Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan yang berkesinambungan dapat meliputi seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara merupakan amanah yang harus dilaksanakan guna mewujudkan tujuan nasional yang termuat dalam pembukaan UUD 1945. Salah satu upaya, dalam rangka pembangunan nasional yaitu meningkatkan kualitas dan produktivitas dalam berbagai sektor, terutama di bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pada saat ini, negara-negara yang memiliki Sumber Daya Manusia berbasis HKI jauh lebih makmur atau kaya, dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki Sumber Daya Alam akan tetapi sedikit sekali kepemilikan Sumber Daya Manusia berbasis HKI. Oleh karena itu, selain teori-teori HKI khususnya desain Industri, yang didapat oleh penulis dalam perkuliahan, penulis juga ingin mendapatkan pengalaman lebih banyak mengenai praktek HKI dilapangan khususnya di bidang desain industri. Manfaat dari mata kuliah kerja praktek yang didapat oleh penulis pada semester 7 ini, penulis mempunyai kesempatan untuk membandingkan dan menerapkan antara teori-teori mengenai HKI yang didapat pada saat perkuliahan dengan praktek yang terjadi dilapangan. Maka berdasarkan hal tersebut penulis memilih untuk melakukan kerja praktek pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Jalan Daan Mogot Km. 24, Tangerang, Banten, dibawah Departemen Hukum dan HAM RI. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis ingin memaparkan lebih rinci tentang bagaimana dan seperti apakah proses pendaftaran HAKI itu sendiri,

khususnya di bidang Hak Cipta, Desain Industri, Rahasia Dagang, dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Untuk itu penulis menyusun sebuah laporan yang berjudul PENEGAKAN HUKUM ATAS PELANGGARAN SUATU DESAIN INDUSTRI SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN HAK DESAIN INDUSTRI DI DIREKTORAT HAK CIPTA, DESAIN INDUSTRI, DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU, DAN RAHASIA DAGANG PADA DIREKTORAT

JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

B. Permasalahan Berdasarkan apa yang telah diuraikan pada Latar Belakang, penulis mendapatkan permasalahan berupa, seperti apa penegakan hukum yang dapat dilakukan jika terjadi suatu pelanggaran atas desain industri dan apakah suatu pendaftaran desain industri dapat dibatalkan.

C. Identitas Instansi Tempat : Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Bagian Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang. Alamat : Jl. Daan Mogot km 24, Tanggerang 15119

D. Sejarah Terbentuknya Instansi Pelayanan jasa hukum di bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Untuk pertama kalinya pendaftaran merek No. 1 (satu) dilakukan oleh Hulpbureua Voor den Industrieelen Eigendom pada tanggal 10 Januari 1894 di Batavia.

Berdasarkan Reglement Industrieelen Eigendom 1912 Stbl. 1912-545 jo 1913-214, yang melakukan pendaftaran merek di Indonesia adalah Hulpbureua Voor den Industrieleen Eigendom di bawah Department Van Justitie yang waktu itu hanya khusus menangani pendaftaran merek. Kemudian berdasarkan Stbl. 1924 No. 576 ayat (2) ruang lingkup tugas Department Van Justitie meliputi pula bidang milik perindustrian. Sesuai dengan Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, Stbl. 1924 No. 576 masih tetap berlaku dengan perubahan nama menjadi Kantor Milik Kerajinan. Pada tahun 1947 Kantor Milik Kerajinan pindah ke Surakarta dan pada tanggal 9 Oktober 1947 berubah namanya menjadi Kantor Milik Perindustrian. Pada masa pemerintahan RIS Kantor Milik Perindustrian pindah ke Jakarta. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1948 tentang lapangan pekerjaan, susunan, pimpinan dan tugas kewajiban Kementerian Kehakiman yang meliputi pula Kantor Milik Perindustrian. Kantor Milik Perindustrian terdiri atas:
1. Bagian Pendaftaran Cap Dagang; 2. Bagian Perlindungan atas Pendapatan-pendapatan Baru (Octrooi).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman tanggal 12 Pebruari 1964 No. J.S. 4/4/4 tentang Tugas dan Organisasi Departemen Kehakiman, yang disempurnakan dengan Keputusan Menteri Kehakiman No. J.S.4/4/24 tanggal 27 Juni 1965 tentang Tugas dan Organisasi Departemen Kehakiman, nama Kantor Milik Perindustrian diganti menjadi Direktorat Urusan Paten yang bertugas

menyelenggarakan peraturan-peraturan mengenai perlindungan penemuan dan penciptaan. Dengan demikian, sesuai dengan Keputusan Menteri Kehakiman tersebut Direktorat Urusan Paten tidak saja menangani urusan bidang merek dan bidang paten tetapi juga menangani bidang hak cipta Tahun 1966, Presidium Kabinet mengeluarkan dan Keputusan No. tugas

75/U/Kep/11/1966

tentang

Struktur

Organisasi

Pembagian

Departemen. Dalam Keputusan ini Direktorat Urusan Paten berubah menjadi Direktorat Paten, Direktorat Jenderal Pembinaan Badan Peradilan dan PerUndang-Undangan, yang terdiri dari:
1. Dinas Pendaftaran Merek; 2. Dinas Paten; 3. Dinas Hak Cipta.

Pada tahun 1969 melalui Keputusan Presiden No. 39 Tahun 1969 dibentuk Direktorat Jenderal Pembinaan Badan-badan Peradilan. Dengan

dibentuknya Direktorat Jenderal yang baru tersebut, Direktorat Jenderal Pembinaan Badan-Badan Peradilan dan PerUndang-Undangan dipecah menjadi Direktorat Jenderal Pembinaan Badan-Badan Peradilan dan Direktorat Jenderal Pembinaan Hukum yang mencakup Direktorat Paten. Selanjutnya Direktorat Jenderal Pembinaan Hukum mengalami perubahan antara lain dengan

Keputusan Presiden RI No. 45 tentang susunan Organisasi Departemen. Kedua Keputusan Presiden Republik Indonesia di atas berubah beberapa kali yang selanjutnya dijabarkan dalam keputusan Menteri Kehakiman tanggal 16 April 1975 No. Y. S. 4/3/7 Tahun 1975 Direktorat Paten berubah menjadi

Direktorat Paten dan Hak Cipta di bawah Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-undangan. Susunan Direktorat Paten dan Hak Cipta meliputi:
1. Bagian Tata Usaha; 2. Sub Direktorat Merek; 3. Sub Direktorat Paten; 4. Sub Direktorat Hak Cipta; 5. Sub Direktorat Hukum Perniagaan dan Industri; 6. Sub Pendaftaran Lisensi dan Pengumuman.

Perubahan struktur organisasi terakhir dari Direktorat Paten dan Hak Cipta adalah melalui Keputusan Presiden RI No. 32 Tahun 1988 tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1982 tentang Susunan Organisasi Departemen. Berdasarkan Keputusan Presiden ini, Direktorat Paten dan Hak Cipta dipisahkan dari Direktorat Jenderal Hukum dan Perundangundangan dan dikembangkan menjadi Direktorat Jenderal tersendiri dengan nama Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek, yang terdiri dari:
1. Sekretariat Direktorat Jenderal; 2. Direktorat Hak Cipta; 3. Direktorat Paten; 4. Direktorat Merek.

Kemudian berdasarkan keputusan Presiden RI No. 144 Tahun 1998 telah disetujui perubahan nama organisasi Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek menjadi Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual.

Sementara itu penambahan direktorat dan nomenklaturnya diatur berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.

M.03.PR.07.10 tahun 1999 yang organisasinya terdiri dari: 1. Sekretariat Direktorat Jenderal; 2. Direktorat Hak Cipta, Topographi Sirkuit Terpadu dan Desain Produk Industri; 3. Direktorat Paten; 4. Direktorat Merek dan Rahasia Dagang; 5. Direktorat Kerjasama dan Pengembangan Informasi HKI; 6. Direktorat Teknologi Informasi. Penambahan struktur Organisasi berdasarkan Keputusan Menteri

Kehakiman Republik Indonesia no. M-01.PR.10 th 2001 hingga sekarang terdiri dari:
1. Sekretariat Direktorat Jenderal; 2. Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu

dan Rahasia Dagang;


3. Direktorat Paten; 4. Direktorat Merek; 5. Direktorat Kerjasama dan Pengembangan HKI;

6. Direktorat Teknologi Informasi1

http://www.dgip.go.id/indonesia/tentang_kami/sejarah3.htm diakses pada tanggal 01 Januari 2009, pkl 20.08 WIB.

Bagian-bagian diatas membidangi tugas dan fungsinya masing-masing yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penegakan hukum dibidang HKI. BAB II LANDASAN TEORI

Pembukaan menyebutkan bahwa :

Undang-Undang

Dasar

1945

alinea

kedua

yang

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Makna yang tersirat dari kata adil dan makmur dalam alinea kedua tersebut merupakan keadilan yang diperuntukan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam berbagai sektor kehidupan. Dalam rangka pelaksana pembangunan nasional yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana tercantum dalam alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945, yaitu : Kemudian daripada itu membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, Amanat dalam alinea keempat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut merupakan konsekuensi hukum yang mengharuskan pemerintah tidak hanya melaksanakan tugas pemerintahan, melainkan ditambah juga pelayanan hukum melalui pembangunan nasional.

Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Negara Indonesia merupakan Negara hukum, maka segala kegiatan yang dilakukan di negara Indonesia harus sesuai dengan aturan yang berlaku, tidak terkecuali dalam hal pelaksanaan pembangunan dalam kegiatan perekonomian yang dijabarkan melalui pasal 33 ayat (1) dan (4) UUD 1945 yang menitikberatkan pada perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial dalam pembangunan. HKI atau Hak Kekayaan Intelektual memiliki tiga kata kunci dari istilah tersebut, yaitu : 1. Hak 2. Kekayaan, dan 3. intelektual Hak adalah benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang), atau wewenang wewenang menurut hukum, kekayaan adalah prihal yang ( bersifat, ciri ) kaya, harta yang menjadi milik orang, dan kekuasaan Intelektual adalah cerdas,

berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, atau yang mempunyai kecerdasan tinggi, cendikiawan, atau totalitas pengertian atau kesadaran terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman, sedangkan kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia yang dapat berupa karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Karya ini dihasilkan atas kemampuan intelektual melalui pemikiran, daya cipta dan rasa yang memerlukan curahan tenaga, waktu dan biaya untuk memperoleh "produk" baru dengan landasan kegiatan penelitian atau yang sejenis Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta : Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Sedangkan Hak Kekayaan Industri, meliputi: a. Paten b. Merek c. Desain Industri d. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu e. Rahasia Dagang f. Varietas Tanaman

Berdasarkan RPJMN khususnya bidang politik hubungan luar negeri antara lain meliputi peningkatan kerjasama internasional diberbagai bidang, termasuk meningkatkan peran serta Indonesia dalam kerjasama bidang ekonomi seperti WTO/GATT, APEC, dan sebagainya. Indonesia telah ikut meratifikasi Agreement Establising the World Trade Organization dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tanggal 2 November 1994 tentang pengesahan (ratifikasi). Peratifikasian

Agreement tersebut, berdampak bahwa Indonesia secara resmi telah menjadi anggota WTO dan semua persetujuan yang ada didalamnya telah sah menjadi

10

bagian dari hukum nasional. Dengan demikian juga, Kebijakan Ekonomi Indonesia juga diselaraskan dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh WTO. Indonesia dengan ekonomi terbuka, dimana program ekspor non migas merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja dan dituntut untuk lebih siap untuk dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari peluang yang dihasilkan oleh WTO. Peluang dan manfaat dari keanggotaan Indonesia di WTO hanya dapat diperoleh apabila kita menguasai semua persetujuan WTO dan menerapkannya sesuai dengan kepentingan nasional.2

Landasan filosofis dibentuknya Undang-Undang Nomor 31 tahun 2001 Tentang Desain Industri adalah terwujudnya kepastian hukum, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Melalui sertifikat desain industri yang dibuatnya, Direktorat hak cipta, desain industri, rahasia dagang, dan desain tata letak sirkuit terpadu memberikan kepastian hukum kepada masyarakat yang mendaftarkan desain industrinya. Sertifikat desain industri yang dibuat oleh Direktorat hak cipta, desain industri, rahasia dagang, dan desain tata letak sirkuit terpadu dapat menjadi bukti otentik dalam memberikan perlindungan hukum kepada para pihak manapun yang

berkepentingan terhadap desain industri tersebut. Namun, berdasarkan kepada pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2001, desain industri yang didaftarkan atau diberikan harus memiliki nilai kebaruan (not novel) atau harus sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya.

www.deplu.go.id, Ministry of industry and Trade of Indonesia, diakses pada tanggal 15 Januari 2009, pukul 19.00 WIB

11

Desain industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2001. Sedangkan menurut Undang-Undang Desain Industri yang dimaksud hak desain industri itu sendiri merupakan hak eksklusif yang diberikan oleh Negara Republik Indonesia kepada pendesain atas hasil kreasinya untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri, atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakan hak tersebut, dan pendesain adalah seseorang atau beberapa orang yang menghasilkan suatu desain industri.