Anda di halaman 1dari 10

Pencuri Hatiku Membawa Separuh Hatiku Pergi... Oleh Anime Mia... makan... panggil ibu padaku.

Tapi aku tak menggubrisnya. Aku terus saja duduk di ruang tamu dan memandang keluar. Ada seorang anak laki-laki sedang berdiri di sana. Dengan seragam putih biru berdiri di trotoar depan rumahku. Aku terus memandanginya, memperhatikan setiap gerakannya dan melihat ke arah wajahnya. Wajah yang putih bersih dengan hidung mancung dan lesung pipi yang manis ketika tersenyum. Dia tidak sendiri, dia bersama teman-teman kelasnya sedang menunggu mobil angkutan umum. Namanya Ryan, aku dan dia masih duduk di kelas satu SMPN Kartika. Tapi kami berbeda kelas. Miaaaaaa... makan... panggil ibuku lagi. iya Ma.... balasku cepat, takut ibu marah. Aku bergegas ke ruang makan untuk makan siang. *** Esok pagi, saat akan ke sekolah, aku melihat angkutan umum berhenti di depan rumah. Dan menurunkan seorang anak SMP yang ternyata adalah Ryan. Entah perasaan apa yang kurasakan, ada aliran energi aneh yang menyelimuti seluruh tubuhku, membuatku merasa bersemangat dan yang jelas aku merasa sangat gembira melihat Ryan. Sejenak aku terdiam dan terus melihat ke arahnya. Ku perhatikan terus ke arah wajahnya dan rambutnya yang masih basah. Membuatku deg-degan. Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Aku kaget dan jadi salah tingkah, wajahku terasa panas, aku lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Ryan turun di depan rumahku karena jalur angkutan umumnya tidak ke sekolah. Kami sama-sama jalan kaki ke sekolah. Tapi dia berjalan di depanku dan aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Ingin sekali menyapanya dan berjalan beriringan dengannya. Tapi aku malu, karena kami berbeda kelas. Dan mungkin saja dia tidak mengenalku, dan tidak tahu siapa namaku. Karena kami belum pernah bicara sebelumnya. Aku tahu namanya karena dia sangat populer di sekolah. Karena memang dia pintar dan cakep. Teman-temanku sering membicarakannya dan inilah masa puberitas. Kami mulai mengenal yang namanya Cinta. Mulai tertarik dengan lawan jenis. Banyak teman sekelasku yang mengagumi Ryan secara diam-diam. Dan

kurasa aku juga salah satu pengagum rahasianya. Inilah pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tertarik pada anak laki-laki. Inilah cinta pertamaku. Pelajaran pertama hari ini adalah matematika. Pelajaran kesukaanku dan memang aku jago dalam hal hitung menghitung. Aku anak kesayangan guru matematikaku. Pak guru memanggilku ke depan dan menyerahkan lembar jawaban kuis matematika kelas lain untuk kami periksa. Ternyata lembar jawaban kuis dari kelas 1A. Aku melihat nama Ryan di kertas jawaban paling atas. Pak guru menyuruhku membagikan kertas jawaban tersebut ke teman-teman dan memeriksa jawabannya. Pak guru meminta agar kami jujur dalam memeriksa. Aku sengaja menyimpan lembar jawaban Ryan untuk aku periksa sendiri. Pak guru lalu menuliskan jawaban kuis tersebut di papan tulis. Aku memperhatikan dengan seksama kertas jawaban itu. Aku merasa deg-degan. Ryan Wahyu Pratama, nama yang tertulis di lembar jawaban tersebut. Tulisannya tidak begitu bagus. Aku tertawa sendiri melihat tulisannya yang menurutku sedikit acak-acakan. Tapi jawaban yang ditulisnya ternyata benar semua. Aku merasa bangga padahal itu bukan kertas jawabanku. Teng teng teng... Bel berbunyi, tanda istirahat. Aku tidak keluar kelas. Hanya duduk di bangkuku dan mengeluarkan sebuah buku cetak bahasa Indonesia yang besar. Lalu mengambil satu buku lagi dalam tasku. Tapi bukan buku sembarangan. Buku itu aku dapatkan setelah menabung dari uang jajanku setiap hari. Pada sampul buku itu tertulis you are mine . buku itu tidak lain adalah sebuah komik karya Fujita Nimi. Ibuku melarangku membaca komik jadi aku menabung sendiri untuk membelinya. Dan membacanya di sekolah. aku menutupi komik itu dengan buku cetak bahasa Indonesia agar tidak ketahuan guru. Karena dalam peraturan sekolah, dilarang membawa komik ke sekolah. Tapi aku sudah tidak sabar ingin membacanya. Komik itu baru aku beli kemarin, tapi tidak sempat membacanya di rumah. Sedang asyik membaca, tiba-tiba Ratna datang dan mengambil komikku. komiknya di tahan! Ratna berlagak layaknya seorang guru. Lalu tertawa keras-keras. hahahahahahha.... bercanda, serius banget sih huuhhh... ganggu ah aku lalu mengambil kembali komikku dan meneruskan bacaanku. Mia, aku mau minta tolong nih... kata Ratna.

Baru kali ini kudengar Ratna minta tolong padaku. Sepertinya serius, aku lalu menandai bacaan komikku dan menutupnya. minta tolong apa? kataku. Ratna lalu mengambil buku dari tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam buku tersebut. Sebuah surat. Aku bertanya-tanya surat apakah itu. aku mau minta tolong. Tahu Ryan, kan? tahu. Knapa? Tolong kasih ini ke Ryan yah... please. Dia kan biasa ngambil angkot depan rumahmu. Jadi minta tolong suratnya di kasih ke dia yah... please. Aku malu kalau mau kasih ke dia langsung. Mau yah... bujuk Ratna. ini surat cinta????? aku kaget saat Ratna memberikan surat itu kepadaku. Bagaimana tidak, temanku sendiri memintaku untuk memberikan surat cinta ke orang yang juga kusukai???. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? iyah... aku suka sama Ryan. Jadi tolong yah... Aku melihat Ratna dengan seksama. Dia sepertinya sangat berharap aku memberikan surat itu ke Ryan. Dia percaya padaku. Dia tidak tahu kalau aku juga suka pada Ryan. iya deh. Nanti kalau pulang sekolah, aku kasih ke dia jawabku. betulan? Wahhh... makasihh banyak yah Mia.... Kamu memang temanku yang paling baik. Nanti aku belikan komik deh hah? Serius? Dibeliin komik? Asyik! Janji yah oke bos. Kalau suratnya sudah kamu kasih ke dia. Aku belikan kamu komik deh. Lagi banyak duit nih... hahahah... Aku tertawa mendengarnya. Walaupun aku tertawa sebenarnya aku sendiri merasa bingung. Apa yang harus aku lakukan. Teng teng teng Bel kembali berbunyi. Tanda istirahat telah selesai. eh, tapi jangan bilang siapa-siapa yah kalau aku suka sama Ryan. Rahasia, OK kata Ratna, lalu kembali ke bangkunya. Saat pelajaran berlangsung. Aku jadi tidak konsentrasi belajar. Aku terus memikirkan apa yang harus aku perbuat dengan surat tersebut. Aku sudah janji pada Ratna untuk memberikannya pada Ryan.

Aku mulai berpikir bahwa ini adalah kesempatanku untuk bisa berbicara pada Ryan. Dan akhirnya kuputuskan untuk memberikan surat tersebut kepada Ryan pulang sekolah nanti. *** Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi. Tapi aku masih di sekolah untuk membersihkan kelas. Ini kebiasaan kelas kami, jika besok jadwal piket, maka sepulang sekolah harus membersihkan kelas. Dan besok adalah piketku. Aku menyapu lantai dengan cepat ingin segera berlari keluar kelas, karena harus memenuhi janjiku pada Ratna. Untungnya kelasku tidak terlalu kotor, jadi tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Setelah selesai aku bergegas keluar karena takut Ryan sudah pulang duluan dan aku tidak sempat memberikan surat cinta Ratna. Aku berlari keluar sekolah dengan cepat. Entah mengapa aku bersemangat ingin memberikan surat yang ku pegang itu kepada Ryan. Mungkin bukan suratnya yang membuatku senang tapi karena aku punya kesempatan untuk berbicara pada Ryan. Karena terlalu bersemangat, tiba-tiba tali tasku putus, tasku terseret di jalan. Aku segera memungut tasku lalu kembali berlari. Di trotoar depan rumahku, kulihat Ryan sedang asyik berbicara dengan Dion, teman kelasku. Mereka masih menunggu angkutan umum. Aku bersyukur dia belum pulang. Aku kembali berjalan dengan normal, mengatur nafas setelah berlari. Kini aku deg-degan bukan karena habis berlari, melainkan karena akan berhadapan langsung dengan Ryan. Ku tarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Aku berjalan ke arah Ryan. Dia melihatku, kami saling bertatapan. Detak jantungku sudah tidak karuan. Tapi aku masih terus berjalan mendekat. Dan Ryan terus menatapku. Ini... dari Ratna sambil kusodorkan surat cinta itu kepada Ryan. Dia mengambilnya tapi terlihat bingung. Dion melihatku dengan tatapan aneh lalu tertawa terbahak-bahak. Aku malu, lalu bergegas masuk ke rumah. Ku tutup pintu secepat mungkin. Ku lihat dari jendela, Ryan dan Dion tertawa bersama. Ryan memperhatikan surat tersebut, lalu tersenyum. Lesung pipinya membuatku luluh. cakepnya hatiku bergumam. Aku kembali menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Kenapa? tanya ibuku. Aku kaget. Lalu cepat-cepat menjawab tidak apaapa sambil berjalan masuk ke arah kamar. lepas dulu sepatunya

Aku melihat ke bawah. ya Ampun... aku sampai lupa lepas sepatu gumamku dalam hati sambil tertawa. *** Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku terus mengingat kejadian yang baru saja ku alami hari itu. Kejadian itu berlangsung begitu saja dengan cepat namun membekas di ingatanku. Tapi aku penasaran apa isi surat cinta tersebut. Tiba-tiba hatiku merasa dingin membayangkan jika Ryan membaca surat tersebut dan ternyata juga menyukai Ratna. Aku tidak bisa bayangkan jika Ryan dan Ratna pacaran. Aku merasa lemas dan terjebak dalam pikiranku sendiri. Aku mencoba menenangkan hatiku dengan berpikir bahwa Ryan mungkin saja tidak menyukai Ratna. Tapi aku kembali memikirkan Ratna, dia adalah gadis yang cantik. Mana mungkin Ryan tidak menyukainya. Aku jadi pusing sendiri. Aku lalu teringat dengan tugas sekolah. aku baru ingat tadi ada tugas yang diberikan di sekolah dan harus dikumpulkan besok. Aku bangun dari tempat tidur dan meraih tasku. Aku melihat tasku yang putus. Aku jadi tertawa sendiri membayangkan diriku yang dengan begitu semangat berlari siang tadi. Ku buka tasku dan mengerjakan PR. Setelah selesai, karena lelah, aku tidur dengan nyenyak. Esok paginya aku terlambat bangun. Aku berlari sepanjang jalan ke Sekolah karena takut terlambat. Gerbang sekolahku tutup pada pukul 7 tepat. Bagi yang terlambat akan diberi hukuman membersihkan WC. Pernah suatu hari aku terlambat datang dan harus membersihkan WC. Aku tidak ingin mengulanginya lagi. Untungnya aku tidak terlambat. Aku melihat Ratna yang juga baru akan masuk ke kelas. Aku memanggilnya tapi dia tidak menanggapinya. Hanya berbalik melihatku dan mengacuhkanku. Aneh pikirku. Ada apa dengan Ratna? Aku masuk ke kelas dan duduk di bangkuku. Ku lihat Ratna sedang asyik ngobrol dengan teman-teman yang lain. Aku mendekati mereka untuk ikut ngobrol. Tapi tiba-tiba bel berbunyi dan Bu guru masuk. Aku kembali duduk di bangkuku dengan perasaan aneh. Kenapa Ratna mengacuhkanku. Padahal aku sudah membantunya untuk memberikan surat cintanya pada Ryan kemarin. Saat jam istirahat, aku ke kantin sendirian. Kulihat Dion, Ryan dan temanteman yang lain sedang asyik ngobrol. Aku lewat di depan mereka. Lalu Dion dan teman-teman yang lain berseru Cieeeeeeeeehhhh... ehm ehm

Aku melihat ke arah mereka dan tidak sengaja bertatapan dengan Ryan. aku jadi salah tingkah. Aku lalu duduk dan memesan semangkuk mie siram. Karena tadi pagi tidak sempat sarapan. Aku duduk di samping Lia. Lia menatapku lalu bertanya dengan berbisik. betulan yah, kamu suka sama Ryan? Katanya kemarin kamu nembak Ryan, emang bener? hah??? aku kaget sekali mendengarnya. Mataku langsung tertuju ke Dion. dasar cowok penggosip pikirku. Aku lalu berdiri dan menarik tangan Dion ke luar kantin. Aku sudah tidak peduli dengan orang-orang lain di kantin yang melihat sikapku. Aku menarik Dion ke tempat sepi. Dia hanya tertawa. heyyy... kamu yah yang nyebarin gosip saya suka sama Ryan? bukan gosip kok. Memang benar, kan? Aku saksinya kemarin. Hahahahah... Issshhh... benar-benar ember nih cowok pikirku dalam hati dengan sangat kesal. denger yah. Surat cinta itu bukan dari aku. Tapi dari Ra... aku berhenti. Hampir saja aku menyebutkan nama Ratna. Rasti. Iyah dari Rasti. Sepupuku. Dia suka sama Ryan. makanya dia minta tolong buat ngasih surat cinta itu ke Ryan. aku nggak suka kok sama Ryan aku berbohong. Dua kebohongan sekaligus. Dan yang paling menyakitkan aku harus bohong kalau aku tidak menyukai Ryan. Ohhh... bukan dari kamu yah. Sorry yah.. kirain surat dari kamu buat Ryan. hahahhaha... makanya jangan sembarangan kalau ngomong yah iya iya.. maaf... hahahah... Aku lalu kembali ke kantin karena lapar. Mie siram yang kupesan kulahap dengan cepat karena sebentar lagi bel masuk kelas akan berbunyi lagi. Setelah makan, aku segera kembali ke kelas. Saat ke kelas aku melihat Ratna dan Ryan sedang duduk berdua di taman. Ada rasa dingin di hatiku saat melihat mereka berdua saling bicara. Tapi aku mengacuhkannya dan terus berjalan ke kelas. Ternyata bu guru sudah masuk kelas, tapi belum memulai pelajaran. Aku berlari masuk dan duduk di bangkuku. Tak lama kemudian, Ratna masuk ke kelas dan meminta maaf pada guru karena masuk terlambat. Ku lihat wajah Ratna yang terlihat sedih. Aku tiba-tiba merasa senang. Tapi juga merasa bersalah karena merasa senang.

Perasaan yang aneh. Aku menduga Ryan sudah mengungkapkan perasaannya kepada Ratna, dan dilihat dari wajah Ratna, sepertinya Ryan tidak mempunyai perasaan yang sama dengan Ratna. Ingin sekali aku mengajak Ratna bicara, tapi sepertinya dia sedang tidak ingin diajak bicara. Sepulang sekolah, kulihat Ratna jalan dengan tidak semangat. Aku mendekatinya. Rat, kenapa? sapaku. Ratna diam saja. Kalau punya masalah, bilang aja ke aku. Aku siap jadi pendengarmu Tak ada reaksi dari Ratna, dia tetap diam dan berjalan lebih cepat. Seperti ingin menghindariku. Dari belakang kulihat tangannya menyapu matanya. Oh... tidak. Ratna menangis gumamku dalam hati. Aku merasa sedih. Aku mempercepat langkahku untuk menyusulnya dan kutarik tangannya, kuajak dia ke rumah. Dia tidak menolak. Kami duduk berdua di kamarku. Kutunggu dia hingga tenang dan mau bicara. Setelah merasa tenang, Ratna mulai berbicara. Makasihh yah... suratnya udah dikasih ke Ryan iyah... hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku turut sedih melihat Ratna. Serasa ingin ikut menangis. Tapi jika aku ikut menangis maka tidak ada yang bisa tadi Ryan ngajak aku bicara di taman. Aku senang banget. Ternyata kamu nyampein suratku ke dia. Kupikir kamu nggak ngasih suratku ke Ryan. Karena kudengar kamu juga ternyata suka sama Ryan dan udah nembak Ryan. Maaf yah... aku nggak tahu kalau kamu juga suka sama dia. Aku malah nyuruh kamu kasih surat cintaku buat dia. Maaf... nggak apa-apa. Aku nggak suka kok sama Ryan. Itu gosip yang disebarin Dion karena dia ngeliat aku ngasih surat kamu ke Ryan. Entah mengapa aku berbohong. Ryan bilang dia udah baca surat dari aku. Dia minta maaf karena nggak bisa membalas perasaanku. Dia juga bilang makasihh karena suka sama dia. Tapi dia nggak bisa suka sama aku karena dia sudah punya seseorang yang dia sukai, walaupun katanya ternyata orang yang dia sukai nggak suka sama dia menenangkan Ratna.

Aku tertegun. Hatiku dingin. Ternyata Ryan menyukai seseorang. Tiba-tiba aku jadi ingin menangis, tapi aku tahan. Dan yang menyedihkan ternyata Ryan juga sedang patah hati karena orang yang dia sukai tidak menyukainya. Hari itu Ratna menginap di rumahku. Kami bercerita tentang banyak hal, tapi aku tidak bisa bilang kalau aku juga sedang patah hati. Aku sudah patah hati sebelum mengungkapkan perasaanku. Aku malah justru berbohong bahwa tidak menyukai Ryan. Aku memutuskan untuk mengubur perasaanku ini. Menghilangkan rasa cinta pertamaku. *** Ujian akhir semester satu baru saja selesai. Dan liburan telah dimulai. Tapi aku dan keluarga sedang sibuk berbenah karena akan pindah ke kota lain. Ayahku di pindah tugaskan ke kota lain dan kami sekeluarga ikut pindah. Sampai saat kepindahanku ternyata aku masih belum bisa melupakan Ryan. Aku masih sering melihatnya dari balik jendela saat sedang menunggu angkutan umum. Aku sudah berpamitan dengan teman-teman sekelas dan juga para guru. Aku sedih membayangkan bahwa di kota yang nanti akan kutinggali tidak akan bisa lagi melihat Ryan, cinta pertamaku. Tapi menurutku itu lebih baik agar aku bisa melupakannya. Entah Ryan tahu aku akan pindah atau tidak. *** Di kota yang baru kutinggali, aku mulai lagi belajar beradaptasi. Mencari teman baru dan lingkungan yang baru. Ayahku mengatakan bahwa kami sekeluarga akan menetap lama di kota ini. *** Usiaku kini sudah 24 tahun dan bekerja sebagai wartawan sebuah majalah remaja. Dan ternyata masih mengingat cinta pertamaku. Entah mengapa beberapa hari terakhir ini aku terus memimpikan Ryan. Namun dalam sosok seseorang yang telah dewasa, bukan Ryan saat terakhir kali aku melihatnya. Padahal aku telah berpacaran dengan Chandra. Suatu hari, Sinta teman kerjaku memperlihatkanku sebuah cerpen yang menarik dan menyuruhku membacanya. Kubaca cerpen tersebut, yang dikirim oleh seseorang yang berinisial RWP untuk lomba cerpen yang diadakan majalah kami. Kubaca dengan seksama cerpen itu. Ada nama Mia, Dion dan Ratna di cerpen itu. Mengingatkanku akan kisah masa lalu. Ada tulisan di bawah judulnya diambil dari pengalaman pribadi penulis

ini kisah cinta pertamaku... dia yang rumahnya selalu kulewati hampir setiap harinya... wajah yang manis dan lugu... hatiku deg-degan saat melihatnya... aku tak tahu perasaan apa yang sedang aku alami, karena ini pertama kalinya aku merasa seperti ini saat melihat seorang perempuan... aku selalu berharap saat turun dari mobil angkutan umum, aku bisa melihatnya sedang memakai sepatu di teras rumahnya... kadang aku mencuri pandang padanya... tapi dia tidak tahu... suatu hari, turun dari angkutan umum, aku dan dia saling bertatapan... aku tertegun melihat wajahnya. Dad dig dug jantung ini dibuatnya... mata yang indah... yang telah mencuri hatiku... aku sungguh malu... aku bahkan belum tahu siapa namanya... tapi berani mencintainya... dia terlihat salah tingkah saat kami bertatapan tadi... aku sangat berharap dia juga menyukaiku... aku jalan di depannya, dan aku tahu dia pasti sedang melihatku... kepalaku serasa kaku... tak bisa berbalik ke belakang... karena aku tahu tak kan sanggup menahan debaran jantung ini jika berbalik dan mendapati dua bola mata kami saling berpandangan... Tuhan... aku berharap punya kesempatan untuk dekat dengannya... pulang sekolah... kulirik ke arah kelasnya. Dia sedang membersihkan... padahal aku berharap bisa jalan bersama seperti pagi tadi... aku berdiri menunggu mobil angkutan sambil mengobrol dengan Dion... jantung ini kembali berdebar mendapati dirinya sedang berjalan ke arahku... badanku kaku, mataku tak bisa lepas darinya, begitupun dia... kami terus berpandangan... dia berhenti di depanku... memberikanku sebuah surat... ohhh... luar biasa senangnya hati ini, sampai tak sanggup ku ekspresikan.. aku dan Dion tertawa terbahak-bahak. Bukan karena gadis itu aku tertawa, tapi karena ekspresi yang tak sanggup aku gambarkan... aku bertanya pada Dion nama gadis itu... Mia... nama gadis itu... gadis yang telah mencuri hatiku

Sampai disitu, aku menangis membacanya. Tak sanggup aku menahan air mata ini, mengetahui bahwa ternyata orang yang disukai Ryan dulu itu ternyata adalah aku sendiri. Aku merasa bodoh tidak mengetahuinya. Tapi mengapa Ratna dulu mengatakan kalau orang yang disukai Ryan tidak menyukainya? Padahal jelasjelas aku juga menyukainya. Aku teruskan membaca cerpen tersebut. aku tidak dapat memejamkan mata setelah membaca surat dari pencuri hatiku. Ternyata surat itu bukan darinya. Hatiku hancur... aku bertanya-tanya apakah dia menyukaiku atau tidak... jika dia menyukaiku mengapa memberikan surat cinta orang lain kepadaku...? aku curhat ke Dion mengenai masalah ini... dia mengatakan kalau Mia juga menyukaiku. Tapi aku masih merasa aneh... pencuri hatiku datang ke kantin... kami kembali bertatapan... namun sepertinya dia menghindari tatapanku.. aku sudah merasa patah hati... Dia menarik tangan Dion dan mengajaknya bicara... Dion kembali dan mengatakan kalau si pencuri hatiku tidak menyukaiku... bagai menabrak gunung es... dadaku terasa beku... ternyata benar, dia tidak menyukaiku... ini hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan... aku kembali berjalan ke kelas... kudapati seorang yang menatapku... aku melihat ke arahnya... dia adalah si pemilik surat cinta itu... kini aku tahu bagaimana rasanya patah hati... aku tak ingin gadis yang menyukaiku ini sedih... aku mengajaknya bicara empat mata... menggunakan kata-kata sehalus mungkin... dan dia mengerti perasaanku... aku mengatakan padanya bahwa aku juga sedang patah hati... Tetesan demi tetesan air keluar dari mataku. Tak mau berhenti. Kubiarkan dia mengalir deras. Aku tak sanggup membaca cerpen itu lagi. Ternyata kami saling mencintai namun tidak pernah tahu perasaan masing-masing. Di akhir cerpen tertulis pencuri hatiku pindah ke kota lain dengan membawa separuh hatiku... RWP (Ryan Wahyu Pratama)