Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH METODE PEMERIKSAAN GLUKOSA DENGAN METODE GOD-PAP DAN HbA1C

Oleh : Ghina Khalda Nabila 10613034

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2012

PENDAHULUAN
Tubuh manusia mengandung glukosa darah, atau yang biasa disebut adalah gula darah. Glukosa darah adalah gula utama yang dihasilkan oleh tubuh dari makanan yang dikonsumsi. Glukosa dihasilkan dari makanan yang mengandungi karbohidrat yang terdiri dari monosakarida, disakarida dan juga polisakarida. Karbohidrat akan dikonversikan menjadi glukosa di dalam hati dan seterusnya berguna untuk pembentukan energi dalam tubuh. Glukosa dihasilkan dari makanan yang mengandungi karbohidrat yang terdiri dari monosakarida, disakarida dan juga polisakarida. Karbohidrat akan dikonversikan menjadi glukosa di dalam hati dan seterusnya berguna untuk pembentukan energi dalam tubuh. Glukosa memiliki peranan penting dalam tubuh yang digunakan sebagai sumber utama energi pada sel otak dan eritrosit. Glukosa dibawa keseluruh tubuh melalui pembuluh darah untuk menghasilkan energi ke semua sel di dalam tubuh. Glukosa tersebut akan diserap oleh usus halus kemudian akan dibawa oleh aliran darah dan didistribusikan ke seluruh sel tubuh. Glukosa yang berlebih disimpan dalam tubuh berupa glikogen yang disimpan di dalam otot dan hati. Selain itu, glukosa juga disimpan pada plasma darah dalam bentuk glukosa darah (blood glucose). Meskipun memiliki peranan penting dalam tubuh akan tetapi kelebihan glukosa dalam darah akan memiliki dampak negatif yang dapat menyebabkan komplikasi dalam tubuh, diantaranya yaitu retinopatik pada retina mata, neuropatik yaitu kerusakan syaraf , nefropatik atau kerusakan ginjal, dan lain lain. Pasien yang mengalami kadar glukosa berlebih dalam tubuh tidak akan merasakan sakit, akan tetapi bahaya akibat komplikasi itulah yang harus ditanggulangi agar tidak menimbulkan akibat yang fatal. Untuk mengetahui kadar glukosa dalam darah hanya dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan laboratorium. Ada berbagai jenis metode untuk pemeriksaan glukosa antara lain; Somogyi-Nelson, Folin-Wu, Hagendom-Jense, Kingrey-Reinhold, Ortotoluidine, Hexokinase, GOD-PAP dan Gluostick. Masing-masing laboratorium memiliki metode pemeriksaan berbeda-beda tergantung dari kebijakan laboratorium tersebut. Namun dalam makalah ini kami akan membahas pemeriksaan glukosa darah menggunakan metode GODPAP dan HbA1C sebagai pembandingnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Dalam menentukan kadar glukosa terdapat beberapa metode yang digunakan. Sejauh ini metode yang paling sering digunakan dalam penentuan kadar glukosa yaitu metode GODPAP dan metode HbA1c. Metode yang digunakan sangat membantu dalam proses analisis yang selanjutnya akan digunakan untuk manajemen pasien dan digunakan untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus (1). Kandungan glukosa darah yang diukur dengan menggunakan metode glukose oxidasphenol amino phenazone (GOD-PAP) atau tes warna enzimatis yang ditemukan oleh Schmidt (1971) yang dikembangkan oleh Boehminger Manheim London. Dengan menggunakan metode ini, glukosa bereaksi dengan H2O dan O2 di udara dengan bantuan enzim glukose oksidase akan membentuk glukonate dan H2O2. Hidrogen peroksida yang dihasilkan akan bereaksi dengan phenol dan aminophenazone dengan bantuan enzim phenol oksidase akan menghasilkan senyawa 4 (P- benzoquinon monoamino) phenazone dan H2O yang berwarna antara merah muda sampai hijau. Sampel darah diambil dari vena jugularis dengan menggunakan alat suntik 1 ml kemudian diteteskan pada strip regensia yang mengandung pengoksidasi seperti phenol 11 mmol/1, lemak alkohol poliglicerol eter 0,24% dan peroksida 0,9 v/ml dan glukosa standar 15 v/ml. Kemudian dimasukkan pada celah refroluks untuk dapat dibaca serapannya oleh reflektans Boehninger pada panjang gelombang 600 800 nm dan hasilnya akan terlihat dalam monitor setelah 2 menit.benzoquinon monoamino) phenazone dan H2O yang berwarna antara merah muda sampai hijau(1). Pengukuran kadar glukosa darah hanya memberikan informasi mengenai homeostasis glukosa yang sesaat dan tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi pengendalian glukosa jangka panjang (mis. beberapa minggu sebelumnya). Untuk keperluan ini dilakukan pengukuran hemoglobin terglikosilasi dalam eritrosit atau juga dinamakan hemoglobin glikosilat atau hemoglobin A1c (HbA1c). HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi antara glukosa dengan hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh bagian tubuh). HbA1c yang terbentuk akan tersimpan dan tetap bertahan di dalam sel darah merah selama 3 bulan, sesuai masa hidup sel darah merah. Jumlah HbA1c yang terbentuk, tergantung kadar glukosa di dalam darah sehingga hasil pemeriksaan HbA1c dapat menggambarkan rata-rata kadar glukosa darah selama 3 bulan. Hemoglobin glikosilat atau HbA1c dapat diukur dengan beberapa metode, seperti kromatografi afinitas, elektroforesis, immunoassay, atau metode afinitas boronat. Spesimen yang digunakan untuk pengukuran

HbA1c adalah : darah kapiler atau vena dengan antikoagulan (EDTA, sitrat, atau heparin). Hindari terjadinya hemolisis selama pengumpulan sampel. Batasan asupan karbohidrat sebelum dilakukan uji laboratorium sifatnya dianjurkan(2).

PEMBAHASAN
Metode GOD/ PAP tidak memerlukan kondisi lingkungan khusus. Reaksi selama penetapan terjadi secara otomatis pada peralatan yang dilengkapi dengan sistem kontrol panas. Lingkungan kondisi operasi adalah sebagai berikut: suhu 21 2oC dan kelembaban 40-60%. Analisa ini digunakan sesuai dengan rekomendasi yang telah ditetapkan oleh manufaktur pada pemeliharaan harian maupun berkala. Dalam sebuah penelitian ketika mengevaluasi pengukuran rentang dari suatu informasi metode GOD/ PAP yang menetapkan 450 mg / dL sebagai batas maksimum linieritas untuk pengukuran glukosa serum. Rentang pengukuran dengan tes pengulangan pada sampel pasien dengan serum yang memiliki konsentrasi glukosa lebih tinggi dari kalibrator. Pemilihan sampel secara acak pada 3 pasien dengan nilai lebih tinggi dari 272,04 mg / dL (Konsentrasi kalibrator) dan lebih rendah dari 450 mg / dL (batas maksimum linearitas yang telah ditetapkan manufaktur) dan sampel dengan lebih tinggi dari 450 mg / dL konsentrasi. Dalam kesimpulan laporan validasi telah disebutkan bahwa hasil serum glukosa oleh GOD/ PAP yang kredibel, memiliki presisi dan akurasi dan disertai oleh berbagai kepercayaan diterima dalam batas-batas dari literatur tertentu. Metode GOD/PAP digunakan untuk pengukuran kuantitatif kadar glukosa dalam serum pada kondisi tubuh yang sehat dan yang mengalami gangguan metabolisme karbohidrat. Metode GOD/PAP pada penentuan kadar glukosa dalam serum dapat dikatakan sesuai dengan spesifikasi dalam laboratorium apabila orang yang bertugas adalah orang yang berkompeten yang profesional, memiliki kemampuan dan pengalaman , kondisi lingkungan laboratorium yang tidak berubah selama proses, peralatan kerja yang telah di kalibrasi berdasarkan cara pembuatan yang telah di rekomendasi, reagen yang siap digunakan; bahan acuan dapat di telusuri untuk bahan referensi yang telah di sertifikasi, dan adanya parameter evaluasi kinerja (1). Enzim glukosa oksidase digunakan sebagai uji spesifik untuk glukosa di dalam darah dan urine. Enzim glukosa oksidase adalah enzim yang mengandung FAD yang di produksi secara ekstraseluler oleh beberapa jenis fungi. Enzim ini mengoksidasi glukosa menjadi D-

Glukono--lakton dan mereduksi oksigen menjadi hydrogen peroksida. Lakton merupakan produk primer dihidroksi secara enzimatis menjadi asam glukonat(1). Metode GOD-PAP adalah metode yang sangat spesifik untuk pengukuran glukosa di dalam serum atau plasma melalui reaksi dengan glukosa oksidase, asam glukonat serta di bentuk hydrogen peroksida. Pemeriksaan dengan metode ini dianjurkan menggunakan plasma darah yang diambil langsung dari vena di sekitar lipatan siku. Hal ini disebabkan metode GOD-PAP di nilai bersifat lebih spesifik karena yang diukur hanya kadar glukosa. Glukometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar glukosa. Dengan alat ini kadar glukosa darah dapat diukur dengan cepat dan alatnya mudah di bawa kemanapun. Keuntungan menggunakan glukometer yaitu waktu yang digunakan untuk mengetahui hasil pemeriksaan glukosa darah lebih cepat, bentuk alat yang kecil sehingga memudahkan untuk dibawa, dan volume sampel yang di gunakan sedikit. Sedangkan kerugiannya adalah range pada alat adalah 20 mg/dl 600 mg/dl sehingga hasil yang di bawah 20 mg/dl atau yang di atas 600 mg/dl tidak dapat keluar, dan juga hasil yang diperoleh dapat di pengaruhi oleh zatzat interferen karena tidak menggunakan deproteinase(3). Pengukuran kadar glukosa dengan metode HPLC berbasis yaitu dengan cara membandingkan nilai HbA1c yang diukur menggunakan metode HPLC dan nilai HbA1c yang diturunkan menggunakan metode immunoturbidimetric yang diperoleh dari system informasi laboratorium dari pasien diabetes yang didiagnosis dengan hemoglobin varian. Pengukuran HbA1c dengan metode HPLC dilakukan pada ethylendiamin tetra-acetic acid (EDTA) sampel darah menggunakan ion-exchange HPLC. Regresi linier dan koefisien korelasi digunakan untuk menentukan apakah keberadaan hemoglobin varian menyebabkan perbedaan statistik yang signifikan (P<0,05) dalam hasil HbA1c diukur dengan relative HPLC untuk immunoassay sebagai metode perbandingan(4). Pengukuran HbA1c pada pasien diabetes sebagai marker untuk mengevaluasi pengendalian jangka panjang dari diabetes adalah pertama kali diusulkan oleh Koenig dkk. pada tahun 1976. Meskipun keandalan dari marker ini telah berproses teruji oleh waktu diketahui bahwa hemoglobinopathies bisa memberikan nilai menyimpang. Itu adanya hemoglobin yang abnormal menimbulkan tantangan teknis dalam penentuan HbA1c bersama dengan interpretasi perbedaan. Selain itu hemoglobin beberapa varian molekul dianggap memiliki pengaruh langsung pada proses yang sangat glikasi HbA(2). Karena HbA1c terkandung dalm eritrosit yang hidup sekitar 3 bulan, maka HbA1c mencerminkan pengendalian metabolisme glukosa selama 3-4 bulan. Hal ini lebih menguntungkan secara klinis karena memberikan informasi yang lebih jelas tentang keadaan

penderita dan seberapa efektif terapi diabetik yang diberikan. Peningkatan kadar HbA1c > 8% mengindikasikan diabetes mellitus yang tidak terkendali, dan penderita berisiko tinggi mengalami komplikasi jangka panjang, seperti nefropati, retinopati, neuropati, dan/atau kardiopati(4). Kekurangan metode ini ketidak akuratan nilai HbA1c hemoglobin varian atau derivate yang terglikasi dapat terjadi ketika tidak dapat dipisahkan dari HbA atau

HbA1c. Co-elusi varian hemoglobin dengan HbA1c akan menyebabkan overestimasi kotor HbA1c, sementara co-elusi varian hemoglobin dengan HbA, dengan resolusi varian hemoglobin terglikasi dari HbA1c akan meremehkan hasil HbA1c. pengukurun HbA1c dengan metode basis immunoassay menggunakan anti body yang mengenali N-terminal terglikasi asam amino dari beta globin. Oleh karena itu varian hemoglobin dengan mutasi ini akan sangat mempengaruhi pengukuran HbA1c oleh immunoassay. Metode ini sangat bergantung pada varian hemoglobin. Sedangkan kelebihan metode ini adalah pengukuran yang dapat meminimalisir kesalahan karena adanya perbandingan hasil pengukuran. Dengan teknis; diambil sampel darah dari pasien yang didiagnosis diabetes dengan hemoglobin varian kemudian dilakukan pengukuran kadar HbA1c dengan menggunakan metode HPLC dan immunoturbidimetric. Pada metode immunotubidimetric nilai BhA1c diekstraksi dari LIS dalam 2 bulan waktu framw dari saat sampling(5). DAFTAR PUSTAKA Dumitriu, Irina L., Gurzu, Bogdan., Cojocaru, Elena., Slatineanu, Simona M., Enea, Maria. Validation of GOD/PAP method for quantitative determination of glucose concentration in human serum. Revista Romn de Medicin de Laborato 2011. 1(1):85100
(1)

Bhat, Vijay S. , Dewan, Kalyan Kumar, Krishnaswamy. Diagnostic Dilemma of HbA1c Detection in Presence of a Hemoglobinopathy : A Case Report. Ind J Clin Biochem (Jan-Mar 2011) 26(1):9195
(2)

Mahmudah, Rifatul.2010. Perbedaan Hasil Kadar Glukosa Darah Puasa pada Sampel Langsung diperiksa dan Sampel ditangguhkan 2 Jam pada Penderita Diabetes Mellitus dengan metode GOD/PAP. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata
(3)

Nadzimah Mohd Nasir, M. Thevarajah, Chew Yee Yean. Hemoglobin variants detected by hemoglobin A1c (HbA1c) analysis and the effect on HbA1c measurements. Int J Diab Dev Ctries (April-June 2010) 30(2): 86-90
(4)

Soeatmadji, D.W. , Aswin, A., Pirgayanti, N.L.M. Pengaruh Proporsi 60-70% Karbohirat dalam Diit Terhadap Kadar Glukosa dan Profil Lemak Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Unit Rawat Jalan RSUD dr. Saiful Anwar Malang. 1-9
(5)