Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH SISTEM MUSKULOSKELETAL ASKEP ORIF

Disusun Oleh Kelompok 4 : Desi Nabela Eka Yulianti Elisabet Wahyu Ajar Wulan Endah Purnamasari Fahnur Rahman Fitriyani Genesius Sutriajaya Lusia Winanti 201011023 201011027 201011031 201011034 201011037 201011039 201011042 201011055

STIKES ST.ELISABETH SEMARANG 2011/2012

Kata pengantar
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan kasih karunia, sehinga kami dapat menyelesaikan makalah fraktur dengan ORIF. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada : 1. Oang Tua kami yang telah mendukung kami untuk menyelesaikan makalah ini. 2. Sr. Hedwig Parini, OSF.MSN 3. Dosen pengampu M.A. Ermi Tri S.Kep,NS 4. Teman teman sekelas yang telah membantu dalam proses menyelesaikan makalah ini. 5. Bpk. Tikno yang telah menyediakan buku sebagai referensi kami dalam pembuatan makalah fraktur dengan ORIF. 6. Bpk. Agus yang telah menyediakan fasilitas hot spot untuk menanbah referensi untuk melengkapi materi makalah fraktur dengan ORIF.

Terima kasih juga untuk pihak pihak yang sudah membatu kami, yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Akhir kata kami ucapkan terima kasih kepada para pembaca.

Semarang, 25 Juni 2012 Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Insiden kecelakaan merupakan salah satu dari lima masalah kesehatan utama di negara-negara maju, modern dan industri. Kelima masalah kesehatan utama tersebut adalah kecelakaan, penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit degeneratif (DepkesRI,2007) Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah yakni sekitar 46,2% dari insiden kecelekaan yang terjadi. Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang, penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses degeneratif juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur.(Depkes RI, 2007) dan gangguan gangguan jiwa.

2. Tujuan Tujuan Umum - Agar mahasiswa lebih memahami dan paham tentang penyakit Fraktur Femur dengan penatalaksanaan ORIF Tujuan Khusus - Agar mahasiswa mengerti definisi penyakit fraktur - Agar mahasiswa tahu tentang klasifikasi fraktur - Agar mahasiswa mengerti penyebab dari fraktur - Agar mahasiswa mengetahui tanda dan gejala fraktur

BAB II ISI

1. Struktur tulang dan otot Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. ruang di tengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoietic, yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga merupakan tempat primer untuk penyimpanan dan mengatur kalsium dan fosfat. Komponen-komponen non-seluler utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan matriks organic (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu garam Kristal (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Mineral-mineral ini memampatkan kekuatan tulang. Matriks organic tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. Sekitar 70% dari osteoid adalah kolagen tipe I yang kaku dan memberikan daya rentang tinggi pada tulang. Materi organic lain yang juga menyusun tulang berupa proteoglikan seperti asam hialuronat. Hampir semua tulang berongga di tengahnya. Struktur demikian memaksimalkan kekuatan structural tulang dengan bahan yang relatif kecil atau ringan. Kekuatan tambahan diperoleh dari susunan kolagen dan mineral dalam jaringan tulang. Jaringan tulang dapat berbentuk anyaman atau lamellar. Tulang yang berbentuk anyaman terlihat saat pertumbuhan cepat, seperti sewaktu perkembangan janin atau sesudah terjadinya patah tulang, selanjutnya keadaan ini akan diganti oleh tulang yang lebih dewasa yang berbentuk lamelar. Pada orang dewasa, tulang anyaman ditemukan pada insersi ligamentum atau tendon. Tumor sarcoma osteogenik terdiri dari tulang anyaman. Tulang lamellar terdapat di seluruh tubuh orang dewasa. Tulang lamellar tersusun dari lempengan-lempengan mineral yang sangat padat dan bukan merupakan suatu massa kristal yang padat. Pola susunan semacam ini melengkapi tulang dengan kekuatan yang besar.

Diafisis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder. Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar. Metafisis adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akar batang. Daerah ini terutama disusun oleh tulang trabekular atau tulang

spongiosa yang mengandung sel-sel hematopoetik. Sumsum-sumsum merah terdapat juga di bagian epifisis dan diafisis tulang. Pada anak-anak, sumsumsumsum merah mengisi sebagian besar bagian dalam tulang panjang, tetapi kemudian diganti oleh sumsum kuning sejalan dengan semakin dewasanya anak tersebut. Pada orang dewasa aktivitas hematopoietic menjadi terbatas hanya pada sternum dan Krista iliaka, walaupun tulang-tulang masih berpotensi untuk aktif lagi bila diperlukan. Sumsum kuning yang terdapat pada diafisis tulang orang dewasa tertama terdiri dari sel-sel lemak. Metafisis juga menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon dan ligamen pada epifisis. Lempeng epifisis adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, dan bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis langsung berbatasan dengan sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang tulang berhenti. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi khusus. Lokasi dan keutuhan dari arteri-arteri inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah. Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari 3 jenis sel : osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indicator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker tulang. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang

memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah.

Pada manusia, rangka dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu rangka aksial (membentuk sumbu tubuh, meliputi tengkorak, kolumna vertebra, dan toraks) dan rangka apendikular (meliputi ekstremitas superior dan inferior). Berdasarkan bentuknya dan ukurannya, tulang dapat dibagi menjadi beberapa penggolongan: 1. Tulang panjang, yaitu tulang lengan atas, lengan bawah, tangan, tungkai, dan kaki (kecuali tulang-tulang pergelangan tangan dan kaki). Badan tulang ini disebut diafisis, sedangkan ujungnya disebut epifisis. 2. Tulang pendek, yaitu tulang-tulang pergelangan tangan dan kaki. 3. Tulang pipih, yaitu tulang iga, bahu, pinggul, dan kranial. 4. Tulang tidak beraturan, yaitu tulang vertebra dan tulang wajah 5. Tulang sesamoid, antara lain tulang patella dan tulang yang terdapat di metakarpal 1-2 dan metatarsal 1.

Rangka aksial -Tengkorak

Tengkorak tersusun atas tulang kranial dan tulang wajah. Tulang kranial tersebut meliputi:

Tulang frontal

Tulang frontal merupakan tulang kranial yang berada di sisi anterior, berbatasan dengan tulang parietal melalui sutura koronalis. Pada tulang frontal ini terdapat suatu sinus (rongga) yang disebut sinus frontalis, yang terhubung dengan rongga hidung.

Tulang temporal

Terdapat dua tulang temporal di setiap sisi lateral tengkorak. Antara tulang temporal dan tulang parietal dibatasi oleh sutura skuamosa. Persambungan antara tulang temporal dan tulang zigomatikum disebut sebagai prosesus zigomatikum. Selain itu terdapat prosesus mastoid (suatu penonjolan di belakang saluran telinga) dan meatus akustikus eksternus (liang telinga).

Tulang parietal

Terdapat dua tulang parietal, yang dipisahkan satu sama lain melalui sutura sagitalis. Sedangkan sutura skuamosa memisahkan tulang parietal dan tulang temporal.

Tulang oksipital

Tulang oksipital merupakan tulang yang terletak di sisi belakang tengkorak. Antara tulang oksipital dan tulang parietal dipisahkan oleh sutura lambdoid. Di dasar tulang oksipital terdapat foramen magnum, suatu foramen yang menghubungkan otak dan medula spinalis. Di sisi foramen magnum terdapat condyles, suatu penonjolan yang menghubungkan oksipital dengan tulang atlas (C1).

Tulang sphenoid

Tulang sphenoid merupakan tulang yang membentang dari sisi fronto-parietotemporal yang satu ke sisi yang lain. Secara umum tulang sphenoid dibagi menjadi greater wing dan lesser wing, di mana greater wing berada lebih lateral dibanding lesser wing. Kanalis optikus dibentuk oleh tulang ini (lesser wing). Selain itu terdapat juga sella turcica (yang melindungi kelenjar hipofisis) dan sinus sphenoid (suatu sinus yang membuka ke rongga hidung).

Tulang ethmoid

Tulang ethmoid merupakan tulang yang berada di belakang tulang nasal dan lakrimal. Beberapa bagian dari tulang ethmoid adalah crista galli (proyeksi superior untuk perlekatan meninges), cribriform plate (dasar crista galli, dengan foramen olfaktori yang melewatkan nervus olfaktori), perpendicular plate (bagian dari nasal septum) dan konka. Selain itu terdapat juga sinus ethmoid, yang membuka ke rongga hidung. Sedangkan tulang wajah meliputi:

Tulang mandibula

Mandibula merupakan tulang rahang bawah, yang berartikulasi dengan tulang temporal melalui prosesus kondilar.

Tulang maksila

Tulang maksila merupakan tulang rahang atas. Maksila meliputi antara lain prosesus palatin yang membentuk bagian anterior palatum dan prosesus alveolar yang memegang gigi bagian atas.

Tulang nasal

Tulang nasal merupakan tulang yang membentuk jembatan pada hidung dan berbatasan dengan tulang maksila.

Tulang lakrimal

Tulang lakrimal merupakan tulang yang berbatasan dengan tulang ethmoid dan tulang maksila, berhubungan duktus nasolakrimal sebagai saluran air mata.

Tulang zigomatikum

Tulang zigomatikum merupakan tulang pipi, yang berartikulasi dengan tulang frontal, temporal dan maksila.

Tulang palatin

Tulang palatin merupakan tulang yang membentuk bagian posterior palatum.

Tulang vomer

Tulang vomer merupakan bagian bawah nasal septum (sekat hidung). Kolumna vertebra

Kolumna vertebra terbentuk dari tulangtulang individual yang disebut sebagai vertebra. Terdapat sekitar 26 vertebra, meliputi 7 vertebra servikal, 12 vertebra torakal, 5 vertebra lumbar, 1 vertebra sakral (yang terdiri atas 5 vertebra individual) dan 1 vertebra koksigeal (yang terdiri atas 45 koksigeal kecil). Secara umum, bentuk vertebra terdiri atas korpus vertebra, lengkung vertebra, foramen vertebra, prosesus transversus, prosesus spinosa, prosesus artikular inferior, prosesus artikular posterior, pedikulus dan lamina. Terdapat sedikit perbedaan antara vertebra segmen servikal, torakal, dan lumbar:

Pada vertebra segmen servikal, korpus berukuran relatif lebih kecil

dibandingkan segmen torakal dan lumbar. Pada prosesus transversus terdapat foramen (lubang) transversus, yang fungsinya untuk

melewatkan arteri vertebralis. Artikulasi antara satu vertebra servikal dengan vertebra servikal lainnya (melalui sendi apophyseal) membentuk sudut sekitar 45 derajat. Khusus untuk segmen C1 (atlas), terdapat facies artikulasi untuk dens axis (C2) serta facies artikulasi yang agak besar untuk perlekatan dengan oksipital. Sedangkan pada segmen C2 (axis), terdapat dens axis yang akan berartikulasi dengan atlas (C1).

Pada vertebra segmen torakal, korpus

berukuran relatif lebih besar dibandingkan segmen servikal namun lebih kecil dibandingkan dengan segmen lumbar. Tidak ada foramen transversus. Khas pada vertebra segmen torakal adalah adanya facies untuk artikulasi dengan tulang iga (kostal). Facies ini ada yang terletak di prosesus transversus dan ada yang terletak di prosesus spinosa.

Pada vertebra segmen lumbar, korpus berukuran relatif lebih besar

dibandingkan dengan korpus pada segmen servikal dan torakal. Adanya prosesus asesorius pada prosesus transversus dan prosesus mamilaris pada prosesus artikulasi superior menjadi ciri khas pada segmen lumbar.

Pada vertebra segmen sakral, bentuknya khas seperti sayap yang melebar

dengan penonjolan ke depan pada artikulasi lumbo-sakral yang disebut sebagai promontory. Vertebra segmen sakral terdiri atas 5 vertebra individual, yang dihubungkan satu sama lain melalui celah transversus dan memiliki 8 foramen sakral. Di bagian posterior terdapat celah yang disebut hiatus sakralis.

Pada vertebra segmen koksigeal, terdiri atas 4-5 segmen koksigeal individual

yang terhubung dengan vertebra segmen sakralis. Dilihat secara lateral, kolumna vertebra yang tersusun mulai dari servikal hingga koksigeal membentuk lengkung yang khas, yaitu lordosis servikal, kyphosis torakal, lordosis lumbar dan kyphosis sakral. Lordosis servikal terbentuk ketika seorang bayi mulai belajar menegakkan kepalanya (usia 3 bulan), sedangkan lordosis lumbar terbentuk ketika seorang anak mulai belajar berdiri.

Toraks

Toraks merupakan rangka yang menutupi dada dan melindungi organ-organ penting di dalamnya. Secara umum toraks tersusun atas klavikula, skapula, sternum, dan tulang-tulang kostal.

Skapula merupakan tulang yang terletak di sebelah posterior, dan

berartikulasi dengan klavikula melalui akromion. Selain itu, skapula juga berhubungan dengan humerus melalui fossa glenoid.

Klavikula merupakan tulang yang berartikulasi dengan skapula melalui

akromion, dan di ujungnya yang lain berartikulasi dengan manubrium sternum.

Sternum merupakan suatu tulang yang memanjang, dari atas ke bawah,

tersusun atas manubrium, korpus sternum, dan prosesus xyphoideus. Manubrium berartikulasi dengan klavikula , kostal pertama, dan korpus sternum. Sedangkan korpus stenum merupakan tempat berartikulasinya kartilago kostal ke-2 hingga kostal ke-12.

Tulang-tulang kostal merupakan tulang yang berartikulasi dengan vertebra

segmen torakal di posterior, dan di anterior berartikulasi dengan manubrium dan korpus sternum. Ada 12 tulang kostal; 7 kostal pertama disebut kostal sejati (karena masing-masing secara terpisah di bagian anterior berartikulasi dengan manubrium dan korpus sternum), 3 kostal kedua disebut kostal palsu (karena di bagian anterior ketiganya melekat dengan kostal ke-7), dan 2 kostal terakhir disebut kostal melayang (karena di bagian anterior keduanya tidak berartikulasi sama sekali).

Rangka apendikular Ekstremitas atas

Ekstremitas atas terdiri atas tulang skapula, klavikula, humerus, radius, ulna, karpal, metakarpal, dan tulang-tulang phalangs.

Skapula

Skapula merupakan tulang yang terletak di sebelah posterior tulang kostal dan berbentuk pipih seperti segitiga. Skapula memiliki beberapa proyeksi (spina, korakoid) yang melekatkan beberapa otot yang berfungsi menggerakkan lengan atas dan lengan bawah. Skapula berartikulasi dengan klavikula melalui acromion. Sebuah depresi (cekungan) di sisi lateral skapula membentuk persendian bola-soket dengan humerus, yaitu fossa glenoid.

Klavikula

Klavikula merupakan tulang yang berartikulasi dengan skapula di sisi lateral dan dengan manubrium di sisi medial. Pada posisi ini klavikula bertindak sebagai penahan skapula yang mencegah humerus bergeser terlalu jauh.

Humerus

Humerus merupakan tulang panjang pada lengan atas, yang berhubungan dengan skapula melalui fossa glenoid. Di bagian proksimal, humerus memiliki beberapa bagian antara lain leher anatomis, leher surgical, tuberkel mayor, tuberkel minor dan sulkus intertuberkular. Di bagian distal, humerus memiliki beberapa bagian antara lain condyles, epicondyle lateral, capitulum, trochlear, epicondyle medial dan fossa olecranon (di sisi posterior). Tulang ulna akan berartikulasi dengan humerus di fossa olecranon, membentuk sendi engsel. Pada tulang humerus ini juga terdapat beberapa tonjolan, antara lain tonjolan untuk otot deltoid.

Ulna

Ulna merupakan tulang lengan bawah yang terletak di sisi medial pada posisi anatomis. Di daerah proksimal, ulna berartikulasi dengan humerus melalui fossa olecranon (di bagian posterior) dan melalui prosesus coronoid (dengan trochlea pada humerus). Artikulasi ini berbentuk sendi engsel, memungkinkan terjadinya gerak fleksi-ekstensi. Ulna juga berartikulasi dengan radial di sisi lateral. Artikulasi ini berbentuk sendi kisar, memungkinkan terjadinya gerak pronasi-supinasi. Di daerah distal, ulna kembali berartikulasi dengan radial, juga terdapat suatu prosesus yang disebut sebagai prosesus styloid.

Radius

Radius merupakan tulang lengan bawah yang terletak di sisi lateral pada posisi anatomis. Di daeraha proksimal, radius berartikulasi dengan ulna, sehingga memungkinkan terjadinya gerak pronasi-supinasi. Sedangkan di daerah distal, terdapat prosesus styloid dan area untuk perlekatan tulang-tulang karpal antara lain tulang scaphoid dan tulang lunate.

Karpal

Tulang karpal terdiri dari 8 tulang pendek yang berartikulasi dengan ujung distal ulna dan radius, dan dengan ujung proksimal dari tulang metakarpal. Antara tulang-tulang karpal tersebut terdapat sendi geser. Ke delapan tulang tersebut adalah scaphoid, lunate, triqutrum, piriformis, trapezium, trapezoid, capitate, dan hamate.

Metakarpal

Metakarpal terdiri dari 5 tulang yang terdapat di pergelangan tangan dan bagian proksimalnya berartikulasi dengan bagian distal tulang-tulang karpal. Persendian yang dihasilkan oleh tulang karpal dan metakarpal membuat tangan menjadi sangat fleksibel. Pada ibu jari, sendi pelana yang terdapat antara tulang karpal dan metakarpal memungkinkan ibu jari tersebut melakukan gerakan seperti menyilang telapak tangan dan memungkinkan menjepit/menggenggam sesuatu. Khusus di tulang metakarpal jari 1 (ibu jari) dan 2 (jari telunjuk) terdapat tulang sesamoid.

Tulang-tulang phalangs

Tulang-tulang phalangs adalah tulang-tulang jari, terdapat 2 phalangs di setiap ibu jari (phalangs proksimal dan distal) dan 3 di masing-masing jari lainnya (phalangs proksimal, medial, distal). Sendi engsel yang terbentuk antara tulang phalangs membuat gerakan tangan menjadi lebih fleksibel terutama untuk menggenggam sesuatu. Ekstremitas bawah

Ekstremitas bawah terdiri dari tulang pelvis, femur, tibia, fibula, tarsal, metatarsal, dan tulang-tulang phalangs.

Pelvis

Pelvis terdiri atas sepasang tulang panggul (hip bone) yang merupakan tulang pipih. Masing-masing tulang pinggul terdiri atas 3 bagian utama yaitu ilium, pubis dan ischium. Ilium terletak di bagian superior dan membentuk artikulasi dengan vertebra sakrum, ischium terletak di bagian inferior-posterior, dan pubis terletak di bagian inferior-anterior-medial. Bagian ujung ilium disebut sebagai puncak iliac (iliac crest). Pertemuan antara pubis dari pinggul kiri dan pinggul kanan disebut simfisis pubis. Terdapat suatu cekungan di bagian pertemuan ilium-ischium-pubis disebut acetabulum, fungsinya adalah untuk artikulasi dengan tulang femur.

Femur

Femur merupakan tulang betis, yang di bagian proksimal berartikulasi dengan pelvis dan dibagian distal berartikulasi dengan tibia melalui condyles. Di daerah proksimal terdapat prosesus yang disebut trochanter mayor dan trochanter minor, dihubungkan oleh garis intertrochanteric. Di bagian distal anterior terdapat condyle lateral dan

condyle medial untuk artikulasi dengan tibia, serta permukaan untuk tulang patella. Di bagian distal posterior terdapat fossa intercondylar.

Tibia

Tibia merupakan tulang tungkai bawah yang letaknya lebih medial dibanding dengan fibula. Di bagian proksimal, tibia memiliki condyle medial dan lateral di mana keduanya merupakan facies untuk artikulasi dengan condyle femur. Terdapat juga facies untuk berartikulasi dengan kepala fibula di sisi lateral. Selain itu, tibia memiliki tuberositas untuk perlekatan ligamen. Di daerah distal tibia membentuk artikulasi dengan tulang-tulang tarsal dan malleolus medial.

Fibula

Fibula merupakan tulang tungkai bawah yang letaknya lebih lateral dibanding dengan tibia. Di bagian proksimal, fibula berartikulasi dengan tibia. Sedangkan di bagian distal, fibula membentuk malleolus lateral dan facies untuk artikulasi dengan tulang-tulang tarsal.

Tarsal

Tarsal merupakan 7 tulang yang membentuk artikulasi dengan fibula dan tibia

di proksimal dan dengan metatarsal di distal. Terdapat 7 tulang tarsal, yaitu calcaneus, talus, cuboid, navicular, dan cuneiform (1, 2, 3). Calcaneus berperan sebagai tulang penyanggah berdiri.

Metatarsal

Metatarsal merupakan 5 tulang yang berartikulasi dengan tarsal di proksimal dan dengan tulang phalangs di distal. Khusus di tulang metatarsal 1 (ibu jari) terdapat 2 tulang sesamoid.

Phalangs

Phalangs merupakan tulang jari-jari kaki. Terdapat 2 tulang phalangs di ibu jari dan 3 phalangs di masing-masing jari sisanya. Karena tidak ada sendi pelana di ibu jari kaki, menyebabkan jari tersebut tidak sefleksibel ibu jari tangan.

2. Fisiologi tulang Tulang merupakan kerangka tubuh yang menyebabkan tubuh dapat berdiri tegak, Tempat melekatnya otot-otot sehingga memungkinkan jalannya pembuluh darah, tempat sumsum tulang dan syaraf yang melindungi jaringan lunak, juga tulang merupakan organ yang dibutuhkan manusia untuk mengangkat dan membawa barang-barang yang berat. Intinya tulang adalah organ yang kita butuhkan untuk melakukan aktifits seharihari. Sehingga kita tidak dapat membayangkan bagaimana terganggunya kita bila ada kerusakan yang terjadi pada tulang kita. Fungsi tulang secara umum adalah a. Fungsi mekanik sebagai penyokong tubuh dan tempat melekat jaringan otot untuk pergerakan. Otot merupakan alat gerak aktif, sedangkan tulang merupakan alat gerak pasif.

b. Fungsi Protektif, Melindungi berbagai alat vital dalam tubuh dan juga sumsum tulang.

c. Fungsi Metabolik, Sebagai cadangan dan tem pat metabolisme berbagai mineral yang penting seperti kalsium dan phospat.

d. Fungsi Hemopetik, berlangsungnya proses pembentukan dan perkembangan sel darah.

3. Perkembangan susunan musculoskeletal Sistem muskulus skeletal sistem otot berkaembang dari lapisan benih mesoderm (kecuali otototot iris, yang terbentuk dari ekstoderm piala optik dan

terdiri dari otot rangka,otot polos, dan otot jantung, otot rangka berasal dari mesoderm paraksial, yang membentuk somit dari daerah oksipital ke sakral dan somitomer dikepala. Otot polos berdeferensisai daro mesoderm splanknik disekitar usus dan derivat-derivatnya, dan otot jantung berasal dari mesoderm splanknik disekitar tabunh jantung. Fase pembentukan tulang Pada fase awal pembentukan terjadi pada minngu k-3 yaitu terbentuk tiga lapisan yaitu: Eksoderm Mesoderm Endoderm

Sehingga membentuk tulang rawan.Awalnya somit dan somiomer membentuk otot-otot untuk rangkan aksila, dinding tubuh anggota badan dan dan kepala. Dari daerahoksipital ke kaudal. Somit membentuk dan derdefisiensi menjadi sklerotum dan dermomiotom. Sel miotom pada dinding tubuh dan daerah ekstremitas berdisosiasi. Begerakke tempatnya yang pasti, dan menjadi memanjang serta membentuk gelendong, sel-sel ini yang disebut mioblas saling menyatu dan membentuk serabut otot panjang yang berinti majemuk. Miofibril segera nampak dalam sitoplasma dan menjelang akhir bulan ke-3 nampak gambaran seran lintang yang khas untuk otot rangka. Proses serupa terjadi pula pada tujuh somitomer yang terletak didaerah kepala disebelah rostral somit- somit oksipital. Tetapi struktur somitomer tatap longgar, tidak pernah terpisah-pisah menjadi segmen-segmen sklerotom dan dermiotom. Pola otot dikendalikan oleh jaringan penyambung dimana mioblas bermigrasi. Didaerah kepala, jaringan penyambung ini berasal dari sel-sel krista neuralis : didaerah servikal dan oksipital. Berasal dari moseoderm somit : dan didinding tubuh serta anggota badan, berasl dari mesodrm somatik . Pada minggu kelima terbentuk tonjolan ( lim bud) tulang rawan terdiri dari Hialin, Fibrin, Elastin. Menjelang akhir miggu ke-5, setiap miotom terbagi menjadi satu bagian dorsal yang kecil, epimer, dan satu bagian vetral yang lebih besar, hipomer, yang terbentuk karena migrasi sel- sel miotom. Saraf saraf yang mempersarafi otot-otot sekmental juga dibagi menjadi samus dorsalis primer untuk epimer, dan ramus vetralis primer untuk hipomer. Mioblas-mioblas dari epimer membentuk otot ekstrensor tulang belakang, sedangkan yang berasal dari hipomer membentuk sistem otot fleksor leteral dan

ventral. Mioblas dari hhipomer servikal membentuk otot skalelus, geniohioideus muskuli paravertebrali. Mioblas yang berasal dari segmen toraks terbagi menjadi tiga lapisan yang didada diwakili oleh M. Interkostalis eksterna, M.interkostalis interna, dan M. Interkostalis bagian dalam atau M. Transversus torakis . pada dinding perut, ketiga lapisan otot ini terdiri atas M. Oblikus eksternus, M. Oblikis internus. Dan M. Trasfersus abdomis. Pada perkembangan minggu ke tujuh terbentuk tulang melalui 2 tahap : -Langsung : terbentuknya dalam bentuk lembaran-lembaran , misalnya : tulang muka, pelvis, skapula, tulang tengkorak. -Tidak langsung : . obsifikasi sentra terjadi melalui oksifikasi endokondral. obsikasi perifer terjadi dibawah perikondral. Otot otot anggota badan diamati pada minggu k-7 sebagai pemadatan masenkim didekat tunas anggota badan. Masenkim ini berasal dari sel-sel darmomiotom somik yng bermigrasi ketunas anggota badan untuk membentuk otot. Seperti didaerah lainnya, jaringan penyambung menentukan pola pembentuk otot, dan jaringan ini berasal dari mesorerm somatik, yang juga menghasilkan tulang-tulang anggota badan. Pada masa anak-anak sampai usia remaja, secara normal mineral tulang akan meningkat secara progresif sam-pai mencapai puncaknya pada usia 25 28 tahun (wanita) dan usia sekitar 30 35 tahun (laki-laki) menurut beberapa ahli puncak kepadatan tulang bervariasi. Menurut beberapa peneliti, kemunduran kepadatan tulang & kekuatan tulang yg progresif (laki-laki & wanita) mulai terjadi pada awal usia 20-an. Penurunan kepadatan tulang akan disertai dengan meningkatnya porositas tulang. Wanita cenderung memiliki tulang yang lebih kecil & area tulang kortikal yang lebih kecil daripada laki-laki. Perubahan kekuatan tulang juga terjadi pada laki-laki tetapi laki-laki mengalami perubahan yang tidak terlalu signifikan dibandingkan wanita

4. Energi dan kehidupan Matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis merupakan mekanisme unik yang di gunakan oleh alam untuk mentransformasi energi cahaya menjadi energi kimiawi, bentuk energi yang digunakan untuk organisme hidup. Organisme fotosintetik mengubah energi matahari menjadi energi kimiawi melalui produksi biomolekul, yang kemudian digunakan

sebagai bahan bakar dalam memenuhi kebutuhan energi untuk proses kehidupan. Karena bentuk kehidupan nonfotosintetik tidak dapat menggunakan energi cahaya untuk memenuhi kebutuhan energinya, maka mereka harus mengandalkan energi kimiawi dari nutrien biomolekular, contohnya gula dan lemak. Aliran energi biologi dalam susatu organisme mencakup pelepasan, pelestarian, dan penggunaan energi kimia. Penjelasan mekanisme dasar yang menentukan produksi dan penggunaan energi oleh organisme hidup telah memberikan pada ilmuwan biologi suatu set konsep pemersatu disebut prinsip bioenergetika , yang secara efektif menjelaskan penggunaan energi alam dalam istilah molekular. Adenosin trifosfat,ATP,merupakan karier utama energi untuk semua bentuk kehidupan .Sintesis dan hidrolisis ATP merupakan titik yang sangat penting, masingmasing uantuk pelestarian dan pengguanaan energi kimiawi. ATP pertama kali diisolasi dari otot pada tahun 1929 di Amerika serikat oleh cyrus.H fiske dan yellapragada subbarow,dan secara indipenden, di jerman oleh karl lohman. Namun baru pada dasawarsa selanjutnya, peranan sentral dari ATP dalam transfer energi mulai dikenal. Pada tahun 1941,Fritz lipmann,dibantu dengan konstribusi oleh herman kalokar, membuat hipotesis sifat siklik dari keterlibatan ATP dalam proses bioenergetika, dan dalam proposal nya menulis : Tidak dapat diberikan jawaban yang pasti terhadap pertanyaan mengenai bagaimana gugusan fosfat yang tinggi potensial beroperasi sebagai promotor dari berbagai proses, walaupun secara longgar dapat dikenali terdapatnya interkoneksi yang kurang lebih dapat dipastikan dengan pengalihan fosfat siklus metabolik dapat dibandingakan dengan susatu mesin yang membangkitkan arus listrik pada keyataan, tampak bahwa dalam organisasi selular arus fsfat memainkan bagian yang sama seperti halnya arus listrik dalam kehidupan manusia. Juga merupakan suatu bentuk energi yang di gunakan untuk semua keperluan. Untuk mengerti analogi di atas antara energi kimia ATP dari energi listrik, perlu untuk menghargai aspek termodinamika dari reasi metabolik yang menjelaskan kecakapan alami dalam penggunaan hukum termodinamika. Perubahan maksimum dalam energi bebas dari suatu reaksi disebut G, yang dinyatakan dalam kalori per mol.Suatu nilai G negatif menunjukkan suatu reaksi akstergonik atau spontan yang melepaskan energi bebas.sebaliknya , suatu G yang positif menunjukkan suatu reaksi endregonik yang memerlupan suatu input dari energi bebas. Termodinamika dari suatu reaksi , sering dinyatakan sebagai G0

merupakan perubahan energi bebas yang di tentukan pada keseimbangan dibawah keadaan eksperimental pada PH 7. Sistem kehidupan mengandalkan reaksi eksergonik dalam kebutuhan energinya , dengan hidrolisis adenosin trifospat (ATP) yang merupakan reaksi penghasil utama. ATP di hidrolisis menjadi ADP maupun Pi atau menjadi AMP dan TPi : hidrolisis yang di sebut terakhir ini biasa nya merupakan suatu reaksi yang secara fisiologis ireversibel karena hidrolisis selanjut nya dari TPi biomolekul lain , contohnya fosfoenolpirufat dan asam 1,3bisfosfogliserat, Disampaing ATP memiliki G0 negatif yang besar dari hidrolisis, yang juga mempunyai peranan penting dalam proses bioenergitika organisme. Terdapat sejumlah faktor yang dapat merupakan penyebab dari nilai G0 negatif besar yang di peroleh melalui hidrolisis biomolekul tertentu, termasuk dengan ketegangan ikatan dalam reaktan karena penolakan elektrostastis interna, ionisasi atau isimerisasi dari produk, stabilisasi produk oleh bentuk resonasi dan efeksolvasi Sintesis dari ribonukleosida di- dan trifosfat melalui fosforilisasi dari ribonukleosid mono dan disfosfat, masing-masing dengan enzim nukleusida monofosfat dan nukleusida difosfat kinase yang mengkataliskan reaksi . ATP biasanya merupakan donor gugusan fosfat utama dalam sitesis ini. Untuk produksi prekursor deoksiribonukleosida trifosfat dari DNA, sebagian besar organisme mengubah ribonukleusida difosfat menjadi deoksiribonukleosida difosfat,yang kemudian difosforilasi oleh nukleusida difosfat kinase.

5. Nutrisi tulang Kalsium

Sebagian besar kalsium berada di dalam tulang dan gigi. Diperkirakan hanya satu persen kalsium yang ada di dalam tubuh, sementara sisanya ada dalam tulang dan gigi. Kalsium yang cukup dapat membantu mempertahankan massa tulang. Pada orang dewasa, selain membantu kerja otot dan sistem saraf, kalsium juga sangat penting untuk memperlambat osteoporosis dan mengatur pembekuan darah bila Anda terluka.

Untuk Anda yang berusia 19-50 tahun, kebutuhan kalsium hariannya mencapai 1.000 mg. Untuk usia di atas 51 tahun, Anda memerlukan kalsium per harinya sekitar 1.200 mg. Bayi dan anak-anak pun memubuhkan kalsium yang cukup. Kebutuhan kalsium per hari untuk bayi mencapai 300-400 mg,

sementara untuk anak-anak 500-800 mg per hari.

Kalsium ini dapat diperoleh dari makanan yang sehari-hari Anda makan. Misalnya, tahu dan tempe. Bisa juga Anda mendapatkannya dari susu, telur, daging, ikan, bayam, dan brokoli. Bagi Anda penggemar ceker ayam, perlu diketahui bahwa ceker ayam mengandung zat hydroxyapatite. Zat ini, memiliki komponen yang sama dengan komponen tulang dan lapisan keras mamalia. Vitamin D Vitamin D memiliki peran penting dalam membantu penyerapan kalsium oleh tulang. Dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung Vitamin D dapat membantu meningkatkan penyerapan kalsium 2,5 kali. Kebutuhan kalsium per hari mencapai 200 IU sampai 400 IU. Untuk mendapatkan Vitamin D tersebut, Anda bisa mengkonsumsi makanan seperti kerang, keju, kuning telur, sereal, roti gandum, ikan salmon, butter dan margarin.

Vitamin K1

Vitamin yang satu ini mampu mengaktifkan protein tulang untuk mengunci nutrisi penting ke dalam struktur tulang yang membuat tulang menjadi kuat dan sehat. Vitamin ini bisa Anda peroleh dengan mengkonsumsi makanan seperti bayam, susu, telur, brokoli, dan minyak sayur seperti zaitun. Setiap harinya Anda membutuhkan asupan vitamin ini sebanyak 150 mcg. Magnesium

Magnesium memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan kalsium dalam tubuh dan membantu memelihara kekuatan tulang. Dalam sehari, Anda membutuhkan sekitar 300-400 mg magnesium. Untuk bisa memenuhinya, Anda bisa mengkonsumsi makanan seperti beras merah, sayuran hijau, atau kacang-kacangan. Jika Anda ingin yang lebih mudah, Anda bisa mencoba oatmeal.

Zinc

Zinc dapat mencegah kerusakan tulang, berperan dalam pembentukan kolagen untuk pembentukan tulang, serta membantu jalannya oksigen ke sel darah yang berguna untuk mengatasi kerusakan pada sendi. Anda dapat memperoleh zinc pada bayam, kacang-kacangan, gandunm, daging ayam atau sapi, dan asparagus. Setiap harinya, Anda cukup memenuhi kebutuhan zinc sebesar 8-11 mg. Vitamin C

Vitamin yang banyak ditemukan pada buah-buahan dan sayuran ini, akan membantu dalam proses pembentukan tulang dan tulang rawan. Jika ingin memiliki jaringan sendi yang sehat, Anda harus mengkonsumsi vitamin yang satu ini secara cukup. Per hari Anda membutuhkan 500-1000 mg Vitamin C.

Vitamin E

Vitamin E dapat diperoleh dengan mengkonsumsi kacang-kacangan, kecambah, pisang, strawberry, mentega dan asparagus. Vitamin yang satu ini akan membantu meningkatkan oksigen ke otot dengan meningkatkan kemampuan gerak otot dan tulang. Sebanyak 400 IU per hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin E Anda. Protein

Protein merupakan zat utama untuk membentuk matriks tulang. Protein memiliki peran seperti rangka yang memberikan struktur, dukungan dan fleksibilitas. Protein ini dapat Anda temukan di dalam susu, ikan, tahu, tempe, dan putih telur. Kebutuhan protein bagi tubuh per harinya 0,8 gr sampai 1,5 gr per kilogram berat badan.

Fosfor

Fosfor sangat membantu dalam pembentukan tulang dan gigi. Kebutuhan harian fosfor mencapai 500 gr per hari. Anda dapat memenuhinya dengan mengkonsumsi telur dan ikan. Vitamin B

Dengan mengkonsumsi makanan mengandung vitamin B sebanyak 50 mg per hari, Anda akan membantu tubuh untuk memperbaiki fungsi-fungsi selnya, terutama tulang dan saraf halus. Daging, telur, hati, ikan, susu dan kacang-kacangan adalah produk makanan yang mengandung vitamin B. Asam folat

Asam folat memiliki peran dalam proses sintesis DNA. Kebutuhan hariannya mencapai 400 mg sampai 600 mg dan Anda dapat menemukannya pada bayam dan brokoli.

Flouride

Mungkin Anda sering mendengarnya terdapat di pasta gigi. Flouride ini membantu untuk memperkuat tulang dan gigi. Kandungan flouride ternyata terkandung juga pada air putih dan ikan laut.

6. Proses penyembuhan tulang Tulang dapat sembuh dalam satu atau dua cara setelah trauma (patah). Periosteal atau callus eksternal terbentuk dalam metode tertutup. Darah disuplai ke sekitar jaringan lunak dan di daerah sekitar tempat trauma untuk proses penyembuhan. Ada lima tahap untuk penyembuhan patah tulang, yaitu (1) pembentukan hematoma dalam 1-3 hari, (2) pembentukan fibrokartilago dalam 3 hari- 2 minggu, (3) pembentukan callus, 2-6 minggu, (4) osifikasi 3 minggu- 6 bulan, (5) konsolidasi dan pemodelan tulang kembali, dalam 6 minggu- 1

tahun. Lima tahap ini dapat dikelompokkan dalam tiga fase, (1) fase inflamasi, (2) fase perbaikan (tahap2-4), (3) fase pemodelan kembali. Tahap 1 dimulai ketika hematom terbentuk pada lokasi trauma. Ukuran hematom tergantung pada kerusakan yang terjadi pada lokasi fraktur. Hematom sering menetap sampai fraktur sembuh. Penyembuhan berlanjut selama tahap 2 dengan pembentukan jaringan yang mengandung pembuluh darah, fibroblas, dan osteoblas. Hematom

menyediakan dasar untuk perbaikan jaringan dan penyembuhan tulang. Callus terbentuk selama tahap 3 setelah pematangan jaringan granulasi. Jika callus tidak terbentuk, tahap akhir tidak akan terjadi. Tahap 4 atau osifikasi terjadi ketika tulang yang patah menyatu. Callus, secara perlahan akan digantikan oleh tulang dan callus yang tidak penting akan direabsorpsi. Tahap 5 adalah tahap pemodelan kembali dimana tulang dibentuk seperti semula untuk bisa berfungsi dengan baik. ( Copstead and Banasik, 2000, page:1130)

7. Patofisiologi fraktur cruris dengan penatalaksanaan ORIF A. Definisi Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Sjamsuhidajat, 2004). Fraktur cruris adalah adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya,terjadi pada tulang tibia dan fibula. (Brunner & Suddarth, 2001). Sedangkan cruris dextra adalah tungkai bawah kanan yang terdiri dari dua tulang panjang yaitu tulang tibia dan fibula. Lalu 1/3 distal adalah letak suatu patahan terjadi pada bagian 1/3 bawah dari tungkai. Jadi pengertian dari fraktur cruris dextra 1/3 distal adalah patah tulang yang terjadi pada tulang tibia dan fibula yang terletak pada 1/3 bagian bawah sebelah kanan.

B. Etiologi a.Trauma direk (langsung), menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan/trauma itu, misalnya trauma akibat kecelakaan

b.Trauma indirek (tidak langsung), menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan, yang patah biasanya bagian

yang

paling

lemah

dalam

jalur

hantaran

vektor

kekerasan.

c.Patologis, disebabkan oleh adanya proses patologis misalnya tumor, infeksi dan osteoporosis tulang karena disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang dan disebut patah tulang patologis.

d.Kelelahan / stress, misalnya pada olahragawan mereka yang baru saja meningkatkan kegiatan fisik . C. Jenis fraktur Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal). fraktur tidak komplet : patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. fraktur tertutup (simpel) : tidak menyebabkan robeknya kulit. fraktur terbuka (komplikata/kompleks) : merupakan fraktur dengan pada luka pada kulit / membrane mukosa sampai ke patahan tulang. fraktur terbuka dibagi menjadi 3, yaitu : - Grade I : luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya. -Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. -Grade III : luka menjadi sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan yang paling berat. Fraktur menurut pergeseran anatomis fragmen tulang dibagi menjadi : fraktur bergeser dan tidak bergeser. Jenis khusus fraktur, dibagi menjadi : Greenstick :fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sementara sisi lain membengkok. Transversal : fraktur sepanjang garis tengah tulang. Oblik : fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil disbanding transversal). Spiral : fraktur memuntir seputar batang tulang. Kominutif : fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen. Depresi : fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah). Kompresi : fraktur dimana tulang mengalami kompresi, terjadi pada tulang belakang. Patologik : fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (Krista tulang, penyakit Paget, metastasis tulang, tumor).

Avulsi : tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada perlekatannya. Epifiseal : fraktur melalui epifisis. Impaksi : fraktur dimana fragmen tulang terdorong kef ragmen tulang lainnya.

D. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna. nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktr merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa), bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba). Ekstremitas yang bisa diketahui dengan

membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot. pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain 2,5 5 cm (1 2 inchi). saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. (uji krepitus dapat mengakibatkab kerusakan jaringan lunak yang lebih berat) pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru bisa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera. E. Patofisiologi

Fraktur terjadi bila tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot esktrem. Meskipun tulang patah dan jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah (Brunner dan Suddarth, 2001: 2357). Fraktur sering terjadi pada tulang rawan, jika tulang mengalami fraktur, maka periosteum darah dari korteks marrow dan jaringan sekitarnya rusak, terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan di ujung tulang. Terbentuklah hematoma di kanal medulla, jaringan ini merangsang kecenderungan untuk terjadi peradangan yang ditandai dengan vasodilatasi, pengeluaran plasma dan leukosit dan infiltrasi dari sel-sel darah putih yang lain (Corwin, 2000: 299).

F. Farmakologi G. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai d. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal

H. Penatalaksanaan medis (ORIF) Reduksi terbuka dan fiksasi internal ( RTFI) adalah metode yang luas digunakan untuk terapi fraktur. Metode ini memerlukan reduksi

pembedahan terbuka dan pemasangan pin, sekrup, kawat, paku, batang, dan/atau lempeng untuk mempertahankan reduksi. Perangkat fiksasi internal tersedia dalam berbagai bentuk dan konfigurasi untuk digunakan pada berbagai ukuran tulang dan jenis fraktur.

Indikasi Indikasi redukksi terbuka dan fiksasi internal meliputi reduksi fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang apabila ditangani dengan metode terapi lain, terbukti tidak memberi hasil yang memuaskan. Kelompok yang terakhir adalah fraktur leher femoralis,

fraktur lengan bawah distal, dan fraktur intra artikuler disertai pergeseran. Indikasi ketiga adalah untuk fraktur avulsi mayor yang disertai oleh gangguan signifikan pada struktur otot tendon. Metode RTFI untuk terapi fraktur memungkinkan ahli bedah melihat secara langsung kerusakan pada struktur-struktur disekitar fraktur, untuk membersihkan dan memperbaiki tempat fraktur sesuai keperluan, dan untuk melakukan penyatuan anatomis fraktur yang kompleks. Selain itu, proses penyembuhan tidak memerlukan imobilisasi berkepanjangan. Kekurangan RTFI meliputi perlunya anestesi umum dan peningkatan resiko infeksi yang terjadi pada semua prosedur terbuka.

Kontraindikasi Russel (1992) mencatat bahwa fiksasi internal umumnya dikontraindikasikan untuk situasi berikut : 1. 2. 3. 4. Tulang osteoporotik terlalu rapuh untuk menerima implant Jaringan lunak di atasnya berkualitas buruk Terdapat infeksi, atau Adanya fraktur comminuted yang parah yang menghambat rekonstruksi

Jenis implan fiksasi interna Beragamnya jenis implan ortopedik cukup memusingkan kecuali bagi perawat perioperatif ortopedik yang paling

berpengalaman. Secara prosedural, sebagian besar RTFI biasanya serupa. Namun, instrumen dan implan yang digunakan bervariasi dan terutama bergantung pada jenis fraktur yang akan diperbaiki. Pengetahuan mengenai berbagai implan dan jenis instrumen yang diperlukan untuk memasang nya akan sangat membantu kemampuan perawat perioperatif membuat rencana keperawatan yang efektif. a. Fiksasi pin dan kawat Untuk fiksasi fraktur kecil di daerah metafisis dan epifisis kaki distal, lengan bawah dan tangan sering digunakan kawat Kirschner atau pin Steinmann. Keduanya juga dapat digunakan bersama dengan reduksi tertutup fraktur falang dan

metakarpal yang mengalami pergeseran. Kawat dan pin dapat dimasukkan secara perkutis di bawah fluoroskopi, atau digunakan bersama dengan perangkat fiksasi lain pada prosedur terbuka. b. Sekrup Terdapat bermacam-macam sekrup fiksasi. Semua sekrup terdiri atas empat bagian: kepala, batang, alur, dan ujung. Kepala sekrup dapat berbentuk heksagonal, bersilangan,

berlubang, atau berdesain Phillips dan menentukan jenis obeng yang akan digunakan. Batang sekrup adalah bagian halus antara kepala dan alur. Alur adalah bagian yang mengjangkarkan fragmen dan mencegah sekrup terlepas. Ujung sekrup mungkin bulat dan memerlukan perlubangan sebelumnya (pretapping), atau bergalur dan self-tapping. Sekrup kortikal dirancang untuk digunakan pada tulang kortikal dan biasanya beralur di seluruh panjangnya. Sekrup retikular (cancellous), yang dirancang untuk digunakan pada tulang retikular berongga, memiliki alur yang lebih besar dan alurnya tidak terdapat diseluruh panjangnya. Sekrup maleolar adalah sekrup tipe retikular dengan ujung trefin self-tapping. Ahli bedah kadang-kadang menggunakan sekrup lag. Sekrup lag bukanlah jenis sekrup khusus tetapi hanyalah sekrup retikular yang digunakan dengan cara tertentu. Secara spesifik, sekrup lag diletakkan sedemikian rupa sehingga sekrup berputar bebas melalui fragmen yang terletak di dekat kepala sekrup dan hanya tersangkut pada fragmen yang berlawanan. c. Lempeng Sekrup dapat digunakan tersendiri atau bersama dengan lempeng/pelat untuk memfiksasi berbagai jenis fraktur. Seperti sekrup, tersedia bermacam-macam rancangan dan ukuran lempeng yang mungkin memiliki satu atau lebih fungsi yang berbeda-beda. Russell (1992) membagi berbagai jenis lempeng menjadi empat kategori fungsional: netralisasi, kompresi, penunjang, dan jembatan. Lempeng harus difiksasi ke tulang baik di atas maupun di bawah fraktur.

I. Gizi -diit tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) - bervitamin, terutama vitamin D -makanan mengandung kalsium tinggi, magnesium, dan fosfor. ASKEP Kasus Sdr. K (20 tahun) dirawat di ruang Xaverius RS. Elisabeth karena terjatuh dari tangga, dari hasil pengkajian didapatkan data klien mengeluh nyeri skala 6, nyeri seperti dipukul pada kaki kanan, bertambah jika digerakkan. Dari hasil foto rontgen didapatkan fraktur cruris di 1/3 proximal tibia. TTV : TD 120/70 mmHg, RR 18 x/mnt, Nadi 88 x/mnt, T 370C, Leukosit 7000 / mm3.

DS : Klien mengatakan jatuh dari tangga, klien mengeluh nyeri skala 6, seperti dipukul pada kaki kanan, bertambah jika digerakkan.

DO : Hasil foto rontgen didapatkan fraktur cruris di 1/3 proksimal tibia, TD 120/70 mmHg, RR 120/70 mmHg, RR 18 x/mnt, T 370C.

ANALISA DATA

Tgl/Jam 25/6/2012

No. DP 1.

Data DS : Klien mengatakan jatuh dari tangga, klien mengeluh nyeri skala 6, seperti dipukul pada kaki kanan, bertambah jika digerakkan.

Masalah Hambatan mobilitas fisik

Etiologi Nyeri, Gangguan muskuloskeletal

DO : Hasil foto rontgen didapatkan fraktur cruris di 1/3 proksimal tibia, TD 120/70 mmHg, RR 120/70 mmHg, RR 18 x/mnt, T 370C.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, gangguan muskuloskeletal ditandai dengan klien mengatakan jatuh dari tangga, klien mengeluh nyeri skala 6, seperti dipukul pada kaki kanan, bertambah jika digerakkan, hasil foto rontgen didapatkan fraktur cruris di 1/3 proksimal tibia, TD 120/70 mmHg, RR 120/70 mmHg, RR 18 x/mnt, T 370C.

INTERVENSI No. DP 1.

Tgl/Jam 25/6/2012

Tujuan dan Kriteria Hasil Hambatan mobilitas fisik teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam dengan kriteria hasil: Pasien tidak mengeluh nyeri Skala nyeri 0 TTV normal: TD sistol 110 130 mmHg diastol 70 90 mmHg Nadi 60 100 x/mnt RR 16 20 x/mnt T 36,5 37,50C Indeks Katz : A

Intervensi 1. Monitor TTV

Rasional 1. Pasien dengan

hambatan mobilitas

fisik perlu dimonito

TTV untuk mengeta perubahan status

hemodinamika pasi

2. Monitor skala nyeri

2. Pada pasien yang

mengalamai nyeri p

dimonitor skala nye karena nyeri bisa

meningkatkan RR p pasien.

3. Bantu ADL pasien

3. Pasien dengan

Hambatan mobilitas fisik harus dibantu ADLnya untuk

mengurangi resiko

cidera yang berlanju pada pasien.

4. Dekatkan barangbarang pasien

4. Mendekatkan baran

barang pasien itu pe diperhatikan agar pasien bisa dengan mudah mengambil barang sesuai yang diinginkan.

5. Ajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam

5. Tehnik relaksasi na

dalam bisa member

rasa rileks pada pas

karna udara yg mas maksimal sehingga

nyeri yang dirasaka bisa berkurang.

6. Libatkan keluarga dalam pemenuhan ADL pasien

6. Keluarga perlu dilibatkan agar

keluarga bisa meng dan membantu pemenuhan ADL pasien.

7. Lakukan tirah baring 2 jam sekali

7. Hambatan mobilitas

fisik membuat pasie tidak beraktivitas

secara normal,sehin

perlu dilakukan tira

baring untuk mence resiko terjadinya dekubitus.

8. Kolaborasi pemberian analgetik

8. Analgetik bisa

menghambat stimul

nyeri sehingga pasie perlu diberikan analgetik untuk

mengurangi rasa ny

9. Kolaborasi pembedahan

9. Pasien dengan frakt

cruris di 1/3 proksim

tibia perlu dilakuka pembedahan untuk

memulihkan fungsi

normal pada tulang.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Fraktur merupakan Rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot Dalam proses pembentukan tulang, tulang mengalami regenerasi yaitu pergantian tulang-tulang yang sudah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda, proses ini berjalan seimbang sehingga terbentuk puncak massa tulang. Setelah terbentuk puncak massa tulang, tulang masih mengalami pergantian tulang yang sudah tua dengan tulang yamg masih muda, tapi proses ini tidak berjalan seimbang dimana tulang yang diserap untuk diganti lebih banyak dari tulang yang akan menggantikan, maka terjadi penurunan massa tulang, dan bila keadaan ini berjalan terus menerus, akan terjadi osteoporosis

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC. Price & Wilson. 2005. PATOFISIOLOGI:Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta:EGC. http://dc343.4shared.com/doc/0b9duxZS/preview.html http://wwwaskep.blogspot.com/2010/01/askep-orif-open-reduction-andinternal.html http://theogeu.blog.com/2010/12/07/asuhan-keperawatan-pada-kliendengan-post-orif-akibat-fraktur-cruris/ http://www.docstoc.com/docs/48037764/patofisiologi-fraktur