Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN HIPERTENSI DAN RIWAYAT AMI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTAGEDE II YOGYAKARTA

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Profesi Ners Stase Keperawatan Keluarga

Disusun oleh : DESY ARIFAH SETYANINGTYAS 07/256615/KU/12498

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UGM YOGYAKARTA 2013

STROKE

A. DEFINISI Stroke merupakan penyakit yang ditandai oleh penurunan fungsi otak, yang semata-mata diakibatkan oleh terhentinya aliran darah otak, yang berlangsung selama 24 jam atau lebih, atau berakhir dengan kematian (WHO, 1970 cit Wahyu, 2009). Menurut Caplan, 2006 stroke merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskrepsikan gangguan otak yang diakibatkan oleh ketidaknormalan pasokan aliran darah pada salah satu bagian otak.

B. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI Secara luas, stroke dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu perdarahan dan iskemia. Tempat perdarahan yang berbeda mempunyai penyebab yang berbeda pula (Caplan, 2006). 1.) Perdarahan Perdarahan merujuk pada perdarahan yang terjadi di dalam tengkorak masuk ke dalam otak atau ke dalam cairan yang ada disekitar otak. Ada beberapa subtipe perdarahan, subtipe-subtipe tersebut dinamakan berdasar lokasi terjadinya perdarahan di dalam tengkorak (Caplan, 2006). i. Perdarahan Intraserebral Perdarahan intraserebral terjadi di dalam piameter. Perdarahan intraserebral disebabkan oleh karena adanya ruptur pembuluh darah kecil yaitu arteriola dan kapilari (Caplan, 2006). The Cleveland Clinic Foundation, 2009 menyebutkan bahwa perdarahan yang terjadi di dalam tengkorak, dapat terjadi secara tiba-tiba, yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Perdarahan ini seringkali disebabkan karena hipertensi yang tidak terkontrol (Caplan, 2006). Hipertensi melibatkan arteri utama yang lebih kecil dan arteriola, sebagai akibat dari penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan seluleritas dari pembuluh dan proses hialinisasi. Akibatnya, akan terjadi nekrosis. Mikroaneurism di pembuluh darah yang lebih kecil atau terjadinya nekrosis arteriola akan memicu terjadinya perdarahan (McCance et al, 2010). Perdarahan dapat secara cepat menyebabkan kerusakan pada otak dan saraf serta dapat mengancam jiwa (The Cleveland Clinic Foundation, 2009) ii. Perdarahan Subarakhnoid Perdarahan subarakhnoid terjadi di dalam ruang subarakhnoid. Ruang subarakhnoid adalah ruangan antara arakhnoid dengan piameter (Giraldo, 2007). Perdarahan subarakhnoid dapat terjadi secara tiba-tiba, yang diakibatkan oleh pecahnya aneurysm di arteri serebral. Aneurysm merupakan

arteri lemah dengan dinding yang menggelmbung keluar. Arteri ini akan pecah, mengeluarkan darah secara cepat ke cairan spinal yang bersirkulasi di sekitar otak dan saraf sumsum tulang belakang (Caplan, 2006). Menurut Giraldo, 2007 penyebab perdarahan subarakhnoid yang lain adalah mycotic aneurysm, malformasi arteri vena, dan gangguan perdarahan. iii. Perdarahan Subdural dan Epidural Perdarahan di luar arakhnoid tetapi di dalam durameter disebut perdarahan subdural. Sedangkan perdarahan epidural merupakan perdarahan di luar durameter tetapi masih di dalam tengkorak. Perdarahan subdural dan epidural seringkali disebabkan oleh perlukaan pada kepala yang mengakibatkan rusaknya pembuluh darah. Pada perdarahan subdural, perdarahan biasanya disebabkan karena vena yang terletak didalam ruangan antara membran arakhnoid dan membran durameter. Seringkali disertai dengan fraktur tengkorak yang mengakibatkan rusaknya arteri meningeal. Darah terkumpul lebih cepat ketika pembuluh darah yang pecah adalah pembuluh darah arteri daripada jika pembuluh darah vena yang pecah. Gejala biasanya akan berkembang segera setelah perlukaan kepala pada pasien dengan perdarahan epidural. Perdarahan lambat pada perdarahan subdural dan gejala sakit kepala dan disfungsi otak mungkin tertunda hingga beberapa minggu setelah perlukaan pada kepala (Caplan, 2006). 2.) Iskemia Penurunan pasokan aliran darah ke otak disebut iskemi. Jika iskemi berlangsung dalam waktu yang cukup lama, maka akan menyebabkan kematian jaringan yang disebut infark (Caplan, 2006). Menurut McCance et al 2010, infark serebral terjadi akibat suatu area di otak kehilangan pasokan darah karena kemacetan vaskular.

C. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis dari stroke thrombotik berbeda, tergantung pada arteri yang terganggu. Manifestasi klinis stroke perdarahan bervariasi, tergantung tempat dan besarnya perdarahan. Individu yang mengalami kebocoran atau pecahnya pembengkakan pembuluh darah memiliki satu dari 3 kelompok gejala, yaitu : (1) serangan nyeri kepala umum yang luar biasa disertai kehilangan segera sehingga tak bereaksi (2) nyeri kepala, tetapi dengan kesadaran yang masih dapat dipertahankan; dan (3) kehilangan tiba-tiba menjadi tidak sadar. Jika perdarahan terbatas pada ruang subarakhnoid, kemungkinan tidak ada tanda lokal. Jika perdarahan menyebar hingga ke jaringan otak, maka kemungkinan akan terjadi hemiparase atau paralisis, disfasia, atau

homonymous hemianopia. Tanda peringatan terjadinya pecah pembuluh darah yang bengkak diantaranya nyeri kepala, kelemahan unilateral sementara, sensasi geli dan mati rasa sementara, dan gangguan bicara sementara. Tetapi tanda ini seringkali tidak terjadi (McCance et al, 2010).

D. KEADAAN PASCA STROKE Perjalanan penyakit stroke beragam. Ada pasien stroke yang pulih sempurna. Ada pula yang sembuh dengan cacat ringan, cacat sedang atau cacat berat. Stoke mempengaruhi bagian yang berbeda pada otak dan dapat mengakibatkan kerusakan atau disfungi dan tingkat keparahan yang berbeda (Caplan, 2006). Gangguan (ketidaknormalan yang terjadi pada organ atau sistem organ yang spesifik) sebagai akibat dari stroke termasuk motorik, sensorik, visual, afeksi, kognitif dan bahasa (Fielding, 2006). 1) Disfungsi Motorik

Tingkat keparahan kelemahan bervariasi mulai dari penurunan yang sangat minor dalam hal kekuatan hingga paralisis, dimana terjadi ketidakmampuan total untuk menggerakkan secara sadar anggota badan atau salah satu bagian dari anggota badan. Kelemahan biasanya terjadi pada lengan, tangan dan kaki pada satu sisi tubuh, yang disebut dengan hemiparesis (paresis berarti kelemahan, hemi berarti setengah) (Caplan, 2006). 2) Disfungsi sensori

Pasien stroke dapat kehilangan kemampuan untuk merasakan sentuhan, nyeri, paparan suhu, atau posisi. 3) Perubahan Kognitif dan Tingkah Laku

Perubahan kemampuan ini meliputi hilangnya fungsi dalam hal pembentukan ingatan yang baru, berbicara, membaca, menulis, perhitungan matematika dan mengingat kembali letak benda dan tempat. Juga terdapat kemungkinan adanya perubahan pada kepribadian dan tingkah laku (Caplan, 2006). 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Gangguan bahasa Kehilangan Memori (Amnesia) Ketidaknormalan Ketertarikan dalam Aktivitas Sehari-hari Ketidaknormalan dalam Perencanaan, Penilaian dan Kemampuan Kerja Kesulitan Mengekspresikan dan Menginterpretasikan Emosi Gangguan Penglihatan Disfungsi BAK (Buang Air Kecil), BAB (Buang Air Besar), dan Seksual

DEKOMPENSASI KORDIS (JANTUNG)

A. DEFINISI Dekompensasi kordis (DK) atau gagal jantung (GJ) adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat mempertahankan sirkulasi yang adekuat yang ditandai oleh adanya suatu sindroma klinis berupa dispnu ( sesak nafas ), fatik ( saat istirahat atau aktivitas ), dilatasi vena dan edema, yang diakibatkan oleh adanya kelainan struktur atau fungsi jantung

B. ETIOLOGI 1. Penyakit jantung bawaan terutama kelainan dengan pirau kiri ke kanan (L-R shunt) yang besar atau kelainan obstruksi ventrikel kiri maupun kanan. 2. Kelainan jantung didapat, miokarditis, penyakit jantung rematik, endokarditis infektif. 3. Aritmia. 4. Iatrogenik : pasca operasi jantung terbuka (VSD), overload cairan. 5. Non kardiak : tirotoksikosis, fistula arterio-vena sistemik, penyakit paru-paru akut dan kronis, penyakit kolagen atau neuromuskuler

C. PATOFISIOLOGI Belum jelas seluruhnya sehingga masih dilakukan penelitian lebih lanjut. Beberapa mekanisme adaptasi terjadi pada gagal jantung di antaranya adalah : 1. Faktor mekanis berupa hipertrofi dan dilatasi. 2. Faktor biokimia. Terdapat perubahan biokimia; sampai saat ini masih terus diselidiki mengenai produksi energi, penyimpanan dan penggunaanya. 3. Peranan sistem saraf adrenergik. 4. Peranan ginjal. 5. Peranan eritrosit. Terdapat pergeseran pada disosiasi oksigenhemoglobin, seperti tampak juga pada anemia, hipoksia dan yang tinggal di tempat yang tinggi

D. TANDA DAN GEJALA Secara hemodinamik, gejala klinis gagal jantung pada bayi dan anak dapat digolongkan dalam 3 golongan, yaitu : 1. Gejala perubahan pada jantung/kerja jantung. a. Takikardia

b. Kardiomegali c. Failure to thrive d. Keringat berlebihan e. Pulsasi arteri melemah dan tekanan nadi mengecil yang terjadi akibat menurunnya curah jantung. 2. Gejala kongesti. a. Takipnu b. Kesukaran minum c. Wheezing d. Kapasitas vital menurun 3. Gejala bendungan sistem vena a. Hepatomegali b. Peninggian tekanan vena jugularis c. Edema

E. PENEGAKAN DIAGNOSIS Diagnosis gagal jantung dibuat berdasarkan anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan foto torak. Pemeriksaan EKG membantu untuk mendiagnosis etiologi (misalnya disritmia). tanda gagal jantung yang paling sering ditemukan adalah : takikardia, irama gallop, kardiomegali, gagal tumbuh, berkeringat, takipnu, hepatomegali, dan edema palpebra. Gagal jantung sendiri merupakan proses progresif, walaupun tidak ada kerusakan baru terjadi pada jantung.Dalam mendiagnosa terjadinya dekompensasi kordis atau gagal jantung ini, haruslah berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik/jasmani, elektrokardiografi/foto toraks, ekokardiografiDoppler dan kateterisasi. Namun walaupun demikian beberapa gejala pokok dapat digunakan untuk menentukan diagnosis gagal jantung pada bayi yaitu : takikardia, takipnu, kardiomegali, hepatomegali dan irama derap. Beberapa penyakit yang gejalanya menyerupai gagal jantung pada bayi ialah : sindrom gangguan pernapasan, bronkiolitis akut yang berat, fistula trakeo-esofagus, hernia diafragmatika dan lain lain.

F. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan dari dekompensasi kordis pada dasarnya diberikan hanya untuk menunggu saat terbaik untuk melakukan tindakan bedah pada penderita yang potentially curable. Dasar pengobatan dekompensasi kordis dapat dibagi menjadi :

Non medikamentosa, medikamentosa dan operatif. 1. Non medikamentosa. Dalam pengobatan non medikamentosa yang ditekankan adalah istirahat, dimana kerja jantung dalam keadaan dekompensasi harus dikurangi benar benar dengan tirah baring ( bed rest ) mengingat konsumsi oksigen yang relatif meningkat. Sering tampak gejala gejala jantung jauh berkurang hanya dengan istirahat saja. Diet umumnya berupa makanan lunak dengan rendah garam. Jumlah kalori sesuai dengan kebutuhan. Penderita dengan gizi kurang diberi makanan tinggi kalori dan tinggi protein. Cairan diberikan sebanyak 80 100 ml/kgbb/hari dengan maksimal 1500 ml/hari. 2. Medikamentosa Pengobatan dengan cara medikamentosa masih digunakan diuretik oral maupun parenteral yang masih merupakan ujung tombak pengobatan gagal jantung. Sampai edema atau asites hilang (tercapai euvolemik). ACE-inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dosis kecil dapat dimulai setelah euvolemik sampai dosis optimal. Penyekat beta dosis kecil sampai optimal dapat dimulai setelah diuretik dan ACE-inhibitor tersebut diberikan. Digitalis diberikan bila ada aritmia supra-ventrikular (fibrilasi atrium atau SVT lainnya) dimana digitalis memiliki mamfaat utama dalam menambah kekuatan dan kecepatan kontraksi otot.Jika ketiga obat diatas belum memberikan hasil yang memuaskan. Aldosteron antagonis dipakai untuk memperkuat efek diuretik atau pada pasien dengan hipokalemia, dan ada beberapa studi yang menunjukkan penurunan mortalitas dengan pemberian jenis obat ini. Pemakaian obat dengan efek diuretik-vasodilatasi seperti Brain N atriuretic Peptide (Nesiritide) masih dalam penelitian. Pemakaian alat Bantu seperti Cardiac Resychronization Theraphy (CRT) maupun pembedahan, pemasangan ICD (Intra-Cardiac Defibrillator) sebagai alat pencegah mati mendadak pada gagal jantung akibat iskemia maupun non-iskemia dapat memperbaiki status fungsional dan kualitas hidup, namun mahal. Transplantasi sel dan stimulasi regenerasi miokard, masih terkendala dengan masih minimalnya jumlah miokard yang dapat ditumbuhkan untuk mengganti miokard yang rusak dan masih memerlukan penelitian lanjut. 3. Operatif Pemakaian Alat dan Tindakan Bedah antara lain : Revaskularisasi (perkutan, bedah) Operasi katup mitral Aneurismektomi

Kardiomioplasti External cardiac support Pacu jantung, konvensional, resinkronisasi pacu jantung biventricular. Implantable cardioverter defibrillators (ICD). Heart transplantation, ventricular assist devices, artificial heart. Ultrafiltrasi, hemodialisis

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Penurunan curah jantung b/d respon fisiologis otot jantung, peningkatan frekuensi, dilatasi,

hipertrofi atau peningkatan isi sekuncup. 2. Perfusi jaringan tidak efektif b/d menurunnya curah jantung, hipoksemia jaringan, asidosis dan

kemungkinan thrombus atau emboli. 3. Gangguan pertukaran gas b/d kongesti paru, hipertensi pulmonal, penurunan perifer yang

mengakibatkan asidosis laktat dan penurunan curah jantung. 4. Kelebihan volume cairan b/d berkurangnya curah jantung, retensi cairan dan natrium oleh ginjal,

hipoperfusi ke jaringan perifer dan hipertensi pulmonal. 5. Cemas b/d penyakit kritis, takut kematian atau kecacatan, perubahan peran dalam lingkungan

social atau ketidakmampuan yang permanen. 6. Intoleransi aktivitas b/d curah jantung yang rendah, ketidakmampuan memenuhi metabolisme

otot rangka, kongesti pulmonal yang menimbulkan hipoksinia, dyspneu dan status nutrisi yang buruk selama sakit kritis. 7. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan pengetahuan penyakitnya, tindakan yang dilakukan, obat

obatan yang diberikan, komplikasi yang mungkin muncul dan perubahan gaya hidup

PERENCANAAN KEPERAWATAN

DIAGNOSA Penurunan curah jantung b/d respon fisiologis otot jantung, peningkatan frekuensi, dilatasi, hipertrofi atau peningkatan isi sekuncup NOC :

NOC Cardiac Care

NIC

Cardiac Pump effectiveness Circulation Status Vital Sign Status Kriteria Hasil: -

1. Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi, durasi) 2. Catat adanya disritmia jantung 3. Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput 4. Monitor status kardiovaskuler

Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan 5. Monitor status pernafasan yang menandakan gagal darah, Nadi, respirasi) jantung aktivitas, tidak ada 6. Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi 7. Monitor balance cairan

Dapat

mentoleransi

kelelahan -

Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada 8. Monitor adanya perubahan tekanan darah asites 9. Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia 10. Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan 11. Monitor toleransi aktivitas pasien 12. Monitor adanya ortopneu 13. Anjurkan untuk menurunkan stress dyspneu, fatigue, tekipneu dan

Tidak ada penurunan kesadaran

Vital Sign Monitoring

1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR 2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah 3. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri 4. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan 5. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas 6. Monitor kualitas dari nadi 7. Monitor adanya pulsus paradoksus 8. Monitor adanya pulsus alterans 9. Monitor jumlah dan irama jantung 10. Monitor bunyi jantung 11. Monitor frekuensi dan irama pernapasan 12. Monitor suara paru 13. Monitor pola pernapasan abnormal 14. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulitMonitor sianosis perifer 15. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik) 16. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign Intoleransi aktivitas b/d curah NOC : jantung yang rendah, Energy conservation memenuhi Self Care : ADLs rangka, Kriteria Hasil : Energy Management Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap

ketidakmampuan metabolisme otot

kongesti

pulmonal

yang

Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa keterbatasan disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan RR Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat

menimbulkan

hipoksinia,

dyspneu dan status nutrisi yang buruk selama sakit -

Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara mandiri secara berlebihan Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

Kurang

pengetahuan

b/d NOC :

Teaching : Disease Process 1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan

keterbatasan penyakitnya,

pengetahuan Knowledge : Disease process tindakan yang Knowledge : Health Behavior

pasien tentang proses penyakit yang spesifik 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana

dilakukan, obat obatan yang Kriteria Hasil : diberikan, mungkin komplikasi muncul yang dan -

Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan tentang penyakit, kondisi, prognosis dan cara yang tepat. program pengobatan 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul

perubahan gaya hidup -

Pasien dan keluarga mampu melaksanakan pada penyakit, dengan cara yang tepat prosedur yang dijelaskan secara benar 4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang

Pasien dan keluarga mampu menjelaskan tepat kembali apa yang dijelaskan perawat/tim 5. kesehatan lainnya. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara

yang tepat 6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi,

dengan cara yang tepat 7. Hindari harapan yang kosong

8.

Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang

kemajuan pasien dengan cara yang tepat 9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin

diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit 10. 11. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau

mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan 12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan,

dengan cara yang tepat 13. Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas

lokal, dengan cara yang tepat 14. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala

untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat