Anda di halaman 1dari 19

Case Report Session (CRS)

DIFTERI TONSIL

Oleh : Roza Septiana Putri (06120167)

Preceptor : Dr. Yusri Dianne J. Sp. A

Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas RSUP Dr. M. Djamil Padang 2011
1

BAB I TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Difteri adalah suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh Corynebacterium diphtheria dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit atau mukosa. B. Etiologi Corynebacterium diphtheria merupakan kuman batang gram positif, tidak bergerak,tidak berkapsul, tidak membentuk spora, mati pada pemanasan 60C, tahan dalam keadaan beku dan kering. Kuman tumbuh secara aerob, bisa dalam media sederhana, tetapi lebih baik dalam media yang mengandung K-tellurit atau media Loeffler. C. Epidemiologi Difteri tersebar luas ke seluruh dunia. Delapan puluh persen kasus terjadi di bawah umur 15 tahun. Faktor sosial ekonomi, pemukiman yang padat, nutrisi yang jelek, terbatasnya fasilitas kesehatan, merupakan faktor penting terjadinya penyakit ini. Difteri ditularkan dengan cara kontak dengan pasien atau karier melalui droplet (infeksi tetesan) ketika batuk, bersin atau berbicara. Muntahan atau debu bisa menjadi media penularan. D. Patogenesis dan Patofisiologi Kuman C. diphtheria masuk melalui mukosa atau kulit, melekat serta berkembang biak pada permukaan mukosa saluran napas bagian atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes ke sekeliling, selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfe dan pembuluh darah. Efek toksin pada jaringan tubuh manusia adalah hambatan pembentukan protein dalam sel. Pembentukan protein dalam sel dimulai dari penggabungan 2 asam amino yang telah diikat 2 transfer RNA yang mendapati kedudukan P dan A dalam ribosom. Bila rangkaian asam amino ini akan ditambah dengan asam amino lain untuk membentuk polipeptida sesuai dengan cetakan biru RNA, diperlukan proses translokasi. Translokasi ini merupakan pindahnya gabungan transfer RNA + dipeptida dari kedudukan A ke kedudukan P. Proses translokasi ini memerlukan enzim translokase yang aktif.
2

Toksin difteri mula-mula menempel pada membran sel dengan bantuan fragmen B dan selanjutnya fragmen A akan masuk, mengakibatkan inaktivasi enzim translokase yang menyebabkan proses translokasi tidak berjalan sehingga tidak terbentuk rangkaian polipeptida yang diperlukan, akibatnya sel akan mati. Nekrosis tampak jelas di daerah kolonisasi kuman. Sebagai respon, terjadi inflamasi lokal bersama-sama dengan dengan jaringan nekrotik, membentuk bercak eksudat yang semula mudah dilepas. Produksi toksin semakin banyak, daerah infeksi semakin melebar dan terbentuklah eksudat fibrin. Terbentuklah suatu membran yang melekat erat berwarna kelabu kehitaman, tergantung dari jumlah darah yang terkandung. Bila dipaksa melepaskan membran akan terjadi perdarahan. Selanjutnya membran akan terlepas sendiri pada masa penyembuhan. Pada pseudomembran kadang-kadang dapat terjadi infeksi sekunder dengan bakteri (misalnya Streptococcus pyogenes). Gangguan pernapasan atau sufokasi bisa terjadi dengan perluasan penyakit ke dalam laring atau cabang trakeo-bronkus. Toksin yang diedarkan dalam tubuh bisa mengakibatkan kerusakan pada setiap organ, terutama jantung, saraf dan ginjal. Antitoksin difteri hanya berpengaruh pada toksin yang bebas atau yang terabsorbsi pada sel, tetapi tidak menetralisasi apabila toksin telah melakukan penetrasi ke dalam sel. Setelah toksin terfiksasi dalam sel, terdapat masa laten yang bervariasi sebelum timbulnya manifestasi klinis. Miokarditis biasanya terjadi dalam 1014 hari, manifestasi saraf pada umumnya terjadi setelah 3-7 minggu. E. Manifestasi Klinis Sebagai faktor primer adalah imunitas pejamu terhadap toksin difteri, virulensi serta toksigenitas C. diphtheria dan lokasi penyakit secara anatomis. Faktor lain termasuk umur, penyakit sistemik penyerta dan penyakit pada daerah nasofaring yang sudah ada sebelumnya. Difteri mempunyai masa tunas 2-6 hari. Pasien pada umumnya datang berobat setelah beberapa hari menderita keluhan sistemik. Demam jarang melebihi 38,9C dan keluhan serta gejala lain tergantung pada lokalisasi penyakit difteri. Gejala difteri tonsil-faring adalah anoreksia, malaise, demam ringan dan nyeri menelan. Dalam 1-2 hari kemudian timbul membran yang melekat, berwarna putih kelabu dapat menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula dan pallatum molle atau ke bawah ke laring dan trakea. Dapat terjadi limfadenitis servikalis dan submandibular, bila limfadenitis terjadi bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang luas, timbul bullneck. Selanjutnya, gejala tergantung dari derajat penetrasi toksin dan luas membran. Pada kasus berat, dapat terjadi kegagalan pernapasan atau sirkulasi. Dapat terjadi
3

paralisis palatum molle baik unilateral maupun bilateral, disertai kesukaran menelan dan regurgitasi. Stupor, koma, kematian bisa terjadi dalam 1 minggu sampai 10 hari. Pada kasus sedang, penyembuhan terjadi berangsur-angsur dan bisa disertai penyulit miokarditis atau neuritis. Pada kasus ringan membran akan terlepas dalam 7-10 hari dan biasanya terjadi penyembuhan sempurna. F. Diagnosis Harus dibuat atas dasar pemeriksaan klinis oleh karena penundaan pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Penentuan kuman difteri dengan sediaan langsung kurang dapat dipercaya. Cara yang lebih akurat adalah dengan identifikasi secara fluorescent antibody technique, namun untuk ini diperlukan seorang ahli. Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphtheriae dengan pembiakan pada media Loeffler dilanjutkan dengan tes toksinogenesitas secara in vivo (marmut) dan in vitro (tes Elek). Cara Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat membantu menegakkan diagnosis difteri dengan cepat, namun pemeriksaan ini mahal dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk penggunaan secara luas. Diagnosis tonsilitis difteri ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membran semu dan didapatkan kuman Corynebacterum diphteriae.
G. Diagnosis Banding

1. Tonsilitis membranosa akut oleh karena streptokokus (tonsillitis akuta/septic sore throat) 2. Mononucleosis infectiosa 3. Tonsilitis membranosa non bakterial 4. Tonsillitis herpetika primer 5. Moniliasis 6. Blood dyscrasia 7. Pasca tonsilektomi. H. Penyulit 1. Obstruksi jalan nafas Disebabkan oleh karena tertutup jalan nafas oleh membran difteri atau oleh karena edema pada tonsil, faring, daerah sub mandibular dan servikal.
4

2. Efek toksin Penyulit pada jantung berupa miokardiopati toksik bisa terjadi pada minggu ke dua, tetapi bisa lebih dini (minggu pertama) atau lebih lambat (minggu ke enam). Manifestasinya bisa berupa takikardi, suara jantung redup, bising jantung, atau aritmia. Bisa pula terjadi gagal jantung. Penyulit pada saraf (neuropati) biasanya terjadi lambat, bersifat bilateral, terutama mengenai saraf motorik dan sembuh sempurna. Kelumpuhan pada palatum molle pada minggu ke-3, suara menjadi sengau, terjadi regurgitasi nasal, kesukaran menelan. Paralisis otot mata biasanya pada minggu ke-5, meskipun dapat terjadi antara minggu ke-5 dan ke-7. Paralisa ekstremitas bersifat bilateral dan simetris disertai hilangnya deep tendon reflexes, peningkatan kadar protein dalam cairan serebrospinal. Bila terjadi kelumpuhan pada pusat vasomotor dapat terjadi hipotensi dan gagal jantung.
3. Infeksi sekunder dengan bakteri lain. 4. Setelah penggunaan antibiotika secara luas, penyulit ini sudah sangat jarang.

I. Penatalaksanaan Umum Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan hapusan tenggorok negatif 2 kali berturut turut. Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu. Istirahat tirah baring selama kurang lebih 2-3 minggu, pemberian cairan serta diet yang adekuat. Khusus
1. Antitoksin : Anti Diphtheria Serum (ADS)

Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis difteri. Sebelumnya harus dilakukan tes kulit atau tes konjungtiva dahulu. Oleh karena pada pemberian ADS terdapat kemungkinan terjadinya reaksi anafilaktik, maka harus tersedia larutan Adrenalin 1 : 1000 dalam semprit. Tes kulit dilakukan dengan penyuntikan 0,1 ml ADS dalam larutan garam fisiologis 1 : 1000 secara intrakutan. Tes positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm. Tes konjungtiva dilakukan dengan meneteskan 1 tetes larutan serum 1 : 10 dalam garam faali. Pada mata yang lain diteteskan garam faali. Tes positif bila dalam 20 menit tampak gejala konjungtivitis dan lakrimasi. Bila tes kulit/konjungtiva positif, ADS diberikan dengan cara desensitisasi (Besredka). Bila tes hipersensitivitas tersebut di atas negatif, ADS harus diberikan sekaligus secara tetesan intravena. Dosis serum anti difteri ditentukan secara empiris
5

berdasarkan berat penyakit, tidak tergantung pada berat badan penderita, dan berkisar antara 20.000-120.000 KI. Dosis ADS di ruang Menular Anak RSUD Dr. Soetomo disesuaikan menurut derajat berat penyakit sebagai berikut :
20.000 KI i.m. untuk difteri ringan (hidung, kulit, konjungtiva). 40.000 KI i.v. untuk difteri sedang (pseudomembran terbatas pada tonsil, difteri

laring).
100.000 KI i.v. untuk difteri berat (pseudomembran meluas ke luar tonsil, keadaan

anak yang toksik, disertai "bullneck", disertai penyulit akibat efek toksin). Pemberian ADS secara intravena dilakukan secara tetesan dalam larutan 200 ml dalam waktu kira-kira 4-8 jam. Pengamatan terhadap kemungkinan efek samping obat dilakukan selama pemberian antitoksin dan selama 2 jam berikutnya. Demikian pula perlu dimonitor terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum sickness). 2. Antimikrobial Bukan sebagai pengganti antitoksin, melainkan untuk menghentikan produksi toksin. Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/BB/hari selama 7-10 hari, bila alergi bisa diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari. 3. Kortikosteroid Belum terdapat persamaan pendapat mengenai kegunaan obat ini pada difteri. Di Ruang Menular Anak RSUD Dr. Soetomo kortikosteroid diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik. Pengobatan penyulit Pengobatan terutama ditujukan terhadap menjaga agar hemodinamika penderita tetap baik oleh karena penyulit yang disebabkan oleh toksin pada umumnya reversibel. Pengobatan Carrier Carrier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai reaksi Schick negatif tetapi mengandung basil difteri dalam nasofaringnya. Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin oral atau suntikan, atau eritromisin selama satu minggu. Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi/adenoidektomi. Pencegahan Umum

Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit ini bagi anak-anak. Pada umumnya setelah menderita penyakit difteri kekebalan penderita terhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu imunisasi. Khusus Terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier. Imunitas Test kekebalan : Schick test : menentukan kerentanan (suseptibilitas) terhadap difteri. Tes dilakukan dengan menyuntikan toksin difteri (dilemahkan) secara intrakutan. Bila tidak terdapat kekebalan antitoksik akan terjadi nekrosis jaringan sehingga test positif. Moloney test : menentukan sensitivitas terhadap produk kuman difteri. Tes dilakukan dengan memberikan 0,1 ml larutan fluid difteri toxoid secara suntikan intradermal. Reaksi positif bila dalam 24 jam timbul eritema >10 mm. Ini berarti bahwa :
pernah terpapar pada basil difteri sebelumnya sehingga terjadi reaksi hipersensitivitas. pemberian toksoid difteri bisa mengakibatkan timbulnya reaksi yang berbahaya.

Kekebalan pasif : diperoleh secara transplasental dari ibu yang kebal terhadap difteri (sampai 6 bulan) dan suntikan antitoksin (sampai 2-3 minggu). Kekebalan aktif : diperoleh dengan cara menderita sakit atau inapparent infection dan imunisasi dengan toksoid difteri. J. Komplikasi Laringitis difteri dapat berlangsung cepat, membran semu menjalar ke laring dan menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda pasien makin cepat timbul komplikasi ini. Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung atau dekompensasio kordis. Kelumpuhan otot palatum molle, otot mata untuk akomodasi, otot faring serta otot laring sehingga menimbulkan kesulitan menelan, suara parau dan kelumpuhan otot-otot pernafasan. Albuminuria sebagai akibat dari komplikasi ke ginjal.

K. Prognosa Sebelum adanya antitoksin dan antibiotika, angka kematian mencapai 30-50 %. Dengan adanya antibiotik dan antitoksin maka kematian menurun menjadi 5-10% dan sering terjadi akibat miokarditis. Menurut Krugman, kematian mendadak pada kasus difteria
7

dapat disebabkan oleh karena (1) obstruksi jalan napas mendadak diakibatkan oleh terlepasnya membran difteri, (2) adanya miokarditis dan gagal jantung dan (3) paralisis diafragma sebagai akibat neuritis nervus nefrikus. Prognosa tergantung pada : 1. Usia penderita Makin rendah makin jelek prognosa. Kematian paling sering ditemukan pada anakanak kurang dari 4 tahun dan terjadi sebagai akibat tercekik oleh membran difteri. 2. Waktu pengobatan antitoksin Sangat dipengaruhi oleh cepatnya pemberian antitoksin. 3. Tipe klinis difteri Mortalitas tertinggi pada difteri faring-laring (56,8%) menyusul tipe nasofaring (48,4%) dan faring (10,5%) 4. Keadaan umum penderita Prognosa baik pada penderita dengan gizi baik.

BAB II LAPORAN KASUS

Identitas Pasien Nama Anak Umur Jenis kelamin Ayah/Ibu Suku bangsa Alamat No. MR : Aryl Fikri Ramadhan : ke 3 dari 4 bersaudara : 5 8/12 : Laki Laki : Risfi/Yulastri : Minang : Komplek Unand Ulu Gadut : 744428

Tanggal Masuk : 22 Juni 2011 Alloanamnesis : Diberikan oleh ibu kandung pasien Seorang pasien berusia 5 8/12 tahun masuk ke bangsal Anak RSUP Dr. M. Djamil pada tanggal 22 Juni 2011 dengan : Keluhan Utama : Bercak bercak putih di amandelnya sejak 3 hari yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang :

Demam sejak 5 hari yang lalu, tidak tinggi, hilang timbul, tidak menggigil, tidak berkeringat. Bercak bercak putih di amandelnya sejak 3 hari yang lalu. Nyeri menelan sejak 3 hari yang lalu. Muntah muntah sejak 6 jam yang lalu, frekuensi 6 8 kali, jumlah 2 sendok makan, berisi apa yang dimakan dan yang diminum, muntah tidak menyemprot. Batuk pilek tidak ada. Sesak napas tidak ada. Suara serak tidak ada. Riwayat tidur mengorok tidak ada. Kejang tidak ada. Buang air kecil warna dan jumlah biasa. Buang air besar warna dan konsistensi biasa.

Pasien telah berobat ke Sp.A 3 hari yang lalu dan diberi obat Amoxan dan paracetamol sirup. Setelah 2 hari pasien kontrol karena tidak ada perubahan, pasien disarankan untuk dirawat dengan keterangan difteri tonsil.

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

Riwayat Kehamilan Ibu : Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat, kontrol kehamilan teratur ke bidan dan tidak mendapat suntikan. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan atau jamu-jamuan tidak ada. Riwayat mendapat terapi penyinaran tidak ada. Riwayat kebiasaan merokok dan minuman keras tidak ada. Lama kehamilan cukup bulan. Riwayat Kelahiran : Lahir spontan ditolong bidan, langsung menangis kuat. Berat badan lahir 3500 gram dan panjang 49 cm. Riwayat Makanan dan Minuman : Bayi :
ASI Susu formula Bubur susu Nasi tim

: 0 5 bulan : 5 bulan sekarang : 4 7 bulan : 7 9 bulan : 9 12 bulan : 12 bulan sekarang : Nasi biasa 3 x sehari : 3 x seminggu : 2 x seminggu : 2 x seminggu
10

Nasi lunak Nasi biasa Anak


Makanan utama Daging

Ikan Telur

Sayur-mayur

: 1x seminggu

Kesan makanan dan minuman : Kualitas cukup dan kuantitas cukup. Riwayat imunisasi :

BCG DPT Polio Hepatitis B Campak

: 1 bulan, scar positif : 2 bulan dan 4 bulan : 2 bulan dan 4 bulan : 2 bulan dan 4 bulan : tidak diberikan

Kesan : imunisasi dasar tidak lengkap Riwayat perkembangan fisik dan mental : Perkembangan Fisik

Pasien bisa Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan

: 4 bulan : 6 bulan : 9 bulan : 11 bulan : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Perkembangan mental

Isap jempol Gigit kuku Hiperaktif Ketakutan Apatis Kesan

Kesan: perkembangan fisik dan mental normal Riwayat keadaan rumah dan lingkungan : Rumah tempat tinggal Sumber air minum Buang air besar Pekarangan Buang sampah Kesan : permanen : PDAM : jamban : tidak ada : diangkut oleh petugas : higiene dan sanitasi lingkungan cukup baik
11

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Berat badan Tinggi badan Gizi :
o o o

: sakit sedang : sadar/aktif : 100/70 : 107 kali / menit : 26 kali/menit : 38,3 C : 19 kg : 104 cm

Berat badan : BB/U x 100 %= 19/20 x 100% = 95% Tinggi Badan : TB/U x 100 % = 111/114 x 100% = 97,3%

Berat Badan / Tinggi Badan : BB/TB x 100% = 19/19 x 100% = 100% : Bentuk simetris, rambut hitam, tidak mudah dicabut. : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, refleks cahaya +/+ normal, diameter 2 mm/2mm : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : mukosa mulut dan bibir basah : tidak ditemukan kelainan : Ukuran tonsil T2-T2, tidak hiperemis, tampak membran berwarna putih keabu-abuan di tonsil kiri dan kanan. : tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening (KGB), bullneck tidak ada : Inspeksi Palpasi : normochest, simetris saat statis dan dinamis,

Kesan : gizi baik


Kepala Mata Telinga Hidung

Mulut Lidah
Tonsil Leher Toraks

Paru o
o

retraksi dinding dada tidak ada : fremitus sama pada kedua lapangan paru : sonor di kedua lapangan paru o Perkusi

o Auskultasi : bunyi nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/12

Jantung oInspeksi
o Palpasi

: iktus tidak terlihat : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : RIC II : 1 jari medial LMCS RIC V

o Perkusi: batas atas

batas kiri oAuskultasi


Ekstremitas

batas kanan : linea sternalis dekstra : Irama teratur, bising tidak ada : Edem-/-, RF +/+, RP -/-

Abdomen
o Inspeksi o

: distensi tidak ada Palpasi : timpani : bising usus (+) normal : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : akral hangat, refilling kapiler baik, refleks fisiologis +/+. refleks patologis -/: supel, hepar dan limpa tidak teraba

oPerkusi oAuskultasi

Punggung Alat kelamin Ekstremitas

Pemeriksaan Laboratorium (22 Juni 2011) Darah :


Hb Leukosit Trombosit Hitung jenis Albumin Reduksi

: 10,9 gr% : 10.800 / mm3 : 337.000/mm3 : 0/1/2/69/24/4 : negatif : negatif

Urine :

Diagnosis kerja : Difteri Tonsil. Diagnosis banding : Tonsilitis Folikularis


13

Tatalaksana : ML 1500 kkal Penisilin Procain 1x1.000.000 unit ADS 1x20.000 Luminal 2x45 mg Lactulac 1x10 ml Rencana : Pemeriksaan EKG Pemeriksaan swab tenggorokan Konsul THT Follow Up tanggal 22 Juni 2011 S/ : Demam tidak ada Nyeri menelan masih ada Mual muntah tidak ada Intake masuk sedikit demi sedikit BAK dan BAB biasa O/ : KU Kesadaran Napas Nadi Suhu Mata Tonsil Dada Abdomen A : Difteri Tonsil : sakit sedang : sadar : 24x/menit : 100x/menit : 36,5C : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : ukuran T2 T2, hiperemis, tampak membran berwarna putih keabuabuan di tonsil kiri dan kanan, faring hiperemis. : cor dan pulmo tidak ada kelainan : distensi tidak ada, nyeri tekan tidak ada, nyeri lepas tidak ada

Ekstremitas : akral hangat, perfusi kapiler baik

Follow Up tanggal 23 Juni 2011 S/ : Demam tidak ada


14

Nyeri menelan masih ada Mual muntah tidak ada Anak sudah mau makan BAK dan BAB biasa O/ : KU Kesadaran Napas Nadi Suhu Mata Tonsil Dada Abdomen A : Difteri Tonsil : sakit sedang : sadar : 26x/menit : 103x/menit : 36,8C : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : ukuran T2 T2, hiperemis, tampak membran berwarna putih keabuabuan di tonsil kiri dan kanan, faring hiperemis. : cor dan pulmo tidak ada kelainan : distensi tidak ada, nyeri tekan tidak ada, nyeri lepas tidak ada

Ekstremitas : akral hangat, perfusi kapiler baik

Follow Up tanggal 24 Juni 2011 S/ : Demam tidak ada Nyeri menelan berkurang Mual muntah tidak ada Anak sudah mau makan dan minum Sakit perut tidak ada BAK dan BAB biasa O/ : KU Kesadaran Napas Nadi Suhu Mata Tonsil : sakit sedang : sadar : 22x/menit : 100x/menit : 36,8C : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : ukuran T2 T2, tidak hiperemis, tampak membran berwarna putih keabu-abuan di tonsil kiri dan kanan mulai berkurang dibanding sebelumnya. Dada : cor dan pulmo tidak ada kelainan
15

Abdomen A : Difteri Tonsil

: distensi tidak ada, nyeri tekan tidak ada, nyeri lepas tidak ada

Ekstremitas : akral hangat, perfusi kapiler baik

Follow Up tanggal 25 Juni 2011 S/ : Demam tidak ada Nyeri menelan berkurang Mual muntah tidak ada Anak sudah mau makan dan minum Sakit perut tidak ada BAK dan BAB biasa O/ : KU Kesadaran Napas Nadi Suhu Mata Tonsil : sakit sedang : sadar : 22x/menit : 100x/menit : 36,8C : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : ukuran T2 T2, tidak hiperemis, tampak membran berwarna putih keabu-abuan di tonsil kiri dan kanan mulai berkurang dibanding sebelumnya. Dada Abdomen A : Difteri Tonsil : cor dan pulmo tidak ada kelainan : distensi tidak ada, nyeri tekan tidak ada, nyeri lepas tidak ada

Ekstremitas : akral hangat, perfusi kapiler baik

BAB 3 ANALISA KASUS

16

Telah dilaporkan seorang pasien anak laki laki berumur 5 tahun 8 bulan dengan diagnosis difteri tonsil. Diagnosis kerja ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Data yang diperoleh dari anamnesis yaitu demam sejak 5 hari yang lalu, tidak tinggi, hilang timbul, tidak menggigil, tidak berkeringat. Bercak bercak putih di amandelnya sejak 3 hari yang lalu. Nyeri menelan sejak 3 hari yang lalu. Muntah muntah sejak 6 jam yang lalu, frekuensi 6 8 kali, jumlah 2 sendok makan, berisi apa yang dimakan dan yang diminum, muntah tidak menyemprot. Batuk pilek, sesak napas dan suara serak tidak ada. Riwayat tidur mengorok dan kejang juga tidak ada. Buang air kecil warna biasa, jumlah biasa. Buang air besar konsistensi biasa, warna biasa. Sebelumnya anak sudah berobat ke Sp.A 3 hari yang lalu dan diberi obat Amoxicillin 3 x 500 gr dan paracetamol sirup 3 x 1 sendok teh. Setelah 2 hari pasien kontrol karena tidak ada perubahan, pasien disarankan untuk dirawat dengan keterangan difteri tonsil. Dari pemeriksaan fisik didapatkan bahwa anak tampak sakit sedang, sadar, tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 107 kali / menit, frekuensi nafas 26 kali/menit, suhu 38,3 C, berat badan 19 kg, tinggi badan 111 cm. Dari pemeriksaan gizi anak didapatkan BB/TB 19/19 x 100% = 100%. Gejala yang ditemukan pada pasien ini dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas adalah adanya bercak bercak putih di amandelnya dan nyeri saat menelan sejak 3 hari yang lalu, demam yang hilang timbul dan tidak tinggi. Hal ini sesuai dengan gejala penyakit difteri tonsil yang membentuk membran berwarna putih pada tempat kolonisasinya. Diagnosis banding untuk penyakit pasien ini adalah tonsillitis folikularis karena pada tonsillitis folikularis juga terdapat demam dan membran yang melekat pada tonsil. Diagnosis tonsillitis folikularis baru dapat disingkirkan dengan dilakukan pemeriksaan swab tenggorokan dan ditemukan kuman C.diphtheria. Penilaian status gizi berdasarkan persentase BB/TB pada pasien ini masih termasuk gizi baik, dalam range 90-100%. Pasien diberikan diet makanan lunak dengan kalori sejumlah 1500 kkal.

Rumus untuk memperkirakan kebutuhan energi anak yang dirawat di rumah sakit Berat badan (kg) 0-10 kg Kebutuhan kalori 100 kkal/kg
17

10-20 kg Lebih besar dari 20 kg

10 kg pertama 100 kkal/kg Selebihnya sampai 20 kg, 50 kkal/kg 10 kg pertama 100 kkal/kg 10 kg kedua 50 kkal/kg Selebihnya 20 kkal/kg

Berat pasien 19 kg. Kebutuhan kalori adalah sebanyak : 10 kg pertama = 10 x 100kkal/kg = 1000 kkal. 9 kg kedua = 9 x 50 kkal/kg = 450 kkal. Total kebutuhan energi pasien ini adalah 1000 kkal + 450 kkal = 1450 kkal ~ 1500 kkal. Pengobatan yang dilakukan adalah penisilin procain 1x1.000.000 unit, ADS 1x20.000, luminal 2x45 mg dan lactulac 1x 10 ml.

DAFTAR PUSTAKA
1. Demirci, CS. 2008.Diphtheria Differential Diagnoses.Diunduh dari :

http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview Diakses pada tanggal 24 Juni 2011


18

2. Ikatan Dokter Anak Indonesia.Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi Kedua.Badan Penerbit IDAI,Jakarta,2008. H.312-321.
3. Buescher, ES, Kliegman:Nelson Textbook of Pediatrics, edisi ke

18.Diphtheriae.2007.Saunders, An Imprint of Elsevier ; chapter 186.

19