diastolik 7 mmhg. Modifikasi diet atau pengaturan diet sangat penting pada klien hipertensi, tujuan utama dari pengaturan diet hipertensi adalah mengatur tentang makanan sehat yang dapat mengontrol tekanan darah tinggi dan mengurangi penyakiit kardiovaskuler. Secara garis besar, ada empat macam diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan keadaan tekana darah , yakni : diet rendah garam , diet rendah kolestrol, lemak terbatas serta tinggi serat, dan rendah kalori bila kelebihan berat baadan ( Astawan,2002 ).

39

Diet rendah garam diberikan kepada pasien dengan edema atau asites serta hipertensi. Tujuan diet rendah garam adalah untuk menurunkan tekanan darah dan untuk mencegah edema dan penyakit jantung ( lemah jantung ). Adapun yang disebut rendah garam bukan hanya membatasi konsumsi garam dapur tetapi mengkonsumsi makanan rendah sodium atau natrium ( Na).Oleh karena itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan diet rendah garam adalah komposisi makanan yang harus mengandung cukup zat zat gizi, baik kalori, protein, mineral maupun vitamin dan rendah sodium dan natrium ( Gunawan, 2001). Sumber sodium antara lain makanan yang mengandung soda kue, baking powder,MSG( Mono Sodium Glutamat ), pengawet makanan atau natrium benzoat (Biasanya terdapat didalam saos, kecap, selai, jelly ), makanan yang dibuat dari mentega serta obat yang mengandung natrium ( obat sakit kepala ). Bagi penderita hipertensi, biasakan dengan dokter terlebih dahulu. ( Hayens, 2003 ). Diet rendah kolestrol dan lemak terbatas. Di dalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu : kolestrol, trigeserida, dan pospolipid.Tubuh memperoleh kolestrol dari makanan sehari hari dan dari hasil sintesis dalam hati. Kolestrol dapat berbahaya jika dikonsumsi lebih banyak dari pada yang dibutuhkan oleh tubuh, peningkatan kolestrol dapat terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kolestrol tinggi dan tubuh akan mengkonsumsi sekitar 25 50 % dari setiap makanan ( Amir, 2002 ). Diet tinggi serat sangat penting pada penderita hipertensi, serat terdiri dari dua jenis yaitu serat kasar ( Crude fiber ) dan serat kasar banyak terdapat pada sayuran dan buah buahan, sedangkan serat makanan terdapat pada makanan karbohidrat yaitu : kentang, beras, singkong dan kacang hijau. Serat kasar dapat berfungsi mencegah penyakit tekanan darah tinggi karena serat kasar mampu mengikat kolestrol maupun asam empedu dan selanjutnya membuang bersama kotoran. Keadaan ini dapat dicapai jika makanan yang dikonsumsi mengandung serat kasar yang cukup tinggi ( Mayo, 2005 ). Diet rendah kalori dianjurkan bagi orang yang kelebihan berat badan.Kelebihan berat badan atau obesitas akan berisiko tinggi terkena hipertensi. Demikian juga dengan orang yang berusia 40 tahun mudah terkena hipertensi. Dalam perencanaan diet, perlu diperhatikan hal hal berikut : 1. Asupan kalori dikurangi sekitar 25% dari kebutuhan energi atau 500 kalori untuk penurunan 500 gram atau 0.5 kg berat badan per minggu. 2. Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi. 3. Perlu dilakukan aktifitas olah raga ringan.
40

Stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap, tetapi stress berat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah yang nersifat sementara yang sangat tinggi. Jika periode stress sering terjadi maka akan mengalami kerusakan pada pembuluh darah, jantung dan ginjal sama halnya seperti yang menetap ( Amir,2002). Manfaat olah raga yang sering di sebut olah raga isotonik seperti jalan kaki, jogging, berenang dan bersepeda sangat mampu meredam hipertensi. Pada olah raga isotonic mampu menyusutkan hormone noradrenalin dan hormone hormone lain penyebab naiknya tekanan darah. Hindari olah raga Isometrik seperti angkat beban, karena justru dapat menaikkan tekanan darah ( Mayer,1980). Istirahat merupakan suatu kesempatan untuk memperoleh energi sel dalam tubuh,istirahat dapat dilakukan dengan meluangkan waktu. Meluangkan waktu tidak berarti minta istirahat lebih banyak dari pada bekerja produktif samapai melebihi

kepatuhan.Meluangkan waku istiraha itu perlu dilakukan secara rutin diantara ketegangan jam sibuk bekerja sehari hari. Bersantai juga bukan berarti melakukan rekreasi yang melelahkan,tetapi yang dimaksudkan dengan istirahat adalah usaha untuk mengembalikan stamina tubuh dan mengembalikan keseimbangan hormon dan dalam tubuh ( Amir,2002). Interaksi obat dengan makanan Kafein dapat menimbulkan ancaman kesehatan yang serius jika diminum dengan stimulan. Hindari meminum secangkir kopi saat sedang mengonsumsi efedrin (penekan nafsu makan), obat asma dan amfetamin. Beri jarak 2-3 jam setelah minum obat, baru minum kopi. Minuman isotonik Kalium dalam minuman ini dapat berbahaya bila digabungkan dengan obat untuk penyakit gagal jantung atau obat-obatan hipertensi. Hindari pisang juga, karena pisang juga sangat kaya akan kalium.

Banyak orang mengetahui jika kafein biasa terdapat dalam kopi atau minuman berenergi. Padahal tidak hanya disitu, zat kafein juga banyak ditemukan dalam kandungan teh, khususnya teh hijau. Makanya agar tidak salah , hindarilah minum kopi atau teh ketika meminum obat. Menurut pakar kesihatan, kafein berbahaya jika diminum dengan obat yang mengandung stimulah. Biasakan untuk tidak meminum minuman berkafein saat memakn pil penekan nafsu makan atau diet, obat asma atau amfetamin. Jika seorang penggila kafein, tunggu 2 hingga 3 jam setelah meminum obat.

41

Interaksi obat dengan makanan tertentu yang dimakan dapat mempengaruhi fungsi obat yang diminum sehingga obat tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Interaksi ini dapat menyebabkan efek yang berbeda-beda, dari mulai peningkatan atau penurunan efektivitas obat sampai efek samping.

Jenis makanan atau minuman tertentu juga dapat menunda, mengurangi atau meningkatkan penyerapan obat.

Itulah sebabnya mengapa beberapa obat harus diminum pada waktu perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan) dan beberapa obat lain sebaiknya diambil bersamaan dengan makanan. Sebagai contoh, kafein seperti yang terkandung di kopidapat meningkatkan risiko overdosis antibiotik tertentu (enoxacin, ciprofloxacin, norfloksasin).

Maka, untuk menghindari keluhan palpitasi, tremor, berkeringat atau halusinasi, yang terbaik adalah, menghindari minum kopi, teh atau soda pada masa pengobatan. Obat oral harus diserap dari saluran pencernaan hingga bisa masuk ke dalam aliran darah lalu dikirim ke daerah yang sakit atau mengalami infeksi untuk pengobatan.

Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap obat dengan baik, termasuk keasaman relatif di perut, ada atau tidaknya nutrisi lemak atau nutrisi lainnya, serta apakah ada unsur-unsur tertentu di dalam tubuh seperti kalsium.

Minum obat sebaiknya juga tidak menggunakan susu, karena beberapa obat seperti keluarga antibiotik yang mengandung tetrasiklik akan bereaksi dengan susu. Kalsium yang terdapat dalam susu akan mengikat obat atau antibiotik sehingga mencegah penyerapan obat tersebut di dalam tubuh.

Minuman lainnya seperti kopi, teh atau jus umumnya mengandung berbagai senyawa seperti kafein yang kemungkinan bisa bereaksi dengan obat yang dikonsumsi sehingga mempengaruhi penyerapannya. FARMAKODINAMIK Farmakodinamik adalah ilmu yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Selanjutnya akan kita bicarakan lebih mendalam tentang

farmakodinamik obat.

42

Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat adalah: 1. Meneliti efek utama obat 2. Mengetahui interaksi obat dengan sel 3. Mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi

Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimia dan fisiologi yang merupakan respons yang khas untuk obat tersebut.

Reseptor Obat Reseptor adalah makromolekul ((biopolimer)khas atau bagiannya dalam organisme yakni tempat aktif obat terikat. Komponen yang paling penting dalam reseptor obat adalah protein. struktur kimia suatu obat berhubungan erat dengan affinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas intrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat dapat menimbulkan perubahan yang besar

Interaksi Obat - Reseptor persyaratan untuk obat - reseptor adalah pembentukan kompleks obat reseptor. apakah kompleks ini terbentuk dan seberapa besar terbentuknya tergantung pada affinitas obat terhadap reseptor. kemampuan obat untuk menimbulkan suatu rangsang dan membentuk kompleks dengan reseptor disebut aktivitas intrinsik. Agonis adalah obat yang memilki baik afinitas dan aktivitas intrinsik. Pada teori reseptor obat sering dikemukakan bahwa efek obat hanya dapat terjadi bila terjadi interaksi molekul obat dengan reseptornya. Lebih mudahnya dirumuskan seperti ini. Obat (O) + Reseptor (R) --> Kompleks obat reseptor (OR) ---> Efek

Efek Terapeutik Tidak semua obat bersifat betul-betul menyembuhkan penyakit, beberapa obat memang dibuat hanya untuk meniadakan atau meringankan gejala suatu penyakit. Berikut ini adalah tiga jenis terapi obat:

Terapi Kausal, obat yang berfungsi untuk memusnahkan penyebab penyakit, obat inilah yang digunakan untuk menyembuhkan penderita dari penyakit. contoh obat dengan terapi kausal adalah antibiotik, anti malaria dan lain-lain.
43

Terapi simptomatis, obat ini berguna untuk meringankan gejala dari suatu penyakit. contoh obat jenis ini adalah analgesik, antipiritik, anti emetik dan sebagainya.

Terapi subtitusi, obat yang digunakan untuk mengantikan zat yang lazim diproduksi oleh tubuh.

FARMAKOKINETIK Farmakokinetik adalah proses pergerakan obat untuk mencapai kerja obat ataunasib obat dalam tubuh. Empat proses yang termasuk di dalamnya adalah: absorpsi,distribusi, metabolisme (atau biotransformasi), dan ekskresi (atau eliminasi). Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari saluran gastrointestinalke dalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif, absorpsi aktif, atau pinositosis.Kebanyakan obat oral diabsorpsi di usus halus melalui kerja permukaan vili mukosayang luas. Jika sebagain dari vili ini berkurang, karena pengangkatan sebagian dariusus halus, maka absorpsi juga berkurang. Obat-obat yang mempunyai dasar protein,seperti insulin dan hormon pertumbuhan, dirusak di dalam usus halus oleh enzim-enzim pencernaan. Absorpsi pasif umumnya terjadi melalui difusi (pergerakan darikonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah). Dengan proses difusi, obat tidak memerlukan energi untuk menembus membran. Absorpsi aktif membutuhkan karier (pembawa) untuk bergerak melawan perbedaan konsentrasi. Sebuah enzim atau protein dapat membawa obat-obat menembus membran. Pinositosis berarti membawaobat menembus membran dengan proses menelanMembran gastrointestinal terutama terdiri dari lipid (lemak) dan protein,sehingga obat-obat yang larut dalam lemak cepat menembus membrangastrointestinal. Obat-obat yang larut dalam air membutuhkan karier, baik berupaenzim maupun protein, untuk melalui membran. Partikelpartikel besar menembusmembran jika telah menjadi tidak bermuatan (nonionized, tidak bermuatan positif atau negatif). Obat-obat asam lemah, seperti aspirin, menjadi kurang bermuatan didalam lambung, dan aspirin melewati lambung dengan mudah dan cepat. Asamhidroklorida merusak beberapa obat, seperti penisilin G; oleh karena itu, penisilin oral diperlukan dalam dosis besar karena sebagian hilang akibat cairan lambung. Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah, rasa nyeri, stres, kelaparan,makanan dan pH. Sirkulasi yang buruk akibat syok, obat-obat vasokonstriktor, atau penyakit yang merintangi absorpsi. Rasa nyeri, stres, dan makanan yang padat, pedas,dan berlemak dapat
44

memperlambat masa pengosongan lambung, sehingga obat lebihlama berada di dalam lambung. Latihan dapat mengurangi aliran darah denganmengalihkan darah lebih banyak mengalir ke otot, sehingga menurunkan sirkulasi kesaluran gastrointestinal.Obat-obat yang diberikan secara intramuskular dapat diabsorpsi lebih cepat diotot-otot yang memiliki lebih banyak pembuluh darah, seperti deltoid, daripada otot-otot yang memiliki lebih sedikit pembuluh darah, sehingga absorpsi lebih lambat pada jaringan yang demikian. Beberapa obat tidak langsung masuk ke dalam sirkulasisistemik setelah absorpsi tetapi melewati lumen usus masuk ke dalam hati, melaluivena porta. Di dalam hati, kebanyakan obat dimetabolisasi menjadi bentuk yang tidak aktif untuk diekskresikan, sehingga mengurangi jumlah obat yang aktif Proses ini dimana obat melewati hati terlebih dahulu disebut sebagai efek first-pass, atau first- pass hepatik. Contoh-contoh obat-obat dengan metabolisme first-pass adalahwarfarin (Coumadin) dan morfm. Lidokain dan nitrogliserin tidak diberikan secaraoral, karena kedua obat ini mengalami metabolisme first-pass yang luas, sehinggasebagian besar dar dosis yang diberikan akan dihancurkan. Distribusi adalah proses di mana obat menjadi berada dalam cairan tubuh dan jaringan tubuh. Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah, afinitas (kekuatan penggabungan) terhadap jaringan,dan efek pengikatan dengan protein.Ketika obat didistribusi di dalam plasma, kebanyakan berikatan dengan protein (terutama albumin) dalam derajat (persentase) yang berbeda-beda. Obat-Obatyang lebih besar dari 80% berikatan dengan protein dikenal sebagai obat-obat yang berikatan dengan tinggi protein. Salah satu contoh obat yang berikatan tinggi dengan protein adalah diazepam (Valium): yaitu 98% berikatan dengan protein. Aspirin 49% berikatan dengan protein clan termasuk obat yang berikatan sedang dengan

protein.Bagian obat yang berikatan bersifat inaktif, dan bagian obat selebihnya yang tidak berikatan dapat bekerja bebas. Hanya obat-obat yang bebas atau yang tidak berikatandengan protein yang bersifat aktif dan dapat menimbulkan respons farmakologik. Dengan menurunnya kadar obat bebas dalam jaringan, maka lebih banyak obat yang berada dalam ikatan dibebaskan dari ikatannya dengan protein untuk

menjagakeseimbangan dari obat yang dalam bentuk bebas.Jika ada dua obat yang berikatan tinggi dengan protein diberikan bersama-sama maka terjadi persaingan untuk mendapatkan tempat pengikatan dengan protein,sehingga lebih banyak obat bebas yang dilepaskan ke dalam sirkulasi. Demikian pula, kadar protein yang rendah menurunkan jumlah tempat pengikatan dengan protein, sehingga meningkatkan jumlah obat bebas dalam plasma. Dengan
45

demikiandalam hal ini dapat terjadi kelebihan dosis, karena dosis obat yang diresepkan dibuat berdasarkan persentase di mana obat itu berikatan dengan protein.Jadi penting sekah untuk memeriksa persentase pengikatan dengan protein darisemua obat-obat yang diberikan kepada klien untuk menghindari kemungkinantoksisitas obat. Seorang perawat juga harus memeriksa kadar protein plasma danalbumin plasma klien karena penurunan protein (albumin) plasma akan menurunkantempat pengikatan dengan protein, sehingga

memungkinkan lebih banyak obat bebasdalam sirkulasi. Tergantung dari obat (obat-obat) yang diberikan, akibat dari hal inidapat mengancam nyawa.Abses, eksudat, kelenjar dan tumor juga mengganggu distribusi obat.Antibiotika tidak dapat didistribusi dengan baik pada tempat abses dan eksudat.Selain itu, beberapa obat dapat menumpuk dalam jaringan tertentu, seperti lemak,tulang, hati, mata, dan otot. Ekskresi, atau Eliminasi, Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, ruterute lain meliputiempedu, feses, paru-paru, saliva, keringat, dan air susu ibu. Obat bebas, yang tidak berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal.Obat-obat yang berikatan dengan protein tidak dapat difiltrasi oleh ginjal. Sekali obatdilepaskan ikatannya dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akandiekskresikan melalui urin. pH urin mempengaruhi ekskresi obat. pH urin bervariasi dari 4,5 sampai 8.Urin yang asam meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah. Aspirin,suatu asam lemah, dieksresi dengan cepat dalam urin yang basa. Jika seseorangmeminum aspirin dalam dosis berlebih, natrium bikarbonat dapat diberikan untuk mengubah pH urin menjadi basa. Juice cranberry dalam jumlah yang banyak dapatmenurunkan pH urin, sehingga terbentuk urin yang asam. OBAT DIURETIKA(FUROSEMIDE) Furosemide digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Menurunkan tekanan darah tinggi membantu mencegah stroke, serangan jantung, dan ginjal. Obat ini juga mengurangi bengkak / retensi cairan (edema) yang dapat disebabkan oleh kondisi seperti gagal jantung kongestif, penyakit hati, atau penyakit ginjal. Hal ini dapat membantu meningkatkan gejala seperti sesak napas. Furosemide memiliki beberapa efek samping diantaranya: a) Ototoksisitas : Pendengaran dapat terganggu oleh loop duretik terutama bila digunakan bersama-sama dengan antibiotika aminoglikosida. Kerusakan permanen

46

dapat terjadi bila terapi dilanjutkan. Fungsi vestibular nampaknya kurang dipengaruhi, tetapi dapat juga terganggu oleh terapi kombinasi b) Hiperurisemia : Furosemide dan asam etakrinat bersaing dengan asam urat untuk sistem sekresi renal dan empedu, jadi menghambat sekresinya dan dengan demikian menyebabkan munculnya serangan piral. c) Hipovolemia akut : Loop diuretic dapat menyebabkan pengurangan volume darah yang cepat dan parah, dengan kemungkinan hipotensi, syok dan aritmia jantung. d) Kekurangan Kalium : Muatan Na+ besar yang terjadi di tubulus renalis rektus menyebabkan pertukaran Na+ di tubulus dengan K+ dari sel dengan kemungkinan menyebabkan hipokalemia. Hilangnya K+ dari sel dalam pertukaran H+ menyebabkan alkalosis hipokalemia. Pengurangan kalium dapat dicegah dengan menggunakan diuretic hemat kalium diet dengan tambahan K+. e) Dehidrasi : Mengkonsumsi furosemide berlebihan dapat menyebabkan tubuh kehilangan air dan mineral (termasuk kalium), kejang otot atau kelemahan, kebingungan, pusing berat, mengantuk, mulut kering yang tidak biasa atau haus, mual atau muntah, cepat / tidak beraturan detak jantung, penurunan jumlah urin yang tidak biasa, pingsan, kejang-kejang. Kontraindikasi : - Anuria - Hipersensitif terhadap furosemid - Terapi bersamaan dengan sefaloridin - Sirosis hati Dosis: - Dewasa : Sehari 1 - 2 kali, 1 - 2 tablet Dosis pemeliharaan, sehari 1 tablet Dosis maksimum, sehari 5 tablet Bila hasilnya belum memuaskan, dosis dapat ditingkatkan 20 mg (1 ampul) tiap interval waktu 2 jam sampai diperoleh hasil yang memuaskan. - Anak-anak : Sehari 1 - 3 mg/kg BB

STATIN Efek-efek sampingan yang paling umum adalah:

sakit kepala
47

mual muntah sembelit diare rash kelemahan, dan nyeri otot

Efek-efek sampingan yang paling serius (namun untungnya jarang) adalah kegagalan hati dan rhabdomyolysis. Rhabdomyolysis adalah suatu efek sampingan dimana ada kerusakkan pada otot-otot. Rhabdomyolysis seringkali mulai sebagai nyeri otot dan dapat berlanjut pada kehilangan sel-sel otot, kegagalan ginjal, dan kematian Waktu yang paling baik untuk meminum obat jenis Statin adalah malam hari. Ini dikarenakan tubuh mulai mensintesis kolesterol saat asupan dari luar berkurang, yaitu malam hari sebelum tidur. Semua obat dalam kelas statin harus dikonsumsi malam hari kecuali Atorvastatin(Lipitor) dan Rosuvastatin(Crestor). Kedua obat ini mempunyai efek kerja yang lebih lama sehingga bisa dikonsumsi kapan saja. Obat lainnya (Simvastatin (Zocor), Pravastain (Pravachol), dan Fluvastatin (Lescol)) memiliki efek kerja yang lebih singkat. Alhasil bila dikonsumsi pada pagi atau siang hari maka obat tersebut telah berhenti bekerja saat tubuh mulai memproduksi kolesterol. Interaksi Obat-Obat Statin dengn Obat-Obat lain Statin-statin mempunyai beberapa interaksi-interaksi obat yang penting. Tipe pertama dari interaksi melibatkan enzim-enzim yang bertanggung jawab untuk eliminasi statin-statin oleh hati. Enzim-enzim hati (terutama, enzim-enzim hati cytochrome P-450) adalah bertanggung jawab pada eliminasi semua statin-statin dari tubuh dengan pengecualian dari pravastatin dan rosuvastatin. Oleh karenanya, obat-obat yang menghalangi/memblokir aksi dari enzim-enzim hati ini meningkatkan tingkat-tingkat simvastatin, lovastatin, fluvastatin, dan atorvastatin (namun tidak pravastatin atau rosuvastatin) didalam darah dan dapat menjurus pada perkembangan dari rhabdomyolysis. Obat-obat atau agen-agen yang menghalangi/memblokir enzim-enzim ini termasuk:

protease inhibitors (digunakan dalam merawat AIDS), erythromycin, itraconazole, (Sporanox)


48

clarithromycin, (Biaxin) diltiazem, (Cardizem, Dilacor, Tiazac) verapamli (Calan, Verelan, Verelan PM, Isoptin, Isoptin SR, Covera-HS), dan grapefruit juice (sari buah dari semacam jeruk besar).

OBAT ANTI HIPERTENSI(ATENOLOL) Cara Kerja Obat: Atenolol adalah adalah obat yang disebut beta-blocker. Beta-blocker mempengaruhi jantung dan peredaran darah (darah mengalir melalui arteri dan vena). Indikasi: Hipertensi Angina pectoris Mengatasi atau mencegah serangan jantung

Kontraindikasi: Terdapat blok jantung derajat II atau III, syok kardiogenik.

- Bradikardia, hipotensi, asidosis metabolik, gangguan sirkulasi perifer berat, "sick sinus syndrome", feokromositoma yang tidak diobati, gagal jantung tidak terkontrol.

Dosis: Hipertensi: 50 atau 100 mg sekali sehari. Angina pektoris: 100 mg sekali sehari atau 50 mg 2 kali sehari. Intervensi infark miokard: 100 mg sehari.

Peringatan dan Perhatian: - Kapasitas jantung buruk, gagal jantung tidak terkontrol, penyakit penyumbatan paru kronis atau asma. - Penghentian -bloker harus bertahap pada pasien dengan penyakit jantung iskemik. - Dapat memperparah kelainan sirkulasi arterial perifer.
49

- Pasien dengan riwayat reaksi anafilaksis. - Hamil & menyusui. - Memodifikasi takhikardia pada hipoglikemia. - Blok jantung derajat I, angina Prinzmetal, tirotoksikosis, hipoglikemia. - Bisa mengganggu kemampuan untuk mengendarai atau mengoperasikan mesin.

Efek Samping : - Anggota gerak dingin, lelah, gangguan saluran pencernaan, bradikardia. - Kadang-kadang : sakit kepala, perubahan suasana hati, pusing, & kemunduran gagal jantung. - Jarang : gangguan tidur, kebotakan, trombositopenia, purpura, reksi kulit bentuk psoriasis, eksaserbasi (kambuhnya penyakit atau gejala penyakit secara mendadak) psoriasis, gangguan penglihatan, psikosis, halusinasi, blok jantung, hipotensi postural yang mungkin berhubungan dengan sinkope (kehilangan kesadaran sementara karena berkurangnya aliran darah ke otak). - Klaudikasi intermiten (kompleks gejala terdiri atas rasa nyeri pada kaki atau tungkai sewaktu berjalan dan sembuh sehabis beristirahat). - Fenomena Raynaud. - Bronkhospasme. - Ruam dan mata kering, parestesi (gangguan perasaan kulit seperti kesemutan).

50

VII. KERANGKA KONSEP Makanan terolah


Pria 35 tahun (obesitas)

Hiperglikemia

Lemak pada pembuluh darah (aterosklerosis)

NO

Tekanan darah

Konsumsi Obat

Diuretic(furose mide)

Statin

bloker(atenolol )
Co Q 10

Diuresis(deplesi ion,vitamin,mineral penting seperti Mg,B6,Zn)

Produksi kolesterol

Testoteron

Disfungsi ereksi

51

VIII. KESIMPULAN

Lelaki ini mengalami mild obesity dikarenakan pola diet yang tidak sehat, menyebabkan ia mengalami disfungsi ereksi .Penggunaan obat anti hipertensi(atenolol), obat diuretika(furosemide), dan obat pereduksi lemak darah (statin) terjadinya disfungsi ereksi pada lelaki ini. juga merupakan faktor

52

DAFTAR PUSTAKA

Basis&Clinical Pharmacology. Betram G.Katzung 8th 10 ed.McGraw-Hill Companies Inc.2001 Drug-Induced Nutrient Supplement Handbook. Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedoktern Edisi II. Jakarta: EGC Henwood J. Sildenafil for erectile dysfunction.Medical Progress 1999;26:37-9. MIMS Petunjuk Konsultasi Edisi 7, 2007/2008 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Edisi V. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: InternaPublishing. Staf Pengajar Departemen Farmakologi.Jakarta:EGC Farmakologi UNSRI.2008.Kumpulan Kuliah

Sunita . 2004. Penuntun Diet Almatsier, Farmacia Ethical Digest Vol II no. 1 A

53