Anda di halaman 1dari 14

1

KONSEP DASAR SURVEY SAMPEL


1.1 PENDAHULUAN
Deming (1950) secara ringkas mengatakan bahwa:
Pengambilan sampel tidak hanya mengganti keseluruhan populasi dengan sebagian dari
populasi saja. Pengambilan sampel adalah ilmu pengetahuan dan seni dalam mengendalikan
dan mengukur tingkat kepercayaan dari informasi statistik yang berguna melalui teori
peluang.

Perhitungan dari suatu populasi dengan metode sampling, seperti yang diusulkan oleh
Laplace pada tahun 1783, mulai digunakan secara luas. Pada mulanya, beberapa pertanyaan
dasar mulai muncul, seperti:
i. Bagaimana seharusnya suatu penelitian itu dibuat?
ii. Berapa banyak penelitian yang mestinya dibuat?
iii. Bagaimana seharusnya mengambil sampel?
iv. Bagaimana seharusnya data yang telah diperoleh itu dianalisis?
Jawaban dari pertanyaan diatas telah dicari, dan dalam prosesnya beberapa tekhnik dan
metode yang berbeda telah dikembangkan. Metode-metode tersebut dites untuk menentukan
apakah pertanyaan-pertanyaan yang dijelaskan diatas dapat terjawab atau tidak. Seiring
berjalannya waktu, konsep generalisasi melalui pengenalan logika induktif, seperti proses
generalisasi dari sebagian ke seluruh populasi, mendapat perhatian dari statistisi dalam
mengembangkan tekhnik pengambilan sampel. Dalam penjelasan tersebut beberapa
pertanyaan dapat terpecahkan, tetapi bagaimana generalisasi itu dibuat?. Jawaban dari
pertanyaan ini dicari dengan bantuan tekhnik peluang. Dari sinilah konsep pengambilan
sampel dengan kaidah peluang berawal. Penggunaan peluang dalam teori pengambilan
sampel mulai dikenal sebagai alat yang berguna dalam menggambarkan pendugaan tentang
populasi, baik yang terbatas maupun terhingga.
Dalam penggunaan secara tradisional peneliti mengasumsikan beberapa macam struktur
peluang dalam pengamatan, dimana dalam survey sampel dia memperkenalkan elemen
peluang dengan menggunakan tekhnik randomisasi (pengacakan). Ide tentang struktur
peluang dalam perencanaan penelitian mula-mula diberikan oleh Fisher (1935), dimana dia
menunjukkan bahwa randomisasi yang tadi telah dikenalkan dalam pemilihan sampel dari
dalam populasi, memberikan metode yang benar dalam memperoleh penduga. Dia
mendemonstrasikan secara sederhana bahwa randomisasi tidak hanya memberikan prosedur
pemilihan sampel yang benar dari suatu populasi, tetapi juga memberikan reaksi dari
keseluruhan resiko. Jadi, permasalahan tersebut telah berkurang untuk menentukan metode
pemilihan sampel dan pendugaan, yang meminimalkan error yang bersangkutan.
Mahalanobis (1944) mengenalkan konsep penting yang lainnya- yaitu fungsi dari biaya.
Masalah ini dipertimbangkan untuk menemukan combinasi dalam pemilihan sampel dan
prosedur pendugaan yang akan meminimalkan fungsi dari biaya.
1.2 DASAR DALAM PENGGUNAAN TEKHNIK SAMPLING DAN KELEMAHANNYA
Kajian utama dalam pembahasan ini adalah bagaimana menggunakan teori dan tekhnik dalam
survey sampel dengan aplikasinya dalam permasalahan yang berbeda-beda di lapangan.
Survey sampel banyak digunakan dalam mengumpulkan informasi, untuk menemukan
permasalahan tertentu dalam pemerintahan, industri dan perdagangan, fisika, ilmu
pengetahuan dan teknologi, sosial, pendidikan serta ekonomi, dll. Tekhnik survey sampel
sekarang secara umum digunakan untuk memperoleh informasi di berbagai macam aktifitas
dalam lingkungan sosial dan ekonomi. Seluruhnya yang ada pada kehidupan kita pasti
didasari atas survey sampel. Tidaklah mungkin mengikutsertakan seluruh batasan dalam
penerapan survey sampel dalam pembahasan kali ini. Namun, pada situasi tertentu dimana
tekhnik pengambilan sampel dapat digunakan dengan benar telah diberikan.
i. Ketika hasil berakurasi dan keyakinan tinggi dengan modal yang telah ditetapkan,atau
jumlah sampel yang kecil dengan derajat keyakinan yang dibutuhkan.
ii. Ketika unit-unit yang diteliti menunjukkan variasi atau ragam yang dapat
dipertimbangkan untuk karakteristik dalam penelitian tersebut.
iii. Ketika jumlah populasinya takterhingga atau bersifat merusak apabila kita lakukan
penelitian pada seluruh populasi.
iv. Jika ruang lingkup penelitian sangat luas dan kita tidak tahu secara pasti populasinya.
v. Ketika waktu, uang, dan sumber yang lainnya terbatas.
Teori pengambilan sampel mempunyai kelemahan yang secara singkat diberikan seperti di
bawah ini:
i. Apabila kita menggunakan desain sampel yang salah, sampel tidak secara penuh
mewakili populasi dan akibatnya hasil pendugaan menjadi tidak akurat.
ii. Teori pengambilan sampel dan penerapannya di lapangan membutuhkan petugas yang
terlatih dan mempunyai kualifikasi, dan tanpanya hasil dari survey sampel tidak dapat
diandalkan.
iii. Perencanaan dan penerapan dari survey sampel harus dilakukan dengan hati-hati, atau
data akan memberikan hasil yang menyesatkan.
1.3 DEFINISI DAN PERSIAPAN
Definisi-definisi dan konsep-konsep dasar berikut dikembangkan sebelum kita membahas
secara detail tentang metode penarikan sampel. Kita biasanya menemukan suatu kumpulan
(yang disebut populasi):
( )
N
u u U ,........,
1
=
dari suatu obyek,
N
u u .., ,.........
1
(yang disebut sebagi unit atau elemen), dimana beberapa hal
yang diamati (disebut sebagi karakteristik)
i
y didefinisikan untuk setiap unit
i
u .
Teori pengambilan sampel terpusatkan pada bagaimana caranya mengambil sampel, urutan
atau sekumpulan unit yang diambil dari U , yang bertujuan untuk menduga parameter seperti
, , , ,
2
R Y Y o dll. Sebuah teori yang berguna dapat dikembangkan dengan dasar teori peluang
(dengan anggapan bahwa pembaca telah memiliki pengetahuan tentang hal itu). Kita
seharusnya mempertimbangkan penelitian secara acak atau random, dengan hasil yang
tergantung kepada peluangnya. Hasil dari penelitian disebut sebagai titik sampel dan total
keseluruhan dari titik sampel yang sesuai dengan metode pengambilan sampel yang
digunakan disebut sebagai sample space. Setiap hasil dari penelitian didigambarkan oleh satu,
dan hanya satu, titik sampel. Metode penarikan contoh juga harus menjelaskan peluang ) (s P
bahwa s sampel secara nyata diambil sehingga 0 ) ( > s P , dan

=1 ) (s P .
Kita akan memberikan beberapa bukti hasil standar dalam teori peluang, yang akan
digunakan dalam pembahasan teori penarikan sampel. Jika diketahui suatu random variabel
X dengan nilai
i
x dengan peluang ( ) N i p
i
,......., 1 = = . Nilai harapan dari X didefinisikan
sebagai berikut
( )

= = =
=
N
i i
N
i
i i
X x p x p X E
1 1

Pada umumnya, jika ( ) X u merupakan fungsi dari X , maka
( ) { } ( )

u = u
N
i i
x p X E
1

Kita seharusnya menggunakan hasil-hasil yang terkandung dalam teorema-teorema dibawah
ini:
THEOREMA 1.1 Jika X dan Y adalah dua peubah acak ,
( ) ( ) ( ) Y E X E Y X E + = + (1.3.1)
Dalam bentuk umum dari k peubah acak,
( )

= |
.
|

\
|
k
i
i
k
i
i
X E X E (1.3.2)
Bentuk yang lebih sederhana dapat dituliskan sebagai berikut,
( )

= |
.
|

\
|
k
i
i i
k
i
i i
X E a X a E (1.3.3)
Dimana ( ) k i a
i
,......, 1 = adalah suatu konstanta.
THEOREMA 1.2 Jika X dan Y independen,
( ) ( ) ( ) Y E X E Y X E = (1.3.4)
THEOREMA 1.3 Varians dari peubah acak
b aX Z + =
Dimana a dan b independen, diberikan oleh
( ) ( ) X V a Z V
2
= (1.3.5)
THEOREMA 1.4 Covarians dari X dan Y diberikan oleh
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) | |
2
1
,
Y V X V
Y E X E XY E Y X Cov
=
=

(1.3.6)
dimana merupakan koefisien korelasi dari X danY .
THEOREMA 1.5 Jika
i
X dan ( ) k i a
i
,......., 1 = adalah k peubah acak dan suatu konstanta,
maka
( )

= |
.
|

\
|
k
i
k
j
j i j i
k
i
i i
X X Cov a a X a V
,
(1.3.7)
THEOREMA 1.6 Jika X dan Y peubah acak yang independen, maka
( ) ( ) ( ) ( ) | | ( ) ( ) | | ( ) X V Y E X V X E Y V X V XY V
2 2
+ + = (1.3.8)
THEOREMA 1.7 Nilai harapan dari peubah acak X diberikan oleh
( ) ( ) XIY E E X E
2 1
= (1.3.9)
dimana
2
E adalah conditional expectation X dengan syarat Y , dan
1
E adalah expectation
seluruh kemungkinan nilai Y .
THEOREMA 1.8 Varians dari peubah acak adalah penjumlahan dari nilai harapan dari
conditional varians dengan varians dari conditional expectation. Yang rumusnya,
( ) ( ) ( ) X E V X V E X V
2 1 2 1
= (1.3.10)
Kita menganggap hal itu tidak dapat dikerjakan dengan mudah atau memerlukan banyak
waktu dan mahal untuk mengukur X dalam setiap unit
i
u ,atau seluruh elemen, perhitungan
menjadi tidak tepat. Kita, oleh karena itu, memilih beberapa elemen (sampel). Maka, unit
sampel diambil sebagai elemen atau sekelompok elemen yang dapat diidentifikasi dan
didefiisikan dengan baik dalam suatu pengamatan. Sekumpulan dari seluruh unit biasanya
disebut dengan populasi. Populasi dapat dikatakan terbatas(finite) apabila jumlah unit dalam
populasi tersebut memenuhi syarat-syarat dari terbatas itu sendiri. Biasanya sebuah daftar
telah dipersiapkan atau nomor urut pencacahan telah diberikan kepada seluruh unit dalam
populasi. Hal tersebut menciptakan sebuah kerangka sampel, sebagian dari populasi disebut
sebagai sampel. Jumlah unit-unit yang terdapat dalam suatu sampel dikenal sebagai ukuran
sampel(sample size). Jumlah dari unit-unit yang berbeda dalam sampel disebut sebagai
ukuran sampel yang efektif.
Nilai dari suatu sampel disebut sebagai statistik. Nilai tersebut digunakan untuk mengestimasi
beberapa parameter, sehingga disebut sebagai estimator. Estimator adalah suatu peubah acak
dan mungkin memberikan nilai yang berbeda-beda dari sampel satu ke sampel lainnya. Beda
antara estimator ( ) t dan parameter ( ) u disebut sebagai error. Sebuah estimator ( ) t dikatakan
sebagai penduga yang tidak bias untuk parameter ( ) u apabila
( ) u = t E ,
Maka bias diberikan oleh
( ) ( ) t B t E = u
Ukuran relative dari suatu bias adalah ( ) u / t B . Rata-rata kuadrat suatu error dari u disebut
sebagai mean-square error (MSE). Dengan rumus,
( ) ( )
2
u = t E t MSE
Varians pengambilan sampel dari t didefinisikan sebagai berikut,
( ) ( ) | |
2
t E t E t V =
Dengan jelas,
( ) ( )
( ) { } ( ) { } | |
( ) | | ( ) | |
( ) ( ) t B t V
t E t E t E
t E t E t E
t E t MSE
2
2 2
2
2
+ =
+ =
+ =
=
u
u
u

Akar positif dari varians disebut sebagai standar error dari estimator. Perbandingan standar
error dari estimator dengan nilai harapan dari estimator disebut sebagai relative standar error.
Diberikan estimator
1
t dan
2
t dari sebuah parameter, estimator
1
t dikatakan lebih efisien
daripada
2
t jika MSE
1
t dari lebih kecil daripada MSE
2
t .Relative efficiency, dari
1
t
dibandingkan
2
t , yang berbeda menurut jumlah sampel atau metode pengambilan sampel atau
kedua-duanya, yang didefinisikan sebagai hubungan timbal balik rasio varians pengambilan
sampel dari estimator dengan kedua tekhnik ketika jumlah unit-unit yang sama terambil.
Relative efficiency juga dapat didapatkan sebagai perbandingan timbal balik dari ukuran
sampel untuk kedua metode pengambilan sampel ketika unit sampel yang sama terambil.
Pada kenyatannya, pertanyaanya disini adalah bagaimana untuk mengukur ketepatan
(accuracy),untuk mengukur perbedaan yang diharapkan antara estimator dan nilai
sesungguhnya (parameter). Hal tersebut biasanya diukur dengan efisiensi yang berbanding
secara terbalik terhadap mean-square error. Karena nilai sebenarnya dari parameter pada
umumnya tidak diketahui, efisiensi dapat diukur dalam suatu presisi(ketepatan),perbedaan
yang diharapkan dari estimator terhadap nilai harapannya. Maka, presisi dari estimator adalah
berbanding terbalik terhadap varians pengambilan sampelnya.

1.4 KEUNTUNGAN DAN KEKURANGAN DARI SENSUS DAN SURVEY SAMPEL
Perhitungan total dari seluruh unit dalam populasi untuk karakteristik tertentu dikenal sebagai
perhitungan total, juga disebut sebagai sensus. Uang, tenaga kerja dan waktu yang
dibutuhkan untuk melengkapi perhitungan secara umum akan lebih besar dan ada banyak
situasi dimana perhitungan total tidak mungkin dilakukan. Dalam hal ini ada juga dimana
tidak praktis untuk menghitung seluruh unit, dan pemilihan dari beberapa unit akan sangat
membantu. Ketika hanya sebagian, disebut sebagai sampel, dipilih dari populasi dan diteliti,
maka hal ini disebut sebagai perhitungan sampel atau survey sampel.
Sebuah survey sampel biasanya lebih murah daripada survey sensus dan informasi yang
diinginkan akan diperoleh dalam waktu yang singkat. Hal ini tidak menandakan bahwa
ekonomi hanya satu-satunya hal yang dipertimbangkan dalam menggunakan survey sampel.
Hal yang lebih penting bahwa tingkat keakuratan dari hasil juga diperhatikan. Kadang-
kadang, tekhnik dari survey sampel digunakan untuk menguji hasil yang diperoleh dari
survey sensus. Sudah menjadi fakta bahwa dalam situasi tertentu penggunaan survey sampel
yang benar akan memberikan hasil yang lebih berharga daripada survey sensus. Keuntungan
dan kekurangan survey sampel telah diteliti oleh Mahalanobis (1950), Yates (1953),
Zarkovich (1961) dan Lahiri (1963). Cochran (1977) dengan sangat menunjukkan beberapa
keuntungan dari survey sampel dibandingkan dengan survey sensus. Secara singkat, yaitu:
i. Mengurangi biaya survey
ii. Waktu yang lebih cepat dalam memperoleh hasil
iii. Hasil mempunyai tingkat keakuratan yang tinggi
iv. Ruanglingkup yang lebih luas, dan
v. Kemampuan beradaptasi
Fisher (1950) menjumlahkan keuntungan dan kerugian dari survey sampel dibandingkan
dengan survey sensus sebagai berikut:
saya telah membuat empat penjelasan tentang prosedure pengambilan sampel. Tiga yang
pertama, kemampuan beradaptasi, kecepatan, dan ekonomi, dan tidak ada yang lainnya.
Terlalu banyak contoh yang telah tersedia untuk menunjukkan seberapa banyaknya metode
yang harus diberikan. Tetapi, mengapa saya mengatakan bahwa hal ini lebih daripada hanya
prosedure yang kadang-kadang dalam persaingan, perhitungan secara lengkap?. Jawabannya,
menurut pandangan saya, berbohong dalam proses utama mendesain dan merencanakan
enquiry dalam pengambilan sampel. Hal ini adalah teori secara matematik dari kesalahan
dalam pengambilan sampel secara acak, gagasan tentang keakuratan adalah yang paling
penting. Pimpinan dari survey merencanakan dari awal untuk menentukan dan mengetahui
tingkat keakuratan; misalnya penentuan yang mana dia tidak pernah kehilangan pengawasan,
dan perolehan keakuratan, orang yang mengerti tindakan pencegahan, adalah manifestasi dari
hasil enquery.
Meskipun terdapat beberapa keuntungan di atas, survey sampel tidak selalu lebih disukai
daripada survey sensus. Teori pengambilan sampel mempunyai kelemahan dan keuntugan
dari pengambilan sampel melalui perhitungan lengkap dapat digunakan hanya jika:
i. Unit-unit diambil dengan cara ilmiah.
ii. Tekhnik pengambilan sampel yang tepat digunakan
iii. Jumlah unit pada sampel yang diambil cukup. Jika informasi diperlukan untuk tiap-
tiap unitnya, sensus adalah jawaban satu-satunya.
1.5 PRINSIP-PRINSIP DALAM TEORI PENGAMBILAN SAMPEL
Tujuan utama dari teori pengambilan sampel adalah untuk membuat pengambilan sampel itu
menjadi efektif. Teori dari penarikan sampel didasarkan pada 3 prinsip dasar yang penting:
i. Prinsip validitas
ii. Prinsip keteraturan secara statistik
iii. Prinsip optimalisasi
Prinsip validitas
Prinsip ini menyatakan bahwa desain penarikan sampel menyediakan pendugaan yang sah
tentang parameter populasi. Yang dimaksud dengan valid, adalah sampel diambil dan
penduga dapat diintepretasikan secara obyektif dan sesuai dengan kaidah peluang. Jadi,
prinsip ini memastikan bahwa ada beberapa peluang yang jelas untuk setiap individu dalam
desain penarikan sampel.
PRINSIP KETERATURAN SECARA STATISTIK
Prinsip keteraturan secara statistik, yang berasal dari teori peluang, dapat dijelaskan melalui
kalimat berikut ini:
unit-unit dalam jumlah yang cukup besar yang diambil secara acak dari kelompok yang
besar hampir dipastikan secara rata-rata memiliki karakteristik seperti yang dimiliki
kelompoknya.
Prinsip ini menekankan pada pentingnya memilih desain penarikan sampel yang baik dimana
pengambilan tiap unit sampel ke dalam suatu sampel didasarkan pada teori peluang yang
benar.
PRINSIP OPTIMALISASI
Prinsip ini menggarisbawahi tentang keingginan untuk memperoleh desain sampel yang
memberikan hasil yang optimal. Dengan kata lain, optimalisasi dalam mengembangkan
metode pengambilan sampel dan pendugaan yang memberikan: (i) tingkat efisiensi tertentu
dengan kemungkinan penggunaan sumber daya yang seminimal mungkin.(ii) biaya tertentu
dengan tingkat efisiensi yang semaksimal mungkin.
Jadi, prinsip optimalisasi ini meminimalkan resiko kesalahan dalam desain sampel, prinsip ini
menekankan dalam memperoleh hasil optimal dengan meminimalkan penggunaan biaya dan
perolehan mean square error.
1.6 TAHAP-TAHAP PRINSIPAL DALAM SURVEY SAMPEL
Tekhnik survey sampel sekarang ini telah digunakan secara luas, oleh karena itu sangatlah
penting untuk menjelaskan secara singkat tahap-tahap utama dalam survey sampel. Beberepa
tahap-tahap utama yang terkandung tersebut diberikan sebagai berikut:
i. Pernyataan tentang keobyektifan
ii. Definisi dari populasi yang diteliti
iii. Penentuan kerangka sampel dan unit sampel
iv. Desain sampel yang cocok
v. Pengorganisasian dari lingkungan kerja
vi. Kesimpulan dan analisis data
Pernyataan tentang keobyektifan
Dalam survey sampel, langkah pertama adalah meletakkan pernyataan yang jelas tentang
keobyektifan dari suatu survey. Pengguna harus memastikan bahwa keobyektifan ini
sebanding dengan ketersediaan sumber seperti biaya, tenaga kerja, dan keterbatasan dalam
suatu survey.
Definisi dari populasi
Populasi dimana suatu sampel itu diambil harus didefinisikan dengan jelas dan tidak ambigu.
Sebagai contoh, untuk mengestimasi rata-rata hasil panen per luas bidang tanah, sangatlah
penting untuk mendefinisikan ukuran luas bidang tanah yang dimaksud dengan jelas.
Sampled population (populasi yang sebagai dasar dalam mengambil sampel) harus tepat
dengan populasi targetnya (populasi dimana informasi itu diperlukan). Demografi, geografi,
administrasi dan dan batas-batas populasi lainnya harus jelas keterangannya sehingga tidak
menimbulkan ambigu dalam pelaksanaan survey.
Penentuan kerangka sampel dan unit sampel
Hal utama yang dibutuhkan dalam survey sampel adalah menentukan kerangka sampel yang
akan digunakan, daftar dari seluruh unit-unit sampel dan data relevan lainnya dikumpulkan.
Itu adalah kerangka sampel yang menentukan struktur pengambilan sampel dalam suatu
survey. Kerangka sampel adalah kunci bagaimana pemilihan sampel dan prosedur estimasi
dilaksanakan. Populasi harus mempunyai kemampuan dalam pembagian kedalam unit-unit
tertentu, yang tidak ambigu, dan dapat mewakili keseluruhan populasi.
Desain sampel yang cocok
Jika desain pengambilan sampel terpilih, pendugaan final akan sangat dapat diandalkan.
Ukuran dari sampel, prosedur pemilihan dan pendugaan parameter dengan beberapa resiko
yang terkandung didalamnya serta beberapa aspek statistik penting yang seharusnya
menerima perhatian lebih. Jika jumlah desain pengambilan sampel untuk mengambil sampel
tersedia, maka resiko total, biaya dan presisi, seharusnya dipertimbangkan sebelum
menentukan pilihan terakhir dari desain pengambilan sampel.
Pengorganisasian dari lingkungan kerja
Prestasi dalam mencapai tujuan dari survey sampel tergantung pada luasnya lingkungan kerja
yang dapat diandalkan. Jika pekerjaan dilakukan dengan jujur, sungguh-sungguh, dan
berdasarkan intruksi yang telah ditetapkan serta jika ada pengawasan yang hati-hati terhadap
pekerja lapangan, sehingga tidak ada keragu-raguan terhadap prestasi dalam mencapai tujuan
survey. Oleh karena itu hal tersebut sangatlah penting untuk membuat ketentuan dalam
pengawasan pekerja yang cukup untuk pemeriksaan lapangan kerja.
dan menurut perintah dan jika ada pengawasan yang teliti dari staff pelaksanaan, tidak dapat
diragukan akan tercapainya tujuan survei. Oleh karena itu, perlu untuk membuat pengawasan
yang sesuai untuk inspeksi kerja lapangan.

Ringkasan dan Analisa Data
Di dalam suatu survei sampling, langkah terakhir dari analisis dan menarik
kesimpulan dari suatu sampel untuk memperkirakan suatu populasi adalah hal yang sangat
penting dan persoalan yang mengagumkan. Jika hasil suatu survei adalah basis untuk
membuat kebijakan, ini adalah bagian yang paling penting dari survei sampling dan harus
ditangani secara hati-hati.
Analisa data yang dikumpulkan dar suatu survei secara luas digolongkan sebagai
berikut:
1. Penelitian dengan cermat dan editing data
2. tabulasi data
3. Analisa statistik
4. Pelaporan dan kesimpulan
Akhirnya, dalam suatu laporan hasil survei, pengusulan tindakan yang mungkin
diambil, harus di cantumkan.

1.7 SAMPEL BERPELUANG DAN SAMPEL TIDAK BERPELUANG

Teknik memilih suatu sampel adalah hal penting dan pokok di dalam teori sampling
dan pada umumnya tergantung pada sifat alami penyelidikan. Prosedur Sampling yang
biasanya digunakan secara umum digolongkan menjadi:
1. Sampel berpeluang
2. Sampel tidak berpeluang

Sampling Berpeluang
Ini adalah metode memilih sampel menurut aturan tertentu dari sebuah kemungkinan
di mana masing-masing unit populasi mempunyai beberapa kemungkinan terpilih menjadi
sampel. Di sini ada sejumlah sampel yang dituliskan S
1
, S
2
,,S
k
yang dapat dibentuk dengan
pengelompokan unit dari populasi yang ditentukan, dan masing-masing calon sampel S
i

mempunyai kemungkinan terpilih yang dinotasikan p
1
. Suatu spesifikasi yang jelas dari
semua kemungkinan sampel yang jenisnya telah ditentukan bersama dengan kesesuaian
kemungkinan terpilihnya disebut desain sampel. Di dalam bab yang berikut dari buku ini kita
akan hanya mempertimbangkan prosedur sampel berpeluang.
Bukan Sampling Berpeluang
Ini adalah metode memilih sampel, di mana pemilihan unit sampling tergantung
seluruhnya pada pertimbangan atau penghakiman si pelaku survei. Metoda ini juga disebut
purposive atau sampling penghakiman. Di dalam prosedur ini sampler memeriksa
keseluruhan populasi dan memilih sampel yang khas yang ia pertimbangkan dapat mendekati
nilai tengah populasi.
Metoda Sampling ini sebagian besar digunakan untuk survei pendapat, tetapi tidak
bisa direkomendasikan untuk penggunaan yang umum karena adanya subjektivitas atau
prasangka dan penyimpangan dari sampler. Bagaimanapun, jika sampler berpengalaman dan
ahli, mungkin saja penghakiman sampling bisa menghasilkan hasil yang bermanfaat.
sedangkan kekurangannya adalah tidak mungkin untuk menghitung tingkat ketepatan
perkiraan dari nilai-nilai sampel.
1.8 UNIT SAMPLING

Suatu unit sampling yang telah digambarkan pada bab sebelumnya, tetapi masih
memerlukan uraian lebih lanjut sebagai dasar prosedur sampling. Unit ini mungkin unit
alami populasi seperti individu di suatu tempat, atau kumpulan seperti unit seperti keluarga,
atau mungkin unit seperti pertanian, dan lain lain Sebelum memilih sampel, populasi harus
dibagi menjadi bagian yang beda, tidak melampaui batas dan jelas, dimana tiap-tiap unsur
populasi merupakan satu unit sampling. Saat pengambilan dari semua unit sampling yang
jenisnya telah ditetapkan dari suatu populasi, unit sampling harus ditetapkan bahwa masing-
masing elemen di dalam populasi hanya bias menjadi satu unit sampling. Sedangkan sebagian
dari unsur tidak akan tercakup di dalam sampel. Contoh, jika unit sampling adalah suatu
keluarga, haruslah digambarkan bahwa individu bukan kepunyaan dua keluarga berbeda
maupun bukan milik keluarga yang lain.
1.9 KERANGKA SAMPEL

Seperti yang digambarkan sebelumnya, suatu daftar lengkap dari unit sampling yang
mewakili populasi disebut kerangka sampel yang dikenal sebagai frame Konstruksi kerangka
sampel kadang-kadang salah satu permasalahan praktis yang utama. Umumnya kerangka
sampel dianggap sempurna, menyeluruh, lengkap, dan up-to-date menyangkut semua unit
sampling dan struktur karakternya. Maka kerangka harus selalu dibuat up-to-date dan bebas
dari kesalahan dari unit sampling yang terlewat atau unit sampling yang tercatat ganda.
kerangka sampel yang berbeda dibahas oleh Mahalanobis(1944), Yates (1960), Seal (1962),
Hansen, Hurtwitz, dan Jabine (1963), Singh (1978), dan yang lainnya kerangka sampel secara
luas dikelompokkan menjadi:
1. Sampel tidak lengkap ketika beberapa unit sampling dari populasi tidak
dimasukkan atau tidak dimasukkan lebih dari sekali.
2. Kerangka yang tidak akurat, ketika beberapa unit dari populasi ditulis secara tidak
benar dan tidak actual lagi.
3. Kerangka sampel yang tidak cukup. Ketika sampel tidak mencangkup semua kelas
atau kategori dari populasi yang akan diteliti.
4. Kerangka sampel yang tidak up-to-date. Ketika kerangka sampel tidak sesuai lagi
dengan keadaan yang semestinya walaupun datanya akurat, lengkap dan cukup
saat kerangka dibentuk.
Catatan yang dikumpulkan secara berkala bertujuan untuk menghindari data yang
tidak komplit, dan tidak akurat dan memghindari tejadinya duplikasi data yang tidak
diketahui jumlahnya. Catatan harus selalu dijaga secara hati-hati untuk memastikan frame
bebas dari kesalahan-kesalahan. Jika data tidak up-to-date, data harus disusun kembali.
Kerangka yang baik sulit untuk didapatkan tetapi pengalaman selalu membantu dalam
pembentukan kerangka sampel.
1.10 TUJUAN PERENCANAAN SURVEI
Inti dari survei adalah perencanaan, pengumpulan dan pengolahan data. Beberapa
aspek penting yang termasuk dalam perencanaan dan pengolahan dari surveidapat dibedakan
menurut:
Spesifikasi Data yang Dibutuhkan
Ketika menentukan data yang akan kita cari, penyurvei harus memperhatikan hal-hal
berikut:
1. Pernyataan statistik dari informasi yang diharapkan
2. Spesifikasi yang jelas dari wilayah study
3. Daftar dari data yang dikumpulkan dan pembatasan anggaran
4. Tingkat ketelitian yang diinginkan

Referensi Survei dan Periode Pelaporan
Periode survei adalah periode selama pengumpulan data yang diinginkan. Periode
survei sebaiknya dibagi menjadi tahap-tahap agar mudah dalam memastikan peristiwa yang
dapat mewakili populasi dsari suatu sampel. Periode referensi adalah waktu dimana data
harus memiliki acuan. Periode referensi menentukan objektivitas survei. Untuk item yang
berbeda bisas berasal dari periode referensi yang berbeda. Periode pelaporan adalah waktu
disaat informasi dikumpulkandan ditentukan oleh kondisi saat survei dilakukan. Untuk
pertimbangan teknik disini, mungkin perbedaan periode pelaporan untuk item yang beda,
tetapi dari poin operasional yang ditunjukkan, diperlukan untuk digunakan pada pelaporan
yang sama untuk semua item sejauh masih mungkin.
Persiapan Kerangka Sampel
Karena kerangka sampel menentukan struktur dari survei dan desain survei, persiapan
kerangka sampel memerlukan perhatian yang cukup untuk merencanakan kerangka sampel
yang akurat dan mutahir. Jika beberapa sumber digunakan dalam pekejaan yang sama,
persiapan kerangka sampel menjadi sangat berarti.
Pemilihan Desain Sampel
Keputusan mengenai desain sampel yang optimum, setelah menentukan teknik,
operasional dan faktor-faktor risiko ke dalam suatu pertimbangan menentukan bagian yang
sangat berarti. Prinsip pendugaan harus selalu menjadi perhatian utama bisa dicapai dengan:
1. Menentukan tingkat keyakinan dan meminimalkan biaya
2. Memaksimalkan tingkat keyakinan dengan biaya tetap

Metode Pengumpulan Data
Perencanaan dan pelaksanaan survei mencangkup hal yang besar dalam metode
pengumpulan data. Setelah pengujian yang sangat teliti dari kerangka sampel, desain,
anggaran, dan objektivitas survei, keputusan selanjutnya adalah menentukan metode
pengumpulan data baik untuk pengumpilan data primer maupun data sekunder. Dalam
beberapa kasus pengumpulan data prtimer, model clear-cut dari pengumpulan harus
diperhatikan apakah data yang dikimpulkan dengan cara wawancara, surat, pengukuran
langsung dal lain-lain. Untuk mempertahankan keseragaman, metode pengumpulan data
diperlukan untuk memberikan perintah yang detil.
Kerja Lapangan dan Pelatihan
Kerja lapangan dan pelatihan sangat penting. Setiap personil harus sepenuhnya
dilatih agar dapat menentukan unit sampling dan metode pengumpulan data yang diperlukan
sebelum melakukan pekerjaan utama di lapangan. Staff harus dilatih dengan baik, bukan
hanya aspek stastistik tetapi juga seni dalam pemilihan informasi yang benar dari sumber-
sumber yang berbeda.
Pengolahan Data Survei
Pengolahan data yang dikumpulkan dalam survei secara umum dapat dikelompokkan
menjadi:
1. Pemeriksan dan pengeditan data
2. Tabulasi data
3. Analisis statistik
Pemerosesan data dibutuhkan untuk merencanakan pelaksanaan survei dalam
beberapa cara yang aliran materi kerjanya melalui alur yang berbeda. Cara pengolahan data
menentukan tingkat keyakinan yang diinginkan dalam hasil survei.
Persiapan Pelaporan
Menueut pedoman yang diformulasikan oleh PBB, persiapan pelaporan hasil survei
sampel harus cukup guna mencapai tujuan. Laporan harus mempunyai bagian-bagian seperti
objek, cangkupan, batasan subjek survei, metode pengumpulan data, referensi survei dan
periode pelaporan data, desain sampel dan prosedur perkiraan, presedur tabulasi dan
presentasi hasil survei, akurasi, struktur biaya, pertanggungjawaban dan referensi. Hal-hal ini
sangat berguna untuk memberi ringkasan dari hasil survei yang dapat digunakan oleh semua
pihak untuk membuat kebijaksanaan.
1.11 SAMPLING ERROR DAN NON-SAMPLING ERROR
Kesalahan (error) biasanya ditemukan saat pengumpulan, pengolahan dan analisis data
dalam survei dan bias dikelompokkan menjadi:
1. Sampling error
2. Non-sampling error
Sampling Error
Error yang terbentuk saat sampel yang digunakan untuk memperkirakan parameter
populasi disebut sampling error atau fluktuasi sampling. Berapapun tingkat keyakinan yang
digunakan dalam pemilihan sampel, akan selalu ada perbedaan antara nilai parameter
dengan nilai estimasi yang didapatkan berdasarkan data sampel.
Error bersifat melekat dan tidak dapat dihindari di berbagai rancangan sampel.
Sampling error yang mengecil akan diikuti dengan menambah ukuran sampel. Kenyatannya,
sampling error berbanding terbalik dengan ukuran sampel dan hubungnya dapat dilihat pada
gambar 1.1. ketika survei sampel menjadi sensus sampling error menjadi 0.

UKURAN SAMPEL




SAMPLING ERROR
Gambar1.1 hubungan sampling error dengan ukuran sampel
Non- Sampling Error
Disamping sampling error, estimasi dari data sampel untuk populasi juga mengandung
error yang lain. Error-error tersebut dikelompokkan secara bersama-sama dan disebut non
sampling error. Sumber-sumber non-sampling error:
1. Kegagalan dalam pengukuran beberapa unit untuk dipilih menjadi samlpel
2. Kesalahan obserfasi sehingga merusak tatanan teknik
3. Kesalahan yang ditemukan dalam pengeditan, pengkodean, dan tabulasi hasil.
Dalam praktiknya, hasil survei sensus bias mengandung non sampling error walaupun
bebas dari sampling error.non0sampling error meningkat dengan meningkatnya jumlah
sampel sedangkan sampling error berkurang dngan peningkatan ukuran sampel.

PERSOALAN
1.1 Sebutkan keuntungan survei sampel dibandingkan sesus survei, tuliskan juga kondisi
dimana survei sensus lebih disukai daripada survei sampel
1.2 Terangkan apa yang anda ketahui mengenai probability sampling dan non-probabiliyi
sampling. Dan apa keunggulan da kelemahan keduanya
1.3 Gambarkan daftar urutan keterangan dalam ststus pekerjaan, bukan pekerjaan di sector
pedesaan di India. Tentukan definisi dan konsep anda serta uraikan bagian dari instruksi
untuk kerja lapangan.
1.4 Poin apa yang yang membutuhkan perhatian special dalam tahap perencanaan survei
sampel serta referensi untuk sampel yang cocok (survei yang diadakan di india)
terangkan apakah hal-hal ini telah tercangkup atau tidak.
1.5 Definisikan populasi, unit sampling dan kerangka sampel untuk pengadaan survei dari
masing-masing subjek berikut. Sebutkan unit sampling yang mungkin dan bahaslah
keuntungannya
1. Populaitas keluarga berencana diantara keluarga yang mempunyai dua anak
atau lebih
2. Hasil tangkapan ikan bulanan di daerah pantai
3. Pemiliha pegawai kantor dengan dominasi oleh para senior
4. Pengukuran volume kayu di hutan
5. Pengukuran hasil panen buah apel di daerah perbukitan
6. Tenaga kerja di daerah kota
7. Studi terjadinya kangker paru-paru dan serangan jantung dari masyarakat
pedesaan di suatu negara
8. Kondisi perumahan di perkotaan
9. Ukuran luas pra-panen hasil panen yang telah dispesifikasikan di suatu
wilayah
10. Studi angka kelahiran
11. Studi kandungan nutrisi makanan yang dikonsumsi masyarakat kita.
1.6 Anda diminta merencanakan survei sampel untuk mempelajari masalah hutang di suatu
populasi pertanian pedesaan di india. Tentukan pula poin-poin perencanaan survei
menurut:
1. unit sampling
2. kerangka sampel
3. metode sampling
4. metode pengmpulan data
Buatlah data questioner yang sesuai untuk survei ini.