BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 1

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
6.1 TINJAUAN UMUM Pelaksanaan konstruksi bangunan air misalnya bendung yang perlu selalu diperhatikan adalah teknik pelaksanaan konstruksi bendung yang didalamnya terkait teknik pembebasan area konstruksi bendung dari gangguan air (sistem dewatering). Sering kali gambar desain bangunan air (bendung) tidak disertai teknik pelaksanaannya sehingga memaksa kontraktor pelaksana harus membuat teknik pelaksanaan termasuk pelaksanaan sistem dewateringnya yang kadang-kadang menggunaan perhitungan yang.diragukan ketepatannya. Pada umumnya nilai dewatering dalam kontrak selalu dihitung Lump Sum, dan tidak jarang ternyata setelah pelaksanaan dewatering ini membengkak. Hal tersebut dikarenakan perencanaan dan gambar konstruksi pengelak aliran air tidak jelas bahkan tidak ada. Cofferdam dan diversion adalah konstruksi yang lazim digunakan dalam sistem dewatering. Konstruksi ini sering tidak dimasukkan dalam RAB tersendiri. Pada hal bisa jadi konstruksi ini cukup besar biayanya dan merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan konstruksi bendung. Untuk menghindari membengkaknya biaya dewatering, maka cofferdam dan diversion perlu direncanakan dengan baik. 6.2 PERENCANAAN KONSTRUKSI Kontraktor yang berpengalaman mungkin tidak menjadi masalah besar dalam pembuatan konstruksi sistem dewatering (cofferdam dan diversion channel), tetapi sering hal tersebut tidak disertai perhitungan teknis yang memadai dan hanya mengandalkan pengalaman. Perencanaan diversion akan berpengaruh dalam perencanaan cofferdam. Bila dikehendaki tinggi cofferdam tertentu maka lebar diversion channel harus dicoba-coba
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 2

sedemikian rupa sehingga dicapai luasan penampang yang mampu melewatkan debit rencana (Qd). Bila lebar diversion channel tidak dibatasi, maka tinggi cofferdam bisa lebih rendah, atau dengan nilai h tetap dan b dicoba-coba maka akan didapatkan nilai Q
Lewat =

Qd

Pada pendimensian konstruksi sistem dewatering untuk rencana pelaksanaan Bendung Gerak Tulis, nilai yang diketahui adalah lebar diversion channel. Jadi yang akan dicoba-coba untuk mendapatkan Qd adalah tingginya. Hal ini karena lebar diversion channel dibatasi oleh situasi lokasi penempatan diversion channel dan teknik pelaksanaanya. Artinya dengan B tetap dan H dicoba-coba sampai mendapatkan nilai Q yang mendekati Qd.

H
Hn Hd H1 H d = H untuk m endapatkan Q d B bernilai tetap

Q1

Qd

Qn

Q

Gambar 6.1 Grafik hubungan h dan Q Sebelum perencanaan diversion channel dan cofferdam dalam rencana pelaksanaan Bendung Gerak Tulis dimulai, maka ada beberapa data yang diperlukan dari hasil analisa pada bab sebelumnya, data design teknis struktur bendung dan data tanah hasil penelitian dilapangan. Design struktur Bendung Gerak Tulis sekali lagi tidak disajikan dalam laporan ini sesuai dengan batasan masalah. 6.2.1 Data Hasil Analisa Hidrologi Dari hasil analisa hidrologi didapatkan : Qd Sungai Tulis = 409,631 m3/dtk Qd Anak Sungai Tulis = 60,939 m3/dtk
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 3

6.2.2 Data Teknis Design Struktur Bendung Dari gambar design struktur Bendung Gerak Tulis yang telah ada. Ada beberapa data yang akan diperlukan dalam perencanaan konstruksi, yaitu : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Bentang Dam Lebar Spillway Lebar Fluishing Sluice Elevasi Puncak Dam Elevasi Terendah Dam = 76,5 m =3x8m =1x6m = + 670,00 m = + 649,00 m

Elevasi Mercu Spillway = + 652,00 m

6.2.3 Data Mekanika Tanah Dari hasil penelitian mekanika tanah dilapangan didapatkan data mekanika tanah lokasi Bendung Gerak Tulis sebagai berikut : ▪ ▪ ▪ γ tanah dasar / asli C tanah dasar / asli Ø anah asli = 2,42 t/m3 = 0,42 t/m3 = 35 0

6.3 PERENCANAAN DIVERSION CHANNEL Berdasarkan rencana plan view yang telah didapatkan dalam bab 5, maka untuk mempermudah dalam perhitungan rencana penampang diversion dapat dibuat dalam beberapa segmen/stasiun.

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 4

Mulu

t Up s tream

M Contr ercu ol Str uktur e A Coffer xist of d am U pstrea m

1:m

1:m

0+01 6

AX IS OF DIV

0+00

ERSION CH

0+01 0

ANNELL

Sta. 00 +027

.5

1:m

Axist of Cofferdam Downstream

1: m

1:m

1:m

0+020

Sta. 0

Sta. 0

Sta. 00+042

Sta. 0

m 1:

Sta. 00+057

Sta. 00+72.6

Sta. 00+084 .6

Sta. 0

Sta. 00+091.72

M u lu

t D ow

n s tre

am

00 Sta.

+1 0 8

.1 6

Gambar 6.2 Plan view diversion channel Sebelum kita merencanakan penampang memanjang diversion channel yang didalamnya menyangkut elevasi, dimensi hidrolis, dan kemiringan/slope maka sebagai patokan dalam perencanaannya adalah elevasi mulut upstream (u/s) diversion, mulut downstream (d/s) diversion serta letak mercu control strukture. Ketiga segmen ini harus diperhatikan dalam kaitan untuk mendapatkan aliran hidrolika yang baik. Dari peta topografi dan rencana/plan view diversion channel didapatkan data : » » Panjang diversion channel Elev. terendah dasar sungai asli : Di depan mulut upstream Di depan mulut downstream = ± 653,5 m = ± 646 m = 108,16 m

6.3.1 Elevasi Rencana Segmen Diversion sebagai Patokan Perhitungan A. Elevasi Rencana Mulut U/s Diversion Channel (Sta. 00+00) Dari peta topografi dan plan view diversion channel didapatkan data bahwa elevasi terendah dasar sungai asli di depan mulut u/s adalah ± 653,5 m. Berdasarkan
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

1 m.16. B. Dari peta topografi dan plan view diversion channel dapat diketahui elevasi dasar penampang sungai terendah di depan mulut d/s adalah : + 646 m. 00+0108. mulut u/s diversion harus di tempatkan pada elevasi yang lebih rendah dari + 653. » Elevasi MA saat diversion channel melepaskan Qd Elevasi MA ini perlu diketahui agar elevasi mulut d/s tidak berada dibawah elevasi MA terutama saat penampang sungai menampung debit rencana yang dilepaskan diversion channel. Berdasarkan hal di atas maka mulut u/s diversion channel direncanakan pada elevasi + 653. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum merencanakan penempatan mulut d/s diversion channel yaitu : » Elevasi terendah penampang sungai di depan mulut d/s.16) Mulut d/s adalah segmen akhir dari diversion channel sebagai pelepas aliran air dari saluran dan dikembalikan lagi ke penampang sungai seperti semula.4 pada Sta.2 m. Elevasi Rencana Mulut D/s Diversion Channel (Sta. 00+108.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Dengan perhitungan passing capacity pada saat Qd dilepaskan didapat tinggi ma + 3. Dengan memperhatikan hal-hal diatas maka elevasi rencana mulut d/s diversion channel direncanakan ditempatkan pada elevasi + 649.5 prinsip hidrolika maka agar aliran air dapat mudah mengalir masuk ke penampang diversion channel. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .5 m. Hal ini untuk menghindari terjadinya aliran backwater masuk ke mulut d/s yang dapat mengganggu aliran di saluran diversion channel.1 m dengan elevasi ma + 649.JAWA TENGAH .

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .0 +6 0 50 .JAWA TENGAH +6 49 .00 Gambar 6. topografi dan rencana mulut upstream diversion channel AX IS O FD IV E + 6 60 .6 +655.00 M u lu +653.00 RSI ON CH A NN ELL t U ps D1 LI KA tre a m L TU IS Gambar 6.3 Pot. Mercu control strukture harus direncanakan karena bagian ini nantinya akan berfungsi penting sebagai titik yang digunakan untuk menghitung elevasi ma di sepanjang saluran diversion serta berfungsi juga untuk menghasilkan sifat aliran (dalam saluran terbuka) yang direncanakan. Mercu Control Struktur (MCS) Mercu control struktur adalah bangunan sejenis ambang pelimpah seperti pada bangunan spillway pada bendungan.00 +6 47 +6 . topografi dan rencana mulut downstream diversion channel C.00 ut Mul nstream Dow D5 +6 46 .00 48 .4 Pot.00 +654.00 . Biasanya sifat aliran yang diharapkan dengan adanya mercu tersebut adalah aliran superkritis.

... Aliran diam c... y = kedalaman hidrolik (m).. So=Scr dan Hn = Hcr.. Saluran datar.... g = percepatan gravitasi (9. b.........JAWA TENGAH ..... Hal ini dipengaruhi oleh faktor slope/kemiringan saluran..7 Sifat aliran dalam saluran terbuka Ada 4 Sifat aliran dalam saluran terbuka yang bisa ditentukan dengan bilangan Froude (fr).. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .......1) (Aliran Melalui Saluran Terbuka.K.. tipe saluran berupa saluran terjal (steep channel) dimana So > Scr dan Hn < Hcr .. kemiringan dasar saluran (So) dan kemiringan kritis (Hcr) yaitu : a.. Aliran kritis Fr = 0..Saluran landai...... Saluran kritis... Kondisi aliran superkritis diharapkan dapat melewatkan debit yang besar dengan dimensi saluran yang ekonomis......BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .. Saluran terjal............ Aliran superkritis (meluncur) Bilangan Froude: Fr = V g× y . Fr > 1.. Aliran sub kritis (mengalir) d.... Untuk perencanaan diversion channel Bendung Gerak Tulis direncanakan disepanjang diversion channel dalam kondisi aliran superkritis (meluncur).107) Di mana : V = kecepatan (m/dtk).......... Fr < 1.Hal. So = 0 dan Hn ∞.. (6.. Dengan slope yang besar maka akan didapatkan kecepatan yang besar saat melewatkan debit rencana (Qd) dengan dimensi penampang (A) yang lebih ekonomis dari pada kondisi aliran subkritis/kritis...81 m/dtk2). Fr = 1...G Rangga Raju... So>Scr dan Hn < Hcr..... So<Scr dan Hn > Hcr.... Artinya dengan A lebih kecil maka diperlukan kecepatan yang lebih besar untuk dapat melewatkan Qd yang bisa dihasilkan dengan nilai slope yang besar...

Hasil perencanaan tersebut harus dicek apakah mampu memenuhi aliran hidrolika yang baik dan menghasilkan aliran superkritis di sepanjang saluran. 00+010) Elevasi d/s mercu control struktur = +653 m (Sta. digunakan metode pada perencanaan bangunan pelimpah dengan memperhatikan aspek-aspek lainnya.3. 00+010) Bagian ini berfungsi sebagai penuntun dan pengarah aliran agar aliran tersebut senantiasa dalam kondisi hidrolika yang baik. Dengan detail rencana sebagai berikut : ▪ ▪ ▪ Jarak Axist mercu control stuktur dari mulut upstream = 10 m (sta.8 » Perencanaan Mercu Control Strukture : Untuk menghasilkan aliran superkritis disepanjang diversion channel maka mercu control struktur di tempatkan di hulu. kecepatan masuknya aliran air supaya ≤ 4 m/dtk dan lebar saluran makin mengecil ke LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA . 00+00 S/d Sta.3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .JAWA TENGAH . Axist Of Struktur Sal. 00+016) 6.2 Perencanaan Penampang Memanjang Diversion Channel Sebenarnya belum ada cara perhitungan yang benar-benar mantap dalam merencanakan diversion channel. Oleh karena itu untuk membantu dan mendukung dalam merencanakan diversion channel.1 Saluran Pengarah Aliran (Sta.2.5 Skema umum type bangunan pelimpah 6. Pada saluran pengarah aliran ini.Pengarah Sal.Pengatur Aliran Ambang Pelimpah Bagian Transisi Sal. 00+010) Elevasi u/s mercu control strukture = + 654 m (Sta.Peluncur Bagian berbentuk Terompet Kolam Peredam Energi Gambar 6.

00+010) lebih kecil dari mulut u/s = 13 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA . aliran helisoidal akan meningkatan beban hidrodinamis pada bangunan pelimpah tersebut.JAWA TENGAH . Apabila kecepatannya melebihi 4 m/dtk.6 Saluran pengarah aliran dan ambang pengatur debit pada bangunan pelimpah Direncanakan : ▪ Lebar mulut u/s diversion channel (Sta. 00+00) = 20 m ▪ Lebar mercu control stuktur (Sta. Kedalaman dasar saluran pengarah aliran biasanya diambil lebih besar dari 1/5 x tinggi rencana limpasan diatas mercu ambang pelimpah. Berdasarkan pengujian-pengujian yang ada saluran pengaruh aliran ditentukan sebagai berikut : Vo H V V 4 m/dtk P 15H 1 2 w Gambar 6. dan dimensi saluran pengarah aliran biasanya disesuaikan pula dengan kondisi topografi setempat serta dengan persyaratan hidrolika yang baik.9 arah hilir. Selain didasarkan pada kedua persyaratan tersebut. Disamping itu. maka aliran akan bersifat helisoidal dan kapasitas pengalirannya akan menurun. bentuk.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .

7 Rencana penampang saluran pengarah Perhitungan : » Ketinggian air kritis (Hcr) di atas mercu Diketahui: ▪ ▪ ▪ Qd = 409. 00+00 1 0.2 Mercu Control Strukture + 654 Gambar 6.631 m3/dtk B = 12 m m = 0.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .10 Dimensi Hidrolis Sta.JAWA TENGAH .7 + 653. 00+010 1 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .2 Dimensi Hidrolis Sta.

.......2 13 13 13 13 13 13.......Hal..159) Q 2 × ( B + mH cr ) B + B + mH cr )× H g × {( 2 3 cr } =1 Tabel 6..81 x {(B+m/2xHcr)}^3 5 Q^2 6 Hasil (7) = 6*4/5 Ket 1 2 3 4 5 4...... ..94 2250890.......09 2456495.08 2360063...........65 4.......2 0..JAWA TENGAH ...56 167797.990 0....Suripin.....952 ≈1 Dari hasil perhitungan diatas didapatkan Hcr dengan nilai yang hampir sama......91 13.2 0...... Penampang nonpersegi (sesuai dengan desain penampang div...56 167797....1 Perhitungan trial error Hcr penampang non persegi No Hcr 1 m 2 B 3 B+mHcr 4 9.037 1.......156) Maka : Hcr = 3 Qd B2 × g 2 = 3 409..... Diambil Hcr yang lebih besar yaitu dianggap berpenampang persegi = 4. Penampang dianggap berbentuk persegi Hcr = 3 Qd .Hal..92 13.57 4...11 a..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .2) (Sistem Drainase Berkelanjutan...03 167797.........56 167797...17 2281720..Suripin......81 = 4.. g × A3 (6...62 4........971 0.52 2407947.... B2 × g 2 (6....91 13...68 0.66 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .2 0...channel) Q2 ×T = 1 ............6312 13 2 × 9.......2 0....56 1.....66 m b.3) (Sistem Drainase Berkelanjutan...55 4.56 167797..93 13...023 0...

00+010-Sta.93 m 5 W/ 6.2. Qd H Qoutflow= Qd Terjadi endapan/ W penampang tidak effektif R = 0. Ambang Penyadap/Mercu Control Strukture (Sta. 00+016) A. Dalam perhitungan tinggi muka air di sepanjang saluran pengelak (diversion channel) diperlukan suatu titik kontrol sebagai titik awal perhitungan.66 = 0. Dalam perencanaan diversion channel dianggap Qoutflow = Qd karena pada ketinggian W akan terjadi endapan material sungai sehingga penampang tidak efektif.12 » Ketinggian W W/ 1 x Hcr 5 1 x 4.8 Mercu Control Strukture LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA . Konstruksi mercu inilah yang akan dijadikan sebagai titik kontrol struktur untuk menghitung tinggi muka air di sepanjang diversion channel dengan persamaan garis energi.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .5H 1 ≥2 Gambar 6. Untuk menghasilkan aliran kritis agar dapat diketahui Hcr dilakukan dengan peninggian dasar saluran berupa konstruksi mercu.JAWA TENGAH .2 Saluran Pengatur Aliran (Sta. Di titik kontrol ini dapat dihitung tinggi muka air kritisnya (Hcr) dengan menggunakan suatu rumus.3. 00+010) Bagian ini berfungsi sebagai pengatur debit air (Qoutflow) yang melintasi bangunan pelimpah.

00+016) = + 653 m » Direncanakan : B. 00+20.5) Saluran transisi biasanya diperlukan untuk menghubungkan penampang yang bentuk dan dimensinya berbeda antara bagian mercu dan dan saluran peluncur. Sebenarnya belum ada cara yang paling baik dalam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Parameter tersebut diambil mengingat kegunaan diversion channel bersifat sementara karena nantinya akan dibongkar. Saluran Transisi (Sta. 00+016–Sta. downstream mercu control struktur (Sta. Tetapi hasil perencanaannya nantinya akan dikontrol agar bisa menghasilkan aliran superkritis.93 = 0. Bagian depan berbentuk tegak (1:1). 00+010) Kemiringan bagian downstream = 1:5 Elev.465 m ……(diambil r = 0. Saluran transisi direncanakan agar Qd yang akan disalurkan tidak menimbulkan aliran terhenti atau back water.JAWA TENGAH . kemudian horizontal dan di sisi hilir kemiringannya 1: ≥2. 00+010) Radius r = ½ W = ½ 0. ambang berbentuk bendung pelimpah menggantung. ambang berbentuk bendung pelimpah. diikuti lingkaran dengan r = ½ W.5 m) = + 654 m Elev. 00+00) = + 653. maka direncanakan seefisien dan semudah mungkin dalam pelaksanaanya.13 Sebenarnya ada berbagai macam type ambang penyadap yang biasa digunakan dalam konstruksi spillway (pelimpah) pada bendungan antara lain ambang bebas. Pada perencanaan diversion channel untuk rencana pelaksanaan Bendung Gerak Tulis direncanakan menggunakan ambang bebas dengan bentuk sederhana tanpa lengkungan pada bagian hilir. Upstream mercu control struktur (Sta. » Data Perencanaan : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Elevasi rencana mulut u/s diversion (Sta.2 m W diasumsikan terjadi endapan material Jarak control stukture dari mulut upstream = 10 m (Sta.

9 Skema bagian transisi saluran pengarah pada bangunan pelimpah Dengan ketentuan tersebut diatas dan dengan memperhatikan keadaan topografi yang ada maka : » Direncanakan : ▪ B2 (Sta. Untuk bangunan pelimpah yang relative kecil biasanya sudut penyempitan ke arah hilir pada saluran transisi adalah 12.02 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .5° B2 Y L Gambar 6. Bentuk saluran transisi ditentukan sebagai berikut : B1 12.2 = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .5° ▪m ▪S = 0.JAWA TENGAH .5° terhadap sumbu saluran peluncur.00+016) ▪ B3 =9m =7m ▪ Sudut Inklinasi = 12.14 merencanakan bentuk saluran transisi hanya berdasarkan pengalaman dan pengujianpengujaian model hirolika. Akan tetapi bila kondisi topografi yang kurang menguntungkan kadang–kadang memaksa pembuatan dinding saluran melebihi sudut inklinasi tersebut.

02 Sta. 00+016 4.91 Sta.5 = 4. 00+020.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . (Sta.JAWA TENGAH .5 m ………………………….15 » Perhitungan : ⎛9−7⎞ ▪ y= ⎜ ⎟ ⎝ 2 ⎠ =1m ▪ L = y/tgθ = 1 tg12.09 m Elev. Sta. 00+00 10 Sta.0.00+020.10 Penampang memanjang saluran pengatur LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .00+020.5 Gambar 6.00+016 .91 m Qd Terjadi endapan/ penampang tidak effektif Qoutflow= Qd + 654 r = 0.5 ∆H = 0.0 Sta.5 + 652.0 1.5) Elevasi Sta.5 = Elev.5 + 653. 00+020.5 S 0.02 = = ∆H L ∆H 4.Sta.2 1:5 + 653 0.09 = + 652.∆H = (+ 653) . 00+010 5.

2 Gambar 6. Dalam merencanakan saluran peluncur harus memenuhi kriteria : ▪ ▪ ▪ Air yang melimpah dari saluran pengatur mengalir dengan lancar tanpa hambatanhambatan hidrolis.11 Rencana dimensi hidrolis saluran transisi 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . 00+108. Konstruksi saluran peluncur cukup kukuh dan stabil dalam memikul semua beban yang timbul.JAWA TENGAH .5 – Sta.5 1 0.00+016 1 0.3.2. Biaya konstruksi diusahakan seekonomis mungkin.16 Sta. 00+020.00+020.3 Saluran Peluncur (Sta.16) Saluran peluncur pada bangunan spillway bendungan berfungsi untuk membawa debit air yang telah melewati saluran pengatur menuju konstruksi kolam peredam energi.2 Sta. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .

00+020.6 Direncanakan : ▪ ▪ B=7m m = 0.00+72.5-Sta. Kemiringan dan elevasi diatur dengan menyesuaikan data yang sudah didapatkan.16) = + 649.17 Saluran peluncur untuk diversion channel sendiri direncanakan sebagai berikut : ▪ Lay out lurus dan melengkung pada bagian saluran berbentuk terompet karena menyesuaikan dengan letak palung sungai agar debit air yang dilepaskan ke penampang sungai dapat segera mengalir.91 m Elev. saluran transisi (Sta. 00+020.00+072. Diketahui : ▪ ▪ Elev.4 m Perhitungan : a.00+020.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .6-Sta.72) » Dimensi hidrolis Sta.5) = + 652. ▪ ▪ Penampang melintang berbentuk trapesium. Saluran dengan lay out relative lurus (Sta.00+091. rencana mulut d/s (Sta.6 1 0.5-Sta.00+091.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .JAWA TENGAH .00+072.5-Sta.02 » Dimensi hidrolis Sta.72 Direncanakan : ▪ ▪ B=7m m= 1 Sta. 00+108. 00+020.

sedikit demi sedikit dapat dikurangi dengan melebarkan penampang sehingga aliran tersebut menjadi lebih stabil.18 Sta.16 bertujuan agar aliran dari saluran peluncur yang merupakan aliran super kritis dan mempunyai kecepatan tinggi.Dimensi Hidrolis Saluran Peluncur Bagian Lurus b.72Sta.72 s/d Sta.72 1 1 Gambar 6.00+72.00+091.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .16) Bagian yang berbentuk terompet pada ujung saluran peluncur pada Sta.00+108. Direncanakan : ▪ ▪ B = 11 m m=1 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .JAWA TENGAH .12.6-Sta.00+108.00+091. Saluran dengan lay out melengkung berbentuk terompet (Sta.00+091.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 19

Sta.00+091.72

B4

B5

Gambar 6.13. Bagian berbentuk terompet pada ujung hilir saluran peluncur

1 1

Gambar 6.14 Rencana Dimensi Hidrolis Sta.00+108,16

c. Rencana kemiringan (slope) saluran Sta.00+020,5-Sta/108,9 Dalam menentukan slope saluran sebagai patokannya adalah pada Sta.00+108,16 (mulut d/s) dimana sudah direncanakan berelevasi + 649,4 m.

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

Di

v er A x i s s io t O nC f ha n n

el

S ta + .00 1 08 .16

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 20

»

Nilai Slope dan elevasi saluran Sta.00+020,5-Sta 00+72,6 Diketahui :

Elevasi Sta. 00+020,5 = + 652,91 m

Direncanakan :

S Sta.00+020-Sta.00+072.6 = 0,02

Perhitungan :
»

Elv. Sta. 00+072,6 L = Jarak Sta. 00+020,5 -Sta. 00+072,6 = 52,1 m S =
∆H L ∆H 52,1

0,02 =

∆H = 1,042 Elv. Sta. 00+072,6 = Elv. Sta. 00+020,5 - ∆H = + 652,91 m - 1,042 = + 651,868 m
»

Nilai Slope dan Elevasi saluran Sta. 00+72,6 s/d Sta 00+0108,16 Diketahui :
▪ ▪

Elevasi Sta. 00+72.6 = + 651,868 m Elv. Sta 00+108,16 (mulut d/s diversion) = + 649,4 m

Perhitungan :

Besar slope (S) Sta. 00+072,6 – Sta. 00+108,16 L = Jarak Sta. 00+072,6 – Sta. 00+108,16 = 35,56

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 21

∆H = Beda elevasi antara Sta. 00+072,6 - mulut downstream = (+ 651,868) – (+ 649,4) = 2,468 m S= =
∆H L

2,468 35,56

= 0,0694

+ 652.91

0 .02

+ 651.868 + 650.541
0 .0 6 94

Saluran Lurus Saluran Peluncur

Saluran Melengkung Bentuk Terompet

+ 649.4

Sta.00+020

Sta.00+072.6 Sta.00+091.72

Sta.00+108.9

Gambar 6.15.Elevasi dan slope saluran peluncur

Untuk lebih jelasnya elevasi rencana dan slope masing-masing stasiun dapat dilihat dalam tabel 6.2 berikut:
Tabel 6.2 Rekapitulasi perhitungan elevas dasari dan slope
No Stasiun 1 1 Sta.00+00 10.00 2 Sta.00+010 6.00 3 Sta.00+016 4.50 0.0200 0.0900 0.2000 1.0000 653.000 Elev.Renc. d/s Control Strukrur 0.0140 0.8000 654.000 Elev.Renc. u/s Control Strukture Jarak (L) m 2 Kemiringan (S) 3 ∆Z m 4 Elevasi Dasar m 5 653.200 Keterangan 6 Elev.Renc. Mulut U/s

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 22

4

Sta.00+020.5 6.50 0.0200 0.1300

652.910

5

Sta.00+027 15.00 0.0200 0.3000

652.780

6

Sta.00+042 15.00 0.0200 0.3000

652.480

7

Sta.00+057 15.60 0.0200 0.3120

652.180

8

Sta.00+072.6 12.00 0.0694 0.8328

651.868

9

Sta.00+084.6. 7.12 0.0694 0.4941

651.035

10

Sta.00+091.72 4.88 0.0694 0.3387

650.541 ≈ Elev Renc.mulut d/s diversion

11

Sta.00+108.16

649.400

6.3.2.4 Peredam Energi

Konstruksi ini berfungsi untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi aliran dengan kecepatan tinggi agar tidak merusak tebing ,jembatan, jalan dan bangunan lain di sebelah hilir bangunan. Mengingat fungsi diversion channel hanya bersifat sementara karena nantinya akan dibongkar maka kolam peredam energi tidak direncanakan untuk efesiensi biaya. Selain itu di bagian hilir diversion channel hanya terdapat tebing, tidak terdapat bangunan dan instalasi yang harus dilindungi. Sementara untuk melindungi tebing dari gerusan dapat dilakukan dengan perkuatan lereng.
6.3.2.5 Detail Hasil Perencanaan

Dari rencana dan analisa perhitungan diatas maka dapat dibuat desain diversion channel secara detail.sebagai berikut:

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

VI + 108 .6 Sta.2 1:0 II III 1:0.72 VI + Gambar 6.2 IV Sta.6 V Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -23 A Coffer xist of dam U pstrea m I 1:0. Detail lay out diversion channel LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 00+084 . 00+72.2 1:0.5 IV AXIS OF DI 0+00 I 0+01 0 II VERSION CH ANNELL Sta.16. 0 Sta. 0 1 1: Sta. 7 . 00+04 2 S ta . 00 +027 1:1 Axist of Cofferdam Downstream 1: 0.16 Sta. 00+057 Sta. 00+091.2 V 0+01 6 III 0+020 . 0 00 S ta . 0 Sta.

6 Sta.2 Mercu Control Strukture 1 0.16 1 0. Penampang ( I-I ) 1 1 1 0.4 % + 654.6 Sta.00+108.B-B dan rencana dimensi hidrolis diversion channel .5 1.00+091.2 Pot.91 + 652. Penampang VI-VI Pot. Penampang V-V Pot.5 Sta.78 + 652. Penampang II-II Pot.035 + 650.72 Sta.00+020. Penampang III-III 1 1 Pot.24 Gambar 6.00 2% + 652.20 1:5 R = 0.868 6.JAWA TENGAH Pot. Penampang IV-IV VI .00+042 Sta.40 Sta.541 + 649.00+016 Sta. Pot.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .00+000 Sta.18 + 651.00 +653.7 BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1 0.17.00+027 Sta.48 + 651.+ 653.00+072.00+010 Sta.00+057 Sta.94 % + 652.00+084.

.Hal 154) V V 12 Z1 + h1 + = Z 2 + h2 + 2 + h f 2g 2g 1 24 4 3 123 4 4 E1 E2 2 S 0 ∆x + E1 = E 2 + S f ∆x ∆x = E1 − E 2 S0 − S F Sf = n 2Q 2 Ar 2 × Rr 4 / 3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .....4 PERHITUNGAN KEDALAMAN HIDROLIS Data Perencanaan : ▪ ▪ Qd = 409......Hidrolika II.... Hcr > Hn) Kedalaman hidrolis saluran diversion channel dapat dihitung dengan menggunakan persamaan garis energi dengan titik awal perhitungan di mercu control strukture...........4) (Bambang Triatmodjo. 631m3/dtk Sifat aliran super kritis (So < Scr .............BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -25 6. V1²/2g Sf hf=Sf x ∆x h1 V2²/2g h2 ∆z = So ∆x ∆x Gambar 6.20 di atas dapat diperoleh persamaan sebagai berikut : V V 12 ∆z + h1 + = h2 + 1 + h f ...........18 Skets perhitungan muka air Dari gambar 6.......... 2g 2g 1 24 1 24 4 3 4 3 E1 E2 2 (6.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Di mana : E = Tinggi energi (m) hf = tinggi kehilangan energi (m) Ar = Luas penampang rata-rata (m) Rr = Jari-jari hidrolis rata-rata (m) So= kemiringan dasar saluran Sf = kemiringan garis energi B V b ²/2 g G a ris E n e rg i (S f) VI -26 C H fc 1 V c ²/2 g H f1 V 1 ²/2 g H A ZB B Hc 1 .19 Hubungan tinggi muka air di Mercu Control Strukture 6.0 0 + 0 1 6 Gambar 6. Hcr ini adalah ketinggian MA yang harus dihitung terlebih dahulu sebagai titik awal untuk menghitung ketinggian muka air disepanjang saluiran.0 0 Zc D a tu m 1 :5 H1 + 653 + 6 5 3 .2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 0 ta .0 0 + 0 1 0 S ta .631 m3/dtk B = 12 m m = 0. » Ketinggian air kritis (Hcr) di atas mercu Diketahui: ▪ ▪ ▪ Qd = 409.4 % + 6 5 4 .4.1 Kedalaman Air Kritis (Hcr) di atas Mercu Perhitungan Hcr diperlukan untuk mengontrol sifat aliran terutama pada Hcr diatas mercu control structure (Hc).0 0 + 0 0 0 S ta .

0 0 + 0 1 0 Gambar 6................ 00+00-Sta..6312 13 2 × 9...5 x 4.4 % + 6 5 4 ...2 Hma Sal.99 m =7m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH (6...............81 = 4.66 6...0 0 D a tu m + 6 5 3 + 6 5 3 ...2 0 S ta .....5 x Hcr .5) (Suripin. Pengarah dan Pengatur Aliran (Sta....66 = 6.. Sistem Drainase Kota Berkelanjutan) ..4...0 0 + 0 0 0 S ta ...... Hubungan tinggi ma di B dan C » HMA B (Sta..........BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Qd B2 × g 3 2 VI -27 Hcr = 3 = 409.2) = 0... = 1.8 m Tinggi Enegi Total diatas Mercu (Emin) Emin = 1.66 m ∆Z = (+ 654) – (+653....20.00+016) B V b ²/2 g C H fc V c ²/2 g H A B E m in H c 1 ..00+00 ) Diketahui : Hcr = Hc = 4..

8 m » HMA C (Sta.66) ⎤ = ⎢ ⎥ × 4.2 =6m ∆Z = 1 Di mana : Vn = Qd An ⎡ B + ( B + mHc) ⎤ Ac = ⎢ ⎥ × Hc 2 ⎦ ⎣ ⎡13 + (13 + 0.02 H C = 13 + 4.4132 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8 = 7.66 m =9m = 0.00+010 ) VI -28 Hcr = Hc = 4.02 × 4.66 2 ⎣ ⎦ = 62.66 = 22.66 m » HMA 1 (Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Hma B = Emin+∆Z = 7 + 0.2 × 4.66 + 1.631m3/dtk Bc Hc B1 m ∆x = 13 m = 4.00+016 ) Diketahui : Qd = 409.752 m2 PC = BC + H C + 1.

2 × H 1 ) ⎤ =⎢ ⎥ × H1 2 ⎣ ⎦ = [9 + 0.02 × H 1 R1 = Ar Rr Sf hf1 = A1 P1 (9 + 0.02 H 1 = = = AC + A1 2 RC + R1 2 n 2Q 2 Ar 2 × Rr 4 / 3 = Sf × ∆x = Sf × 6 Persamaan Energi titik C-1: ∆Z + EC = E1 + hf1 ∆Z + H C + VC V = H 1 + 1 + hf1 2g 2g 2 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING RC = = AC PC 62.4132 VI -29 = 2.8 m ⎡ B + ( B + mH 1 ) ⎤ A1 = ⎢ ⎥ × H1 2 ⎣ ⎦ ⎡ 9 + (9 + 0.1H 1 ]× H 1 P1 = B1 + H 1 + 1.02 H 1 = 9 + 2.752 22.1H 1 ) × H 1 9 + 2.

82 5.5701267 8.6312 409.5699724 8.5700229 8.00 6.5867343 8.75156 22.1 H 1 ) × H 1 }2 E1 Sf1 ∆x hf 1 E+hf Ket 1 2 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.0028060 0.0028124 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Qd 2 2 VI -30 ∆Z + H C + 2 g × Ac = H1 + Qd 2 2 2 g × A1 + hf1 1 + 4.5870009 8.0167217 0.0166839 8.7499724 2.0027806 6. 373 No H1 {( 9 + 0 .5868588 8.5699747 8.1H 1 ) × H 1 }2 8552.00 6.6312 = H1 + + hf1 2 (2 × 9.373 + hf 1 Tabel 6.0168359 0.5700294 8.0167596 0.0168742 0.5867511 8.00 6.66 62.5867701 8.4132 2.799759071 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 6.7201363 8.1H 1 ) × H 1 } 7.0027870 0.83 m Contoh perhitungan kehilangan energi (hf) di titik C-1.7600229 2.84 5.5701363 0.7701267 2.80 5.752 2 (2 × 9.0027933 0.0027996 0. Tabel 6.0167977 0.81) × {(9 + 0.3 Perhitungan trial error H1 8552 .4 Contoh perhitungan hf Titik B m 11 m 2 H m 3 A m2 ⎡ B + ( B + mH ) ⎤ 4 = ⎢ ⎥× H 2 ⎣ ⎦ P m 5 = B + H + mH R m 6=(A/P) C 13 0.2 4.81 5.83 5.5868202 ≈ (∆Zc+Ec) Kesimpulan : Kedalaman air H1 = 5.81) × 62.00 0.85 2.7399747 2.7300294 2.832 = H 1 + {(9 + 0.66 + 409.00 6.

76724 55.6 3 409.2 55.66561 55.74 3529.691306355 2.6) 1 0.6 3 409.00+010) perlu diketahui kedalaman air normal (Hn) sebelum adanya mercu.8 5.84 3. Hcr > Hn.84 3.21 59.36 59.84 3.59 21.75 3499.0027 0.16 59.817 2.57 21.01676 0.689029485 2.0 2 0.01680 0.0 2 0.74 2.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .86889 55.82 5.6 3 409.77 0.2 0.84 3.31 59.68 3517.41 Prata2 m 2=(P1/P 2) 21.70 3523.564 55.5-Sta.75 37.01668 Sf m 6 7 8 n 2Q 2 9 = 2 Ar × Rr 3.84 3. Untuk mengetahui sifat aliran setelah adanya konstruksi mercu (Sta.686749147 2.75 37.0027 6. Kedalaman Air Normal (Hn) » Ruas I (Sta.693579767 ∆ x Arata2 m2 1=(A1/A 2) 59.6 3 409.2 0.0027 0.0027 0.74 2. 00+020.2 0.7968 20.6 3 n2*Q 2 (Arata) ^2 (Rrata)^4 /3 hf m 11=9 x 10 0.81 5.74 2.84 5.1 Kontrol Sifat Aliran Aliran yang terjadi dalam diversion channel bersifat superkritis yang dinyatakan dalam bilangan Fr > 1.0 2 0.7766 20.2 0.7362 20.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING hcoba2 m 11 VI -31 R m 6=(A/P) Titik B m 2 m 3 A m2 ⎡ B + ( B + mH ) ⎤ 4 = ⎢ ⎥× H 2 ⎣ ⎦ P m 5 = B + H + mH 1 5.00+072.75 2.64 3505.66 3511.75 37.01684 0.83 5.01687 0.6 3 409.85 9 9 9 9 9 9 0.26 59.0027 0.7564 20.684465331 2.4.01672 0.85 4 /3 1 0 6 6 6 6 6 6 37.0 2 Q m3/dt k 5 409.75 37.61 21.74 2.62 Rrata2 n m 3=(R1/R 2) 2.56 21.97056 56.07225 20.2. A.0 2 0.0027 0.75 4 0.75 37.716 20.2 0.0 2 0.58 21.682178027 2.

02*Hn m 3 R (m) m ( 4 )= 2/3 5 6 7 V= 9.5 Perhitungan trial error Hn ruas I N o Asumsi Hn (m) 1 A= (7+0.015 = 9.02 Hn ⎠ V = = 1 × R 2 / 3 × S 1/ 2 n 1 × R 2 / 3 × 0.6154 14.223994 7 <Qd <Qd LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .9055 14.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -32 Gambar 6.4941 7 404.81129 27.02 Hn ⎛ A⎞ R=⎜ ⎟ ⎝P⎠ ⎛ (7 + 0.78 27.021/ 2 0.1Hn) × Hn ⎞ =⎜ ⎟ ⎝ 7 + 2.6356 1.43R 2 / 3 Q =AxV Tabel 6.2 =2% B + ( B + mHn) × Hn 2 Perhitungan : A= = (7 + 0.9029 1.02 Hn + Hn = 7 + 2.77 3.43*R^(2/3) (m/det) Q=V*A (m3/det) Keteranga n Q = Qd 402.723010 1 2 3.1Hn)*Hn m2 2 P= 7+2.21 Rencana Dimensi hidrolis ruas I Diketahui : ▪ B ▪ m ▪ S =7m = 0.88884 14.1Hn ) × Hn P = 7 + 1.4806 14.

80 3.6962 1.60-Sta.5346 2 407.94 % Perhitungan : A= = B + ( B + m × Hn) × Hn 2 7 + (7 + Hn) × Hn 2 = (7 + 0.9135 14.41Hn = 7 + 2.12161 14. 0+091.96641 28.6760 14.735123 VI -33 <Qd ≈Qd <Qd Kesimpulan : Kedalaman air normal (Hn) pada pot ruas I = 3.79 3.5076 14.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 405.41Hn LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0+072.6558 14.726343 3 4 5 3.230053 6 408.80 m » Ruas II (Sta.04400 28.81 27.9082 1.27)) 1 1 Gambar 6.5Hn) × Hn P = 7 + Hn + 1.5211 14.9109 1.22 Rencana Dimensi Hidrolis ruas II Diketahui : ▪ ▪ ▪ B= 7 m m=1 S = 6.

4578 1.2 2.4847 22.41Hn ⎠ VI -34 1 V = × R 2 / 3 × S 1/ 2 n = 1 × R 2 / 3 × 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ⎛ A⎞ R= ⎜ ⎟ ⎝P⎠ ⎛ (7 + 0.6755 44 403.4624 1.24 17.22 2.82 17.3743 12.6 Perhitungan trial error Hn ruas II N o Asumsi Hn (m) A= (7+0.4485 1.3502 12. Kontrol Sifat Aliran LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .563*R^(2/3) (m/det) Q=V*A (m3/det) Keteranga n Q = Qd 400.3261 12.015 = 17.09645 18.22 m B.4532 1.5Hn) × Hn ⎞ =⎜ ⎟ ⎝ 7 + 2.54231 45 409.44086 11 <Qd <Qd ≈Qd <Qd <Qd Kesimpulan : Kedalaman air normal (Hn) pada ruas II = 2.91205 18.1888 12.563R 2 / 3 Q= A x V Tabel 6.5326 22.3984 1.06941 / 2 0.6281 22.5Hn)*Hn m2 P= 7+2.41*Hn m R m ( 4 )= 1 2 3 2/3 5 6 7 V= 17.4670 22.21 2.0042 18.5804 22.23 2.60548 99 406.67697 1 2 3 4 5 2.48744 07 412.302 12.

........81× 5...294 m2 VB = = Qd AB 409.... V1 = = Qd B × H1 409..80 m Hcr1 > Hn 1............8) ⎤ = ⎢ ⎥ × 7....83 (Aliran super kritis) = 1........................81 9. (aman) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .. VB = Qd AB ⎡ B + ( B + mH B ) ⎤ AB = ⎢ ⎥× HB 2 ⎣ ⎦ ⎡ 20 + (20 + 0.631 177.7 × 7.... C.81 m/dtk Fr = = V1 g × H1 7.........................31 m/dtk ≤ 4 m/dtk ...8 2 ⎣ ⎦ = 177...........83 = 7.66 m H1n = 3.........631 9 × 5...BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -35 Kontrol sifat aliran diperlukan untuk mengontrol sifat aliran yang dihasilkan di titik 1 (Sta................... .033 > 1 ...00+016) dengan adanya konstruksi mercu............294 = 2..................... Hcr = 4..... Kontrol Kecepatan di Mulut Upstream (Aliran super kritis) Kecepatan air saat memasuki mulut upstream diversion V ≤ 4 m/dtk agar tidak terjadi aliran yang bersifat helisoidal....

Gambar persamaan garis energi di diversion channel dapat dilihat pada gambar di bawah ini.4. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .3 Hma Sal.00+016-Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -36 6. Peluncur (Sta.00+0108. Transisi Dan Sal.16) Untuk menghitung elevasi muka air di saluran ini digunakan persamaan energi antara penampang dibagian hulu dan penampang dibagian hilir saluran.

00 + 652.00 Zc Hf7 V7²/2g Hf8 V8²/2g Garis Energi (Sf) H1 1:5 H2 H3 H4 H5 + 652.20 1.035 Z7 H8 + 650.23 Garis energi di sepanjang diversion channel LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .78 Z3 2% H6 + 651.541 Z8 H9 + 649.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -37 B Vb²/2g C Garis Energi (Sf) Hfc 1 Hf1 V1²/2g 2 3 4 5 6 7 8 9 Vc²/2g Hf 2 V2²/2g Hf3 V3²/2g Hf4 V4²/2g Hf5 V5²/2g Hf6 V6²/2g HB Hc + 654.868 Z6 Hf9 V9²/2g + 652.40 Gambar 6.18 Z5 A+ 653.91 Z2 + 652.8% + 653.94% H7 + 651.48 Z4 6.

0694 0.3120 Sta.2000 1.0200 0.00+091.00+027 3 15. 7 7.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.0900 Sta.141 Sta.00+042 4 15.00 0.72 8 16.0200 0.4941 Sta.60 0.00+00 B 10.6 6 12.0180 0.00+108.0694 1.6.0694 0.50 0.3000 Sta.0200 0.44 0.8328 Sta.00 0.12 0.16 9 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+057 5 15.3000 Sta.1300 Sta.50 0.00+016 1 4.0200 0. ∆x.00+010 C 6.00 0.0000 Sta.00+084.00 0.00+020.38 Sta.0200 0.7 Rekapitulasi perhitungan ∆z.00 0.slope antar stasiun Jarak Stasiun 1 Titik (∆x) m 2 3 4 Kemiringan (S) ∆Z m 5 VI .8000 Sta.00+072.5 2 6.

39 Dalam perhitungan HMA di sepanjang saluran menggunakan tahapan dan metode yang sama dengan perhitungan HB. H1 dengan menggunakan persamaan energi pada penampang y (upstream)dan z (downstream) : ∆Z + EY = EZ + hfZ V V ∆Z + ( H Y + Y ) = ( H Z + Z ) + hf Z 2g 2g Di mana : V= Q A 2 2 V2 Q2 = 2g 2g × A2 Sf = n 2Q 2 Ar 2 × Rr 4 / 3 hfZ = Sf × ∆x = Sf × 10 Ar Rr = = AY + AZ 2 RY + RZ 2 A.00+010) = 4.09 m ∆x = 4.83 m VI .00+00) = 7.57 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+016) = 5.3 m HC (Sta. 00+020.5) Diketahui : ∆Z =0.8 m H1 (Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Dari perhitungan sebelumnya telah didapatkan HMA pada : HB (Sta. HMA 2 (Sta.5 m E1 = 8.

7766 2.8 m (Sta.003608 0.5 4.003471 ∆x 5 4. 00+020.0156204 E+hf (7) = 3+6 9.0162371 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.943805 Sf 4 0.5 hf 2 (6)=4*5 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.003753 0.9535609 9.09 + 8.0159246 0.2 5.9550761 9.2 H2 (7 + 0. 02 H 2 Persamaan energi titik 1-2 ∆Z+E1 = E2 + hf2 0.5 4.23851789 3.346117778 3.003539 0.6 6.935786 9.1H 2 ) × H 2 7 + H 2 + 1 .5 4.6312 2 + hf 2 8.9630060 9.689029 Karakteristik Penampang 2 Titik B m m H m A = (B + 0.8 Perhitungan trial error H2 No H2 1 1 2 3 4 5 6 6.346117778 3.8 6.946118 9.9630060 9.02 H 2 ( 7 + 0 .81) × {(7 + 0.5) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .938518 9.7 6.003680 0.1H 2 )× H 2 7 + H 2 + 1.02 H m R= m A P 2 7 0.0168883 0.86889 20.937636 9.40 A = (B + 0.9520228 9.0168883 0.946118 9.373 + hf 2 Tabel 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Karakteristik Penampang 1 Titik B m m H m VI .02 H m R= m A P 1 9 0.57 = H 2 + (2 × 9.83 55.5 4.66 = H 2 + {(7 + 0.0165582 0.1H 2 ) × H 2 }2 8552.943805439 E2 (3)=1+2 9.9 7 8552 373 .003753 0. {(7 + 0.5 4.9594258 Ket 8 ≈ (∆Z1+E1) Dengan cara trial error diperoleh : H2 = 6.037636291 2.6 6.13578565 3.1H 2 ) × H 2 } 409.1H 2 ) × H 2 }2 2 3.

06879 10.87212 3.0684373 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0299187 0. 00+027) VI .96879 3.0298552 10.936 m Karakteristik Penampang 2 Titik B m m H m A = (B + 0.224 20.02 H 3 (7 + 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.5 6.518519 Karakteristik Penampang 3 Titik B m m H m A = (B + 0.004672 0.373 E3 Sf 3 ∆x hf 3 E+hf Ket 2 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 6.5 m E2 = 9.41 Diketahui : ∆Z =0.1 6.85858 8552 .936 = H 3 + 10.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.1H 3 ) × H 3 } 2 3.1H 3 ) × H 3 } 8552.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.1H 3 ) × H 3 7 + H 3 + 1.17 6.004603 0.13 + 9.02 H m R= m A P 3 7 0.8 52.0303686 0.18 10.5 6.066 = H 3 + (2 × 9.0991543 10.1H 3 ) × H 3 }2 Tabel 6.02 H 3 Persamaan energi titik 2-3 ∆Z +E2 = E3 + hf3 0. HMA 3 (Sta.2 H3 (7 + 0.1H 3 ) × H 3 7 + H 3 + 1.373 + hf 3 409.04212 10.004593 6.736 2.6312 2 + hf 3 {(7 + 0.03858 0.2 6.5 0.9 Perhitungan trial error H3 No H3 {(7 + 0.81) × {(7 + 0.0720350 10.02 H m R= m A P 2 7 0.13 m ∆x = 6.

42 ≈ (∆Z2+E2) Dengan cara trial error diperoleh H3 = 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 4 5 6 6.5038 2.19 m (Sta.2 6.0649074 10.21 3.0580490 VI .035 = H 4 + (2 × 9.83172 3.035 m Karakteristik Penampang 3 Titik B m m H m A = (B + 0.02 H 4 Persamaan energi titik 3-4 ∆Z +E3 = E4 + hf4 0.1H 4 ) × H 4 7 + H 4 + 1.0614448 10.6312 2 + hf 4 10 .004583 0.0297288 0.81838 10.02 H m R= m A P 4 7 0.373 + hf 4 {(7 + 0.2 H4 (7 + 0.03172 10.0296658 10.03512 10.1H 4 ) × H 4 }2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .19 47.3 + 10.81) × {(7 + 0.02 H m R= m A P 3 7 0.02838 0.2 6. HMA 4 (Sta.1H 4 ) × H 4 } 409.355 = H 4 + 8552 .3 m ∆x = 15 m E3 = 10.16161 19.004574 0.5 0.004564 6.5mH ) × H m2 P = B + H + 1. 00+042) Diketahui : ∆Z =0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.02 H 4 (7 + 0.0297919 0. 00+027) C.5 6.19 6.418073 Karakteristik Penampang 4 Titik B m m m H A = (B + 0.1H 4 )× H 4 7 + H 4 + 1.84512 3.5 6.

59352 4.76 m (Sta.38844 10.76 43.02 H 5 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .76 5.0899651 0.78999 4.1H 5 )× H 5 7 + H 5 + 1.1H 5 ) × H 5 7 + H 5 + 1.6352 2.02 H m R= m A P 5 7 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.29352 10.02 H 5 (7 + 0.10 Perhitungan trial error H4 No H4 VI .58 5.006012 0.43 {(7 + 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.6 5.0864730 0.4699521 10.59 5.0901767 0.0862736 10.37999 10.005998 0. 00+042) D.3376662 10.2 H5 (7 + 0.1H 4 ) × H 4 }2 2 8552 .02 H m R= m A P 4 7 0.25119 10.0897543 0.005984 0.47446 10.373 E4 Sf 4 ∆x hf 4 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.2512 m Karakteristik Penampang 4 Titik B m m H m A = (B + 0.005752 15 15 15 15 15 15 0. 00+057) Diketahui : ∆Z =0.24446 0.7 5.3 m ∆x = 15 m E4 = 10.37163 10.4613868 10.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6. HMA 5 (Sta.4786196 10.0876833 0.005765 0.2 5.63776 18.49119 4.77 4.77163 4.3307316 ≈ (∆Z3+E3) Dengan cara trial error diperoleh H4 = 5.341685 Karakteristik Penampang 5 Titik B m m H m A = (B + 0.80844 4.3811986 10.005846 0.

11 Perhitungan trial error H5 No H5 {(7 + 0.5427082 10.0993972 10.5512 = H 5 + 8552 . 00+072.2512 = H 5 + (2 × 9.94054 4.60) Diketahui : ∆Z =0.45054 10.92135 4.1H 5 ) × H 5 }2 2 8552 .51 5.55889 10.1013552 0.51 m (Sta.45054 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .77163 10.1043959 0.6632877 10.44 + hf 5 10 .15889 4.1H 5 ) × H 5 } 409.312 m ∆x = 15.006774 0.5 5.007135 0.373 E5 Sf 5 ∆x hf 5 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.81) × {(7 + 0.1070292 0.1018532 0.4 5.006626 15 15 15 15 15 15 0.6 m E5 = 10.1H 5 ) × H 5 }2 Tabel 6.1016038 0.006960 0.5521447 10.7766664 10.45984 10.44135 10. 00+057) E.3 + 10.37163 0.6 5.95984 4.006790 0.4710297 ≈ (∆Z4+E4) Dengan cara trial error diperoleh H5 = 5.36964 5.52 5. HMA 6 (Sta.373 + hf 5 {( 7 + 0.6312 2 VI .3 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Persamaan energi titik 4-5 ∆Z +E4 = E5 + hf5 0.006757 0.66964 10.5616896 10.

28388 10.32651 5.34801 5.007579 0.65801 10.6 15.7881736 10.02 H 6 Persamaan energi titik 5-6 ∆Z +E5 = E6 + hf6 0.36964 5.007598 0.12 Perhitungan trial error H6 No H6 8552 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Karakteristik Penampang 5 Titik B m m H m VI .63513 10.34 5.7644421 10.02 H 6 (7 + 0.66964 10.6 15.6 0.007560 0.59299 5.1216244 0.51 41.7527647 10.763 = H 6 + 8552 .02 H m R= m A P 5 7 0.6 15.1179321 0.4505 = H 6 + (2 × 9.31 5.1302 2.007540 0.7412115 ≈ (∆Z5+E5) Dengan cara trial error diperoleh H6 = 5.1173322 10.1182337 0.373 + hf 6 {( 7 + 0.373 {(7 + 0.2 5.007796 0.45 A = (B + 0.81) × {(7 + 0.1H 6 )× H 6 7 + H 6 + 1.3 5.1185364 0.62388 0.2 H6 (7 + 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.32 5.1H 6 ) × H 6 }2 Tabel 6.2 5.32 m (Sta.79299 10.33 5.60) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .60601 18.6 15.7762447 10.6312 2 + hf 6 10 .007521 15.1H 6 ) × H 6 }2 2 E6 Sf 6 ∆x hf 6 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.1H 6 ) × H 6 7 + H 6 + 1.9146173 10.02 H m R= m A P 6 7 0.30513 5.6 15.64651 10.1H 6 ) × H 6 } 409.5mH ) × H m2 P = B + H + 1. 00+072.294846 Karakteristik Penampang 6 Titik B m m H m A = (B + 0.1176316 0.312 + 10.

1H 7 ) × H 7 }2 2 E7 Sf ∆x hf 7 E+hf Ket (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 3.75 3.11965 0.47125 11.8328 m ∆x = 12 m E6 = 10.62235 7.64651 = H 7 + (2 × 9.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.41H m R= m A P 7 7 1 H7 (7 + 0.11822 0. 373 + hf 7 {( 7 + 0 .52517 7.41H m 17.8328 + 10.11774 11.27721 0.39235 11.257936 Karakteristik Penampang 7 ` B m m H m A = (B + 0.81) × {(7 + 0.373 {( 7 + 0 .4722 11. 479 = H 7 + 8552 .010012 0.67158 7.7464 R= A P 6 0.79 3.6) VI .5 H 7 ) × H 7 }2 Tabel 6.46 Diketahui : ∆Z =0.5H 7 ) × H 7 7 + H 7 + 1.32 A = (B + 0. HMA 7 (Sta.5115 11.78 3.009931 0.8 7.009892 0.72125 7.11869 0.5512 11.3949 ≈ (∆Z6+E6) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .41H 7 (7 + 0.2 m 2.57355 7.009972 0.43158 11.5mH ) × H m2 40.009812 12 12 12 12 12 12 0.64651 m Karakteristik Penampang 6 Titik B m 7 m H m 5.6312 2 + hf 7 11 .77 3.35355 11.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING F.76 3.41H 7 Persamaan energi titik 6-7 ∆Z +E6 = E7 + hf7 0.5 H 7 ) × H 7 } 409.12014 0.07024 P = B + H + 1.13 Perhitungan trial error H7 No H7 1 8552 .009852 0.31517 11.5913 11.47721 11.4333 11.11917 0. 00+084.5H 7 )× H 7 7 + H 7 + 1.

41H 8 Persamaan energi titik 7-8 : ∆Z +E7 = E8 + hf8 0.4941 m ∆x = 7.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.5H 8 )× H 8 7 + H 8 + 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Dengan cara trial error diperoleh : H7 = 3.4941 + 11.3536 = H 8 + (2 × 9.6) G.6312 2 + hf 8 11.12 m E7 = 11.41H m 16.41H m R= m A P 8 1 (7 + 0.72) VI .5H 8 ) × H 8 7 + H 8 + 1.5mH ) × H m2 33.5 H 8 ) × H 8 } 409.47 Diketahui : ∆Z =0.5 H 8 ) × H 8 }2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . HMA 8 (Sta.78 m (Sta. 00+084.3536 m Karakteristik Penampang 7 Titik B m m H m A = (B + 0.085948 Karakteristik Penampang 8 Titik B m 7 m H m H8 A = (B + 0.41H 8 (7 + 0. 0+091.373 + hf 8 {(7 + 0.848 = H 8 + 8552 .78 2.81) × {(7 + 0.6042 P = B + H + 1.1098 R= m A P 7 7 1 3.

012990 0.16) Diketahui : ∆Z =1.13470 8.68 3.84848 11.0924907 0.7264002 ≈ (∆Z7+E7) Dengan cara trial error diperoleh H8 = 3.68 32.141 m ∆x = 16.013105 0.69 3.66 3.12 7.44 m E8 = 11.7 3.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.0928975 0.5 H 8 ) × H 8 }2 2 E8 Sf 8 ∆x hf 8 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 3.8984151 11.7687019 11.12 7.76140 11.71857 11.0941313 0.02857 7.0937178 0.8114680 11.013047 0.48 8552 .63431 0.72) H.012933 7.5H 9 ) × H 9 7 + H 9 + 1.8688 2.5H 9 )× H 9 7 + H 9 + 1.67621 11. 00+0108.12 7.013163 0.9426069 11.97621 7.0920861 11.92431 11.08140 8.18848 8.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.05001 Karakteristik Penampang 9 Titik B m m H m A = (B + 0.373 {( 7 + 0 .14 Perhitungan trial error H8 No H8 VI .68 m (Sta.41H m R= m A P 8 7 1 3.5312 15.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.71 8.41H 9 (7 + 0.80470 11.12 0.12 7.013221 0.12 7.67 3.41H m R= m A P 9 11 1 H9 (7 + 0.7614 m Karakteristik Penampang 8 Titik B m m H m A = (B + 0. HMA 9 (Sta.0933065 0.41H 9 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 00+091.8547040 11.

8209002 12.017367 0.37 2.7360365 12.141 + 11.5 H 9 ) × H 9 } VI .7614 = H 9 + 409.6523932 ≈ (∆Z8+E8) Dengan cara trial error diperoleh H9 = 2.25508 10.16074 10.49 12 .06763 9.2819292 0.5 H 9 ) × H 9 }2 Tabel 6.6312 + hf 9 2 (2 × 9. Aliran diam Fr = 0.016829 16.44 16.017041 0.5H 9 ) × H 9 }2 2 E9 Sf 9 ∆x hf 9 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 2.38 2.39 2.44 16.4.37 m (Sta.37573 0.4 Kontrol Sifat Aliran Sepanjang Diversion Channel Rumus: V = Fr = Qd B × H1 V g×H Keterangan : a.44 16.44751 10.35 2.017149 0.79751 12.2766677 13.44 0.62508 12.35066 10.9024 = H 9 + 8552 . Fr < 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Persamaan energi titik 8-9 ∆Z +E8 = E9 + hf9 1.4 10.9070050 12.45763 12.373 + hf 9 {(11 + 0. 00+108.97573 12.2784071 0.373 {(11 + 0.2855103 0.71066 12.44 16.2801609 0.54074 12.016935 0.44 16.017257 0.0830244 12. b.16) 6.2837123 0.36 2.15 Perhitungan trial error H9 No H9 8552.81) × {(11 + 0.9943725 12. Aliran sub kritis (mengalir) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

1 V m/dtk 2.00+010 Sta.200 0.747456773 6.07 7 1.517020686 7.00+027 Sta. Sloope.00+016 Sta.54 2 2.734 9.62 0 11.5 1 5.660 5.1 Rekapitulasi Perhitungan Muka Air.562559091 8.00+020. Aliran kritis Fr = 1.107219005 7.63 1 409.1 9 5.63 1 B m 2 0 1 3 9 7 7 7 7 7 7 7 1 1 H m 7.830 6. 0 60.03 2 1.5 PERHITUNGAN TOP OF WALL DIVERSION CHANNEL 6.3 38.35 2 1.63 1 409.3 40.454 10.00+020.71 3 8.52 3 2.48 1 15.3 7 A m2 156.792554138 7.90 2 15.807 8.2 653.00 0 1.6 Sta.762 7.16 Sifat aliran sepanjang diversion channel Sta Dimensi Hidrolis Qd m3/dtk 409.00+091.224209299 6.00+010 Sta.63 1 409.25 9 Sub Kritis Kritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis segmen setelah mercu segmen sebelum mercu (9. Aliran superkritis (meluncur) Tabel 6.5 25.008394128 4.7 8 3.21 3 1.5 46.089482737 6.64 7 3.6 52.3 2 3.626 6. Lantai m 4 Sloope Ket 6 5 1 2 3 4 Sta.63 1 409.821794272 0.00+00 Sta.1 6 6.00+00 Sta.2 26.30 0 1.000 0.00+042 Sta.7 6.5 7. 5 Sifat aliran Fr Ket Sta.8 26. VI .00+016 Sta.00+084.5.02 652.000 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING c. Fr > 1.17 Rekapitulasi perhitungan ma No 1 STASIUN 2 HMA m 3 Elev.00+057 Sta.910 0.63 1 409. dan Lantai Tabel 6.6 Sta.6 37.8 3 6.63 1 409.15 9 10.00+108.6 6 5.76125728 7.81*H)^0.7 2 Sta.700 653.02 Mulut Upstream Mercu Control Strukture LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .50 d.352081338 7.63 1 409.8 4.63 1 409.63 1 409.800 4.00+072.9 43.44 5 1.014 654.7 6 5.6 8 2.5 Sta.00 0 15.63 1 409.

00+084.760 5.190 5.500 660.6 0.6 00+072.72 00+091.6 Sta.5-00+027 00+027-00+072.821 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . dimana tinggi muka air berbedabeda dan dengan memperhatikan letak konstruksi cofferdamnya.541 0.6 Sta.920 4.5 00+020.780 3.680 0.510 5.221 661. Dinding diversion pada segmen ini selain harus ditambah tinggi jagaan juga harus memperhatikan elevasi MA di cofferdam di Axist of cofferdam (Sta.00+057 Sta.280 661.72-00+108.800 5.300 7.480 0. MA + w Segmen diversion yang perlu di perhatikan adalah pada Sta.6 8.02 652.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 5 6 7 8 9 10 11 Sta.5.000 659.0694 651.190 5.6-91.00+072.18 Tipe diversion channel (top of wall) Tipe Sta Hma Tetinggi m w m H top of Wall m Elevasi MA m Elev Top of Wall m I II III IV V 00+000 s/d 00+020.680 2.6 0.00+027 Sta.2 Perhitungan Tinggi dan Elevasi Top of Wall (Dinding) Tinggi dinding diversion channel harus mampu menampung Qd dengan tinggi MA tertentu dan tanpa melimpas ke daerah konstruksi.6 0.00+042 Sta.02 651.5 0.800 6.00+016.02 652.00+016 diversion) = MA di Sta.16 6.970 657.72 Sta.320 3.00+00-Sta.16 7.700 6.788 654.780 0.570 657.610 658.00+091.00+00. maka untuk mempermudah pelaksanaan pekerjaan di lapangan serta mempermudah perhitungan stabilitas konstruksi. dimana MA di cofferdam (Sta. Top of Wall diversion dibagi dalam 5 tipe yang ditampilkan dalam tabel berikut: Tabel 6.51 Mulut Downstream 6. Elev.0694 649. top of wall diversion = elevasi muka air + tinggi jagaan = Elv.868 0. Mengingat panjang diversion cukup panjang.00+016 pada diversion).00+108.210 659.400 VI .300 6.035 0.320 3.370 652.188 654.180 0.0694 650.

78 + 651.21 A+ 653.18 + 651.868 6.035 + 650.6 Sta.57 + 657.00+010 Sta. + 654.91 + 652.24.40 BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH cofferdam terutama bila cofferdam di desain boleh mengalami limpasan.00+091.94% A.00+016 tergantung pada elevasi MA di .82 + 653.00+000 Sta. Elev.72 Sta.48 + 652. Rencana Top of Wall Diversion Channel VI .50 + 659.00+042 Sta.00+027 Sta.00+057 Sta.00+020.5 Sta.52 Elevasi top of wall pada Sta.79 Top of Wall Diversion + 660.16 Gambar 6.00+000-Sta.541 + 649. MA dan Elev.00+084.6 Sta.4% 1:5 + 653 + 652.00+108.00+016 Sta. Sta.2 2% + 654 + 652.00+072.68 1.Catatan : B C 3 4 6 8 7 1 2 5 9 + 661.

Selain permasalahan utama di atas. yang tidak boleh dilupakan adalah adanya konstruksi jalan existing disisi cofferdam yang masih difungsikan sebelum jalan relokasi selesai dilaksanakan.6. Cofferdam untuk pelaksanaan Bendung Gerak PLTA Tulis direncanakan tipe timbunan batu yang sesekali mengalami over topping (cofferdam limpas) dengan tinggi limpasan tertentu. Cofferdam biasanya direncanakan tidak mengalami over topping. Tetapi bila dengan perencanaan cofferdam timbunan batu zonal biasa yang relative murah pasti akan hancur bila terjadi limpasan.1 Tinjauan Umum Cofferdam berfungsi melindungi daerah/area pelaksanaan pekerjaan bendung dari pengaruh aliran air.53 6.2 Permasalahan Dari data instansi pemerintah dan masyarakat sekitar didapatkan informasi bahwa debit yang lebih besar dari debit design diversion channel (Q10) akan sering terjadi dan bahkan dimungkinkan terjadi debit yang lebih besar lagi selama pelaksanaan bendung.6. Aliran air tersebut dapat berupa debit sungai atau limpasan dan lain-lain. Pemilihan cofferdam ini didukung oleh beberapa faktor dimana factor-faktor tesebut lebih menguntungkan untuk mendukung rencanan pelaksanaan bendungnya. tetapi dalam hal tertentu dapat juga direncanakan untuk sesekali mengalami over topping.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Bila cofferdam upstream yang dipilih tidak boleh LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .6 PERENCANAAN COFFERDAM 6. maka dimensi stone covering dan lain-lain perlu dikontrol terhadap kecepatan limpasan dan kemungkinan adanya genangan yang akan memudahkan batu-batu tersebut bergeser dari tempat kedudukan semula. 6. Permasalahan yang timbul adalah dengan perencanaan cofferdam (cofferdam upstream) yang mampu mengatasi debit lebih besar akan mahal dan design cofferdam yang betul-betul tahan terhadap limpasan pasti juga akan mahal padahal fungsi konstruksi ini hanya sementara. Oleh karena cofferdam boleh mengalami limpasan.

di ketahui bahwa di lokasi konstruksi banyak sekali terdapat batu gunung. maka elevasi ma dengan Q > Qd akan lebih tinggi sehingga dikhawatirkan elevasi mercunya akan melebihi elevasi jalan existing di axist of cofferdam. Sementara untuk analisa perencanaannya cofferdam downstream yang perlu diperhatikan hanya fenomena backwater (air masuk area konstruksi dari arah downstream). dan tidak ada pasir yang baik untuk konstruksi. 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . ▪ Data pelaksanaan konstruksi.6.1 Potensi dan Batasan Material Setempat Dari informasi masyarakat dan pelaksana pekerjaan Bendung Gerak Tulis.. Hal ini bila dilihat dari segi biaya sangat tidak ekonomis. ▪ Alternatif pemilihan yang mungkin.2. Bila pengambilan dan pengangkutan stock material timbunan cofferdam di luar/tidak di sekitar Kali Tulis hal ini dapat menyulitkan saat pengiriman ke lokasi pekerjaan mengingat tingkat kesulitan dalam pencapaian daerah konstruksi bendung cukup tinggi. Padahal jalan existing ini nantinya juga akan direlokasi seperti yang telah dijelaskan dalam Bab V. Bila dipaksakan menggunakan cofferdam tanpa melimpas maka diperlukan tambahan pekerjaan lain terkait dengan adanya konstruksi jalan existing ini agar air bisa di bendung dan tidak masuk ke area konstruksi.6.54 mengalami limpasan. Dengan demikian material yang dapat diharapkan untuk dapat dipakai sebagai konstruksi adalah batu gunung. ▪ Batasan lain. Untuk mempermudah pemecahan permasalahan masalah maka perlu di ketahui terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut : ▪ Potensi dan batasan material setempat.2 Data Pelaksanaan Konstruksi LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . tetapi sedikit material clay. 6.2. cofferdam (cofferdam upstream) yang akan direncanakan untuk pelaksanaan Bendung Gerak Tulis direncanakan boleh mengalami sesekali limpasan dan dengan perencanaaan yang seefisien mungkin. Berdasarkan permasalahan dan analisa diatas. misalnya dengan peninggian jalan existing.

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .3 Batasan Lain Dari analisa sebelumnya diketahui : Waktu pelaksanaan tidak boleh mundur panjang karena akan terkait dengan pekerjaan lain Di sisi axist of cofferdam terdapat jalan existing yang belum boleh dibongkar sebelum jalan relokasi selesai dilaksanakan. maka perlu dikontrol diameter batu pada cofferdam yang diijinkan sehingga batu tersebut tidak akan larut/terlarut oleh limpasan. Cofferdam dengan urugan timbunan batu Alternatif ini sangat mungkin dilaksanakan mengingat material batu yang tersedia dilapangan cukup banyak. Berdasarkan hal-hal diatas maka alternatif ini tidak direkomendasikan.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .627 m3/dtk 6. Data perencanaan : Qd = Q10 = 409.2.939 m3/dtk 6. tetapi ada beberapa pertimbangan yang harus dipertimbangkan antara lain : konstruksi mahal.631 m3/dtk QdLimpas = Q50 = 462. harus mendatangkan pasir dari luar daerah.2. pembongkaran sulit. pelaksanaan relatif lama.6. Cofferdam dari Concrete Alternatif konstruksi ini sangat mungkin tahan terhadap limpasan. keuntungan lain adalah konstruksi tidak rumit dan relatif murah. Tetapi oleh karena cofferdam direncanakan sesekali boleh mengalami over topping (melimpas).55 Cofferdam di rencanakan boleh sesekali mengalami over topping (melimpas) dan direncanakan Qdlimpas > Qd.6.4 Alternatif Pemilihan Cofferdam a. Di hulu axist of upstream cofferdam terdapat inlet drain (saluran kecil) yang merupakan anak Kali Tulis Q inlet drain = 60. b.

Perencanaan konstruksi cofferdam secara umum menggunakan metode perencanaan bendungan urugan untuk membantu dalam perencanaan dengan memperhatikan aspek lain.7 PEMILIHAN TIPE COFFERDAM Pada hakekatnya cofferdam dengan timbunan material merupakan salah satu jenis bendungan urugan.19 Skema dan type dari bendungan urugan Type Skema Umum Keterangan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .56 Type gabungan/modifikasi ini adalah cofferdam dengan urugan batu dan concrete serta jaring-jaring dari baja tulangan. Limpasan yang terjadi dapat melarutkan batuan terutama dibagian hilir dan puncak cofferdam sehingga bagian-bagiann tersebut perlu diperkuat dengan lapisan concrete dan jaring-jaring dari baja tulangan . seperti: diversion channel. Gabungan/modifikasi (urugan batu dan concrete) VI . dan kontur penampang sungai.1 Tipe cofferdam Urugan Ditinjau dari penempatan serta susunan bahan yang membentuk tubuh bendungan urugan digolongkan dalam 3 type yaitu : Bendungan urugan homogen: bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari tanah yang hampir sejenis dan gradasi hampir seragam.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING c.ihat dalam tabel berikut ini : Tabel 6. 6.7. 6. Skema dan type dari bendungan urugan dapat di. Cofferdam type ini paling sesuai untuk dilaksanakan bila cofferdam didesain boleh mengalami sesekali over topping (melimpas). Bendungan urugan sekat : Bendungan urugan dengan sekat (facing) tidak lulus air di lereng udik. kemudahan pelaksanaan. Bendungan urugan zonal/majemuk: timbunan yang membentuk tubuh bendungan terdiri dari batuan dengan gradasi yang berbeda-beda dalam urutan pelapisan tertentu.

tetapi dilengkapi dengan inti hilir kedap air yang Zone Lulus Air m Zone Lulus Air Zone Transisi berkedudukan miring ke CL BendunganInti Tegak Zone Inti Kedap Air 1 Apabila bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air.57 CL Apabila 80 % dari seluruh bahan pembentuk tubuh bendungan bahan Drainase terdiri dari yang bergradasi hamper sama. Bendungan Zonal/ urugan majemuk Zone Transisi CL Bendungan Inti Miring Zone Inti Kedap Air 1 Apabila bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air. Apabila nahan pembentuk CL Bendungan Tirai Zone Lulus Air Zone Kedap Air 1 m tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Bendungan Homogen Zone Kedap Air Zone Lulus Air 1 m VI . tetapi dilengkapi dengan inti kedap air yang Zone Lulus Air m Zone Lulus Air Zone Transisi Drainase berkedudukan vertical LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . tetapi dilengkapi tirai kedap air di udiknya.

terutama untuk bahan pada zone kedap air.58 CL Apabila bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air. aspal plastik. Penentuan suatu type bendungan urugan yang paling cocok didasarkan pada beberapa faktor : ▪ Kualitas serta kwantitas bahan–bahan tubuh bendungan urugan yang terdapat di beton. Cofferdam downstream : Zonal inti tegak biasa. pengangkutan. lembaran daerah sekitar tempat kedudukan calon bendungan. Mengingat potensi daerah di sekitar Kali Tulis dan desain cofferdam (boleh mengalami over topping pada cofferdam upstream) yang telah di sebutkan sebelumnya maka: Direncanakan : Cofferdam Upstream : Zonal inti tegak dengan modifikasi (pengabungan material urugan dengan beton dan tulangan). tetapi dilengkapi dengan Drainase dinding tidak lulus air di lereng biasanya udiknya terbuat yang dari lembaran baja tahan karat. ▪ Kondisi alur sungai. lembaran beton bertulang. pengolahan. ▪ Kondisi lapisan tanah pondasi pada tempat kedudukan calon bendungan. penimbunan. dll). ▪ Kondisi penggarapan/pengerjaan bahan tersebut (pengalian. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Bendungan Sekat Zone Lulus Air Zone Sekat 1 m VI . Hal terpenting dari empat faktor tersebut di atas adalah mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan usaha-usaha mendapatkan kwalitas serta kwantitas bahan–bahan tubuh bendungan urugan yang terdapat di daerah sekitar tempat kedudukan calon bendungan.

0 0+0 00+0 2 0 .80 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+00 diversion = 661.25 Plan view cofferdam upstream 6. Jalan existing di Axist of Cofferdam = + 661. 0 0+02 7 Gambar 6.00 AXIS +6 CH AN NE LL 60 ERD S ta . Elev. EXISTIN + 66 1. HMA cofferdam = HMA di Sta.00 +654.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .80 G + 653.5.5 16 S ta . Top of Wall Diversion (Sta.00 m.8 PERENCANAAN COFFERDAM UPSTREAM TA N U JE M BA OF R EFER E NC E UP S T REAM JALA N Elv.00 IV E TRE RS I UPS AX IS O C2 AM FD AXI S OF AM COF F ON L TU D1 LI M ul A ut U p str K eam 0 S t+ 65. 10 S ta .8.1 Tinggi Cofferdam Upstream Diketahui : Elev.59 6.0 a 00 +0 + 655.00 .00+016) = + 661.50 m . 00+0 D2 S ta .

50 + 661.75 Dengan perhitungan kemiringan tersebut maka di Axist of reference Cofferdam didapat : Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hilir : + 652.8.3 (diambil B = 5 m) Kemiringan Cofferdam Upstream Kemiringan cofferdam ditentukan oleh material yang akan digunakan dengan memperhatikan situasi.2..8 m dari elevasi jalan existing sehingga tidak diperlukan pekerjaan tambahan untuk konstruksi jalan existing. kondisi dan posisi Axist of Dam agar cofferdam (bagian hilir) tidak mengganggu pekerjaan bendung itu sendiri (memberikan space/ruang cukup).5 m Elev mercu = (+ 651. Karena cofferdam upstream ini didesain boleh melimpas.0 m Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hulu : + 655.. tanah dasar (NGL) di Axist of Reference Cofferdam = +653. 6.5 = + 661. tanah dasar cofferdam di Axist of Ref.6 H1/3 – 3. Lebar Mercu Cofferdam Upstream Lebar mercu cofferdam minimum dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut B = 3.5 m Axist of Cofferdam 2 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Elev.. Cofferdam = + 651.62 m .5 m. 6.0 = 4. VI .60 Elev.8.00 El ev .50 ah A sl i (N GL) + 652.6 (9.00 Top of W all Diversion + 661.00 . H = (+ 661.3 m.. maka tidak diperlukan tinggi jagaan pada cofferdam upstream. renc..00) – (+ 651.T an + 651.0 B = 3.50) + 9.5)1/3 – 3.50) = 9.00 m Elev mercu lebih rendah 0..75 LAPORAN TUGAS AKHIR 1 1 m m PERENCANAAN SISTEM DEWATERING 1 1 PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS + 656. Direncanakan : Kemiringan Hulu = 1:2 Kemiringan Hilir = 1:1.00 BANJARNEGARA – JAWA TENGAH + 661.

▪ tingkat deformasi yang rendah. Tanah maupun tanah liat yang dipakai sebagai bahan timbunan lapisan kedap air ini haruslah memenuhi persyaratan utama untuk bahan kedap air.8.4. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya rembesan air melalui lapisan kedap air yang bersangkutan. Zone Inti Kedap Air Bahan yang dipakai untuk lapisan kedap air dapat berasal dari tanah dan tanah liat (clay). ▪ tidak mengandung zat-zat organis serta bahan mineral yang mudah terurai lebih dari 5 %. hal ini ditentukan oleh nilai koefisien filtrasinya.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Hal ini untuk mencegah penurunan yang terlalu besar. yaitu : ▪ koefisien filtrasi serta kekuatan geser yang diinginkan.8.4 Material Konstruksi Pada umumnya dalam pembuatan rencana teknis bendungan zonal dibuat sedemikian rupa sehingga baik ke arah hilir maupun ke arah hulu dari inti kedap air tersusun berurutan dari bahan-bahan yang permeabilitasnya semakin meningkat.61 Gambar 6.26 Lebar mercu dan kemiringan cofferdam 6.1. Sebagai standar koefisien filtrasi (k) bahan zone kedap air supaya tidak melebihi nilai 1 x 10-5 cm/det. Lapisan kedap air harus mempunyai tingkat permeabilitas yang rendah. 6. Dalam zone kedap air pada hakekatnya semakin halus butiran suatu bahan maka koefisien LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . ▪ mudah pelaksanaan pemadatannya.

Hasil–hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila suatu bahan dimana butiran halus yang dapat melalui saringan No.Apabila lebih dari 50 % yang dapat melalui saringan tersebut. Gambar 6.maka bahan tersebut juga tidak bisa digunakan untuk bahan kedap air.27 Gradasi bahan material cofferdam Direncanakan : Lapisan (zone) inti kedap air cofferdam menggunakan : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 1989).62 filtrasinya semaki rendah dan Untuk mendapatkan nilai (k) yang memenuhi syarat untuk lapis kedap air biasanya diperkirakan berdasarkan prosentase butiran tanah yang lolos saringan No. 300 (Suyono Sosrodarsono..200 lebih rendah dari 7% maka bahan tersebut biasanya lulus air .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Gradasi bahan kedap air biasanya mempunyai ukuran butiran seperti tertera pada gambar.

Bahan-bahan tersebut supaya mempunyai kekuatan geser dan kemampuan meluluskan air yang memadai. maka dalam pelaksanaannya filter dari bahan semacam ini dapat mencapai ketebalan antara 2 s/d 3 meter.75 m. ▪ Kemiringan zone filter = 1: 0. ▪ Nilai Kmaks = 1 x 10-3 cm/det. 6.2 Zona Transisi/Filter VI . Berdasarkan hal tersebut diatas maka untuk lapisan transisi/filter cofferdam direncanakan : ▪ Bahan/material = sandy clay. serta faktor besarnya debit filtrasi yang harus diluluskan. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .3 m. Sebagai contoh dapat kiranya diikuti uraian sbb: ▪ Apabila diperoleh bahan pasir sungai berbutir hampir seragam dan butirannya berbentuk bulat dengan koefisien filtrasi K = 1 x 10-2 ~ 1 x 10-3 cm/dtk maka secara teoritis bahan seperti ini dapat di gunakan sebagai filter dengan ketebalan antara 20 s/d 30 cm saja. ▪ Akan tetapi dengan mempertimbangkan faktor-faktor praktis dan faktor keamanan baik pada saat penimbunannya. Zone-zone dengan ketebalan tipis biasanya disebut lapisan filter sedangkan zone yang tebal biasanya disebut zone transisi. tetapi juga dipertimbangkan faktor-faktor praktis serta faktor keamanan lainnya. saat exploitasinya. ▪ Tebal lapisan transisi = 0. Bahan yang bisa digunakan dalam zone transisi adalah pasir dan kerikil.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Bahan/material = clay ( lempung).8.25. ▪ Kemiringan zone transisi= 1: 0. Zone peralihan berfungsi mencegah kemungkinan lepasnya butiran-butiran halus bahan pengisi pada lapisan yang dilindunginya akibat aliran air. Penentuan ketebalan lapisan transisi bukan hanya di dasarkan pada perhitunganperhitungan teoritis.4.63 Zona-zone timbunan tanah dan zone-zone timbunan batu pada tubuh cofferdam dipisahkan dengan suatu zone-zone peralihan. ▪ K maks = 1 x 10-5 cm/det. ▪ Tebal zone filter = 0.25.

Top of Wall (Sta. Cofferdam upstream untuk pelaksanaa Bendung Gerak Tulis direncanakan diperbolehkan sesekali terjadi limpasan dengan debit yang lebih besar dari debit rencana (Qd) pada perhitungan diversion channel.627 m3/dtk (melimpas) Elev ma = + 661. maka hal ini akan lebih memudahkan pelaksanaannya.4.3 Lapisan Pelindung dan Penyangga Merupakan lapisan yang berfungsi untuk melindungi dan menyangga muatan yang bekerja serta berguna untuk mengeringkan air yang berasal dari lapisan kedap air. Perhitungan Tinggi Limpasan Data perhitungan : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Qd = Q10 = 409.64 6. A.9. PERHITUNGAN DIMENSI BATUAN COFFERDAM 6. dan air di sela-sela lapisan yang ada sesudah permukaan air turun.00+016) = + 661. air hujan.1 Perhitungan Dimensi dan Kontrol Batuan di Hilir Dibagian hilir cofferdam upstream perlu ditinjau dimensi batuannya karena adanya limpasan. Cofferdam Ups = + 661. Mengingat potensi di sekitar area konstruksi banyak dijumpai batuan gunung. 6.00 m (FWL) Elev. Adapun dalam pemilihan diameter batuan untuk lapisan ini harus dicek/dikontrol terlebih dahulu agar material batuan tersebut mampu menahan gayagaya yang bekerja.9.8. Material yang digunakan sebagai bahan timbunan lapisan ini merupakan material batuan kasar dengan gradasi yang cukup baik.50 m L cofferdam = 44.631 m3/dtk (aman) Q50 = 462.00 m Elev.00+00-Sta. Untuk lapisan (zone) pelindung dan penyangga cofferdam upstream sebagai konstruksi sistem dewatering pada pelaksanaan pembangunan Bendung Gerak Tulis direncanakan : ▪ Bahan/material : Batuan gunung.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .5 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

. maka debit yang mengalir saat terjadi Q50 = QDL : Q50 = 462...704 x 1 x 13 x H23/2 = 22.5 2 1 0.20 Perhitungan trial error h limpasan N o H1 (limpasan) Elev MA H1^(3/2 ) H2^(3/2) H2 Q1 Q2 Qtot Ket LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 Mercu Control Strukture + 654 Gambar 6.........Channel (Q2) = 1.5) (Sodibyo.82) b = panjang konstruksi (m) Hi = kedalaman air disebelah hulu ambang (tinggiu limpasan) a.H13/2.....704 x 0..............5 x H13/2 = 62.704..82 x 44..... Melalui Cofferdam QCofferdam (Q1) = 1.00+010 (Mercu Control Strukture) = 13 m CL Jalan Existing Lama 1 Cofferdam Upstream + 661......28 Hubungan konstruksi cofferdam u/s dan diversion channel Dari gambar diatas....BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ VI .. Channel QDiv..c. hal 322) Di mana: c = angka koefisien bentuk penampang (bentuk persegi empat = 0.......704 C b H23/2 = 1.. Melalui Div..... Teknik Bendungan....00 + 661......19 H13/2 b.b.15 H23/2 Tabel 6.65 B div Channel Sta.... (6.... Channel = Q1 + Q2 Rumus: Q = 1. 627 m3/dtk = QLewat Cofferdam + QLewat Div...704 C b H13/2 = 1..

3 0 7. Jika segmen ini mampu melewatkan Q50 = QDL maka dengan adanya tinggi jagaan dipastikan segmen diversion lainnya juga akan mampu melewatkan Q50 = QDL.46 m B.00 661.31962 7 19.25 1 1.20259 ≈ Qd ≈ Q50 Dari trial error di atas didapat : ▪ ▪ ▪ Q1 = 19.00+042 + 661.2 0 7.35355 3 m 4 5 18.46 0.00+016 Sta.20 661.52025 9 19.75 + 651.47 1 Axist of Cofferdam 1 + 656.88966 450.56155 10.72351 4 20.98395 409. Kapasitas Penampang Diversion terhadap Q50 Perhitungan ini berkaitan dengan tinggi top of wall yang telah direncanakan apakah masih mampu melewatkan Q50 = QDL tanpa melimpas ke cofferdam (bagian hilir) dan area pekerjaan bendung. Hal ini di karenakan di stasiun tersebut adalah segmen awal diversion yang berhubungan langsung dengan cofferdam upstream.70 7 7.00+00-Sta.00+027.31198 7 0.00+027 Sta.96376 435.39936 21.5 + 652 Gambar 6.00+018.00 0.16431 7 0. Segmen diversion yang akan ditinjau adalah segmen dari Sta.30 661.21722 19.50 661.1068 7 469.00 + 660.30 2 Top of Wall Diversion + 661.00000 5.00000 0 0.00 0.30 0.1 *(3) VI .4 6 7.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING m 1 m 2 3 0.00+010 Sta.175 m3/dtk (lewat diversion) HmaLimpas di cofferdam = 0.29773 426.39 m3/dtk (limpas cofferdam) Q2 = 443.21 0.2977 3 432.25 1 + 659.50 + 661.66 m3/dtk (8)=6+7 409.29852 472.20 0.6978 8 494.5 Sta.1865 4 9 1 2 3 4 5 0.18 *(3) m3/dtk (7 )= 22.5 Sta. Sta.7 0 0.29 Hub limpasan cofferdam dan tinggi Top of Wall LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+00 Sta.5253 1 446.08944 3 0.36663 3 m3/dtk (6 )= 62.37549 8 21.46 661.00+020.

2 0 1 .5 Sta.800 4.46 m Hma diversion channel saat dilewati Qd: Sta Hma m Sta.190 » Perhitungan ▪ Hma di Sta.830 6.00+010) dapat di lihat dalam gambar 6.00+016 Gambar hubungan Hma pada saat masuk (Sta.4 % 1 :4 + 653 A S ta .0 0 + 0 1 0 S ta .0 0 + 0 0 0 S ta .00+020. maka yang perlu diperhatikan adalah kenaikan MA akibat bertambahnya debit yang lewat dalam diversion.39 m3/dtk (limpas cofferdam) Q2 = 443.700 6.00+010 Sta.660 5.00+016 Sta.00+000 Sta.0 0 + 0 1 6 Gambar 6.00+00) dan saat di mercu control strukture (Sta. Diketahui: ▪ ▪ ▪ ▪ Q1 = 19.175 m3/dtk (lewat diversion) HmaLimpas di cofferdam = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . 00+00-Sta.30 Hma di Mercu Control Strukture LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+027 7.0 0 + 6 5 3 .67 Dalam menghitung kemampuan penampang diversion pada saat terjadi Q50.27. B C 1 + 6 5 4 .

00+016-Sta.00+027 menggunakan persamaan energi. Rumus Pers.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .00+027 Perhitungan di Sta.68 Rumus: Hcr = 2 × H1 3 H1 = HB – Z ▪ Hma di Sta. maka perhitungan dan hasilnya dapat dilihat dalam tabel-tabel berikut ini : 2 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . dimana langkah perhitungan telah dijelaskan pada subbab sebelumnya. 00+016-Sta.Energi: ∆Z + EY = EZ + hfZ V V ∆Z + ( H Y + Y ) = ( H Z + Z ) + hf Z 2g 2g Berdasarkan rumus-rumus perhitungan di atas.

8 8.2 H MA di Sta. MA Sta 00+010 (10)=7+9 m 658.00+000 8.627 m3/dtk Sumber :Hasil Perhitungan Tabel 6.20 Sta.973 Elv.29773 450.26 H1 (8)=4-7 m 7 7.29852 Elv.00+00 (6)=4-5 m 7.667 4.25 Sta.5 7. Dasar Sta.MA Cofferdam = Elv.2 653.67 658.97 Sta. Mampu Menampung Tidak Melimpas (Qd = 409.26 Sta. dasar Mercu (Sta.00+010 4.46 Elv.MA Sta.00 661.00 19.00+00 4 m 661.46 Q1 2 m3/dtk 0.631 m3/dtk) Melimpas (Q50 = 462.46 H MA di mercu (Hcr) (9)=(2/3)*8 m 4.00+00 5 m 653.00+020.22 Hasil perhitungan Hma (dengan persamaan energi) saat Q50 = QDL Sta Hma m Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.00+010) 7 m 654 654 VI -69 Kondisi HL 1 m 0 0.97 Elv Top of Wall 11 m 661.00+027 6.00+016 6.60 Sumber: Hasil Perhitungan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .500 Ket 12 Div.40 Q2 3 m3/dtk 409.21 Hma di mercu control strukture untuk awal perhitungan Hma akibat Q50 Elv.

57 Mampu Menampung Mampu Menampung Mampu Menampung Mampu Menampung Mampu Menampung Ket Sumber: Hasil Perhitungan Kemampuan H Top of Wall Terhadap Kenaikan H MA 662.26 4.830 6.60 H dinding m 8.800 4.50 7.660 5.38 Elv.30 7.50 661.16 659.70 Tabel 6.190 H MA QL m 8.0 657.00+016 Sta.31 Digram kemampuan H Top of Wall terhadap kenaikan Hma dalam kondisi Qd dan Q50 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .30 6.50 8.50 660.660 658.5 Sta.0 659.0 661.000 658.20 660.610 658.00+000 Sta.973 6.78 H MA Qd m 7.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .00+027 Jarak m 0 10 16 20.91 652. Top of Wall m 661.830 659.5 27 Elv.700 6.79 Elv MA (Qd) m 661.MA (m) Hma (QD) Hma (Q50=QDL) H Top of Wall 660.0 Elev.20 7.5 27 Gambar 6.00+020.0 0 10 16 Stasiun 20.2 654 653 652.21 659.970 Elv MA (Q50) m 661.25 6.97 659. dasar Sta m 653.23 Perhitungan kemampuan diversion saat Qd da Q50 Sta Sta.00+010 Sta.0 658.50 661.46 658.

5 × 0.5 m) VB = = (2 g ( Z B − 0.00 VI .48 m/dtk hA = 20 13.5 = 0.5 = 0.00 + 652.50 + 661. Dimensi dan Kontrol Batuan di Hilir + 661.5 × 0.041 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .46) = 13.32 Limpasan pada cofferdam » Perhitungan: Diketahui: Q1 = 19.5 H ) ) 2 × 9. 5 − 0.5 m) VA = = (2 g ( Z A − 0.81 × (6.5 H ) ) 2 × 9.00 Gambar 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.81 × (9.00 + 655.48 × 44.09 m/dtk hB = 20 11.5 − 0.46) = 11.09 × 44.71 + 658.034 m ▪ Titik B (ZB = 6.39 m3/dtk = 20 m3/dtk (limpas cofferdam) ▪ Titik A ( ZA = 9.

81 × 0....01 × 44.48 m/dtk .0 log = 1....48 m/dtk 6h D 6 × 0..5 = 0.2 1...8 x log 1.2 m ρ W = 1...0 log = 1. 2 Metode Isbash (1935) V cr = 1...034 0.. h A = 0.5 − 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Titik C VI .2 * 1..65 × 9..02 = 0...034 m. V cr = ∆gD * 1.056 m » Perencanan diameter batuan Direncanakan: D = 0.1 t / m 3 ∆= ρ S − ρW ρw 2.72 VC = = (2 g ( Z C − 0..01 m/dtk hC = 20 8..46) = 8.1 − 1 1 = = 1.2 2∆gD (tidak stabil) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ...5 × 0..0 t / m 3 ρ S = 2...5 H ) ) 2 × 9.1 » Kontrol Diameter Batuan ▪ Dititk A : + 652 m . VA=13...81 × (3.0155 m/dtk < 13.

.....2 = 3....034 * 1......2 2∆gD (tidak stabil) = 1...BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 1..162 m/dtk < 11.1 m .8 x log 1.0 log = 1......65 × 9.......... Metode Goucharov V cr = 0........ Metode Goucharov V cr = 0..81 × 0..81 × 0..8h * ∆gD D 8.8 × 0.......2 0...... V cr = ∆gD * 1.. VB = 11......053 m/dtk < 13.48 m/dtk.........75 log 8....65 × 9.65 × 9...2 = 0....2 2 × 1. (tidak stabil) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .65 × 9.....81 × 0...0 log 6h D 6 × 0....81 × 0....2 = 1.041 m... h B =0.8 × 0.....041 × 1...... 3.2 * 1..2 (tidak stabil) = 0..81 × 0.....236 m/dtk < 13.23 = 0..........75 log = 0..... ▪ Dititk B = + 655...09 m/dtk.. 3.73 (tidak stabil) 8.041 0.......75 log VI ....2 = 3. 2 Metode Isbash (1935) V cr = 1...8h * ∆gD D 8...053 m/dtk < 11..75 log = 0.09 m/dtk (tidak stabil) 1.09 m/dtk ......65 × 9....2 2 × 1.2 0.09 m/dtk ..48 m/dtk .346 m/dtk < 11..

.2 m di hilir (pada posisi A.....0 log = 1.......01 m/dtk ... 3.8h * ∆gD D 8..39 m3/dtk setinggi 0......... 6.74 1....2 2∆gD (tidak stabil) = 1..2 * 1..... Metode Goucharov V cr = 0....8 x log 1.2 m .81 × 0....3 Perhitungan Dimensi dan Kontrol Batuan Di Hulu Dibagian hulu cofferdam upstream telah diketahui ada inlet drain yang merupakan anak Kali Tulis dimana arah alirannya diperkirakan akan menghantam cofferdam..2 = 3.. V cr = ∆gD * 1.. h C = 0.....65 × 9...056 m .8 × 0....81 × 0... karena itu perlu diberi penguat (concrete dan tulangan) di bagian hilir dan mercu bendung....056 0.........75 log = 0.46 m..41 m/dtk < 8....65 × 9..056 × 1...... Dari hasil perhitungan stabilitas batuan cofferdam upstream terhadap debit limpasan dengan D = 0.....01 m/dtk ... Bila cofferdam upstream dalam keadaan menahan debit rencana dengan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Kesimpulan : ▪ ▪ (tidak stabil) Bila menggunakan QDL = Q50 maka akan terjadi limpasan di cofferdam upstream sebesar Q1 = 19.....2 = 1..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Dititk C = + 658.01 m/dtk VI .2 0.01 m/dtk .65 × 9.B.. 2 Metode Isbash (1935) V cr = 1.0 log 6h D 6 × 0...75 log (tidak stabil) 8........C) akan terlarut/bergerak..053 m/dtk < 8. VC = 8.528 m/dtk < 8..68 = 0...2 = 0..9..2 2 × 1.81 × 0.....

Efek olakannya bisa menyebabkan bergesernya material batuan di hulu cofferdam upstream.75 tinggi ma tetentu.34 Pot.00 B +653. maka dikhawatirkan akan terjadi olakan (turbulence) akibat adanya petemuan aliran Kali Tulis dengan inlet drain. A JALAN RELOKASI +659.8 + 657 + 656 Gambar 6.00 N TA BA JEM +660.00 +658.00 A AM LL PA AS N LA JA EREN CE C OFFE RDA M + 657.00 + 656.00 F REF AXIS O +655.33 Detail situasi dan kontur di inlet drain + 658. A-B LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 KA LI L TU IS Gambar 6.00 +654.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .

8 − 656 60 = 0.0467 1 / 2 0.0467 n = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .5 × h 2.5 + 2h 1 2/3 V1 = × R1 × I 1 / 2 n = 1 2/3 × R1 × 0. Perhitungan Tinggi dan Kecepatan Aliran Inlet Drain » Diketahui: Qas = 60.012 (angka kekasaran manning saluran) » Perhitungan: A1 = 2.35 Box coffer pada jembatan A.5 + 2h R1 = = A1 P1 2.01R2/3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 x h P1 = 2.76 Gambar 6.939 m3/dtk (debit inlet drain/anak Kungai Tulis) S = 658.012 = 18.

19131 60.24 Perhitungan trial error hma dan V di inlet drain No h m b m P m A m2 R^(2/3) m V m/dtk Q1 m3/dtk Qtot m3/dtk VI .33231 14.50108 45.5 3. Kontrol Stabilitas Batuan Terhadap Turbulence Effect Turbulence effect (olakan) terjadi karena adanya pertemuan aliran air dengan kecepatan tertentu dari Kali Tulis dan dari inlet drain di upstream cofferdam yang dapat menggeser posisi batuan di hulu cofferdam dari kedudukan semula.5 2.5 2.125269 11.551846 0.939 m/dtk B.77 Ket 1 2 3 4 5 6 0.25 1.01122 5.72 3.065846 9.61 0.7 3.244547 8.62 2.5 0.74 0.6 0.06958 ≈ Q as Dari tabel trial error diatas didapat : ▪ ▪ h = 0.99273 8.3 3.3 0.61 m V = 9.79783 15.1 3.55 0.547763 0.97819 32.32923 59.5 3. a in C o ffe Terjadi olakan/turbelence ram U p s tre a m Ka Dive rsion Gambar 6.36 Skets pertemuan dua aliran LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH li In l et Dr Tu lis .5 2.938747 10.55587 6.5 2.5 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Q1 = V1 x A1 Qtot = 4 x Q1 Tabel 6.125269 9.15659 15.451153 0.503378 0.62636 62.51739 20.865219 9.5 1.4 0.75 1 1.525 1.388269 0.

0 log = 2.7 (turbulence effect coeffisiennt) » Kecepatan Izin V1 = 60.3 m » Kontrol Diameter Batuan 1.61 m ▪ Q1 = 60.81 × 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .02 m/dtk Diameter batu dicoba = 0.3 * 1.4 x α (turbulence effect) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .78 Q L = 6 0 .37 Terjadinya olakan/turbulence Diketahui: ▪ h1 = 0.0 log 6h D 6×5 0. V cr = ∆gD *1.4 m/dtk Turbulence effect V cr = 4.939 m3/dtk ▪ h2 = 5 m ▪ b Inlet drain (jembatan) = 12 m ▪ α = 0.3 = 1.939 12 × 5 = 1.9 3 9 m 3 /d tk Terjadi olakan/turbelence + 661.65 × 9.2 x log 100 = 4.00 Qd + 656 B = 12 m Gambar 6.

.62 m/dtk > 1....08 m/dtk > 1.....51 m/dtk > 1..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 4...81 × 0......7 = 2.8h * ∆gD D 8...74 x α = 3.....3 0.....02 m/dtk .......65 × 9....7 = 3.....79 (stabil) = 1.............505 x 0.....2 2 × 1...75 log (stabil) 8..2 2∆gD VI ....58 x α = 3. Metode Isbash (1935) V cr = 1..02 m/dtk . Kesimpulan : (stabil) Cofferdam pada bagian hulu menggunakan material batu Dmin = 0.4 x 0..3 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .... Metode Goucharov V cr = 0..... 2..81 × 0.....3 = 3....58 m/dtk Turbulence effect V cr = 3.....3 = 0.......8 × 5 × 1..74 m/dtk Turbulence effect V cr = 3..02 m/dtk .......... 3.75 log = 3....74 x 0....7 = 2..........65 × 9.....

25 1 + 661.Tan GL) + 652 Gambar 6. Beton ah Asli (N + 656 A C B + 651.00 1.2 m) 1 Tulangan Baja Lap.5 Axist of Cofferdam E D Elev.3 m) B = Lapisan Filter (Sandy Clay.K maks = 1 x 10^-5 cm/dtk) E = Lapisan Pelindung (Rockfill.Dmin = 0.Dmin = 0.K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) C = Lapisan Inti Kedap Air (Clay.38 Detail Cofferdam Upstream dan material penyusunnya LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 1 2 0.25 1 KETERANGAN A = Lapisan Pelindung (Rockfill.75 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -80 + 661.K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) D = Lapisan Transisi (Sandy Clay.

8 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .237 2 − 8.6734 x + 18.39 Skema garis depresi » Garis depresi untuk Zone Inti Kedap Air (Core) Diketahui : h = 9.168 m 2 Parabola bentuk dasar dapat diperoleh dengan persamaan : 2 y = 2 y0 .237 = 4.374 m l2 = 7.5 2 + 8.3. x + y0 = 8.10.1 Stabilitas Cofferdam Terhadap Aliran Filtrasi A.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.525 m α = 75.338 m yo = 2.237 m Y0 = h 2 + d 2 − d = 9. Formasi Garis Depresi Tubuh Cofferdam Tanpa Drainase Kaki G a ris D e p re s i M o d ifik a s i m m 1 m 1 VI .50 m (kondisi FSL) l1 = 2.81 1 m 1 Gambar 6.10 ANALISA STABILITAS COFFERDAM UPSTREAM 6.97º d = 0.l1 + l2 = 8.

4 7 8.0 0 4.2 0.726 .726 a = 5.1.338 1 − 0.317 = 4.726 = 1.2424 ∆a a + ∆a = 5.97o berdasarkan grafik pada gambar 6.317 m a + ∆ a = 5.2 2 6.1 30 60 90 120 = sudut bidang singgung ξ α = sudut bidang singgung 150 0.9 8 9.41 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Dari pers.40 didapat nilai: C= ∆a = 0.3 1 5.4 C = ξ a/(a+ξ a) 0.8 60 <α<180 60<ξ >180 0 0 0.40 Grafik hubungan antara sudut bidang singgung (α) dengan Untuk α = 75.23 a + ∆a ∆a a + ∆a maka : a + ∆a = = y0 1 − cos α 4.4 9 9.3 Bidang vertikal 0.3 5 7.1675 0.0 180 Gambar 6.7 4 7.0 3 6.9 6 8. di atas diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) VI .82 -2.23 x 5.726 m C ∆a = = 0.

5 Garis Depresi Modifikasi + 652 Gambar 6.25 1 1 + 656 Core + 651.08 x + 0.41 + 661 1 2 0.83 Diketahui : k1 = 1 x 10-5 cm/dtk (Zone Core) k2 = 1 x 10-3 cm/dtk (Zone Lulus air) K1 × y0 K2 h2 = = 0.801 10 0.75 0.059 16 1.981 14 1.402 4 0.04 m h2 = 0.41 Garis depresi cofferdam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .895 12 0.02 0.132 Hasil perhitungan formasi garis depresi dapat dilihat pada gambar 6.0016 Dari persamaan di atas dapat diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) -0.25 1 + 661 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Garis Depresi Zone Lulus Air VI .02 m 2 Persamaan bentuk dasar garis depresi dapat diperoleh dengan persamaan : y = 2h2 x + h2 2 = 0.040 2 0.694 8 0.000 0 0.567 6 0.

...BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.5) (Suyono Sosrodarsono..84 Kapasitas aliran filtrasi adalah kapasitas rembesan air yang mengalir ke hilir melewati core (zone inti kedap air) tubuh dan pondasi cofferdam.....25 1 + 661 + 658 + 655 + 652 + 652 A B C + 656 + 651.. Kapasitas aliran filtrasi perlu dihitung untuk persiapan pekerjaan kolam penampungan dan pompa................ (6.. Rumus : Qf = ∑ q × B ..........42 Skema perhitungan seepage LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ........... Kapasitas Aliran Filtrasi (Seepage) VI ..........Bendungan Type Urugan.............Hal 166) q = k ×i× A i= ∆h L dimana : Qf = debit aliran filtrasi (m3/dtk) q k i = kapasitas filtrasi per unit panjang tubuh cofferdam (m3/dtk) = koeffisien filtrasi core (cm/dtk) = gradien hidrolis B = lebar cofferdam (m) A = luas pot...5 Gambar 6.......00 0... Lintang yang di lalui air filtrasi per unit lebar (m2) + 661 0.....25 1 + 661.......

... kecepatan aliran filtrasi dalam tubuh dan pondasi cofferdam perlu di batasi. (memenuhi) C.3 1.5x10-3 m3/dtk Syarat : Qf ≤ 2 % Qinflow 1....3 652.25 Perhitungan Seepage Elev.1E-04 1..15 9.64865 0. Bolck m 2 ∆h m (3) = 1 ..5x10-3 ≤ 2 % x 409. kecepatannya disebut kecepatan kritis.75 9..75 2..2E-04 6..8E-04 2.43 Pot Penampang melintang cofferdam Diketahui : k = 1x10-5 cm/dtk Tabel 6..25 6 7.192 m3/dtk .92105 2.8E-05 2...5x10-3 m3/dtk ≤ 8....5E-03 Dari tabel perhitungan di atas didapat debit seepage total Qf = 1.....1E-05 Qf total 35 30 10 6.5 0...85 Gambar 6...631 1.. Oleh karena itu..7 8...3E-05 2......84153 0.25 9.... MA Block m 1 Elev.7 2... Tinjauan Terhadap Gejala Sufosi (Piping) dan Sembulan (Boiling) Kecepatan aliran keluar ke atas permukaan lereng hilir...2 Panjang Rata2 m 4 (5)= 3/4 i Ketebalan Rata2 m 6 q m3/dtk/m (8)=5*6*7 B m 9 Qf m3/dtk (10)=8*9 A B C 661 661 661 655 653.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI ... Secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan rumus sbb : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .. dimana komponen vertikalnya dapat mengakibatkan terjadinya perpindahan butiran-butiran bahan cofferdam..

81 = 2.8 m/det 1×1 ▪ Kecepatan rembesan yang terjadi V = k .20) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .86 c= w1 .8 t (tiap m3) ▪ Kecepatan kritis Ccr = 0.804 (dari tabel 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . g F .8 t/m3 γw = 1.81 m/det² F = luas permukaan yang menampung aliran filtrasi per m2 Diketahui : γclay = 1.γ Di mana : c = kecepatan kritis (m/dtk) γw = Berat jenis air ( t/m3) w1 = berat efektif bahan per m3 g = gravitasi = 9.i = k× ∆h l Di mana : K = koefisien filtrasi = 1 x 10-5 m/det i = gradien debit rata-rata = 0.0 t (tiap m3) wtot = w1-ww w1 = 1.8 × 9.8 – 1 = 0.0 t/m3 wtot = 1.8 t (tiap m3) ww = 1.

Tanah timbunan masih mengandung kadar air pada saat proses pemadatan timbunan sehingga tekanan air pori besar pengaruhnya terhadap stabilitas cofferdam.32).45).. (6..2 Stabilitas Lereng Cofferdam Upstream VI . stabilitas lereng yang ditinjau terutama di sebelah hilir..30)..31) dan gambar (6. Semakin tinggi permukaan air adalah merupakan keadaan yang berbahaya.46) b.47)... (6....10.. 6.. (6... Pada Saat Air Cofferdam Mencapai Elevasi Penuh Pada saat cofferdam terisi penuh maka terjadi aliran filtrasi (rembesan) tetap.. Pada Saat Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air) Dalam kondisi ini....... stabilitas lereng yang ditinjau adalah lereng sebelah hulu dan hilir.. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .04 x 10-7 m/det < Ccr ....... Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6... Dalam kondisi ini..804 = 8..... Dalam kondisi ini stabilitas lereng yang ditinjau adalah lereng sebelah hulu.48) c. Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING V = 1 x 10 −5 × 0... Pada Saat Cofferdam Mengalami Penurunan Air Mendadak (Rapid Drawdown) Pada saat cofferdam terisi penuh maka tekanan air pori sangat besar dan saat terjadi rapid drawdown.....87 aman Keadaan berbahaya yang harus ditinjau di dalam perhitungan stabilitas lereng cofferdam adalah : a.. (6..33) dan gambar (6......... maka tekanan air pori masih tertinggal di dalam lapisan timbunan dimana kecepatan hilangnya sangat lambat sehingga timbunan masih terisi air dan dalam keadaan basah maka beratnya menjadi bertambah besar karena tekanan air ke atas tidak ada lagi.

e = Intensitas seismic horizontal. T = Beban komponen tangensial dari berat tiap irisan bidang luncur ( t ).2 ∑ (T + Te) digunakan persamaan o R 1 4 5 m 6 7 8 9 m 1 1 2 3 m 1 Core m 1 Gambar 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . L = Panjang lengkung lingkaran (m). U = Tekanan air pori pada tiap irisan bidang luncur. C = angka kohesi setiap irisan bidang luncur (t/m2). N = Beban komponen vertical dari berat tiap irisan bidang luncur ( t ).44 Sketsa perhitungan longsor Di mana : Fs = factor keamanan.34) . (6.50) Untuk perhitungan kestabilan terhadap longsor diatas berikut : Fs = ∑{Cl + ( N − U − Ne ) tanφ } ≥ 1.(6.88 Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat tabel (6. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .49).35) dan gambar (6. Ne = Komponen vertical beban seismic pada tiap irisan bidang luncur. Te = Komponen tangensial beban seismic pada tiap irisan bidang luncur.

62 151.: Tabel 6.40 Tabel 6.80-1.60 0.20-0.90 1.80 564.90-2.00 1.35 482.26 Koefisien Gempa Zone Koefisien (Z) Keterangan A B C D E 1.35 322.80 Banjarnegara Sumber : DHV Consultant 1991 F 0.81 271.10.54 Sumber : DHV Consultant 1991 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .60-1. 6.72 181.2.27 Percepatan Dasar Gempa Periode Ulang (tahun) 10 Percepatan dasar gempa (Ac) (cm/dt²) 98.20 0.40-0.21 215.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .89 Dalam perhitungan analisa stabilitas cofferdam diatas direncanakan memasukkan beban akibat pengaruh seismic (gempa).42 20 50 100 200 500 1000 5000 10000 119.20-1.1 Perhitungan Intensitas Seismic Horizontal (e) Tabel pembagian zone gempa di Indonesia yang digunakan untuk membantu perhitungan dapat dilihat di bawah ini sedangka peta pembagian wilayah gempa dapat dilihat dalam Bab II.

2 (Sumber : DHV Consultant 1991) Dari data pada tabel-tabel di atas.90 Rock Foundation Diluvium (Rock Fill Dam) 0.7 Ac = 98.42 cm/dt² V = 1 g V g 1 980 = 980 cm/dt² Perhitungan nilai e e = z .10.1 1.41.2 Perhitungan Stabilitas Cofferdam terhadap Longsor » Data Teknis Cofferdam Upstream Diketahui: ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Tinggi Cofferdam Lebar Mercu Kemiringan Hulu Kemiringan Hilir Elevasi MA (FSL) Tinggi Air = 9.5 m Formasi Garis Depresi tertera dalam gambar 6.0 Aluvium Soft Aluvium 1.7 × 98.9 1. = 0. maka dapat ditentukan nilai : ▪ Koefisien gempa ▪ Percepatan dasar gempa ▪ Faktor koreksi ▪ Percepatan grafitasi z = 0.5 m =5m =1:2 = 1 : 1. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .07 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6. Ac .75 = + 661 m = 9.28 Faktor Koreksi Tipe Batuan Faktor (V) VI .2.42 × = 0.

80 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Direncanakan: Spesifikasi material lapisan cofferdam Tabel 6.29 Data perencanaan teknis material sebagai dasar perhitungan Zone C (t/m2) Ø Tan Ø γBasah (t/m3) 1.90 0.91 Intensitas Seismik (E) Zone Kedap Air/core (clay) Zone Lulus Air (Batuan) 4.2 ∑(T + Te) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 0.00 2.20 VI .00 25 42 0.07 » Rumus Perhitungan Stabilitas Lereng Cofferdam: Fs = ∑{Cl + ( N − U − Ne) tanφ } ≥ 1.00 γSat (t/m3) 2.46 0.

7 5 1 + 6 5 6 .75 1 + 656.50 2 + 652.00 1 Gambar 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1.00 8 0.0 0 1 4 5 2 6 7 8 9 1 . Kondisi Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air/Kosong) ▪ Lereng Hulu VI .25 1 C ore 0.45 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi baru dibangunn ▪ Lereng Hilir o 21 .5 0 + 6 5 2 .2 5 1 + 6 5 1 .00 11 10 9 1.0 0 Gambar 6.2 5 1 C o re 0 .92 o R =1 7.25 1 7 6 5 4 3 + 651.0 0 1 2 3 0 .46 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi baru dibangunn LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 R= 1 2 + 661. 09 + 6 6 1 .

00 G aris D epresi Gambar 6.48 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 R= + 661.00 2 11 10 9 1.00 1 + 661.00 8 0. Cofferdam dalam Kondisi Mencapai Elevasi MA Penuh ▪ Lereng Hulu VI .00 Gambar 6.00 2 1 3 0.00 1 5 2 6 7 + 661.25 1 G aris D epres i + 652.00 8 9 1.25 1 7 6 5 4 3 + 651. 09 + 661.25 1 C ore 0.93 o R =1 7.75 1 4 + 656.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 2.50 0.47 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh ▪ Lereng Hilir o 21 .25 1 C ore + 651.75 1 + 656.50 2 1 + 652.

50 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowm ( Elv. 09 + 6 6 1 .50) ▪ Draw down (Elv.2 5 1 C o re 0 .5 0 Gambar 6.2 5 1 C o re 0 .7 5 1 + 6 5 6 . MA + 658. Cofferdam dalam Kondisi Draw Down Di Hulu ▪ Draw down di Hulu (Elv.00) o R =1 7.0 0 + 6 5 8 .94 o R =1 7.00) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 5 1 G a ris D e p re si + 6 5 2 .0 0 + 6 5 1 .49 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowmi( Elv.0 0 + 6 5 6 .0 0 8 9 1 .50) VI .0 0 1 + 6 5 7 . MA + 657.5 0 3 4 1 5 2 6 7 + 6 6 1 . MA + 657.0 0 + 6 5 1 .0 0 1 2 0 .5 0 Gambar 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 3. 09 + 6 6 1 . MA + 658.0 0 1 2 3 4 5 2 6 7 + 6 6 1 .7 5 1 0 .0 0 8 9 1 .2 5 1 G a ris D e p re si + 6 5 2 .

80 0 1.90 6.0 7 0.6 7 16.26 7.000 0 0.890 0.0 7 0.5 2 4.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.47 0.68 0.1 1 6.000 0 0.86 12.50 4.76 4 3.481 5.13 1.1 5 5.05 4 4.42 3.9 0 31.76 0.0 7 0.08 5 3.6 7 16.14 7 19.0 1 12.89 7 2.176 -0.06 0.06 3 H m 1.2 8 γB t/m 3 2.105 4 0.764 3.01 12.47 7.05 0.4 0 2.15 16.994 4 0.8 3 8.81 1 1.0 7 0.45 11.30 30.8 2 U = uL/cos α t/m 4.47 7.7 5 8 9 Jumla h 6.9 4 14.84 1.226 3 0.4 0 2.1 0 2.8 3 8.06 8.30 Perhitungan stabilitas lereng kondisi baru selesai dibangun (air kosong) di hulu Pias B m 1 2 3 4 5 6 2.00 6.0 0 0.0 7 0.974 1 0.87 4.795 8.40 11.076 9.00 4 2.907 0 0.105 4 0.98 6.2 (aman) 28.45 11.1 6 18.62 Te = e*N t/m 0.0 7 0.6 4 2.02 1.T t/m -0.84 5 1.35 0.4 0 2.948 8 0.90 5 3.41 6.24 0.4 2 24.994 4 1.08 -0.4 0 2.20 8.1 7 3.00 0.80 0 1.20 8.40 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .858 1.95 5 2.81 2 1.534 N = W cos α t/m 5.825 4.11 VI -95 (N-NeU)tan θ t/m 0.31 C t/m 2 CL t/m 0.79 5 A m2 2.38 15.0 7 0.94 14.669 0 0.22 8.4 0 2.00 7 7.000 1.3 0 4.0 8 -6.59 0.5 1 17.9 4 14.7 9 41.5 2 17.1 1 4.59 0.160 15.850 0 0.82 5 4.51 4.94 -4.8 9 7.0 7 0.5 2 17.054 L m 2.85 8 1.014 28.09 9 4.43 + 7.18 7.39 3 2.210 6 0.33 1 1.0 0 30.757 6.546 3.43 1.59 16.9 8 6.29 43.396 3.743 3 α e sin α cos α T = W sin α t/m -1.80 0 1.526 8 0.40 0.16 Ne = e.39 u= h*γw t/m2 1.75 + 43.393 2.5 1 11.4 0 2.7 9 6.56 4.30 =2.08 0.99 Wto t t/m 5.7 5 Fs = 30.13 7 1.0 7 0.40 0 1.82 7.58 3.1 0 W t/m 5.11 0.80 0 1.06 > 1.421 0 0.05 12.1 0 2.955 2.80 0 3.43 10.9 9 0.80 2 1.977 6 0.42 9 1.39 6 3.80 0 1.316 0 0.4 0 2.99 13.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .96 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

07 0.000 0.07 0.561 Ne = e.68 0.47 19.800 1.07 0.6935 13.6602 3.29 1.40 2.07 0.00 2.175 U= uL/cos α t/m 1.36 1.2 (aman) 52.18 14.763 1.72 0.303 1.838 1.307 3.537 L m 2.03 1.0819 0.25 2.54 0.40 2.43 2.10 1.070 0.7705 0.00 4.04 3.82 1.90 19.800 2.70 4.337 1.2546 11.74 1.70 9.20 1.60 0.10 0.63 10.400 4.505 u= h*γw t/m2 0.58 16.1668 0.40 2.025 2.96 VI -97 (N-NeU)tan θ t/m 3.460 0.9683 0.73 20.68 5.091 1.20 1.294 3.800 1.27 7.40 0.00 42.07 -0.20 0.56 1.82 2.58 5.59 0.52 6.10 W t/m 3.74 3.73 12.800 1.77 16.51 1.20 2.07 0.40 1.037 0.07 10.04 2.51 20.800 1.251 9.53 γB t/m3 2.617 0.66 18.6374 α E sin α cos α T=W sin α t/m -0.646 0.72 Wtot t/m 4.20 1.00 0.1080 0.9966 0.362 Jumlah H m 1.9860 0.119 0.18 15.183 1.610 0.99 12.20 2.6691 0.800 1.02 3.373 = 2.81 1.184 0.00 36.10 19.7431 0.2499 0.533 0.5406 9.61 FS = 36.18 9.025 1.9466 16.750 1.022 1.T t/m 0.9127 1.853 1.54 1.45 1.07 0.85 8.305 0.428 1.48 4.1706 C t/m3 CL t/m 0.577 0.8290 0.07 0.02 1.864 0.635 4.93 -6.9455 0.875 1.738 1.1676 94.307 + 9.48 1.808 1.97 2.61 0.822 0.00 24.16 0.00 34.77 2.10 5.00 30.42 6.0000 0.52 9.000 1.5000 0.343 0.00 0.17 1.5592 0.07 0.01 Te = e*N t/m 0.20 21.9942 1.8660 0.50 1.4067 0.00 2.10 1.400 2.001 2.83 7.40 2.20 1.60 14.545 0.87 1.07 0.63 0.61 + 94.800 1.68 2.385 1.938 7.45 15.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.7719 17.0000 0.82 1.57 4.29 A m2 1.90 8.61 4.86 8.216 N= W cos α t/m 4.233 8.9135 0.73 0.810 9.900 0.80 12.360 6.75 4.60 1.40 2.56 1.39 3.20 21.800 1.38 1.64 2.22 0.800 1.47 4.3732 36.3256 0.63 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .4932 12.913 2.47 17.11 > 1.334 52.704 0.31 Perhitungan stabilitas lereng kondisi elevasi MA penuh di hilir Pias 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 B m 2.00 50.575 8.800 1.82 1.54 0.20 1.06 0.99 -2.86 3.000 1.0969 6.02 3.22 8.674 7.66 17.79 15.07 0.94 1.56 6.20 1.72 12.78 15.000 0.

79 -0.87 7.4 0 1.978 8.0 7 0.56 4.812 7.48 C t/m 2 CL t/m 1 -1.0 0 1.28 2.87 5 2.49 8.4 3 2.5 2 1.054 7.69 10.05 0.06 8.7 8 3.80 0 3.42 9.09 9 6.80 0 0.4 0 1.334 4.08 0.30 0.07 3.05 4.53 1.743 3 7.68 0.44 0.0 0 0.84 5 1.06 1.000 8.85 8 1.63 0.33 1 H m 2.2 8 9.1 6 18.66 0.68 11.05 Wto t t/m 13.4 0 1.08 6 3.4 3 1.80 0 1.994 4 -0.0 7 0.00 4 0.74 5. MA + 658.5 8 4.9 8 0.22 7 3.7 5 9 Jumla h 41.05 4 4.7 5 18.00 2.19 30.56 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -98 Tabel 6.27 15.226 3 0.45 0 1.56 3.23 3.90 0 0.1 0 1.0 7 0.977 6 0.03 2.1 0 1.74 3 1.08 3 1.0 7 0.43 0.764 1.3 0 4.82 5 4.46 8 31.81 2 3.7 9 0.33 4 0.0 0 1.9 0 6.735 8.0 7 0.01 0.948 8 0.58 -0.06 4 1.6 2 γ t/m 3 1.105 4 0.76 4 1.80 0 0.T t/m u= h*γw t/m2 1.8 2 1.22 8.0 7 1.04 0.4 0 1.32 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.4 0 1.0 7 0.974 1 α e sin α cos α T = W sin α t/m N = W cos α t/m Te = e*N t/m Ne = e.994 4 0.44 8.71 4.93 0 A m2 5.69 0.9 9 0.41 6.39 6 3.669 0 0.955 1.65 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8 2 1.36 1.0 0 1.39 6 U = uL/cos α t/m 4.93 1.445 2.97 0.18 2.80 0 1.929 8.0 7 0.12 5 3.000 0 0.4 0 1.11 1.228 9.40 6 0.2 2 6.0 7 0.26 3.850 0 3.210 6 0.56 9.95 5 0.49 5 6 2.2 2 12.41 0.89 7 2.545 8.858 L m 2.4 2 24.1 7 2.57 (N-NeU)tan θ t/m 3.0 0 1.105 4 0.316 0 0.8 2 0.14 0.52 3.64 10.37 0 1.2 7 5.68 2.81 1 1.000 0 0.421 0 0.66 0.59 0.14 2 1.98 3.526 8 0.825 4.982 6.54 -0.4 9 2.80 0 2.00 -6.64 10.59 0.86 1.54 4 1.0 0 30.05 0.6 0 0.00 4 6.80 2 4.5 1 6.907 0 0.1 1 6.4 0 1.1 0 W t/m 5.80 0 1.14 7 7.0 8 0.45 0.955 9.5) Pias B m 2.030 3.396 1.42 9 1.51 9.20 8.87 2.4 4 4.8 9 7.78 7.38 0.

99 FS = 30.27 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 + 15.2 (aman) 18.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .65 = 1.93 > 1.74 + 5.

08 6 3.105 4 0.66 0.80 2 1.4 0 1.64 10.18 7.38 0.054 4.87 7.56 9.80 0 1.0 8 0.316 0 0.05 0.42 9 1.40 6 0.08 2 0.000 0 0.955 1.44 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .59 0.05 Wto t t/m 13.4 0 1.1 7 0.23 2.57 0.87 2.0 0 1.89 7 2.80 0 1.0 7 0.7 5 9 Jumla h 41.42 9.82 5 4.98 6.39 6 3.994 4 1.00 0.8 2 1.22 8.526 8 0.84 5 1.000 0 0.26 3.0 7 0.982 6.19 30.76 4 3.735 8.69 0.33 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.14 0.858 L m 2.37 (N-NeU)tan θ t/m C t/m 2 CL t/m 1 -1.44 0.90 0 0.228 6.9 9 0.545 8.56 -0.51 9.226 3 0.1 6 18.825 4.669 0 0.948 8 0.907 0 -0.1 0 1.97 8.53 1.56 9.04 1.06 4 1.81 2 1.977 6 0.06 0.03 3. MA + 657) Pias B m 2.4 3 2.1 0 W t/m 2.34 -0.978 8.0 7 0.97 8.41 0 1.86 1.56 0.80 0 1.98 4.994 4 0.0 7 0.33 4 H m 0.9 0 -6.4 0 1.69 10.80 0 1.0 7 0.88 2.8 2 1.64 10.850 0 3.764 3.0 0 30.0 0 1.1 1 6.210 6 0.14 7 7.2 8 6.00 4 3.80 0 3.1 0 1.95 5 2.43 0.304 2.33 1 0.60 0.49 0.9 2 4.87 5 2.79 -0.20 -0.139 4.68 6.05 4 4.0 0 0.93 0 A m2 2.00 3 4 5 6 0.20 8.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -100 Tabel 6.28 2.80 0 1.37 0 1.902 2.4 0 1.56 4.0 7 0.000 0.974 1 α e sin α cos α T = W sin α t/m N = W cos α t/m Te = e*N t/m Ne = e.46 8 31.0 7 0.8 9 7.56 6.030 3.2 2 0.6 0 0.7 5 19.6 2 γ t/m 3 1.743 3 7.20 2.0 7 0.396 3.98 0 1.4 0 1.445 2.2 0 1.4 0 1.68 2.08 3 1.68 0.4 2 24.11 1.04 0.05 4.9 8 6.68 11.81 1 1.87 0.4 0 1.00 5.421 0 0.45 0.334 4.0 0 2.105 4 0.90 0.61 0.79 2.8 2 0.85 8 0.97 8.7 9 0.3 0 4.0 7 0.T t/m u= h*γw t/m2 1.5 8 4.02 1.4 3 1.2 2 6.00 6.05 12.2 7 5.09 9 6.22 7 3.86 1.39 6 U = uL/cos α t/m 4.03 0.

56 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .51 > 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING FS = VI .44 = 1.98 + 4.2 (aman) 19.101 30.75 + 6.

4 t/m3 γsat batuan = 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.4 t/m3 (data teknis material cofferdam) Bcofferdam = 34.10.51 Material timbunan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH Axist of Cofferdam . yaitu pada kondisi baru selesai dibangun karena material cofferdam masih dalam kondisi jenuh sehingga tekanan air pori besar (gaya vertikal besar).7 5 + 6 5 6 .5 0 0 .4 m Hmaterial = 9. dihitung dalam kondisi yang paling membahayakan.3 Stabilitas Cofferdam Upstream terhadap Penurunan VI .5 m Htot Hbeton = 9.1 t/m3 (data teknis material cofferdam) = 2.2 5 1 1 .83 m (lebar bagian yang berbahaya (pada axist of reference)) L cofferdam = 44. Rumus : σterjadi = ∑V ≤σ A » Perhitungan Untuk mempermudah perhitungan cofferdam upstream dan sebagai faktor keamanan dianggap cofferdam upstream memiliki dimensi yang sama sepanjang penampang melintang sungai.0 0 Gambar 6.1 m + 6 6 1 .102 Dalam perhitungan terhadap bahaya penurunan.0 0 C o re (C la y ) + 6 5 1 .5 m = 0.2 5 1 1 + 6 5 2 . Diketahui: σ γsat clay γbeton = 42 t/m2 (data hasil penyelidikan di lapangan) = 2.0 0 1 2 0 .

2 x 44.5 = 2767.103 B1 = 5 m B2 = 8.1 m3 b.1 = 4208. Volume Beton di atas Mercu B =5m t = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING a.1 + × 14.316 t ▪ Timbunan Batuan V = Volume x γsat LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .82 × 9. Volume Timbunan ▪ Volume Timbunan Clay VI .2 m2 V = 62.67 m A = 5 + 8.82 m A = 1 1 × 9.84 m B2 = 14.5 = 89 m3 Gaya vertikal ▪ V1 = B x t x L Timbunan Clay V = Volume x γsat = 2767.5 = 4993.8 m3 ▪ Volume Timbunan Batuan B1 = 9.4 m = 5 x 0.4 x 44.84 × 9.1 2 = 62.67 × 9.1 2 2 = 112.8 x 2.2 m2 V = 112.2 x 44.

....4 t Tegangan tanah terjadi σterjadi = = ∑V ≤σ A 16405...... prinsipnya hampir sama dengan perencanaan cofferdam upstream terutama dalam pemilihan material dan type cofferdam....... Direncanakan: Type Cofferdam : Cofferdam Inti Zonal Tegak LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ..44 +213.104 Material Beton V = Volume x γbeton = 89 x 2.... Perbedaan utama dengan cofferdam upstream adalah pada cofferdam downstream direncanakan tidak mengalami limpasan sehingga tidak memerlukan tambahan perkuatan (tulangan dan beton) cukup dengan cofferdam zonal biasa..4 = 213...1 x 2.....4 ≤ 42 t / m 2 34.11 PERENCANAAN COFFERDAM DOWNSTREAM Dalam merencanakan cofferdam downstream...6 t/m2 ≤ 42 t / m 2 ..44 t ▪ VI ....316 + 11983...6 t Total gaya vertikal = 4208.. 6..5 (aman) = 10.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 4993...........6 = 16405.83 × 44.4 = 11983...

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING +6 VI .52 Plan view cofferdam downstream 6. mercu cofferdam = (+ 651.27 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 00 AXIS OF REFERENC COFFERDAM DOWNST REAM +655.00+108.16 = + 649. lantai dasar diversion Sta.00 + 65 0 A X IS O F DO W N STREA M C O FFERDA M S C4 D4 Mul ut D own s tr e D5 Gambar 6. Top of Wall Diversion Sta.00 LAM A +6 50 . tanah dasar Asli (NGL) di Axist of Reference = +647.3 m Direncanakan ▪ Tinggi jagaan w = 0.00+108.77 ) + 0.4 = + 652.105 + +665.2 m Elev. tanah dasar cofferdam di Axist of Ref.4 m ▪ Elev.00+108.MA di Sta.00 JALA N AS PAL +655.00 .27 m ▪ Elev.11.1 Tinggi Cofferdam am Diketahui : ▪ Elev. Cofferdam = + 647.77 m ▪ Elev.16 (FWL) = + 651.4 m ▪ Elev.16 = + 652.

80 Elev.75 Dengan kemiringan tersebut maka di Axist of Reference cofferdam didapat : ▪ Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hulu = + 647. Tujuannya agar tidak mengganggu pekerjaan bendung itu sendiri (memberikan space/ruang cukup) dan aliran back water tidak terjadi.11.00+084..20 + 648.5 m) Kemiringan cofferdam ditentukan oleh material yang akan digunakan dengan memperhatikan situasi dan kondisi.11.47)1/3 – 3. Direncanakan: ▪ Kemiringan hulu (bagian yang kontak dengan air) = 1:2 ▪ Kemiringan hilir = 1:1.6 (5.47 m 6.Tanah Asli (NGL) Gambar 6.2 Sta.16 + 656.92 + 654.2 Lebar Mercu Cofferdam VI .00 + 646.2 m ▪ Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hilir = + 648 m Sta.6 H1/3 – 3.34 m ..6 Sta..27 + 653..8) = 5...00+108..106 Lebar mercu cofferdam minimum dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut: B = 3. 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING H cofferdam d/s = (+ 652..53 Cofferdam Downstream LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .27) – (+ 646.77 (FWL) 1.0 = 3..4 + 647.75 1 0.68 2 1 0.0 B = 3.3 Kemiringan Cofferdam (diambil B = 3...82 Top of Wall Diversion + 652.00+091..25 1 Mulut Downstream + 649.25 1 A xist of Cofferdam + 651. Axist of Dam agar cofferdam serta posisi mulut downstream diversion.

75 m = 1: 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.2 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .25 » Zona Transisi/filter » Zone Pelindung Bahan/material : Batuan gunung D min = 0.25 = 0.11.107 Type Cofferdam = Cofferdam Inti Zonal Tegak Material Urugan: » Zonal Kedap Air (Core) ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Material : Clay (K maks = 1 x 10-5 cm/det) Bahan/material Nilai Kmaks Tebal zone filter Kemiringan zone filter Tebal lapisan transisi Kemiringan zone transisi = sandy clay = 1 x 10-3 cm/det = 0.4 Material Konstruksi VI .3 m = 1: 0.

27 1 1.K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) D =Zone Transisi (Sandy Clay.K maks = 1 x 10^-5 cm/dtk) E = Zone Pelindung (Rockfill.Dmin = 0.Tanah Asli (NGL) B + 646.Dmin = 0.25 1 0.25 1 2 1 KETERANGAN A = Zone Pelindung (Rockfill.75 0.20 E + 648 D C A Elev.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -108 + 652.54 Detail Cofferdam Downstream dan material penyusunnya LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) C = Zone Inti Kedap Air (Clay.2 m) B = Zone Filter (Sandy Clay.80 A xist of Cofferdam Gambar 6.2 m) + 647.

3.109 1.37 2 − 5. Stabilitas Cofferdam terhadap Aliran Filtrasi A.25 1 Garis Depresi Modifikasi Gambar 6.12 ANALISA STABILITAS COFFERDAM DOWNSTREAM 6.25 1 0. Formasi Garis Depresi Tubuh Cofferdam tanpa Drainase Kaki VI .96º d = 0.12.97 2 + 5.1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.993 m α = 75.97 m (kondisi FWL) l1 = 1.l1 + l2 = 5.75 1 2 1 0.37 m Y0 = h 2 + d 2 − d = 4.9735 m 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .37 = 1.55 Skema garis depresi » Garis Depresi untuk Zone Inti Kedap Air (Core) Diketahui : h = 4.242 m l2 = 4.947 m yo = 0.

23 a + ∆a y0 1 − cos α 1.110 Parabola bentuk dasar dapat diperoleh dengan persamaan : 2 y = 2 y0 .6 = 1.982 m » Garis Depresi Zone Lulus Air Diketahui : k1 = 1 x 10-5 cm/dtk (Zone Core) k2 = 1 x 10-3 cm/dtk (Zone Lulus air) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .947 1 − 0.8 6 5.582 m C ∆a a = = 0.2 7 5.582 .6 m = 2.0.4 5 4.23 x 2.9 9 6.2426 ∆a a + ∆a maka : a + ∆a = = = 2.894 x + 3. x + y0 = 3.2 Untuk α = 75.4 3 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .40 didapat nilai : C= ∆a = 0.791 Dari pers.96o berdasarkan grafik pada gambar 6.9735 0.9 1 2.6 8 5.9 4 4.8 2 3.58 = 0. di atas diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) -0.0 0 1.

567 6 0. Rumus : Qf = ∑q× B LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .132 Hasil perhitungan formasi garis depresi dapat dilihat pada gambar 6.80 + 647.77 (FWL) Garis Depresi Modifikasi + 648.02 m 2 Persamaan bentuk dasar garis depresi dapat diperoleh dengan persamaan : y = 2h2 x + h2 2 = 0.75 1 2 1 0.895 12 0.402 4 0.00 + 646.25 1 + 651.981 14 1.694 8 0.27 1.059 16 1.56 + 652.02 0.08 x + 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING h2 = K1 × y0 K2 VI .04 m h2 = 0. Kapasitas Aliran Filtrasi (Seepage) Untuk perhitungan menggunakan metode yang sama pada perhitungan cofferdam upstream.20 Gambar 6.56 Garis depresi cofferdam B.0016 Dari persamaan di atas dapat diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) -0.040 2 0.000 0 0.111 = 0.801 10 0.25 1 0.

757 647.58 Pot Penampang melintang cofferdam Diketahui : k = 1x10-5 cm/dtk Tabel 6.7E-04 4.9 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .67 9.77 651.07 ∆h (3) = 1 -2 4.25 1 + 651.3E-06 5.4E-05 5.013 4.6 4.7 Qf (9)=7*8 8.1 0.943 2.2 7.27 1.112 + 652. MA Elev.77575 2.1 642.77 651.34 q (7)=k*5*6 7.80 C + 647.1 x10-4 m3/dtk Syarat : Qf ≤ 2 % Qinflow LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Block A B C Elev.5E-06 7.57 Skema perhitungan seepage Gambar 6.02 4 i (5)= 3/4 0.7 Panjang Rata2 4 5.75 1 2 0.77 2 647.77 (FWL) 1 0.7E-05 Qf total B 8 11.1E-04 Dari tabel perhitungan di atas didapat debit seepage total Qf = 4.42500 Ketebalan Rata2 6 1.6E-05 2.34 Perhitungan debit seepage No. Bolck 1 651.00 A B + 646.20 Gambar 6.68017 0.25 1 Garis Depresi Modifikasi + 648.

.1x10-4 m3/dtk ≤ 8............... VI .8 t (tiap m3) ▪ Kecepatan kritis Ccr = ▪ 0...γ Di mana : c = kecepatan kritis (m/dtk) γw = Berat jenis air ( t/m3) w1 = berat efektif bahan per m3 g = gravitasi = 9..i = k× ∆h l LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .631 4...8 – 1 = 0.8 t (tiap m3) ww = 1........1x10-4 ≤ 2 % x 409. Tinjauan Terhadap Gejala Sufosi (Piping) dan Sembulan (Boiling) Rumus : c= w1 .8 t/m3 γw = 1...0 t (tiap m3) wtot = w1-ww w1 = 1........113 (memenuhi) C. g F .......8 × 9.8 m/det 1×1 Kecepatan rembesan yang terjadi : V = k .0 t/m3 wtot = 1.81 = 2..81 m/det² F = luas permukaan yang menampung aliran filtrasi per m2 Diketahui : γclay = 1.192 m3/dtk ..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 4..

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Di mana : k i = koefisien filtrasi = 1 x 10-5 m/det = gradien debit rata-rata = 0........ 6..1 x 10-7 m/det < Ccr... (6.12. Pada Saat Cofferdam Mengalami Penurunan Air Mendadak (Rapid Drawdown) Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat tabel (6...5 m =1:2 = 1 : 1.97 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .64) 6....39) dan gambar (6...... Pada Saat Air Cofferdam Mencapai Elevasi Penuh Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6..43) dan gambar (6..12..816 VI .......77 m = 4.41) dan gambar (6. (6...75 = + 651.816 = 8.. Pada Saat Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air) Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6....1 Perhitungan Stabilitas Cofferdam terhadap Longsor » Data Teknis cofferdam Downstream Diketahui: ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Tinggi cofferdam Lebar mercu Kemiringan hulu Kemiringan hilir Elevasi MA (FSL) H ma = 5.114 V = 1 x 10 −5 × 0...40). (6.42).60) b.47 m = 3.61).2 Stabilitas Lereng Cofferdam Downstream Aman Keadaan berbahaya yang harus ditinjau di dalam perhitungan stabilitas lereng cofferdam downstream sama dengan keadaan berbahaya pada cofferdam upstream yaitu: a..2. (6..38). (6... (6.....62) c..59)...63)...

115 Formasi garis depresi (seepage) tertera dalam gambar 6.10 1.10 2.00 42.00 0.00 Ø derajad 25.00 Tan Ø 0.56 Direncanakan: ▪ Spesifikasi material lapisan Tabel 6.2 ∑(T + Te) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 γ Sub t/m3 1.40 γw t/m3 1.46 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ VI .90 γBasah t/m3 1.35 Data perencanaan teknis material sebagai dasar perhitungan Zone Zone Kedap Air/Clay Zone Lulus Air/Batuan C t/m2 4.40 Intensitas Seismik (E) 0.82 2.07 » Rumus Perhitungan Stabilitas Lereng Cofferdam : Fs = ∑{Cl + ( N − U − Ne) tanφ } ≥ 1.20 γSat t/m3 2.

2 5 1 2 1 4 3 2 1 + 64 7.59 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi baru dibangunn ▪ Lereng Hilir o R= 9.20 + 6 48.25 1 + 648.80 Gambar 6.20 Gambar 6.116 1.25 1 6 2 1 0.00 1 2 3 Core + 646.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .80 + 647.00 + 6 46.0 6 7 1 .23 + 652.75 1 5 4 0.60 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi baru dibangunn LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 1 0 .25 1 6 5 C ore 0.Kondisi Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air/Kosong) ▪ Lereng Hulu o R + 6 52.27 1.27 = 12 .

2 3 + 652.27 1.20 Core + 646.80 + 647.25 1 + 648.27 7 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Kondisi Cofferdam Pada saat Mencapai Elevasi MA Penuh ▪ Lereng Hulu o R 2 =1 .62 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 6 5 0.00 1 2 3 Core + 646.75 1 5 4 0.25 1 6 2 1 0.25 1 + 651.20 Gambar 6.25 1 4 3 2 1 + 647.80 Gambar 6.0 6 + 652.61 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh ▪ Lereng Hilir o R= 9.77 2 1 Garis Depresi + 648.00 1 0.117 2.

75 + 652.27 7 1.25 Core + 646.25 1 Core + 646.00 1 0.80 4 3 2 1 + 647.80 4 3 2 1 + 648. Cofferdam Dalam Kondisi Draw Down di Hulu ▪ Draw Down di Hulu (Elv.25 1 + 651.25 1 + 650.25 m) ▪ Draw Down di Hulu (Elv.75 m) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . MA + 650.118 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .75 ) o R = 12 .77 2 1 Garis Depresi + 648.75 + 647.75 6 5 0.25 m) o R 2 =1 .25 1 + 651.0 6 + 652. MA + 648.77 2 1 Garis Depresi + 648. MA + 650. MA + 648.63 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowm ( Elv.20 Gambar 6.64 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowm ( Elv.00 1 0.27 6 5 0.20 Gambar 6.0 6 7 1.

62 2.943 3 0.078 7.000 1.40 2.7952 0.00 25.36 Perhitungan stabilitas lereng kondisi baru selesai dibangun (air kosong) di hulu B Pias m H m A m2 γ t/m 3 W t/m Wtot t/m α e sin α cos α T = W sin α t/m N = W cos α t/m Te = e*N t/m Ne = e.49 6.17 1.100 3.000 2.31 7.693 1.89 -10.48 10.07 -0.72 25.246 3.986 5 0.07 0.927 0.58 52.40 2.06 10.340 2.600 1.78 -0.24 3.07 0.002 2.871 6 0.93 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .30 14.00 0.78 14.01 0.38 29.200 1.14 1.57 0.08 4.2 (aman) 24.471 2.90 2.93 -0.0000 0.38 8.17 0.40 2.07 0.35 0.07 0.17 6.000 2.69 2.36 8.36 2.T t/m u = h*γw t/m2 L m U = uL/cos α t/m (N-NeU)tan θ t/m C t/m2 CL t/m 1 2 3 4 5 6 7 Jumla h 2.07 0.932 2.09 4.11 4.88 17.247 1.00 9.72 =1.66 7.78 14.06 0.40 2.4901 0.35 41.600 3.6637 0.03 1.92 1.09 + 22.50 6.20 7.840 2.09 Fs = 25.38 5.10 2.100 3.900 2.11 9.435 5.1834 0.90 -0.20 4.983 0 1.520 2.06 10.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -119 Tabel 6.07 4.000 2.01 1.3318 0.01 5.07 0.600 0.40 2.68 16.000 0 0.000 1.031 2.92 1.40 0.10 2.645 2.1637 0.313 2.89 5.28 16.600 3.11 0.246 3.748 0 0.20 0.57 0.57 0.500 2.10 5.78 14.734 8.31 10.97 10.42 19.940 15.28 10.39 4.75 1.67 9.606 4 -0.88 17.700 3.67 0.65 > 1.705 2.76 22.124 2.503 24.51 0.15 0.145 0.07 + 4.

14 0.576 + 4.230 0.40 2.17 VI -120 U= uL/cos α t/m 2.37 Perhitungan stabilitas lereng kondisi baru selesai dibangun (air kosong) di hilir Pias B m 1 2 3 4 5 6 Jumlah 2.8943 0.4474 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.59 Te = e*N t/m 0.540 3.30 15.2234 0.84 4.0000 0.9773 0.2118 0.7568 C t/m2 0.07 0.98 2.91 0.10 2.30 7.540 2.580 1.51 0.15 16.917 2.156 7.50 18.18 2.50 11.32 2.571 0.250 3.83 8.60 15.580 1.39 -0.230 3.7367 0.000 0.10 2.18 4.58 42.210 H m 1.16 2.00 CL t/m 0.2 (aman) 21.230 3.800 A m2 1.00 4.60 15.55 55.000 2.000 3.18 γ t/m3 2.30 15.40 2.000 3.57 Wtot t/m 4.41 6.29 1.51 6.284 8.33 6.0000 0.7 3.513 0.82 10.000 1.250 3.343 0.576 N= W cos α t/m 4.33 Ne = e.66 2.06 1.09 1.07 0.47 + 16.000 1.23 26.756 =1.5663 α e sin α cos α T=W sin α t/m -0.54 9.00 12.56 0.33 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .40 2.T t/m -0.79 6.07 0.47 Fs = 25.9747 1.00 25.05 2.07 0.79 10.10 W t/m 4.18 7.85 -2.07 0.60 15.8242 0.57 12.264 u = h*γw t/m2 1.770 21.63 > 1.40 2.067 0.00 2.962 0.800 L m 2.6762 0.25 5.47 25.23 10.46 4.66 2.20 15.84 4.110 2.75 3.90 (N-NeU)tan θ t/m 1.50 6.540 2.23 6.07 0.10 16.328 3.

64 0.82 1.48 C t/m2 CL t/m 0.93 3.932 2.20 0.57 0.600 L m 2.3318 0.64 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .59 0.302 17.41 22.4901 0.12 4.520 2.313 9.57 0.9433 α e sin α cos α T=W sin α t/m -2.000 0.14 0.200 H m 3.2 (aman) 17.46 25.00 1.246 1.59 9.14 > 1.940 10.026 3.1834 0.07 0.33 6.1637 0.38 11.64 12.24 3.32 3.40 1.35 0.40 1.000 2.10 1.12 5.850 3.90 γ t/m3 1.86 2.705 2.15 0.22 1.75 5.07 0.39 4.12 2.6637 0.07 0.29 3.T t/m -0.916 N= W cos α t/m 12.002 2.000 2.6064 8.57 0.860 1.64 41.145 0.00 1.9830 1.70 6.00 1.15 2.10 1.7952 0.07 0.21 11.07 0.95 5.000 2.40 1.600 0.40 1.0000 0.78 Ne = e.124 U= uL/cos α t/m 2.59 12.7480 0.85 1.49 3.20 1.71 6.85 4.645 2.85 0.81 12.330 3.07 0.71 4.35 29.64 0.86 2.07 0.00 9.813 1.100 0.693 1.00 -0.860 1.585 8.900 6 7 Jumlah 2.00 0.00 0.50 6.00 12.860 0.09 + 22.31 9.42 19.500 A m2 9.82 W t/m 9.72 7.01 5.38 8.246 3.471 2.79 0.13 Te = e*N t/m 0.00 1.84 0.09 FS = 25.80 -10.800 2.00 -0.000 2.38 Perhitungan stabilitas lereng kondisi elevasi MA penuh di hulu Pias 1 2 3 4 B m 2.08 0.8716 4.37 2.09 2.0000 0.100 3.16 0.11 VI -121 (N-NeU)tan θ t/m 9.72 10.38 0.67 Wtot t/m 12.40 1.14 0.46 = 2.111 1.855 2.700 3.09 25.88 0.30 0.99 0.710 5 1.59 + 4.68 1.9865 0.860 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.67 0.00 9.07 4.00 1.00 12.58 52.70 8.11 5.031 2.27 u= h*γw t/m2 0.350 0.99 1.340 1.

6762 0.46 4.10 1.979 13.52 10.180 1.736 0.49 = 2.20 1.90 0.30 5.00 12.46 2.9747 α e sin α cos α T=W sin α t/m -0.00 5.680 A m2 1.870 0.650 2.07 0.07 0.0000 0.23 Ne = e.17 3.62 12.40 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .000 2.20 1.64 0.20 3.40 2.05 3.75 2.20 1.000 1.04 4.41 0.540 2.23 Te = e*N t/m 0.500 2.T t/m -0.45 C t/m2 CL t/m 11.363 0.77 -0.917 1.67 VI -122 (N-NeU)tan θ t/m 1.500 3.777 11.006 5.39 Perhitungan stabilitas lereng kondisi elevasi MA penuh di hilir Pias B m 1 2.20 1.840 2.82 1.00 0.00 1.11 7.28 7.000 0.740 N= W cos α t/m 3.91 0.680 2.61 2.810 16.40 0.47 FS = 25.000 2.57 0.07 0.47 + 24.31 1.00 2.194 1.60 26.95 0.20 1.000 2.70 10.52 3.81 0.05 0.57 5.4962 25.18 U= uL/cos α t/m 1.00 25.10 1.7367 0.82 0.8943 6.210 0.11 0.41 0.64 1.2118 0.50 Wtot t/m 3.05 7.07 0.61 15.0000 0.820 0.07 0.95 0.51 0.26 γ t/m3 2.66 2.10 W t/m 2.68 24.31 12.500 1.750 1.58 0.40 2.57 > 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.98 0.01 + 3.000 1.2234 0.66 2.4474 0.110 H m 0.50 4.55 55.5663 5.24 0.127 1.20 1.9773 0.00 0.51 0.000 0.750 L m 2.04 4.40 0.47 0.75 2 3 2.23 0.343 4 0.489 0.240 5 6 Jumlah 2.20 42.82 1.2 (aman) 16.8242 0.07 1.82 1.66 2.66 12.000 0.00 2.052 u= h*γw t/m2 0.09 3.92 0.650 0.840 1.60 1.66 13.40 2.79 3.

500 A m2 6.100 3.9830 1.002 2.05 8.40 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.47 1.01 C t/m2 CL t/m 0.528 8.6637 0.69 6.000 1.000 L m 2.35 41.64 -10.68 10.07 0.63 0.08 5.24 12.00 1.860 1.96 4.246 0.84 Ne = e.37 10.330 2.0000 0.7952 0.51 8.62 0.700 3.91 4.58 52.37 2.93 3.67 0.031 2.313 2.40 1.00 VI -123 (N-NeU)tan θ t/m 5.11 9.9433 0.00 25.05 9.10 2.05 -4.145 0.693 1.65 0.932 2.00 2.07 0.534 3.124 2.64 Wtot t/m 9.08 9.3318 0.246 3.00 9.69 8.4901 0.22 1.662 2.813 1.41 8.800 2.57 0.38 8.09 FS = 25.07 0.49 0.471 2.9865 0.82 1.340 1.940 U= uL/cos α t/m 2.24 9.345 4.16 + 3.09 25.31 9.900 2.09 u= h*γw t/m2 0.50 6.25) Pias B m 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 2.07 0.95 2.000 2.79 0.11 0.66 6.100 3.2 (aman) 17.91 = 1.600 3.1637 0.67 10.90 γ t/m3 1.57 0.00 0.40 1.000 1.48 1.302 17.00 0.520 2.000 1.64 0.860 0.84 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0000 0.99 Te = e*N t/m 0.00 1.82 W t/m 6.10 2.30 0.10 1.15 2.40 1.95 9.16 N= W cos α t/m 8.10 1.12 0.00 1.38 29.645 2.11 2.07 3.90 8.01 5.67 0.1834 0.860 1.07 0.6064 α e sin α cos α T=W sin α t/m -1.831 3.95 9.40 1.40 1.62 > 1.59 0.07 0.23 0.661 0.200 H m 2.7480 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.39 4.8716 0.29 0.42 19.21 -0.20 7.705 1.24 3. MA + 650.32 0.56 0.09 + 8.20 4.T t/m -0.111 1.14 0.07 0.600 3.85 1.66 4.

62 0.99 Te = e*N t/m 0.79 0.000 L m 2.00 9.246 3.1637 0.10 1.05 + 3.932 2.24 12.2 (aman) 17.100 3.7480 0.24 3.600 3.11 0.62 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .05 N= W cos α t/m 8.111 1.41 9.56 0.67 10.860 1.93 3.200 H m 2.07 3.20 4.3318 0.41 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.09 FS = 25.31 9.05 9.90 γ t/m3 1.08 9.31 4.56 9.89 1.51 8.645 2.29 8.62 2.9830 1.87 1.471 0.09 25.6637 0.62 Ne = e.05 6.900 2.345 4.96 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.00 25.07 0.520 2.68 10.60 8.313 2.12 0.64 10.85 1.07 0.800 2.40 1.11 9.860 1.67 0.9865 0.38 8.42 19.813 1.693 1.22 1.000 1. MA + 657) Pias 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah B m 2.58 52.4901 0.700 3.10 0.57 0.51 = 1.00 1.00 VI -124 (N-NeU)tan θ t/m 5.40 1.40 1.100 3.07 0.60 0.57 0.68 10.39 4.6064 α e sin α cos α T=W sin α t/m -1.67 0.246 3.031 2.40 1.95 0.67 > 1.01 5.10 2.82 1.90 6.15 2.940 U= uL/cos α t/m 2.09 + 9.500 A m2 6.00 0.07 0.64 Wtot t/m 9.64 0.07 0.00 4.124 2.20 7.000 2.1834 0.59 0.37 2.23 0.82 W t/m 6.38 29.50 6.47 1.310 2.30 0.10 2.89 -0.08 5.8716 0.14 0.00 1.145 0.51 C t/m2 CL t/m 0.302 17.528 8.35 41.600 3.7952 0.421 3.32 0.07 0.40 1.46 0.60 8.705 0.07 0.0000 0.00 0.05 -0.09 u= h*γw t/m2 0.0000 0.002 2.T t/m -0.860 0.000 1.10 1.9433 0.661 0.340 1.49 6.31 6.000 2.

5 m B2 = 5. Rumus: σterjadi = ∑V ≤σ A » Perhitungan Untuk mempermudah perhitungan cofferdam downstream dan sebagai faktor keamanan dianggap cofferdam upstream memiliki dimensi yang sama sepanjang peenampang melintang sungai.3 m a. Diketahui: σ γsat clay γsat batuan γbeton Bcofferdam Lcofferdam Htot Hmaterial Hbeton = 42 t/m2 (data hasil penyelidikan di lapangan) (data teknis material cofferdam) (data teknis material cofferdam) = 2.12.2 Stabilitas Cofferdam Downstream terhadap Penurunan VI .17 m = 0.47 m = 5.5 + 5. Volume timbunan ▪ Volume Timbunan Clay B1 = 3.15 × 5.6 m = 5.17 2 A= LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .51 m (lebar bagian yang berbahaya (pada axist of reference)) = 21.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.2. yaitu pada kondisi baru selesai dibangun karena material cofferdam masih dalam kondisi jenuh sehingga tekanan air pori besar (gaya vertikal besar). dihitung dalam kondisi yang paling membahayakan.4 t/m 3 = 21.125 Dalam perhitungan terhadap bahaya penurunan.1 t/m3 = 2.15 m 3.4 t/m3 = 2.

48 × 5.126 B1 = 6.116 m2 V =33.17 2 2 A= = 33.3 m3 b.4 = 1716.98 x 2.3 x 21.6 = 715.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 22.5 m = 0.1 = 1014.116 x 21.48 m 1 1 × 6.6 = 482.5 x 0.36 m2 V = 22.88 × 5. Volume Beton di atas Mercu B t V1 = 3.26 t ▪ Timbunan Batuan V = Volume x γsat = 715.17 + × 9.3 m =Bxtx L = 3.88 m B2 = 9.68 m3 Gaya vertikal ▪ Tmbunan Clay V = Volume x γsat = 482.3 x 2.6 = 22.72 t LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .98 m3 ▪ Volume Timbunan Batuan VI .36 x 21.

75 1 0.13 PERENCANAAN COFFERDAM (KISDAM) Setelah pelaksanaan pekerjaaan tubuh bendung 1 telah selesai di laksanakan dan cofferdam upstream telah di bongkar maka pintu bendung (spillway) dan flushing sluice yang telah selesai dikerjakan bisa digunakan untuk melepaskan/melewatkan aliran air dari hulu ke hilir bendung tanpa melalui diversion channel.4 ≤ 42 t / m 2 21.27 1.80 2 1 0.4 t Tegangan yang terjadi σterjadi = ∑V ≤σ A = 2785.25 1 Core (Clay) + 646.68 x 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Material Beton VI .25 1 + 648.432 t Total gaya vertikal = 1014.127 V = Volume x γbeton = 22.00 + 647.51 × 21.65 Material timbunan cofferdam downstream 6.20 Gambar 6.00 t/m2 ≤ 42 t / m 2 + 652.6 = 6. Tetapi sebelum dilakukan pembongkaran cofferdam upstream dibuat terlebih dahulu siuatu konstruksi LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .432 = 2785.72 +54.4 = 54.26 + 1716.

128 sejenis cofferdam kecil (kisdam) yang di rencanakan dapat melindungi pelaksanaan pekerjaan tubuh bendung 2 dari aliran air.551 H2 = 1.704 c b H3/2 = 1.32 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .32 = 658.32 m Elev.42 t/m2 = 42 t/m2 Diketahui : B Spillway 3 tubuh bendung 1 = 8 m (dari data gambar design) 6.704 x 1 x (8+6) x H3/2 = 6. Dianggap konstruksi tersebut adalah pelimpah sempurna. MA = (+ 652) + 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .1 Elevasi MA di Kisdam Elevasi muka air di kisdam bisa dicari dengan menghitung elevasi muka air di atas spillway dan flushing Sluice. Cofferdam ini didesain dengan debit banjir yang lebih rendah dari Qd cofferdam upstream. Qd 378. mercu spillway γ tanah dasar/asli ø tanah asli C Teg tanah izin ( σ ) = 378.551 m3/dtk = 6 m (dari data gambar design) = + 652 m (dari data gambar design) = 2. mengingat cofferdam tersebut difungsikan hanya selama pelaksanaan pekerjaan tahap 3 (tubuh bendung 2) yang di perkirakan waktu pelaksanaanya lebih cepat dari pekerjaan tahap 2 (tubuh bendung 1). Direncanakan : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Type cofferdam = cofferdam concrete Qd = Q5 thn B Flushing Sluice Elev.13.42 t/m3 = 35o = 0.

32) – (+ 650.13.66 Spillway dan Flushing Sluice tampak atas 6.2 Rencana Dimensi Kisdam Diketahui : ▪ ▪ ▪ ▪ Hw pintu = 6.00) = 8.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .67 Rencana dimensi kisdam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH KI D O SD A W M NS TR EA M +650 .129 M DA K IS R E A M T UPS S p ill w ay 2 B S p ill w ay 3 F lu sh in g S lu ic e Gambar 6.3 2 Direncanakan : + 6 5 0 . lantai kisdam = + 650.32 m + 6 5 8 .32 m Elev MA di pintu = + 658.32 m Elv.0 0 Gambar 6.0 0 .00 Hma di kisdam = (+ 658.0 0 + 6 5 0 .

5 1 1 3.49 γ Beton t/m3 2.3 1.49 γ w t/m3 1 γ sub t/m3 1.68 Dimensi kisdam 6.5 2 1. gaya-gaya yang bekerja di kisdam dapat dilihat dalam gambar di bawah ini : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .4 Ka Kp 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Direncanakan : D D1 D2 B B1 B2 B3 VI .13.3 Analisa Stabilitas » Gaya –Gaya yang Bekerja Data Perhitungan : γ t/m3 2.130 B4 w 2.6 1.69 C t/m2 0.42 γ Sat t/m3 2.0 + 658.00 + 650.32 + 650.271 3.42 Teg tanah izin ( σ ) t/m2 42 Untuk mempermudah perhitungan.00 Gambar 6.3 7.

K 7 .P p 4 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -131 w K1 K2 PHh Pp1 K3 P a1 K6 K4 K5 o Pp2 Pp3 K et : 1 .O = = = = = = = B e r a t S e n d iri D iv e rs io n T e k a n a n T a n a h A k t if T e k a n a n T a n a h P a s if T e k a n a n H i r o s ta ti s T e k a n a n U p lift G aya G em pa T it ik G u l in g K o n s t r u k s i Gambar 6.P a 3 .69 Gaya-gaya yang bekerja pada kisdam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .P H 5 .P u 6 .G 2 .

144 23.4 2.32 9.32 1. Berat Sendiri (G) Tabel 6.4 14.2080 169.04 Lengan m 5 6.6700 Ket.00 4.368 39.5 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .6240 87.25 MG tm (6)=4*5 134.4 2.132 o Gambar 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING A.33 3.3 σ t/m3 3 2. 7 G1 G2 G3 G4 1 3.4 2.3 1.4 PG t (4)=1*2*3 22.70 Gaya-gaya arah vertikal 1.Gaya Vertikal VI .42 Perhitungan Berat Sendiri G B m 1 H m 2 9.7500 59.5 4.5 7.75 4.

144 x 4.632 1.32 x 1 x 1 = 8.32 x 2.4 x 1 = 39.144 t MG2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 39.0720 MT 2. Tekanan Uplift (PU) Px Px Hx Lx = Hx − ( Lx × ∆H ) ∑L = gaya angkat pada titik x (t/m2) = tinggi titik x dari muka air di hulu (m) = panjang rembesan di titik x (m) = 8. Tekanan Hidrostatis Vertikal (PHV) Tiap 1 meter panjang PHV = B x H x γw x L = 1 x 8.6600 466.62 tm 2.32 m ∆H = beda tinggi energi ma (m) ∑L = Panjang total rembesan = ∑ LV + 1/3 ( ∑ LH ) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING G5 G6 2 1 1.3 PG Total VI .33 = 169.1600 10.12 1.4 3.133 4.83 Contoh : Tiap 1 meter panjang PG2 = ½ x B x H x γB x L = ½ x 3.24 tm 3.4 2..33 6.32 x 7 = 58.5 x 9.56 103.32 t MPHV = PHV x Lengan (jarak titik berat ke O) = 8.3 1.

32) 8.125 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .94 4.262 -4.895 -17.8 x Putot PU t -7.62 10.0 8.32 1.190 -28.000 7.0 4.125 m Lv LH = Panjang rembesan vertikal = Panjang rembesan horizontal VI .3853721 4.0 PX (8) = 6-7 8.000 1.742 -49.241 .91 6.39.631 3.50 1.190 28.62 8.333 0.91 0.32 (Lx/∑L)*∆h 7 0.3 2.92 KET MG Contoh : PxD = HxD − ( LxD × ∆H ) ∑L = 10.359 -121.366 -1.681 3.742 ∑ σ t/m3 1 1 1 1 1 1 0.909 0.262 -3.681 -3.5 4.00 U B m U1 U2 U3 U4 U5 U6 1 1 4.92 − ( = 6.92 10.29 7.5 2 2 H m 7.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = (AB+BC+DE+EF)+ 1/3CD = 8.379 6.3 2.164.134 Tabel 6.990 .250 5.63 0.37 m 4.000 1.374 1.640 1.3 3.536 2.3 - 1.39 Lengan m 7.13 9.44 6.909 -0.262 3.456 5.152 .206.5 1.279 -5.3 8.32 A A-B B B-C C C-D D E-D E E-F F 1.92 9.37 2.5 7.43 Perhitungan Gaya Uplift Titik Lane 1 LV 2 LH 3 1/3*LH 4 Lx 5 0 Hx 6 8.742 A m2 7.44 × 8.83 8.8 x Mutot Momen tm -55.167 4.456 -5.

24 = 39.393 t Mpu = 80 % x ∑Mpu = 80 % x 206.681 t MPU3 = PU3 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 28.5 x 6.135 Tekanan uplift digunakan sebagai angka keamanan.681 x 4. Maka untuk effisiensi dimensi tekanan uplift di ambil (50-100%) = 80 % dari tekanan uplift total.374 x 1 x 1 = 28. mengingat sangat kecil kemungkinan pada saat ma maksimal bersamaan dengan terjadinya gempa.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tiap 1 meter panjang PU3 = B x H x γw x L = 4. Pu = 80 % x ∑ Pu = 80 % x 49.25 = 121.152 = 164.922 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .895 tm VI .

71 Gaya-gaya arah horizontal 1.271 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .271 Kp = tg 2 × (45 + ) 2 = tg 2 × (45 + = 3.136 K1 K2 PHh K3 Pp1 Pa1 K6 K4 K5 o Pp2 Pp3 Gambar 6.49 − 1) × 2.69 Tekanan Tanah Aktif (Pa) φ 35 ) 2 h = 2. Gaya Horizontal VI . Tekanan Tanah (P) Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka) dan Pasif (Kp) Ka = tg 2 × (45 − ) 2 = tg 2 × (45 − φ 35 ) 2 = 0.6 × 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.6 m σa1 = γsub × h × ka = (2.

137 = 1.6 × 1 = 4.6 m σP1 = 2c Ka = 2 × 0.6 × 1 2 VI .69 = 23.05 × 2.6 × 3.6 × 1 2 = 0.05 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pa1 = × σ a1 × h × L 2 = 1 × 1.22 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pp1 = × σ P1 × h × L 2 = 1 × (0.614 × 2.69 = 1.44) × 2.44 t/m2 σP2 = 2c K P = 2 × 0.20 t LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .36 t Tekanan Tanah Pasif (Pp) h = 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 1.42 3.42 0.271 = 0.42 × 2.57 t Pp2 = σ P 2 × h × L = 1.614 t/m2 σp3 = γ × h × Kp = 2.

62 x 2.59 0.582 MG 2.00 0.36 0.00 -13.365 34.20 30.92 = 10.62 t MPHh = PHh x Lengan (jarak titik berat ke O = 59.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1 Pp3 = × σ P 3 × h × L 2 = 1 × 23.44 Perhitungan gaya tekanan tanah γ Gaya t/m2  1.61 23. Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) hw = 10.18 -1.138 = 30.43 0.43 MP tm (4)=2*3 0.92 m σHh = γ w × hw = 1 × 10.57 4.22 × 2.51 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .378 33.05 0.44 1.08 -12.488 Ket 5 Pa1 Pp1 Pp2 Pp3 -1.92 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 PHh = × σ Hh × hw × L 2 = 1 × 10.92 × 10.22 ∑Pa ∑Pp ∑PH P t 2 Lengan m 3 -0.92 × 1 2 = 59.00 -0.34 = 139.00 0.186 t Tabel 6.6 × 1 2 VI .

31 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .62 -39.5658 -2.6380 -0.254 -59.1092 -7.07 0.74 t MK2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 2.74 x 4.45 Perhitungan gaya gempa K PG t 1 E 2 K t (3)=1*2 Lengan m 4 Mk tm 5=3*4 Ket K1 K2 K3 K4 K5 K6 22.24 -21.407 0.49 -164.433 0.07 0.960 4.2184 -0.56 Total 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 3.320 58.095 0.37 39.92 -338.Uplift (Pu) Total -7.07 0.582 -33.14 23.296 8.065 0.433 -9.9828 -0.07 MG tm 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.14 x 0.075 tm Rekapitulasi Gaya Tabel 6.07 = 2.639 0.7401 -1.07 -1.2542 5.12 1.623 33.139 K =ExG E = Intensitas Seismik Horizontal = 0. Gaya Gempa (K) VI .047 -21.690 MG Contoh : K1 = PG2 x E = 39.40 14.407 = 12.650 0.52 -12.56 524.39 72.075 -1.07 0.07 0.Tanah (P) Pa & Pp Tek.46 Rekapitulasi gaya-gaya Gaya NO Jenis Gaya H t V t 103.04 3.650 0.07 (berdasarkan Zone pembagian wilayah gempa) G = Berat sendiri diversion (ton) Tabel 6.63 Momen MT tm 466.332 -12.69 -139.

5 33.7 × 72.5 328.5 ∑MG VI .5 b.25 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .6-0.296 = 1.19 ≤ 1. Exentrisitas X = ∑M −∑M ∑ Pv T G = 524.5 =⎜ ⎝ 2 ⎠ 6 = 1.56 ⎟ ≤ * 7.31 − 338. Stabilitas Terhadap Guling ∑ MT ≥ 1.56 m e ⎛B ⎞ 1 =⎜ − X ⎟ ≤ * B ⎝2 ⎠ 6 ⎛ 7.56 ≥ 1.75 ) Sf = 0.31 ≥ 1.5 dimana : f = koefisien gesekan = ( 0.62 Sf = 1.62 72.140 Sf = Sf = 524.5 c.2 − 1.5 ⎞ 1 − 2.55 ≥ 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Kontrol Stabilitas a. Stabilitas Terhadap Geser Sf = f ∑P ∑P V H ≥ 1.53 ≥ 1.2 − 1.56 = 2.

19 ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≤ 42 7.46 ≥ 0 t / m 2 6. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 6. Kolam penampungan direncanakan dapat menampung Qf yang terjadi.14.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING d.56 ⎛ 6 × 1.89 ≤ 42 t / m ▪ σMin = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ 72.19 ⎞ × ⎜1 + ⎟ ≤ 42 7.5 ⎠ = = 0.56 ⎛ 6 × 1.5 × 1 ⎝ 7. Terhadap tegangan tanah VI .141 Dari hasil penyelidikan tanah di dapat : σ = 42.1 Kolam Penampungan Kolam penampungan di tempatkan pada elevasi terendah dari hilir cofferdam upstream agar debit rembesan (Qf) dapat dengan mudah mudah masuk ke kolam penampungan.13.14 PEKERJAAN KOLAM PENAMPUNGAN DAN POMPA Debit rembesan yang melewati cofferdam upstream dan masuk ke area pekerjaan bendung direncanakan ditampung dalam suatu kolam penampungan yang kemudian debit rembesan segera di pompa keluar dari area agar tidak menggenang dan mengganggu pekerjaan konstruksi.4 Penulangan Kisdam Perhitungan penulangan kisdam disajikan dalam perhitungan penulangan diversion channel untuk mempermudah pembahasannya. 6.0 t/m2 ▪ σMaks = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L⎝ B⎠ 72.5 ⎠ 2 = = 18.5 × 1 ⎝ 7.

kemudiaan baru dilakukan pemompaan.2 + 0.72 Dimensi kolam penampungan Kapasitas kolam = L × B × ( H + w) = 3 × 3 × (1.2 m dari dasar kolam.8 m3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Pompa di rencanakan dioperasikan ketika ma di kolam mencapai ketinggian 1. Dimensi Kolam penampungan VI .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING A.6 m3 V inflow = Q x ∆t = 0.142 Diketahui : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Qf = 0.2) = 12. Pompa berhenti dioperasikan pada ketinggian ma 0.002 m3/dtk Kolam direncanakan mampu menampung debit rembesan selama 2 jam =7200 dtk. Dimensi rencana kolam L=3m B=3m H = 1.2 m w = 0.0015 x 7200 = 10.2 m Direncanakan : Gambar 6.0015 m3/dtk =0.2 m dari dasar kolam sebagai tampungan.

2+0. maka: Q out flow = Q pompa = 9 300 = 0.00+042) = + 658. dasar kolam = + 651-1.4 = + 649.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .05 m3/dtk B.143 V out flow (dibuang) = 3 x 3 x (1.2 – 0.02 m3/dtk Q pompa = 0.2 = 1.1 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00) – w = (+ 651.00 m Hma di kolam = (+ 651. ma diversion channel (Sta.80 m ▪ ▪ ▪ ▪ Htot kolam = 1.2 = + 650.00+042).60 m Elev.4 m Elev.2) = 9 m3 Direncanakan pompa dioperasikan selama 5 menit = 300 dtk untuk dapat membuang V outflow.24 m Digunakan pipa Ø 10 cm = 0. Daya Pompa Pompa ditempatkan sedemikian rupa dari kolam penampungan agar tidak menganggu pekerjaan tubuh bendung.00) – 0.05 m3/dtk Elevasi hilir cofferdan upstream = + 651. Debit di kolam akan dibuang masuk ke diversion channel (Sta. Diketahui : ▪ ▪ ▪ ▪ Qf =Q inflow = 0.03 m3/dtk Digunakan pompa dengan kapasitas 0.

......14 × 0.......144 + 658........03) D 2g LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ....8) = 7...80 + 649...24) ...6) (Bambang Triatmojo.73 Rencana sistem pompa Dengan memperhatikan gambar di atasdan hasil pengukuran pada peta didapat: Ltot = L1+L2+L3+L4+L5+L6 = 22 m Perhitungan: V= = Q A 0...BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .......12 4 = 6.....37 m/dtk Tinggi tekan efektif (Hm) Hm = Hs + hf .60 Pipa 10 cm Gambar 6.........05 1 × 3. Hidrolika II) Tinggi tekan statis Hs = (+658..(650...........24 P + 650......... Hf primer = kehilangan energi akibat gesekan = f× L V2 × (koefisien gesekan pipa f diambil 0..44 m Kehilangan energi hf a................ ▪ ▪ (6.

81 * γ * Q * H m ηo ( watt ) P = P = γ *Q * Hm ( Hp ) 75 *η o 1000 × 0.15 DIMENSI DAN STABILITAS DINDING DIVERSION CHANNEL Dinding diversion sepanjang diversion channel dapat diklasifikasikan dalam 5 tipe untuk mempermudah pelaksanaan di lapngan.195 m Hm = Hs + hf Hm = 7. Hf sekunder = kehilangan energi akibat belokan pipa (ada 4 belokan pipa) = 4 x (k × = 4 x (1× V2 ) 2g 6.145 = 0..81 koefisien belokan k (sudut 90 o) = 1 = 8.44 + (13.30 Hp ~ 25 Hp 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 22 6.34 2 × 0.34 2 ) 2 × 9.52 m b.81 VI . Untuk tiap type dinding yang sama dgunakan pada kondisi yang paling tidak menguntungkan untuk cek terhadap stabilitas.16 ( Hp) 75 * 0. Perbedaaan type tersebut juga berdasarkan perbedaan muka air.195) = 29.05 × 29. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8 = 24.16 m Daya pompa yang dibutuhkan P= 9.1 2 × 9.52 + 8.03 × = 13. ketinggian crest dinding diversion yang disesuaikan dengan hasil pendimensian cofferdam sehingga gaya-gaya yang bekerja akan bebeda pada tiap stasiun.

68 8.00+072.3 6.146 Lima type dinding diversion tersebut yaitu : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Type I (Sta.32 3.5-Sta. 00+027-Sta.47 Tipe dinding diversion channel Tipe Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . 00+091.00+020.5 00+020.72 00+091.72-00+108.16 7.6-Sta.7 6.28 Dalam Perhitungan dimensi dinding diversion channel nantinya berdasarkan tabel di atas dengan memperhatikan kondisi yang paling membahayakan untuk kontrol stabilitasnya. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .72) Type V (Sta. 00+020.8 6.6-00+091. 00+072.2-Sta. 00+00-Sta.00+027) Type 1II (Sta.5-00+027 00+027-00+072.6 00+072.00+091.16) Dari hasil perhitungan sebelumnya telah didapatkan data yang disajikan berikut ini: Tabel 6. H MATertinggi m H top of Wall m IA IB II III 1V 00+00-00+020.3 7.8 5.5) Type II (Sta.19 5.00+108.6) Type IV (Sta.92 4.

15.147 Gambar 6.74 Rencana dimensi dinding diversion channel Untuk mempermudah perhitungan. Dimana titik guling nya (o) berbeda akibat gaya-gaya yang bekerja pada tiap type juga berbeda LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .1 Rencana Dimensi Dinding VI .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6. maka secara umum gaya-gaya yang bekerja pada dinding diversion pada tiap type dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING A.Pa 3.K 7.Pp 4.Pu 6.G 2.75 Gaya yang bekerja pada dinding tipe I dan V LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Gaya-gaya yang bekeja pada dinding type I dan V Tanah Timbunan Cofferdam Pa1 VI -148 K1 Pp1 K2 Pa2 Pa3 PHhp PHha Pp4 Pp3 o K3 K6 K4 K5 Pa4 Pa5 Pp2 Ket : 1.PH 5.O = Berat Sendiri Diversion = Tekanan Tanah Aktif = Tekanan Tanah Pasif = Tekanan Tanah Vertikal = Tekanan Hirostatis = Tekanan Uplift = Gaya Gempa = Titik Guling Konstruksi Gambar 6.Ptv 4.

III dan IV LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .K 7 . dan IV VI -149 K1 K2 PHh Pp1 K3 P a1 K6 K4 K5 o Pp2 Pp3 K et : 1 .P H 5 .P u 6 .76 Gaya yang bekerja pada dinding tipe II.III.P p 4 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.P a 3 .O = = = = = = = = B e r a t S e n d i r i D iv e r s io n T e k a n a n T a n a h A k tif T e k a n a n T a n a h P a s if T e k a n a n T a n a h V e r tik a l T e k a n a n H ir o s t a tis T e k a n a n U p lif t G aya G em pa T itik G u lin g K o n s tr u k s i Gambar 6.G 2 .P tv 4 . Gaya-gaya yang bekerja pada dinding type II.

Tanah asli Tabel 6.42 Teg tanah izin ( σ ) t/m2 42 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .271 3.48 Data tanah asli di area diversion channel γ t/m3 2.49 γw t/m3 1 γsub t/m3 1.2 Analisa Stabilitas VI – 150 Rencana dimensi dinding diversion channel meliputi pondasi dan badan diversion dimana harus aman terhadap : Stabilitas Terhadap Guling Sf = ∑ MT ≥ 1.15.42 γBeton t/m3 2.2 ≈ 1.42 γsat t/m3 2.6-0.5 Di mana : f = koefisien gesekan = ( 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.75 ) Exentrisitas x = ∑M ∑ Pv T − ∑MG ⎛B ⎞ 1 e =⎜ − X ⎟ ≤ *B ⎝2 ⎠ 6 Tegangan Tanah σMaks = σMin = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L⎝ B⎠ ∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ » Data Perhitungan: a.5 ∑MG Stabilitas Terhadap Geser Sf = f ∑P ∑P V H ≥ 1.69 C t/m2 0.4 Ka Kp 0.

Tanah timbunan cofferdam.1 γsub t/m3 1. Tabel 6.271 Kp = tg 2 × (45 + ) 2 = tg 2 × (45 + = 3.0 Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka) dan Pasif (Kp) Timbunan Tanah Cofferdam Ka = tg 2 × (45 − ) 2 = tg 2 × (45 − φ 25 ) 2 = 0.1 Ka Kp 0.82 γsat t/m3 2.69 φ 35 ) 2 b.46 φ 35 ) 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ VI – 151 Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka) dan Pasif (Kp) Tanah Asli Ka = tg 2 × (45 − ) 2 = tg 2 × (45 − φ 35 ) 2 = 0.49 Data teknis material tanah timbunan cofferdam γw t/m3 1 γ t/m3 1.464 c t/m2 4.406 2.406 Kp = tg 2 × (45 + ) 2 = tg 2 × (45 + = 2.

75 0.19 m (lihat perhitungan aliran seepage) ∆h = 7.85 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .61 m » Rencana Dimensi Tabel 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.65 2.3 Perhitungan Dimensi dan Stabilitas 6.15.75 7.3 m H coff di axist of cofferdam u/s = 7.5 0. u/s dan titik gulingnya = 5.Sta.7 2.3.1 Type I (Sta.5) VI – 152 Diketahui : Hma tertinggi = 7. 00+00.19 = 0.00+00) Hma berbahaya terkait posisi axist of coff.50 Rencana dimensi dinding tipe I D m D1 m D2 m B m B1 m B2 m B3 m B4 m 1.8 m Hma Rembesan = 7.15. 00+020.83 (Sta.2 1 0.8-7.8 m (Sta.00+016) H top of Wall = 8.

35 2.75 γ t/m3 3 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 153 + 661.51 Perhitungan Berat Sendiri G B m 1 H m 2 8.667 MG tm (6)=4*5 -17.4 2.4 2.1561 -68. Gaya Vertikal a.325 2.3 0.65 2.7 7.2 3.75 0.565 0.6 2.5945 -0.Berat Sendiri Tabel 6.55 3.948 26.4 2.03 2.711 Ket 7 Total MT LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .96 6.9 62.50 MA Rembesan Tanah Timbunan Cofferdam Upstream + 653.75 0.4 2.6 -162.13025 -13.4 2.00 Gambar 6.75) 1.675 5.75 0.77 Dimensi dinding diversion tipe 1 » Analisa Stabilitas • Gaya yang Bekerja (lihat gambar 6.3 0.295 Lengan m 5 1.4 G1 G2 G3 G4 G5 G6 0.3 8.85 1 PG t (4)=1*2*3 12.892 12.656 -16.5746 -46.

7 x 8.62 x 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Contoh : Tiap 1 meter panjang PG2 = ½ x B x H x γB x L = ½ x 2.336 H m 2 γ t/m3 3 1.82 x 1 = 3. Tekanan Tanah Vertikal (Ptv) VI – 154 Tabel 6.62 7.945 5.775 3.181 1.394 -0.202 2.85 x 0.336 0.1 1.216 t M Ptv1 = Ptv1x Lengan (jarak titik berat ke O) = 3.62 0.379 Ket 7 MT Contoh: Tiap 1 meter panjang Ptv1 = B4 x H x γ x L = 2.7570 Lengan m 5 5.775 = 18.2492 37.82 1.775 3.570 Mtv tm (6)=4*5 -18.62 0.172 -33.55 = 68.18 Total Ptv t (4)=1*2*3 3.572 -8.850 2.5407 9.1 TV 1 TV2 TV3 TV4 TV5 0.572 tm c.6392 0.3 x 2.52 Perhitungan tekanan tanah vertikal TV B m 1 2.18 7.850 2.218 -130.948 x 2.1120 22. Tekanan Hidrostatis Vertikal (PHV) Tiap 1 meter panjang PHV = B x H x γw x L LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .82 1.5746 tm b.023 -190.82 1.216 x 5.4 x 1 = 26.892 t MG2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 12.2159 2.

947 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 1 x 5.83 x 1 x 1 = 5.75 3.12 2.00 PX (8) = 6-7 7.95 1.06 6.25 3.68 8.93 8.36 7.68 7.73 5.20 1.36 m ∆H = beda tinggi energi ma (m) ∑L = Panjang total rembesan = ∑ LV + 1/3 ( ∑ LH ) = (AB+BC+DE+EF)+ 1/3CD = 6.73 0.83 t MPHV = PHV x Lengan (jarak titik berat ke O) = 5.15 0.915 tm (MT) d.95 7.73 6.75 - 0.813 m Lv LH = Panjang rembesan vertikal = Panjang rembesan horizontal Tabel 6.81 7.83 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .70 4.18 A A-B B B-C C C-D D E-D E E-F F 0.78 7.75 1. Tekanan Uplift (PU) VI – 155 Px Px Hx Lx = Hx − ( Lx × ∆H ) ∑L = gaya angkat pada titik x (t/m2) = tinggi titik x dari muka air di hulu (m) = panjang rembesan di titik x (m) = 1.81 6.93 7.5 = 2.53 Perhitungan tekanan uplift Titik Lane 1 LV 2 LH 3 1/3*LH 4 Lx 5 0 Hx 6 7.18 (Lx/∑L)*∆h 7 0.83 x 0.35 1.18 0.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING γw t/m3 VI – 156 U U1 U2 U3 U4 U5 U6 B m 2.263 1.271 Kp = 3.675 3.207 3. Tekanan Tanah Horizontal LxD × ∆H ) ∑L 4.300 2.00 A m2 22.881 1.893 -0.675 = 69.730 -0.85 2.500 0.233 0.775 5.272 Ket MG Contoh : PxD = HxD − ( = 8.81 × 1.365 0.36) 6.68 − ( = 7.663 -0.730 0.500 -56.667 Momen tm 130.73 0.85 3.35 1 1 Total H m 7.95 0.893 x 2.893 t M PU3 = PU3 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 25.663 0.500 1 1 1 1 1 1 PU t -22.73 m Tiap 1 meter panjang PU3 = B x H x γw x L = 3.333 206.231 -25.16 7.222 69.69 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Gaya Arah Horizontal a.73 x 1 x 1 = 25.373 6.813 Diketahui: Tanah Asli Ka = 0.35 x 7.73 1.22 6.373 -6.390 Lengan m 5.263 tm 2.35 3.893 0.231 25.

6896 0.82 1.82 1.18 1.1 1.406 0.5 7.61359 -8.5 7.250 1.406 0.271 0.49 - - 0.250 4.24715 ∑Pa ∑Pp ∑PH 0.18 7.62 7.271 - 2.000 0.271 3.62 × 0.885 0.66 MT Contoh : σa1 = γ × h × ka = 1.000 1.14334 0.21105 5.60569 -5.8 1.406 0.82 × 0.54625 2.000 0.14202 3.42038 -6.53439 0.43728 -1.5 1.345 3.406 Kp = 2.24715 0.60569 -5.5 1.45813 3.69 0.45813 0.42 - 0.18 7.142 t LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .147 0.46 Tabel 6.156 14.137 4.54374 8.45426 -39.69 23.271 3.053 -131.82 1.54 Perhitungan tekanan tanah horizontal h Gaya m 1 H2 m 2 γ t/m3 3 C t/m2 4 5 6 Ka Kp σ t/m2 7 σtot t/m2 8 P t 9 Lengan m 10 Mp tm (11)=9*10 Ket 12 Pa1 Pa2 Pa3 Pa4 Pa5 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 0.18536 8.21105 3.458 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pa1 = × σ a1 × h × L 2 = 1 × 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tanah Timbunan cofferdam VI – 157 Ka = 0.62 0.324 0.000 -0.114 -184.650 0.62 × 1 2 = 0.546 4 0.09745 -0.5 1.022 -25.29396 11.312 36.18 7.000 0.968 -49.76011 -0.45813 0.464 - 0.1 1.09745 -0.271 0.49 1.61359 -8.406 0.000 0.406 = 0.18 1.65593 -2.458 × 0.45813 3.43728 -1.42 0.

490 81.8936 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING MPa1 = Pa1 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 0.563 MG Contoh: hw = (5.33 8.86 x 1.86 t MPHh = PHh x Lengan (jarak titik berat ke O) = 26.69 1 1 7.693 2.053 35.137 = 1.68 Total -26.693 = 45.33 8.55 Perhitungan tekanan hidrostatis Gaya h m 1 γw t/m3 2 σ t/m2 3 PH t 4 Lengan m 5 MH tm (6)=4*5 Ket 7 Php Pha 7.8644 37.7580 10.33 × 1 2 = 26.33 = 7.49 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5) = 7.33 t/m2 Tiap 1 meter panjang PHh 1 = × σ Hh × hw × L 2 = 1 × 7.33 m σHh = γ w × hw = 1× 7.143 -45.156 tm b.142 x 8.83+1.33 × 7. Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) VI – 158 Tabel 6.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
c. Gaya Gempa

VI – 159

K =ExG E = Intensitas Seismik Horizontal = 0,07 (berdasarkan Zone pembagian wilayah gempa) G = Berat sendiri diversion (ton) Tabel 6.56 Perhitungan gaya gempa
K PG t 1 12.95 26.89 12.96 6.03 2.57 0.90 E 2 K t (3)=1*2 0.9064 1.8824 0.9072 0.4221 0.1796 0.0630 4.3607 Lengan m 4 4.900 3.517 0.375 0.375 0.250 0.250 Mk tm 5=3*4 4.44116 6.61991 0.34020 -0.15829 -0.04489 -0.01575 11.18235 Ket 6

K1 K2 K3 K4 K5 K6

0.07 0.07 0.07 0.07 0.07 0.07
Total

MG

Contoh : K2 = PG2 x E = 26,89 x 0,07 = 1,882 t MK2 = K2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 1,882 x 3,517 = 5,94 tm (-) •
Rekapitulasi

Tabel 6.57 Rekapitulasi gaya yang bekerja
NO Jenis Gaya H Gaya V 62.295 Momen MT MG -162.711 11.182 -2.915 35.563

1 2 3 4

5

Berat Konstruksi Gaya Gempa Gaya Hidrostatis Tek.Tanah Pa & Pp Ptv Tek.Uplift Total

4.36065 10.8936 -25.053

5.83

-9.79917

37.7570 -56.390 49.49247

-131.660 -190.379
-487.66546

206.272 253.01734

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
» Kontrol Stabilitas a. Stabilitas Terhadap Guling
∑ MT ≥ 1,2 ≈ 1,5 ∑MG

VI – 160

Sf = Sf =

487,665 ≥ 1,2 ≈ 1,5 253,02

Sf = 1,93
b. Stabilitas Terhadap Geser
Sf = f

∑P ∑P

V H

≥ 1,5

dimana : f = koefisien gesekan = ( 0,6-0,75 )
Sf = 0,7 × =

49,492 ≥ 1,5 9,799

3,54 ≥ 1,5

c. Exentrisitas

x

= =

∑M −∑M ∑ Pv
T

G

487,665 − 253,02 49,492

= 4,74 m

e

⎛B ⎞ 1 =⎜ − X ⎟ ≤ * B ⎝2 ⎠ 6 ⎛ 7,2 ⎞ 1 =⎜ − 4,74 ⎟ ≤ * 7,2 ⎝ 2 ⎠ 6 = - 1,14 ≤ 1,2

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
d. Terhadap tegangan tanah

VI – 161

Dari hasil penyelidikan tanah didapat :

σ = 42,0 t/m2
σMaks = ∑ P ⎛ 6e ⎞ V ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L ⎝ B⎠ 6 × 1,14 ⎞ 49,492 ⎛ × ⎜1 + ⎟ ≤ 42 7,2 ⎠ 7,2 × 1 ⎝
2

=

= 13,41 ≤ 42 t / m

σMin =

∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ 49,492 ⎛ 6 × 1,14 ⎞ × ⎜1 − ⎟≥0 7,2 ⎠ 7,2 × 1 ⎝

=

= 0,34 ≥ 0 t / m 2

6.15.3.2 Type II (Sta. 00+20,5-Sta.00+027)

Hma tertinggi = 6,7 m (Sta.00+020,5) H top of wall = 7,3 m
» Rencana Dimensi

Tabel 6.58 Rencana dimensi dinding tipe II
D m D1 m 0.75 D2 m 0.75 B m 7 B1 m B2 m 0.65 B3 m 2.6 B4 m 3.25 Ht m

1.5

0.5

1.8

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 162

+ 660.21

+ 652.91

Gambar 6.78 Dimensi dinding diversion tipe 1I

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

98 3.85 2.925 0.5 H m 2 γ t/m3 3 2.25 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Analisis Stabilitas VI – 163 • Gaya –Gaya yang Bekerja (lihat gambar 6.Berat Sendiri Tabel 6.6 7 3. Gaya Arah Vertikal o Gambar 6.67 MG tm (6)=4*5 70.388 22.17 6.88 2.75 0.75 0.45 55.4 2.7776 KET 7 MT LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .59 Perhitungan Berat Sendiri B G m 1 0.4 2.776 12.6 5.25 3.75 Total Lengan m 5 6.3 0.5188 6.0000 265.3209 113.76) 1.4 2.1000 28.50 4.79 Gaya-gaya arah vertikal a.4 2.989 G1 G2 G3 G4 G5 G6 7.18 4.75 0.4 2.3 7.3375 3.65 2.5004 44.4 PG t (4)=1*2*3 11.

98 = 113.8 x 2.396 x 3.25 x 1. Tekanan Tanah Vertikal (Ptv) VI – 164 B4 B’ = 3.8 x 2.157 t M Ptv1 = Ptv1x Lengan (jarak titik berat ke O) = 14.01 tm (MT) Ptv2 = ½ x B’ x H x γtanah x L = ½ x 0.83 tm (MT) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .4 x 1 = 22.46 = 4.5 tm b.157 x 1.625 = 23.42 x 1 = 1.776 t MG2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 22.396 t M Ptv1 = Ptv2x Lengan (jarak titik berat ke O) = 1.25 m = 0.64 x 1.3 x 2.776 x 4.64 m (hasil pengukuran) Tiap 1 meter panjang Ptv1 = B4 x H x γtanah x L = 3.42 x 1 = 14.6 x 7.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Contoh : Tiap 1 meter panjang PG2 = ½ x B x H x γB x L = ½ x 2.

553 Lengan m 1.9 m ∑L = Panjang total rembesan = ∑ LV + 1/3 ( ∑ LH ) = (AB+BC+DE+EF)+ 1/3CD = 6.8364 27.7 x 1 x 1 = 3.396 15.35 x 6.60 Perhitungan tekanan tanah vertikal PV t 14.5 x 6.625 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.8415 Ket VI – 165 MT c.0051 4.35 t (+) MPHV = PHV x Lengan (jarak titik berat ke O) = 3. Tekanan Uplift (PU) Px = Hx − ( Lx × ∆H ) ∑L Px = gaya angkat pada titik x (t/m2) Hx = tinggi titik x dari muka air di hulu (m) Lx = panjang rembesan di titik x (m) ∆H = beda tinggi energi ma (m) = 4.82 m Lv = Panjang rembesan vertikal LH = Panjang rembesan horizontal LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 = 22.464 Momen tm 23. Tekanan Hidrostatis Vertikal (PHV) Tiap 1 meter panjang PHV = B x H x γw x L = 0.613 tm (MT) d.157 1.

235 0.5 3.25 x 6.171 -98.851 -16.113 -40.235 x 1 x 1 = 20.667 4.45 8.08 0.778 3.625 2.456 0.789 -6.70 0.9 6.235 3.265 10.167 MU tm -23.039 5.417 1.65 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.2 2.82 7.039 -5.09 1.73 × 4.456 -0.82 = 6.0 PX (8) = 6-7 6.25 3.63 Perhitungan tekanan uplift Titik Lane 1 LV 2 LH 3 1/3*LH 4 Lx 5 0 Hx 6 6.80 U B m U1 U2 U3 U4 U5 U6 0.265 -10.75 3.73 6.75 - (Lx/∑L)*∆h 7 0.7 VI – 166 A A-B B B-C C C-D D E-D E E-F F 0.5 0.146 A m2 3.25 1.5 1.026 -20.313 -11.25 3.026 20.01 6.4 4.25 3.750 6.75 1.102 6.91 7.25 H m 6.162 Lengan m 6.264 1.7 0.335416016 3.264 -1.2 − ( LxD × ∆H ) ∑L 2.527 KET MG Contoh : PxD = HxD − ( = 8.901 0.264 t M PU3 = PU3 x Lengan (jarak titik berat ke O) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .325 -0.078 -156.0 4.875 5.9) 6.089 3.07 6.238 m Tiap 1 meter panjang PU3 = B x H x γw x L = 3.2 7.2 8.911 0.45 6.113 Total γw t/m3 1 1 1 1 1 1 Pu t -3.

271 Kp = 3.264 x 4.606 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pa1 = × σ a1 × h × L 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .271 = 0.80 Gaya-gaya arah horizontal a.786 tm 2. Gaya Arah Horizontal VI – 167 K1 K2 PHh K3 Pp1 Pa1 K6 K4 K5 Pp2 o Pp3 Gambar 6.875 = 98.5 × 0.69 • Tekanan Tanah Aktif (Pa) h =2m σa1 = γsub × h × ka = (2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 20.49 − 1) × 1. Tekanan Tanah Horizontal (Pap) Diketahui: Ka = 0.

61 t/m2 σp3 = γ × h × Kp = 2.47 × 3.271 = 0.44) × 1.3 × 3.5 × 1 2 = 0.42 × 3.69 = 1.3 × 1 = 5.33 t Pp2 = σ P 2 × h × L = 1.3 m σP2 = 2c K P = 2 × 0.44 t/m2 h = 3.61 × 3.42 3.5 m σP1 = 2c Ka = 2 × 0.606 × 1.47 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pp1 = × σ P1 × h × L 2 = 1 × (0.3 × 1 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .42 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1 × 0.32 t 1 Pp3 = × σ P 3 × h × L 2 = 1 × 29.454 t • Tekanan Tanah Pasif (Pp) h = 1.5 × 1 2 VI – 168 = = 0.69 = 29.

00 4.25 0.68 tm (MG) c.62 x 1.64 Perhitungan tekanan tanah horizontal Pap h m 1 VI – 169 γ t/m3 Ka 3 C t/m2 4 Kp 5 σ t/m2 6 Pap t 7 Lengan m 8 Map tm (9)=7*8 Ket 10 Pa1 Pp1 Pp2 Pp3 1. Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) hw σHh = 8.42 0.32 48.5 1.3 3.2 = 8.2 m = γ w × hw = 1× 8.47 -0.02 21.69 3.62 -0.983 = 66.271 0.2 × 8.11 0.69 ∑ Pa ∑ Pp ∑ PH 0.35 0.61 0.2 t/m2 Tiap 1 meter panjang PHh 1 = × σ Hh × hw 2 = 1 × 8.5 3.90 0.00 0.3 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 48.32 3.454 53.62 t (-) MPHh = PHh x Lengan (jarak titik berat ke O = 33.454 0.33 5.821 0.924 MT b.44 1.623 t Tabel 6.61 29.2 2 = 33.271 - 0.32 0. Gaya Gempa (K) K=ExG E = Intensitas seismik horizontal LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .42 2.49 2.948 53.79 17.

183 0.91 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .620 53.68 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.53 -231.553 -40.008 -8.60 5.331 0.07 = 1.78 -8.66 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya t V 55.8820 -0.84 338.350 16.73 21.7972 -1.07 (berdasarkan Zone pembagian wilayah gempa) G = Berat sendiri diversion (ton) Tabel 6.593 t MK2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 1.821 3.76 x 0.07 -0.39 22.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 0.Tanah (Pt) Pa & Pp Ptv Tek.051 0.071 tm (MG) • Rekapitulasi Gaya Tabel 6.07 0.4095 -0.075 -0.282 15.07 0.16 -156.250 0.250 -3.183 = 5.9192 4.375 0.508 -5.701 MG Contoh : K2 = PG2 x E = 22.45 0.61 -66.07 0.Uplift (Pu) Total -3.93 0.2048 -0.65 Perhitungan gaya gempa K PG t 1 E 2 K t (3)=1*2 Lengan m 4 MK tm 5=3*4 VI – 170 Ket 6 K1 K2 K3 K4 K5 K6 Total 11.919 -33.5943 -0.16 34.593 x 3.92 27.99 Momen tm MT MG 265.70 22.0315 -3.375 0.400 3.07 0.78 12.85 2.07 0.154 0.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING • Kontrol Stabilitas a.06 m e ⎛B ⎞ 1 =⎜ − X ⎟ ≤ * B ⎝2 ⎠ 6 ⎛7 ⎞ 1 = ⎜ − 3.91 Sf = 1.2 1. Exentrisitas x = = ∑M −∑M ∑ Pv T G 336.5 231. Stabilitas Terhadap Geser Sf = f ∑P ∑P V H ≥ 1 .75 ) Sf = 0.5 ∑MG VI – 171 Sf = Sf = 338.5 c.6-0.5 dimana : f = koefisien gesekan = ( 0.16 − 231.44 ≤ 1.46 b.7 × = 34.501 ≥ 1.5 16.91 34.06 ⎟ ≤ * 7 ⎝2 ⎠ 6 = 0.16 ≥ 1.73 = 3.2 ≈ 1.73 ≥ 1. Stabilitas Terhadap Guling ∑ MT ≥ 1.2 ≈ 1.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

84 ≤ 42 t / m σMin = = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ 34.5 0. Type III (Sta.73 ⎛ 6 × 0.44 ⎞ × ⎜1 − ⎟≥0 7 ×1 ⎝ 7 ⎠ = 3.00+072.8 m » Rencana Dimensi Tabel 6.0 t/m2 σMaks = = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L⎝ B⎠ 34.4 B4 m 3 Ht m 1.44 ⎞ × ⎜1 + ⎟ ≤ 42 7 ⎠ 7 ×1 ⎝ 2 = 6.67 Rencana dimensi dinding tipe III D m 1.19 m (Sta.65 0.3.73 ⎛ 6 × 0.5 B1 m B2 m B3 m 2.6) Hma tertinggi H top of wall = 6. 00+27-Sta.65 B m 6.00+00) = 6.08 ≥ 0 t / m 2 6.3 D1 m D2 m 0.6 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Terhadap tegangan tanah VI – 172 Dari hasil penyelidikan tanah di dapat : σ = 42.3.15.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING d.7 0.

57 + 652.34 0.8144 90.39 46.9550 21.0864 32.81 Dimensi dinding diversion tipe III » Analisis Stabilitas Perhitungan analisis stabilitas tipe III = analisis tipe II ▪ Gaya yang Bekerja 1.0600 4.926 PG6 ∑ 2.14 4.68 Rekapitulasi perhitungan gaya arah vertikal GAYA ARAH VERTIKAL Besar P Gaya t Berat Sendiri (PG) PG1 PG2 PG3 PG4 PG5 P Momen t/m M 55.68 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 173 + 659.4050 207.77 o Gambar 6.584 10.Gaya Arah Vertikal Tabel 6.0008 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .6800 9.792 19.

085 -76.05005 P Momen t/m M -51.630 -123.231 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .014 -17.Tanah Vertikal (Ptv) Ptv1 Ptv2 ∑ -0.2342 3.3438 19.00 4.697 -8.5762 22.5130 1.Tanah (Pa.465 -4.69 Rekapitulasi perhitungan gaya arah horizontal GAYA ARAH HORIZONTAL Besar P Gaya t Hidrostatis (PHh) PHh ∑ Tek.315 -34.7098 -2. Gaya Arah Horizontal Tabel 6.34 0.095 -1.05005 -28.441 -12.6854 -1.680 M 12.3438 M -19.184 -0.25 Pp1 Pp2 Pp3 ∑ Gempa K1 K2 K3 -0.9494 13.799 M -0.088 -8.095 P M 19.926 -5.095 3.28 4.07 0.902 -3.3709 -0.799 -51.97 P M 0.06 18.11 14.160 PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 ∑ Tek.998 -0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 174 Hidrostatis (PHv) PHv ∑ Uplift (PU) PU1 P 3.4624 Sumber: Hasil Perhitungan P 2.18 44.342 18.Pp) Pa1 P -28.84 40.776 -3.

106 -0.68 267.Uplift (Pu) Total -3.5 1.46 -123.92 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5331 ≥ ≥ Syarat 1.035 -0.285 -28.095 13.00 -6.4.44 18.46 1.2848 -6.050 44.71 Rekapitulasi perhitungan kontrol stabilitas CEKKING 1 2 3 Guling Geser Exentrisitas Hasil 1.16 13.8782 0.15. Tanah 2.0832 ≤ 42 2.3718 ≤ 1.06 -182.70 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya V 46.34 -51.2-1.32 m (Sta. Type IV Hma tertinggi = 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 175 K4 K5 K6 ∑ -0.00+072.3.968 3.80 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.083 Maks Min 6.25 22.93 Momen MT MG 207.Tanah (Pt) Pa & Pp Ptv Tek.6) H top of wall = 5.576 -34.3276 0.006 -3.857 Sumber Hasil Perhitungan • Rekapitulasi Gaya Tabel 6.9743 ≥ 0 Sumber: Hasil Perhitungan 6.86 19.0273 0.34 • Kontrol Stabilitas Tabel 6.1638 0.633 29.5 X E 4 Teg.

9 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Rencana Dimensi VI – 176 Tabel 6.3290 60.87 Gambar 6.5 0.5 0.208 7.6 2 2.6000 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 + 657.72 Rencana dimensi dinding tipe IV D D1 D2 B B1 B2 B3 B4 Ht 1 0.5 6 0.2 M 44. Gaya Arah Vertikal Tabel 6.5248 14.1472 21.79 + 651.73 Rekapitulasi perhitungan gaya arah vertikal GAYA ARAH VERTIKAL Besar P Momen Gaya t t/m Berat Sendiri (PG) PG1 PG2 PG3 P 8.82 Dimensi dinding diversion tipe 1V » Analisis Stabilitas Perhitungan analisis stabilitas tipe IV= analisis stabilitas tipe II ▪ Gaya yang bekerja 1.

00 3.0868 2.66 2.74 0.2950 15.9712 -19.91 31.866 -7.03 27.03 0.Tanah (Pa.804 -3.Tanah (Pt) Pt1 Pt2 ∑ -0.9197635 11.087 M 0.680 M PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 ∑ Tek.5967 -2.015 -53.96 P -0.737 M 15.737 -0.22 4.03 9.3 35.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 177 PG4 PG5 PG6 ∑ Hidrostatis (PHv) PHv ∑ Uplift (PU) PU1 3.333 -3.2642 2.527 0.66 P -2.698 -0.7000 144.446764 15.702 P 10.615 -9.74 Rekapitulasi perhitungan gaya arah horizontal GAYA ARAH HORIZONTAL Besar P Momen Gaya t t/m Hidrostatis (PHh) PHh ∑ Tek.087 -32.9712 P -0.680 -26.065 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0928 P M 13.Pp) Pa1 P -19.2950 -15. Gaya Arah Horizontal Tabel 6.8227 18.3640 1.12 1.780 -6.30 12.2442 2.114 -89.36 M Pp1 Pp2 Pp3 ∑ Gempa K1 0.20 M -32.1040 3.003 -12.

020 0.15.572 ▪ Rekapitulasi Gaya: Tabel 6.24 -4.50 1.5040 -0.055 0.99 -89.460 -0.30 m (lihat perhitungan seepage) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .09 189.72-Sta.1087 ≤ ≤ ≥ 1.004 -4.34 ▪ Kontrol Stabilitas Tabel 6.971 31.956 2.36 18.6764 ≥ ≥ Syarat 1.Tanah (Pt) Pa & Pp Ptv Tek.126 0.00+091.456 -19.16) Diketahui : H top of Wall = 4.2184 -0.30 -32.68 m = 1.1709 4.3.75 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya V 35.Uplift (Pu) Total -2.00+108.2≈1.447 -26.76 Rekapitulasi perhitungan kontrol stabilitas CEKKING 1 2 3 Guling Geser Exentrisitas Hasil 1.5 X E 4 Teg.660 9.3905 3.5 1.70 22.1218 -0.529 11.0 42 0 Maks Min 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 178 K2 K3 K4 K5 K6 ∑ -0. Tanah 2.50 12.09 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.4565 -2.9946 -0.0210 -2.68 -126.28 m Hma H coff Hma Rembesan = 3.5 Type V (Sta.57 15.09 Momen MT MG 144.8291 0.729 m = 1.

6 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ∆h = 1.4 + 654.0 0.3 = 0.0 1.0 0.5 6.54 Gambar 6.83 Dimensi dinding diversion tipe V LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 0.27 MA Rembesan Tanah Timbunan Cofferdam Downstream + 650.429 m » Rencana Dimensi VI – 179 Tabel 6.729-1.77 Rencana dimensi dinding tipe V D (m) D1 (m) D2 (m) B (m) B1 (m) B2 (m) B3 (m) B4 (m) 1.82 + 652.0 2.

889 0.383 0.8 P -2.0104 -58.0122 23.003 -12.001 33.4000 66.6000 7.6220 6.1632 10.44 0.8 6.6061 3.984 12.8160 M 13.955 4. Gaya Arah Vertikal VI – 180 Tabel 6.8160 -16.4671 33.6 28.3360 0.1597 7.320 P 3.7952 P 21.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Analisis Stabilitas Perhitungan analisis stabilitas tipe V = analisis stabilitas tipe I ▪ Gaya yang Bekerja 1.2832 PG3 PG4 PG5 PG6 ∑ Hidrostatis (PHv) PHv ∑ Uplift (PU) PU1 PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 ∑ Tek.191 -0.8227 0.296 -2.1894 0.12 1.3490 3.8074 M -16.8861 12.78 Rekapitulasi perhitungan gaya arah vertikal GAYA ARAH VERTIKAL Besar P Gaya t Berat Sendiri (PG) PG1 PG2 P 6.Tanah (Pt) Ptv1 Ptv2 Ptv3 Ptv4 Ptv5 ∑ 7.0013 0.1760 6.570 M 18.8373 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .133 -5.907 -1.552 1.2 3.9676 0.272 Momen t/m M 8.604 -0.

79 Rekapitulasi perhitungan gaya arah horizontal GAYA ARAH HORIZONTAL Besar P Momen Gaya t t/m Hidrostatis (PHh) PHhp Phha ∑ Tek.749 -11.4314 0.47 0.572 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .81 -0.608 0.00 0.007 2.1008 0. Gaya Arah Horizontal VI – 181 Tabel 6.46 -10.41 0.2184 0.3062 P M -11.20 -8.53 P 0.64 M 1.385 0.Pp) P -10.645 -8.017 -0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 2.055 -0.126 -0.03 -12.07 0.00 -0.13 0.0157 0.705 -10.9512 2.139 1.00 0.Tanah (Pa.61 -2.44 -1.38 1.03 0.0420 2.03 0.5040 0.35 0.903 M Pa1 Pa2 Pa3 Pa4 Pa5 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 ∑ Gempa K1 K2 K3 K4 K5 K6 ∑ 0.7190 0.

Momen Guling 2.1 Tulangan Dinding Diversion Channel Perhitungan tulangan dinding diversion channel dibagi dalam dua segmen yaitu: Badan diversion channel Pondasi dinding diversion channel Dinding dan pondasi diversion channel dianggap sebagai balok dengan lebar pada arah memanjang b = 100 cm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .11290682 5 ▪ Kontrol Stabilitas Tabel 6.525 12.81 Rekapitulasi perhitungan kontrol stabilitas CEKKING 1.572 6.622 33.3062 2.Geser 3.142 -11.8 -16.Exentrisitas X E 4.53 -0.816 -10.7952 Momen tm MT -66.320 17.16.Tegangan Tanah Maks Min Hasil 4.Uplift Total 2.535 2.24 ≤ ≤ ≥ 1 42 0 6.5 ≥ 1.532 1.2-1.570 -163.807 MG 1 2 3 4 Berat Konstruksi Gaya Gempa Gaya Hidrostatis Tek.16 TULANGAN DINDING DIVERSION CHANNEL DAN KISDAM 6.52 Syarat ≥ 1.Tanah Pa & Pp Ptv Tek.792 36.80 9.80 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya t V 28.81586983 36.5 3.015664 -8.643 -58.903 -10.8373 -12.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Rekapitulasi Gaya VI – 182 Tabel 6.

84 Tulangan penampang balok Dimana : H = tinggi total balok P = selimut beton d = tinggi efektif (jarak dari serat tekan ke titik berat tulangan tarik) Dalam perhitungan tulangan dinding diversion direncanakan beton dan tulangannya mempunyai karakteristik sebagai berikut : fc = 20 Mpa (200 kg/cm2) fy = 400 Mpa (400 kg/cm2) 6.1 Perhitungan Tulangan Dinding Tipe I dan V Potongan Struktur dan gaya yang bekerja tiap potongan untuk keperluan penulangan dinding diversion channel type diversion ini adalah sebagai berikut : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .16.1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 183 b = 1 0 0 cm D aerah T ek an d D aerah T arik Gambar 6.

3 m Hma = 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tanah Timbunan Cofferdam Pa1 VI – 184 Pp1 Hw PHp K1 Pa2 K2 Hma Rembesan II y I III I Pa3 PHa y II K P1 H Min L P2 III E F P4 P3 A B C D I J Maks G Gambar 6.85 Gaya yang bekerja pada tiap potongan dinding tipe I & V Contoh perhitungan: » Diversion Channel Tipe I Diketahui: Hcofferdam ∆h = 7.62 m Hdiv.83 m Hw rembesan = 7.8 m = 7.18 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .18 m 1.18 = 0.I-I) a.8 – 7.3 m Hw = 5. Gaya-Gaya yang Bekerja Hdiv channel = 8.83 m Hrembesan = 7. Gaya dan Penulangan Badan Diversion (Pot.channel = 8.

69 = 28.18 t/m2 Tiap 1 meter panjang PHhp = ½ x σ Hh x hw x L = ½ x 5.83 x 1 = -16.18 x 7.01+61.18 3 = (-16.69 tm PHtot 7.99 x 1.01 tm PHha = ½ x σ Hha x hw = ½ x 7.83 x 5.99 t MPHp = PHp x y = -16.68 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .18 x 1 = 7.83 t/m2 σ Hha = hw x γw = 7.943 = -33.18 = 25.776 t MPHa = PHa x y = 25.99) + 25.786 tm MPHtot = -33.776 = 8.83 x 1 = 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 185 Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) σ Hhp = hw x γw = 5.776 x = 61.

76 t = Pa1 x y 2 = 0.142 x (7.064 = -114.049 tm Mpa2 = Pa2 x y = 3.155.049 + 11.8 2 = .54 -39.29 x 7.62 .788 t = 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tekanan Tanah VI – 186 Dari hasil perhitungan stabilitas diversion channel telah di dapatkan nilai: Pa1 Pa2 Pa3 Pp1 Mpa1 = 0.155.49 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8 − × 0.54 t = -39.62) 3 = 1.54 x 7.29 + 11.29 t = 11.81 + 27.18 2 = 11.142 + 3.76 x 7.142 t = 3.62 tm Mpp1 = Pp1 x y = -39.18 3 = 27.76 = -24.81 tm Mpa3 = Pa3 x y = 11.064 tm Ptot MPtot = 0.

906 + 1.906 t = .76 + 5.961 = .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Gaya Gempa VI – 187 Dari hasil perhitungan stabilitas diversion channel telah di dapatkan nilai: K1 K2 = .788 t MKtot = 3.2.786 -24.5 x 94.8.788 .94.906 x 8.8.882 t Mk1 = K1 x y = 0.961 tm Momen dan Gaya Geser Ultimate MtotI-I VtotI-I = 28.77 = 142.201 = .114.68 .5.0.2.155 tm = 1421.882 x 8.201 tm Ktot = 0.3 3 = .788 = 18.3.49 .77 tm = 8.76 tm Mk2 = K1 x y = 1.1.79 t ▪ Momen Ultimate Mu = 1.3 2 = .6 kNm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .882 = .

6 kNm Mu 1421.9 kN b.82 kN/m b×d 2 maka dengan interpolasi didapat : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .× D 2 1 = 3350.50. Penulangan Dinding dianggap sebagai balok dengan lebar dan tinggi : b = 1000 mm h = 3350 mm Direncanakan : Tulangan Utama D 32 Tebal selimut beton (P) = 50 mm 1 d = Ht-P.284 m Mu = 1421.185 t = 281.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Geser Ultimate VI – 188 Vu = 1.× 32 2 = 3284 mm = 3.82 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : fc = 20 Mpa fy = 400 Mpa Mu = 131.6 = 2 b×d 1 × 3.5 x 18.284 2 = 131.79 = 28.

0163 Karena ρ < ρ min 0.0003 (200 − 100) VI – 189 ρ = = 0.14x 82 x (1000/150) = 1339.144 mm2 Digunakan D 16-150 Asterpasang = 3.8 mm2 ▪ Tulangan Utama As min Digunakan D 32-125 As Terpasang = 3.73 mm2 > As min ▪ Tulangan Geser Vu = 297.0006 − 0.0017) = ρ min× b × d = 0.17 × f 'c × b × d = 0.0017 (digunakan ρ min = 0.63 kN Vc = 0.72 mm2 > As min ▪ Tulangan Bagi As min = 20 % x 6430.0017 ρmaks = 0.17 × 20 × 1000 × 3284 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING (131.14x 162x (1000/125) = 6430.82 − 100) × (0.0017 x 1000 x 3284 = 5582.0003) + 0.00039 < 0.72 = 1286.50-52 didapat: ρ min = 0.00039 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.

7 kN Ǿ Vc = 0.5 m II III II K L P1 P2 III H I J G E F P4 P3 A B C D Gambar 6.41 − 0.02 kN Vu < φVc 297.63 kN < 1498.41 t/m2 σ min Hd = 0.7 = 1498.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 190 = 2496704. Gaya dan Penulangan Pada Pot.02 kN (tidak diperlukan tulangan geser) 2.II-II dan Pot.34) 7. Gaya dan Penulangan Pondasi (Pot.34 t/m2 = 1.1 N = 2496.6 x 2496.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .86 Tekanan tanah pada pondasi type I a. III-III) Dari hasil perhitungan tegangan tanah pada stabilitas diversion sebelumnya di telah didapatkan nilai: σ maks = 13.II-II IJ IL = BD BL IJ 1 = (13.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 191 IJ = 1.46 tm = 5 kN Penulangan Direncanakan : Tulangan Utama D 25 1 d = Ht-P.75 t Gaya Geser Ultimate Vu = 1.× D 2 = 150-5-1.5 x 0.75 = 1.125 t = 11.34 × ) + 0.82 × 1× 1) 2 = 0.31 = 0.5 x 0.34 + 0.31 tm Momen Ultimate Mu = 1.82 t/m2 Gaya Geser Ultimate 1 DII-II = ( KL × HK × 1) + ( × IJ × IL × 1) 2 1 = (0.41 = 0.41× ( × 1) 2 3 = 0.25 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .3 kN Momen Ultimate 1 1 MII-II = (0.34 × 1× 1) + ( × 1.

75 mm2 » Tulangan Utama Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3.0003 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.0017 (digunakan ρ min = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 192 = 143.50-52 didapat : ρ min = 0.75 cm 5 Mu = 2 b×d 1× 1.0017 x 1000 x 1437.13 mm2 > As min LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0017 ρmaks = 0.4375 2 = 2.42 kN/m maka tanpa interpolasi di dapat : ρ = 0.5 = 2443.14 x 12.42 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : fc = 20 Mpa fy = 400 Mpa Mu b×d 2 = 2.52 x (1000/200) = 2453.0017) As min = ρ min× b × d = 0.0003 < 0.0163 Karena ρ < ρ min 0.

24 × 2.224 N = 1092.41-5.63 mm2 Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3.85 × 1) 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .17 × 20 × 1000 × 1437.17 × f 'c × b × d = 0.73 kN (tidak diperlukan tulangan geser) b.17 × 2.17 = 8.878 = 655.2 CD = 5.46 kN < 655.14x 62 x(1000/200) = 565.17 t/m2 AC = 13.878 kN Ǿ Vc = 0.13 = 490.46 kN = 0. Gaya dan Penulangan Pada Pot III-III CD CG = BD BL CD 2.85 × 1) + ( × 5.24 t/m2 Gaya Geser Ultimate 1 VIII-III = ( AC × AE × 1) + ( × CD × CG × 1) 2 1 = (8.85 = (13.6 x 1092.2 mm2 > As min » Tulangan Geser Vu Vc = 18.5 = 1092878.41 − 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Tulangan Bagi VI – 193 As min = 20 %x 2453.73 kN Vu < φVc 18.34) 7.

4375 2 = 186.484+ 7.5 x 30.4375 m Mu b×d2 = 386.85 t Vu = 1.74 tm Mu = 1.74 = 38.484 × × 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 194 = 23.85) + 7.85) 2 3 = 25.75 cm = 1.5 x 25.1 1 × 1.25 = 143.85 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8 kN Momen Ultimate 1 2 MIII-III = (23.1 kN Penulangan Direncanakan: Tulangan Utama D 25 d 1 = Ht-P.× D 2 = 150-5-1.85 = 46.366 × ( × 2.275 t = 462.366 = 30.606 tm = 386.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Mu b×d 2 VI – 195 = 186.0017 x 1000 x 1437.0006 − 0.0017) As min = ρ min× b × d = 0.63 mm2 Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3.5 = 2443.85 kN/m maka dengan interpolasi di dapat : ρ = (186.50-52 didapat : ρ min = 0.0003) + 0.2 mm2 > As min LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0163 Karena ρ < ρ min 0.85 − 100) × (0.0003 (200 − 100) = 0.14x 62 x (1000/200) = 565.14x12.125 mm2 > As min » Tulangan Bagi As min = 20 %x 2453.00056 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.00056 < 0.0017 (di gunakan ρ min = 0.75 mm2 » Tulangan Utama Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3.52 x (1000/200) = 2453.0017 ρmaks = 0.125 = 490.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Tulangan Geser VI – 196 Vu = 462.6 x 1092.73 kN (tidak diperlukan tulangan geser) 6.878 = 655.17 × f 'c × b × d = 0.224 N = 1092.8 kN < 655. III dan IV Potongan Strukture dan gaya yang bekerja tiap potongan untuk keperluan penulangan dinding diversion channel type ini adalah sebagai berikut : Hw PHh K1 II I y K2 III Pp1 I Pp2 II K P1 H Min L P2 III E F P4 P3 A B C D I J Maks G Gambar 6.III & IV LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .1.73 kN Vu < φ Vc 462.17 × 20 × 1000 × 1437.878 kN Ǿ Vc = 0.87 Gaya yang bekerja pada tiap potongan dinding type II.8 kN Vc = 0.2 Perhitungan Tulangan Dinding Type II.16.5 = 1092878.

7 m = hw x γw = 6.65 = 2.233 = 50.13 tm Gaya Gempa Dari hasil perhitungan stabilitas diversion channel telah di dapatkan nilai : K1 K2 = 0.3 m Hma = 6.23 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .7 x 6.I-I) a.7 = 22.79 x 3.594 t Mk1 = K1 x y = 0.channel = 7.883 tm Mk2 = K1 x y = 1.445x 2.594 x 2.7 m Tekanan Hidrostatis (PHh) Hw = 6.79 t = 1.7 x 1 = 6. Gaya dan Penulangan Pada Badan Diversion (Pot.445 t MPHh = PHh x y = 22.7 t/m2 σ Hh PHh = ½ x σ Hh x hw = ½ x 6. Gaya-Gaya yang Bekerja Hdiv.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 197 Contoh perhitungan : » Diversion Channel Type II 1.

466 x = 8.61 t/m2 Pp2 = σp 2 x h = 1.384 t MKtot = 2.8 m σ PP 2 = 2 × c Kp = 2× 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 198 = 5.61 x 1.79 + 1.68 tm 1.69 = 16.074 t/m2 Pp3 = ½ x σp3 x h = ½ x 16.8x3.42 3.69 = 1.898 t MPp2 = 2.433 tm Tekanan Tanah ht = 1.8 = 2.594 = 2.8 = 14.466 t MPp3 = 14.8 2 σ PP 3 = γ × h × Kp = 2.55 = 8.883 + 5.55 tm Ktot = 0.61 tm 1.8 3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .898 x = 2.074 x 1.42x1.

68 = 11.198 t = 112 kN a. Penulangan Dinding dianggap sebagai balok dengan lebar dan tinggi: b = 1000 mm h = 3250 mm.05 kNm Vu = 1.5 x 47.905 tm = 709.27 tm Vd = PHh + Ktot-PPP = 22.5 x Mtot = 1. Direncanakan : Tulangan Pokok D 32 Tebal selimut beton (P)= 50 mm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .445+2.465 = 11.384 -17.364 = 7.364 t MPptot = 2.898 +14.5 x Vd = 1.5 x 7.29 = 47.29 tm Momen dan Geser Ultimate Mtot = MPHh+MKtot-MPptot = 50.465 t Mu = 1.27 = 70.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 199 PPPtot = 2.61+8.466 = 17.13 +8.433-11.

0017 x 1000 x 3184 = 5412.0017) As min = ρ min× b × d = 0.35 kNm Mu 709.0163 Karena ρ < ρ min 0.184 m Mu = 718.184 2 = 70 kN/m2 Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa Mu = 70 kN/m b×d 2 maka tanpa interpolasi di dapat : ρ = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 200 d 1 = Ht-P.× 32 2 = 3184 mm = 3.50-52 didapat: ρ min ρmaks = 0.50.65 = 2 b×d 1× 3.× D 2 1 = 3250.0017 = 0.0003 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.0017 (di gunakan ρ min = 0.8 mm2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0003 < 0.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
▪ Tulangan Utama

VI – 201

Digunakan D 32-125 As Terpasang = 3,14 x 162 x (1000/125) = 6430,72 mm2 > As min
▪ Tulangan Bagi

As min

= 20 %x 6430,72 = 1286,144 mm2

Digunakan D 16-150 Asterpasang = 3,14x 82 x (1000/150) = 1339,73 mm2 > As min
▪ Tulangan Geser

Vu Vc

= 122,23 kN = 0,17 ×
f 'c × b × d

= 0,17 × 20 × 1000 × 3184 = 2420677,75 N = 2420,7 kN Ǿ Vc = 0,6 x 2420,7 = 1452,4 kN Vu < φVc 122,23 kN < 1452,4 kN (Tidak diperlukan tulangan geser)
2. Gaya dan Penulangan Pada Pondasi (Pot.II-II dan Pot. III-III)

Diketahui: Hd = 1,5 m Dari hasil perhitungan tegangan tanah pada stabilitas diversion channel telah di dapat nilai:

σ maks = 6,84 t/m2
σ min = 3,08 t/m2
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 202

II

III

II
K L
P1 P2

III
H I J G E F
P4

P3

A B C D

Gambar 6.88 Tekanan tanah pada pondasi type II
a. Gaya dan Penulangan Pot.II-II

IJ IL = BD BL IJ 0,5 = (6,84 − 3,08) 7

IJ

= 0,27 t/m2

Gaya Geser Ultimate

1 VII-II = ( KL × HK × 1) + ( × IJ × IL × 1) 2 1 = (3,08 × 0,5,×1) + ( × 0,27 × 0,5 × 1) 2 = 1,54 + 0,0675 = 1,61 t
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 203

Vu

= 1,5 x 1,61 = 2,415 t = 24,15 kN

Momen Ultimate

MII-II = (1,54 ×

0,5 1 ) + 0,0675 × ( × 0,5) 2 3

= 0,396 tm Mu = 1,5 x 0,396 = 0,59 tm = 5,9 kN
Penulangan

Direncanakan : Tulangan Utama D 25 1 d = Ht-P- × D 2 = 150-5-1,25 = 143,75 cm
Mu 5,9 = b × d 2 1× 1,4375 2

= 2,86 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa

Mu = 2,86 kN/m b×d 2

maka tanpa interpolasi di dapat :

ρ

= 0,0003

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 204

Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.50-52 didapat:

ρ min

= 0,0017

ρmaks = 0,0163
Karena ρ < ρ min 0,0003 < 0,0017 (di gunakan ρ min = 0,0017) Asmin = ρ min× b × d = 0,0017 x 1000 x 1437,5 = 2443,75 mm2
» Tulangan Utama

Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3,14 x 12,52 x (1000/200) = 2453,13 mm2
» Tulangan Bagi

As min

= 20 % x 2453,13 = 490,63 mm2

Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3,14x 62 x (1000/200) = 565,2 mm2 > As min
» Tulangan Geser

Vu Vc

= 24,15 kN = 0,17 ×
f 'c × b × d

= 0,17 × 20 × 1000 × 1437,5 = 1092878,224 N = 1092,878 kN Ǿ Vc = 0,6 x 1092,878 = 655,73 kN
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 205

Vu < φVc 24,15 kN < 655,73 kN (tidak diperlukan tulangan geser)
b. Gaya dan Penulangan Pot III-III

CD CG = BD BL CD 3,25 = (6,84 − 3,08) 7

CD = 1,746 t/m2 AC = 6,84-1,746 = 5,094 t/m2
Gaya Geser Ultimate

1 VIII-III = ( AC × AE × 1) + ( × CD × CG × 1) 2 1 = (5,094 × 3,25 × 1) + ( × 1,746 × 3,25 × 1) 2 = 16,56 + 2,84 = 19,4 t Vu = 1,5 x 19,4 = 29,09 t = 290,9 kN
▪ Momen Ultimate

MIII-III = (16,56 ×

3,25 2 ) + 2,84 × ( × 3,25) 2 3

= 33,06 tm Mu = 1,5 x 33,06 = 49,6 tm = 490,6 kNm

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
Penulangan

VI – 206

Direncanakan: Tulangan Utama D 25 d 1 = Ht-P- × D 2 = 10-5-1,25 = 143,75 cm = 1,4375 m
Mu b×d2

=

490,6 1 × 1,43752

= 237,42 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa = 237,42 kN/m

Mu b×d 2

maka dengan interpolasi di dapat :

ρ

=

(237,42 − 200) × (0,0010 − 0,0006) + 0,0006 (300 − 200)

ρ

= 0,00095

Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.50-52 didapat :

ρ min = 0,0017

ρmaks = 0,0163
Karena ρ < ρ min 0,00095 < 0,0017 (di gunakan ρ min = 0,0017) As min = ρ min× b × d
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

73 kN (tidak diperlukan tulangan geser) Dengan perhitungan yang sama maka penulangan untuk semua type dinding diversion disajikan dalam tabel berikut ini : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 = 2443.13 mm2 > As min » Tulangan Bagi As min = 20 %x 2453.9 kN < 655.224 N = 1092.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 207 = 0.5 = 1092878.878 = 655.2 mm2 > As min » Tulangan Geser Vu Vc = 290.0017 x 1000 x 1437.9 kN = 0.75 mm2 » Tulangan Utama Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3.13 = 490.878 kN Ǿ Vc = 0.14x12.52 x (1000/200) = 2453.17 × f 'c × b × d = 0.73 kN Vu < φVc 290.14x 62 x (1000/200) = 565.17 × 20 × 1000 × 1437.6 x 1092.63 mm2 Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3.

Diketahui: Dimensi kisdam dapat dilihat pada gambar berikut.00+027-00+072.00+108.00+00-00+020.00+091.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.72-Sta.5-00+027 III / Sta.5 Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi D 32-125 D 25-200 D 32-125 D 25-200 D 32-150 D 25-200 D 32-150 D 25-300 D 32-150 D 25-300 D 16-150 D 12-200 D 16-150 D 12-200 D 16-150 D 12-200 D 16-150 D 12-300 D 16-150 D 12-300 II / Sta.72 V / Sta. Hal ini mengingat bentuk dan jenis gaya-gaya yang bekerja pada tiap potongan kisdam sama dengan bentuk dan gaya-gaya yang bekerja pada dinding diversion channel tipe II.: LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 Penulangan Kisdam Penulangan kisdam menggunakan metode/cara perhitungan yang dama dengan perhitungan tulangan dinding diversion channel tipe II.6-00+091. Konstruksi Tul Utama mm VI – 208 Tul Bagi mm I / Sta.00+20.6 IV/ Sta.82 Rekapitulasi tulangan dinding diversion channel TIPE DIVERSION / STA.16 6.00+072.16.

I-I) PHh K1 II I y K2 III I III II Gambar 6.90 Gaya yang bekerja pada badan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Gaya Yang Bekerja Pada Badan (Pot.00 Gambar 6.89 Dimensi kisdam A.32 + 650.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 209 + 658.00 + 650.

didapt tulangan untuk kisdam.91 Gaya yang bekerja pada pondasi Dengan menggunakan metode/tahap perhitungan tulangan yang sama dengan perhitungan tulangan dinding diversion channel tipe II.17 KONSTRUKSI LANTAI DAN DINDING SAYAP DIVERSION Konstruksi lantai dan dinding sayap diperlukan untuk melindungi tanah dasar dan talud/tebing dari gerusan akibat kecepatan aliran air yang melalui diversion channel. direncanakan tanah dasar dan talud dilindungi dengan pasangan beton. Hal ini mengingat debit yang LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . II-II dan III-III) VI – 210 II III II K P1 H P2 III E F P4 P3 A B C D L I J G Gambar 6. Dalam perencanaan sebelumnya.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B. Gaya Yang Bekerja Pada Pondasi (Pot.83 Tulangan kisdam Kisdam Konstruksi Tul Utama mm Tul Bagi mm Upstream dan Downstream Badan kisdam Pondasi kisdam D 32-100 D 32-150 D 16-100 Ø 12-100 6. Tabel 6.

92 Konstruksi rencana lantai dan sayap diversion channel 6.Kontrol Tractive Force (Gaya Gesek) Aliran Rumus: T = c×γ w × R× I < T (Perbaikan dan Pengaturan Sungai Sungai ir.17.39 kg/m . T talud = 4.10 kg/m2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .126) Di mana: T = tractive force/gaya gesek aliran yang diizinkan (kg/m2) 2 T dasar ⋅sal = 5. K onstruksi Lantai & Sayap Diversion 1 m Gambar 6. Tomigo. M. » Kontrol Tractive Force dan Kecepatan Aliran a. Jakarta 1985.1 Kontrol Tanah Dasar dan Talud Tanpa Konstruksi Pelindung Perhitungan disini bertujuan untuk mengetahui apakah tanah dasar dan talud di area diversion channel masih tetap aman dari bahaya gerusan walaupun tanpa konstruksi pelindung (konstruksi lantai dan sayap). Suyono dan ir.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 211 melalui diversion channel cukup besar sehingga kecepatan alirannya dapat menggerus tanah yang dilewatinya. hal.

hal. Suyono dan ir.126) Di mana: k = koefisien kekasaran strickler k dasar saluran batuan sandstone 40-50 k material beton = 60-70 R = jari-jari hidrolis = A (m) P A = luas penampang hidrolis (m2) P = keliling penampang hidrolis (m) I = kemiringan dasar saluran V = kecepatan aliran yang diizinkan (m/dtk) = k1 x k2 x Vm k1 = koreksi kecepatan jika kedalaman air > 3m = 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 212 C = koefisien gesek pada dasar saluran = 1 koefisien gesek pada talud/tebing = 0.76 γw = berat jenis air (1000 kg/m2) A (m) P R = jari-jari hidrolis = A = luas penampang hidrolis (m2) P = keliling penampang hidrolis (m) I = kemiringan dasar saluran b. M. Tomigo.50 m/dtk LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Kontrol Kecepatan Aliran Rumus: V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V (Perbaikan dan Pengaturan Sungai Sungai ir.25 k2 = koreksi kecepatan jika trace saluran relatif lurus = 1 Vm = kecepatan aliran rata-rata yang diizinkan pada material dasar saluran V sandtone Ø 15-100 mm = 2. Jakarta 1985.

25 x 1.2 m I =2% Hn = 3.021 / 2 < 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 213 Perhitungan: » Kontrol tanah dasar dan talud di Sta.02 ≤ 5..044 m2 P = 14...50 = 3.125 m / dtk .5-Sta.89 m/dtk > 3....032 kg/m2 ≥ 4.4): B =7m m = 0..02 ≤ 4.6 Diketahui (dari tabel 6.76 ×1000 ×1.......10 kg / m 2 . T Talud (tanah dasar tergerus) = c × γ w × R × I ≤ T Talud = 0.39 kg / m 2 = 38.00+072..91 m a.... (tanah talud/tebing tergerus) b.125 m / dtk = 10. (material dasar saluran dan talud tergerus) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .. 00+020.39 kg / m 2 .125 m/dtk V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V = 50 × 1..2 kg/m2 ≥ 5.91× 0.912 / 3 × 0.68 m R = 1..00 x 2.10 kg / m 2 = 29. Kontrol Kecepatan Aliran V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V V = k1 x k2 x Vm V Sandstone = 1.. Kontrol Tractive Force Aliran Tdasar⋅sal = c × γ w × R × I ≤ T dasar ⋅sal = 1× 1000 × 1...8 m A = 28.91× 0...

10 kg / m 2 = 76.458 2 / 3 × 0.35 m R = 1.458 m a.25 x 1...18 kg/m2 ≥ 5.6-Sta.. (tanah dasar tergerus) T Talud = c × γ w × R × I ≤ T Talud = 0.125 m / dtk LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .004 m2 P = 12.39 kg / m 2 ..458 × 0.94 % Hn = 2.5): B =7m m =1m I = 6.. Kontrol Tractive Force Aliran Tdasar⋅sal = c × γ w × R × I ≤ T dasar⋅sal = 1× 1000 ×1.458 × 0.00+108..0694 ≤ 5.00 x 2.. (tanah talud/tebing tergerus) b.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 214 » Kontrol tanah dasar dan talud di Sta...2 m A = 18.90 kg/m2 ≥ 4.76 × 1000 × 1. 00+072.125 m/dtk Kecepatan terjadi V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V = 50 × 1.0694 ≤ 4..50 = 3.06941 / 2 < 3..16) Diketahui (dari tabel 6.. Kontrol Kecepatan Aliran Kecepatan izin V = k1 x k2 x Vm V Sandstone = 1.10 kg / m 2 .39 kg / m 2 = 101.

.. (material dasar saluran dan talud tergerus) Dari hasil perhitungan diatas.2 m Penulangan Tulangan Utama Ø 12-250 mm Tulangan Bagi Ø 8-250 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ...94 m/dtk > 3.. 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 215 = 16..17.125 m / dtk ... dasar dan talud akan tergerus maka saluran diversion channel perlu dilindungi dengan pasangan beton (sesuai dengan perencanaan awal).....2 Tulangan Lantai dan Sayap Fungsi dari konstruksi ini hanya untuk memperkuat dasar dan talud diversion channel dari bahaya erosi. maka untuk mempermudah aspek pekerjaan di lapangan maka disepanjang saluran diversion channel: Direncanakan : ▪ ▪ Tebal beton pelindung = min 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful