Anda di halaman 1dari 30

1

BA B I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Batuan dan mineral yang ada di bumi memiliki sifat-sifat listrik
seperti potensial listrik alami, konduktivitas listrik, dan konstanta dielektrik.
Ada berbagai metode yang dilakukan untuk mengetahui kondisi dibawah
permukaan tanah. Salah satunya adalah metode geolistrik. Metode ini dapat
dijadikan cara untuk menyelidiki sifat listrik di dalam bumi melaui respon
yang ditangkap dari dalam tanah berupa beda potensial, arus listrik, dan
medan elektromagnetik. Salah satu dari metode geolistrik ini adalah metode
tahanan jenis.
Metode geolistrik resistivitas adalah salah satu metode yang cukup
banyak digunakan dalam dunia eksplorasi khususnya eksplorasi air tanah
karena resistivitas dari batuan sangat sensitif terhadap kandungan airnya
dimana bumi dianggap sebagai sebuah resistor. Metode geolistrik
resistivitas atau tahanan jenis adalah salah satu dari jenis metode geolistrik
yang digunakan untuk mempelajari keadaan bawah permukaan dengan cara
mempelajari sifat aliran listrik di dalam batuan di bawah permukaan bumi.
Metode resistivitas umumnya digunakan untuk eksplorasi dangkal,
sekitar 300 500 m. Prinsip dalam metode ini yaitu arus listrik diinjeksikan
ke alam bumi melalui dua elektroda arus, sedangkan beda potensial yang
terjadi diukur melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus
2

dan beda potensial listrik, dapat diperoleh variasi harga resistivitas listrik
pada lapisan di bawah titik ukur.
Metoda ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya
dangkal. Oleh karena itu metoda ini jarang digunakan untuk eksplorasi
minyak tetapi lebih banyak digunakan dalam bidang engineering geology
seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoar air dan
digunakan dalam eksplorasi panas bumi. Penulis menggunakan metode
geolistrik tahanan jenis untuk menentukan sifat batuan bawah permukaan
khususnya sifat batuan bawah pemukaan yang berlokasi di gerbang Unand.

1.2. Tujuan Penelitian
1. Memahami prinsip dasar metode geolistrik tahanan jenis.
2. Memahami prinsip kerja alat geolistrik tahanan jenis.
3. Melakukan dan memahami teknik akuisisi data geolistrik tahanan jenis
1D.
4. Melakukan dan memahami teknik pengolahan data geolistrik tahanan
jenis menggunakan software RESIST.
5. Melakukan dan memahami teknik interpretasi data geolistrik tahanan
jenis.
6. Menganalisa hasil interpretasi data geolistrik tahanan jenis 1D
konfigirasi Wenner dan konfigurasi Schlumberger dengan
membandingkan keduanya.


3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Metoda Geofisika
Metoda geofisika merupakan salah satu metoda yang memiliki
kekuatan dan kemampuan untuk menganalisa dan memberikan informasi
tentang struktur permukaan bumi, dan sumber daya alam apa saja yang
mampu diraih dan dikelola. Banyak sekali macam metoda geofisika, seperti
Metode gravitasi (gayaberat), magnetik, seismik, geolistrik (resistivitas) dan
elektromagnetik. dll.
Metode geofisika sebagai pendeteksi perbedaan tentang sifat fisis di
dalam bumi. Kemagnetan, kepadatan, kekenyalan, dan tahanan jenis adalah
sifat fisis yang paling umum digunakan untuk mengukur penelitian yang
memungkinkan perbedaan di dalam bumi untuk ditafsirkan kaitannya dengan
struktur mengenai lapisan tanah, berat jenis batuan dan rembesan isi air, dan
mutu air (Todd, 1980).
Perbedaan antara geofisika eksplorasi dengan geofisika dalam arti luas
terletak pada bagian bumi yang diselidiki. Geofisika eksplorasi mempelajari
sifat-sifat fisik dan struktur kerak bumi yang berhubungan dengan tujuan
praktis mencari sumbersumber atau lapisanlapisan yang mengandung
minyak bumi. Metode pengamatan geofisika pada dasarnya adalah
mendeteksi (mengamati) gangguan pada keadaan normal.
4

Secara praktis, metode yang umum digunakan di dalam geofisika
seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.1. Macam-macam Metode Geofisika
(sumber : Ismail, 2010)
Metode Parameter Yang Diukur Sifat Fisis Yang
Diukur
Seismik Waktu tiba gelombang
seismik pantul atau bias,
amplitudo dan
frekuensi gelombang seismik
Densitas dan
modulus elastisitas
yang menentukan
kecepatan rambat
gelombang seismic
Gravitasi Variasi harga percepatan
gravitasi bumi pada posisi
yang berbeda
Densitas
Magnetik Variasi harga intensitas
medan magnetik pada posisi
yang berbeda
Suseptibilitas atau
remanen magnetic
Resistivitas Harga resistansi dari bumi Konduktivitas listrik
Elektromagnetik Respon terhadap radiasi
elektromagnetik
Konduktivitas atau
Induktansi listrik
Potensial Diri Potensial listrik Konduktivitas listrik

a. Metode gravitasi (metode gaya berat)
Metode gravitasi merupakan metode geofisika yang didasarkan pada
pengukuran variasi medan gravitasi. Dalam metode ini yang dipelajari
adalah variasi medan gravitasi akibat variasi rapat massa batuan di bawah
permukaan sehingga dalam pelaksanaannya yang diselidiki adalah
perbedaan medan gravitasi dari suatu titik observasi terhadap titik
5

observasi lainnya. Metode gravitasi umumnya digunakan dalam eksplorasi
jebakan minyak (oil trap). Disamping itu metode ini juga banyak dipakai
dalam eksplorasi mineral dan lainnya. Prinsip pada metode ini mempunyai
kemampuan dalam membedakan rapat massa suatu material terhadap
lingkungan sekitarnya. Dengan demikian struktur bawah permukaan dapat
diketahui.
b. Metode Magnetik
Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas
medan magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi
distribusi benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Dalam
magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besar vektor
magnetisasi. sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor
percepatan gravitasi. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi
pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta serta bisa
diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.
c. Metode seismik
Metode seismik didasarkan pada gelombang yang menjalar baik
refleksi maupun refraksi.
d. Metode Geolistrik (Metode Resistivitas)
Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari
sifat aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di
permukaan bumi. Dalam hal ini meliputi pengukuran potensial, arus dan
medan elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah ataupun akibat
6

injeksi arus ke dalam bumi. Ada beberapa macam metoda geolistrik,
antara lain: metode potensial diri, arus telluric, magnetoteluric,
elektromagnetik, IP (Induced Polarization), resistivitas (tahanan jenis) dan
lain-lain.
e. Metode Elektromagnetik VLF (Very Low Frequency)
Salah satu metode yang banyak digunakan dalam prospeksi geofisika
adalah metode elektromagnetik. Metode elektromagnetik biasanya
digunakan untuk eksplorasi benda-benda konduktif. Perubahan komponen-
komponen medan akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk
menentukan struktur bawah permukaan. Contoh metode ini adalah Turam
elektromagnetik.

2.1.2 Metoda Geolistrik Tahanan Jenis
Metoda geolistrik adalah salah satu metoda geofisika yg didasarkan
pada penerapan konsep kelistrikan pada masalah kebumian. Tujuannya adalah
untuk memperkirakan sifat kelistrikan medium atau formasi batuan bawah-
permukaan terutama kemampuannya untuk menghantarkan atau menghambat
listrik (konduktivitas atau resistivitas). Ada beberapa macam metoda
geolistrik, antara lain: metode potensial diri, arus telluric, magnetoteluric,
elektromagnetik, IP (Induced Polarization), resistivitas (tahanan jenis) dan
lain-lain.
Dalam bahasan ini dibahas khusus metode geolistrik tahanan jenis.
Pada metode geolistrik tahanan jenis ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam
bumi melalui dua elektroda arus. Kemudian beda potensial yang terjadi
7

diukur melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda
potensial untuk setiap jarak elektroda yang berbeda kemudian dapat
diturunkan variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik
ukur (sounding point).
Dalam bahasan ini dibahas khusus metode geolistrik tahanan jenis.
Pada metode geolistrik tahanan jenis ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam
bumi melalui dua elektroda arus. Kemudian beda potensial yang terjadi
diukur melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda
potensial untuk setiap jarak elektroda yang berbeda kemudian dapat
diturunkan variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik
ukur (sounding point). Berdasarkan letak (konfigurasi) elektroda-elektroda
arus, dikenal beberapa jenis metode resistivitas tahanan jenis, antara lain :
Metode Schlumberger, Metode Wenner, dan Metode Dipole Sounding.

Gambar 2.1 Bentuk Posisi titik Sounding di lapangan
(sumber: Furce dan Weller, 2002)

Tegangan listrik yang terjadi di permukaan tanah diukur dengan
menggunakan multimeter melalui dua buah elektroda potensial N dan M yang
jaraknya lebih pendek dari elektroda arus A dan B. Bila posisi jarak elektroda
8

AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan listrik yang terjadi pada
elektroda MN ikut berubah sesuai dengan informasi jenis batuan yang ikut
terinjeksi arus listrik pada kedalaman yang lebih besar.
Dengan asumsi bahwa kedalaman lapisan batuan yang bisa ditembus
oleh arus listrik ini sama dengan setengah dari jarak AB yang biasa disebut
dengan

, maka diperkirakan pengaruh dari injeksi aliran arus listrik


berbentuk setengan bola dengan jari-jari

.
Pengukuran bawah permukaan dengan arus yang tetap akan diperoleh
suatu variasi beda tegangan yang berakibat akan terdapat variasi resistansi
yang akan membawa suatu informasi tentang struktur dan material yang
dilewatinya.
Prinsip ini sama halnya dengan menganggap bahwa material bumi
memiliki sifat resistif atau seperti perilaku resistor, dimana material-
materialnya memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghantarkan arus
listrik. Ilustrasi garis ekipotensial yang terjadi akibat injeksi arus ditunjukkan
pada dua titik arus yang berlawanan di permukaan bumi dapat dilihat pada
gambar 1.

Gambar 2.2. Pola aliran arus dan bidang ekipotensial
(sumber: Bahri, 2005)
9

Berdasarkan pada tujuan penyelidikan, metoda ini dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu metoda resistivity mapping dan sounding.
Metoda resistivity mapping merupakan metoda resistivitas yang bertujuan
untuk mempelajari variasi tahanan jenis lapisan bawah permukaan secara
horizontal. Oleh karena itu, pada metoda ini digunakan konfigurasi
elektroda yang sama untuk setiap titik pengamatan di permukaan bumi.
Setelah itu baru dibuat kontur isoresisitivitasnya. Sementara metoda
resistivity sounding juga dikenal sebagai resistivity drilling, resistivity
probing dan lain-lain. Hal ini disebabkan metoda ini bertujuan untuk
mempelajari variasi resistivitas batuan di bawah permukaan bumi secara
vertikal.

Gambar 2.3. Skema Geolistrik Bawah Permukaan
(sumber: Bahri, 2005)

2.1.3 Sifat Kelistrikan Batuan
Aliran arus listrik batuan terbagi atas 3 macam, yaitu konduksi secara
elektronik, konduksi secara elektrolitik dan konduksi secara dielektrik.
Konduksi secara elektronik terjadi jika batuan mempunyai banyak elektron
10

bebas sehingga arus listrik dialirkan dalam batuan tersebut oleh elektron-
elektron bebas itu.
Konduksi elektrolitik terjadi jika batuanl bersifat porus dan pori-pori
tersebut terisi oleh cairan-cairan elektrolitik. Pada konduksi ini arus listrik
dibawa oleh ion-ion elektrolit sedangkan konduksi dielektrik terjadi jika
batuan/mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik yaitu terjadi
polarisasi saat bahan dialiri listrik.
Potensial listrik batuan adalah potensial listrik alam atau potensial diri
disebabkan terjadinya kegiatan elektrokimia atau kegiatan alam. Faktor
pengontrol dari semua kejadian ini adalah air tanah. Berdasarkan harga
resistivitas listriknya, batuan/mineral digolongkan menjadi tiga yaitu:
1. Konduktor baik : 10
6
< < 1 m
2. Konduktor pertengahan : 1 < < 10
7
m
3. Isolator : > 10
7
m
Rumus Dasar Kelistrikan dalam metode resistivitas ini digunakan
definisi-definisi sebagai berikut :
a) Resistansi
I
V
R = dengan satuan ohm () (2.1)
b) Resistivitas (Tahanan Jenis)
J
E
= dengan satuan ohm.meter ( m) (2.2)
c) Konduktivitas
11

o
1
=

dengan satuan ohm.meter ( m)
-1
(2.3)

Untuk batang konduktor dengan panjang L, luas penampang A dan
tahanan jenis maka resistansinya adalah :
A
L
R = (2.4)
2.1.4 Aliran Listrik dalam Bumi
Tinjau suatu medium homogen isotropis. Jika medium tersebut dialiri
arus listrik searah I (diberi medan listrik E) maka alemen arus I yang
melalui elemen luas A dengan kerapatan arus J adalah :
I = J. A (2.5)
J = E (Hukum ohm) (2.6)
E = -V (2.7)
Jika didalam medium tidak ada arus maka :
(2.8)
Menurut Hukum Gauss
(2.9)
sehingga (hukum kekekalan muatan)
(2.10)
Dalam koordinat bola operator Laplacian berbentuk
12

(2.11)
Karena anggapan homogen isotropis maka bumi mempunyai simetri bola,
maka persamaan diatas dapat dituliskan :
(2.12)
Maka persamaan Laplace untuk kasus ini adalah:
(2.13)
dengan C1 danC2 konstanta sembarang.
2.1.5 Potensial di Sekitar Titik Arus
1) Titik Arus Di Dalam Bumi
Di dalam bumi, arus akan menyebar secara melingkar dari titik arusnya.
Jika titik arus berupa satu titik di tengah-tengah bumi (didalam tanah), kuat
arusnya seperti pada permukaan bola dengan jari-jari r, dengan persamaan
matematisnya :
|
.
|

\
|
c
c
= =
r
V
r J r I o t t
2 2
4 4 (2.14)
dimana J adalah arus-volume, dan adalah kerapatan arus dengan harga
konstanta C
1
, yaitu :
t

4
1
I
C = (2.15)
Dengan demikian
13


I
V
r t 4 = (2.16)
Jika titik arus berada di permukaan bumi, arah arus menjalar berupa
setengah bola karena hanya menjalar pada medium konduktor di bawah
tanah. Beda potensial tidak terjadi jika tidak ada polarisasi.

Gambar 2.4 Arah penjalaran arus dengan injeksi di dalam bumi
(Sumber : Verhoef, 2008)

2) Dua titik arus yang berlawanan polaritas di permukaan bumi

Gambar 2.5 Arah penjalaran arus dengan injeksi di permukaan bumi
(Sumber : Verhoef, 2008)

Permukaan yang dilalui arus I adalah setengah bola = 2r
2
sehingga :

(2.17)
(2.18)
14

3) Dua Titik Arus Yang Berlawanan Polaritasnya Di Permukaan
Bumi


Gambar 2.6 Arah penjalaran dengan dua titik injeksi di permukaan bumi
(Sumber : Keller, 1970)

Beda potensial yang terjadi antara MN yang diakibatkan oleh injeksi arus
pada AB adalah :
(2.19)
(2.20)
dengan :
(2.21)
2.1.6 Konsep Resistivitas Semu
Bumi bersifat homogen. Bumi terdiri atas lapisan-lapisan dengan
berbeda-beda, berpengaruh pada potensial yang terukur dari lapisan-lapisan
tersebut, harga resistivitas yang diperoleh bukan merupakan harga resistivitas
yang sebenarnya dari lapisan yang sedang diselidiki.
15

I
V
K
a
A
=
(2.22)
Dimana :
a
adalah resistivitas semu yang bergantung pada spasi elektroda.
Resistivitas semu merupakan resistivitas dari suatu medium fiktif
homogen yang ekivalen dengan medium berlapis yang ditinjau. Contoh
medium berlapis yang ditinjau terdiri atas dua lapisan yang mempunyai
resistivitas berbeda (
1
dan
2
), medium dua lapis ini dianggap sebagai
medium satu lapis homogen mempunyai satu harga resistivitas (resistivitas
semu)
a
.
2.1.7 Konfigurasi Elektroda
Metode geolistrik tahanan jenis, arus dialirkan ke dalam bumi melalui
elektroda arus. Kemudian besar beda potensial yang dihasilkan diukur di
permukaan bumi melalui dua buah elektroda potensial. Besar beda potensial
yang dihasilkan selain bergantung pada besar arus yang diinjeksikan juga
bergantung pada susunan elektroda-elektroda. Berdasarkan letak (konfigurasi)
elektroda-elektroda arus dan potensialnya, dikenal beberapa jenis metode
geolistrik tahanan jenis, antara lain Metode Schlumberger, Metode Wenner
dan Metode Dipole Sounding.
2.1.8 Konfigurasi Wenner
Konfigurasi Wenner ditemukan oleh Wenner di Amerika, dimana
keempat elektrodanya terletak dalam satu garis dan simetris terhadap titik
tengah. Pada konfigurasi Wenner, elektroda arus dan potensial diletakkan
16

simetris terhadap titik sounding. Jarak antar elektroda arus (AB) adalah tiga
kali jarak antar elektroda potensial (MN). Persamaan resistivitasnya adalah :
I
V
K
W W
A
= (2.23)
dimana a K
W
t 2 = (2.24)
Konfigurasi Wenner, elektroda arus dan potensial diletakkan simetris
terhadap titik sounding. M, N digunakan sebagai elektroda potensial dan A, B
sebagai elektroda arus.

Gambar 2.7 Skema konfigurasi elektoroda Wenner
(sumber: Arif Budiman, 2011)
Nilai resistivitas untuk konfigurasi ini diberikan:
(2.25)
Secara garis besar sifat-sifat metoda geolistrik konfigurasi Wenner
dapat dilihat dibawah ini :
a. Karena elektroda arus dan elektroda potensial selalu berubahubah maka
konfigurasi Wenner sangat sensitif terhadap adanya ketidak-homogenan
local
17

b. Pengukuran yang dilakukan cukup sensitif karena jarak elektroda
potensial cukup besar, akibatnya beda potensial yang terukur diantaranya
cukup besar pula.
c. Diperlukan cukup banyak pekerja karena elektroda harus pindah setiap
saat.
2.1.9 Konfigurasi Schlumberger
Konfigurasi Schlumberger pertama kali diperkenalkan oleh Conrad
Schlumberger, dan banyak digunakan di Eropa. Seperti konfigurasi Wenner,
konfigurasi ini juga dapat digunakan untuk resistivity mapping dan resistivity
sounding, perbedaannya hanya pada letak elektroda-elektrodanya.
Pada konfigurasi Schlumberger jarak AB sudah relatif besar maka jarak
MN hendaknya dirubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar
dari 1/2 jarak AB. Konfigurasi Schlumberger jarak MN lebih besar daripada
jarak AB. Skema penempatan dari elektroda arus dan potensial adalah sebagai
berikut:

Gambar 2.8 Skema konfigurasi elektoroda Schlumberger
(sumber: Arif Budiman, 2011)
Nilai resistivitas untuk konfigurasi ini diberikan:
18

(2.26)
Keunggulan konfigurasi Schlumberger ini adalah kemampuan
mendeteksi adanya non-homogenetis lapisan batuan pada permukaan yaitu
dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi perubahan jarak
elektroda AB/2.
Kelemahan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah pembacaan
tegangan pada elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika jarak AB
yang relatif jauh, sehingga diperlukan alat ukur multimeter yang mempunyai
karakteristik high impedance dengan akurasi tinggi yaitu yang bisa
mendisplay tegangan minimal 4 digit atau 2 digit dibelakang koma.












19

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Prinsip Kerja Alat
3.1.1 Alat Penelitian
1) Resistivity meter yang digunakan sebagai pengukur arus dan tegangan
pada setiap konfigurasi elektroda

Gambar 3.1. Resistivitymeter
1. Elektroda merupakan sebuah konduktor yang akan mengalirkan arus ke
dalam permukaan tanah ketika arus diinjeksikan. 2 elektroda untuk
menginjeksikan arus kedalam permukaaan bumi dan 2 elektroda
selanjutnya untuk mengukur beda potensial yang dihasilkan.

Gambar 3.2. Elektroda
20

2) Palu berfungsi untuk menancapkan elektroda ke tanah pada posisi yang
telah ditentukan atau untuk membantu dalam pemasangan dan pencabutan
elektroda pada saat diinjeksikan.

Gambar 3.3. Palu
3) Kabel Penghubung (Probe) berfungsi menghubungkan arus dari sumber ke
elektroda atau penghubung antara elektroda dengan power supply dan
resisvity meter.

Gambar 3.4. Kabel penghubung (probe)
4) Meteran merupakan alat ukur untuk menempatkan dan menentukan posisi
elektroda sesuai dengan konfigurasinya.

Gambar 3.5. Meteran
21

3.1.2 Prosedur Percobaan
A. Metoda Pengambilan Data
1) Persiapan
- Garis survei dan posisi titik sounding ditentukan dilapangan berdasarkan
lokasi titik sounding yang telah ditetapkan pada peta.
- Peralatan survei ditentukan dekat titik sounding sedemikian, sehingga
memudahkan dalam proses akuisisi data (pemindahan elektroda,
pembentukan kabel, pencatatan data, dan komunikasi antar peserta survei).

2) Penyusunan (Setting) Peralatan
- Peralatan selektor POWER pada posisi OFF
- Baterei dihubungkan dengan resistivity-meter memalui BATTERY PROBE.
(Ujung kabel BATTERY PROBE yang berwarna hitam dihubungkan ke
kutub baterei yang berwarna hitam, demikian juga dengan yang berwarna
merah).
- Ditancapkan keempat elektroda (2 pasang), dengan menggunakan palu,
pada posisi yang sudah ditentukan untuk tititk data pertama.
- Ke-empat elektroda tersebut dihubungkan dengan resistivity-meter melalui
kabel-kabel penghubung.
- Elektroda arus yang pertama dihubungkan keujung kabel HV PROBE
yang bertanda A.
- Elektroda arus yang kedua dihubungkan keujung kabel HV PROBE
yang bertanda B.
22

- Elektroda potensial yang pertama dihubungkan keujung kabel HV
PROBE yang bertanda M.
- Elektroda potensial yang kedua dihubungkan keujung kabel HV
PROBE yang bertanda N.
- Diputar selektor POWER ke posisi SBY (Stand By). Pada display
ammeter dan voltmeter akan terlihat ada tampilan. Jika tidak terlihat ada
tampilan diperiksa kembali koneksi semua kabel dan keadaan
sekering/FUSI (F1 dan F2).

3) Pelaksanaan Akuisi Data
- Kontak elektroda-elektroda diperiksa dengan tanah. Diputar selektor
CONNECTION ke posisi TEST. Diperhatikan posisi jarum indikator A-B
dan M-N harus berada pada daerah merah. Jika posisi jarum tidak pada
daerah merah berarti kontak elektroda dengan tanah kurang baik.
Tancapan setiap elektroda diperhatikan.
- Petugas penginjeksi harus memerintahkan agar semua orang tidak lagi
memegang elektroda (Peringatan : Memegang elektroda pada saat arus
diinjeksikan akan berakibat fatal).
- Putar selektor POWER ke posisi ON dan selektor CONNECTION ke posisi
FWD (forward).
- Untuk menginjeksikan arus, tekan tombol INJECT kemudian lepaskan.
- Setelah pembacaan pada display ammeter (I-AB) dan voltmeter (V-MN)
relatif stabil tekan kedua tombol kedua HOLD secara bersamaan,
23

- Catat bacaan ammeter (I) dan voltmeter (V) pada tabel akuisi data untuk
bagian Forward (Nilai I dicatat pada kolom I
F
dan nilai V pada kolom V
F
.
- Pada posisi elektroda yang sama, putar selektor CONNECTION ke posisi
REV (Reverse).
- Tekan tombol INJECT kemudian lepaskan.
- Setelah pembacaan pada display ammeter (I-AB) dan voltmeter (V-MN)
relatif stabil tekan kedua tombol HOLD secara bersamaan.
- Catat bacaan ammeter (I) dan voltmeter (V) pada tabel akuisisi data untuk
bagian Reverse (Nilai I dicatat pada kolom I
R
dan nilai V pada kolom V
R
).
- Putar selektor power ke posisi SBY.
- Pindahkan posisi keempat elektroda ke posisi untuk data kedua (sesuai
dengan yang ada pada tabel akuisisi data).
- Lakukan kembali langkah-langkah diatas untuk titik data kedua (sesuai
dengan yang ada pada tabel akuisisi data).

4) Proses akhir akuisisi data :
- Putar selektor POWER ke posisi OFF.
- Lepaskan semua hubungan kabel-kabel.
- Cabut keempat elektroda.
- Gulung kembali keempat kabel penghubung dengan rapi.
- Sebelum meninggalkan lokasi survei periksa kembali kelengkapan
peralatan dan pastikan tidak ada yang tertinggal.

24

Welcome to RESIST version 1.0 Copyright (C) 1988
ITC Kanaalweg 3 2628 EB DELFT (The Netherlands)
Msc. Research Project // by Vander Velpen B.P.A.

A processing package for the use on IBM-PC and compatibles, that offers
the user the processing of resistivity sounding data.
Resist supports the Wenner, Schlumberger and Dipole-Dipole arrays.
Wenner arrays
Schlumberger arrays
Dipole-dipole arrays
Quit : return to MS-DOS
your option : S






your option : S
B. Teknik Pengolahan Data
Langkah-langkah pengolahan data menggunakan software RESIST :
Click icon program RESIST pada laya computer untuk membukanya.
Kemudian akan tampil halaman depan program resist seperti berikut:





Tekan <sembarang tombol> sehingga muncul tampilan seperti berikut:






Pilih salah satu metode array yang tersedia dengan mengetikkan huruf
pertamanya, misalnya ketikkan huruf <S> untuk memilih Schlumberger arrays.
Pemilihan ini disesuaikan dengan metode array yang digunakan saat pengambilan
data sounding resistivitas di lapangan. Kemudian tekan <Enter>, Sehingga
muncul halaman menu utama seperti berikut:


25

Schlumberger Configuration
Entering field data
Read field data from standard Geosoft [*.DAT] file
Write the app.res. data in standard Geosoft [*.XYZ] file
Model entering
Prepare [*.RST] file for batch process
Batch process
reaD field data and model parameters from [*.RST] file
Quit : return to system-menu
your option :
C = Change The Electropotential Distance (MN-distance)
R = Renew the last data of the actual segment
Q = Quit the procedure
distance (AB/2) [m] resistivity [ohm.m]
distance [m] (AB/2) : 3.0
resistivity [ohm.m] : 20









a. Memasukkan data
Untuk memasukkan data ketikkan huruf <E>, lalu tekan
<Enter>.Kemudian akan muncul halaman untuk memasukkan data seperti
berikut:





Pada posisi kursor, ketikkan nilai jarak elektroda untuk titik data pertama, lalu
tekan <Enter>.
Pada posisi kursor, ketikkan nilai resistivitas untuk titik data pertama, lalu tekan
<Enter>.
Masukkan nilai jarak elektroda (AB/2) dan resistivitas untuk semua titik data
mulai dari data dengan jarak elektroda terkecil sampai terbesar.
26

You want to save the `rough` data (y/n)
Enter Name of data file [*.DAT assumed] _
AB/2[m] Res[Ohmm] Branch Point
2.0 10.000 1 1
3.0 16.000 1 2
4.0 20.000 1 3
7.0 23.000 1 4

typing errors (y/n)
Bila terjadi kesalahan dalam memasukkan data pada baris terakhir, ketik huruf
<R>, maka data baris terakhir tersebut akan terhapus. Masukkan data yang benar.
Tekan <Q> apabila proses memasukkan data sudah selesai. Kemudian akan
muncul halaman yang menampilkan semua data yang sudah dimasukkan dan
pertanyaan konfirmasi apakah ada kesalahan dalam memasukkan data atau tidak.





Bila tidak ada lagi data yang salah tekan <n>, dan apabila masih ada yang salah
tekan <y>.
Kemudian akan muncul plot data resistivitas terhadap jarak elektroda (AB/2)
dalam grafik dengan skala bilog. Tekan <c> untuk melanjutkan proses.
Selanjutnya akan muncul pertanyaan konfirmasi untuk menyimpan data seperti
berikut;


Tekan <y> untuk menyimpan data, sehingga muncul


Ketikkan suatu nama file untuk data tersebut pada lokasi kursor, lalu tekan
<Enter>. Kemudian akan muncul,

27

Give the Location of the VESounding : _
The Total number of layers _


Ketikkan nama lokasi tempat pengambilan data, lalu tekan <Enter>. Program
akan kembali ke menu utama.
b. Memasukkan Parameter Model
Tekan <M> (Model Entering) untuk memasukkan tebakan awal model
lapisan (Jumlah lapisan, Ketebalan/Kedalaman, dan nilai resistivitas setiap
lapisan). Harus diingat bahwa dalam memasukkan tebakan awal model (Jumlah
lapisan, Ketebalan/Kedalaman, dan nilai resistivitas setiap lapisan) haruslah
berdasarkan pengamatan terhadap kurva medan (hasil plot data resistivitas
terhadap jarak elektroda). Lebih bagus lagi bila tebakan awal model tersebut
berdasarkan hasil interpretasi dengan curve matching. Juga bahwa tebakan awal
ini akan akan mempengaruhi hasil akhir pemodelan dengan program ini.
Kemudian akan muncul

Ketikkan jumlah lapisan pada pada posisi kursor.
You want to work with Thickness- or Depth-values (T/D) :
Tekan <T> bila ingin bekerja dengan Ketebalan atau
Tekan <D> bila ingin bekerja dengan Kedalaman.
Misalkan yang ingin ditentukan adalah ketebalan tiap lapisan dan nilai
resistivitasnya, maka tekan <T> kemudian <Enter>. Kemudian akan muncul
halaman untuk untuk memasukkan tebakan awal nilai ketebalan dan resistivitas
setiap lapisan seperti berikut:

28

A model of 2 layers
layer[nr] resist[ohmm] Thick[m] Depth[m]
Enter data from TOP to BOTTOM-layer
The layer resistivity[ohm.m] (Nr 1)



Pada lokasi kursor ketikkan tebakan nilai resistivitas untuk lapisan pertama, lalu
tekan <Enter>. Pada lokasi kursor ketikkan tebakan ketebalan untuk lapisan
Pertama, lalu tekan <Enter>.
Lakukan hal yang sama untuk lapisanselanjutnya.
Tekan <c> untuk melanjutkan proses.
Lalu akan muncul halaman grafik bilog yang berisi :
- Plot resistivitas terhadap jarak elektroda (data hasil pengukuran)
- Grafik parameter model (nilai ketebalan dan resistivitas tiap lapisan)
- Grafik resistivitas terhadap jarak elektroda (hasil perhitungan dengan model
yang dimasukkan)
- RMS-error (kesalahan model terhadap data lapangan), tekan <e> untuk
menampilkannya
- Parameter (nilai ketebalan dan resistivitas tiap lapisan), tekan <p> untuk
menampilkannya
Tekan <c> untuk melanjutkan proses.
A model of 2 layers
layer[nr] resist[ohmm] Thick[m] Depth[m]
1 10.000 2.000 2.000
2 20.000 -.--- -.---
correction in Resistivity
correction in Thickness
correction in Number of layers
Continue

29

Program kembali ke menu utama.
c. Proses Iterasi
Tekan <I>, lalu <Enter> untuk memilih proses iterasi.
Program kembali menampilkan halaman grafik.
Tekan <c> untuk melakukan iterasi ke dua.
Tekan kembali <c> untuk melakukan iterasi ketiga.
Demikian seterusnya, sampai nilai error lebih kecil daripada suatu nilai
tertentu yang ditetapkan. Apabila anda puas dengan hasil yang diperoleh (nilai
error yang kecil dan kecocokan kurva lapangan dengan kurva perhitungan). Akhiri
proses iterasi dengan menekan <s>. Program akan kembali ke menu utama.
d. Menampilkan Hasil Akhir
Ditekan <s> untuk menampilkan hasil akhir permodelan
Dicatat nilai akhir : RMS-error
Ketebalan, kedalaman, dan resistivitas tiap lapisan.
Ditekan <spasi> untuk mengakhiri dan kembali ke menu utama.
Apabila kurang puas dengan hasil yang diperoleh, dilakukan permodelan
ulang dengan langkah-langkah sebagai berikut.
e. Membaca data
Ditekan <R> untuk membaca data. Sehingga muncul nama direktori yang
akan ditampilkan dan konfirmasi apakah anada akan pindah direktori atau tidak,
misalnya sebagai berikut :
D:\Data Werner friska\SOFTWARE\RESIST
30

Bila data disimpan pada direktori yang akan di tampilkan, ditekan <n>,
bila tidak, ditekan <y> dan ditulis nama direktori tempat anda menyimpan data.
Kemudian akan muncul semua nama file data yang ada pada direktori tersebut.

Ketikan nama file pada posisi kursor, lalu tekan <enter>.
Proses selanjutnya sama denga langkah-langkah sebelumnya.
Diulangi proses sampai diperoleh hasil permodelan yang memuaskan.

C. Analisis Data
Dari data yang telah diolah dengan menggunakan program RESIST dan
dilakukan iterasi maka dapat diketahui jenis batuan dibawah titik sounding
berdasarkan nilai resistivitas yang telah didapatkan pada literature dibawah ini :
Tabel 3.1. Jenis batuan beserta nilai resistivitynya
(Sumber : ladongiscientist, 2009)

Enter name of data file[*.DAT assumed]_