Anda di halaman 1dari 74

PRODUKSI CAT TEMBOK BERKUALITAS

DISUSUN OLEH:

DURAPOSITA CHEMICAL
KATA PENGANTAR

Perkembangan dunia cat saat ini mengarah pada sistem basis air. Hal ini
mengingat sistem basis air jauh lebih ramah lingkungan daripada sistem basis minyak.
Sistem basis air tidak mudah terbakar, tidak berbau menyengat dan tidak terlalu bersifat
irritant. Jaman dahulu cat basis air hanya digunakan untuk pelukis, untuk keperluan seni,
kemudian lambat laun mengalami kemajuan sehingga digunakan untuk mengecat
tembok. Kimiawan-kimiawan terus mengembangkan agar cat basis air mempunyai
kekuatan yang sama dengan cat basis minyak, saat ini cat basis air telah digunakan untuk
mengecat kayu, besi dan sudah digunakan pula untuk mengecat mobil.
Buku ini membahas bahan-bahan apa saja yang menyusun formula cat basis air,
yaitu pigmen (zat pewarna), binder (perekat), dan zat tambahan (aditif). Kemudian apa
saja yang mempengaruhi karakteristik-karakteristik dari suatu cat basis air, seperti jenis
binder atau efek dari penambahan aditif.
Buku ini dapat dipakai sebagai referensi untuk pengusaha, calon pengusaha,
pengguna cat, dan masyarakat umum yang ingin memulai industri cat atau menambah
pengetahuan di dunia cat terutama pada sistem basis air.
Akhir kata, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak pihak yang
turut berpartisipasi dalam penyusunan buku ini. Penulis juga mengharapkan saran dan
kritik dari pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 PENGERTIAN CAT


Beberapa banyak macam bahan baku terlibat dalam pembuatan cat, tetapi intinya
cat terdiri dari padatan (solids) dan cairan (liquids). Dengan bagian padatan tersebut
tertahan (tersuspensi) dalam porsi cairan atau carrier. Solids atau padatan adalah bahan
yang tertinggal di permukaan setelah bagian liquid menguap. Solids terdiri dari beberapa
material, setiapnya didesain untuk menghasilkan beberapa fitur dari cat, namun yang
utama adalah pigmen (pewarna) dan binder (perekat).

(gambar 1.1)

Elemen penyusun cat

1.2 BAGAIMANA CAT BEKERJA


Ketika cat diaplikasikan ke permukaan proses pengeringan dimulai. Bagian cair /
carrier mulai menguap dan meninggalkan lapisan film, lapisan film terdiri dari binder,
aditif dan pigmen.
Memahami bagaimana cat mengering adalah sangat penting. Cat mengering pada
2 cara, yaitu penguapan solvent pada cat basis minyak / solvent dan coalesce (persatuan)
pada basis latex atau basis air.
Pada basis minyak, partikel – partikel cat mulai bergabung dan membentuk
partikel yang lebih panjang, proses ini dikenal sebagai chemical bonding (ikatan kimia).
Pada cat basis air, pigment, binder dan additive tidak secara kimiawi saling mengikat
ketika cat mengering. Namun partikel – partikel bergerak merapat / mendekat / menyatu
bersama -sama untuk mengisi gap yang ditinggalkan oleh menguapnya partikel air,
fenomena ini dikenal sebagai coalescence / penyatuan.

1.3 KOMPONEN PENYUSUN CAT


1.3.1. PIGMENT
Pigmen adalah padatan (serbuk) warna, yang memberi warna pada suatu cat dan
daya tutup (hiding power). Pigmen tersuspensi dalam carrier, inilah mengapa cat harus
diaduk dahulu sebelum digunakan. Komponen lainnya adalah binder atau pengikat yang
menahan material – material cat, dimana beberapa aditif diperlukan untuk menambah
fitur cat yang diinginkan. Liquid akan menguap setelah cat kering, disini binder
membentuk lapisan film.
Pigmen dapat dibagi menjadi 2 yaitu organik dan non organik. Pigmen non
organik dibuat dari beberapa logam (oksida logam) sementara pigmen organik dibuat dari
bahan minyak bumi (carbon based). Pigmen dapat lebih jauh lagi dibagi menjadi pigmen
utama dan pigmen ekstender. Kebanyakan cat mengandung kedua - duanya. Pigmen
utama memberikan cat dengan daya tutup dan warna. Pada warna - warna pastel / warna
dasar putih, pigmen utama yang paling sering digunakan adalah titanium dioxide yang
mempunyai hiding power dan daya pemutih yang kuat. Titanium dioxide tidak digunakan
dalam warna-warna gelap, warna merah gelap misalnya menggunakan pigmen iron oxide
merah sebagai pigmen utamanya, warna hitam gelap menggunakan pigmen carbon black.
Pigmen ekstender seperti talc, silica, carbonat - carbonat, kaolin clay dan
sejenisnya membantu memperkuat titanium dioxide. Namun ekstender tidak berlaku
sebagai hiding agent, ekstender membantu menambah volume dan berat cat sehingga
harga cat menjadi murah. Harga titanium dioxide jauh lebih mahal daripada pigment
ekstender.
Ekstender juga membuat suatu cat berkurang putihnya. Jika cat yang diinginkan
sangat putih maka titanium dioxide adalah satu-satunya jawaban. Cat dengan kandungan
ekstender banyak akan menjadi keabu - abuan. Kerugian lain jika terlalu banyak
ekstender adalah cat akan tampak selalu tidak menutup jika diaplikasikan.
Fungsi utama pigmen adalah memberikan warna pada cat dan daya tutup. Selain
itu, pigmen juga dapat mem.berikan cat fitur yang lain. Contohnya, beberapa pigmen
mempunyai kekerasan yang lebih dari lainnya, beberapa mempengaruhi kilau atau kilap
dari cat (semakin kecil partikel semakin tinggi kilapnya, semakin besar akan semakin
doff) dan beberapa adalah mildewcide (anti jamur) yang mempunyai kemampuan untuk
menjaga timbulnya jamur di permukaan (contohnya zinc oxide). Pigmen juga
mempengaruhi tekstur cat.

1.3.2. BINDER
Binder bertugas merekatkan partikel – partikel pigmen ke dalam lapisan film cat
dan membuat cat merekat pada permukaan. Tipe binder dan prosentase binder dalam
suatu formula cat menentukan banyak hal dari peforma cat seperti washability (ketahanan
saat dicuci dengan air), scrubbability (ketahanan saat digosok), color retention (kekuatan
warna) dan adhesi (daya rekat).
Binder dibuat dari material bernama resin yang bisa dari bahan alam bisa juga
sintetis. Semakin banyak binder atau resin dalam cat, semakin baik catnya, semakin
mengkilap, dan semakin tahan lama. Pada cat basis air, resin yang tak larut air diproses
secara kimia sehingga dapat larut dengan air, proses ini disebut emulsifikasi. Hasil
akhirnya sering disebut dengan latex.
Ketika cat latex ditemukan pada 1940-an, latex yang dipakai adalah styrene
butadiene, setelah waktu berlalu penelitian membuktikan bahwa latex jenis ini terlalu
sensitif terhadap sinar matahari dan cat dapat menjadi kosong dan mudah retak.
Kemudian ditemukan PVAc (Polyninyl Acetate), namun setelah beberapa waktu
ditemukan ada masalah, yaitu PVAc tidak kompatibel dengan permukaan batuan yang
umumnya bersifat alkali / basa.
Pada 1953 industri cat mulai menggunakan binder akrilik. Akrilik mempunyai
ketahanan warna yang baik dan tidak mempunyai kekurangan seperti pendahulunya.
Akrilic (Acrylic) sampai saat ini masih dianggap sebagai binder terbaik. Saat ini, cat
dapat berbinder acrylic atau styrene, polyester, terpolymer, rubber (karet), polyvinyl
acetate atau beberapa campuran lainnya. Semakin banyak acrylic di cat semakin baik cat
tersebut. Jika pada kaleng tertulis 100 % acrylic dan menjadi satu-satunya binder ini
menandakan kualitas cat tersebut baik.

1.3.3. LIQUID
Sebuah cat membutuhkan bagian cair agar partikel pigmen, binder dan material
padat lainnya dapat mengalir. Cairan pada suatu cat disusun oleh solvent dan atau diluent.
Solvent berasal dari kata dissolve dan diluent berasal dari kata dilute. Keduanya adalah
suatu cairan yang mempunyai kemampuan untuk melarutkan (dissolve) suatu material.
Keduanya juga dikenal sebagai thinner karena keduanya memiliki kemampuan untuk
mengencerkan cat ke kekentalan yang diinginkan. Air meskipun dapat melarutkan
substans tidak dianggap sebagai solvent untuk cat karena air tidak melarutkan resin. Air
adalah solvent untuk gula karena gula dapat larut oleh air, bukan solvent untuk resin. Air
pada latex adalah sebagai pengencer bukan pelarut resin.

1.3.4. ADITIF
Sebagai tambahan selain liquid, pigment dan binder, suatu cat dapat mengandung satu
atau lebih aditif (zat tambahan). Hal ini mempengaruhi fitur vital dari cat tergantung dari
penggunaan akhir cat. Cat latex mengandung lebih banyak aditif daripada cat alkyd (oil
based) karena cat latex mencoba untuk meniru fitur cat alkyd terutama kemampuan flow
dan levelling dari cat alkyd.
Levelling adalah kemampuan cat untuk membentuk film yang halus pada bidang
vertikal dan horisontal dengan metode apapun (dengan kuas, roll atau semprot). Film
yang mempunyai karakteristik levelling yang bagus adalah film yang bebas dari bekas
roll atau kuas. Flow adalah karakteristik pada cat yang menunjukkan derajat levellingnya.

Bentuk beberapa aditif :


1. Thickener : Menaikkan kekentalan cat, menambah flow dan levelling.
2. Pengawet : Meningkatkan shelf life (umur campuran) dalam kaleng dan pada
lapisan film yang telah kering.
3. UV Inhibitor : Sinar yang merusak dari matahari adalah sinar ultraviolet,
dan
inhibitor berfungsi untuk mengebloknya.
4. Antiskinning : Ini menjaga atau mengurangi membentuknya kulit cat
setelah
kaleng dibuka.
5. Antifoam : Mengurangi foam (busa) saat cat dibuat, diaduk dan diaplikasi.
6. Dan lain-lain.

Kombinasi dari beberapa aditif diatas digunakan untuk mendesain cat yang
diinginkan dan dapat bervariasi menurut area suatu negara dimana cat akan diaplikasikan.
Contohnya jika cat akan diaplikasikan di Asia Tenggara, dimana kelembabannnya tinggi
sehingga potensial timbul masalah jamur, konsentrasi mildewcide (anti jamur) harus
ditambah. Di wilayah utara cat harus mempunyai flexibilitas karena ekstrimnya
perubahan temperatur. Namun kualitas suatu cat utamanya bergantung pada pigmen yang
dipakai dan jumlah serta tipe binder. Semakin banyak semakin tinggi kualitas catnya.

1.4 FITUR-FITUR CAT


1.4.1 DAYA TUTUP
Ini adalah hal penting untuk mengetahui berapa kilogram atau berapa literkah cat
yang diperlukan untuk melapisi permukaan per-meter perseginya. Hal ini berhubungan
dengan banyaknya konsentrasi pigmen dalam cat, semakin banyak pigmen yang dipakai
semakin luas daya sebar suatu cat.

1.4.2 TINGKATAN KILAU CAT


Gloss atau kilap adalah kemampuan cat untuk memantulkan cahaya (gambar 1.2).
Hal ini dapat diukur dengan alat yang dinamakan gloss meter. Alat yang mengambil
cahaya pada cat yang kering dan kemudian mengukur sebanyak apa cahaya dipantulkan.
Satu dari standar pengukuran gloss diambil pada sudut 60o. Cahaya diarahkan ke
permukaan cat pada sudut ini. Bergantung pada kemampuan cat untuk memantul, cat
dapat dikoordinasi menjadi beberapa tingkatan kilap mulai dapat dikarekterisasi menjadi
beberapa tingkatan kilap mulai dari plat yang tak punya kilau sampai ke high gloss yang
memantulkan cahaya hampir seluruhnya.
Gloss pada suatu cat adalah refleksi dari perbandingan antara pigmen dan liquid.
Semakin banyak pigmen semakin flat (tidak mengkilap) suatu cat hal ini berhubungan
dengan jarak antar partikal pigmen dalam cat. Pada cat yang glossy / kilap, dimana jarak
antar partikel pigmen lebih jauh sehingga lebih banyak cahaya yang terpantulkan, pada
cat yang flat jarak antar partikel rapat maka cahaya lebih sedikit yang terpantulkan.

(gambar 1.2)
Kilau Cat

Berikut adalah tingkat kilap suatu cat :


1. Flat, 10 %
2. Egg shell (mempunyai kilap seperti kulit telur), 10 – 40 %.
3. Semi Gloss, 40 – 60 %.
4. Gloss, 60 – 80 %.
5. High Gloss, 80 %.

Kilau sepeti disebutkan sebelumnya berhubungan dengan binder atau resin dalam cat.
Semakin banyak jumlah resin cat akan semakin gloss, semakin tidak berpori dan lebih
tahan gosok cat itu. Sebagai catatan setiap pabrikan cat mempunyai definisi berbeda
tentang gloss untuk produknya, satu menyebutkan semigloss satunya menyebutkan satin
flat untuk kilau yang sama.
BAB II
PIGMENT

2.1 KLASIFIKASI PIGMEN


Penyedia warna pada suatu cat dapat menggunakan pigment dan dapat pula
menggunakan dye. Pigment adalah campuran kimia yang menyediakan warna dan tidak
larut dalam air. Cat adalah sebuah dispersi dari pigment yang berukuran mikroskopis
yang tertahan dalam suatu carrier / media. Hal ini dapat digambarkan seperti sungai
Brantas yang menahan pasir, lumpur, dan material lainnya. Sebaliknya, dye larut
sepenuhnya dalam air dan menyatu langsung dengan material yang disentuhnya.
Semua pigmen dapat diklasifikasikan menjadi dua kriteria yaitu: (1) alami atau
sintetis, dan (2) organik atau non organik. Arti kata natural berarti molekul pigmen
diekstrak dari suatu mineral, tumbuhan, atau binatang yang terjadi atau ada di alam, dan
hanya dimodifikasi dengan cara digiling, dicuci, disaring atau dipanaskan. Arti kata
sintetis berarti molekul pigmen didapat atau diolah dengan cara kimia atau proses kimia.
Pigmen alami sudah banyak diganti dengan pigmen sintetis yang lebih superior dalam
kekuatan dan variasi warnanya.
Arti kata non organik berarti pigmen tersebut adalah suatu mineral atau campuran
mineral, seperti oxide, sulfide, metal atau earth. Organik artinya bahwa pigmen tersebut
adalah molekul karbon dikombinasi dengan hidrogen, nitrogen atau oksigen. Dua kriteria
tersebut dapat dikombinasikan untuk mendefinisikan kategori 4 pigmen, yaitu non
organik sintetis, non organik alami, organik sintetis dan organik alami. Sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa :
1. Pigmen non organik alami adalah :
Pigmen logam atau batuan yang diekstrak dari bahan tambang / mineral.
2. Pigmen non organik sintetis adalah :
Pigmen logam atau batuan yang dibuat dengan mengkombinasikan bahan kimia
dengan logam atau batuan mineral melalui proses kimia.
3. Pigmen organik alami adalah :
Pigmen yang dibuat dari ekstrak dari tumbuhan atau binatang.
4. Pigmen organik sintetis adalah :
Pigmen berbasis karbon, seringkali dibuat dari turunan minyak bumi melalui
proses kimia yang menyerupai sifat kimiawi dari pewarna hewan atau tumbuhan.
Hampir seluruh pigmen di dunia industri adalah sintetik. Dengan beberapa
pengecualian, pigmen alami non organik sudah lama tak digunakan, pada dasarnya
karena sulit dan mahal untuk diekstrak dan tidak menghasilkan warna yang bagus.
Banyak pigmen non-organik masih digali dari bumi kemudian dipecah-pecah, digiling,
dicuci dan diklasifikasi ke berbagai ukuran. Kebanyakan, pigmen-pigmen tersebut
mempunyai ekivalen sintetisnya, nampak sama secara kimia, namun mempunyai fitur
yang berbeda.
2.2 TABEL 2.1 : Daftar warna pigmen non organik
Pada tabel 2.1 dapat dilihat nama-nama pigmen apa saja yang memberikan warna-
warna putih, kuning, oranye, merah, coklat, ungu, biru hijau dan hitam dan berbahan apa
pigmen tersebut dari oksida, sulfida, kromat atau lainnya.

Daftar warna pigmen non organik


Tabel 2.1
2.3 TABEL 2.2 : Fitur-fitur pigmen non organik
Pada tabel 2.2 ditunjukkan fitur - fitur dari pigmen non-organik seperti L/W yaitu
light fastness / weathering resistance (ketahanan terhadap cahaya / cuaca), heat (panas),
alkali (basa), acid (asam), density (kerapatan) dan shade (bayang). Untuk fitur - fitur
tersebut dinilai dengan EX = excellent (istimewa), VG = very good (sangat baik), G =
good (baik), F = fair (cukup), P = poor (buruk). Untuk kode warna Y = yellow, O =
orange, R = red, V = violet, B = blue, G = green, Br = brown, Bk = black, W = white, M
= metal (logam).

Tabel 2.2
Fitur-fitur pigmen non organik
Tabel 2.2
lanjutan

2.4 TABEL 2.3 : Fitur-Fitur pigmen organik


Pada tabel 2.3 ditunjukkan fitur-fitur dari pigment organik seperti LF yaitu light
fastness full shade, LT yaitu light fastness full tint, HT yaitu heat stability (stabilitas
terhadap panas), SV yaitu solvent resistance (ketahanan terhadap solvent), CH (ketahanan
terhadap bahan kimia) dan shade (bayang). Untuk fitur - fitur tersebut dinilai dengan EX
= excellent (istimewa), VG = very good (sangat baik), G = good (baik), F = fair (cukup),
P = poor (buruk). Untuk kode warna Y = yellow, O = orange, R = red, V = violet, B =
blue, G = green, Br = brown, Bk = black, W = white, M = metal (logam).
Pada tabel 2.3 terdapat kolom main application (aplikasi utama), A = automotive,
I = industrial, D = decorative (solvent based), E = emulsion paint, O = oil ink, L = liquid
ink, S = specialty ink, P = plastik. Pada kolom main application huruf besar menunjukkan
aplikasi utama, huruf kecil menunjukkan tidak terlalu cocok, dan huruf yang tidak ada
menunjukkan bahwa pigment tersebut tidak cocok untuk aplikasi tersebut.
Tabel 2.3
Fitur-fitur pigmen organik
Tabel 2.3
lanjutan
Tabel 2.3
lanjutan
Tabel 2.3
lanjutan
BAB III
PIGMENT EKSTENDER DAN PIGMENT EFEK

3.1 PIGMEN EKSTENDER


Arti kata ekstender muncul dari penggunaan awal pigment ini sebagai pengganti
per-bagian atau seluruh dari pigment utama. Cat yang murah dapat dibuat dengan
mengurangi pigment utama dan menggantinya dengan pigment ekstender. Ekstender
biasanya berupa serbuk putih pada kondisi kering (dry state) dan menjadi lebih atau
kurang transparansinya ketika dicampur dengan binder. Sedikit sekali bahkan tidak ada
refraksi (pembiasan) cahaya pada film cat karena hampir samanya indeks refraktif dari
ekstender (1,4 – 1,7) dengan binder (± 1,5). Sebagai perbandingan titanium dioxide
mempunyai indeks refraktif 2,76.
Ekstender mempunyai fungsi yang luas selain sebagai pemurah yaitu sebagai
sanding aid (agen penggosok / rempelas) untuk dempul, sebagai flatting agent (agen agar
tidak mengkilap) dan pembentuk tekstur pada cat.

3.1.1 Calcite (whiting)


3.1.1.1 Calcium carbonate natural
Calcium carbonate adalah tipe ekstender yang paling banyak digunakan. Calcium
carbonat memiliki warna yang cerah dan merupakan pembantu dari titanium dioksida
untuk memurahkan harga dan menambah volume. Calcium carbonate tersedia dengan
berbagai macam ukuran partikel, partikel dengan ukuran 2 mikron disebut dengan istilah
“ultrafine’ dan partikel dengan ukuran 2-10 mikron disebut dengan istilah “fine”.
Ada sedikit perbedaan antara calcite dan whiting, calcite diturunkan dari mineral
kalsium karbonat yang lebih keras, lebih kristal seperti batu limestone atau marmer.
Calcite digunakan untuk cat basis air maupun basis minyak dan untuk aplikasi interior
dan eksterior. Pada aplikasi eksterior, calcite mempunyai ketahanan terhadap cuaca yang
tinggi kecuali pada atmosfer suasana asam yang tinggi. Sifat alamnya yang hidrofili
(takut air) membuatnya mudah didispersikan terutama pada sitem cat basis air.
Penyerapan minyaknya yang rendah membuatnya membutuhkan hanya sedikit binder
untuk mengikatnya, sehingga meninggalkan binder lebih banyak untuk merekatkannya
pada permukaan. Penggunaan dengan konsentrasi tinggi akan menambah kecepatan
pengeringan, dan memberikan fitur filler (pengisi) yang baik digunakan untuk plamir,
dempul dan cat flat / dof. Calcium carbonat tipe whiting adalah tipe yang lebih lunak dan
mempunyai daya serap minyak yang lebih tinggi dan mempunyai fitur flatting yang lebih
baik dari tipe calcite.

3.1.1.2 Calcium carbonate sintetik


Calcium karbonat sintetik atau yang akrab dengan nama PCC (Precipitated
calcium carbonate) dapat juga dipakai sebagai ekstender. PCC diproduksi dengan cara
melewatkan karbondioxida melalui suspensi batuan lime dalam air. Hasilnya PCC
mempunyai grade -grade ukuran partikel lebih bervariasi daripada calcite yang hanya
digiling secara mekanis. PCC digunakan terutama untuk tinta yang memerlukan ukuran
partikel yang sangat kecil.

3.1.2 China Clay (Kaolin Clay)


Kaolin merupakan grup dari hydrous aluminium silicate. Formula kimia dari
kaolin adalah Al2O3.2SiO2.2H2O. Air tidak hadir dalam bentuk kelembaban bebas namun
sebagai grup hidoksil pada struktur clay.
Kaolin mempunyai kemampuan dispersi yang sangat baik pada sistem cat basis
air. Kaolin juga mempunyai kemampuan untuk menjaga kestabilan suspensi. Dan bentuk
partikelnya yang “plate like” memudahkan aplikasi terutama kuas dan juga membantu
cat untuk menjadi opaque (butek / tidak transparan). Kekurangan dari kaolin yang utama
adalah buruknya ketahanan terhadap cuaca sehingga membuat cat berkapur (chalking).
Terlalu banyak clay pada cat juga memperburuk levelling.

3.1.3 Talc
Talc merupakan grup dari hydrous magnesium silicate. Formula kimia dari talc
adalah 3MgO3.4SiO2.H2O. Talc mempunyai beberapa keuntungan jika dilibatkan dalam
formulasi cat terutama memberikan suspensi yang stabil, brushability, flow dan mudah
didispersikan. Struktur partikelnya membuat talc dapat memberikan cat fitur tahan air dan
tahan kelembaban (moisture resistance) sehingga baik untuk cat eksterior dan cat primer
pada besi. Grade terbaiknya yang mempunyai ukuran partikel sangat kecil dinamakan
micronized talc atau microtalc.

3.1.4 Barium Sulphate (Barytes)


Barium sulfate pada dunia cat terdapat dua macam, yang paling banyak dipakai
adalah yang berbentuk alami / baryte alami. Yang kedua adalah dalam bentuk sintetik,
precipitated yang dikenal dengan nama “Blanc Fixe”. Barytes digunakan dalam cat
mempunyai fitur-fitur seperti rendahnya penyerapan minyak, tahan panas, tingkat
kelarutan yang rendah (terhadap air, minyak dan asam). Baryte juga tipe ekstender yang
paling tebal dengan covering dan daya serap minyak paling rendah dibanding ekstender
lainnya. Barytes pada lapisan film menghasilkan permukaan yang halus, tak berpori, dan
mempunyai gloss yang tinggi.
Grade barytes dengan ukuran partikel yang halus dinamakan micronized barytes
(ukuran 0.5 - 14 mikron) jika diaplikasikan pada cat finishing atau topcoat akan
memberikan hasil akhir tahan kimia, berwarna cerah dan mengkilap, meningkatkan flow,
permukaan yang keras dan stabilnya warna.

3.1.5 Mica
Mica merupakan grup dari aluminium potassium silicate. Sumber utama dari mica
adalah mineral yang dinamakan muscovite. Bentuk partikelnya yang plate like (seperti
plat) membuatnya mempunyai fungsi utama sabagai insulator.
Mica pada cat digunakan untuk meningkatkan ketahanan terhadap bahan kimia
dan durabilitas. Mica membuat cat mempunyai fitur seperti washability, adhesi,
mengurangi chalking, tidak mudah retak dan meningkatkan ketahanan terhadap karat.
Mica juga digunakan sebagai bahan baku untuk membuat pigmen pearlescent dengan
melapisinya dengan carbon atau oksida logam, pigment pearlescent akan dibahas pada
bab selanjutnya.
3.1.6 Asbestos
Asbestos adalah serat magnesium silikat dari beberapa mineral berserat yang
paling banyak digunakan untuk memproduksi asbestos adalah “chrysolite”. Asbestos
digunakan untuk memperkuat (reinforcing) permukaan film cat.

3.1.7 Vermiculate
Vermiculite adalah ekstender bertipe mica yang tersusun dari silikat - silikat
aluminium dan magnesium yang terhidrasi. Pada dunia cat, vermiculite digunakan untuk
fire retardant (penolak api).

3.2 PIGMEN SPESIAL EFEK


3.2.1 Pigmen Fluorescent (organik)
Karakteristik dari pigment fluorescence adalah dapat mengubah sinar ultraviolet
menjadi warna. Hasilnya adalah daya pantul yang tinggi sehingga menciptakan warna
yang menarik. Namun, pigment ini memiliki ketahanan terhadap cahaya yang lemah.
Pigment fluorescent adalah fluorescent dye yang dilarutkan pada matriks plastik
(polymer). Komposisi polymer tergantung pada aplikasi apa yang diinginkan apakah cat,
tinta, atau plastik.

3.2.2 Pigment Phosphorescent


Pigment phosphorescence atau luminescence adalah pigment yang dapat
memancarkan cahaya. Pigment ini berbasis kristal dari calcium strontium sulfide atau
zinc calcium sulfide. Efek luminasi teraktivasi oleh logam yang ada (seperti tembaga,
perak, mangaan dan bismut). Cahaya yang terpancar berhubungan dengan struktur kristal
kuarsanya. Pigment ini contoh aplikasinya adalah pada cat jalan, rompi polisi, dll.

3.2.3 Pigmen metallic


3.2.3.1 Serbuk aluminium
Serbuk aluminium adalah pigment logam yang paling banyak digunakan
pelapisan permukaan. Pigment serbuk aluminium dibuat dengan cara menggiling
aluminium sampai pecah ke ukuran partikel yang diinginkan. Ukuran partikel pigment
aluminium bervariasi sehingga menghasilkan efek estetika yang menarik.

3.2.3.2 Serbuk perunggu (bronze)


Serbuk perunggu memberikan efek tembaga dan efek emas pada lapisan film cat.
Pigmen ini sebenarnya dibuat dari logam kuningan (tembaga -seng), bukan dari logam
perunggu sebenarnya (tembaga - timah). Shade atau bayang kilau warnanya tergantung
dari perbandingan komposisi tembaga dan sengnya.

3.2.3.3 Serbuk seng


Serbuk seng menghasilkan warna biru abu – abu dan kegunaan utamanya adalah
untuk proteksi korosi. Proses pelapisan dengan menggunakan serbuk seng adalah dengan
sistem electrocoating.

3.2.4 Pearlescence Pigmen


Pearlescent pigment adalah pigment berbasis mica namun mempunyai tampilan
seperti pigment metallic. Pigment ini dibuat dengan cara melapisi permukaan partikel
mica dengan titanium dioxide atau iron oxide. Pigment ini dapat dibuat menyerupai
warna perak, emas, perunggu atau tembaga. Perkembangan terakhir pigment ini telah
mempunyai fitur yaitu tahan terhadap cuaca. Pigment jenis ini banyak digunakan pada cat
otomotif dan cat dekoratif (cat poster, kanvas).
BAB IV
POLYMER

4.1 PENDAHULUAN
Binder atau perekat pada cat dapat sebagai bahan alam / natural dan juga bahan
sintetik atau polymer. Polymer sendiri berasal dari kata Yunani poly (banyak) dan meros
(part), artinya banyak bagian. Bahan alam contohnya getah damar, gum arab, minyak
linseed, dll. Sebenarnya bahan alam juga termasuk polymer namun termasuk polymer
alami (natural polymer). Polymer sintetik dibuat dari bahan alam yang dimodifikasi
secara kimia (contohnya resin alkyd) dan juga dapat dibuat seluruhnya sintetik (contoh
resin acrylic). Resin alkyd dibuat dengan proses esterifikasi minyak linseed atau minyak
kastor sehingga hasil akhir binder lebih keras, kuat dan tahan lama.

4.2 POLYMERISASI
Polymer paling tepat didefinisikan sebagai spesies yang mempunyai berat molekul
yang tinggi, yang memiliki unit pengulang atau unit kimia yang sama, terhubung oleh
ikatan kovalen primer. Reaksi polymerisasi paling simpel didefinisikan sebagai :

nM (-M-)n

dimana M melambangkan monomer dan -M- menandakan unit pengulang ikatan kimia.
Contohnya, jika M adalah vinyl acetate, maka dengan reaksi polymerisasi akan terbentuk
poly (vinyl acetate).

Istilah “macromolecule” sering digunakan bersinonim dengan “polymer” untuk


mengkover tidak hanya polymer sintetik tapi juga polymer natural dan modifikasi
kimianya (polymer turunan). Arti kata “resin” banyak digunakan pada dunia cat
menandakan semua tipe binder (perekat) polimerik apapun asalnya meskipun dari getah
pohon.

4.3 COPOLYMER
Polymer yang mengandung hanya satu unit pengulang dinamakan homopolymer
atau polymer reguler. Seiring dengan perkembangan, ditemukan copolymer, yaitu
polymer dengan dua atau lebih unit pengulang sehingga suatu polymer / resin / latex
dapat dibuat sesuai keinginan seperti lebih keras, lebih fleksibel, lebih tahan lama dan
tentu saja biaya produksi yang murah.

4.4 TEKNIK POLYMERISASI


4.4.1 Bulk Polymerization
Polymerisasi bulk dilaksanakan dalam monomer asli. Contohnya adalah
pembuatan Perspex yaitu lembaran plastik untuk lensa optik.

4.4.2 Solution Polymerization


Perbedaan dari polymerisasi bulk dengan polymerisasi solusi adalah pada
polymerisasi solusi terdapat solvent. Polymernya juga larut dalam solvent. Pemindahan
panas dari reaksi polymerisasi solusi lebih mudah dibanding dengan bulk dikarenakan
lebih rendahnya kekentalan polymer.

4.4.3 Dispersion Polymerization


Pada polymerisasi dispersi, monomer dilarutkan dalam solvent (biasanya solvent
organik). Polymer dibangkitkan, namun tidak larut dalam campuran monomer - solvent.
Polymer mengendap dan membentuk partikel latex. Keuntungan dari polymerisasi ini
adalah rendahnya kekentalan pigment sehingga pemindahan panas reaksi lebih mudah.

4.4.4 Suspension Polymerization


Pada polymerisasi suspensi, monomer disuspensikan pada larutan yang tak larut
monomer itu sendiri (air), dalam bentuk droplet (ukuran mikron) dengan menggunakan
surfactant. Keuntungan teknik ini sama dengan polymerisasi dispersi, hanya saja
suspending agent harus dihilangkan setelah proses agar polymernya tidak sensitif
terhadap air. Poly (vinyl chloride) disiapkan dengan teknik ini.

4.4.5 Polymerisasi Emulsi


Adalah teknik yang paling banyak digunakan di dunia cat. Produk akhir yang
dihasilkan adalah latex. Bab polymerisasi emulsi akan dibahas khusus pada bab 6.
BAB V
ACRYLIC POLYMER

5.1 PENDAHULUAN
Pada industri cat dan industri plastik, dikenal kata “Acrylic Resin” atau resin
akrilik. Acrylic resin adalah polymer dan kopolymer dari ester dari methacrylic dan
acrylic acid. Seringkali pada aplikasinya polimer acrylic di ko-polimerisasi dengan
polymer non-akrilik, contohnya styrene, butadiene atau vinyl acetate untuk keperluan
tertentu. Struktur lainnya dapat dilihat sebagai berikut :

CH3 CH3

– CH2 – C – CH2 – C – Poly (methyl methcrylate)

COOCH3 COOCH3 n

H H

– CH2 – C – CH2 – C – Poly (ethyl acrylic)

COOC2H5 COOC2H5 n

5.2 TIPE-TIPE RESIN AKRILIK


Acrylic resin tersedia dalam bentuk homo polymer dan kopolymer dalam bentuk
padat, dalam bentuk solusi / larutan dan dalam bentuk emulsi (latex).
Acrylic solid yang dipakai dalam industri cat adalah thermoplastic (menjadi
lemah dan flow ketika panas), mereka adalah homopolymer dari satu dan ester
methacrylate atau kopolymer dari methacrylate dengan acrylate atau second methacrylate
ester, dengan atau tanpa jumlah yang dikurangi dan monomer fungsional (tabel 5.1).
Secara umum mereka sudah siap dilarutkan dengan beberapa atau campuran solvent,
kelarutannya tergantung pada ukuran partikel dan berat molekul.
Bentuk solusi dari resin acrylic didapat dari reaksi polimerisasi solusi. Film
terbentuk dari monomer – monomer yang dalam bentuk natural / aslinya adalah berupa
thermoplastic, jika dalam komposisi resin terdapat cukup dan monomer – monomer
fungsional yang pas, dapat dimodifikasi dengan mengcrosslink sehingga menjadi
thermoset (menjadi keras jika kena panas dan tidak dapat dilunakkan kembali).

Tabel 5.1
Monomer – monomer akrilik

Basic Monomers Functional Monomers

Methyl methaacrylate Methacrylic acid


Ethyl methacrylate Acrylic acid
n-Butyl methacrylate Acrylamide
Isobutyl methacrylate 2-Hydroxyethyl methacrylate
Lauryl methacrylate 2-Hydroxypropyl methacrylate
Stearyl methacrylate Glycidyl methacrylate
Methyl acrylate Dimethylaminoethyl methacrylate
Ethyl acrylate tert-Buthylaminoethyl methacrylate
n-Butyl acrylate Ethylene dimethacrylate
2-Ethylhexyl acrylate Trimethylolpropane trimethacrylate
Cyclohexyl methacrylate Butylene dimethacrylate
2-Ethylhexyl methacrylate Diethylaminoethyl acrylate

Pada tipe emulsi, ada 2 macam tipe tersedia. Tipe thermoplastic emulsi resin yang
digunakan pada cat latex adalah copolymer dari methyl methacrylate dengan beberapa
tambahan dari ester acrylate (kadang – kadang monomer non akrilit) untuk menurunkan
suhu film forming. Sedikit jumlah monomer – monomer fungsional juga dipakai untuk
memproduksi co-polymer ini untuk meningkatkan daya rekat pigment, stabilitas emulsi
dan property lain dari latex dan polymer.

Acrylic latex juga tersedia dengan grup fungsional yang final filmnya dapat di
cross-link. Hal ini dapat dicapai dengan menambahkan crosslink reagent yang cocok
yang kemudian bereaksi dengan grup fungsional dari polymer ketika film dibakar dan
kering. Hal ini mentransformasinya menjadi polymer thermoset sehingga menjadi tahan
terhadap solvent dan bahan kimia, lebih tangguh, dan secara signifikan meningkatkan
kekerasan pada temperatur tinggi.
BAB VI
POLYMERISASI EMULSI

6.1 PENDAHULUAN
Dewasa ini cat kebanyakan didominasi oleh sistem water - based (basis air).
Sistem tersebut memberikan kemudahan aplikasi, cepat kering, tidak / sedikit berbau dan
mudah dibersihkan (jika belum kering). Sistem ini juga ramah lingkungan, rendah VOC.
Kepopuleran pelapisan permukaan berbasis air membutuhkan para kimiawan untuk
memahami proses – proses yang terlibat dalam pembentukan polimer latex.
Arti kata emulsi adalah campuran dari dua cairan yang tak larut satu sama lain.
Larutan pertama sebagai fase terdispersi sisanya sebagai droplet - droplet diskret yang
terdispersi melalui lainnnya, fase continuous. Dalam kasus polimerisasi emulsi fase
continuous terdiri dari air oleh sebab itu dinamakan fase aqueous. Bagaimanapun sebuah
polimerisasi emulsi sebenarnya adalah sebaran / dispersi padatan, atau semipadat, partikel
polimer dalam fase aqueous yang kontinyu, oleh karena itu faktanya dinamakan suspensi
koloid.
Partikel polimerik dengan initiator yang ditambahkan pada sistem dan
diemulsifikasi dengan surfactant dalam air. Produk akhir dari polimerisasi emulsi ini yang
kemudian dinamakan atau dikenal sebagai latex.

6.2 BAHAN BAKU POLYMERISASI EMULSI


6.2.1 AIR
Air digunakan sebagai media dispersi pada sistem polimerisasi emulsi. Phase
aqueous menyediakan peredam panas yang baik pada reaksi eksotermal polimerisasi, dan
juga memberikan produk kekentalan rendah dalam konversi yang tinggi dari monomer ke
polimer. Air berlaku sebagai solvent untuk surfactant dan initiator.
Phase aqueous mendukung / mensupport reaksi awal dalam pembentukan
polimerisasi emulsi. Air suling sangat dibutuhkan pada sistem ini karena ion – ion logam
polyvalent dapat mengurangi keefektifan surfactant atau juga menghambat proses
inisiasi.
6.2.2 MONOMER
Polimerisasi emulsi adalah contoh dari sebuah mekanisme radikal bebas. Agar
suatu polimerisasi dapat terjadi monomer – monomer memerlukan derajat dari non
saturasi. Ada beberapa struktur monomer yang memungkinkan. Struktur yang paling
umum adalah dari bentuk CH2=CX1X2 dimana X1 dan X2 adalah beberapa variasi
substituen. Spesies tersebut dinamakan vinyl monomer, contohnya :

Vinyl acetate CH2 = CH – O – C – CH3

Vinyl chloride CH2 = CHCl

Styrene CH2 = CH – C6H5

Methyl methacrylate CH2 = C – C – OCH3

CH3 O

6.2.3 SURFACTANT
Pembentukan sistem yang stabil dari emulsi polimerisasi dalam air akan sangat
sulit tanpa kehadiran surface active agent. Dengan pengadukan putaran tinggi (highspeed
dispertion) dapat membentuk suatu emulsi, namun tidak stabil. Perbedaan tegangan
permukaan yang sangat antara cairan (monomer dan air) menjelaskan bahwa emulsi
tersebut mempunyai energi bebas yang sangat tinggi dibanding dengan fase separasi.
Dengan tambahan sabun atau surface active agent (surfactant), dapat menurunkan
tegangan permukaan dan kemudian membentuk emulsi yang lebih stabil. Lebih jauh lagi
penggunaan surfactant menstabilkan pertumbuhan partikel polimer latex dan hasil akhir
latex.

6.2.4 INITIATOR
Sistem initiator pada polimerisasi emulsi harus dapat membangkitkan suatu
radikal bebas untuk memulai proses polimerisasi. Initiator biasanya larut air, meskipun
tipe larut monomer dapat digunakan untuk keperluan tertentu. Ada beberapa tipe initiator
yang mengurai keduanya melalui mekanisme termal dan atau mekanisme redox. Tipe
yang paling umum adalah mereka yang mempunyai lingkaran peroxy contohnya
hydrogen peroxide atau potassium persulfate. Rekomposisi thermal dari initiator –
initiator ini dapat dipresentasikan sebagai berikut :

HO – OH Δ
2HO•

- O3SO – OSO3 Δ
2SO4•_

menghasilkan radikal bebas hidroxil dan ion sulfat secara respective. Konsentrasi radikal
bebas fase aqueous menurunkan peranan penting pada property pada hasil akhir latex.
Laju pembangkitan radikal bebas dapat dipengaruhi oleh temperatur, reducing agent dan
initiator kationik.
BAB VII
EFEK KOMPOSISI MONOMER TERHADAP LATEX

7.1 PENDAHULUAN
Latex sintetis banyak digunakan saat ini. Yang paling umum adalah latex berbasis
ester akrilat, kombinasi styrene - ester akrilat atau vinyl acetate diplastisasi external atau
dikombinasi dengan co-monomer yang mempunyai efek flexibilisasi. Tipe – tipe dan
komposisi jumlah monomer yang dipakai sangat mempengaruhi fitur dari hasil akhir.
Blok penyusun monomer yang dipakai pada polimerisasi emulsi ditunjukkan pada
tabel 7.1. Tabel ini mencatat beberapa fitur penting, utamanya glass transition
temperature (Tg) dari homopolymer yang membuat monomer diklasifikasikan ke dalam 2
blok yaitu blok hardening (pengeras) dan blok flexibilizingnya (pelunak / pemflexibel).

7.2 MONOMER
Monomer komersial yang utama dipakai pada polymerisasi emulsi ditunjukkan
pada table 7.2 yang membagi monomer menurut tipe kimianya dan men-sub bagi lagi ke
grup hardening, flexibilitasnya dan efek special. Tabel 7.3 membagi monomer dan fitur –
fitur utama menurut monomer itu sendiri dalam polymer.

7.3 Efek dan komposisi monomer pada fitur dan peformanya


Komposisi polimer dan fase air memerankan peranan penting dalam mengontrol
stabilitas penyimpanan, fitur aplikasi dan peforma penggunan akhir dari emulsi. Ketika
fase air memerankan peranan penting dalam menentukan fitur aplikasi, komposisi
polymer menentukan performansi hasil akhir seperti ketahanan terhadap solvent (solvent
resistance), adhesion (daya rekat), tensile strength, flexibilitas, kekerasan dan ketahanan.

7.4 Hardening monomer


Vinyl acetate
Vinyl versetate 9 (veova 9)
Vinyl chloride
Methyl methacrylate
Styrene

7.5 Flexibilizing monomer


Ester asam akrilat
Ester asam maleat atau asam fumarat
Ester vinyl
Ethylene
Butadiene

7.6 Monomer special efek


Beberapa dari special efek didapat dengan menggunakan monomer – monomer
spesifik seperti dicatumkan pada gambar 19.3. Monomer – monomer ini dipakai dengan
konsentrasi kurang lebih 10 % dari saat polymer untuk mendapatkan fitur spesifik
tertentu.
Tabel 7.1
Monomer-monomer penyusun latex
Tabel 7.2
Monomer-monomer penyusun latex
1 Tabel 7.3
Monomer-monomer yang dipakai pada latex
BAB VIII
ADITIF DISPERSING DAN WETTING AGENT

8.1 PENDAHULUAN
Distribusi secara merata dari partikel - partikel pigment pada solusi resin / latex
adalah tahapan yang paling penting pada cat warna (gambar 8.1). Proses dapat dibagi
menjadi tiga tahapan utama : wetting, grinding dan stabilizing.
Pertama - tama, pigment yang menggumpal (agglomerated) harus dibasahi dulu
oleh solusi resin. Pada proses ini kelembaban dan udara yang ada pada permukaan
pigment dan jarak antara gumpalan pigment diganti dengan solusi resin. Proses ini dapat
dipercepat dengan menambahkan wetting agent yang menurunkan tegangan permukaan
antara partikel pigment dan solusi pigment. Wetting agent mempunyai struktur polar -
non polar yang ada pada surfactant yang dapat merupakan ionik atau nonionik.

Gambar 8.1
Sebaran dan gumpalan

Pada tahap grinding (penggilingan) diperlukan peralatan mekanis untuk memecah


partikel yang menggumpal menjadi partikel yang kecil. Setelah pigment selesai
didispersikan campuran ini harus distabilkan agar pigmen tidak kembali menggumpal.
Pada tahap stabilisasi ini diperlukan aditif yang dinamakan dispersing agent. Aditif ini
terserap pada permukaan partikel pigmen dan menjaga partikel tetap memisah dengan
gaya tolak menolak elektrostatik atau rintangan steric (stabilisasi entropi).
Pada resin / latex itu sendiri dapat mengandung aditif wetting dan dispersing,
namun bukan ditujukan untuk keperluan partikel pigmen. Latex dibuat dengan tujuan
mempunyai fitur mekanis seperti kestabilan terhadap cuaca, sinar matahari dan lainnya.
Pada sistem basis air mekanisme stabilisasi dari aditif dispersing berdasar pada
gaya tolak menolak elektrostatik. Aditif dispersing dapat dikarakteristikkan secara kimia
sebagai polyelektrolit, ketika dispersing agent terserap di permukaan partikel pigment,
dispersing agent mentransfer daya listriknya ke pigment dan hasilnya semua partikel
pigment mempunyai kutub listrik yang sama dan kecenderungan untuk mengumpul
kembali kecil karena gaya tolak menolak elektrostatik. Pada sistem cat basis air keduanya
adalah sangat penting. Wetting agent bertugas menurunkan tegangan permukaan antara
pigmen dan solusi resin. Dispersing agent menstabilkan pigmen dangan gaya tolak
menolak elektrostatiknya.

8.2 SURFACTANT
Surfactant adalah suatu bahan yang dapat mempengaruhi atau merubah tegangan
permukaan dari suatu cairan atau padatan dalam hubungannya dengan cairan, padatan
lain dan gas. Surfactant secara umum tersusun atas sebuah molekul dimana salah satu
ujungnya hidrofili dan salah satu ujungnya hidrofob / hidrofili. Garam sodium dan asam
lemak (sabun biasa) adalah salah satu contoh dari surfactant.
O

CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-C-ONa

Lipofilia Hidrofilia

Ketika sebuah sabun dilarutkan ke air, dia mereduksi tegangan permukaan


(maksudnya adalah menurunkan tegangan antar muka antara air dan udara) sehingga
dapat membasahi suatu padatan, mencampur bahan yang tak larut dalam air seperti
minyak dan menghasilkan busa.
Surfactant adalah sebuah bahan dimana satu bagian dari tiap molekulnya adalah
hidrofili (suka air) dan bagian satunya adalah lipofili (suka minyak). Bagian hidrofilia
dari suatu molekul dapat sebagai karboksilat, sulfat, sulfonat, alkohol atau eter alcohol.
Bagian lipofil dapat sebagai rantai hidrokarbon panjang dalam suatu asam lemak, rantai
lurus, rantai cabang atau rantai siklik hidrokarbon dari minyak bumi, atau hidrokarbon
aromatic yang mempunyai rantai alkyl disamping.

8.2.1 TIPE-TIPE SURFACTANT


Surfactant dapat diklasifikasikan sebagai anionik, kationik, amfoterik dan nonionik.

 Anionik
Surfactant anionik membawa ion negatif dan bermigrasi ke anoda atau kutub positif,
ketika dalam suatu campuran. Ini adalah surfactant tertua dan paling kuat.

O
M+
R-C–O–
Sabun

R - O - C – O -- M+

Alkil Sulfat

R - O - O -- M+

Alkil Sulfonat

 Kationik
Surfaktant kationik adalah kawan / kebalikan dari anionik. Aktivitas permukaan
tergantung dari keberadaan kation rantai panjang larut minyak. Surfactant kationik
dipakai sedikit sekali pada cat latex karena dapat menetralisir sharge dari surfactant
anionik yang mungkin ada dalam cat latex dan menyebabkan rusaknya emulsi. Surfaktant
ini baik dipakai untuk emulsifikasi aspal. Berikut adalah struktur surfactant kationik :

R – N+ - A2 M+

A3

R melambangkan grup hidrofobik seperti alifatik atau aromatik rantai panjang. X


melambangkan ion negatif seperti Cl, Br, I atau lainnya. Dan A 1, A2, dan A3
melambangkan hydrogen alkyl, aryl atau grup heterosiklik.

 Amfoter
Surfaktant ini mengandung kedua - duanya yaitu negatif dan positif charge. Charge
dapat menetralisir satu sama lain, sehingga pada pH tertentu surfactant ini berperilaku
seperti non ionik. Surfaktant ini biasanya menjadi surfactant kationik jika berada dalam
suasana asam dan menjadi anionik jika berada dalam suasana basa.

 Nonionik
Surfaktan ini bergantung dari grup hidroxilnya dan grup ethernya untuk menciptakan
aksi hidrofilinya

RC – O – (CH2)n (CH)n

RC – O – (C2H4O)n C2H4OH
BAB IX
ADITIF RHEOLOGY

9.1 PENDAHULUAN
Rheology adalah perilaku mekanis suatu material berdasarkan mikro struktur atau
nano struktur suatu material. Aplikasi dari cat latex bergantung dari aditif rheologi dan
modifer untuk meningkatkan kemiripan dengan cat basis minyak. Kegunaan utamanya
adalah untuk mengatur kekentalan penyimpanan, kekentalan pada saat aplikasi, anti
pengendapan, dan flow levelling-nya. Sering dipakai adalah salah satu atau kombinasi
dua atau lebih dari cellulosic, polyacrylate, clay dan thickener (pengental) lainnya, yang
dipakai untuk menyesuaikan spesifikasi yang diinginkan.
Jenis – jenis rheological Additive :
1. Cellulosic
2. Cellulosic associative
3. Alkali swellable acrylic
4. Polyeter polyurethane

9.2 SELULOSIK
Cellulose terjadi di alam dalam bentuk kristal. Secara kimia tersusun oleh unit – unit
D-anhydroglukose terhubung ke rantai polimer. Cellulose memiliki daya ikat hidrogen
yang tinggi sehingga membuatnya menjadi tak larut air. Yang paling alami ditemukan di
alam ini adalah kapas.
Struktur kristal dari cellulose dapat dirusak secara kimia dengan modifikasi kimia
sehingga membuatnya menjadi larut air. Tipe modifikasinya tergantung dari daya
kelarutan dan aplikasi yang akan digunakan. Modifikasi yang paling banyak adalah
esterifikasi dan menghasilkan eter – selulosa sebagai berikut :
a. Sodium carboxymethyl cellulose (dikenal di pasaran dengan nama CMC)
b. Sodium carboxymethyl 2 hydroxyethyl cellulose
c. Methyl cellulose
d. 2 hydroxyprpyl methyl cellulose (HPMC)
e. 2 hydroxyethyl methyl cellulose (HEMC)
Cellulose dapat rusak oleh serangan enzim cellulose yang diproduksi / berasal dari
jamur dan bakteri. Fenomena ini dijadikan sebagai dasar pengembangan untuk grade
cellulose yang enzim resistance atau tahan enzim yaitu hydroxyethyl dan
ethylhydroxyethyl cellulose yang banyak dipakai pada cat latex saat ini.
Proses pengentalannya adalah melalui hidrasi dalam air untuk membentuk larutan
kental melalui rintangan makro molekul. Hydroxyethyl cellulose adalah yang paling
banyak digunakan namun HEC bukanlah pengental asosiative dan memberikan rheology
dengan mengentalkan fase cair pada cat. HEC hanya mempunyai sedikit interaksi dengan
bahan cat lainnya.
Pengental selulose walaupun secara virtual tidak dengan cat namun ada beberapa
kendala diantaranya jika cat diaduk maka kekentalannya akan turun namun jika dibiarkan
akan cepat sekali mengental kembali dan kembali ke bentuk aslinya yaitu sangat kental
atau semi gel. Karena laju recovery sangat cepat maka cat yang mengandung selulosik
mempunyai flow dan leveling yang buruk.

9.3 SELULOSIK ASOSIATIF


Associative cellulosic thickener dikembangkan untuk mengatur masalah pada non-
associative. Dengan menggunakan cellulose larut air yang berat molekulnya rendah
seperti HEC atau ethyl HEC dan memodifikasi ujung hydroxyl pada grup pengganti
untuk membuatnya hydrophobic, associative cellulose thickener diproduksi.
Bagian hidrofobik akan berasosiasi dalam larutan, membentuk jaringan tiga dimensi
yang menyediakan karakter rheological yang unik pda formula cat.
Karena mempunyai bagian hidrofobik, associative celullosice polymer berinteraksi
dengan bahan hidrofobik lain dalam cat seperti dispersant dan surfactant, sehingga
mempengaruhi warna dan stabilitas dalam kaleng.

9.4 ALKALI SWELLABLE ACRYLIC (ASA)


ASA adalah termasuk pengental asosiatif. Pengental ASA berbasis polyacrylate,
ketika dinetralisasi dengan ammonia, ASA akan menjadi kental. ASA menambah kualitas
film cat. ASA lebih baik dari thickener berbasis celullosice dalam flow dan levellingnya.
ASA secara umum lebih murah dari thickener cellulosic based namun pemakaiannya
terbatas dalam cat latex karena ASA berfungsi pada range pH 8 sampai pH 10.

9.5 POLYETHER POLYURETHANE


Polyether polyurethane adalah termasuk pengental asosiatif. Thickener polyether
polyurethane adalah inovasi yang paling baru pada aditif rheology dari cat berbasis air.
Produk ini memperbaiki kekurangan – kekurangan aditif rheologi sebelumnya yaitu
mempunyai flow dan leveling yang sangat baik dan bentukan film yang baik.
Kekentalan yang dibangun dari sistem ini lebih encer dari cellulosice dan Alkali
swellable acrylic (ASA). Polyether polyurethane adalah nonionic dan tidak memerlukan
control pH. Perilaku pengentalannya diperoleh melalui asosiasi dengan pigmen, binder
dan surfactant pada sistem.
BAB X
ADITIF PENGAWET

10.1 PENDAHULUAN
Bahan pengawet yang sering disebut dengan biocides dibedakan menjadi 2 kategori
pertama adalah pengawet yang melindungi cat saat basah (di dalam kaleng) dan yang
kedua adalah pelindung cat / pengawet cat setelah cat kering (lapisan film cat). Film
biocide yang dapat berupa fungisida (anti jamur) dan algaesida (anti algae).

10.2 Perlindungan saat kondisi basah (Wet State)


Banyak macam nonorganisme gas dapat menyebabkan rusaknya cat dalam kaleng,
namun yang paling sering terjadi adalah disebabkan oleh bakteri. Bakteri dapat
menimbulkan bau tak sedap, perubahan warna, turunnya kekentalan (disebabkan
rusaknya aditif pengental karena bakteri) dan kadang timbul gas. Bakteri rusak melalui
banyak cara diantaranya material cat, peralatan, kemasan dan air yang tidak steril.
Untuk mengatasinya diperlukan aditif yang dinamakan in-can biocide, biocide ini
adalah campuran dari kimia organiK complex yang memberikan perlindungan dari segala
jenis bakteri.

10.3 Perlindungan film cat (Dry State)


Ketika lapisan cat telah mengering di udara terbuka, maka akan banyak ditempati
spora – spora dari jamur atau algae. Jika mereka mendapat nutrisi di lapisan itu melalui
kotoran yang menempel di permukaan cat ditambah kelembaban udara yang cukup untuk
tumbuh mereka akan mulai membentuk koloni. Algae juga memerlukan sinar matahari
untuk tumbuh, oleh karenanya algae sering ditemukan pada cat exterior. Ketika mula
tumbuh maka permukaan film mulai rusak dan kehilangan fungsi proteksinya. Untuk
mencegah ini fungisida dan algaesida ditambahkan pada formula cat.
Bahan kimia yang dipakai adalah campuran organometallic khususnya tin (timah)
kompleks, untuk memilih bahan mana yang dipakai tidak hanya bergantung pada
kemampuan biosidanya, namun juga kelarutannya dan stabilitas dalam kaleng.

Tabel 10.1
Mikroorganisme yang kerap muncul pada film cat

10.4 Bahan kimia untuk perlindungan wet state


a. Garam phenyl mercury
Merkurasi langsung dari benzene dengan mercure acetate dalam benzene acetate
acid pada suhu 80 o C menghasilkan phenyl mercuric acetate.

C6H6 + Hg(CH3COO)2 C6H5HgOOCCH3 + CH3COOH

Untuk pengawetan, hasil memuaskan diperoleh dengan menambahkannya tiap 2 –


12 ons tiap 100 gallon cat dan dari total formula.

b. Campuran sulfur
Campuran pengawet paling efektif nonmerkuri adalah 3,5-dimethyl – 1,3,5,2
H-tetrahydrothiadiazine-2-thione yang merupakan produk kondensasi dari methyl-
amine, formaldehyde dan carbondisulfide. Untuk hasil maksimal dapat ditambahkan 1
pound tiap 100 galon cat dari total formulasi.
Campuran dari turunan carbondisulfide lain contohnya sodium dan zine dimethyl
dithiocarbonates dan tetramethylthiuram disulfide ditawarkan sebagai pengawet untuk
pengental berbasis protein dan cat berbasis tepung nabati. Bahan ini dipakai dengan
konsentrasi 5-10 pound tiap 100 gallon.
Campuran alkylthio terklorinasi yaitu N-trichloro methylmercupto 4-cyclohexane
-1-2,-dicarboximide dan N-trichloromethylthio phtalimide juga dapat dipakai dengan
konsentrasi 2.5 – 5 pound per 100 gallon.
Bahan – bahan diatas tidak beracun seperti bukan pengawet berbasis merkuri
namun harganya yang mahal. Juga adanya kemungkinan membentuknya logam
sulfide berwarna karena mengandung campuran sulfur.

c. Phenol
Phenol terhalogenasi khususnya yang mengandung tiga sampai lima substituen
klorin tiap mol fenol adalah pengawet yang paling banyak digunakan dalam industri
cat. Ini juga termasuk cresol, xylenol, dan phenylphenol terkhlorinasi. Namun
penggunaannya juga dibatasi karena menimbulkan bau yang menyengat dan dapat
menjadikan cat putih berwarna kemerah - merahan jika ini terkena cahaya dan udara.
Dan membentuk ion logam kompleks yang berwarna. Konsentrasi yang dipakai yaitu
5 – 10 pound per 100 gallon cat.
Kondesat phenol-formaldehyd terhalogenasi, 2,2’-methylenesis (4-chlorophenol)
dan 2,2’-methylenebis (2,4,5-trichlorophenol). Mempunyai bau yang tak terlalu
menyengat dengan kemampuan antibakteri sama dengan fenol terklorinasi. 3,4’,5-
tribromocalicylanilide juga lebih tidak beracun dan juga tak kalah efisien.

d. Campuran lain
Produk terbaru saat ini adalah garam kwartener dari 1,3-dichloropropane dengan
hexamethylenetetranone yang bernama : 1-(3-chloroallyl)-3,5,7-triaza-1-azoniaada
mantune chloride dengan konsentrasi 1-2 pound per 100 gallon. Cara kerjanya adalah
pelepasan formaldehyde, zat ini independent terhadap pH.
Kondensat formaldehyde lainnya 2,6-sis (dimethyl-aminoethyl) cyclohexanone
dengan konsentrasi 1½ pound per 100 galon 2,4-Dimethyl-6acetoxy-1,3dioxane pada
konsentrasi ½ - 1 pound per 100 galon.
Barium metaborate dapat befungsi ganda yaitu sebagai pengawet dalam kaleng
dan dapat berfungsi juga sebagai penahan korosi (anti karat) kaleng. Banyak
digunakan pada cat kertas akrilik dengan konsentrasi 10 - 20 pound tiap 100 galon.
10.5 Bahan kimia untuk perlindungan dry state
1. Organo-tin compound
Bis (tri-n-butylin) oxide dengan konsentrasi 5 pound per 100 galon untuk cat
berbasis PVAc dan 1-3 pound per gallon untuk cat berbasis akrilik.
2. N_trichloromercupto-4-cyclohexane-1,2-dicarboximade 5-15 pound per gallon
3. Copper 8-quinolinoleate, 10-50 pound per gallon
4. Barium metaborate , 100-250 pound per 100 gallon
BAB XI
ADITIF PEMBENTUK FILM

11.1 PENDAHULUAN
Secara umum yang dinamakan pelapisan permukaan (surface coating) adalah
polimer film yang mengering dalam fungsi dekorasi atau proteksi pada suatu permukaan.
Konsep kering (dry) tergantung pada sistem apa yang dipakai, untuk larutan polymer hal
ini bergantung pada penguapan solvent, untuk polymer latex ini bergantung pada
menguapnya air.

11.2 Mekanisme Pembentukan film pada latex polymer


Proses awal pembentukan film pada latex adalah hilangnya kandungan air. Dalam
hal ini hilangnya air dapat disebabkan oleh penyerapan substrat dan evaporasi /
penguapan. Polymer latex berbeda dengan polymer larutan (solvent based), polimer latex
tersusun atas partikel-partikel diskret, spheric, dan mempunyai berat molekul yang tinggi.
Untuk menghasilkan lapisan film partikel - partikel tersebut saling menyatu dengan
lainnya, fenomena ini dinamakan dengan coalesence.
Ada beberapa faktor yang mempunyai pembentukan film pada polimer latex. Ini
tergantung dari komposisi polimer, komposisi substrat, karakter fisik seperti ukuran
partikel dan kualitas disperse dan juga lingkungan seperti temperatur dan kelembaban.

11.3 Glass transition temperature (Tg) dan minimum film form temperature
(MFFT)
MFFT adalah temperature minimal dimana latex dapat membentuk lapisan film.
MFFT berhubungan erat dengan glass transition temperature (Tg) dan komposisi polymer
dari suatu emulsi. Walaupun begitu 2 temperatur tersebut tidaklah sama. Secara
termodinamik Tg didefinisikan sebagai masa transisi kedua dari polymer. Adalah
temperatur yang menunjukkan onset dan tingkatan seakan molekul dari polymer. Pada
temperature dibawah Tg, rantai polymer dapat dianggap tak bergerak kecuali getaran
lokal, perputaran dan gerakan ujung rantai. Oleh karena itu dibawah Tg sangat sulit
bagian rantai polymer untuk menyatu (coalesce). Pada temperatur diatas Tg, baru terdapat
gerakan – gerakan rantai polymer yang memungkinkan bagian polymer untuk coalesce.
MFFT cenderung berada di beberapa derajat dibawah Tg polymer murni, karena
keanekaragaman alam dari polymer emulsi. MFFT dipengaruhi oleh plastifikasi oleh air,
solvent pendukung (co-solvent), tegangan permukaan, tekanan polymer, kemurnian air,
fase polymer seperti surfactant, antifoam dan penjaga koloid.
Untuk aplikasi di suhu rendah, kebanyakan polymer latex diformulasikan untuk
mempunyai MFFT antara -5o C dan 20o C. Pilihan dari campuran monomer saat
polimerisasi emulsi dapat dibuat untuk mendapat Tg dan MFFT yang diinginkan.
Sebagai contoh poly (methylmetharcrylate) latex tidak akan membentuk lapisan
film koheren pada suhu 25o C jika mempunyai Tg 105o. Poly (butyl acrylate) latex,
dengan Tg -54o C, akan membentuk lapisan yang sangat lengket pada 25o C. Namun
dengan meng-copolymer kedua monomer diatas dapat menyediakan latex copolymer
dengan Tg berapapun diantara itu (-54o C s/d 105o C). Hal sama terjadi juga pada MFFT.

11.4 Efek solvent pada lapisan film


Komposisi polymer adalah hal utama dalam menentukan atau mendapatkan
MFFT, namun penambahan satuan organik dapat memberikan efek pada MFFT.
Ada beberapa istilah untuk menggambarkan tipe - tipe solvent yang
mempengaruhi pembentukan film yaitu :
1. Plasticizer
2. Coalescing agent
3. Co-solvent
4. Wet edge agent
Esensi dari coalescence adalah gerakan polymer saat menguapnya air. Plastilizer
adalah bahan kimia yang menyerap ke dalam partikel polymer, yang menurunkan
kekentalan internal partikel dan mensupport coalescence. Plastilizer menyebabkan
polymer menjadi lebih lunak dan elastis.
Coalescing agent cenderung untuk menekan permukaan polymer partikel untuk
membantu memulai penyatuan polymer (coalesce).
Co-solvent dapat dipakai untuk ber-azeotrop dengan air untuk meningkatkan laju
evaporasi air dan tekanan kapiler (contohnya ketika temperatur mendekati MFFT).
Sebelumnya wet-edge agent contohnya propylene glycol, cenderung untuk menekan laju
evaporasi air untuk menjaga pembentukan kulit (skinning) pada kaleng saat kaleng
terbuka.

Tabel 11.1
Pengaruh beberapa solvent da n plasticizer pada MFFT.

BAB XII
ADITIF BUFFER

pH adalah logaritma dari resiprosal dari konsentrasi ion hidrogen atau aktifitas ion
hidrogen. Hal ini berlaku hanya untuk sistem cairan dan mempunyai skala antara 0
(sangat asam) sampai 14 (sangat basa) dengan titik netral 7.
pH dari cat basis air berpengaruh property fisik dan peforma dari sistem. Buffer
adalah bahan yang digunakan untuk menjaga level pH pada cat. Tiap sistem latex stabil
pada range yang spesifik. Surfactant, terutama anionik mempunyai level pH tertentu
dimana mereka sangat efektif. Rheology modifier seperti cmc, casein dan polyacrylate
dan acrylate hanya larut dalam suasana basa dan menajadi tak larut pada suasana asam
(pH↓). pH tinggi akan menghidrolisis material – material tertentu seperti protein.
Menjaga level pH tetap tinggi dalam kemasan dapat menjaga bakteri agar tidak
tumbuh. Penggunaan zat alkali permanent seperti sodium hydroxide dan garam lain harus
dihindari selama material larut air tertinggal pada lapisan film. Jika memungkinkan, zat
alkali cair seperti amoniak dapat digunakan untuk menyetel pH pada cat.

BAB XIII
ADITIF ANTIFOAM

13.1 PENDAHULUAN
Foam (busa) menimbulkan banyak masalah pada sistem cat. Pada saat cat diproduksi
busa yang timbul menyebabkan tangki tidak dapat diisi penuh, foam juga dapat
memperlambat proses pengisian bahan baku ke tangki. Pada saat film mengering, jika
terdapat foam, permukaan cat akan rusak dengan munculnya bubble (gelembung) dan
hole (lubang). Beberapa efek foam dapat dilihat pada gambar 13.1.

gambar 13.1
(a)Mikrofoam (b)Bubble (cde)Lubang

13.2 ASAL FOAM


Foam cair bisa didefinisikan sebagai dispersi gas (biasanya udara) dalam suatu
liquid (cairan). Karakteristik foam adalah adalah interface (antar muka) yang sangat besar
antara fase gas dan fase cair yang memisahkan gelembung - gelembung gas satu sama
lain. Disebabkan karena energi tegangan permukaan tiap cairan adalah independen
sebagai asal kimianya berusaha tetap menjaga area permukaannya (interface ke gas)
sekecil mungkin. Oleh karena itu, foam selalu lebih tidak stabil daripada fase liquid yang
tanpa foam dan liquid alami tidak mampu untuk membentuk foam yang stabil.
Kondisi dasar untuk terjadinya foam adalah keberadaan surfactant yang
mempunyai bagian hidrofobia dan hidrofilia pada molekulnya. Karena struktur kimianya,
surfactant menempatkan dirinya pada interface cairan dan gas dan menurunkan tegangan
permukaan. Tegangan permukaan yang rendah menyebabkan pembesaran area
permukaan dan memudahkan terbentuknnya gelembung - gelembung busa.

13.3 BAHAN KIMIA ANTIFOAM


Prinsip kerja antifoam adalah ketika antifoam menyebar pada suatu interface,
surfactant yang menghasilkan busa stabil diganti, film stabil elastis dari surfactant diganti
dengan lapisan film tak stabil dari antifoam dengan tegangan permukaan yang lebih
rendah dan gaya kohesi yang lebih kecil.
Bahan penstabil busa untuk sistem basis air ada dua macam, antifoam berbasis
mineral oil dan antifoam berbasis silikon. Pada antifoam berbasis mineral oil, kandungan
mineral oil antara 80-95%. Walaupun pada mineral oil sendiri mempunyai kemampuan
anti foam, mineral oil malah digunakan untuk membawa material antifoam yang lain
(partikel hidrofobik), ke dalam lamella (lapisan tipis) suatu foam. Partikel hidrofobik ini
contohnya adalah stearat-stearat logam, turunan asam lemak, silica hidrofobik atau
campuran polyurea. Partikel-partikel solid ini terakumulasi di permukaan hidrofobik pada
surfactant dari lamella foam, dengan begitu foam ditidakstabilkan, sehingga foam akan
berkurang.
Antifoam basis silikon adalah minyak-minyak silikon yang hidrofobik, seperti
poly (dimethylsiloxane)s, atau polyoxypropylene - modified poly (dimethylsiloxane).
Antifoam basis silikon juga mungkin terdapat partikel hidrofobik seperti silika atau
stearat - stearat logam. Hal ini meningkatkan daya sebar dan aksi antifoamnya. Untuk
mendapat kemudahan pada saat aplikasi antifoam ini tersedia dalam bentuk emulsi.

BAB XIV
MESIN PEMROSES CAT
14.1 PENDAHULUAN
Pada proses dispersi suatu pigment ke dalam carriernya diperlukan suatu alat yang
umumnya pada dunia cat dinamakan mesin penggiling (milling machine). Mesin - mesin
tersebut bisa merupakan pengaduk atau penggesek / penumbuk. Ketika aksi dispersi
adalah pengadukan (shear), gumpalan ditekan diantara dua permukaan yang bergerak
berlawanan arah atau pada arah yang sama namun berbeda kecepatan. Proses ini mirip
seperti membuat coklat, ketika serbuk kakao harus didispersikan ke dalam susu untuk
membuat pasta kental. Proses dispersi terjadi karena gerak aduk antara sendok dan
cangkir. Pada proses penggilingan pada cat konsep coklat tersebut adalah sama, namun
dengan derajat dispersi yang jauh lebih besar.
Ketika proses pigmentasi / pembuatan pigment, ukuran partikel pigment diperkecil
sampai pada ukuran terbaik (sangat kecil) dengan menumbuk pigment pada carrier,
ketika impact (tumbukan) diperlukan maka proses ini dinamakan proses pemecahan
partikel (comminution).
Beberapa tipe dari mesin penggiling digunakan diantaranya highspeed disperser, sand
mill / beadmill dan roller mill.

14.2 HIGSHPEED DISPERSER


Alat ini digunakan untuk pigmen yang mudah didispersi, alat ini terdiri dari
piringan horisontal dengan gigi tajam yang berputar dengan kecepatan tinggi. Kualitas
dispersinya tidak terlalu cocok untuk cat bertipe high gloss (sangat kilap). Alat ini juga
bisa digunakan sebagai pre-disperser sebelum diproses di bead mill atau roll mill.

Gambar 14.1 Pisau untuk highspeed disperser


Gambar 14.2 Highspeed disperser

14.3 BEAD MILL


Pada alat ini rotasi dapat secara horisontal maupun vertikal, media penggilingnya
adalah pasir (sand) atau kelereng / manik - manik (bead). Mesin ini dapat digunakan
untuk sistem continuous

Gambar 14.3 Bead mill

14.4 ROLLER MILL


Alat ini paling banyak digunakan pada industri cat karena kemampuannya
menggiling cat / tinta dengan konsentrasi pigment yang tinggi. Alat ini terdiri dari
beberapa roll besi ditempatkan secara horisontal dan berputar berlawanan arah dengan
jarak antara yang sangat kecil.

Gambar 14.4 Three roll mill

BAB XV
FORMULASI
15.1 Elastomeric Barrier Coating

A. Type latex : All-Acrylic


Warna : PUTIH

Raw Materials Grams


Water ………………………………………………………… 67.00
TRITON Nonionic Surfactant CF-10 ……………………….. 2.10
Tamol 731 dispersant ………………………………………... 4.50
Nopco NXZ defoamer ……………………………………….. 2.00

Pre-mix then add


Water ………………………………………………………… 10.00
Ti-Pure R-900 titanium dioxide ……………………………... 220.00
Atomite calcium carbonate ………………………………….. 110.00

Letdown
Nopco NXZ defoamer ……………………………………….. 4.00
UCAR Filmer IBT …………………………………………... 10.00
Ammonium Hyroxide (28% aqueous solution) ……………... 3.00
UCAR Latex 120 ……………………………………………. 500.00

Pre-mix then add


Water ………………………………………………………… 50.00
Acrysol RM 2020 urethane thickener ……………………….. 4.40
Water ………………………………………………………… 10.20
Ammonium Hydroxide (28% aqueous solution) ……………. 1.00

Total ………………………………………………………… 997.20

Paint Properties
Pigment Volume Concentration (PVC), % …………………... 30
VolumWeight solids, % ……………………………………... 42.03
Solid, % ……………………………………………………… 57.00

B. Type latex : Styrene-Acrylic


Warna: PUTIH
Ingredient Pound Gallon

PIGMENT GRIND :
Deionized Water ……………………………. 103.9 ………….. 12.47
Rhodoline 230 ………………………………. 8.2 …………… 0.77
Potassium Tripolyphosphate (KTPP) ...…..… 2.0 …………… 0.10
Surfynol 104-E ……………………………… 2.5 …………… 0.29
Ethylene Glycol …………………………….. 19.2 …………… 2.05
Nopco NXZ ………………………………… 1.5 …………… 0.20
Ti-Pure R-960 ………………………………. 105.2 …………… 3.26
Eagle Zinc 417-W ………………………….. 41.5 …………… 0.89
Atomite ……………………………………... 154.3 …………… 6.88
Camel Carb …………………………………. 239.2 ………….. 10.63
Skane M8 …………………………………… 1.5 …………… 0.17

LETDOWN :
UCAR Latex 169S ………………………….. 487.8 …………. 55.45
UCAR Filmer IBT ………………………….. 4.1 ………….. 0.57
Nopco NXZ ………………………………… 4.1 ………….. 0.54
Ammonium Hydroxide, 28%
Aqueous Solution ………………………. 1.6 ………….. 0.21
UCAR POLYHOBE
106HE ………………………………….. 8.0 ………….. 0.92
Deionized Water ……………….…………… 38.3 ……….…. 4.60
Total 1222.9 …….….. 100.00
15.2 CAT TEMBOK
A. Type latex : Styrene-Acrylic
Kilau : Flat

Bahan-bahan Parts by weight


Water 130.0
Wetting agent (polyphosphate) 1.5
Dispersant (polycarboxylic acid-sodium salt) 3.0
Preservative 2.0
Defoamer 1.5
Thickener, NATROSOL® 250 HHBR powder or FPS ADX 402 Variable
Titanium dioxide 200.0
Calcium carbonate 140.0
Calcium carbonate 200.0
Talc 25.0
Styrene/acrylic latex ; MFT 0oC 90.0
Water Balance
100.00

Formula constants
NVV, % 36
PVC, % 80
NVW, % 61
Initial Stormer Viscosity, KU 110 ± 2
B. Type latex : PVAc
Kilau : Flat

Dispersion Parts by Weight


Water 21.50
Hydroxyethyl cellulose (100%) 0.17
Propylene glycol 2.14
Dispersant (25%) 0.70
Defoamer 0.10
Titanium dioxide 10.73
Calcium carbonate 17.16
Clay 12.87

Let-down
Ammonia 0.20
Poly(vinyl acetate) latex (55%) 16.30
Coalescent 1.00
Preservative 0.25
Defoamer 0.10
2.5% Hydroxyethyl cellulose 16.78
100.0
C. Type latex : Acrylic
Kilau : gloss

Material name Kg Litres


Water 120.00 120.00
Aqueous ammonia (0.88) 1.20 1.37
Hydroxyethyl cellulose (2.5% soln) 48.00 48.00
Orotan 731 (25.0%) 8.50 7.74
Surfactant (40%) 11.00 10.58
Propylene glycol 27.00 24.30
Defoamer 1.20 1.39
Calcium carbonate 64.00 23.70
Titanium dioxide 300.00 75.00
Acrylic latex 550.00 518.87
Water 118.00 118.00
Defoamer 1.80 2.09
Hydroxyethyl cellulose (2.5% soln) 48.00 48.00
Biocide 1.00 1.01
1299.71 1000.05
D. Type latex : Vinyl versatate
Kilau : gloss

Raw Material Wt %

Rutile titanium dioxide 20.00


Calcium carbonate 7.00
Sodium polyphosphate 1.00
Sodium carboxymethyl cellulose 0.30
Biocide 0.50
Antifoam 0.30
Texanol ester-alcohol 2.00
Vinyl acetate-vinyl
‘Versatate’ latex (55% solids) 42.00
Ammonia (0.880) 0.03
Water 26.87
100.00
References
Alberti, L B, On Painting 1435 (Penguin Classics)
Cellini, B, The Life Of Benvenuto Cellini, finished 1562 but not published until 1730
(Heron)
Cennini, C d'A, The Craftsman's Handbook. 1437 (Dover)
Doerner, M, The Materials Of The Artist And Their Use In Painting, 1921 (Harcourt
Brace)
Eastlake, Sir C L, Materials For A History Of Oil Painting, 1847 (Dover)
Feller, R L, Artists Pigments 1986 (National Gallery Of Art / Cambridge University)
Gettens, R J, and Stout, G L, Painting Materials: A Short Encyclopedia, 1942
(Dover)
Gottsegen, M D, A Manual Of Painting Materials And Techniques, 1987 (Harper &
Row)
Maire, F, Colors: What They Are And What To Expect Of Them, 1910 (Drake)
Mayer, R, The Artists Handbook Of Materials And Techniques, fifth edition 1991
(Faber & Faber)
Merrifield, Mrs. M P, Medieval And Renaissance Treatises On The Arts Of Painting
1849 (Dover)
Muther, R, The History Of Painting From The Fourth Century To The Early Nineteenth
Century, 1907 (Putnam)
Parkhurst, D B, The Painter In Oil 1898 (Lothrop, Lee & Shepard)
Patton, T C, Pigment Handbook, 1973 (Wiley)
Porter, N Webster's Revised Unabridged Dictionary, 1913 (Merriam)
Pliny, The Elder (Gaius Plinius), Natural History, 77 AD (Penguin Classics)
Roy, A Artist's Pigments: A Handbook Of Their History And Characteristics, 1994
(Oxford University Press)
Taubs, F, A Guide To Traditional And Modern Painting Methods, 1963 (Thames &
Hudson)
Theophilus, On Divers Arts, 1125 (Dover)
Various, Encyclopedia Britannica, fifteenth edition 1981 (Encyclopedia Britannica,
Inc)
Various, Paint And Painting, 1982, (Winsor & Newton / The Tate Gallery)
Various, The Artist's Colormen's Story, 1984 (Winsor & Newton)
Vasari, G, The Lives Of The Most Excellent Painters, Sculptors And Architects, 1568
(Penguin Classics)

LAMPIRAN
1. CLEAR SEALANT

2. ELATOMERIC BARRIER COATING


3.LOW COST SEALANT ASTM C 834

4. PIGMENTED CAULK ASTM 920


5. TRANSLUCENT CAULK
DATA SHEET