Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Karsinoma laring atau yang disebut dengan tumor ganas laring merupakan

kondisi kejadian keganasan yang terjadi pada sel skuamosa laring. Keganasan di laring kondisi gangguan akibat infeksi yang sering terjadi pada bagian leher dalam khusunya laring. Gejala dini karsinoma laring sama dengan gejala penyakit lain di laring, sehingga sering dikelirukan dengan penyakit lain yang jauh lebih banyak frekuensi kejadiannya. Mengenal tumor ganas laring penemuan kasus-kasus stadium awal atau deteksi dini keganasan laring sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan keganasan laring. Untuk meningkatkan penemuan kasus-kasus dalam stadium dini keganasan laring, perlu ditingkatkan kepedulian masyarakat dan tenaga kesehatan atas gejala-gejala dini keganasan laring.1 Suara serak adalah gejala dini yang utama pada keganasan laring, terutama bila tumor berasal dari pita suara atau glottis. Ini disebabkan adanya gangguan fungsi fonasi laring akibat ketidakteraturan pita suara, gangguan pergerakan/getaran pita suara dan penyempitan celah pita suara. Seseorang dengan suara serak yang menetap selama dua minggu atau lebih, apalagi mempunyai faktor resiko yang sesuai, harus diwaspadai adanya keganasan laring (glottis).1 Menurut laporan The American Cancer Society tahun 2006 di Amerika tercatat 12.000 kasus baru dan 4740 kasus meninggal karena tumor ganas laring. Pusat Kanker Nasional Amerika melaporkan 8,5 kasus karsinoma laring ditemukan per 100.000 penduduk laki-laki dan 1,3 kasus per 100.000 penduduk wanita per tahun. Di beberapa negara Eropa tumor ganas laring merupakan tumor ganas terbanyak di bidang THT-KL. Sementara laporan WHO yang mencakup 35 negara memperkirakan 1,5 orang dari 100.000 penduduk meninggal karena tumor ganas laring. "Di Indonesia angka kekerapan tumor ganas laring belum dapat didata secara pasti, tetapi dapat diperkirakan mencapai kurang lebih 1 persen dari semua keganasan dan menempati urutan ketiga tumor ganas terbanyak di bidang THT setelah tumor ganas nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal.1

Karsinoma laring lebih sering mengenai laki-laki dibanding perempuan, dengan perbandingan 11 : 1. Terbanyak pada usia 56-69 tahun.1,2,4 Etiologi pasti sampai saat ini belum diketahui, akan tetapi didapatkan beberapa informasi yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan pada laring yaitu : rokok, alkohol, sinar radioaktif, polusi udara radiasi leher dan asbestosis.1,2,4 Untuk menegakkan diagnosa karsinoma laring masih belum memuaskan, hal ini disebabkan antara lain karena letaknya dan sulit untuk dicapai sehingga yang sering dijumpai adalah kondisi bukan pada stadium awal lagi. Biasanya pasien datang dalam keadaan yang sudah berat sehingga hasil pengobatan yang diberikan kurang memuaskan. Yang terpenting pada penanggulangan tumor ganas laring ialah diagnosa dini.1 Secara umum penatalaksanaan tumor ganas laring adalah dengan pembedahan, radiasi, sitostatika ataupun kombinasi daripadanya, tergantung stadium penyakit dan keadaan umum penderita.1,2,4 Oleh karena pada umumnya kebanyakan pasien datang dalam tahap yang sudah lanjut, dan untuk mengetahaui bagaimana peran dari kedokteran dalam membantu mendiagnosa penyakit ini, maka penulis berusaha berbagi informasi dengan menyajikan tulisan referat tentang karsinoma laring. B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum : Tujuan penulisan ini untuk memberikan informasi kesehatan yang berkaitan tentang penatalaksanaan karsinoma laring. 2. Tujuan Khusus: Sebagai sarat dalam menyelesaikan tugas Kepaniteraan Klinik THT di Rumah Sakit Ibnu Sina Gresik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Laring merupakan organ vital pada tubuh manusia yang berfungsi sebagai organ mempertahankan jalan napas, melindungi jalan napas dan paru paru, membantu mengatur sirkulasi, sumber suara atau fonasi, membantu proses menelan, dan mengekspresikan emosi.1
B.

ANATOMI dan FISIOLOGI Fisologi Suara Proses fonasi merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan

1.

banyak organ di tubuh. Terdapat 3 sistem organ pembentuk suara yang saling berintegrasi untuk menghasilkan kualitas suara yang baik yaitu sistem pernapasan, laring dan traktus vokalis supraglotis.8,9 a. Paru Paru berperan sangat penting pada proses fonasi karena merupakan organ pengaktif proses pembentukan suara. Udara yang dihembuskan pada saat ekspirasi akan melewati celah glotis dan menghasilkan tekanan positif untuk menggetarkan pita suara. Fungsi paru yang baik sangat diperlukan agar dapat dihasilkan suara yang berkualitas.8 b. Saraf Susunan saraf pusat dan saraf tepi akan mengontrol dan mengkoordinasikan semua otot dan organ yang berperan dalam proses fonasi. Kerusakan pada saraf ini akan mengacaukan proses pembentukan suara.8 c. Rongga mulut dan faring Perubahan ukuran dan bentuk rongga-rongga ini akan memperkuat intensitas suara yang dihasilkan melalui resonansi.8 d. Pita suara Pita suara merupakan generator pada proses fonasi. Pita suara digerakkan oleh otot-otot intrinsik laring. Gerakan dan getaran otot-otot pita suara merupakan gerakan terkendali (volunter), sehingga dapat dilatih untuk dapat menghasilkan suara yang diinginkan.8
3

Gambar 1: Anatomi laring

2.

Anatomi Fisiologi Laring Laring atau kotak suara ( voice box) merupakan bagian yang terbawah dari

saluran napas bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal kartilago krikoid.2 Laring dibentuk oleh sebuah tulang di bagian atas dan beberapa tulang rawan yang saling berhubungan satu sama lain dan diikat oleh otot intrinsik dan ekstrinsik serta dilapisi oleh mukosa.5,6,7 Tulang dan tulang rawan laring yaitu :
1.

Os Hioid: terletak paling atas, berbentuk huruf U, mudah diraba pada leher bagian depan. Pada kedua sisi tulang ini terdapat prosesus longus di bagian belakang dan prosesus brevis bagian depan. Permukaan bagian atas tulang ini melekat pada otot-otot lidah, mandibula dan tengkorak.

2.

Kartilago tiroid : merupakan tulang rawan laring yang terbesar, terdiri dari dua lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah belakang. Kartilago Krikoid : terletak di belakang kartilago tiroid dan merupakan tulang rawan paling bawah dari laring. Di setiap sisi tulang rawan krikoid melekat ligamentum krikoaritenoid, otot krikoaritenoid lateral dan di bagian belakang melekat otot krikoaritenoid posterior.

Otot-otot laring terdiri dari 2 golongan besar, yaitu : 1. Otot-otot ekstrinsik : Otot elevator : M. Milohioid, M. Geniohioid, M. Digrastikus dan M. Stilohioid Otot depressor : M. Omohioid, M. Sternohioid dan M. Tirohioid 2. Otot-otot Intrinsik : a. b. c. Otot Adduktor dan Abduktor : M. Krikoaritenoid, M. Aritenoid oblique dan transversum Otot yang mengatur tegangan ligamentum vokalis : M. Tiroaritenoid, M. Vokalis, M. Krikotiroid Otot yang mengatur pintu masuk laring : M. Ariepiglotik, M. Tiroepiglotik.

Gambar 2: Anatomi laring: (a) anterior ; (b) anterolateral.

Gambar 3: (a) The internal structure of the larynx - the lamina of the thyroid cartilage has been cut away. (b) The larynx dissected from behind, with cricoid cartilage divided, to show the true and false vocal cords with the sinus of the larynx between.

Gambar 4. Anatomi laring, tampak otot-otot dan kartilago laring. (A) laring dari posterior, (B) laring dari atas.10 Laring mempunyai tiga fungsi utama yaitu proteksi jalan napas, respirasi dan fonasi. Laring membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Saat bernapas pita suara membuka (gambar 5), sedangkan saat berbicara atau bernyanyi akan menutup (gambar 6) sehingga udara meninggalkan paru-paru, bergetar dan menghasilkan suara.11

Gambar 5. Posisi pita suara saat bernapas

Gambar 6. Posisi pita suara saat Berbicara

Pembentukan suara merupakan fungsi laring yang paling kompleks. Pemantauan suara dilakukan melalui umpan balik yang terdiri dari telinga manusia dan suatu sistem dalam laring sendiri. Fungsi fonasi dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plika vokalis. Syarat suara nyaring yaitu anatomi korda vokalis normal dan rata, fisiologis harus normal dan harus ada aliran udara yang cukup kuat.12 Terdapat 3 fase dalam berbicara: pulmonal (paru), laringeal (lariynx), dan supraglotis/oral. Fase pulmonal menghasilkan aliran energi dengan inflasi dan
6

ekspulsi udara. Aktivitas ini memberikan kolom udara pada laring untuk fase laringeal. Pada fase laringeal, pita suara bervibrasi pada frekuensi tertentu untuk membentuk suara yang kemudian di modifikasi pada fase supraglotik/oral. Kata (word) terbentuk sebagai aktivitas faring (tenggorok), lidah, bibir, dan gigi. Disfungsi pada setiap stadium dapat menimbulkan perubahan suara, yang mungkin saja di interpretasikan sebagai hoarseness oleh seseorang/penderita.1,2,3 Adapun perbedaan frekuensi suara dihasilkan oleh kombinasi kekuatan ekspirasi paru dan perubahan panjang, lebar, elastisitas, dan ketegangan pita suara. Otot adduktor laringeal adalah otot yang bertanggung jawab dalam memodifikasi panjang pita suara. Akibat aktivitas otot ini, kedua pita suara akan merapat (aproksimasi), dan tekanan dari udara yang bergerak menyebabkan vibrasi dari pita suara yang elastik. 1,2,3 Laring khususnya berperan sebagai penggetar (vibrator). Elemen yang bergetar adalah pita suara. Pita suara menonjol dari dinding lateral laring ke arah tengah dari glotis. Pita suara ini diregangkan dan diatur posisinya oleh beberapa otot spesifik pada laring itu sendiri. 1,2,3 3. Kelenjar Limfa Leher 2,3,10,12 Sistem aliran limfa leher penting untuk dipelajari, karen ahampir semua bentuk radang atau keganasan kepala dan leher akan terlihat dan bermaniferstasi ke kelenjar limfa leher. Sekitar 75 buah kelenjar limfa terdapat pada setiap sisi leher, kebanyakan berada pada rangkaian jugularis interna dan spinalis asesorius. Kelenjar limfa yang selalu terlibat dalam metastasis tumor adalah kelenjar limfa pada rangkaian jugularis interna, yang terbentang antara klavikula hingga dasar tengkorak. Terdapat dua sistem aliran limfa terpisah yaitu superior dan inferior, dimana garis pemisahnya adalah korda vokalis sejati. Korda vokalis sendiri mempunyai suplai limfatik yang buruk. Di sebelah superior, aliran limfa menyertai pedikulus neurovaskular superior untuk bergabung dengan nodi limfatisi superiores dari rangkaian servikalis profund sebagai os hioideus. Draignase subglotis lebih beragam, yaitu ke nodi limfatikus pretrakeales (satu kelenjar terdapat tepat di depan krikoid dan disebut nodi Delphian). Kelenjar getah bening servikalis profunda inferior, nodi supraklavikularis dan bahkan nodi mediastinalis superior. 4. Persarafan dan Perdarahan Laring 12
7

Dua pasang saraf mengurus laring dengan persarafan sensorik dan motorik. Dua saraf laringeus superior dan dua inferior atau laringeus rekurens, saraf lanringeus merupakan cabang dari nervus vagus. Saraf laringeus superior meninggalkan trunkus vagalis tepat dibawah ganglion nodusum, melengkung ke anteriordan medial di bawah arteri karotis interna dan eksterna, dan becabang dua menjadi suatu cabang sensorik interna dan cabang motorik eksterna. Cabang interna menembus membrana tirohioeda untuk mengurus persarafan sensorik valekula, epiglotis, sinus priformis, dan seluruh mukosa laring superior interna tepi bebas korda vokalis sejati. Maing-masing cabang eksterna merupakan cabang motorik untuk satu otot saja, yaitu otot krikotiroideus. Sebelah inferior, saraf rekurens berjalannaik dalam alur diantara trakea dan esofagus, masuk ke laring tepat di belakang artikulasio krikotiroideus dan mengurus persarafan motorik semua otot intrinsik laring, kecuali krikotiroideus. Saraf rekuren juga mengurus sensasi jaringan di bawah korda vokalis sejati dan trakea superior. Karena perjalanan saraf inferior kiri yang lebih panjang serta hubungannya dengan aorta, maka saraf ini lebih rentan cedera dibandingkan saraf yang kanan.

Gambar 7 Suplai Perdarahan Laring

Suplai arteri dan draignase vebous dari laring paralel dengan suplai srafnya. Arteri dan vena laringeal superior merupakan cabang dari arteri dan vena tiroidea superior, dan keduanya bergabung dengan cabang interna saraf laringeus superior untuk membentuk pedikulus neurovaskular superior. Arteri dan vena laringeus infetior berasal dari pembuluh tiroidea inferior dan masuk ke laring bersama saraf laringeus rekurens.

C. KLASIFIKASI Union International Centre le Cancer (UICC) 1982, membagi tumor gnas laring dalam klasifikasi dan stadium tumor ganas laring sebagai berikut: 1. Supraglotis Terbatas pada daerah mulai dari tepi atas epiglottis sampai batas atas glottis termasuk pita suara palsu dan ventrikel laring. 2. Glotis Mengenai pita suara asli. Batas inferior glottis adalah 10 mm dibawah tepi bebas pita suara, 10 mm merupakan batas inferior otot otot intrinsic pita suara. Batas superior adalah ventrikel laring. Oleh karena itu, tumor glottis dapat mengenai satu atau kedua pita suara, dapat meluas ke subglotis sejauh 10 mm, dan dapat mengenai komisura anterior atau posterior atau prosesus vokalis kartilago arytenoid. 3. Subglotis Tumbuh lebih dari 10 mm di bawah tepi bebas pita suara asli sampai batas inferior krikoid. Klasifikasi Tumor Ganas Laring ( AJCC dan UICC 1988 ) 1. Tumor primer (T) Supra glottis : T is : tumor insitu T 0 : tidak jelas adanya tumor primer l T 1 : tumor terbatas di supra glotis dengan pergerakan normal T1a : tumor terbatas pada permukaan laring epiglotis, plika ariepiglotika, ventrikel atau pita suara palsu satu sisi. T 1b : tumor telah mengenai epiglotis dan meluas ke rongga ventrikel atau pita suara palsu
9

T 2 : tumor telah meluas ke glotis tanpa fiksasi T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dan / atau adanya infiltrasi ke dalam. T 4 : tumor dengan penyebaran langsung sampai ke luar laring. 2. Glotis : T is : tumor insitu T 0 : tak jelas adanya tumor primer T 1 : tumor terbatas pada pita suara (termasuk komisura anterior dan posterior) dengan pergerakan normal T 1a : tumor terbatas pada satu pita suara asli T 1b : tumor mengenai kedua pita suara T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan daerah supra glotis maupun subglotis dengan pergerakan pita suara normal atau terganggu. T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dari satu atau ke dua pita suara T 4 : tumor dengan perluasan ke luar laring 3. Sub glotis : T is : tumor insitu T 0 : tak jelas adanya tumor primer T 1 : tumor terbatas pada subglotis T 1a : tumor terbatas pada satu sisi T 1b : tumor telah mengenai kedua sisi T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan pada satu atau kedua pita suara asli dengan pergerakan normal atau terganggu T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi satu atau kedua pita suara T 4 : tumor dengan kerusakan tulang rawan dan/atau meluas keluar laring. 4. Pembesaran kelenjar getah bening leher (N) N x : kelenjar tidak dapat dinilai N 0 : secara klinis tidak ada kelenjar. N 1 : klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter 3 cm N 2 : klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter >3 <6 cm atau klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter 6 cm N 2a : klinis terdapat satu kelenjar homolateral dengan diameter > 3 cm - 6cm.
10

N 2b : klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter 6 cm N 3 : kelenjar homolateral yang masif, kelenjar bilateral atau kontra lateral N 3 a : klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter > 6 cm N 3 b : klinis terdapat kelenjar bilateral N 3 c : klinis hanya terdapat kelenjar kontra lateral 5. Metastase jauh (M) M 0 : tidak ada metastase jauh M 1 : terdapat metastase jauh 4. Stadium : Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV : T1 N0 M0 : T2 N0 M0 : T3 N0 M0 ; T1, T2, T3, N1, M0 : T4, N0, M0 ; Setiap T, N2, M0, setiap T, setiap N , M1

D. MANIFESTASI KLINIS
1.

Gejala dan tanda yang sering dijumpai adalah :1,2,8 Suara serak adalah gejala utama karsinoma laring, merupakan gejala paling dini tumor pita suara. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi fonasi laring. Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh besar celah glottis, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara, kecepatan getaran dan ketegangan pita suara. Pada tumor ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara baik disebabkan oleh ketidakteraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glottis, terserangnya otot otot vokalis, sendi dan ligament krikoaritenoid, dan kadang kadang menyerang syaraf. Adanya tumor di pita suara akan mengganggu gerak maupun getaran kedua pita suara tersebut. Serak menyebabkan kualitas suara menjadi kasar, mengganggu, sumbang dan nadanya lebih rendah dari biasa. Kadang kadang bisa afoni karena nyeri, sumbatan jalan nafas, atau paralisis komplit. Hubungan antara serak dengan tumor laring tergantung pada letak tumor. Apabila tumor tumbuh pada pita suara asli, serak merupakan gejala dini dan menetap. Apabila tumor tumbuh di daerah ventrikel laring, di bagian bawah plika ventrikularis, atau di batas inferior pita suara, serak akan timbul kemudian. Pada tumor supraglotis dan subglotis, serak dapat merupakan gejala
11

a. Suara serak

akhir atau tidak timbul sama sekali. Pada kelompok ini, gejala pertama tidak khas dan subjektif, seperti perasaan tidak nyaman, rasa ada yang mengganjal di tenggorok. Tumor hipofaring jarang jarang menimbulkan serak, kecual;I tumornya eksentif. Fiksasi dan nyeri menimbulkan suara bergumam ( hot potato voice ) b. Sesak nafas dan stridor Dyspnea dan stridor adalah gejala yang disebabkan oleh sumbatan jalan nafas dan dapat timbul pada tiap tumor laring. Gejala ini disebakan oleh gangguan jalan nafas oleh massa tumor, penumpukan kotoran atau secret, maupun oleh fiksasi pita suara. Pada tumor supraglotis atau transglotis terdapat kedua gejala tersebut. Sumbatan yang terjadi secara perlahan lahan dapat dikompensasi oleh pasien. Pada umumnya dyspnea dan stridor adalah tanda prognosis yang kurang baik. c. d. Rasa nyeri di tenggorok Disfagia Keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri yang tajam. Disfagia adalah ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotis, hipofaring dan sinus piriformis. Keluhan ini merupakabn keluhan yang paling sering pada tumor ganas postkrikoid. Rasa nyeri ketika menelan atau odinofagi menandakan adanya tumor ganas lanjut yang mengenai struktur ekstra laring. e. Batuk dan haemoptisis Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glottis, biasanya timbul dengan tertekannya hipofaring disertai secret yang mengalir ke dalam laring. Hemoptitis sering terjadi pada tumor glottis dan tumor supraglotis. Gejala lain berupa nyeri alih ke telinga ipsilateral, halitosis, hemoptysis dan penurunan berat badan yang menandakan perluasan tumor ke luar laring atau metastasis jauh. Pembesaran kelenjar getah bening leher dapat dipertimbangkan sebagai metastasis tumor ganas yang menunjukkan tumor pada stadium lanjut. Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi supurasi tumor yang menyerang kartilago tiroid dan perikondrium. 2. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan :1,2,3,9 a. Anamnese
12

b. c. d. e. f. a. b. c. d.

Pemeriksaan THT rutin Laringoskopi Radiologi foto polos leher dan dada Pemeriksaan radiologi khusus : politomografi, CT-Scan, MRI Pemeriksaan hispatologi dari biopsi laring sebagai diagnosa pasti TBC laring Sifilis laring Tumor jinak laring. Penyakit kronis laring

3. Diagnosis Banding

E. PENATALAKSANAAN Pada prinsipnya ada 3 tindakan penatalaksanaan penanggulangan karsinoma laring yaitu pembedahan, radiasi dan sitostatika, ataupun kombinasi daripadanya. Tergantung stadium penyakit dan keadaan umum yang dialami pasien. Sebagai acuan tindakan bahwa dapat dikatakan stadium 1 dikirim untuk mendapatkan radiasi, stadium 2 dan 3 dikirim untuk dilakukan operasi, stadium 4 dilakukan operasi dengan rekonstruksi, bila masih memungkinkan atau dikirim untuk mendapatkan radiasi. 1. Pembedahan Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari : a. Laringektomi 1) Laringektomi parsial Laringektomi parsial diindikasikan untuk karsinoma laring stadium I yang tidak memungkinkan dilakukan radiasi, dan tumor stadium II. 2) Laringektomi total Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas (epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea. b. Diseksi Leher Radikal Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 T2) karena kemungkinan metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah. Sedangkan tumor supraglotis, subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan tindakan diseksi leher. Pembedahan ini tidak disarankan bila telah terdapat metastase jauh.
13

2.

Radioterapi Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Keuntungan dengan cara ini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 7000 rad.8,9 Pelaksanaan Radioterapi dengan dosis menengah pernah dilakukan oleh Ogura, Som, Wang, dkk, dalam penelitiannya untuk kejadian pada tumor-tumor tertentu. Prinsip dasarny adalah untuk memperoleh kerusakan maksimal dari tumor tanpa kerusakan yang tidak dapat disembuhkan pada jaringan yang melapisinya. Wang dan Schulz memberikan 45005000 rad selama 46 minggu diikuti dengan laringektomi total.9 Gambaran radiologi pada karsinoma laring
a.

Radiologi konvensional 13 ,14 Radiografi jaringan lunak leher merupakan studi survey yang baik. Udara digunakan sebagai agen kontras alami untuk memvisualisasikan lumen laring dan trakea. Ketebalan jaringan retropharyngeal dapat dinilai. Epiglottis dan lipatan aryepiglottic dapat divisualisasikan. Namun, radiografi tidak memiliki peran dalam manajemen kanker laring saat ini.

Gambar 8: Lateral radiograph of the neck showing the different structures of the larynx: a, vallecula; b, hyoid bone; c, epiglottis; d, preepiglottic space; e, ventricle (air-space between false and true cords); f, arytenoid; g, cricoid; and h, thyroid cartilage.9

b.

Computed Tomography CT Scan 13


14

Penentuan stadium awal

pada diagnosa klinis berdasarkan pada

keterlibatan beberapa tempat pada supraglotis laring dan mobilitas pita suara. Pencitraan dapat membantu dalam mengidentifikasi perluasan submukosa transglotis yang tersembunyi. Kriteria pencitraan lesi T3 adalah perluasan ke ruang pra-epiglotis (paralayngeal fat) atau tumor yang mengerosi kebagian dalam korteks dari kartilago tiroid. Tumor yang mengerosi ke bagian luar korteks kartilago tiroid merupakan stadium T4a. tendon bisa memenuhi kriteria pencitraan lesi T4. Tumor stadium T4 (a dan b) sulit diidentifikasikan hanya dengan pemeriksaan klinis saja, karena sebagian besar kriteria tidak dapat diniai dengan palpasi dan endoskopi. Pencitraan secara Cross-sectional diindikasikan untuk mengetahui komponen anatomi yang terlibat untuk menentukan stadium tumor. Untuk mendapatkan gambaran yang baik, ketebalan potongan tidak boleh lebih dari 3 mm dan laring dapat dicitrakan dalam beberapa detik, dan dengan artefak minimal akibat gerakan. ada yang berpendapat bahwa kerterlibatan korteks bagian luar saja tanpa keterlibatan sebagian besar

Gambar 9: Normal larynx. Axial CT scan shows the normal appearance of the larynx during quiet respiration. The true vocal cords are abducted.14

15

Gambar 10: Normal larynx. Axial CT scan obtained during phonation shows that the true vocal cords are thin and adducted. The ventricles are properly inflated. 14

Gambar 11. Tumorlike nodules of the true vocal cords that manifested as hoarseness. Axial CT scan obtained during quiet respiration shows apposition of the thickened true vocal cords (arrows).14

Gambar 12. Tumorlike nodules of the true vocal cords that manifested as hoarseness. Axial CT scan obtained during phonation shows a nodule of the right true vocal cord (arrow). The nodule is clearly visible due to tension of the true vocal cords. 14

Gambar 13. Tumorlike nodules of the true vocal cords that manifested as hoarseness. Image from endoscopy shows two lesions of the true vocal cords. Histopathologic evaluation revealed Reinke edema (pseudocysts).14

16

Gambar 14. Tumorlike nodules of the true vocal cords that manifested as hoarseness. Image from endoscopy shows two lesions of the true vocal cords. Histopathologic evaluation revealed Reinke edema (pseudocysts).14

Gambar 15. Squamous cell carcinoma of the right side of the glottis. Axial CT scan obtained during quiet respiration shows a tumor of the anterior commissure (arrow).14

Gambar 16. Squamous cell carcinoma of the right side of the glottis. Coronal reformatted image obtained during quiet respiration shows the tumor (*). However, the true and false vocal cords are poorly seen, so the local extent of the tumor remains undefined14

17

Gambar 17. Squamous cell carcinoma of the right side of the glottis. Coronal reformatted image obtained during phonation shows the right laryngeal ventricle (arrow). The tumor (*) is located solely below the ventricle; therefore, involvement of the supraglottic structures is ruled out.14

Gambar 18: CT scan shows tumoral involvement of the right vocal cord9

Gambar 19: CT scan shows a subglottic cancer along the cricoid cartilage9

18

Gambar 20:Ca larynx 52 year old heavy smoker with severe swallowing difficulties. Findings: The post contrast axial CT image of the larynx demonstrates an extensive, mainly leftsided mass on both sides of the larynx with distinct inhomogeneous contrast enhancement. The mass can be seen all around laryngeal skeleton. The lumen of the larynx is slightly displaced to the left. The sagittal reconstruction image (top right image) excellently demonstrates the cranio-caudal spread of the tumor that extends from the oropharynx right down to the larynx. The coronal reconstruction images (images below) also demonstrate the spread of the tumor; the lower right picture shows the growth all around of the laryngeal skeleton. The lower left picture also shows lymph node metastases. Diagnosis with Extensive hypopharynx-larynx carcinoma with pathological lymph nodes with differensial diagnosis Other malignant tumors with origin in the hypopharynx or larynx.

Gambar 21: Larynx carcinoma with invasion of cartilage 10 59-year-old heavy smoker with severe difficulty in swallowing. Finding: The CT image at the level of the larynx after contrast administration demonstrates a mass around the right vocal cord which extends from the arytenoid cartilage/cricoid cartilage to the ventral commissure(below).The lowest portion of the arytenoid cartilage and of the cricoid cartilage on the right side appear hypersclerosized in the bony window (below), indicating possible invasion of cartilage. Diagnosis with Larynx carcinoma with invasion of cartilage (T4) and with differensial diagnosis Other malignant laryngeal tumors.

19

Gambar 19: CT scan showing growth larynx with hypopharyngeal extension11

Gambar 22. A: Axial contrast-enhanced CT obtained at the level of the supraglottis shows a left-sided epiglottic carcinoma extending into the pre-epiglottic space (arrow). This would indicate a T3 lesion. B: Bone algorithm shows absence of the adjacent thyroid cartilage (short arrow) compared to the contralateral side (long arrow). These findings indicate tumor invasion of the inner and outer cortex of the thyroid cartilage.

Gambar 23. A: Axial computed tomography (CT) obtained at the level of the true vocal cord demonstrates an anterior commissure carcinoma eroding the anterior portion of the thyroid cartilage and extending into the adjacent soft tissue (arrow). B: Axial CT obtained in a different patient shows a left-sided true vocal cord carcinoma eroding both the inner and outer cortex of the thyroid cartilage without bulk involvement into the adjacent soft tissues.

c.

Magnetic Resonance Imaging (MRI)1,2,8,9,

20

MRI memiliki beberapa kelebihan daripada CT yang mungkin membantu dalam perencanaan pre-operasi. Pencitraan koronal membantu dalam menentukan keterlibatan ventrikel laryngeal dan penyebaran transglottic. Pencitraan Midsagittal membantu untuk memperlihatkan hubungan antara tumor dengan komisura anterior. MRI juga lebih unggul daripada CT untuk karakterisasi jaringan spesifik. Namun, pencitraan yang lebih lama dapat menyebabkan degradasi gambar akibat pergerakan.

Gambar 24: Gambaran MRI laring Normal

Gambar 25: Gambaran MRI laring dengan tumor

3.

Kemoterapi Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun paliativ. Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80120 mg/m2 dan 5 FU 800 1000 mg/m2.9

F.

Rehabilitasi
21

Rehabilitasi setelah operasi sangat penting karena telah diketahui bahwa tumor ganas laring yang diterapi dengan seksama memiliki prognosis yang baik. rehabilitasi mencakup G. : Vocal Rehabilitation, Vocational Rehabilitation dan Social Rehabilitation.3,8,9 Prognosa Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi tumor dan kecakapan tenaga ahli. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma laring stadium I 90 98% stadium II 75 85%, stadium III 60 70% dan stadium IV 40 50%. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year survival rate sebesar 50%.4,9

22

BAB III PENUTUP

Kesimpulan 1. 2. Karsinoma laring adalah salah satu keganasan Kepala dan leher yang sering ditemukan. Etiologi pasti sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun didapatkan beberapa hal yang diduga kuat sebagai pemicu yang berkaitan erat dengan terjadinya keganasan laring yaitu : rokok, alkohol, sinar radioaktif, polusi udara radiasi leher dan asbestosis. 3. Untuk menegakkan diagnosa tumor ganas laring masih belum memuaskan, hal ini disebabkan antara lain karena letaknya dan sulit untuk dicapai sehingga dijumpai bukan pada stadium awal lagi. Biasanya pasien datang dalam keadaan yang sudah berat sehingga hasil pengobatan yang diberikan kurang memuaskan. Yang terpenting pada penanggulangan tumor ganas laring ialah diagnosa dini. 4. Secara umum penatalaksanaan tumor ganas laring adalah pembedahan, radiasi, sitostatika maupun kombinasi daripadanya. Pilihan terbaik untuk pasien ini adalah radiasi, karena hasil biopsi dari tumor menunjukkan karsinoma sel skuamous non keratinizing yang bersifat radio sensitif. Keuntungan lain dari radiasi adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. 5. Rehabilitasi setelah operasi dengan terapi yang seksama memiliki prognosis yang baik. Kerjasama yang baik dari ahli onkologi, ahli patologi, ahli radiasi onkologi sangatlah diperlukan untuk memberikan kesembuhan yang optimal.

23

DAFTAR PUSTAKA
1.

Prof. dr. Bambang Hermani, Sp. THT-KL(K), ASPEK PENCEGAHAN KANGKER LARING. Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI RSCM).1990.

2.

Hermani B, Kartosoediro S. Suara Parau. Dalam: Soepardi EA, Iskandar HN (editors). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi ke V. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2003. 190-9

3.

Spector, Ogura JH. Tumor Laring dan Laringofaring. Dalam. Ballenger JJ, Ed. Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid I. Edisi ke-13. Jakarta : Binarupa Aksara. 1997. h. 621-77.

4.

Hermans R. Laryngeal Neoplasms. Dalam Hermans R. Head and Neck Cancer Image. Germany; Springer: 2006; h 43-77. Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear Nose and Throat diseases, A. Pocket Reference. Edisi ke-2. New York. Thieme Med. 1994. h. 423-32.

5.

6.

Bailey BJ. Early Glottic Carcinoma. Dalam : Bailey BJ. Ed. Head and Neck Surgery Otolaringology. Vol. 2. ed Philadelphia. JB Lippincot. h. 1313-60.

7.

Lawson W, Biller HFM, Suen JY. Cancer of the Larynx. Dalam Myers EN, Suem JY. Ed. Cancer of the Head and Neck. Churchill Livingstone. h. 533-60. Kadriyan H. Aspek Fisiologis dan Biomekanis Kelelahan Bersuara serta Penatalaksanaannya. Cermin Dunia Kedokteran 2007;155: 93 Iskandar HN. Pemakaian Mikroskop Pada Diagnostik dan Bedah Laring. Cermin Dunia Kedokteran 1987; 43: 21-22. Rosen CA, Anderson D, Murry. Evaluating Hoarseness: Keeping Your Patient's Voice Healthy nhttp://www.aafp.org/afp/980600ap/rosen.html [diakses 17 Oktober 2012] Sulica L. Normal Voice Function http://www.voicemedicine.com/ normal_voice_functioning.htm [diakses 17 Oktober 2012]
24

8.
9.

10.

11.

12.

Cohen JI. Anatomi dan fisiologi laring dalam BOIES buku ajar penyakit THT edisi .Jakarta: EGC, 1994. Haryuna Sh, Tumor Ganas Laring. Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Diunduh dari www.repository.usu.ac.id tanggal 18 Oktober 2012. Iqbal N. Laryngeal Carcinoma. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/875436-overview Tanggal 18 Oktober 2012.

13.

14.

25