Anda di halaman 1dari 7

McPhie dkk (1993)

BAB 1 PENAFSIRAN TEKSTUR BATUAN VULKANIK


Kegiatan eksplorasi endapan bijih yang berasosiasi dengan endapan vulkanik purba pada umumnya diawali dengan kegiatan pemetaan. Keberhasilan kegiatan pemetaan itu sangat tergantung pada kemampuan si pemeta untuk mengenal batuan-batuan vulkanik pada skala singkapan, skala sampel genggam, maupun skala mikroskopis. Buku ini disusun untuk membantu para pemeta atau calon pemeta geologi agar memiliki dasar-dasar pengetahuan yang kuat untuk dapat mengenal batuan-batuan vulkanik, baik di lapangan maupun di laboratorium. Lebih jauh, buku ini juga diharapkan dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk menafsirkan tekstur dan struktur batuan-batuan tersebut. Tulisan ini terutama didasarkan pada pengetahuan penulis mengenai Mount Read Volcanics di bagian barat Tasmania yang sebagian besar ditafsirkan sebagai lintap endapan gunungapi bawahlaut pada jaman Kambrium (Large, 1992). Walau demikian, untuk tujuan pembandingan, kami juga memasukkan contoh-contoh yang diambil dari endapan vulkanik lain, baik endapan vulkanik bawahlaut maupun endapan vulkanik darat. 1.1 JEJAK-JEJAK PROSES PEMBENTUKAN DALAM TEKSTUR ENDAPAN VULKANIK Tekstur endapan vulkanik dapat merupakan salah satu dari tekstur di bawah ini: 1. Teksur primer yang terbentuk sebagai hasil letusan gunungapi. 2. Teksur sekunder yang terbentuk akibat pengubahan tekstur primer oleh prosesproses syn-volcanic seperti oksidasi, keluarnya gas (degassing), hidrasi, alterasi fasauap, devitrifikasi temperatur tinggi, dan alterasi hidrotermal. 3. Teksur sekunder yang terbentuk akibat pengubahan tekstur primer oleh prosesproses post-volcanic seperti hidrasi, devitrifikasi, alterasi hidrotermal, diagenesis, metamorfisme, deformasi, dan pelapukan. Faktor terpenting yang menentukan tipe tekstur primer adalah tipe letusan: apakah letusannya eksplosif atau efusif (gambar 1-1). Letusan eksplosif menghasilkan berbagai varietas endapan piroklastik (pyroclastic deposits), sedangkan letusan efusif menghasilkan aliran lava (lava flow) dan kubah lava (lava dome). Selain itu, ada endapan lain seperti cryptodome, retas (sill), dan korok (dyke, dike) yang terbentuk akibat proses-proses syn-volcanic. Pada ranah vulkanik aktif, baik ranah vulkanik darat maupun ranah vulkanik bawahair, ada endapan vulkaniklastik yang dibentuk oleh proses-proses non-volcanic, terutama resedimentasi, yang bekerja lebih kurang bersamaan dengan letusan gunungapi atau yang bekerja setelah itu. Proses-proses non-volcanic utama yang tidak berasosiasi dengan letusan gunungapi adalah pelapukan, erosi, dan perombakan (reworking) endapan vulkanik yang terbentuk sebelumnya. Dalam literatur geologi, istilah "endapan vulkaniklastik sekunder" kadang-kadang dipakai untuk menyatakan produk proses-proses syn-volcanic atau proses-proses nonvolcanic. Di lain pihak, istilah "endapan vulkaniklastik primer" biasa digunakan untuk menyatakan endapan piroklastik atau endapan autoklastik yang belum terganggu. Mekanisme pengangkutan dan pengendapan partikel-partikel vulkaniklastik sangat penting artinya dalam menentukan tipe tekstur dan struktur endapan piroklastik, pada endapan vulkaniklastik syn-eruptive (syn-eruptive volcaniclastic deposits; resedimented volcaniclastic deposits), dan pada endapan vulkanogenik. Lava, intrusi syn-eruptive, dan berbagai tipe endapan piroklastik primer berada dalam kondisi panas ketika dialirkan dan diendapkan. Oleh karenanya, tekstur primer dari endapan-endapan itu hampir selalu terubah kemudian oleh proses-proses yang berkaitan dengan pendinginan. Semua tipe endapan vulkanik dan vulkaniklastik, khususnya yang mengandung gelas vulkanik, dapat dikenai oleh proses-proses post-volcanic yang menyebabkan terubahnya tekstur yang semula dimilikinya. 1.2 TENTANG BUKU INI

McPhie dkk (1993)

Buku ini menekankan pembahasannya pada proses-proses genetik utama, yang bertanggungjawab dalam menghasil-kan tesktur primer, dan proses-proses synvolcanic. Susunan buku ini dirancang sedemikian rupa sehingga mencermin-kan skema penggolongan yang berorientasi pada proses pembentukan tekstur endapan vulkanik (gambar 1-1), baik tekstur primer maupun sekunder. Skema penggolongan yang ditampilkan pada gambar 1-1 memperlihatkan mekanisme pengangkutan dan pengendapan utama yang terlibat dalam proses pembentukan endapan piroklastik, endapan vulkani-klastik syn-eruptive, dan endapan sedimen vulkanogenik. Ada satu hal yang perlu dicamkan yaitu bahwa mekanisme yang sama dapat bekerja pada setiap kategori endapan vulkanik tersebut dan, oleh karenanya, juga dapat menghasilkan tekstur dan struktur yang mirip satu sama lain. Komposisi, tekstur, dan struktur merupakan sifat inheren dari endapan vulkanik dan menjadi dasar penamaan setiap tipe endapan tersebut. Hal ini akan dibahas pada Bab 2. Pembahasan mengenai komposisi, tekstur, dan struktur endapan vulkanik dalam buku ini tidak lengkap. Hal ini sengaja dilakukan karena penulis memang hanya menujukan perhatian pada komponen, tekstur, dan struktur endapan vulkanik yang dapat membantu kita untuk membedakan endapan vulkanik koheren dengan endapan vulkaniklastik, yang dapat terawetkan dalam endapan vulkanik purba, serta yang dapat dikenali keberadaannya pada singkapan dan sampel genggam dengan menggunakan lup. Bab 3 membahas tentang struktur dan asosiasi fasies dalam produk letusan efusif (aliran lava dan kubah lava) serta intrusi syn-volcanic (retas, korok, dan cryptodome). Batuan-batuan itu biasanya berasosiasi dengan endapan autoklastik hasil fragmentasi non-volcanic (quenching, autobreksiasi). Bab 4 membahas secara mendetil endapan vulkaniklastik yang dihasilkan oleh letusan eksplosif (endapan piroklastik primer), endapan vulkaniklastik syn-eruptive, dan endapan sedimen vulkanogenik. Penafsiran yang sahih terhadap setiap endapan tersebut tergantung pada kemampuan kita untuk mengenal: 1. Struktur dan litofasies khas yang mencirikan proses pengangkutan dan pengendapan. 2. Tekstur dan struktur yang mengindikasikan apakah partikel-partikel penyusun batuan diangkut dalam kondisi panas atau tidak. 3. Tekstur dan partikel yang mengindikasikan proses pembentukan kecur. Terakhir, pada Bab 5, tekstur ubahan dalam lintap endapan vulkanik yang mengandung bijih sulfida akan dibahas dengan menggunakan contoh-contoh dari Mount Read Volcanic. Tujuan dari bab ini adalah menunjukkan bahwa penafsir-an terhadap jejak-jejak alterasi dalam endapan vulkanik sangat tergantung pada pengetahuan kita mengenai tekstur asal dari endapan tersebut serta cara-cara terjadinya perubahan tersebut. Karakter utama dari empat kategori endapan vulkanik yang utamalava dan intrusi syn-volcanic, endapan piroklastik, endapan vulkaniklastik syn-eruptive, dan endapan sedimen vulkanogenikditampilkan secara diagramatis pada gambar 1-2, 1-3, 1-4, dan 1-5. Pengertian dari setiap istilah yang ditampilkan pada gambar-gambar tersebut diberikan pada bab-bab yang bersesuaian dengannya. 1.3 ANCANGAN UNTUK MENAFSIRKAN GENESIS TEKSTUR ENDAPAN VULKANIK Identifikasi dan interpretasi tekstur vulkanik melibatkan pengetahuan gabungan dari vulkanologi dan sedimentologi. Kamampuan untuk mengenal dan menafsirkan endapan vulkanik akan meningkat secara dramatis bila kita memahami proses-proses pembentukan endapan tersebut serta apabila kita memiliki ancangan yang sistematis dalam memerikan endapanendapan tersebut. Karena itu, dalam buku ini, kita harus membiasakan hal-hal sbb: Menggunakan terminologi yang sesuai dalam pemerian lapangan endapan vulkanik. 1. Mencatat singkapan dan core dengan menggunakan log grafis. 2. Mengenal tekstur vulkanik asli, dan mampu membedakannya dengan tesktur yang telah terubah akibat alterasi, deformasi, dan/atau metamorfisme. 3. Mengenal tekstur dan struktur khas yang mengindikasikan proses pengangkutan, khususnya tekstur dan struktur yang mengindikasikan apakah endapan yang diamati merupakan endapan vulkaniklastik atau endapan vulkanik koheren. 2

McPhie dkk (1993)

4. Mengenal jejak-jejak lingkungan pengendapan pada singkapan, khususnya jejak-jejak yang membantu kita untuk membedakan endapan darat dan endapan akuatis serta membedakan endapan perairan dangkal dari endapan perairan dalam. 1.4 DUA KATEGORI TEKSTUR: VULKANIKLASTIK DAN VULKANIK KOHEREN Berbagai proses yang terlibat dalam pembentukan endapan vulkanik secara garis besar menghasilkan dua kategori tekstur: tekstur vulkaniklastik dan tekstur vulkanik koheren. Kata "vulkaniklastik" adalah istilah deskriptif yang diterapkan pada endapanendapan yang terutama disusun oleh partikel-partikel vulkanik (Fisher, 1961). Partikelpartikel itu dapat memiliki ukuran dan bentuk yang bermacam-macam. Istilah ini tidak mengimplikasikan proses pembentukan, proses pengangkutan, proses pengendapan, atau lingkungan pengendapan partikel-partikel tersebut. Tekstur endapan vulkaniklastik sangat beragam namun, secara umum, dicirikan oleh kehadiran partikel atau fragmen vulkanik, oleh pencampuran partikel-partikel yang memiliki bentuk, ukuran, dan tipe yang beragam, dan oleh perlapisan atau struktur sedimen yang mencirikan proses pengangkutan-pengendapan tertentu. Endapan vulkaniklastik dibedakan menjadi 4 kategori genetik: endapan piroklastik, endapan autoklastik, resedimented volcaniclastic, dan endapan vulkanogenik. Setiap kategori itu dapat dibedakan lebih jauh menjadi sejumlah subkategori, dimana setiap subkategori itu memiliki gejalagejala yang khas (lihat Bab 3 dan 4). Tekstur vulkanik koheren terbentuk akibat pendinginan lava dan magma. Salah satu ciri endapan vulkanik koheren yang utama adalah tekstur porfiritik, terutama ditandai dengan hadirnya kristal-kristal euhedral yang satu sama lain berukuran lebih kurang sama. Batuan vulkanik bertekstur afitik atau afanitik, atau gelas, juga termasuk ke dalam kategori batuan koheren. Vesikel, foliasi aliran (flow foliations), sferulit (spherulites), dan litofise (lithophysae) adalah gejala-gejala khas dari batuan koheren, walaupun tidak bersifat diagnostik, karena masih dapat ditemukan dalam batuan vulkaniklastik. Tekstur koheren terutama ditemukan pada lava dan batuan intrusi. Ada dua kategori tekstur lain yang perlu diketahui, khususnya sewaktu kita meneliti endapan vulkanik purba dan melakukan pemetaan untuk pertama kalinya pada batuan yang telah banyak terubah. Pertama, tekstur vulkaniklastik semu (apparent volcaniclastic textures), yang biasa ditemukan dalam lava dan intrusi yang telah terubah, sebagai produk alterasi yang tidak merata (patchy or domain alteration) atau alterasi yang dikontrol oleh bidang-bidang retakan dan kekar (fracture- and jointcontrolled alteration) (lihat Bab 5). Tekstur semu ini sekilas mirip dengan welded ignimbrite atau lithic breccia berbutir kasar. Sebagian lava dan intrusi mikrosfeluritik dan mikropoikilitik juga memperlihatkan tekstur vulkani-klastik semu dan kenampakannya mirip dengan batupasir masif yang terpilah baik. Tekstur koheren semu (apparent coherent texture) berkembang sangat baik dalam welded primary piroclastic deposits, terutama ignimbrit rheomorphic dan ignimbrit yang mirip dengan lava (lihat Bab 4). Dalam batuan-batuan tersebut, piroklas gelas seluruhnya bergabung satu sama lain sedemikian rupa sehingga tidak terlihat lagi sebagai butiran-butiran yang terpisah, sedangkan kristal-kristal yang ada umumnya berperawakan euhedral. Endapan vulkaniklastik berbutir halus yang berlapis atau masif, misalnya mud-stone yang kaya akan material vulkanik, mungkin memperlihatkan tekstur koheren semu sebagai akibat rekristalisasi yang berlangsung sewaktu mengalami diagenesis dan alterasi. Agar seorang ahli geologi lapangan dapat menggunakan berbagai istilah deskriptif lain, dan oleh karenanya akan dapat menyusun tafsiran, mengenai suatu endapan vulkanik, maka pertama-tama dia harus dapat menentukan tekstur dari endapan yang ditelitinya: apakah vulkaniklastik atau koheren. Informasi awal itu dapat disempurnakan atau dibuang sama sekali, apabila dia telah memperoleh informasi tambahan dari hasil pemetaan tahap lanjut atau dari hasil pengamatan sayatan tipis. 1.5 TATANAMA DESKRIPTIF UNTUK ENDAPAN VULKANIKLASTIK DAN ENDAPAN VULKANIK KOHEREN Singkapan dan sampel genggam yang terisolasi dari endapan vulkanik purba jarang memperlihatkan bukti-bukti yang jelas mengenai asal-usulnya. Karena itu, sewaktu 3

McPhie dkk (1993)

meneliti endapan vulkanik purba, disarankan agar pertama-tama meng-gunakan tata peristilahan litologi dan litofasies. Nanti, setelah ada kejelasan, kita dapat mengganti istilah yang ada dengan istilah-istilah lain yang mengimplikasikan genesisnya. Peristilahan litologi memberikan informasi mengenai komposisi, komponen, dan besar butir. Peristilahan litofasies memberikan informasi mengenai karakter fasies sebagaimana yang tampak pada singkapan, misalnya struktur, aturan-susunan internal, dan geometri. Peristilahan genetik memberikan informasi mengenai proses letusan dan pengangkutan untuk endapan vulkanik dan endapan vulkaniklastik primer serta mengenai proses-proses erosi, pengangkutan, dan proses pengendapan untuk resedimented volcanic deposits dan endapan sedimen vulkanogenik. Selain itu, peristilahan genetik juga mempertimbangkan geometri fasies dan asosiasi fasies pada berbagai skala, mulai dari satu satuan letusan atau satu satuan sedimentasi hingga seluruh pusat letusan. Penggolongan litologi deskriptif yang ada sekarang sebenarnya secara implisit telah membedakan endapan bertekstur koheren dari endapan bertekstur vulkaniklastik dan, dilihat dari sisi ini, penggolongan itu sebenarnya telah mengimplikasi-kan genesis. Setelah kita mampu menentukan apakah suatu batuan memiliki tekstur koheren atau tekstur vulkaniklastik, atau dalam kasus-kasus yang lebih sukar sudah dapat menentukan apakah suatu batuan memiliki tekstur koheren semu atau tekstur vulkaniklastik semu, maka selanjutnya kita akan dapat memakai istilah-istilah litologi yang dikombinasikan dengan istilah-istilah litofasies (tabel 1, 2). Skema penamaan hendaknya diadaptasikan agar sesuai dengan skala analisis tekstur, kisaran komposisi yang ada, dan tingkat pengawetan lintap endapan vulkanik yang diamati. Dalam menamakan endapan vulkanik koheren, skema-skema penggolongan yang ada dewasa ini menekankan pada aspek kimia batuan yang, sudah barang tentu, hanya dapat diperkirakan di lapangan. Dalam banyak kasus, kita masih dapat membedakan satuan-satuan pemetaan selama si peneliti tetap menggunakan peristilahan yang konsisten, tanpa tergantung pada keakuratan pengamatannya. Jika memungkinkan, pembagian komposisi yang diperlihatkan pada tabel 1 dapat dibuat lebih mendetil dengan cara menerapkan limit-limit prosentase dari fenokris. Penyempurnaan juga dapat dilakukan untuk istilah-istilah yang ada jika data analisis kimia yang lebih akurat telah dimiliki. Untuk endapan-endapan dengan tekstur koheren atau koheren semu, penafsiran genetik akan ditujukan untuk mengetahui apakah suatu batuan merupakan lava, syn-volcanic intrusions, post-volcanic intrusions, atau very densely welded pyroclastic deposits, hal mana akan tergantung pada informasi-informasi tambahan mengenai tekstur seperti yang diperoleh dari hasil pengamatan sayatan tipis, mengenai hubungan kontak, dan mengenai geometri tubuh endapan. Masalah yang lebih serius muncul dalam usaha untuk menamakan endapan bertekstur vulkaniklastik. Untuk endapan ini tidak ada peristilahan yang dapat diterapkan tanpa mengandung implikasi genetik. Istilah-istilah yang relatif non-genetik dipinjam dari sedimentologi (Fisher, 1961) (tabel 2) dan, untuk alasan itu, masih jauh dari memuaskan. Pada konteks lain, istilah-istilah tersebut digunakan untuk endapan epiklastik; padahal, dalam ranah vulkanik, hanya sedikit endapan yang merupakan endapan epiklastik. Selain itu, apabila digunakan dalam pengertian deskriptif secara umum, maka istilah-istilah tersebut tidak lagi efektif sebagai istilah-istilah khusus untuk endapan sedimen vulkanogenik. Walau demikian, istilah-istilah pinjaman itu adalah pilihan terbaik yang kita miliki sekarang dan perlu dipertahankan sampai masalah tatanama ini dapat terpecahkan melalui kesepatakan diantara para ahli sedimentologi dan vulkanologi. Istilah-istilah pinjaman dipakai untuk menyusun tatanama endapan vulkaniklastik (tabel 2). Pada endapan-endapan itu, penafsiran genetik dilakukan untuk membedakan empat kategori endapan yang didasarkan pada proses-proses fragmentasi dan pengangkutan: autoklastik, piroklastik, resedimented syn-eruptive volcaniclastic, dan endapan sedimen vulkanogenik. Untuk setiap kasus, tafsiran bisa dibuat lebih mendetil lagi, hal mana mengimplikasikan jenis letusan, mekanisme pengangkutan dan peng-endapan, serta lingkungan pengendapan (lihat Bab 3 dan 4) Istilah-istilah litologi untuk endapan piroklastik primer (gambar 6; tabel 3) telah dikenal luas, namun setiap istilah itu mengimplikasikan tafsiran. Perhatikan bahwa istilah "tuff" hanya digunakan untuk menamakan endapan piroklastik primer. Istilah "tuffan" (tuffaceous), di lain pihak, mengimplikasikan kehadiran piroklas dan umumnya dipakai untuk menamakan endapan rombakan dan resedimented deposits yang kaya akan 4

McPhie dkk (1993)

piroklas. Dewasa ini tidak ada tata peristilahan yang memadai untuk endapan autoklastik, resedimented syn-eruptive pyroclastic, dan resedimented autoclastic deposits. Istilah-istilah pada tabel 3 hanya istilah-istilah yang sering digunakan, dengan sedikit modifikasi agar konsisten dengan skema penggolongan besar butir endapan piroklastik dan endapan sedimen vulkanogenik. Endapan vulkanik purba dapat mengandung kumpulan mineral non-primer sebagai produk metamorfisme atau alterasi hidrotermal. Perbedaan asal-usul tersebut sangat penting artinya dalam eksplorasi mineral. Untuk endapan vulkanik koheren dan vulkaniklastik, peristilahan deskriptif dapat mencakup penjelasan mengenai mineral ubahan dan penyebaran-nya (tabel 1, 2). Tidak dicantumkannya istilah-istilah alterasi mengimplikasikan bahwa suatu endapan tidak terubah. Mineral-mineral ubahan yang sering ditemukan dalam lintap endapan vulkanik yang mengandung endapan sulfida adalah: 1. Klorit. Mineral ini sering ditemukan dalam endapan vulkanik basaltik dan andesitik yang mengalami metamorfisme. Walau demikian, mineral ini juga tidak jarang merupakan produk alterasi hidrotermal dalam endapan vulkanik silikaan (riolitik dan dasitik) yang ada pada footwall dari endapan vulkanik yang mengandung sulfida masif (volcanic-hosted massive sulfide; VHMS). 2. Serisit. Mineral ini seringkali merupakan mineral ubahan dari endapan vulkanik silikaan, khususnya endapan vulkani-klastik. Mineral ini juga merupakan mineral utama yang terbentuk akibat alterasi hidrotermal dalam footwall dari endapan VHMS dan sedimen kimia yang berhubungan dengannya. 3. Silika. Mineral-mineral ini umumnya merupakan produk alterasi hidrotermal terhadap semua jenis endapan vulkanik, namun tidak pernah terbentuk pada fasa metamorfisme. 4. Pirit. Mineral ini merupakan produk alterasi hidrotermal yang penting dan terbentuk dengan baik pada footwall dari endapan VHMS. 5. Karbonat. Mineral-mineral ini seringkali berasosiasi dengan metamorfisme endapan vulkanik dasitik, andesitik, dan basaltik. Selain itu, mineral-mineral ini juga dapat terbentuk akibat alterasi hidrotermal terhadap batuan yang dekat dengan endapan VHMS. 6. Epidot. Mineral ini jarang terbentuk pada fasa alterasi hidrotermal, namun sering ditemukan sebagai produk metamorfisme endapan vulkanik andesitik dan basaltik. 7. Mineral-mineral lain yang kadang-kadang merupakan produk alterasi hidrotermal yang berasosiasi dengan endapan VHMS adalah albit, K-felspar, hematit, dan berbagai jenis mineral lempung. 1.6 TEKNIK GRAPHIC LOGGING Graphic logging adalah tampilan visual dari lintap endapan vulkanik dan/atau endapan sedimen. Tujuan pembuatan graphic log adalah untuk merekam variasi tekstur, struktur, bedform, besar butir, dan kontak batuan secara skematis dan sederhana. Graphic logging terutama sangat berguna dan efektif untuk menampilkan pemampang lubang pengeboran. Graphic log dapat dengan segera mengingatkan seorang peneliti terhadap kenampakan asli dari endapan. Pembuatan graphic log memerlukan pengamatan yang disiplin dan terarah pada variasi internal, posisi dan khuluk bidang kontak, serta hubungan antar endapan sebagaimana dalam urut-urutan alaminya. Pola pencatatan data seperti ini tidak hanya dimaksudkan agar seorang peneliti dapat memperoleh data yang teratur, namun juga akan membantunya dalam menafsir-kan proses pengangkutan dan pengendapan serta lingkungan pengendapan endapan yang diamati. Sebagian besar drill log yang ada sekarang dirancang untuk dapat digunakan dalam pengolahan secara komputasional sehingga kurang cocok digunakan untuk analisis tekstur dan penafsiran vulkanologi. Format graphic log relatif sederhana. Sumbu vertikal menyatakan kedalaman atau ketebalan; sumbu horizontal me-nyatakan besar butir rata-rata. Ruang yang masih ada dapat dimanfaatkan untuk mencatat younging indicator, ukuran struktur, besar butir maksimum, informasi mengenai sampel, dan pemerian litologi secara singkat dan padat. Buku catatan lapangan biasa dan lembaran log standar dapat dimodifikasi agar sesuai dengan format ini (gambar 7, 8). Simbol-simbol tertentu (gambar 9) dapat digunakan untuk menyatakan komposisi dan tekstur. Simbol-simbol komposisi 5

McPhie dkk (1993)

menyatakan tafsiran mengenai komposisi kimia serta ukuran dan kelimpahan fenokris. Simbol-simbol tersebut dapat digunakan baik untuk fasies koheren maupun fasies juvenil yang pada dasarnya merupakan fasies klastika monomik. Simbol tekstur menyatakan kenampakan satuan vulkanik, termasuk jenis komponen, penyebarannya, dan kelimpahan relatifnya. Lava dan intrusi koheren-masif dapat dinyatakan dengan simbol-simbol komposisi saja. Endapan vulkaniklastik juvenil yang kaya akan kecur serta breksi in situ yang berkaitan dengan lava atau intrusi dapat ditampilkan dengan kombinasi simbol-simbol tekstur dan komposisi. Banyak simbol tekstur juga mengimplikasikan besar butir, seperti yang biasa digunakan dalam sedimentologi. Simbol-simbol untuk struktur sedimen dan untuk sedimen non-vulkanik adalah sama dengan simbol-simbol yang biasa digunakan dalam sedimentologi. Penentuan puncak dan dasar log merupakan bagian yang paling jelas, namun tidak berarti selalu mudah, dilakukan. Ancangan yang lebih baik adalah meninjau secara cepat seluruh singkapan yang akan ada, untuk mencari bagian yang paling jelas dan paling mudah dicandra, kemudian mulai dari situ. Setelah membuat log pada bagian ini, seorang peneliti biasanya akan lebih mudah untuk memeriksa bagian-bagian singkapan yang lebih kompleks hingga akhirnya seluruh singkapan itu dapat dicandra dan tercatat dalam buku lapangan. Kontak atau pola hubungan yang kompleks dapat dicatat secara tersendiri dalam suatu penampang yang skalanya lebih besar. Pemerian hendaknya terdiri dari istilah-istilah litologi dan litofasies yang berfungsi sebagai pelengkap dari apa yang telah terekam dalam graphic log, disertai dengan data-data tambahan seperti persentase komponen-komponen penting, misalnya fenokris, serta jenis-jenis kecur. Secara umum, setiap satuan pengendapan dicatat satu demi satu sehingga si peneliti dapat mengetahui khuluk dan posisi bidang kontak. Untuk batuan yang telah terubah, pemerian hendaknya juga mencakup kehadiran tekstur dan mineral ubahan. Graphic logging sangat serbaguna dan dapat diadaptasikan untuk merekam gejala khusus. Walau demikian, setiap peneliti sebaiknya melakukan pengamatan dan pencatatan secara konsisten pada setiap proyek penelitiannya. 1.7 TEKSTUR DAN STRUKTUR PENTING Ada beberapa jenis tekstur dan struktur yang penting untuk menafsirkan genesis dan/atau tatanan endapan vulkanik. Karena itu, apabila seorang peneliti dapat sejak awal mengenal tekstur dan struktur tersebut, maka proses penelitiannya akan dapat lebih cepat dilakukan dan lebih cepat sampai pada kesimpulan vulkanologi yang diharapkan. Tekstur dan struktur yang dimaksud adalah: Tekstur porfiritik (porphyritic texture). Tekstur ini ditemukan dalam lava, synvolcanic eruptions, ignimbrit yang mirip dengan lava, dan kecur-kecur yang berasal dari endapan-endapan tersebut. Tekstur sfelurit (sphelurite), litofise (lithophysae), dan mikropoikilitik (micropoikilitic). Tekstur-tekstur ini mengindikasi-kan devitrifikasi temperatur tinggi dari gelas vulkanik koheren. Perlit. Tekstur ini mengindikasikan hidrasi (atau quenching?) gelas vulkanik koheren. Accretionary lapilli. Endapan ini terbentuk akibat letusan eksplosif yang terjadi di atas muka air, namun mungkin mengalami pengendapan ulang dan perombakan. Foliasi aliran (flow foliation). Struktur ini ditemukan dalam lava, syn-volcanic intrusion, dan ignimbrit rheomorphic dan ignimbrit yang mirip dengan lava. Kekar kolom (columnar joint). Kekar ini ditemukan dalam lava, syn-volcanic intrusion, dan endapan vulkaniklastik primer (khususnya endapan piroklastik) yang sewaktu mengalir berada dalam keadaan panas. Struktur bantal (pillow structure). Struktur ini ditemukan dalam lava yang diendapkan di perairan dan intrusi yang menembus sedimen basah. Graded bedding. Struktur ini mengindikasikan pengendapan dari aliran massa atau suspensi. Perlapisan mendatar tipis (planar thin bedding). Struktur ini mengindikasikan pengendapan dari arus traksi atau suspensi. Stratifikasi silang-siur (cross-stratification). Struktur ini mengindikasikan pengendapan oleh arus traksi. Tidak sedikit komponen atau tekstur yang sebenarnya bukan merupakan gejala diagnostik. Sebagian diantaranya, yang sering disalahtafsirkan, adalah:

McPhie dkk (1993)

Vesikel (vesicle). Gejala ini ditemukan dalam lava, intrusi, non-welded pyroclastic deposits, atau very densely welded pyroclastic deposits. Glass shards. Material ini dapat ditemukan dalam hialoklastit (hyaloclastite), endapan piroklastik primer, syn-eruptive resedimented volcaniclastic, dan endapan sedimen vulkanogenik. Fiamme. Gejala ini ditemukan dalam endapan pumice primer atau sekunder yang terkompaksikan akibat diagenesis dan non-welded serta dalam endapan piroklastik primer yang welded (baik endapan aliran maupun endapan jatuhan). Pseudo-fiamme. Gejala ini ditemukan dalam berbagai endapan vulkanik yang telah terdeformasi dan terubah.