Anda di halaman 1dari 27

BATU-BATU YANG HIDUP Pengantar ke Dalam Pembangunan Jemaat I.

PEMBANGUNAN JEMAAT ADALAH PAHAM TEOLOGIS Membicarakan Pembangunan Jemaat tentu tidak lepas dari pembicaraan mengenai teologi Pembangunan Jemaat. Itu sebabnya perlu kerangka acauan teologis dalam merefleksikan Pembangunan Jemaat. Pembangunan Jemaat sangatlah aktual bagi situasi jemaat dewasa ini. Dalam BAB 1 ini akan dibahas mengenai 3 pokok bahasan: (1) Pembangunan Jemaat adalah masalah iman; (2) Pembangunan Jemaat merupakan paham inti dalam Teologi Praktis; (3) Pembangunan Jemaat merupakan jawaban atas perubahan masa kini A. Pembangunan Jemaat adalah Masalah Iman Prof. Frans Haarsma dalam buku Para Pembangun Jemaat dalam Praktek (Hendriks, Van Hooijdonk, de Loor, 1982) memberikan kontribusinya dengan mendukung pandangan bahwa Pembangunan Jemaat adalah pengertian iman dan teologis. Ia berbicara mengenai Gereja sebagai karya pembangunan Roh Kudus (1982:155). Dalam hal ini muncul istilah oikodome dan oikodomein. Dalam terjemahan Septuagint Perjanjian Lama, secara harafiah keduanya dihubungkan dengan Bait Allah, dan secara kiasan dengan Rumah atau Umat Israel. Tidak hanya dalam PL, melainkan dalam PB kita juga dapat menemukan makna kata ini. Kata Oikodomein memiliki banyak arti alkitabiah. Dalam Markus 14:58: .... Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan (oikodomein) yang lain, yang bukan buatan tangan manusia; Yesaya 66:1: ...; rumah apakah yang akan kau dirikan (oikodomein) bagiKu, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentianKu?; dan Kisah Para Rasul 7:48: Tetapi Yang Maha Tinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat (oikodomein) oleh tangan manusia, di sini oikodomein diartikan sebagai reaksi melawan pembangunan Kenisah. Tidak hanya itu, kata tersebut juga diberi arti kiasan yang kemudian ditafsirkan dalam tulisan Perjanjian Baru. Kata Rumah dalam perkataan Yesus: Runtuhkanlah Rumah ini yang ada dalam Injil Yohanes menggambarkan tubuh-Nya sendiri (lihat Yoh 2:21). Rupanya selain dipakai untuk kenisah, teks ini ditafsirkan sebagai nubuatan mengenai kebangkitan Yesus. Dan dalam PB, oikodomein mendapat warna khusus yakni warna gerejawi. Hal ini ditemukan dalam Matius 16:18: ...: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan (oikodomein) jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Dalam Kisah Para Rasul, oikodomein dihubungkan dengan gereja dan menjadi masalah inti. Contohnya dapat ditemui dalam Kisah Para Rasul 9:31, mengenai jemaat di Yudea, Galilea, dan Samaria yang dibangun (oikodomein) dan hidup dalam takut akan Tuhan, jumlahnya bertamabah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Selain itu juga dapat ditemui dalam Kisah Para Rasul 20:32, Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun (oikodomein) kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang

ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Sementara dalam surat Paulus, Haarsma menemukan oikodomein yang menunjuk pada kegiatan apostolis, di mana rasul sendiri mendirikan, meletakkan dasar dan membangun. Oikodomein juga dikaitkan dengan kegiatan warga Gereja yang satu dengan yang lain. Kegiatan yang bersifat meneguhkan, membangun, menegur, menguatkan, mendukung dan bersabar (1 Tesalonika 5:11-14). Paulus menyebut kegiatan tersebut sebagai pembangunan (oikodome), sama halnya dengan bernubuat. Sementara bahasa lidah dibedakan di sini. Dengan tegas Paulus mengatakan bahwa siapa yang berkatakata dengan bahasa roh, ia membangun (oikodomein) dirinya sendiri, tetapi orang yang bernubuat membangun (oikodomein) Jemaat (1 Kor 14:4). Bagi Paulus, yang utama ialah cinta satu sama lain, karena kasih itu membangun (oikodomein) (1 Kor 8:1). Dalam 1 Kor 14:12, Paulus menekankan bahwa oikodomein bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan kepentinga jemaat. Dalam ayat tersebut, Paulus menghimbau agar menggunakan karunia roh untuk membangun jemaat. Gereja adalah karya pembangunan Roh Kudus. Dalam hal ini Haarsma menunjuk pada karakteristik gramatikal dari oikodomein. Oikodomein adalah pasivum, jemaat aktif satu sama lain, namun pembangunan adalah karya Roh Kudus. Hal ini dapat ditemui dalam 1 Petrus 2:5. Oikodomein pertamatama adalah hasil karya Roh Kudus. Ini mendorong kita untuk memandang pembangunan Jemaat pertama-tama sebagai hal iman dan sebagai paham teologis. Pembangunan Jemaat menantang iman kita untuk dapat melihat berkaryanya Roh Allah. B. Pembangunan Jemaat: Paham Inti dalam Teologi Praktis Pembangunan Jemaat merupakan paham inti Teologi Praktis. Karl Rahner menyebutnya eklesiologi eksistensial. Eklesiologi eksistensial mempelajari perwujudan diri Gereja yang nyata dalam konteks historis dan kemasyarakatannya. Kata Karl Rahner: Teologi Praktis mengolah perwujudan diri Gereja yang semakin aktual, sebagi peristiwa yang sedang terjadi (kritis) dan sebagai cita-cita yang dikejar (normatif); perwujudan diri Gereja itu dapat dikenal lewat refleksi ilmiah atas dirinya; refleksi ilmiah itu dapat diadakan berdasar pada hakikat Gereja (Kitab Suci, Tradisi, dokumen Gereja,) dan pada analisis teologis situasi sekarang Teologi Praktis berkaitan dengan ilmu sosial. Di sini perwujudan diri Gereja mendapat makna empiris yang lebih luas lagi. Teologi Praktis memandang paroki, jemaat dan warganya sebagai Gereja lokal. Hal ini menjadi hal baru dibandingkan dengan paham keuskupan sebagai Gereja Lokal. Pembangunan Jemaat merupakan paham inti dalam Teologi Praktis dan diruncingkan pada Gereja lokal yaitu paroki. Bukan berarti Gereja menjadi pokok terpenting, melainkan keselamatan lah yang terpenting,. Keselamatan dari Allah bagi manusia. Di sini muncul keprihatinan: apakah Gereja -Jemaat lokal, paroki- mampu menjadi sarana dan tanda Keselamatan? Ini berkaitan dengan partisipasi jemaat. Apakah Gereja dikatakan berfungsi jika partisipasi jemaat meningkat atau pun sebaliknya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu diselidiki hal-hal berikut: Kepercayaan akan masa depan ditimbulkan atau dikurangkan oleh apa dan siapa? Siapakah yang membangun Gereja setempat, jemaat lokal, paroki?

Apa yang sebenarnya dibangun? 1. Allah, Subjek Pembangunan Jemaat Pembangunan Jemaat sebagai pengertian pokok dalam Teologi Praktis mengandung polaritas antara karya Allah dan karya manusia. Dalam hal ini muncul pertanyaan-pertanyaan: Sejauh manakah karya manusia menyumbang pada Keselamatan Allah bagi manusia? Apakah hasil komunikatif dan efektif yang dikerjakan Gereja (manusia) memang dapat menyumpang pada Keselamatan yang dikerjakan Allah bagi manusia? Apakah manusia berkuasa atas Keselamtan dari Allah? Bukankah Keselamatan itu datang dari Allah? Bagaimanakah hubungan antara tindakan Keselamatan Allah dengan tindak-tanduk, pengembangan, dan pembangunan karya Gereja (manusia)? Oikodome secara gramatikal merupakan pasivum maka pertama-tama arti Pembangunan Jemaat adalah bahwa jemaat dibangun oleh Roh Kudus bersamaan dengan Kristus-Yang-Telah-Bangkit disebut sebagai batu penjuru... Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah,di dalam Roh. (Ef 2:21-22). Dalam kesadaran beriman pembangunan Jemaat diakui sebagai karya Allah. Allah adalah asal-usul pembangunan Jemaat. Allah adalah subjek pembangunan Jemaat. Berbeda dengan teolog Harthian Jerman yang juga mengatakan bahwa Allah membangun Gereja, tapi kurang menindahkan sumbangan ilmu sosial, yang dengan demikian menolak peranan teologis manusia dalam pembangunan Jemaat. Dengan kata lain, manusia juga berperan dalam pembangunan Jemaat. 2. Gereja Lokal Ikut Menjadi Subjek Pembangunan Jemaat Di samping Allah adalah subjek pembangunan Jemaat, kita perlu mengakui berkaryanya manusia dalam pembangunan Jemaat. Dalam pembangunan Jemaat, manusia adalah sesama subjek dengan Allah. Sesama sebjek itu tersusun secara hierarkis Pengakuan akan adanya karunia-karunia Roh dan pengakuan akan kepemimpinan dan tindakan pejabat Gereja harus tersusun secara hierarkis, tidak berat sebelah. Struktur hierarkis yang sehat mendasarkan pembangunan Jemaat pada Yesus Kristus Menurut Teologi Praktis dewasa ini, struktur hierarkis yang sehat dapat diwujudkan jika para uskup dan para imam mampu menciptakan iklim positif, di mana jemaat biasa diperlakukan sebagai subjek. Selain itu juga para uskup dan para imam harus dapat mengusahakan kepemimpinan yang inspiratif, yang mengabdi pada karisma-karisma, bergaya kooperatif, dan bersifat suportif kepada umat. Sesama subjek dimotivasi secara spiritual Kita mengakui bahwa Roh Allah bekerja bersama para anggota umat dan pejabat Gereja. Kesadaran akan panggilan Allah ini diperluas, bukan hanya bagi seorang melainkan bagi banyak orang yang telah terpanggil. Panggilan Allah ini harus didengar dan diberi ruang dalam persekutuan orang beriman. Hal ini berkaitan dengan spiritualitas. Spiritualitas adalah dasar pembangunan Jemaat. Adapun perkembangan spiritualitas itu sendiri bertitik tolok pada Ungkapan Iman. Yang ditekankan di sini ialah

dimensi komunal spiritualitas, sementara spiritualitas yang sebatas dimensi personal ditolak. Kekuatan bagi Gereja perdana ialah spiritualitas bersama yang ada. 3. Jemaat Lokal adalah Objek Pembangunan Peran jemaat lokal bukan hanya sebagai subjek tetapi juga sebagai objek pembangunan Jemaat. Hal ini dijumpai dalam Yeremia 33:7 Aku akan memulihkan keadaan Yehuda dan Israel dan akan membangun mereka seperti dahulu. Ini berlaku tidak hanya bagi Israel dan Yehuda saja, melainkan bagi semua orang... jika mereka sungguh-sungguh belajar cara hidup umatKu sehingga bersumpah demi namaKu..., akan dibangun di tengah-tengah umatKu (Yer 33:7). Membangun jeamaat berarti membangun umat Allah. 4. Tujuan Pembangunan Jemaat ialah Kedatangan Kerajaan Allah Pembangunan Jemaat, melalui jemaat lokal sebagai objek pembangunan Gereja, mengarahkan kita kepada perwujudan Karya Penyelamatan Allah. Dan sebagai subjek, kita bertindak sesuai kehendak Allah. Kerajaan Allah dalam PL dinyatakan dengan keterkaitan Allah dengan manusia lewat kepedulian dan pemeliharaanNya. Sementara dalam PB mendapat wujud baru dan unik, yakni melalui Yesus Kristus yang telah hidup, mati dan bangkit. Bagi jemaat PB, kebangkitan Yesus merupakan wujud definitif dari eskatologis. Teologi setelah Konsili Vatikan II mempertimbangkan kritik dari luar mengenai kesan Gereja yang seolah hanya peduli pada keberlangsungannya sendiri.Konsili ini sendiri menekankan rencana keselamatan Allha bagi semua orang. Hasil dari pertimbangan ini ialah Konstitusi Lumen Gentium mengenai Gereja sebagai Sacramentum Mundi, tanda keselamatan bagi dunia dan juga Gaudium et Spes yang menekankan bahwa keprihatinan terhadap dunia adalah keprihatinan Gereja. Selain itu Dewan Gereja Sedunia juga menghasilkan dokumen Church for Others. Maka dapat dirumuskan bahwa tujuan akhir pembangunan Jemaat bukan sekedar dalam Gereja tapi dalam dunia; pembangunan Jemaat mengantarai terjadinya keadilan Allah sebgai peristiwa eskatologis. Tujuan Pembangunan Jemaat ditentukan secara historis dan kultural Gereja mengatur jemaat setempat menurut sisitem paroki. Hal ini berjalan sudah berabad-abad lamanya. Sistem paroki ini terkesan hanya berpusat pada diri sendiri, maka tujuan pembangunan Jemaat mengantarai keadailan dan kasih Allahperlu dirumuskan kembali. Sedikitnya secara historis dan kultural perlu dirumuskan kembali secara seksama. Tujuan Pembangun Jemaat adalah pertumbuhan paroki Dalam Gereja Katolik, jemaat diatur lewat sistem paroki. Maka, dapat dikatakan bahwa tujuan pembangunan Jemaat adalaj pembangunan paroki. Di sini dibedakan antara pertumbuhan ekstensif dan intensif. Pertumbuhan ekstensif mengandaikan perluasan [aroki dengan semakin bertambahnya warga baru. Sementara intensif yakni mengenai kesinambungan warga dan pendalaman warga akan aktifitas mereka sebagai warga Gereja. Mengingat bahwa tujuan umum Pembangunan Jemaat adalahmenjadi perantara bagi keadilan dan kasih Allah, maka tolok ukur bagi petumbuhan Jemaat ialah jika jemaat diperkuat sebagai tanda dan

sarana keadilan serta kasih bagi dunia. Jika tujuan ini dikejar maka polaritas antara berkaryanya manusia dan berkaryanya Allah diakui. Berkaryanya manusia bersifat mengantarai. Dalam hal ini manusia mengantarai peristiwa eskatologis keadilan dan kasih Allah melalui jemaat lokal dan sejarah yang aktual. Namun tujuan pembangunan Jemaat tidak hanya dihasilkan oleh kaya pembangunan manusia, melainkan juga melalui kepenuhan dari Allah sebagai karya pembangunan Allah. Tujuan Pembangunan Jemaat: memberi ruang bagi pertumbuhan, terarah kepada penyelamatan Kitab Suci memungkinkan kita untuk melihat tujuan pembangunan Jemaat (pertumbuhan paroki) sebagai proses kehidupan. Menanam, pertumbuhan, melandaskan dan membangun merupakan tindakan berkelanjutan. Gambaran mengenai tahap-tahap demi membangun Tubuh Kristus menunjukkan proses kehidupan juga, namun sekarang diperkuat dan dikendalikan oleh Roh Kudus: Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh (1 Kor 12:4). Oikodomein merujuk pada kegiatan Roh Kudus dalam Alkitab. Roh Allah senantiasa bekerja dan Roh Kudus lah yang mengendalikan serta menyebabkan terjadinya proses pertumbuhan dan pengembangan. Tindak-tanduk Roh yakni meneguhkan dan menasihati, mendukung dan menghibur, bersabar, bernubuat. Roh Kudus memiliki peran dalam membawa pembangunan Jemaat samapai pada penyempurnaan. C. Pembangunan Jemaat adalah Jawaban Terhadap Perubahan-perubahan di Masa Kini Pokok Pembangunan Jemaat itu bersifat aktual Terlalu sederhana jika kehidupan paroki di Indonesia dijadikan contoh bagi paroki di Eropa Barat. Demikian juga sebaliknya, bahwa pembaharuan inspiratif kehidupan paroki Eropa Barat dijadikan teladan bagi paroki di Indonesia, sangatlah simpistis. Pembangunan Jemaat bersifat aktual, oleh karena itu sangat tergantung pada situasi yang ada dan tidak dapat disetarakan begitu saja. Di sini disebutkan dua situasi, yakni situasi dalam mana anggota jemaat bertambah dan di mana mereka berkurang. Pembangunan Jemaat itu bersifat kontekstual Pembangunan Jemaat sebagai pengertian teologis ditentukan juga secara kontekstual, historis dan kultural. Tidak hanya itu, pembangunan jemaat yang memperlihatkan warna-warni yang berbeda, juga disebabkan oleh karena perbedaan riwayat pembentukan dan iman jemaat. Dengan kata lain pembentukan dan perkembangan iman jemaat lokal menentukan teologi lokal yang kemudian mempengaruhi corak pembangunan jemaat. Di sini perlu dperhatikan perihal liturgi, katekese, dan pelayanan pastoral yang juga perlu disesuaikan dengan situsi jemaat setempat. Pembangunan Jemaat bertolak dari keadaan jemaat de facto Pembangunan Jemaat sebagai pokok aktual mencerminkan perubahan dalam masyarakat serta tuntutan baru sesuai dengan perubahan itu. Di sini, orang beriman setempat menyadari dua kewajiban mereka mengenai kabar penyelamatan dan masalah serta kebutuhan orang beriman di sekitarnya. Pembangunan adalah istilah bagi pembangunan paroki (teritorial maupun kategorial), pembangunan jemaat, pembangunan Gereja. Di Indonesia digunakan istilah pembangunan jemaat dari kata oikodome Istilah ini menggarisbawahi pembangunan jemaat sebagai kerukunan, kerinduan ekumene antara

Protestan dan Katolik, juga keimanan warga jemaat serta partisipasi mereka dalam pembangunan jemaat. II. PEMBATASAN MASALAH PEMBANGUNAN JEMAAT Bab ini dimulai dengan tiga pertanyaan, yaitu: Mengapa Pembangunan Jemaat itu penting? Apa pembangunan Jemaat itu? Kepada siapa pembangunan jemaat diajarkan? Pembahasan dalam bab ini mengikuti pendekatan Kardianal Kardijn see-judge-action(melihat-menilaibertindak). Melihat Menilai Bertindak : mendeskripsikan dan menganalisis situasi : berefleksi dalam terang terori teologis dan ilmu sosial : mengadakan perbaikan yang nyata

Formula see-judge-actini merupakan pedoman yang baik untuk menangani permasalahan pembangunan Gereja. Selain itu, teologi praktis harus menghasilkan perbaikan nyata lewat tindaktanduk pastoral. A. Mengapa Pembangunan Jemaat itu Penting? Paroki membutuhkan pendalaman iman secara lokal. Mereka melakukan reorientasi untuk dapat melaksanakan perutusan Injilanya dengan lebih baik. Pembaharuan di seluruh dunia Reorientasi ini terjadi diseluruh dunia. Yang dicari ialah penyesuaian hidup orang Kristiani sesuai kebutuhan zaman ini. Kesamaan karakteristik yang ada dalam dunia ketiga, yakni: Di masa lalu, kolonialisasi dan evangelisasi membawa masuk sistem paroki yang berasal dari Eropa Barat. Di masa sekarang seistem paroki itu kurang memenuhi kebutuhan jemaat setempat, yang jumlahnya besar dan imannya kurang. Di masa sesudah kolonialisasi dan vatikan II, penyadaran awam berkembang dengan pesat; yang dicari ialah bentuk baru bagi hidup menggereja dalam unit sosial yang kecil. Bersamaan dengan penyadaran awam, kebudayaan religius lokal mempengaruhi wujud gerejawi hidup kristiani. Gereja Afrika dan Aia mendapat tempat tersendiri dalam Gereja sedunia. Di Brasil, unsur kedekatan menjadi prinsip dasar bagi Komunitas Basis. Kedekatan ini mendinamiskan gereja. Proses pendinamisan mengandaikan proses belajar dan pendampingan yang panjang. Walaupun banyak negara dan gereja lokal konteksnya berbeda-beda, namun di mana-mana nyatanya penyebaran tanggung jawab dan tugas pastoral menuntut waktu dan kesabaran dalam menjalani proses-prosesnya. Eklesiologi dari bawah tidak berkembang dengan sendirinya Konsili Vatikan II memiliki pengaruh yang besar bagi pembangunan intern Gereja Katolik Roma. Namun dipertanyakan sejauh mana Konsili itu diterima dan diinterpretasikan secara berbeda-beda oleh kelompok tertentu. Mungkin teks Konsili diseleksi sesuai dengan selera, kebutuhan dan keinginan

pribadi para teolog, pemimpin Gereja dan orang beriman yang aktif. Namun, tetap ada yang menerima Vatikan II dengan gembira. Mereka terbuka pada agiornamento: penyesuaian Gereja pada masa kini; orang awam ikut bertanggung jawab; Konstitusi tentang Gereja terbuka terhadap nilai hidup yang modern. Pembangunan Jemaat merefleksikan dan mendorong pemikiran teologis Pembangunan Jemaat tidak dapat lepas dari pemikiran teologis yang menciptakan ruang bagi orang beriman aktif dalam Gereja. Eklesiologi Konsili Vatikan II disebut eklesiologi dari bawah. Hal yang sama dapat dibaca dalam karangan Jacobs: Konsili Vatikan II tidak mau berbicara dari atas, melainkan ingin menyuarakan iman yang hidup di kalangan umat. Konsili memberikan kemungkinan bagi Gereja untuk menjadi lebih terbuka. Konsili ini memberikan kebebasan berbicara dan berdiskusi dalam Gereja. Di sini terjadi pembaharuan liturgi , yang lebih menekankan pengajaran Kitab Suci dan bapa Gereja, memungkinkan pengungkapan yang lebih spontan atas kesadaran iman umat. Yang terpenting ialah kesadaran Konsili bahwa Gereja merupakan suatu kesatuan dengan dunia dan tidak terpisah dari dunia. Persamaan semua warga berdasarkan baptisan; pertanggungjawaban bersama sebagai umat Allah; persamaan sebagai saudara-saudari dalam persekutuan iman setempat, membawa kita sampai pada eklesiologi. Iman yang hidup dan aktif lebih terjamin dalam konsensus bersama daripada dalam gaya kepemimpinan otoriter. Eklesiologi meyakini bahwa Roh Allah juga bekerja melalui karisma yang Ia bagikan kepada siapa saja Ia berkenan, tidak hanya pada pejabat Gerejawi. Pemikiran resmi Gereja merupakan faktor yang penting. Sesara empiris dapat dikatakan bahwa Eklesiologi dari bawah dan ungkapan ajaran Gereja yang resmi, keduanya merupakan kondisi bagi Pembangunan Jemaat. Ini memberikan garis batas bagi gerak dinamika pembangunan jemaat, namun pembangunan Jemaat tidak bergantung sepenuhnya pada peraturan yuridis ini. Sinode Jerman tahun 1976 Sinode Bersama Para Diosis di Jerman Barat tahun 1976 yang bertemakan Harapan Kita Pengakuan Iman untuk Masa Kini. Dokumen yang diedarkan oleh Sinode Jerman ini merombak dasar teologi yang mempertahankan monopolisasi jabatan imamat, yang memusatkan karya Roh dalam jabatan uskup dan imam. Jika Roh memang berpusat pada primat kepausan, maka kebenaran dan rahmat memang terpancar melaluiuskup dan Imam kepada awam. Ini bertentangan dengan ajaran Vatikan I dan II. Mengapa Pembangunan Jemaat itu Penting? Pembangunan Jemaat digerakkan oleh kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri orang beriman dan menjadi penting sebagai tempat di mana orang beriman dapat belajar. B. Apa Pembangunan Jemaat itu? Titik tolak pertanyaan ini ialah pada istilah Pembangunan Jemaat yang tersusun atas kata Pembangunan dan Jemaat.

1. Jemaat sebagai Paroki Partisipasi aktif dan bertanggung jawab orang beriman dalam Pembangunan Jemaat paroki sudah lama terjadi di Amerika Latin. Sayangnya proses tersebut dihentikan akibat perubahan dalam keuskupan. Di sini tujuan Pembangunan Jemaat baru tercapai kalau jemaat setempat memperhatikan kebutuhan dan keprihatinan orang di sekitarnya secara efektif. 2 Pembangunan Pembangunan memiliki skala arti yang luas, yakni: Pertumbuhan dan perkembangan Perkembangan yang tinggi ke arah kemandirian dan ke dalam visi yang luas dan mendalam; menuju keterbukaan ke dalam dan ke luar terhadap kebutuhan manusia; ke jemaat yang lebih tinggi dalam relasi antarmanusia; ke profesionalitas dalam hal memimpin. Peningkatan hal-hal tersebut mungkin dilakukan melalui pembinaan dan pendidikan. Pendalaman secara spiritual Pertumbuhan secara identitas spiritual dalam kepengikutan Kristus, yaitu pendalamanspiritual jemaat sebagai persekutuan orang beriman, bukan spiritualitas pribadi. Pembaharuan Menyangkut gerakan dan perubahan ke arah masa depan. Pembangunan mengimplikasikan perubahan yang efektif menuju ke perwujudan di masa depan. Cita-cita Jemaat dilihat sebagai cita-cita yang dirumuskan secara teologis sedangkan pembangunan jemaat dilihat sebagia tindakan untuk mendekatkan cita-cita itu serta mewujudkannya. 3. Pembangunan Jemaat Jemaat adalah persekutuan orang beriman setempat. Persekutuan ialah campur tangan aktif atau intervensi dalam tindak-tanduk jemaat setempat. Pembangunan Jemaat adalah intervensi sistematis dan metodis dalam tindak-tanduk jemaat beriman setempat. Pembangunan jemaat menolong jemaat beriman lokal untuk berkembang menuju persekutuan iman, yang mengantarai keadilan dan kasih Allah, dan yang terbuka terhadap masalah manusia di masa kini. 4. Kepada Siapa Pembangunan Jemaat Akan Diajarkan? Proses Pembangunan Jemaat mengandaikan kualitas-kualitas kepemimpinan yang mencakup bakat refleksi dan bakat pelaksanaan. Tidak hanya pejabat Gereja yang mempunyai kualifikasi sebagai pemimpin, tetapi juga orang awam. Pembangunan Jemaat adalah bagi banyak orang beriman, dimana mereka diharapkan untuk berpartisipasi dalam pembangunan jemaat setempat. III. TEORI TEOLOGI PRAKTIS MENGENAI PEMBANGUNAN JEMAAT A. Paham Normatif dan Empiris Kerangka ilmiah yang paling cocok bagi Pembangunan Jemaat ialah Teologi Praktis, yang menghubungkan pengertian normatif yang dikembangkan dalam teologi dengan pengertian empiris yang dikembangkan dalam ilmu sosial. Teologi Praktis juga mencari keseimbangan dan hubungan

timbal-balik yang saling menguntungkan antara teori tentang bertindak-tanduk pastoral ilmiah sosial maupun teologis dengan praktek bertindak-tanduk pastoral dalam segala bentuknya dan menurut kepelbagaian subjek pelakunya. Teologi Praktis adalah teori yang harus memenuhi syarat ilmu pengetahuan, yang bersifat komunikatif. B. Pengertian Komunikatif Ilmiah 1. Ketegangan antara Dua Bentuk Berteologi Ilmiah Identitas pendidikan teologi ilmiah ditentukan oleh integrasi antara dua bentuk berteologi, yaitu berteologi untuk memperluas pengetahuan dan berteologi untuk memperbaiki tindakan. 2. Berteologi Ilmiah dan Pengetahuan Objektif Kriteria terpenting bagi ilmu murni ialah objektivitas. Bagi ilmu teologi, objektivitas berarti mengambil jarak dari iman pribadi dan pengalaman iman pribadi. 3. Berteologi Ilmiah dan Proses Belajar Intersubjektif dan Komunikatif Pendektan objektif dalam berteologi dapat mengahsilkan kekeliruan. Berilmu teologi tidak sematamata menjangkau pengetahuan teologi sebagai sistem objektif dan konsisten serta tidk hanya mencakup segi kognitif, melainkan juga menggerakkan seluruh pribadi orang sampai ke dalam sanubari religiusnya. Berilmu teologi berarti menyapa manusia sebagai subjek dalam hal memahami, berempati dan mengahayati kenyataan religius di sekitarnya. Berilmu teologi juga seharusnya bersifat intersubjektif dan komunikatif dengan manusia, masyarakat dan dengan jemaat beriman .Dan seharusnya besifat sosial-inklusif bukan sosial-eksklusif. Sejak dulu berlaku adagium berteologi fides quarens intellectum. Dewasa ini fides mencakup manusia dalam segala aspek, tidak hanya menurut aspek kognitifnya, melainkan termsuk norma perilakunya, sikapnya, perasaannya. C. Tiga Nivo Berfikir Nivo berfikir pertama adalah pengetahuan praktek. Sambil berbuat kita memperoleh pengertian (learning by doing). Yang kedua mempunyai kaitan langsung dengan taraf pertama. Pada nivo kedua, pengetahuan praktek diatur secara sistematis dan diuji secara ilmiah dan kemudian disebut teori praktek. Yang ketiga adalah teori ilmiah, yang merupakan baik studi teologis maupun studi ilmu sosial. IV. PENGETAHUAN PRAKTEK DALAM PEMBANGUNAN JEMAAT A. Asosiasi Bebas Mengenai Paham Pembangunan Jemaat Ada asosiasi yang berkaitan dengan struktur paroki: Pembangunan jemaat ialah mengadakan dan memperbaiki dewan paroki dan kelompok kerja, memeprbaiki komunikasi antara dewan, serta kelompok kerja dengan kelompok lain diluarnya. Ada pula asosiasi yang menyangkut penanganan dan perluasan tugas pastoral di paroki: Pembangunan Jemaat ialah tugas yang bertujuasn memeprdalam iman pribadi seperti katekese, penggembalaan terhadap pribadi dan kelompok, bimbingan rohani. Ada juga asosiasi yang menyebut sejumlah gerakan serentak secara bersama untuk memperlihatkan bahwa paroki tersebut hidup: Pembangunan Jemaat berarti meningkatkan mutu kegiatan dan menolong jemaat menjadi orang beriman yang lebih insyaf dan dewasa. Sedangkan asosiasi yang menunjukkan hanya satu macam kegiatan yang disebut pendidikan kader, yang terdiri dari pelbagai kegiatan seperti

lokakarya pastoral, training kepemimpinan, pembentukan katekis. Dan asosiasi yang berbicara tentang jemaat yang terbuka: membangunjemaat di daerah yang tidak mengenal injil, mengembangka hubungan dengan agama lain dan mempersiapkan jemaat untuk hidup di era sekularisasi. Apa yang dapat dipelajari dari asosiasi itu? Berkembangnya kegiatan pastoral merupakan hal yang tidak kalah penting dari Pembangunan Jemaat. Dalam hal ini ada orang yang mampu menjalankan dan menaktivir serta menginspirasikan kegiatan tersebut. Tidak hanya pastor tetapi juga jemaat beriman yang berbakat dan dapat dididik untuk itu. Pembangunan jemaat sebaiknya diasosiasikan dengan penyadaran iman para pastor dan aktivis awam, pembentukan kader dan tugas-tugas yang perlu mereka laksanakan di Gereja dan di dunia. B. Pengetahuan Praktek Mengenai Pembangunan Jemaat yang Diatur dan Dideskripsikan Orang yang mempraktekkan Pembangunan Jemaat umumnya mengulas pekerjaan serta pengalaman mereka. Pengertian yang mereka miliki dicocokkan dengan hasil pekerjaan mereka dan mereka bandingkan dengan pengertian rekan sekerja di tempat lain. Dalam hal memahami bagaimana Pembangunan Jemaat dapat menggerakkan orang, dan apa yang menjadi inti Pembangunan Jemaat, bagaimana cara kerjanya dan hasil seperti apa yang diharapkan, pengetahuan praktek sangat menolong. Di sini perlu masuk nivo berpikir yang lebih tinggi, dengan mengolah dan mendalami pengetahuan praktek itu sendiri. Dengan mengoklah teori-teori yang diperoleh dari ilmu teologi dan ilmu sosial untuk dapat menjawab pertanyaan tentang latar belakang problem-problem dalam praksis dan tentang hubungan antarproblematik. C. Pengetahuan Praktek Ditata Menurut Teologi Praktis 1. Praktek Pastoral dalam Bagan Disiplin Vertikal dan Horisontal Pembangunan Jemaat mencakup sejumlah disiplin praktis teologis. Pengetahuan praktek ini dapat menjadi titik tolak yang penting bagi pembentukan teori teologisnya. Bagaimana Pengetahuan Praktek ini dapat diolah? Pembangunan Jemaat diharapkan mendorong vak seperti homiletik, juga diakonia dan kinonia untuk menampilkan Gereja dalam berfungsinya sebagai jemaat partisipatif karismatis sebagai jemaat yang mengakui adanya jabatan dan sebagai jemaat yang menangani perkembangannya secara profesional. Menurut Filet, Pembangnan Jemaat menghubungkan disiplin teologis praktis (liturgi, kateketik, dll) secara horisontal. Masing-masing disiplin memiliki hubungan yang sama dengan Pembangunan Jemaat. Adanya refleksi atas Teologis Praktis yang tidak lagi dimengerti sebagai teori teologis tentang pastor saja dan bukan sekedar sebagai teori tentang perantaraan Kabar Keselamatan oleh Gereja saja, maka terjadi perluasan dalam kegiatan pastoral masa kini, di mana garis komunikatif horisontal lebih khusus ditentukan oleh liturgi, katekese dan diakonia. 2. Pembangunan Jemaat sebagai Sususnan Disiplin Patoral yang Vertikal Pembangunan Jemaat sebagai vak vertikal dibagi atas cabang vertikal koinonia (pembentukan persekutuan) dan sibernetika (kepemimpinan). Katekese

Di Indonesia bentuk katekese bisa berupa katekese di sekolah, katekese umat, katekese anak, katekese muda-mudi, katekese dewasa. Katekese umat makin berperan sebab umat makin dipandang sebagai pembawa utama katekese itu. Nama kateke dewaa dipakai untuk kelompok dalam mana umat disadarkan akan arti keanggotaannya dalam Gereja, akan tanggungjawabnya sebagai Gereja bagi masyarakat yang dekat dan jauh. Liturgi Dalam hal ini terlihat perubahan yang fundamental: Dulu hanya pastor yang bertugas dalam liturgi, sementara ssekarang ini orang awam juga berpartisipasi. Misalnya dalam doa pembukaan, sebagai lektor, pembagi komuni, dll. Poimenik (penggembalaan), Pastorat Perorangan. Pastorat Kelompok, Bimbingan Rohani Kategori poimenik dapat dikarakteristikkan sebagai keprihatinan terhadap seseorang atau terhadap kelompok. Yang paling dikenal ialah penggembalaan. Penggembalaan atau pastoral care sudah berkembang menjadi suatu ilmu tersendiri yang dijalankan secara internasional. Penggembalaan dijalankan secara timbal balik dengan quidance dan counseling. Disiplin ini lebih dikenal di kalangan Protestan. Sementara di Katolik lebih dikenal bimbingan rohani. Diakonia Diakonia adalah pelayanan Gereja kepada dunia atau realisasi Kerajaan Allah di dunia. Diakonia ialah fungsi Gereja yang bertujuan semakin mewujudkan nilai Injil dalam hidup bermasyarakat di segala bidang. Diakonia merupakan kegiatan vertikal dan horisontal. Pembanguna Jemaat Pembangunan Jemaat dapat dimengerti sebagai vak vertikal dan horisontal. Pembangunan Jemaat sebagai vak vertikal dibagi atas dua bagian: a. Koinonia Ingin menumbuhkan kedekatan, kebersamaan dan dukungan satu sama lain. 1. Koinonia dalam grup/ kelompok sosial Dalam rangka pengembangan organisasi paroki, pembentukan kelompok ini merupakan unsur yang esensial dalam dinamika paroki. Koinonia selalu melewati tahap pembentukan grup. 2. Koinonia lewat partisipasi Koinonia paling jelas diwujudkan lewat partisipasi jemaat dalam kegiatan paroki, baik intern maupun ekstern; baik sebagai kader maupun sebagai orang beriman yang merasa diteguhkan oleh hidup berparoki. 3. Koinonia sebagai organisasi oleh paroki Paroki adalah organisasi hidup gerehawi pada Nivo meso sosial. Strukstur paroki sangat penting dibangun, tidak hanya relasi formalnya, melainkan juga relasi koinonial antara nivo mikro dan makro, dan antara sekian banyak kelompok sosial yang ada. b. Sibernetika Bagaiman keputusan diambil Dalam paroki dibedakan:

11

Struktur kerja: pembagian tugas, wewenang dan penyesuaian pelaksanaan tugas Struktur pengendalian: yang terpenting adalah pengambilan keputusan yang perlu memperhatikan realisasi tujuan paroki, pengaturan relasi antara orang dan badan, serta pengaturan prosedur.

3. Pembangunan Jemaat sebagai Disiplin Patoral yang Diatur Secara Horisontal Pembangunan Jemaat adalah disiplin yang ditemukan kembali di dalam tiap-tiap disiplin pastoral yang lain. Kegiatan Pastoral diatur secara vertikal dan kemudian dihubungkan secara horisontal. Dalam hal ini, partisipasi warga Gereja merupakan perwujudan dari kebersamaan hidup jemaat yang beraneka warna. Partisipasi itu diwujudkan melalui bermacam-macam kelompok kerja dan fungsi baru. Keterlibatan ini juga mengandaikan bahwa tanggung jawab pastoral disebakan kepada banyak orang.. Kegiatan pastoral secara vertikal saja kurang mencerminkan realitas yang seseungguhnya. Kegiatan pastoral harus dibedakan menurut isi, seperti liturgi dan katekese, akan tetapi tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lainnya, sebab kegiatan itu saling mngandaikan. Di sini, hubungan secara horisontal juga diperlukan. a. Kaderisasi Perkembangan kader awam di Gereja setempat telah mengubah peran pastor dan peran warga paroki. Pastor bukan lagi seorang yang memegang segala-galanya dalam tangannya. Ia berbagi tanggung jawab dan kegiatan pastoralnya dengan petugas awam di paroki. Peran warga paroki pun berubah. Kegiatannya sekarang menuntut perundingan dengan orang lain. Di samping itu ia juga diharapkan dapat menginspirasi sesama orang beriman demi kesinambungan perluasan hidup berparoki. b. Dewan-dewan Di samping dalam hubungan dengan tanggung jawab pastor yang sampai saat itu dipikul oleh pastor sendiri, adanya perkembangan tanggung jawab pejabat pastoral awam di paroki rupanya berkembang juga badan atau dewan yang menjamin adanya perundingan dan sumbangan jemaat terhadap kebijakan paroki. D. Kerjasama: Pengetahuan Praktek Tentang Pembangunan Jemaat da Teologi Praktis Lewat penataan sistematis, pengetahuan praktek menjadi relevan. Asosiasi bebas mengidentifikasikan Pembangunan Jemaat dengan penyadaran beriman, pengkaderan, dan munculnya tugas baru. Asosiasi tersebut cocok dengan pemahaman ahli Teologi Praktis; mereka membedakan garis horisontal yang melintasi garis pastoral vertikal. Garis horisontal itu adalah garis Pembangunan Jemaat. Mereka juga mengatur kesan-kesan mengenai praktek pastoral secara teoritis. V. ASPEK DASAR PEMBANGUNAN JEMAAT A. Pembangunan Jemaat sebagai Teori atau Ajaran Pembangunan Jemaat sebagai teori atau ajaran merupakan hasil dari suatu refleksi atas pengetahuan praktek dan pengolahan teori fundamental ilmiah, yang dirumuskan sebagai aspek-aspek dasar Pembangunan Jemaat. Ajaran itu merupakan sistem pengertian dan norma teologis dan sosial ilmiah yang dirumuskan demi tindak-tanduk Pembangunan Jemaat. Pengertian dan norma memberikan arah

dalam pemecahan problematik Pembangunan Jemaat. Pengertian teologis dan sosial ilmiah dapat diungkapkan : Sosial ilmiah bertindak fungsional, terarah pada tujuan dan hasil, secara proses, pengembangan oraganisasi, peningkatan partisipasi Teologis bertindak-tanduk secara imani Ajaran itu harus kontekstual, memperhatikan aspek-aspek berikut: Kaidah empiris jemaat Situasi aktual dan lokal Intervensi yang mau diadakan Ajaran juga harus dapat diuji apakah legitim menurut norma dan pengertian teologis dan apakah efektif menurut penelitian empiris tentang berfungsinya intervensi-intervensi. Sejak dasawarsa terakhir ini Teologi Praktis secara intensif memusatkan perhatiannya pada pembentukan teori itu. B. Lima Aspek Dasar Pembangunan Jemaat 1. Bertindak Imani dan Rasional Dalam pembangunan jemaat senantiasa terjadi kombinasi antara bertindak iman dan rasional; antara bertindak yang mengimani karya Roh Kudus serta bertindak secara rasional. 2. Bertindak Fungsional, Terarah pada Tujuan dan Hasil Fungsional Gereja merupakan organisasi sosial yang kualitas kepemimpinan dan manajemennya sangat dituntut. Karena di dalamnya dirumuskan keprihatinan agar Gereja setia pada panggilannya dan mengadakan perbuatan yang efektif yang merealisasikan panggilannya itu. Terarah pada tujuan dan hasil Gereja memahami situasi masyarakat dan situasi religius gerejawi di mana manusia berada saat ini. Pembangunan Jemaat ingin meningkatkan pelayanan Gereja, jemaat lokal agar dapat bergerak secara efektif dalam situasi ini. Maka pendiagnosisan secara berkala tentang keadaan jemaat lokal cukup diperlukan. Dan kemudian jemaat perlu menyesuaikan tindak-tanduknya dengan hasil diagnosis tersebut, dengan tujuan agar tujuan dapat dicapai dan membuahkan hasil yang baik. 3. Bertindak Menurut Tata Waktu atau Secara Proses Pembangunan Jemaat dapat ditinjau dari dua segi, meninjau kembali sejarah dan melihat keadaan sekarang dan hari depan, dimana Pembangunan Jemaat dipandang sebagai tindakan intervensi untuk mempersiapkan, melaksanakan dan menstabilisasikan. Proses yang terjadi dalam pembangunan Jemaat secara sederhana berlangsung dalam tiga tahap: membuka orang akan perubahan (unfreezing) pelaksanaan (moving) menciptakan kondisi agar hasil dilestarikan/ penyelesaian (freezing) Tahap-tahap tersebut digambarkan sebagai spiral, yakni berputar dan hilir mudik, tidak merupakan garis lurus saja.

13

4. Bertindak Menurut Tata Ruang atau Pengembangan Organisasi Hendriks dan Likert emnekankan bahwa yang vital dan menjadi prioritas bagi jemaat adalah usaha menciptakanrelasi yang baik antarmanusia; menciptakan komunikasi terbuka yang memungkinkan orang dapat berkembang menurut apa adanya. Komunikasi yang terbuka memungkinkan jemaat mengembangkan bentuk kepemimpinan yang mendukung orang sesuai dengan jati diri dan pengertian hidupnya. Dinamika sosial merupakan syarat bagi organisasi gerejawi agar dapat berfungsi dan terarah kepada tujuan dan tugas. 5 Mengaktifkan Partisipasi Pembangunan Jemaat makin diasosiasikan dengan berperansertanya jemaat dalam pelayanan Gereja. Dis ini metode ilmu sosial berperan mendorong dan menumbuhkan partisipasi aktif tersebut.Realisasi dari partisipasi ini tentu harus berlangsung sebagai proses dan bertahap. Sebagai proses agogi, Pembangunan Jemaat harus bekerja sama secara fungsional dengan manusia yang beriman untuk mencapai seseuatu. VI. PEMBANGUNAN JEMAAT SEBAGAI PROSES A. Pengantar 1. Aspek Metodik Sejumlah proses sudah berlangsung dalam jemaat yang sedang mengembangkan diri, sayangnya hal tersebut tidak disadari. Dari proses secara spontan dapat dibeda-bedakan bertindak secara proses, artinya penuh kesadaran, di mana faktor waktu dan tindakan diatur sistematis dan terarah pada tujuan. Bertindak secara demikian sebagai intervensi dan merupakan aspek metodik Pembangunan Jemaat. 2. Pembangunan Jemaat sebagai Proses Proses bergerak dari situasi awal yang kurang diinginkan menuju ke situasi akhir yang dikehendaki, melalui serangkaian tindakan yang membawa proses menuju tujuan yang dikehendaki. Warna proses dapat berbeda-beda. Proses yang mementingkan unsur belajar dan dalam mana pimpinan paroki berperan sebagai guru berbeda dengan proses di mana inisiatif orang yang bersangkutan menjadi fokus pokok. B. Dua Polaritas dalam Proses Dua polaritas yang fundamental: Masa lalu masa depan; Cita-cita kenyataan C. Polaritas dan Pengembangan Berpikir dalam polaritas adalah berpikir dalam dua pola yang saling mengisi: dan realisasinya. Ketegangan itu mendorong pada perubahan aktif. D. Perspektif Aktor dan Perspektif Sistem 1. Perspektif Aktor a. Perspektif Aktor Horisontal Agar terlaksana maka para anggota paroki harus menangani proses perubahan secara aktif, dan Masa Lalu dan masa depan sebagai awal dan akhir proses; Cita-cita dan kenyataan sebagai ketegangan antara cita-cita

mereka pun harus mengalami proses perubahan . Dalam hal ini terdapat lima tahap: Orientasi Para anggota paroki semakin sadar bahwa perubahan diperlukan. Di sini Penelitian Permasalahan yang telah diamati diperdalam melalui diagnosisi sistematis. keputusan sehingga pelaksanaan perubahan terjamin. Misalnya mengenai pembentukan kelompok kerja, mengenai pengadaan eksperimen, pencarian fasilitas personal dan material. Dalam hal ini diperlukan kesesdiaan umat paroki untuk diembankan suatu tugas. Pelaksanaan Pelaksanaan tergantung pada pembagian tugas serta tanggung jawab yang baik. iklim kerja yang menyemangati. Dalam hal ini biasanya dipergunakan kelompok proyek. Syaratnya kelompok proyek tersebut dipercaya peserta mampu memelihara komunikasi yang baik dan menciptakan b. Perspektif Aktor Vertikal C. Zwart berpendapat bahwa perspektif aktor juga dapat digariskan pada poros vertikal yang menghubungkan polaritas kedua: cita-cita kenyataan. Orientasi Menjadi sadar sebagai orang beriman. Penelitian Teologi Praktis memabantu membuat diagnosis dan prognosis yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai teorinya. Pelaksanaan Lewat pelaksanaan, perubahan akan menjadi jelas latar belakang ideologis mana yang menghalangi proses perubahan. Pemantapan Dasar kriteria evaluasi ialah operasionalisasi tujuan dan penyesuaian tujuan. Kriteria ini dipakai jemaat untuk menguji apakah perkembangan paroki berhasil 2. Perspektif Sistem Kenyataan sosial dapat mendukung subjek Pembangunan jemaat tetapi juga dapat menekannya. Perhatian terhadap kenyataan sosial yang kurang lebih independen ini disebut perspektif sistem. Perspektif sistem menggarisbawahi kompleksitas dan interdependensi gejala sosial. Perspektif Sistem dalam Lima Tahap Perspektif sistem dapat dilihat dalam as horisontal, sebagai objek perubahan dari masa lalu ke masa depan, dan as vertikal, ketegangan antara cita-cita dan kenyataan dalam sistem. Dalam ini diperlukan petunjuk sbb: Tahap orientasi dan penelitian Tahap perencanaan Tahap Pelaksanaan Hasil 3. Perspektif Aktor dan Perspektif Sistem Terpadu dalam Satu Proses Pengembangan Model-model pengembangan: person-oriented menggerakkan dan membentuk person-person atau tidak. Pemantapan Tujuan yang terjangkau perlu difiksasikan dan diuji. kelompok kecil mempelopori perubahan dengan mengadakan pengamatan pertama. Perencanaan Umat paroki perlu merumuskan tujuan yang dapat dijangkau. Perlu juga mengambil

15

pengembangan relasi-relasi pengembangan grup

terarah pada komuniasi, kerjasama, kepemimpinan dan ruang

Pengembangan Paroki mencakup hal-hal berikut: perilaku pribadi dan kebiasaan pemikiran pribadi dan pola pemikiran mentalitas pribadi dan sikap hubungan antarpribadi dan pola komunikasi pembagian tugas dan tanggung jawab antarpribadi kebijakan paroki dan realisasi tujuan pilihan dan penilaian fungsi pastoral cara bermusyawarah dan berkomunikasi pembagian tugas dan tanggung jawab E. Umpan Balik dan Evaluasi Feedback dilakukan pada tahap akhir dan sesudah setiap tahap agar dapat mengetahui apakah proses memang menuju ke tujuan melalui intervensi yang sebelumnya direncanakan. Evaluasi Produk dan Proses Evaluasi produk menilai apakah tujuan yang ditetapkan tercapai. Sementara evaluasi proses memperhatikan perspektif aktor, keterlibatan para peserta dalam proses, dan komunikasi anatara peserta dalam proses. Evaluasi formatif Evaluasi formatif mensinyalir lewat proses atau produk di mana proses berada dan apakah perlu dilakukan penyesuaian. Evaluasi sumatif Evaluasi menentukan batas bagi proyek tertentu baik mengenai waktu maupun mengenai hasil yang dicapai. F. Kelompok Pendamping Tugas kelompok pendamping sangat kompleks. Masalah yang muncul di sini seputar profesionalitas, tugas, kewibawaan, relasi dengan dewan-dewan dan kelompok kerja yang lain, dan lamanya proyek. VII. MASING-MASING TAHAP DALAM PROSES A. Tahap Orientasi: Pengamatan Pertama 1. Inisiatif Inisiatif akan pembaharuan dapat dilakukan oleh berbagai orang atau kelompok dalam atau di luar paroki. 2. Kontak Kontak perlu dilakukan untuk menggerakkan proses pembaharuan. 3. Menciptakan Kesediaan Membantu kesediaan umat untuk menanganinya. 4. Apakah Permasalahannya? Di sini perlu dideskripsikan bidang permasalahan apa yang dihadapi. Memulai suatu proses pembaharuan mengandaikan di

5. Mungkinkan Menangani Problem cari tahu sejarah, apakah masalah ini sudah pernah ditangani? Apakah pada waktu itu dicara penyelesaiannya? Yang manakah? Dan apa mempertanyakan diri sebagai sistem klien dan sistem pemberi jasa, hasilnya? Di sini perlu serta mempertanyakan waktu dan

sumber daya seperti apakah yang cukup untuk menjalankan proses pengembangan secara intensif. 6. Pilihan Strategi pemilihan strategi juga diperlukan dengan memngingat ada beberapa kemungkinan, seperti strategi kerjasama, strategi belajar dan strategi akasi. 7. Perjanjian Tahap orientasi ditutup dengan membuat perjanjian tentang kerjasama, pembagian tugas, strategi, tujuan, sarana, dll. B. Tahap Penelitian 1. Perspektif Aktor dan Perspektif Sistem Perspektif aktor penting jikajemaat lokal membuat diagnosis dan prognosisnya sendiri. Sementara perspektif sistem diperlukan gambaran ikhtisar untuk mengidentifikasi masalah. 2. Diagnosis Meliputi 3 langkah: Pertama profil analitis dengan bantuan konsep teoritis Kedua menyangkut latar belakang, alasan dan sebab. Ketiga meneliti kemungkinan untuk menangani masalah. 3. Prognosis Prognosis merumuskan situsi yang diinginkan berusaha terlebih dahulu menunjukkan arah tindakan pastoral di masa depan. Arh tersebut berfunsi sebagai petunjuk jalan. Dan petunjuk jalan harus sejajar dengan pertanyaan identitas dalam diagnosis. 4. Petunjuk yang membantu Prognosis Skenario juga merupakan sarana Ilmu sosial dalam proses pengembangan. Sarana ini menjadi stimun untuk berfikir tentang hari depan. Skenario mau menangani mas depan secara kreatif dan didapatkan dengan mengkhayalkan masa depan (yang seringkali merupakan ekstrapolasi mas kini; meski tidak mutlak) secara kongkret. Ada 4 macam skenario: Skenario trend; Skenario Pesimistis; Skenario optimistis; Skenario balans. C. Tahap Perencanaan Fase perencanaan dibulatkan dengan pengambilan keputusan yang diambil oleh mereka yang terlibat. 1. Faktor Penghambat dan Pelancar dalam Proses Pengembangan Faktor Penghambat orang yang berkepentingan agar situasi sekarang tidak berubah; perubahan yang tidak dikenal hasilnya menimbulkan rasa yang tidak enak dan tidak aman; situasi sekarang memiliki segi menarik yang akan hilang kalau perubahan terjadi. Faktor Pelancar orang yang berkepentingan kalau situasi berubah menjadi yang diinginkan; perubahan berarti perlu mencari lagi di lain tempat; orang yang hingga

17

sekarang tidak turut serta mempunyai kemungkinan untuk terlibat dalam situasi baru. Faktor-faktor tersebut perlu dipertimbangkan menurut efektivitasnya, kemungkinan mamakai pengaruh, dan menurut legitimitasnya. 2. Metode Kerja Metode adalah cara bertindak yang tetap dan dipikirkan dengan baik untuk mencapai tujuan. a. Model Pakar bisa dengan meminta nasihata seorang pakar dalam menentukan jalan menuju hari depan. b. Model kerjasama penentuan jalan menuju hari depan dilakukan dalam perundingan antara pembimbing dengan yang dibimbing. Disesuaikan dengan hubungan timbal balik terus-menerus antara pembimbing dan yang dibimbing. c. Model Aksi dewasa ini sering dipakai aksi-aksi yang disiapkan dan dipimpin dengan kelompok aksi yang khusus dibentuk untuk itu. d. Model belajar Pelaksanaan terjadi dalam kerjasama antara pembimbing dan yang dibimbing. Dalam kerjasama ini, relasi guru-murid memainkan peranan penting. 3. Membuat Program Program merumuskan bidang dalam mana aksi bergerak, tujuan yang mau dicapai, dan langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Program yang efektif harus: konsisten dengan konteks atau situasi sejalan dengan pedoman intern jemaat sesuai dengan sumber dana dan daya yang tersedia memikirkan resiko yang akan diterima memikirkan timing yang tepat memikirkan hal-hal lain yang mungkin perlu dipertimbangkan. 4. Proses Pengambilan Keputusan Proses pengambilan keputusan itu merupakan langakah tersendiri dalam tahap perencanaan. Tidak ada gunanya memaksakan keputusan. Keputusan harus atas persetujuan dari para anggota jemaat dalam paroki. 5. Catatan Tambahan: Manajemen Proyek Unsur-unsur manajemen proyek ialah: Proyek memerlukan kelompok proyek Proyek terarah pada tujuan tertentu Proyek ditempatkan dalam keseluruhan aktivitas paroki Proyek menjadi jelas lewat pilihan dan keputusan Proyek mempunyai konsekuensi bagi perkembangan konsep dan cita-cita dalam jemaat. D. Tahap Pelaksanaan Di samping tujuan konkret dan jelas yang sudah dibicarakan, haru ada: pembagian tugas baik oleh

deskripsi tanggung jawab penugasan orang dan kelompok penyesuaian tugas serta orang yang bersangkutan satu dengan yang lain komunikasi yang dilakukan untuk semua itu Pelaksanaan perlu mengetahui apakah kegiatan menghasilkan apa yang diinginkan atau tidak. E. Tahap Pemantapan Konsolidasi situasi yang baru atau menciptakan syarat yang menjamin bahwa hasil yang tercapai tetap terpelihara. Evaluasi sumatif termasuk ke dalam fase pemantapan. Evaluasi ini menyangkut kedua perspektif: aktor dan sistem. Pemantapan menuntut juga persyaratan berdasarkan sistem parokial. VIII. ANALISIS Ada beberapa aspek yang bertujuan mengarahkan dan memperhalus analisis dalam proses perkembangan yaitu: masa lalu-masa kini dan masa depan, keterlibatan jemaat, apakah penelitian sudah menjadi kepentingan seluruh jemaat dan kesadaran jemaat sebagai totalitas yang memperhatikan perspektif aktor dan perspektif sistem. Dalam analisis, diagnosis dan prognosis merupakan cermin yang satu bagi yang lainnya. Identitas paroki memunculkan ketegangan antara keduanya. Mencari aspek-aspek yang lemah dalam organisasi paroki merangsang untuk berpikir bagaiman aspek-aspek itu dapat diperbaiki. Lima unsur analisis diagnosis dan prognosis dalam Pembangunan Jemaat: 1. Identitas paroki Analisis memfokuskan identitas paroki. Keberadaan, vitalitas, daya tarik Jemaat lokal tergantung pada penentuan identitasnya. Penentuan ini memerlukan hubungan timbal balik dengan tanda zaman dan ruang kultural. Penentuan identitas perlu menjawab: siapakah kita, apakah alsan keberadaan kita sebagai umat beriman, apa yang menjadi tanggungan kita, dan apa yang menjadi penugasan dan misi kita. Identitas paroki ditetapkan bukan dari luar melainkan lewat perundingan komunikatif dalam paroki. Salah satu perhatian penting paroki adalah tentang misi. Misi paroki dalam hal ini tidak berasal dari uskup saja melainkan pertama-tama dari Yesus. Karena misi Yesus diarahkan pada paroki. Dari sini tampak bahwa penetapan identitas juga merupakan komunikasi iman. Paroki sebagai Institut, organisasi Dalam paroki terjadi proses institusionalisasi peristiwa kehidupan Yesus. Dampaknya ialah kenangan akan peristiwa Kristus. Ia menjaga kelestarian peristiwa : menjaga pewartaan agar tidak mencair, dan menghilan dalam keterbatasan serta kefanaan manusiawi. Jadi institut Gereja dipanggil untuk menghidupkan harapan dan kepercayaan awal akan kedatangan Kerajaan Allah. Sebagai organisasi Gereja harus bertindak dengan 2 aspek: bertindak efisien dan terarah pada tujuan dan bertindak bekerja sama. Paroki sebagai Organisme Perubahan yang direncanakan

19

Konsep teoritis tahun 60-an mengatakan, perubahan perilaku individu yang terjadi dalam kelompok kecil membawa perubahan dalam perilaku organisme secara keseluruhan. Pengembangan Manajemen: merupakan varian perubahan yang direncanakan. Tujuannya juga untuk individu, namun lebih pada individu pemimpin. Dilakukan dengan memberi kursus pada pemimpin. Yang mau dicapai adalah penanganan karya pastoral yang lebih profesional dan sistematis. Namun pada umumnya hal ini tidak menyebabkan perubahan besar dalam organisme gerejawi, tapi sedikitnya hal ini mengembangkan kerelaan pemimpin untuk lebih peka terhadap fungsi mereka sendiri. Pengembangan organisasi: Karena organisme adalah totalitas yang sungguh-sungguh, maka perubahan harus pertamam-tama mengenai organisme sebagai totalitas. Inti spiritualitas organisme gerejawi: realitas spiritualitas jemaat lokal bertjuan untuk mencegah agar jemaat tidak menjadi barang mati. Wujud khas jemaat lokalialah dinamika Roh Kudus dan wujud di mana kita merupakan satu tubuh, satu iman, satu baptisan, satu Tuhan dan satu Allah. Paroki sebagai sistem terbukaMaksudnya paroki terbuaka akan hidup gerejawi dan masyarakat yang mengelilinginya, ternuka akan cita-cita, dan kebutuhanmereka. Hal ini berarti bahwa konteks mempengaruhi paroki dan paroki juga mempengaruhi konteks. Salah satu yang menolong dalam analisa konteks ini adalah peta sosial yang berupa peta geografik, penduduk, sumber kehidupan, situais pendidikan, sarana ruang, situasi tempat tinggal, karya sosial budaya dan hidup perkumpulan, penulisan sejarah dan patokan interaksi. IX. REALISASI TUJUAN SECARA SISTEMATIS Pembangunan Jemaat ialah Bertindak Terarah pada Tujuan Pembangunan Jemaat mencakup mengubah, membaharui jemaat atau paroki. Pembangunan jemaat bertujuan membangun masa depan jemaat dengan berpastoral secara sistematis, bukan menjalankan pastoral by trial and eror. B. Zweckrationalitat dan Wertratinalitat Zweckrationalitat adalah berpikir dalam kategori efisien dan efektif. Cara berpikir ini umum dalam suatu perusahaan, namun tidak selalu diterima dalam Gereja. Wertratinalitat lebih menghargai arti seta nilai manusia daripada barang. Cara berpikir inilah yang ditrima dalam Gereja. Dalam pembangunan Jemaat bertindak sistemiatis rasional dimengerti baik sebagai Zweckrationalitat juga sebagai Wertratinalitat. C. Rasionalitas Konkret Pembangunan Jemaat sebagai proses. Pelaksanaan tujuan secara sistematis berarti bahwa kita berpikir step by step dan bahwa setiap langkah mempunyai karakteristik dan tujuannya sendiri. Langkah-langkahnya: Pertama, Orientasi; kedua, penelitian; ketiga, rumuskan tujuan; keempat, evaluasi. Tujuan menjadi karena tanpa tujuan kita tidak dapat menentukan kemajuan yang telah dicapai dan sulit menentukan bagaimna kita dapat melanjutkan proses. D. Tujuan yang Memberi Inspirasi dan Tugas yang Menarik Tujuan merupakan faktor yang paling pokok bagi vitalitas jemaat. Tujuan harus menarik dan

menginspirasikan agar orang tergerak untuk berpartisipasi, sehingga tugas-tugas menjadi menarik lagi bagi mereka. Tujuan harus memenuhi kriteria berikut: Relevan mampu menjawab pertanyaan dan kebutuhan orang dalam kelompok Terjangkau tujuan yang terlampau tinggi menyebabkan demotivasi Hubungan tujuan kerja dengan tujuan dan identitas paroki harus jelas E. Tujuan sebagai Proses Polaritas masa kini masa depan menjadi penting bagi Pembangunan Jemaat. Untuk melihat masa depan jemaat sebagai seseuatu yang diinginkan, perlu belajar menyadari situasi yang tidak diinginkan. F. Tujuan Membawa ke Situasi yang Diinginkan Tujuan dapat dirumuskan sebagai cermin situasi, dalam diagnosis digambarkan sebagai situasi yang tidak diinginkan. Di sini tujuan harus membawa pada situasi yang diinginkan. Aspek yang terkait, yakni: perkiraan yang hampir pasti bahwa situasi akhir lebih baik dari situasi awal dan perkiraan bahwa situasi akhir akan stabil. 2. Sadar Akan Masa Depan Masa depan perlu dioperasionalkan sebagai tujuan dan kita perlu menyadarkan orang beriman bahwa sudah tiba saatnya untuk bertindak. Bertindak tentunya perlu bagi dinamika dalam proses penyadaran. 3. Langkah-langkah dalam Tujuan Tujuan harus dibuat konkret atau operasional agar dapat menggerakkan proses yang awet dan tahan lama. 4. Pembatasan Perlu ada pembatasan dalam bidang-bidang di mana kebutuhan akan perubahan dan perbaikan dirasakan paling jelas. Pembatasan juga mencakup orang: kepada siapa kita mengenakan perbaikan dan perubahan. Berpikir dalam Perspektif Hasil Berpikir dalam rangka hasil sering mendapat tentangan dalam lingkup gereja karena orang beriman cenderung melihat hari depan Gereja sebagai sesuatu yang datang dari Allah. Namun seseungguhnya jika dasar iman itu diandaikan ada maka kita mempunyai tanggung jawab untuk bertindak dengan hasil. 6. Indikator dan Tolak Ukur Indikator kuantitatif, misalnya jumlah orang, sering digunakan sebelum menentukan kriteria atau indikator untuk mengukur tercapai tidaknya hasil. Namun hasil yang mau dicapai sering juga bersifat kualitatif. 7. Proses Pembangunan jemaat secara menyeluruh bersifat proses: dalam semua tahap proses hadirlah tujuan tujuan tidak sekali jadi, ada penyesuaian terus-menerus

21

tujuan harus bersifat terbatas agar dapat terjangkau tujuan disesuaikan dengan fase waktu 8. Konsep dan Tujuan Pandangan yang berbeda mengenai jemaat mempengaruhi situasi yang diinginkan sebagai tujuan pembangunan jemaat. Isi tujuan tergantung ada orang yang merumuskannya. G. Pembaharuan? Pemulihan kembali yang dibayangkan ialah perbaikan fungsi tradisional Gereja. Reorganisasi penyesuaian paroki sehingga dapat berlangsung terus dengan lebih baik; juga dalam hubungan yang lebih luas dengan paroki lain. Reorientasi bentuk yang ada disesuaikan dnegan perubahan yang fundamental di zaman modern ini. Penciptaan kembali mengenai pembaharuan gereja Tujuan dalam proses perkembangan dibedakan antara tujuan akhir dan tujuan antara. Tujuan akhir adalah pengertian relatif. Tujuan akhir dirumuskan dalam perspektif hasil terakhir yang ingin kta capai sesudah semua tahap proses dilalui. Semntara tujuan antara dirumuskan secara kronologi: jemaat dipersiapkan dan dimotivasi terlebih dahulu sebelum berpartisipasi demi tujuan akhir. X. PEMBANGUNAN JEMAAT ADALAH TINDAK TANDUK RELIGIUS DAN IMANI Catatan Pendahuluan Pertama dan Kedua Pembangunan Jemaat adalah tindak-tanduk religius dan imani. Pembangunan jemaat bersandar pada pengertan religius. Manusia harus meraba serta mncari-cari pesan dan firman Allah. Di mana pesan tersebut dapat diwujudkan dan dimengerti di dalam jemaat. Zulhener mengkaitkan Kabar Allah mengenai pembebasan dengan perwujudan Kerajaan Allah di dunia ini. Kenyataan yang lebih tinggi daripada Gereja Tujuan Pembangun Jemaat adalah kedatangan Kerajaan Allah. Kedatangan itu tidak hanya merupakan hal yang akan terjadi, melainkan juga hal yang sudah dimulai dalam perbuatan Yesus Kristus, dan digenapi oleh karya Roh Kudus dalam Gereja-gereja. Pandangan kristologis lebih menekankan pembangunan jemaat lokal yang organis, mengakui adanya beraneka ragam karisma dan fungsi dalam Gereja. Kesatuan karisma dan fungsi tersebut terjamin dalam tubuh Kristus. Pandangan pneumatologis menekankan Pembangunan Jemaat lokal menurut karisma. Semua orang diinkororasikan ke dalam Kristus oleh iman dan baptisan. Karisma perorangan dimaksudkan untuk mengabdi kepada jemaat seluruhnya. Pandangan kristologis dna peumatologis berkeyakinan bahwa dengan cara demikian Kerajaan Allah menjadi kenyataan. Kenyataan yang lebih jauh daripada Gereja Dalam jemaat lokal yang berkumpul untuk saling mengingatkan akan tindakan Yesus dan melestarikan serta mengintensifkan keprihatinan dan pelayanan Yesus terhadap dunia, terdapat dua pendekatan: 1) Apa yang telah dikehendaki dan dilakukan oleh Yesus dianggap sebagai norma bagi H. Tujuan dan Aksi

tindak-tanduk jemaat lokal. 2) Pendekatan yang mau mewujudkan kepengikutan. Di sini konteks sangat diperhatikan. Di sini terdapat unsur fundamental baru yaitu: Jemaat lokal sebagai subjek dan Pembangunan jemaat bukanlah bagunan atas mana kita puas. XI. PEMBANGUNAN JEMAAT ADALAH TINDAKAN KOMUNIKATIF Pembangunan jemaat adalah tindak-tanduk komunikatif berupa tindakan mewartakan, mengajar, memelihara,menggembalakan, melayani, merayakan dan juga membangun. Juga berbicara, mendengarkan orang lain, dll. Di sini hendak dikatakan bahwa Kerajaan Allah dalam Gereja perlu diwujudkan menjadi tindakan nyata. Apa yang pada akhirnya dikehendaki Allah terhadap manusia ialah datangnya keadilan dan kedamaian bagi mereka yang berkekurangan, yang lemah, miskin, dan yang tertindas. Schneider melihat komunikasi sebagai struktur dasar jemaat, yang mencakup dialog, komunikasi, dan kerjasama kooperatif mendasari tindakan Yesus dan pembentukan jemaat setempat atau Gereja. XII. PEMBANGUNAN JEMAAT ADALAH PENGEMBANGAN ORGANISME GEREJAWI A. Pengembangan Pengembangan lebih menitikberatkan pada ilmu tindak-tanduk. Oikodome dan istilah agogis pengembangan Pengembangan adalah pengertian agogis yang mencakup perubahan dan pendampingan menuju perubahan manusia. Dalam hal ini jemaat harus mau bertanggung jawab atas perwujudan berimannya dan mau bertanggung jawab atas udaha menjadi sarana kedatanagn Allah serta sadar akan kemampuannya sendiri. Pembangunan serta pengembangan jemaat, pelayanan demi terwujudnya keadilan Allah Pengembangan jemaat beriman berarti bahwa jemaat itu sendiri mengambil inisiatif akan perubaan. Pembangunan jemaat berbicara seputar bagaimana mengaktifkan jemaat dan tentang meningkatkan partisipasi dalam segala bentuk. Jemaat bukanlah sujek saja melainkan juga sarana untuk mewujudkan keselamatan di dunia. Pembangunan jemaat sebagai tindak-tanduk agogis terarah pada pengaktifan jemaat lokal, agar jemaat itu menjalankan kebijakannya sendiri dalam situasi mereka. Pembangunan Jemaat sebagai tindakan agogis terjadi dalam dimensi ruang (struktur) dan waktu (dinamika). Menguasai keraguan untuk mengambil keputusan merupakan ciri pokok pengembangan agogis. Pembangunan Jemaat sebagai pengembangan agogis ditujukan pada jemaat secara keseluruhan. Dari sudut keseluruhan ini ditentukan arah proses dan siapa orang dan kelompok yang menjadi sasaran.. Tanggung jawab sendiri, penentuan diri, dan realisasi tujuan secara sistematis didekati secara totalitas jemaat lokal sebagai kenyataan sosial yang sungguh-sungguh berada. Jemaat beriman adalah organisme yang merupakan realitas sosial. Sebagai organisme, jemaat itu merupakan kenyataan manusiawi dan spiritual. XIII. PENGAMANATAN SITUSI SEKARANG DAN PENGAMATAN MASA DEPAN A. Catatan Pendahuluan Pertama: Polaritas antara Situasi Sekarang dan Hari Depan Proses perubahan dibedakan antara masa kini dan masa depan, agar perubahan yang terjadi dapat

23

diamati dengan jelas. Pada bab ini akan lebih khusus membicarakan pengamatan kebenaran dalam hubungan dengan kedua waktu tadi yaitu pengamatan situasi sekarang dan pengamatan masa depan. Perbedaan antara kedua waktu itu sering berbentuk polaritas dan dalam praktek perbedaannya itu tidak jelas. B. Catatan Pendahuluan Kedua: Dinamika Ganda dalam Pembangunan Jemaat Pembangunan Jemaat digerakkan oleh dinamika ganda: 1. Jemaat ditugaskan untuk melakukan tindakkan penyelamatan Allah 2. Kita mengkomunikasikan bagaimana kita sendiri mengalami tindak-tanduk Allah Pembangunan Jemaat memudahkan perantaraan penyelamatan dalam jemaat lokal. Kebutuhan dan keinginan warga jemaat perlu diperhatikan agar perantaraan penyelamatan serta realisasi tujuan itu berhasil. C. Kontekstualisasi dalam Pengamatan Situasi dan Masa Depan Konteks jemaat memainkan peranan yang penting dalam pengamatan situasi sekarang dan masa depan. Konteks ialah situasi sekarang yang ditentukan oleh banyak faktor: masa lalu, sekarang, dan masa depan dan termasuk perubahan nilai. Kontekstualisasi membuat Pembangunan Jemaat menjadi proses yang relevan. Apa yang dimaksudkan dengan kontekstualisasi? Kontekstualisasi adalah lingkungan masyarakat, tempat jemaat berada, mengungkapkan diri dan ikut berbicara. Bagi Pembangunan Jemaat, lokal konteks yang berbeda-beda memainkan peranan dalam hal pemberian arti dan hal efek pemberian itu. Bagi paroki atau jemaat kita sendiri ada aspek yang berperan, seperti: Konteks Katolik dan ekumenis: paroki dan jemaat membagi-bagikan katolisasinya dengan paroki dan jemaat yang lain. Konteks politik: politik itu adalah politik lokal atau efek politik provinsi terhadap situasi lokal. Konteks ekonomi: hal penganguran dan kemungkinan untuk berhasil dalam pekerjaan berdasarkan situasi lokal. Konteks sosio agama: industrialisasi membawa dampak kepada manusia yang semakin menjadi pusat dan peranan Allah kurang ditekankan. Konteks keadailan: hal ini mengenai orang kecil yang tertindas orang yang kuat. Nivo makrososial Gereja Katolik, paroki lokal tidak bisa dilihat lepas dari nivo makrososialnya seperti keuskupan, kepengurusan keuskupan, dan uskup sendiri. Dalam aspek inilah jemaat diminta menampilkan diri sesuai dengan identitasnya. D. Konteks dan Kebenaran Dalam pengamatan situasi sekarang dan masa depan, konteks dan kebenaran terkait satu sama lain. Masyarakat diberi ruang untuk mengungkapkan diri dalam konteks Pembangunan Jemaat lokal yang demikian.

E. Bersama Mengamati Kebenaran dalam Situasi Konkret dan Masa Depan Pengamatan tentang kebenaran dalam konteks tidak mudah dan hanya dapat dilakukan oleh jemaat dala kebersamaan, namun juga tidak lepas dari kendala berupa perubahan dalam hidup bermasyarakat dan beragama yang diinterpretasikan secara berbeda-beda. F. Pengamatan Situasi dalam Terang Injil 1. Pengamatan Situasi: Modernisasi Modernisasi dimungkinkan oleh kemajuan teknologi yang pesat yang berlangsung di dunia masa kini di mana-mana, namun tidak secara merata. Modernisasi membawa perubahan dalam skala nilai. Modernisasi memperkuat individualisme: individu/lingkup saudara dan kawan serta kebahagiaan personalnya menjadi tujuan sendiri. Salah satu gejala individualisme ialah nepotisme, dan dalam rangka ini juga munculah sekularisasi. Proses sekularisasi merupakan proses emansipasi bagi manusia ke arah kebebasan dan tanggung jawab. Denganmelibatkan diri ke dalam dunia serta berusaha memperbaikinya maka manusia membebaskan diri dan dunia. Sekularisasi menolong untuk mengamati kebenaran tentang manusia. 2. Dalam Terang Injil Melalui proses sekularisasi, kita belajar mengenai kebenaran di sekitar keberadaan manusia, yaitu bahwa manusia dengan kebebasannya serta tanggung jawabnya dipanggil untuk mengolah dunia lebih lanjut. Pengamatan kenyataan manusia dalam jemaat kristiani dilaksanakan dalam terang Injil. Kristus datang untuk mewartakan Kerajaan Allah. Maka dalam Pembangunan Jemaat, kita mencari wujud Kerajaan dalam konteks jemaat dan kita berusaha supaya jemaat dalam perwujudan itu bisa memainkan peranannya. Menurut Van Kessel dalam bukunya Enam Tempayan Air, ia menuliskan bahwa Injil membawa berita kesukaan bagi orang yang miskin. Injil adalah berita pembebasan. Pembebasan berarti kemerdekaan dalam hidup yang menderita. G. Pengamatan Masa Depan dalam Terang Injil 1. Proyek Paul Zulehner di Passau Kata Kunci adalah hasil pemikiran Zulehner sebagai hasil dari perenungannya mengenai kerinduan dan pemahaman terhadap tradisi Gereja. Kata kunci ini diolahnya secara sistematis. Sistem teoretis ini dinamakannyakriteriologi yaitu ajaran mengenai tujuan atau kriteria untuk menilai tujuan yang ada. Kata kunci selanjutnya diolah oleh Zulehner sebagai pengertian teologis yang berfungsi ekspresif, orientasi, kritis, kontekstual. 2. Pengolahan Kata Kunci Pengolahan kata kunci mencakup mengenai pembangkitan, hidup (pengamatan situasi), hidup (pengamatan masa depan), pembebasan (pengamatan situasi), dan pembebasan (masa depan).Inti dari kata kunci di atas adalah bebasnya manusia dari masalah-masalah (keadaan hidup yang kacau, kemiskinan, penderitaan) hidupnya melalui peranan Gereja yang memberikan bantuan, dukungan, perhatian terhadap permasalahan yang terjadi. Kata kunci merupakan bahan komunikasi dan sekaligus sarana komunikasi.

25

XIV. PAROKI SEBAGAI DIMENSI RUANG DALAM PEMBANGUNAN JEMAAT Paroki merupakan gejala historis dan sosiologis. Sistem ini mulai berkembang pada awal abad pertengahan. Sistem paroki mula-mula ditata sesuai dengan kebutuhan dan kemungkinan intern gerejawi. Seperti di lain tempat di dunia, masyarakat Indonesia pun mengalami perubahan di tengah masyarakat yang sekaligus menjadi sebab perubahan fundamental dalam kelakuan gerejawi. Hal ini mendapat perhatian dari ilmu sosial dan para ahli Teologi Praktis dengan mencoba meregisterasikan konsekuensinya bagi paroki melalui tesis: Iklim hidup yang modern dan pengertian baru mengenai pastoral menuntut perubahan fundamental dalam tindak-tanduk Gereja lokal, dan bersamaan dengan itu juga perubahan fundamental dalam sistem paroki. Dua Paham: Paroki dan Perubahan Fundamental Paham Paroki Sarana yuridis gerejawi untuk mengatasi reksa patoral umat katolik. Paroki adalah jemaat kaum beriman kristiani yang di dalamya pasti disediakan kemungkinan untuk perundingan dan nasihat. Ikatan sosial yang dibedakan menjadi: - Kelompok sosial: ikatan sosial yang lebih luas - Organisasi Sosial: Organisasi didirikan supaya dapat bekerja terarah dan efisien - Gerakan sosial: semua inisiatif yang diambil oleh orang dan kelompok dalam paroki yang menyediakan diri untuk menangani masalah kemasyarakatan dan berusaha melibatkan semakin banyak warga paroki dalam gerakan tersebut. Institut yang berarti melembagakan tigkah laku, cara berpikir, cara bertindak, komunikasi dan relasi-relasi dalam jemaat lokal. d. Substrata paroki yang sosio-morfologis dan sosio-budaya Yang ditekankan di sini adalah sifat teritorialnya. Dalam paroki terjadi hubungan dengan macammacam ikatan sosial yang lain. Paham Perubahan Fundamental Penyesuaian Sistem dilestarikan kalau pelayanan, fungsi dan struktur paroki disesuaikan dengan kebutuhan dan kelakuan baru umat. b. Perubahan Radikal Umat dimobilisasikan, digerakkan dengan bantuan dan pelayanan antarumat hingga terjadi perubahan struktur yang radikal. Syarat bagi Perubahan Radikal dalam Sistem Paroki Melespaskan Penataan Paroki dari pusat. Pengaturan pastoral tidak hanya dari pusat ke bawah, melainkan juga dari bawah ke pusat. Perubahan yang kini diadakan merupakan penyesuaian: Defenisi paroki sebagai pengatur reksa pastoral adalah penyesuaian, di mana mempertahankan dan menyesuaikan status quo sistem paroki lebih dipentingkan daripada melakukan perubahan fundamental.

Mengatur ialah Usaha yang Berat Sebelah: Pengaturan reksa pastoral itu pada hakikatnya merupakan pengaturan yang berat sebelah karena hanya datang dari pusat Gereja. Konsep Gereja yang biasanya ada di keuskupan: penataan reksa pastoral oleh uskup sebagai kepala Gereja akan menyebabkan pelebaran organisatoris paroki teritorial ke tugas-tugas supraparokial maupun pendirian paroki teritorial belum merupakan perubahan fundamental. 2. Memperluas Pengertian Paroki. Paham paroki harus dihubungkan dengan gerakan dan peristiea yang terjadi dalam gereja lokal. Paroki adalah salah satu di mana tindakan pastoral itu diwujudkan. Ekuivalensi antara Orang Beriman dan Pejabat a. Ekuivalensi merupakan pengakuan tehadap posisis masing-masing, baik posisi orang berimana maupun posisi jabatan gerejawi. Ekuivalensi ini mengimplisitkan lalu lintas dua arahantara mereka yang bersangkutan. Dalam bahasa teologi, dikatakan bahwa eklesiologi dari atas berevolusi menuju ke teologi dari bawah. Mengatur sendiri: inisiati paroki untuk menangani reksa pastoralya sendiri. Analisis Kemungkinan Baru a. Kedekatan agar arti simbolis paroki menjadi kentara, seperti kedekatan sesama umat. b. Mengikuti Yesus Lewat Bermacam-macam Wujud Lokal dalam sistem paroki kisah iman dan kepentingan iman umat perlu diberi ruang yang cukup luas karena Allah perlu lebih dekat pada rumah manusia dan lebih dekat pada tempat di mana orang merasa at home dalam masyarakat modern.

27