Anda di halaman 1dari 18

BAB I Laporan Kasus

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Pekerjaan Jenis kelamin Agama Pendidikan Alamat : Ny. N : 31 : PNS :perempuan : islam : S1 : cililitan

ANAMNESA Diambil secara auto anamnesa tanggal 28 november 2012 pukul 11.30 Keluhan utama Keluhan tambahan : telinga kanan terasa tersumbat dan sakit :pilek (+) ,pendengaran berkurang

Riwayat penyakit sekarang: Os datang ke poli klinik THT RSAU esnawan antariksa dengan keluhan telinga kanannya terasa tersumbat dan sakit sejak 5 hari yang lalu, os mengaku telinganya terasa penuh, telinganya berdenging,serta pendengaran dirasakan sedikit menurun, terkadang Os merasa pusing. Os mengatakan bahwa selama ini dia menderita pilek
1

dan hidung tersumbat , serta bersin terutama pada malam dan pagi hari yang sudah dirasakan sejak setahun ini. Os mengatakan selama ini sering makan makanan yang pedas dan selalu minum minuman yang dingin. Os tidak demam, dan tidak ada keluhan keluar cairan dari telinganya. Saat ini Os mengkonsumsi obat amoxan dan ponstan namun os merasa tidak adaperubahan. Riwayat penyakit dahulu: Riwayat keluhan serupa disangkal, Rhinitis alergi(+)

PEMERIKSAAN FISIK KEADAAN UMUM Kesadaran Nadi Suhu Pernafasan TELINGA KANAN Normotia Deformitas (-) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak nyeri Tidak ada KIRI Normotia Deformitas (-) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak nyeri Tidak ada
2

: Compos Mentis : 84x / menit : 36,4C :20 x/ menit

Bentuk Daun Telinga Kelainan kongenital Radang tumor Nyeri tekan tragus Penarikan daun telinga Keluhan pre, infra

aurikuler Region mastoid Liang telinga Membrane timpani

Tidak ada kelainan lapang Reflex cahaya(+), retraksi (+)

Tidak ada kelainan lapang Reflex cahaya(+), retraksi (+)

TES PENALA KANAN + Lateralisasi ke kanan memanjang 512 Hz KIRI + Sama dengan pemeriksa 512 Hz

Rinne Weber swabach Penala yang di pakai KESAN: tuli konduktif

HIDUNG Bentuk Tanda peradangan Sinus maxilaris frontalis Vestibulum Cavum nasi Konka inferior kanan/ kiri Konka medius kanan / kiri : normal, deformitas (-) : hiperemis (-), panas(-), nyeri(-), bengkak (-) : nyeri tekan (-) :hiperemis-/:cukup lapang :warna merah muda, licin. Edema (-) : warna merah muda, licin. Edema (-)

Meatus nasi medius kanan / kiri :secret -/Septum nasi :tidak ada deviasi

RHINOPHARYNX ( rhinoskopi posterior)


3

Koana Septum nasi posterior Muara tuba eustachius Torus tobarius Post nasal drip

:tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan

TENGGOROK PHARYNX DInding pharynx Arcus Tonsil Uvula Gigi Lain- lain :hiperemis (-), permukaan rata. :simetris, merah muda :T1-T1 hiperemis(-),kripta tidak melebar,detritus (-),perlengketan (-) : bentuk normal, lurus, di tengah, udem (- ) :karies (-), missing (-) :

LARYNX Epiglottis Plica aryepiglotis Arytenoids : tidak dilakukan :tidak dilakukan :tidak dilakukan
4

Ventricular band Pita suara Rima glottis Cincin trakea Sinus piriformis

: tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan

LEHER KGB sub mandibula dan cervical : tidak teraba membesar MAKSILOFASIAL Deformitas Parese N cranialis : Tidak ada :Tidak ada

RESUME
Ny. N, 31 tahun datang ke poli klinik THT RSAU esnawan antariksa dengan keluhan telinga kanannya terasa tersumbat dan sakit sejak 5 hari yang lalu, telinganya terasa penuh, serta berdenging, pendengaran dirasakan sedikit menurun, terkadang merasa pusing.Os mengatakan bahwa selama ini dia menderita pilek dan hidung
5

tersumbat , serta bersin terutama pada malam dan pagi hari. Terbiasa makan makanan pedas dan minum minuman dingin. Dari pemeriksaan fisik ditemukan : MT AD : hiperemis, refleks cahaya (+), retraksi ada AS : hiperemis, refleks cahaya (+), retraksi ada Penala : Rinne +/+ Swabach memanjang/N Webber lateralisasi ke kanan Kesimpulan tuli konduktif

PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan

DIAGNOSA KERJA: Tuba katar DIAGNOSA BANDING: otitis media akut USULAN PEMERIKSAAN Timpanometri
6

PENATALAKSANAAN Dekongestan nasal Antihistamin Antiinflamasi : Hidroklorida efedrin 1% 3x2 tetes tiap lubang hidung bila perlu : Klorfeniramin Maleat (CTM) 3x4mg : Nonflamin 3x50mg

ANJURAN / EDUKASI: 1. Jaga kebersihan telinga 2. Segera berobat jika flu PROGNOSIS Ad vitam Ad fungsionam : bonam : dubia ad bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI TELINGA

Gambar 1. Anatomi Telinga1

1.

Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun

telinga terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3 cm.2 Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh liang telinga.Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.2

2.

Telinga tengah

Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari:2


8

Membran timpani yaitu membran fibrosa tipis yang berwarna kelabu mutiara. Berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani dibagi ats 2 bagian yaitu bagian atas disebut pars flasida (membrane sharpnell) dimana lapisan luar merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga sedangkan lapisan dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, dan pars tensa merupakan bagian yang tegang dan memiliki satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin.

Tulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran ini dalam telinga tengah saling berhubungan.

Tuba eustachius, yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.

3. Telinga dalam

Gambar 2. Anatomi Telinga Dalam3 Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli.1 Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule sebelah atas,
9

skala timpani sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala vestibule dan skala timpani berisi perilimfa sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Dimana cairan perilimfe tinggi akan natrium dan rendah kalum, sedangkan endolimfe tinggi akan kalium dan rendah natrium. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissners Membrane) sedangkan skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ corti yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam (3000) dan tiga baris sel rambut luar (12000). Sel-sel ini menggantung lewat lubang-lubang lengan horizontal dari suatu jungkat jangkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrane tektoria. Membran tektoria disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut sebagai limbus.4

Gambar 3. Potongan melintang koklea5 Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang diebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.

10

A. Fisiologi Tuba Eustachius Tuba Eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotomi. Tuba Eustachius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring dan erat sekali kaitannya dengan penyakit pada kedua struktur tersebut. Bentuknya seperti huruf S, pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjaan ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.tuba eustachis bayi berbeda debgan dewasa . tuba bayi pendek, lebar dan terletak horizontal,dan ini merupakan suatu alas an mengapa radang tuba eustachius begitu lazim pada bayi terutama pada masa2 minum dari botol. Tuba biasanya tertutup dan akan terbuka melaluinkontraksi aktif otot tensor velli palatinipada saat menelanatau pada saat menguap dan membuka rahang. Secara anatomis, tuba Eustachius terletak pada bagian telinga tengah. Tuba Eustachius terdiri dari 2 bagian, yaitu :
1. Bagian tulang, yang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian)

yang keadaannya selalu terbuka.


2. Bagian tulang rawan, terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian) dan

keadaannya selalu tertutup. Dalam keadaan normal, aliran udara dari hidung melewati tuba Eustachius dan sampai ke telinga tengah dan kemudian diserap oleh pembuluh darah disekitar cavum timpani. Fungsi tuba Eustachius adalah untuk :
1. Menyamakan tekanan cavum timpani dengan tekanan luar

Ventilasi pada telinga tengah adalah fungsi paling penting tuba eustachius, sejak diketahui bahwa pendengaran optimal terjadi saat tekanan telinga tengah relatif sama dengan tekanan pada canalis auditoris external. Pada tuba Eustachius yang berfungsi secara normal, tuba Eustachius aktif terbuka secara intermiten, karena kontraksi m. tensor palatini saat menelan, untuk menjaga tekanan pada telinga tengah. Adanya fungsi ventilasi tuba dapat di buktikan dengan melakukan perasat valsalvah dan perasat Toynbee.

11

2. Drainase

Sekresi telinga tengah akan dialirkan ke nasofaring melalui tuba eustachius yang berfungsi normal. Jika tuba Eustachius tersumbat maka akan tercipta keadaan vakum di telinga tengah.
3. Perlindungan telinga tengah dari kontaminasi sekresi nasofaring

B. Tuba Catar Definisi Tubair Catarrh atau tubotympanitis catarrhalis ( telinga tengah). Peradangan ini merupakan lanjutan dari infeksi didalam rongga hidung (rhinitis) atau pada tenggorokan (faryngitis). Tubair catarrh merupakan stage awal dalam perkembangan Otitis Media Akut. Etiologi Disfungsi Tuba Eustachius Penyebab dasar dari penyakit ini, bahwa tuba Eustachius tidak membuka pada saat menelan, yang bisa disebabkan oleh beberapa faktor :
- Ketidakmampuan otot tuba Eustachius (m. tensor veli palatini). - Pembengkakan pada tuba Eustachius, yang dapat berkembang sebagai akibat

adalah radang pada tuba

Eustachius, yakni saluran yang menghubungkan nasofaring dengan cavum tympani

dari alergi atau peradangan dari daerah sekitar (misalnya sinusitis maksila kronis, atau tonsilitis).
12

- Pembengkakan di adenoid (mungkin pada anak-anak dan orang dewasa) yang

mengakibatkan tertutupnya tuba Eustachius.


- Infiltrasi tumor ganas nasofaring ke dalam lubang tuba Eustachius.

Gejala Klinis Gejala dari tubair catarrh antara lain didahului infeksi saluran napas atas, batuk, pilek, demam, pendengaran menurun, telinga terasa penuh/fullness, terkadang disertai dizziness, telinga kadang-kadang terasa penuh secara berulang dalam beberapa menit atau bahkan jam, mungkin juga disertai sakit telinga ringan. Gejala dapat muncul dari beberapa jam hingga beberapa minggu atau lebih. Hal itu tergantung dari penyebab. Pada banyak kasus pilek/batuk yang sudah mulai membaik, penderita akan mendapat sensasi tidak nyaman dalam telinga. Hal ini karena terperangkapnya mukus dan pembengkakan yang dapat menghambat pembersihan walaupun infeksi sudah lama hilang. Selain itu, pendengaran berkurang akan hilang dan timbul pada beberapa waktu sebelum kembali pulih. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan cavum tympani tampak retraksi/tertarik kedalam karena pada auris media tekanan menjadi lebih negatif, buram, atau sedikit kemerahan, canalis auditoris externa tidak ada kelainan, gangguan pendengaran konduktif dapat dideteksi pada pemeriksaan audiologi.

Diagnosis Banding Diagnosis banding adalah otitis media akut, tubair catarrh dapat dibedakan dengan otitis media akut dari adanya gangguan pendengaran konduktif dengan membran timpani utuh.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan yakni dengan :


13

1. Mencari faktor predisposisinya, apakah karena proses infeksi, obstruksi (septum deviasi, polip, tumor). 2. Dekongestan Dekongestan nasal bekerja dengan vasokonstriksi pembuluh darah mukosa sehingga mengurangi pembengkakan. Pemakaian dekongestan nasal biasanya tidak lebih dari 7 hari karena dapat menimbulkan fenomena rebound ketika efeknya habis karena vasodilatasi sekunder yang diikuti kongesti nasal. Contoh dekongestan nasal antara lain hidroklorida efedrin dengan dosis 1-2 tetes ke dalam lubang hidung 3-4 kali sehari, xilometazolin hidroklorida (otrivin, valyn, xylo-pos, zovrin), oksimetazolin (afrin, iliadin, sinazol). Dekongestan oral yang bersifat sistemik juga bisa digunakan, seperti fenilefrin, pseudoefedrin, atau fenilpropanolamin. 3. Antihistamin Antihistamin akan membantu untuk memperingan kongesti nasal dan peradangan. Digolongkan menjadi antihistamin generasi pertama dan kedua. Antihistamin generasi pertama contohnya CTM, prometazin, difenhidramin, mepiramin, yang bersifat sedatif (menyebabkan kantuk). Antihistamin generasi kedua, contohnya antara lain fexofenadine, terfenadin, setirizin, loratadin, desloratadin, dll. Ada pula antihistamin dalam bentuk semprot hidung, yang berisi azelastin. 4. Antiinflamasi Untuk mengurangi peradangan sehingga tuba Eustachius akan berfungsi lebih baik. 5. Neurotropik 6. Antibiotik diberikan jika terjadi proses infeksi.

14

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan resume masalah diatas didapatkan diagnosis kerja Tubair Catarrh dengan diagnosis banding Otitis Media Akut. Tubair Catarrh merupakan peradangan pada tuba Eustachius yang menyebabkan disfungsi tuba Eustachius, sehingga mengganggu sirkulasi udara dari hidung, tuba Eustachius, dan cavum timpani. Telinga tengah yang sehat akan terisi udara dengan tekanan yang sama dengan atmosfir. Disfungsi tuba Eustachius merupakan suatu keadaan terbloknya tuba
15

eustachius atau tidak bisa terbukanya tuba secara baik sehingga udara tidak dapat masuk ke dalam telinga tengah. Adanya perbedaan antara tekanan di luar dengan di dalam cavum timpani menyebabkan sound conduction dan penurunan pendengaran. Dalam kasus infeksi saluran nafas atas (misalnya pilek) maka pembukaan tuba Eustachius akan dipengaruhi oleh peradangan. Membran mukosa yang meradang, akan mempersempit atau menutup pembukaan tuba Eustachius. Karena adanya tekanan negatif pada auris media atau tekanan udara di luar membran timpani lebih besar dibandingkan tekanan udara di telinga tengah, membran timpani akan masuk ke dalam dan tampak retraksi. Membran timpani juga menjadi tegang dan tidak bergetar dengan baik ketika dilalui oleh gelombang suara, sehingga akan menyebabkan sensasi penuh pada telinga, penurunan pendengaran, nyeri minimal pada telinga, ataupun pusing. Tubair Catarrh dapat berkembang menjadi Otitis Media Akut. Hal yang membedakan Tubair Catarrh dengan Otitis Media Akut adalah adanya blockade pada tuba dan penurunan pendengaran tanpa melibatkan membran timpani pada telinga tengah. Pasien pada kasus ini diberikan terapi sebagai berikut : 1. Dekongestan nasal Hidroklorida efedrin 1% 3x2tetes tiap lubang hidung Dekongestan bekerja dengan melakukan penyempitan pembuluh darah kapiler. Petunjuk pemakaian obat tetes hidung :
- Hidung dibersihkan dan kepala ditengadahkan bila penggunaan obat dilakukan

sambil berdiri dan duduk atau penderita cukup berbaring saja.


- Kemudian teteskan obat pada lubang hidung dan biarkan selama beberapa

menit agar obat dapat tersebar di dalam hidung.

16

2. Antihistamin Klorfeniramin Maleat (CTM) 3x4mg Digunakan untuk terapi simtomatik terhadap reaksi alergi atau keadaan lain yang disertai pelepasan histamin berlebih. 3. Antiinflamasi Nonflamin 3x50mg Digunakan untuk mengurangi proses inflamasi.

DAFTAR PUSTAKA Adams, George L., Boeis Lawrence R., Higler Peter H., 1997. BOEIS Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : EGC Ars, Bernard, 2008. Chronic Otitis Media Pathogenesis Oriented Therapeutic Management. Netherland : Kugler Publications Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2009. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta : Badan POM RI Mawson, Stuart R., 1974. Diseases of The Ear Third Edition. London : Edward Arnold Publishers Soepardi, Efiaty A., Iskandar N., Bashiruddin J., Restuti Ratna D., 2001. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
17

18