Anda di halaman 1dari 35

MATERI

HIBAH PENGEMBANGAN COURSE CONTENT


PROGRAM HIBAH KOMPETISI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
TAHUN 2007

PENGEMBANGAN LABORATORIUM VIRTUAL MATA KULIAH


ERGONOMIKA DAN KESELAMATAN KERJA BERBASIS E-LEARNING

Tim Pengusul: 1. Dr. Ir. Sam Herodian, MS


2. Dr. Ir. M. Faiz Syuaib, M.Agr
3. Dr. Lenny Saulia, S.TP, M.Si
4. Ir. Mad Yamin, MT

Bagian : Ergonomika dan Elektronika Pertanian


A. DESKRIPSI SINGKAT TENTANG MATERI AJAR DAN LABORATORIUM
VIRTUAL
Tujuan Instruksional Umum mata kuliah Ergonomika dan Keselamatan Kerja (TEP
470) adalah agar setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa dapat memahami,
mengidentifikasi dan mengaplikasikan kaidah-kaidah Ergonomika dalam perancangan dan
analisis di bidang teknik pertanian. Sebagaimana GBPP, mata kuliah ini secara umum
berisi tentang: (1) Definisi, Pengertian dan Ruang Lingkup Ergonomi, (2) Anthropometri,
(3) Biomekanik, (4) Pengukuran dan Analisis Beban Kerja, (5) Kebisingan, (6) Getaran
Mekanis, (7) Fotometri, (8) Studi Gerak dan Waktu.
Laboratorium virtual mata kuliah Ergonomika dan Keselamatan Kerja (TEP 470)
dikembangkan dengan mengacu pada GBPP tersebut. Tujuan pengembangan laboratorium
virtual berbasis web untuk Mata Kuliah Ergonomika dan Keselamatan Kerja (TEP 470) ini
adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan peran aktif mahasiswa
dalam sistem pembelajaran mandiri, serta membuat ilmu ini diketahui dan dikenal oleh
masyarakat Indonesia.

B. Pengertian dan Ruang Lingkup Ergonomi


Istilah “ergonomi” berasal dari Bahasa Yunani, yaitu: “ergos” yang berarti kerja dan
“nomos” yang berarti ilmu, hukum atau aturan. Jadi, secara harfiah ergonomi dapat
diartikan sebagai suatu ilmu atau aturan tentang bagaimana seharusnya melakukan kerja.
Seiring dengan perkembangan sistem dan teknologi kerja itu sendiri, maka berbagai
hal yang mengkaji dan mengatur interaksi antara manusia sebagai pelaku atau tenaga kerja
dengan peralatan, mesin ataupun lingkungan kerja berkembang menjadi suatu cabang ilmu
tersendiri, yaitu Ergonomi.
Walaupun sebagian besar negara di dunia menggunakan istilah yang berasal dari
padanan kata “ergonomi” (Ergonomics dalam Bahasa Inggeris, ergonomi atau ergonomika
dalam Bahasa Indonesia) untuk disiplin ilmu ini, ada beberapa negara menggunakan istilah
lain. Seperti misalnya: Human Engineering atau Human Factors Engineering lazim
digunakan di Amerika Utara atau Labour Science (Roudou Kagaku) digunakan di Jepang.
Meskipun ada perbedaan istilah yang digunakan di beberapa negara tersebut, namun secara
umum semuanya itu mempunyai definisi, misi dan tujuan yang sama.
Secara umum ergonomi dapat didefinisikan sebagai suatu aplikasi sistematik dari
berbagai informasi dan kajian yang relevan tentang karakteristik, kemampuan dan
keterbatasan manusia serta interaksinya terhadap alat, mesin, prosedur dan lingkungan di


 
mana manusia melakukan kerja/aktivitas dengan tujuan agar tercapai kondisi keselamatan,
kesehatan dan kenyamanan serta produktivitas kerja yang optimal.
Dari definisi di atas terlihat bahwa pada dasarnya pendekatan ergonomi terdiri atas
dua sub-sistem, yaitu sub sistem perlengkapan dan lingkungan kerja serta sub sistem
manusia. Sub-sistem perlengkapan dan lingkungan kerja meliputi aspek-aspek yang terkait
dengan desain alat/mesin, desain operasi/proses serta desain lingkungan kerja. Sedangkan
sub-sistem manusia meliputi aspek-aspek yang terkait dengan kemampuan dan
keterbatasan manusia, baik dari segi fisik, fisiologis, psikologis, latar belakang sosial, dan
sebagainya.
Aplikasi ergonomi berupaya untuk menciptakan suatu kombinasi yang paling sesuai
dan serasi (match/compatible) antara sub-sistem peralatan dan lingkungan kerja dengan
sub-sistem manusia sebagai user ataupun operatornya. Dengan terciptanya keserasian
antara kedua sub-sistem kerja tersebut, maka keselamatan dan kenyamanan kerja dapat
ditingkatkan serta kesalahan dan kecelakaan kerja dapat direduksi sehingga efektivitas dan
efisiensi kerja (kinerja) dapat ditingkatkan dan pada akhirnya akan menghasilkan sistem
kerja yang lebih produktif (Gambar 1).

Ergonomic
(Human Factors Eng.)

Working syst & environ’t User/Operator


Machine, tool, space, etc. (Human)
Abilities, limitations

Design
Design(machine,
(machine, Education & training
tasks,
tasks,environments)
environments) (user
(user//operator)
operator)
Match/Compatibility
Conditional (Assessments)
Work management
requirements

¾Increase
¾Increase safety
safety&&comfort
comfort
¾Reduce errors
¾Reduce errors && accidents
accidents
¾Increase work
¾Increase work performance
performance

Improving
work productivity

Gambar 1. Konsep dasar pendekatan Ergonomi


 
Dalam bidang teknik (engineering), fokus ergonomi sangat erat berkaitan dengan
kontekstualisasi aspek-aspek manusia di dalam proses perencanaan dan perancangan
produk teknologi (alat, mesin, sistem produksi, lingkungan kerja, dll), termasuk pula
dampaknya terhadap manusia sebagai pengguna atau operatornya. Oleh karena itu,
ergonomi akan mengarahkan proses perancangan agar menghasilkan produk yang tidak
saja memiliki kemampuan teknis yang lebih baik, tetapi juga produk yang sesuai dan serasi
dengan kemampuan dan keterbatasan manusia sebagai pengguna ataupun operatornya.

C. Anthropometri
Anthropometri adalah suatu bidang Ergonomika yang menyangkut masalah
pengukuran statik manusia. Berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu anthropos (=
manusia) dan metron (= pengukuran). Data anthopometri dapat digunakan untuk optimasi
dimensi berbagai macam benda yang sering digunakan manusia.

C.1. Alat Ukur Anthropometri (Anthropolometer)


Anthropometer adalah suatu alat untuk mengukur jarak, ketinggian dan sudut suatu
titik dari suatu posisi acuan tertentu. Realisasinya, alat ini berguna sebagai alat bantu
untuk mendisain atau mengetahui posisi alat-alat atau instrumen pengendali dari suatu
mesin atau sistem kerja terhadap posisi operatornya.
Sesuai dengan kegunaanya, alat ini terdiri dari pengukur jarak yang dapat digerakkan
secara horizontal, vertikal, dan berputar pada sumbu vertikal sehingga dapat digunakan
untuk mengetahui posisi relatif suatu titik terhadap titik acuan tertentu. Alat yang
seringkali digunakan dalam pengukuran anthropometri adalah anthropolometer (Gambar
2).

C.2. Data Anthropometri


Jika kita akan merancang sesuatu yang dapat digunakan seseorang dari sesuatu yang
sederhana seperti pensil sampai sesuatu yang kompleks seperti mobil, kita akan
membutuhkan karakteristik fisik orang dalam bentuk data. Data anthropometri menyajikan
data ukuran anggota tubuh yang berbeda antara pria dan wanita, berbeda antar negara, dan
juga tingkat usia.


 
 
Gambar 2. Anthropolometer

Cara pengumpulan data anthropometri adalah dengan melakukan pengukuran


dimensi tubuh masing-masing individu suatu populasi. Terdapat dua jenis data
anthropometri yaitu data dimensi statik dan dinamik. Data dimensi statik adalah data yang
diperoleh dari pengukuran saat tubuh manusia dalam posisi tetap baik dalam kondisi duduk
maupun berdiri (Gambar 3). Sedangkan data dimensi dinamik adalah data yang diperoleh
dari pengukuran saat tubuh manusia dalam posisi melakukan suatu aktivitas. Terdapat dua
prinsip dalam memperoleh data dimensi dinamik, yaitu dengan estimasi dan integrasi.
Prinsip estimasi adalah dengan mengkonversi data statik untuk kondisi dinamik, contohnya
tinggi badan dinamik sama dengan 97% tinggi badan statik, jangkauan dinamik sama
dengan 120% panjang tangan statik, dll. Sedangkan prinsip integrasi adalah dengan
menggabungkan data yang berhubungan dengan suatu ukuran, contohnya jangkauan
dinamik adalah penjumlahan antara panjang tangan statik, pergerakan bahu, rotasi parsial
punggung, jarak saat membungkuk, dan pergerakan telapak tangan.
 


 
 
Gambar 3. Contok pengukuran dimensi tubuh manusia

 
C.3. Prinsip Penerapan Anthropometri dalam Ergonomika
Populasi manusia memiliki variasi bentuk dan ukuran tubuh yang tinggi. Dengan
menggunakan sebaran normal, persentil dalam data anthropometri menunjukkan bila suatu
ukuran adalah rata-rata, di atas atau di bawah rata-rata. Jika kita membuat grafik tinggi
tubuh (atau dimensi lainnya) dari sebuah populasi, gambar tersebut akan terlihat seperti
pada Gambar 4.


 
5% 5%
populasi populasi
berada berada
dalam dalam
area ini area ini

persentil ke-5 persentil ke-50 persentil ke-95

tinggi 

Gambar 4. Sebaran normal tinggi tubuh suatu populasi


 
Grafik sebaran normal seperti pada Gambar 1.3 yang secara simetris membagi 50%
populasi lebih tinggi atau rata-rata, dan 50% lebih rendah atau rata-rata. Pada bagian ujung
kiri terdapat titik, yang disebut dengan persentil ke-5, karena 5% populasi memiliki tubuh
lebih pendek dari ukuran tertentu. Begitu juga di bagian ujung kanan terdapat titik
persentil ke-95, dimana hanya terdapat 5% orang yang lebih tinggi dari ukuran tertentu ini.
Penggunaan ukuran persentil ke-5, ke-50, atau ke-95 dalam perancangan suatu alat
atau ruang tergantung pada apa yang akan didisain dan kepada siapa rancangan tersebut
ditujukan. Pada umumnya kita gunakan persentil ke-95 agar 95% populasi dapat
menggunakan disain kita. Sebagai contoh, jika kita memilih suatu ukuran untuk tinggi
pintu, kita akan memilih persentil ke-95 dari nilai tinggi tubuh yang diambil dari data
anthropometri suatu populasi dalam keadaan tegak. Dengan demikian kita tidak perlu
khawatir dengan orang dengan tinggi di bawah nilai tersebut, karena mereka akan tetap
dapat melewati pintu itu. Contoh lain, jika kita mendisain kokpit pesawat terbang dan
mengharapkan semua orang dapat menjangkau tombol atau tuas kendali tertentu,
sebaiknya kita menggunakan persentil ke-5 panjang tangan. Jika orang yang memiliki
tangan yang pendek dapat menjangkaunya, orang lain (yang memiliki tangan lebih
panjang) dapat menjangkaunya pula. Tabel 1 berikut ini adalah beberapa contoh
penggunaan data anthropometri dalam perancangan.
Seringkali seorang perancang tidak dapat mengakomodasi semua pengguna karena
ada kepentingan yang berlawanan dengan disain tersebut. Dalam kasus ini, perancang
tersebut harus memutuskan mana yang lebih penting. Keselamatan harus didahulukan, dan
jika ada resiko cedera, sebaiknya gunakan persentil yang ekstrim (persenti ke-1 atau ke-99)
untuk meyakinkan agar semua orang terlindungi (tidak hanya 95% populasi).


 
Table 1 Contoh penggunaan data anthropometri dalam perancangan 
Contoh Ukuran dimensi
Tujuan perancangan Pemilihan persentil
rancangan yang diperlukan
Mudah menjangkau • Dashboard • Panjang tangan Terpendek: persentil ke-5
kendaraan • Tinggi bahu
• Meja
Ruang yang cukup • Lubang saluran • Lebar bahu atau Terpanjang: persentil ke-95
nyaman untuk bergerak • Tempat duduk pinggul
atau menghindari sinema
terjebak
Kesesuaian antara • Tempat duduk • Tinggi duduk Selang maksimum:
pengguna dan produk • Helm • Lingkar kepala persentil ke-5 sampai ke-95
pengendara
sepeda motor • Berat badan
• Kereta dorong
Kenyamanan dan • Mesin • Tinggi siku Selang maksimum:
postur yang aman pemotong persentil ke-5 sampai ke-95
rumput • Tinggi
• Posisi Monitor pandangan saat
duduk
• Tinggi • Tinggi siku
permukaan (duduk atau
kerja berdiri)
Memudahkan • Pegangan pintu • Lebar telapak Terpendek: persentil ke-5
pengoperasian • Saklar lampu tangan
• Tinggi badan
Untuk memastikan • Jeruji pelindung • Lebar jari Terpendek: persentil ke-5
sesuatu dapat diraih mesin • Panjang lengan Terpanjang: persentil ke-95
atau dioperasikan • Jarak pagar
pembatas
dengan sumber
bahaya
 
Dimensi maksimal dan minimal dalam dataanthropometri dapat dipetakan dalam
suatu peta ruang kerja. Gambar 5 menyajikan contoh penerapan data anthropometri dalam
peta ruang kerja. 


 
Gambar 5. Daerah optimum dan maksimum untuk pengoperasian traktor
tangan Kubota K-75
 

Tugas:

1. Pengukuran Anthropometri.
Ukurlah dimensi-dimensi tubuh anda dan masukkan data tersebut dalam database
anthropometri berikut:

Database anthropometri

2. Analisis dan Pembuatan Peta Ruang Kerja

i. Dari data-data yang anthropometri yang ada, gambarkan ruang kerja (jangkauan)
maksimal dan minimal (dengan skala 1:10) pada kertas milimeter blok.
ii. Buatlah arsiran pada daerah kerja optimum (daerah kerja yang anda rasakan paling
nyaman) pada gambar tersebut.


 
D. Biomekanik
Biomekanik adalah suatu bidang Ergonomika yang berhubungan dengan pengukuran
dinamik tubuh manusia, yang diantaranya menyangkut selang gerak anggota tubuh,
kecepatan gerak, kekuatan dan aspek gerak anggota tubuh lainnya. Dalam sistem otot
rangka, otot bekerja menggerakkan tulang untuk berotasi pada sendinya. Sistem ini dapat
dideskripsikan menyerupai tuas sederhana, dengan otot umumnya beraksi pada jarak yang
relatif pendek dari sendi untuk menghasilkan gaya eksternal pada jarak yang lebih besar.
Otot beraksi untuk menghasilkan keuntungan mekanis dengan hanya berkontraksi untuk
menghasilkan gerak pada anggota gerak tubuh manusia.
Peralatan biomekanik yang terdapat di Laboratorium Ergonomika dan Elektronika,
Jurusan Teknik Pertanian, Fateta-IPB berupa alat pengukur kekuatan tarik dan kekuatan
genggam. 

D.1. Alat Pengukur Kekuatan Tarik

Alat pengukur kekuatan tarik (digital back strength dynamometer) bertipe T.K.K.
5201 memiliki kapasitas pengukuran 20 sampai 300 kgf. Unit pengukuran terkecil adalah
0.5 kgf dengan ketelitian + 3 kgf. Digerakkan dengan sel lithium yang akan dapat bertahan
selama 6000 jam. Alat ini dapat digunakan dalam suhu lingkungan 0 – 40 oC. Bagian-
bagian alat ini terdapat pada Gambar 6.
 

 
 
Gambar 6. Alat pengukur kekuatan tarik

10 
 
Cara Penggunaan:
a) Tekan tombol ON/C untuk menghidupkan layar pengukuran
b) Berdiri tegak pada bagian dasar, genggamlah bagian pegangan dan aturlah panjang
rantai sehingga posisi tubuh agak membungkuk 30 derajat (Gambar 7)

 
Gambar 7. Posisi tubuh pada saat awal pengukuran

c) Gerakkan bagian atas tubuh untuk menarik bagian pegangan dan rantai tanpa
membengkokkan lutut
d) Pengukuran pertama telah dilakukan dan angka pengukuran akan muncul pada layar.
Lakukan pengukuran kedua dan angka terbesar dari kedua pengukuran tersebut akan
tertera pada layar
e) Bila akan dilakukan pengukuran lagi, tekan tombol ON/C untuk menghapus angka
pengukuran sebelumnya dan mengembalikan ke posisi nol. Tekan tombol OFF bila
pengukuran tidak dilakukan lagi

Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama penggunaan alat ini adalah:
a) Selama pengukuran berlangsung, mata rantai haruslah dalam keadaan bersambung
lurus tidak boleh terpilin dan bagian mata rantai yang tidak terpakai diletakkan di
bagian belakang pengkait (Gambar 8)
 

Gambar 8. Posisi rantai pada pengait

b) Hindari alat dari guncangan, gunakan alat dengan hati-hati


c) Untuk menghemat pemakaian sel lithium, jangan menyimpan alat dalam posisi ON/C

11 
 
d) Jangan menggunakan atau menyimpan alat di bawah sinar matahari secara langsung, di
tempat yang bersuhu tinggi khususnya di dekat peralatan pemanas, di tempat yang
lembab atau berdebu, atau di tempat yang memungkinkan terkena air.
e) Jika peralatan tersebut kotor, bersihkan dengan lap kering dan lembut. Jika peralatan

tersebut sangat kotor, gunakannlah lap basah dengan sedikit deterjen. Jangan
menggunakan thinner, alkohol atau cairan sejenis karena akan merusak permukaan
peralatan. 
 
D.2. Alat Pengukur Kekuatan Genggam

Alat pengukur kekuatan genggam (digital grip strength dynamometer) bertipe T.K.K
5101 memiliki kapasitas pengukuran 5 – 100 kgf. Unit pengukuran minimum adalah 0.1
kgf dengan ketepatan + 2 kgf. Digerakkan oleh sel lithium dengan ketahanan 6000 jam.
Alat ini (Gambar 9) dapat digunakan pada suhu lingkungan 0 – 40 oC 
 

 
Gambar 9. Alat pengukur kekuatan genggam
 

Cara pemakaian:
a) Tekan tombol ON/C untuk menhidupkan layar pengukuran
b) Pegang alat pengukur kekuatan genggam dengan satu tangan, putar knob untuk
mengatur jarak hingga ruas kedua dari ibu jari membentuk sudut 90o
c) Berdiri tegak dan rileks, julurkan tangan ke bawah dan genggam alat tersebut pada
bagian genggamannya dengan kekuatan penuh tanpa menyebabkan tangan menyentuh
tubuh. Selama pengukuran jangan menggerak-gerakkan alat tersebut
d) Mulailah pengukuran pertama dengan menggunakan tangan kanan, angka pengukuran
akan tertera pada layar. Teruskan dengan pengukuran kedua, ketiga, dan keempat

12 
 
dengan menggunakan tangan kiri, kanan, dan kiri lagi (bergantian). Setelah tiga detik
setelah pengukuran keempat, angka rata-rata terbesar dari pengukuran- pengukuran
tersebut akan tertera pada layar
e) Bila akan dilakukan pengukuran lagi, tekan tombol ON/C untuk menghapus angka
pengukuran sebelumnya dan mengembalikan ke posisi nol. Tekan tombol OFF bila
pengukuran tidak dilakukan lagi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama penggunaan alat ini adalah:
a) Jangan mengatur middle grip pada posisi kurang dari 4 cm pada skala jarak genggam
b) Jangan menjatuhkan alat, gunakanlah alat dengan hati-hati
c) Untuk menghemat pemakaian sel lithium, jangan menyimpan alat dalam posisi ON/C
d) Jangan menggunakan atau menyimpan alat di bawah sinar matahari secara langsung, di
tempat yang bersuhu tinggi khususnya di dekat peralatan pemanas, di tempat yang
lembab atau berdebu, atau di tempat yang memungkinkan terkena air.
e) Jika peralatan tersebut kotor, bersihkan dengan lap kering dan lembut. Jika peralatan

tersebut sangat kotor, gunakannlah lap basah dengan sedikit deterjen. Jangan
menggunakan thinner, alkohol atau cairan sejenis karena akan merusak permukaan
peralatan. 
 
 
E. Pengukuan Beban Kerja
Pengukuran beban kerja fisik manusia dapat dilakukan dengan menggunakan
parameter fisiologis sebagai berikut (Zender, 1972):
1. Konsumsi Energi (Oksigen)
Perubahan karbohidrat, lemak dan protein menjadi energi memerlukan oksigen,
dengan demikian konsumsi oksigen dapat dijadikan parameter untuk pengukuran beban
kerja. Dengan mengekivalenkan antara kebutuhan energi dengan konsumsi oksigen
didapatkan hubungan yang nyata di antara keduanya. Konsumsi energi bersih per
kegiatan dapat diukur dengan cara menguranginya dengan energi yang diperlukan untuk
metabolisme basal.
2. Laju Ventilasi dan Frekuensi Pernapasan
Laju pernapasan akan seirama dengan laju denyut paru-paru sebagai penghisap
oksigen. Dengan mengetahui laju denyut dan frekuensi paru-paru, maka dapat dihitung
besarnya konsumsi oksigen dan akhirnya dapat ditentukan tingkat beban kerjanya
3. Denyut Jantung

13 
 
Kebutuhan bahan bakar bagi tubuh untuk melakukan gerak disalurkan oleh darah
melalui pembuluh-pembuluh darah ke seluruh bagian tubuh. Setiap peningkatan
penggunaan tenaga mekanis akan meningkatkan kebutuhan akan bahan bakar, hal ini
berarti meningkatkan kerja jantung untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Laju denyut
jantung yang tinggi tetapi diikuti oleh konsumsi oksigen yang rendah biasanya akan
menunjukkan kelelahan otot, terutama untuk pekerjaan statis (Zander, 1972 dan
Sanders, 1987).
4. Suhu Tubuh
Efisiensi penggunaan tenaga manusia untuk tenaga mekanis maksimum sebesar
20%, sebagian besar sisanya keluar dalam bentuk panas. Peningkatan beban kerja akan
menaikkan suhu tubuh, oleh karena sifat tersebut maka suhu tubuh dapat dijadikan
indikator pengukuran beban kerja fisik. Pada pekerja yang bekerja pada suhu udara
yang tinggi peningkatan suhu tubuh tidak proporsional dengan laju konsumsi oksigen,
sifat ini dapat dijadikan indikasi pengukuran heat stress.
Berdasarkan atas pengujian dengan menggunakan parameter-parameter tersebut
dibuat tabel untuk menentukan tingkat kerja yang dilakukan seperti yang tertera pada Tabel
2.

Tabel 2. Tingkat kerja fisik yang diukur berdasarkan tingkat penggunaan energinya (untuk
pria dewasa sehat)
Konsumsi Konsumsi Konsumsi Denyut
Tingkat kerja energi dalam energi Oksigen jantung per
8 jam (kkal) (kkal/menit) (L/menit) menit
Istirahat < 720 < 1.5 < 0.3 60 – 70
Sangat ringan 768 – 1200 1.6 – 2.5 0.32 – 0.5 65 – 75
Ringan 1200 – 2400 2.5 – 5.0 0.5 – 1.0 75 – 100
Sedang 2400 – 3600 5.0 – 7.5 1.0 – 1.5 100 – 125
Berat 3600 – 4800 7.5 – 10.0 1.5 – 2.0 125 – 150
Sangat berat 4800 – 6000 10.0 – 12.5 2.0 – 2.5 150 – 180
Luar biasa berat > 6000 > 12.5 > 2.5 > 180
Sumber: American Industrial Hygiene Association

E.1. Pengukuran Beban Kerja dengan Parameter Konsumsi Oksigen


Pengukuran beban kerja dengan parameter konsumsi oksigen merupakan pengukuran
yang dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis udara pernapasan. Perlengkapan

14 
 
konvensional dalam pengukuran ini merupakan perlengkapan yang tidak praktis, biasanya
terdiri dari: 
1. Douglas Bag
Douglas bag adalah sejenis kantung udara yang berfungsi sebagai penampung
udara sisa pernapasan dari subyek yang akan dianalisa konsumsi tenaganya. Douglas
bag ini dilengkapi dengan masker dan selang karet yang berfungsi untuk menyalurkan
udara yang keluar dari mulut dan hidung operator ke dalam balon penampung.
Kapasitas volume dari Douglas bag adalah + 150 liter.
2. Gas Meter
Gas meter adalah alat untuk mengukur volume udara sisa pernapasan yang telah
ditampung di dalam Douglas Bag. Prinsip kerja dari alat ini adalah pengukuran aliran
udara yang dikonversikan ke gerakan rotasi pada lat pengukur ini. Kapasitas ukur dari
gas meter ini adalah 0.02 – 5.0 m3/jam dengan tekanan masukan maksimum sebesar 0.2
kg/cm2.
3. Breath Analyzer
Breath Analyzer adalah salah satu jenis alat yang digunakan untuk menganalisa
udara sisa pernapasan. Prinsip kerja alat ukur ini memanfaatkan adanya sifat
penghantaran panas yang berbeda pada bahan-bahan senyawa yang berbeda. Alat ini
menggunakan platinum yang dipanaskan, dimana di salah satu sisinya dialirkan gas
yang akan diuji dan di sisi lainnya dialirkan gas standar. Dari perbedaan tingkat
penghantaran panas yang terjadi dapat diketahui konsentrasi gas yang sedang diuji.
Dalam pengoperasiannya, alat ini mempergunakan CaCl2 yang berfungsi sebagai
penyerap uap air dan soda lime untuk menyerap CO2. CaCl2 dan soda lime tersebut
ditempatkan dalam empat buah tabung kaca (dua untuk CaCl2 dan dua untuk soda lime)
yang berada di bagian samping alat.
Prosedur pengukuran adalah dengan menampung udara pernapasan selama
pengukuran ke dalam Douglas bag. Sebagian udara yang mengalir dalam Douglas Bag
dipisahkan ke dalam sebuah kantung sampel (+ 1~2 liter) sebagai bahan analisa kandungan
CO2 dan O2 pada udara sisa pernapasan. Udara yang ditampung dalam Douglas Bag
kemudian diukur dengan menggunakan gas meter, sedangkan udara yang ditampun dalam
kantung sampel dianalisis dengan menggunakan breath analyzer.
Perlengkapan yang lebih praktis adalah dengan menggunakan prinsip pengukuran
laju aliran selama pengukuran dan menyalurkan sebagiannya untuk dianalisis. Gambar 10

15 
 
dan 11 masing-masing menampilkan perlengkapan dan diagram alir metoda dan analisis
beban kerja dengan parameter konsumsi oksigen.
 

 
Gambar 10. Perlengkapan dan pengukuran konsumsi oksigen
 

16 
 
 
Gambar 11. Metoda dan analisis pengukuran beban kerja dengan parameter
konsumsi oksigen
 
E.2. PENGUKURAN BEBAN KERJA DENGAN PARAMETER DENYUT
JANTUNG

Mengukur denyut jantung (heart rate = HR) selama melakukan suatu aktifitas adalah
lebih mudah dibandingkan dengan mengukur konsumsi oksigen. Terutama karena subyek
ukur tidak perlu mengenakan masker pernapasan. Perlengkapan pengukuran denyut
jantung lebih ringan dan mudah dikenakan, serta dilengkapi pula dengan transmitter untuk
mengirim sinyal outputnya ke alat pencatat. Perlengkapan pengukuran denyut jantung
tersebut antara lain adalah Digital Pulse Monitor (Gambar 12) dan Heart Rate Monitor
(Gambar 13). Sedangkan diagram alir metoda dan analisis beban kerja dengan pengukuran
denyut jantung disajikan dalam Gambar 14. 
 

17 
 
 
Gambar 12. Digital Pulse Monitor
 

 
Gambar 13. Heart Rate Monitor dan perlengkapannya

18 
 
Gambar 14. Metoda dan analisis pengukuran beban kerja dengan parameter
denyut jantung

Tugas:
1. Ukurlah denyut jantung dan tekanan darah anda.
2. Input data tersebut beserta dengan data usia, tinggi badan dan berat badan anda dalam
database berikut ini
Database denyut jantung
 
A. METODA STEP‐TEST DALAM PENGUKURAN BEBAN KERJA 
Pengukuran  beban  kerja  fisik  yang  lebih  praktis  untuk  dilakukan  pada  kondisi  lapang  adalah  dengan 
mempergunakan  pengukuran  denyut  jantung.  Tetapi  walau  bagaimanapun  cara  pengukuran  ini  memiliki 
kelemahan, karena hasil pengukuran tidak hanya dipengaruhi oleh usaha‐usaha fisik, melainkan juga oleh 
kondisi  dan  tekanan  mental.  Kondisi  lainnya  adalah  bervariasinya  karakter  denyut  jantung  pada  setiap 
orang dan dapat pula terjadi penyimpangan (Hayashi, Moriizumi, dan Jin, 1997). 
Salah  satu  metode  yang  dapat  digunakan  untuk  kalibrasi  pengukuran  denyut  jantung  ini  adalah 
dengan  mempergunakan  metode  step  test  (metode  langkah),  selain  dari  sepeda  ergometer.    Dengan 
metode  step  test  (Gambar  3.6)  dapat  diusahakan  suatu  selang  yang  pasti  dari  beban  kerja  dengan  hanya 
mengubah  tinggi  bangku  step  test  dan  intensitas  langkah.    Metode  ini  juga  lebih  mudah,  karena  dapat 
dilakukan  dimana‐mana,  terutama  di  lapang,  dibandingkan  dengan  menggunakan  ergometer.  Step  test 
mempunyai komponen pengukuran yang mudah, selalu sedia dimana saja dan kapan saja, sehingga dengan 

19 
 
metode ini ketidakstabilan denyut jantung sesorang dapat dengan mudah dinalisa (Hayashi, Moriizumi dan 
Jin, 1997). 
Metode  step  test  pada  dasarnya  dilakukan  dengan  mengukur  denyut  jantung  saat  melakukan 
pekerjaan naik turun sebuah bangku dengan ketinggian tertentu yaitu 40‐50 cm (Suma’mur, 1986 ) atau 30 
cm Herodian (1994)dan kecepatan tertentu (15‐45 kali naik turun dalam satu menit). 
Metoda step‐test dilakukan dengan cara sebagai berikut: 
1. Atur metronome pada kecepatan 20 kali/menit 
2. Siapkan alat pengukur denyut jantung dan memasangkannya pada salah seorang subyek 
3. Step test dilakukan seirama dengan bunyi metronome 
4. Denyut  jantung  mulai  diukur  mulai  dari  saat  istirahat  selama  tiga  menit,  melakukan  step  test  selama 
tiga menit dilanjutkan dengan saat melakukan kerja, kemudian  istirahat selama tiga menit dan diakhiri 
dengan step test selama tiga menit. 
5. Kegiatan dilakukan pada tiga kecepatan metronome yang berbeda (20, 25, 30 kali/menit) 
6. Tenaga yang digunakan pada saat step test dapat dicari dengan persamaan: 

 
  Dimana:  P  = daya (kal/detik) 
     m  = massa (kg) 
     g  = percepatan gravitasi (m/dt2) 
     s  = jarak (meter) 
     t  = waktu (detik)   
7. Rata‐rata denyut jantung saat melakukan step test diplotkan dengan besarnya tenaga yang digunakan 
saat step test tersebut pada grafik kartesius. 
8. Carilah persamaan hubungan grafik tersebut 
9. Melalui hubungan tersebut dapat dihitung besarnya daya dan beban kerja saat bekerja 
 

 
Gambar 3.6  Metode step‐test dalam pengukuran beban kerja 
 

20 
 
IV. KEBISINGAN 
 
A. PENDAHULUAN 
Kebisingan  didefinisikan  sebagai  bunyi  yang  tidak  diinginkan,  termasuk  diantaranya  bunyi  tak 
beraturan  dan  bunyi  yang  ditimbulkan  sebagai  hasil  sampingan  suatu  kegiatan  industri  atau  transportasi.  
Bunyi dalam bentuk percakapan ataupun musik yang mengganggu dan tidak diinginkan oleh pendengarnya, 
juga dianggap sebagai kebisingan. 
Kebisingan mempengaruhi konsentrasi dan dapat menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.  Tingkat 
kebisingan ekstrim di atas 90 dBA dan puncak kebisingan di atas 100 dBA dapat menyebabkan sakit kepala 
dan meningkatnya tekanan darah, tegangan otot, dan kelelahan.  Terekspos kebisingan dalam waktu yang 
lama dapat menyebabkan ketulian dan penyakit lain yang berhubungan dengan pendengaran.  Terekspos 
kebisingan dalam waktu yang relatif singkat dapat menimbulkan iritasi dan mengganggu kenyamanan. 
Tabel  4.1  menunjukkan  tingkat  intensitas  bunyi  beberapa  sumber,  sedangkan  Tabel  4.2 
menunjukkan lama waktu terkekspos kebisingan yang diperbolehkan. 
 
Tabel 4.1.  Tingkat intensitas bunyi 

Desibel Level  Sumber 
(dB) 

140  Batas gangguan pada kesehatan: tembakan, sirene pada jarak 100 kaki 

135  pesawat jet tinggal landas, musik teramplifikasi 

120  chain saw, jack hammer, snowmobile 

100  traktor, peralatan pertanian, power saw 

90  Batas OSHA – kerusakan pada pendengaran jika terekspos kebisingan di atas level 


90 dB 

85  bagian dalan kabin traktor yang diberi isolasi akustik 

75  radio, vacuum cleaner 

60  percakapan normal 

45  gemerisik daun, musik yang lembut 

30  bisikan 

15  batas pendengaran 

21 
 
0  batas pendengaran akut 

Tabel 4.2.  Lama waktu terekspose kebisingan yang diijinkan 

Durasi – jam per hari  Sound level (dBA) 

8  90 

4  95 

2  100 

1  105 

1/2  110 

1/4 atau kurang  115 

 
Kendali kebisingan meliputi reduksi kebisingan pada sumbernya, kendali pada jaringan transmisi, dan 
proteksi  bagi  pendengar.    Reduksi  kebisingan  dengan  memperbaiki  desain  mesin  merupakan  salah  satu 
kendali  yang  efektif.    Kendali  kebisingan  secara  teknik  antara  lain  dengan  interupsi  transmisi  kebisingan 
dengan  mengisolasi  vibrasi  dan  pembuatan  penghalang  kebisingan  (Wilson,  1989),  memberikan  pelumas 
pada  bagian‐bagian  mesin  yang  mengalami  gesekan,  dan  membuat  kabin  yang  terisolasi  secara  akustik.  
Selain itu juga terdapat peralatan perlindungan pribadi terhadap kebisingan yaitu ear plug dan ear muff. 
 
B. PENGUKURAN KEBISINGAN 

Alat  yang  biasa  digunakan  dalam  pengukuran  kebisingan  adalah  sound  level  meter  (Gambar  4.1).  
Cara penggunaan alat ini adalah: 
a) Tekan tombol power ke posisi ON, kemudian tunggu beberapa saat (sekitar 8 detik). 
b) Alat akan mulai mendeteksi tingkat kebisingan secara otomatis. 
c) Cek batas atas selang pengukuran.  Jika berkedip, maka terjadi overload dan pengukuran mungkin tidak 
akan valid.  Untuk itu, tambahkan selang pengukuran dengan menekan tombol pengaturnya. 
d) Hal  yang  sama  juga  dilakukan  jika  alat  pengukur  tidak  menunjukkan  nilai  apapun  (  ___._  dB).    Hal  ini 
berarti input level terlalu rendah atau di bawah selang pengukuran.  Kurangi selang pengukuran dengan 
menekan tombol pengaturnya. 
e) Tekan tombol stop untuk menghentikan pengukuran. 
Hal  yang  juga  perlu  diperhatikan  dalam  pengukuran  kebisingan  adalah  pengaruh  tubuh  operator,  karena 
tubuh  manusia  bekerja  seperti  reflektor  bunyi.    Hasil  eksperimen  menunjukkan  bahwa  pada  frekuensi 
sekitar  400  Hz,  error  sampai  6  dB  dapat  terjadi  karena  pantulan  dari  tubuh.    Pengaruh  operator  dapat 

22 
 
diminimisasi dengan menggunakan mikrofon dengan kabel ekstension atau meletakkan sound level meter 
pada tripod. 
 

 
Gambar 4.1  Sound Level Meter 2239B 
Tugas: 
1. Identifikasilah sumber bunyi pada suatu lingkungan. 
2. Buatlah titik‐titik pengukuran di sekitar sumber bunyi tersebut.  
3. Ukurlah tingkat kebisingan pada titik‐titik pengukuran yang telah ditentukan. 
4. Petakanlah di atas kertas hasil pengukuran tersebut dan buatlah kontur kebisingannya. 

23 
 
 

V.  GETARAN MEKANIS 
A. PENDAHULUAN 
Getaran (vibration) sederhana dari suatu obyek merupakan osilasi siklis pada suatu posisi acuan.  Pada 
mesin  dan  peralatan,  sejumlah  frekuensi  akan  mewakili  bentuk  getaran  mekanis,  tergantung  pada 
kecepatan komponen mesin yang berpengaruh.  Fluktuasi random dan shock pada frekuensi getaran dapat 
juga terjadi, contohnya pada kendaraan.   
Kontak  dengan  getaran  mekanis  dari  mesin  dan  peralatan  dapat  mempengaruhi  tubuh  manusia.  
Getaran mekanis mempengaruhi kenyamanan, performa kerja, dan kesehatan pada manusia.  Getaran yang 
berlebihan  dapat  menyebabkan  sakit  pada  otot,  sendi,  dan  organ  internal:  menyebabkan  trauma  pada 
tangan  dan  kaki.    Seperti  karakteristik  lingkungan  dan  fisik  lainnya  di  lingkungan  kerja,  getaran  mekanis 
harus  dikendalikan  untuk  mencapai  kenyamanan  dan  menghindari  penurunan  performa.    Terdapat  dua 
jenis getaran pada tubuh manusia: 
1. Whole Body Vibration 
Getaran  pada  seluruh  tubuh  secara  signifikan  dapat  terjadi  pada  pengemudi  traktor,  alat  berat, 
kendaraan  off‐road,  truk  dan  bus.    Jenis  getaran  ini  ditimbulkan  oleh  permukaan  lahan  tempat 
kendaraan  beroperasi  dan  kurangnya  absoprsi  shock  pada  sistem  suspensi.    Getaran  dan  shock  pada 
kendaraan tersebut bertransmisi pada pengemudinya melalui tempat duduk.  Hal ini sangat berbahaya 
bagi  sistem  rangka  (punggung),  sistem  pencernaan,  dan  organ  reproduksi  wanita.    Getaran  dengan 
frekuensi 1‐80 Hz memiliki efek yang kuat pada keseluruhan tubuh manusia. 
2. Hand‐arm Vibration 
Getaran  pada  tangan  dan  lengan  mungkin  terjadi  pada  penggunaan  perkakas  listrik  (hand‐held  power 
tool), bor pneumatik, chain saw, chipping hammer, riveter, gerinda dan vibrator beton.  Frekuensi antara 
5‐1500 Hz sangat berpengaruh pada getaran jenis ini. 
 
B. PENGUKURAN GETARAN 
Amplitudo getaran dapat diukur dalam benntuk perpindahan, kecepatan atau akselerasi.  Pengukuran 
biasanya  dilakukan  dengan  meletakkan  accelerometer  pada  suatu  permukaan  yang  bergetar.    Sinyal 
teramplifikasi dari accelerometer kemudian diolah untuk dibandingkan dengan standar yang ada.  Biasanya 
teknik kalkulasi yang digunakan adalah root mean square (RMS), dengan persamaan sebagai berikut: 

 
Dimana T adalah interval waktu dan a adalah akselerasi. 
Seperti  tingkat  kebisingan,  tingkat  akselerasi  dapat  diekspresikan  dalam  decibels,  relatif  terhadap 
akselerasi acuan.  Acuan standar adalah 10‐6 m/s2, sehingga tingkat getaran dalam decibels, L, dinyatakan 
dalam: 

24 
 
 
Peralatan  pengukur  getaran  yang  terdapat  di  Laboratorium  Ergonomika  dan  Elektronika  Pertanian, 
TEP‐IPB adalah Hand‐Arm Vibration and Integrating Sound Level Meter Tipe 2239B (Gambar 5.1) yang dapat 
digunakan untuk mengukur percepatan getaran dan tingkat kebisingan dan Portable Vibration Meter model 
VM‐61 (Gambar 5.2) untuk mengukur percepatan, kecepatan, perpindahan dan frekuensi.  

 
Gambar 5.1  Hand‐arm Vibration and Integrating Sound Level Meter 2239B 
 
Prosedur penggunaan Hand‐arm Vibration adalah: 
a) Gantilah microphone pada alat dengan transducer getaran dan tempelkan pada permukaan yang akan 
diukur. 
b) Tekan tombol power ke posisi ON, kemudian tunggu beberapa saat (sekitar 20 detik). 
c) Pengukuran akan berlangsung secara otomatis. 
f) Cek batas atas selang pengukuran.  Jika berkedip, maka terjadi overload dan pengukuran mungkin tidak 
akan valid.  Untuk itu, tambahkan selang pengukuran dengan menekan tombol pengaturnya. 
d) Hal yang sama juga dilakukan jika alat pengukur tidak menunjukkan nilai apapun ( ___._ m/ss).  Hal ini 
berarti input level terlalu rendah atau di bawah selang pengukuran.  Kurangi selang pengukuran dengan 
menekan tombol pengaturnya. 
e) Tekan tombol stop untuk menghentikan pengukuran. 

25 
 
 
Gambar 5.2  Vibration meter VM‐61 
 
Prosedur penggunaan Vibration Meter VM‐61 adalah: 
a) Sambungkan transducer getaran pada input konektor. 
b) Set knop power pada posisi 10, 1, atau 0.1.  Biarkan selama 30 detik sebelum pengukuran dilakukan 
c) Set pengatur filter “HIGH‐PASS” ke 10 Hz dan “LOW‐PASS” ke 5 Hz. 
d) Set pengatur karakteristik indikasi ke “EQ PEAK”.  Untuk pengukuran getaran sederhana dan evaluasi 
lain  berdasarkan  pada  nilai  RMS,  set  pada  posisi  “RMS”.    Sedangkan  untuk  pengukuran  impulse 
getaran, set pada posisi “PEAK”  . 
e) Set eksternal filter ke posisi “INT”. 
f) Putar knop fungsi ke posisi “ACC1” atau “ACC2” masing‐masing untuk mengukur akselerasi dalam unit 
G  dan  m/s2,  “VEL”  untuk  pengukuran  kecepatan  (cm/s),  dan  “DISP”  untuk  pengukuran  perpindahan 
(mm). 
g) Tempelkan transducer ke permukaan yang akan diukur getarannya. 
h) Nilai pengukuran akan tertera pada peraga digital dan analog. 
i) Nilai pengukuran dapat disimpan dengan cara menekan tombol ”PAUSE” lalu tombol “STORE”.  Nilai‐
nilai  yang  tersimpan  tersebut  dapat  dipanggil  kembali  dengan  mengatur  knop  power  pada  posisi 
“MEMO” dan menekan tombol “DOWN/UP” secara simultan. 
j) Potar knop power ke posisi “OFF” setelah selesai penggunaan alat. 
 
 

26 
 
 

VI.  FOTOMETRI 
Penerangan merupakan suatu aspek lingkungan fisik yang penting bagi keselamatan kerja.  Beberapa 
penelitian  membuktikan  bahwa  penerangan  yang  tepat  dan  disesuaikan  dengan  pekerjaan  berkorelasi 
dengan  produksi  dan  efisiensi  yang  maksimal.    Dalam  hubungannya  dengan  kelelahan  sebagai  sebab 
kecelakaan,  penerangan  yang  baik  merupakan  usaha  prefentif.    Faktor‐faktor  dalam  penerangan  yang 
menjadi  sebab  kecelakaan  meliputi  kesilauan  langsung,  kesilauan  sebagai  pantulan,  dan  bayangan.  
Penerangan  yang  tidak  sesuai  juga  dapat  menyebabkan  sakit  kepala,  regangan  otot,  kelelahan  dan  sakit 
pada mata.   
Tujuan  pengukuran  cahaya  (fotometri)  adalah  untuk  perancangan  dan  evaluasi  ruang  kerja.    Unit 
fotometri  terdiri  dari  luminansi  (cahaya  yang  dipancarkan  oleh  sebuah  permukaan),  illuminansi  (jumlah 
cahaya  yang  jatuh  pada  sebuah  permukaan),  intensitas  luminansi  (daya  sumber  atau  permukaan 
teriluminansi untuk memancarkan cahaya), flux luminansi (besar aliran energi luminansi), dan daya pantul 
(perbandingan luminasi dan iluminansi pada sebuah permukaan). 
Luminansi yang merata merupakan bagian penting dalam desain sistem pencahayaan di koridor dan 
fasilitas di luar ruangan seperti jalur kereta api pada malam hari. Pada kenyataannya, luminasi permukaan 
yang merata diperoleh dari hubungan antara tingkat illuminansi tertentu dan daya pantul ruangan.  Makin 
tinggi  daya  pantul  suatu  permukaan  dalam  suatu  ruangan  makin  kecil  daya  serap  cahanyanya  dan  makin 
turun  daya  nya  untuk  memberikan  suatu  pancaran  cahaya  tertentu.    Perkiraan  daya  pantul  permukaan 
sesuai jenis bahan‐bahannya terdapat pada Tabel 6.1. 
 
Tabel 6.1  Daya pantul permukaan menurut jenis bahan 

Jenis  Daya  Jenis bahan 


permukaan  pantul 
Langit‐langit  *  0.8  Warna putih cat emulsi pada permukaan plesteran datar 
0.7  Warna putih cat emulsi pada permukaan bahan untuk akustik 
0.6  Warna putih cat emulsi pada permukaan beton yang tidak halus 
0.5  Warna putih cat emulsi pada permukaan papan serat‐kayu 
 
Dinding *  0.8  Warna putih cat emulsi pada permukaan plesteran datar; ubin putih mengkilap
0.4  Warna putih lembaran asbes‐semen; beton, abu‐abu terang; semen portland, 
  lembut 
0.3  Batu bata, fletton 
0.25  Beton, abu‐abu terang; semen portland, kasar (seperti papan bergerigi); papan 
  dari kayu oak mahoni, gaboon 
0.20  Papan dari kayu jati, afromosia, oak 
0.15  Batu bata, biru teknis 
Lantai *  0.35  Kayu: birch, beech, maple 
0.25  Kayu: oak 
0.20  Kayu:iroko, kerning 
0.10  Batu tambang: merah coklat 
Perabotan  **  0.25 – 0.50  Kayu  
Karpet  0.20 – 0.40  Warna gelap (beige, coklat, abu‐abu) 

27 
 
Tirai **  0.40 – 0.60  kain 
* Data arsitek 
** ANSI 
 
Peningkatan produktivitas akan terjadi jika illuminansi ditingkatkan, akan tetapi illuminasi pada level 
yang tinggi akan mengakibatkan penyilauan dan hilangnya pandangan detail.  Illuminansi yang kurang akan 
mengakibatkan  efek  non  visual  seperti  penurunan  motivasi,  kelelahan,  ataupun  kemampuan  manual. 
Pekerja berusia lanjut kebanyakan menghendaki tingkat illuminasi yang lebih tinggi daripada pekeja muda. 
Alat pengukur illuminansi yang terdapat di Laboratorium Ergonomika dan Elektronika, Juruan Teknik 
Pertanian,  Fateta‐IPB  adalah  lux  meter  tipe  ANA‐500  (Gambar  6.1)  dan  light  meter  GE214  (Gambar  6.2).  
Alat ini merupakan alat ukur analog dengan kapasitas pengukuran 0 – 5000 lux.  Prosedur penggunaan alat 
ini adalah: 
a) Sebelum pengukuran, pastikan switch skala pembacaan berada pada posisi “x10” 
b) Tentukanlah titik‐titik pengukuran pada suatu tempat/ruangan 
c) Lakukanlah pembacaan besaran illuminansi yang ditunjukkan oleh jarum analog 
d) Bila angka yang ditunjukkan oleh jarum terlalu kecil, pindahkan switch skala pembacaan ke posisi “x1” 
e) Buatlah gambar kontur pencahayaan ruangan tersebut 

 
Gambar 6.1  Lux meter ANA‐500 

 
Gambar 6.2  Light meter GE214 
Parameter pencahayaan suatu ruangan yang perlu juga diperhatikan faktor daylight (DF) yaitu angka 
perbandingan illminansi suatu sumber dalam ruangan terhadap illuminansi di luar ruangan dan dinyatakan 
dalam  persen.    DF  adalah  ukuran  kekuatan  pancar  cahaya  siang  hari  yang  aspek  subyektifnya  sangat 

28 
 
membantu  dan  menentukan  penampilan  karakter  suatu  ruangan.    Beberapa  contoh  nilai  DF  ruangan 
terdapat pada Tabel 6.2. 
 
Tabel 6.2  Daftar indeks DF 

lokasi  % DF rata‐rata  % DF min 


Bangunan  terminal  lapangan  udara  dan   
stasiun kereta:  2  0.6 
‐ daerah lobby penerimaan  2  0.6 
‐ ruang bea cukai dan imigrasi  2  0.6 
‐ daerah sirkulasi dan ruang tunggu 
Gedung pertemuan dan pertunjukan:     
‐ serambi dan ruang utama  1  0.6 
‐ selasar/lorong  2  0.6 
‐ tangga  2  0.6 
Bank:     
‐ meja  pelayanan,  ketik,  pembukuan,  5  2 
tempat buku  2  0.6 
‐ daerah umum/ruang untuk nasabah 
Rumah sakit:     
‐ ruang penerimaan dan ruang tunggu  2  0.6 
‐ ruang perwatan  5  1 
‐ bagian apotek  5  3 
Perpustakaan:     
‐ ruang baca dan ruang buku rujukan  5  1.5 
‐ rak/lemari buku  5  1.5 
Museum dan gallery senirupa  5  1 
Perkantoran:     
‐ umum  5  2 
‐ bag. ketik, komputer  5  2.5 
Sekolah dan akademi:     
‐ aula  1  0.3 
‐ ruang kelas  5  2 
‐ ruang senirupa  5  2 
‐ laboratorium  5  2 
‐ ruang staf dan ruang umum  5  1.5 
‐ gelanggang olah raga  5  3.5 
Bagian  bedah  (kedokteran  umum  &     
kedokteran gigi)  2  0.6 
‐ ruang tunggu  5  2.5 
‐ ruang bedah  5  2 
‐ ruang laboratorium 
Kolam renang:     
‐ daerah kolam  5  2 
‐ daerah sekeliling kolam  1  0.5 
Sentral telepon umum  ‐  2 
 
Untuk  perhitungan  awal,  dimana  ukuran  jendela  belum  dapat  dipastikan,  akan  bermanfaat  kalau 
hasil  perhitungan  tersebut  dapat  memberikan  luas  kaca  yang  dibutuhkan  untuk  menghasilkan  standar 
cahaya siang hari.  Prosedur yang harus dilakukan dimana ukuran jendela belum dapat dipastikan adalah: 

29 
 
1. perhitungan DF rata‐rata, dengan menggunakan persamaan berikut: 

 
   
Dimana,  A  :  jumlah luas bidang permukaan ruangan, termasuk kaca jendela 
  Afw  :  luas  lantai  di  tambah  luas  semua  bagian  dinding  di  bawah  garis  tengah  jendela, 
termasuk dinding jendela 
  C  :  angka  fungsi  (koefisien)  dari  pencahayaan  yang  jatuh  pada  jendela  dan  bervariasi 
menurut sudut penghalang luarnya (Tabel 6.3) 
  R  :  daya  pantul  rata‐rata  semua  bidang  permukaan  ruangan  termasuk  jendela‐jendela, 
dan dinyatakan dalam angka persepuluhan 
  Rfw  : daya pantul rata‐rata bidang lantai dan bagian dinding di bawah garis tengah jendela 
(tidak termasuk dinding jendela) 
  Rcw  :  daya  pantul  rata‐rata  bidang  langit‐langit  dan  bagian  dinding  di  atas  garis  tengah 
jendela (termasuk dinding jendela) 
2. luas permukaan kaca (w) dapat dihitung dengan persamaan berikut: 

 
 
Tabel  6.3.  Koefisien C 

Sudut penghalang diukur dari tengah  Koefisien C 
jendela (dihitung di atas garis mendatar) 
Tanpa halangan  39 
10 o  35 
20 o  31 
30 o  25 
40 o  20 
50 o  14 
60 o  10 
70 o  7 
80 o  5 
 

30 
 
 

VII.  STUDI GERAK DAN WAKTU 
Studi  gerak  dan  waktu  merupakan  suatu  studi  yang  penting  di  bidang  Ergonomika,  baik  berdiri 
sendiri maupun sebagai penunjang penelitian lain.  Fungsi utama dari studi ini adalah untuk mengefisienkan 
gerak  dan  waktu  agar  tercapai  produktifitas  yang  seoptimal  mungkin.    Studi  ini  dapat  merupakan  studi 
gabungan antara gerak dan waktu atau dapat pula secara terpisah. 
 
A. STUDI GERAK 

Peralatan  yang  digunakan  dapat  berupa  peralatan  yang  sederhana  berupa  stop  watch  atau  yang 
sangat canggih menggunakan kamera video yang dihubungkan dengan suatu alat pengolah citra. 
 
1. Penggunaan stopwatch 
Stopwatch  yang  digunakan  adalah  tipe  digital.    Penggunaannya  dapat  dibagi  atas  tiga  jenis 
penghitungan waktu, yaitu: 

a. Penggunaan biasa;  cara ini digunakan hanya untuk menghitung suatu kegiatan yang terus menerus 
dan berhenti pada suatu titik tertentu.  Contoh untuk cara ini adalah penghitungan untuk waktu lari 
100 m 
Langkah penggunaanya adalah: 
1) tekan tombol MODE sampai penunjukknya berada pada STD. LAPTIME 
2) tekan tombol START pada saat memulai penghitungan 
3) tekan tombol STOP apabila penghitungan telah selesai, baca hasilnya 
4) tekan tombol RESET untuk mengembalikan penghitung ke nol 
b. Penggunaan  STD.  LAPTIME;  cara  ini  digunakan  untuk  menghitung  waktu  keseluruhan  dan  waktu 
masing‐masing unit kegiatan.  Contohnya adalah untuk menghitung pemanenan lobak, yang meliputi 
waktu total dan juga waktu yang dibutuhkan untuk memanen setiap umbi lobak. 
1) tekan tombol MODE sampai penunjuknya berada pada STD. LAPTIME 
2) tekan tombol START pada saat memulai penghitungan 
3) tekan tombol LAP/RESET untuk mengetahui waktu pemanenan kumulatif sampai lobak ke‐n 
4) tekan tombol STOP apabila total penghitungan telah selesai, da baca hasilnya untuk total waktu 
pemanenan 
5) tekan tombol RESET untuk mengembalikan penghitung ke nol 
c. Penggunaan  SEC.  LAPTIME;  cara  ini  digunakan  untuk  menghitung  waktu  yang  dibutuhkan  untuk 
masing‐masing  unit  kegiatan  pada  beberapa  kegiatan  yang  berlangsung  secara  berurutan,  dimana 
selang waktu antara akhir kegiatan yang satu dengan yang berikutnya relatif bersamaan.  Contohnya 
adalah untuk menghitung lamanya masin‐masing unti proses produksi pada suatu rangkaian proses 
perakitan mesin. 
1) tekan tombol MODE sampai penunjuknya berada pada SEC. LAPTIME 

31 
 
2) tekan tombol START pada saat memulai penghitungan 
3) tekan  tombol  LAP/RESET  untuk  mengetahui  lamanya  unit  prose  yang  pertama  (pada  saat 
bersamaan berarti telah memulai pula penghitungan untuk prose kedua) 
4) catat  hasil  penghitungan  untuk  putaraan  pertama  tersebut,  lalu  tekan  kembali  tombol 
LAP/RESET untuk melanjutkan pada proses selanjutnya 
5) tekan  kembali  tombol  LAP/RESET  untuk  mencatat  lamanya  prose  yang  kedua.    Demikialah 
seterusnya sampai seluruh unit proses terhitung waktunya 
6) tekan tombol STOP apabila seluruh penghitungan telah selesai 
7) tekan tombol RESET untuk mengembalikan penghitung ke nol 
 
2. Penggunaan kamera video 
Di  negara  maju  seperti  Jepang,  kamera  video  telah  menggantikan  peranan  stroboskop  untuk 
menganalisa gerak tubuh manusia.  Gambar yang dihasilkan video dianalisa oleh komputer sehingga hanya 
menampilkan gambar titik dan garis dari bagian yang dianalisa.  Kecepatan dan percepatan masing‐masing 
titik pengamatan langsung dapat diamati pada grafik di monitor komputer. 
Peralatan  yang  ada  di  Laboratorium  Ergonomika  dan  Elektronika,  Departemen  Teknik  Pertanian 
sampai  saat  ini  haya  berupa  kamera  video,  video  player  dan  recorder  yang  dilengkapi  dengan  editing 
system.  Peralatan ini cukup memadai untuk menganalisa gerak yang tidak terlalu cepat.  Untuk studi gerak 
dan dua langkah penting yang harus dilakukan, yaitu pengambilan gambar dan analisa di laboratorium. 
Pengambilan  gambar  dilakukan  dengan  kamera  video  handycam  8  mm  merk  SONY  (Gambar  7.1).  
Beberapa langkah penting yang harus dilakukan adalah: 
1. Persiapan 
‐ pastikan baterai sudah diisi termasuk cadangannya 
‐ pastikan kaset sudah tersedia 
‐ pastikan tripod sudah disiapkan 
‐ siapkan payung apabila pengambilan gambar dilakukan di luar 
2. Persiapan di lapang 
‐ tentukan posisi kamera yang tepat 
‐ pastikan kamera cukup aman dari gangguan 
‐ pastikan kamera tidak mengganggu pekerja yang sedang diambil gambarnya 
‐ jangan menentang sumber cahaya 
3. Pengambilan gambar 
‐ ambil gambar secara keseluruhan 
‐ ambil gambar detail sebanyak mungkin terutama untuk pekerjaan yang sulit untuk diulang 
‐ sudut  pengambilan  harus  tepat  agar  perubahan  gerak  yang  diamati  dapat  diambil  dengan 
baik 
4. Langkah penyelesaian 
‐ periksa hasil pengambilan gambar sebelum meninggalkan lokasi 

32 
 
‐ pastikan semua perlengkapan sudah terkumpul 
‐ lepaskan batere pada kamera 
‐ bawalah selalu kamera dan perlengkapannya dalam tas 
a. Cara Penggunaan Kamera Video 
Untuk keperluan praktis, penggunaan kamera video mengikuti langkah berikut: 
1) pasang batere pada tempatnya  
2) pasang kaset dengan menekan tombol EJECT 
3) pindahkan switch POWER ke posisi CAMERA 
4) atur switch FOCUS ke MANUAL 
5) naikkan switch STANDBY monitor kamera menyala 
6) arahkan kamera ke obyek (sasaran) 
7) aturlah fokus sampai mendapatkan gambar yang tajam 
8) aturlah zoom sampai mendapatkan cakupan gambar yang diinginkan 
9) tekan tombol START/STOP untuk memulai merekam 
10) tekan tombol START/STOP sekali lagi untuk menghentikan perekaman 
11) gunakan selalu tripod dalam pengambilan gambar 
 

 
Gambar 7.1   Handycam SONY LCH‐V8902 
 
b. Cara Penggunaan Video Cassette Recorder 
Untuk keperluan praktis, penggunaan video cassette recorder dapat mengikuti langkah 
berikut: 
1) tekan tombol ON/OFF 
2) masukkan kaset dengan cara menekan tombol OPEN/CLOSE pada player ataupun pada remote 
control 
3) tekan  tombol  PLAY  pada  player  atau  pada  remote  control  (TV  telah  diset  pada  channel  yang 
tepat) 

33 
 
4) untuk keperluan analisa gambar, maka perlu diperhatikan hal berikut: 
a. dengan kecepatan tetap dapat dipilih tombol kecepatan dengan skala 1/10x, 1/5x, 1x dan 
2x kecepatan normal (pada remote control) 
b. kecepatan bervariasi: 
‐ tekan tombol JOGSHUTTLE 
‐ putar pengatur JOG ke kanan atau ke kiri sesuai dengan kecepatan yang diinginkan 
5) penghitungan  waktu  dan  jumlah  serta  gerakan  dapat  dilakukan  berulangkali  sesuai  kebutuhan 
dengan cara seperti di atas 
6) untuk  mengembalikan  kepada  keadaan  semula,  tekan  kembali  JOGSHUTTLE  dan  tekan  PAUSE 
pada remote control 
 
B. STUDI WAKTU 

Peralatan yang digunakan dan tata cara penggunaanya adalah sama, tetapi jenis pengamatannya agak 
berbeda.  Studi waktu lebih kepada penghitungan waktu dalam suatu sistem kerja.  Pada Tabel 7.1 terlihat 
contoh form untuk studi waktu baik dengan cara langsung menggunakan stopwatch ataupun menggunakan 
video. 

Tabel 7.1.  Contoh form isian untuk studi waktu 
Nama aktivitas  : 
Jenis alat  : 
Cuaca  : 
Lokasi  : 
Nama operator  : 
Nama peneliti  : 
Catatan waktu
  keterangan 
kumulatif  Tiap kegiatan
Start 1   
   
Start 2   

   

Start 3   

   

Start 4   

   

Start 5   

   

Start 6   

   
Start 7   

34 
 
   

Start 8   

   

Start 9   

   
Start 10   

35